Anda di halaman 1dari 5

OSTEOMYELITIS TUBERCULOSA AHMAD ALFI BASHORI 1220221135 DEFINISI

Tuberkulosis tulang adalah suatu proses peradangan yang kronik dan destruktif yang disebabkan basil tuberkulosa yang menyebar secara hematogen dan fokus jauh. ETIOLOGI Mycobacterium tuberculosis Penyebaran melalui :

Inhalasi ingesti

Mycobacterium tuberculosis

Dalam jaringan basil tuberkel merupakan batang ramping lurus Sifat tahan asam Merupakan aerob obligat

Laju pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan bakteri lainnya FAKTOR PREDISPOSISI

Nutrisi dan sanitasi yang jelek Ras; banyak ditemukan pada orang orang Asia, Meksiko, Indian dan Negro Trauma pada tulang dapat merupakan lokus minoris Umur : terutama ditemukan setelah umur satu tahu, paling sering

pada umur 2 10 tahun

Penyakit sebelumnya, seperti morbili dan varisella dapat memprovokasi kuman EPIDEMIOLOGI Tuberkulosis tulang paling sering terjadi di corpus vertebrae (spondilitis TB). Namun, dapat pula terjadi di epifisis tulang tulang panjang dan menyebar ke sendi menyebabkan tuberkulosis artritis. Kejadian tuberkulosis vertebrae diperkirakan lebih dari setengah dari total tuberkulosis yang terjadi di tulang. Lokasi yang paling sering adalah vertebrae torakalis bagian bawah (lower thoracic) dan vertebrae lumbar bagian atas (upper lumbar). SPONDILITIS TUBERCULOSA (POTTS DISEASE) ETIOLOGI

Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90 95 % disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik ( 2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin ) dan 5 10 % oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Kumar membagi perjalanan penyakit ini dlam 5 stadium, yaitu : Stadium Implantasi Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh penderita menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6 8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada anak anak umumnya pada daerah sentral vertebra. Stadium Destruksi Awal Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra serta penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3 6 minggu. Stadium Destruksi Lanjut Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra dan terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses ( abses dingin ), yang terjadi 2 3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di sebelah depan ( wedging anterior ) akibat kerusakan korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibus

Stadium gangguan neurologis Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. gangguan ini ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. vertebra thorakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini Bila terjadi gangguan neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia, yaitu :

Derajat I : Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan aktifitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris. Derajat II : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita masih dapat melakukan pekerjaannya. Derajat III : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak/aktivitas penderita serta hipestesi/anestesia

Derajat IV : Terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan defekasi dan miksi. Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini atau lambat tergantung dari keadaan penyakitnya. Derajat I III disebut sebagai paraparesis dan derajat IV disebut sebagai paraplegia.

5. Stadium deformitas residual Stadium ini terjadi kurang lebih 3 5 tahun setelah timbulnya stadium implantasi. Kifosis atau gibus bersifat permanen oleh karena kerusakan vertebra yang masif di sebelah depan.

Patogenesis: Patogenesis: GEJALA KLINIS

Secara klinik gejala tuberculosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberculosis pada umumnya :

Badan lemah lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebris) terutama pada malam
hari serta sakit pada punggung.

Pada anak anak sering disertai dengan menangis pada


malam hari (night cries).

Pada tuberculosis vertebrae ditemukan :

Penderita datang dengan gejala gejala paraparesis, paraplegia, keluhan gangguan pergerakan tulang belakang akibat spasme atau gibus. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Peningkatan LED dan mungkin disertai dengan leukositosis uji mantoux positif pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikrobakterium biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel Osteomyelitis GAMBARAN RADIOLOGIS

Pemeriksaan radiografi pada stage awal memperlihatkan lesi osteolitik di bagian anterior corpus vertebrae, osteoporosis regional dan penyempitan diskus intervertebralis yang berdekatan. Pada stage yang lebih lanjut terdapat destruski ekstensif pada bagian anterior, terbentuk gibbus, keterlibatan vertebra lainnya dan abses paravertebral. Tuberculosis Tuberculosis

TERAPI

Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3

Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan). Diberikan kepada:Penderita baru TBC paru BTA positif.Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.

Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat. Kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak anak. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal.