Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN Sejak permulaan sejarah yang tersurat mengenai umat manusia, sudah dikenal hubungan kepercayaan antara

dua insan yaitu sang pengobat dan penderita. Dalam zaman modern, hubungan ini disebut hubungan kesepakatan terapeutik antara dokter dan penderita (pasien) yang dilakukan dalam suasana saling percaya mempercayai (konfidensial) serta senantiasa diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani. Sejak terwujudnya sejarah kedokteran, seluruh umat manusia mengakui serta mengetahui adanya beberapa sifat mendasar (fundamental) yang melekat secara mutlak pada diri seorang dokter yang baik dan bijaksana,yaitu sifat ketuhanan, kemurnian niat, keluhuran budi, kerendahan hati, kesungguhan kerja, integritas ilmiah dan sosial, serta kesejawatan yang tidak diragukan. Inhotep dari Mesir, Hippocrates dari Yunani, Galenus dari Roma, merupakan beberapa ahli pelopor kedokteran kuno yang telah meletakkan sendi-sendi permulaan untuk terbinanya suatu tradisi kedokteran yang mulia. Beserta semua tokoh dan organisasi kedokteran yang tampil ke forum internasional, kemudian mereka bermaksud mendasarkan tradisi dan disiplin kedokteran tersebut alas suatu etik profesional. Etik tersebut, sepanjang masa mengutamakan penderita yang berobat serta demi keselamatan dan kepentingan penderita. Etik ini sendiri memuat prinsip-prinsip, yaitu: beneficence, non maleficence, autonomy dan justice. Etik kedokteran sudah sewajarnya dilandaskan alas norma-norma etik yang mengatur hubungan manusia umumnya, dan dimiliki asas-asasnya dalam falsafah masyarakat yang diterima dan dikembangkan terus. Khusus di Indonesia, asas itu adalah Pancasila yang sama-sama kita akui sebagai landasan Idiil dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan struktural.

BAB II LAPORAN KASUS Skenario 1 Ny. S, 35 tahun datang berobat ke sebuah klinik bedah dengan keluhan utama tidak dapat buang air kecil. Setiap kali ingin BAK, perlu ditolong dengan memakai kateter. Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap termasuk dengan kolonoskopi, ditemukan adanya tumor pada daerah kolon yang mendesak vesika urinaria sehingga mengakibatkan kesulitan BAK. Dokter menganjurkan untuk dilakukan tindakan pembedahan pengangkatan tumor mengingat tumornya belum seberapa besar. Ny S dan keluarganya setuju saran dokter dan menandatangani informed consent. Skenario 2 Saat pembedahan dilakukan dokter menemukan banyak terjadi perlengketan dan ternyata karsinoma primernya pada ovarium kiri. Dihadapkan pada kenyataan yang ada saat itu dan kondisi pasien yang tampak melemah , dokter segera memutuskan untuk melakukan reseksi kolon dan mengangkat ovariumnya tanpa konsultasi dengan dokter obgyn. Setelah operasi, kondisi pasien tampak membaik dan dokter segera memberikan kemoterapi serta penyinaran. Akibat efek samping kemoterapi dan penyinaran itu, Ny. S, merasakan penderitaan yang luar biasa, tidak bisa makan karena sangat mual dan nyeri yang kadangkadang hampir tidak tertahankan. Ny. S akhirnya mengambil keputusan untuk menolak terapi apapun dan memilihtinggal di rumah bersama keluarganya. Ia menyadari bahwa penyakitnya tidak bisa diobati dan hidupnya tidak lama lagi. Skenario 3 Sikap Ny. S, yang menolak semua terapi dari dokter, berdampak pada kondisifisiknyayang semakin kurus. Atas saran teman-temannyadan juga desakan dari keluarganyany. Slalu mencoba berobat ke pengobatan alternatif. Ramuanjamudari pengobatan alternative ternyata tidak memberikan perbaikan pada kondisi kesehatan Ny. S semakiin parah dan sekarang malah sering merasakan sakit yang luar biasa yang hampirhampir tidak tertahankan. Melihat keadaan Ny. S suaminya lalu minta bantuan dokter di dekat rumahnya untuk mengatasi rasa sakitnya. Dokter lalu memberikan suntikan morfin. Akibat suntikan morfin itu, ny S tertidur dan kelihatannyarasa sakitnyabisa diredakan.

Namun setelah efek morfin itu hilang, Ny S tampak kesakitan kembali sehingga dokter terpaksa memberikan suntikan morfin beberapa kali dengan dosisyang semakin bertambah. Pada akhirnya nyawa ny S tidak dapat dipertahankan, ia akhirnya meninggal.

BAB III PEMBAHASAN Identitas Pasien Nama Umr :S : 35 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Alamat Agama ::-

Status Pernikahan: Menikah Skenario 1 Tindakan yang dilakukan oleh dokter terhadap Ny.S sudah tepat karena sesuai dengan standar medis. Berdasarkan hukum kedokteran, tujuan tindakan medis yang utama, yaitu menegakkan diagnosis berupa ditemukan adanya tumor pada daerah kolon yang mendesak vesika urinaria sehingga menyebabkan kesulitan bak dan merencanakan serta melaksanakan terapi yaitu berupa menganjurkan untuk dilakukan tindakan pembedahan pengangkatan tumor. Untuk menegakkan diagnosis, dokter harus melakukan pemeriksaan secara lengkap dan menyeluruh serta harus teliti, agar tidak terjadi kesalahan dalam mendiagnosis berupa underdiagnosis atau overdiagnosis dan misdiagnosis. Diagnosis yang tepat sangat berpengaruh pada rencana dan tindakan terapi yang akan dilakukan. Sikap dokter yang menganjurkan untuk dilakukan pembedahan pengangkatan tumor, menunjukan bahwa dokter memegang prinsip menghormati otonomi pasien dimana pasien berhak untuk memilih dan menolak terapi yang akan dilakukan oleh dokter. Syarat legal dilakukannya tindakan medis harus mencakup tiga hal : 1. Izin pasien berupa informed consent. Materi yang terdapat dalam informed consent

mencakup prosedur tindakan medis berupa alat-alat yang diperlukan, bagian tubuh yang

terkena, kemungkinan nyeri yang timbul, dan kemungkinan terjadinya perluasan operasi (setelah operasi baru diberitahukan kepada pasien dan keluarganya), risiko yang mungkin terjadi, manfaat tindakan, alternatif tindakan, prognosis bila tidak dilakukan operasi ini, perkiraan biaya dan tujuan tindakan medis.

Dasar hukum Informed Consent: a. Undang-undang no. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran : Informed consent adalah persetujuan pasien untuk menjalani tindakan medis setelah dia memahami rencana tindakan tersebut. b. PERMENKES 585/ 89 : Persetujuan bisa secara lisan/ tertulis. Setelah pasien mendapatkan informasi yang adekuat tentang tindakan dan faktor risikonya. Kegunaan informed consent : 1) Sebagai bukti tertulis persetujuan tindakan medis 2) Memacu ketelitian dan kehati-hatian dokter 3) Meningkatkan pengambilan keputusan yang rasional 4) Menghindari penipuan dan pemerasan 5) Dokter terhindar secara hukum dari kegagalan yang bukan kelalaian Setiap tindakan invasif harus ada informed consent tertulis dan pasien harus sudah memahami risiko dan efek samping. Dokter perlu menjelaskan secara singkat dan jelas serta menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien mengenai semua perincian terapi, mulai dari pre-operasi sampai post-operasi. Hal ini telah disebutkan dalam PERMENKES 585 pasal 6 bahwa informasi harus diberikan oleh dokter yang melakukan operasi. Yang dapat memberikan persetujuan informed consent : 1) Persetujuan oleh pasien dewasa yang sehat mental, minimal 21 tahun atau telah menikah. 2) Jika pasien tidak sehat secara mental dapat diwakilkan oleh wali.

3) Keluarga terdekat apabila pasien belum 21 tahun. 4) Jika dokter melakukan tindakan medis invasif tanpa informed consent maka dianggap menganiaya.

2.

Alasan menurut ilmu kedokteran : Indikasi medis. (dalam hal ini ditemukan tumor

yang menekan Vesika Urinaria sehingga mengakibatkan kesulitan bak, yang merupakan indikasi dilakukannya pengangkatan tumor melalui pembedahan) 3. Cara yang baku/ standar menurut ilmu kedokteran : Standar medis.

Tindakan medis harus didasari prinsip moral :(3) Otonomi Beneficence Non-maleficience Justifikasi Skenario 2 Pro dan kontra terhadap tindakan operasi yang dilakukan oleh dokter : PRO KONTRA 1. Tindakan dokter yang melakukan 1. Dokter melakukan kesalahan dalam reseksi kolon dan mengangkat ovarium kiri pasien dapat dibenarkan apabila di informed consent telah diinformasikan mengenai tindakan lain yang mungkin akan diperlukan sewaktu-waktu. Reseksi kolon dan pengangkatan ovarium dapat dimasukkan ke dalam perluasan operasi. Pasal 7 Permenkes RI No 585: kemungkinan mendiagnosis underdiagnosis penyakit berupa pasien adanya atau tumor

primer yang telah bermetastasis dan tidak terdiagnosis oleh dokter. 2. Dokter mengangkat ovarium kiri

tanpa persetujuan dari pasien dimana mengingat usia pasien masih produktif. Ini akan berpengaruh besar terhadap kemampuan reproduksi. Dokter dianggap

melanggar prinsip otonomi pasien. Informasi juga harus diberikan jika ada kemungkinan perluasan operasi. Perluasan yangtidak dapat diduga sebelumnya, dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. Setelah perluasan operasi tersebut dilakukan, dokter harus memberikan informasi kepada pasien nya 3. Dokter seharusnya meminta izin kepada keluarga pasien atau berkonsultasi dahulu dengan dokter obgyn yang ahli. 4. Dokter ini mungkin berkompetensi

untuk mengangkat ovarium kiri, tapi tidak berwenang untuk melakukannya karena itu merupakan kompetensi dokter obgyn.

2.

Dengan melihat kondisi pasien yang melemah, dokter segera

5.

Berdasarkan

standar

operasional

tampak

medis dokter dianggap melanggar karena tidak melakukan biopsi terlebih dahulu untuk pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui stadium Ca.

memutuskan untuk melakukan reseksi kolon dan mengangkat ovarium tanpa konsultasi dengan dokter obgyn, hal ini menunjukan bahwa dokter melaksanakan prinsip beneficence (untuk kepentingan pasien), dimana jika tindakan tersebut tidak dilakukan segera, dikhawatirkan akan memperburuk keadaan pasien.

Dikatakan bahwa akibat efek samping kemoterapi dan penyinaran itu, Ny.S, merasakan penderitaan yang luar biasa sehingga Ny.S mengambil keputusan untuk menolak terapi apapun dan mamilih tinggal dirumah bersama keluarganya. Ia menyadari bahwa penyakitnya tidak bisa diobati dan hidupnya tidak akan lama lagi. PRO Ny.S KONTRA Ny.S

1. Pengobatan dengan kemoterapi selain sakit 1. Ny. S masih muda (35 tahun), seharusnya juga mengeluarkan biaya yang besar dan tidak berputus asa, lagipula setelah operasi hasilnya pun belum tentu dapat sembuh. dilakukan kondisi pasien tampak membaik.

2. Menolak semua pengobatan adalah hak 2. Hidup dan mati, sakit dan sembuh adalah Ny.S. Tuhan yang menentukan, manusia harus berusaha. 3. Menolak segala macam pengobatan

termasuk bunuh diri secara tidak langsung. Peran dokter dalam menghadap Ny.S yang menolak semua terapi : Dokter tidak dapat memaksa pasien untuk melakukan terapi karena menolak terapi adalah hak pasien dan dokter harus menghormatinya. Menjelaskan tujuan dilakukan terapi atau pengobatan. Menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi apabila tidak dilakukan terapi. Dokter harus memikirkan kemungkinan bahwa pasien akan mencari pengobatan lain (terapi alternatif) sehingga dokter harus menjelaskan perbedaan pengobatan alternatif dan terapi medis serta efek yang mungkin akan terjadi dari pengobatan alternatif yang tidak benar atau sembarangan. Pandangan agama tentang hal yang harus dilakukan dalam menghadapi sakit penyakit: 1. ISLAM Islam memerintahkan seluruh umatnya untuk melakukan pengobatan, dan sebaliknya melarang mereka bersikap pasrah dengan kondisi negatif tanpa melakukan tindakan usaha apapun. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan perawi lain disebutkan bahwa Rasululluah bersabda bahwa setiap penyakit memiliki penawar. Jika obat penawar itu sudah dikonsumsi, maka penyakitnya akan sembuh dengan izin Allah. Dalam hadits tersebut juga dijelaskan prinsip-prinsip dalam pengobatan, yakni

menentukan jenis obat dengan cermat terlebih dahulu, memahami betul jenis obat tersebut dengan mengkonsultasikan kepada ahlinya (dokter spesialis). Menurut ajaran Islam, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang yang sakit, yaitu antara lain: 1) Orang sakit harus bersabar dan jangan banyak berkeluh kesah 2) Memperbanyak permohonan kepada Tuhan 3) Berusaha berobat dengan sikap tawakal kepada Allah 2. KRISTEN Memandang manusia bukan sebagai objek / materi Tidak hanya penyembuhan etiologi medis Diberikan pengobatan agar pasien merasa lebih nyaman 3. KHATOLIK Meskipun nyatanya kematian sudah dekat, perawatan yang biasanya diberikan kepada orang sakit, tidak boleh dihentikan. Memakai cara untuk mengurangi rasa sakit, untuk meringankan penderitaan orang yang sakit parah, bahkan dengan bahaya memperpendek kehidupannya, secara moral dapat dipandang sesuai dengan martabat manusia, kalau kematian tidak dikehendaki sebagai tujuan atau sebagai sarana, tetapi hanya diterima dan ditolerir sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Perawatan orang yang menghadapi ajalnya adalah satu bentuk cinta kasih tanpa pamrih yang patut dicontoh. Karena alasan ini, perawatan harus digalakkan. 4. HINDU Kalau sakit, hendaklah diusahakan pengobatannya. Laksanakanlah dharma itu sebab dharma itulah yang akan melindungi dari bahaya. Pasien, pakar pengobatan dan keluarga pasien hendaknya sabar dan mengusahakan penyembuhannya.

Pasien hendaknya berdoa (sembahyang). Memandang sakitnya bukan kutukan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), tetapi ada hubungannya dengan hukum karma. Dokter serta petugas kesehatan hendaknya berusaha melaksanakan tugas kewajibannya dengan memberikan bantuan pengobatan serta perawatan dengan sabar. 5. BUDDHA Setiap orang boleh berusaha untuk sembuh, untuk mengurangi penderitaannya, itu adalah hak sebagai manusia. Cara menolong 1) Berusaha mengurangi/meringankan penderitaan makhluk lain 2) Anjurkan agar rela menerima segala yang datang, namun tetap optimis 3) Tidak memberikan beban tambahan 4) Mencegah lebih baik dari menyembuhkan Skenario 3 PERMENKES RI No 1109/MENKES/PER/IX/2007 tentang batasan alternatif: Terapi alternatif merupakan terapi non-konvensional untuk meningkatkan kesehatan pasien yang bersifat promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan harus dilandasi pengetahuan biomedik. Individu yang menjalankan usaha terapi altrernatif seyogyanya memiliki izin dari pemerintah untuk menjalankan praktik di bidang kesehatan. Peraturan terkait pengobatan tradisional (alternatif) tercakup dalam UU No 36 tahun 2009 bagian ketiga tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional: terapi

Pasal 59
1. Berdasarkan cara pengobatannya, pelayanan kesehatan tradisional terbagi menjadi:

a. pelayanan kesehatan

tradisional

yang menggunakan keterampilan; dan

b. pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan ramuan.


2. Pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibina dan

diawasi

oleh

Pemerintah

agar dapat

dipertanggungjawabkan

manfaat

dan

keamanannyaserta tidak bertentangan dengan norma agama. 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan jeni pelayanan kesehatan tradisionalsebagaimana dimaksudpada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 60
1. Setiap orang yang melakukan pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan

alatdan teknologi harus mendapat izin dari lembaga kesehatan yang berwenang 2. Penggunaan alat dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapatdipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengannorma agama dan kebudayaan masyarakat. Pasal 61
1. Masyarakat diberi kesempatan yang seluasluasnya untuk mengembangkan,meningkat

kan

dan

menggunakan

pelayanan

kesehatan

tradisional

yang

dapatdipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.


2. Pemerintah

mengatur

dan

mengawasi

pelayanan

kesehatan

tradisional

sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dengan didasarkan pada keamanan, kepentingan, danperlindungan masyarakat. Pada dasarnya, pemerintah tidak melarang pengguaan pengobatan tradisional ini, namun, dalam pelaksanaannya harus dilakukanpembinaan lebih lanjut. Pada kasus ini, pasien tidak dilarang utnuk melakukan tindakan pengobatan alternatif apabila memang benar-benar dibutuhkan, namun, sebelumnya, keluarga pasien seharusnya sudah memastikan lebih lanjut keefektifan pengobatan alternatif yang dipilih agar tidak menimbulkan masalah lebih lanjut bagi pasien. Seperti yang terjadi pada akhirnya bagi pasien bahwa pengobatan alternatif yang

dipilih tidak menimbulkan hasil yang berarti, bahwkan memperburuk keadaan pasien. Pro dan kontra tentang pengobatan alternatif : Pro Pengobatan alternatif Pada umumnya biaya untuk terapi alternatif lebih murah Efek samping lebih sedikit Pada umumnya tidak invasif Kontra Pengobatan alternatif Tidak ada pembuktian atau tidak berdasarkan evidence based Belum diakui secara medis Tidak alternatif Tidak melaporkan praktek kepada Menggunakan bahan alamiah dinas kesehatan sehingga tidak memiliki surat ijin Membuka peluang untuk penipuan jelas bahan-bahan dalam yang

digunakan

pengobatan

Tujuan kesehatan

meningkatkan

derajat

Pandangan bioetika tentang pengobatan alternatif : 1. 2. 3. 4. Menghormati otonomi Melindungi agar pasien tidak dirugikan Harus hati-hati dan teliti dalam memilih terapi alternatif Harus didasarkan atas evidence based

Pandangan Agama tentang Terapi Alternatif 1. Agama Islam : Diperbolehkan selama tidak melanggar syariat Islam, pengobatan berdasarkan dengan dalil-dalil yang kuat, dan tidak tercampur dengan kesyirikan. Contohnya pengobatan herbal yang halal dan tidak merusak tubuh.

Hukum Pengobatan Alternatif menurut Islam a) Perbedaan Pendapat Ulama Untuk Berobat

Bila kita menyelam agak lebih jauh ke dalam pembahasan para ulama tentang hukum berobat atau mencari kesembuhan dari penyakit (at-Tadawi), sebenarnya para ulama masih berbeda pendapat tentang hukumnya. Sebagian mengatakan bahwa berupaya mencari kesembuhan dari penyakit merupakan perintah agama yang hukumnya sunnah. Namun sebagian lainnya justru mengatakan sebaliknya, bagi mereka bersabar adalah lebih utama dan berobat tidak menjadi sunnah atau anjuran dalam agama. Allah SWT tidak menurunkan penyakit kecuali diturunkan juga obatnya. (Al-Hadits). Selain itu dahulu Rasulullah SAW pernah berobat dan berupaya untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang pernah menimpanya. b) Bentuk Dan Jenis Pengobatan

Pengobatan dapat dibagi menjadi dua yaitu pengobatan yang dihalalkan dan yang diharamkan. Pengobatan yang dihalalkan adalah segala macam pengobatan yang tidak bertentangan dengan Syariah, antara lain: i. Pengobatan nabawi, yang secara jelas teksnya disebutkan dalam Al-Quran maupun hadits, seperti pengobatan dengan madu, habah sauda (jinten hitam ) air zamzam, ruqiyah dengan membacakan alquran bagi orang yang kesurupan dan kemasukan jin dll. ii. iii. Pengobatan secara medis, yang secara ilmiyah dapat dipertanggung-jawabakan Pengobatan secara tradisional, seperti dengan jamu (dengan bahan yang halal dan tidak merusak), refleksi, dan obat-obatan tradisional yang lainnya (dengan bahan yang halal dan tidak merusak). iv. Sedangkan pengobatan yang haram adalah pengobatan yang menyimpang dari

Syariah, seperti menggunakan sihir, dukun, meminta bantuan jin. Pernyataan bahwa jin itu muslim, kita tidak dapat mempercayainya seratus persen. Karena jin banyak dustanya dan kita tidak mungkin bisa membuktikan bahwa dia jin itu muslim atau tidak, karena alamnya sudah berbeda. Dan selanjutnya bahwa Allah SWT. Mencela orang yang datang meminta tolong pada jin. (surat Jin : Karena mereka kurang mau melihat fenomena yang ada di sekelilingnya, maka beragam jenis pengobatan selain dari dunia kedokteran barat sering dianggap tidak resmi, tidak ilmiyah, tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan seterusnya. Padahal dari segi kenyataan, begitu banyak metode pengobatan yang telah berhasil mengatasi hal-hal yang tidak mampu dikerjakan oleh dokter barat itu. Pengobatan itu sering disebut dengan pengobatan alternatif. c) Syarat Pengobatan Alternatif Yang Dibenarkan Syariah

Hanya perlu diperhatikan dalam pengobatan alternatif agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang syariat, seperti minta bantuan jin, memberi sesajian atau hal-hal lain yang membawa kepada kemusyrikan. Diantara ciri-ciri pengobatan alternatif yang diharamkan adalah: i. ii. iii. iv. 2. tersebut berdasarkan kebenaran. Dasar dalam menentukan sikap iman Kristiani terhadap pelbagai pengobatan alternatif diperoleh dengan mengajukan kepada diri sendiri beberapa pertanyaan penting berikut ini. Bila terindikasi adanya persembahan kepada selain Allah Bila terindikasi menggunakan jin (makhluq halus) Bila terindikasi menggunakan cara syirik Bila terindikasi menggunakan cara-cara yang diharamkan Agama Kristen : Tidak menolak dan tidak menelan mentah-mentah dan perlu memahami konsep dibalik praktik penyembuhan alternatif

Apakah pengobatan itu berkaitan dengan agama atau kepercayaan tertentu, perdukunan, paranormal, dan sebagainya? Apakah pengobatan itu berkaitan dengan paham (isme) tertentu, seperti animisme, dinamisme, panteisme, kebatinan, dan sebagainya?

Apakah pengobatan itu telah direkomendasikan oleh dokter untuk bisa dilakukan? Apakah pengobatan itu tidak menimbulkan side effect terhadap organ tubuh lainnya? Atas dasar jawaban terhadap pelbagai pertanyaan di atas, maka beberapa sikap yang

bisa diambil adalah: 1. Menentang dan menolak dengan tegas penggunaan bahan dan cara pengobatan yang bertentangan dengan firman Tuhan. seperti: Yoga, Reiki, Fengshui, dan kelompok III di atas. 2. Menggunakan bahan dan cara pengobatan yang sesuai dengan firman Tuhan, seperti: pengobatan medis modern, homeotherapy, aromatherapy, music therapy, accupuncture, dan kelompok I dan II. 3. Mengkonsultasikannya dengan hamba Tuhan setempat. 4. Tetap beriman kepada kuasa Tuhan yang tidak berubah, dan bukan pada bahan atau cara pengobatan itu. Jika Tuhan memang hendak menjamah dan menyembuhkan kita, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya. 5. Tetap beriman kepada Tuhan, kalau pun tubuh ini menderita karena sakit yang tak kunjung sembuh. Di dalam keadaan itu tentu Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya. 6. Melihat bahwa keselamatan jiwa tetap jauh lebih penting dari pada kesembuhan jasmani. Adalah lebih baik dengan tubuh jasamani sakit tetapi kemudian memperoleh kehidupan yang kekal dari pada tubuh sehat karena bantuan kuasa kegelapan tetapi jiwa binasa

3.

Agama

Hindu

Diperbolehkan,

salah

satunya

ayuverda. Dalam hindu, terjadinya sakit karena ketidak-seimbangan antara kapha, pitta,

vata, sedangkan ayurveda menyeimbangkan 3 unsur tersebut. Ayurveda secara terus menerus telah dipraktekkan selama paling sedikit lima ribu tahun. Ayurweda sering diterjemahkan sebagai "pengetahuan tentang hidup", namun terjemahan yang lebih tepat adalah "pengetahuan tentang panjang umur". Tujuan yang dimuliakan sepanjang jaman adalah bagaimana untuk mengatasi kematian, sebagai hal yang mendasar dari sifat manusia dan hal ini menjadi penyebab dari ketakutan manusia akan kematian yang menyusup ke dalam hati setiap mahluk hidup, dan yang menjadi akar dari segal ketakutan yang lain. Sebab segala sesuatu yang diciptakan harus dihancurkan, sebab semuanya berada pada kala (waktu). Tujuan ke arah keabadian tentulah berada diluar kala (waktu). Beberapa orang di Barat ingin menipu kematian dengan membekukan diri mereka, tetapi hal ini hanyalah ilusi belaka, sebab keabadian hanya terjadi bila raga, pikiran dan jiwa secara keseluruhan mengalami transforma. Tiada guna hidup kekal, seperti Tantalus atau Sisyphus atau tokoh dalam bukunya Jean Paul Stre, No Exit, sebab hidup seperti itu penuh dengan penderitaan dan keinginan yang tidak terpenuhi. Jagat raya fiksik ini terdiri dari pola yang tidak terhingga dari permutasi dan gabungan lima unsur pokok: tanah, air, api, udara dan ether. Penambahan unsur di luar akan menambah hal yang sama di dalam dan pengurangan di luar akan mengurangi juga yang di dalam (makrokosmos dan mikrokosmos). Udara (angin) dan unsur ether (akasa) sudah termasuk pada udara (angin), api dengan memasukkan baik unsur api maupun air dan unsur air untuk mewakili air dan tanah. Inilah kesucian atau keseluruhan ajaran Ayurweda, kesadaran akan saling berhubungannya semua azas-azas universal. Angin, Api, dan Air diartikan berturut-turut vata, pitta, dan kapha sebagai pernyataan fisik dari tiga kecendrungan semesta atau Triguna dari kosmos: tamas (inertia), rajas (bergerak terus), dan keseimbangannya yaitu wattwa. Bergerak terus dalam tingkatan fisik ada vata, keseimbangan adalah pitta dan inertia atau kapha. Kecendrungan besar ini bertindak sebagai tiga aza yang mengendalikan kesehatan pikiran, analog dengan vata, pitta dan kapha dari badan. Pikiran disebut sehat apabila pikiran penuh dengan sattwa, atau keseimbangan mental, dan dikatakan sakit apabila dia dipenuhi oleh rajas, atau tamas, aktif baik terlalu maupun kurang aktif. Tiga azas ini tidaklah tetap hanya demikian di dalam tubuh. Azas ini dinamis, berubah

secara terus-menerus sesuai dengan perubahan lingkungan. Yang terbaik adalah menganggap vata, pitta dan kapha sebagai kecendrungan, atau arah dari metabolisme badan, kecendrungan berkurang atau bertambah, hal ini terjadi karena adanya gangguan terhadap keseimbangan, baik yang besifat di dalam maupun dari luar, selain itu disebabkan oleh Tridosa yang bergerak terus menerus. Denyut nadi merupakan alat ukur yang baik atas gerakan ini. Ayurweda membedakan 108 pola denyut yang berbeda, yang dibentuk oleh permutasi pada irama dari Tridosa. Seorang penyembuh seharusnyalah memasuki hati si sakit dengan sinar idep (pikiran) dan pengetahuan mengenai Ayurweda untuk mendiagnosa penyakitnya, sebagai satusatunya jalan penyembuhan yang mungkin Perubahan dari hari ke hari yang terjadi di lingkungan luar memang mempengaruhi keseimbangan vata, pitta dan kapha, tetapi ada juga pengaruh dari dalam yang kuat mempengaruhi keseimbangan ini prakerti atau keadaan badan manusia adalah pola alamiah dari pertamabahan atua pengurangan Tridosa yang memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari orang itu, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan nisbi dari Tridosa pada tubuh masing-masing orang yang bersangkutan pada saat dia diciptakan. Pengobatan ayurweda memiliki tiga segi: menghilangkan penyebabnya, pembersihan (sodana) dan paliosi (samana-palliation) dari Tridosa dan yang terakhir pemudaanperemajaan atau rejuvenation (rasayana). 4. Agama Buddha : Tidak masalah selama tidak melanggar sila dan dhamma serta dilakukan secara sadar dan sukarela. Usaha penyembuhan menurut agama Buddha: Bukan hanya menghilangkan gejala Sebaiknya mencari sumber penyakit Pikiran sebagai akar masalah (sering) Meluruskan pandangan keliru

Prinsip pengobatan: Sakit adalah corak kehidupan Kalau tidak bias disembuhkan atau diredakan harus diterima dengan rela Pencegahan secara dini adalah dengan tidak berbuat jahat

Terapi alternative Bukan terapi konvensional Dapat berupa terapi komplementer

Pandangan : Tidak ada masalah sepanjang tidak pelanggaran sila dan dharma Dilakukan dengan sadar dan sukarela.

Penggunaan Morfin (Narkotika) Peraturan mengenai penggunaan morfin yang termasuk dalam golongan narkotika terdapat dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika.(2) Pasal 3 1. Narkotika hanya digunakan untuk kepentingan pengobatan dan atau tujuan ilmu pengetahuan. 2. Menteri Kesehatan berwenang menetapkan narkotika tertentu yang sangat berbahayadilarang digunakan untuk kepentingan pengobatan dan atau tujuan ilmu pengetahuan.

Pasal 5 1. Menteri Kesehatan memberikan izin kepada apotik untuk membeli, meracik menyediakan, memiliki atau menyimpan untuk persediaan, menguasai, menjual,menyalurkan, menyerahkan, mengirimkan dan membawa atau mengangkut narkotika untuk kepentingan pengobatan; 2. Menteri Kesehatan memberikan izin kepada dokter untuk membeli, menyediakan, memiliki atau menyimpan untuk persediaan, menguasai, menyalurkan, menyerahkan, mengirim, membawa atau mengangkut dan menggunakan narkotika untuk kepentingan pengobatan. 3. Menteri Kesehatan memberikan izin khusus kepada rumah sakit untuk membeli, menyediakan, memiliki atau menyimpan untuk persediaan, menguasai, menyerahkan, mengirim, membawa atau Mengangkut dan menggunakan narkotika untuk kepentingan pengobatan; Pasal 7 1. Yang dapat menyalurkan narkotika kepada pihak-pihak yang dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) hanyalah apotik. 2. Apotik dilarang mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar resep yang sama dari seorang dokter atau atas dasar salinan resep dokter.

Pasal 8 1. Narkotika dapat dipergunakan untuk pengobatan penyakit hanya berdasarkan resep dokter. 2. Ketentuan-ketentuan persyaratan yang harus dipenuhi oleh penderita penyakit yangmemerlukan narkotika sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Indikasi morfin dan opioid lain terutama di identifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diberikan untuk nyeri yang

menyertai : (2) 1. Infark miokard 2. Neoplasma 3. Kolik renal atau kolik empedu 4. Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner 5. Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan 6. Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah Efek morfin terjadi pada susunan saraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada sistem saraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis , miosis, mual, muntah hiperaktif refleks spinal , konvulsi dan sekresi hormon antidiuretik (ADH). (4) Berdasarkan undang-undang diatas, maka, dapat dikatakan, bahwa tindakan dokter dalam pemberian morfis sebenarnya sudah tepat karena digunakan utnuk tujuan medis. Dokter seniri memiliki wewenang untuk memberikan morfin kepada pasien tersebut, namun, dalam pelaksanaannya penggunaan morfin sebaiknya dilakukan pemantauan secara eksklusif oleh dokter, sehingga seharusnya penggunaan morfin ini dilakukan di rumah sakit yang memiliki sistem pengawasan 24 jam, karena penggunaaan morfin memiliki efek samping yang membahayakan bagi pasien.

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA Definisi Pengobatan Alternatif Pengobatan alternatif merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern (pelayanan kedokteran standar) dan dipergunakan sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan kedokteran modern tersebut. Jenis-jenis Pengobatan Alternatif Jenis-jenis pengobatan ini dibagi dalam 3 kelompok besar yaitu : Terapi Energi yang meliputi: Akupuntur Shaolin Meditasi Reiki Akupresur Qigong Terapi Polaritas Metode Bowen Shiatsu Tai chi chuan Refleksiologi Metamorphic Technique Terapi Fisik yang meliputi Masase Kinesiology0Rolfing Treger Work Flotation Therapy Aromaterapi Hellework Zero Balancing Metode Bates Osteopati Feldenkrais Method Teknik Relaksasi Chiropractic Teknik Alexander Hidroterapi Do-in Yoga Ayurveda Terapi tumpang tangan

Terapi pikiran dan spiritual yang meliputi: Psikoterapy Terapi Keluarga Psikoanalitik Terapi Kelompok Terapi Kognitif Terapi Autogenik Terapi Humanistik Biofeedback

Visualisasi Terapi Musik Biorhytms

Hipnoterapy Terapi Suara Terapi Movement

Dreamwork Terapi Seni Dance

Terapi Warna Terapi Cahaya

Dalam sistem pelayanan kesehatan di Inggris, jenis pengobatan alternatif ini dibagi menjadi 3 kelompok besar. 1. Kelompok pertama kelompok yang paling terorganisasi dan teratur , seperti: akupuntur, chiropractic, pengobatan dengan herbal, homeopati, osteopati. Pengobatan alternatif yang masuk dalam kelompok ini mempunyai dasar penelitian. 2. Kelompok kedua kelompok pengobatan alternatif yang membutuhkan penelitian lebih lanjut, namun sudah digunakan sebagai pelengkap dalam sistem pelayanan kesehatan, seperti: hipnoterapi dan aromaterapi. 3. Kelompok ketiga kelompok pengobatan alternatif yang belum mempunyai data sama sekali, seperti: terapi dengan kristal dan pendulum. Aspek Hukum A. Persetujuan Tindakan Medik Hubungan pasien (Ny. S), dokter & Rumah Sakit (RS), selain berbentuk sebagai hubungan medik, juga berbentuk sebagai hubungan hukum. Sebagai hubungan medik, maka hubungan medik itu akan diatur oleh kaidah-kaidah medik, sebagai hukungan hukum, maka hubungan hukum itu akan diatur oleh kaidah-kaidah hukum. Pada tahun 2008, telah diberlakukan Permenkes no.290/2008 tentang persetujuan tindakan medik. Berhubungan dengan kasus ny. S, Permenkes no.290/2008 telah menetapkan tentang beberapa hal. Penetapan itu telah diatur dalam: Ayat 5: Dibedakan antara tindakan operasi & bukan operasi, untuk tindakan operasi harus dokter yang memberikan informasi, untuk bukan tindakan operasi sebaiknya oleh dokter yang bersangkutan, tetapi dapat juga oleh perawat/paramedic Ayat 6: Jika perluasan operasi dapat diprediksi, maka informasi harus diberikan sebelumnya, dalam hal ini tidak dapat diprediksi sebelumnya, maka demi menyelamatkan jiwa pasien dapat dilaksanakan tindakan medik & setelah dilaksanakan tindakan, dokter yang bersangkutan harus memberitahukan kepada

pasien atau keluarganya. Ayat 7: Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapatkan persetujuan & persetujuan dapat diberikan secara tertulis mau pun secara lisan Ayat 8: Untuk tindakan medik yang mengandung risiko tinggi harus dibuat persetujuan secara tertulis & ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan Ayat 9: Yang berhak memberikan persetujuan, adalah pasien yang dalam keadaan sadar & sehat mental, telah berumur 21 tahun/telah melangsungkan perkawinan Ayat 10: Bagi mereka yang telah berusia lebih dari 21 tahun tetapi di bawah pengampuan maka persetujuan diberikan oleh wali/pengampu; bagi mereka yang di bawah umur (belum 21 tahun & belum melangsungkan perkawinan) diberikan oleh orang tua/wali/ keluarga terdekat atau induk semang Ayat 12: Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran Ayat 13: Yang bertanggungjawab atas pelaksanaan informasi & persetujuan adalah dokter; dalam hal dilaksanakan di RS/klinik, maka RS/klinik tersebut ikut bertanggungjawab Ayat 14: Terhadap dokter yang melaksanakan tindakan medik tanpa persetujuan, dikenakan sanksi administratif berupa teguran sampai dengan pencabutan surat izin praktik. Pada kasus ini, pasien mengalami operasi, dalam hal ini, tindakan dokter pada awalnya sudah benar untuk memberikan informed consent pada pasien dan keluarga pasien, namun, perihal dilakukan perluasan operasi, dalam hal ini, dokter seharusnya melakukan inform consent tambahan pada keluarga pasien untuk dilaukannya perluasan operasi ini. Hal ini dilakukan karena peraturan ini telah diatur dalam peraturan ermenkes 209 tahun 2008, sehingga apabila dokter tidak melakukannya, dokter tersebut dapat dikatakan telah menlanggar peraturan pemerintah ini. Berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No.

290/Menkes/PER/III/2008 tentang persetujuan tindakan kedokteran, terdapat beberapa pasal yang mengatur tindakan kedokteran pada kasus ini, yaitu: Pada pasal 1 ayat 5 telah diatur tentang Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan. Pasal 1 ayat 7 yang menyatakan bahwa : Pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah, tidak terganggu kesadaran fisiknya, mampu berkomunikasi secara wajar, tidak mengalami kemunduran perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuat keputusan secara bebas. Pasal 12 ayat 1 dan 2: 1. Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya, hanya dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. 2. Setelah perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan, dokter atau dokter gigi harus memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga terdekat. Pasal 16 ayat 1 tentang penolakan tindak kedokteran: Penolakan tindakan kedokteran dapat dilakukan oleh pasien dan/atau keluarga terdekatnya setelah menerima penjelasan tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan. Berdasarkan pasal-pasal yang terdapat pada Permenkes tersebut, maka, seharusnya dokter memberikan suatu informed consent pada pasien sebelum melakukan tindak operasi, karena tindak operasi yang dijalankan Ny. S merupaka tindakan medis yang infasif dan dapat menghilangkan nyawa pasien. Pada awalnya, tindakan dokter sudah tepat dalam memberikan informed consent, namun, adanya perluasan bidang operasi yang dilakukan seharusnya juga disertai dengan informed consent yang diberikan paling tidak pada keluarga pasien, sebab pasien berhak untuk menolak adanya tindakan medis yang akan di berlakukan padanya. B. Tindakan Malapraktik Secara teoritis-konseptual, antara masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu kontrak (mengacu kepada doktrin social-contract), yang memberi masyarakat

profesi hak untuk melakukan self-regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa profesional yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan yang melaksanakan praktek profesinya sesuai dengan standar. Sikap profesionalisme adalah sikap yang bertanggungjawab, dalam arti sikap dan perilaku yang akuntabel kepada masyarakat, baik masyarakat profesi maupun masyarakat luas (termasuk klien). Beberapa ciri profesionalisme tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi dan kewenangan yang selalu "sesuai dengan tempat dan waktu", sikap yang etis sesuai dengan etika profesinya, bekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh profesinya, dan khusus untuk profesi kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela berkorban). Uraian dari ciri-ciri tersebutlah yang kiranya harus dapat dihayati dan diamalkan agar profesionalisme tersebut dapat terwujud. Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan untuk mengatur praktik kedokteran dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi. Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang disiplin profesi. Undang-Undang mendirikan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia yang bertugas menerima pengaduan, memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter. Sanksi yang diberikan oleh MKDKI adalah berupa peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan STR dan/atau SIP, dan kewajiban mengikuti pendidikan dan pelatihan tertentu. Selain mengatur persyaratan praktik kedokteran di atas, Undang-Undang No 29/2004 juga mengatur tentang organisasi Konsil Kedokteran, Standar Pendidikan Profesi Kedokteran serta Pendidikan dan Pelatihannya, dan proses registrasi tenaga dokter. Selain itu, tindakan malapraktik juga tertera pad Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 TAHUN 1992 tentang Kesehatan. (1) Pasal 53 1. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. 2. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk memenuhi standar profesi dan mengormati hak pasien.

3. Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan medis terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan. 4. Ketentuan mengenai standar profesi dan hak hak pasien sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 54 1. Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin. 2. Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. 3. Ketentuan mengenai pembentukan, tuags fungsi, dan tata kerja Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Pasal 55 1. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenagakesehatan. Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Faktor Human Error Human error yang merupakan kekeliruan manusiawi tidak bisa dihindarkan (selamanya), karena manusia memiliki keterbatasan. Hal tersebut dapat menyebabkan timbulnya suatu adverse events yaitu kejadian yang tidak diharapkan. Human error dapat diklasifikasikan berdasarkan hal-hal klasifikasi perbuatan manusia, berdasarkan sebagai berikut : 1. Keterampilan (Skill based error) Bersifat otomatis, tanpa disadari dalam situasi rutin yang sering dilakukan 2. Aturan (Rule based error) Tindakan yang berdasarkan aturan-aturan yang terdapat dalam memori, untuk persoalan-

persoalan rutin yang ada standar prosedur operasionalnya. 3. Pengetahuan (Knowledge based error) Pada situasi baru atau sulit, sehingga perlu berpikir sebelum mengambil keputusan. Skema berikut ini menunjukkan klasifikasi human error.

HUMAN FAILURE Human error, tidak sengaja Violations, sengaja

Slip and Lapse

Mistake

Rutin

Exceptional

Skill based error

Rule based error Knowledge b.e

Dalam kasus ini, peranan dokter spesialis bedah yang melakukan tindakan reseksi kolon dan pengangkatan ovarium pada saat operasi pengangkatan tumor di daerah kolon adalah dinilai kurang tepat karena sebelumnya dokter tersebut tidak melakukan konsultasi kepada dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Hal tersebut dapat disebut telah terjadi suatu human error dalam segi rule based error dan knowledge based error, sehingga membuat tindakan yang dilakukan adalah tidak secara lege artis. Karena dokter tersebut diduga telah melakukan kesalahan dalam standar profesi medis yaitu tidak berhati-hati, lalai, kurang ketelitian dan proporsionalitas kurang diterapkan dengan baik; selain itu juga peranan dokter bedah tersebut dalam pengangkatan ovarium dianggap kurang berkompeten dibandingkan dengan dokter kebidanan dan kandungan. Untuk tindakan dokter yang memberikan suntikan morfin kepada pasien untuk menghilangkan rasa sakit yang tidak tertahankan adalah benar sesuai dengan indikasi pemberian morfin untuk pasien dengan penyakit kronis, seperti neoplasma. Namun

pemberian morfin beberapa kali dengan dosis yang semakin bertambah dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi pasien yaitu mendepresi pusat pernapasan sehingga pasien bisa menjadi meninggal. Hal tersebut dianggap lalai dalam pemberian dosis kepada pasien sehingga menyebabkan overdosis pada pasien ini. Kedua human failure diatas dapat diatasi dengan melakukan pendekatan secara personal maupun sistem yang menunjang praktek seorang dokter dalam suatu institusi.

BAB V KESIMPULAN Tindakan dokter dalam melaksanakan perluasan operasi ketika mengatahui tumornya ialah tindakan yang sudah tepat karena mengutamakan prinsip beneficence karena mempertimbangkan kondisi pasien yang lemah dan kemungkinan kerugian yang akan diterima jika sampai tindakan tersebut tidak dilakukan atau ditunda. Tindakan tersebut dapat dibenarkan apabila di informed consent telah diinformasikan mengenai tindakan lain yang mungkin akan diperlukan sewaktu-waktu. Reseksi kolon dan pengangkatan ovarium dapat dimasukkan ke dalam kemungkinan perluasan operasi. Dan berdasarkan Pasal 7 Permenkes RI No 585: Informasi juga harus diberikan jika ada kemungkinan perluasan operasi. Perluasan yang tidak dapat diduga sebelumnya, dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. Setelah perluasan operasi tersebut dilakukan, dokter harus memberikan informasi kepada pasien nya. Dokter tidak dapat memaksa pasien untuk melakukan terapi karena menolak terapi adalah hak otonomi pasien dan dokter harus menghormatinya., karena seorang pasien itu mempunyai hak otonomi untuk menentukan suatu tindakan atau keputusan tentang dirinya. Prinsip terapi yang dilakukan pada pasien ini akhirnya hanya berupa paliatif saja, sebab untuk Ca ovarium yang sudah metastasis (stadium 4) sangatlah sulit disembuhkan dan seringkali fatal. Maka beralasan, jika dokter memberikan obat-obatan penahan sakit sejenis morfin hanya untuk mengurangi rasa sakit si pasien.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA


1) Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. 2nd Ed. Jakarta: Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia; 1994.p. 17-29 2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1976 Tentang Narkotika. Available at: http://carapedia.com/narkotika_thn_1976_info1226.html. Accessed on: 4 July 2012. 3) Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Jakarta: Pustaka Dwipar; 2007.p.30-1. 4) Dampak terapi kemo bagi kesehatan , available at :

http://www.obatherbalkanker.info/efek-samping-kemoterapi/ accesed on 4 july 2012