Anda di halaman 1dari 17

NASKAH UJIAN KASUS FORENSIK KLINIK

Penguji : D r. Tjetjep Dwidja Siswaja Sp.F

Oleh : Helen Indah 030.07.103

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA-RSUPNCM JAKARTA PERIODE 1 APRIL 2013-14 APRIL 2013

BAB I ILUSTRASI KASUS PENGANIAYAAN

A. IDENTITAS a. Nama b. Tempat/tgl lahir c. Umur d. e. f. Jenis Kelamin Agama Pekerjaan : Bertrand Kamkuimo : Mbo-Cameron, 29 Juni 1978 : 34 tahun : Laki-laki : ISLAM : Business : Camerun : Apartemen Salemba Tower A 1703 Senen

g. Warganegara h. Alamat Jakarta Pusat

Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 19 Februari 2013 pukul 11.30 WIB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. B. ANAMNESA/ WAWANCARA Sebelas jam sebelum dilakukannya pemeriksaan yaitu jam 24.00 WIB di JAZZ Hotel Kemayoran, korban mengaku dipukul oleh seseorang yang tidak dikenal, korban mengaku kepalanya dipukul sebanyak 1x dengan botol kaca hingga botolnya pecah. Lalu pelaku juga mencoba untuk menusuk korban, tetapi korban mencoba untuk merebut botol kaca tersebut sehingga tangannya terluka akibat pecahan kaca dan korban terjatuh. Karena tidak mengenai korban, pelaku kemudian melarikan diri. Korban mengaku pelaku adalah seorang pria yang usianya kurang lebih 30 tahun. Korban tidak merasa mengenal pelaku. C. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang Kesadaran : Compos Mentis Pemeriksaan tanda-tanda vital: -Tekanan darah :140/90 -Frekuensi nadi : 98x/ menit

-Temperatur : 36,5 -Frekuensi napas : 22x/menit Status Lokalis Luka/ Cedera 1. Pada pelipis kiri 4 cm dari GPD, 2 cm diatas alis terdapat luka terbuka tepi tidak rata yang bila dirapatkan membentuk garis sepanjang 4 cm dimana luka tersebut telah dijahit dengan menggunakan 4 buah simpul benang warna hitam dan dikelilingi oleh luka lecet berukuran 2 cm x 1,5 cm 2. Pada ujung jari manis tangan kanan terdapat luka terbuka tepi rata dasar otot dengan sebagian jaringan tampak hilang berukuran 1,5 cm x 1 cm dan luka tersebut ditutup dengan kassa putih 3. Pada telapak tangan kanan 3 cm dibawah pergelangan tangan terdapat luka terbuka dangkal dengan dasar jaringan bawah kulit tepi rata dengan jaringan kulit tampak menggelambir ke arah atas sepanjang 1 cm 4. Pada lutut kanan terdapat luka terbuka dangkal dasar jaringan bawah kulit dengan sebagian jaringan kulit tampak hilang berukuran 2 cm x 0,6 cm. D. PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN HASIL Tidak dilakukan pada korban E. TINDAKAN ATAU PENGOBATAN Pada korban dilakukan penjahitan luka terbuka pada pelipis kiri Korban juga direncanakan untuk dilakukan operasi penutupan luka pada jari manis tangan kanan dengan anestesi lokal tetapi korban menolak dan lukanya ditutup dengan kassa putih. F. KESIMPULAN : Pada pemeriksaan korban laki-laki usia 34 tahun ini didapatkan luka terbuka pada wajah dan angota gerak akibat kekerasan tajam, jabatan atau pencaharian. Luka-luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RUMAH SAKIT Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO Jalan Diponegoro no. 71, Jakarta Pusat 10430 Kotak Pos 1086 Telp. 3918301, 31930808 (Hunting), Fax 3148991 Nomor Perihal Lampiran : 9923/3840242/VR/II/13 Jakarta, 6 April 2013 : Hasil pemeriksaan terhadap korban Tn.Bertrand K : -

PRO JUSTITIA VISUM ET REPERTUM Saya yang bertanda tangan di bawah ini, dr. Helen Indah, dokter pada Departemen Ilmu Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta, atas permintaan dari Kepolisian Resort Metro Jakarta Pusat dengan suratnya nomor 124/VER/II/2013/POLRES JP, tertanggal sembilan belas februari dua ribu tiga belas, dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal sembilan belas februari dua ribu tiga belas, pukul sebelas lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor registrasi 384-02-42 , yang menurut surat tersebut adalah:Nama :Bertrand Kamkuimo --------------------------Tgl Lahir :mbo Cameron/ 29 Juni 1978------------------Umur :34 tahun------------------------------------Jenis kelamin :Laki-laki-----------------------------------Warganegara :Camerun-------------------------------------Pekerjaan :Business ----------------------------------Agama :Kristen-------------------------------------Alamat :Apartemen Salemba Tower A-1703 Senen Jakarta pusat.--------------------------------------------------------------HASIL PEMERIKSAAN-------------------PEMERIKSAAN LUAR---------------------------------------------1. Korban datang dalam keadaan sadar penuh, kooperatif dengan keadaan umum tampak tampak sakit sedang. Korban mengaku: Sebelas jam sebelum pemeriksaan, di Hotel Jazz Kemayoran korban dipukul dengan botol sebanyak satu kali hingga botol pecah kemudian pelaku berusaha menusuk korban dengan botol yang pecah tadi tetapi tangan korban terkena pecahan kaca dan terjatuh akibat berusaha merebut botol tersebut karena tidak mengenai korban maka pelaku

akhirnya kabur menurut keterangan korban pelaku adalah seorang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun yang tidak dikenal. Korban mengaku tidak merasakan pusing dan juga tidak pingsan.------------------------------Pada korban ditemukan. DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RUMAH SAKIT Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO Jalan Diponegoro no. 71, Jakarta Pusat 10430 Kotak Pos 1086 Telp. 3918301, 31930808 (Hunting), Fax 3148991 Lanjutan Visum et Repertum No. : 124/VER/II/2013/POLRES JP Halaman ke 2 dari 3 halaman

2. Pada korban ditemukan:----------------------------------(1) Keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran baik.--(2) Tekanan darah seratus empat puluh per Sembilan puluh milimeter air raksa, frekuensi nadi Sembilan puluh delapan kali per menit, frekuensi pernapasan dua puluh dua kali per menit suhu tiga puluh enam koma lima derajat celcius-------------------------------------(3) Pada pelipis kiri empat centimeter dari garis pertengahan depan, dua sentimeter diatas alis terdapat luka terbuka tepi tidak rata yang bila dirapatkan membentuk garis sepanjang empat sentimeter dimana luka tersebut telah dijahit dengan menggunakan empat buah simpul benang warna hitam dan dikelilingi oleh luka lecet berukuran dua sentimeter kali satu koma lima sentimeter.-----------------------------------------(4) Pada ujung jari manis tangan kanan terdapat luka terbuka tepi rata dasar otot dengan sebagian jaringan tampak hilang berukuran satu koma lima sentimeter kali satu sentimeter dan luka tersebut ditutup dengan kassa putih.----------------------------------------------(5) Pada telapak tangan kanan tiga sentimeter dibawah pergelangan tangan terdapat luka terbuka dangkal dengan dasar jaringan bawah kulit tepi rata dengan jaringan kulit tampak menggelambir ke arah atas sepanjang satu sentimeter.-----------------------------------------3. Tindakkan pengobatan: Pada korban dilakukan penjahitan luka terbuka pada pelipis kiri Korban juga direncanakan untuk dilakukan operasi penutupan luka pada jari manis tangan kanan dengan anestesi lokal tetapi korban menolak dan lukanya ditutup dengan kassa putih------------------4. Korban pulang.------------------------------------------KESIMPULAN------------------------------------------------Pada pemeriksaan korban laki-laki usia tiga puluh empat tahun ini didapatkan luka terbuka pada wajah dan angota gerak akibat kekerasan tajam, Luka-luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian.-------------------------------------------

Demikianlah

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RUMAH SAKIT Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO Jalan Diponegoro no. 71, Jakarta Pusat 10430 Kotak Pos 1086 Telp. 3918301, 31930808 (Hunting), Fax 3148991 Lanjutan Visum et Repertum No. : 124/VER/II/2013/POLRES JP Halaman ke-3 dari 3halaman Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).------------------------------------------------------

Jakarta, 6 April 2013 Dokter pemeriksa,

dr. Helen Indah NIM: 03007103

BAB II PEMBAHASAN UMUM A. Prosedur Medikolegal Penegakan hukum harus dilakukan dengan seadil-adilnya sessuai dengan fakta yang sebenarnya.Hal ini membuat penegakan hukum harus berdasarkan pada keilmuan ahli bidang yang terkait.Bidang kedokteran diberikan penghargaan yang sangat tinggi dalam upaya menegakkan keadilan yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia.Kedokteran forensik sebagai ujung tombak bidang peradilan lebih mudah. Ahli kedokteran forensik,bersama-sama dengan ahli kedokteran lain bertanggung jawab dalam memberikan penjelasan ( keterangan ahli ) bagi pihak yang menangani kasus hukum yang sedang berlangsung.Oleh karena itu dokter diharapkan dapat menemukan kelainan pada tubuh korban,serta dampak yang akan timbul terhadap kesehatannya,jika korban ternyata masih hidup.Jika korbannya telah meninggal,maka dokter diharapkan dapat menjelaskan penyebab dan mekanisme kematian. Kewajiban dokter memberikan keterangan ahli diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (1) : Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana,ia berwenang menagajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahlinya. Keterangan ahli atas permintaan pihak berwenang untuk kepentingan peradilan akan dibuat dalam bentuk tulisan.Keterangan ahli yang bertuliskan tersebut disebut Visum et Repertum,per definisi,adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia,baik hidup atau mati,ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia,berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan. Visum et Repertum hanya sah bila dibuat oleh dokter yang telah mengucapkan sumpah saat mulai menjabat sebagai dokter,yang lafalnya seperti pada No.97 pasal 38,tahun

1882.Komponen Visum et Repertum meliputi kata Pro Justisia, pemberitahuan, pemberitaan, kesimpulan dan penutup.

pendahuluan,

Permintaan keterangan ahli oleh penyidik harus dilakuakan secara tertulis, seperti yang tertuang pada KUHAP 133 ayat (2) : Pnemenuan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis,yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Permintaan tertulis itu disebut Surat Permintaan Visum ( SPV ).Syarat SPV yang sah adalah jika berisi kop surat,dugaan penyebab kematian,permintaan apakah pemeriksaan luar dan atau bedah mayat,serta nama dan tanda tangan peminta visum. Sesuai peraturan Pmerintahan No.27 Tahun 1983,pihak yang berwenang membuat SPV adalah penyidik pembantu berpangkat serendah-rendahnya Sersan Dua.Seorang komandan kepolisian,tanpa memandang pangkatnya,adalah seorang penyidik dan berhak meminta keterangan ahli.Apabila pada pembuatan visum et Rpertum jenazah,terdapat permintaan bedah mayat ( autopsi ),maka penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban sesuai dengan KUHAP pasal 134 ayat (1): Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari,penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. Kemudian jika keluarga keberatan,kewajiban penyidik tercantum dlam pasal 134 ayat (2) : Dalam hal keluarga keberatan,penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. Jika tidak ada keluarga yang meberi tanggapan atau tidak dapat dihubungi,maka boleh dilakukan autopsi sesuai dengan KUHAP pasal 134 ayat (3): Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan ataupun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan,penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini. Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi pemeriksaan luar dan pemeriksaan bedah mayat.Pemeriksaan luar merupakan pemeriksaan yang tidak merusak keutuhan jaringan jenazah,dilakukan secara teliti dan sistematik.Pemeriksaan meliputi tutup/bungkus mayat,perhiasan,pakaian,benda-benda disekitar jenazah,tanda-tanda tanatologi,gigi geligi,identitas khusus dan luka-luka yang ada di seluruh bagian luar tubuh.Dari pemeriksaan ini kesimpulan yang didapat adalah jenis luka,jenis kekerasan,dan perkiraan saat kematian. Jika panggul.Dapat belum pula dilakukan dilakukan autopsi,maka pemeriksaan penyebab penunjang kematian yang belumdapat seperti ditentukan.Autopsi dilakukan dengan membuka tengkorak,dada,leher,perut danpangkal diperlukan

histopatologik,toksikologi,dan lain-lain untuk menentukan penyebab dan mekanisme kematian. Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam. 1. Benda-benda mekanik a. Trauma benda tajam Trauma tajam ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Ciri-ciri umum dari luka benda tajam adalh sebagai berikut : 1) Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata dan sudutnya runcing 2) Bila ditautkan akan mejadi rapat (karena benda tersebut hanya memisahkan , tidak menghancurkan jaringan) dan membentuk garis lurus dari sedikit lengkung. 3) Tebing luka rata dan tidak ada jembatan jaringan. 4) Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada memar. Trauma tajam dikenal dalam tiga bentuk pula yaitu luka iris atau luka sayat (vulnus scissum), luka tusuk (vulnus punctum) dan luka bacok (vulnus caesum). 1) Luka sayat Luka sayat ialah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relativ ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit. Ciri luka sayat : a) Pinggir luka rata b) Sudut luka tajam c) Rambut ikut terpotong d) Jembatan jaringan ( - ) e) Biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak sampai tulang 2) Luka tusuk Luka tusuk ialah luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Contoh: -Belati, bayonet, keris -Clurit

-Kikir -Tanduk kerbau Ciri luka tusuk (misalnya senjata pisau / bayonet) : Tepi luka rata Dalam luka lebih besar dari panjang luka Sudut luka tajam Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam Sering ada memar / echymosis di sekitarnya 3) Luka bacok Luka bacok ialah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. Contoh : pedang, clurit, kapak, baling-baling kapal. Ciri luka bacok : Luka biasanya besar Pinggir luka rata Sudut luka tajam Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang, dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar, aberasi b. Trauma benda tumpul Trauma tumpul ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tumpul. hal ini disebabkan oleh benda-benda yang mempunyai permukaan tumpul, seperti batu, kayu, martil, terkena bola, ditinju, jatuh dari tempat ketinggian, kecelakaan lalu-lintas dan lain-lain sebagainya. Trauma tumpul dapat menyebabkan tiga macam luka yaitu: 1) Luka memar (contusio) Memar merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan jaringan tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit. Kerusakan tersebut disebabkan oleh pecahnya kapiler sehingga darah keluar dan meresap kejaringan di sekitarnya.

Mula mula terlihat pembengkakan, berwarna merah kebiruan. Sesudah 4 sampai 5 hari berubah menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari seminggu menjadi kekuningan. Pada orang yang menderita penyakit defisiiensi atau menderita kelainan darah, kerusakan yang terjadi akibat trauma tumpul tersebut akan lebih besar di bandingkan pada orang normal. Oleh sebab itu, besar kecilnya memar tidak dapat di jadikan ukuran untuk menentukan besar kecilnya benda penyebabnya atau kekerasan tidaknya pukulan. Pada wanita atau orang orang yang gemuk juga akan mudah terjadi memar. Dilihat sepintas lalu luka memar terlihat seperti lebam maya, tetapi jika di periksa dengan seksama akan dapat dilihat perbedaan perbedaanya, yaitu : Memar Lokasi Pembengkakan Bila di tekan Mikroskopik 2) Luka lecet (abrasio) Luka lecet adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri cirinya adalah : o Bentuk luka tak teratur o Batas luka tidak teratur o Tepi luka tidak rata o Kadang kadang di temukan sedikit perdarahan o Permukaannya tertutup oleh krusta ( serum yang telah mongering ) o Warna coklat kemerahan o Pada pemeriksan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih di tutupi epitel dan reaksi jaringan (inflamasi) Bisa dimana saja Positif Warna tetap Reaksi jaringan(+) Lebam mayat Pada terendah Negatif Memucat / hilang Reaksi jaringan ( - ) bagian

Bentuk luka lecet kadangkadang dapat memberi petunjuk tentang benda penyebabnya; seperti misalnnya kuku, ban mobil, tali atau ikat pinggang. Luka lecet juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia, dengan tanda tanda sebagai berikut : o Warna kuning mengkilat o Lokasi biasnya didaerah penonjolan tulang o Pemeriksaan mikroskopik tidak di temukan adanya sisa- sia epitel dan tidak di temukan reaksi jaringan. 3) Luka robek (vulnus laceratum) Luka terbuka / robek adalah luka yang disebabkan karena persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya, yang ciricirinya sebagai berikut : o Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata o Bila ditautkan tidak dapat rapat ( karena sebagaian jaringan hancur ) o Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan o Di sekitar garis batas luka di temukan memar o Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang ( misalnya daerah kepala, muaka atau ekstremitas ). Karena terjadinya luka disebabkan oleh robeknya jaringan maka bentuk dari luka tersebut tidak menggambarkan bentuk dari benda penyebabnya. Jika benda tumpul yang mempunyai permukaan bulat atau persegi dipukulkan pada kepala maka luka robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi.

B.Visum et Repertum pada Kasus Perlukaan Tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada korban hidup adalah untuk mengetahui penyebab sakit atau luka dan derajat keparahannya. Pemeriksaan yang dilakukan diharapkan

dapat memenuhi rumusan delik dalam KUHP. Walaupun pemeriksaan ini tidak ditujukan untuk pengobatan, pemeriksaan forensik tetap saja merupakan hal yang sangat penting untuk diberi perhatian. Hal ini mengingat penegakan hukum adalah semata-mata untuk melindungi hak asasi manusia. Seorang dokter harus membuat catatan medik atas semua hasil pemeriksaan medik yang dilakukan. Pada korban yang diduga korban tindak pidana, pencatatan harus lengkap dan jelas sehingga dapat digunakan untuk membuat visum et repertum. Catatan medik yang tidak lengkap akan menyebabkan hilangnya sebagian barang bukti di dalam pemberitaan visum et repertum

C. Derajat Luka Berdasarkan ketentuan dalam KUHP, penganiayaan ringan adalah penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan sebagaimana bunyi pasal 352 KUHP. Umumnya yang dianggap sebagai hasil dari penganiayaan ringan adalah korban dengan tanpa luka atau dengan luka kecet atau memar kecil di lokasi yang tidak berbahaya/yang tidak menurunkan fungsi alat tubuh tertentu.Lukaluka tersebut dimasukkan ke dalam kategori luka ringan atau luka derajat satu. KUHP pasal 90 telah memberikan batasan tentang luka berat yaitu jatuh sakit, atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut yang menyebabkan seseorang terus menerus tidak mampu untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian, yang menyebabkan kehilangan salah satu panca indra, yang menimbulkan cacat berat, yang mengakibatkan terjadinya keadaan lumpuh, terganggunya daya pikir selama empat minggu atau lebih serta terjadinya gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. Dengan demikian keadaan yang terletak diantara luka ringan dan luka berat adalah keadaan yang dimaksud dengan luka sedang. Luka sedang adalah luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabtan atau mata pencariaanya untuk sementara waktu.

BAB III PEMBAHASAN KHUSUS A. Prosedur Medikolegal

Pada kasus ini, surat permintaan visum sudah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2) yaitu secara tertulis dengan komponenkomponen sebagai berikut : 1.Institusi pengirim : Kepolisian Negara Republik Indonesia Sektor Metropolitan Jakarta Pusat 2. Nomor surat : 124/VER/II/2013/POLRES JP 3.Tujuan surat : Direktur Rumah Sakit RSCM 4.Identitas : Nama, tempat tanggal lahir, agama, pekerjaan, kebangsaan, dan alamat. 5.Dugaan Luka : Luka sobek 6.Permintaan Penyidik : Pemeriksaan dan Pembuatan Visum et Repertum 7.Jabatan pengirim : Atas nama Kapolsek Metropolitan Jakarta Pusat B. Pemeriksaan Korban Pada tanggal 19 Februari 2013 pukul 24.00 WIB korban mengaku Hotel Jazz Kemayoran korban dipukul dengan botol sebanyak satu kali hingga botol pecah kemudian pelaku berusaha menusuk korban dengan botol yang pecah tadi tetapi tangan korban terkena pecahan kaca dan terjatuh akibat berusaha merebut botol tersebut karena tidak mengenai korban maka pelaku akhirnya kabur menurut keterangan korban pelaku adalah seorang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun yang tidak dikenal. Korban mengaku tidak merasakan pusing dan juga tidak pingsan. C. Luka-luka Pada pemeriksaan korban laki laki berusia tiga puluh empat tahun ini ditemukan luka terbuka pada pelipis kiri empat cm dari GPD, 2 cm diatas alis terdapat luka terbuka tepi tidak rata yang bila dirapatkan membentuk garis sepanjang 4 cm dimana luka tersebut telah dijahit dengan menggunakan 4 buah simpul benang warna hitam dan dikelilingi oleh luka lecet berukuran 2 cm x 1,5 cm Pada ujung jari manis tangan kanan terdapat luka terbuka tepi rata dasar otot dengan sebagian jaringan tampak hilang berukuran 1,5 cm x 1 cm dan luka tersebut ditutup dengan kassa putih. Pada telapak tangan kanan 3 cm dibawah pergelangan tangan terdapat luka terbuka dangkal dengan dasar jaringan bawah kulit tepi rata dengan jaringan kulit tampak menggelambir ke arah atas sepanjang 1 cm

D. Perencanaan 1. Pembuatan Visum et Repertum, karena surat permintaan visum telah diterima. 2. Terhadap luka luka pasien diberikan pengobatan antiseptik

E. Hukuman terhadap Pelaku Sesuai dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, pelaku dapat dikenakan hukuman paling lama dua tahun delapan bulan. F. Kesimpulan Pada pemeriksaan seorang laki-laki berusia dua puluh tiga tahun ditemukan bengkak pada wajah akibat kekerasan tumpul. bengkak tersebut tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan/jabatan/pencaharian. Dari hasil pemeriksaan, dapat ditentukan bahwa korban mengalami luka derajat I. Pelaku ini dapat dikenai jerat hukum sesuai dengan pasal 351 tentang penganiayaan (ancaman hukuman paling lama dua tahun delapan bulan).

DAFTAR PUSTAKA 1. Budianto A. Widjiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997.

2. Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kedokteran. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK UI, 1994. 3. Idris MA, Tjiptomartono AL. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Edisi Revisi. Jakarta : CV Sagung Seto, 2011.