Anda di halaman 1dari 9

TANDA PASTI KEMATIAN LANJUT 1.

Livor mortis Livor mortis atau lebam mayat adalah suatu bercak atau noda besar merah kebiruan atau merah ungu (livide) yang ditemukan pada lokasi terendah tubuh mayat akibat penumpukan eritrosit atau stagnasi darah karena terhentinya kerja pembuluh darah dan gaya gravitasi bumi (Budianto dkk, 1997). Bercak tersebut akan mulai terlihat kira-kira 20-30 menit pasca kematian klinis dan semakin lama bercak tersebut akan semakin luas dan lengkap sampai akhirnya menetap kirakira 8-12 jam pasca kematian klinis (Budianto dkk, 1997; Apuranto dkk, 2007). Sebelum lebam mayat tersebut menetap, warna dari lebam mayat masih dapat hilang apabila ditekan. Hal ini berlangsung kira-kira kurang dari 6-10 jam pasca kematian klinis. Letak lebam mayat juga masih bisa berpindah sesuai perubahan posisi mayat yang terakhir. Lebam tidak bisa lagi kita hilangkan dengan penekanan jika lama kematian klinis sudah terjadi kira-kira lebih dari 6-10 jam. Tetapi, walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan otototot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut (Budianto dkk, 1997; Apuranto dkk, 2007). Lebam mayat dapat kita lihat pada kulit mayat dan dapat kita temukan pada organ dalam tubuh mayat dan letak lebamnya sesuai dengan posisi mayat. Lebam pada kulit mayat dengan posisi mayat terlentang, dapat kita lihat pada belakang kepala, daun telinga, ekstensor lengan, fleksor tungkai, ujung jari dibawah kuku, dan kadang-kadang di samping leher. Tidak ada lebam yang dapat kita lihat pada daerah skapula, gluteus dan bekas tempat dasi (Apuranto dkk, 2007). Lebam pada kulit mayat dengan posisi mayat tengkurap, dapat kita lihat pada dahi, pipi, dagu, bagian ventral tubuh, dan ekstensor tungkai. Lebam pada kulit mayat dengan posisi tergantung, dapat kita lihat pada ujung ekstremitas dan genitalia eksterna (Apuranto dkk, 2007). Lebam pada organ dalam mayat dengan posisi terlentang dapat kita temukan pada posterior otak besar, posterior otak kecil, dorsal paru-paru, dorsal hepar, dorsal ginjal, posterior dinding lambung, dan usus yang dibawah (Apuranto dkk, 2007). Ada dua faktor yang mempengaruhi lebam mayat yaitu volume darah yang beredar dan lamanya darah dalam keadaan tetap mencair (Apuranto dkk, 2007).

Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan sebab kematian; misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan anilin, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadinya lebam mayat yang menetap; dan memperkirakan saat kematian. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan (Budianto dkk, 1997). Lebam mayat harus dapat kita bedakan dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi darah). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang (Apuranto dkk, 2007) Di bawah ini merupakan tabel yang membedakan antara lebam mayat dan memar (Algozi, 2008).

Gambar 1. Livor mortis

2. Kaku mayat (rigor mortis) Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut

aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku (Budianto dkk, 1997). Perubahan yang terjadi pada otot orang yang meninggal adalah sebagai berikut (Apuranto dkk, 2007): a. Primary flaccidity Dalam fase ini otot-otot lemas, dan masih bisa dirangsang secara mekanik, maupun elektrik. Fase ini terjadi dalam stadium somatic death. Primary flaccidity berlangsung selama 2 sampai 3 jam. b. Rigor mortis Dalam fase ini otot-otot tidak dapat berkontraksi meskipun dirangsang secara mekanik maupun elektrik. Terjadi dalam stadium somatic death. Fase rigor mortis ini dibagi dalam 3 bagian : Kaku mayat belum lengkap Kaku mayat terjadi serentak pada otot-otot seluruh tubuh. Akan tetapi manifestasinya tidak bersamaan. Mula-mula kaku mayat terlihat pada Mm. Orbicularis oculi, kemudian otot-otot rahang bawah, otot-otot leher, extremitas atas, thoraks, abdomen, dan extremitas bawah. Fase ini berlangsung selama 3 jam. Kaku mayat lengkap Fase kaku mayat lengkap ini dipertahankan selama 12 jam Kaku mayat mulai menghilang Urut-urutan hilangnya kaku mayat sama seperti pada waktu timbulnya, terkecuali otot-otot rahang bawah yang paling akhir menjadi lemas. Fase ini berlangsung selama 6 jam 3. Secundary flaccidity

Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah (Apuranto dkk, 2007):

Suhu sekitarnya Bila suhu sekitarnya tinggi, rigor mortis akan cepat timbul dan cepat hilang, sebaliknya pada suhu sekitarnya rendah, rigor mortis lebih lama timbul serta lebih lama hilang. Pada suhu di bawah 100 C tidak akan terbentuk rigor mortis. Keadaan otot saat meninggal Apabila korban meninggal dalam keadaan convulsi atau lelah, rigor mortis akan cepat timbul. Dan apabila korban meninggal secara mendadak atau dalam keadaan relaks, timbulnya rigor rmortis lebih lambat. Umur dan gizi Pada anak-anak timbulnya rigor mortis relatif cepat daripada orang dewasa. Dan apabila keadaan gizi korban jelek, timbulnya rigor mortis juga lebih cepat. Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat dan harus dibedakan dengan kaku mayat, yaitu keadaan-keadaan seperti di bawah ini (Apuranto dkk, 2007, Budianto dkk, 1997). a. Cadaveric spasme Cadaveric spasme atau instantaneous rigor adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada kasus bunuh diri.

b. Heat Stiffening Heat Stiffening adalah suatu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau cara kematian.

c. Cold Stiffening

Cold Stiffening adalah suatu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi. Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan antara kaku mayat dengan cadaveric spasme: (Algozi, 2008)

Gambar 2. Rigor Mortis

4. Penurunan Suhu Tubuh (Algor Mortis) Algor mortis adalah penurunan suhu tubuh mayat akibat terhentinya produksi panas dan terjadinya pengeluaran panas secara terus-menerus. Pengeluaran panas tersebut disebabkan perbedaan suhu antara mayat dengan lingkungannya. Algor mortis merupakan salah satu perubahan yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut post mortem (Algozi, 2008; Apuranto dkk, 2007). Penurunan suhu jenazah dapat dipakai untuk memperkirakan saat kematian korban, yaitu dengan memakai rumus sebagai berikut : (Apuranto dkk, 2007) ( 98,4 0F suhu rektal jenazah 0F ) x 1,5 jam

Kecepatan penurunan suhu jenazah dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : (Apuranto dkk, 2007) Apabila korban meninggal di atas tanah, dipengaruhi oleh : a. Suhu udara : makin besar perbedaan suhu udara dengan suhu tubuh jenazah, maka penurunan suhu jenazah makin cepat. b. Pakaian : makin tebal pakaian makin lambat penurunan suhu jenazah

c. Aliran udara dan kelembaban : aliran udara mempercepat penurunan suhu jenazah . Sedangkan udara yang lembab merupakan konduktor yang baik sehingga penurunan suhu lebih cepat. d. Keadaan tubuh korban : apabila tubuh korban gemuk, yang berarti mengandung banyak jaringan lemak, maka penurunan suhu jenaah lambat. Jika korban berotot sehingga permukaan tubuhnya relatif lebih besar, maka penurunan suhu jenazah lebih lambat daripada korban yang kurus. e. Aktifitas : apabila sesaat sebelum meninggal korban melakukan aktifitas yang hebat, maka suhu tubuh waktu meninggal akan tinggi f. Sebab kematian : bila korban meninggal karena sepsis, suhu tubuh waktu meninggal malah meningkat Apabila korban meninggal di dalam air, maka penurunan suhu jenazah dipengaruhi oleh : a. Suhu air b. Aliran air c. Keadaan air

5. Perubahan pada Kulit Hilangnya elastisitas kulit Adanya lebam mayat yang berwarna merah kebiruan Terdapatnya kelainan yang dikenal sebagai cutis anserina sebagai akibat kontraksi Mm. Erector pillae 6. Perubahan pada Mata Refleks kornea dan refleks cahaya hilang Kornea menjadi keruh sebagai akibat tertutup oleh lapisan tipis sekret mata yang mengering. Keadaan ini diperlambat bila kelopak mata tertututp. Bulbus Oculi melunak dan mengkerut akibat turunnya tekanan intraokuler. Pupil dapat berbentuk bulat, lonjong, atau ireguler sebagai akibat menjadi lemasnya otot-otot iris. Perubahan pada pembuluh darah retina. Setelah orang meninggal, aliran darah dalam pembuluh darah retina berhenti dan mengalami segmentasi. Tanda ini timbul beberapa menit setelah orang meninggal.

Berikut ini merupakan gambar proses tanatologi selengkapnya.

SUMBER : Algozi, A.M. 2008. Tanatologi. Available http://ocw.usu.ac.id/course/download/1110000120-gastrointestinalsystem/gis156_slide_tanatologi.pdf. (Accesed : 26 Juli 2013) from :

Husain, R. 2012. Tanatologi. Available from : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21606/4/Chapter%20II.pdf (Accesed : 26 Juli 2013)