Anda di halaman 1dari 26

Dalam Fatawa Syaikh bin Bazz disebutkan, bahwa para ulama salaf terdahulu menyambut Ramadhan dengan perasaan

senang dan bahagia, serta saling berpesan untuk mengisinya dengan amal shalih. Karena bulan Ramadhan adalah bulan agung. Karunia besar dari Allah bagi siapa yang mendapatkannya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya. Beliau bersabda, Ramadhan telah datang kepada kalian. Bulan penuh berkah. Bulan yang Allah

jadikan puasa di dalamnya fardhu (kewajiban). Shalat di malamnya sebagai amalan sunnah. Karenanya, seorang mukmin pantas bergembira dengan datangnya bulan (Ramadhan) ini. Ia bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal shalih di dalamnya. Ia bergembira dengan kedatangannya sebagaimana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyampaikan kegembiraan kepada sahabatnya dengan kedatangan bulan mulia ini.

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalam membacakan Alquran kepada Rasulullah setiap malam selama Ramadhan. Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terusmenerus membaca Alquran di bulan Ramadhan akan menambah kemulyaan bulan itu. (lihat Fath Al Bari,9/52). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan dengan didasari keimanan dan keikhlasan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Riwayat Al Bukhari). Karena itulah, para salaf dan ulama amat memperhatikan amalan tilawah, qiyam Ramadhan, serta pengkajian keilmuan, sehingga mereka siap bermujahadah dalam melakukan amalan-amalan itu. Adalah Aswad bin Yazid An Nakhai Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Alquran dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Alquran dalam waktu 6 hari. Tidak hanya bermujahadah dalam menghatamkan Alquran, dalam ibadah shalat, Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa tabiin ini melakukan shalat 6 ratus rakaat dalam sehari semalam. (Al Ibar wa Al Idhadh, 1/86).

Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari biasa, tabiin ini menghatamkan Alquran sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Alquran sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam. (Al Hilyah, 2/228). Tabiin lain, Abu Al Abbas Atha juga termasuk mereka yang luar biasa dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Alquran sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302). Sedangkan Said bin Jubair, dalam Mirah Al Jinan, Al Yafii menyebutkan sebuah riwayat, bahwa di suatu saat tabiin ini membaca Alquran di Al Haram, lalu beliau berkata kepada Wiqa bin Abi Iyas pada bulan Ramadhan, Pegangkan Mushaf ini, dan ia tidak pernah beranjak dari tempat duduknya itu, kacuali setelah menghatamkan Alquran. Diriwayatkan juga dari Said bin Jubair, beliau pernah mengatakan, Jika sudah masuk sepuluh hari terakhir, aku melakukan mujahadah yang hampir tidak mampu aku lakukan. Beliau juga menasehati, Di malam sepuluh terakhir, jangan kalian matikan lentera.Maksudnya, agar umat Islam menghidupkan malamnya dengan membaca Alquran. Thabaqat Fuqaha Madzhab An Numan Al Mukhtar, yang dinukil oleh Imam Laknawi dalam Iqamah Al Hujjah (71,72) disebutkan periwayatan bahwa dalam bulan Ramadhan Said bin Jubair mengimami shalat dengan dua qira`at, yakni qira`at Ibnu Masud dan Zaid bin Tsabit. Manshur bin Zadan, termasuk tabiin yang terekam amalannya di bulan diturunnya Alquran ini. Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Alquran di antara shalat Maghrib dan Isya, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Alquran sekali dalam sehari semalam. (Al Hilyah, 3/57). Tidak ketinggalan pula Imam Mujahid, salah satu tabiin yang pernah berguru langsung dengan Ibnu Abbas juga amat masyur dengan mujahadahnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang shahih, bahwa tabiin ahli tafsir ini juga menghatamkan Alquran pada bulan Ramadhan di antara maghrib dan isya. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Abu Hanifah termasuk pada golongan tabi`in, karena telah bertemu dengan sahabat Anas bin Malik. Banyak riwayat yang menegaskan bahwa beliau adalah ulama yang ahli ibadah. Yahya bin Ayub, ahli zuhud yang semasa dengan beliau mengatakan: Tidak ada seorangpun yang datang ke Makkah, pada zaman ini lebih banyak shalatnya dibanding dengan Abu Hanifah. Karena itu, beliau dijuluki Al Watad (tiang) karena banyak shalat (Tahdzib Al Asma, 2/220). Lalu, bagaimana amalan ulama ahli ibadah ini dalam bulan Ramadhan? Orang yang melakukan shalat fajar dengan wudhu isya

selama 40 tahun ini menghatamkan Alquran 2 kali dalam sehari di bulan Ramadhan, pada waktu siang sekali, dan pada waktu malam sekali (Manaqib Imam Abu Hanifah, 1/241-242). Bahkan disebutkan oleh Imam Al Kardari bahwa Abu Hanifah termasuk 4 imam yang bisa menghatamkan Alquran dalam 2 rakaat, mereka adalah Utsman bin Affan, Tamim Ad Dari, Said bin Jubair, serta Abu Hanifah sendiri. LALU BAGAIMANA RAMADHAN PARA ULAMA ? Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadhan, ia menghentikan membaca hadits dan majelis ilmu dan mengkhususkan diri membaca Alquran dari mushhaf. Iman Syafii rahimahullah mengkhatamkan enam puluh kali di bulan Ramdhan yang dia membacanya di luar shalat, dan dari imam Abu Hanifah rahimahullah seperti itu juga. Imam Syafii (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Quran dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Alquran enam puluh kali dalam sebulan (Tahdzib Al Asma wa Al Lughat, 1/ 45) Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafii yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktivitas beliau agak berbeda dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majelis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jamaah dengan wudhu isya. Seakan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (Thabaqat As Syafiiah Al Kubra, 6/10). Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu menghatamkan Al Quran 90 kali, dan di hari biasa beliau menghatamkan sekali dalam sehari. (Thabaqat As Syafiiyah Al Kubra, 8/294). PERSIAPAN PARA SALAF DAN ULAMA MENGHADAPI RAMADHAN Jika di Bulan Ramadhan para salaf mampu melakukan amalan-amalan berat. Bagaimana persiapan mereka sebelum memasuki bulan suci ini? Ternyata para salaf sudah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Ini bisa dilihat dari mujahadah mereka sebelum Ramadhan. Habib bin Abi Tsabit mengatakan, Bulan Syaban adalah bulan qura` (para pembaca Alquran). Sehingga pada bulan itu, para salaf konsentrasi terhadap Alquran. Salah satu diantara mereka adalah Amru bin Qais, ahli ibadah yang wafat tahun 41 Hijriyah ini, ketika Syaban tiba, ia menutup tokonya dan tidak ada aktivitas yang ia lakukan selain membaca Alquran. Bulan Ramadhan di pandangan para salaf adalah bulan mulia yang amat dinanti-nanti, sehingga mereka mempersiapkan jauh-jauh untuk menyambut tamu idaman ini, yakni dua bulan sebelum bulan suci datang. Sudahkah mempersiapkannya sebagaimana para salaf bersiap-siap?

As-Sirri as-Siqathi berkata: Tahun adalah pohon, bulan adalah cabangnya, hai-hari adalah dahannya, jam adalah daun-daunnya, dan napas hamba adalah buahnya. Maka bulan Rajab adalah hari-hari berdaunnya, Syaban adalah hari-hari bercabangnya, dan Ramadhan adalah hari-hari memetiknya, dan orang-orang beriman adalah para pemetiknya. Adapun untuk mempersiapkan Ramadhan, kita bisa belajar dari Taqi Ad Din As Subki (756 H). Beliau memiliki kebiasaan dikala datang bulan Rajab, yakni tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk melakukan shalat wajib, dan hal itu terus berjalan hingga Ramadhan tiba. (Thabaqat As Syafiiyah Al Kubra, 10/168). Ini ditempuh supaya beliau lebih bisa konstrasi beribadah, sehingga ketika Ramadhan telah tiba, fisik dan batin sudah memiliki kesiapan untuk melakukan dan meningkatkan mujahadah dalam beribadah. Selain itu, adapula Khatib As Syarbini (977 H), ulama Mesir penulis Mughni Al Muhtaj, juga memiliki cara tersendiri agar bisa konsentrasi melakukan ibadah ketika Ramadhan tiba. Yakni, tatkala terlihat hilal Ramadhan, beliau bergegas dengan perbekalan yang cukup untuk beritikaf di masjid Al Azhar, dan tidak pulang, kecuali setelah selesai menunaikan shalat ied. (lihat, biografi singkat As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj, 1/5) LALU BAGAIMANA KITA DI BULAN RAMADHAN?

Tidak disangsikan lagi bahwa beribadah kepada Allah adalah tujuan akhir seorang muslim dalam kehidupan. Ibadah mencakup semua ucapan dan perbuatan, lahir dan batin yang diridhai, maka beribadah kepada Allah adalah tujuan yang terus berlanjut seperti berlanjutnya kehidupan pada seorang muslim. Akan tetapi tujuan ini lebih ditekankan di bulan yang keutamaan sangat agung, faedahnya sangat banyak, dan manaqibnya sangat besar. Bulan diturunkan padanya al-Qur`an, dilipat gandakan kebaikan, dan di buka limpahan ampunan padanya, firman Allah Subhanahu wa Taala: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran. (QS. 2:185) Bulan Ramadhan adalah hiburan bagi setiap orang yang berdosa, peringatan bagi orang yang lupa, pendidikan bagi orang yang jahil, pemberi semangat bagi setiap orang yang beramal. Wahai orang yang melewati batas dan mengikuti hawa nafsunya serta menjauhi kebenaran, telah datang kepadamu bulan yang mulia, perbaharuilah imanmu, perbanyaklah taubat dan amal sholih. Ingatlah, datangnya bulan yang mulia ini merupakan kenikmatan yang agung dan karunia yang mulia.. saudaraku! Lihatlah keutamaan bulan ini :

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN


a. Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran karena Alquran diturunkan pada bulan tersebut sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Albaqarah ayat 185: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah dia berpuasa. Dalam ayat di atas, bulan Ramadhan dinyatakan sebagai bulan Alquran diturunkan, kemudian pernyataan tersebut diikuti dengan perintah yang dimulai dengan huruf < >yang berfungsi menunjukkan makna alasan dan sebab dalam . Hal itu menunjukkan bahwa sebab dipilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan puasa adalah karena di dalamnya diturunkan Alquran. b. Dalam bulan ini, para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga

dibuka sebagaimana yang disabdakan Rasulullah,


] [ Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu para setan. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim). Oleh karena itu, kita dapati dalam bulan ini sedikit terjadi kejahatan dan kerusakan di bumi karena sibuknya kaum muslimin dengan berpuasa dan membaca Alquran serta ibadah-ibadah yang lainnya; dan juga dibelenggunya para setan pada bulan tersebut. c. Di dalamnya terdapat satu malam yang dinamakan lailatul qadar, satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Qadr. d. Dibulan ini diwajibkan berpuasa yang menjadi sebab penghapusan dosa, seperti sabda Rasululloh : Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni darinya dosanya yang terdahulu. Maka jadikanlah wahai saudaraku- dari bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah, petunjuk keberuntungan, kebaikan dan tambahan: firman Allah Subhanahu wa Taala:

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. an-Nuur :31) Apabila Allah mengajak kepada taubat karena mengharapkan keberuntungan di segala waktu, maka sesungguhnya waktu terbaik untuk bertaubat dan paling bersih adalah bulan Ramadhan karena keutamaan dan keistimewaan yang Allah berikan kepadanya yang menunjukkan keberkahan dan keagungannya. Saudaraku, andaikan dibukakan bagi ahli kubur pintu angan-angan, niscaya mereka berangan-angan hidup satu hari di bulan Ramadhan.. mereka kelaparan padanya karena Allah, kehausan padanya karena Allah, menghidupkan siangnya dengan membaca al-Qur`an, menambah iman dan memohon ampunan, dan menghidupkan malamnya dengan ibadah, shalat, doa, dan menangis, dan memohon ampunan dan kebebasan dari neraka. Wahai saudaraku, sekarang engkau masih hidup dalam keadaan walafiyat, telah datang kepadamu bulan Ramadhan dan engkau membuka lembaran darinya dengan kelupaan, apakah engkau melihat dirimu melupakan kelebihannya?ataukah engkau melihat dirimu tidak mengetahui keutamaannya?.. atau engkau melihat dirimu mendapat jaminan ampunan, maka apakah imanmu tidak bersiap-siap dengan kedatangan Ramadhan? Engkau berharap semoga Allah Subhanahu wa Taala menjagamu padanya- di bulan ini dan alangkah agungnya bulan ini dan ingatlah di hari engkau diletakkan di dalam kubur. Dan katakanlah tolonglah wahai jiwa dengan sabar sesaat Maka tidak adalah dia melainkan hanya satu waktu kemudian berlalu. Maka saat bertemu orang yang kerja keras menjadi hilang. Dan jadilah orang yang berduka menjadi senang gembira BAGAIMANAKAH ENGKAU MENGHABISKAN BULAN RAMADHAN?

Sungguh manusia bergembira dengan kedatangan bulan puasa, mereka mendapatkan padanya kebaikan dan keberkahan, namun sedikit sekali yang menunaikan dengan cara yang menyebabkan ridha Allah dan membangunnya dengan taat, ibadah dan menunaikan kewajiban. Terkadang berbagai macam penyimpangan yang belum pernah di bulan-bulan sebelumnya, menjadi ada di bulan Ramadhan, seperti israf (berlebihan), mubazir, menyia-nyiakan shalat, begadang di depan program-program televisi, menghabiskan waktu dalam permainan, dan keluyuran di jalanan. Semua itu dengan alasan karena capek dan hiburan sambil menunggu waktu berbuka. Jika kita merenungi kondisi salafus shaleh dan meneliti bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan. Bagaimana mereka memakmurkannya dengan amal shaleh, niscaya kita mengetahui jauhnya jarak di antara kita dan mereka. Setiap keburukan ada dalam bidahnya kaum khalaf Dan setiap kebaikan ada dalam mengikuti kaum salaf.

- See more at: http://ustadzkholid.com/bulan-ramadhan/#sthash.YPrnCk9D.dpuf

ika telah masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu Al Jannah akan dibuka, pintu-pintu Jahannam akan ditutup, dan para syaitan akan dibelenggu. (HR. Al Bukhari 1899 dan Muslim 1079)

Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Al Bukhari 1904)

Allah Azza wa Jalla berfirman: Semua amalan anak Adam untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, Aku yang akan membalasnya. Karena seorang yang berpuasa telah meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena Aku. Bagi seorang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: gembira ketika berbuka, dan gembira ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi daripada minyak wangi misk. (HR. Al Bukhari 1904 dan Muslim 1151)

Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah. Allah menurunkan padanya rahmah, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan doa, dan Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan padanya rahmat Allah. (Dalam Majma Az-Zawa`id Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir)

Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan yang haram dan mengamalkannya, ataupun bertindak bodoh, maka Allah tidak butuh dengan upaya dia dalam meninggalkan makan dan minumnya. (HR Al Bukhari dalam Shahihnya).

Maka aku juga mewasiatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin untuk istiqmah pada siang dan malam-malam bulan Ramadhan dan berlomba-lomba dalam segala bentuk amalan kebaikan, di antaranya adalah memperbanyak qiraah (membaca) Al Quranul Karim disertai dengan tadabbur (upaya mengkajinya) dan taaqqul (upaya memahaminya), memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar, serta memohon kepada Allah Al Jannah, berlindung kepada-Nya dari An Nar, dan doa-doa kebaikan yang lainnya.

KEISTIMEWAAN RAMADHAN
1. Ramadhan jalan menuju ketaqwaan

Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (Al Baqarah: 183).

Ayat di atas menerangkan bahawa puasa adalah sebab yang boleh mengantarkan pelakunya menuju ketaqwaan, kerana puasa mampu meredam syahwat. Ini sesuai dengan salah satu penafsiran yang disebutkan Imam Al Qurthubi, yang berpadukan kepada hadits riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan bahawa puasa adalah perisai.

2. Ramadhan bulan mujahadah

Para ulama salaf adalah suri tauladan bagi umat, mujahadah mereka dalam mengisi bulan Ramadhan amat perlu dicontoh. Seperti Imam Asyafii, dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran dua kali dalam semalam, dan iti dikerjakan di dalam solat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran enam puluh kali dalam sebulan. Imam Abu Hanifah juga menghatamkan Al-Quran dua kali dalam sehari selama Ramadhan.

3. Puasa Ramadhan menumbuhkan sifat amanah

Wahbah Zuhaili dalam bukunya Al Fiqh Al Islami berpendapat bahawa puasa mengajarkan rasa amanat dan muraqabah di hadapan Allah Taala, baik dengan amalan yang nampak mahupun yang tersembunyi. Maka tidak ada yang mengawasi seseorang yang berpuasa agar menghindari hal-hal yang dilarang dalam berpuasa kecuali Allah Taala

4. Puasa Ramadhan melatih diri berdisiplin

Puasa juga melatih diri berdisiplin , Wahbah Zuhaili menjelaskan bahawa seorang yang berpuasa harus makan dan minum dalam waktu yang terbatas. Bahkan dalam berbuka puasa pun harus disegerakan.

5. Puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas sesama muslim

Wahbah Zuhali juga menjelaskan bahawa puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidariti di antara sesama muslim. Pada bulan ini semua umat Islam, dari timur

hingga barat diwajibkan untuk menjalankan puasa. Mereka berpuasa dan berbuka dalam waktu yang sama, kerana mereka memiliki tuhan yang satu.

Seorang yang merasa lapar dan dahaga akhirnya juga boleh turut merasakan kesengsaraan saudara-saudaranya yang kekurangan atau tertimpa bencana. Sehingga tumbuh perasaan kasih sayang terhadap umat Islam yang lain.

6. Puasa Ramadhan melatih kesabaran

Bulan Ramadhan adalah bulan puasa di mana pada siang hari kita diperintahkan meninggalkan makanan yang asalnya halal, terlebih lagi yang haram. Begitu pula di saat ada seseorang mengganggu kita. Rasulullah Saw. bersabda: Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata 'Sesungguhnya aku sedang puasa." (HR. Bukhari)

7. Puasa Ramadhan menyihatkan

Rasulullah bersabda: Berpuasalah, maka kamu akan sihat (HR. Ibnu Sunni), ada yang menyatakan bahawa hadits ini dhoif, akan tetapi ada pula yang menyatakan bahawa darjat hadits ini sampai dengan tingkat hasan (lihat, Fiqh Al Islami wa Adilatuh, hal 1619).

Tapi makna hadist masih boleh diterima, kerana puasa memang menyihatkan. Al Harits bin Kaldah, tabib Arab yang pernah mengabdi kepada Rasulullah Saw. juga pernah menyatakan:Perut adalah tempat tinggal penyakit dan sedikit makanan adalah ubatnya.

8. Lailatul Qadar adalah hadiah dari Allah untuk umat ini

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha, dia telah mendengar dari seorang ahlul ilmi tsiqah yang telah mengatakan: Sesungguhnya telah diperlihatkan usia-usia umat sebelumnya kepada Rasulullah Saw., atau apa yang telah Allah kehendaki dari hal itu, dan sepertinya usia umat beliau tidak mampu menyamai amalan yang telah dicapai oleh umat-umat sebelumnya, maka Allah memberi beliau Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. (HR. Malik).

9. Ramadhan bulan ampunan

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, Rasulullah Saw. bersabda: Dan siapa yang berpuasa Ramadhan dengan dasar keimanan dan pengharapan redha Allah, diampunkan untuknya dosa yang telah lalu.(HR. Bukhari)

10. Siapa yang dilihat Allah, maka ia terbebas dari azab-Nya

Dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda: Pada bulan Ramadhan umatku dianugerahi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku. Yang pertama, sesungguhnya jika Allah melihat mereka di awal malam dari bulan Ramadhan, dan barang siapa yang telah dilihat Allah maka Ia tidak akan mengazabnya selamanya (HR. Baihaqi).

Selama Ramadhan, Imam Syafii menghatamkan Al-Quran enam puluh kali, dua kali dalam semalam di dalam solat.

11. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari kasturi di hadapan Allah

Rasulullah Saw. bersabda:Yang kedua, sesungguhnya bau mulut mereka ketika siang hari lebih harum di hadapan Allah daripada bau kasturi (HR. Baihaqi).

12. Di Bulan Ramadhan para malaikat meminta ampunan untuk umat ini

Rasulullah Saw. bersabda:Adapun yang ketiga, sesungguhnya para malaikat meminta ampunan untuk mereka siang dan malam (HR. Baihaqi).

13. Di bulan Ramadhan syurga berbenah diri

Rasulullah Saw. bersabda:Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan syurga-Nya, Ia berfirman: Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka boleh segera beristirehat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemuliaanKu (HR. Baihaqi).

14. Di malam akhir Ramadhan Allah mengampuni umat ini

Rasulullah Saw. bersabda: Adapun yang kelima, sesungguhnya jika tiba malam terakhir Ramadhan Allah memberi ampun kepada mereka semua. Lalu bertanyalah seorang lelaki dari sebuah kaum: Apakah itu lailatul qadar? Ia bersabda: Bukan, apakah kau tidak mengetahui perihal orang-orang yang bekerja, jika mereka selesai melakukan pekerjaan maka ganjarannya akan dipenuhi. (HR. Baihaqi)

15. Pintu syurga dibuka, pintu

neraka ditutup, syaitan dibelenggu

Rasulullah Saw. Bersabda: Jika Ramadhan tiba dibukalah pintu syurga dan ditutuplah pintu neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu. (HR. Bukhari).

Dalam Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh menjelaskan bahawa makna hadits di atas boleh bermakna haqiqi, iaitu pintu syurga dibuka, pintu neraka ditutup serta syaitan dibelenggu secara haqiqi, sebagai tanda datangnya Ramadhan sekaligus pemuliaan terhadapnya. Tapi boleh juga bermakna majaz yang mengisyaratkan besarnya pahala dan ampunan di bulan itu, sehingga syaitan seperti terbelenggu.

16. Pahala syuhada bagi yang melakukan kewajiban dan menghidupkan Ramadhan

Datanglah seorang lelaki kepada Nabi Saw. Dan mengatakan: Wahai Rasulullah, tahukah anda jika saya telah bersaksi bahawa tidak ada tuhan selain

Allah dan sesungguhnya anda adalah utusan Allah, aku juga telah melakukan solat lima waktu, juga telah menunaikan zakat, serta aku telah berpuasa Ramadhan dan menghidupkannya, maka termasuk golongan siapakah saya? Rasulullah Saw. Bersabda: Termasuk dari orang-orang yang sidiq dan syuhada. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

17. Pahala amalan bulan Ramadhan berlipat ganda

Dari Salman ra., bahawasannya Rasulullah Saw. berkhutbah di hari terakhir bulan Syaban: Wahai manusia, telah datang kepada kamu bulan agung yang penuh berkat. Bulan yang terdapat di dalamnya sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban, dan qiamul lail sebagai perkara yang disunnahkan, barang siapa mendekatkan diri di dalamnya dengan perbuat kebajikan, maka ia seperti mengerjakan kewajiban selainnya, dan barang siapa mengerjakan kewajiban di dalamnya, maka ia seperti mengerjakan tujuh puluh kewajiban selainnya (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)

18. Setiap hari dalam Ramadhan memiliki keutamaan

Rasulullah Saw. bersabda: Dia adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, serta paripurnanya adalah pembebasan dari neraka (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)?????
19. Keutamaan memberi minum orang yang berpuasa

Allah akan memberi minum kelak di akhirat Rasulullah Saw. bersabda: Dan barang siapa memberi minuman orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya dari telaga minuman yang tidak menghauskan hingga ia masuk ke dalam syurga. (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya).

20. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan

Rasulullah bersabda: Sebaik-baik sedekah aitu sedekah di bulan Ramadhan. (HR.Tirmidzi)

Selama Ramadhan, Imam Syafii menghatamkan Al-Quran enam puluh kali, dua kali dalam semalam di dalam solat.

21. Doa mustajab di bulan Ramadhan

Diriwatkan dari Abu Umamah Ra, bahawa Rasulullah Saw. bersabda:...Dan untuk setiap muslim di setiap hari dan petang (dalam bulan Ramadhan) doa yang mustajab (HR. Bazar).

Rasulullah juga bersabda:Tiga yang tidak tertolak doanya, orang yang berpuasa hingga berbuka, imam adil, dan doa orang yang dizalimi. (HR. Tirmidzi)

22. Pahala umrah Ramadhan sama dengan haji

Rasulullah Saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar:Jika datang Ramadhan maka lakukanlah umrah, kerana susungguhnya umrah dalam bulan itu setaraf dengan haji. (HR. An Nasai).

23. Pahala itikaf di bulan Ramadhan sama dengan pahala 2 haji dan umrah

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Husain Ra. menyatakan, bahawa Rasulullah Saw. telah bersabda:Barang siapa menjalankan itikaf selama sepuluh hari di bulan Ramadhan maka amalan itu seperti dua haji dan umrah (HR. Baihaqi)

24. Dalam Ramadhan terdapat malam yang istimewa (Lailatul Qadar)

Allah berfirman:Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. (Al Qadr: 3).

Tentang ayat ini, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahawa menghidupkan Ramadhan dan melakukan amalan di dalamnya lebih baik daripada menjalankan amalan dalam seribu bulan tanpa Ramadhan.

25. Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan

Allah Taala berfirman: Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya AlQuran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pemisah antara haq dan batil. (Al Baqarah: 185)

Ibnu Katsir mengatakan bahawa Allah Taala menyanjung bulan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain, iaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana Al-Quran diturunkan di dalamnya.

26. Kitab-kitab suci diturunkan pada bulan Ramadhan

Rasulullah Saw. bersabda:Shuhuf Ibrahim turun pada awal malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat turun pada hari ke enam bulan Ramadhan dan Injil pada hari ke tiga belas dari Ramadhan (HR. Ahmad).

27. Rasulullah mendapat wahyu pertama di bulan Ramadhan

Ketika Rasululah Saw. mendekati umur 40 tahun beliau selalu berfikir dan merenung serta berkeinginan kuat untuk mengasingkan diri (uzlah), akhirnya dengan mempersiapkan bekal makanan dan minuman beliau menuju gua Hira yang terdapat pada gunung Rahmah sebagai tempat beruzlah, yang berjarak dua mil dari kota Mekah. Uzlah ini dilakukan tiga tahun sebelum masa kerasulan. Tatkala datang Ramadhan pada tahun ketiga dari masa uzlah, turun kepada beliau Malaikat Jibril mewahyukan surat Al Alaq yang merupakan surat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Saw.

28. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan

Perang Badar adalah pemisah antara yang haq dan yang batil, dan kaum muslimin sebagai simbol tauhid dan kemuliaan, meraih kemenangan atas kaum musyrikin sebagai simbol kekifiran dan kebodohan.

Peperangan terjadi pada hari Jumat, 27 Ramadhan, tahun kedua setelah hijrah. Allah Taala berfirman: Dan benar-benar Allah telah menolong kamu di Badar sedangkan kalian dalam keadaan terhina, maka takutlah kalian kepada Allah, semoga kalian bersyukur. (Ali Imran: 123).

Ibnu Abbas mengatakan:Saat itu hari Jumat, 27 Ramadhan, dan saat itu juga terbunuh Firaun umat, Abu Jahal, musuh terbesar umat Islam.

29. Mekah dikuasai pada bulan Ramadhan

Fathu Mekah adalah peristiwa besar, Allah Taala berfirman: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (Al Fath:1).

Sebagian mufasirin berpendapat bahawa yang dimaksud kemenangan di sini adalah peristiwa Fathu Mekah, walau ada sebagian ulama yang menafsirkannya sebagai perjanjian Hudaibiya dan penaklukan negeri Rum.

Peristiwa itu terjadi pada hari, tanggal 20 atau 21 Ramadhan, tahun ke lapan hijrah. Saat itulah semua berhala yang berada di sekitar Kabah dihancurkan.

30. Islam menyebar di Yaman pada bulan Ramadhan

Tahun ke sepuluh hijriyah pada bulan Ramadhan Rasulullah Saw. menunjuk Ali bin Abi Thalib guna menjadi pemimpin sejumlah pasukan untuk pergi ke penduduk Yaman dengan membawa surat yang berisi ajakan untuk memeluk Islam. Sumber

12 KESILAPAN KERAP MUSLIM DLM BULAN RAMADHAN


407

Pada hemat saya, kita bolehlah mengatakan bahawa objektif atau sasaran yang perlu dicapai oleh Muslim di bulan Ramadhan ini kepada dua yang terutama. Iaitu taqwa dan keampunan. Perihal objektif taqwa telah disebut dengan jelas di dalam ayat 183 dari surah al-Baqarah. Manakala objektif mendapatkan keampunan' ternyata dari hadith sohih tentang Sayyidatina Aisyah r.a yang bertanya kepada nabi doa yang perlu dibaca tatkala sedar sedang mendapat lailatul qadar. Maka doa ringkas yang diajar oleh Nabi SAW adalah doa meminta keampunan Allah SWT. Bagaimanapun, kemampuan untuk mendapatkan kesempurnaan pahala ramadhan kerap kali tergugat akibat kekurangan ilmu dan kekurang perihatinan umat Islam kini. Antara yang saya maksudkan adalah :1) Makan dan minum dengan bebas setelah batal puasa dengan sengaja (bukan kerana uzur yang diterima Islam).

Perlu diketahui bahawa sesiapa yang batal puasanya dengan sengaja tanpa uzur seperti mengeluarkan mani secara sengaja, merokok, makan dan minum. Ia dilarang untuk makan dan minum lagi atau melakukan apa jua perkara yang membatalkan puasa yang lain sepanjang hari itu. (Fiqh as-Siyam, Al-Qaradawi, hlm 112). Ia dikira denda yang pertama baginya selain kewajiban menggantikannya kemudiannya. Keadaan ini disebut di dalam sebuah hadith, Ertinya : "sesungguhnya sesiapa yang telah makan (batal puasa) hendaklah ia berpuasa baki waktu harinya itu" (Riwayat al-Bukhari) 2) Makan sahur di waktu tengah malam kerana malas bangun di akhir malam.

Jelasnya, individu yang melakukan amalan ini terhalang dari mendapat keberkatan dan kelebihan yang ditawarkan oleh Nabi SAW malah bercanggah dengan sunnah baginda. "Sahur" itu sendiri dari sudut bahasanya adalah waktu terakhir di hujung malam. Para Ulama pula menyebut waktunya adalah 1/6 terakhir malam. (Awnul Ma'bud, 6/469). Imam Ibn Hajar menegaskan melewatkan sahur adalah lebih mampu mencapai objektif yang diletakkan oleh Nabi SAW. (Fath al-Bari, 4/138) 3) Bersahur dengan hanya makan & minum sahaja tanpa ibadah lain.

Ini satu lagi kesilapan umat Islam kini, waktu tersebut pada hakikatnya adalah antara waktu terbaik untuk beristigfar dan menunaikan solat malam. Firman Allah ketika memuji orang mukmin ertinya : " dan ketika waktu-waktu bersahur itu mereka meminta ampun dan beristighfar" (Az-Zariyyat : 18) , : :

Ertinya : "Ditanya kepada Nabi (oleh seorang sahabat) : Wahai Rasulullah :" Waktu bilakah doa paling didengari (oleh Allah s.w.t) ; jawab Nabi : Pada hujung malam (waktu sahur) dan selepas solat fardhu" ( Riwayat At-Tirmidzi, no 3494 , Tirmidzi & Al-Qaradhawi : Hadis Hasan ; Lihat Al-Muntaqa , 1/477) 4) Tidak menunaikan solat ketika berpuasa.

Ia adalah satu kesilapan yang maha besar. Memang benar, solat bukanlah syarat sah puasa. Tetapi ia adalah rukun Islam yang menjadi tonggak kepada keislaman sesorang. Justeru, ponteng' solat dengan sengaja akan menyebabkan pahala puasa seseorang itu menjadi kurus kering' pastinya. 5) Tidak mengutamakan solat Subuh berjemaah sebagaimana Terawih.

Ini jelas suatu kelompongan yang ada dalam masyarakat tatakala berpuasa. Ramai yang lupa dan tidak mengetahui kelebihan besar semua solat fardhu berbanding solat sunat, teruatamnya solat subuh berjemaah yang disebutkan oleh Nabi SAW bagi orang yang mendirikannya secara berjemaah, maka beroleh pahala menghidupkan seluruh malam. 6) Menunaikan solat terawih di masjid dengan niat inginkan meriah.

19px;"> Malanglah mereka kerana setiap amalan di kira dengan niat, jika niat utama seseorang itu ( samada lelaki atau wanita) hadir ke masjid adalah untuk meriah dan bukannya atas dasar keimanan dan mengharap ganjaran redha Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi SAW di dalam hadith riwayat al-Bukhari. Maka, "Sesungguhnya sesuatu amalan itu dikira dengan niat". (Riwayat al-Bukhari) 7) Bermalasan dan tidak produktif dalam kerja-kerja di siang hari dengan alasan berpuasa.

Sedangkan, kerja yang kita lakukan di pejabat dengan niat ibadat pastinya menambahkan lagi pahala. Justeru, umat Islam sewajarnya memperaktifkan produktiviti mereka dan bukan mengurangkannya di Ramadhan ini. 8) Memperbanyakkan tidur di siang hari dengan alasan ia adalah ibadat.

Sedangkan Imam As-Sayuti menegaskan bahawa hadith yang menyebut berkenaan tidur orang berpuasa itu ibadat adalah amat lemah. (al-Jami' as-Soghir ; Faidhul Qadir, Al-Munawi, 6/291) 9) Menganggap waktu imsak sebagai lampu merah' bagi sahur hingga tidak puasa.

Ini adalah kerana waktu imsak sebenarnya tidak lain hanyalah lampu amaran oren' yang di cadangkan oleh beberapa ulama demi mengingatkan bahawa waktu sahur sudah hampir tamat. Ia bukanlah waktu tamat untuk makan sahur, tetapi waktu amaran sahaja. Lalu, janganlah ada yang memberi alasan lewat bangun dan sudah masuk imsak lalu tidak dapat berpuasa pada hari itu. Atau jangan sesekali masih makan melepasi waktu imsak lalau mengganggap puasanya sudah terbatal. Waktu yang disepakati ulama merupakan waktu penamat sahur adalah sejurus masuk fajar sadiq (subuh). (As-Siyam, Dr Md Uqlah, hlm 278) 10) Wanita berterawih beramai-ramai di masjid tanpa menjaga aurat.

Ini nyata apabila ramai antara wanita walaupun siap bertelekung ke masjid, malangnya kaki dan aurat mereka kerap terdedah da didedahkan berjalan dan naik tangga masjid di hadapan jemaah lelaki. Tatkala itu, fadhilat mereka solat di rumah adalah lebih tinggi dari mendatangkan fitnah buat lelaki ketika di masjid.

11) Memasuki Ramadhan dalam keadaan harta masih dipenuhi dengan harta haram, samada terlibat dengan pinjaman rumah, kad kredit, insuran, pelaburan dan kereta secara riba.

Ini sudah tentu akan memberi kesan yang amat nyata kepada kualiti ibadah di bulan Ramadhan, kerana status orang terlibat dengan riba adalah sama dengan berperang dengan Allah dan RasulNya, tanpa azam dan usaha untuk mengubahnya dengan segera di bulan 'tanpa Syaitan' ini, bakal menyaksikan potensi besar untuk gagal terus untuk kembali ke pangkal jalan di bulan lain. Nabi Muhammad menceritakan :

Ertinya : menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, hal rambutnya kusut masai, mukanya berdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit : Wahai Tuhanku...wahai Tuhanku... sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram..Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mahu mengabulkan doanya. ( Riwayat Muslim, no 1015, 2/703 ; hadis sohih) Justeru, bagaimana Allah mahu memakbulkan doa orang yang berpuasa sedangkan keretanya haram, rumahnya haram, kad kreditnya haram, insurannya haram, simpanan banknya haram, pendapatannya haram?. Benar, kita perlu bersangka baik dengan Allah, tetapi sangka baik tanpa meloloskan diri dari riba yang haram adalah penipuan kata Imam Hasan Al-Basri. 12) Tidak memperbanyakkan doa tatkala berpuasa dan berbuka.

Ini satu lagi jenis kerugian yang kerap dilakukan oleh umat Islam. Nabi SAW telah menyebut : , ,

Ertinya : "Tiga golongan yang tidak di tolak doa mereka, pemimpin yang adil, individu berpuasa sehingga berbuka dan doa orang yang di zalimi" ( Riwayat At-Tirmizi, 3595, Hasan menurut Tirmizi. Ahmad Syakir : Sohih ) Selain itu, doa menjadi bertambah maqbul tatkala ingin berbuka berdasarkan hadith.

Ertinya : "Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu ketika berbuka (atau hampir berbuka) doa yang tidak akan ditolak" ( Riwayat Ibn Majah, no 1753, Al-Busairi : Sanadnya sohih) Ustaz Zaharuddin Abd Rahman

Ganjaran Puasa Ramadhan


Tarikh: Aug 26, 2011 Riwayat: Riwayat Bukhari & Muslim Kategori: Ibadah Hadith: Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:Semua amalan anak Adam digandakan kebaikannya sepuluh kali ganda serupa dengannya hingga tujuh ratus kali ganda, Allah Azza Wajalla berkata: Melainkan puasa, kerana ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya, mereka meninggalkan syahwat dan makanannya kerana-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kegembiraan; kegembiraan semasa berbuka dan kegembiraan semasa menemui Tuhannya, dan bau busuk (dari mulut orang yang berpuasa) kerana berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau Musk. Huraian Hadith: Pengajaran Hadis: i) Puasa merupakan perkara dharuriah' dalam agama di mana sesiapa yang mengingkari wajibnya puasa maka ia menjadi kufur, manakala sesiapa yang meninggalkan puasa tanpa uzur syarie, hendaklah ia dihukum. ii) Puasa memaksa kita meninggalkan nafsu syahwat walaupun pada perkara yang telah dihalalkan untuk melakukannya (sebelum Ramadhan). Dengan itu puasa sebenarnya dikatakan sebagai pendidik untuk kita menjadi lebih tegas, berdisiplin dan sabar dalam berhadapan dengan sebarang godaan sepanjang Ramadhan berlangsung. iii) Bulan Ramadhan dikenali juga sebagai bulan prestasi, di mana Allah memberikan kesempatan kepada orang-orang yang beriman untuk memperbaiki darjatnya di sisi Allah S.W.T bahkan di bulan ini semua aktiviti yang harus di sisi syarak dikira sebagai suatu ibadah kepada Allah S.W.T. iv) Puasa yang dilakukan dengan ikhlas kerana Allah semata-mata akan bernilai sepuluh kebajikan (atau lebih). Oleh itu orang yang puasa di bulan Ramadhan dan diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal dinilai sama dengan puasa sepanjang tahun. Hal demikian disebutkan dalam hadis Rasulullah s.a.w. v) Ramadhan adalah bulan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti yang dilakukan oleh para salafus-soleh. Dengan itu kita hendaklah benar-benar berusaha agar tidak ada waktu

berlalu tanpa amal soleh sepanjang Ramadhan ini kerana bulan Ramadhan adalah bulan permohonan, munajat, hidayah dan meraih petunjuk kebenaran daripada Allah S.W.T.
4520 bacaan

Ayuh, marilah kita sama-sama merafakkan kesyukuran ke hadrat Allah Subhanahu wa taala kerana dengan keizinan-Nya kita masih lagi diberikan kesempatan untuk melalui madrasah hebat bulan Ramadhan yang mulia ini. Jika Allah Subhanahu wa taala menghendaki untuk kita tidak lagi berkemampuan untuk memanfaatkan bulan Ramadhan ini, sudah tentu hal itu cukup mudah. Boleh sahaja kita diberikan kesakitan yang dahsyat yang dengan sebabnya kita tidak mampu berpuasa. Atau, mungkin sahaja kita ditimpakan kemalangan sehingga kita tidak lagi mampu berdiri untuk solat tarawih serta solat-solat sunat yang lain. Hampir setiap hari kita boleh membaca di dalam surat khabar, atau melihat di kaca televisyen berita tentang kematian melalui kemalangan dan sebagainya. Seharusnya hal tersebut memberikan kita satu pengajaran bahawa seandainya Allah menghendaki untuk menjadikan Ramadhan ini yang terakhir buat kita, maka pasti mudah sahaja untuk Allah mencabut nyawa kita. Justeru, sewajarnya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas kesempatan yang masih diberikan kepada kita ini.

Seterusnya, seharusnya kita mengambil kesempatan dengan sebaik-baiknya di bulan Ramadhan ini untuk mendapatkan ganjaran dan manfaat dengan sebanyak-banyaknya kerana ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dijanjikan dengan ganjaran yang begitu banyak; sehinggakan, sesetengah para ulama menyatakan bahawa sesiapa yang tidak berusaha dengan bersungguh-sungguh membanyakkan ibadah di bulan Ramadhan bagi mengejar dan merebut manfaatnya, maka orang tersebut adalah orang yang bodoh. Analoginya mudah: bayangkan, ada seseorang datang kepada kita menawarkan kepada kita wang tunai bernilai jutaan ringgit dengan syarat kita melakukan beberapa kerja mudah seperti memujinya, mengucapkan terima kasih kepadanya dan sebagainya. Nah, bukankah orang yang melepaskan peluang duniawi seperti itu, adalah orang yang bodoh. Maka, begitu jugalah orang yang

melepaskan peluang mendapatkan ganjaran tidak terhingga yang disediakan melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Hadith terbaik yang menceritakan kepada kita tentang kelebihan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah sebuah Hadith Qudsi yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam Sahih mereka masingmasing.

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah sallallahu alayhi wasallam bersabda (yang kirakira bermaksud): Setiap amalan anak Adam itu baginya. Satu kebaikan dibalas dengan 10 ganjaran hingga 700 kali ganda. Firman Allah azza wa jalla: Melainkan puasa, sesungguhnya ia adalah bagiKu dan Akulah yang akan membalasnya. Sesungguhnya dia meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata kerana Aku. Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya, dan bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau kasturi. (Dikeluarkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, an-NasaI, Ibnu Majah, al-Darimi)

Di dalam hadith tersebut dijelaskan kepada kita bahawa setiap amal kebaikan yang dilakukan itu adalah untuk kita. Hal ini bermakna, setiap amal kebaikan itu, di hari akhirat kelak, akan menjadi bekalan kita ketika dihisab. Di hari akhirat kelak, apabila ada seseorang yang pernah membuat kejahatan atau kezaliman ke atas seseorang, maka orang yang dizalimi atau disakiti itu akan datang kepada orang yang menzalimi atau menyakiti itu untuk menuntut haknya. Lalu, orang yang menzalimi itu akan terpaksa memberikan amal kebaikannya itu tadi kepada orang yang dizaliminya itu. Maka setiap amal kebaikan kita, akan kita jadikan sebagai bayaran kepada orang yang pernah kita zalimi seperti orang yang pernah kita curi barangnya, pernah kita tebarkan fitnah atasnya, pernah kita umpat, keji dan sebagainya. Kecuali puasa, kerana Allah Subhanahu wa taala menyatakan dengan jelas bahawa puasa itu adalah bagi Allah, dan Allah yang membalasnya. Maka, amal kebaikan puasa tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk dijadikan sebagai tebusan terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di dunia ini. Mudah-mudahan, andaikata amal kebaikan kita yang lain kelak habis disebabkan banyaknya kejahatan yang kita lakukan, dengan sebab amalan puasa kita itu boleh menjadi penyebab untuk kita dimasukkan ke dalam syurga Allah.

Begitu juga dinyatakan di dalam hadith tersebut, bahawa bagi setiap amal kebaikan yang lain, kita akan diberikan ganjaran antara 10 ke 700 kali ganda ganjaran. Apabila seseorang daripada kita melakukan kebaikan, maka para malaikat akan mencatatkan kebaikan tersebut, bergantung kepada nilai ganjaran yang akan diperolehi berdasarkan kepada keikhlasan dan sebagainya. Namun, bagi ibadah puasa ini tidak ada hadnya. Oleh sebab itu, tuan guru yang dikasihi, Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin al-

Maliki menyatakan bahawa ibadah puasa ini tidak dapat dicatat oleh para malaikat berapakah ganjaran yang hendak diberikan. Maka, ganjaran bagi ibadah puasa ini akan diberikan sendiri oleh Allah Subhanahu wa taala dan oleh sebab itulah dinyatakan juga di dalam hadith tersebut, kegembiraan kedua yang akan diperolehi oleh orang yang berpuasa adalah apabila bertemu dengan Tuhannya kerana pada ketika itu ia akan diperlihatkan dengan ganjaran daripada ibadah puasanya. Inilah ganjaran eksklusif ibadah puasa di bulan Ramadhan ini.

Maka, untuk mendapatkan ganjaran yang hebat tersebut, perlulah kita bermujahadah dan memastikan kualiti ibadah puasa kita berada di tahap yang terbaik. Ingatlah bahawa Rasulullah sallallahu alayhi wasallam ada memberikan satu peringatan kepada kita bahawa di kalangan semua umat Islam yang berpuasa di bulan Ramadhan, begitu ramai sekali yang gagal mendapatkan apa-apa manfaat daripada kelebihan ibadah ini melainkan sekadar merasakan lapar dan dahaga. Mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalam golongan itu. Apa yang penting adalah kita memastikan kita memelihara semua arahan dan suruhan Allah Subhanahu wa taala, dan membanyakkan bersabar. Hal ini demikian kerana sebahagian besar daripada amalan puasa itu adalah sifat sabar dan balasan bagi sifat sabar tiada batasnya. Sabar terbahagi kepada tiga jenis yakni sabar dalam mentaati perintah Allah, sabar dalam meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, serta sabar dalam menerima taqdir Allah yang perit dan menyakitkan.

Justeru, bagi memastikan kita mendapat kualiti ibadah puasa yang terbaik hendaklah kita bersabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala. Segala yang wajib hendaklah kita laksanakan dan segala yang haram hendaklah dijauhi. Bersabarlah dalam menghadapi keperitan rasa lapar dan dahaga, rasa lemah badan, serta apa-apa sahaja ujian dan dugaan dalam bentuk kesusahan, kesempitan, kerunsingan dan sebagainya yang mungkin dihadapkan kepada kita oleh Allah Subhanahu wa taala dengan tujuan untuk menguji dan melatih keimanan kita. Hendaklah kita yakin dengan janji dan jaminan Allah Subhanahu wa taala kerana janji Allah itu janji yang benar.