Anda di halaman 1dari 12

Bisnis dalam Islam

Dosen Pembina Mata Kuliah Agama Islam dan Kemuhammadiyahan ( Muyasaroh, S. Ag, M. Ag. )

Disusun oleh : Meika Kusuma Wardani A. Hasan Hanafi 10322040 10322043

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK TAHUN 2010 / 2011

KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat limpahan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan proposal usaha Potatoes Lovers . Proposal ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas perkuliahan pada Program Studi Pengantar Manajemen prodi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Gresik. Dengan tersusunnya makalah ini kami berharap kepada Ibu Pembina atau Pembimbing berkenan meluangkan waktu untuk membina dan membimbing pembuatan proposal yang ditugaskan kepada Mahasiswa. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Roziana AH.SE,Msi. selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Pengantar Manajemen yang dengan telaten dan sungguh-sungguh dalam menyampaikan materinya. 2. Rekan-rekan seangkatan dan semua pihak yang terlibat dalam pembutan makalah ini. Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa proposal ini masih banyak kekuranganya. Untuk itu dengan kerendahan hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Demikian untuk menjadikan periksa dan kami berharap atas kritik dan sarannya guna perbaikan dalam penulisan proposal ini, Amin.

Wassalam,

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Islam yang bersumber pada Al-qur`an mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara terperinci. Dalam Al-qur`an telah berisi seluruh aturan main kehidupan secara lengkap, termasuk di dalamnya tentang syari`ah, mu`amalah, dan aqidah. Syari`ah yang melingkupi aturan ibadah dan hubungan dengan Tuhan yaitu Allah SWT, Aqidah yang mengatur keyakinan seorang manusia termasuk akhlak (perilaku) manusia, sedangkan mu`amalah meliputi pergaulan hidup manusia dengan sesamanya, juga di dalamnya kegiatan ekonomi dan bisnis. Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang berkodrat hidup dalam masyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan manusia lain, untuk bersama-sama hidup dalam masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat, manusia selalu berhubungan satu sama lain, yang disadari atau tidak, untuk saling memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini menimbulkan adanya kegiatan ekonomi dan bisnis. Tentu saja selalu ada perbedaan antara sistem ekonomi konvensional dan ekonomi Islam, hal ini juga berpengaruh pada kegiatan bisnis di dalamnya. Maka, dalam penulisan makalah ini akan dibahas lebih jauh tentang seluk beluk bisnis dan aturan Islam yang mengaturnya. 2. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, didapatlah rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan Mu`amalah ? 2. Seberapa jauh ruang lingkup Mu`amalah ? 3. Apa pengertian dan tujuan Bisnis ? 4. Bagaimana berakhlaq dalam Bisnis Islam ? 5. Apa yang membedakan Bisnis Islam dan non-Islam ? 3. Tujuan Penulisan Yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengertian Mu`amalah beserta ruang lingkupnya. 2. Untuk mengetahui pengertian Bisnis Konvensional dan Bisnis Islam. 3. Untuk mengetahui perbedaan Bisnis Islam dan non-Islam.

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Mu`amalah Mu`amalah adalah tuntunan hidup manusia sebagai makhluk sosial yang berada di tengahtengah masyarakat yang memiliki dimensi sangat luas, di samping dimensi sosial manusia, termasuk aspek politik, budaya, juga aspek ekonomi (bisnis), perkawinan, pewarisan, hukumhukum publik dan sebagainya. Mu`amalah atau aturan-aturan dasar hubungan antar manusia merupakan aspek yang sangat mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Perhatian Islam terhadap mu`amalah ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al-Qur`an maupun Hadits yang memuat prinsip-prinsip dasar hubungan sosial, antara lain dalam aspek ekonomi. Yang menjadi ciri dan prinsip utama dalam konsep mu`amalah (jual-beli/ bisnis) Islam adalah saling menguntungkan dan meridhoi. Di samping itu, aspek perlindungan terhadap barang yang diperdagangkan dari kemungkinan cacat atau tidak sesuai dengan sifat-sifat yang ditentukan pada saat akad (transaksi) serta perlindungan terhadap kepentingan konsumen agar tidak dirugikan dan tidak terjadi kekecewaan di kemudian hari amat dipertimbangkan dalam hukum Islam. Sedangkan harga dan keuntungan yang diminta dapat dirumuskan oleh kedua belah pihak atas dasar suka sama suka dalam transaksi, dan dimana perlu didukung oleh bukti tertulis, persaksian, ataupun jaminan. Oleh karenanya, setiap bentuk dan tindakan ekonomi yang di dalamnya mengandung dharar (menyesatkan), gharar (tipuan), haraj (paksaan), dan najsy (menggoyang harga supaya tinggi melampaui batas atau standar daya beli), dilarang dalam Islam. Semua rumusan sistem aturan transaksi dagan dalam Islam selalu dilatarbelakangi oleh pemikiran filosofis atau prinsip-prinsip maslahah dan keadilan. 2. Pengertian dan Tujuan Bisnis Dalam kamus Bahasa Indonesia bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan dan bidang usaha. Bisnis dapat didefinisikan sebagai pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Ada yang mengartikan bisnis sebagai suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan distribusi atau penjualan barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh keuntungan. Barang yang dimaksud adalah suatu produk yang secara fisik memiliki wujud (dapat diindera), sedang jasa adalah aktivitas-aktivitas yang memberi manfaatt kepada konsumen atau pelaku bisnis lainnya. Islam mewajibkan setiap muslim, khususnya yang memiliki tanggungan untuk bekerja. Bekerja merupakan salah satu sebab pokok yang memungkinkan manusia mencari nafkah. Allah melapangkan bumi dan seisinya dengan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencari rizki. Diantara sumber-sumber daya alam yang diserahkan kepada manusia untuk dimanfaatkan, antara lain : hewan, tumbuh-tumbuhan, kekayaan laut, kekayaan alam tambang, dan lain sebagainya.

Di samping mencari rizki, Islam sangat menekankan dan mewajibkan aspek kehalalan, baik dari segi perolehan maupun pendayagunaannya. Sebagaimana dalam hadits Nabi disebutkan : Kedua telapak kaki Adam pada hari kiamat masih belum bergerak, sebelum ditanya kepadanya mengenai lima perkara: tentang umurnya; apa yang dilakukannya, tentang masa mudanya; apa yang dilakukannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakan dan tentang ilmunya; apa yang dia kerjakan dengan ilmunya (HR Ahmad). Pelaksanaan bisnis harus tetap berpegang pada ketentuan syari`ah (aturan-aturan dakam AlQur`an maupun Hadits). Dengan kata lain, syari`ah merupakan nilai utama yang menjadi patokan strategis maupun taktis bagi pelaku kegiatan ekonomi (bisnis). Dengan kendali syari`ah, bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empat hal utama, yaitu : 1. Target hasil, profit-materi dan benefit-non materi. Tujuan bisnis tidak harus mencari profit secara materi tetapi harus dapat memperoleh keuntungan dan non-materi bagi si pelaku bisnis itu sendiri maupun pada lingkungan yang lebih luas, seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial, dan sebagainya. Nilai-nilai akhlaqul karimah menjadi suatu kemestian yang harus muncul dalam kegiatan bisnis, sehingga tercipta hubungan persaudaraan yang Islami baik antara majikan dengan buruh maupun antara penjual dengan pembeli (buakn hanya sekedar hubungan fungsional dan profesional semata). Selain itu, ketika melakukan suatu kegiatan bisnis harus disertai dengan kesadaran hubungannya dengan Allah. Inilah yang dimaksud bahwa setiap perbuatan muslim adalah ibadah. Amal perbuatannya bersifat materi, sedang kesadaran akan hubungannya dengan Allah ketika melakukan bisnis dinamakan ruhnya. 2. Pertumbuhan. Jika profit materi dan benefit non-materi telah diraih, diupayakan pertumbuhan atau kenaikan terus-menerus setiap tahunnya dari profit dan benefit tersebut. Upaya pertumbuhan ini tentu dalam koridor syari`ah. Misalnya, dalam upaya meningkatkan jumlah produksi seiring dengan perluasan pasar, peningkatan inovasi sehingga bisa menghasilkan produk baru dan sebagainya. 3. Keberlangsungan. Pencapaian target hasil dan pertumbuhan terus diupayakan keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama dan dalam menjaga keberlangsungan itu tetpa dalam koridor syari`ah. 4. Keberkahan. Faktor keberkahan atau upaya menggapai ridho Allah merupakan puncak kebahagiaan hidup seorang muslim. Para pengelola bisnis harus mematok orientasi keberkahan ini menjadi visi bisnisnya, agar senantiasa dalam kegiatan bisnis selalu dalam kendali syari`ah dan diraihnya keridhoan Allah.

3. Akhlaq Bisnis Walaupun Islam mendorong ummatnya untuk berdagang, dan bahkan merupakan fardhu kifayah, bukan berarti dapat dilakukan sesuka dan sekehendak manusia, seperti lepas kendali. Adab dan etika bisnis dalam Islam harus dihormati dan dipatuhi jika para pedagang dan pebisnis ingin termasuk dalam golongan para nabi, syuhada dan shiddiqien. Keberhasilan masuk dalam kategori itu merupakan keberhasilan yang terbesar bagi seorang muslim. Umat Islam dalam kiprahnya mencari kekayaan dan menjalankan usahanya hendaklah menjadikan Islam sebagai dasarnya dan keredhaan Allah sebagai tujuan akhir dan utama. Mencari keuntungan dalam melakukan perdagangan merupakan salah satu tujuan, tetapi jangan sampai mengalahkan tujuan utama. Dalam pandangan Islam bisnis merupakan sarana untuk beribadah kepada Allah dan merupakah fardlu kifayah, oleh karena itu bisnis dan perdagangan tidak boleh lepas dari peran Syari'ah Islamiyah. Berikut adalah etika atau akhlaq dalam berbisnis dalam Islam. 1. Kewajiban Agama Lebih Utama Orang yang dikuasai oleh harta dan bisnisnya sehingga mengabaikan kewajiban terhadap Allah SWT adalah orang-orang yang iman dan akhlaqnya tipis, dan ini bertentangan dengan Syari'ah Islamiyah. Allah pernah menegur beberapa orang Islam zaman Rasulullah SAW. Pasalnya adalah ketika Rasulullah sedang menyampaikan khutbah Jum'at, mereka mendengar kedatangan kafilah yang membawa dagangan dari Syam. Kebetulan pada waktu itu kota Madinah sedang mengalami kekurangan makanan, sehingga mereka tidak sabar lagi untuk segera mendatangi kafilah tersebut, maka turunlah ayat Allah dalam surat Al-Jum'ah (62), ayat 11 : Dan ketika mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah : "Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan". Dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki. Demikianlah Allah SWT mencela perbuatan mereka yang mengabaikan kewajiban agama karena urusan bisnis. Adab dan etika bisnis hendaklah dijaga dan kewajiban terhadap Allah tidak boleh diabaikan. Setelah kewajiban ini ditunaikan Allah mendorong orang yang beriman untuk melanjutkan kegiatan bisnisnya, sambil terus mengingat Allah dalam setiap detak jantung dan denyut nadi. 2. Saling Rela Kegiatan bisnis dan perdagangan harus dijalankan oleh pihak-pihak yang terlibat atas dasar suka sama suka. Tidak boleh dilakukan atas dasar paksaan, tipu daya, kezaliman, menguntungkan satu pihak diatas kerugian pihak lain. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisaa (4), ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berjalan atas dasar suka sama suka diantara kamu 3. Jauhkan Melakukan Riba Dalam berbisnis hendaklah harus bersih dari unsur-unsur riba yang telah jelas-jelas dilarang oleh Allah, sebaliknya menggalakkan jual beli dan investasi. Haramnya riba telah jelas, tetapi dalam dunia usaha bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menghindarkan diri dari cengkraman riba. Walaupun demikian kita harus terus berusaha mengatasi hal ini dengan merumuskan langkah-langkah alternatif yang efektif. Dalam surah Al-Baqarah : 275 Allah berfirman : dan Allah menghalalkan jual beli, mengharamkan riba.

Islam mendorong masyarakat kepada usaha yang nyata dan produktif. Islam mendorong masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Perbedaan yang mendasar antara investasi dan membungakan uang. Investasi adalah kegiatan yang mengandung resiko karena berhadapan dengan unsur ketidak pastian.Oleh karena itu pula return dalam investasi tidak pasti dan tidak tetap. Sedangkan praktek membungakan uang adalah kegiatan yang relatif tidak beresiko karena perolehan kembaliannya berupa bunga relatif tetap dan pasti. 4. Tidak Menipu Islam mengharamkan penipuan dalam semua aktifitas manusia, termasuk dalam kegiatan bisnis dan jual beli. Memberikan penjelasan dan informasi yang tidak benar, mencampur barang yang baik dengan yang buruk, menunjukkan contoh barang yang baik dan menyembunyikan yang tidak baik termasuk dalam kategori penipuan. Pada suatu hari Rasulullah SAW mengadakan inspeksi pasar. Rasulullah memasukkan tangannya kedalam tumpukkan gandum yang nampak baik, tetapi beliau terkejut karena ternyata yang di dalam tidak baik (basah). Rasulullah pun bersabda : Juallah ini (yang baik) dalam satu bagian dan yang ini (yang tidak baik) dalam bagian yang lain. Siapa yang menipu kami bukanlah termasuk golongan kami. (HR Muslim) Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda : Tidak halal bagi seseorang menjual sesuatu barang melainkan jika ia telah menjelaskan keadaan barang yang dijualnya dan tidak boleh bagi siapa yang mengetahui hal tersebut (cacat) kecuali ia menjelaskannya (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi). Dari pernyataan diatas jelaslah bagi kita bahwa Islam mengecam penipuan dalam bentuk apapun dalam berbisnis. Lebih jauh lagi barang yang hendak dijual harus dijelaskan kekurangan dan cacatnya, dan jika ada yang menyembunyikannya adalah suatu kezaliman. Prinsip ini sebenarnya akan menciptakan kepercayaan antara pembeli dan penjual, yang akhirnya menciptakan keharmonian dalam masyarakat. 5. Tidak Mengurangi Timbangan, Takaran dan Ukuran Setiap muslim dituntut untuk menegakkan keadilan meskipun terhadap diri sendiri. Mereka juga dituntut untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak tanpa pandang bulu. Dalam berbisnis keadilan dan amanah tetap harus ditegakkan. Mengurangi timbangan, takaran dan ukuran merupakan perbuatan dosa besar. Melalui lisan nabi Syu'aib Allah memerintahkan kepada kita agar beribadah kepada Allah dan mentauhidkanNya, menyempurnakan takaran dan timbangan dan jangan mengurangi hak orang lain dan jangan melakukan kerusakan di muka bumi. Dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata : Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbanganya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang yang beriman. (Al-Araf : 85).

6. Tidak Menjual Belikan yang Haram Barang yang diperjual belikan haruslah barang yang halal baik zat maupun sifat-sifatnya. Dalam Islam haram hukumnya memperdagangkan barang-barang seperti minuman keras, daging babi, judi, barang curian, pelacuran dan lain-lain. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT jika mengharamkan suatu barang, maka harganya pun haram juga. (HR Ahmad dan Abu Daud). 7. Ihtikar/Menimbun/Monopoli Islam memberikan jaminan kebebasan pasar dan kebebasan individu untuk melakukan bisnis, namun Islam melarang prilaku mementingkan diri sendiri, mengeksploitasi keadaan yang umumnya didorong oleh sifat tamak dan loba sehingga menyulitkan dan menyusahkan orang banyak. Perbuatan ihtikar semacam ini sangat dilarang, Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : Seburuk-buruk hamba ialah orang yang melakukan ihtikar, jika ia mendengar harga barang murah dirusakannya (barang itu) dan jika harganya melambung tinggi ia bergembira. Keberhasilan bisnis bukan hanya bagaimana kita dapat memaksimalkan keuntungan dengan modal yang minimal dalam jangka waktu singkat. Tetapi juga bagaimana bisnis ini menjadi ibadah yang diridhoi Allah dan dapat memberikan kemashlahatan kepada masyarakat banyak. 8. Tidak mengambil Kesempatan dalam Kesempitan Pedagang yang tidak bermoral dan tipis imannya senantiasa mengambil kesempatan dari kelemahan dan kekurangan orang lain dengan menggunakan berbagai cara, agar dapat meraih keuntungan yang besar. Cara seperti ini dalam term fiqh biasanya dikenal dengan sebutan jual beli najash dan talaqqi ar-rukban. Yang dimaksud jual beli najash adalah seperti seorang yang seolah-olah akan membeli barang dengan harga tinggi, agar calon pembeli yang sebenarnya berani membeli dengan harga yang lebih tinggi. Sedangkan talaqqi ar-rukban adalah seseorang yang mengetahui kedatangan seorang pedagang dari luar kota, orang tersebut membelinya dengan harga murah dan dibawah harga pasaran, kemudian menjualnya dengan harga yang jauh lebih mahal. Kedua jenis jual beli seperti ini mengandung unsur dosa karena telah mengandung penipuan dan mengambil kesempatan dari kelemahan orang lain. 9. Tidak Mengandung Gharar dan Maisir Gharar atau ketidak jelasan. Akad jual beli yang mengandung unsur-unsur gharar dapat menimbulkan perselisihan, karena barang yang diperjual belikan tidak diketahui dengan baik, sehingga sangat dimungkinkan terjadi penipuan. Contohnya jual beli ikan yang masih berada di dalam kolam yang tidak diketahui ukuran, jenis dan rupanya. Gharar dapat mengarah kepada maisir (perjudian).

4. Perbedaan Bisnis Islam dan Non-Islam Bisnis Islam yang dikendalikan oleh aturan halal dan haram, baik dari cara perolehan maupun pemanfaatan harta, sama sekali berbeda dengan non-Islam. Dengan landasan sekulerisme yang bersendikan pada nilai-nilai material, bisnis non-Islam tidak memprhatikan aturan halal dan haram dalam setiap perencanaan, pelaksanaan, dan segala usaha yang dilakukan dalam meraih tujuan-tujuan bisnis. Dari asas sekulerisme inilah seluruh bangunan karakter bisnis non-Islami diarahkan pada halhal yang bersifat bendawi dan menafikkan nilai ruhiyah serta keterkaitan pelaku bisnis pada aturan yang lahir dan nilai-nilai transendental (aturan halal haram). Kalaupun ada aturan, semata bersifat etik yang tidak ada hubungannya dengan dosa dan pahala. Dengan melihat karakter yang dimiliki, bisnis Islam akan hidup secara ideal dalam sistem dan lingkungan yang Islami pula. Dalam lingkungan yang tidak Islami, sebagaimana yang kini terjadi, disadari atau tidak, sengaja atau tidak, suka atau tidak, pelaku bisnis Islam akan mudah sekali terseret dan sukar berkelit dalam kegiatan yang dilarang agama. Mulai dari uang pelicin saat perizinan usaha, menyimpan uang dalam rekening yang berbunga hingga iklan produk yang menampilkan tampilan yang harusnya tidak ditayangkan atau dipublikasikan. Sebaliknya, bisnis non-Islam juga tidak akan hidup ideal dalam sistem dan lingkungan Islam, kecuali ia mengubah dirinya menjadi bisnis yang memperhatikan nilai-nilai Islam. Bisnis nonIslam dalam lingkungan Islam pasti berhadapan dengan aturan-aturan yang melarang segala kegiatan yang bertentangan dengan syari`ah Islam. Karenanya bisnis-bisnis maksiat semacam diskotek, panti pijat, perbankan ribawi, prostitusi, judi dan sebagainya pasti tidak akan tumbuh dalam sistem Islam. Tumbuh tidaknya jenis kegiatan bisnis akan bergantung pada macam sistem dan lingkungan yang ada. Untuk memperjelas perbedaan antara bisnis Islam dan nonIslam, dapat dilihat tabel di bawah ini. ISLAM Aqidah Islam (nilai-nilai transendental) Dunia akhirat KARAKTER BISNIS ASAS MOTIVASI NON-ISLAM Sekulerisme (nilai-nilai material) Dunia Profit materi, pertumbuhan, keberlangsungan Tinggi, bisnis adalah kebutuhan duniawi Maju, produktif sekaligus konsumtif, konsekuensi aktualisasi diri Cakap & ahli di bidangnya, konsekuensi dari motivasi reward & punishment Halal dan haram

Profit materi dan non-materi, ORIENTASI pertumbuhan, keberlangsungan, keberkahan Tinggi, bisnis adalah bagian dari ETOS KERJA ibadah Maju & ahli di bidangnya, konsekuensi dari kewajiban seorang muslim Cakap dan ahli di bidangnya, konsekuensi dari kewajiban seorang muslim Halal SIKAP MENTAL

KEAHLIAN

MODAL

Terpercaya dan bertanggung jawab, tujuan tidak menghalalkan cara Sesuai dengan akad kerjanya Halal Visi dan misi organisasi terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia Jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran, mengedepankan produktifitas dalam koridor syari`ah Jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran keuangan Pemasaran dalam koridor jaminan halal SDM profesional & berkepribadian Islam, SDM adalah pengelola bisnis, SDM bertanggung jawab pada diri. Majikan dan Allah SWT.

AMANAH

Tergantung kemauan individu (pemilik kapital), tujuan menghalalkan cara Sesuai akad kerjanya atau sesuai keinginan pemilik modal Halal dan haram Visi dan misi organisasi ditetapkan berdasarkan pada kepentingan material belaka

SDM SUMBER DAYA MANAJEMEN STRATEGIK

MANAJEMEN OPERASI Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran produktifitas MENAJEMEN KEUANGAN MANAJEMEN PEMASARAN MANAJEMEN SDM Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran keuangan Pemasaran menghalalkan segala cara SDM profesional, SDM adalah faktor produksi, SDM bertanggung jawab hanya pada diri sendiri dan majikan.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan 1. Mu`amalah adalah tuntunan hidup manusia sebagai makhluk sosial yang berada di tengahtengah masyarakat yang memiliki dimensi sangat luas, di samping dimensi sosial manusia, termasuk aspek politik, budaya, juga aspek ekonomi (bisnis), perkawinan, pewarisan, hukum-hukum publik dan sebagainya. 2. Bisnis dapat didefinisikan sebagai pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Ada yang mengartikan bisnis sebagai suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan distribusi atau penjualan barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh keuntungan. 3. Dengan kendali syari`ah, bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empat hal utama, yaitu : a) Target hasil, profit-materi dan benefit-non materi. b) Pertumbuhan. c) Keberlangsungan. d) Keberkahan. 4. Adab dan etika bisnis dalam Islam harus dihormati dan dipatuhi, berikut adalah adab dan etika bisnis dalam Islam. 1. Kewajiban Agama Lebih Utama 2. Saling Rela 3. Jauhkan Melakukan Riba 4. Tidak Menipu 5. Tidak Mengurangi Timbangan, Takaran dan Ukuran 6. Tidak Menjual belikan yang Haram 7. Ihtikar/Menimbun/Monopoli 8. Tidak mengambil Kesempatan dalam Kesempitan 9. Tidak Mengandung Gharar dan Maisir 5. Banyak perbedaan antara bisnis konvensional dan bisnis Islam, mulai dari prinsip-prinsip bisnis, proses aktifitas bisnis, sampai pendapatan yang diperoleh dari kegiatan bisnis.

2. Kritik dan Saran Seluruh kegiatan bisnis yang berlangsung sekarang ini semakin luas dan menjangkau banyak kalangan. Dengan adanya mu`amalah yang mengatur tentang kegiatan ekonomi dan bisnis diharapkan mampu mengendalikan pasar ekonomi dan memberikan dampak positif bagi seorang muslim baik secara materi dan non-materi. Berpegang pada prinsip bisnis dalam Islam akan menenangkan jiwa dalam melaksanakan aktifitas ekonomi di era bisnis yang semakin maju dan pesat ini. Selain itu, pencapaian ridho Allah dalam berbisnis juga menjadi tujuan penting pebisnis Islami.