Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Anak adalah investasi dan harapan masa depan bangsa serta sebagai penerus generasi di masa mendatang. Dalam siklus kehidupan, masa anak-anak merupakan fase dimana anak mengalami tumbuh kembang yang menentukan masa depannya. Perlu adanya optimalisasi perkembangan anak, karena selain krusial juga pada masa itu anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau keluarga sehingga secara mendasar hak dan kebutuhan anak dapat terpenuhi secara baik. Anak seyogyanya harus dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohani, cerdas, bahagia, bermoral tinggi dan terpuji, karena di masa depan mereka merupakan aset yang akan menentukan kualitas peradaban bangsa. Fenomena yang perlu mendapat perhatian saat ini adalah maraknya anakanak terlantar. Meningkatnya angka penduduk miskin telah mendorong meningkatnya angka anak putus sekolah dan meningkatnya anak-anak terlantar. Pada umumnya anak-anak terlantar mengalami masalah ganda seperti kesulitan ekonomi, menderita gizi buruk, kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, tidak bisa mendapat layanan pendidikan secara maksimal, dan lain sebagainya.

Pada dekade terakhir, permasalahan anak terlantar menjadi salah satu permasalahan krusial baik dilihat dari kompleksitas masalah maupun kuantitas dari anak terlantar yang semakin meningkat. Kondisi ini didasari karena kondisi makro sosial ekonomi yang belum kondusif. Pada sisi lain ternyata masih terdapat pemahaman yang rendah mengenai arti penting anak oleh masyarakat, serta komitmen dan tanggung jawab orang tua atau keluarga yang cukup rendah, sehingga menyebabkan ketelantaran pada anak. Anak terlantar merupakan salah satu masalah kesejahteraan sosial yang membutuhkan perhatian secara khusus. Selain karena jumlah yang cukup besar, masalah anak terlantar memiliki lingkup dan cakupan yang tidak bisa berdiri sendiri namun saling terkait dan saling memengaruhi bila kebutuhan dan hak mereka tidak terpenuhi. Anak jalanan adalah fenomena nyata bagian dari kehidupan. Fenomena nyata yang menimbulkan permasalahan sosial yang kompleks. Keberadaan anak jalanan diabaikan dan tidak dianggap ada oleh sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat awam. Anak jalanan memang dalam kehidupan masyarakat selalu identik dengan anak-anak yang anarkis atau tidak memiliki aturan, karena sebagian besar dari mereka adalah anak yang berusia dibawah 18 tahun atau anak yang masih aktif dan masih labil, sehingga memerlukan bimbingan yang lebih dari lingkungan sekitarnya. Kehadiran anak jalanan tidak terlepas dari keberadaan kota-kota besar. Faktor yang sangat signifikan terhadap peningkatan jumlah anak jalanan adalah kemiskinan. Dalam banyak kasus, anak jalanan hidup dan berkembang di bawah tekanan dari stigma atau bahkan di cap sebagai pengganggu ketertiban karena

sangat meresahkan masyarakat. Beberapa permasalahan yang mengancam anak jalanan antara lain adalah kekerasan yang dilakukan oleh anak jalanan lain, komunitas dewasa, Satpol PP, bahkan kekerasan seksual; penggunaan pil, alkohol dan rokok; dan permasalahan gizi dan kesehatan. Sementara dengan memberikan belas kasihan pula bukan merupakan solusi yang tepat, karena anak-anak tersebut bukan anak-anak yang perlu dikasihani. Tetapi yang diperlukan adalah sebagaimana kebutuhan anak-anak pada umumnya, baik kebutuhan psikologis maupun fisiologis yaitu perlindungan, kepedulian, kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan hidup. UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2 menyebutkan bahwa, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Artinya pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pembinaan anak-anak terlantar, termasuk anak jalanan. Hak-hak asasi anak terlantar dan anak jalanan, pada hakekatnya sama dengan hakhak asasi manusia pada umumnya, seperti tercantum dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan Keputusan Presiden RI No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Right of the Child (Konvensi tentang hakhak anak). Hak-hak yang seharusnya diterima oleh seorang anak tersebut belum dapat terpenuhi, sehingga anak memilih untuk hidup di jalanan (Sudrajat, 1997). Anak jalanan adalah anak yang menghabiskan waktu sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan atau tempat umum lainya (Departemen Sosial, 2005). Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan. UNDP & Departemen Sosial sebagaimana dikutip Saripudin dkk

(dalam Sakina, 2011) menjelaskan bahwa anak jalanan menghadapi situasi di mana hak-hak sebagai anak kurang terpenuhi, baik dari aspek pendidikan, kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan pelindungan. Selain itu, Ennew sebagaimana dikutip oleh Triyanti (dalam Sakina, 2011) menjelaskan bahwa anak jalanan berada dalam lingkungan yang tidak kondusif baik bagi fisik maupun kejiwaan sebagai anak, sebab anak jalanan rentan terhadap berbagai bentuk penindasan, baik yang secara nyata maupun terselubung. Melihat permasalahan yang dihadapi anak jalanan tersebut maka diperlukan upaya perlindungan dan kesejahteraan anak jalanan dengan memenuhi hak-haknya. Di Indonesia, untuk mewujudkan hak-hak anak telah dikeluarkan UU No.4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak dan UU No. 23 Tahun2002 tentang Perlindungan Anak. UU tersebut menjelaskan bahwa anak berhak untuk tumbuh kembang secara wajar serta memperoleh perawatan, pelayanan, asuhan dan perlindungan yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan anak. Rumah singgah merupakan model penangan anak jalanan sebagai perwujudan daru UU tersebut (Krismiyarsi dkk, 2004). Munajat (dalam Sakina, 2011) menjelaskan rumah singgah merupakan salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah anak jalanan. Rumah singgah adalah suatu wahana yang dipersiapkan sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka. Tujuan umum

diselenggarakannya rumah singgah adalah membantu anak jalanan dalam mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Adapun tujuan khusus rumah singgah antara lain: (1)

membentuk kembali sikap dan perilaku anak yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, (2) mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan atau di panti dan lembaga pengganti lainya jika diperlukan dan (3) memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak. Rumah Singgah memiliki beberapa fungsi, yaitu tempat pertemuan, pusat asesmen dan rujukan, fasilitator, rehabilitasi-kuratif, perlindungan, pusat informasi, akses terhadap pelayanan, dan resosialisasi. Anak jalanan yang sudah terbiasa dalam lingkungan rumah singgah dan anak jalanan yang liar, memiliki kepribadian yang berbeda serta memiliki cara berperilaku dan berkomunikasi yang berbeda pula. Seperti pernyataan dari salah satu anak jalanan ketika dimintai pendapatnya tentang rumah singgah Kalau aku ditanyak lebih suka di jalanan, di rumahku sendiri apa di rumah singgah, aku lebih suka di rumah singgah. Di rumah singgah aku bisa lebih ter-arah, ya seenggaknya aku bisa eksplorasi sama kemampuan yang aku punya. Jalanan itu liar, hidup luntang-lantung ga ada tujuan. Rumah singgah bisa buat kehidupanku lebih baik lagi. Salah satu rumah singgah yang ada di kota medan yaitu Rumah Singgah Madya Insani. Saat ini ada 150 anak jalanan yang menjadi dampingan Madya Insani. Mereka datang ke Madya Insani untuk mengikuti pendidikan alternatif dan keterampilan. Anak jalanan sebagai penerima pelayanan rumah singgah bebas keluar masuk baik untuk tinggal sementara maupun hanya untuk mengikuti kegiatan. Hubungan-hubungan yang terjadi di rumah singgah bersifat informal seperti pertemanan atau kekeluargaan. Anak jalanan dibimbing untuk merasa sebagai anggota keluarga besar di mana para pekerja sosial berperan sebagai teman, saudara atau orang tua. Hubungan ini membuat anak merasa diperlakukan

seperti anak lainnya dalam sebuah keluarga dan merasa sejajar karena pekerja sosial menempatkan diri sebagai teman dan sahabat (Direktorat Bina Pelayanan Sosial Anak sebagaimana dikutip oleh Krismiyarsi, 2009). Anak jalanan yang tinggal di rumah singgah dibentuk kembali kepribadian, sikap dan perilakunya sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Untuk mengetahui kepribadian yang dimiliki oleh anak jalanan dapat dilakukan dengan cara melakukan tes psikologi. Tes psikologi mengandung arti yang sangat luas, kata ini masih sering memberikan kesan bahwa pertanyaanpertanyaan yang ada di dalamnya dapat menunjukkan kepribadian seseorang yang lebih baik dari kepribadian orang lain. Padahal sebenarnya tidak demikian karena fngsi tes disini hanyalah untuk menggambarkan kepribadian seseorang yang berbeda-beda sesuai dengan tuntutan pekerjaan maupun tuntutan akademis. Tes kepribadian merupakan tes yang penting, mengingat tes ini sangat populer dan telah digunakan oleh banyak orang setiap tahunnya. Salah satu alasan utama penggunaan tes ini adalah tes kepribadian mampu memberikan informasi yang sangat banyak tentang kepribadian seseorang dengan akurat dan cepat. Secara umum tes kepribadian dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tes psikologi inventori kepribadian dan tes psikologi proyektif. Tes psikologi proyektif berfungsi menelaah kepribadian pribadi dan membuka peluang bagi individu untuk lebih terlihat dalam jawaban. (Atkinson, dalam Ariady, 2011). Salah satu tes proyektif yang sering digunakan untuk mengungkap kepribadian adalah tes Draw A Person. Draw-A-Person test (DAP) adalah sebuah tes proyektif yang terdiri atas beberapa jenis gambar. Gambar tersebut

mencerminkan ketakutan, impuls, penghargaan diri dan kepribadian dari subjek. Dalam tes ini subjek pertama kali diminta untuk menggambar orang. Kemudian, mereka diminta untuk menggambar orang yang memiliki jenis kelamin yang berbeda dari gambarnya yang pertama. Kadang-kadang, subjek juga diminta untuk menggambar dirinya sendiri atau anggota keluarga mereka. Selanjutnya mereka akan diberikan serangkaian pertanyaan tentang diri mereka dan apa yang telah mereka gambar. Pertanyaan ini bisa tentang mood, ambisi dan baikburuknya kualitas dari orang-orang yang ada dalam gambarannya. Gambar dan pertanyaan dalam DAP sangat dibutuhkan untuk menggali informasi lebih banyak mengenai ketakutan, impuls dan kepribadian anak secara umum. DAP adalah tes gambar yang paling digunakan saat ini. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melihat profil kepribadian anak jalanan di rumah singgah Madya Insani melalui Draw A Person Test.

B. Identifikasi Masalah Dalam setting klinis terdapat beberapa alat tes psikologi yang umum digunakan, diantaranya tes intelegensi, tes grafis (misalnya menggambar pohon, orang dan tes Wartegg), tes Pauli serta tes Rorschach. Masing-masing alat tes memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu dalam menggali aspek-aspek kepribadian. Tes DAP (Draw A Person) atau juga sering disebut DAM (Draw A Man) merupakan salah satu bentuk alat tes Psikologi yang sering kita jumpai di saat proses assessment psikologi. Tes DAP atau DAM termasuk tes individual. DAP berfungsi sebagai alat pembantu untuk memahami stuktur kepribadian dan hal-hal bersifat fisik, tidak dapat memprediksi apa yang mungkin akan terjadi secara tepat apabila semua data yang terlibat dengan subyek tidak diprediksi dan di control. Menurut Eysenck (dalam Tampubolon, 2009) kepribadian adalah totalitas pola perilaku yang nyata atau potensial dari organisme yang ditentukan oleh gen dan lingkungan. Kepribadian berkembang melalui interaksi fungsional dari tiga sektor utama yaitu sektor konatif (karakter), sektor afektif (tempramen), dan sektror somatis (konsitusi). Hidup menjadi anak jalanan bukanlah pilihan yang menyenangkan, melainkan keterpaksaan yang harus mereka terima karena adanya sebab tertentu. Secara psikologis mereka adalah anak-anak yang pada taraf tertentu belum mempunyai bentukan mental emosional yang kokoh, sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang keras dan cenderung berpengaruh bagi perkembangan dan pembentukan kepribadiannya. Aspek

psikologis ini berdampak kuat pada aspek sosial. Penampilan anak jalanan yang kumuh, melahirkan pencitraan negatif oleh sebagian besar masyarakat terhadap anak jalanan yang diidentikan dengan pembuat onar, anak-anak kumuh, suka mencuri, dan sampah masyarakat yang harus diasingkan (Arief, dalam Sakina, 2011).

C. Batasan Masalah Peneliti membatasi masalahnya dengan menjelaskan tentang profil kepribadian anak jalanan di rumah singgah Madya Insani melalui Draw A Person Test.

D. Rumusan Masalah Rumusan dalam penelitian ini adalah Bagaimana profil kepribadian anak jalanan di rumah singgah Madya Insani melalui Draw A Person Test.

E. Tujuan Penelitian Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kepribadian anak jalanan di rumah singgah Madya Insani melalui Draw A Person Test.

A. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi yang berguna bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan psikologi pada khususnya, terutama psikologi sosial dan psikologi kepribadian. Hingga nantinya akan dapat memperkaya teori-teori tentang Draw A Person Test, rumah singgah dan kepribadian anak jalanan.

2.

Manfaat secara praktis Penelitian ini dapat membantu pemerintah dan swasta untuk dijadikan

sebuah pertimbangan dalam mengambil kebijakan mengenai penanganan dan pelayanan anak jalanan melalui rumah singgah. Serta dapat memperluas wawasan mengenai pelaksanaan rumah singgah dan pembentukan kepribadian anak jalanan di rumah singgah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Jalanan 1. Pengertian Anak Jalanan UNICEF mendefinisikan anak jalanan sebagai those who have abandoned their home, school, and immediate communities before they are sixteen yeas of age have drifted into a nomadic street life (anak-anak berumur di bawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat terdekat, larut dalam kehidupan yang berpindah-pindah). Anak jalanan merupakan anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya (Departemen Sosial, 2005). Hidup menjadi anak jalanan bukanlah pilihan yang menyenangkan, melainkan keterpaksaan yang harus mereka terima karena adanya sebab tertentu. Secara psikologis mereka adalah anak-anak yang pada taraf tertentu belum mempunyai bentukan mental emosional yang kokoh, sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang keras dan cenderung berpengaruh bagi perkembangan dan pembentukan kepribadiannya. Aspek psikologis ini berdampak kuat pada aspek sosial. Penampilan anak jalanan yang kumuh, melahirkan pencitraan negatif oleh sebagian besar masyarakat terhadap anak jalanan yang diidentikan dengan pembuat onar, anak-anak kumuh, suka mencuri, dan sampah masyarakat yang harus diasingkan (Arief, dalam Sakina 2011).

Pusdatin Kesos Departemen Sosial RI sebagaimana dikutip oleh Zulfadli (dalam Sakina, 2011) menjelaskan bahwa anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya dihabiskan di jalanan atau di tempat-tempat umum, dengan usia antara 6 sampai 21 tahun yang melakukan kegiatan di jalan atau di tempat umum seperti: pedagang asongan, pengamen, ojek payung, pengelap mobil, dan lainlain.Kegiatan yang dilakukan dapat membahayakan dirinya sendiri atau mengganggu ketertiban umum. Anak jalananan merupakan anak yang berkeliaran dan tidak jelas kegiatannya dengan status pendidikan masih sekolah dan ada pula yang tidak bersekolah. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu. Berdasarkan intensitasnya di jalanan, anak jalanan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama (Depdiknas, 2002), yaitu: 1. Chidren of the street Anak yang hidup/tinggal di jalanan dan tidak ada hubungan dengan keluarganya. Kelompok ini biasanya tinggal di terminal, stasiun kereta api, emperan toko dan kolong jembatan. 2. Children on the street Anak yang bekerja di jalanan. Umumnya mereka adalah anak putus sekolah, masih ada hubungannya dengan keluarga namun tidak teratur yakni mereka pulang ke rumahnya secara periodik. 3. Vulberable children to be street children Anak yang rentan menjadi anak jalanan. Umumya mereka masih sekolah dan putus sekolah, dan masih ada hubungan teratur (tinggal) dengan orang tuanya.

Jenis pekerjaan anak jalanan oleh Departemen Sosial yang dikutip oleh Yudi (dalam Sakina, 2011) dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu: 1. Usaha dagang yang terdiri atas pedagang asongan, penjual koran, majalah, serta menjual sapu atau lap kaca mobil. 2. Usaha di bidang jasa yang terdiri atas pembersih bus, pengelap kaca mobil, pengatur lalu lintas, kuli angkut pasar, ojek payung, tukang semir sepatu dan kenek. 3. Pengamen. Dalam hal ini menyanyikan lagu dengan berbagai macam alat musik seperti gitar, kecrekan, suling bambu, gendang, radio karaoke dan lain-lain. 4. Kerja serabutan yaitu anak jalanan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, dapat berubah-ubah sesuai dengan keinginan mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Suhartini (2008) memaparkan bahwa pola kerja anak jalanan dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk strategi bertahan hidup yaitu bertahan hidup kompleks, sedang dan sederhana. Sebagian besar anak jalanan memiliki strategi bertahan hidup kompleks dan sedang dengan jenis pekerjaan pengamen.

2. Model Penanganan Anak Jalanan Departemen Sosial sebagaimana dikutip Krismiyarsi dkk (2004) menjelaskan bahwa penanganan anak jalanan dilakukan dengan metode dan teknik pemberian pelayanan yang meliputi: a. Street based Street based merupakan pendekatan di jalanan untuk menjangkau dan mendampingi anak di jalanan. Tujuannya yaitu mengenal, mendampingi anak, mempertahankan relasi dan komunikasi, dari melakukan kegiatan seperti: konseling, diskusi, permainan, literacy dan lain-lain. Pendampingan di jalanan terus dilakukan untuk memantau anak binaan dan mengenal anak jalanan yang baru. Street based berorientasi pada menangkal pengaruh-pengaruh negatif dan membekali mereka nilai-nilai dan wawasan positif. b. Community based Community based adalah pendekatan yang melibatkan keluarga dan masyarakat tempat tinggal anak jalanan. Pemberdayaan keluarga dan sosialisasi masyarakat, dilaksanakan dengan pendekatan ini yang bertujuan mencegah anak turun ke jalanan dan mendorong penyediaan sarana pemenuhan kebutuhan anak. Community based mengarah pada upaya membangkitkan kesadaran, tanggung jawab dan partisipasi anggota keluarga dan masyarakat dalam mengatasi anak jalanan. c. Bimbingan sosial Metode bimbingan sosial untuk membentuk kembali sikap dan perilaku anak jalanan sesuai dengan norma, melalui penjelasan dan pembentukan kembali

nilai bagi anak, melalui bimbingan sikap dan perilaku sehari-hari dan bimbingan kasus untuk mengatasi masalah kritis. d. Pemberdayaan Metode pemberdayaan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas anak jalanan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Kegiatannya berupa pendidikan, keterampilan, pemberian modal, alih kerja dan sebagainya.

3. Rumah Singgah Munajat (dalam Sakina, 2011) menjelaskan rumah singgah merupakan perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak yang membantu mereka. Rumah singgah bertujuan membantu anak jalanan dalam mengatasi masalahmasalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian rumah singgah bukan merupakan lembaga pelayanan sosial yang membantu menyelesaikan masalah, namun merupakan lembaga pelayanan sosial yang memberikan proses informal dengan suasana resosialisasi bagi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Direktorat Jendral Bina Kesejahteraan Sosial Depsos sebagaimana dikutip oleh Krismiyarsi (dalam Sakina, 2011) mendefinisikan rumah singgah sebagai berikut: a. Anak jalanan boleh tinggal sementara untuk tujuan perlindungan, misalnya: karena tidak punya rumah, ancaman di jalan,

ancaman/kekerasan dari orang tua dan lain-lain. Biasanya hal ini dihadapi anak yang hidup di jalanan dan tidak mempunyai tempat tinggal.

b. Pada saat tinggal sementara mereka memperoleh intervensi yang intensif dari pekerja sosial sehingga tidak tergantung terus kepada rumah singgah. c. Anak jalanan datang sewaktu-waktu untuk bercakap-cakap, istirahat, bermain, mengikuti kegiatan dan lain-lain. d. Rumah singgah tidak memperkenankan anak jalanan untuk tinggal selamanya. e. Anak jalanan yang masih tinggal dengan orang tua atau saudaranya atau sudah mempunyai tempat tinggal tetap sendirian maupun berkelompok tidak diperkenankan menetap di rumah singgah, kecuali ada beberapa situasi yang bersifat darurat. f. Anak jalanan yang sudah mempunyai tempat tinggal tetap merupakan kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang membutuhkan rumah singgah sebagai tempat tinggal sementara, seperti: kelompok anak yang hidup di jalanan. Melalui proses informal dalam resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, diharapkan mampu mencapai tujuan penyelenggaraan rumah singgah. Tujuan penyelenggaraan rumah singgah itu sendiri ada dua macam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum rumah singgah adalah membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Adapun tujuan khusus rumah singgah adalah:

a. Membentuk kembali sikap dan perilaku anak yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. b. Mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan atau di panti dan lembaga pengganti lainya jika diperlukan. c. Memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak. Departemen Sosial RI sebagaimana dikutip oleh Triyanti (dalam Sakina, 2011) mengemukakan fungsi rumah singgah sebagai berikut: 1. Tempat pertemuan (meeting point) pekerja sosial dengan anak jalanan Dalam fungsi ini, rumah singgah merupakan merupakan tempat bertemu antara pekerja sosial dengan anak jalanan untuk menciptakan persahabatan, assessment dan melakukan program kegiatan. 2. Pusat assessment dan rujukan Rumah singgah menjadi tempat asesmen (assessment) terhadap masalah dan kebutuhan anak jalanan serta melakukan rujukan (refeal) pelayanan sosial bagi anak jalanan. 3. Fasilitator Rumah singgah memiliki fungsi sebagai perantara anak jalanan dengan keluarga, panti, keluarga pengganti, dan lembaga lainnya. Anak jalanan diharapkan tidak terus-menerus bergantung pada rumah singgah, melainkan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui atau setelah proses yang dijalani.

4. Perlindungan Rumah singgah dianggap sebagai tempat perlindungan anak dari kekerasan, penyimpangan seks dan bentuk-bentuk lain yang terjadi di jalanan. 5. Pusat informasi Dalam fungsi ini, Rumah singgah menyediakan informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan anak jalanan seperti data dan informasi tentang anak jalanan, bursa kerja, pendidikan, kursus keterampilan dan lain-lain. 6. Kuratif-Rehabilitatif Rumah singgah diharapkan mampu mengatasi permasalahan anak jalanan dan memperbaiki sikap dan perilaku sehari-hari yang akhirnya akan dapat menumbuhkan keberfungsian anak. 7. Akses terhadap pelayanan Sebagai persinggahan, rumah singgah menyediakan akses kepada berbagai pelayanan sosial. Pekerja sosial membantu anak mencapai pelayanan tersebut. 8. Resosialisasi Lokasi rumah singgah berada di lingkungan masyarakat sebagai upaya mengenalkan kembali norma, situasi dan kehidupan bermasyarakat bagi anak jalanan. Dengan harapan adanya pengakuan, tujuan dan upaya dari warga masyarakat terhadap penanganan masalah anak.

Prinsip-prinsip rumah singgah yang dikemukakan Direktorat Bina Pelayanan Sosial Anak sebagaimana dikutip oleh Krismiyarsi (dalam Sakina, 2011), yaitu: 1. Semi institusional Anak jalanan sebagai penerima pelayanan boleh bebas keluar masuk baik untuk tinggal sementara maupun hanya untuk mengikuti kegiatan. 2. Terbuka 24 jam Anak jalanan boleh datang kapan saja, siang hari maupun malam hari, terutama bagi anak jalanan yang baru mengenal rumah singgah. Anak jalanan yang sedang dibina atau dilatih datang pada jam yang telah ditentukan, misalnya paling malam pukul 22.00 waktu setempat. Hal ini memberikan kesempatan kepada anak jalanan untuk memperoleh perlindungan kapan pun. Para pekerja sosial siap dikondisikan untuk menerima anak dalam 24 jam tersebut, oleh karena itu harus ada pekerja sosial yang tinggal di rumah singgah. 3. Hubungan informal (kekeluargaan) Hubungan-hubungan yang terjadi di rumah singgah bersifat informal seperti perkawanan atau kekeluargaan. Anak jalanan dibimbing untuk merasa sebagai anggota keluarga besar di mana para pekerja sosial berperan sebagai teman, saudara atau orang tua. Hubungan ini membuat anak merasa diperlakukan seperti anak lainnya dalam sebuah keluarga dan merasa sejajar karena pekerja sosial menempatkan diri sebagai teman dan sahabat. Dengan cara ini diharapkan anak-anak mudah mengadukan keluhan, masalah, dan kesulitan sehingga memudahkan penanganan masalahnya.

4. Bebas terbatas untuk apa saja bagi anak Anak dibebaskan untuk melakukan apa saja di rumah singgah seperti: tidur, bermain, bercanda, bercengkrama, mandi, dan sebagainya. Tetapi anak dilarang untuk perilaku yang negatif, seperti: perjudian, merokok, minuman, keras dan sejenisnya. Dengan cara ini diharapkan anak-anak betah dan terjaga dari pengaruh buruk. Peraturan dibuat dan disepakati oleh anak-anak. 5. Persinggahan dari jalanan ke rumah atau alternatif lain Rumah singgah merupakan persinggahan anak jalanan dari situasi jalanan menuju situasi lain yang dipilih dan ditentukan oleh anak, misalnya kembali ke rumah, mengikuti saudara, masuk panti, kembali ke sekolah, alih kerja ke tempat lain, dan sebagainya. 6. Partisipasi kegiatan yang dilaksanakan di rumah singgah didasarkan pada prinsip partisispasi dan kebersamaan. Pekerja sosial dan anak jalanan memahami masalah, merencanakan dan merumuskan kegiatan penanganan. Dengan cara ini anak dilatih belajar mengatasi masalahnya dan merasa memiliki atau memikirkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. 7. Belajar bermasyarakat Anak jalanan seringkali menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda dengan norma masyarakat karena lamanya mereka tinggal di jalanan. Rumah singgah ditempatkan di tengah-tengah masyarakat agar mereka kembali belajar norma dan menunjukkan sikap serta perilaku yang berlaku dan diterima di masyarakat.

B. Tes DAP (Draw A Person Test) 1. Sejarah dan Pengertian DAP (Draw A Person Test) DAP atau Draw a Person adalah salah satu jenis psikotes menggambar. Tes ini mudah diinterpretasikan dan banyak digunakan di berbagai negara karena tidak ada hambatan bahasa, hambatan budaya dan komunikasi antara penguji dan peserta tes. Biasannya, DAP digunakan dalam berbagai tujuan sehingga bersifat universal. Awalnya dikembangkan oleh Goodenough dengan Draw-AMan- test pada tahun 1926. Pertama kali diciptakan untuk mengetahui perkiraan intelektual dan kognitif anak yang tercermin pada kualitas gambar yang dihasilkan oleh anak tersebut. Pada tahun 1963 direvisi oleh seseorang yang bernama Harris yang kemudian menyebut tes ini dengan Good-enough Harris Drawing Test (GHDT), dimana tes ini memiliki sistem skoring yang detail dan memperbolehkan anak menggambar laki-laki, perempuan dan dirinya sendiri. Sistem penilaiannya yang utama adalah cerminan dari kematangan dari kognitif anak tersebut. GHTD bisa digunakan oleh anak-anak berusia 3 tahun sampai dengan 17 tahun namun seringkali ditemukan lebih efektif digunakan oleh anak yang berusia 3 tahun sampai 10 tahun (McArthur, dalam Ariady, 2011). Draw-A-Person test (DAP) pertama kali dikembangkan oleh Machover pada tahun 1948. Gambar tersebut mencerminkan ketakutan, impuls, penghargaan diri dan kepribadian dari subjek. Cara melakukan tes ini anak pertama kali diminta untuk menggambar orang. Kemudian, mereka diminta untuk menggambar orang yang memiliki jenis kelamin yang berbeda dari gambarnya yang pertama.

Kadang-kadang, anak-anak juga diminta untuk menggambar dirinya sendiri atau anggota keluarga mereka. Selanjutnya mereka akan diberikan serangkaian pertanyaan tentang diri mereka dan apa yang telah mereka gambar. Pertanyaan ini bisa tentang mood, ambisi dan baik-buruknya kualitas dari orangorang yang ada dalam gambarannya. Gambar dan pertanyaan dalam DAP sangat dibutuhkan untuk menggali informasi lebih banyak mengenai ketakutan, impuls dan kepribadian anak secara umum. DAP adalah tes gambar yang paling digunakan saat ini. Sistem penilaian untuk orang dewasa ditemukan oleh Mitchel, Trent pada tahun 1993 (McArthur, dalam Ariady, 2011). Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Draw-A-Person test adalah sebuah tes psikologi kepribadian proyektif yang menggunakan media menggambar orang sebagai sarana untuk mengetahui kepribadian seseorang. Tes ini dapat digunakan pada anak-anak maupun orang dewasa.

2. Penyajian Tes DAP Prinsip DAP dalam penyajiannya adalah bersifat individual. DAP merupakan battery test dengan tes proyeksi yang lainnya misal BAUM, Wartegg, dsb. (www.psychologymania.net) a. Administrasi Tes DAP a) Material Tes 1. Kertas HVS folio 2. Pensil

3. Meja yang permukaannya rata 4. Penerangan yang cukup b) Waktu Dalam psikologi klinis tidak dibatasi ( 20 menit) c) Instruksi 1. Tulis identitas diri Anda di sisi kanan atas. (nama, jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan). 2. Silahkan saudara menggambar orang. 3. Yang tidak boleh dilakukan tester: memberikan jawaban yang bisa memancing ketegangan, mengarahkan atau jawaban yang bersifat normatif dan evaluatif. 4. Jika ada subjek yang mengatakan: Saya tidak bisa

menggambar. Jawaban tester: Gambarlah semampu anda 5. Jika muncul kembali komentar: Saya tidak bisa menggambar dengan baik. Jawaban tester: Tidak apa-apa, bukan baik dan jelek yang dilihat dari gambar tersebut

Selesai menggambar, testee diminta menuliskan: 1. Berapa usianya & apa jenis kelaminnya 2. Apa yang sedang ia lakukan 3. Apa cita-cita / keinginan yang terpendam dari orang tersebut 4. Uraikan kelebihan-kelebihan & kelemahan-kelemahan pribadi orang tersebut b. Observasi dalam Tes DAP 1) Orientative behavior Cara menggambar/fokus terhadap tugas. 2) Verbal behavior Misal: doodling/gumaman 3) Motor behavior Gesture, ekspresi wajah

3. Pola-pola yang terdapat pada Draw A Person Test

Berdasarkan buku Manual Tes Grafis yang disusun Oleh Dra. Praharesti Eriany, Msi (dalam Ariady, 2011) mengatakan bahwa pola pola yang ada dalam Draw-A-Person test adalah :

1. Kesan Umum Kesan umum yang dimaksud disini adalah kesan gambar secara keseluruhan. Apakah subjek menggambar orang tua atau orang muda, bagaimana aktifitas orang dalam gambar tersebut, apakah aktif atau pasif. Bagaimana kelengkapan orang dalam gambar tersebut, apakah lengkap atau tidak. Bagaimana respon dari gambar tersebut, apakah bahagia atau sedih, agresif atau tidak. Kesan umum akan menunjukkan apakah subjek yang menggambar tesebut energik atau tidak, bahkan dapat memperlihatkan apakah subjek memiliki kelemahan kelemahan emosional atau tidak. Agar mempermudah proses penilaian pada pola kesan umum gambar, peneliti mengkategorikan kesan umum dalam 4 kategori, yaitu : a. Sangat Jelek Kesan gambar sangat tidak jelas dari segi kelengkapan bagian-bagian tubuh, aktivitas yang ditampilkan. b. Jelek Gambar cukup memiliki kelengkapan namun masih belum

menunjukkan gambar yang detail disertai dengan aktivitas. c. Bagus Kesan yang nampak cukup lengkap dan beraktivitas disertai dengan detail gambar yang jelas. d. Sangat Bagus Kesan umum yang sangat detail baik itu dari segi kelengkapan tubuh dan aktivitas yang ditonjolkan.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian maka penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Penelitian deskriptif adalah pencarian fakta dan interpretasi yang tepat dan membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian. Penelitian deskriptif komparatif adalah penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun mencakup suatu fenomena tertentu (Nazir, dalam Fitriah, 2008). Tujuan penelitian adalah untuk menemukan persamaan dan perbedaan tentang benda-benda, tentang orang, tentang prosedur kerja, tentang ide-ide, kritik terhadap orang lain, kelompok terhadap suatu ide/terhadap suatu prosedur kerja (Sujud dalam Arikunto, 2002).

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Anak jalanan merupakan anak yang sebagian besar menghabiskan


waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya (Departemen Sosial, 2005).

2. Draw-A-Person test adalah sebuah tes psikologi kepribadian proyektif


yang menggunakan media menggambar orang sebagai sarana untuk mengetahui kepribadian seseorang.

C. Subjek Penelitian 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1996). Hal ini sesuai dengan pendapat Hadi (1987) yang mengatakan bahwa populasi merupakan seluruh subjek penelitian yang palig sedikit mempunyai satu sifat atau karakteristik yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah anak jalanan yang berada di rumah singgah Madya Insani sebanyak 150 orang. 2. Sampel Menurut Arikunto (dalam Verawati, 2002)) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Hasil penelitian sampel diharapkan dapat digeneralisasikan kepada seluruh populasi. Generalisasi adalah kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi. Selanjutnya menurut Hadi ( 1987 ) syarat utama agar dapat dilakukan generalisasi adalah bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian harus dapat mencerminkan keadaan populasinya. Dalam istilah teknik statistik dikatakan, sampel harus merupakan populasi dalam bentuk kecil. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 orang anak jalanan di rumah singgah Madya Insani. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik Porposive sampling.

D. Metode Analisis Data

Data yang sudah terkumpul akan dianalisis secara statistik dengan menggunakan teknik perhitungan :

Pt = F / N x 100 %
Keterangan : Pt : Proporsi dari kategori tertentu F : Frekuensi N : Subjek Peneliti