Anda di halaman 1dari 3

GROIN FLAP

I. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi kelainan yang disebabkan oleh trauma meningkat secara tajam, beberapa kelainan trauma meninggalkan defek yang menimbulkan ekspos tendo dan tulang, keadaan seperti ini menyebabkan dasar luka tidak mampu memberikan vaskularisasi yang baik sehingga membutuhkan penanganan dengan menggunakan flap. Penutupan defek jaringan dengan flap merupakan tantangan sendiri bagi ahli bedah, salah satunya adalah penggunaan groin flap, sehingga tulisan ini dibuat agar dapat menambah pengetahuan tentang penggunaan groin flap terutama untuk menutup defek dengan ekspos tendo dan tulang di daerah tangan. II. DAFTAR PUSTAKA 2.1.Definisi Flap adalah suatu unit jaringan yang dipindahkan dari satu area (donor site) ke area yang lain (recipient site) dengan masih mempertahankan sistem aliran darahnya sendiri.1,2 2.2.Sejarah flap Klasifikasi flap didasarkan pada paradigma yang terus berkembang selama ditemukannya kegunaan baru dan flap-flap baru. Laporan yang paling awal tentang sebuah facial flap (the midline forehead flap) ditemukan dalam sebuah kitab suci agama Hindu, Sushruta Samhita, pada tahun 600 bce. Perkembangan flap sebagian besar terabaikan atau diturunkan kepada mereka yang bukan berasal dari keturunan pendeta Hindu pada periode antara kemunculan kepercayaan Budha di India sampai dengan abad ke-16. Pada tahun 1500-an, Tagliacozzi menyempurnakan arm-pedicled technique untuk rekonstruksi nasal yang kemudian dikenal sebagai metode Italia. Metode Hindu tersebut diperkenalkan kepada komunitas masyarakat yang berbahasa Inggris dengan sebutan B.L dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada Gentlemans Magazine di London pada tahun 1794. Ini melahirkan sebuah era baru dan disinyalir sebagai kelahiran kembali bedah rekonstruksi. Pada tahun 1863, John Wood melaporkan pertama kali tindakan groin flap untuk menangani deformitas pada tangan akibat luka bakar yang berat pada anak wanita usia 8 tahun. Tiga dekade kemudian, seorang ahli bedah Italia, Ignio Tansini (1892), pertama kali memperkenalkan tindakan latissimus dorsi flap untuk merekonstruksi defek mammae yang telah dilakukan radical removal cancer. Flap kulit pada awalnya hanya berupa flap kulit dan jaringan lemak subkutan, namun saat ini hal tersebut berkembang hingga termasuk fasia, otot, tulang, serabut saraf, omentum dan jaringan lain 1,3,4 Flap kulit dapat diambil dalam berbagai cara dan bentuk dalam rangka menutup defek jaringan yang ada pada daerah resipien. Flap kulit digunakan sebagai penutup luka saat kemampuan vaskuler dari dasar luka dianggap tidak mencukupi kebutuhan yang diperlukan pada skin graft.4 2.3 Indikasi dilakukan flap kulit Terdapat beberapa indikasi absolut untuk dilakukan flap pada pembedahan rekonstruksi. Diantara adalah terdapat terdapatnya defek yang menyebabkan tulang, pembuluh darah, jaringan otak, persendian atau implant nonbiologi yang terpapar kepada dunia luar. Flap juga diperlukan pada preasure sore dimana terdapat tulang yang terekspose. Pada kondisi ini penutupan luka secara langsung tidak direkomendasikan karena memberikan tekanan pada luka akibat penonjolan tulang yang dapat menghambat penyembuhan luka12. 2.4. Klasifikasi flap kulit 1,2,3 Skin flap dapat diklasifikasikan berdasarkan : 1. Anatomi vaskularisasinya 2. Metoda penggunaannya 3. Komponen jaringannya 2.4.1.Klasifikasi berdasarkan anatomi vaskularisasinya a. Axial pattern flap

b. Neurocutaneus flap c. Musculocutaneus flap 2.4.2.Klasifikasi berdasarkan metode penggunaannya a. Free flap Ukurannya bervariasi Termasuk di dalamnya kulit, otot, fascia dan tulang Benar-benar dilepaskan dari aliran darah asalnya Membutuhkan anastomose secara mikrosurgikal b. Peninsular flap Ditandai dengan adanya pedikel kutaneus bisa di proksimal maupun distal Digunakan sebagai rotasional flap Terbatas dalam kemampuannya menutup defek. c. Island flap Ditandai dengan adanya vaskular pedikel Pedikel terdiri dari arteri, sebagian vena comitantes dikelilingi oleh jaringan seluler 2.4.3.Klasifikasi berdasarkan komponen jaringannya a. Fascial flap, termasuk didalamnya fascia dalam dan lapisan tipis subkutaneus sebagai pelindung jaringan suprafascial plexiform. b. Subcutaneus flap, dilakukan diseksi antara lapisan subdermal dan suprafascial. Merupakan vaskularisasi dengan pola axial. c. Cutaneus flap, lapisan diseksi di atas permukaan fascia superficial atau aponeurosis muscular (contoh groin flap atau scapular flap). d. Fasciocutaneus flap, di angkat secara en bloc termasuk di dalamnya kulit, jaringan subkutaneus dan fascia dalam. Diklasifikasikan menjadi tipe a-d. 2.4. Groin flap Groin flap merupakan flap yang mudah digunakan dan reliable. Pertama kali digambarkan oleh Mc Gregor dan Jackson pada tahun 1972 dan ini menjadi sumber utama flap untuk menutup defek pada tangan.3,4,7,8,9,10,11 Groin flap merupakan fasiokutan flap tipe A yang berasal dari arteri sirkumflexa superfisialis. Wilayah kulitnya terdiri dari bagian atas paha, bagian bawah abdomen dan bagian iliaka. Di mana kulit di daerah tersebut dipersarafi oleh Thorakalis 12 dari nervus kutaneus lateralis. Flap ini utamanya digunakan sebagai flap rotasi yang digunakan untuk menutup dinding abdomen dan perineum. Flap ini juga sering digunakan untuk rekonstruksi ektremitas atas dan diindikasikan pada defek jaringan lunak akibat kerusakan atau devitalisasi jaringan lunak pada tangan, pergelangan tangan, dan distal lengan bawah. Dapat juga digunakan sebagai flap bebas untuk menutup defek yang luas. Flap kulit tersebut biasanya berukuran di atas 25 x 10 cm. Di mana pedikelnya berasal dari arteri femoralis yang melalui kanalis femoralis.4,5,6,7,8 Groin flap ini memiliki tumpukan jaringan yang minimum dengan warna kulit dan tekstur yang baik, ini menyediakan ukuran lebar dan panjang dalam jumlah yang cukup, yang mana biasanya cukup untuk memperbaiki permukaan bagian dorsal atau palmar dari tangan. Tangan dapat ditempatkan pada posisi yang nyaman tanpa membuat ketidaknyamanan pada shoulder, elbow , maupun wrist joint. Defek pada daerah donor dapat di tutup secara primer tanpa memberikan morbiditas yang berarti pada pasien. Groin flap digunakan pada kondisi terjadi ekspose jaringan tulang dan atau tendon akibat berbagai jenis trauma ( crush injury, luka tembak, luka bakar ) yang tidak dapat di tutup dengan menggunakan graft. Flap ini juga dapat digunakan pada operasi elektif seperti pada kontraktur, hipertropik skar, atau pada carpal tunnel syndrome yang rekuren. Pada kasus trauma, groin flap digunakan untuk delayed primary coverage. Flap dilakukan bila lokasi resipien di anggap bersih dan sehat, apabila hal tersebut belum tercapai, maka harus dilakukan debridement serial hingga lokasi resipien dinyatakan sehat dan bebas kontaminasi mikroba. Secara umum, sebagian besar penulis menyatakan memilih untuk menutup luka secara delayed primary closure dalam rentang waktu 48 hingga 72 jam post trauma. Beberapa berusaha melakukan flap dalam rentang waktu yang lebih singkat (dalam 24 hingga 48 jam post trauma) namun hal ini memberikan tingkat resiko terjadinya infeksi dan

dehisensi yang lebih tinggi.8 Kerugian besar flap ini adalah membutuhkan dua langkah pembedahan sebagaimana pedicle flap yang lain dan pedikel dari flap berdekatan dengan genitalia eksterna sehingga memiliki potensi untuk terjadinya infeksi.5 Terdapat beberapa kontraindikasi untuk dilakukan groin flap, diantaranya adalah pasien yang tidak kooperatif dengan prosedur pembedahan atau pasien yang tidak dapat mentoleransi kondisi tangan terikat dengan inguinal selama 2 hingga 3 minggu. Pasien usia tua di anggap bukan kandidat yang sesuai untuk dilakukan prosedur ini karena resiko adanya kekakuan sendi bahu dan siku, namun hal ini tidak terbukti dari beberapa penelitian yang menyatakan bahwa orang tua mampu mentoleransi prosedur ini tanpa adanya komplikasi tersebut bila dibandingkan usia muda. Pasien perokok aktif juga perlu di perhatikan pada prosedur flap, karena adanya resiko nekrosis marginal pada flap. Riwayat pembedahan sebelumnya pada area ingunal juga perlu di perhatikan. Riwayat diseksi limphonodi pada area ini merupakan kontraindikasi dilakukannya flap ini karena di anggap tidak aman.8