Anda di halaman 1dari 7

Rom J Leg Med [19] 253-258 [2011] DOI: 10.4323/rjlm.2011.

253 2011 Romanian Society of Legal Medicine

Pentingnya pemeriksaan tubuh bagian luar selama olah TKP


Jozef Sidlo1*, Anezka Zummerova1, Jan Sikuta2, Lubomir Mikulas2, Roman Kuruc2, Norbert Moravansky
1

Abstrak : Penyelidikan TKP yang tepat oleh dokter sangat penting untuk melakukan pemeriksaan medis lebih lanjut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penyelidikan dokter termasuk perubahan pembusukan post mortem pada tubuh manusia. Pada kasus pertama, kami membahas mengenai seorang laki-laki yang dinyatakan meninggal karena gagal jantung oleh dokter. Pada kasus kedua, dokter menyatakan sebab kematian dikarenakan penyakit darah tinggi. Dalam dua kasus lain, ditemukan mayat dengan pembusukan stadium lanjut. Mayat pertama yaitu ditemukan mayat seorang laki-laki yang dibenamkan ke dalam sebuah tong yang penuh dengan air hujan, diduga mayat ini mengalami asfiksia karena tenggelam. Mayat kedua yaitu mayat seorang wanita yang ditemukan di dalam semak-semak dekat jalan raya, dimana ditemukan jarum suntik di dekat tubuh mayat tersebut, sehingga kecurigaan kematian diduga karena overdosis zat asing. Pada kasus pertama, otopsi dengan jelas menyatakan bahwa kematian terjadi akibat perbuatan orang lain cekikan. Penemuan pemeriksa medis untuk kasus kedua adalah cedera kepala akibat senjata api. Dalam dua kasus lainnya, luka-luka yang ditemukan diduga akibat benda tajam. Tujuan dilakukan pembahasan ini yaitu untuk menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan penting antara temuan-temuan otopsi pemeriksa medis dan temuan dokter yang menyelidiki TKP. Temuan-temuan ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan tubuh di tempat kejadian sebagai tindakan yang unik dan tidak dapat diulang dan tidak kalah pentingnya otopsi sebagai metode penyelidikan yang tidak tergantikan. Fakta-fakta yang didapatkan dari kasus-kasus tersebut bahwa pembusukan dapat menutupi kerusakan mekanik serius, seperti luka potong atau luka tusuk. Pada akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa fenomena tersebut secara negatif mempengaruhi kinerja penegak hukum. Kata Kunci : pemeriksaan tubuh bagian luar, olah TKP, otopsi, penyebab kematian, perbedaanperbedaan

emeriksaan luar mayat di tempat kejadian kematian, penyelidikan TKP, serta otopsi merupakan proses yang unik dan tidak dapat diulang. Di Republik Slovakia, pemeriksaan terhadap mayat-mayat di tempat kejadian kematian dan dilakukannya otopsi merupakan kompetensi dari Otoritas Pengawasan Pelayanan Kesehatan. Selain itu, Otoritas ini juga mengontrol kualitas dari pelayanan kesehatan yang disediakan dan memeriksa kegiatan perusahaan asuransi kesehatan Di Slovakia, prosedur yang diambil dalam kasus kematian diatur oleh sejumlah tindakan legislatif, beberapa di antaranya telah dilaporkan di bawah ini. Menurut undang-undang nomor 576 tahun 2004 Coll. [1] 41, barangsiapa telah menerima informasi mengenai kematian di luar dari fasilitas medis atau telah menemukan mayat wajib untuk memberitahukan kepada penyedia pelayanan kesehatan terdekat tanpa melakukan penundaan yang tidak semestinya; atau kepolisian atau dokter.
1) MD., PhD., Institute of Forensic Medicine, School of Medicine, Comenius University and Health Care Surveillance Authority, Bratislava, Slovakia* Corresponding author: MD., PhD., Institute of Forensic Medicine, School of Medicine, Comenius University and Healthcare Surveillance Authority, Antolsk 11, 857 01 Bratislava, Slovakia, Tel: ++421904819241, Fax: ++42120856556, E-mail: sidlo45@gmail.com 2) MD., Institute of Forensic Medicine, School of Medicine, Comenius University and Health Care Surveillance Authority, Bratislava, Slovakia
1

Sidlo J et al

Pentingnya pemeriksaan tubuh bagian luar selama olah TKP

Penyedia pelayanan kesehatan tanpa melakukan penundaan wajib untuk memberitahu tentang berita kematian kepada orang-orang yang berkaitan dengan mayat tersebut dan jika orang-orang yang terkait dengan mayat tersebut tidak diketahui, dapat dicari berdasarkan kotamadya yang tertera pada alamat tetap atau alamat sementara mayat tersebut; jika alamat sementara maupun permanen tidak diketahui, dicari berdasarkan kotamadya dimana fasilitas medis yang diberitahukan tentang kematian tersebut atau tempat asal mayat tersebut dan berdasarkan Otoritas Pengawasan Pelayanan Kesehatan. Penyedia pelayanan kesehatan ini juga berkewajiban untuk memberitahu pihak polisi setempat tentang berita kematian seseorang di sebuah fasilitas medis yang berhubungan dengan cedera, atau masalah kesehatan yang disebabkan oleh orang lain atau oleh keracunan. Menurut 42, pemeriksaan mayat untuk identifikasi kematian, waktu dan penyebab kematian. Pemeriksaan mayat dilakukan oleh seorang dokter yang diberi kepercayaan oleh Otoritas Pengawasan Pelayanan Kesehatan. Setiap orang wajib untuk memberikan informasi tentang kejadian kematian kepada dokter yang memeriksa mayat tersebut. Seorang dokter yang melakukan pemeriksaan mayat wajib memberitahukan kepada pihak sipil yang bersangkutan tanpa melakukan penundaan; dalam kasus yang diduga bahwa kematian disebabkan oleh tindak pidana atau bunuh diri atau dalam kasus kematian warga negara asing juga wajib memberitahukan kepada pihak polisi yang bersangkutan. Otopsi dapat dimintakan setelah pemeriksaan mayat pada kondisi yang diatur dalam undang-undang tersendiri. Paragraf 43, yang mengatur identifikasi dari kematian, selain hal pemeriksaan untuk menentukan kematian oleh dokter atau jajaran konsultan, mayat hanya dapat di otopsi atas kepentingan perawatan kesehatan berupa pengeluaran organ, jaringan dan sel, dan proses kelahiran bayi pada mayat wanita hamil. Pelaksanaan otopsi diatur oleh UU no. 581/2004 Coll. [2], in 48 sec. 2, yang menyebutkan bahwa otopsi hanya dapat dilaksanakan pada kondisi yang telah di tentukan dalam hukum tersebut, walaupun setelah kematian tubuh mayat harus tetap dihargai. Secara umum, otopsi diperintahkan oleh Otoritas Pengawasan Pelayanan Kesehatan atas dasar pemeriksaan mayat pada lokasi kematian, pada kondisi dimana perlu dilakukannya otopsi untuk menentukan apakah telah mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, atau dalam kondisi lain yang telah dijelaskan dalam undangundang tersebut. Pihak Otoritas harus memintakan otopsi pada kondisi yang tercantum pada undang-undang: 1) untuk memverifikasi penyakit dan terapi yang telah digunakan, 2) berhubungan dengan bedah dan anastesi, kematian yang disebabkan oleh penyakit menular atau dicurigai menular, diduga terdapat kontaminasi mayat oleh zat radioaktif, kematian mendadak dan tidak disangka, pada kasus yang tidak bisa ditentukan kematiannya kecuali hanya dengan otopsi, pengeluaran organ dari donor jenazah untuk transplantasi, kematian diluar fasilitas kesehatan atau kecurigaan malpraktik, kematian akibat racun industri atau keracunan lainnya, kematian karena penyakit okupasi dan kecelakaan kerja, kematian akibat kecelakaan lalu lintas, kematian yang sadis termasuk bunuh diri, kematian seorang tahanan, atau pada kondisi yang diatur dalam UU no. 301/2005 Coll. [3], dimana otopsi dimintakan oleh aparat penegak hukum. Otopsi tidak bisa dilaksanakan apabila orang yang bersangkutan atau perwakilannya yang sah secara hukum menolak sepanjang hidupnya. Penolakan terhadap tindak otopsi harus dibuat dalam surat tertulis, harus mengandung informasi identitas yang jelas, tanda tangan, dan tanggal penerbitan. Surat penolakan harus disampaikan kepada Otoritas Pengawasan Pelayanan Kesehatan, yang nantinya akan

disimpan selama 10 tahun sejak tanggal kematian. Otoritas ini menjaga daftar orang-orang yang telah menolak otopsi. Bahkan jika otopsi telah ditolak selama seseorang hidup, hal itu tetap bisa dilakukan dalam kasus kecurigaan bahwa orang yang sudah mati memiliki penyakit menular, dugaan kontaminasi mayat dari zat radioaktif, dalam kasus kematian mendadak, jika penyebab kematian tidak jelas, dalam kasus kecurigaan dari dokter yang memeriksa tentang penyebab kematian atau tentang keadaan kematian, setelah organ dan jaringan dari donor meninggal telah diambil, dalam kasus dimana organ atau jaringan dari orang yang sudah meninggal akan diberikan pada penerima yang beresiko tinggi, dalam kasus kematian akibat kekerasan, dan dari alasan-alasan yang ditetapkan oleh UU No. 301/2005 Coll .. Otopsi hanya dapat dilakukan oleh seorang dokter yang telah menyelesaikan studi di universitas di bidang kedokteran umum, dengan spesialisasi dalam patologi anatomi atau kedokteran forensik Otopsi tidak dapat dilakukan oleh dokter yang merawat almarhum sebelum meninggal, yang terikat dalam hubungan kerja atau semacamnya dengan penyedia layanan kesehatan jika kematian terjadi di rumah sakit tersebut, dan oleh dokter yang melakukan pemindahan organ tubuh dari mayat. Kegiatan dari dokter pemeriksa sangat penting untuk menentukan tindak lanjut dari pemeriksa medis. Tujuan dari inspeksi tubuh di tempat kematian adalah untuk menentukan kematian, untuk menentukan penyebabnya, waktu dan modus, untuk memutuskan tentang prosedur lain yang perlu dilakukan dengan jenazah, untuk memanggil polisi atau pemeriksa medis bila diperlukan, untuk mengisi surat kematian, dan menulis Laporan kepada pemeriksa medis. Kesalahan yang paling sering terjadi saat pemeriksaan di tempat kejadian kematian adalah: pemeriksaan mayat tidak dilakukan secara menyeluruh, hanya formulirnya yang diisi (yang sangat umum ketika mayat berada dalam stadium lanjut pembusukan post-mortem, atau ketika mayat kotor dan bau pengap, atau dalam cuaca buruk), estimasi yang salah mengenai waktu kematian (evaluasi yang salah dari perubahan post-mortem), cedera berat yang tidak dapat ditentukan atau cedera vital yang termasuk dalam perubahan post mortem atau kehancuran post mortem, evaluasi yang salah dari cedera dan modus kematian, komentar tentang kesalahan orang lain (yang mana sebuah pertanyaan untuk seorang ahli), otopsi tidak dilakukan padahal perlu (karena "tekanan" dari kerabat almarhum) akhirnya otopsi ditahbiskan jika tidak masuk akal, tidak benar dan tidak lengkap dalam mengisi formulir yang diperlukan, laporan kematian tidak ditulis sama sekali, dugaan kejahatan tidak dapat ditentukan, perilaku kerabat yang tidak pantas dll. Perlu untuk memberitahukan bahwa kadangkadang pekerjaan dokter yang memeriksa selama pemeriksaan sering terhalang. Faktor-faktor yang secara signifikan dapat mempengaruhi kinerja dokter yang memeriksa ke arah negatif termasuk dekomposisi post-mortem dari tubuh manusia, sebagian besar pembusukan. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk fokus pada beberapa kasus tertentu dari praksis pemeriksa medis dan dengan demikian menunjukkan perbedaan serius antara diagnosis dokter pemeriksa di tempat pemeriksaan pertama dari tubuh dan pernyataan akhir dari pemeriksa medis setelah melakukan otopsi. Hal ini menunjukkan pada pentingnya pemeriksaan pertama yang tepat dari mayat yang ada di tempat kejadian kematian.

Sidlo J et al

Pentingnya pemeriksaan tubuh bagian luar selama olah TKP

Pasien dan metode Dalam semua kasus pemeriksaan makroskopik dan mikroskopis necroptic lengkap dan penyelidikan tambahan laboratorium direalisasikan. Kasus 1 Kasus pertama berfokus pada seorang pria berusia 42 tahun, yang ditemukan oleh saudaranya tergeletak mati di tempat tidur di rumah keluarga mereka dalam posisi tengkurap. Anamnesisnya: pecandu alkohol kronis, perokok berat, dan diabetes mellitus diobati dengan agen antidiabetes oral. Pemeriksaan mayat dilakukan pada pagi hari (10:25) pada tanggal 15 Agustus di sebuah ruangan dengan sinar matahari. Temuan dokter yang memeriksa adalah: bintik-bintik kecil darah yang mengering di selimut dekat kepala mayat, hypostasis post-mortem (lebam mayat) warna ungu yang tertera pada sisi depan seluruh tubuh, rigor mortis terbentuk ke seluruh tubuh, dan tanda-tanda luka wajah (hematoma dan pembengkakan di daerah mata kanan dan luka kecil di daerah alis kanan). Kesimpulan dari dokter yang memeriksa adalah: penyebab kematiannya tidak diketahui. Temuan otopsi: lecet di kedua sisi leher (Gambar 1, 2), pendarahan konjungtiva, ekimosis di bawah permukaan pleura, pendarahan pada otot leher terutama di sisi kiri, fraktur dari tanduk kiri atas tulang tiroid (Gambar 3), dan cairan darah. Analisis toksikologi dari sampel darah dan urin, diambil pada saat otopsi, terdeteksi alkohol dalam konsentrasi 3,15 g.kg-1 dalam darah dan 4,44 g.kg-1 dalam urin. Kesimpulan dari otopsi adalah: penyebab kematian: mati lemas akibat cekikan, cara kematian: dicekik.

Gambar 1. Luka-luka lecet pada Gambar 2. Luka-luka lecet pada Gambar 3. fraktur dari tanduk kiri sisi kanan leher sisi kiri leher atas tulang tiroid dengan pendarahan di sekelilingmya

Kasus 2 Kasus kedua berkonsentrasi pada seorang laki- laki 51 tahun yang ditemukan di pagi hari dengan rekannya di halaman rumah keluarga mereka. Menurut anamnesis, ia sedang dalam pengobatan medis karena tekanan darah tinggi. Pemeriksaan pada mayat dilakukan pukul 05:45 pagi pada tanggal 31 Juli. Dokter yang memeriksa selama pemeriksaan luar tubuh di tempat kejadian menduga mayat dalam posisi telentang dengan anggota badan dan bagian bawah tubuh terletak di trotoar dan kepala terletak di tempat bunga- bunga yang ditanam di sekitarnya. Kesimpulan dari dokter yang memeriksa adalah: kematian mendadak (diduga infark miokard akut) karena hipertensi; selain itu, dalam surat kematian dinyatakan cara kematiannya alami. Mayat dibawa ke Institut kedokteran forensik di sore hari dan otopsi dilakukan hari berikutnya. Temuan otopsi: luka tembak masuk dengan deposisi jelaga melingkar pada garis batas antara garis kepala dan sisi belakang leher, sedikit ke kiri dari garis tengah

tubuh (Gambar 4), (otopsi kemudian dihentikan dan pihak kepolisian telah diberitahukan. Polisi datang ke tempat ditemukannya tubuh korban diduga 40 jam sejak perkiraan waktu kematian.), perdarahan hebat di otot-otot di bagian belakang leher sebelah kiri, lubang tembakan menembus masuk, proyektil masuk ke dalam jaringan lunak di bawah dasar tengkorak sebelah kiri (menurut pemeriksaan sinar-x kepala, Gambar. 5, 6 ), dua fisura kecil pada dasar tengkorak, dekat foramen magnum oksipital di sebelah kiri, dengan perdarahan di sekitar jaringan lunak, perdarahan subarachnoidal jelas di daerah batang otak, luka memar dari pons Varoli, luka memar lokal dari serebelum di sebelah kiri, dan edema otak masif. Analisis toksikologi tidak mendeteksi adanya zat beracun aktif. Tes Lunge positif dengan adanya bubuk mesiu di kulit sekitar luka tembak. Penyebab kematian : kematian sistem saraf pusat, cara kematian : tembakan dari senjata api jenis shotgun.

Gambar 4. Luka tembak masuk di Gambar 5. Radiograph kepala pada Gambar 6. Proyektil yang cacat garis batas antara kepala dan sisi proyeksi sagittal - proyektil di bawah belakang leher dasar tengkorak di sebelah kiri

Kasus 3 Kasus ketiga membahas seorang pria berusia 36 tahun yang ditemukan oleh seorang anak kecil dalam posisi terbalik, tenggelam ke dalam sebuah tong logam yang penuh air hujan, yang dikubur di dalam tanah, di pondok terpencil di area taman (Gambar 7). Tubuh dalam keadaan stadium lanjut dari dekomposisi post-mortem. Pemeriksaan di tempat kejadian kematian dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus pukul 11:00 siang. Dokter pemeriksa tidak menyatakan penyebab kematian; hanya kelanjutan dekomposisi post-mortem diduga proses pembusukan. Polisi, setelah konsultasi dengan pemeriksa medis, memerintahkan otopsi. Temuan otopsi: kelanjutan dekomposisi post-mortem semua organ dan jaringan, luka iris dalam di daerah depan dan sisi leher mengekspos struktur dalam leher dengan gangguan melintang lengkap pada tulang rawan tiroid, laring, faring, kedua vena jugularis eksterna, arteri karotid eksterna, dan otot-otot leher (Gambar 8, 9), dan terdapat lumpur berwarna hitam dengan fir-jarum dalam trakea dan bronkus (Gambar 10). Tes laboratorium tambahan mendeteksi kehadiran spesies langka diatom - Nitzschia dan Diatoma di paru-paru. Analisis toksikologi dari sampel limpa, diambil saat otopsi, terdeteksi etanol pada konsentrasi 1,17 g.kg-1. Penyebab kematian: perdarahan masif dari luka iris - memotong cedera organ leher dan pembuluh darah dalam kombinasi dengan asfiksia karena aspirasi dari darah, air dan zat-zat asing ke dalam saluran napas dan paru-paru, cara kematian: serangan oleh benda tajam (tanah-di aluminium sendok).

Sidlo J et al

Pentingnya pemeriksaan tubuh bagian luar selama olah TKP

Gambar 7. Terlihat mayat terbenam dalam sebuah tong yang penuh air

Gambar 8. Luka iris yang dalam pada struktur leher

Gambar 9. Terlihat adanya kelainan pada kulit setelah dibersihkan dan direkonstruksi tepinya

Gambar 10. Aspirasi bahan-bahan asing ke dalam trakea

Kasus ke-4 Kasus keempat mengisahkan seorang wanita 41 tahun, yang ditemukan pada semak tumbuh-tumbuhan, 15 m dari jalur jalan raya, di dekat sebuah pabrik kimia yang besar, di wilayah yang sering terdapat pelacur. Tubuhnya berada dalam kondisi pembusukan post-mortem stadium lanjut. Pemeriksaan mayat ini dilakukan pada tanggal 6 agustus pukul 15:15. Dokter yang memeriksa tidak dapat menentukan penyebab kematian di tempat kejadian kematian, dan sejak ada jarum suntik yang mengandung zat yang tidak diketahui dan darah di bawah kaos mayat tersebut, dokter tersebut menunjukkan kecurigaannya pada intoksikasi dari zat-zat yang beracun. Temuan otopsi: semua organ dan jaringan telah membusuk; di daerah cacat sekunder pada kulit, yang dihasilkan dari pembusukan dan aktivitas larva lalat, cacat yang serupa bentuk fusiformis ditemukan, yang kemudian diidentifikasi sebagai luka tusukan. Total jumlah tusukan yang meninggalkan luka-luka pada seluruh tubuh sebanyak 35, masing-masing tusukan meninggalkan luka pada tulang rusuk, cacat pada pleura, cacat pada perikardium, cacat pada paru-paru, diafragma, limpa, usus kecil, dan perut. Cacat serupa juga ditemukan di pakaian. Analisis toksikologi pada sampel darah dan otot rangka, yang diambil saat otopsi, terdeteksi etanol dalam konsentrasi 0.42 g.kg-1. Pada sampel darah juga terdeteksi amfetamin dalam konsentrasi 0.08 g.g- 1 dan methamphetamine dalam konsentrasi 0.30 g.g-1. Penyebab kematian: shock perdarahan karena beberapa luka tusukan, terutama di daerah dada dan perut. Modus kematian: penyerangan dengan benda tajam.

Gambar 11. Tampilan keseluruhan tubuh di tempat kematian

Gambar 12. Jarum suntik pada dada mayat

Gambar 13. Luka tusuk multiple, beberapa diubah Gambar 14. Beberapa luka tusuk di dinding dada oleh aktivitas larva lalat

Kesimpulan Tujuan dilakukan penyelidikan ini yaitu untuk menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan penting antara temuan otopsi dan temuan dokter pemeriksa dalam kasus-kasus kematian karena kejahatan serius. Temuan-temuan ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan tubuh di tempat kejadian sebagai tindakan yang unik dan tidak dapat diulang dan tidak kalah pentingnya otopsi sebagai metode penyelidikan yang tidak tergantikan. Fakta-fakta yang didapatkan dari kasus-kasus tersebut bahwa pembusukan dapat menutupi kerusakan mekanik serius, seperti luka tusuk atau luka iris. Semua kasus memberi contoh kejahatan yang serius. Pada akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa fenomena tersebut secara negatif mempengaruhi kinerja penegak hukum. Daftar Pustaka
1. Act no. 576/2004 Coll. on health care, health care - related services and on the amendment and supplementing of certain laws. 2. Act no. 581/2004 Coll. on health care insurance companies, and surveillance over health care and on the amendment and supplementing of certain laws. 3. Act no. 301/2005 Coll. Code of Criminal Procedure.