Anda di halaman 1dari 53

laporan ekologi alelopati fenti

Kompetisi Kompetisi merupakan persaingan terhadap antar makhluk hidup. Persaingan sendiri akan dapat menghasilkan pemenang, pemenang itu pun yang dapat meneruskan kelangsungan hidupnya. Kompetisi sering terjadi pada plantae yang mana bersaing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas . kompetisi terbagi dua macam yaitu kompetisi interspesifik dan intraspesifik. Kompetisi interspesifik sering terjadi ketika spesies barsaing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Sebagai contoh, pertumbuhan rumput pada taman berkompetisi dengan tumbuhan-tumbuhan taman dalam memperebutkan mutrien tanah dan air. Sebaliknya, pada beberapa sumber daya ini meskipun oksigen, jarang terjdi kompetisi dalam penggunaan sumber daya ini meskipun semua tumbuhan ini memerlukannya. Kompetisi intraspesifik terjadinya persaingan antar spesies yang sama untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Ketika dua spesies yang sama berkompetisi atau antar tumbuhan lain berkompetisi untuk suatu sumber daya, hasilnya adalah merugikan satu atau kedua spesies tersebut. Kacang hijau dan jagung merupakan jenis tumbuhan dengan habitat yang berbeda. Akan tetapi, jika keduanya ditanam pada satu media bukan tidak mungkin akan terjadi suatu interaksi. Interaksi tersebut tentu saja berupa kompetisi dimana keduanya tidak hanya memperebutkan tempat tumbuh, tetapi juga saling memperebutkan unsur hara, air dan cahaya matahari untuk berfotosintesis. Hal ini berarti terjadi tumpang tindih relung ekologi antara kacang hijau dan jagung. Tumpang tindihnya relung ekologi antara kacang hijau dan Jagung akan mempengaruhi pertumbuhan dan daya hidup keduanya. Oleh karena itulah percobaan ini dilakukan sehingga dapat diketahui pengaruh kompetisi terhadap pertumbuhan kacang hijau (Phaseolus radiates) dan jagung (Zea mays). Allelopati Allelopati merupakan interksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksin. Pada mikroorganisme istilah allelopati dikenal sebagai anabiosa atau antibiotisme. Contoh, jamur Penicillium sp. Faktor-faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons tanaman sebagai akibat faktor lingkungan akan terlihat pada penampilan tanaman.

Tumbuhan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, disini terlihat bahwa tumbuhan saling

mempengaruhi dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh disekitar ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak disukainya, yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat bagi jenis tertentu. Untuk mengetahui lebih jelas kompetisi antar tumbuhan dan pengaruh alelopati terhadap tumbuhan maka dilaksanakan praktikum kompetisi dan alelopati. 1.2 Tujuan Praktikum Praktikum ini dilaksanakan agar mahasiawa dapat memahami : 1. Kompetisi intraspesifik yang terjadi pada tumbuhan Zea mays. 2. Kompetisi intraspesifik pada Phaseolus radiates. 3. Kompetisi intraspesifik antar dua tumbuhan yaitu Zea mays dan Phaseolus radiates. 4. Pengaruh allelopati terhadap tumbuhan Zea mays. Kompetisi Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumber daya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002) kompetisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005). Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton,1990). Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan

suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif (competitive exclusion principles). Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua, yaitu kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau (exploitative competition), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain. Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu : 1 Jenis tanaman Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki sistem perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsure hara. 2 Kepadatan tumbuhan Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman. 3 Penyebaran tanaman Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan rimpang. 4 Waktu Lamanya periode tanaman sejenis hidup bersama dapat memberikan tanggapan tertentu yang mempengaruhi kegiatan fisiologis tanaman. Periode 25-30 % pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh kompetisi. Allelopati Konsep yang menyatakan bahwa suatu tanaman dapat menimbulkan pengaruh buruk atau keracunan atau hambatan pada tanaman dikenal dengan allelopati. Allelopati ini ditemukan oleh Candolle sejak tahun 1832. Setelah itu menyusul ahli-ahli seperti Pickering,

pada tahun 1917, Molisch pada tahun 1937, Bonner pada tahun 1950, Grummer pada tahun 1957, Evenari pada tahun 1949 dan lain-lainnya (Tukey,1969). Molisch mengartikan allelopati sebagai interaksi antara tanaman yang ditimbulkan oleh hasil metabolism tanaman. Muller mengemukakan bahwa allelopati adalah pengaruh buruk atau merusak yang ditimbulkan oleh dapa satu tanaman pada tanaman lain melalui prodiksi senyawa-senyawa kimia penghambat yang lepas ke lingkungan hidup tanaman itu. Sedangkan Moral dab Gates menyatakan bahwa allelopati hambatan pada perkecambahan, pertumbuhan atau pada metabolisme suatu tanaman yang disebabkan pelepasan senyawasenyawa organik oleh tumbuhan lain. Rice berpendapat bahwa allelopati adalah setiap pengaruh yang merugikan, langsung ataupun tidak langsung dari suatu tanaman terhadap tanaman lain melalui produksi senyawa-senyawa kimia yang dilepas dan dibebaskan ke lingkungan hidup tanaman itu. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persaingan itu merupakan pemindahan atau pengurangan satu atau beberapa faktor lingkungan seperti air, hara lingkungan, dan cahaya yang diperlikan suatu tanamanoleh tanaman lain, sedangkan allelopati merupakan pengaruh merugikanyang disebabkan oleh senyawa-senyawa kimia. Menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Mekanisme allelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antar tumbuhan, antar mikroorganisme atau antar tumbuhan dan mikroorganisme (Einhellig, 1995a).

Secara umum, allelopati selalu dikaitkan dengan maslah gangguan yang ditimbulkan gulma yang tumbuh dersama-sama dengan tanaman pangan, dengan keracunan yang ditimbulkan akibat penggunaan mulsa pada beberapa jenis pertanaman, dengan beberapa jenis rotasi tanaman dan pada regenarasi hutan. Kuantitas dan kualitas senyawa allelopati yang dikeluarkan gulma antara lain di pengaruhi kerapatan gulma, macam gulma saat kemunculan gulma, lama keberadaan gulma habitus gulma, kecepatan tumbuh gulma dan jalur fotosintesis gulma (c3 dan c4).

Senyawa allelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan. Beberapa allelopati menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan dan pertumbuhan tanaman yaitu dengan mempengaruhipembesaran sel tanaman. Beberapa senyawa allelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar dan menghambat sintesis protein dan dapat menurunkan daya permeabilitas membrane pada sel tumbuhan. Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi allelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar rizoma, umbi, bunga, buah dan biji.

Senyawa-senyawa allelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui penguapan, eksudat akar, pencucian dan pembusukan organ tumbuhan. Selain itu dapat dijelaskan bahwa terbentuknya allelopati terdapt beberapa proses yaitu :

Penguapan : Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.

Eksudat akar : Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.

Pencucian : Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.

Pembusukan organ tumbuhan: Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagianbagian organ yang mati akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya. Selain melalui cara-cara di atas, pada tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah (Anonim a, Tanpa Tahun). Bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan unsur hara, penghambatan pembelahan sel, pertumbuhan, proses fotosintesis, proses respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang lain Rohman (2001). Pengaruh alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut :

Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.

Beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.

Beberapa alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan.

Beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar.

Senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein. 3.1 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain skop, garpu tanah, polybag 17 x 25 cm, penggaris. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain biji jagung, biji kacang hijau, dan tanah gembur. Penelitian dilaksanakan selama 3 mingu dari penanaman bibit. Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 26 Maret 2012, pada pikil 13.00 wib di laboraturium biologi 2 IAIN Lampung. 3.2 Cara Kerja 3.2.1 Percobaan kompetisi inter dan intraspesifik 1. Memasukkan tanah gembur tanpa pupuk ke dalam polibag sebanyak 2/3 dari volume polibag. Menanam benih Zea mays dan Phaseolus radiates dalam polibag yang telah tersedia, baik secara terpisah maupun bersama, sesuai dengan pola kerapatan pada gambar 1. 2. Praktikan menanam pada polibag dengan kode J, sesuai dengan pola pada gambar 1. Demikian pula, praktikan menanam dengan kode K dengan susunan pada gambar 1. 3. Perlakuan terhadap pola JK, mengikuti pola pada gambar 1C. setelah itu memberikan lebel terhadap polibag sesuai dengan pola tanam yang telah dilaksanakan. Meletakkan polibag pada pinggir ruangan agar dapat terkena cahaya matahari. Dan member perlakuan penyiraman secara bertahap. 4. Pengamatan dilaksanakan selama 3-5 minggu dan menjadi data kelas, data yang dicatat berupa tinggi tanaman pada masing-masing spesies. 3.2.2 Analisis hasil percobaan pengaruh alelopati 1. Pengamatan dilaksanakan setiap minggu, dengan penyiraman menggunakan ekstra akar alang-alang secara periodik. Melakukan pengamatan pengaruh pemberian alelopati pada pertumbuhan Zea mays pada perlakuan 1D. 2. Pengamatan dilaksanakan 3-5 minggu, dengan data kelas menjadi hasil pengamatan. Dengan mendata pengaruh alelopati terhadap masing-masing tanaman. Gambar 1. Percobaan kompetisi intraspesifik pada Zea mays Kode perlakuan J-1 J-2 J-4 J-8 Jumlah Lubang 1 2 4 8 Pola penanaman J J J J J J J J J J J J J J

J Gambar 1B. Percobaan kompetisi intaspesifik pada Phaseolus radiantus Kode perlakuan K-1 K-2 K-4 K-8 Jumlah Lubang 1 2 4 8 Pola penanaman K K K K K K K K K K K K K K K

Gambar 1C. Percobaan kompetisi intaspesifik Zea mays dan Phaseolus radiantus Kode perlakuan JK-1 JK-2 JK-4 Jumlah Lubang J 1 2 4 Jumlah Lubang K 1 2 4 Pola penanaman J K J K K J J J K J K J K K

Gambar 1D. Percobaan pengaruh alelopati terhadap Zea mays Kode perlakuan A-1 A-2 A-4 A-8 Jumlah Lubang 1 2 4 8 Pola penanaman J J J J J J J J J J J J J J J

4.1 Hasil Pengamatan Tabel Pengamatan

Lama

Jagung

Kacang Hijau

Jagung-Kacang

Alelopati

Pertumbuhan

(Zea mays)

(Phaseolus radiantus)

Hijau (J K) 10 cm 7 cm 15 cm 10 cm 15 cm 17 cm 25 cm 15 cm 25 cm 20 cm 29 cm 26 cm 34 cm 31 cm 36 cm 41 cm 37 cm 38,5 cm -

Zea mays

Minggu 1

1 2 4 8

17 cm 20,5 cm 21 cm 26 cm 35 cm 40 cm 34 cm 42 cm 48 cm

14,5cm 16 cm 23 cm 20 cm 28 cm 25 cm 37 cm 30 cm 39 cm 37 cm 46 cm 41 cm

6 cm 9 cm 19,5 cm 21 cm 27 cm 29 cm

Minggu 2

1 2 3 4

Minggu 3

1 2 3 4

4.2 Pembahasan Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 1 kali seminggu. Data yang didapat dicatat dan disusun berdasarkan per minggu hingga waktu panen tiba yaitu setelah sekitar satu bulan. Pada saat panen dilakukan pengukuran faktor fisik akhir seperti yang dilakukan di awal. Tanaman yang dipanen dipisahkan setiap plot dan setiap jenisnya kemudian di ukur tinggi tanaman. Analisis data terhadap faktor fisik dilakukan dengan melakukan pengukuran faktor fisik sebelum tanam dan setelah panen dengan menggunakan alat ukur yaitu penggaris. Data yang di tulis dalam bentuk tabel berasal dari hasil pengukuran pertambahan tinggi tanaman selama kurang lebih 4 minggu. Kecepatan perkecambahan biji tumbuhan dan pertumbuhan anakan (seedling) merupakan suatu faktor yang menentukan kemampuan spesies tumbuhan tertentu untuk menghadapi dan menaggulangi persaingan yang terjadi. Apabila suatu tanaman berkecambah terlebih dahulu di banding suatu tanaman yang lain maka tanaman yang tumbuh lebih dahulu dapat menyebar lebih luas sehingga mampu memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara tanah lebih banyak di bandingkan dengan yang lain (Setiadi, 1989). Pada minggu ke dua menunjukan rata-rata tinggi pertumbuhan jagung dan kacanh hijau terlihat bahwa tinggi J1 dan J2 lebih besar atau lebih tinggi dari pada tinggi rata-rata pada J4 dan J8. Hal ini dikarenakan jarak tanam di J4 dan J8 lebih rapat dari pada J1 dan J4, sedangkan polybag tempat ditanamnya jagung memiliki ukuran yang sama antara J1 hingga

J8. Kerapatan penanaman menyebabkan kompetisi yang lebih ketat

antar tanaman

dikarenakan semakin kecil ruang atau plot maka semakin sedikit pembagian unsure hara dan air yang diserap oleh tanaman tersebut. Tinggi tanaman kacang hijau lebih tinggi dibandingkan tinggi tanaman jagung. Persaingan diantara tumbuhan ini secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem ini akan bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan. Dan karena mereka tidak bergerak, maka ruang menjadi faktor penting, di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi menguasai sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembaban serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994). Pada pertumbuhan jagung menggunakan ekstrak alang-alang dapat menghambat pertumbuhan tanaman jagung, terlihat dari pertumbuhan dari pengukuran tiap minggu. Yang di mana ekstrak alang-alang merupakan senyawa beracun yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tumbuhan jagung tersebut mengalami keterhambatan untuk tumbuh dan berkembang dapat terlihat dari tabel pengamatan. Tumbuhan yang telah mati dan sisasisa tumbuhan yang dibenamkan ke dalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan jagung. Alelopati dapat menghambat penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar, pertumbuhan tanaman, fotosintesis, respirasi, sitesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran sel dan menghambat aktivitas enzim. Sedangkan pada tanaman kontrol, tanaman tumbuh normal, baik morfologi daun, panjang akar dan batang berbeda dengan tanaman lainnya yang diberikan perlakuan. Selain dari pada itu, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa orang biologiawan ahli bidang fisiologi tanaman Setyowati dan Yuniarti (1999) mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman jagung dan kedelai yang diberi perlakuan ellelopati ekstrak alang-alang (Imperata cylindrica) dengan perbandingan 1 : 4 umumnya tidak terpengaruh oleh ekstrak ini, bukan hanya dalam hal pertumbuhan tanamannya tetapi juga dalam proses perkecambahannya, hanya saja berpengaruh terhadap pemanjangan akarnya. BAB V KESIMPULAN Dari pelaksanaan praktikum dan pengamatan terhadap tanaman jagung dan kacang hijau selama kurang lebih 21 dapat di ambil kesimpulan : 1. Pertumbuhan tanaman kacang hijau lebih cepat daripada tanaman jagung maka kacang hijau adalah pemenang dalam kompetisi intraspesifik dan interspesifik.

2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan intraspesifik dan interspesifik adalah kepadatan atau jarak tanaman, luas lahan tanam, jenis tanaman, dan waktu lamanya tanaman hidup.

3. Semakin rapat jarak suatu tanaman maka pertumbuhannya akan semakin terhambat karena persaingan mendapatkan sumber daya atau unsur hara dari tanah semakin ketat. 4. Cepat atau lambatnya perkecambahan pada tanaman juga berpengaruh terhadap menangnya suatu tanaman dalam berkompetisi. 5. Terjadinya kompetisi antar tanaman dapat menyebabkan tanaman mati. 6. Perkembangan tumbuhan yang di beri allelopati tergantung pada konsentrasi ekstrak, sumber ekstrak, temperatur ruangan, dan jenis tumbuhan yang dievaluasi serta saat aplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2008. Alelopati [on line]. Tersedia di : http ://iqbalali.com/2008/ 01/ 23 /alelopat i/, diakses pada hari sabtu tanggal 28 april 2012, pikul 13.00 wib. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara: Jakarta. Irwan, Z.D.. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi. Bumi Aksara: Jakarta. Moenandir,J ody.1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Rajawali pers: Jakarta. Tim dosen ekologi.2012. Penuntun Panduan Praktikum Ekologi. IAIN Lampung : Bandar Lampung. Wirakusumah, S. 1003. Dasar-dasar Ekologi bagi populasi dan Komunitas. UI-Press: Jakarta.

BAB I 1.1 Latar Belakang Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan disetiap organ tumbuhan, antara lain terdapat di daun, batang, akar, rhizoma, buah, biji, umbi, serta bagian-bagian tumbuhan yang membusuk. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah golongan fenol.

Persaingan diantara tumbuhan secara tak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Didalam tanah, sistem-sistem akar nersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tidak bergerak, ruang menjadi suatu faktor yang penting, sekresi akar dan daun-daun yang jatuh menambah skretori tanah serta senyawa limbah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain dalam tempat sekitarnya Dalam rangka persaingan hidup, kadang- kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia. Senyaw kimia tersebut dapat menghambat pertumbuhan jenis lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut. Peristiwa semacam ini disebut alelopati 1.2 Tujuan Praktikum Mempelajari pengaruh alelopati / jenis tumbuhan terhadap pertumbuhan tanaman jagung. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Telah banyak referensi yang mencatat tentang spesies yang dapat mengeluarkan alelopati. Spesies-spesies tersebut dalam lingkungannya akan dapat menekan pertumbuhan spesies lain yang lemah akan zat tersebut. Namun demikian pengaruh interaksi gulma atau tanaman budidaya akan adanya alelopati masih belum banyak diteliti (Moenandar, 1988). Alelopati kebanyakan berada pada jaringan tanaman seperti daun, akar, batang, rizoma, bunga, buah maupun biji dan dikeluarkan dengan cara seperti penguapan, eksudasi dari akar, pencucian dan pelapukan residu tanaman. Batang Batang juga dapat mengeluarkan alelopati, meskipun jumlahnya tak sebanyak daun. Namun demikian, batang-batang seperti jerami yang dilapukkan dan mengandung substansi alelopati dapat sebagai sumber terjadinya alelopati. Daun Nampaknya daun merupakan tempat terbesar bagi substansi beracun yang dapat mengganggu tumbuhan tetangganya. Substansi itu pada umumnya tercuci oleh air hujan atau embun yang terbawa kebawah. Jenis substansi yang beracun itu, meliputi asam organik, gula, asam

amino, pektat, asam giberelat, terpenoid, alkaloid, dan fenolat. Sebagai contoh diutarakan daun Chrisantheum (Duke, 1985). Buah Buah sebagai penghasil substansi beracun penghambat pertumbuhan sangat sedikit diperbincangkan, meskipun sebenarnya cukup potensial. Saebagai contoh dapat diutarakan bahwa air buah tomat, air jeruk dan limau berupa penghambat perkecambahan. Buah yang terlampau masak dan jatuh ketanah kemudian terjadi pembusukan akan dapat mengeluarkan substansi beracun dan dapat menghambat pertumbuhan disekitar tempat itu. Bunga dan Biji Dalam bunga juga dikenal sejumlah substansi yang dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman. Dalam biji pun dikenal sejumlah substansi penghambat pada perkecambahan biji dan mikroorganisme. Kebanyakan substansi pertumbuhan umumnya merangsang pertumbuhan dan berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan dalam morfogenesis. Suatu kelompok substansi lain yang berbeda yang mempengaruhi pertumbuhan, umumnya menghambat pertumbuhan dan disebut penghambat pertumbuhan. Penghambat pertumbuhan yang paling umum adalah senyawa-senyawa aromatik, seperti fenol dan lakton. BAB II BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Waktu Tanggal Tempat : 13.00 : - 2007

: Laboratorium MIPA

3.2 Alat dan Bahan

a. Bagian akar dan daun alang- alang dan akasia b. Benih jagung dan kacang hijau c. Tanah subur dan pupuk kandang

d. Polibag atau pot e. Gelas ukur, gelas piala, mortal dan blender, pisau, gunting, timbanga

3.3 Prosedur Kerja Ditanam benih di dalam polibag ( Berisi satu tanaman berumur satu minggu ) Dibuat ekstrak akasia Daun akasia dipotong- potong dengan gunting Buat ekstrak atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan air dengan perbandingan tumbuhan : air = 1 : 7 Setelah 24 jam saring ekstrak

Encerkan larutan stok dengan air aquade Kontrol, tanpa larutan allelopati Perlakuan A, larutan biang/stok Perlakuan B, Larutan konsentrasi 5% dari larutan biang Perlakuan C, Larutan konsentrasi 10% dari larutan biang Perlakuan D, Larutan konsentrasi 15% dari larutan biang Perlakuan E, Larutan konsentrasi 20% dari larutan biang Perlakuan F, Larutan konsentrasi 25% dari larutan biang Penyiraman 2 kali sehari ( sebanyak 50 cc ) Mengunakan aquades Dilakukan penyilangan penyiraman dengan larutan allelopati Pengamatan setelah 4 minggu Tinggi tanaman mulai dari atas permukaan tanah Bobot basah dan kering Kelainan- kelainan morfologi yang terjadi pada akar, batang dan daun

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil perlakuan Tinggi tanaman(cm) Kontrol 1 9,o 3,7 Akar panjang dan berwarna putih kekuning- kuningan Batang dan daun kelihatan segar Berat Basah (gr) Keadaan morfologi tanaman kacang hijau

11,3 2

5,2

Akar panjang dan berwarna putih kekuning- kuningan Batang dan daun kelihatan segar

Akar panjang dan berwarna putih 3 12,6 7,8 kekuning- kuningan Batang dan daun kelihatan segar Rata-rata 10,96 16,70

Stok 100% 1. 8,0 2,7 Daun layu Batang kurus dan kecil Akar pendek

2.

7,3

3,1

Daun layu Batang kurus dan kecil Akar pendek

3.

11,3

3,8

Daun layu Batang kurus dan kecil Akar pendek

Rata-rata Konsentrasi 5% 1.

32,06

9,60

9,0

3,0 Batang kelihatan segar

Akar panjang dan segar Daun bewarna hijau

2.

9,7

3,9

Batang kelihatan segar Akar panjang dan segar Daun bewarna hijau

5,8

2,5

Batang kelihatan segar Akar panjang dan segar Daun bewarna hijau

Rata-rata Konsentrasi 10% 1.

8,16

9,40

11,3

4,2

Akar panjang Daun berwarna hijau segar Batang segar

2. 10,2 5,5 3. 9,6 4,0 Akar panjang Daun berwarna hijau segar Batang segar Akar panjang Daun berwarna hijau segar Batang segar

Rata-rata Konsentrasi 15% 1.

10,36

14,6

12,5

13,05

Akra kelihatan segar Batang segar Daun kelihatan masih segar

2.

13,5

11,5

Akra kelihatan segar Batang segar Daun kelihatan masih segar

3.

12

8,3

Akra kelihatan segar Batang segar

Rata-rata Konsentrasi 20% 1. 8,6 4,1 8,46 13,2

Daun kelihatan masih segar

Akar segar Daun pada bagian atas menguning Batang kelihatan segar

2. 11,2 6,1

Akar segar Daun pada bagian atas menguning

3. 7,4 3,8

Ba Akar segar Daun pada bagian atas menguning Batang kelihatan segar tang kelihatan segar

Rata-rata Konsentrasi 25% 1.

13,5

12,46

11,8

4,6

Akar pendek Batang segar Daun berwarna hijau pucat dibagian bawah agak kekuningan

2. 9,7 3,9

Akar pendek Batang segar Daun berwarna hijau pucat dibagian bawah agak kekuningan

3. 9,2 3,8

Akar pendek Batang segar Daun berwarna hijau pucat dibagian bawah agak kekuningan

Rata-rata

20,23

12,3

4.2 Pembahasan Pada praktikum kali ini dapat dilihat pertumbuhan kacang hijau tumbuh begitu lambat ( kekerdilan ) ini diakibatkan perlakuan dari ekstrak akasia yang menghambat pertumbuhan kacang hijau tersebut.Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat berupa gas, atau zat cair yang keluar dari akar. Hambatan pertumbuhan akibat adanya aleopati adalah dapat terjadi pada pembelahan selnya, pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat tersebut keluar dari bagian atas tanah berupa gas atau eksudat yang turun kembali ketanah dan eksudat dari akar. Jenis zat pada umumnya berasal dari golongan fenolat, terpenoid, dan alkaloid.

Dapat kita lihat pada perlakuan allelopati 5% rata- rata tinggi tanama 8,16 cm, disini dapat kita lihat bahwa pemberian perlakuan menghambat pertumbuhan kacang hijau karena ini disebabkan adanya faktor penghambat dari ekstrak akasia yang digunakan untuk menyiram tanaman.

Sedangkan berat basah dapat kita lihat pada konsentrasi 10 % berat basahnya adalah 4,2 gr, 5,5 gr, dan 4,9 gr. Pada perlakuan allelopati dengan konsentrasi 100% berat basahnya yaitu 2,7 gr,

3,1 gr, 3,8 gr,. Dapat dilihat disini bahwa semakin tinggi konsentrasi yang kita berikan pada tanaman maka berat basahnya akan semakin menurun ini disebabkan karena kelembaban dari konsentarsi yang di berikan terhadap tanama.

Substansi yang aktif bertindak dalam peristiwa alelopati diistilahkan dengan fisotoksis dari pelapukan sisa tanaman. Bahan kimia yang dihasilkan tanaman dan merugikan tanaman lain adalah secara potensial bersifat ototoksik. Ototoksisitas sebagai penghambat tumbuhan tersebut penghasil substansi alelokemik tersebut menunjukkan adanya pengaruh intra spesifik. Sianogenesis merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan HCN. Sinida menghambat perkembangan pertumuhan akar dan biji. Zat zat inilah yang bersifat menghambat petumbuhan tanaman, sehingga disebut sebagai zat penghambat.

BAB V KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulkan yaitu : Zat yang terkandung didalam ektrak akasia yang dibuat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Sebab kacang hijau menyerap zat dari ekstrak akasia yang diberikan pada setiap perlakuan.

DAFTAR PUSTAKA

Sukmana, Y.& Yakub.1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Grafindo Persada : Jakarta Heddy, suwarsono. 1986. PENGANTAR EKOLOGY. CV. Rajawali : Jakarta. Tim Ekologi Umum. 2006. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. UNJA : Jambi. Jody, Moenandir.1988. Persaingan Tanaman Budidaya Gulama. Rajawali : Jakarta.

Topik II. III. Hari / Tanggal Tujuan

: Alelopati : Kamis, 22 Desember 2011 : Bertujuan untuk mempelajari pengaruh allelopati dari

beberapa jenis tanaman terhadap perkecambahan IV. Dasar teori Allelopati adalah produksi substansi (zat) oleh suatu tanaman yang merugikan tanaman lain. Permasalahannya adalah bahwa tanaman mengandung substansi yang sangat luas yang bersifat toksik dan beberapa percobaan berusaha mendemonstrasikan pengaruh alelopati dengan memberikan ekstrak suatu tanaman kepada biji-biji atau pun bibit tanaman lainnya. Terlepas dari suatu kenyataan bahwa ekstrak suatu tanaman bukanlah material percobaan yang cicik, karena tidak terdapat di alam. Ekstrak tersebut sering sekali tidak steril sehingga transformasi bakteri barang kali telah berlangsung dan biasanya tanaman-tanaman tersebut tidak memiliki hubungan ekologis. Penelitian seperti ini sulit ditafsirkan. Pertanyaannya adalah apakah beberapa tanaman mempunyai suatu pegaruh toksik pada tanaman lainnya yang tumbuh di lapangan dan ini harus terpisah dari setiap kompetisi untuk cahaya, air dan hara. Anonimus (2009:online) Menurut Sukman (1991 : 231 ) menyatakan bahwa Tumbuhan dapat menghasilkan senyawa alelokimia yang merupakan metabolit sekunder di bagian akar, rizoma, daun, serbuk sari, bunga, batang, dan biji. Fungsi dari senyawa alelokimia tersebut belum diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa tersebut dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora dan patogen tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa alelokimia dari tanaman lainnya dapat mengalami gangguan pada proses perkecambahan, pertumbuhan, serta

perkembangannya. Perubahan morfologis yang sering terjadi akibat paparan senyawa alelokimia adalah perlambatan atau penghambatan perkecambahan biji, perpanjangan koleoptil, radikula, tunas, dan akar Menurut Soerjani (2001 : 1978) menyatakan bahwa Sebagai allelopat, substansi kimiawi itu terkandung dalam tubuh tumbuhan, baik tanaman maupun gulma. Bertindaknya allelopat tersebut setelah tumbuhan atau bagian tumbuhan mengalami pelapukan, pembusuk, pencucian ataupun setelah dikeluarkan berupa eksudat maupun penguapan. Tumbuhan yang suseptibel bila terkena substansi semacam itu akan mengalami gangguan yang berupa penghambatan pertumbuhan atau penurunan hasil

Menurut Odum, ( 1998 : 206 ).menyatakan bahwa Dalam persaingan antara individuindividu dari jenis yang sama atau jenis yang berbeda untuk memperebutkan kebutuhankehbutuhan yang sama terhadap faktor-faktor pertumbuhan, kadang-kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anaknya sendiri. Peristiwa semacam ini disebut allelopati. Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme. Hambatan dan gangguan allelopati dapat terjadi pada perbandingan dan perpanjangan sel, aktivitas giberelin dan IAA, penyerapan hara mineral, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan stomata, sistem protein, dan aktivitas enzim tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya daya hambat senyawa kimia penyebab allelopati dari tanaman antara lain jenis tanaman yang menghasilkan, macam tanaman yang dipengaruhi, keadaan pada waktu sisa tanaman mengalami perombakan Menurut Mc.Naughton and Wolf (1990; 132 ) menyatakan bahwa Allelopati dapat meningkatkan agresivitas gulma didalam hubungan interaksi antara gulma dan tanaman melalui eksudat yang di keluarkannya, yang tercuci,yang teruapkan,atau melalui hasil pembusukan bagian-bagian organ yang telah mati. Beberapa jenis tanaman yang mempunyai efek allelopati adalah Pinus merkusii, Imperata silindrica, Musa spp, dan Acacia mangium, dsb. Dalam pengaruhnya, Allelopati memiliki pengaruh yaitu antara lain senyawa allelopati dapa menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan, beberapa allelopat sel menghambat tumbuhan, pembelahan menghambat sel-sel respirasi akar akar,

tumbuhan,mempengaruhi

pembesaran

menghambat sintesa protein, menurunkan daya pemeabilitas membran pada sel tumbuhan dan dapat mengahambat aktivitas enzim

V.

Alat dan bahan Alat : 1). Mortal 2). Skepel ( penumbuk ) 3). Cawan petri 2 buah 4). Gelas kimia 2 buah 5). Kertas saring 6). Corong kaca 7). Kapas

8). Tanah liat , air , dan 2 buah gelas atom. Bahan : 1). Rumput teki ( Cyprinus sp ) 2). Kacang hijau

VI. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7)

Cara kerja

Membuat ekstrak rumput teki dengan cara menumbuk dengan mortal dan skepel . Member air pada rumput teki yang telah di haluskan Menyaring ekstrak rumput teki kedalam gelas kimia dengan perbandingan 2 : 28. Meletakkan biji kacang hijau diatas media kapas dan tanah pada cawan petri . Meneteskan ekstrak rumput teki pada masing-masing media sebanyak 5 tetes . mengamati perkecambahan biji-biji tersebut selama 1 minggu. Menghitung persen perkecambahannya dan diukur panjangnya. IX. Pembahasan Dari percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa dosis ekstrak tanaman allelopati yang diberikan terhadap ketiga biji yang dijadikan sebagai objek percobaan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari biji pada saat perkecambahan ini. Kebanyakan biji yang diberikan dosis ekstrak tanaman allelopati yang tinggi sebagiannya mati. Namun sebaliknya pada biji yang diberi perlakukan dengan dosis ekstrak allelopati yang tidak terlalu tinggi persen perkecambahannya tergolong besar. Hal ini menandakan bahwa ekstrak dari tanaman allelopati ini sangat mempengaruhi perkecambahan dari biji percobaan. Biji-biji yang dijadikan sebagai objek percobaan terlihat rusak karena diberi perlakuan dengan ekstrak tanaman allelopati. Dalam prinsipnya Allelopati merupakan pengaruh yang bersifat merusak, menghambat, merugikan dan dalam keadaan kondisi tertentu dapat juga menguntungkan. Dimana pengaruh ini terjadi pada perkecambahan, pertumbuhan maupun pada saat metabolisme tanaman. Pengaruh ini disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang di lepaskan oleh suatu tanaman ke tanaman yang lainnya. Dari data hasil percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa persen perkecambahan tertinggi ada pada tanaman kacang hijau yaitu sebesar 46,6 %, sedangkan yang terendah adalah pada biji jagung yaitu sebesar 30 %. Ini dapat terjadi demikian, mungkin karena tanaman kacang hijau lebih tahan terhadap zat kimia yang dikeluarkan oleh tanaman allelopati tertentu sedangkan tanaman jagung spesiesnya tidak tahan terhadap zat allelopati yang dikeluarkan oleh tanaman tertentu. Dalam kejadian ini terlihat bahwa adanya

persaingan tanaman untuk mempertahankan hidup dari zat-zat yang bersifat allelopati yang dikeluarkan oleh tanaman lain uyang bersifat merusak. Dalam persaingan antara individuindividu dari jenis yang sama atau jenis yang berbeda untuk memperebutkan kebutuhankehbutuhan yang sama terhadap faktor-faktor pertumbuhan, kadang-kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anaknya sendiri. Peristiwa semacam ini disebut allelopati. Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme. Dalam percobaan allelopati ini, adapun jenis tanaman yang dijadikan ekstrak yang diketahui mengandung zat allelopati yaitu ekstrak rumput teki . Bagian-bagian tanaman yang digunakan adalah bagian akar dan daun. senyawa beracun yang dapat mempengaruhi perumbuhan tanaman. Tumbuhan yang telah mati dan sisa-sisa tumbuhan yang dibenamkan kedalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Kartawinata dalam teori nya menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstraks organ tubuh alang-alang, maka semakin besar pengaruh negatifnya terhadap pertumbuhan kecambah suatu tanaman. Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Alelokimia pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme sasaran melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan atau dekomposisi. Setiap jenis alelokimia dilepas dengan mekanisme tertentu tergantung pada organ pembentuknya dan bentuk atau sifat kimianya . Mekanisme pengaruh alelokimia (khususnya yang menghambat) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme (khususnya tumbuhan) sasaran melalui serangkaian proses yang cukup kompleks, proses tersebut diawali di membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur, modifikasi saluran membran, atau hilangnya fungsi enzim ATP-ase. Hal ini akan berpengaruh terhadap penyerapan dan konsentrasi ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses fotosintesis. Hambatan berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein, pigmen dan senyawa karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau seluruh hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran. Alelopati tentunya menguntungkan bagi spesies yang menghasilkannya, namun merugikan bagi tumbuhan sasaran. Oleh karena itu, tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan alelokimia umumnya mendominasi daerah-daerah tertentu, sehingga populasi hunian umumnya adalah populasi jenis tumbuhan penghasil alelokimia. Dengan adanya proses

interaksi ini, maka penyerapan nutrisi dan air dapat terkonsenterasi pada tumbuhan penghasil alelokimia dan tumbuhan tertentu yang toleran terhadap senyawa ini. Proses pembentukkan senyawa alelopati sungguh merupakan proses interaksi antarspesies atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya. X. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa Proses pembentukkan senyawa alelopati sungguh merupakan proses interaksi antarspesies atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya. Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain . Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme. XI. Daftar pustaka Anonim a. Tanpa Tahun. Alelopati. (Online) (http://io.ppi jepang.org/download.php?file=files/inovasi diakses tanggal 5 Desember 2007). Odum . 1998 . ekologi tumbuhan .rineka cipta : Jogjakarta Petelay, Febian. 2003. Pengaruh Allelopathy Acacia mangium wild terhadap Perkecambahan Benih Kacang Hijau (Phaseolus radiatus) dan Jagung (Zea mays). (Online) (http://www.geocities.com/irwantoshut/allelopathy_acacia.doc. diakses pada tanggal 21 November 2007). Soejani . 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: Universitas Negeri Malang. Sukman, Y., & Yakub. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta: Rajawali Pers

Laporan Ekologi umum "Alelopati"


I.PENDAHULUAN a.Latar Belakang

Molish(1937) yang pertama kali memberi batasan alelopati. Rice (1984) juga menggunakan istilah yang sama untuk semua jenis interaksi biokimia, termasuk antara tumbuhan tinggi dan mikroorganisme. Akan tetapi Muller (1920) salah seorang pionir dalam alelopati, lebih membatasi penggunaan istilah alelopati khusus untuk interaksi antar tumbuhan tinggi saja. Zat alelopatik dalam interaksi antar tumbuhan tinggi ini ditunjukkan dengan peristiwa tidak dapat tumbuhnya tumbuhan lain disekitar pohon walnut (Juglans nigra). Pengamatan menunjukkan bahwa tomat, pinus atau gandum tidak dapat tumbuh disekitar pohon walnut. Ternyata kemudian bahwa toksin yang berfungsi sebagai zat alelopati bukanlah dari eksudat akar walnut, melainkan dari daun dan tangkai serta ranting-ranting yang gugur ke tanah membawa toksisn. Toksin ini adalah 4-Glukosida dari 1,4,5-Trihidroksi naftalena yang terhidrolisis menjadi naftakuinon yang disebut yugion, yang larut dalam air, menurut reaksi pada gambar 1:

(Hidrolisis) (Oksidasi)

Sejumlah zat ealelopati telah diidentifikasi, seperti lignan asam norhidroguaiaretat yang terdapat dalam kreosot, larnea tridenta, kadarnya 5-10% yang dapat menghambat pertumbuhan semak disekitarnya. Senyawa sulfur tersienil dan poliasetiana fenil heptratryn yang dihasilkan oleh sejumlah tumbuhan composiate, adalah zat-zat yang sifat alelopatinya sangat dipengaruhi oleh sinar matahari, sehingga makin jauh kedalam tanah aktifitasnya makin kecil. Tetapi hasil ekstraksi tanah disekeliling akar tagetes yang menghasilkan , tersienil hanya ditemukan kadar 0,4 ppm, walau demikian sudah cukup untuk menghambat pertumbuhan tumbuhan disekitarnya.

b.Tujuan Penelitian: Mempelajari pengaruh alelopati/jenis tumbuhan terhadap pertumbuhan tanaman palawija

II.TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan dalam bersaing mempunyai senjata yang bermacam-macam, misalnya duri, berbau, yang kurang bisa diterima sekelilingnya, tumbuh cepat, berakar dan berkarnopi luas dan bertubuh tinggi besar, Maupun adanya sekresi zat kimiawi yang dapat merugikan pertumbuhan tetangganya. Dalam uraian ini akan disinggung tentang sekresi kimiawi yang disebut alelopat dan mengakibatkan peristiwa yang disebut alelopati.Peristiwa alelopati adalah peristiwa adanya pengaruh jelek dari zat kimia (alelopat) yang dikeluarkan tumbuhan tertentu yang dapat merugikan pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuhdi sekitarnya. Tumbuhan lain jenis yang tumbuh sebagai tetangga menjadi kalah. Kekalahan tersebut karena menyerap zat kimiawi yang beracun berupa produk sekunder dari tanaman pertama. Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat berupa gas atau zat cai dan dapat kelau dari akar, batang maupun daun. Hambatanpertumbuhan akibat adanya alelopat dalam peristiwa alelopati misalnya pertumbuhan hambatan pada oembelahan sel, pangambilan

mineral,resppirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat tersebut keluar dari bagian atas tanah berupa gas, atau eksudat uang turun kembali ke tanah dan eksudat dari akar. Jenis yang dikeluarkan pada umumnya berasal dari golongan fenolat, terpenoid, dan alkaloid. Telah banyak referensi yang mencatat tentang species yang dapat mengeluarkan alelopati. Species tersebut dalam lingkungan akan dapat menekan pertumbuhan species lain. Namun pengaruh interaksi gulma/tanaman budidaya akan adanya alelopati masih belum banyak diteliti. Beberapa penelitian tentang hal itu dicatat dari beberpa negara seperti Amerika, dan Inggris. Suatu zat terpen di keluarkan oleh semak yang aromatik dan sejenis substansi fenol dikeluarkan oleh Isorghum halepense yang dapat menghambat kegiatan bakteri fikasasi nitrogen. Agropyron repens (rumput perenial) yang melapuk selama 15 hari sangat efektif dalam penghambatan pertumbuhan Brassica napus. Penghambatan semacam ini hampir sama dengan diakaibatkan oleh pelapukan jerami. Imperata cylindrica juga mengeluarkan alelopati berpengaruh pada lingkungannya seperti halnya penghasil-penghasil alelopati lainnya. Alelopati kebanyakan berada dalam jaringan tanaman, seperti daun, akar,aroma, bunga, buah maupun biji, dan dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Beberapa contoh zat kimia yang dapat bertindak sebagai ealelopati adalah gas-gas beracun. Yaitu Sianogenesis merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan HCN, amonia, Ally-lisothio cyanat dan -fenil isitio sianat sejenis gas diuapkan dari minyak yang berasal dari familia Crusiferae dapat menghambat perkecambahan. Selain gas, asam organik, aldehida, asam

aromatik, lakton tak jenuh seserhana, fumarin, kinon,flavanioda, tanin, alkaloida ,terpenoida dan streroida juga dapat mengeluarkan zat alelopati. (Moenadir,1998:73-88) Sejumlah peneliti melaporkan bukti untuk zat kimia mengendalikan distribusi tumbuhan, asisiasi antar species, dan jalannya suksesi tumbuhan. Muller (1966) telah meneliti hubungan spatial antara Salvia leucophyla dan rumput annual. Rumpun saliva yang hidup pada padang rumbut ternyata dibawah rumpun dan disekeliling rumpun semak tersebut terjadi zona gundul (1-2 meter) tak ada tumbuhan rumput dan herba lain. Bahkan 6-10 m dari kanopi semak tumbuhan lain menjadi kerdil. Bentuk kerdil ini tidak disebabkan karena kompetisis untuk air, karena kar semak tidak menyusup jauh ke daerah rumput. Faktor tanah nampak tidak bertanggung jawab untuk asosiasi nehgatif, karena faktor khemis dan fisis tanah tidak berubah pada zona gundul tersebut. Muller menemukan bahwa salvia mengeluarkan minyak volatile dari daun dan kandungan cinoile dan canphor bersifat toksik terhadap perkecambahan dan pertumbuhan annual disekeliling. (Syamsurizal,1993:89) Alang-alang bukan hanya sebagai pesaing bagi tanaman lain terutama tanaman pangan dalam mendapatkan air, unsur hara dan cahaya tetapi juga menghasilkan zat alelopati yang menyebabkan pengaruh negatif pada tanaman lain (Hairiah et al., 2001)

III.BAHAN DAN METODE

Waktu dan tempat

: Kamis 3 januari 2008 Laboratorium Universitas Jambi Lantai I

Alat dan Bahan : Alat: 1. Polibag atau pot berisi tanah 2. Gelas ukur 3. Gelas piala 4. Blender 5. Pisau 6. Gunting 7. Timbangan

Bahan: 1. Benih jagung atau benih kacang hijau 2. Daun akasia atau akar ilalang Prosedur Kerja: 1. Ditanam benih yang telah disiapkan di dalam polibag atau pot dan di biarkan sampai tumbuh, kemudian masing-masing pot hanya terdiri atas satu tanaman yang berumur satu minggu. 2. Dibuat ekstrak alang-alang dan akasia dengan cara sebagai berikut: Dihaluskan bagian tumbuhan jenis tumbuhan tersebut dengan Blender, yang sebelumnya dipotong-potong menjadi kecil. Dibuat kestrak atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan air (akuadest) dengan perbandingan bagian tumbuhan : air = 1 : 7 dan dibiarkan selama 24 jam(sebagai larutan stok) Setelah 24 jam saringlah ekstrak yang diperoleh dengan menggunakan alat penyaring. 3. Diencerkan larutan stok dengan air akuadest menjadi larutan dengan konsentrasi 5 %, 10%, 15%, 20%, 25%, sehingga kita mempunyai larutan-larutan allelopati yang dijadikan perlakuan sebagai berikut. a. Perlakuan kontrol, tanpa larutan allelopati b. Perlakuan A, larutan biang/ stock c. Perlakuan B , larutan konsentrasi 5 % dari larutan biang. d. Perlakuan C , larutan konsentrasi 10 % dari larutan biang. e. Perlakuan D , larutan konsentrasi 15 % dari larutan biang. f. Perlakuan E , larutan konsentrasi 20 % dari larutan biang. g. Perlakuan F , larutan konsentrasi 25 % dari larutan biang 4. Dilakukan penyiraman dengan air akuadest secukupnya, terhadap tanaman di dalam polibag dua hari sekali, kemudian tiap selang sehari dilakukan penyiraman dengan larutan allelopati sebagai perlakuan, masing-masing tanaman disiram sebanyak 50 cc (jadi hari ini disiram air, besok disiram ekstrak allelopati dan lusa disiram air, begitu seterusnya).

5. Dilakukan pengamtan terhadap morfologi daun, pertulangan daun, pertumbuhan batang dll yang dilakukan setiap hari. Setelah 4 minggu dilakukan pengamatan terhadap : a) Tinggi tanaman mulai dari atas permukaan tanah b) Bobot basah dan kering c) Kelainan-kelainan morfologi yang terjadi pada akar, batang dan daun. IV.HASIL BAN PEMBAHASAN A.Hasil Allelopati Morfologi Perakaran Tinggi tanaman Kontrol Tanaman daun normal normal Akar banyak a. 11,9 cm b. 15,8 cm 1,5 gram Berat basah

menyatu ke bawah

5%

Daun bercak hitam, Akar banyak seperti a. 11,7 cm daun tidak akar serabut, b. 12,6 cm seperti c. 8,6 cm

0,9 gram

berkembang dengan akarnya baik 10% menyebar

Ada bercak pada Akar menyatu ke a. 16 cm daun, daun tidak bawah berkembang dengan baik b. 11,9 cm c. 12,7 cm

1,3 gram

15%

Ada bercak putih Akar pada daun , daun banyak tidak dengan tanaman kerdil, berkembang baik, 1

serabutnya a. 4,7 cm b. 11,6 cm c. 17,4 cm

1,7 gram

tumbuh hanya

memiliki 1 daun 20% Daun putih, berbercak Akar panjang ke a. 21,1 cm dan tidak bawah b. 13,5 cm c. 11,4 cm 2,2 gram

berkembang dengan baik

25%

Daun

berbercak Akar pendek dan a. 12,6 cm akar b. 17,6 cm tidak

1,4 gram

putih dan bercak menyebar, coklat, tapi putih tunggang lebeh banyak. Daun bagian bawah keriting 100% nampak

Bercak coklat yang Akar pendek dan a. 13,5 cm banyak dan tidak sedikit berkembang dengan baik. b. 7,3 cm

1,0 gram

B.Pembahasan Pada hasil praktikum yang telah dilakuakan diatas dapat kita lihat bahwa, tanaman palawija yang disirami oleh allelopati berkosentrasi tinggi dalam hal ini adalah larutan biang (100%) tumbuh dengan sangat tidak baik, baik morfologi daunnya yang dipenuhi oleh bercak coklat dan putih, tinggi tanaman yang tidak sebanding dengan tanaman perlakuan lain, maupun berat basahnya yang hanya 1,0 gram.. Hal ini dikarenakan kepekatan zat racun yang diberikan sangat tinggi hingga mengganggu pertumbuhan dan sistem metabolisme tumbuhan palawija yang ditanam. Menurut Setyowati (2001) Respon yang akan terjadi karna pemberian allelopati adalah panjang tajuk dan akar yang terhambat yang dapat disebut sebagai herbisida pra tumbuh namun hal ini tergantung juga pada formulasi ekstraksi allelopati yang diberikan. Adapun warna daun yang berubah merupakan salah satu ciri dari gejala klorosis pada tanaman palawija akibat dari aplikasi ekstrak allelopeti. Pada allelopati yang berkosentrasi 5%, tanaman tumbuh layaknya tanaman kontrol, hanya sedikit saja perubahan yang terjadi saat akhir pengamatan. Hal ini dapat dikarenakan oleh kosentrasi allelopati yang dalam hal ini adalah zat racun, tidak terlalu tinggi, hingga tumbuhan masih mampu melakukan proses metabolisme dan yang lainnya dengan normal, walau terdapat sedikit hambatan allelopati. Itulah sebabnya perubahan hanya terjadi pada morfologi daunnya saja. Sedangkan pada allelopati berkosentrasi 10%, tanamannya tumbuh tidak normal, namun tetap saja perubahan yang terjadi tidak telalu mencolok seperti pada tanaman yang diberikan allelopati kosentrasi tinggi. Pada allelopati berkosentrasi 15% mulai terjadi

perubahan yang agak mencolok dari kontrolnya seperti bercak-bercak pada daun yang sangat banyak, panjang akar yang tidak normal, dan tinggi yang tidak normal. Pada allelopati yang berkosentrasi 20% dan 25% perubahan yang terjadi juga sangat mencolok dari kontrol, berupa bercak-bercak pada daun yang tidak lagi berwarna putih, hal ini dapat dikatakan bahwa tumbuhan sudah mengalami klorosis, dan tanda-tanda ini dalam fisiologi tumbuhan bisa dikatakan sudah menunjukkan gejala kahat atau gejala kematian. Sedangkan pada tanaman kontrol, tanaman tumbuh normal, baik morfologi daun, panjang akar dan batang maupun berat basahnya yang dapat dikatakan lebih berat dari pada tanaman lainnya yang diberikan perlakuan, kecuali pada perlakuan 20% dan 25% yang memiliki berat basah yang lebih berat dari pada kontrol, hal ini seharusnya tidak terjadi, namun hal ini dapat saja terjadi karena kelalaian pada saat praktikum dilakukan atau pada saat jumlah allelopati yang disiramkan setiap harinya. Selain dari pada itu, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa orang biologiawan ahli bidang fisiologi tanaman Setyowati dan Yuniarti (1999) mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman jagung dan kedelai yang diberi perlakuan ellelopati ekstrak alang-alang (Imperata cylindrica) dengan perbandingan 1:4 umumnya tidak terpengaruh oleh ekstrak ini, bukan hanya dalam hal pertumbuhan tanamannya tetapi juga dalam proses perkecambahannya, hanya saja berpengaruh terhadap pemanjangan akarnya. Namun sebaliknya bila diberikan allelopati dari bunga matahari (Helliantus annus) mampu menekan semua jenis palawija ataupun gulma dari kosentrasi 20% ataupun 25%. Jadi dalam hal ini, daya kecambah tanaman palawija dalam penelitian sangat tergantung pada sumber dan konsentrasi ekstrak serta jenis tanaman yang dievaluasi. Jadi dapat dikatakan bahwa, dalam praktikum allelopati ini tidak bisa dinyatakan tidak berhasil, mengingat beberapa peneliti melaporkan hal yang sama. Steinsiek (1982) dan Shettel dan Balke (1983) mengemukakan bahwa perkembangan tumbuhan tergantung pada konsentrasi ekstrak, sumber ekstrak, temperatur ruangan, dan jenis tumbuhan yang dievaluasi serta saat aplikasi. Alelopati adalah interaksi biokimia antara mikroorganisme atau tanaman baiki yang bersifat positif maupun negatif. Beberapa gulma terbukti bersifat ellelopati adalah Imperata cylindrica dan Acasia mangium, gulma tersebut diketahui sangat kompetitif dengan tanaman lain yang mengakibatkan turunnya produksi tanaman. Ekstrak umbi Imperata cylindrica dan daun Acasia mangium terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah,rendaman ekstrak daun Acasia mangium ataupun umbi akar dari Imperata cylindrica dapat menghambat perkembangan

banih kacang-kacangan,centel dan mustard.Dan ekstrak ini juga dilaporkan dapat menghambat perpanjangan akar. Penekanan pertumbuhan dan perkembangan karena ekstrak alang-alang dan akasia ditandai dengan penurunan tinggi tanaman, penurunan panjang akar, perubahan warna daun (Dari hijau normal menjadi kekuning-kuningan) serta bengkaknya akar. Pertumbuhan rambut akar juga terganggu, dengan melihat fenomena ini maka allelokikia yang berasal dari ekstrak Imperata cylindrica dan Acasia mangium mungkin bekerja mengganggu proses fotosintesis atau proses pembelahan sel.

KESIMPULAN: 1. Pada hasil praktikum yang telah dilakuakan diatas dapat kita lihat bahwa, tanaman palawija yang disirami oleh allelopati berkosentrasi tinggi dalam hal ini adalah larutan biang (100%) tumbuh dengan sangat tidak baik, baik morfologi daunnya yang dipenuhi oleh bercak coklat dan putih, tinggi tanaman yang tidak sebanding dengan tanaman perlakuan lain, maupun berat basahnya yang hanya 1,0 gram.. Hal ini dikarenakan kepekatan zat racun yang diberikan sangat tinggi hingga mengganggu pertumbuhan dan sistem metabolisme tumbuhan palawija yang ditanam. 2. Pada allelopati yang berkosentrasi 5%, tanaman tumbuh layaknya tanaman kontrol, hanya sedikit saja perubahan hal ini dapat dikarenakan oleh kosentrasi allelopati yang dalam hal ini adalah zat racun, tidak terlalu tinggi, hingga tumbuhan masih mampu melakukan proses metabolisme 3. pada perlakuan 20% dan 25% yang memiliki berat basah yang lebih berat dari pada kontrol, hal ini seharusnya tidak terjadi, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa orang biologiawan ahli bidang fisiologi tanaman Setyowati dan Yuniarti (1999) mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman jagung dan kedelai yang diberi perlakuan ellelopati ekstrak alang-alang (Imperata cylindrica) dengan perbandingan 1:4 umumnya tidak terpengaruh oleh ekstrak ini, bukan hanya dalam hal pertumbuhan tanamannya tetapi juga dalam proses perkecambahannya, hanya saja berpengaruh terhadap pemanjangan akarnya. 4. Perkembangan tumbuhan yang di beri allelopati tergantung pada konsentrasi ekstrak, sumber ekstrak, temperatur ruangan, dan jenis tumbuhan yang dievaluasi serta saat aplikasi

DAFTAR PUSTAKA
Fitter.AH. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman UGM : Semarang Moenandir,jody.1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Rajawali pers:Jakarta Syamsurizal.1993.Ekologi Tumbuhan.Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan : Sumatera Barat Wiryowidgdo,sumali.2000.Kimia dan Farmakologi Bahan Alam edisi pertama.Universitas Indonesia : Jakarta Hairiah K et al. 2000. Reclamation of Imperata Grassland using Agroforestry. Lecture Note 5. ICRAF. (http://www.icraf.cgiar.org/sea). Setyowati dan Yuniarti (1999). Efikasi allelopati teki formulasi cairan terhadap gulma. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesi (http://www.jurnal@indonesia.co.id)

Siklus Hidrologi I. a. Tujuan Mahasiswa lebih terampil mengukur volume air yang dapat dievapotranspirasi oleh tumbuhan. b. Mahasiswa dapat menafsirkan bahwa proses evapotranspirasi merupakan salah satu fase terjadinya siklus hidrologi.

II. Dasar Teori Dalam memahami ekosistem, peranan air tak bisa diabaikan begitu saja. Air yang terus menerus bersiklus di alam ini memberi dampak yang khas terhadap semua tempat yang dilalui. Siklus hidrologi pada dasarnya merupakan sirkulasi air dari lautan ke udara sampai ke laut kembali. Salah satu fase terjadinya siklus hidrologi adalah evapotranspirasi. Dalam kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa memahami bahwa evapotranspirasi berperanan dalam proses siklus hidrologi. Evapotranspirasi sendiri adalah kombinasi proses kehilangan air dari suatu lahan bertanaman melalui evaporasi dan transpirasi.

III. Alat dan Bahan Alat: Gelas ukur 100ml dan 500ml, timer, timbangan polybag, tanah merah. Bahan: Bibit cabai

IV. Prosedur Kerja Menanam bibit cabai pada 5 polybag yang telah diisi tanah merah masing-masig 500gr, tinggi cabai pada polybag 1-4 haruslah berurutan (rendah-tinggi) sedangkan polybag 5 digunakan untuk control. Melakukan hal yang sama seperti langkah-langkah diatas, hanya saja kali ini polybag yang telah ditanam ditutup oleh plastic. Menyiram kesepuluh polybag dengan air sebanyak 25 ml. Melakukan penimbangan secara berkala selama 3 kali. Rentan waktu penimbangan dilakukan setiap 1 jam sekali. Mengamatinya dan menulis hasil pengamatan di laporan sementara.

V. Hasil Pengamatan Pada tanaman dengan polybag terbuka dan tertutup, masing-masing tinggi dari tanaman adalah sebagai berikut:
Terbuka Polybag 1: 9cm Polybag 2: 15,5cm Polybag 3: 18cm Polybag 4: 30cm Polybag 5: Kontrol Tertutup Polybag 1: 11cm Polybag 2: 15cm Polybag 3: 19cm Polybag 4: 21,5cm Polybag 5: Kontrol

Berikut hasil penimbangan yang dilakukan pada tanaman cabai dengan polybag terbuka:
Berat/Jam No/Pot Berat Awal (gr) 1 1 2 3 4 5/Kontrol 500 gram 500 gram 500 gram 500 gram 500 gram 522gr 520gr 546gr 532gr 515gr Jam ke2 509gr 507gr 532gr 519gr 505gr 3 522gr 518gr 546gr 528gr 515gr Berat turun-naik Berat turun-naik Berat turun-naik Berat turun-naik Berat turun-naik Keterangan

Dan berikut hasil penimbangan yang dilakukan pada tanaman cabai dengan polybag tertutup:
Berat/Jam No/Pot Berat Awal (gr) 1 1 2 3 4 5/Kontrol 500 gram 500 gram 500 gram 500 gram 500 gram 506gr 525gr 527gr 583gr 510gr Jam ke2 503gr 523gr 526gr 580gr 506gr 3 505gr 522gr 528gr 581gr 508gr Berat turun-naik Berat turun-turun Berat turun-naik Berat turun-naik Berat turun-naik Keterangan

VI. Pembahasan Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Sementara pada praktikum kali ini bertujuan untuk memahami bahwa

evapotranspirasi berperanan dalam proses siklus hidrologi. Evapotranspirasi sendiri adalah kombinasi proses kehilangan air dari suatu lahan bertanaman melalui evaporasi dan transpirasi. Sementara evaporasi atau penguapan adalah proses perubahan molekul di dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Sementara transpirasi juga merupakan penguapan hanya saja terjadi secara internal pada daun (tumbuhan saja). Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan terhadap bibit cabai. Dari hasil pengamatan didapat, bahwa hampir semua polybag yang telah diisi tanah dan bibit cabai serta disiram dengan air sebanyak 25ml hampir semuanya (baik yang polybag terbuka maupun tertutup) memiliki berat naik-turun pada pengukuran. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang seharusnya berat dari polybag-polybag tersebut turun karena terjadinya evapotranspirasi. Adapun sebab mengapa bisa teradi demikian, hal ini mungkin dikarenakan akibat terjadinya hujan sehingga proses evapotranspirasi tidak berjalan maksimal dan polybag-polybag yang kami teliti terkena air hujan, hujan sendiri terjadi ketika pengamatan ke-2 selesai dilakukan. Adapun perbedaan polybag yang terbuka dan tertutup adalah, polybag yang terbuka proses evapotranspirasinya lebih maksimal/tak ada yang menghambat sehingga proses

penurunannya lebih besar dari polybag yang tertutup, begitu pula ketika hujan terjadi, air yang masuk lebih banyak sehingga beratnya pun bertambah lebih banyak daripada polybag yang ditutup. Adapun faktor faktor penentu evaporasi adalah sebagai berikut: Panas Kapasitas kadar air dalam udara Kecepatan angin Bidang permukaan Kesimpulan Evapotranspirasi merupakan salah satu fase terjadinya siklus hidrologi. Evapotranspirasi adalah kombinasi proses kehilangan air dari suatu lahan bertanaman melalui evaporasi dan transpirasi. Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Transpirasi berbeda dengan penguapan/evaporasi sederhana karena berlangsung pada jaringan hidup dan dipengaruhi oleh fisiologi tumbuhan. Faktor faktor penentu evaporasi adalah sebagai berikut: Panas, Kapasitas kadar air dalam udara, Kecepatan angin dan Bidang permukaan.

Daftar Pustaka Barnes, B. V., Donald R. Z., Shirley R. D. and Stephen H. S. 1997. Forest Ecology. 4th Edition. New York. John Wiley and Sons Inc. Ewusia, J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Terjemahan oleh Usman Tanuwidjaja. Penerbit I TB. Bandung Heddy, S. 1989. Pengantar Ekologi. Jakarta. Rajawali Press. Irwan, Djamal Zoeraini, 2003, Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekologi Komunitas dan Lingkungan, Jakarta: Bumi Aksara http://id.wikipedia.org/wiki/Transpirasi Pada 15 November 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Penguapan Pada 15 November 2011 http://annaveanza.blogspot.com/2010/07/praktikum-hidrologi-lingkungan-teknik.html Pada 15 November 2011

laporan ekologi - Daur Karbon


I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam ekosistem terdapat dua peristiwa yang tidak terhenti yaitu aliran energi dan aliran materi. Aliran energi berasal dari sinar surya yang memasuki ekosistem. Energi ini digunakan untuk proses fotosintesis tanaman hijau dan selanjutnya beredar melalui ekosistem melalui rantai makanan. Sedangkan daur materi berlangsung dari organisme hidup ke lingkungan abiotik baik tanah atau atmosfer dan kembali lagi ke organisme hidup, sehingga keberadaan bahan-bahan di ekosistem dalam keseimbangan dinamik. Di dalam aliran energi terdapat aliran-aliran yang merupakan suatu peristiwa yang terjadi terus menerus. Salah satunya adalah siklus karbon. siklus ini memperlihatkan bahwa karbon bisa terdapat sebagai gas CO2 yang konsentrasinya sangat kecil tetapi sangat menentukan karbon secara global. Sebagian dari karbon terlarut dalam air permukaan, dan sumber air sebagai HCO3- atau sebagai CO2. sejumlah besar karbon terdapat dalam mineral-mineral, terutama dalam bentuk kalsium dan magnesium karbonat, seperti CaCO3. Reaksi fotosintesis menyediakan karbon dalam bentuk anorganik menjadi karbon dalam bentuk organic. Yang dinyatakan sebagai (CH2O), yang merupakan komponen-komponen dari molekul-molekul seluruh kehidupan. Siklus ini terjadi sepanjang masa pada ekosistem. Untuk menetahuinya lebih dalam, maka perlu di lakukan praktikum mengenai siklus karbon. I.2 Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk daur biogeokimia pada ekositem khususnya daur karbon..

II. Tinjauan Pustaka A. Daur karbon Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur. Di sini hanya akan dibahas 3 macam siklus, yaitu siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus karbon.(http://ilmupedia.com) Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui). Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermacamacam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan

atmosfer. (http://id.wikipedia.org/wiki/siklus_karbon) B. Hydrilla sp Hidrilla sp. Adalah tanaman hijau yang hidup di air. Tumbuhan air sangat berpengaruh terhsdsp zat-zat makanan untuk orgsnisme hidup. Tumbuhan juga memegang peranan penting dalam transfor oksigen, karbon dioksida, dan gas-gas lain melalui badan air dan dalam pertukaran gas-gas tersebut pada bidang persentuhan antara airatmosfir.(Rukaesih,2004) C. Hymnea sp. Hymnea adalah hewan dari kelas mollusca. Mollusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewan ini tripoblastik, bilateral simetri, umumnya memiliki mantel yang dapat menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok tersebut berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya kerang, tiram, siput sawah dan bekicot. Namun ada pula Mollusca yang tidak memiliki cangkok, seperti cumi-cumi, sotong, gurita atau siput telanjang. Mollusca memiliki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasnya. Cangkok kerang ini terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah untuk berjalan dengan cara kontraksi otot. III. Metodologi III.1 Lokasi dan Waktu Lokasi : Laboratorium Ekologi Fak. Sains dan Tekhnologi UIN syarif hidayatullah Waktu : tanggal 18-19 April 2008 III.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum ini: Gelas piala Plastik karet DO meter/ water quality cheeker Bahan yang digunakan pada praktikum ini : Hydrilla sp. Lymnea sp. Aquadest Air Larutan BTB (Brom Timol Blue) III.3 Metode Kerja 1. Disiapkan dua percobaan A dan B masing-masing terdiri dari empat botol. 2. Ditandai setiap gelas piala tersebut dengan A1, A2 , A3, A4 serta B1, B2, B3, B4 3. Diisi tiap tabung dengan 500 ml air 4. Dihitung kadar oksigen dengan menggukan DO meter. 5. ditambahkan 5 tetes brom timol blue pada masing-masing botol 6. Dimasukan ke dalam gelas piala A1 dan B1 masing-masing dengan dengan 50 gram Lymnea sp. 7. Dimasukan 50 gram Lymnea sp. dan 3 gram Hydrilla sp. Ke dalam gelas piala A2 dan B2 . 8. Dimasukan pada A3 dan B3 dengan 3 gram Hydrilla sp. Dan pada gelas piala A4 dan B4

dijadikan kontrol ( tidak dimasukan Lymnea sp.dan Hydrilla sp.) 9. Ditutup gelas piala dengan menggunakan plastik putih bening dan karet hingga rapat. 10. Ditempatkan gelas piala A di tempat terang dan B di tempat gelap. 11. Diamati setelah 24 jam 12. Dibandingkan setiap gelas piala dengan kontrol dan di hitung kadar oksigen dengan menggunakan DO meter. IV. Hasil dan Pembahasan IV.1 Hasil Pengamatan A. pertambahan kadar CO2 Pertambahan CO2 A1 B1 A2 B2 A3 B3 A4 B4 + +++ + + ++ + ++ +++ -Ket: +++ = banyak ++ = sedang + = sedikit B. kadar Oksigen larutan Gelas Piala A1 B1 A2 B2 A3 B3 A4 B4 Kadar O2 (mg/L) 0.90 1.56 1.20 0.05 1.08 1.81 1.47 0.41 DO awal = 0.73 IV.2 Pembahasan Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan tentang daur karbon. praktikum ini dilakukan untuk dilakukan untuk mempelajari daur biogeikimia pada ekosistem khususnya daur karbon. Dimana pristiwa ini adalah kejadian yang terjadi terus menerus, yaitu digunakan dan dihasilkan dan begitu selanjutnya. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Lymnea sp.dan hydrilla sp , BTB, dan air serta aquadest. Penggunaan hewan dan tumbuhan ini dimaksudkan untuk mengetahui peristiwa daur karbon. dimana terjadi proses fotosintesis yang dilakukan oleh Hydrilla sp.yang menghasilkan O2, dimana O2 digunakan untuk proses respirasi yang dilakukan oleh Lymnea sp. Penggunaan Lymnea karena praktikum ini akan melihat peristiwa fotosintesis dalam air yang merupakan tempat hidup dari Lymnea, selain itu, ini dimungkinkan karena Lymnea mempunyai cangkang, Cangkang berupa kalsium karbonat yang berasal dari kombinasi Ca dan CO2. kalsium karbonat terbentuk karena proses fotosintesis tumbuhan laut sehingga cangkang merupakan suatu bukti adanya daur karbon dan ketika Lymnea itu mati, air dapat melarutkan kalsium karbonat,karena adanya CO2 yang terlarut. sedangkan penggunaan Hydrilla karena merupakan hewan air yang kosmopolit atau ditemukan dimanamana. Penggunaan BTB sebagai larutan indikator dari asam dan basa, terbentuknya warna kuning menunjukan kalau larutan bersifat asam( kadar CO2 yang tinggi) dan berwarna biru bila larutan bersifat basa( kadar O2 berlebih). Alat yang digunakan pada praktikum kali ini, salah satunya adalah water quality cheeker. Alat ini digunakan untuk menentukan PH, sanilitas, konduktor dan turgiditas. Tapi pada praktikum kali ini hanya menggunakan water quality cheeker untuk menentukan DO (kadar oksigen) dalam larutan. Oksigen sering merupakan zat kunci dalam menentukan jenis dan

keberadaan kehidupan akuatik. Kekurangan oksigen beersifat fatal bagi kebanyakan hewan akuatik seperti ikan, tetapi adanya oksigen juga dapat menyebabkan kehidupan yang fatal bagi bakteri anaerob. Oleh karena itu pengukuran terhadap konsentrasi oksigen terlarut(Dissolved oxygen, DO) penting untuk menentukan sifat biologi suatu bahan air seperti sungai atau danau.(Rukaesih, 2004) Percobaan pertama adalah mengenai pertambahan CO2. digunakan 8 gelas piala, yaitu A1, B1, A2, B2, A3, B3, A4 dan B4. Gelas piala A1 dan B1 diberi Lymnea dan air, A2 dan B2 diberi Lymnea, Hydrilla dan air, A3 dan B3 diberi Hydrilla dan air serta A4 dan B4 digunakan sebagai kontrol atau menggunakan air saja. Gelas piala A di tempatkan di tempat terang sedangkan yang B ditempatkan ditempat yang gelap. Gelas piala ditutup dengan menggunakan plastik bening sehingga membatasi udara luar tetapi dapat ditembus cahaya dengan baik. Hasil dari gelas piala A1 menunjukan bahwa kadar CO2 sangat tinggi. Hasil ini menunjukan bahwa Lymnea melakukan proses respirasi. Respirasi adalah proses pemecahan glukosa dengan menggunakan oksigen (O2) dan menghasilkan CO2 dan H2O serta energi. Dimana Lymnea mengambil O2 dari air dan udara pada gelas piala. Selanjutnya menghasilkan CO2, sehingga warna pada larutan menjadi berwarna kuning. Kadar oksigen yang terbentuk adalah 0.90 mg/L atau lebih besar dari DO awal yaitu 0.73. Hal ini mungkin dikarenakan nilai pada water quality cheeker belum stabil, karena seharusnya kadar oksigen lebih kecil dari DO awal karena proses respirasi tersebut. Hasil dari gelas piala B1 menunjukan kadar CO2 yang cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan adanya proses respirasi yang menghasilkan CO2. Tapi CO2 pada gelas piala B1(tempat gelap) lebih rendah dari A1(tempat terang) dengan DO 1.56 mg/L atau oksigen lebih tinggi disbanding dengan A1. Hasil ini karena pada reaksi terang memiliki suhu yang lebih tinggi dibanding dengan tempat gelap. Dengan kenaikan suhu air,terjadi penurunan oksigen yang dibarengi dengan naiknya kecepatan pernafasan organisme perairan,sehingga sering menyebabkan adanya suatu keadaan dimana naiknya kebutuhan oksigen diikuti dengan kelarutan gas tersebut dalam air (Rukaesih, 2004). Hasil dari A2 menunjukan proses daur karbon. Daur karbon ini berlangsung secara terus menerus tanpa henti. Dimana didalamnya tedapat proses panjang dan menggunakan waktu yang lama. Daur dalam gelas piala ini melibatkan Hydrilla membutuhkan CO2 dalam fotosintesis dan mengeluarkan O2. dimana O2 dibutuhkan oleh Lymnea dalam respirasi yang menghasilkan CO2. selanjutnya CO2 yang dihasilkan digunakan oleh tanaman untuk fotosintesis, dan begitu selanjutnya. CO2 pada tempat ini kecil karena adanya hydrilla yang menggunakan untuk proses fotosintesis. Kadar oksigen terlarut yang terbentuk adalah 1,20 mg/L, berarti kadar ini menunjukan jumlah yang relatif kecil karena adanya proses respirasi pada Lymnea. Sinar surya diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis dalam tanaman melalui reaksi kimia sebagai tersebut. 6 C6H12O6 + 6 O2CO2 + 6 H20 Reaksi diatas itu dikatalisasi oleh pigmen tertentu dalam sel biasanya dan atau pigmen lainnya. Gula sebagai reaksi kimia diatas dapat diarahkan menjadi senyawa organic kaya energi seperti pati lalu disimpan yang kemudian dapat juga bereaksi dengan molekul lain seperti protein membentuk karbohidrat khusus seperti selulosa atau dengan molekul lain lagi seperti protein, asam nukleat, pigmen dan hormon. Reaksi tipe ini diperlukan untuk pertumbuhan secara normal dalam mempertahankan jaringan dan fungsi-fungsi tanaman yang semua itu memerlukan energi. Energi untuk reaksi ini didapatkan kembali dengan memecah energi kimia yang tersimpan dalam gula hasil fotosintesis sebagai reaksi kimia di atas melalui oksidasi menghasilkan karbondioksida, air dan energi yang berguna seperti di bawah ini: 6 CO2C6H12O6 + 6 O2 + 6 H2O + energi

Oksidasi gula oleh organisme itu disebut respirasi dimana energi yang dilepaskan melalui reaksi itu tinggal secara permanen di dalam ekosistem.(Sambas,2003) Perbedaan fotosintesis tumbuhan air adalah adanya fiksasi senyawa karbon yang mengambil CO2, PH air menjadi meningkat, dan dapat mengendapkanya sebagai CaCO3 dan CaCO3.MgCO3. (Rukaesih, 2004) Hasil dari gelas piala B2 menunjukan jumlah CO2 yang tinggi, hal ini dikarenakan pada tempat gelap, tumbuhan tidak melakukan fotosintesis karena tidak adanya matahari yang merupakan syarat dari fotosintesis, namun tumbuhan malah melakukan proses respirasi yang menggunakan oksigen. Jadi Lymnea dan Hydrilla sama-sama melakukan reaksi respirasi, sehingga nilai kadar oksigen terlarut rendah yaitu 0.05 mg/L. Peristiwa yang terjadi pada gelas piala A3 merupakan resksi fotosintesis, dimana terjadi pembentukan oksigen melalui proses fotosintesis. Kandungan oksigen yang tinggi pada gelas piala ini ditunjukan dengan air berwarna biru karena larutan BTB dan kadar oksigen(DO) yaitu 1.08. Selain karena fotosintesis, tingginya oksigen juga disebabkan tidak adanya organisme yang menggunakan oksigen tersebut. Hasil dari B3 menghasilkan CO2. hal ini dikarenakan tidak adanya cahaya yang digunakan untuk fotosintesis oleh Hydrilla, sehingga Hydrilla melakukan respirasi yang menggunakan oksigen dan menghasilkan karbon dioksida (CO2). Namun penggunaan oksigen oleh tumbuhan dan organisme lain berbeda. Oksigen yang diperlukan oleh lebih sedikit, hal ini dikarenakan tumbuhan tidak melakukan pergerakan seperti yang dilakukan oleh organisme lainnya sehingga CO2 yang dihasilkan dalam jumlah yang kecil. Hasil dari kadar oksigen terlarut (DO) pada gelas piala ini adalah 1.81 mg/L, hasil ini tidak sesuai karena seharusnya kandungan oksigen pada A3 lebih tinggi. Hal itu dimungkinkan karena adanya nilai yang belum stabil pada water quality cheeker. Hasil dari gelas piala A4 menunjukan adanya kandungan karbon dioksida yang melebihi dengan A2. hal ini dimungkinkan karena adanya mikroorganisme yang dapat mengubah kandungan yang terdapat dalam air menjadi CO2. Nilai DO yang tinggi, mungkin disebabkan karena adanya ketidaksetabilan nilai pada water quality cheeker. Dan hasil dari B4 menunjukan jumlah CO2 yang banyak karena mungkin adanya mikroorganisme yang terdapat di dalam air pada gelas piala yang dapat menjadi CO2 dan menghasilkan DO yaitu 0.41 mg/L.

V. Penutup V.1 Kesimpulan 1. Daur karbon meliputi fotosintesis dan respirasi 2. Fotosintesis adalah proses pembentukan glukosa oleh tumbuhan dengan bantuan CO2, H2O dan cahaya matahari. 3. Respirasi adalah proses pemecahan glukosa dengan menggunakan oksigen (O2) dan menghasilkan CO2 dan H2O serta energi. 4. A1 menghasilkan CO2 terbesar 5. Perbedaan fotosintesis tumbuhan air adalah adanya fiksasi senyawa karbon yang mengambil CO2, PH air menjadi meningkat, dan dapat mengendapkanya sebagai CaCO3 dan CaCO3.MgCO3 6. Dengan kenaikan suhu air,terjadi penurunan oksigen yang dibarengi dengan naiknya kecepatan pernafasan organisme perairan 7. Cahaya dibutuhkan pada saat fotosintesis 8. Pada keadaan gelap tumbuhan melakukan respirasi 9. Jumlah penggunaan oksigen pada respirasi oleh tumbuhan dan organisme lain berbeda V.2 Saran

Lindungilah semua hal di bumi, agar dia bisa berjalan dengan semestinya

Daftar Pustaka Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta: Yogyakarta Andi Daur Karbon. http:rimbaya.blogspot.com/2005/03/daurkarbon/htm.tanggal 23 April 2008 jam 17.38 ___________. http://id.wikipedia.org/wiki/siklus_karbon. tanggal 23 April 2008 jam17.41 Mollusca. http://www.e-dukasi.net/mol/mo-ful.phd?moid=78&fname=bio111_34.htm Setyo, Leksono. 2007. Ekologi. Malang: Bay0media Publishing Wirakusumah, Sambas.2003. Dasar- Dasar Ekologi. Jakarta: UI Press

PERTANYAAN 1. Pertambahan konsentrasi CO2 pada botol percobaan B2 menunjukan apa? 2. Mengapa Hydrilla Sp tidak menambah jumlah CO2 bila diletakan ditempat terang? 3. Tuliskan reaksi fotosintesa dan reaksi respirasi yang terjadi pada organisme? JAWAB : 1. karena adanya proses respirasi pada Lymnea, yaitu proses pembentukan ATP dengan pemecahan glukosa. Reaksi ini membutuhkan O2 dan menghasilkan CO2. 2. karena terjadi proses fotosintesis, dimana Hidrilla menggunakan CO2 dan menghasilakan Oksigen. 3. Sinar surya diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis dalam tanaman melalui reaksi kimia sebagai tersebut. 6 C6H12O6 + 6 O2CO2 + 6 H20 Reaksi diatas itu dikatalisasi oleh pigmen tertentu dalam sel biasanya dan atau pigmen lainnya. Gula sebagai reaksi kimia diatas dapat diarahkan menjadi senyawa organic kaya energi seperti pati lalu disimpan yang kemudian dapat juga bereaksi dengan molekul lain seperti protein membentuk karbohidrat khusus seperti selulosa atau dengan molekul lain lagi seperti protein, asam nukleat, pigmen dan hormon. Reaksi tipe ini diperlukan untuk pertumbuhan secara normal dalam mempertahankan jaringan dan fungsi-fungsi tanaman yang semua itu memerlukan energi. Energi untuk reaksi ini didapatkan kembali dengan memecah energi kimia yang tersimpan dalam gula hasil fotosintesis sebagai reaksi kimia di atas melalui oksidasi menghasilkan karbondioksida, air dan energi yang berguna seperti di bawah ini: 6 CO2C6H12O6 + 6 O2 + 6 H2O + energi Oksidasi gula oleh organisme itu disebut respirasi dimana energi yang dilepaskan melalui reaksi itu tinggal secara permanen di dalam ekosistem.(Sambas,2003) Hidologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air bumi, terjadinya, peredaran dan agihannya, sifat-sifat kimia dan fisiknya, dan reaksi dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan mahluk-mahluk hidup (International glossary of Hidrologi, 1974). Karena perkembangannya yang begitu cepat, hidrologi telah menjadi dasar dari pengelolaan sumberdaya-sumberdaya air rumah tangga yang merupakan pengembangan, agihan dan penggunaan sumberdaya-sumberdaya air secara terencana. Banyak proyek di dunia (rekayasa air, irigasi, pengendalian banjir, drainase, tenaga air dan lain-lain) dilakukan dengan terlebih dahulu mengadakan survey kondisi-kondisi hidrologi yang cukup.

Tanah mempunyai peranan penting dalam siklus hidrologi. Kondisi tanah menentukan jumlah air yang masuk dalam tanah dan mengalir pada permukaan tanah. Jadi tanah tidak hanya berperan sebagai media pertumbuhan tanaman tetapi juga sebagai media pengatur tata air. Kerusakan yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi berupa kehilangan unsure hara dan bahan organik, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air, dan meningkatnya kepadatan tanah serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Air diperlukan oleh tanaman untuk mengangkut unsur-unsur hara dan zat-zat terlarut lain di dalam tanaman dan untuk produksi gula pada proses fotosintesis, darimana tanaman memperoleh energi untuk pertumbuhan dan menjadi dewasa. Sebagian besar air digunakan dalam proses transpirasi. Apabila air hilang ke dalam atmosfer melalui transpirasi melebihi dari air yang diserap tanaman dari tanah, maka air akan hilang dari sel-sel tanaman sehingga sel tanaman kehilangan tegangan turgor dan akhirnya tanaman menjadi layu.setiap gejala kelayuan pada tanaman dapat dijadikan petunjuk bahwa pertumbuhan tanaman akan terhenti. Pertumbuhan akan tergantung pada tegangan turgor yang memungkinkan sel-sel baru terbentuk. Segera setelah pembasahan, tanah yang dalam dan terdraenase baik akan memiliki lebih banyak air pada lapisan permukaan daripada di lapisan di bawah permukaan. Dengan demikian gradian potensial tetap ada dan menyebabkan aliran ke bawah terus berlangsung meskipun setelah infiltrasi permukaan berhenti. Aliran ini memindahkan air dari horizon atas ke horizon bawah yang lebih kering. Sesudah dua sampai tiga hari, laju draenase menjadi sangat lambat dan kandungan hampir konstan. Kandungan air pada saat ini dinamakan kapasitas lapang. Berdasarkan uraian di atas maka dilaksanakanlah praktikum ini untuk untuk mengetahui nilai kapasitas lapang dan titik layu permanen pada tanaman jagung (Zea mays L.) dan tanaman kedelai (Glycine max). Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui tingkat evaporasi, transpirasi, evapotranspirasi dan kadar air pada tanah Alfisol dengan berbagai perlakuan. Kegunaan dari praktikum ini adalah sebagai bahan informasi di dalam pola penerapan pengelolaan lahan pertanian terhadap besarnya laju evaporasi dan transpirasi yang terjadi. TINJAUAN PUSTAKA Hidrologi Hidrologi mempelajari siklus air di alam raya. Siklus hidrologi atau siklus air meliputi kejadian-kejadian air menguap ke udara, kemudian mengembun dan menjadi hujan atau salju, masuk ke dalam tanah atau mengalir di atas permukaan tanah, lalu berkumpul di danau atau laut, menguap lagi dan seterusnya (Asdak, 1995). Tanah mempunyai peranan penting dalam siklus hidrologi. Kondisi tanah menentukan jumlah air yang masuk ke dalam tanah dan mengalir pada permukaan tanah. Besarnya jumlah aliran permukaan dan jumlah air yang dapat masuk ke dalam tanah akan menentukan

jumlah air yang bermanfaat bagi manusia ataupun menentukan fluktuasi debit air di sungai yang terdapat pada suatu daerah penampungan (Pairunan A, dkk, 1997). Air yang masuk ke dalam tanah sebahagian dimanfaatkan tanaman untuk membentuk bahan organik dalam proses fotosintesa, sebagian diluapkan melalui proses transpirasi. Air yang masuk dalam tanah dapat tertahan dalam tanah sebelum diserap oleh tanaman, atau bergerak ke atas melalui pipa kapiler kemudian menguap dari permukaan tanah, dapat juga terus bergerak sebagai air perkolasi yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman, (Pairunan A, dkk, 1985). Pergerakan air di bumi yang merupakan suatu sistem yang tertutup, yang berarti pergerakan air pada sistem tersebut selalu tetap berada pada sistemnya. Energi panas matahari dan faktorfaktor iklim lainnya menyebabkan terjadinya proses evaporasi pada permukaan vegetasi dan tanah, di laut dan badan-badan air lainnya. Uap air sebagai hasil proses evaporasi akan terbawa oleh angina melintasi daratan yang bergunung maupun pada daerah datar dan apabila keadaan atmosfer memungkinkan sebagian dari uap air tersebut akan terkondensasi dan turun sebagai air hujan (Hakim,dkk, 1986 ). Air diperlukan oleh tanaman untuk mengangkut unsur-unsur hara dan zat-zat terlarut lain di dalam tanaman dan untuk produksi gula pada proses fotosintesis, darimana tanaman memperoleh energi untuk pertumbuhan dan menjadi dewasa. Sebagian besar air digunakan dalam proses transpirasi. Apabila air hilang ke dalam atmosfer melalui transpirasi melebihi dari air yang diserap tanaman dari tanah, maka air akan hilang dari sel-sel tanaman sehingga sel tanaman kehilangan tegangan turgor dan akhirnya tanaman menjadi layu.setiap gejala kelayuan pada tanaman dapat dijadikan petunjuk bahwa pertumbuhan tanaman akan terhenti. Pertumbuhan akan tergantung pada tegangan turgor yang memungkinkan sel-sel baru terbentuk (Asdak,, 1995). Evaporasi Evaporasi adalah penguapan air dari permukaan air, tanah, dan bentuk permukaan bukan vegetasi lainnnya oleh proses fisika. Dua unsur utama untuk berlangsungnnya evaporasi adalah energi (radiasi) matahari dan ketersediaan air. Proses-proses fisika yang menyertai berlangsungnya perubahan bentuk dari cair menjadi gas berlaku pada kedua proses evaporasi tersebut diatas. Oleh karenanya, kondisi fisika yang mempengaruhi laju evaporasi umum terjadi pada kedua proses alamiah tersebut. Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain cahaya matahari, suhu udara, dan kapasitas kadar air dalam udara. Proses evaporasi yang disebutkan diatas tergantung pada jumlah air yang tersedia (Asdak, 1995). Penguapan air dapat dibedakan ke dalam penguapan internal dan penguapan eksternal. Penguapan eksternal terjadi pada permukaan tanah (evaporasi) dan terjadi pada tanaman (transpirasi), sedangkan penguapan internal terjadi dalam pori-pori tanah (Hakim dkk, 1986). Air yang masuk ke dalam tanah sebagian dimanfaatkan tanaman untuk membentuk bahan organik dalam proses fotosintesis, sebagian diuapkan melalui proses transpirasi. Air yang masuk dalam tanah dapat tertahan dalam tanah sebelum diserap oleh tanaman, atau bergerak ke atas melalui pipa kapiler kemudian menguap (Pairunan A.K dkk, 1997) Karena transpirasi adalah proses evaporasi air dari permukaan tumbuhan, maka faktor-faktor iklim yang mempengaruhi evaporasi secara umum juga berpengaruh terhadap transpirasi.

Kenyataan di lapangan kedua proses, evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi dari tumbuhan sulit dipisahkan, sehingga keduanya disebut evaporatranspirasi (Hakim,dkk, 1986) Transpirasi Transpirasi adalah penguapan air dari daun dan cabang tanaman melalui pori-pori daun oleh proses fisiologi. Daun dan cabang umumnya di balut lapisan mati yang disebut kulit air (cuticle) yang kedap uap air. Sel-sel hidup daun dan cabang terletak di bawah permukaan tanaman, dibelakang pori-pori daun dan cabang. Besar kecilnya laju transpirasi secara tidak langsung ditentukan oleh radiasi matahari melalui membuka dan menutupnya pori-pori tersebut (Asdak, 1995). Transpirasi adalah suatu proses ketika air diuapkan ke uadara dari permukaan daun/tajuk vegetasi. Oleh karenanya, faktor-faktor yang mengendalikan besar kecilnya transpirasi suatu vegetasi adalah sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya evaporasi, yaitu radiasi panas matahari, suhu, kecepatan angina, dan gradient tekanan udara. Dalam hal ini, besarnya transpirasi, dalam batas tertentu, juga dipengaruhi oleh karakteristik dan kerapatan vegetasi seperti struktur tajuk, perilaku pori-poeri daun, dan lain-lain (Seyhan, 1990). Adalah sulit mengukur evaporasi dari permukaan tanah yang bervegetasi. Selain harus memperhatikan jumlah air yang tersedia dan kemampuan atmosfer untuk menyerap dan mengangkut uap air, masih harus mempertimbangkan mekanisme transpirasi vegetasi. Beberapa teknik pengukuran transpirasi telah dilakukan pada beberapa jenis tanaman dalam plot-plot percobaan. Teknik tersebut antara lain ; (1). Plot pengukuran dengan menggunakan alat lysimeter, (2). Pengukuran berkurangnya kelembaban tanah dalam plot percobaan, (3). Pemangkasan cabang-cabang tanaman dan menimbangnya untuk mengukur besarnya laju kehilangan air, dan (4). Menganalisis dengan menggunakan neraca air (Asdak, 1995). Evapotranspirasi Penguapan air dapat dibedakan ke dalam penguapan internal dan penguapan eksternal. Penguapan eksternal terjadi pada permukaan tanah (evaporasi) dan terjadi pada tanaman (transpirasi), sedangkan penguapan internal terjadi dalam pori-pori tanah (Hakim dkk, 1986). Air yang mempunyai permukaan secara langsung berinfiltrasi kedalam tanah atau melintas diatas pemukaan tanah. Sebagian darinya, secara langsung atau setelah penyimpanan permukaan. Hilangnya dalam bentuk evaporasi yaitu proses dimana air menjadi uap, dan transpirasi yaitu proses dimana air menjadi uap melalui metabolisme tanaman (Asdak, 1995). Perkiraan evaporasi dan transpirasi adalah sangat penting dalam pengkajian-pengkajian hidrometeorologi. Pengaruh langsung evaporasi dan evaportranspirasi dari air ataupun permukaan lahan yang benar adalah tidak mungkin pada saat ini. Akan tetapi, jika keragaman waktu evaporasi permukaan maka air bebas berbanding langsungdengan radiasi bersih, kita dapat mengharapkan nilai-nilai maksimum pada siang hari (Seyhan, 1990).

Evaportranspirasi akan berlangsung hanya bila pasokan air tidak terbatas bagi stomata tanaman dan permukaan tanah, lebih dekat pada fase dengan radiasi matahari karena hanya sedikit panas disimpan oleh tanaman dan juga karena stomata menutup pada malam hari. Evaportranspirasi ini biasanya dipengaruhi oleh faktor meteorologi, geografi dan lainnya seperti kandungan lengas tanah, karakteristik kapiler tanah, jeluk muka air tanah dan sebagainya (Seyhan, 1990). Kadar Air Air mempunyai fungsi penting dalam tanah, dimana air penting dalam pelapukan mineral dan bahan organik, reaksi yang menyiapkan hara laut bagi pertumbuhan tanaman. Air berfungsi sebagai media gerak hara ke akar-akar hara tanaman. Bila air terlalu banyak, hara-hara yang lewat atau ada yang tercuci dan hilang dari perakaran atau bila tinggi evaporasinya, garamgaram terlarut mungkin terangkut ke lapisan atas tanah dan kadang-kadang tertimbun dalam jumlah yang banyak sehingga dapat merusak tanaman (Hardjowigeno, 1987). Kemapuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekanan dan tekstur tanah mempunyai gaya menahan air lebih kecil dari tanah tekstur halus. Oleh karena itu tanaman yang ditanam pada tanah bertekstur lempung dan liat (Pairunan, dkk, 1997). Air antara kejenuhan dan kapasitas lapangan (air gravitasi) mempunyai tegangan rendah dan lebih mudah diserap oleh akar tumbuhan. Akan tetapi, air gravitasi sedikit gunanya pada kebanyakan tanah sebab air ini memeras air ke bawah dengan cepat. Selain itu, adanya air gravitasi meniadakan udara yang diperlukan akar untuk pernafasan dan banyak kegiatan biologi lainnya. Gerakan ait ke bawah oleh air gravitasi menarik udara ke dalam tanah (Syarief, 1986). Kehilangan air oleh transpirasi menimbulkan kekuatan utama yang mendorong untuk penyerapan air oleh akar tanaman yang bertranspirasi. Tegangan yang terjadi pada daun oleh hilangnya air transpirasi di transmisikan ke xilem batang dan akhirnya ke akar. Apabila tegangan air dalam akar lebih besar dari tegangan yang mengikat air dalam tanah, air bergerak ke dalam akar (Foth, 1994).

AAPA,
Kamis, 08 Juli 2010

PRAKTIKUM HIDROLOGI LINGKUNGAN, Teknik Lingkungan UPN jogjakarta 2010

Praktikum Hidrologi merupakan praktikum di semester 4, dengan bobot 1 sks tetapi serasa 100 sks, hehehheheh, yang akan di bahas di sini adalah hal2 hal yang berkaitan dengan siklus air dan iklim cuaca yang mempengaruhi nya,,,,10 acara ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 bulan, dengan 10 acaranya yaitu EVAPORASI, EVAPOTRANSPIRASI, PENGUJIAN DATA HUJAN, HUJAN WILAYAH, PENENTUAN JARINGAN STASIUN HUJAN, IKLIM, INFILTRASI, FLOWNET, MENGHITUNG DEBIT ALIRAN, dan KLIMATOLOGI KOTA. untuk lebih jelas ntar baca semuanya, n semoga bermanfaat. ACARA I EVAPORASI I. TUJUAN Tujuan dari acara 1 (evaporasi) pada praktikum pertama hidrologi lingkungan adalah agar mahasiswa dapat menentukan besar nya evaporasi pada suatu daerah dengan menggunakan metode evaporasi dan rumus empirik II. ALAT DAN BAHAN Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam praktikum ini adalah : a. Komputer b. Alat tulis c. Kalkulator d. Buku sumber e. Penggaris III. DASAR TEORI Evaporasi atau Penguapan adalah proses perubahan molekul di dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Proses ini adalah kebalikan dari kondensasi. Umumnya penguapan dapat dilihat dari lenyapnya cairan secara berangsurangsur ketika terpapar pada gas dengan volume signifikan. Evaporasi merupakan proses fisis perubahan cairan menjadi uap, hal ini terjadi apabila air cair berhubungan dengan atmosfer yang tidak jenuh, baik secara internal pada daun (transpirasi) maupun secara eksternal pada permukaan-permukaan yang basah. Suatu tajuk hutan yang lebat menaungi permukaan di bawahnya dari pengaruh radiasi matahari dan angin yang secara drastis akan mengurangi evaporasi pada tingkat yang lebih rendah. Rata-rata molekul tidak memiliki energi yang cukup untuk lepas dari cairan. Bila tidak cairan

akan berubah menjadi uap dengan cepat. Ketika molekul-molekul saling bertumbukan mereka saling bertukar energi dalam berbagai derajat, tergantung bagaimana mereka bertumbukan. Terkadang transfer energi ini begitu berat sebelah, sehingga salah satu molekul mendapatkan energi yang cukup buat menembus titik didih cairan. Bila ini terjadi di dekat permukaan cairan molekul tersebut dapat terbang ke dalam gas dan "menguap Evaporasi merupakan salah satu proses yang ada dalam siklus hidrolologi, dimana proses evaporasi sangat berperan, karena evaporasi atau Penguapan adalah bagian esensial dari siklus air. Energi surya menggerakkan penguapan air dari samudera, danau, embun dan sumber air lainnya. Air pada sungai akan berevaporasi secara langsung ke atmosfer atau mengalir kembali ke dalam laut dan selanjutnya berevaporasi. Kemudian, air ini nampak kembali pada permukaan bumi sebagai presipitasi. Sebagaimana dapat dilihat dari Gambar dan penjelasan singkat tentang Siklus hidrologi di atas, tangkapan daerah aliran sungai terhadap presipitasi merupakan keluaran dari salingtindak semua proses ini. Limpasan nampak pada sistem yang sangat kompleks setelah pelintasan presipitasi melalui beberapa langkah penyimpanan dan transfer. Kompleksitas ini meningkat dengan keragaman areal vegetasi, formasi-formasi geologi, kondisi tanah dan di samping ini juga keragaman-keragaman areal waktu dari faktor-faktor iklim Uap air yang telah menguap dari teh panas terkondensasi menjadi tetesan air. Gas air Gas air tidak terlihat, tetapi awan tetesan air adalah petunjuk dari penguapan yang diikuti oleh kondensasi. Dua unsur utama dalam evaporasi adalah Radiasi matahari Sebagian radiasi gelombang pendek (shortwave radiation) matahari akan di ubah menjadi energy panas di dalam tanaman, air, dan tanah. Energi panas tersebut akan menghangatkan udara di sekitar nya. Panas yang di pakai untuk menghangat kan partikel-partikel berbagai material di udara tanpa mengubah partikel tersebut di namakan panas tampak (sensible heat). Sebagian energy matahari akan di ubah menjadi tenaga mekanik. Tenaga mekanik ini akan menyebabkan perputaran udara dan uap air di atas permukaan tanah. Hal panas tampak (sensible heat). Sebagian energy matahari akan di ubah menjadi tenaga mekanik. Tenaga mekanik ini akan menyebabkan perputaran udara dan uap air di atas permukaan tanah. Hal ini menyebabakan udara di atas permukaan tanah jenuh, sehingga mempertahan kan tekanan uapa air yang tinggi pada permukaan bidang evaporasi. Ketersediaan air Melibatkan jumlah air yag ada dan juga persediaan air yang siap untuk terjadinya evaporasi. Permukaan bidang evaporasi yang kasar akan memberikan laju evaporasi yang lebih tinggi dari pada bidang permukaan rata karena pada biding permukaan yang lebih kasar besar nya turbulent meningkat. Faktor faktor penentu evaporasi : Pada kedua proses evaporasi diatas terjadi proses-proses fisika,yakni terjadinya perubahan bentuk dari zat cair menjadi gas.faktor-faktor tersebut adalah;

Panas Panas di perlukan untuk berlangsung nya perubahan bentukdari zat cair ke gas secara alamiah matahari menjadi sumber energy panas. Suhu udara, permukaan bidang penguapan (air, vegetasi, dan tanah), dan energy panas matahari Makin tinggi suhu uadara di atas permukaan bidang penguapan, makin mudah terjadi

perubahan bentuk dari zat cair menjadi gas. Dengan demikian, laju evaprotranspirasi menjadi lebih besar di daerah tropic dari pada adaerah beriklim sedang. Perbedaan laju evaprotranspirasi yang sama juga di jumpai di daerah tropic pada musim kering dan musim basah. Kapasitas kadar air dalam udara Kapasitas kadara air dalam udara secara langsung dipengaruhi oleh tinggi rendah nya suhu di tempat tersebt. Besar nya kadar air dalam udara di suatu tempat di tentukan oleh tekanan uap air, ea (vapour preassure) yang ada di tempat tersebut proses evaporasi tergantung pada deficit tekanan uap tekanan uap jenuh air, Dvp, di udara atau jumlah uap air yang dapat di serap oleh udara sebelum udara tersebut menjadi jenuh. Sehingga, evaporasi lebih lebih kering dari pada di daerah pantai yang lembab karena penguapan dari permukaan air laut. Kecepatan angin Ketika penguapan berlangsung, udara di atas permukaan bidang penguapan secara bertahap menjadi lebih lembab, sampai pada tahap ketika udara menjadi jenuh dan tidak mampu menampung uap air lagi. Pada tahap ini, udara jenuh di atas permukaan bidang penguapan tersebut akan berpindah ke tempat lain akibat beda tekanan dan kerapatan udara dengan demikian, proses penguapan air dari bidang penguapan tersebut akan berlangsung secara terus menerus. Bidang permukaan Secara alamiah bidang permukaan penguapan akan mempengaruhi proses evapaorasi melalui perubahan pola perilaku angin, pada bidang permukaan yang kasar atau tidak beraturan, kecepatan angin akan berkurang oleh adanya proses gesekan. Tapi, pada tingkat tertentu, permukaan bidang penguapan yang kasar juga dapat menimbulkan gerakan angin berputar (turbulent) yang dapat memperbesar evaporasi. Pada bidang permukaan air yang luas, angin kencang juga dapat menimbulkan gelombang air besar dan dapat mempercepat terjadinya evaprotranspirasi. Penentuan Besarnya Evaporasi Besarnya evaporasi dapat ditentukan dengan beberapa perkiraan sebagai berikut: Perkiraan evaporasi berdasarkan panci evaporasi Evaporasi permukaan air bebas menggunakan panci evaporasi harus dikonversi karena perkiraan evaporasi pada 1 unit area pan evaporasi biasanya lebih besar dari penguapan 1 unit area permukaan air bebas. Penggunaan panci ini untuk mendapatkan angka indeks potensial evapotranspirasi. Rumus penentuan besarnya evaporasi dari permukaan air bebas adalah: E permukaan air bebas = C panci x evaporasi panci Menurut kantor cuaca nasional amerika serikat , standar panci yang umum digunakan adalah panci evaporasi kelas A dengan ukuran diameter 122 cm dan kedalaman 25 cm . Tabel koefisien (c pan ) untuk berbagai pan
Dalam praktikum pertama ini praktikan diharapkan dapat menghitung nilai evaporasi berdasar kan beberapa rumus, di antara nya panci evaporasi dan rumus empiris. Evaporasi sendiri adalah penguapan air dari permukaan air, tanah, dan bentuk permukaan bukan vegetasi lainnya oleh proses fisika. Energi (radiasi) matahari dan ketersediaan air adalah dua unsur utama dari proses evaporasi. Sedangkan faktor penentunya adalah panas, suhu udara, permukaan bidang penguapan, kapasitas kadar air dalam udara, kecepatan angin dan bidang permukaan. Evaporasi permukaan air bebas secara langsung di ukur dengan mencatat pengurangan tinggi di muka air dengan panci. Tinggi permukaan air di dalam panci evaporasi sudah di tentukan sebelum nya dan harus di atur setiap hari setelah pengukuran. Biasanya pengukuran di lakukan. Biasa nya

pengukuran di lakukan dengan alat ukur yang di kaitkan, dengan di beri toleransi untuk air hujan yang masuk. Karena total bulanan dan tahunanmerupakan jumlah sekian banyak perbedaan kecil, yang masing-masing mempunyai kemungkinan kesalahan yang sama, maka pengamatan harus di lakukan dengan sangat teliti. Data yang diberikan untuk menghitung panci evaporasi menggunakan tabel koefisien (C panci) untuk mencari Eo min, mean dan max. Berdasarkan kantor cuaca nasional Amerika serikat, standard panci yang umum digunakan adalah panci Evaporasi kelas A ( BPI/Class A ) dengan ukuran diameter 122 cm dan kedalamn 25 cm (lee,1980). Selain itu praktikan juga diberikan data untuk menghitung rumus empiris. Perkiraan evaporasi dengan menggunakan rumus empiris terbagi menjadi 4 cara yaitu cara aerodinamic, persamaan Rohwer, persamaan Orstom, persamaan danau Heffner. Cara aerodinamic merupakan metode yang mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan uap air dari suatu permukaan yaitu pertumbuhan kelembaban arah vertikaln dan turbulensi dari aliran udara. Data empiris yang diberikan kepada praktikan terdiri dari 6 tanggal ( dimulai dari tanggal 13 -18 ), yang terdiri dari kecepatan angin, kelembaban dan juga suhu. Untuk menghitung perkiraan evaporasi dengan menggunakan rumus empiris praktikan diberikan grafik variasi tekanan uap dengan temperatur pada presentase kejenuhan. Grafik tersebut digunakan untuk mempermudah praktikan membuat perhitungan. Pada grafik tersebut praktikan diberi rumus interpolasi untuk menentukan jarak pada grafik baik suhu maupun kelembaban. Dari hasil perhitungan dapat kita lihat bahwa hasil perhitungan menggunakan cara aeorodinamik, persamaan Rohwer, persamaan Orstom, dan persamaan Danau Hefner berbeda-beda. Hasil dari tiap-tiap data yang telah ditemukan kemudian dimasukkan ke dalam tabel yang telah dibuat oleh asisten untuk praktikan. Dalam praktikum ini praktikan diberi tugas untuk mengisi dua tabel yaitu table hasil perhitungan data panci juga tabel hasil perhitungan data empiris. Selain itu, praktikan juga di beri tugas membuat dua buah grafik. Grafik pertama, yaitu hubungan antara besar Eo dengan bulan untuk prakiraan evaporasi berdasarkan panci evaporasi. Yang kedua adalah grafik yang menghubungkan Eo dengan tanggal. Grafik ini untuk prakiraan evaporasi dengan menggunakan rumus empiris. Pada saat praktikan melakukan perhitungan prakiraan evaporasi berdasarkan panic evaporasi, praktikan melakukan perhitungan 36 perhitungan. Untuk mencari nilai min, praktikan mengalikan hasil Eo tanggal 23 setiap bulan selama setahun dengan 0.68 ( sesuai dengan BPI/Class A yang dianjurkan oleh asisten ). Untuk nilai mean praktikan mengalikannya dengan 0.77, sedangkan untuk nilai max praktikan mengalikannya dengan 0.83. Faktor-Faktor Penentu Evapotranspirasi Untuk mengetahui faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap besarnya evapotranspirasi, maka dalam hal ini evapotanspirasi perlu dibedakan menjadi evapotranspirasi potensial (PET) dan evapotranspirasi aktual (AET). PET lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi, sementara AET dipengaruhi oleh fisiologi tanaman dan unsur tanah. Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi PET adalah radiasi panas matahari dan suhu, kelembaban atmosfer dan angin, dan secara umum besarnya PET akan meningkat ketika suhu, radiasi panas matahari, kelembaban, dan kecepatan angin bertambah besar. Pengaruh radiasi panas matahari terhadap PET adalah melalui proses fotosintesis. Dalam mengatur hidupnya, tanaman memerlukan sirkulasi air melalui sitem akar-batang-daun. Sirkulasi perjalanan air dari bawah (perakaran) ke atas (daun) dipercepat dengan meningkatnya jumlah radiasi panas

matahari terhadap vegetasi yang bersangkutan. Pengaruh suhu terhadap PET dapat dikatakan secara langsung berkaitan dengan intensitas dan lama waktu radiasi matahari. Suhu yang akan mempengaruhi PET adalah suhu daun dan bukan suhu udara di sekitar daun. Pengaruh angin terhadap PET adalah melalui mekanisme dipindahkannya uap air yang keluar dari pori-pori daun. Semakin besar kecepatan angin, semakin besar pula laju evapotranspirasinya. Dibandingkan dengan pengaruh radiasi panas matahari, pengaruh angin terhadap laju ET adalah lebih kecil (de Vries and van Duin dalam Ward, 1967). Kelembaban tanah juga ikut mempengaruhi terjadinya evapotranspirasi. Evapotranspirasi berlangsung ketika vegetasi yang bersangkutan sedang tidak kekurangan suplai air (Penman, 1956 dalam Ward, 1967). Dengan kata lain evapotranspirasi (potensial) berlangsung ketika kondisi kelembaban tanah berkisar antara titik wilting point dan field capacity. Karena ketersediaan air dalam tanah tersebut ditentukan oleh tipe tanah, dengan demikian, secara ti dak langsung, peristiwaPET juga dipengaruhi oleh faktor potensial. Pengukuran Evapotranspirasi Ada berapa metode dalam penetapan nilai/besarnya evapotranspirasi, antara lain: Metode Thornthwaite Thornthwaite telah mengembangkan suatu metode untuk memperkirakan besarnya evapotranspirasi potensial dari data klimatologi. Evapotranspirasi potensial (PET) tersebut berdasarkan suhu udara rerata bulanan dengan standar 1 bulan 30 hari, dan lama penyinaran matahari 12 jam sehari. Metode ini memanfaatkan suhu udara sebagai indeks ketersediaan energi panas untuk berlangsungnya proses ET dengan asumsi suhu udara tersebut berkorelasi dengan efek radiasi matahari dan unsur lain yang mengendalikan proses ET. Rumus dasar:

keterangan: PET = evapotranspirasi potensial bulanan (cm/bulan) T = temperatur udara bulan ke-n (OC) I = indeks panas tahunan (dari tabel 5.1) a = koefisien yang tergantung dari tempat Harga a dapat ditetapkan dengan menggunakan rumus: a 10-5 10-7 ( I2 ) + 1792 10-9 ( I3 ) 771 = 675 ( I ) + 0,49239 Jika rumus tersebut diganti dengan harga yang diukur, maka: PET = evapotranspirasi potensial bulanan standart (belum disesuaikan dalam cm) Karena banyaknya hari dalam sebulan tidak sama, sedangkan jam penyinaran matahari yang diterima adalah berbeda menurut musim dan jaraknya dari katulistiwa, maka PET harus disesuaikan menjadi:

Keterangan: s = jumlah hari dalam bulan Tz = jumlah jam penyinaran rerata per hari Nilai perbandingan dapat dilihat pada tabel 5.2 Metode Blaney-Criddle Metode ini digunakan untuk menentukan besarnya evapotranspirasi dari tumbuhan (consumtive use) yang pengembangannya didasarkan pada kenyataan bahwa evapotranspirasi bervariasi sesuai dengan keadaan temperatur, lamanya penyinaran matahari/siang hari, kelembaban udara dan kebutuhan tanaman.

(ILRI 1974) keterangan: U = consumtive use (inch) selama pertumbuhan tanaman K = koefisisen empiris yang tergantung pada tipe dan lokasi tanaman (tabel 5.3) P = persentase jumlah jam penyinaran matahari per bulan dalam 1 (satu) tahun (%) (tabel 2.4) T = temperatur bulan ke-n (OF) Metode Blaney-Criddle yang dimodifikasi (ILRI: 1974)

keterangan: U = transpirasi bulanan (mm/bulan) T = suhu udara bulan ke-n (OC) P = persentase jam siang bulanan dalam setahun dimana: K Kc= Kt Kt = 0,0311(t) + 0,24 Kc = koefisien tanaman bulanan dalam setahun = 0,94 Harga-harga Kc padi di Indonesia dapat dilihat pada tabel 5. Metode Turc-Lungbein Turc telah mengenbangkan sebuah metode penentuan evapotranspirasi potensial yang didasarkan pada penggunaan faktor-faktor klimatologi yang paling sering diukur, yaitu kelembaban relatif dan temperatur udara.