Anda di halaman 1dari 31

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 02/KPTS/1985 TENTANG

KETENTUAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG


MENTERI PEKERJAAN UMUM ; Menimbang : a. bahwa kebakaran pada bangunan gedung merupakan bencana yang menimbulkan ancaman kerugian bagi jiwa manusia, harta benda, lingkungan, terganggunya proses produksi/distribusi barang dan jasa, dan bahkan merupakan pula gangguan pada kesejahteraan sosial ; b. bahwa kerugian-kerugian tersebut pada butir a, mengakibatkan berkurangnya kemampuan masyarakat dalam usaha penyediaan sumber daya yang sangat diperlukan bagi kelanjutan dan kelangsungan pembangunan ; c. bahwa terjadinya kebakaran pada bangunan gedung antara lain disebabkan karena belum diperhatikan sepenuhnya segi-segi upaya teknis teknologis yang menyangkut pencegahan dan penanggulangan kebakaran ; d. bahwa pelimpahan wewenang Menteri Pekerjaan Umum kepada Daerah berdasarkan PP 18 Tahun 1953 tidak mengurangi wewenang Menteri Pekerjaan Umum untuk mengadakan peraturan lebih lanjut ; e. bahwa dipandang perlu untuk mengatur dan menetapkan upaya teknis teknologis pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung guna terselenggaranya tertib pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung dalam Keputusan Menteri. Mengingat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. :

Stadsvorming Ordonantie S.1948 No. 168 ; Stadsvorming Verordening S. 1949 No. 40 ; Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 ; Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 ; Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1953 ; Keputusan Presiden RI No. 44 Tahun 1974 jo No. 15 Tahun 1983 ; Keputusan Presiden RI No. 45/M Tahun 1983 ; Instruksi Presiden RI. No. 4 Tahun 1969 ; Keputusan Menteri PU No. 60/KPTS/1980 ; Keputusan Menteri PU No. 211/KPTS/1984. MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG KETENTUAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG. PERTAMA : Ketentuan pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada Bangunan Gedung memuat ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan mengenai lingkungan dan bangunan, bahan bangunan, struktur bangunan, utilitas dan usaha penyelamatan terhadap bahaya kebakaran yang harus diperhatikan pada perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung, sebagaimana terlampir dan merupakan bagian tak terpisahkan dari Keputusan ini. KEDUA : Ketentuan tersebut dalam DIKTUM PERTAMA dilaksanakan secara terpadu dengan peraturan perundang-undangan serta ketentuan-ketentuan yang berlaku, baik yang bersifat Nasional maupun Daerah setempat.

KETIGA : Dalam pelaksanaan Keputusan ini, Kantor Wilayah Departemen Pekerjaan Umum memberikan pelayanan konsultasi dalam bidang teknis teknologis kepada Pemerintah Daerah setempat, khususnya dalam rangka penyusunan Peraturan Daerah yang bersangkutan dengan pencegahan dan penanggulangan kebakaran. KEEMPAT : Koordinasi, pengawasan dan petunjuk-petunjuk teknis pelaksanaan dari Keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. KELI MA : Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Keputusan ini sepanjang telah ditetapkan di dalam Peraturan Daerah setempat, dikenakan tindakan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku yang akan ditentukan lebih lanjut dalam Peraturan Daerah setempat. KEENAM : Dengan berlakunya keputusan ini, maka semua Keputusan dan ketetapan Menteri Pekerjaan Umum dibidang perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung tetap berlaku yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam Keputusan ini. KETUJUH : Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Pekerjaan Umum. KEDELAPAN : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan

Jakarta 1985.

pada tanggal 2 Januari

MENTERI PEKERJAAN UMUM,

SUYONO SOSRODARSONO

DAFTAR ISI KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM No.02/KPTS/1985 2 JANUARI 1985 TENTANG KETENTUAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG.
BAB BAB I II : : P E N D A H U L U A N ................................................ LINGKUNGAN DAN BANGUNAN .............................. Pasal 1. Pengertian ............................................... Pasal 2. Persyaratan Lingkungan ......................... Pasal 3. Klasifikasi Bangunan ............................... Pasal 4. Persyaratan Bangunan ............................ BAHAN BANGUNAN ................................................... Pasal 5. Pengertian ............................................... Pasal 6. Persyaratan Bahan Lapis Penutup ......... Pasal 7. Persyaratan Bahan untuk Komponen Struktur Bangunan ................................... STRUKTUR BANGUNAN ............................................ Pasal 8. Pengertian ................................................ Pasal 9. Perencanaan Struktur Bangunan ............. Pasal 10. Persyaratan Ketahanan Terhadap Api ..... Pasal 11. Komponen Struktur Beton Bertulang ........ Pasal 12. Komponen Struktur Beton Pratekan .......... Pasal 13. Komponen Struktur Baja ............................ Pasal 14. Komponen Struktur Bata Merah ................. Pasal 15. Komponen Struktur Batako dan Bata Beton (Concrete Block) ............................... Pasal 16. Komponen Struktur Kayu ............................ U T I L I T A S ................................................................... Pasal 17. Pengertian .................................................... Pasal 18. Alarm Kebakaran .......................................... pAasal 19. Alam Pemadan Api Ringan ( PAR ) .............. Pasal 20. Hidran Kebakaran ......................................... Pasal 21. Sprinkler ................................................... Pasal 22. Pipa Peningkatan air ( RISER ) ............... Pasal 23. Sumber Daya Listrik Darurat ................... Pasal 24. Penangkal Petir ....................................... UPAYA PENYELAMATAN ........................................... Pasal 25. Pengertian ................................................ Pasal 26. Tangga Kebakaran ................................... Pasal 27. Koridor ...................................................... Pasal 28. Pintu Kebakaran ....................................... Pasal 29. Bukaan Penyelamat ................................. Pasal 30. Lift Kebakaran ........................................... Pasal 31. Penerangan Darurat dan Tanda Penunjuk Arah ke luar .............................................. Pasal 32. Komunikasi Darurat .................................. Pasal 33. Pengendalian Asap ................................... Pasal 34. Landasan Helikopter ................................. Pasal 35. Peralatan Pembantu lainnya ..................... LAIN - LAIN ................................................................... Pasal 36. Perlindungan terhadap Ruang dalam bangunan yang mengandung potensi kebakaran ................................................. Pasal 37. Manajemen Sistem Pengamatan Kebakaran ................................................ Pasal 38. Pemeriksaan Berkala ............................... Pasal 39. Sertifikat Layak Pakai ............................... Pasal 40. Bebas benda-benda penghalang .............. Pasal 41. Latihan Kebakaran pada Bangunan Umum ....................................................... 1 3 3 6 10 11 17 17 20 21 23 23 23 24 26 29 30 31 32 32 32 32 35 41 48 50 55 56 57 57 57 58 58 59 59 59 60 60 61 61 61 62

BAB

III :

BAB

IV :

BAB

BAB

VI :

BAB

VII :

62 62 63 63 64 64 65

DAFTAR ISTILAH ...................................................................................

BAB I PENDAHULUAN Kebakaran pada bangunan gedung dapat menimbulkan kerugian berupa korban manusia, harta benda, terganggunya proses produksi barang dan jasa, kerusakan lingkungan dan terganggunya ketenangan masyarakat. Data yang dapat dikumpulkan dari berbagai kota di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini memberikan petunjuk adanya peningkatan kebakaran pada bangunan gedung. Sementara itu pengadaan bangunan gedung dan perumahan terus meningkat, demikian pula penggunaan bahan, komponen bangunan dan peralatan/instalasi dalam bangunan belum diatur dalam ketentuan yang lebih memadai. Di lain pihak pengertian dan disiplin masyarakat serta perangkat pengendalian yang berupa peraturan perundang-undangan, pedoman pelaksanaan, standar kualitas, personil pengawas, dan peralatan Pemadam Kebakaran dirasakan masih belum dapat mengatasinya. Oleh karena itu, apabila pengertian dan disiplin masyarakat serta perangkat pengendalian tersebut di atas tidak ditingkatkan, diperkirakan laju kebakaran akan meningkat lagi. Di dalam Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1953 tentang Pelaksanaan penyerahan sebagian dari urusan Pemerintah Pusat mengenai Pekerjaan Umum kepada Propinsi-Propinsi dan Penegasan urusan mengenai Pekerjaan Umum dari Daerah-Daerah Otonom Kabupaten, Kota Besar, dan Kota Kecil ditetapkan Pasal 9 huruf j bahwa pencegahan bahaya kebakaran yang telah diurus dan diatur oleh daerah-daerah otonom tetap dijalankan oleh dan sebagai urusan daerah otonom itu. Namun pada Pasal 4 dan Pasal 12 disebutkan bahwa penyerahan tersebut tidak mengurangi hak Menteri Pekerjaan Umum untuk mengadakan pengawasan atas urusan tersebut, serta merencanakan dan menyelenggarakan pekerjaan-pekerjaan dalam lingkungan daerah guna kemakmuran umum, tentang hal mana Menteri Pekerjaan Umum dapat mengadakan peraturannya dan pemberian petunjuk-petunjuk teknis. Menyadari hal-hal tersebut di atas, maka perlu diterbitkan ketentuan yang bersifat teknis teknologis, dalam upaya peningkatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. Tujuan pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung adalah untuk melindungi jiwa dan harta benda terhadap bahaya kebakaran. Hal ini dititik beratkan pada pengamanan bangunan gedung, dengan cara memenuhi persyaratan-persyaratan teknis teknologis, dalam proses perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan gedung, yang masing-masing mencakup aspek-aspek lingkungan dan bangunan, bahan bangunan, stuktur bangunan, utilitas, dan upaya penyelamatan. Persyaratan-persyaratan yang ditetapkan dalam ketentuan ini, harus dipakai bersama-sama dengan Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung, Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung, Peraturan Beton Bertulang Indonesia,, Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia, Peraturan Konstruksi kayu Indonesia, dan Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. Peraturan tersebut memuat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran. Khusus mengenai aspek utilitas, perlu ditaati ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL), Pedoman Sprinkler dan Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP). Dengan ditetapkannya ketentuan ini, Peraturan-peraturan Daerah yang menyangkut pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung yang sudah ada tetap berlaku, bahkan diharapkan akan dapat mendorong diterbitkannya Peraturan DaerahPeraturan Daerah tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran yang bersifat operasionl, sesuai dengan kondisi dan situasi di daerah.

BAB II LINGKUNGAN DAN BANGUNAN Pasal 1 PENGERTIAN (1) Pengaturan lingkungan dalam ketentuan ini meliputi pengaturan blok dan kemudahan pencapaiannya (accessibility), ketinggian bangunan, jarak bangunan, dan kelengkapan lingkungan. Pengaturan bangunan meliputi pengaturan ruang-ruang efektif, ruang sirkulasi, eskalator, tangga, kompatemenisasi, dan pintu kebakaran. Yang dimaksud dengan : a. Blok adalah suatu luasan lahan tertentu yang dibatasi oleh batas fisik yang tegas, seperti laut, sungai, jalan, dan terdiri dari satu atau lebih persil bangunan. Contoh : lihat gambar II.1. b. Kelengkapan lingkungan meliputi : hidran, sumur gali atau reservoir, dan komunikasi umum. c. Ruang efektif adalah ruang yang dipergunakan untuk menampung aktivitas yang sesuai dengan fungsi bangunan, misalnya : ruangan efektif suatu hotel antara lain kamar, restoran dan lobby.

(2)

(3)

d. Ruang sirkulasi adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk lalu-lintas atau sirkulasi dalam bangunan, misalnya : pada bangunan hotel adalah koridor. e. Kompartemenisasi adalah usaha untuk mencegah penjalaran kebakaran dengan cara membatasi api dengan dinding, lantai kolom, balok yang tahan terhadap api untuk waktu yang sesuai dengan kelas bangunan. f. Eskalator adalah tangga berjalan dalam bangunan.

g. Tangga kebakaran adalah tangga yang direncanakan khusus untuk penyelamatan kebakaran. h. Pintu kebakaran adalah pintu-pintu yang langsung menuju tangga kebakaran dan hanya dipergunakan apabila terjadi kebakaran.

(1)

Gambar II.1. Contoh blok Pasal 2 PERSYARATAN LINGKUNGAN Lingkungan bangunan harus mempunyai jalan lingkungan yang memenuhi ketentuan di bawah ini :
Lebar minimum perkerasan jalan lingkungan Luas Blok Searah Menerus > 5 Ha 1 - 5 Ha < 1 Ha 4 m Bolak - Balik Buntu Menerus 3.5 3,5 3,5 m m m 5 4 m m

Besar Sedang Kecil

3,5 m 3,5 m

3,5 m

(2)

Dalam suatu lingkungan bangunan, jarak bangunan yang bersebelahan dengan bukaan saling berhadapan adalah :
Tinggi bangunan (dalam meter) s /d 8 m 8 s/d 14 m 14 s/d 40 m di atas 40 m Jarak bangunan minimum ( dlm meter ) 3 m 3 s/d 6 m 6 s/d 8 m di atas 8 m

Lihat gambar II.2. (3) a. Dalam lingkungan tertentu seperti lingkungan perumahan, sekolah, rumah sakit/perawatan dan perkantoran, tidak diperkenankan adanya bangunan-bangunan yang dipergunakan sebagai tempat usaha yang mempunyai potensi kebakaran seperti bengkel, tempat las, penjualan bensin eceran, penyimpanan bahan kimia, tempattempat yang menggunakan tenaga uap air, gas/uap bertekanan tinggi serta diesel/generator listrik. b. Untuk bangunan-bangunan tersebut di atas, perizinan yang meliputi izin usaha, izin mendirikan bangunan serta penentuan lokasi lingkungannya, diatur tersendiri oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. (4) Kelengkapan lingkungan : a. Untuk lingkungan perumahan perlu dipertimbangkan kemungkinan disediakan gang kebakaran atau jalur jalan kaki, yang akan memudahkan petugas atau orang yang menanggulangi bencana kebakaran. b. Lingkungan Perumahan direncanakan sedemikian rupa sehingga setiap bangunan rumah, bisa terjangkau oleh pancaran air unit pemadam kebakaran dari jalan lingkungan, yang bisa didatangi mobil kebakaran. c. Lingkungan perumahan dan lingkungan bangunan gedung harus dilengkapi hidran atau sumur gali atau reservoir kebakaran. Bangunan yang berjarak lebih dari 10 m dari jalan lingkungan, harus dilengkapi hidran tersendiri. d. Setiap lingkungan bangunan, khususnya perumahan harus dilengkapi dengan sarana komunikasi umum, yang dapat dipakai setiap saat. (5) Persyaratan hidran, sumur gali atau reservoir a. Hidran harus memenuhi syarat berikut : a.1. Kapasitas masing-masing hidran minimum 1.000 liter/menit a.2. Tekanan di mulut hidran minimum 2 kg/cm2 a.3. Jarak antar hidran maksimum 200 m. b. Sumur gali atau reservoir kebakaran harus memenuhi ketentuan : b.1. Air yang tersedia setiap saat sekurang-kurangnya 10.000 liter. b.2. Sekeliling sumur gali atau reservoir diperkeras supaya mudah dicapai mobil pemadam kebakaran.

Gambar II.2. Jarak bangunan & dinding pembatas pada bangunan penerus Pasal 3 KLASIFIKASI BANGUNAN (1) Dalam ketentuan ini, bangunan diklasifikasikan menurut tingkat ketahanan struktur utamanya terhadap api. (2) Klasifikasi tersebut dalam ayat (1) terdiri dari 4 (empat) kelas, yaitu kelas A, B, C, dan D. a. Bangunan kelas A, adalah bangunan-bangunan yang komponen struktur utamanya harus tahan terhadap api sekurang-kurangnya 3 (tiga) jam, yaitu meliputi bangunanbangunan : a.1. Hotel a.2. Pertokoan dan Pasar-raya a.3. Perkantoran a.4. Rumah Sakit dan Perawatan a.5. Bangunan Industri a.6. Tempat Hiburan a.7. Museum a.8. Bangunan dengan penggunaan ganda/campuran. b. Bangunan kelas B, adalah bangunan-bangunan yang komponen struktur utamanya harus tahan terhadap api sekurang-kurangnya 2 (dua) jam, yaitu meliputi bangunanbangunan : b.1. Perumahan Bertingkat b.2. Asrama b.3. Sekolah b.4. Tempat Ibadah. c. Bangunan kelas C, adalah bangunan-bangunan yang komponen struktur utamanya harus tahan terhadap api sekurang-kurangnya (setengah) jam, meliputi bangunan gedung yang tidak bertingkat dan sederhana.

d. Bangunan kelas D, yaitu bangunan-bangunan yang tidak tercakup ke dalam kelas A, B, C tidak diatur di dalam ketentuan ini, tetapi diatur secara khusus, misalnya : instalasi nuklir, bangunan-bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan-bahan yang mudah meledak. Pasal 4 PERSYARATAN BANGUNAN (1) Untuk bangunan menerus, dinding batas antar bangunan harus menembus atap dengan tinggi sekurang-kurangnya 0,5 m dari seluruh permukaan atap (Lihat gambar II.2). (2) Bagi bangunan yang mempunyai bukaan, baik horizontal maupun vertikal, seperti jendela, lubang eskalator dan lain-lain harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Lubang pintu bangunan perumahan dan gedung yang langsung menghadap keluar, daun pintunya harus membuka ke luar. b. Lubang jendela atau pintu bangunan yang langsung menghadap ke luar, sekurangkurangnya berjarak 90 cm satu dengan lainnya, kecuali jika dilindungi penjorokan sekurang-kurangnya 50 cm yang terbuat dari struktur tahan terhadap api, minimum 2 (dua) jam. c. Bagian atas dari setiap jendela atau pintu bangunan yang langsung menghadap ke luar, harus dilindungi dengan penjorokan, sekurang-kurangnya 50 cm dari dinding yang terbuat dari struktur tahan terhadap api, minimum 2 (dua) jam. (Lihat Gambar II.3).

d. Untuk bangunan bertingkat, pada setiap lantai harus ada sekurang-kurangnya 1 (satu) bukaan vertikal pada dinding bagian luar, bertanda khusus yang menghadap ke tempat yang mudah dicapai oleh Unit Pemadam Kebakaran. Bukaan tersebut diperuntukkan bagi Unit Pemadam Kebakaran. (3) Koridor harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Lebar minimum 1,80 m b. Jarak setiap titik dalam koridor ke pintu kebakaran yang terdekat tidak boleh lebih dari 25 m. c. Dilengkapi tanda-tanda penunjuk yang menunjukkan arah ke pintu kebakaran. Gambar II.3. Persyaratan bukaan (4) Tangga kebakaran harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Dilengkapi dengan pintu tahan terhadap api, minimum 2 (dua) jam, dengan arah pembukaan ke tangga kebakaran dan menutup secara otomatis. Pintu tersebut harus dilengkapi dengan lampu dan tanda petunjuk. b. Tangga kebakaran yang terletak di dalam bangunan, harus dipisahkan dengan ruangruang lain memakai pintu tahan api dan bebas asap. c. Jarak tangga kebakaran dari setiap titik dalam ruang efektif, tanpa ruang sirkulasi, maksimum 25 m. d. Ruang Sirkulasi harus berhubungan langsung dengan pintu kebakaran. e. Lebar tangga kebakaran minimum 1,2 m dan tidak boleh menyempit ke arah bawah. f. Tangga kebakaran harus dilengkapi pegangan (hand rail) yang kuat setinggi 1,10 m dan penerangan darurat yang cukup, serta dilindungi agar tidak memungkinkan orang jatuh. g. Lebar minimum injakan anak tangga 28 cm dan tinggi maksimum anak tangga 20 cm. h. Lebar bordes sekurang-kurangnya sama dengan lebar tangga. I. Tangga kebakaran yang terletak di luar bangunan, berjarak sekurang-kurangnya 1 m dari bukaan yang berhubungan dengan tangga kebakaran tersebut. j. Tidak boleh berbentuk tangga puntir. (5) Pintu kebakaran harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Lebar pintu kebakaran minimum 90 cm, membuka ke arah tangga kebakaran, dapat menutup secara otomatis, dan dapat dibuka dengan kekuatan 10 kgf. b. Jarak antar pintu kebakaran maksimum 25 m. Untuk persyaratan-persyaratan di atas lihat gambar II.4.

Gambar II.4 BAB III BAHAN BANGUNAN Pasal 5 PENGERTIAN (1) Yang dimaksud dengan Bahan Bangunan dalam ketentuan ini adalah semua macam bahan yang dipakai pada atau untuk konstruksi bangunan gedung, baik sebagai bahan lapis penutup bagian dalam bangunan, maupun sebagai bahan komponen struktur bangunan. Bahan bangunan dapat terdiri dari satu jenis bahan, atau merupakan gabungan dari beberapa jenis bahan pembentuknya. Bahan-bahan yang lepas dan mudah dipindahkan, seperti misalnya karpet, tirai, perabot rumah tangga dan sebagainya yang merupakan isi bangunan, tidak termasuk dalam pengertian ini. Bahan bangunan dibagi dalam 5 (lima) tingkat mutu, yaitu : Tingkat I Tingkat II Tingkat III Tingkat IV Tingkat V.

(2) Bahan mutu Tingkat I (non-combustible) adalah bahan yang memenuhi persyaratan pengujian sifat bakar (non-combustibility test) serta memenuhi pula pengujian sifat penjalaran api pada permukaan (surface test). Bahan mutu Tingkat II (semi non-combustible) adalah bahan yang sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan pada pengujian penjalaran api permukaan untuk tingkat bahan, sukar terbakar, serta memenuhi pengujian permukaan tambahan. Bahan mutu Tingkat III (fire-retardant) adalah bahan yang sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan pada pengujian penjalaran api permukaan, untuk tingkat bahan yang bersifat menghambat api. Bahan mutu Tingkat IV (semi fire retardant) adalah bahan yang sekurang-kurangnya memenuhi syarat pada pengujian penjalaran api permukaan untuk tingkat agak menghambat api. Bahan mutu Tingkat V (combustible) adalah bahan yang tidak memenuhi, baik persyaratan uji sifat bakar maupun persyaratan sifat penjalaran api permukaan. (3) Bahan bangunan yang dimaksudkan dalam pasal 5, ayat (1), dicantumkan dalam Tabel III.1.

TABEL III.1 TINGKAT MUTU BAHAN BANGUNAN TERHADAP API


MUTU Tingkat I MUTU Tingkat I I MUTU Tingkat III MUTU Tingkat IV MUTU Tingkat V

- Beton - Bata - Batako - Asbes - Alumunium - Kaca - Besi - Baja - Adukan semen - Adukan gips - Asbes semen - Ubin keramik - Ubin semen - Ubin marmer - Lembaran seng - Panel kalsium Silikat - Rock wool - Glass wool - Genteng keramik - Wired glass - Lembaran baja lapis seng.

- Papan wool kayu semen (Exceisior board) - Papan Semen pulp - Serat kaca semen - Plasterboard - Pelat baja lapis PVC

- Kayu lapis yang dilindungi

- Papan polyester bertulang

- Papan yang mengandung lebih dari 5290 glass Fibre - Papan partikel yang dilindungi - Papan wool kayu

Polyvinil dengan tulangan

- Setiap bambu - Sirap kayu bukan lilin atau kayu jati - Rumbia - Anyaman Bambu - Bahan atap aspal berlapiskan mineral - Kayu kamper - Kayu Meranti - Kayu Terentang - Kayu lapis 14 mm 17 mm - Soft board - Hardboard - Papan Partikel.

(4) Bahan lapis penutup adalah bahan bangunan yang dipakai sebagai lapisan penutup bagian dalam bangunan (interior finishing materials). (5) Bahan komponen struktur bangunan adalah bahan bangunan yang dipakai sebagai bahan pembentuk komponen struktur bangunan, seperti kolom, balok, dinding , lantai, atap dan sebagainya.

Pasal 6 PERSYARATAN BAHAN LAPIS PENUTUP (1) Bahan bangunan yang cepat terbakar dan/atau yang mudah menjalarkan api melalui permukaannya, tanpa perlindungan khusus, tidak boleh dipakai pada tempat-tempat penyelamatan kebakaran, maupun di bagian lainnya dalam bangunan di mana terdapat sumber api. (2) Sesuai dengan Klasifikasi Bangunan yang ditentukan dalam Bab II Pasal 3, bahan lapis penutup harus memenuhi syarat minimum yang disebutkan dalam Tabel III.2.

Tabel III.2 Tingkat Mutu Bahan Lapis Penutup


Kelas bangunan (Ketahanan terhadap api)

Ruang efektif, kamar, dsb.

Bahan Lapis Penutup untuk : Ruang sirkulasi, Tangga kebakaran koridor, dsb pintu kebakaran, dsb. Bahan mutu Tingkat I

Kelas A (3 jam) Kelas B (2 jam) Kelas C ( jam) Kelas D Bahan Mutu Tingkat II Bahan Mutu Tingkat II

Bahan Mutu Tingkat II Bahan Mutu Tingkat III Diatur tersendiri

Bahan Mutu Tingkat I Bahan Mutu Tingkat II

(3) Daftar bahan-bahan dengan tingkat mutu seperti tersebut dalam Tabel III.2 diberikan dalam Tabel III.1. Bahan bangunan yang tidak tercantum dalam Tabel III.1. dapat dipakai setelah dibuktikan oleh hasil pengujian dari instansi yang berwenang. Pasal 7 PERSYARATAN BAHAN UNTUK KOMPONEN STRUKTUR BANGUNAN (1) Berdasarkan klasifikasi bangunan yang disebutkan dalam Bab II, pasal 3, bahan bangunan yang dipakai untuk komponen struktur bangunan harus memenuhi syarat minimum seperti dicantumkan dalam Tabel III.3 di bawah ini. Tabel III.3 Persyaratan Bahan untuk Komponen Struktur Bangunan
Kelas bangunan (Ketahanan terhadap api) Kolom dan Balok Atap Dinding luar dan bukaan pada dinding luar Lantai dan Tangga

Kelas A (3 jam)

Mutu Tingkat I

Mutu Tingkat I

Mutu Tingkat I

Mutu Tingkat I

Kelas B (2 jam)

Mutu Tingkat I

Mutu Tingkat I

Mutu Tingkat I

Mutu Tingkat II

Kelas C ( jam)

Mutu Tingkat II

Mutu Tingkat II

Mutu Tingkat II

Mutu Tingkat II

Kelas D

Diatur tersendiri

(2) Daftar bahan-bahan dengan tingkat mutu seperti tersebut dalam Tabel III.3 diberikan dalam Tabel III.1. Bahan-bahan lainnya yang tidak tercantum dalam Tabel III.1 dapat dipakai setelah dibuktikan oleh hasil pengujian dari instansi yang berwenang. (3) Pengujian dan penilaian mutu bahan serta petunjuk teknis pemakaiannya, baik untuk bahan lapis penutup maupun untuk komponen struktur bangunan, harus mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.

BAB IV STRUKTUR BANGUNAN Pasal 8 PENGERTIAN (1) Ketahanan terhadap api adalah sifat dari komponen struktur untuk tetap bertahan terhadap api tanpa kehilangan fungsinya sebagai komponen struktur, dalam satuan waktu yang dinyatakan dalam jam. (2) Komponen struktur adalah bagian-bagian bangunan gedung baik yang memikul beban maupun yang bukan, misalnya dinding, kolom, balok, dinding partisi, atap dan lantai. (3) Komponen struktur utama adalah bagian-bagian bangunan gedung yang memikul beban dan meneruskan beban tersebut ke pondasi misalnya dinding, kolom, balok dan lantai. Pasal 9 PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN (1) Semua struktur bangunan gedung yang direncanakan tahan api harus memenuhi ketentuan-ketentuan dan cara-cara yang tercantum dalam Bab IV ini. (2) Cara-cara peningkatan ketahanan komponen struktur terhadap api yang tidak tercantum pada ketentuan Bab IV ini diperbolehkan, asal dapat memenuhi persyaratan melalui pengujian dari instansi yang berwenang. Pasal 10 PERSYARATAN KETAHANAN TERHADAP API Persyaratan umum ketahanan terhadap api bagi komponen struktur bangunan tinggi dicantumkan dalam Tabel IV.1 berikut ini. Pasal 11 KOMPONEN STRUKTUR BETON BERTULANG (1) Lantai beton bertulang Ketahanan api untuk lantai beton bertulang dicantumkan dalam Tabel IV.2 berikut :

Tabel IV.2. Ketahanan api untuk lantai Beton Bertulang


Tebal tolal minimum lantai dalam cm. untuk ketahanan api selama : Jenis Lantai 3 jam 2 jam jam

Lantai monolit, lantai pracetak berbentuk U dan T

15,0

12,5

9,0

Lantai balok berongga, lantai pracetak berbentuk kotak atau l.

12,5

9,0

9,0

Keterangan : Untuk semua jenis lantai, harus terdapat penutup beton pada tulangan pokok minimum setebal 2,5 cm. untuk ketahanan api 3 jam dan minimum 1,5 cm untuk ketahanan api yang kurang dari 3 jam.

(2) Balok beton bertulang Ketahanan api untuk balok beton bertulang dicantumkan dalam Tabel berikut Tabel IV.3. Ketahanan api untuk Balok Beton Bertulang
Tebal minimum penutup beton dalam cm. untuk ketahanan api selama : Uraian 3 jam 2 jam jam

Tanpa lapisan pelindung tambahan

5,0

5,0

2,5

(3) Dinding Beton Bertulang Ketahanan api untuk dinding beton bertulang dicantumkan dalam Tabel berikut ini : Tabel IV.4. Ketahanan api untuk Dinding Beton Bertulang
Tebal minimum dinding dalam cm, untuk ketahanan api selama :

Uraian

3 jam

2 jam

jam

Tanpa pelindung tambahan

17,5

10,0

7,5

Plesteran semen atau gips setebal minimum 1,20 cm. pada kedua permukaan

17,5

10,0

6,5

Keterangan : Untuk semua dinding harus terdapat penutup beton pada tulangan pokok setebal 2,5 cm.

(4) Kolom beton bertulang Ketahanan api untuk kolom beton bertulang dicantumkan dalam Tabel IV.5 berikut ini : Tabel IV.5 Ketahanan api untuk Kolom Beton Bertulang
Ketahanan api selama : Uraian 3 Jam 2 Jam jam

Tebal minimum dalam cm

kolom

40,0

30,0

15,0

Penutup beton minimum pada tulangan dalam cm

6,5

5,0

4,0

Pasal 12 KOMPONEN STRUKTUR BETON PRATEKAN (1) Lantai Beton Pratekan Ketahanan api untuk lantai beton pratekan dicantumkan dalam Tabel IV.6 berikut ini : Tabel IV.6 Ketahanan api untuk Lantai Beton Pratekan
Ketahanan api selama : Uraian 3 Jam 2 Jam jam

Tebal minimum penutup beton pada tulangan pratekan dalam cm

5,0

4,0

1,5

Tebal minimum lantai dalam cm

15,0

12,5

9,0

(2) Balok Beton Pratekan Ketahanan api untuk balok beton pratekan dicantumkan dalam Tabel IV.7 berikut ini : Tabel IV.7 Ketahanan api untuk Balok Beton Pratekan
Ketahanan api selama : UraIan 3 Jam 2 Jam jam

Tebal minimum penutup beton pada tulangan pratekan dalam cm

8,5

6,5

2,5

Lebar minimum balok dalam cm

24,0

18,0

8,0

Pasal 13 KOMPONEN STRUKTUR BAJA Untuk memperpanjang ketahanan api, permukaan struktur baja harus diberi lapisan beton bertulang seperti dicantumkan dalam Tebel IV.8 dan IV.9 berikut ini : Tabel IV.8 Ketahanan api untuk Balok Baja
Lapisan beton bertulang dengan campuran minimum *) 1 PC : 2 Psr : 3 kerikil Tebal minimum lapisan beton bertulang dalam cm, untuk ketahanan api selama :

3 jam Lapisan beton bertulang tidak memikul beban Lapisan beton bertulang memikul beban 6,3

2 jam 2,5

jam 2,5

7,5

5,0

5,0

Keterangan : Jarak tulangan beton kesemua arah maksimum 15 cm.

Tabel IV.9. Ketahanan api untuk Kolom Baja


Lapisan beton bertulang dengan campuran minimum *) 1 PC : 2 Psr : 3 Kerikil Tebal minimum lapisan beton bertulang dalam cm, untuk ketahanan api selama :

3 Jam

2 jam

jam

Lapisan beton bertulang tidak memikul beban

5,0

2,5

2,5

Lapisan beton bertulang memikul beban

7,5

5,0

5,0

*)

Keterangan : Jarak tulangan beton kesemua arah maksimum 15 cm. Pemakaian semen tidak boleh kurang dari campuran tersebut di atas.

Pasal 14 KOMPONEN STRUKTUR BATA MERAH Ketahanan api untuk komponen struktur bata merah dengan tebal 11 cm, dan menggunakan adukan 1 semen : 3 pasir, adalah 2 jam. Pasal 15 KOMPONEN STRUKTUR BATAKO DAN BATA BETON (CONCRETE BLOCK) Ketahanan api untuk komponen struktur Batako dan Bata Beton (Concrete Block) dengan tebal 10 cm, dan menggunakan adukan 1 semen : 3 pasir, adalah 2 jam.

Pasal 16 KOMPONEN STRUKTUR KAYU Ketahanan api untuk komponen dinding kayu dengan lapisan papan asbestos semen setebal minimum 12 mm, pada tiap bidang permukaannya adalah jam. Ketahanan api untuk komponen lantai kayu dengan langit-langit dari papan asbestos semen setebal minimum 12 mm adalah jam. BAB V UTILITAS Pasal 17 PENGERTIAN (1) Utilitas adalah perlengkapan dalam bangunan gedung yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, komunikasi dan mobilitas dalam bangunan tersebut. Utilitas bangunan pada umumnya terdiri dari : a. b. c. d. e. f. Instalasi Listrik dan penangkal petir Instalasi Tata Udara (A/C dan ventilasi) Instalasi Plambing (Plumbing) Instalasi Lift (Lift) dan Eskalator (Escalator) Instalasi Komunikasi Instalsi Proteksi Kebakaran.

(2) Utilitas dalam ketentuan ini diartikan segala perlengkapan yang dipersiapkan untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran pada bangunan gedung, yang meliputi : a. Alarm kebakaran b. Alat pemadam api ringan (PAR)

c. d. e. f. g. h.

Hidran kebakaran Sprinkler Pipa peningkatan air (riser) Sumber daya listrik darurat Penangkal petir Peralatan lainnya yang merupakan bagian dari utilitas bangunan.

(3) a. Yang dimaksud dengan alarm kebakaran adalah suatu alat pengindera dan alarm yang dipasang pada bangunan gedung, yang dapat memberikan peringatan atau tanda pada saat awal terjadinya suatu kebakaran. b. Alat Pemadam Api Ringan (PAR) adalah alat pemadam api yang mudah dilayani oleh satu orang, digunakan untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. c. Hidran kebakaran adalah suatu sistem pemadam kebakaran dengan menggunakan air bertekanan. d. Sprinkler otomatis dalam ketentuan ini adalah suatu sistim pemancar air yang bekerja secara otomatis bilamana suhu ruangan mencapai suhu tertentu yang menyebabkan pecahnya tabung/tutup kepala sprinkler sehingga air memancar ke luar. Deflektor yang terdapat pada kepala sprinkler menimbulkan distribusi pancaran merata kesemua arah. e. Yang dimaksud dengan pipa peningkatan air (riser) adalah pipa vertikal yang berfungsi mengalirkan air ke jaringan pipa antara di tiap lantai dan mengalirkan air ke pipa-pipa cabang dalam bangunan. Pipa peningkatan air dibedakan atas pipa peningkatan air kering (dry riser) yang kosong dan pipa peningkatan air basah (wet riser) yang senantiasa berisi air. Pipa peningkatan air kering adalah pipa air yang umumnya kosong, dipasang dalam gedung atau di dalam areal gedung dengan pintu air masuk (inlet) letaknya menghadap ke jalan untuk memudahkan pemasukan air dari Dinas Kebakaran guna mengalirkan air ke pipa-pipa cabang yang digunakan untuk mengisi hidran di lantailantai bangunan. Pipa peningkatan air basah adalah pipa air yang secara tetap berisi air dan mendapat aliran tetap dari sumber air, dipasang dalam gedung atau di dalam areal bangunan, yang digunakan untuk mengalirkan air ke pipa-pipa cabang yang digunakan untuk mengisi hidran di lantai-lantai bangunan. f. Sumber daya listrik darurat adalah suatu sumber pembangkit listrik, yang digunakan untuk mengoperasikan peralatan dan perlengkapan yang ada pada bangunan, pada waktu terjadi kebakaran. Pasal 18 ALARM KEBAKARAN (1) Pembagian alarm kebakaran didasarkan kepada kepekaannya terhadap : a. Panas b. Asap c. Nyala api. (2) Peralatan alarm kebakaran Peralatan alarm kebakaran sekurang-kurangnya harus mempunyai: a. Lonceng/sirene dengan sumber tenaga batere b. Alat pengindera c. Panel indikator yang dilengkapi dengan :

c.1. Fasilitas kelompok alarm c.2. Sakelar penghubung/pemutus arus c.3. Fasilitas pengujian batere dengan voltmeter dan amperemeter. d. Peralatan bantu lainnya. (3) Persyaratan Penempatan dan Pemasangan alarm kebakaran a. Harus ditempatkan pada tempat-tempat sebagai berikut : a.1. Ruangan tersembunyi seperti misalnya ruangan antara langit-langit dan atap, dengan jarak melebihi 80 cm diukur dari permukaan atap terbawah ke permukaan langit-langit teratas, dan ruangan tersembunyi lainnya dimana terdapat peralatan listrik yang dihubungkan dengan hantaran utama tanpa dilindungi dengan bahan dengan mutu tingkat I. Setiap perlengkapan listrik, papan sakelar atau sejenisnya yang memiliki luas permukaan 1,5 m2 dan ditempatkan dalam lemari. Setiap lemari dalam tembok yang memiliki tinggi mencapai langit-langit atau yang volumenya minimum 7,3 m3. Karena llif atau pada ruangan penarik vertikal dengan luas lebih dari 0,1 m2 dan kurang dari 9 m2. Setiap daerah diantara dua lantai yang memiliki lubang luas lebih dari 9 m2 pada setiap tingkat dipasang satu buah yaitu pada langit-langitnya dengan jarak 1,5 m dari lubang. Ruangan Tangga dalam bangunan yang kedap api dan asap dipasang pada langit-langit atas. Untuk yang tidak kedap, dipasang pada setiap langit-langit tangga. Daerah yang dilindungi dengan jarak 1,5 m dari pintu tahan api. Pada setiap lantai gedung di mana secara khusus dipasang saluran pembuangan udara. Bagian dari langit-langit yang berbentuk kisi-kisi yang salah satu sisi dari kisikisi tersebut berukuran lebih dari 2 m dan luasnya 7,5 m2

a.2.

a.3.

a.4.

a.5.

a.6.

a.7. a.8.

a.9.

a.10. Pada setiap 12 m sepanjang dinding luar, terbuat dari baja yang digalvanis atau yang terbuat dari kayu bila : Bangunan berada pada jarak 9 m dari bangunan lain yang dibuat dari bahan yang sama, dan tak dilengkapi dengan alarm kebakaran. Bangunan yang berada pada jarak 9 m dari gudang tempat penimbunan bahan yang mudah terbakar.

b. Pemasangan alarm kebakaran b.1. Untuk jenis bangunan tertentu yang termasuk dalam kelas Bangunan A dan B harus dipasang alarm kebakaran dengan ketentuan seperti pada Tabel V.I. Dipasang sedemikian rupa, sehingga secara normal tidak terganggu oleh pengaruh lain yang dapat menimbulkan operasi palsu. Dilengkapi dengan indikator sehingga bila ada gangguan pada sistem tersebut akan cepat diketahui.

b.2.

b.3.

b.4. b.5.

b.6. b.7.

Bila dalam satu sistem alarm kebakaran, dipasang lebih dari satu jenis alarm, tegangannya harus sama. Sistem alarm kebakaran harus mempunyai gambaran instalasi secara lengkap dan mencantumkan letak dari perlengkapan tersebut, serta ditempatkan di pusat kontrol. Sumber tenaga listrik untuk sistem ini harus mempunyai tegangan 6 volt atau 12 volt DC (arus searah). Pemasangan harus terpisah dari pemasangan instalasi tenaga dan instalasi penerangan. Tabel V.1 PERSYARATAN PEMASANGAN ALARM KEBAKARAN MENURUT JENIS, JUMLAH LANTAI, DAN LUAS LANTAI

KLASIFIKASI BANGUNAN

JENIS BANGUNAN

JUMLAH LANTAI

JUMLAH LUAS MINIMUM TIAP LANTAI (M2) 185 t.a.b. t.a.b.

TIPE ALARM

HOTEL

1 2-4 >4

manual otomatis otomatis

PERTOKOAN & PASAR

1 2-4 >4

185 t.a.b. t.a.b.

manual otomatis otomatis

PERKANTORA N

1 2-4 >4

185 t.a.b. t.a.b.

manual otomatis otomatis

RUMAH SAKIT DAN PERAWATAN

1 2-4 >4

t.a.b. t.a.b. t.a.b.

manual otomatis otomatis

BANGUNAN INDUSTRI

2 -4 >4

t.a.b t.a.b.

manual otomatis otomatis

TEMPAT HIBURAN, MUSEUM

1 2-4 >4

t.a.b t.a.b t.a.b.

manual otomatis otomatis

B.

PERUMAHAN BERTINGKAT

2-4 >4

t.d. 375

t.d. manual otomatis

ASRAMA

1 2-4 >4

t.d. t.a.b. t.a.b

t.d manual otomatis

SEKOLAH

1 2-4 >4

t.d. 375 t.a.b.

t.d. manual otomatis

TEMPAT IBADAH

1 2-4 >4

t.d. 375 t.a.b.

t.d. manual ootomatis

t.d. t.a.b.

= tidak dipersyaratkan = tidak ada batasan luas.

c.

Pemasangan alat pengindera c.1. Pemasangan alat pengindera panas harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : c.1.1. Untuk sistem yang menggunakan alat pengindera panas, elemen peka panasnya harus dipasang pada posisi antara 15 mm hingga 100 mm di bawah permukaan langit-langit. c.1.2. Pada satu kelompok sistem ini, tidak boleh dipasang lebih dari 40 buah. c.1.3. Untuk setiap ruangan dengan luas 46 m2 dengan tinggi langit-langit 3 m, dipasang satu buah alat pengindera panas. c.1.4. Jarak antar alat pengindera tidak lebih dari 7 mm untuk ruang efektif, sedangkan untuk ruang sirkulasi tidak lebih dari 10 m. c.1.5. Jarak alat pengindera dengan dinding pembatas paling jauh 3 m pada ruang efektif dan 6 m pada ruang sirkulasi. c.1.6. Jarak alat pengindera panas dengan dinding, minimum 30 cm. c.1.7. Pada tiap ketinggian yang berbeda, dipasang satu buah alat pengindera panas untuk setiap luas lantai 92 m2. c.1.8. Di puncak lekukan atap pada ruangan tersembunyi, dipasang sebuah alat pengindera panas untuk setiap jarak memanjang 9 m. c.2. Pemasangan alat pengindera asap harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : c.2.1. Pada setiap luas lantai 92 m2 harus dipasang sebuah alat pengindera asap. c.2.2. Jarak antar alat pengindera asap maksimum 12 m di dalam ruangan efektif, dan 18 m di dalam ruang sirkulasi. c.2.3. Jarak titik alat pengindera yang terdekat ke dinding atau dinding pemisah, 6 m, dalam ruang efektif, dan 12 m, dalam ruang sirkulasi. c.2.4. Setiap kelompok sistem harus dibatasi maksimum 20 buah alat pengindera asap yang dapat melindungi ruangan 2000 m2 luas lantai. c.3. Pemasangan alat pengindera nyala api mengikuti persyaratan sebagai berikut : c.3.1. Untuk setiap kelompok sistem harus dibatasi maksimum 20 buah alat pengindera nyala api yang dapat melindungi ruangan. c.3.2. Untuk yang dipasang di luar ruangan (udara terbuka), maka alat pengindera harus terbuat dari bahan yang tahan karat, tahan pengaruh angin dan getaran. c.3.3. Untuk pemasangan pada daerah yang sering mengalami sambaran petir, harus dilindungi sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan alarm palsu. Pasal 19 ALAT PEMADAM API RINGAN ( PAR )

(1) Alat pemadam api ringan ( PAR ) dibagi dalam jenis-jenis didasarkan atas golongan kebakaran tertentu yang dapat dipadamkannya. Contoh : PAR Jenis A digunakan untuk pemadaman kebakaran golongan A. Lihat Tabel V.3.

(2) Penggolongan kebakaran ke dalam golongan A, B, C, dan D didasarkan atas macam bahan yang mula-mula terbakar pada saat awal terjadinya kebakaran. Kebakaran golongan A adalah kebakaran bahan padat Kebakaran golongan B adalah kebakaran bahan cair atau kecuali logam gas

Kebakaran golongan C adalah kebakaran instalasi listrik bertegangan Kebakaran golongan D adalah kebakaran logam.

(3) Persyaratan Teknis PAR Untuk semua jenis PAR yang biasanya dikemas dalam bentuk tabung harus memenuhi syarat : a. Tabung harus dalam keadaan baik b. Etiket harus mudah dibaca dengan jelas dan dimengerti c. Sebelum dipakai segel harus dalam keadaan baik d. Slang harus tahan tekanan tinggi e. Bahan baku pemadam selalu dalam keadaan baik f. Isi tabung gas sesuai dengan tekanan yang dipergunakan g. Belum lewat batas masa berlakunya h. Warna tabung harus mudah dilihat (hijau, merah, biru, kuning) (4) Pemasangan dan penempatan Untuk pemasangan dan penempatan PAR harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. Setiap PAR harus dipasang pada posisi yang mudah dilihat, dicapai, diambil, serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan sesuai dengan gambar V.2 dan V.3. b. Pemasangan PAR harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran. c. Setiap PAR harus dipasang menggantung pada dinding dengan penguatan sengkang atau dalam lemari kaca, dan dapat dipergunakan dengan mudah pada saat diperlukan.

d. Pemasangan PAR dilakukan sedemikian rupa sehingga bagian paling atas berada pada ketinggian 1,2 m dari permukaan lantai, terkecuali untuk jenis CO2 dan bubuk kimia kering yang penempatannya minimum 15 cm dari permukaan lantai. e. PAR tidak boleh dipasang di dalam ruangan yang mempunyai suhu lebih dari 49 C dan di bawah 4 C. f. Penempatan PAR juga didasarkan kepada kemampuan jangkuan serta jenis bangunan sesuai dengan Tabel V.2.

(5) Pemakaian Pemakaian PAR harus disesuaikan dengan jenis PAR dan golongan kebakaran sesuai dengan Tabel V.3. KOLOM KOTAK KOLOM BULAT

Gambar V.1 Tanda tempat pemasangan alat pemadam api ringan yang dipasang pada kolom Catatan : 1. Tanda tempat pemasangan diberi warna merah 2. Lebar ban pada kolom 20 cm Tabel V.2 Penempatan PAR Berat Minimum 2 kg 2 kg 2 kg 2 kg 2 kg 2 kg luas Jangkauan 150 m2 100 m2 250 m2 100 m2 135 m2 100 m2 Jarak Maksimum 15 m 20 m 25 m 20 m 25 m 20 m

Jenis Banguna Industri Umum Perumahan Campuran Parkir Bangunan Tinggi Lebih dari 14 m

35 CM
ALAT PEMADAM API

3 Cm

7,5 Cm
Gambar V.2. Tanda tempat pemasangan alat pemadam api ringan yang dipasang pada dinding. Catatan : 1. Segi tiga sama sisi dengan warna dasar merah 2. Ukuran sisi 35 cm 3. Tinggi tanda pada 7,50 cm, warna putih. 4. Ruang tulisan, tinggi 3 cm warna putih 5. Tulisan warna merah.

Pasal 20 HIDRAN KEBAKARAN (1) Berdasarkan lokasi penempatan jenis hidran kebakaran dibagi menjadi : a. Hidran gedung b. Hidran halaman. (2) Komponen Hidran Kebakaran terdiri dari : a. b. c. d. e. Sumber persediaan air Pompa-pompa kebakaran Slang kebakaran Kopling penyambung Perlengkapan lain-lain.

(3) Persyaratan Teknis Untuk hIdran kebakaran diperlukan persyaratan-persyaratan teknis sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tersebut dibawah ini : a. Sumber persediaan air untuk hidran kebakaran harus diperhitungkan minimum untuk pemakaian selama 30 menit. b. Pompa kebakaran dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai aliran listrik tersendiri dari sumber daya listrik darurat. c. Slang kebakaran dengan diameter maksimum 1 inci harus terbuat dari bahan yang tahan panas, panjang maksimum slang harus 30 m.

d. Harus disediakan kopling penyambung yang sama dengan kopling dari Unit Pemadam Kebakaran. e. Semua peralatan hidran kebakaran harus di cat merah. (4) Pemasangan Hidran Kebakaran a. Pipa pemancar harus sudah terpasang pada slang kebakaran b. Hidran gedung yang menggunakan pipa tegak 6 inci (15 cm) harus dilengkapi dengan kopling pengeluaran yang berdiameter 2,5 inci ( 6,25 cm ), dengan bentuk dan ukuran yang sama dengan kopling dari unit pemadam kebakaran, dan ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai oleh unit pemadam kebakaran. c. Hidran halaman, harus disambung dengan pipa induk dengan ukuran diameternya minimum 6 inci ( 15 cm ) mampu mengalirkan air 250 gallon/menit atau 1.125 liter/menit untuk setiap kopling. Penempatan hidran halaman tersebut harus mudah dicapai oleh mobil unit kebakaran.

d. Hidran halaman yang mempunyai 2 kopling pengeluaran harus menggunakan katup pembuka yang diameter minimum 4 inci ( 10 cm ), dan yang mempunyai 3 kopling pengeluaran harus menggunakan pembuka berdiameter 6 inci ( 15 cm ). e. Kotak hidran gedung harus mudah dibuka, dilihat, dijangkau dan tidak terhalang oleh benda lain.

(5) Pemakaian Hidran Kebakaran a. Pemakaian hidran kebakaran harus disesuaikan dengan klasifikasi bangunan gedung seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel V.4. Pemakaian hidran berdasarkan klasifikasi bangunan


Klasifikasi Bangunan RUANG TERTUTUP Jumlah Per Luas Lantai 800 M2 1000 M2 1000 M2 RUANG TERTUTUP DENGAN RUANG TERPISAH Jumlah Minimum Luas Pertotal Lantai 2 buah 2 buah 2 buah Per Per Per 800 M2 800 M2 1000 M2

A B C D

1 buah 1 buah 1 buah

Per Per Per

Ditentukan tersendiri

Ditentukan tersendiri

b. Untuk bangunan kelas A yang bertingkat, setiap lantai harus mempunyai minimum sebuah hidran kebakaran.

Pasal 21 SPRI NKLER (1) Sistem Sprinkler terdiri dari : a. Penyediaan air b. Jaringan pipa air sprinkler c. Kepala sprinkler

d. Alat bantu lainnya. (2) Sistem penyediaan air Penyediaan air sprinkler dapat diusahakan melalui : a. Tangki Gravitasi Tangki tersebut harus direncanakan dengan baik yaitu dengan mengatur perletakan, ketinggian, kapasitas penampungannya sehingga dapat menghasilkan aliran dan tekanan air yang cukup pada setiap kepala sprinkler. b. Tangki Bertekanan Tangki tersebut harus direncanakan dengan baik yaitu dengan memberikan alat deteksi yang dapat memberikan tanda apabila tekanan dan atau tinggi muka air dalam tangki turun melampaui batas yang ditentukan. Isi tangi harus selalu terisi minimum 2/3 bagian dan kemudian diberi tekanan sekurang-kurangnya 5 kg/cm2. c. Jaringan Air Bersih Jaringan air bersih dapat digunakan apabila kapasitas dan tekanannya memenuhi syarat yang ditentukan. Diameter pipa air bersih yang dihubungkan dengan pipa tegak sprinkler harus berdiameter sama, dengan ukuran minimum 100 mm. Pipa yang menuju kejaringan air bersih harus sama dengan pipa sprinkler atau dengan ukuran pipa minimum 100 mm. d. Tangki Mobil Kebakaran Bila tangki gravitasi, tangki bertekanan dan jaringan air bersih tidak berfungsi dengan normal, dapat dipompakan air dari tangki mobil Unit Pemadam Kebakaran dengan ukuran pipa minimum 100 mm.

(3) Jaringan pipa sprinkler Jenis pipa yang dapat digunakan adalah : a. Pipa baja b. Pipa baja galvanis c. Pipa besi tuang dengan flens

d. Pipa tembaga Pipa-pipa tersebut harus memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) (4) Kepala Sprinkler Kepala sprinkler adalah bagian dari sprinkler yang berada pada ujung jaringan pipa dan diletakkan sedemikian rupa sehingga akibat adanya perubahan suhu tertentu akan memecahkan kepala sprinkler tersebut dan akan memancarkan air secara otomatis. 5) Jenis kepala sprinkler Jenis kepala sprinkler dibedakan atas arah pancarannya dan tingkat kepekaannya terhadap suhu. a. Berdasarkan arah pancarannya, kepala sprinkler dibedakan atas : a.1. a.2. a.3. Pancaran kearah atas Pancaran kearah bawah Pancaran dari arah dinding.

b. Berdasarkan kepakaannya terhadap suhu, kepala sprinkler dapat dibedakan atas : b.1. b.2. Kepala sprinkler dengan segel berwarna Kepala sprinkler dengan tabung gelas berisi cairan berwarna.

Tingkat kepekaan kepala sprinkler tersebut ditandai dengan pemberian warna tertentu baik pada segel maupun pada cairan yang terdapat di dalam tabung gelas. (lihat Tabel V.5 dan V.6.). Tabel V.5 Kepekaan kepala sprinkler sesuai dengan warna segel

Suhu lebur segel ( C )

Warna segel

64 - 74 93 - 100 141 182 224

Tak berwarna Putih Biru Kuning Merah

Dibedakan dari warna tabung gelas dari kepala sprinkler.

(6) Pemilihan jenis kepala sprinkler Pemilihan jenis kepala sprinkler yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi termal ruangan dimana sprinkler dipasang. (Lihat Tabel V.5 dan V.6).

Tabel V.6 Kepekaan kepala sprinkler sesuai dengan warna tabung gelas

Suhu pecah tabung gelas ( C)

Warna cairan dalam gelas

57 68 79 93 141 182 204 - 260

Jingga Merah Kuning Hijau Biru Ungu Hitam

(7) Pemakaian a. Untuk bangunan kelas A mulai dari lantai 4 (empat) ke atas atau ketinggian 14 m pertama harus memakai sprinkler. b. Untuk bangunan kelas B mulai dari lantai 8 (delapan) ke atas atau ketinggian 40 m ke atas harus memakai sprinkler. c. Dalam hal unit Pemadam Kebakaran setempat belum memiliki tangga pemadaman setinggi 40 m, maka ketentuan mulai dipakainya instalasi sprinkler harus disesuaikan dengan tinggi tangga maksimum unit pemadam kebakaran yang dimiliki daerah tersebut.

(8) Pedoman teknis pelaksanaan pemasangan dan penempatan sprinkler otomatis harus mengikuti Pedoman Penanggulangan Bahaya Kebakaran dengan Sprinkler Otomatis yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Pasal 22 PIPA PENINGKATAN AIR (1) Untuk bangunan Klas A mulai dengan ketinggian 14 m (empat lantai) ke atas dan bangunan Klas B mulai dengan ketinggian mulai 40 m (delapan lantai) ke atas, harus diperhitungkan kemungkinan dipasangnya instalasi pipa peningkatan air. (2) Pipa peningkatan air kering hanya boleh dipasang pada bangunan gedung dengan ketinggian maksimum 60 m, dan di atas ketinggian 60 m harus menggunakan pipa peningkatan air basah. (3) Pemasangan pipa peningkatan air harus memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut : a. Untuk setiap lantai dengan luas 800 m2 untuk bangunan Klas A dan 1000 m2 untuk bangunan Klas B, harus terdapat minimum 1 (satu) buah pipa peningkatan air. b. Pipa peningkatan air harus dipasang sedemikian hingga jarak dari tiap bagian ditiap bagian di tiap lantai ke pipa peningkatan air tidak melebihi 38 m. c. Ujung pipa tegak yang berada di halaman luar, harus mudah dilihat dan dicapai, dengan memberi tanda yang jelas misalnya PIPA PENINGKATAN AIR KERING (DRY RISER) atau PIPA PENINGKATAN AIR BASAH (WET RISER).

d. Ketinggian ujung bawah pipa peningkatan air atau ujung pipa peningkatan air yang berada di halaman, lebih kurang 1,25 m di atas halaman dan harus dilengkapi dengan kopling penyambung yang sesuai dengan kopling dari Unit Pemadam Kebakaran.

Pasal 23 SUMBER DAYA LISTRIK DARURAT (1) Sumber daya listrik dapat diperoleh dari : a. Sumber Utama dari PLN b. Sumber darurat (2) Ketentuan mengenai peralatan dan pemasangan instalasi daya listrik harus mengikuti ketentuan seperti yang tercantum pada Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL). (3) Sumber daya listrik darurat dapat berupa : a. Batere b. Generator c. Dan lain-lain.

(4) Sumber daya listrik darurat harus direncanakan dapat bekerja secara otomatis apabila sumber daya utama tidak bekerja. (5) Sumber daya listrik darurat harus dapat dipergunakan setiap saat (Stand by Power). (6) Sumber daya listrik darurat harus digunakan untuk : a. Penerangan darurat b. Komunikasi darurat c. Lif Kebakaran

d. Sprinkler e. Alarm Kebakaran f. Pintu Tahan Api Otomatis

g. Pengisap asap h. Hidran. Pasal 24 PENANGKAL PETIR (1) Untuk melindungi bangunan gedung terhadap kebakaran yang berasal dari sambaran Petir, maka pada bangunan gedung khususnya Klas A dan B harus dipasang penangkal petir. (2) Ketentuan mengenai peralatan dan pemasangan instalasi penangkal petir harus mengikuti ketentuan seperti yang tercantum pada Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP).

BAB VI. UPAYA PENYELAMATAN Pasal 25 PENGERTIAN (1) Upaya penyelamatan dalam ketentuan ini bertujuan agar para penghuni atau pemakai bangunan mudah menyelamatkan diri atau diselamatkan ketempat yang aman pada saat terjadi kebakaran. (2) Sarana dan perlengkapan ke luar (evakuasi) pada bangunan harus mudah dan jelas dilihat dan atau dicapai oleh penghuni atau pemakai bangunan pada saat terjadi kebakaran. (3) Sarana dan Perlengkapan ke luar terdiri dari : a. Tangga kebakaran b. Koridor c. Pintu kebakaran

d. Bukaan penyelamat e. Lif kebakaran f. Penerangan darurat

g. Komunikasi darurat h. Sistem pengendalian asap i. j. Landasan helikopter Peralatan pembantu lainnya.

Pasal 26 TANGGA KEBAKARAN llihat BAB II Pasal 4 ayat (4)

Pasal 27 KORIDOR Lihat BAB II Pasal 4 ayat (3)

Pasal 28 PINTU KEBAKARAN Lihat BAB II Pasal 4 ayat (5)

Pasal 29 BUKAAN PENYELAMAT Lihat BAB II Pasal 4 ayat (2) d

PASAL 30

LIF KEBAKARAN (1) Untuk bangunan gedung yang menggunakan lif, harus menyediakan minimum sebuah lif yang dapat digunakan oleh Unit Pemadam Kebakaran. (2) Pintu penutup sumur lif maupun pintu kereta lif harus tahan api, tidak kurang dari 1 jam. (3) Dinding sumur lif harus tahan api tidak kurang dari 2 jam dan terpisah dari unit lainnya. (4) Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai, dengan pintu yang harus dapat dilalui usungan (brand car) secara datar yang berukuran 2,05 m x 0,7 m. (5) Sumur lift harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada asap yang terperangkap bila terjadi kebakaran. (6) Sumber daya listrik untuk lif kebakaran direncanakan dari dua sumber yang berbeda, sehingga secara otomatis aliran listrik dapat dipindahkan bila terjadi kebakaran dan aliran listrik tersebut berdiri sendiri. Pasal 31 PENERANGAN DARURAT DAN TANDA PETUNJUK ARAH KELUAR (1) Bangunan Gedung Kelas A dan B harus dilengkapi dengan penerangan darurat dan tanda penunjuk arah ke luar. (2) Jalan ke luar menuju ruang tangga, balkon atau teras, dan pintu menuju tangga, harus diberi tanda KE LUAR/EXIT yang jelas, atau dengan panah penujuk arah yang ditempatkan pada persimpangan jalan dan atau jalan ke luar yang dianggap perlu. (3) Penerangan darurat yang berbentuk lampu penerangan tanda KE LUAR/EXIT dan anak panah, harus mendapat aliran listrik dari dua sumber yang berbeda, sehingga apabila aliran utama tidak berfungsi atau terputus, maka penerangan darurat akan segera berfungsi dengan memperoleh aliran dari sumber cadangan secara otomatis. Pasal 32 KOMUNIKASI DARURAT (1) Sistem komunikasi darurat terdiri dari sistem tilpon dan sistem tata suara. (2) Sistem tilpon harus direncanakan sedemikian rupa , sehingga bila terjadi kebakaran masih dapat bekerja minimum 1 (satu) buah pada tiap-tiap lantai dan 1 (satu) buah pada lif kebakaran. (3) Sistem tata suara yang terpusat harus direncanakan agar dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan istruksi bila terjadi kebakaran pada tingkat awal.

Pasal 33 PENGENDALIAN ASAP (1) Bagian-bagian ruangan pada bangunan yang digunakan untuk jalur penyelamatan harus direncanakan bebas dari asap, bila terjadi kebakaran, melalui sistem pengendalian asap. (2) Ruang bawah tanah, ruang tertutup, tangga kebakaran, dan atau ruang-ruang yang diperkirakan asap akan terperangkap, harus direncanakan bebas asap dengan menggunakan ventilasi mekanis, yang akan bekerja secara otomatis bila terjadi kebakaran. (3) Peralatan ventilasi mekanis, maupun peralatan lainnya yang bekerja secara terpusat harus dapat dikendalikan baik secara otomatis maupun manual dari ruang sentral.

Pasal 34 LINDASAN HELIKOPTER Untuk jenis bangunan gedung Klas A yang melebihi 8 tingkat, perlu diperhitungkan kemungkinan diadakannya landasan helikopter guna penyelamatan penghuni pada saat terjadi kebakaran. Pasal 35 PERALATAN PEMBANTU LAINNYA (1) Setiap bangunan gedung yang lebih dari 8 tingkat harus menyediakan peralatan pembantu penyelamatan seperti tangga, peralatan peluncur dan peralatan lainnya yang dapat digunakan untuk penyelamatan darurat.

BAB VII LAIN - LAIN Pasal 36 PERLINDUNGAN TERHADAP RUANG DALAM BANGUNAN YANG MENGANDUNG POTENSI KEBAKARAN Ruang atau daerah dalam bangunan umum yang digunakan untuk penempatan boiler, generator, gardu listrik, dapur utama, ruang mesin, tabung gas, dan ruang atau daerah lainnya yang mempunyai potensi kebakaran, harus ditempatkan terpisah atau bila ditempatkan pada bangunan utama, harus dibatasi oleh dinding atau lantai kompartemen yang nilai ketahanan apinya minimal 3 (tiga) jam, Pada dinding atau lantai kompartemen tersebut harus tidak terdapat lubang terbuka, kecuali untuk bukaan yang dilindungi.

Pasal 37 MANAJEMEN SISTEM PENGAMANAN KEBAKARAN (1) Manajemen sistem pengamanan kebakaran adalah suatu sistem pengelolaan untuk mengamankan penghuni, pemakai bangunan, maupun harta benda di dalam dan di lingkungan bangunan tersebut terhadap bahaya kebakaran. (2) Untuk bangunan tempat tinggal yang mempunyai kapasitas lebih dari 50 penghuni dan untuk bangunan umum seperti theater, pertokoan, tempat ibadah dan lain-lain, yang mempunyai kapasitas lebih dari 30 orang, harus memiliki dan melaksanakan manajemen sistem pengamanan kebakaran. (3) Manajemen sistem kebakaran berada di bawah koordinasi seorang penanggung jawab yang akan mengelola tugas-tugas sebagai berikut : a. Penyusunan rencana strategi sistem pengamanan kebakaran. b. Pengadaan latihan pemadaman kebakaran secara periodik, minimum sekali setahun. c. Pemeriksaan dan pemeliharaan perangkat pencegahan dan penanggulangan kebakaran. d. Pemeriksaan secara berkala ruang-ruang yang menyimpan bahan-bahan yang mudah terbakar atau yang mudah meledak, minimum setahun sekali. e. Evakuasi penghuni atau pemakai bangunan pada waktu terjadi kebakaran.

Pasal 38 PEMERIKSAAN BERKALA Perangkat pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang dipasang pada bangunan gedung dan lingkungannya seperti tersebut pada Pasal 17 ayat (2), harus diperiksa secara berkala oleh petugas yang berwenang untuk menjamin keandalan masing-masing peralatan tersebut agar dapat berfungsi secara efektif setiap saat. Pasal 39 SERTIFIKAT LAYAK PAKAI Hasil pemeriksaan berkala seperti tercantum pada Pasal 37, menentukan diperolehnya sertifikat layak pakai untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Pasal 40 BEBAS BENDA-BENDA PENGHALANG (1) Perangkat pencegahan dan penanggulangan kebakaran seperti yang tersebut pada Pasal 17 ayat (2), harus bebas dari benda-benda yang dapat menghalangi berfungsinya peralatan tersebut. (2) Jalur penyelamatan dan sarana yang digunakan pada penyelamatan penghuni dan atau pemakai bangunan terhadap bahaya kebakaran seperti koridor, dan ruang-ruang sirkulasi lainnya, pintu kebakaran, dan tangga kebakaran harus bebas dari benda-benda yang menghalangi fungsi jalur penyelamatan tersebut pada saat terjadi kebakaran. (3) Tanda-tanda penunjuk serta lampu tanda harus selalu dalam kondisi yang baik, senantiasa dalam keadaan siaga atau menyala, dapat dilihat dan dibaca serta harus bebas dari benda-benda penghalang.

Pasal 41 LATIHAN KEBAKARAN PADA BANGUNAN UMUM Bangunan umum seperti pertokoan dan pasar-raya serta bangunan lainnya yang digunakan oleh banyak orang, harus mengadakan latihan kebakaran sekurang-kurangnya sekali setahun, untuk menjamin kesiagaan petugas pengamanan bangunan dan pemakai/penghuni bila terjadi kebakaran.
DAFTAR ISTILAH 1. Alat pengindera asap, atau smoke detector (bhs. Inggris) adalah suatu alat yang dapat memberikan reaksi mekanis bilamana terdapat asap pada tingkat kepakaan tertentu.

2.

Bahan lapis penutup, atau disebut pula interior finishing material (bhs. Inggeris) adalah bahan yang digunakan sebagai lapisan bagian dalam bangunan seperti plesteran, pelapis dinding, panel kayu dan lain-lain. Bangunan umum adalah bangunan gedung yang digunakan untuk segala macam kegiatan kerja antara lain untuk : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pertemuan umum Perkantoran Hotel Pasar-raya Tempat rekreasi/hiburan Rumah sakit/perawatan Museum

3.

4.

Bukaan penyelamat adalah bukaan/lubang yang dapat dibuka atau opening (bhs. Inggeris) yang terdapat pada dinding bangunan terluar, bertanda khusus, menghadap ke arah luar dan diperuntukkan bagi unit pemadam kebakaran dalam pelaksanaan pemadaman kebakaran dan penyelamatan penghuni.

5.

Eskalator, asal kata escalator (bhs. Inggeris), sering dikenal sebagai tangga berjalan adalah suatu sistem transportasi dalam bangunan gedung yang mengangkut penumpangnya dari satu tempat ke tempat lain, dengan gerakan terus menerus dan tetap, ke arah horisontal atau kearah diagonal. H i d r a n, asal kata hydrant (bhs. Inggeris) adalah alat yang dilengkapi dengan slang gulung (hose-reel) dan mulut pancar (nozzle) untuk mengalirkan air bertekanan, yang digunakan bagi keperluan pemadaman kebakaran. Kereta lift adalah ruangan atau tempat yang ada pada sistem lif, di dalam mana penumpang berada dan atau diangkut. Kgf, singkatan dari kilogram force atau kilogram gaya. Lantai monolit adalah lantai beton yang dicor setempat yang merupakan satu kesatuan yang utuh.

6.

7. 8. 9.

10. Lapisan pelindung adalah lapisan khusus yang digunakan untuk meningkatkan ketahanan api suatu komponen struktur. 11. L i f , asal kata lift (bhs. Inggeris) adalah suatu sarana transportasi dalam bangunan gedung, yang mengangkut penumpangnya di dalam kereta lif, yang bergerak naik-turun secara vertikal. 12. Penutup beton, atau beton dekking (bhs. Belanda) adalah bagian dari struktur beton yang berfungsi melindungi tulangan agar tahan terhadap korosi dan api. 13. Plambing, asal kata plumbing (bhs. Inggeris) adalah instalasi/kelengkapan dalam bangunan yang berupa sistem pemipaan baik pemipaan untuk pengaliran air bersih, air kotor dan drainase, serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan pemipaan. 14. PVC, singkatan dari Plyvinyl Chloride, sejenis plastik thermosetting. 15. Sprinkler atau springkler, adalah alat pemancar air untuk pemadaman kebakaran yang mempunyai tudung berbentuk deflektor pada ujung mulut pancarnya, sehingga air dapat memancar ke semua arah secara merata. Dalam pertanian ada juga jenis sprinkler yang digunakan untuk penyiram tanaman. 16. Sumur lif, adalah suatu ruang berbentuk lubang vertikal di dalam bangunan, di mana di dalam lubang tersebut lif bersikulasi naik-turun.