Anda di halaman 1dari 39

PROPOSAL PENELITIAN

Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Seminar Proposal

Pengaruh Massage dengan Aromaterapi Lavender Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan dan Stres pada Wanita Karir

Disusun Oleh : Estri Yuliniarsi J110100006

Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi Fisioterapi D4 Universitas Muhammadiyah Surakarta 2013

BAB l PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Saat ini, peran wanita telah bergeser dari peran tradisional menjadi modern. Dari hanya memiliki peran tradisional untuk melahirkan anak (reproduksi) dan mengurus rumah tangga, kini wanita memiliki peran sosial dimana dapat berkarir dalam bidang kesehatan, ekonomi, sosial, maupun politik dengan didukung pendidikan yang tinggi. Secara tradisional, peran wanita seolah dibatasi dan ditempatkan dalam posisi pasif yaitu wanita hanyalah pendukung karir suami. Peran wanita yang terbatas pada peran reproduksi dan mengurus rumah tangga membuat wanita identik dengan pengabdian kepada suami dan anak. Sementara wanita modern dituntut untuk berpendidikan tinggi, berperan aktif, dan kritis (Health Woman, 2008). Menurut Triaryati (2010), peran ganda sebagai pekerja maupun ibu rumah tangga mengakibatkan tuntutan yang lebih dari biasanya terhadap wanita, karena terkadang para wanita menghabiskan waktu tiga kali lipat dalam mengurus rumah tangga dibandingkan dengan pasangannya yang bekerja pula. Penyeimbangan tanggung jawab ini cenderung lebih memberikan tekanan hidup bagi wanita bekerja karena selain menghabiskan banyak waktu dan energi, tanggungjawab ini memiliki tingkat kesulitan pengelolaan yang tinggi. Konsekuensinya, jika wanita kehabisan energi maka keseimbangan mentalnya terganggu sehingga dapat menimbulkan stress. Rini (2008), mengungkapkan bahwa para wanita yang bekerja dikabarkan sebagai pihak yang mengalami stress lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Masalahnya, wanita bekerja ini menghadapi konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Stress yang dimaksud disini adalah stress yang menyebabkan ketegangan/penderitaan psikis sehingga menimbulkan kecemasan. Pada tahun 2008, gambaran stress di Amerika yang dikeluarkan oleh APA (American tinggi. Psychological Assosiation) melaporkan secara statistik mengenai wanita dan stress, dikatakan bahwa 33% wanita mengalami tingkat stress yang

Sebagai contoh, pada beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa stress berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh untuk memproduksi hormon cortisol dan adrenalin secara berlebihan. Hal ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh kita. Salah satu cara untuk mengurangi tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir adalah dengan massage terapi. Massage merupakan salah satu cara terbaik untuk menikmati aromaterapi, hal ini dikarenakan kita tidak hanya menerima khasiat dari Essential Oils, tetapi kita juga mendapat khasiat dari massage itu sendiri. Khasiat Essential Oils dipadukan dengan efek dari massage menstimulasi seluruh organ didalam tubuh, ditambah kulit, otot, syaraf, dan pori-pori. Peningkatan sirkulasi darah mendukung pembersihan racun dari dalam tubuh. Dikarenakan Essential Oils dapat mempengaruhi emosi kita, aromaterapi dapat mengatasi depresi, insomnia, dan stress. Massage dapat merangsang sirkulasi darah, meningkatkan pasokan nutrisi dan oksigen ke sel, merangsang limfatik, meningkatkan drainase jaringan dan kekebalan sistem tubuh (Buckle, 2001). Massage dengan aromaterapi pada tubuh adalah cara terbaik untuk mengurangi stres dan telah terbukti sangat finansial benefit. Hal ini dapat mempengaruhi saraf otonom sistem dan memberikan respon yang menenangkan serta mengurangi tingkat hormon stres yang berbahaya dalam tubuh (Pelletier,2002). Latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti apakah ada pengaruh massage dengan aromaterapi lavender terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu adakah pengaruh pemberian massage dengan aromaterapi lavender terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh pemberian massage dengan aromaterapi lavender terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir.

2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui pengaruh massage terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir. Untuk mengetahui pengaruh aromaterapi lavender terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Ilmu Pengetahuan Dapat menambah dan memperluas ilmu pengetahuan tentang pengaruh pemberian massage dengan aromaterapi terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir.

2. Bagi Institusi Dapat memberikan informasi dan masukan bagi institusi dalam upaya memecahkan masalah mengenai tingkat stress yang dihadapi oleh tenaga kerja wanitanya terutama bagi yang sudah berkeluarga dan diharapkan dalam menerapkan berbagai kebijakan mempertimbangkan juga pengaruhnya terhadap tenaga kerja wanita dan keluarganya.

3. Bagi Peneliti Dapat memberikan informasi penelitian tentang pengaruh pemberian massage dengan aromaterapi terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres pada wanita karir yang diharapkan mampu dijadikan acuan bagi peneliti berikutnya.

4. Bagi Masyarakat Mampu memberikan informasi kepada pasien, keluarga pasien, maupun masyarakat umum dalam memecahkan masalah stres yang dihadapi sehingga mampu mencegah lebih dini untuk faktor terjadinya stres pada wanita karir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecemasan dan Stres pada Wanita Karir 1. Kecemasan a. Definisi Kecemasan Kecemasan adalah ketidakmampuan individu dalam mengendalikan emosi dan perasan antara ketakutan dan kekhawatiran yang kuat serta meluapluap yang menyebabkan kegelisahan irasional dan perasaan tidak nyaman pada individu tersebut (Tell, 2010). Freud juga berpendapat bahwa kecemasan merupakan pengalaman subyektif individu mengenai ketegangan-ketegangan, kesulitan-kesulitan dan tekanan yang menyertai suatu konflik atau ancaman (Basuki, 1987; Hanum, 2002). Kecemasan didefinisikan sebagai konsep yang terdiri atas dua dimensi utama, yaitu kekhawatiran (worry) dan emosionalitas (emotionally). Dimensi emosi merujuk pada reaksi fisiologis dari system saraf otonomik yang timbul

akibat rangsangan atau perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi-reaksi emosi terhadap hal-hal buruk yang dirasakan individu ketika menghadapi situasi yang kurang menyenangkan (Hidayah,2008). Dimensi kekhawatiran merupakan aspek kognitip dari kecemasan yang di alami, berupa pikiran negative tentang diri dan lingkungannya dan perasaan negative terhadap kemungkinan kegagalan yang akan dihadapinya beserta konsekuensinya (Fiedman, 1997). Kekhawatiran adalah gambaran proses kognitif antisipatif yang dapat dipicu oleh pikiran yang berhubungan dengan kejadian realitis atau tidak realitis (Brown, 2006), berupa pikiran negatif tentang diri dan lingkungannya dan perasaan negatif terhadap kemungkinan kegagalan (Hidayah, 2008).
b. Tanda dan Gejala Kecemasan

Menurut Hawari (2008), keluhan-keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang mengalami kecemasan antara lain :
a. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri,

mudah tersinggung.
b. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut. c. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang. d. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan. e. Gangguan konsentrasi dan daya ingat. f. Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang,

pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, seasak napas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan dan sakit kepala.

c. Tingkat Kecemasan

Menurut Asmadi (2008), tingkatan kecemasan dibagi menjadi 4, antara lain :

1. Kecemasan Ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi. Kecemasan ringan mempunyai karakteristik :
1) Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa

sehari-hari.
2) Kewaspadaan meningkat. 3) Persepsi terhadap lingkungan meningkat. 4) Dapat menjadi motivasi positif untuk belajar dan

menghasilkan kreatifitas.
5) Respon fisiologis : sesekali napas pendek, nadi dan

tekanan darah meningkat sedikit, gejala ringan pada lambung, muka berkerut serta bibir bergetar.
6) Respon kognitif :mampu menerima rangsangan yang

kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif, dan terangsang untuk melakukan tindakan.
7) Respon perilaku dan emosi : tidak dapat dududk tenang,

tremor halus pada tangan dan suara kadang-kadang meninggi.


2. Kecemasan Sedang

Kecemasan

sedang

memungkinkan

seseorang

untuk

memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, berbicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit, pada mampu untuk belajar namun tidak ansietas, optimal, mudah kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus rangsangan yang tidak menambah tersinggung, tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis. Kecemasan sedang mempunyai karakteristik :
1) Respon biologis : sering napas pendek, nadi ekstra sistol

dan tekanan darah meningkat, mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi, sakit kepala, sering kencing dan letih.
2) Respon kognitif : memusatkan perhatian pada hal yang

penting dan mengesampingkan yang lain, lahan persepsi menyempit, dan rangsangan dari luar tidak mampu diterima.
3) Respon perilaku dan emosi : gerakan tersentak-sentak,

terlihat lebih tegas, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur dan perasaan tidak aman.
3. Kecemasan Berat

Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara efektif,

berfokus

pada

dirinya

sendiri

dan

berkeinginan

untuk

menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung dan disorientasi. Kecemasan berat mempunyai karakteristik :
1) Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan

mengabaikan hal lain.


2) Respon fisiologis : napas pendek, nadi dan tekanan

darah naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur serta tampak tegang.
3) Respon kognitif : tidak mampu berpikir berat lagi dan

membutuhkan banyak pengarahan tuntunan, serta lahan persepsi menyempit.


4) Respon perilaku dan emosi : perasaan terancam

meningkat

dan

komunikasi

menjadi

terganggu

( verbalisasi cepat)
4. Panik

Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas, dilatasi pupil, pucat, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delusi. Panik mempunyai karakteristik :
1) Respon fisiologis : napas pendek, rasa tercekik, sakit

dada, pucat, hipotensi serta rendahnya koordinasi motorik.

2) Respon kognitif : Gangguan realitas, tidak dapat

berpikir logis, persepsi terhadap lingkungan mengalami distorsi dan ketidakmampuan memahami situasi.
3) Respon perilaku dan emosi : mengamuk dan marah,

ketakutan, berteriak-teriak, kehilangan kendali atau kontrol diri (aktifitas motorik tidak menentu), perasaan terancam serta dapat berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.

d. Proses Terjadinya Kecemasan 1. Faktor Predisposisi Kecemasan

Stuart & Laraia (1998) mengemukakan bahwa penyebab kecemasan dapat dipahami melalu beberapa teori yaitu :
a) Teori Psikoanalitik

Menurut Freud, kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego berfungsi menengahi tuntunan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b) Teori Tingkah Laku (Pribadi)

Teori ini berkaitan dengan pendapat bahwa kecemasan adalah hasil frustasi, dimana segala sesuatu yang menghalangi terhadap kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan dapat menimbulkan kecemasan. Faktor presipitasi yang aktual mungkin adalah sejumlah stresor internal dan eksternal, tetapi faktor-faktor tersebut bekerja menghambat

usaha seseorang untuk memperoleh kepuasan dan kenyamanan. Selain itu kecemasan juga sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan kepedihan.
c) Teori Keluarga

keinginan

dari

dalam

untuk

menghindari

Menunjukan bahwa gangguan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga dan juga terkait dengan tugas perkembangan individu dalam keluarga. d) Teori Biologis Menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam aminobutirik-gamma neuroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan, sebagaimana halnya dengan endorfin. Selain itu, telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stresor. 2. Faktor Presipitasi Kecemasan Stuart & Laraia (1998), faktor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Ada dua kategori faktor pencetus kecemasan, yaitu : a) Ancaman terhadap integritas fisik Ancaman pada kategori ini meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari. Sumber internal dapat berupa kegagalan mekanisme fisiologis seperti jantung, sistem imun, regulasi temperatur, perubahan biologis yang normal

seperti kehamilan dan penuaan. Sumber eksternal dapat berupa infeksi virus atau bakteri, zat polutan, luka trauma. Kecemasan dapat timbul akibat kekhawatiran terhadap tindakan operasi yang mempengaruhi integritas tubuh secara keseluruhan.

b) Ancaman terhadap sistem tubuh Ancaman pada kategori ini dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial seseorang. Sumber internal dapaty berupa kesulitan melakukan hubungan interpersonal di rumah, tempat kerja dan masyarakat. Sumber eksternal dapat berupa kehilangan pasangan, orang tua, teman, perubahan status pekerjaan, dilema etik yang timbul dari aspek religius seseorang, tekanan dari kelompok sosial atau budaya. Ancaman terhadap sistem diri terjadi saat tindakan operasi akan dilakukan sehingga menghasilkan suatu kecemasan.

2. Stres a. Definisi Stres Menurut Wangsa (2010) istilah stres berasal dari kata Stres

stringere yang mempunyai

arti ketegangan,

dan tekanan.

merupakan reaksi yang tidak diharapkan yang muncul disebabkan oleh tingginya tuntutan lingkungan kepada seseorang. Dimana harmoni atau keseimbangan antara kekuatan dan kemampuannya terganggu. Stress adalah ketegangan, ketakutan, tekanan batin, tegangan konflik antara lain, (1) Satu stimulus yang menegangkan kapasitaskapasitas (daya) psikologis atau fisiologis dari suatu organisme. (2) Sejenis frustasi, dimana aktifitas yang terarah pada pencapaian tujuan telah diganggu oleh atau dipersukar, tetapi tidak terhalang-halangi peristiwa ini biasanya disertai oleh perasaan was-was kuatir dalam pencapaian tujuan. (3) Kekuatan yang ditetapkan dalam suatu sistem tekanan-tekanan

fisik dan psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi. (4) Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan kecemasan menurut Chaplin (2010). Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa stres adalah segala suatu kondisi berupa perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif, dan perilaku sebagai penyesuaian diri individu ketika mengalami tekanan karena dihadapkan pada suatu kesenjangan antara kebutuhan dengan kenyataan sehingga tercipta suatu kondisi ketidak seimbangan. b. Klasifikasi Stres Weiten (1999) menjelaskan adanya empat jenis stres, antara lain : 1) Frustasi Kondisi dimana seseorang merasa jalan yang akan ditempuh untuk meraih tujuan dihambat.

2) Konflik Kondisi ini muncul ketika dua atau lebih perilaku saling berbenturan, dimana masing-masing perilaku tersebut butuh untuk diekspresikan atau malah saling memberatkan. 3) Perubahan Kondisi yang dijumpai ternyata merupakan kondisi yang tidak semestinya serta membutuhkan adanya suatu penyesuaian.

4) Tekanan

Kondisi dimana terdapat suatu harapan atau tuntutan yang sangat besar terhadap seseorang untuk melakukan perilaku tertentu. c. Tingkatan Stres Patel (1996) menjelaskan adanya berbagai jenis tingkatan reaksi stress yang umumnya dialami manusia meliputi : 1) Too little stress Dalam kondisi ini, seseorang belum mengalami tantangan yang berat dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Seluruh kemampuan belum sampai dimanfaatkan, serta kurangnya stimulasi mengakibatkan munculnya kebosanan dan kurangnya makna dalam tujuan hidup. 2) Optimum stress Seseorang mengalami kehidupan yang seimbang pada situasi atas maupun bawah akibat proses manajemen yang baik oleh dirinya. Kepuasaa kerja dan perasaan mampu individu dalam meraih prestasi menyebabkan seseorang mampu menjalani berlebihan. 3) Too much stress Dalam kondisi ini, seseorang merasa telah kehidupn dan pekerjaan sehari-hari tanpa menghadapi masalah yang terlalu banyak atau rasa lelah yang

melakukan pekerjaan yang terlalu banyak setiap hari. Dia mengalami kelelahan fisik maupun emosional, serta tidak mampu menyediakan waktu untuk beristirahat atau bermain. Kondisi ini dialami secara terus-menerus tanpa memperoleh hasil yang diharapkan. 4) Breakdown stress

Ketika pada tahap too much stress individu tetap meneruskan usahanya pada kondisi yang statis, kondisi akan berkemban menjadi adanya kecenderungan neurotis yang kronis atau munculnya rasa sakit psikosomatis. Misalnya pada individu yang memiliki perilaku merokok atau kecanduan minuman keras, konsumsi obat tidur, dan terjadinya kecelakaan kerja. Ketika individu tetap meneruskan usahanya ketika mengalami kelelahan, ia akan cenderung mengalami breakdown baik secara fisik , maupun psikis.

d. Penyebab Stres atau Stresor Stresor adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan terjadinya respon stres. Stresor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial (Kisker, 1996) dan juga muncul pada situasi kerja, dirumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya (Patel, 1996). Secara garis besar, stresor bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1) Stresor mayor yang berupa major live events yang meliputi peristiwa kematian orang yang disayangi, masuk sekolah untuk pertama kali, dan perpisahan; dan 2) Stresor minor yang biasanya berawal dari stimulus tentang masalah hidup sehari-hari, misalnya ketidaksenangan emosional terhadap hal-hal tertentu sehingga menyebabkan munculnya stres (Brantley,dkk., 1988) SE. Taylor (1991) merinci beberapa karakteristik kejadian yang berpotensi untuk dinilai menciptakan, antara lain : 1) Kejadian negatif agaknya lebih banyak menimbulkan stress daripada kejadian positif. 2) Kejadian yang tidak terkontrol dan tidak terprediksi lebih membuat stres daripada kejadian yang terkontrol dan terprediksi.

3)

Kejadian ambigu seringkali dipandang lebih mengakibatkan stress daripada kejadian yang jelas.

4) Manusia yang tugasnya melebihi kapasitas (overload) lebih mudah mengalami stres daripada orang yang memiliki tugas lebih sedikit. Dari berbagai penjelasan di atas, maka stresor atau hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya stres dapat berupa faktor-faktor fisiologis, psikologis, dan lingkungan di sekitar individu (baik fisik maupun sosial). Namun, stresor tersebut dapat menimbulkan stres ataupun tidak tergantung bagaimana individu menyikapi stresor itu. e. Tanda dan Gejala Stres Beberapa tahapan terhadap stress dapat ditandai dengan (1) semangat kerja besar dan berlebihan, penglihatan tajam tidak seperti biasanya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan disertai rasa gugup yang berlebihan, merasa senang dengan pekerjaan itu dan semakin bertambah semangat. (2) Merasa letih saat bangun pagi, merasa mudah lelah setelah makan siang, lekas merasa capai menjelang sore hari, sering mengeluh lambung atau perut yang tidak nyaman, detakan jantung lebih keras dari biasanya, otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang, tidak bisa santai . (3) Gangguan lambung dan usus semakin terasa, misalnya keluhan maag dan diare, tegangan otot-otot semakin terasa, perasaan ketidak tenangan dan ketegangan emosional yang semakin meningkat, gangguan pola tidur. 3. Massage a. Definisi Massage Massage merupakan bentuk sentuhan terstruktur dengan menggunakan tangan atau kadang-kadang bagian tubuh yang lain seperti lengan atas dan siku digunakan untuk menggerus kulit dan memberikan tekanan pada otot-otot dalam (Susan,2010). Massage dapat menurunkan tingkat kecemasan dan stres serta meningkatkan kualitas hidup seseorang (Steven Thomas,2010).

Massage adalah tindakan penekan oleh tangan pada jaringan lunak, biasanya otot, tendon atau ligamen, tanpa menyebabkan pergeseran atau perubahan posisi sendi guna menurunkan nyeri, menghasilkan relaksasi dan meningkatkan sirkulasi. Gerakan-gerakan dasar meliputi : gerakan memutar yang dilakukan oleh telapak tangan, gerakan menekan dan mendorong kedepan dan kebelakang menggunakan tenaga, menepuk-nepuk, memotong-motong, meremasremas dan gerakan meliuk-liuk. Setiap gerakan menghasilkan tekanan, aarah, kecepatan, posisi tangan dan gerakan yang berbedabeda untuk menghasilkan efek yang diinginkan pada jaringan yang dibawahnya ( Henderson, 2008)

b.

Klasifikasi massage Tjipto Soeroso (1983: 9) dalam bukunya yang berjudul (Sports Massage) menyatakan bahwa dalam perkembangannya, massage dapat dibedakan menjadi beberapa macam, di antaranya adalah sebagai berikut: a. Sport massage adalah massage yang khusus diberikan kepada orang yang sehat badannya, terutama olahragawan karena pelaksanannya memerlukan terbukanya hampir seluruh tubuh. Tujuan sport massage adalah: 1) Memperlancar peredaran darah. 2) Merangsang persarafan terutama saraf tepi untuk meningkatkan kepekaan rangsang 3) Meningkatkan ketegangan otot dan meningkatkan kekenyalan otot untuk meningkatkan daya kerja otot. 4) Mengurangi atau menghilangkan ketegangan saraf dan mengurangi rasa sakit.

b. Segment massage adalah massage yang ditujukan untuk membantu penyembuhan terhadap gangguan atau kelainankelainan fisik yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Ada beberapa macam segment massage salah satunya adalah masase terapi. c. Cosmetic massage adalah massage yang khusus ditujukan untuk memelihara serta meningkatkan kecantikan muka serta keindahan tubuh berserta bagian-bagiannya. d. Massage yang lain seperti; shiatshu, refleksi, tsubo, dan erotic massage.

c.

Teknik Massage Ahmad Rahim (2008) mengemukakan teknik dasar swediss massage dapat dilakukan untuk merangsang saraf yang berdiameter besar yaitu: a. Effleurage (menggosok), yaitu gerakan ringan berirama yang dilakukan pada seluruh permukaan tubuh. Tujuannya adalah memperlancar peredaran darah dan cairan getah bening (limfe). b. Friction (menggerus), yaitu gerakan menggerus yang arahnya naik dan turun secara bebas. Tujuannya adalah membantu menghancurkan. c. Petrisagge (memijat), yaitu gerakan memijat dengan satu atau dua tangan bergantian secara berurutan. Tujuannya adalah memlancarkan sistem metabolisme dan memberikan efek mekanis yang menyebabkan relaksasi otot serta merangsang sistem saraf.

d. Vibrasi (getaran), yaitu gerakan menggetarkan masa otot secara berirama dengan tekanan ringan. Tujuannya adalah memberikan rangsangan pada ujung-ujung saraf. e. Tapotement (memukul), yaitu gerakan memukul masa otot dilakukan dengan kedua tangan bergantian. Tujuannya adalah dapat mempengaruhi tonus saraf otonom jaringan perifer sehingga mengalami relaksasi.

4. Aromaterapi Lavender a. Aromaterapi 1. Definisi Aromaterapi Buckle (2002) mendefinisikan aromaterapi klinis sebagai pemakaian minyak essensial untuk hasil tertentu yang dapat diukur. Orang Mesir kuno menggunakan aromaterapi untuk meredakan nyeri dan pada abad ke-19, daun rosemary dibakar di rumah sakit untuk pengasapan. Sekarang, ahli aromaterapi menggunakan minyak essensial untuk meningkatkan hasil kesehatan yang positif termasuk perbaikan alam perasaan, edema, jerawat, alergi, memar dan stres ( Kozier,2010). Aromaterapi adalah penggunaan minyak essensial konsentrasi tinggi yang diekstraksi dari tumbuh-tumbuhan dan diberikan melalui massage, inhalasi, dicampur ke dalam air mandi, untuk kompres; melalui membran mukosa dalam bentuk pesarium atau supositoria dan terkadang dalam bentuk murni. Meskipun aroma memegang peranan penting dalam mempengaruhi alam perasaan klien, sebenarnya zat kimia yang terkandung dalam berbagai jenis minyaklah yang bekerja secara farmakologis dan

kerjanya dapat ditingkatkan dengan jenis metode pemberiannya, terutama massage ( Andrew, 2009). Aromaterapi merupakan seni perawatan tubuh dengan bantuan sari tumbuhan tertentu. sari berupa cairan wangi yang lazim disebut minyak essensial atau minyak atsiri. Di Indonesia penggunaannya lebih banyak dengan memanfaatkan langsung tanamannya, bukan sari tumbuhan atau minyak atsirinya ( Floral Serial, 2010).

2.

Cara Penggunaan Aromaterapi Aromaterapi dapat digunakan melalui berbagai cara yaitu melalui: a. Inhalasi Inhalasi merupakan salah satu cara yang diperkenalkan dalam penggunaan metode aromaterapi yang paling simpel dan cepat. Inhalasi juga merupakan metode yang paling tua dalam penggunaan aromaterapi. Aromaterapi masuk dari luar tubuh kedalam tubuh dengan satu tahap dengan mudah, melewati paru-paru dialirkan ke pembuluh darag melalui alveoli ( Buckle,2003). Hidung mempunyai dua fungsi yang jelas yaitu sebgai penghangat dan penyaring udara masuk, dimana merupakan salah satu bagian dari sistem olfactory. Inhalasi sama dengan penciuman, dimana dapat dengan mudah merangsang olfactory setiap kali bernafas dan tidak akan mengganggu pernafasan normal apabila mencium bau yang berbeda dari minyak essensial (Alexander, 2001). Bagaimanapun aroma dapat memberikan efek yang cepat dan kadang hanya dengan memikirkan baunya dapat

memberikan bau yang nyata. Bau cepat memberikan efek terhadap fisik dan psikologis (Buckle, 2003). Cara inhalasi biasanya diperuntukan untuk seorang klien, yaitu dengan menggunakan cara inhalasi langsung, tetapi cara inhalasi dapat juga digunakan secara bersamaan misalnya dalam satu ruangan. Metode tersebut disebut inhalasi tidak langsung. Adapun cara penggunaan aromaterapi secara langsung menurut Buckle (2003) adalah sebagai berikut : a) Tissue atau Gulungan Gabung Ambil 1-5 tetes minyak essensial, teteskan pada tissue atau kapas, kemudian hirup 5-10 menit. Dapat juga tissue atau kapas tersebut diletakan dibwah bantal. b) Steam Tambahkan 1-5 tetes minyak esential dalam alat steam atau penguapan yang telah diisi air. Letakan alat tersebut disamping atau sejajar kepala pasien. Anjurkan pasien untukmenghirup selama 10 menit. Anjurkan pasien untuk menutup mata dan melepaskan kontak lensa atau kacamata selama inhalasikarena dapat menyebabkan pedih.

Adapun beberapa cara inhalasi tidak langsung, antara lain: a) Pengharum atau penyegar ruangan Tambahkan 1-5 tetes minyak essensial kedalam alat pemanas yang telah berisi air, kemudian letakan di tempat yang aman atau seudut ruangan. Sangat bagus apabila ditambahkan air conditioner (AC) dalam ruangan tersebut.

b) Terapi aroma yang digunakan melalui inhalasi caranya adalah minyak aromaterapi ditempatkan diatas peralatan listrik, dimana peralatan ditempatkan diatas peralatan listrik, dimana harus dicek oleh petugas sebelum digunakan demi keamanan pasien. Kemudian dilakukan oenambahan 2-5 tets minyak aromaterapi dalam vaporiser dalam 20 ml air untuk dapat menghasilkan uap air. Minyak yang paling umum digunakan adalah peppermint untuk mual, lavender untuk relaksasi, rose baik digunakan dalam suasana sedih, floral citrus dapat memberikan kesegaran ( Departement of Health , 2008).

b. Massage Teknik massage adalah yang paling umum. Melalui pemijatan, daya penyembuhan yang terkandung oleh minyak essensial bisa menembus melalui kulit dan dibawa ke dalam tubuh, mempengaruhi jaringan internal dan organ-organ tubuh. Karena minyak essensial sangat berbahaya bila diaplikasikan langsung ke kulit dalam bentuk minyak yang murni. Minyak essensial baru bisa digunakan setelah dilarutkan dengan minyak dasar seperti minyak zaitun, minyak kedelai, dan minyak tertentu lainnya ( Departement of Health , 2008). Aromaterapi apabila digunakan melalui massage

dilakukan dengan langsung mengoleskan minyak aromaterapi yang telah dipilih diatas kulit. Sebelum menggunakan minyak tersebut perlu diperhatikan adanya kontraindikasi maupun adanya riwayat alergi yang dimiliki. Minyak lavender terkenal sebagai minyak pijat yang dapat memberikan relaksasi. Pijat kaki atau merendam kaki dalam panci dengan air sudah diberi efek meredakan (Departement of Health ,2008).

Aromaterapi yang digunakan dengan cara massage merupakan cara yang sangat digemari untuk menghilangkan rasa lelah pada tubuh, meperbaiki sirkulasi darah dan merangsang tubuh untuk mengeluarkan racun serta meningkatkan kesehatan pikiran. dalam penggunaannya dibutuhkan 2 tetes essensial oil ditambah 1 ml minyak pijat (Hutasoid,2002)

c. Kompres Penggunaan terapi aroma melalui kompres hanya sedikit membutuhkan minyak aromaterapi. Kompres hangat dengan minyak aromaterapi dapat digunakan untuk menurunkan nyeri punggung dan nyeri perut. Kompres dingin yang mengandung minyak lavender digunakan pada bagian perineum saat kala II persalinan (Departement of Health ,2008).

d. Berendam Cara lain dalam menggunakan aromaterapi adalah dengan menambahkan tetesan minyak essensial ke dalam air hangat yang digunakan untuk berendam. Dengan cara ini efek rileks, melarutkan pegal-pegal dan nyeri, juga memberikan efek yang merangsang dan mengembalikan energi. Pasien akan memperoleh manfaat tambahan dari menghirup uap harum. Minyak essesnsial aromaterapi yang menguap ( Hadibroto & Alam, 2001). Berendam dengan menggunakan aromaterapi dapat

mengendurkan otot yang tegang setelah bekerja seharian, berendam pada air hangat merupakan saat yang menyenangkan. Untuk berendam membutuhkan sekitar 5-8 tets dari jenis essensial oil yang telah dipilih ((Hutasoid,2002).

3. Mekanisme kerja aromaterapi pada tubuh Secara fisiologis, penyerapan minyak esensial melalui kulit akan mempengaruhi susunan saraf dan sirkulasi limfatik setelah minyak esensial tersebut memasuki lapisan dermis pada kulit. Secara farmakologi, aromaterapi bekerja didalam tubuh manusia melalui dua sistem, yaitu melalui sistem saraf dan sistem sirkulasi. a) Melalui jaringan saraf yang mengantrakannya, sistem saraf akan mengenali bahan aromatik sehingga sistem saraf vegetatif yaitu sistem saraf yang berfungsi mengatur fungsi organ seperti denyut jantung, pembuluh darah, pergerakan saluran cerna akan terangsang. b) Melalui sistem sirkulasi, aromaterapi bekerja melalui fungsi humoral (cairan tubuh), seperti darah dan kelenjar-kelenjar yang selanjutnya akan merangsang akan merangsang fungsi hormonal didalam tubuh. Sistem hormonal bekerja sama dengan sistem saraf untuk mengontrol dan mengkoordinir aktivitas organ tubuh manusia. b. Lavender Bunga lavender memiliki 25-30 spesies. Asal tumbuhan ini adalah dari wilayah selatan Laut Tengah sampai Afrika tropis dan ke timur sampai India. Lavender termasuk tumbuhan menahun, tumbuhan dari jenis rumput-rumputan, semak pendek, dan semak kecil. Tanaman ini juga menyebar di Kepulauan Kanari, Afrika Utara dan Timur, Eropa selatan dan Mediterania, Arabia, dan India. Karena telah ditanam dan dikembangkan di taman-taman di seluruh dunia, tumbuhan ini sering ditemukan tumbuh liar di daerah di luar daerah asalnya. Nama lavender berasal dari bahasa Latin lavera yang berarti menyegarkan dan orang-orang Roma telah memakainya sebagai parfum dan minyak mandi sejak zaman dahulu. Bunga lavender dapat

digosokkan ke kulit, selain memberikan aroma wangi, lavender juga dapat menghindarkan diri dari gigitan nyamuk. Bunga lavender kering diolah menjadi teh yang dapat kita konsumsi.

1.

Mekanisme Kerja Lavender Indra penciuman memiliki peran yang sangat penting dalam kemampuan kita untuk bertahan hidup dan meningkatkan kualitas hidup kita. Dalam sehari kita bisa mencium lebih kurang 23.040 kali. Bau-bauan dapat memberikan peringatan pada kita akan adanya menenangkan bahaya dan juga dapat memberikan efek (relaksasi). Tubuh dikatakan dalam keadaan

relaksasi adalah apabila otot-otot di tubuh kita dalam keadaan tidak tegang. Keadaan relaksasi dapat dicapai dengan menurunkan tingkat stres, baik stres fisik maupun psikis, serta siklus tidur yang cukup dan teratur. Minyak lavender dengan kandungan linalool-nya adalah salah satu minyak aromaterapi yang banyak digunakan saat ini, baik secara inhalasi (dihirup) ataupun dengan teknik pemijatan pada kulit. Aromaterapi yang digunakan melalui cara inhalasi atau dihirup akan masuk ke sistem limbic dimana nantinya aroma akan diproses sehingga kita dapat mencium baunya. Pada saat kita menghirup suatu aroma, komponen kimianya akan masuk ke bulbus olfactory, kemudian ke limbic sistem pada otak. Limbic adalah struktur bagian dalam dari otak yang berbentuk seperti cincin yang terletak di bawah cortex cerebral. Tersusun ke dalam 53 daerah dan 35 saluran atau tractus yang berhubungan dengannya, termasuk amygdala dan hipocampus. Sistem limbic sebagai pusat nyeri, senang, marah, takut, depresi, dan berbagai emosi lainnya. Sistem limbic menerima semua informasi dari sistem pendengaran, sistem penglihatan, dan sistem penciuman. Sistem ini juga dapat mengontrol dan mengatur suhu tubuh, rasa lapar, dan haus. Amygdala sebagai bagian dari

sistem

limbic

bertanggung

jawab

atas respon emosi

kita

terhadap aroma. Hipocampus bertanggung jawab atas memori dan pengenalan terhadap bau juga tempat dimana bahan kimia pada aromaterapi merangsang otak kita gudang-gudang pengenalan penyimpanan bau-bauan memori terhadap

(Balchin,2009). Minyak terkenal lavender adalah salah satu aromaterapi yang

memiliki efek menenangkan. Menurut penelitian

yang dilakukan terhadap tikus, minyak lavender memiliki efek sedasi yang cukup baik dan dapat menurunkan aktivitas motorik mencapai manajemen membantu stres. 78%, sehingga tetes sering minyak digunakan lavender untuk dapat mood Beberapa

menanggulangi

insomnia,

memperbaiki

seseorang, dan memberikan efek relaksasi. Penelitian lain yang dilakukan terhadap manusia mengenai efek aromaterapi lavender untuk relaksasi, kecemasan, mood, dan kewaspadaan pada aktivitas EEG (Electro Enchepalo Gram) menunjukkan terjadinya penurunan kecemasan, perbaikan mood, dan terjadi peningkatan kekuatan gelombang alpha dan beta pada EEG yang menunjukkan peningkatan relaksasi. Didapatkan pula hasil yaitu terjadi peningkatan secara signifikan dari kekuatan gelombang alpha di daerah frontal, yang menunjukkan terjadinya peningkatan rasa kantuk. 2. Manfaat Aromaterapi Lavender Minyak lavender berwarna jernih sampai kuning pucat dengan bau wangi yang sangat khas. Minyak lavender adalah salah satu aromaterapi yang pada terkenal memiliki efek sedatif, hypnotic, dan anti-neurodepresive baik pada hewan maupun manusia. Karena minyak lavender dapat memberi rasa tenang, sehingga dapat digunakan sebagai manajemen stres.

Kandungan utama dalam minyak lavender adalah linalool asetat yang mampu mengendorkan dan melemaskan sistem kerja urat-urat syaraf dan otot-otot yang tegang. linalool sebagai lavender menunjukkan aromaterapi. dapat efek Selain hypnotic itu, dan Dikatakan juga anticonvulsive . tetes minyak insomnia, dapat

Karena khasiat inilah bunga lavender sangat baik digunakan beberapa membantu menanggulangi dan

memperbaiki mood seseorang, menurunkan tingkat kecemasan, meningkatkan tingkat kewaspadaan, tentunya memberikan efek relaksasi (Balcin,2009).

B. Kerangka Pemikiran

Problematika Wanita Karir : masalah dalam lingkungan pekerjaan masalah dalam keluarga masalah dalam pekerjaan rumah tangga masalah di luar rumah / masyarakat Tingkat kecemasan dan stres meningkat

Perasaan cemas, merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu, ketakutan, gangguan tidur, penurunan daya ingat, dan sulit konsentrasi, hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari. Massage Aromaterapi Lavender

Penurunan tingkat kecemasan dan stres

Efek sedatif, hypnotic, dan antineurodepresive

C. Kerangka Konsep

Tingkat kecemasan dan stres sebelum perlakuan

Massage Aromaterapi Lavender

Tingkat kecemasan dan stres setelah perlakuan

D. Hipotesis Pada penelitian ini terdapat pernyataan hipotesis sebagai berikut : 1) 2) Ada pengaruh antara pemberian massage dengan aromaterapi lavender terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres wanita karir. Tidak ada pengaruh antara pemberian massage dengan aromaterapi lavender terhadap penurunan tingkat kecemasan dan stres wanita karir.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian Tempat pelaksanaan pengambilan responden adalah di kelompok arisan ibu-ibu Perumahan Tiara Asri Singopuran. Rencana penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2013.

B. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian Quasi eksperimen. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan desain Pra-eksperimen dengan rancangan One Group Pre Test Post Test Design. Peneliti memilih desain ini karena peneliti bertujuan untuk membandingkan sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender terhadap tingkat kecemasan dan stres dari hasil pre test dan post test.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita karir yang ada di kelompok arisan ibu di perumahan Tiara Asri Singopuran yang berjumlah 35 orang wanita. 2. Sampel Sample dalam penelitian ini menggunakan Purposive sampling dimana peneliti memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang di kehendaki peneliti yaitu wanita karir yang mengalami kecemasan dan stres. Kriteria Sampel : a. Kriteria Inklusi (Penerimaan) 1. Responden terdiri dari ibu-ibu wanita karir di kelompok arisan perumahan tiara asri dengan keluhan stres dan cemas 2. Wanita sehat berusia 25-45 tahun 3. Berperan ganda sebagai ibu rumah tangga dan pekerja kantoran/pegawai 4. Bersedia mengikuti program penelitian (menandatangani informed consent) b. Kriteria Eksklusi (Penolakan) 1. Responden tidak kooperatif 2. Sampel dengan kondisi labil 3. Responden mendapatkan pengobatan farmakologi dan non farmakologi.

D. Variabel Penelitian 1. Variabel Independen (Bebas)

Variabel Independen dalam penelitian ini adalah massage aromaterapi lavender. 2. Variabel Dependent (Terikat) Variabel Dependent Dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan dan stres.

E. Definisi Konseptual ( Definisi sesuai dengan teori) 1. Tingkat Kecemasan dan Stres Kecemasan adalah ketidakmampuan individu dalam mengendalikan emosi dan perasan antara ketakutan dan kekhawatiran yang kuat serta meluapluap yang menyebabkan kegelisahan irasional dan perasaan tidak nyaman pada individu tersebut (Tell, 2010). Stress adalah ketegangan, ketakutan, tekanan batin, tegangan konflik antara lain, (1) Satu stimulus yang menegangkan kapasitas-kapasitas (daya) psikologis atau fisiologis dari suatu organisme. (2) Sejenis frustasi, dimana aktifitas yang terarah pada pencapaian tujuan telah diganggu oleh atau dipersukar, tetapi tidak terhalang-halangi peristiwa ini biasanya disertai oleh perasaan was-was, khawatir dalam pencapaian tujuan. (3) Kekuatan yang ditetapkan dalam suatu sistem tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi. (4) Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan kecemasan menurut Chaplin (2010).

2. Massage Aromaterapi Lavender Massage merupakan bentuk sentuhan terstruktur dengan menggunakan tangan atau kadang-kadang bagian tubuh yang lain seperti lengan atas dan siku digunakan untuk menggerus kulit dan memberikan tekanan pada otot-otot

dalam (Susan,2010). Massage dapat menurunkan tingkat kecemasan dan stres serta meningkatkan kualitas hidup seseorang (Steven Thomas,2010). Massage aromaterapi lavender adalah manipulasi manual pada jaringan lunak tubuh dengan menggunakan oil aromaterapi untuk tujuan terapiutik dengan cara stroking yang terdiri dari : gliding, kneading, pressing, tapping dan vibrating ( Price,1999). Massage aromaterapi lavender adalah tindakan penekanan oleh tangan pada jaringan lunak, biasanya otot, tendon atau ligamen dengan menggunakan essensial oil atau sari minyak murni sebagai pelumas ( Balcin,2009)

F. Definisi Operasional 1. Tingkat Kecemasan dan Stres Kecemasan dan stres merupakan gangguan psikologis yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari terlebih pada wanita karir yang mengalami berbagai macam problematika dalam hidupnya. Kecemasan dan stres dapat diukur dengan alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasari pada munculnya simptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 simptom yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan maupun stres. Setiap item yang diobeservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 sampai dengan 4. Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959 yang diperkenalkan oleh Max Hamilton. skala HARS dalam penilaian kecemasan terdiri dari 14 item, meliputi : a. Perasaan cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tersinggung. b. Merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu. c. Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila ditinggal sendiri dan takut pada bintang besar.

d. Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk. e. Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi. f. Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari. g. Gejala somatik : nyeri pada otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot. h. Gejala sensorik : perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah. i. Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap. j. Gejala pernapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napa pendek. k. Gejala gastrointestinal : sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut. l. Gejala urogenital : sering kencing, tidak dapat menahan kencing, aminorhea, ereksi lemah dan impotensi. m. Gejala Vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala. n. Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari

gemetar,mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat. Cara penilaian kecemasan dan stres adalah dengan memberikan nilai dengan kategori : 0 = tidak ada gejala sama sekali

1 = ringan / satu dari gejala yang ada 2 = sedang / separuh dari gejala yang ada 3 = berat / lebih dari 1/2 gejala yang ada 4 = sangat berat / semua gejala ada Penentuan derajat kecemasan dan stres dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil : a. Skor < 14 = tidak ada kecemasan b. Skor 14 20 = kecemasan ringan c. Skor 21 27 = kecemasan sedang d. Skor 28 41 = kecemasan berat e. Skor 42 56 = panik

2. Massage Aromaterapi Lavender Massage lembut dan gentle pada seluruh tubuh merupakan perlakukan yang dilakukan pada responden dengan oil aromaterapi lavender sebagai pelumas agar memancarkan aroma yang menenangkan sebagai media massage dapat meningkatkan relaksasi, mengendurkan otot dan menstimulasi kulit. Massage dilakukan pada saat rasa cemas dan stres muncul yang bertujuan mengurangi atau menghilangkan rasa cemas dan stres.

G. Jalannya Penelitian Pada pelaksanaan penelitian ini untuk mendapatkan data primer sesuai dengan waktu penelitian Mei-Juni 2013 dengan langkah-langkah berikut : 1. Proses Perijinan

Dalam penelitian ini perijinan ditujukan kepada Progdi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. 2. Survei Lapangan Tempat Penelitian Survei lapangan perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi dan permasalahan terkait dari tempat yang akan digunakan sebagai tempat penelitian , serta untuk merencanakan dimana intervensi akan disampaikan. 3. Persiapan alat dan perlengkapan penelitian Pelengkapan alat yang digunakan dalam penelitian ini: - Oil aromaterapi lavender ( merk produk : herbonist massage oil aromaterapi lavender) - Lembar informed concent dan kuesioner untuk mengetahui pernyataan persetujuan, identitas responden dan karakteristik kecemasan dan stres. - Lembar evaluasi tingkat kecemasan dan stres pre test dan post test untuk mengetahui skala kecemasan dan stres sebelum dan sesudah intervensi/perlakuan. 4. Pengumpulan data Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan wawancara dan observasi pada responden tentang derajat dan skala nyeri yang dirasakan ketika mengalami kecemasan dan stres : - Peneliti melakukan survey awal dan biodata diperoleh bersamaan dengan pengisian kesediaan menjadi subjek peneliti/responden. - Persiapan rekuitmen responden, menyeleksi responden yang memenuhi kriteria sampel. - Memberikan penjelasan pada kelompok eksperimen secara perorangan tentang cara mengisi lembar observasi,

mengukur

skala

tingkat

kecemasan

dan

stres,

dan

menganjurkan untuk tidak melakukan intervensi apapun selain yang diberikan oleh peneliti dan diharapkan semua responden mematuhi peraturan tersebut. - Dilakukan pengukuran HARS skala sebelum kecemasan perlakuan, dan stres

menggunakan

kemudian

dilakukan intervensi berupa pemberian massage aromaterapi lavender selama 60 menit setelah itu dilakukan pengukuran skala tingkat kecemasan dan stres setelah perlakuan. - Hasil dari pengukuran skala kecemasan dan stres tersebut dicatat pada lembar pengumpul data akhir dan selanjutnya data tersebut di analisa menggunakan teknik analisa data. 5. Tahap Pengolahan Data Setelah data terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data melalui beberapa tahap yaitu memeriksa kelengkapan, keseragaman data (editing), memberikan tanda-tanda (coding) pada setiap data untuk memudahkan mengenali kembali catatan dan memudahkan dalam analisa, memindahkan data yang ada ke tabel (tabulating). Kemudian yang terakhir yaitu uji analisa data.

H. Teknik Analisa Data Penelitian ini menggunakan analisis statistik dengan analisa bahwa data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang berupa angka-angka. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software program SPSS. Analisa data yang dilakukan berupa : 1. Uji Normalitas Data Yaitu untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Analisi statistik yang digunakan untuk menguji normalitas data adalah shapiro wilk.

Dasar pengambilan keputusan adalah jika probilitas (p) > 0,05 maka data dinyatakan berdistribusi normal, sedangkan bila (p) <0,05 maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal. Pengukuran uji normalitas dilakukan pada tingkat kecemas dan stres sebelum dan sesudah perlakuan. 2. Uji Pengaruh Untuk mengetahui pengaruh perlakuan massage dengan aromaterapi lavender terhadap tingkat kecemasan dan stres digunakan uji statistik T-Test. I. Jadwal Penelitian Waktu Maret 2013 April 2013 Mei 2013 Juni 2013 Juli 2013 Agustus 2013 September 2013 Penyusunan Proposal Validasi Penelitian Penyusunan Skripsi Ujian

DAFTAR PUSTAKA
Acin. 2008. Bila Kecemasan Melanda. http://TheLargestIndonesiaCommunity.ac.id.

(Diakses pada tanggal 16 Maret 2013). Adiwena. 2009. Anxietas. http://fkuii.org. (Diakses pada tanggal 16 Maret 2013). Admin. 2008. Minyak Essensial Penenang Hati. http://Gaya-hidup-sehat-online.mht.

(Diakses pada tanggal 16 Maret 2013). Atmaja, Dwi. 2012. Study of Psychology. http://definisi-kecemasan.htm (Diakses pada tanggal 16 Maret 2013).

Balcin M. 2006. Aromateraphy Science. USA: Pharmaceutical Press. Balkam.2009. Aromaterapi Penuntun Praktis untuk Pijat Minyak Astiri dan Aroma. Semarang: Dahara Prize, hal:1,5,6 Barkatiya, Meenakshi. 2008. Aromatherapy: Short overview. India: International Journal of Green Pharmacy. Buckle J. 2003. Clinical Aromatherapy Essential Oils in Practice. 2nd ed. USA: Churculchil living Stone. Barry, William. 1997. Massage Body Mechanics. USA: Massage Magazine Butje, Andre and Elizabeth dkk. 2008. Journal of Psychosocial Nursing Vol. 46, No. 10. http://JPNonline.com (Diakses pada tanggal 13 Maret 2013). Catterhine.2008. Lavender Oil. http://Wikipedia/free-encyclopedia.htm. (Diakses pada

tanggal 17 Maret 2013). Munim, Abdul dkk. 2011. Fisioterapi Dasar. Jakarta: PT Dian Rakyat. Price Shirley dan Prince Len. Aromaterapi Bagi Profesi Kesehatan. Jakarta: ECG Hawari. 2009. Manajemen Stress Cemas Dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, hal:67 James, Enger and Kelly. Stress-busting Spa Secrets. Jul/Aug 2002. Vibrant Life; ProQuest Research Library pg. 14 Setya, Gilang. 2012. Konsep Dasar Kecemasan. http://Konsep-Dasar-Kecemasan.htm. (Diakses pada tanggal 17 Maret 2013). Siegel-Maier, Karyn. Oct 1997. Aromatherapy & massage: Healing that makes scents . Better Nutrition;ProQuest Research Librarypg. 72 Sugiyono. 2008. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta, hal:2 Tawi, Mirza. 2012.Pengukuran Tingkat Kecemasan dan Stres.http://syehaceh.wordpress.com (Diakses pada tanggal 17 Maret 2013).

Vickers, Andrew dkk. Massage therapiest. Western Journal of Medicine; Sep 2001; 175, 3; ProQuest Research Library pg. 202 Wikipedia Bahasa Indonesia. 2010. Lavender (http://newaromaterapi/aromaterapi/aroma terapi/Lavender.htm. (Diakses pada tanggal 16 Maret 2013).