Anda di halaman 1dari 17

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kedudukan tauhid dalam Islam sangatlah fundamental, karena dari pemahaman tentang tauhid itulah keimanan seorang muslim mulai tumbuh. Konsep tauhid dalam Islam merupakan salah satu pokok ajaran yang tidak dapat diganggu gugat dan sangat berpengaruh terhadap keislaman seseorang. Apabila pemahaman tentang tauhid seseorang tidak kuat, maka akan goyah pula pilar-pilar keislamannya secara menyeluruh. Tauhid (Arab :), adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan

keesaan Allah. Sebuah sumpah akan kesetiaan dan kepercayaan yang mutlak tentang Allah yang Maha Esa. Dengan menyakini akan keesaan Allah, maka seorang muslim tidak akan lagi menyakini adanya tuhan selain Allah. Sehingga seluruh hidupnya akan senantiasa dipersembahkan hanya untuk mengabdi kepada Allah. Dengan tauhid yang kuat maka seorang muslim akan mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dengan keyakinan yang kuat pula. Nilai keesaan Allah merupakan awal dari kewajiban-kewajiban manusia terhadap tuhannya tersebut. Manusia diciptakan di muka bumi ini hanya mempunyai satu tugas yaitu menyembah Allah dengan segala bentuk ibadahnya, dalam hal ini Allah berfirman dalam kitabnya, yang artinya: "Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan" (QS At Taubah: 31) Dengan memperdalam pemahaman terhadap ilmu tauhid, maka diharapkan seorang muslim mempunyai landasan kuat dalam mengimplementasikan kewajiban-kewajiban

menyembah Allah. Dengan keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah, maka akan semakin ringan seorang muslim melaksanakan seluruh ibadah yang yang diwajibkan kepada seorang muslim. Tidak ada lagi rasa malas, dan menganggap bahwa semua kewajiban yang harus dijalaninya tersebut merupakan kebutuhan untuk bertemu dengan penciptanya, Allah SWT.
1

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan menggali aspek-aspek tauhid sebagai landasan aqidah umat Islam. Melalui penggalian konsep-konsep di atas, maka diharapkan pemahaman penulis tentang keesaan Allah akan meningkat pula dan pada akhirnya meningkatkan pula ibadah kepada Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan larat belakang di atas, maka berikut ini rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu: 1. Apa yang dimaksud dengan tauhid sebagai landasan aqidah, iman, dan Islam? 2. Apa saja rukun kalimat tauhid? 3. Apa saja syarat-syarat kalimat tauhid?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum Sebagai tugas kompetensi Individu dalam perkuliahan Al Islam Kemuhammadiyahan yang merupakan bagian dari system pembelajaran berbasis kompetensi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.

1.3.2 Tujuan Khusus 1. Meningkatkan pemahaman mengenai konsep tauhid sebagai landasan aqidah, iman dan Islamiyah. 2. Mengetahui hakekat dan kedudukan tauhid dalam Islam. 3. Mengetahui rukun kalimat tauhid. 4. Mengetahui syarat-syarat kalimat tauhid. 5. Mengkaji pengaruh tauhid dalam kehidupan seorang muslim.

1.4 Metode Penulisan

Metoda penulisan makalah ini adalah menggunakan beberapa buku sumber yang relevan dengan materi sebagai referensi.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tauhid Tauhid (Arab :) , adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan

keesaan Allah. Tauhid diambil kata : Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Sedangkan pengertian tauhid dalam bahasa adalah masdar/kata benda dari kata wahhada yuwahhidu, yang artinya menunggalkan sesuatu. Secara istilah syari: Mengesakan Allah dalam hal -hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La Illaha Illallah yang berarti tidak ada Tuhan melainkan Allah. ( alBaqarah:163, Muhammad 19 ). Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga oleh karenanya Islam dikenal sebagai agama tauhid yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Bahkan gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin ( yang memperjuangkan tauhid ). Dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, tauhid itu telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah.

2.2 Keutamaan dan Keagungan Tauhid Keutamaan dan keagungan tauhid terdapat pada firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa diantaranya adalah:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak disembah) melainkan Allah. (QS. Muhammad: 19) Dan firman-Nya 'Azza wa Jalla,
4

akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). (QS. al-Zukhruf: 86)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (QS An Nahl: 36)

"Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan" (QS At Taubah: 31)

" Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quraan) dengan (membawa) kebenaran. Maka
sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

(QS Az Zumar: 2-3) Dari semua dalil-dalil Al-quran di atas, maka jelas sekali bahwa konsep tauhid merupakan landasan paling fundamnental dalam kehidupan seorang muslim yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan ajaran-ajaran Islam lainnya. 2.3 Kalimat Tauhid 2.3.1 Makna Dari Kalimat Tauhid Berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini : Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu : kata (laa), kata (Ilaha), kata (illa) dan kata (Allah). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut: Laa adalah nafiyah lil jins (meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab, Laa rojula fid dari (tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah.

Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah .

Ilah adalah mashdar (kata

dasar)

yang

bermakna maful (obyek)

sehingga

dia

bermaknama`luh () yang artinya adalah mabud , sementara mabud sendiri bermakna yang diibadahi atau yang disembah. Hal itu karena (alaha) maknanya adalah abada, sehingga makna maluh adalah mabud. Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu Abbas terhadap ayat 127 pada surah Al-Araf: Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Firaun (kepada Firaun): Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilahatahmu (peribadatan kepadamu)?. Ilahataka (ilahatahmu) yaitu peribadatan kepadamu, karena Firaun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas memahami bahwa kata ilahah artinya adalah ibadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, Al-ilah adalah yang disembah lagi ditaati. Dan Ibnu Al-Qayyim berkata, Al-ilah adalah Siapa yang disembah oleh hati-hati para hamba dengan kecintaan, pengagungan, taubat, pemuliaan, pembesaran, kehinaan, kerendahan, takut, harapan, dan tawakkal. Lihat Fath Al-Majid hal. 53 Illa (kecuali). Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa. Misalnya dalam contoh di atas laa rajula fid dari illa Muhammad (tidak ada seorang pun lelaki di dalam rumah kecuali Muhammad). Yakni Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa, yaitu hukum peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga maknanya adalah: Tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Dan jika menerapkan hal ini dalam kalimat tauhid di atas, makna maknanya adalah: Hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya. Lafazh Allah, berasal dari kata al-Ilah , Kemudian huruf hamzah yang berada di tengah sengaja dihilangkan untuk mempermudah membacanya, lalu huruf lam yang pertama diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid, dan lam yang kedua diucapkan tebal. Inilah pendapat yang dipilih oleh Al-Kasa`i, Al-Farra`, dan Sibawaih.

Adapun maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18), Nama Allah menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan maluh (yang disembah) mabud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan, dan ketundukan. Lafazh Allah adalah nama bagi Ar-Rabb Taala, yang mana seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lainnya kembali kepadanya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu AlQayyim . Karenanya sangat agungnya nama ini, tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan atau yang boleh bernama dengan nama Allah. Kemudian dari perkara yang paling penting diketahui bahwa Laa ini -sebagaimana yang telah diketahui oleh semua orang yang memiliki ilmu bahasa Arab-membutuhkan isim dan khobar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik dalam Alfiyahnya : Jadikan amalan inna (menashab isim dan merafa khobar) untuk laa bila isimnya nakirah. Isim laa adalah kata ilaha dan dia nakirah. Adapun khobarnya, maka disinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya, sebagaimana yang akan disebutkan sebagian di antaranya pada pembahasan mengenai pemaknaan yang keliru dari kalimat tauhid ini, insya Allah. Adapun yang dipilih oleh para ulama as-salaf secara keseluruhan adalah bahwa khobarnya (dihilangkan), dan mereka menyatakan bahwa dia sengaja dihilangkan karena maknanya sudah jelas. Ringkasnya, para ulama as-salaf telah bersepakat bahwa yang kata yang dihilangkan -yang menjadi khabar bagi laa-adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah). Mereka berlandaskan pada firman Allah Taala dalam surah Luqman ayat 30: Yang demikian itu karena Allahlah yang hak (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan mirip dengannya dalam surah Al-Hajj ayat 62. Maka dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah adalah: Tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah. Maka kalimat tauhid ini menunjukkan akan penafian/penolakan/peniadaan semua jenis penyembahan dan peribadatan dari semua selain Allah Taala, apa dan siapapun dia. Serta penetapan bahwa penyembahan dan peribadahan dengan seluruh macam bentuknya -baik yang
8

zhohir maupun yang batin-hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu semua yang disembah selain Allah Taala memang betul telah disembah, akan tetapi dia disembah dengan kebatilan, kezholiman, pelampauan batas, dan kesewenangwenangan. Nabi bersabda: Kalimat yang paling benar yang dikatakan seorang penyair adalah kalimat yang dikatakan oleh Labid. Dia bersyair; Segala sesuatu selain Allah adalah bathil. (HR. Al-Bukhari no. 3841 dan Muslim no. 6147) Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushabi berkata di awal Al-Qaul Al-Mufid, Maknalaa ilaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah. Dan selain Allah , jika dia disembah maka sungguh dia telah disembah dengan kebatilan.

2.3.2 Rukun Kalimat Tauhid Kalimat laa ilaaha illallahmengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut: Pertama: An-nafyu (penafian/penolakan/peniadaan) yang terkandung dalam kalimat laa Ilaaha. Yaitu menafikan, menolak, dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah selain Allah , bagaimanapun jenis dan bentuknya dari kalangan makhluk. Baik yang masih hidup apalagi yang sudah mati, baik malaikat yang terdekat dengan Allah maupun rasul yang terutus, terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya. Kedua: Al-itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat illallah. Yaitu menetapkan seluruh ibadah baik yang lahir -seperti sholat, zakat, haji, dan menyembelih-maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, dan kecintaan-seluruhnya hanya untuk Allah semata. Baik yang berupa ucapan seperti zikir, membaca Al-Quran, berdoa dan sebagainya, maupun yang berupa perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain, semuanya hanya untuk Allah semata. Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau keduaduanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan
9

selain Allah (tidak menafikan). Maka dengan keyakinannya ini dia belumlah dianggap masuk ke dalam Islam, bahkan dia masih dikategorikan ke dalam orang-orang yang berbuat kesyirikan. Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallahini: Allah berfirman: Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.(QS. Al-Baqarah: 256). Allah berfirman: Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku. (QS. Az-Zukhruf : 26-27) Allah Taala juga berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. AnNisa`: 36) Kaum Musyrikin Memahami Makna Ini Inilah kesimpulan makna dari kalimat tauhid yang agung dan mulia ini. Makna inilah yang dipahami oleh para shahabat dan para ulama yang datang setelah mereka sampai hari ini. Bahkan makna inilah yang diyakini dan dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy di zaman Nabi semisal Abu Jahl, Abu Lahab, dan selainnya. Allah berfirman tentang mereka: Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: Laa ilaaha illallah (Tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?. (QS. Ash-Shaffat: 35-36) Perhatikan jawaban mereka ketika disuruh mengucapkan kalimat tauhid! Mereka menjawab, Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami. Maka ini jelas menunjukkan bahwa yang mereka pahami dari makna kalimat tauhid adalah harusnya meninggalkan semua sembahan selain Allah (an-nafyu).
10

Perhatikan juga komentar mereka tentang kalimat tauhid ini: Apakah dia (Muhammad) menjadikan sembahan-sembahan yang banyak itu menjadi sembahan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (QS. Shad: 5) Mereka lagi-lagi memahami bahwa makna dari kalimat tauhid ini adalah menetapkan bahwa hanya Allah sendiri yang berhak untuk disembah (al-itsbat). Maka cermatilah kedua ayat ini -semoga Allah merahmatimu-, bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak karena sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini. Yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah . Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim yang Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul mustaan.

2.3.3 Keutamaan Kalimat Tauhid Sebelum kami menyebutkan beberapa keutamaannya, perlu kami ingatkan bahwa semua keutamaan tersebut tidaklah didapatkan oleh seseorang hanya dengan sekedar mengucapkanlaa ilaha illallah. Akan tetapi dia akan mendapatkan semua keutamaan tersebut jika dia mengucapkannya serta melaksanakan konsekuensinya sesuai dengan apa yang telah kami jelaskan sebelumnya. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata di awal risalah dimana beliau menjawab pertanyaan tentang makna laa ilaha illallah, Bukan yang diinginkan dari kalimat tauhid ini adalah sekedar mengucapkannya tanpa memahami apa maknanya. Karena orang-orang munafik juga mengucapkan kalimat tauhid ini akan tetapi tempat mereka lebih rendah dari orang-orang kafir, yaitu di dasar neraka yang paling bawah, padahal mereka adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dan bersedekah. Akan tetapi yang diinginkan darinya adalah mengucapkannya dalam keadaan mengetahuinya (makna dan konsekuensinya) dengan hati, mencintainya dan mencintai semua orang yang mengucapkannya, serta membenci dan memusuhi semua yang bertentangan dengannya. Berikut beberapa keutamaan dan manfaat dari kalimat laa ilaha illallah -bagi yang mengucapkannya dengan benar dan melaksanakan konsekuensinya-:
11

Dari Ubadah dari Nabi beliau bersabda: Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah satusatunya dengan tidak menyekutukan-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusanNya dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya dan firman-Nya yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga adalah haq (benar adanya), dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga betapapun keadaan amalnya. (HR. Al-Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 46) Dalam hadits Itban bahwa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah Taala mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah. (HR. Al-Bukhari no. 425 dan Muslim no. 263) Dari Ibnu Abbas dia berkata: Ketika Rasulullah mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda kepadanya: Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah. (HR. Al-Bukhari no. 4347 dan Muslim no. 29) Diriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 37 bahwa Rasulullah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan , dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya adalah terserah kepada Allah. Maka dari semua dalil-dalil di atas bisa kita petik beberapa keutamaan kalimat tauhid ini:

12

1. Dia merupakan tujuan dakwah yang pertama dan terbesar, baik dakwah para nabi maupun para pengikut mereka dari kalangan para sahabat mereka dan pengikut mereka. 2. Dia merupakan sebab terbesar masuknya seseorang ke dalam surga. Karenanya barangsiapa yang mengucapkannya di akhir hidupnya maka dia akan masuk surga. dari Muadz bin Jabal , ia berkata; Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga. (HR. Abu Daud no. 2709) 3. Dia bisa menghapuskan semua dosa, sebesar apapun dosanya. Di antara dalil terbesar yang menunjukkan hal ini adalah hadits al-bithaqah (kartu kecil) yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash . 4. Dia merupakan jaminan untuk tidak kekal di dalam api neraka, kalau ternyata seseorang masuk ke dalamnya. 5. Dia merupakan kalimat paling berberkah dan menjadi syarat seseorang masuk Islam. Karenanya barangsiapa yang mengucapkannya maka dia mendapatkan hak seorang muslim, di antaranya bahwa harta, darahnya, dan kehormatannya haram untuk diganggu.

2.3.4 Syarat-syarat Kalimat Tauhid Syarat-syarat ini harus dipenuhi oleh orang yang melafalkan kalimat tauhid ini agar berfaedah baginya, yaitu sebagai berikut: 1. Berilmu dan memahami kandungan makna dan rukun syahadat ini sehingga hilang kebodohan terhadap kandungan makna dan rukun kalimat ini. Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam bersabda yang artinya:Barangsiapa yang mati dalam keadaan ia mengetahui (kandungan makna) laa ilaha illallah (bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah), pasti masuk surga (HR. Muslim).

2. Meyakini segala yang ditunjukkan oleh kalimat ini tanpa ada keraguan sedikitpun. Allah Taala berfirman yang artinya:Sesungguhnya orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang
13

beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu. (QS. Al-Hujurat:15).

3. Menerima konsekuensi (tuntutan) kalimat ini berupa beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan beribadah kepada selain-Nya tanpa adanya penolakan yang didasari keengganan, pembangkangan,dan kesombongan. Allah Taala berfirman yang artinya:Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) apabila diucapkan kepada mereka laa ilaha illallah (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah) maka merekapun menyombongkan diri(35). Dan mereka berkata,Apakah kita akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kita karena penyair yang gila.(QS.Ash-Shaffat:35-36).

4. Tunduk dan berserah diri terhadap segala tuntutan kalimat ini tanpa mengabaikannya. Allah Taala berfirman yang artinya:Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dalam keadaan berbuat kebajikan, maka sungguh dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat (kalimat Laa ilaha illallah). (QS.Luqman:22)

5. Jujur dalam mengucapkan kalimat ini dengan disertai hati yang membenarkannya. Jika seseorang mengucapkan kalimat ini namun hatinya mengingkari dan mendustai nya, maka dia orang munafik tulen. Allah Taala berfirman yang artinya:Dan diantara manusia ada yang mengucapkan,Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka tidak beriman(8). Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beiman. Tidaklah mereka menipu kecuali diri mereka sendiri sementara mereka tidak meyadari(9). Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka. Dan mereka mendapat azab yang pedih karena kedustaan yang mereka lakukan. (QS. Al-Baqarah:8-10).

6- Ikhlas dalam mengucapkannya dan memurnikan amal dari segala kotoran syirik, bukan karena riya, atau untuk ketenaran, maupun tujuan-tujuan duniawi. Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam bersabda yang artinya:Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkanlaa ilaha illallah dengan tujuan mengharap wajah Allah.(HR. Bukhari dan Muslim)

7. Mencintai kalimat ini dan segala tuntutannya serta mencintai orang yang melaksanakan tuntutannya. Allah Taala berfirman yang artinya:Dan diantara manusia ada yang menjadikan
14

selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.(QS. Al -Baqarah:165). Orang orang yang benar dalam imannya mencintai Allah dengan cinta yang tulus dan murni. Adapun para pelaku kesyirikan memiliki cinta ganda. Mereka mencintai Allah sekaligus mencintai tandingan-Nya.

15

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan 1. Tauhid memiliki pengertian yaitu berarti kita mengesakan Allah swt tanpa menduakannya dengan yang lain. 2. Mengucapkan kalimat tauhid adalah yang utama bagi umat islam. 3. Dalam mengucapkan kalimat tauhid kita harus yakin dan mempercayainya dalam hati dan tanpa paksaan barulah kalimat tauhid kita diterima Allah swt. 3.2 Saran 1. Diaharapkan setelam membaca makalah ini, kita bisa menerapkan ajaran tauhid dengan benar 2. Diharapkan setelah membaca makalah ini, kita bisa menyampaikan ajaran tauhid kepada sesame muslim yang belum mengetahuinya.

16

Daftar Pustaka
Al-quran Antoni, dkk. 2009. Al Islam Kemuhammadiyahan I,III, dan V. Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang http://akhwat.or.id/majalah-jurnal-muslimah-keluarga-sakinah-pendidikan-anak/artikelislamiyah/makna-dan-keutamaan-kalimat-tauhid.html (diakses tanggal 16 Okteber 2012) http://almanar.web.id/bahan/14.%20ULUMUDDIN/1.%20Arti%20dan%20Fungsi%20Tauhid.pdf (diunduh tanggal 17 Okteber 2012) http://s1.islamhouse.com/data/id/ih_books/single/id_the_book_of_tawheed.pdf (diunduh tanggal 17 Okteber 2012) http://s1.islamhouse.com/data/id/ih_books/single/id_tawheed_the_meaning_of_the_two_testimon ials_and_nullifiers_of_islam.pdf (diunduh tanggal 17 Okteber 2012)

17