Anda di halaman 1dari 29

ERGONOMI TEKNIK DISEKTOR INDUSTRI

Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri,Fakultas Teknik–Universitas Mercu Buana email: rudinimenteri@gmail.com 2012

1. Pengertian Ergonomi Ergonomi merupakan pengetahuan tentang interaksi antara manusia dengan pekerjaannya. Karena dalam pekerjaannya manusia berhadapan langsung dengan mesin, peralatan, bahan, tempat dan manusia yang lainnya. Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, ergo yang berarti kerja dan nomos yang berarti aturan, prinsip atau kaidah. Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis dalam memanfaatkan informasi-informasi yang tersedia mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam perancangan suatu sistem kerja sehingga orang dapat bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman, sehat dan efisien (Sutalaksana,1979). The International Ergonomics Assosiation mendefinisikan ergonomic adalah sebagai disiplin ilmu yang menitikberatkan pada pemahaman antara manusia dengan elemenelemen lain dari sistem dan profesi dengan penerapan teori, prinsipprinsip data-data dan metode yang digunakan untuk design pengoptimalisasian kesejahteraan manusia dan kinerja sistem secara keseluruhan. McCormick dan Sanders (1982) mendefinisikan ergonomic melalui pendekatan yang komprehensif melalui tiga pokok pendekatan, yaitu: 1. Fokus utama Faktor manusia dalam perancangan produk, prosedur dan lingkungan kerja. 2. Tujuan Meningkatkan efektifitas hasil hubungan sistem manusia dan mesin dengan mempertahankan unsur kenyamanan, keselamatan dan kesehatan kerja sebaik mungkin.

‘13

0

ERGONOMI TEKNIK Rudini Mulya Daulay

Pengunaan Sistem Ergonomi Disektor Industri Email: rudinimenteri@gmail.com

3. Pendekatan utama Maksudnya adalah aplikasi sistematis dari karakteristik manusia (kemampuann dan keterbatasan) terhadap perancangan suatu sistem atau prosedur kerja. 2. Bidang Kajian Ergonomi Sesuai dengan pengertian ergonomi diatas, dapat disimpulkan bahwa kajian utama dari ergonomi adalah perilaku manusia sebagai objek utama. Perbedaan-perbedaan bidang kajian ergonomi pada berbagai sumber literature pada dasarnya tidak jauh berbeda, hanya berbeda dalam hal pengelompokan bidang kajian saja. Pengelompokan bidang kajian ergonomic secara lengkap yang mencakup seluruh perilaku manusia dalam bekerja adalah kajian ergonomi yang dilakukan oleh Dr. Ir. Iftikar Z. Sutalaksana sebagai berikut :  Antropometri

Antropometri adalah cabang ergonomi yang mengkaji masalah dimensi tubuh manusia yang dapat digunakan untuk merancang sistem kerja yang ergonomis. Perbedaan data antropometri pada manusia disebabkan oleh jenis kelamin, usia, ras, sosio-ekonomi dan pola hidup.  Fatal Kerja

Perilaku manusia yang dibahas dalam faal kerja adalah reaksi tubuh selama bekerja, khususnya mengenai energy yang dikeluarkan. Energi diperoleh dari makanan. Melalui berbagai tahap metabolisme pada sistem pencernaan, zat-zat yang mengandung energy disimpan dalam bentuk lemak dan glikogen. Untuk keperluan bekerja, glikogen berperan dalam memberikan energy, sedangkan darah membawa oksigen untuk dikirim ke otot-otot tubuh yang memerlukannya. Hal yang paling banyak dibahas dalam faal kerja manusia adalah kelelahan ( fatigue) kerja otot.  Biomekanika kerja

Biomekanika kerja mengkaji perilaku manusia dari aspek-aspek mekanika gerakan. Objek penelitian yang berkaitan dengan ini adalah kekuatan kerja otot, kecepatan dan ketelitian gerak anggota badan serta daya tahan jaringan-jaringan tubuh terhadap beban.

‘13

1

ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay

Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail.com

Kurangnya komunikasi antar manusia. karena masing-masing manusia memiliki keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaannya.  Faktor. termasuk didalamnya adalah : kebiasaan. waktu pemrosesan suatu informasi. Pengaruh kelelahan (fatigue). Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu meliputi respon dari suatu stimulus. Hal ini dapat dilihat dari periode yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan dan dan waktu reaksi (respon). penciuman (hidung) dan perasa (lidah). pendidikan. Satusatunya faktor yang dapat digunakan untuk menambah derajat kebebasannya adalah dengan merancang proses dari sistem kerja dengan sebaik-baiknya dengan memperhatikan kemampuan manusianya (sebagai individu yang berhadapan dengan pekerjaannya). Ketidakcocokan seseorang terhadap pekerjaannya dapat menimbulkan tekanan (stress). pendengaran (telinga). hal ini menyebabkan masalah-masalah seperti :     ‘13 Kesulitan untuk menjaga tingkat kewaspadaan ( vigilance) dalam jangka waktu yang cukup lama.com 2 . Keputusan yang disertai dengan tanggung jawab yang berat. sifat dan kepribadian. motivasi.Kecakapan manusia dapat ditunjukkan dengan tingkat kewaspadaannya dalam penanggapan stimulus. pengalaman dan lain-lain. usia. daya ingat jangka pendek dan metodologi untuk menjaga kewaspadaan (vigilance). Waktu yang dibutuhkan bergantung pada kompleksitas keputusannya. obat-obatan dan alkohol. ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. dan rendahnya motivasi untuk bekerja sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas kerja.Faktor Psikologis Kinerja dari suatu sistem sering dibatasi dengan berbagai karakteristik manusia. Penginderaan 5 indera utama manusia adalah indera penglihatan (mata). sistem nilai. Indera penglihatan paling banyak digunakan dalam pekerjaan diikuti oleh indera pendengaran. peraba (kulit). yakni menyangkut faktor-faktor diri seseorang. minat.  Psikologi Kerja Psikologi kerja membahas masalah-masalah kejiwaan yang ditemukan pada tempat kerja. jenis kelamin. karakteristik fisik. penginderaan dikaji terutama untuk mengetahui apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan dari masing-masing indera dalam merespon. Dalam ergonomi.

55 0. Namun disamping itu. Waktu Respon Manusia Waktu respon manusia yang paling sederhana dan cepat biasanya berkisar ± 2 detik.5 0. Periode refractory tersebut adalah 500 milidetik atau 0. Dari sini dapat disimpulkan bahwa hanya ada 2 data per detik yang dapat diolah oleh otak.3 6 2.35 0.65 Konsep yang mengatakan bahwa cerebral cortex adalah merupakan single channel transmitter.4 0. maka ada satu periode waktu (psychological refractory period) yang menghambat masuknya data yang lainnya.5 detik.8 8 3 9 3.6 4 2 5 2.  Daya Ingat Jangka Pendek Karakteristik manusia yang mempunyai daya ingat jangka pendek haruslah dijadikan bahan pertimbangan dalam perancangan sistem kerja karena hal tersebut berhubungan dengan kemampuan maksimal manusia dalam penyerapan suatu data informasi. daya ingat ini akan dapat menurun dengan bertambahnya usia manusia.com .65 0.2 10 3. Hal ini dapatdilatih dengan menyebutkan informasi yang akan diserap dengan berulang-ulang. dapat disimpulkan bahwa manusia hanya dapat menerima tidak lebih dari 2-3 data per detik.6 7 2. hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Singleton (1971) yang mengatakan bahwa nilai batas atas dari jumlah bit informasi yang dapat diterima manusia adalah antara 2 dan 4 data. 1986) memberikan hasil berupa hubungan pengaruh jumlah bit suatu display dengan waktu respon sebagai berikut: Jumlah Alternatif Jumlah bit (log2N) Waktu respon (s) 1 0 2 1 3 1. Hal inilah yang melatarbelakangi prinsip perancangan sistem antara manusia dengan fasilitas kerja. ‘13 3 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. sehingga jika ada satu data yang masuk ke saluran tersebut.3 0. Beberapa eksperimen yang dilakukan oleh damon et al (Grandjean.6 0.45 0.2 0.6 0.

Kelelahan mempengaruhi kapasitas fisik. dimana dapat mengakibatkan kurangnya kewaspadaan. pengulangan tugas dengan jangka waktu lama. Rebecca. sedangkan menurunnya rasa lelah ( recovery) adalah didapatkan dengan memberikan istirahat yang cukup. Dan berdasarkan penelitian ilmuwan lainnya sedikitnya ada 4 hal yang mempengaruhi vigilance. 1996:246).et. et al. ergonomi memberikan manfaat untuk       merupakan ilmu multidisiplin yang Memperbaiki kesehatan dan keselamatan pekerja Meninggikan semangat secara menyeluruh di tempat kerja Memperbaiki kualitas Memperbaiki persaingan Menurunkan tingkat absen dan penggantian pegawai Meminimalisasikan masalah kesehatan dan kecelakaan kerja. ‘13 4 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. mental. (2000) menurunnya performasi kerja karena vigilance task disebabkan karena menurunnya sumber pemrosesan informasi dan bukan karena melemahkan kekuatan atau tenaga. Karakteristik kelelahan kerja akan meningkat dengan semakin lamanya suatu pekerjaan. yang ditandai dengan kemunduran reaksi pada sesuatu dan berkurangnya kemampuan motorik. Dengan demikian. Menurut Mattews. dan tingkat emosional seseorang. 2003 dalam Noni Pratiwi 2006 ).  Kelelahan Kerja Menurut Kroemer (1997). yaitu: menurunnya kemampuan information processing. kontrol indivudu dan beban kerja yang berlebihan (Grier.com .al. Kewaspadaan (Vigilance) Vigilance merupakan proses kesigapan yang dilengkapi dengan berbagai macam informasi dan adanya respon cepat untuk mengatasi masalah yang terjadi (Nurmianto. Kelelahan kerja merupakan gejala yang ditandai adanya perasaan lelah dan kita akan merasa segan dan aktifitas akan melemah serta ketidakseimbangan pada kondisi tubuh.

Bahkan NSC menyatakan dalam 10 menit terdapat 2 orang yang meninggal dan sekitar lebih dari 170 orang yang berpotensi mengalami cidera.6 memperlihatkan kerugian kecelakaan berdasarkan jenis kecelakaan. WORKPLACE ACCIDENTS Banyak sekali kecelakaan yang terjadi dari tahun ke tahun.800. asuransi. Motor vehicle accidents Workplace accidents Home accidents Public accidents $ 72 $ 48 $ 18 $ 12 Gambar 2. kerugian terkait kebakaran. kecelakaan ditempat kerja menyebabkan lebih dari 10. Biaya ini termasuk biaya-biaya seperti biaya kehilangan pegawai. Ratarata angka kecelakaan setiap tahunnya adalah 11 kecelakaan yang mengakibatkan kematian dan sekitar 10300 cidera tiap jamnya (National Safety Council).7 Biaya kecelakaan berdasarkan kategori (dalam miliar per tahun) ‘13 5 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail.000 kematian yang terjadi tiap tahun di amerika serikat.7 memperlihatkan kerugian berdasarkan kategori biaya.000. kerusakan property kendaraan dan biaya-biaya tidak langsung.6 Biaya kecelakaan berdasarkan tipe kecelakaan (dalam miliar per tahun) Wages lost Medical expenses Insurance administration Property damage Fire losses Indirect losses for work accidents $ 37 $ 24 $ 29 $ 27 $ 10 $23 Gambar 2. Hal ini diperkirakan akan menghabiskan biaya dari kecelakaan tersebut sekitar $ 2. Gambar 2.000. Dilihat dari sisi ekonomi.000. Hal ini dilatarbelakangi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Hal ini tentu saja menjadi pusat perhatian peneliti untuk menciptakan metode atau cara-cara untuk mengantisipasi dan menekan tingkat kecelakaan yang terjadi terlebih di dunia industry dan perusahaan.2. biaya kesehatan.000.com . Disisi lain. Dan gambar 2. di AS mengeluarkan biaya sekitar $150.2.

3. Gambar 2. 8. 7. 2. Pertambangan/pengeboran Pertanian Konstruksi Transportasi Pemerintahan Manufaktur Servis/ Pelayanan Perdagangan ‘13 6 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail.500 1.com . struk. dll.100 900 Berdasarkan data statistik NSC.300 16.000 2.700 1.500 16. Peringkat kematian terbesar dalam industri dengan angka kematian 100.000 pekerja tiap tahunnya dari angka tertinggi hingga terendah terjadi pada : 1. 4. jantung. Hal ini dapat dilihat dari besarnya sumbangan angka kecelakaan yang terjadi bila dibandingkan dengan penyakit-penyakit mematikan seperti kanker.Masalah keselamatan menjadi topic yang menarik untuk dibahas dan sebagai kajian dari penelitian-penelitian. Hal ini didukung oleh keterbatasan kemampuan pekerja dari segi fisik maupun mental. 6. 31 % dari semua kecelakaan kerja disebabkan oleh pekerjaan yang terlalu berat. 5. liquid) Drowning Falls Fire related 27.500 20.8 Kecelakaan versus penyebab kematian lainnya (usia 25-44) Accidents Cancer Motor Vehicle Heart disease Poison (Solid.

dan kekhawatiran) dan faktor situasi (tingkat resiko. namun ia tidak dapat melakukan sesuatu secara benar. Selain itu. stress dan kondisi fisik. bila seorang melepaskan pengaman mesin (dalam industri) dan melepas perlengkapannya guna meningkatkan output tanpa memperhatikan keamanan dan menyalahi aturan prosedur. Sedangkan beban merupakan suatu tugas yang menjadi tanggung jawab seseorang dan ditambah dengan faktor lingkungan. yaitu :  Overload (Beban Berlebih) Merupakan ketidakseimbangan antara kapasitas manusia dan beban yang dijalankan pada suatu keadaan dan waktu tertentu. hal ini akan menimbulkan kebingungan. faktor internal (masalah pribadi. Terdapat tiga faktor terbesar yang mendominasi human error. kecelakaan dapat terjadi seperti pada gambar 2. tidak jelasnya instruksi. Apabila individu mendefinisikan dengan persepsi yang salah dalam hal resiko.Teori human factor sebagai penyebab sebuah kecelakaan merupakan rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh kesalahan manusia. menurut teori kecelakaan oleh Petersen. emosi stress. Inappropriate Response Seseorang telah mendeteksi sinyal bahaya. Kemampuan manusia merupakansebuah output dari beberapa faktor seperti kemampuan alami.com . fikiran. kelelahan. sehingga tindakan yang ia lakukan merupakan respon yang tidak tepat. Hal ini sangat berbahaya bagi pekerja. maka ia akan mengerjakan tugasnya dengan persepsi yang salah. hal ini juga termasuk sebagai inappropriate response yang dapat menimbulkan kecelakaan. hasil training.   Kecelakaan yang berasal dari human error dapat terjadi karena beberapa faktor. hal ini dapat membahayakan pelaku. seperti halnya seseorang yang diberikan tugas tertentu dan tidak tahu bagaimana melakukannya.9: ‘13 7 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. dll). Inappropriate Activities Human error juga dapat ditimbulkan dari aktifitas yang tidak tepat.

Persepsi seseorang terhadap ancaman inilah yang disebut dengan external stimuli. Sedangkan stress adalah tanggapan dari tubuh manusia dalam menanggapi stimuli tersebut. ‘13 8 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail.3. WORKPLACE STRESS Emosi manusia di tempat kerja dipengaruhi oleh keadaan social.9 Accident Theory 2. Ini yang menyebabkan stress pada manusia berbeda-beda. tergantung pada persepsi mereka terhadap stimuli tersebut. lingkungan.Petersen’s Accident Theory Overload Ergonomic Traps  Incompatible Workstation (size force. pekerjaan. dan faktor psikologi yang dipersepsikan sebagai sebuah ancaman. feel) Incompatible Expectation   Decission to err Misjudgment of the risk Unconscious desire to err Logical decision based on the situation       Pressure Fatigue Motivation Drugs Alcohol Worry   Human Error System Failure Accident       Policy Responsibility Training Inspection Correction Standards Injury/damage Gambar 2. reach.com .

Stress dianggap sebagai penilaian yang subjektif.Namun demikian. Stress akibat tempat kerja didominasi oleh masalah penyesuaian manusia dengan beban kerja. bingung dan gelisah. Tagihan medis yang berkaitan dengan stress dan biaya kerugian absennya seorang pegawai melebihi $150 miliar tiap tahunnya. Namun sebaliknya. stress merupakan permasalah yang serius dalam dunia kerja di masa modern ini. Control of employees Pekerja yang dapat mengontrol kerjaannya dan tanggung jawabnya dengan maksimal akan terlihat jauh lebih baik. lelah. hal inilah yang mengakibatkan perasaan marah. sehingga dapat disimpulkan bahwa ada beberapa penyebab dari stress ini. Pekerjaan yang berulang atau monoton may lack complexity dan kemudian menjadikan pekerja menjadi bosan dan tidak puas dengan pekerjaannya dan sebagian dari pengalaman mengenai stress berkaitan dengan kejenuhan dalam bekerja. jika pekerja mempunyai tanggung jawab yang tidak dapat dikontrol dan tidak dapat diselesaikan dengan baik maka ini akan menimbulkan stress. Dan sekitar 15% mengklaim stress sebagai penyakit/ gangguan dalam pekerjaan. Stress di tempat kerja merupakan kondisi emosional yang dihasilkan dari persepsi manusia terhadap beban kerja yang diberikan dan kemampuan manusia itu sendiri. ‘13 9 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. disisi lain faktor lingkungan juga memberikan sumbangan terhadap peningkatan stress di tempat kerja.com  . Status penyesuaian manusia dengan beban kerja mempengaruhi pencapaian kerja dan tingkat pencapaian performa pekerjaan itu sendiri. Hubungan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan pekerja dalam menyeimbangkan keduanya menyebabkan stress di tempat kerja.   Sumber Stres Kerja Task Complexity : suatu pekerjaan yang diberikan kepada pekerja dengan tingkat kompleksitas yang tinggi memungkinkan mempengaruhi perasaan inadequacy yang kemudian menghasilkan emosional stress. dan diselesaikan dengan benar akan mengurangi tingkat stress pekerja. Karena stress di tempat kerja mungkin dapat dirasakan berbeda oleh orang dalam kondisi yang sama. Suatu pekerjaan yang disusun dengan baik. Persepsi mengenai beban kerja mungkin diakibatkan oleh kebutuhan pekerja dan tingkat kepuasannya.

A feeling of responsibility Job security An organizational culture Work schedules Home and family problem Work relationships Human resources management Workload demands Psychological support The lack of environmental safety KELELAHAN Kelelahan merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya human error yang mengakibatkan kecelakaan. Beban kerja yang berlebih akan menimbulkan kelelahan baik secara fisik ataupun mental. ‘13 10 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Kelelahan merupakan hasil akumulasi dari metabolism tubuh dan dtambah dengan mekanisme kontraksi otot (masIsaac. mengantuk saat mengemud.  Definisi Kelelahan Kelelahan adalah perpaduan dari wujud penurunan fungsi mental dan fisik yang menyebabkan berkurangnya semangat kerja sehingga mengakibatkan efektifitas dan efisiensi kerja menurun (Saito. Menurut Kroemer (1997). kesehatan dan keselamatan serta membutuhkan istirahat atau tidur untuk pemulihannya. penurunan pertimbangan atau pemikiran. 2006). penurunan daya ingat dan perubahan suasana/ mood (National Transport Commission. Institute of Biomedical Engineering University of New Brunswick). mental dan tingkat emosional seseorang. efek yang ditimbulkan dari kekelahan antara lain kehilangan kewaspadaan. 1999). tertidur saat berkendara.com . Kelelahan mempengaruhi kapasitas fisik.          2. 2006).4. kelelahan kerja merupakan gejala yang ditandai adanya perasaan lelah dan individu akan merasa segan dan aktifitas akan melemah serta ketidakseimbangan pada kondisi tubuh. Kelelahan adalah keadaan yang semakin lelah yang mempengaruhi performa pekerja. dimana dapat mengakibatkan kurangnya kemampuan motorik (Australian safety and Compensation Council.

individu akan lebih cepat merespon stimulus yang diberikan dibandingkan dengan individu yang mengalami kelelahan.com . ‘13 11 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail.Kelelahan dalam penelitian ini diartikan sebagai penurunan kecepatan reaksi pekerja terhadap stimulus yang diberikan yang diukur dengan menggunakan psychomotor vigilance task (PVT). Sistem penghambat terdapat dalam thalamus yang bekerja menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan mengakibatkan kecenderungan untuk tidur.  Sistem Penggerak Kelelahan Kelelahan diatur secara terpusat diotak. perasaan subjektif.1 Sistem penggerak dan penghambat kelelahan Keadaan dan perasaan lelah merupakan reaksi fungsional dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri yang dipengaruhi oleh sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi) yang saling bergantian. sedangkan sistem penggerak terdapat formation retikularis yang dapat merangsang pusat-pusat vegetative untuk konversi ergotropis dari peralatan dalam tubuh untuk bekerja. Gambar 2. Cortex celebri berfungsi sebagai pusat kesadaran yang meliputi persepsi. melarikan diri dan lainnya. 1992). refleks dan kemauan (Rodahl. berkelahi. Terdapat struktur susunan syaraf pusat yang berperan penting dalam mengontrol fungsi secara luas dan konsisten yang disebut dengan reticular formation atau sistem penggerak pada medulla yang berfungsi meningkatkan dan mengurangi sensitivitas dari cortex cerebri. Pada keaadan yang sehat.

4. tetapi pekerjaa yang dilakukan masih terasa ringan. ‘13 12 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Stadium Kelelahan Rodahl. 2. 1992 mengelompokkan performa manusia dalam melakukan aktifitasnya yang kontinyu dalam 3 stadium :  Stadium 1 Terdapat permulaan aktifitas. Keadaan antara C dan D dinamakan “Full Compensation”. Pada kondisi ini. Kondisi ini disebut “warmed up”. 1979). seseorang akan merasa bahwa ia dapat melakukan aktifitasnya dalam waktu yang lama tetapi suatu saat ia akan sadar bahwa tenaganya terbatas dan merasakan pekerjaan yang dijalaninya sangat berat (titik C). Sebaliknya manakala sistem aktivitas lebih kuat seseorang dalam keadaaan segar untuk bekerja. Demikian juga kerja yang monoton bisa menimbulkan kelelahan walaupun beban kerjanya tidak seberapa.  Stadium 2 Performanya mencapai ketinggian yang optimal dan stabil dalam jangka waktu yang cukup lama.Sistem penghambat dan penggerak kelelahan membuat keadaan seseorang pada suatu saat sangat tergantung kepada hasil kerja diantara dua sistem antagonis tersebut (Suma’mur. seseorang sulit untuk berkonsentrasi. Inilah salah satu alasan yang kuat mengapa suatu pekerjaan yang monoton dapat menghasilkan kelelahan pada pekerja meskipun beban kerja tidak besar. Misalnya peristiwa seseorang dalam keadaan lelah. tiba-tiba kelelahan hilang oleh karena terjadi peristiwa yang tidak diduga sebelumnya atau terjadi tegangan emosi. Apabila sistem penghambat lebih kuat seseorang dalam keadaan lelah.1. Dalam keadaan ini. sistem penggerak tiba-tiba terangsang dan dapat mengatasi sistem penghambat. Pada kondisi ini. 1996). performa dengan cepat meningkat (kekuatan kerja meningkat). Hal ini merupakan tanda bahwa ia mulai mengalami kelelahan namun performanya belum menurun dan baru mulai menurun pada beberapa saat kemudian (titik D). dimana seseorang sudah mulai mengalami kelelahan namun performa kerjanya belum menurun. Hal ini disebabkan karena sistem penghambat lebih kuat dari pada sistem penggerak (Satalaksana.com . Konsep ini dapat dipakai dalam menjelaskan peristiwaperistiwa sebelumnya yang tidak jelas.

com . ‘13 13 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Stadium 3 Pada aktivitas selanjutnya. apabila keaadaan memaksa maksimum hanya boleh dilakukan sampai dengan titik D. pemulihan adalah aliran air yang mengalir keluar dari wadah yang dapat mengurangi tingkat kelelahan (Kroemer. titik C dimana fatigue mulai timbul yang menjadi perhatian.4. Sementara itu. Optimal Performa Performa Garis Fatigue Waktu (t) A B C D E F Gambar 2. Penyebab Kelelahan Saito (1999). dan untuk kegiatan selanjutnya akan sangat berbahaya sehingga dianjurkan untuk beristirahat.2 Ilustrasi Stadium Kelelahan 2. 1997). Kelelahan dianalogikan seperti air dalam sebuah wadah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai air tambahan dalam wadah. jika suatu efek hebat negative hadir. Namun sebaliknya. Tetapi efek hebat positif dapat menaikkan performanya secara tiba-tiba. kelelahan akan terus bertambah seiring dengan penurunan performa kerja.2. Aktifitas hanya diperbolehkan sampai titik ini saja. mengatakan bahwa kelelahan disebabkan oleh beban kerja yang berlebih dan ketidak teraturan dari hubungan siang dan malam dalam hidup. maka performansinya akan menurun drastic (titik F) Dari 3 stadium ini. bahkan bisa lebih tinggi dari keadaan optimalnya (titik E).

Siklus ini mengatur pola tidur. Pada malam hari. cuaca Penyakit Ritme Circadian Nutrisi Tingkat Kelelahan Pemulihan Gambar 2.com .Intensitas dan Durasi kerja fisik dan mental Masalah Fisik Lingkungan : Pencahayaan. suhu tubuh. inilah yang disebut siklus circadian. ‘13 14 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. sistem pencernaan tubuh akan menurun karena tidak adanya konsumsi makanan dan produksi hormone meningkat untuk memulihkan tubuh dari kondisi selama menjalani siang hari. menurut National transport Commission (2006) penyebab kelelahan terbagi menjadi 4 faktor : 1. tingkat level.3 Analogi penyebab kelelahan Namun. Suhu tubuh akan menurun pada malam hari agar tertidur dan naik pada siang hari untuk membantu proses pembakaran dan perasaan sadar. Siklus circadian mengatur seseorang untuk tidur dimalam hari dan terbangun sadar pada siang hari. Faktor Siklus Circadian Tubuh memiliki siklus alami yang akan terus berulang selama 24 jam. Siklus ini memberikan signal yang disebut dengan jet lag. pencernaan dan berbagai fungsi tubuh lainnya dan membantu melindungi organ-organ tubuh.

Faktor Tidur Kebutuhan jumlah waktu tidur yang cukup memang berbeda untuk setiap orang. merokok. Menurut lowentgal. 3. siklus circadian juga mengontrol sebagian kegiatan bersadarkan cahaya terang dan gelap. obat-obatan. Faktor Kesehatan Faktor kesehatan berpengaruh terhadap kelelahan dan stress seseorang. Rata-rata waktu tidur sehari yaitu antara 6-8 jam pada orang dewasa pada umumnya.Selain itu. (2006.com . penyakit obesitas yang mengakibatkan gangguan tidur dan gangguan pernafasan. sampai pekerjaan yang monoton dan repetitive dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kelelahan. Faktor Pekerjaan Jam kerja yang panjang. waktu pengaturan yang tidak fleksibel. sseseorang akan lebih sadar. 4. Hal ini sangat membahayakan dirinya dan kesehatannya. Pada cahaya pagi. jenis pekerjaan yang berat seperti pemindahan muatan. Untuk itu perlu dijaga pola hidup sehat dengan makanan bergizi dan olahraga rutin agar kondisi tubuh fit saat bekerja. Jika waktu tidur kurang dari 6-8 jam sehari. setelah makan siang tingkat kesadaran menurun. perjalanan yang mengharuskan ontime. distribusi. kafein. Misalnya saja pengemudi dengan jadwal yang tidak menentu akan cenderung untuk mengantuk dan tertidur karena kebutuhan tidurnya yang kurang. maka akan mengalami kekurangan tidur yang berkelanjutan jika tidak memiliki waktu tidur yang cukup. diabetes yang tidak terkontrol. dalam Nova 2009) penyebab kelelahan terdiri dari 4 komponen yang saling mempengaruhi: ‘13 15 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Seperti halnya pengkonsumsian alkohol. Dan pada setengah tengah malam. 2. mendengkur. suhu tubuh dan kesadaran akan menurun sampai pada tingkat terendah. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap sikap dan performansi kerja seseorang. pada petang kesadaran kembali naik dan malam hari kesadaran semakin berkurang karena mempersiapkan waktu tidur.

3. Organisasi kerja: jadwal kerja. setiap proses yang berbasis mental dengan beban berlebih dalam diri seseorang dapat menyebabkan seseorang menderita kelelahan mental.com . ‘13 16 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. suplai darah dan aliran darah yang lancar sangat penting. Kelelahan ini terjadi akibat adanya penumpukkan produk sisa dari kontraksi otot yang berupa asam laktat.  Kelelahan Mental Kelelahan mental (mental fatigue) dapat disebabkan oleh usaha mental dan attention yang berulang pada suatu tugas tertentu serta tingginya tingkat stress (emosi). Hal ini dikarenakan akibat beban kerja yang memerlukan aktifitas-aktifitas fisik.  Kelelahan Fisik Kelelahan fisik sering didefinisikan sebagai lelah otot. 1992). Gangguan pada aliran darah mengakibatkan kelelahan otot yang berakibat otot tidak dapat terkontraksi. Biologis tubuh yang dipengaruhi oleh faktor tidur. sehingga kontraksi maksimal hanya akan berlangsung beberapa detik. 1992). Lingkungan keluarga dan social antara lain keluarga dan teman. kesehatan dan usia. meskipun rangsangan syaraf motorik masih berjalan (Rodahl. 2. siklus circadian.1.4. 2. Pada dasarnya. 4. Akumulasi asam laktat menghambat gerakan otot dan membatasi kelangsungan aktifitas otot. Kontraksi otot yang kuat menghasilkan tekanan di dalam otot yang dapat menghentikan aliran darah. Oleh karena itu. perubahan dan pandangan hidup. Tuntutan pekerjaan yang terdiri dari beban kerja. kelelahan dibagi menjadi dua yaitu kelelahan fisik dan kelelahan mental. durasi shift dan jenis pekerjaan. Inilah yang menyebabkan manusia menjadi lebih lambat bahkan harus berhenti. Klasifikasi Kelelahan Berdasarkan penyebabnya. perkiraan waktu kerja dan sistem penggajian 3. karena menentukan kemampuan proses metabolism dan memungkinkan kontraksi otot tetap berjalan (Rodahl.

1. 2004). Sedangkan untuk memperkirakan jumlah metabolisme anaerobik yang terlibat dalam pekerjaan. Pengukuran Kelelahan Kelelahan fisik berkaitan dengan kerja fisik yang dilakukan oleh seseorang.2. nilai dari metabolisme aerobik atau pengeluaran energi kerja dapat ditentukan dengan mengalikan tingkat konsumsi oksigen (liter/menit) dengan 4. sering melakukan kesalahan dan kejanggalan dalam mengambil keputusan.8 (kkal/liter) (Wickens et al. 2.8 kkal energi dilepaskan. harus dilakukan pengukuran tambahan berupa jumlah oksigen yang dikonsumsi selama periode pemulihan istirahat. ‘13 17 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. pengukuran tingkat konsumsi oksigen dan denyut nadi sering digunakan untuk mengkuantifikasi beban kerja fisik. Hasil dari beberapa penelitian fisiologi kerja menunjukkan bahwa pengeluaran energi ketika melakukan pekerjaan memiliki hubungan linear dengan jumlah konsumsi oksigen dan denyut nadi (Wickens et al.Sebagian besar manusia mulai memperlihatkan tanda-tanda kelelahannya saat beberapa jam saat bekerja. Wickens et al. Hal ini mengakibatkan manusia merasa bahwa tugasnya semakin sulit. juga menjelaskan metode pengukuran beban kerja fisik secara subjektif yang digunakan bersamaan dengan pengukuran konsumsi oksigen atau denyut nadi agar diperoleh analisis beban kerja yang lebih komprehensif. Terdapat hubungan linier antara konsumsi oksigen dan pengeluaran energi. mereka sulit untuk mengingat. Konsumsi Oksigen Metabolisme aerobik adalah sumber energi bagi kerja otot yang berkelanjutan ketika tubuh dalam keadaan stabil. Oleh karena itu. 2004).. rata-rata sekitar 4. Dengan demikian.com . konsentrasi menurun dan mereka mulai melakukan kesalahan-kesalahan..6. Hal ini juga dapat terjadi saat seseorang menghabiskan malamnya dengan bekerja (lembur) atau belajar. Wickens et al. (2004) juga menekankan bahwa pengukuran jumlah oksigen yang dikonsumsi selama bekerja hanya dapat membantu menentukan jumlah metabolisme aerobik yang terlibat. Aktifitas seperti ini dapat menyebabkan seseorang lelah mental. Untuk setiap liter oksigen yang dikonsumsi.

Denyut nadi akan meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan beban kerja dan energi. Salah satu keadaan ini dapat menyebabkan denyut nadi menjadi sangat tinggi tanpa peningkatan sama yang signifikan dalam konsumsi oksigen. Subjective Rating of Perceived Exertion Skala penilaian subyektif untuk mengukur beban kerja fisik telah dikembangkan sehingga sederhana dan mudah untuk digunakan. yang disebut RPE (rating of perceived exertion). 2004). pengukuran dengan denyut nadi tidak dapat diandalkan seperti pengukuran dengan konsumsi oksigen. karena semakin meningkatnya pula permintaan untuk sistem kardiovaskular mengangkut lebih banyak oksigen ke otot kerja. denyut nadi berhubungan linier dengan konsumsi oksigen (Astrand & Rodahl. 1986). bekerja dengan postur statis dan kaku.2. hubungan antara denyut nadi dan konsumsi oksigen bervariasi antara individu. maka metode ini lebih sering diaplikasikan dalam pengukuran tidak langsung pengeluaran energi. Denyut Nadi Jumlah denyut nadi per menit merupakan ukuran fisiologis lain yang dapat digunkaan untuk mengukur beban kerja fisik. Borg mengajukan skala kategori dengan rasio. ‘13 18 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. dan hubungan linier antara denyut jantung dan konsumsi oksigen dapat dirusak oleh faktor-faktor ini. atau bekerja di lingkungan yang panas. Individu yang berbeda dapat menghasilkan denyut nadi yang berbeda pula ketika mereka memiliki konsumsi oksigen dengan tingkat yang sama (Wickens et al. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena pengukuran denyut nadi lebih mudah dilakukan daripada konsumsi oksigen. yaitu CR-10 (Category Ratio). Borg membuat skala kategori untuk menilai pembebanan yang dirasakan oleh pekerja ketika melakukan usaha fisik.com . Dalam mengukur pengeluaran energi oleh tubuh. komsumsi kopi atau teh. termasuk stres emosional. Kemudian pada tahun 1980. Lebih jauh lagi.. 3. Bererapa penelitian telah berhasil membuktikan bahwa untuk pekerjaan moderat. Pada tahun 1970.

skala Borg. perubahan sinyal kulit. tingkatan hormone. sinyal otak.2.com . dan diameter pupil. yaitu metode subjektif dan metode objektif. kedipan mata. 2010). antara lain dengan pengukuran denyut jantung. ‘13 19 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Kelelahan Mental Pengukuran kelelahan mental juga dapat dilakukan dengan dua metode. sinyal otot. konsumsi oksigen.1. dan workload profile.6. Pengukuran secara subjektif dapat dilakukan dengan menggunakan NASA-TLX. SWAT (Subjective Workload Assessment Technique). Pengukuran secara objektif dilakukan dengan mengukur fisiologis individu.1 Skala Borg CR-10 2.Tabel 2.4 menjelaskan alat ukur apa saja yang dapat digunakan untuk menilai beban mental atau stres yang dialami seseorang (Herlambang. Hasil pengukuran secara subjektif akan tergantung pada faktor individu. Bagan 2.

Skala VAS ‘13 20 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. misalnya Visual Analogue Scale (VAS) yang merupakan alat ukur subjektif yang memperlihatkan perubahan skala pain atau fatigue.Gambar 2.com . skala dimulai dari 0 sampai dengan 100. VISUAL ANALOGUE SCALE 0 Sangat Tidak Lelah 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sangat Lelah Gambar 2. Dimana. metode pengukuran beban mental masih banyak lagi. responden diminta untu memberikan nilai tentang persepsi mengenai pain atau fatigue mereka pada garis horizontal dengan panjang 100 mm. Dalam pengambilan data menggunakan VAS.al. 1999). Metode Pengukuran Beban Mental/Stress Selain itu. 0 adalah no pain (tidak lelah) (Mylesh et.

Istilah attention disini menggambarkan tiga hal : (1) pemrosesan kognitif yang terlibat seperti dalam hal mengorientasikan dan memilih antara beberapa item (benda) yang spesifik atau merespon perubahan sesuatu yang mempunyai kemungkinan yang kecil (jarang).al. 2003 dalam Noni Pratiwi 2006 ).al. Washburn. 2000. kegiatan yang monoton. Vigilance merupakan suatu attention yang memberikan pengaruh terhadap task yang diberikan. (3) keadaan kewaspadaan (alertness) dan kesiapan (readiness) dalam memproses item tambahan (Matthews Davies. Alat uji ini telah digunakan untuk mengukur kelelahan dan melihat dampak dari beban kerja terhadap vigilance manusia. 1996:246). ‘13 21 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Rebecca.al. 2005.et. PVT juga digunakan untuk melihat pengaruh terhadap circadian rithme. 2004 dan 2006. Kraemer et.  VIGILANCE Definisi Vigilance Vigilance merupakan proses kesiapsiagaan yang dilengkapi dengan berbagai macam informasi dan adanya respon cepat untuk mengatasi masalah yang terjadi (Nurmianto. dan gangguan tidur (Loh et.Pengukuran objektif lainnya yang telah digunakan pada penelitian sebelumnya adalah Psychomotor Vigilance Task (PVT) untuk melihat penurunan vigilance yang signifikan terhadap penurunan kinerja manusia. Westerman. Dan berdasarkan penelitian ilmuwan lainnya sedikitnya ada 4 hal yang mempengaruhi vigilance. yaitu: menurunnya kemampuan information processing.com . Vigilance dapat diartikan juga sebagai kemampuan organ dalam mempertahankan focus perhatian (attention) dan kewaspadaan selama jangka waktu yang lama (Parasutaman dan Matthews. 2004. & Stammers 2000. Roach et. & Smith 2004). pengulangan tugas dengan jangka waktu lama. 2008). perilaku cognitive manusia. dalam hal ini adalah kinerja suatu individu. 2. Menurut Mattews. (2000) menurunnya performasi kerja karena vigilance task disebabkan karena menurunnya sumber pemrosesan informasi dan bukan karena melemahkan kekuatan atau tenaga. Taglialatela. Rice. Baulketal. Millosevic.al. 2009).al. Lamond et. dimana kondisi vigilance akan mengalami penurunan yang disebabkan oleh kantuk. et al. lelah. Selain itu.3. (2) upaya mental yang didedikasikan untuk pemprosesan hal ini. kontrol indivudu dan beban kerja yang berlebihan (Grier. 2007.

F.3. usia dan jenis kelamin (e.com 22 . Selain itu. 2007. Hal ini dilatarbelakangi dengan adanya peningkatan interaksi antara manusia (operator) dengan mesin (Parasuraman & Riley. inspeksi pengukuran anesthesia dalam operasi (Dally & Wilson. dalam Parasuraman et..al. Beberapa variable yang telah dipertimbangkan pada penelitian sebelumnya. Namun. 1990 dalam Parasuraman. vigilance juga merupakan komponen penting dalam hal efisiensi persiapan alat-alat medis seperti cytological screening.Tuntutan tugas dapat mempengaruhi kondisi vigilance individu. seperti proses pembelajaran dan tingkat kelelahan. selain itu ada pula perbedaan individu yang bersifat stabil. Norman Mackworth. Sejarah Vigilance Pakar neurologi terkemuka Hendry Head yang pertama kali menjelaskan studi mengenai vigilance pada pasien yang terkena braininjured pada tahun 1920an. 1997).al. 1993. Gill.al. Winger & Englund. ‘13 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Basner et al. Vigilance merupakan komponen penting dari kinerja manusia dalam lingkungan kerja yang dewasa ini sudah menggunakan sistem otomatisasi. seorang psikologis dari inggris pada perang dunia ke-2 membuat studi vigilance secara sistematis. 2008). pengontrolan dan inspeksi kualitas. 2008). Tulisannya yang berjudul “The breakdown of vigilance during prolonged visual search” pada tahun 1948 dipublikasikan.1996. Proctor & Van Zandt. maka dibutuhkan tingkat kesadaran dan kewaspadaan yang tinggi.. Studi mengenai vigilance telah berkembang sejak tahun 1940. Johnson & Merullo.g. 2. Hartley et. pola tidur. 2008). navigasi. mackworth meneliti kerja operator radar dan hasilnya menyatakan bahwa kemampuan kerja operator mengalami penurunan saat dituntut pada kewaspadaan dalam jangka waktu yang lama.1994. Akuransi pendeteksi signal mengalami penurunan sekitar 10%-15% setelah 30 menit dan kemudian menurun secara bertahap selama periode berlangsung (Parasuraman. electrocardiogram monitoring. 2008. seperti introvertion / extrovertion.1.al. Eysenck. Kegiatan-kegiatan seperti pemantauan kokpit. Semakin berat dan kompleks tugas tersebut. pengawasan lalu lintas udara. Dalam penelitiannya ini. inspeksi pertanian dan kegiatan militer (Dorrian et. kemudian pada tahu 1948 seorang neorologi yang focus pada human factor psychology. Satchell. 1993. Namun. perbedaan diri individu (berdasarkan kepribadian dan umur) telah diketahui dapat mempengaruhi kinerja pada tugas-tugas yang menuntut vigilance. McBride et. R. 2007. 1989. 1989 dalam Hubal 2009). baik faktor sementara dari individu. menyetir dalam jangka lama. 2000.

faktor yang dominan dalam penurunan vigilance disebabkan oleh kelelahan dan pekerjaan yang monoton. 2004). tekanan. Mackie. Namun. Stuss (1995) dan Robertson et. Penurunan vigilance berkaitan dengan kemampuan sumber pemrosesan informasi yang menurun karena mengalami stress berlebih.com 23 . Namun. Vigilance dapat mengalami penurunan jika beban atau task yang diberikan menjadi lebih berat dan kompleks.Banyaknya kecelakaan yang terjadi baik berupa kelelakaan kecil ataupun besar yang disebabkan karena kondisi vigilance yang buruk sehingga operator mengalami kegagalan dalam menjalankan tugasnya pada sistem semiotomatis inilah yang melatarbelakangi para peneliti mengkaji vigilance lebih lanjut. Peneliti lain seperti Temple (2000) dan Grier (2003) yang melihat pengurangan vigilance merupakan hasil dari penurunan kapasitas attention yang mengakibatkan seseorang tidak bisa mempertahankan usaha (effort) karena beban kerja mental yang diterimanya (Pattyn et. penelitian yang dilakukan oleh Warm dan Jerrison (1984) dengan menggunakan task yang lebih komplek ini tidak ditemukannya penurunan performansi. ‘13 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. Namun. Sebuah studi mengatakan bahwa ditemukannya penurunan vigilance pada menit ke 2035.al (1997) menyatakan bahwa penurunan vigilance merupakan konsekuensi dari hilangnya attention dari sistem pengawasan attention yang mengakibatkan seseorang menjadi tidak bergairah. tekanan perintah dan pekerjaan yang melebihi batas diurutkan sebagai dampak yang paling tinggi. 2004). Pengaruh Beban Kerja Terhadap Vigilance Pekerjaan-pekerjaan yang mengandung aspek repetitive dan monoton akan menekan aktifitas dalam sistem otak guna menjaga alertness individu agar individu tetap dalam keadaan sadar dan tetap awas terhadap pekerjaannya. Didapatkan adanya efek yang berpengaruh pada circadian rithme. 2. efek dari kebosanan. Dalam penelitiannya. Dari hasil pengurutan sumber stress ini. sehingga individu tersebut tidak memperhatikan (Nurmianto. karena vigilance dinilai memberikan peran penting dalam hal keselamatan dan keamanan kerja. Wylei & Smith (1985) meminta operator sonar mengurutkan sumber stress yang paling berperan dalam vigilance yang kemudian dibandingkan dengan literatur yang ada.3. vigilance bisa menurun pula saat pekerjaan itu terlalu mudah. kelelahan. hal ini disebabkan oleh beban kerja yang diberikan.2. kebisingan dan pencahayaan sebagai sumber stress menengah.al.

kemampuan untuk mengolah stimuli yang masuk akan semakin lambat. Gambar 2. kecepatan penanggapan stimuli hingga menghasilkan sebuah respon sampai menjalankan keputusan yang dipilih dipengaruhi oleh attention resources seseorang. tertidur. 1993 dalam Nurmianto. lelah. 2004).Penurunan vigilance juga disebut-sebut karena adanya penurunan kemampuan pada information processing individu. ‘13 24 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. 2004) Menurut Wicken.com . membuat kesalahan-kesalahan dan menurunnya vigilance dalam eksekusi keputusan (Knauth. Dalam sebuah kajian dibahas mengenai kemampuan processing yang pada faktanya sangat berpengaruh terhadap usia. Penurunan vigilance seseorang dapat dipengaruhi oleh penurunan kemampuan information processing. Model Proses Informasi Pada Manusia (Wickens et al.. konsentrasi menurun. Semakin tua usia seseorang. sehingga dapat mengakibatkan kelelahan kronis yang dapat berdampak buruk seperti mengantuk. Pengaturan shift kerja juga memberikan kontribusi terhadap kinerja seseorang. Seseorang yang mengalami pola tidur yang tidak teratur atau kurangnya waktu istirahat akibat pengaturan shift kerja ini dapat mengganggu circadian rhythm.

Dengan demikian. Psychomotor Vigilance Task Psychomotor Vigilance Task (PVT) adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur performansi kerja yang dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (jenis pekerjaan. sehingga sebagian peneliti menganggap bahwa data yang diambil dari pengukuran subjektif merupakan hasil dari persepsi manusia dan setiap manusia mempunyai persepsi yang berbedabeda. Pengukuran subjektif memiliki kekurangan. Seperti halnya Dahlgren et. 2. Namun di Indonesia. stress dan peningkatan hormone saliva-kortisol. namun sebagian besar bersifat subjektif. beban kerja berlebih) dan kondisi tubuh secara alami seperti halnya kantuk. Untuk itu.al (2009) yang mengkaji hubungan antara kantuk. Pengukuran baik secara subjektif ataupun objektif banyak dilakukan. Didomenico & Nurrbaum (2007) yang membahas mengenai efek dari beban kerja fisik dan mental berdasarkan penilaian subjektif. Hal ini dimaksud untuk lebih memudahkan dalam hal pengukuran dilapangan terhadap pekerja dengan jenis pekerjaan yang berat dan hanya mempunyai beberapa waktu luang saja untuk melakukan pengukuran. Banyak penelitian mengenai pengukuran beban kerja mental dan kelelahan mental. pengukuran objektif dirasa sangat perlu. lingkungan kerja yang tidak nyaman. Dorrian and Dowson (2011) meneliti tentang kecelakaan kereta api.4.com . ‘13 25 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. karena data yang diambil hanya berdasarkan persepsi seseorang. lelah. Adapun pengukuran mengenai beban mental dilakukan secara subjektif. Pengukuran performansi kerja dengan menggunakan metode objektif memerlukan alat ukur yang dapat diaplikasikan untuk mengukur pekerja dilapangan. dan perilaku dari circadian rithme yang dapat mempengaruhi kondisi vigilance seseorang dan berdampak pada penurunan performa manusia Penelitian mengenai kelelahan mental telah banyak dilakukan. kurang tidur. pengukuran beban kerja masih sangat terfokus pada beban kerja fisik. yang telah didesign mudah tanpa harus mempelajari 50-60 kali trial. Hal ini menunjukkan beban mental menjadi perhatian banyak peneliti. vigilance dapat digunakan untuk mengetahui dan mengukur tingkat kelelahan mental seseorang. untuk itu perlu dikembangkannya penelitian-penelitian mengenai pengukuran beban kerja mental yang bersifat objektif.

PVT akan memunculkan angka dengan selang waktu random (bisa lebih cepat atau lambat).al. responden diharuskan menekan tombol klik kanan mouse untuk merespon stimulus tersebut. Prosedur Pengukuran Pengukuran beban mental dengan menggunakan PVT telah dikaji lebih lanjut. Rosekind. Lamanya responden merespon itulah yang akan menjadi output dari hasil pengukuran kelelahan menggunakan PVT. Lamond (2005) melakukan pengukuran mental fatigue untuk menguji sensitifitas PVT terhadap dampak dari fatigue. 2003.4. 2004). Misalnya saja penelitian yang dilakukan oleh Dinges dan Powell (1989) tentang kantuk parsial. Ketika angka itu muncul. Van Dongen. apabila responden mengalami kelelahan atau beberapa sikap seperti kantuk atau stress.PVT menjadi alat yang cocok untuk digunakan untuk mengukur performansi pekerja dilapangan karena kemudahan menggunakannya dan mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain (Dinges & Powell. Mullington dan Dinges. 2. Maislin. Selama itu respondennya beraktifitas di dalam laboratorium dan setiap selang waktu 2 jam dilakukan pengukuran dengan menggunakan PVT yang diinstall di sebuah PDA. didapatkan data waktu reaksi dari masing-masing responden setiap 2 jam. ‘13 26 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. angka tersebut diasumsikan sebagai sebuah stimulus yang diberikan kepada responden. 2000). hal ini dimaksud untuk mengetahui hubungan antara waktu reaksi dengan akibat dari kelelahan.al. kantuk kronis (belenky et. 2003. Miller. 15 respondennya ditempatkan di laboratorium untuk tidur pada hari pertama dan pada hari kedua responden tersebut harus dalam keadaan sadar (terjaga) sepanjang hari selama 28 jam. Dinges et. Gregory. Co.1. Dalam durasi 10 menit. 1997. dalam Loh et. PVT yang sering digunakan dalam pengukuran adalah PVT dengan durasi 10 menit. Sehingga PVT menjadi suatu alat yang dapat dimanfaatkan karena dinilai baik dan mudah (Wilkinson & Houghton. Karena. PVT merupakan alat standar yang digunakan di laboratorium untuk mengukur performansi yang berkelanjutan dengan berbagai macam jenis eksperimen yang dilakukan. 1982). maka kecepatan respon pun akan menurun.al.com . & Dinges. 1985. Dari hasil pengukuran.

1/RT dan mean lapses (RT >500) saat awal. yaitu saat awal memulai pekerjaan. pertengaha akhir shift Dari hasil pengolahan dengan parameter mean RT. 1/RT.com . ‘13 27 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail. mean lapse didapatkan grafik sebagai berikut : Gambar 2. Mean RT.Namun pada pengukuran beban kerja dilapangan sangatlah berbeda dengan prosedur penelitian di laboratorium. Pengukuran ini dilakukan secara kontinyu hingga 14 hari mengikuti jadwal yang telah disetujui responden dalam pengambilan data. Baulk et. Pengambilan data dilakukan 3 kali. Gambar 2.al (2009) melakukan studi pengukuran kelelahan dilapangan terhadap 20 responden yang bekerja dengan pengaturan shift. Rata-rata Reaction Time saat awal. Dari grafik diatas dapat dilihat kecendrungan penurunan vigilance yang mencerminkan peningkatan kelelahan pada pekerja. pertengahan dan akhir shift. pertengahan jam kerja dan setelah menyelesaikan seluruh jam shift tersebut.

Ho adalah tidak adanya perbedaan antara sebelum dan sesudah kerja dan H1 adalah terdapat perbedaan antara data sebelum dan sesudah kerja. jila signifikansi lebih kecil dari  artinya H1 diterima yang berarti ada perbedaan antara sebelum dan sesudah memnyelesaikan task. begitu sebaliknya. data yang diambil adalah data sebelum dan sesudah pengerjaan task yang diukur dengan PVT 5 menit. Namun pada penelitian ini pengolahan data akan menggunakan parameter tambahan yaitu Range. Dengan adanya pengukuran ini dapat dilihat kondisi sebelum dan sesudah menyelesaikan task. Pada penelitian ini.2.4. % Lapses. Jika hasil signifikansinya lebih besar dari taraf nyata ( ) Ho diterima. Mean Lapses. Variansi dan Persentil. Pengolahan Data Data yang telah dikumpulkan biasanya diolah menggunakan parameter mean RT. 1/RT. ‘13 28 ERGONOMI-TEKNIK Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri-UMB 2010 Email: rudinimenteri@gmail.com . Dengan membuat hipotesa awal. 10 % Slowest. Namun karena data yang diambil kurang dari 30. Standar deviasi. pengolahan data menggunakan prosedur data nonparametric dengan menggunakan wilcoxon atau sign test dalam uji hipotesa.2. apakah ada perbedaan diantara kedua data tersebut. Pengujian ini menggunakan SPSS sebagai alat bantu pengolahan data statistic. Untuk menguji perbedaan antara sebelum dan sesudah task dapat menggunakan uji ANOVA.