Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN PUSTAKA 1.1. DEFINISI 1.1.1.

Definisi bronkitis Bronkitis akut adalah proses inflamasi pada trakea dan bronkus yang bermanifestasi sebagai batuk, serta akan membaik tanpa pengobatan dalam 2 minggu. 1.1.2. Definisi Bronkiolitis Disebut juga pnuemonia intertisial (UI, 1985). Merupakan inflamasi yang terjadi pada bronkiolus yang didahului dengan ISPA.

1.1.3. Definisi bronkopneumoni Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang

mempunyai pola penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Bronkopneumonia adalah bronkolius terminal yang tersumbat oleh eksudat, kemudian menjadi bagian yang terkonsolidasi atau gabungan di dekat lobules, disebut juga pneumonia lobaris. Bronkopneumonia berasal dari kata bronchus dan pneumonia berarti peradangan pada jaringan paru-paru dan juga cabang tenggorokan (broncus). membentuk

1.2. Epidemiologi

1.2.1. Epidemiologi Bronkitis akut Biasa terjadi pada anak dengan usia diatas 5 tahun atau remaja, di Sidney, Australia angka kejadian tersering pada usia 9-18 tahun.

1.2.2. Epidemiologi Bronkiolitis Bronkiolitis merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak usia kurang dari dua tahun, dengan kejadian paling banyak di usia 2-6 bulan. Laki-laki lebih sering disbanding perempuan (2,5:1).

1.2.3. Epidemiologi Bronkopneumoni Bronkopneumoni dapat mengenai segala usia namun angka kejadian meningkat pada anak dibawah 2 tahun (3-24 bulan), dan pada usia permulaan sekolah 4-6 tahun.

1.3 Patofisiologi

1.3.1 bronkitis akut Biasanya mengikuti infeksi saluran respiratori seperti rhinitis dan faringitis. Infeksi dari virus atau bakteri menyebabkan respon inflamasi akut. Hal ini akan memicu pengeluaran secret berlebih dari epitel mukosa bronkus.

1.3.2. bronkiolitis Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus menyebab repon inflamasi akut, mukosa bronkiolus menjadi oedem (terjadi obstruksi), sekresi mucus berlebihan dan timbunan debris seluler atau sel-sel yang mati dan

terkelupas. Kemudian terjadi infiltrasi limfosit peribronkial dan edema submukosa, pada bronkiolus yang memiliki luas penampang kecil, edema
2

akan mengakibatkan hambatan aliran udara yang besar. Resistensi pada bronkiolus yang meningkat menyebabkan air trapping (terjebaknya udara dalam saluran nafas yang lebih distal, sehingga mengganggu proses pertukaran udara normal pada paru-paru) dan hipperventilasi.

1.3.3. Bronkopneumoni mikroorganisme penyebab terhisap ke paru perifer melalui saluran napas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema yang mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman. 1. Stadium kongesti : Kapiler melebar dan kongesti serta dalam alveolus terdapat eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, bebrapa neutrophil dan makrophag. 2. Stadium Hepatisasi Merah : Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat tidak mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit netrofil, eksudat dan banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat pendek. 3. Stadium Hepatisasi Kelabu : Lobus masih tetap padat dan warna merah berubah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura suram karena diliputi oleh fibrin. Alveolus terisi fibrin dan leucosit, tempat terjadi fagositosis pneumococcus, kapiler tidak lagi kongestif. 4. Stadium Resolusi : Eksudat berkurang. Dalam alveolus macrofag bertambah dan leukosit mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin di resorbsi dan menghilang.

1.4 Manifestasi klinis

1.4.1. Bronkitis Batuk kering kemudian menjadi produktif 3-4 hari kemudian. Muntah karena batuk terus menerus menyebabkan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan meningkatkan tekanan organ didalamnya. Nyeri dada atau nyeri substrenal pada keadaan yang lebih berat

1.4.2. Bronkiolitis Batuk disertai, pilek ringan dan demam (demam bisa >38,5o C). Beberapa hari kemudian timbul batuk yang disertai sesak nafas, Ditemukan konjunctivitis dan faringitis nafas berbunyi (mengi). Muntah setelah batuk. Penurunan nafsu makan.

1.4.3. Bronkopneumoni Bronchopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran napas bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39 400 C dan mungkin disertai kejang demam. Anak menjadi gelisah. Sesak, napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung, retraksi pada daerah supraclavikular, ruang-ruang intercostal, sianosis sekitar mulut dan hidung, kadang-kadang disertai muntah dan diare. Pada awalnya batuk jarang ditemukan tetapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit lebih lanjut, mula-mula batuk kering kemudian menjadi produktif.

1.5. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi Bronkitis

Palpasi Fremitus normal

perkusi Sonor

auskultasi Rhonki kasar.

bronkiolitis

Sesak, hiperventilasi, nafas hidung, retraksi dinding dada, bisa terjadi

Fremitus normal-

Hiper sonor

Wheezing, Rhonki

cuping menurun

sianosis. Bronkopneumoni Sesak, nafas Fremitus RedupBisa

cuping hidung, menurun retraksi dinding bisa sianosis pada dada daerah terjadi yang terkena

pekak pada ditemukan daerah yang terkena. ronkhi basah.

1.6. Pemeriksaan Penunjang Lab Bronkitis Radiologi

Leukositosis atau pun Corakan paru normal leukopeni

Bronkiolitis

Leukosit dapat normal Hiperradiolusen atau leukopeni Hiperinflasi dan infiltrat dan infiltrat pada satu atau beberapa lobus. Dapat juga berupa bercak

Bronkopenumoni

Leukositosis trombosistosis

infiltrat yang mencakup hampir seluruh paru. 1.7 Penatalaksaan 1.7.1. Bronkitis Pada bronkitis viral sebaian besar hanya diberikan terapi suportif, pemberian antibiotik hanya diberikan bila terjadi infeksi bakteri, pemberian obat batuk sebaiknya tidak diberikan karena batuk digunakan untuk mengeluarkan sputum, bila ditemukan wheezing pada pemeriksaan fisik dapat diberikan bronkodilator beta 2 agonis.

1.7.2. Bronkiolitis Terapi suportif, kecukupan cairan, penyesuaian suhu, oksigenasi minimal serta nutrisi, setelah itu baru digunakan bronkodilator, anti-inflamasi seperti kortikosteroid dan antiviral seperti ribavirin.

1.7.3. Bronkopneumoni 1. Bed rest 2. Oksigen 1 2 L / menit 3. IVFD Dextrose 10 % : NaCl 0,9 % = 3 : 1, ditambah larutan KCL 10 mEq/500 ml botol infus. Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu. 4. Antibiotik a. Ampicillin 100 200 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian b. Gentamycin 5 7 mg/kgBB/ hari dalam 2 kali pemberian 5. Antipiretik a. Parasetamol 10 15 mg / kgBB / kali beri 6. Mukolitik Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis.

1.8. Prognosis

1.8.1. Bronkitis Umum nya baik, rata-rata dapat sembuh sendiri setelah 2-3 minggu.

1.8.2. bronkiolitis Dengan pengobatan yang baik bronkiolitis dapat sembuh sempurna namun 23% bayi yang menderita bronkiolitis, berkembang menjadi asma pada usia 3-7 tahun.

1.8.3. Bronkopneumoni Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat yang dimulai secara dini pada perjalanan penyakit tersebut maka mortalitas selam masa bayi dan mas kanak-kanak dapat di turunkan sampai kurang 1 % dan sesuai
7

dengan kenyataan ini morbiditas yang berlangsung lama juga menjadi rendah. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang terlambat menunjukkan mortalitas tang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah kesehatan Anak, Jilid 3, bagian Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 1997

2. Mansjoer A, Wardhani WI, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2, Penerbit Media Aesculapius FK UI, Jakarta 2000.

3. Cecinati V., Brescia L., Esposito S., 2012. Thrombocytosis and Infections in Childhood. The Pediatric Infectious Disease Journal: Volume 31(1): 80-81.

4. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Standard Pelayanan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara / Rumah Sakit H. Adam Malik, Medan 1995.

5. M. Rachman, M.T. Darddjat, Segi-segi Praktis Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 2, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 1986.