Anda di halaman 1dari 6

Borang Portofolio No. ID dan Nama Peserta : dr. Suriana Dwi Sartika No.

ID dan Nama Wahana : RSUD Prof.Anwar Makkatutu Bantaeng Topik : Tetanus Tanggal (kasus) : 21 Juli 2013 Presenter : dr. Suriana Dwi Sartika Tanggal Presentasi : Agustus 2013 Pendamping : dr. Hikmah Tempat Presentasi : Obyektif Presentasi : Keilmuan Ketrampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil Deskripsi : Tujuan : Bahan Bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit Cara Membahas : Diskusi Presentasi & Diskusi E-mail Pos Data Pasien : Nama : Tn. A No.RM : 091580 Nama Klinik : UGD Telp. : Terdaftar sejak : Data Utama Untuk Bahasan Diskusi : 1. Diagnosis/Gambaran Klinis : Kejang sejak 2 jam SMRS, badan dan mulut terasa kaku, demam sejak 1 hari yang lalu, nyeri kepala (+), luka pada telapak kaki kanan akibat terkena paku 1 minggu yang lalu tapi tidak diobati dan disuntik TT, luka bernanah dan kemudian ditusuk sendiri oleh pasien. 2. Riwayat pengobatan : 3. Riwayat kesehatan/penyakit : 4. Riwayat keluarga : Riwayat penyakit ayah (-), ibu (-) 5. Riwayat pekerjaan : Petani 6. Lain-lain : Daftar Pustaka : 1. Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Unhas. Standar Pelayanan Medik, Makassar : Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Unhas, 2007. 2. Hasil Pembelajaran : 1. Diagnosis Tetanus 2. Penanganan Tetanus 3. Edukasi pasien mengenai penanganan luka agar menghindari terjadinya infeksi pada luka.

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio : Subyektif : Kejang sejak 2 jam SMRS, badan dan mulut terasa kaku namun masih mampu membuka mulut, demam sejak 1 hari yang lalu, nyeri kepala (+), luka pada telapak kaki kanan akibat terkena paku 1 minggu yang lalu tapi tidak diobati dan disuntik TT, luka bernanah dan kemudian ditusuk sendiri oleh pasien. Riwayat penyakit dahulu: DM (-), Jantung (-), Hipertensi (-). Riwayat penyakit keluarga: (-) Riwayat pekerjaan, sosial, ekonomi, kejiwaan dan kebiasaan : Pasien merupakan seorang petani yang bekerja setiap hari di sawah dekat rumah. Obyektif : Keadaan umum Kesadaran Nadi Tensi Suhu Respirasi Kepala Rambut Mata Telinga Hidung Mulut Leher : Tampak sakit sedang : Kompos mentis : 110 x/menit, isi penuh, irama teratur : 120/80 mmHg : 37,2 o C : 20 x/menit : tidak ada deformitas, tidak ada benjolan : hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : konjungtiva pucat -/-, sklera tidak ikterik : tidak ditemukan kelainan : terdapat napas cuping hidung : tonsil T1/T1 , faring tidak hiperemis : tidak ditemukan kelainan

Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran getah bening Toraks : Paru : Inspeksi : simetris statis dan dinamis Palpasi : benjolan (-), fremitus kiri dan kanan sama Perkusi : sonor di kedua lapang paru

Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/ Jantung : Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat Palpasi : iktus kordis tidak teraba Perkusi : batas jantung dalam batas normal Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop(-) Abdomen :

Inspeksi : datar ikut gerak nafas Palpasi : tegang, nyeri tekan (-), hepar dan limpa tidak teraba Perkusi : timpani Auskultasi : peristaltic (+) kesan normal Punggung : tidak ditemukan kelainan

Anggota gerak : akral hangat, edema (-), perfusi perifer cukup Assessment (penalaran klinis) : Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis diagnosis pasien ini adalah tetanus. Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien seorang perempuan berumur 35 tahun yang masuk rumah sakit dengan kejang yang dialami sejak 2 jam SMRS. Pasien merasa badan dan mulut nya terasa kaku namun pasien masih mampu membuka mulut. Pasien mengalami demam sejak seminggu yang lalu. Pasien pernah tertusuk paku seminggu yang lalu namun tidak diobati ataupun disuntik TT. Luka itu menjadi bernanah dan ditusuk sendiri oleh pasien. Pada pemeriksaan fisik berupa tanda vital tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan paruparu didapatkan bunyi napas vesikuler dengan tidak adanya suara nafas tambahan. Pemeriksaan jantung dalam batas normal,. Pada ekstremitas perfusi perifer dinilai cukup. Oleh karena itu, didiagnosis tetanus. Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodic dan berat. Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif; Clastridium tetani. Bakteri ini berspora, dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun, jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain, ia akan memasuki tubuh penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama

tetanospasmin. Toksin tetanospamin menyebar dari saraf perifer secara ascending bermigrasi secara sentripetal atau secara retrogard mcncapai CNS. Penjalaran terjadi di dalam axis silinder dari sarung parineural. Teori terbaru berpendapat bahwa toksin juga menyebar secara luas melalui darah (hematogen) dan jaringan/sistem lymphatic. Kriteria diagnosis dari tetanus berdasarkan standar pelayanan medik RS.Wahidin Sudirohusodo yaitu : Hipertoni dan spasme otot a. Trismus, risus sardonikus, otot leher kaku dan nyeri, opistotonus, dinding perut tegang, anggota gerak spastic b. Lain-lain : kesukaran menelan, asfiksia dan sianosis, nyeri pada otot-otot di sekitar luka. Kejang tonik dengan kesadaran tidak terganggu Umumnya ada luka/riwayat luka Retensi urin dan hipepireksia Tetanus lokal

Untuk penatalaksanaan pada tetanus yaitu : IVFD dextrose 5% : RL = 1:1 28 tpm Kausal : Antitoksin tetanus : Serum Anti tetanus (SAT) diberikan dengan dosis 20.000 IU/ hari/im selama 35 hari. Atau Human Tetanus Imunoglobulin dengan dosis 500-3.000 IU/im tergantung berat penyakit diberikan single dose. Antibiotik a. Metronidazole 500 mg/ 8 jam drips iv b. Ampisilin dengan dosis 1 gr/8 jam/iv Bila alergi penisilin dapat diberikan a. Eritromisin 500 mg/6 jam/oral atau b. Tetrasiklin 500 mg/6 jam/oral Penanganan luka Dilakukan cross insisi dan irigasi dengan menggunakan H2O2

Suportif Diazepam a. Setelah masuk rumah sakit, segera diberikan diazepam dengan dosis 10 mg iv perlahan 2-3 menit. Dapat diulangi bila diperlukan. Dosis maintenance : 10 ampul = 100 mg/500 ml cairan infuse (10-12 mg/kgBB/hari) diberikan secara drips. Untuk mencegah kristalisasi dikocok setiap 30 menit. b. Setiap kejang diberikan bolus diazepam 1 ampul/ iv perlahan selama 3-5 menit, dapat diulangi setiap 15 menit sampai maksimal 3 kali. Bila tidak teratasi segera rawat ICU. c. Bila penderita telah bebas kejang selama 48 jam maka dosis diazepam diturunkan secara bertahap 10% setiap 1-3 hari (tergantung keadaan). Segera setelah intake oral memungkinkan maka diazepam diberikan peroral dengan frekuensi pemberian setiap 3 jam. Oksigen. Diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoksia, distress pernafasan, sianosis Nutrisi. Diberikan TKTP dalam bentuk lunak, saring, atau cair. Bila perlu, diberikan melalui pipa nasogastrik. Menghindari tindakan/ perbuatan yang bersifat merangsang termasuk rangsangan suara dan cahaya yang intensitasnya bersifat intermitten. Mempertahankan/ membebaskan jalan nafas : pengisapan lendir oro/nasofaring secara berkala. Posisi/ letak penderita diubah-ubah secara periodic. Pemasangan kateter bila terjadi retensi urin.

Komplikasi pada tetanus yaang sering dijumpai: laringospasm, kekakuan otot-otot pematasan atau terjadinya akumulasi sekresi berupa pneumonia dan atelektase serta kompressi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang. Selain itu bisa terjadi rhabdomyolisis dan renal failure. Angka kematian tinggi bila usia tua, masa inkubasi singkat, onset periode singkat, demam tinggi, dan spasme yang tidak cepat diatasi.

Plan : Diagnosis : didiagnosis apabila seseorang mengalami kejang tanpa penurunan kesadaran dan didapatkan ada riwayat luka, serta pada pemeriksaan fisis didapatkan kekauan pada otot. Pengobatan : Penanganan berupa IVFD RL + 10 amp diazepam 20 tpm , ceftriakson 1 gr/12 jam/iv, metronidazole 500 mg/ 8jam/drips, ketorolac 1amp/8jam/iv, ranitidin 1 amp/8jam/iv, tetagam (HTIG) 1500 IU/im, debridement luka dan cross insisi.

Pendidikan : Dilakukan kepada pasien agar menghindari terjadi komplikasi luka Konsultasi : Konsultasikan segera ke dokter penyakit dalam jika tidak ada perubahan Rujukan : (-) Kontrol : kontrol ke poli neurologi Kegiatan Penanganan asma Nasihat Periode 3 hari pertama Selama perawatan Hasil yang diharapkan Kejang menghilang Pasien mendapat edukasi tentang perawatan luka.