Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Inkompatibilitas rhesus merupakan suatu keadaan yang terjadi dalam kehamilan bila wanita Rhesus-negatif mengandung bayi Rhesus-positif. Sistem Rhesus merupakan suatu sistem yang sangat kompleks. Rhesus adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Mereka yang mempunyai faktor protein ini disebut rhesus positif. Sedangkan yang tidak memiliki faktor protein ini disebut rhesus negatif. Mengenali rhesus khususnya rhesus negatif menjadi begitu penting karena di dunia ini hanya sedikit orang yang memiliki rhesus negatif. Persentase jumlah pemilik rhesus negatif berbeda-beda antar kelompok ras. Penduduk pribumi Amerika, bangsa Inuit, dan Cina serta Asia lainnya hampir semua Rh-positif (99%). Sekitar 92-93% orang Afrika-Amerika Rh-positif, tetapi hanya 87% orang kaukasoid memiliki antigen Rh. Dari semua kelompok ras dan etnik yang diteliti sejauh ini, bangsa Basque memperlihatkan insiden negativitas-Rh tertinggi (34%). 1 Menurut data Biro Pusat Statistik 2010, hanya kurang dari satu persen penduduk Indonesia, atau sekitar 1,2 juta orang yang memiliki rhesus negative. Orang-orang yang tidak memiliki antigen sel darah merah tertentu berpotensi membentuk antibodi apabila terpajan antigen tersebut. Antibodi ini dapat membahayakan individu yang bersangkutan pada kasus transfusi darah atau janin pada kehamilan.2 Pada kehamilan, sel darah merah janin dapat mencapai sirkulasi ibu pada trimester terakhir kehamilan, saat sitotrofoblas tidak lagi terdapat sebagai sawar, atau selama persalinan itu sendiri (perdarahan fetomaternal). Ibu kemudian menjadi tersensitisasi terhadap antigen asing dan membentuk antibodi yang dapat dengan bebas melewati plasenta menuju janin dan menyebabkan destruksi eritrosit. Sekali hemolisis imun dimulai, akan terjadi anemia progresif pada janin disertai iskemia jaringan, gagal jantung intrauterus, dan penumpukan cairan di perifer (edema).2

Inkompatibilitas rhesus dapat memberikan gambaran klinis yang bervariasi dari yang ringan sampai berat, dan bahkan dapat membahayakan kelangsungan hidup janin. Oleh karena itu hal ini dianggap penting untuk kita tenaga kesehatan untuk memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai penyakit ini, agar nantinya dapat memberikan pelayanan yang maksimal. 1.2 Batasan Masalah Pembahasan referat ini dibatasi pada pembahasan mengenai sistem rhesus, insidensi, patofisiologi, gejala klinis, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis

inkompatibilitas rhesus. 1.3 Tujuan Penulisan Referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang inkompatibilitas rhesus. 1.4 Metode Penulisan Referat ini merupakan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


I.1 Sistem Rhesus Sampai saat ini, lebih dari 400 antigen sel darah merah sudah berhasil diketahui. Walaupun beberapa diantaranya penting secara imunologis dan genetis, untungnya banyak yang sedemikian jarang sehingga kurang bermakna secara klinis.1 Sistem golongan darah Rhesus mencakup lima protein atau antigen sel darah merah: c, C, D, e, dan E. Negativitas-D diidentifikasikan sebagai tidak adanya antigen "D". Antigen C, c, E, dan e memiliki imunogenisitas yang lebih rendah daripada antigen D. 1 Gen-gen CDE diwariskan secara terpisah dari gen golongan darah yang lain dan terletak di lengan pendek kromosom 1. Seperti sebagian besar produk gen lainnya, tidak terdapat perbedaan distribusi antigen CDE dalam kaitannya dengan jenin kelamin, tetapi terdapat perbedaan ras yang penting.1

Gambar 1. Ilustrasi perbedaan rhesus positif dan rhesus negatif. II.2 Insidensi Insiden sensitisasi terhadap antigen-antigen sel darah merah pada setiap tahap kehamilan telah diteliti secara mendalam terutama pada wanita D-negatif. Seorang wanita D-negatif yang melahirkan seorang bayi D-positif dengan golongan ABO yang sesuai memiliki kemungkinan 16% mengalami isoimunisasi (Bowman, 1985). Sekitar 2% dari pada wanita ini akan mengalami isoimunisasi saat pelahiran, 7% lainnya akan memiliki antibodi anti-D pada 6 bulan pascapartum, dan 7% sisanya akan mengalami "sensibilisasi" (sensibilized); yaitu, mereka tidak

menghasilkan antibodi anti-D tetapi akan mengalami isoimunisasi-D apabila terpajan janin Dpositif lain pada kehamilan berikutnya.1 II. 3 Patofisiologi Pada saat ibu hamil eritrosit janin dalam beberapa insiden dapat masuk kedalam sirkulasi darah ibu, yang dinamakan Feto-maternal microtransfusion.3 Penyakit hemolitik hanya terjadi apabila ibu telah mengalami perdarahan transplasenta yang bermakna (lebih dari 1 mL sel darah merah positif-Rh).2 Pada kehamilan, sejumlah kecil sel darah dari kompartemen intravaskular janin sering lolos menembus sawar plasenta ke dalam ruang antarvilus ibu. Choavaranata dkk (1997) melakukan uji Kleihauer-Betke serial pada 2000 wanita hamil dan mendapatkan bahwa, walaupun insiden perdarahan janin-ke-ibu di setiap trimester tinggi, volume yang ditransfusikan dari janin kepada ibunya sangat kecil.1 Tabel 1. Insidensi dan volume perdarahan janin-ke-ibu selama kehamilan. Stadium kehamilan Trimester pertama Trimester kedua Trimester ketiga Pelahiran Perdarahan (%) 54 63 71 76 Volume (ml) 0,07 0,08 0,14 0,19

Perdarahan besar jarang terjadi, dan Bowman (1985) melaporkan bahwa hanya 21 dari 9000 wanita yang mengalami perdarahan janin saat pelahiran dengan jumlah melebihi 30 ml. Sejumlah kejadian dapat menyebabkan perdarahan jani-ke-ibu dalam jumlah bermakna sehingga memicu isoimunisasi. Tabel 2. Kejadian kehamilan yang menyebabkan perdarahan janin-ke-ibu. Kejadian Kematian janin dini Abortus elektif Insidensi (%) 3-5 6-20

Kehamilan ektopik Amniosentesis Pengambilan sampel vilus korionik Kordosentesis Trauma antepartum Solusio plasenta Kematian janin Ekstraksi plasenta manual

5-8 4-11 8-15 30-50 Bervariasi Bervariasi Bervariasi Bervariasi

Bila ibu tidak memiliki antigen seperti yang terdapat pada eritrosit janin, maka ibu akan distimulasi untuk membentuk imun antibodi. Imun anti bodi tipe IgG tersebut dapat melewati plasenta dan kemudian masuk kedalam peredaran darah janin, sehingga sel-sel eritrosit janin akan diselimuti (coated) dengan antibodi tersebut dan akhirnya terjadi aglutinasi dan hemolisis. Hemolisis terjadi dalam kandungan dan akibatnya adalah pembentukan eritrosit oleh tubuh secara berlebihan, sehingga akan didapatkan eritrosit berinti banyak, yaitu eritroblast. Itulah sebabnya penyakit ini juga disebut eritroblastosis fetalis.3,5,6,

Gambar 2. Gambaran pembentukan antibodi pada inkompatibilitas rhesus Beberapa faktor mempengaruhi respon imun terhadap sel darah merah janin positif-Rh yang mencapai sirkulasi ibu; 1. Apabila juga terdapat ketidakcocokan ABO, ibu akan terlindung dari imunisasi Rh karena sel darah merah janin segera dilapisi oleh isohemaglutinin dan disingkirkan dari sirkulasi ibu.

2. Respon antibodi bergantung pada dosis antigen yang mengimunisasi; oleh karena itu, penyakit hemolitik hanya apabila ibu telah mengalami perdarahan transplasenta yang bermakna (lebih dari 1 mL sel darah merah positif-Rh) 3. Isotipe antibodi penting karena imunoglobulin G (IgG, bukan IgM) dapat melewati plasenta. Pajanan awal ke antigen Rh memicu pembentukan antibodi IgM, sehingga penyakit Rh sangat jarang pada kehamilan pertama. Pajanan berikutnya sewaktu kehamilan kedua atau ketiga umumnya menyebabkan respons antibodi IgG yang cepat. Perubahan patologis pada organ-organ janin dan neonatus bervariasi sesuai keparahan proses. Hemolisis yang berlebihan dan berkepanjangan merangsang hiperplasia eritroid berat di sumsum tulang serta hematopoiesis ekstramedula yang luas, terutama di limpa dan hati, yang pada gilirannya dapat menyebabkan disfungsi hati (Nicolini dkk.,1991). Pemeriksaan histologis hati mungkin juga memperlihatkan perubahan parenkim berupa degenerasi lemak serta pengendapan hemosiderin dan pembendungan kanalikulus hati oleh empedu. Mungkin terjadi pembesaran jantung dan perdarahan paru. Apabila janin atau bayi yang sakit berat memperlihatkan edema subkutis yang mencolok serta efusi ke dalam rongga-rongga serosa, keadaan ini disebut hidrops fetalis. Keadaan ini didefinisikan sebagai adanya cairan abnormal di dua atau lebih tempat misalnya toraks, abdomen, atau kulit.1,2,4 II.4 Gejala Klinis Gejala klinis yang timbul pada janin dapat bervariasi dari ringan sampai berat. A. Hidrops fetalis Hidrops fetalis didefinisikan sebagai adanya cairan abnormal di dua atau lebih tempat misalnya toraks, abdomen, atau kulit.. Perubahan patologi klinik yang terjadi bervariasi, tergantung intensitas proses. Pada kasus parah, terjadi edema generalisata pada janin, yang merupakan suatu manifestasi berat penumpukan progresif cairan selama pertumbuhan intrauterus yang sangat mematikan. Asites, hepatomegali, dan splenomegali janin dapat sedemikian masif sehingga terjadi distosia berat. Hidrotoraks dapat sedemikian parah sehingga perkembangan paru terpengaruh dan respirasi setelah lahir terganggu.1,2,6

Patofisiologi pasti hidrops masih belum jelas. Teori-teori tentang kausanya mencakup gagal jantung akibat anemia berat, hipertensi portal dan hipertensi vena umbilikalis akibat kerusakan parenkim hati oleh hematopoiesis ekstramedula, serta penurunan tekanan onkotik koloid akibat hipoproteinemia yang disebabkan oleh disfungsi hati. Nicolaides dkk. (1985) melakukan pengambilan sampel darah arteria umbilikalis perkutaneus pada 17 janin yang mengalami isoimunisasi-D berat pada gestasi 18 sampai 25 minggu. Semua janin dengan hidrops memiliki kadar hemoglobin kurang dari 3,8 g/dl serta konsentrasi protein plasma kurang dari 2 standar deviasi dari nilai rata-rata untuk janin normal seusianya. Janin hidropik juga memperlihatkan kadar protein yang tinggi di dalam cairan asites. Sebaliknya, semua janin nonhidropik memiliki kadar hemoglobin lebih dari 4 g/dl; namun, 6 dari 10 memperlihatkan hipoproteinemia dengan derajat setara dengan janin hidropik. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa derajat dan lama anemia serta hipoksia yang terjadi paling berpengaruh pada keparahan asites, yang diperparah oleh hipoproteinemia. Mereka juga berhipotesis bahwa anemia kronik berat yang disertai hipoksia jaringan menyebabkan kebocoran endotel kapiler dan pengeluaran protein.1 B. Hiperbilirubinemia Bayi yang sakitnya tidak terlalu parah mungkin tampak sehat saat lahir, namun mengalami ikterus dalam beberapa jam kemudian. Pada kasus yang berat, hiperbilirubinemia dapat menimbulkan gangguan sistem syaraf pusat, khususnya ganglia basal atau menimbulkan kernikterus. Gejala yang muncul berupa letargia, kekakuan ekstremitas, retraksi kepala, strabismus, tangisan melengking, tidak mau menetek dan kejang. Kematian dapat terjadi dalam usia beberapa minggu. 2,4,5,6 Pada bayi yang bertahan hidup, secara fisik tak berdaya, tak mampu menyanggah kepala dan tak mampu duduk. Kemampuan berjalan mengalami keterlambatan atau tak pernah dicapai. Pada kasus yang ringan akan terjadi inkoordinasi motorik dan tuli konduktif. Anemia yang terjadi akibat gangguan eritropoesis dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulanbulan.2,4,5,6

II.5

Diagnosis Langkah pertama adalah mengidentifikasi wanita berisiko dengan melakukan penapisan

golongan darah dan antibodi saat kunjungan pranatal pertama pada semua kehamilan. Anamnesis yang terperinci mempermudah mendapatkan informasi mengenai riwayat transfusi, dan kejadian-kejadian yang menyebabkan ibu rhesus negatif terpajan dengan darah rhesus positif sebelumnya. Antibodi serum ibu dideteksi dengan uji Coombs tidak langsung, karena antibodi anti-D tidak terikat dan diserap ke sel darah merah hanya di sirkulasi janin. Janin dievaluasi dengan uji Coombs langsung, karena antibodi anti-sel darah merah yang dihasilkan oleh ibu sebagian besar diserap ke eritrosit janin D-positif. Antibodi yang terserap berfungsi sebagai hemolisin, yang menyebabkan percepatan destruksi sel darah merah. Neonatus juga dievaluasi dengan uji Coombs langsung. Antibodi ibu yang terdeteksi saat lahir secara bertahap hilang dalam waktu 1 sampai 4 bulan. Apabila golongan darah janin belum ditentukan antenatal, golongan darah ditentukan saat lahir, tetapi hasil yang diperoleh mungkin tidak akurat. Hal ini karena sel-sel darah merah neonatus mungkin seluruhnya terbungkus oleh antibodi anti-D sehingga antigen D tidak terdeteksi dan neonatus dengan salah dianggap D-negatif.1,2,5 Apabila ditemukan, antibodi sel darah merah ibu diidentifikasi dan ditentukan apakah dari kelas IgG atau IgM. Hanya IgG yang memerlukan perhatian karena antibodi IgM biasanya tidak melewati plasenta dalam jumlah yang dapat menyebabkan hemolisis janin, dan apabila titer melampaui suatu ambang kritis, diindikasikan evaluasi lebih lanjut. Untuk antibodi anti-D, batas maksimum titer yang tidak menyebabkan kematian janin akibat penyakit hemolitik biasanya adalah 1:16, walaupun angka ini bervariasi antar-laboratorium. Titer yang sama dengan atau lebih daripada titer kritis ini menunjukkan kemungkinan penyakit hemolitik berat. 1 Diagnosis hidrops fetalis biasanya mudah ditegakkan dengan menggunakan USG. Plasentanya juga mengalami edema berat, sangat membesar dan lunak (boggy), dengan kotiledon besar dan menonjol, dan vili edematosa. 1 Pemeriksaan amnion kadang diperlukan pada situasi tertentu. Apabila sel-sel darah janin mengalami hemolisis, pigmen-pigmen pecahan (terutama bilirubin) akan terdapat di supernatan

cairan amnion. Jumlah bilirubin cairan amnion secara kasar bersesuaian dengan derajat hemolisis dan, dengan demikian, secara tidak langsung dapat memperkirakan keparahan anemia janin. 1 Kordosentesis digunakan untuk memperoleh darah janin. Resiko prosedur ini melebihi risiko amniosentesis. Namun pemeriksaan ini sangat akurat, dan mimiliki sensitivitas 99,7%. Kordosentesis perlu dipertimbangkan pada janin yang mungkin terkena penyakit ini sebelum berusia 27 minggu. Kordosentesis memungkinkan kita menentukan nilai hemoglobindan hematokrit janin, serta hitung retikulosit dan titer Coombs tidak langsung.1 Pada dasarnya uji-uji tersebut ditentukan oleh anamnesis serta keparahan kehamilan yang sekarang. II.6 Penatalaksanaan1 Usia gestasi biasanya merupakan pertimbangan terpenting dalam menentukan pilihan terapi yang akan dijalani. Janin yang yang sangat imatur mungkin memperoleh manfaat dari resusitasi intrauterus dengan transfusi, sedangkan janin yang menjelang aterm seyogyanya dilahirkan. Apabila pengukuran cairan amnion menunjukkan kemungkinan anemia berat pada janin, ultrasonografi menggambarkan hepatomegali atau hidrops janin, atau pada pemeriksaan janin mengisyaratkan stress fisiologis, harus dilakukan transfusi janin atau pelahiran. Nicolaides dkk. (1988) menganjurkan untuk memulai transfusi apabila hemoglobin paling sedikit 2 g/dl dibawah nilai rata-rata untuk janin normal untuk usia gestasi sepadan. Penulis lain melakukan transfuse apabila hematokrit janin di bawah 30%, yaitu 2 SD di bawah rata-rata pada semua usia gestasi. Analisis darah tali pusat harus dilakukan sesegera mungkin pada kehamilan dengan ibu D-negatif yang diketahui mengalami sensitisasi. Apabila bayi tampak menderita anemia berat, sebaiknya segera dilakukan transfusi tukar untuk memperbaiki anemia. Digunakan sel darah merah golongan O D-negatif yang baru dikumpulkan. Bagi yang tidak terlalu anemik, kebutuhan akan transfusi tukar ditentukan oleh laju peningkatan konsentrasi bilirubin, maturitas bayi, dan ada tidaknya penyulit lain.

II.7

Pencegahan1 Apresiasi peran sensitisasi sebelumnya dalam patogenesis penyakit hemolitik-Rh pada

neonatus mendorong dikembangkannya tindakan pengendalian terhadap penyakit tersebut. Saat ini, ibu Rh-negatif diberi globulin anti-D segera setelah melahirkan seorang bayi Rh-positif. Antibodi anti-D menutupi tempat antigenik dalam sel darah merah janin yang mungkin bocor ke dalam sirkulasi ibu saat persalinan sehingga sensitisasi berkepanjangan terhadap antigen Rh dapat dicegah. Imunoglobulin anti-D adalah suatu immunoglobulin G75 yang diekstraksi dengan fraksionasi alcohol dingin dari plasma yang mengandung antibody D dalam titer tinggi. Setiap dosis mengandung tidak kurang dari 300 g antibodi-D sesuai pengukuran radioimmunoassay. Terapi ini diberikan kepada ibu D-negatif yang tidak tersensitisasi untuk mencegah bahaya sensitisasi yang dijelaskan di atas. Freda dkk. (1975) meringkaskan pengalaman klinis mereka menggunakan

immunoglobulin-D selama 10 tahun, yang menegaskan pengamatan awal mereka bahwa globulin semacam itu diberikan kepada wanita D-negatif (yang belum pernah tersensitisasi) dalam 72 jam setelah pelahiran bersifat sangat protektif. Setiap kejadian dalam kehamilan yang dapat menyebabkan perdarahan janin-ke-ibu memerlukan profilaksis immunoglobulin-D.

Imunoglobulin anti-D harus diberikan kepada wanita D-negatif setelah keguguran, atau evakuasi kehamilan ektopik atau mola. Selain situasi-situasi yang dijelaskan di atas, imunoglobuli anti-D juga diberikan kepada semua wanita D-negatif pada usia gestasi sekitar 28 minggu sebagai profilaksis. Profilaksis ini kembali diberikan setelah pelahiran apabila bayinya D-positif. Dengan diterapkannya pemberian immunoglobulin anti-D ini, didapati penurunan insiden isoimunisasi-D selama kehamilan dari 1,8% menjadi 0,7%.. II.8 Prognosis1 Apabila wanita D-negatif yang tersensitisasi dengan janin D-positif tidak diobati, maka angka kematian perinatal sekitar 30% (Freda, 1973). Dengan penatalaksanaan yang agresif, termasuk amniosentesis diagnostik atau pemeriksaan-pemeriksaan darah janin dengan

kordosentesis, pemeriksaan ultrasonografi berulang, dan transfusi intrauterus pada kasus-kasus tertentu, angka kematian perinatal jauh berkurang. Menurut Bowman (1978) kebanyakan anak yang berhasil hidup setelah mengalami tranfusi janin, akan berkembang secara normal. Dari 89 anak yang diperiksa ketika berusia 18 bulan atau lebih, 74 anak berkembangan secara normal, 4 anak abnormal, dan 11 anak mengalami gangguan tumbuh kembang.

BAB III KESIMPULAN

Inkompatibilitas rhesus merupakan suatu keadaan yang terjadi dalam kehamilan bila wanita Rhesus-negatif mengandung bayi Rhesus-positif. Mereka yang mempunyai faktor protein ini disebut rhesus positif. Sedangkan yang tidak memiliki faktor protein ini disebut rhesus negatif. Orang-orang yang tidak memiliki antigen sel darah merah tertentu berpotensi membentuk antibodi apabila terpajan antigen tersebut. Antibodi ini dapat membahayakan individu yang bersangkutan pada kasus transfusi darah atau janin pada kehamilan.2 Pada kehamilan, sel darah merah janin dapat mencapai sirkulasi ibu pada trimester terakhir kehamilan, saat sitotrofoblas tidak lagi terdapat sebagai sawar, atau selama persalinan itu sendiri (perdarahan fetomaternal). Bila ibu tidak memiliki antigen seperti yang terdapat pada eritrosit janin, maka ibu akan distimulasi untuk membentuk imun antibodi. Imun anti bodi tipe IgG tersebut dapat melewati plasenta dan kemudian masuk kedalam peredaran darah janin, sehingga sel-sel eritrosit janin akan diselimuti (coated) dengan antibodi tersebut dan akhirnya terjadi aglutinasi dan hemolisis. Hemolisis yang terjadi dalam kandungan dapat berakibat fatal terhadap janin dan dapat menimbulkan kematian. Gejala klinis yang timbul pada janin dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Pada kehamilan pertama, janin dapat hidup karena ibu belum tersensitisasi terhadap darah janin, dan ibu belum membentuk antibody yang cukup untuk mendestruksi darah janin. Pada kehamilan selanjutnya, tingkat keparahan juga bervariasi. Dapat terjadi hidrop fetalis dan hiperbilirubinemia akibat anemia hemolik yang dialami oleh bayi. Langkah pertama dalam menegakkan diagnosis adalah mengidentifikasi wanita berisiko dengan melakukan penapisan golongan darah dan antibodi saat kunjungan pranatal pertama pada semua kehamilan.

Anamnesis yang terperinci mempermudah mendapatkan informasi mengenai riwayat transfusi, dan kejadian-kejadian yang menyebabkan ibu rhesus negatif terpajan dengan darah rhesus positif sebelumnya. Diagnosis hidrops fetalis biasanya mudah ditegakkan dengan menggunakan USG. Plasentanya juga mengalami edema berat, sangat membesar dan lunak (boggy), dengan kotiledon besar dan menonjol, dan vili edematosa. Pemeriksaan amnion dan kordosentesis kadang diperlukan pada situasi tertentu. Penatalaksanaan yang diberikan juga tergantung tingkat keparahan yang ditimbulkan. Janin yang yang sangat imatur mungkin memperoleh manfaat dari resusitasi intrauterus dengan transfusi, sedangkan janin yang menjelang aterm seyogyanya dilahirkan. Apabila pengukuran cairan amnion menunjukkan kemungkinan anemia berat pada janin, ultrasonografi

menggambarkan hepatomegali atau hidrops janin, atau pada pemeriksaan janin mengisyaratkan stress fisiologis, harus dilakukan transfuse janin atau pelahiran. Setelah bayi lahir, apabila bayi tampak menderita anemia berat, sebaiknya segera dilakukan transfusi tukar untuk memperbaiki anemia. Digunakan sel darah merah golongan O negatif yang baru dikumpulkan. Bagi yang tidak terlalu anemik, kebutuhan akan transfusi tukar ditentukan oleh laju peningkatan konsentrasi bilirubin, maturitas bayi, dan ada tidaknya penyulit lain. Yang paling pentng dalam kasus ini adalah skrining dan deteksi dini pada ibu hamil, serta melakukan pencegahan yang optimal. Saat ini, ibu Rh-negatif diberi globulin anti-D segera setelah melahirkan seorang bayi Rh-positif. Antibodi anti-D menutupi tempat antigenik dalam sel darah merah janin yang mungkin bocor ke dalam sirkulasi ibu saat persalinan sehingga sensitisasi berkepanjangan terhadap antigen Rh dapat dicegah. Dengan diterapkannya pemberian immunoglobulin anti-D ini, didapati penurunan insiden isoimunisasi-D selama kehamilan dari 1,8% menjadi 0,7%.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham FG, et al. Williams Obstetrics. 21st edition. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. 2. Robbins, StanleyL, et al. Buku Ajar Patologi. 7th edition. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007. nd 3. James DK, Steer PJ, et al. Fetal hemolytic disease. High Risk Pregnancy. 2 ed. WB. Saunders. 2001. 4. Salem L. Rh incompatibility. www. Neonatology.org. 2001. 5. Markum AH, Ismail S, Alatas H. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Jakarta: Bagian IKA FKUI. 1991. 6. Hasan R, Alatas H. Buku kuliah ilmu kesehatan anak, 3. Edisi IV. Jakarta: Bagian IKA FKUI. 1996. 7. Prawirohardjo S, Winkjosastro H. ilmu kebidanan. Ed.V. Jakarta: Yayasan bina Pustaka. 2009.