Anda di halaman 1dari 16

KONSEP DASAR SISTEM PRODUKSI

Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri,Fakultas TeknikUniversitas Mercu Buana email: rudinimenteri@gmail.com 2011

Abstrak
Organisasi industri merupakan salah satu mata rantai dari sistem perekonomian, karena ia memproduksi dan mendistribusikan produk (barang dan/atau jasa). Produksi merupakan fungsi pokok dalam setiap organisasi, yang mencakup aktivitas yang bertanggung jawab untuk menciptakan nilai tambah produk yang merupakan output dari setiap organisasi industri itu. Produksi adalah bidang yang terus berkembang selaras dengan perkembangan teknologi, di mana produksi memiliki suatu jalinan hubungan timbal-balik (dua arah) yang sangat erat dengan teknologi. Produksi dan teknologi saling membutuhkan. Kebutuhan produksi untuk beroperasi dengan biaya yang lebih rendah, meningkatkan kualitas dan produktivitas, dan menciptakan produk baru telah menjadi kekuatan yang mendorong teknologi untuk melakukan berbagai terobosan dan penemuan baru. Produksi dalam sebuah organisasi pabrik merupakan inti yang paling dalam, spesifik serta berbeda dengan bidang fungsional lain seperti keuangan, personalia, dan lain-lain. Sistem produksi merupakan sistem integral yang mempunyai komponen struktural dan fungsional. Dalam sistem produksi modern terjadi suatu proses transformasi nilai tambah yang mengubah input menjadi output yang dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar. Produksi dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan untuk mengolah atau membuat bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi barang jadi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.Produksi dapat juga diartikan sebagai tindakan intensional untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Proses Produksi Proses produksi merupakan proses perubahan masukan menjadi keluaran. Macam barang yang dikerjakan di unit produksi banyak sekali sehingga macam proses yang ada juga banyak.

11

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Proses produksi merupakan cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu produk dengan mengoptimalkan sumberdaya produksi (tenaga kerja, mesin, bahan baku, dan dana) yang ada. Pada umumnya proses produksi dibagi menjadi dua yaitu: 1. Proses Produksi Continous Proses produksi yang tidak pernah berganti macam barang yang dikerjakan. Sejak pabrik berdiri selalu mengerjakan barang yang sama sehingga prosesnya tidak pernah terputus dengan mengerjakan barang lain. Setup atau persiapan fasilitas produksi dilakukan sekali pada saat pabrik mulai bekerja. Sesudah itu, proses produksi berjalan secara lancar. Biasanya urutan proses produksinya selalu sama sehingga letak mesin mesin serta fasilitas produksi yang lain disesuaikan dengan urutan proses produksinya agar produksi berjalan lancar dan efisien. 2. Proses Produksi Intermittent Proses produksi yang digunakan untuk pabrik yang mengerjakan barang bermacam macam, dengan jumlah setiap macam hanya sedikit. Macam barang selalu berganti ganti sehingga selalu dilakukan persiapan produksi dan penyetelan mesin kembali setiap macam barang yang dibuat berganti. Perubahan proses produksi setiap saat terputus apabila terjadi perubahan macam barang yang dikerjakan. Oleh karena itu, tidak mungkin mengurutkan letak mesin sesuai dengan urutan proses pembuatan barang. Perencanaan dan Pengendalian Produksi Kegiatan perencanaan dan pengendalian produksi dapat dikelompokkan menjadi tiga antara lain meliputi: Routing Routing merupakan kegiatan menentukan urut urutan dalam mengerjakan suatu pekerjaan,sejak dimulai sampai dengan barang itu jadi. Scheduling Scheduling merupakan pembuatan jadwal (shedule) untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Jadwal kegiatan dibuat sejak mulainya pekerjaan sampai dengan selesai. Penyusunan schedule biasanya didasarkan pada per-mintaan konsumen, kemampuan sarana dan prasarana dan kendala kendala yang lain. Biasanya untuk menjaga kelancaran proses produksi perlu dibuat Master Schedule. Master Schedule adalah daftar barang setiap macam barang pada waktu waktu tertentu.
11 KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI
Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Untuk memudahkan pelaksanaannya dan membacanya, biasanya schedule dinyatakan dalam bentuk tabel atau kadang kadang berbentuk Guant chart, yaitu bagan berupa balok untuk menunjukkan waktu kegiatan. Dispatching dan Follow up Dispatching merupakan pemberian wewenang untuk melaksanakan suatu kegiatan. Pelaksanaan dispatching dapat dilakukan dengan perintah lisan, perintah tertulis, atau dengan tanda yang berupa bunyi. Sedangkan Follow up merupakan suatu langkah perbaikan atas kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Kesalahan terjadi karena rencana tidak sesuai dengan pelaksanaan.

Sistem Produksi Menurut Tujuan Operasinya Sistem produksi menurut tujuan operasinya mendefinisikan bagaimana suatu perusahaan industri manufaktur akan memberikan tanggapan terhadap permintaan konsumen dan dapat diklasifikasikan dalam lima kategori sebagai berikut: a) Design to order Dalam strategi ini perusahaan tidak memiliki inventori dimana bila ada pesanan dari pelanggan, perusahaan baru akan mengembangkan desain untuk produk yang diminta. Selanjutnya bila pelanggan dan produsen telah mencapai kesepakatan mengenai desain produk barulah perusahaan akan memesan material yang dibutuhkan, melakukan proses produksi. Dalam strategi ini perusahaan tidak memiliki resiko yang berkaitan dengan investasi inventori.Strategi tersebut sangat cocok untuk produk-produk yang baru atau unik secara total. b) Make to order Perusahaan dengan strategi ini hanya mempunyai desain produk dan beberapa material standar dalam inventori, dari produk yang telah diproduksi sebelumnya. Perusahaan akan menyiapkanspesifikasi produk setelah menerima pesanan dari pelanggan. Perusahaan menawarkan harga dan waktu penyerahan kepada pelanggan, selanjutnya bila terjadi kesepakatan produksi akan dilakukan dengan menggunakan strategi ini, perusahaan mempunyai resiko yang sangat kecil berkaitan dengan investasi inventori fokus operasional dari strategi tersebut adalah pada pesanan spesifik dari pelanggan bukan dari parts.

11

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

c) Assembling to order Perusahaan dengan strategi ini akan memiliki inventori dalam bentuk subassembly atau modul. Pesanan dari pelanggan akan segera diproduksi dengan merakit modul-modul yang telah tersedia. Industri ini membutuhkan peramalan yang efektif dan penyimpanan modul dalam inventori dibandingkan peramalan untuk produk akhir. Strategi ini akan beresiko dengan investasi inventori d) Make to stock Perusahaan dengan strategi ini memiliki inentori yang besar pada produk akhir. Dalam strategi ini siklus waktu dimulai ketika produsen menspesifikasikan produknya, memperoleh bahan baku, dan memproduksi produk hingga akhir untuk disimpan sebagai stock. Pesanan pelangan akan segera diambil dari stock yang ada dan dapat segera dikirimkan. Perusahaan dengan strategi ini memiliki resiko tinggi berkaitan dengan investasi inventori yang besar. Pesanan pelanggan tidak dapat diramalkan dan diidentifikasikan secara akurat. Fokus operasional dari industri yang menggunakan strtegi ini terarah pada pengisian kembali inventori, dimana sistem produksi menetapkan tingkat inventori berdasarkan pada antisipasi pesanan yang akan datang dan bukan berdasarkan pesanan yang ada sekarang. e) Make to demand Dalam strategi ini, penyerahan secara tepat berdasarkan pelanggan.strategi ini memiliki fleksibilitas yang tinggi terhadap keinginan pelanggan dan penyerahan produk yang secepat strategi make to stock. Strategi ini dapat diterapkan pada produk-produk industri yang telah berada pada tahap menurun (declining stage) dari siklus hidup, karena produk-produk itu membutuhkan features dal pilihan-pilihan (options) yang lebih banyak disertai dengan harga yang lebih rendah serta waktu penyerahan lebih cepat agar dapat bertahan di pasar yang sangat kompetitif.

Sistem Produksi Menurut Aliran Operasi dan Variasi Produk Krieria dalam mengklasifikasi proses produksi adalah jenis aliran operasi dari unit-unit produk yang melalui tahapan konversi. Ada tiga operasi, yaitu Flow Shop, Job Shop, dan Proyek. Ketiga jenis dasar aliran operasi ini berkembang menjadi aliran modifikasi dari ketiganya, yaitu: Batch dan Continous.

11

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Adapun karakteristik dari masing-masing aliran operasi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Flow Shop, merupakan proses konversi dimana unit-unit output secara berturut-turut melalui urutan operasi yang sama pada mesin-mesin khusus yang ditempatkan pada sepanjang lintasan produksi. Proses jenis ini biasanya digunakan untuk produk yang mempunyai desain dasar yang tetap sepanjang waktu yang lama dan ditunjukan untuk pasar yang luas, sehingga diperlukan penyusunan bentuk proses produksi Flow Shop yang bersifat MTS (Make To Stock). Contoh sistem produksi Flow Shop adalah: pabrik rokok gudang garam, pabrik Semen padang, dan pabrik Aqua. 2. Job Shop, yaitu merupakan bentuk proses konversi dimana unit-unit yang dikelompokkan berdasarkan fungsinya. Contoh sistem produksi Job Shop antara lain adalah: pabrik TOYOTA, pabrik Sepatu Nike, dan Pabrik motor Honda. 3. Proyek, yaitu proses penciptaan satu jenis produk yang agak rumit dengan suatu pendifinisian urutan tugas-tugas yang teratur akan kebutuhan sumber daya dan dibatasi oleh waktu penyelesaian. Contoh sistem produksi Proyek anatara lain adalah : proyek penggalian PDAM dan proyek monorail PT Bukaka. 4. Batch, adalah bentuk maju dari Job Shop yang merupakan kombinasi dari Job Shop dan Flow Shop. Pada Batch, produk terstandarisasi, namun tidak terlalu standarisasi seperti produk yang dihasilkan pada aliran lintasan perakitan Flow Shop. Sistem Batch memproduksi banyaknya variasi produk dan volume, lama proses produksi untuk setiap produk agak pendek, dan suatu lintasan produksi dapat dipakai untuk beberapa tipe produk pergantian peralatan produksi, sehingga sustem tersebut harus general purpose . 5. Continuos, yaitu bentuk ekstrim dari Flow Shop dimana terjadi aliran material yang konstan. Contoh dari proses produksi Continuos adalah : industri penyulingan minyak, pemrosesan kimia, dan industri lainya yang tidak dapat mengidentifikasi unit-unit output urutan prosesnya secara tepat.
11 KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI
Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Pengertian Penjadwalan

Penjadwalan (scheduling) merupakan salah satu kegiatan penting dalam perusahaan. Penjadwalan adalah pengaturan waktu dari suatu kegiatan operasi, yang mencakup kegiatan mengalokasikan fasilitas,peralatan maupun tenaga kerja, dan menentukan urutan pelaksanaan bagi suatu kegiatan operasi. Dalam suatu perusahaan industri, penjadwalan diperlukan antara lain dalam mengalokasikan tenaga operator, mesin dan peralatan produksi, urutan proses, jenis produk persediaan, serta penggunaan yang efisien dan fasilitas, tenaga kerja, dan peralatan. Penjadwalan biasanya disusun dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan yang ada.

Masalah Penjadwalan
Masalah penjadwalan muncul karena adanya keterbatasan waktu, tenaga kerja, jumlah mesin, sifat dan syarat pekerjaan yang akan dilaksanakan. Secara umum ada dua permasalahan utama yang akan diselesaikan melalui penjadwalan, yaitu penentuan pengalokasian mesin yang akan digunakan untuk menyelesaikan suatu proses produksi dan pengurutan waktu pemakaian mesin tersebut. Masalah penjadwalan dapat ditinjau dari berbagai aspek diantaranya; a) Mesin (terbagi atas penjadwalan mesin tunggal, penjadwalan dua mesin, dan penjadwalan m mesin). b) Aliran proses (terbagi atas job shop dan flow shop). Aliran proses job shop memungkinkan pekerjaan melalui lintasan yang berbeda antar jenisnya. Sedangakan aliran flow shop sebaliknya. c) Pola kedatangan pekerjaan, secara statis maupun dinamis. Dimana jika semua pekerjaan datang secara bersamaan dan semua fasilitas tersedia pada saat kedatangan pekerjaan disebut pola kedatangan pekerjaan statis. Sedangkan jika pekerjaan datang secara acak selama masa penjadwalan disebut pola kedatangan pekerjaan dinamis. d) Elemen penjadwalan, mengenai ketidakpastian pada pekerjaan dan mesin.Terdiri dari elemen penjadwalan deterministik dan elemen penjadwalan stokastik. Jika elemen penjadwalannya deterministik, maka terdapat kapasitas tentang pekerjaan dan mesin, misalnya tentang waktu kedatangan, waktu set up dan waktu proses. Sebaliknya jika tidak terdapat kepastian mengenai pekerjaan dan mesin, maka disebut elemen penjadwalan stokastik.
11
6

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Fungsi dan Tujuan Penjadwalan

Keputusan mengenai penjadwalan merupakan kepentingan sekunder dalam keputusan manajemen secara umum. Secara umum keputusan dasar manajemen diidentifikasikan melalui beberapa pertanyaan berikut; 1. Produk atau jasa apakah yang ingin disajikan? 2. Pada skala berapakah produk atau jasa dimaksud disajikan? 3. Sumber daya apa yang digunakan untuk membuatnya? Ketiga pertanyaan di atas di tentukan jawabannya oleh fungsi planning dari manajemen. Kaitannya dengan penjadwalan bahwa penjadwalan akan menjadi relevan ketika ketersediaan sumber daya telah ditentukan. Jadi penjadwalan dan fungsi manejerial dalam hal ini planning tidak dapat dipisahkan. Ada interaksi dua arah antara fungsi planning dengan penjadwalan, dimana fungsi planning menentukan jumlah sumber daya yang harus digunakan untuk memproduksi barang/jasa dan penjadwalan akan mengevaluasi kebutuhan sumber daya yang yang digunakan untuk berproduksi. Sehingga fungsi planning dapat mengambil keputusan yang berhubungan dengan efisiensi dan efektifitas produksi. Mengidentifikasi beberapa tujuan dan aktivitas penjadwalan adalah sebagai berikut: Meningkatkan penggunaan sumberdaya atau mengurangi waktu tunggunya, sehingga total waktu proses dapat berkurang, dan produktivitas dapat meningkat. Mengurangi persediaan barang setengah jadi atau mengurangi sejumlah pekerjaan yang rnenunggu dalam antrian ketika sumber daya yang ada masih mengerjakan tugas yang lain. Teori Baker mengatakan, jika aliran kerja suatu jadwal konstan, maka antrian yang mengurangi rata-rata waktu alir akan mengurangi rata-rata persediaan barang setengah jadi. Mengurangi beberapa kelambatan pada pekerjaan yang mempunyai batas waktu penyelesaian sehingga akan meminimasi penalti cost (biaya kelambatan). Membantu pengambilan keputusan mengenai perencanaan kapasitas pabrik dan jenis kapasitas yang dibutuhkan sehingga penambahan biaya yang mahal dapat dihindarkan. Pada saat merencanakan suatu jadwal produksi, yang harus dipertirnbangkan adalah ketersediaan sumber daya yang dimiliki, baik berupa tenaga kerja, peralatan.
11
7

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Prosesor atau pun bahan baku. Karena sumber daya yang dimiliki dapat berubah-ubah (terutarna operator dan bahan baku), maka penjadwalan dapat kita lihat merupakan proses yang dinamis. Dalam menunjang MPS, akan ada beberapa sub penjadwalan yang harus ditentukan kapan dapat dimulainya suatu pekerjaan dan kapan dapat diselesaikan.

Kriteria Keberhasilan Dalam Aktivitas Penjadwalan


Ukuran keberhasilan dari suatu pelaksanaan aktivitas penjadwalan khususnya penjadwalan job shop adalah meminimasi kriteria-kriteria keberhasilan sebagai berikut: 1 Rata-rata waktu alir (mean flow time), akan mengurangi persediaan barang setengah jadi. 2 Makespan, yaitu total waktu proses yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu kumpulan job. Dimaksudkan untuk meraih utilisasi yang tinggi dari peralatan dan sumber daya dengan cara menyelesaikan seluruh job secepatnya. 3 Rata-rata kelambatan (mean tardiness). 4 Jumlah job yang terlambat, akan meminimasi nilai dari maksimum ukuran kelambatan. 5 Jumlah mesin yang menggur. 6 Jumlah persediaan.

Penjadwalan Berdasarkan Volume Produksi


a. Flow Shop yaitu adalah proses penentuan urutan pekerjaan yang memiliki lintasan produk yang sama. Pada pola flowshop, operasi dari suatu job hanya dapat bergerak satu arah, yaitu dari proses awal di mesin awal sampai proses akhir di mesin akhir dan jumlah tahapan proses umumnya sama dengan jumlah jenis mesin yang digunakan. Penjadwalan produksi merupakan aktivitas yang tak terpisahkan dengan aktivitas-aktivitas lain lantai produksi. Penjadwalan merupakan pengaturan jumlah dan tipe produksi yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. Selain itu, penjadwalan juga berhubungan dengan waktu peggunaan fasilitas dan bahan material untuk pelaksanaan produksi.

11

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Penjadwalan produksi makin bertambah penting untuk pabrik yang menggunakan sistem made-to-order, yakni sistem produksi yang menggunakan acuan bahwa produk/barang baru dibuat jika ada order masuk. Sistem ini biasanya untuk produk/barang yang sangat unik (highly customized), yang jika perusahaan menyimpannya dalam inventory, tidak ada yg mau membelinya. Salah satu model yg dapat diterapkan dalam keadaan made-toorder ini adalah model penjadwalan flow-shop. Dalam penjadwalan flowshop, ada sejumlah pekerjaan (job) yang tiap-tiap job memiliki urutan pekerjaan mesin yg sama. Terkadang, suatu penjadwalan bisa dimodelkan seabgai permasalahan penjadwalan flow shop apabila urutan pekerjaannya selaras. Urutan pekerjaan dikatakan selaras apabila urutan-urutan pekerjaan mesin tersebut dari satu job dengan job lainnya tidak ada yang memiliki urutan yang terbalik. Dalam problem ini, ada beberapa tujuan yang dapat dipertimbangkan, misalnya meminimumkan makespan (waktu terlama penyelesaian job-job tersebut), meminimumkan total waktu keterlambatan, dan lain sebagainya. Tujuan Perencanaan Flow Shop 1 Mengkombinasikan beberapa aktifitas dengan persyaratan membutuhkan , keahlian, peralatan atau material sama. 2 Memenuhi persyaratan operasi, misalnya memisahkan aktifitas produksi yang berdebu denagn aktitas yang membutuhkan lingkungan bersih. 3 Membatasi pekerjaan yang dapat dilakukan di setiap stasiun kerja.

a)

Proses Pada Flow Shop Karakteristik flow shop terlihat dari aliran yang satu arah. Proses pengerjaan pada mesin 2 didahului oleh pengerjaan proses sebelumnya yaitu pada mesin. Dalam hal ini, istilah mesin digunakan untuk menunjukkan tempat terjadinya pemrosesan job, misalnya mesin (mesin dalam arti yang sebenarnya), workstation, ataupun tempat pemrosesan job yang lain. Tipe Dalam Flow Shop Flow Shop memiliki 3 tipe yaitu: 1 Small-Batch Line Flow, mempunyai semua karakter flow shop, tetapi tidak semua memproses produk yang sama secara terus menerus. Memproses beberapa produk dengan ukuran batch kecil, dengan kebutuhan setup per batch. Digunakan ketika biaya proses bisa dipertimbangkan, permintaan part rendah, dan non-diskrit. Contohnya adalah farmasi.
11 KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI
Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

2 Large-Batch (Repetitive) Line Flow, memproduksi produk diskrit dalam volume besar tetapi tidak kontinu. 3 Continuous Line Flow merefer pada proses kontinu dari fluida, bedak, logam, dan lain-lain. Biasa digunakan pada industri gula, minyak, dan logam lainnya. Job Shop

Merupakan proses transformasi dimana produk dibuat atas dasar pesanan dalam jumlah tertentu. Setiap order dapat mempunyai urutan dari jumlah lot atau batch atau mesin yang berbeda. Dalam lantai produksi stasiun kerja dan departemen dikelompokkan berdasarkan fungsinya. Kerena setiap order dapat mempunyai urutan dari jumlah lot atau batch atau mesin yang berbeda, maka memungkinkan setiap stasiun kerja memproses beberapa item yang berbeda. Artinya bahwa pekerjaan diperbolehkan untuk diproses lebih dari satu kali pada mesin yang sama. Jika setiap mesin hanya dilalui satu kali, disebut aliran proses job shop murni dan sebaliknya disebut aliran proses job shop umum. Penjadwalan pada proses produksi tipe job shop lebih sulit dibandingkan penjadwalan flow shop. Hal ini disebabkan oleh 3 alasan: 1. Job shop menangani variasi produk yang sangat banyak, dengan pola aliran yang berbeda-beda melalui pusat-pusat kerja. 2. Peralatan pada job shop digunakan secara bersama-sama oleh bermacam-macam order dalam prosesnya, sedangkan peralatan padaflow shop digunakan khusus hanya untuk satu jenis produk. 3. Job-job yang berbeda mungkin ditentukan oleh prioritas yang berbeda pula. Hal ini mengakibatkan order tertentu yang dipilih harus diproses seketika pada saat order tersebut ditugaskan pada suatu pusat kerja. Sedangkan pada flow shop tidak teijadi permasalahan seperti diatas karena keseragaman output yang diproduksi untuk persediaan. Batch Shop Dalam kegiatan produksi, seringkali terdapat beberapa jenis produk dibuat dengan menggunakan fasilitas yang sama (umum). Misalnya, suatu perusahaan minuman memproduksi berbagai jenis minuman dengan menggunakan satu fasilitas yang sama secara bergantian, atau suatu pabrik sabun memproduksi berbagai jenis sabun pada unit produksi yang sama. Persoalan yang dihadapi ialah bagaimana melakukan penjadwalan produksi dan berbagai produk dengan menggunakan fasilitas yang dipakai secara bersama.

11

10

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Dalam situasi seperti ini, produk biasanya dibuat dalam suatu batch (tumpukan). Keputusan yang harus dilakukan adalah menentukan urutan pembuatan produk dan berapa besar kuantitas batch untuk setiap jenis produk. Kuantitas batch -yang secara ekivalen dapat disamakan dengan panjang waktu untuk suatu production run- dan frekuensi produksi mempengaruhi tingkat persediaan dan biaya set-up. Biaya set-up terjadi setiap waktu dilakukan pergantian untuk pembuatan suatu produk baru. Semakin lama production run semakin banyak penyimpanan dan semakin sedikit biaya setup. Sebaliknya, semakin pendek production run semakin sedikit biaya penyimpanan tetapi biaya set-up menjadi semakin besar. Kuantitas batch yang optimal dapat dihitung dengan menggunakan metode ukuran lot yang ekonomis (EOQ). Namun, apabila berbagai produk menggunakan fasilitas yang sama maka penggunaan EOQ dapat menjadi tidak optimal, ukuran lot perlu dimodifikasi karena urutan produk harus diperhitungkan. Pengurutan juga mempunyai efek terhadap biaya.

Hambatan-Hambatan Dalam Penjadwalan

Untuk mencapai suatu kriteria penjadwalan tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan, pada pernjadwalan terdapat hambatan-hambatan penjadwalan yang menyebabkan suatu penjadwalan yang telah dilakukan dengan baik, namun tidak dapat diimplementasikan secara baik. Beberapa hambatan dalam penjadwalan diantaranya adalah: a. Keterlambatan kedatangan bahan baku b. Tidak tercapainya target produksi yang telah ditetapkan c. Kerusakan mesin atau peralatan yang menyebabkan kegiatan produksi menjadi terganggu d. Produk yang dibuat merupakan produk pesanan, sehingga membutuhkan waktu penyesuaian untuk kegiatan produksi e. Order yang datang saat jumlah order tengah diselesaikan f. Kecelakaan kerja g. Pembatalan pemesanan h. Hari libur menyebabkan kegiatan produksi tidak berjalan i. Keterlambatan container untuk mengangkut produk yang telah jadi j. Ketidakhadiran karyawan

11

11

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Istilah-Istilah Pada Penjadwalan


Berbagai istilah yang umum digunakan dalam penjadwalan adalah sebagai berikut: Waktu proses (processing time), i t Waktu proses merupakan estimasi lamanya waktu yang dibutuhkan mesin ke-k untuk menyelesaikan operasi ke-j dari pekerjaan (job) ke-i, yang terkadang didalamnya sudah tercakup waktu yang dibutuhkan untuk persiapan dan pengaturan mesin (waktu set up). Waktu siap (ready time), R i Menunjukkan saat pekerjaan ke-i dapat dikerjakan (siap dijadwalkan) Batas waktu penyelesaian (due date), d i Batas waktu yang diperbolehkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu menunggu (waiting time), W i Adalah waktu tunggu pekerjaan i dari saat pekerjaan siap dikerjakan sampai saat operasi pendahulu selesai. Waktu penyelesaian (completion time), C i Adalah rentang waktu mulai dari awal ( t=0) sampai pekerjaan i selesai dikerjakan. Waktu tunggal (flow time), F i Adalah waktu antara saat dimana pekerjaan i telah siap untuk dikerjakan sampai pekerjaan selesai. Makespan (Ms) Adalah jangka penyelesaian suatu penjadwalan (penjumlahan seluruh waktuproses). M s =C max Keterlambatan (lateness), L i Adalah perbedaan antara completion time dengan due date, sehingga bisa (+)atau (-).
Li = ci di < 0 (negatif Li = ci di > 0

): saat penyelesaian memenuhi batas (positif ) : saat penyelesaian melampaui

batas

(tardyjob) Kelambatan (tardiness), T i Adalah keterlambatan penyelesaian suatu pekerjaan dari saat due date. T i = max {0, L i }: hanya melihat L yang > 0, dengan 1 i N Slack Time (SL i ) Adalah waktu sisa yang tersedia bagi suatu pekerjaan (waktu prosesdue date). Si = d i ti
11 KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI
Rudini Mulya Daulay

12

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Set up Time (Si ) Adalah waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan persiapan sebelum pemrosesan job dilaksanakan. Arrival Time (ai ) Adalah saat job mulai berada di shop floor. Delivery Date (di ) Adalah saat pengiriman job dari shop floor ke proses berikutnya atau ke konsumen. Gant Chart Merupakan peta visual yang menggambarkan loadling (menggambarkan beban mesin) dan scheduling (menggambarkan urutan pemrosesan job dan menggambarkan saat mulai dan saat selesai suatu job). Contoh Gantt Chart, seperti gambar dibawah ini:

GAMBAR 2.1 Contoh Gantt Chart.

Metode-Metode Penjadwalan
Metode penjadwalan Job shop secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu; metode penjadwalan dengan job shop loading dan job sequencing. Job Shop Loading Job shop loading adalah bahwa kita harus memutuskan pada pusat-pusat kerja yang mana suatu job harus ditugaskan. Ketika order tiba pada suatu job shop, kegiatan pertama pada penjadwalan adalah menugaskan order tersebut pada bermacam-macam pusat kerja untuk diproses. Permasalahan loading menjadi lebih sederhana ketika suatu job tidak dapat dipisahkan. Meskpun hal ini sering terjadi, biasanya suatu industri sering dalam prakteknya melakukan pemisahan job dan menugaskan bagian-bagian terpisah dari job tersebut kepada pusat-pusat kerja yang berbeda untuk meningkatkan utilitas sumber daya.
11
13

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Untuk permasalahan yang sederhana dimana kita mengasumsikan tidak ada pemisahan job , maka job shop loading dapat dibuat dengan mudah menggunakan Gantt Chart dan Assigment Methode. Pendekatan Gantt Chart Gantt Chart merupakan alat peraga visual yang bermanfaat dalam loading dan scheduling. Nama ini didapatkan dari Hendry Gantt (akhir 1800-an). Gantt Chart menunjukan penggunaan sumberdaya , seperti work center dan tenaga kerja. Ketika digunakan dalam loading, Gantt chart menunjukan loading dan waktu luang pada beberapa department,mesin atau fasilitas. Gantt chart menunjukan beban kerja dalam sistem sedemikian rupa sehingga manajer mengetahui penesuaian apa yang sesuai. Sebagai contoh, ketika sebuah work center dibebani secara berlebihan, maka karyawan dari work center yang memiliki beban rendah dapat dipindahkan untuk sementara dapat meningkatkan jumlah tenaga kerja. Atau jika job yag sedang menunggu dapat diproses pada work center yang berbeda, maka beberapa job pada work center dengan beban tinggi dapat dipindahkan kepada work center yang memiliki beban rendah. Peralatan serba guna juga dapat dipindahkan di antara work center. Contoh Gantt Chart dapat dilihat pada gambar berikut;

Gambar 2.2 Contoh Gantt Chart untuk penjadwalan Job Shop

Loading dengan metode penugasan merupakan cara pembebanan pekerja-pekerja untuk job yang tersedia dengan tujuan meminimalisasi total waktu yang dipergunakan.

11

14

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

a.

Assigment Method Mencakup proses penugasan tugas atau job pada sumberdaya.Penugasan job pada mesin. Tujuan yang paling sering adalah untuk meminimasi biaya total atau waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tugas yang ada. Satu karakteristik permasalahan penugasan yang penting adalah bahwa terdapat hanya satu job (atau pekerja) yang ditugaskan untuk satu mesin (atau projek).

b.

Job Shop Sequencing

Istilah penjadwalan dapat diartikan sebagai proses penentuan waktu mulai dan selesainya masalah studi kasus tugas. Sementara pengurutan (sequencing) mencakup penentuan urutan pekerjaan yang diproses. Dalam praktek, perbedaan ini mungkin tidak terlalu kelihatan, penjadwalan sering kali sudah mencakup waktu dan urutan pekerjaan. Pengurutan menentukan urutan pekerjaan yang harus dikerjakan pada suatu pusat kerja. Misalnya, terdapat 5 jenis pekerjaan yang akan diproses. Pekerjaan mana yang harus dikerjakan lebih dulu, apakah yang lebih dulu datang atau yang paling cepat selesai. Metode pengurutan menentukan urutan pekerjaan yang dilakukan oleh suatu pusat kerja berdasarkan atunan prionitas yang telah ditentukan. Terdapat beberapa aturan dalam pengurutan, setiap urutan tentunya mempunyai pengaruh yang berbeda, baik terhadap kecepatan selesainya pekerjaan maupun terhadap faktor (annya seperti tingkat rata-rata persediaan, biaya set-up maupun rata-rata keterlambatan pekerjaan. Urutan yang dipilih tentu harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Beberapa aturan prioritas yang umum sebagai berikut: FCFS (first come first serve), pekerjaan yang datang lebih awal pada suatu pusat kerja akan dikerjakan lebih dulu. Aturan ini banyak digunakan pada bank,supermarket, kantorpos, dan sebagainya. SPT (shortest processing time), pekerjaan yang paling cepat selesainya mendapat prioritas pertama untuk dikerjakan lebih dulu. Cara ini sering kali diterapkan bagi perusahaan perakitan atau jasa. EDD (earliest due date), pekerjaan yang harus selesai paling awal dikerjakan terlebih dulu.

11

15

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com

Disamping ketiga aturan prioritas tersebut, dikenal juga beberapa cara, antara lain critical ratio dan least slack. Dalam critical ratio (CR), pekerjaan yang rasio antara due-date terhadap lama waktu kerja paling kecil mendapat prioritas lebih dulu. Sementara dalam least slack (LS), pekerjaan yang memiliki slack time terkecil mendapat prioritas untuk dikerjakan lebih dulu. Slack time menunjukkan perbedaan antara waktu tersisa hmngga tanggal jatuh tempo dengan waktu proses yang tersisa. Sebelum masuk ke dalam penyusunan pengurutan pekerjaan, berikut ini beberapa terminologi yang dipakai. Lama proses menunjukkan waktu yang memproses pekerjaan itu sampai selesai. diperlukan untuk

Waktu selesai menunjukkan total waktu suatu pekerjaan berada pada sistem. Waktu selesai ini mencakup lama proses ditambah dengan waktu menunggu sampai pekerjaan yang bersangkutan mendapat giliran diproses. Jadwal selesai (due date) merupakan batas waktu yang diharapkan pekerjaan yang bersangkutan telah selesai diproses (jatuh tempo), yaitu berapa hari sejak pekerjaan masuk kedalam sistem. Keterlambatan menunjukkan jumlah hari keterlambatan dan batas yang diharapkan selesai, yaitu perbedaan antara waktu selesai dan jadwal selesai. Rata-rata waktu penyelesaian pekerjaan (average completion time), dihitung dan jumlah waktu selesai semua pekerjaan dibagi dengan jumlah pekerjaan. Rata-rata waktu penyelesaian yang rendah dapat memperkecil jumlah persediaan dalam proses yang pada akhirnya dapat mempercepat pelayanan. Rata-rata waktu keterlambatan (average job lateness), dihitung dan jumlah hari keterlambatan dibagi dengan jumlah pekerjaan. Rata-rata keterlambatan yang rendah menunjukkan waktu pengiriman (delivery time) yang lebih cepat.

Rata-rata jumlah pekerjaan pada sistem (pusat kerja) adalah ratarata jumlah pekerjaan dalam sistem (baik yang sedang menunggu maupun sedang diproses dan awal sampai pekerjaan terakhir selesai diproses. Rata-rata jumlah pekerjaan yang sedikit menunjukkan sistem dalam keadaan longgar (tidak penuh).

11

16

KONSEP DASAR PROSES PRODUKSI


Rudini Mulya Daulay

Proses Produksi pada Manufacturing


Email: rudinimenteri@gmail.com