Anda di halaman 1dari 49

www.ashhabulhadits.wordpress.

com






.wordpress.com
2


www.ashhabulhadits.wordpress.com
3



;-=,- Q-=,- ;~-
-,--- -=- - -=' '-''-= '-,- - '---- - - -'- - ---- , +, -
' ' ` '-, - ' -- ` - , +- ' ,- ` = - ` ' ` +-
'- -= -=-,

- -

- ` -'

= -

- - ,

' ' + ,

' , - ' - -


- +

- -

- ' + =

' +

- -

'

= =

- -

'

'

- '

-' ' + ,

' ,

, `

`' =

'
,

' = '

' =

`

' ' -

' -

- ' - -

'-,

' -

'' - =

' _' - ,

, -

'

- - ,

' ' + ,

' , -

_ , -

'-, =

'

' -
- '-:
Ini adalah risalah singkat mengenai As-Sunnah yang menjadi sandaran
kedua dalam hukum Islam setelah Al-Quran Al-Karim. Kami sarikan
dari apa yang telah dituliskan dalam kitab-kitab ulama serta para
peneliti Islam dalam bidang As-Sunnah An-Nabawiyyah.
Pada pembahasan ini, akan dipaparkan mengenai pengertian As-
Sunnah, kedudukannya dalam syariat Islam, wajibnya berpegang
teguh dengannya, peranannya dalam mendampingi Al-Quran,
kemudian diakhiri dengan pembagian As-Sunnah menjadi sunnah
qouliyyah, filiyyah dan taqririyyah disertai dengan contoh-contohnya.
Semoga risalah ini bermanfaat bagi diri penulis sendiri serta para
pembaca sekalian, sehingga kita dalam beragama ini berada di atas
ilmu dan bashiroh serta terhindar dari jalan setan dan kesesatan.
PENGERTIAN AS-SUNNAH
www.ashhabulhadits.wordpress.com
4

Istilah As-Sunnah yang sering digunakan dalam pembahasan syariat
Islam memiliki beberapa makna, diantaranya:
1. Seluruh perkara yang datang dari Nabi -shollallohu alaihi wa
sallam- secara khusus yang tidak terdapat nashnya dalam Al-Quran,
baik sebagai penjelasan dari ayat-ayat Al-Quran tersebut maupun
tidak. Juga masuk di dalamnya sejarah perjalanan hidup beliau, baik
sebelum diutus sebagai Rosul maupun sesudahnya.
2. Lawan dari bidah, seperti perkataan seseorang: Si Fulan berada
di atas sunnah, yaitu jika ia beramal sesuai dengan tuntunan
Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam-. Jika tidak demikian, maka
dikatakan sebaliknya: Si Fulan di atas kebidahan.
3. Apa yang diamalkan oleh para sahabat Nabi -shollallohu alaihi
wa sallam-, baik dalam rangka mengamalkan Al-Quran, sunnah Nabi
ataupun kesepakatan mereka (ijma sahabat).
4. Dalam istilah fiqih, bermakna mustahab atau mandub (tidak
wajib/fardhu), yaitu jika dikerjakan dengan ikhlas dan mengharap
ridho Alloh, maka akan diberikan pahala dan jika ditinggalkan, maka
tidak berdosa.
Adapun pembahasan kita kali ini adalah tentang As-Sunnah yang
bermakna: segala apa yang telah dinukilkan dari Rosululloh -
shollallohu alaihi wa sallam-, berupa ucapan (qoul), perbuatan (fiil)
atau persetujuan (taqrir) beliau, yang dijadikan sebagai dasar hukum
Islam.
(Rujukan: Syarh Mukhtashor Ar-Roudhoh, 1/61-62, karya Ath-Thufiy -
rohimahulloh-, As-Sunnah An-Nabawiyyah wa Makanatuha, hal. 7-10,
oleh Muhammad bin Abdillah Ba Jaman)
Contoh As-Sunnah berupa ucapan (sunnah qouliyyah) adalah sabda
beliau -shollallohu alaihi wa sallam-:
' ,

-''

- ' - =

` ' -


www.ashhabulhadits.wordpress.com
5

Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niat-niatnya.

' -

- -

- ,

' -

' -

-'

- -

- =

=
Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat. Ambilah dariku
manasik haji kalian.
Contoh As-Sunnah berupa perbuatan (sunnah filiyyah) adalah
perbuatan-perbuatan beliau dalan melakukan sholat, haji dan
sebagainya seperti: mengangkat tangan ketika takbirotul ihrom, ruku,
itidal atau lari-lari kecil (sai) antara Shofa dan Marwa ketika berhaji
dan sebagainya.
Contoh As-Sunnah berupa persetujuan beliau (sunnah taqririyyah)
adalah seperti perkataan sahabat ketika mereka melakukan sholat
sunnah dua rokaat selepas adzan Maghrib di masjid, kemudian
ditanya: Apakah Rosululloh dahulu juga melakukan sholat ini?
Mereka menjawab: Dahulu beliau -shollallohu alaihi wa sallam-
melihat kami melakukannya. Beliau tidaklah memerintahkan dan
tidak pula melarangnya.
Maka secara umum, As-Sunnah An-Nabawiyyah tersebut terdiri dari:
qouliyah (ucapan),filiyyah (perbuatan) dan taqririyyah (persetujuan)
yang insyaalloh- akan kita bicarakan lebih lanjut pada kesempatan
kali ini secara ringkas. Wallohul muwaffiq.
KEDUDUKAN AS-SUNNAH DALAM SYARIAT ISLAM
Diantara perkara yang yang telah disepakati bersama oleh seluruh
kaum muslimin terdahulu adalah bahwasanya sunnah Nabi -
shollallohu alaihi wa sallam- merupakan sandaran kedua dalam
syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan, baik dalam perkara
aqidah (keyakinan), hukum-hukum agama, politik maupun
pendidikan. Demikian juga, tidak diperkenankan untuk menyelisi
sunnah tersebut sedikitpun, baik dengan buah pemikiran, ijtihad
ataupun qiyas. Hal ini sebagaimana ucapan Imam Asy-Syafiiy -
rohimahulloh- pada akhir kitab beliau Ar-Risalah: Qiyas itu tidak
www.ashhabulhadits.wordpress.com
6

diperbolehkan selama khobar (sunnah Nabi) masih ada. Demikian
juga yang dikenal oleh para ulama ahli ushul fiqh: Tidak ada ijtihad
ketika datang nash (dalil). Jika datang atsar (hadits), maka batallah
pemikiran atau pendapat yang ada.
DALIL-DALIL TENTANG PERKARA INI
Dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah menunjukkan hal
tersebut, diantaranya adalah firman Alloh -taala-:

' - - _ -

- - -

- - ' '

' -

, -

, =

'

'
'

-,

- -

` - -

' - -
Dalam ayat ini Alloh -taala- menegaskan bahwa tidaklah patut bagi
seorang mukmin dan mukminah, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain
tentang urusan mereka. Siapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya,
maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al-
Ahzab: 36)
Juga dalam firman-Nya:
, - -

- - ,

' ' + ,

' ,

, ' = _, - - -

- ' - -

,
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Alloh
dan Rosulnya (dengan menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada
ketetapan dari Alloh dan Rosul-Nya). Bertakwalah kepada Alloh,
sesungguhnya Alloh itu Sami (maha mendengar) lagi Alim (maha
mengetahui). (QS. Al-Hujurot: 1)
Firman Alloh taala-:
,

'

' = ,

` -

'

'

'

- ' - ,


Katakanlah: Taatilah Alloh dan Rosul-Nya. Jika kalian berpaling,
maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kafir. (QS. Ali
Imron: 32)
Firman Alloh taala-:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
7

,

- -'

- _

` -

'

-' ' '

' -

* ' -

'

- - - '

- '

_ , - '

' -

'

, - =

+ ,

' =
Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rosul kepada segenap
manusia dan cukuplah Alloh menjadi saksi. Siapa yang mentaati Rosul
itu, sesungguhnya ia telah mentaati Alloh dan siapa yang berpaling
dari ketaatan itu, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi
pemelihara bagi mereka (yaitu bahwa Rosul tidak bertanggung jawab
terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar
mereka tidak berbuat kesalahan). (QS. An-Nisa: 79-80)
Firman Alloh:

- - ,

' ' + ,

' ,

- =

'

'

- -

-

` '

- ' ,

- ,

`,

'

- - =

= '

'

-'

- -

- '

- _

'


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya
serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-
Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman
kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagi
kalian dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)
Alloh berfirman:
,

-' -' _ - -

- -

=,

'

'

' - - ,


Taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kalian berbantah-
bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang
kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-
orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46)
Firman-Nya juga:
,

- ,

- -

'

` -

' '

- ' - _

' = ' -

' ='

- ,

'

'

= - '
Taatlah kalian kepada Alloh dan taatlah kepada Rosul-Nya dan
berhati-hatilah. Jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa
www.ashhabulhadits.wordpress.com
8

sesungguhnya kewajiban Rosul Kami hanyalah menyampaikan
amanat Alloh dengan terang. (QS. Al-Maidah: 92)

- -

'

' -

- , ,

' -

' ,

' - -

- -

' =

- , -

- ' ' =

' =

= ,

'

'
=

- ''

= , ,

'

, '

+ -, - ,

+ -, -


Janganlah kalian jadikan panggilan Rosul di antara kalian seperti
panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya
Alloh telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di
antara kamu dengan berlindung kepada kawannya. Maka hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintah-Nya merasa takut akan ditimpa
cobaan atau adzab yang pedih. (QS. An-Nur: 63)
Firman Alloh:

- -,

- -

- - ,

' ' + ,

' ,

' , - = , -

' =

, = , ' - '

' =

- ' '

- =

- ,

'

'


Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan
Rosul apabila Rosul tersebut menyeru kalian kepada suatu yang
memberi kehidupan kepada kalian (berupa keimanan, petunjuk jihad
dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia
dan akhirat). Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allohlahyang
menguasai hati manusia dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian
akan dikumpulkan. (QS. Al-Anfal: 24)
Firman Alloh taala-:

' '

' +, , ''

= ' +

-

` ' + - =

- -

- '

- =

' = ,

' - -

_ , -

' *
, =

- ,

' - -

, - ,

+ -

' ' +, ''

= '

' =
Siapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh akan
memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-
sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang
besar. Siapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam
www.ashhabulhadits.wordpress.com
9

api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang
menghinakan. (QS. An-Nisa: 13-14)
Firman-Nya:
- =

, ,

' _

'

'

'

' =

- ,

, ' -

' - ,

'

' -

- -


, -

` -

' - ,

'

-' ,

='

' *

''

' ,

'

- = - , , - '

- -

' ,

- ' _

'

' -
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku
dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim
kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari
thoghut itu dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan
penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka:
Marilah kalian tunduk kepada hukum yang Alloh telah turunkan dan
kepada hukum Rosul, niscaya kamu lihat orang-orang munafik
menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekatimu.
(QS. An-Nisa : 60-61)
Alloh berfirman:

= , ' ' -

- _

'

, - - -

'

'

' -

'

'

'

- - -

'

- ,

- , -
= '

- -

' *

-'

'

'

'

- , -

= ,

' - -

_ , -
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka diseru
kepada Alloh dan Rosul-Nya agar Rosul tersebut menghukum
(mengadili) di antara mereka ialah ucapan: Kami mendengar dan
Kami patuh. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa yang
taat kepada Alloh dan Rosul-Nya serta takut kepada Alloh disebabkan
dosa-dosa yang telah dikerjakannya dan bertakwa kepada-Nya, maka
mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. An-
Nur: 51-52)
Alloh berfirman:
'

' ,

- -

- +

-'

- =

' +

- ' -

- '

'

- ' -
www.ashhabulhadits.wordpress.com
10

Apa yang diberikan Rosul kepada kalian, maka terimalah dan apa
yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah. Bertakwalah
kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya. (QS. Al-
Hasyr: 7)
Alloh taala- berfirman:
-

' '

' , `

' - = , '

- '

- - =


Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri teladan yang
baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Alloh dan
kedatangan hari kiamat dan ia banyak menyebut Alloh. (QS. Al-
Ahzab: 21)

-' * = ' -

- =' - - ' - * +

'

- , ' - * _ = , =


Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat
dan tidak pula keliru. Tiadalah yang diucapkannya itu menurut
kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu
yang diwahyukan kepadanya. (QS. An-Najm: 1-4)
Firman Alloh:

- ,

'

'

+ ,

'

- ' -

'

-' ' , -

- '

' ,

'

'

'


Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan pada
umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (berupa
perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang
terdapat dalam Al-Quran tersebut) dan supaya mereka memikirkan.
(QS. An-Nahl: 44)
Ayat-ayat yang diberkahi seperti ini banyak terdapat dalam Al-Quran.
Adapun hadits-hadits Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam-
tentang seruan untuk mengikuti beliau dalam segala aspek kehidupan,
diantaranya sebagai berikut:
Sabda Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
11

'' _- - ` -=' '=, -- : ' _-', - : -'-= - -=' = -=' -
_- -
Seluruh umatku akan memasuki jannah, kecuali yang enggan. Para
sahabat bertanya: Siapakah yang enggan itu? Beliau menjawab:
Siapa yang menaatiku, maka akan masuk jannah dan siapa yang
menentangku, maka telah enggan. (HR. Bukhori dari Abu Huroiroh
rodhiyallohu anhu-)
Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:

-=- ' - '- ' ,'= - _'- - ' -

-=- _-= - - _'-


'- ' ,'= -=- - _-= - '- ' ,'= - _'- '-' ,-
Siapa yang mentaati Muhammad shollallohu alaihi wa sallam-,
maka ia telah mentaati Alloh dan siapa yang menentangnya, maka ia
telah menentang Alloh. Muhammad shollallohu alaihi wa sallam- itu
telah memisahkan manusia (antara yang mukmin dengan yang kafir).
(HR. Bukhori dari Jabir bin Abdillah rodhiyallohu anhu-)
Sabda beliau juga:
'-

'- _- = `- - - -`- '- `- '`- '-- : - ', - -,- ,=' ,


=- +'+- _'= -'-' ='' - - --' ='' '=-' '=-'' ',' ,-' '-
-=' - `- ' +='-= +'' ,=' +=-- +-'- =--' +-- --' -
=' - - -= '-- -'-= - `- - -= '- _--'
Sesungguhnya permisalanku dengan apa yang aku diutus oleh Alloh
untuk membawanya adalah seperti seseorang yang mendatangi suatu
kaum, kemudian ia berseru: Wahai kaum, sungguh aku telah melihat
sepasukan datang. Sungguh aku ini seorang pemberi peringatan
kepada kalian, maka carilah tempat keselamatan. Lalu sebagian
kelompok dari kaumnya itu mentaatinya, sehingga mereka bertolak
pada malam harinya. Sedangkan sebagian yang lain mendustakannya,
sehingga mereka tetap di tempat itu dan datanglah pasukan itu
membinasakan mereka. Itulah permisalan orang yang mentaatiku,
sehingga ia mengikuti petunjukku dan permisalan orang yang
www.ashhabulhadits.wordpress.com
12

menentang dan mendustakan kebenaran yang aku diutus dengannya.
(HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Musa Al-Asyari rodhiyallohu
anhu-)
Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:
-, -= ,+- - - '-- - - -` ,-', -, _'=

'--- = ,-' ` : `
'--- - '- '-= '-
Tidaklah aku menemui salah seorang di antara kalian sedang
bertelekan di atas ranjangnya. Akan datang kepadanya perkaraku,
baik perintah maupun larangan, kemudian dia berkata: Aku tidak
tahu hal itu, apa yang kami temukan dalam kitab Alloh, maka kami
ikuti. (Jika tidak, maka tidak kami ikuti). (HR. Ahmad, Abu Dawud,
Tirmidzi dan selain mereka dengan sanad shohih dari Abu Rofi -
rodhiyallohu anhu-)
Beliau -shollallohu alaihi wa sallam- menegaskan:
-, -, _'= '-- = -, ` - '`- -' ,- - ` : -' +- ,'=
- - = '- -= = - , -= '- - = '-
Ketahuilah, sungguh aku diberi Al-Quran dan yang semisalnya
bersamanya. Ketahuilah hampir-hampir seseorang yang telah
kenyang di atas ranjang mengatakan: Ambillah Al-Quran itu. Apa
yang kau temukan di dalamnya berupa pengharaman, maka
haramkanlah hal itu. (Jika tidak kau temui, maka jangan kau
haramkan). Sungguh, apa yang diharamkan oleh Rosululloh itu sama
dengan apa yang diharamkan oleh Alloh. (HR. Ahmad, Abu Dawud,
Tirmidzi dan selainnya dengan sanad shohih, dari Al-Miqdam bin
Madikarib -rodhiyallohu anhu-)
Sabda beliau:
- '-- ' ,-,- , - : =' _'= , _-= '--, ' --- - '-
Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, tidaklah kalian akan tersesat
selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabulloh dan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
13

sunnahku. Keduanya tidak akan terpisah sampai kembali ke telaga (di
akhirat) (HR. Hakim dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu anhu-)
Dalil-dalil tersebut menunjukkan kepada kita beberapa perkara yang
sangat penting, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tidaklah berbeda antara keputusan Alloh dengan Nabi-Nya.
Semuanya tidaklah ada pilihan bagi seorang mukmin untuk
menyelisihinya. Penentangan (bermaksiat) terhadap Rosul sama
dengan bermaksiat kepada Alloh dan semuanya itu merupakan
kesesatan yang nyata.
2. Dilarang untuk mendahului Rosul shollallohu alaihi wa sallam-
(dengan menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari
Rosul) sebagaimana tidak diperkenankannya mendahului Alloh
taala-. Ini menunjukkan tidak bolehnya menyelisihi sunnah beliau
shollallohu alaihi wa sallam-.
Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan dalam Ilamul
Muwaqqiin (1/58): Yaitu janganlah kalian mendahului untuk
mengatakan sampai beliau mengatakannya. Janganlah
memerintahkan sampai beliau memerintahkannya. Janganlah
berfatwa sampai beliau berfatwa dan janganlah memutuskan suatu
perkara sebelum beliau memutuskan dan memberlakukan
hukumnya.
3. Lari dari mentaati Rosul shollallohu alaihi wa sallam- hanyalah
perbuatan orang-orang kafir.
4. Orang yang mentaati Rosul shollallohu alaihi wa sallam- berarti
mentaati Alloh taala-.
5. Wajibnya mengembalikan segala perkara yang diperselisihkan
dari perkara agama kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata (1/54): Alloh taala-
memerintahkan untuk taat kepada-Nya dan Rosul-Nya dan ketaatan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
14

terhadap Rosul tersebut merupakan perintah tersendiri tanpa melihat
kepada perintah yang ada dalam Al-Quran. Akan tetapi jika beliau
shollallohu alaihi wa sallam- memerintahkan, maka wajib untuk
ditaati secara mutlak, baik perintah itu terdapat dalam Al-Quran
ataupun tidak. Hal itu karena beliau telah diberikan Al-Kitab dan yang
semisalnya (As-Sunnah) dan Alloh tidak memerintahkan untuk
mentaati pemerintah (penguasa) secara tersendiri, tetapi menjadikan
ketaatan terhadapnya berada di bawah ketaatan terhadap Rosul.
Merupakan sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama,
bahwasanya mengembalikan suatu perkara kepada kitab Alloh dan
Rosul-Nya itu berarti mengembalikan urusannya kepada diri beliau
ketika masih hidup dan kepada As-Sunnah sepeninggal beliau. Hal itu
termasuk syarat sah keimanan.
6. Sikap menerima perselisihan dan meninggalkan untuk kembali
kepada As-Sunnah guna menyelesaikan perselisihan itu merupakan
sebab asasi di mata syariat untuk menggagalkan jerih payah kaum
muslimin dan menghilangkan kekuatan mereka.
7. Peringatan kepada umat dari penyelisihan terhadap Rosul -
shollallohu alaihi wa sallam-, karena hal itu berakibat buruk baik di
dunia maupun akhirat.
8. Orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul pantas untuk
terjatuh dalam kesesatan di dunia dan mendapatkan adzab yang pedih
di akhirat.
9. Wajibnya memenuhi seruan Rosul dan mentaati perintahnya. Hal
itu merupkan sebab mendapatkan kehidupan yang baik dan
kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat.
10. Ketaatan terhadap Nabi shollallohu alaihi wa sallam- merupakan
sebab seseorang memasuki jannah dan mendapatkan kemenangan
yang besar. Sebaliknya, bermaksiat terhadap beliau dan melanggar
batasan beliau merupakan sebab seseorang masuk neraka dan
mendapatkan adzab yang menghinakan.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
15

11. Termasuk sifat orang-orang munafik yang menampakkan
keislaman dan menyembunyikan kekufuran adalah merasa enggan
jika mereka diseru untuk berhukum kepada Rosul dan sunnah beliau.
Bahkan mereka berusaha menghalang-halangi manusia dari hal itu.
12. Sebaliknya keadaan orang-orang mukmin, jika mereka diseru
untuk berhukum kepada Rosul, mereka bersegera menyambutnya,
dengan mengatakan: Kami dengar dan kami taat. Dengan itulah
mereka menjadi orang-orang yang mendapat kemenangan dan
keberhasilan dengan memperoleh jannah yang penuh kenikmatan.
13. Segala apa yang diperintahkan oleh Rosul, maka wajib atas kita
untuk mengikutinya, sebagaimana wajibnya kita untuk meninggalkan
setiap perkara yang dilarang.
14. Beliau shollallohu alaihi wa sallam- adalah teladan kita pada
setiap perkara agama, jika kita termasuk orang yang mengharapkan
wajah Alloh dan hari akhir.
15. Setiap perkataan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam- yang
tidak berhubungan dengan perkara agama dan perkara-perkara ghoib
yang tidak diketahui oleh akal dan percobaan (eksperimen)
merupakan wahyu dari Alloh, tidak mengandung kebatilan sama
sekali.
16. Sunnah-sunnah beliau merupakan penjelasan dari apa yang telah
diturunkan Alloh kepada beliau berupa Al-Quran.
17. Tidak cukup semata-mata dengan Al-Quran tanpa As-Sunnah,
karena keduanya sama saja dalam wajibnya mentaati dan
mengikutinya. Siapa yang mencukupkan dengan Al-Quran tanpa As-
Sunnah, maka ia telah menyelisihi Rosul alaihis sholatu wa sallam-
dan tidak mentaati beliau, sehingga dengannya ia telah menyelisihi
ayat-ayat tersebut di atas.
18. Apa yang diharamkan oleh Rosul, seperti apa yang telah
diharamkan oleh Alloh. Demikian juga segala perkara yang datang
www.ashhabulhadits.wordpress.com
16

dari Rosul dan tidak terdapat dalam Al-Quran, maka itu sama
hukumnya dengan apa yang datang dari Al-Quran. Hal ini berdasarkan
keumuman sabda beliau: Sungguh aku telah diberi Al-Quran dan yang
semisalnya (As-Sunnah).
19. Sesungguhnya keselamatan dari penyimpangan dan kesesatan
hanyalah diperoleh dengan berpegang teduh dengan Al-Kitab dan As-
Sunnah. Hal itu berlaku sampai datangnya hari kiamat. Tidak boleh
membedakan antara kitab Alloh dan sunnah Rosul-Nya shollallohu
alaihi wa sallam-.
(Rujukan: Al-Hadits Hujjah Binafsihi, hal. 25-34 karya Imam Al-Albani
rohimahulloh- sebagaimana tersebut dalam Mausuah Al-Albani fil
Aqidah, jilid 1 hal. 273-280)
WAJIBNYA MENGIKUTI AS-SUNNAH DALAM AQIDAH
DAN HUKUM
Dalil-dalil yang telah termaktub di atas, baik dari Al-Kitab maupun As-
Sunnah, sebagaimana telah menunjukkan secara pasti tentang
wajibnya mengikuti As-Sunnah secara mutlak pada setiap apa yang
datang dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam- dan siapa yang tidak
ridho (menerima) untuk berhukum dan tunduk kepadanya, maka
bukanlah seorang mukmin, demikian juga yang perlu dicermati oleh
para pembaca bahwa As-Sunnah tersebut secara umum dan mutlak
juga menunjukkan dua perkara yang penting, sebagai berikut:
Pertama: bahwasanya dalil-dalil tersebut mencakup semua orang
yang telah sampai kepadanya dakwah, baik ketika itu sampai hari
kiamat. Hal ini jelas pada firman-Nya:
_

' - -

`
supaya dengannya (Al-Quran) aku (Rosul) memberi peringatan
kepada kalian dan orang-orang yang sampai Al-Quran kepada
mereka. (QS. Al-Anam: 19)
www.ashhabulhadits.wordpress.com
17

Juga firman-Nya:
,

- , - -

'

-' '

'

'

' -

' -
Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia
seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan. (QS. Saba: 28)
Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam- menafsirkan ayat ini dengan
sabda beliau:
' '-' _' `- -'= - _' -, --' '
Dahulu Nabi diutus khusus kepada umatnya saja, sedangkan aku
diutus kepada seluruh manusia. (HR. Bukhori dan Muslim)
Juga sabda beliau:
' ` - -, ` ` --- ` +, ` -` - = - _--, ` ,- --- '
'-' -
Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang
mendengar perihalku, baik dari umat ini, Yahudi ataupun Nasrani,
kemudian tidak beriman kepadaku, melainkan termasuk penghuni
neraka. (HR. Muslim)
Kedua: bahwasanya dalil-dalil tersebut mengandung seluruh perkara
dari perkara-perkara agama tanpa terkecuali, baik itu berupa perkara
ilmu aqidah ataupun hukum amali dan sebagainya. Sebagaimana wajib
atas para sahabat untuk mengimani hal tersebut setelah datangnya
berita Rosul, demikian juga para tabiin dan orang-orang setelah
mereka diwajibkan pula untuk mengimaninya dan tidak
diperbolehkan untuk menolaknya selama berita (hadits) itu shohih,
dibawa oleh orang yang terpercaya. Demikianlah hendaknya hal
tersebut terus berlangsung sampai Alloh mewarisi dunia dan seisinya
ini.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
18

(Rujukan: Al-Hadits Hujjah Binafsihi, karya Imam Al-Albaniy -
rohimahulloh-, hal. 34-35 sebagaimana dalam Mausuah Al-Albaniy:
1/280-281)
PERANAN AS-SUNNAH BERKAITAN DENGAN AL-
QURAN
Sesungguhnya Alloh tabaroka wa taala- telah memilih Muhammad -
shollallohu alaihi wa sallam- sebagai Nabi-Nya dan mengkhususkan
beliau untuk mengemban risalah. Alloh juga menurunkan kepada
beliau kitab-Nya yang mulia dan memerintahkan beliau untuk
menerangkannya kepada manusia. Alloh taala- berfirman:

+ ,

'

- ' -

'

-' ' , -

- '

' ,

'

'

'


Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan pada
umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (yakni:
perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang
terdapat dalam Al-Quran tersebut). (QS. An-Nahl: 44)
Ayat yang mulia ini mengandung dua macam keterangan yang
dituntut untuk disampaikan kepada manusia:
Pertama: keterangan tentang lafadz dan susunan kalimat dalam Al-
Quran. Yaitu penyampaian Al-Quran secara lengkap tanpa
menyembunyikannya sedikitpun serta membacakannya kepada umat
sebagaimana diturunkan. Inilah maksud dari firman Alloh taala-:
- - ,

'

' -

' - - ' ' + ,

' ,
Wahai rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari
Robb-mu. (QS. Al-Maidah: 67)
Aisyah rodhiyallohu anha- mengatakan:
,'--- - '-,- - -=- `= - ,-' - _'= = -
Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad telah
menyembunyikan suatu perkara yang diperintahkan untuk
www.ashhabulhadits.wordpress.com
19

disampaikan, maka dia telah melakukan kebohongan yang besar
terhadap Alloh. Kemudian beliau -rodhiyallohu anha- membaca ayat
tersebut di atas. (HR. Bukhori dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim beliau rodhiyallohu anha- mengatakan:
- - ' ' '- ' ,'= - _'- _''- ' -' ,'--- - '-,- '--' :


= -

' = -

' '

- , - - - ' - -

- -

- -

- =

' = - -

'
'

- '

-' _

-
Sekiranya Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam- telah
menyembunyikan suatu perkara yang diperintahkan untuk
disampaikannya, niscaya beliau akan menyembunyikan ayat ini
(karena berisi teguran Alloh kepada beliau):

- -

- -

- =

' = - -

' = -

' = -

' '

- ' - -

- , - - '

- '

-' _

-
Ingatlah, ketika kamu berkata kepada orang yang Alloh telah
melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu juga telah memberi
nikmat kepadanya: Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada
Alloh, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang
Alloh akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang
Alloh-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. (QS. Al-Ahzab: 37)
Kedua: keterangan tentang makna lafadz, kalimat ataupun ayat yang
dibutuhkan oleh umat. Hal itu pada ayat-ayat yang sifatnya global,
umum ataupun mutlak yang kemudian datanglah sabda-sabda Rosul,
perbuatan-perbuatan serta persetujuan beliau (As-Sunnah) sebagai
penjelas maksud sebenarnya yang terkandung dalam ayat-ayat
tersebut.
(Rujukan: Manzilatus Sunnah Fil Islam, karya Imam Al-Albaniy -
rohimahulloh- , hal. 6-8 sebagaimana dalam Mausuah Al-Albaniy:
1/281-282)
www.ashhabulhadits.wordpress.com
20

CONTOH-CONTOH PENERAPAN AS-SUNNAH DALAM
MEMAHAMI AL-QURAN
Pertama: firman Alloh -taala- dalam ayat tayammum merupakan
contoh yang tepat guna menunjukkan fungsi As-Sunnah di samping Al-
Quran:

, ,

- = - -'

' - ,

, - - - ,

' -

'


kemudian kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah
dengan tanah yang baik lagi suci; usaplah muka dan tangan kalian.
(QS. An-Nisa: 43)
Maka As-Sunnah menjelaskan tentang tangan yang diusap dalam ayat,
bahwasanya yang dimaksud hanyalah dua telapak tangan. Hal ini
berdasarkan sabda beliau -shollallohu alaihi wa sallam-:
,-' ='' -- -,-'
Tayammum itu dengan sekali tepukan (ke tanah) untuk wajah dan
dua telapak tangan. (HR. Bukhori dan Muslim dari hadits Ammar bin
Yasir rodhiyallohu anhuma-)
Jikalau tidak datang penjelasan dari As-Sunnah, niscaya kita akan
beranggapan bahwa yang diusap adalah seluruh bagian tangan
semata-mata berdasarkan ayat tersebut.
Contoh lain yang menunjukkan bahwa tidaklah mungkin memahami
maksud Al-Qurankalamulloh dengan benar, kecuali dengan jalan As-
Sunnah adalah sebagai berikut:
Kedua: firman Alloh taala-:
,

'

- + - -

' -

'

'

- +

-' -,

' ,

'

- -
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman
mereka dengan kedzoliman (syirik), mereka itulah yang mendapat
keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. Al-Anam: 82)
www.ashhabulhadits.wordpress.com
21

Para sahabat dahulu memahami makna kedzoliman pada ayat ini
secara umum, mencakup segala bentuk kedzoliman meskipun sekecil
apapun. Oleh karena itu, mereka mempermasalahkan ayat tersebut
dan mengatakan: Wahai Rosululloh, siapa di antara kami yang tidak
mencampur keimanannya dengan kadzoliman?! Maka beliau -
shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:
'--' _' --- ` -' '-- '- ,' : ,= '' -'
Bukan itu maksudnya. Yang dimaksud (dalam ayat ini) hanyalah
kesyirikan. Bukankah kalian telah mendengar perkataan Luqman (QS.
Luqman: 13): Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedzoliman yang
besar. (HR. Bukhori dan Muslim)
Pada contoh ini dapat kita lihat, bahwa para sahabat -rodhiyallohu
anhum- yang keadaan mereka itu sebagaimana dikatakan oleh Ibnu
Masud -rodhiyallohu anhu-: Mereka adalah seutama-utama umat ini,
baik dalam kebaikan hati, kedalaman ilmu dan paling tidak
memberatkan diri, telah salah memahami ayat tersebut. Kalaulah
Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- tidak memperbaiki kesalahan dan
membimbing mereka kepada makna kedzoliman yang benar yaitu
kesyirikan, niscaya kita juga akan mengikuti kesalahan mereka. Akan
tetapi Alloh tabaroka wa taala- telah menghindarkan kita dari
kesalahan tersebut dengan bimbingan dan sunnah Rosul-Nya -
shollallohu alaihi wa sallam-.
Ketiga: firman Alloh taala-:

'

- -

- ,

- =

` -' -

'

- =

' = ,

'

- - -

,
Apabila kalian bepergian di muka bumi (safar), maka tidaklah
mengapa kalian men-qoshor sholat, jika kamu takut diserang orang-
orang kafir. (QS. An-Nisa: 101)
Yang nampak dari ayat ini, bahwa meng-qoshor sholat dalam safar
(bepergian jauh) itu disyaratkan ketika merasa takut diserang orang-
orang kafir. Oleh karena itulah, para sahabat bertanya kepada
www.ashhabulhadits.wordpress.com
22

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam-: Untuk apa kita sekarang
meng-qoshor sholat, padahal kita sudah merasa aman? Maka beliau
bersabda:
- -- - -- '-' ,'= '+-
Itu adalah shodaqoh dari Alloh kepada kalian, maka terimalah
shodaqoh itu dari-Nya. (HR. Muslim)
Kalulah bukan karena hadits ini dan amalan beliau -shollallohu alaihi
wa sallam- meng-qoshorsholat dalam safar ketika aman, maka kita
akan terus merasa ragu tentang disyariatkannya meng-qoshor sholat
dalam safar pada keadaan aman, sebagaimana yang dipertanyakan
oleh para sahabat tersebut.
Keempat: firman Alloh taala-:

'

- , -

'

' =

- =
Diharamkan bagi kalian memakan bangkai, darah (QS. Al-Maidah:
3)
Maka As-Sunnah menerangkan bahwa bangkai belalang dan ikan serta
hati dan limpa termasuk yang halal. Rosululloh -shollallohu alaihi wa
sallam- bersabda dari hadits Ibnu Umar -rodhiyallohu anhuma-:
'= '- '--,- '-' : '=' -' =' ='
Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah:
belalang dan ikan serta hati dan limpa. (HR. Baihaqiy dan yang shohih
adalah dari perkataan Ibnu Umar (mauquf), tetapi mengandung
hukum marfu (dari Nabi), karena hal itu tidaklah dikatakan semata-
mata dari akal pikiran)
Kalaulah bukan karena hadits tersebut, niscaya kita akan
mengharamkan apa yang halal dan baik bagi kita, yaitu: bangkai
belalang dan ikan serta hati dan limpa.
Kelima: firman Alloh -taala-:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
23

=

- - - ' -

- , -

='

' = ' - = -

'

' -

'

'

- -

, '

'

- -

'

- =
Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang
mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya itu najis- atau
binatang yang disembelih atas nama selain Alloh.(QS. Al-Anam: 145)
Kemudian datanglah As-Sunnah mengharamkan apa yang belum
disebutkan dalam ayat ini, seperti sabda Rosululloh -shollallohu alaihi
wa sallam-:
= ,' - '=- '--' - '-
Diharamkan setiap hewan buas bertaring (untuk memangsa) dan
setiap burung yang bercakar (untuk mencengkeram mangsanya).
Juga sabda beliau pada perang Khoibar:
= '+-' ,--` -=' = -',+-, '- -
Sesungguhnya Alloh dan Rosul-Nya melarang kalian untuk memakan
keledai jinak, karena itu adalah najis. (HR. Bukhori dan Muslim)
Demikian juga pada contoh ini, kalaulah bukan karena hadits tersebut,
maka kita akan tetap memakan apa yang telah diharamkan oleh
syariat: hewan buas yang bertaring dan burung yang bercakar tajam
untuk memangsa buruannya.
Keenam: firman Alloh taala-:

' - ' - ,

' ' - '

' -

-,

= -


Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Alloh
yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan siapa
pulakah yang mengharamkan rezki yang baik? (QS. Al-Anam: 32)
www.ashhabulhadits.wordpress.com
24

Maka As-Sunnah menerangkan juga bahwasanya diantara macam
perhiasan tersebut ada yang diharamkan, sebagaimana yang telah
shohih dari beliau -shollallohu alaihi wa sallam- bahwa suatu hari
beliau keluar menemui para sahabat sambil memegang kain sutra dan
emas. Maka beliau bersabda:
+`'-` = -- _'= =
Dua perhiasan ini haram bagi laki-laki umatku, halal bagi perempuan
mereka.(HR. Hakim dan beliau menshohihkannya)
Demikian juga pada contoh ini, jikalau tidak datang kepada kita
keterangan dari As-Sunnah, maka kita akan menghalalkan apa yang
sebenarnya haram bagi kita.
Inilah diantara contoh yang menggambarkan tentang pentingnya As-
Sunnah dalam syariat Islam tersebut dan masih banyak lagi contoh-
contoh semisal yang telah diterangkan oleh para ulama hadits dan
fiqih dalam kitab-kitab dan fatawa mereka.
Dari apa yang telah lalu, maka jelaslah bagi kita akan pentingnya As-
Sunnah dalam syariat Islam. Maka tidak ada jalan lain untuk
memahami Al-Quran Al-Karim dengan sebenarnya, kecuali diiringi
dengan As-Sunnah yang shohih.
Sungguh sangat disayangkan, telah ditemui beberapa orang yang
menafsiri Al-Quran dan para penulis masa kini yang berpendapat akan
halalnya memakan binatang buas tersebut, memakai emas dan kain
sutra bagi laki-laki dengan berpegang kepada Al-Quran saja! Bahkan
ada kelompok yang menamakan dirinya Al-Quraniyun, mereka
menafsirkan Al-Quran dengan hawa nafsu dan akal-akal mereka tanpa
merujuk kepada As-Sunnah yang shohih. As-Sunnah tersebut menurut
mereka hanyalah dijadikan sebagai pemuas hawa hafsu; yang sesuai
dengan hawa nafsu mereka, maka diterima dan sebaliknya jika tidak
sesuai, maka dilemparkan ke belakang punggung-punggung mereka!
www.ashhabulhadits.wordpress.com
25

Sepertinya Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- telah mengisyaratkan
akan adanya kelompok ini dalam sabdanya yang shohih:
-, -= ,+- - - '-- - - -` ,-', -, _'= '--- = ,-' ` : `
'--- - '- '-= '-
Tidaklah aku temui salah seorang di antara kalian sedang bertelekan
di atas ranjangnya. Ketika datang kepadanya perkaraku dari apa yang
kuperintahkan dan larang, maka dia mengatakan: Aku tidak tahu, apa
yang kutemukan pada kitab Alloh, maka aku ikuti! (HR. Tirmidzi)
Dalam riwayat lainnya ia mengatakan:
'-= '- - '`- -' ,- - ` '--=

'-= , .
Apa yang kutemui di dalamnya (Al-Quran) bahwa hukumnya haram,
maka aku haramkan! Lalu beliau -shollallohu alaihi wa sallam-
menegaskan: Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Quran dan
yang semisalnya (As-Sunnah) bersamanya.
Dalam riwayat lain beliau -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:
- = '- `- - - = '- `
Ketahuilah, sungguh apa yang diharamkan oleh Rosululloh itu seperti
apa yang telah Alloh haramkan.
Juga termasuk perkara yang disayangkan adalah ada sebagian penulis
tentang syariat dan aqidah Islam menyebutkan pada mukaddimah
kitabnya, bahwa tidaklah dia menggunakan rujukan dalam tulisannya,
kecuali Al-Quran saja!
Maka hadits yang shohih mengandung dalil yang pasti bahwa syariat
Islam itu bukan Al-Quran saja, tetapi Al-Quran dan As-Sunnah. Siapa
yang hanya berpegang pada salah satunya, berarti sama sekali dia
belum berpegang dengan salah satunya. Hal itu karena keduanya telah
memerintahkan kita untuk berpegang dengan Al-Quran dan As-
Sunnah, sebagaimana firman Alloh taala-:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
26

- '

- '

_ , -
Siapa yang mentaati Rosul itu, maka sesungguhnya ia telah mentaati
Alloh. (QS. An-Nisa: 80)
Firman Alloh:
-

= , _

- =

- - ,

` -

, -

' - - ' = =

+ -

--

= ,

- , - =

- ' -,
' -, ' -

' - ,
Maka demi Robbmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu (Rosul) sebagai hakim terhadap perkara
yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan
dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan dan
mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)
Firman Alloh:

' - - _ -

- - -

- - ' '

' -

, -

, =

'

'

,
'

-,

- -

` - -

' - -
Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi
perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain
tentang urusan mereka. Siapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya,
maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al-
Ahzab: 36)
Firman Alloh taala-:

- =

' +

- ' -

- '

'

- ' - +

--'


Apa yang diberikan Rosul kepada kalian, maka terimalah dan apa
yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)
Berkaitan dengan ayat ini, telah shohih dari Ibnu Masud -
rodhiyallohu anhu- bahwasanya Rosululloh -shollallohu alaihi wa
sallam- bersabda:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
27

, -

'

- =

' ' ' =

'

- -

' ' - -

- -

' ' - -'

-' ' - -

- - -

' ' - -

'

'

'

=
-
Alloh melaknat perempuan-perempuan pembuat tatto dan
perempuan yang minta ditatto, perempuan-perempuan yang
mencabut bulu di wajahnya dan yang minta dicabut bulu di wajahnya,
perempuan-perempuan yang merenggangkan gigi-giginya supaya
kelihatan bagus dan perempuan-perempuan yang merubah ciptaan
Alloh.
Setelah mendengar hal itu, maka seorang perempuan datang
kepadanya seraya mengatakan: Kamukah yang mengatakan: Alloh
melaknat perempuan yang membuat tatto dan yang meminta untuk
ditatto Maka Ibnu Masud menjawab: Benar. Perempuan itu
berkata: Sungguh aku sudah membaca kitab Alloh dari awal sampai
akhir, tidaklah kutemukan apa yang kau katakana itu. Maka Ibnu
Masud menjawab: Jika engkau telah membacanya, maka pasti telah
kau temukan hal itu. Bukankah engkau telah membaca ayat:

' +

- ' -

- '

'

- ' - +

-'

- =
Apa yang diberikan Rosul kepada kalian, maka terimalah dan apa
yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah?
Maka perempuan itu berkata: Benar. Kemudian Ibnu Masud
mengabarkan: Sungguh aku telah mendengar Rosululloh -shollallohu
alaihi wa sallam- bersabda demikian. (HR. Bukhori dan Muslim)
(Rujukan: Manzilatus Sunnah Fil Islam, karya Imam Al-Albaniy, hal. 7-
12, Mausuah Al-Albaniy Fil Aqidah: 1/282-287)
PEMBAGIAN AS-SUNNAH AN-NABAWIYAH (SUNNAH
NABI)
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwasanya As-Sunnah itu adalah:
apa yang telah shohih dari Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam-,
www.ashhabulhadits.wordpress.com
28

baik berupa perkataan (sabda), perbuatan, persetujuan beliau, maka
akan diperjelas lebih lanjut mengenai tiga macam sunnah tersebut:
SUNNAH QOULIYYAH
Adapun ucapan atau perkataan beliau -shollallohu alaihi wa sallam-,
maka telah banyak kita temukan, yang hal itu mencakup seluruh
berita-berita kenabian, baik yang berkaitan dengan nama-nama dan
sifat Alloh taala-, tentang malaikat, nabi-nabi, kejadian-kejadian yang
telah lalu maupun yang akan datang, perkara-perkara hari kiamat,
berita-berita ghoib dan perkara-perkara keimanan lainnya yang
semua itu wajib kita benarkan dan imani. Juga ucapan beliau tersebut
mencakup perintah-perintah untuk ditaati dan larangan-larangan
untuk ditinggalkan dan dijauhi, baik yang bersifat umum maupun
khusus, global maupun terperinci.
Pada asalnya perintah beliau -shollallohu alaihi wa sallam- tersebut
hukumnya adalah wajib untuk dikerjakan selama tidak ada dalil lain
yang memalingkan kewajiban tersebut kepada hukum lainnya.
Adapun larangan beliau pada asalnya adalah haram untuk dikerjakan,
kecuali ada dalil lain yang memalingkan dari hukum asal tersebut.
Alloh taala- berfirman:

- ''

= , ,

'

= ,

'

,'

+ -, - ,

+ -, -

=
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan
ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur: 63)
Firman Alloh:
-

- '

'

- ' - +

-'

- =

' +

- '
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)
Sabda Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- dari Abu Huroiroh -
rodhiyallohu anhu- riwayat Bukhori dan Muslim:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
29

- - ' -

- -

'

'

- -

' - - -

- ='

- =

- , +

- ' -
Apa yang telah kularang, maka jauhilah dan apa yang telah
kuperintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian.
Contoh perintah beliau yang wajib untuk dikerjakan: mandi ketika
masuk Islam, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-
dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu anhu- pada kisah masuk Islamnya
Tsumamah bin Utsal, maka Nabi memerintahkannya untuk mandi.
(HR. Abdurrozzaq dengan sanad shohih)
Contoh perintah beliau yang mustahab (tidak wajib): bersiwak setiap
kali berwudhu, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-
dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu anhu- riwayat Ahmad (shohih):

` - -

' =

' -

_ - -''

- -
Kalaulah tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan
mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.
Contoh larangan beliau yang haram dikerjakan: berangan-angan
untuk bertemu musuh. Sabda Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-
dalam hadits Abdulloh bin Abi Aufa -rodhiyallohu anhu- riwayat
Bukhori dan Muslim:

, ' ' -

' - ' '

- '

- -

`
Janganlah kalian berangan-angan untuk bertemu musuh, mintalah
kepada Alloh keselamatan.
Contoh larangan beliau yang makruh untuk dikerjakan: menyentuh
mushhaf Al-Quran tanpa berwudhu, sebagaimana sabda beliau -
shollallohu alaihi wa sallam- dalam surat beliau kepada Amr bin
Hazm -rodhiyallohu anhu- (riwayat Malik dan selainnya, hadits
hasan):
'

' - ,


Tidak boleh menyentuh Al-Quran, kecuali dalam keadaan suci.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
30

Larangan ini hukumnya makruh, karena Nabi -shollallohu alaihi wa
sallam- bersabda dalam hadits Ibnu Abbas -rodhiyallohu anhuma-
riwayat Ahmad (shohih):
` -' _

'

''

' -


Aku hanyalah diperintahkan untuk berwudhu, jika aku akan
mendirikan sholat.
SUNNAH FILIYYAH
Adapun perbuatan-perbuatan Rosul -shollallohu alaihi wa sallam-,
maka termasuk bagian dari As-Sunnah An-Nabawiyah yang
merupakan sumber hukum syariat Islam. Perbuatan-perbuatan beliau
tersebut terbagi menjadi beberapa bagian dan setiap bagian
mempunyai hukum tersendiri:
Pertama: apa yang dinamakan dengan sunnah jibilliyah (apa yang
biasa dilakukan oleh manusia sesuai dengan tabiatnya), seperti:
makan, minum, tidur dan sebagainya. Maka hal ini tidak mempunyai
hukum secara dzatnya, karena tidak berhubungan dengan perintah
dan larangan. Akan tetapi terkadang dituntut untuk melakukannya
dengan tata cara tertentu, sehingga termasuk perkara yang dianjurkan
atau diperintahkan dan sebaliknya terkadang terdapat perkara
tertentu dari hal itu yang terlarang dan tidak sepantasnya dilakukan.
Sebagai contoh: tidur. Pada asalnya merupakan perkara tabiat yang
tidak mengandung hukum, baik itu wajib maupun mustahab (sunnah).
Akan tetapi dianjurkan (disunnahkan) untuk miring ke kanan dan
didahului dengan membaca dzikir-dzikir sebelum tidur, sebagaimana
ditunjukkan oleh hadits Al-Baro bin Azib -rodhiyallohu anhu- dalam
Shohih Bukhori dan Muslim.
Contoh kedua: makan dan minum, termasuk kebutuhan semua
manusia secara tabiatnya. Akan tetapi diwajibkan dalam makan ini
dengan menggunakan tangan kanan dan membacabismillah
sebelumnya dan dilarang dengan tangan kiri, sebagaimana sabda
www.ashhabulhadits.wordpress.com
31

beliau dalam hadits Umar bin Abi Salamah -rodhiyallohu anhu-
riwayat Bukhori dan Muslim:
,' , ' - -

-, - ,

= ' ,
Wahai bocah, sebutlah nama Alloh (bismillah), makanlah dengan
tangan kananmu dan mulailah dengan makanan yang dekat
denganmu!
Juga hadits Salamah bin Akwa -rodhiyallohu anhu- riwayat Muslim,
dia mengatakan: Ada seseorang yang makan dengan tangan kirinya di
depan Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam. Lalu beliau
mengatakan:

'

-, - ,

- : '

_,

- -

` : '

'

- - ' -

- -

` : , _

'

' +

' -


Makanlah dengan tangan kananmu! Orang itu berkata: Aku tidak
bisa. Lalu beliau mengatakan: Kamu tidak akan bisa! Tidaklah ada
yang menghalanginya untuk makan dengan tangan kanan, melainkan
kesombongannya. Maka setelah itu orang itu tidak bisa mengangkat
tangannya ke mulutnya lagi.
Demikian juga dianjurkan untuk membaca hamdalah selesai makan
dan minum serta tidak bernafas atau meniup dalam gelas atau tempat
makanan dan minuman tersebut, sebagaimana dalam hadits-hadits
yang shohih. Ini semua merupakan perkara yang dituntut di
dalamnya. Terkadang beberapa macam makanan dan minuman yang
asalnya halal, terlarang dikonsumsi oleh sebagian manusia, karena hal
itu bisa membahayakan jiwanya, contohnya: gula-gula atau makanan
yang manis-manis bagi penderita penyakit gula. Maka secara syariat
makanan tersebut haram baginya. Oleh karena itu, Syaikhul Islam -
rohimahulloh- mengatakan: Makanan yang asalnya mubah (boleh)
menjadi haram jika membahayakan diri seseorang. (Lihat Ikhtiyarot
Fiqhiyyah, oleh Al-Baliy, hal. 351). Sebaliknya makan atau minuman
tersebut diwajibkan atau dianjurkan bagi seseorang jika menunjang
kesehatannya atau jika ditinggalkan menimbulkan penyakit dan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
32

sebagainya, seperti makan sahur bagi orang yang akan berpuasa
untuk menjaga kesehatannya selama bepuasa.
Kedua: perbuatan beliau -shollallohu alaihi wa sallam- yang dilakukan
menurut adat-istiadat setempat. Maka ini hukumnya mubah (boleh
dilakukan) secara dzatnya. Akan tetapi hukum asal ini bisa berubah
menjadi sesuatu yang diperintahkan dan sebaliknya menjadi terlarang
karena sebab-sebab tertentu.
Sebagai contoh: pakaian, pada asalnya hukumnya mubah, tetapi
diwajibkan untuk menutup aurotnya dan dianjurkan yang berwarna
putih (bagi laki-laki) sebagaimana dalam hadits shohih dari Ibnu
Abbas -rodhiyallohu anhu- riwayat Ahmad. Sebaliknya, dilarang
berpakaian yang menyerupai adat orang-orang kafir (seperti celana
pantalon, dasi dan sebagainya) atau terlalu panjang sampai menutup
atau melebihi mata kaki (bagi laki-laki) sebagaimana dalam hadits
shohih dari Abu Said Al-Khudri -rodhiyallohu anhu- riwayat Ahmad:

' _

'

'

' -

' -' - - _

'

- -

'

'

-' -

' =

- '

' -

' -


Pakaian mukmin itu sampai setengah betis. Tidak apa-apa jika
sampai kedua mata kaki. Adapun di bawah mata kaki (menutupi
keduanya), maka di neraka.
Merupakan suatu perkara yang harus diperhatikan mengenai hal ini:
bahwa adat yang haram, maka hukumnya haram pula dilakukan,
meskipun telah tersebar dan sudah biasa dilakukan oleh manusia.
Sesuatu yang haram tidak boleh dilakukan meskipun dengan alasan
bahwa ini sudah merupakan adat atau kebiasaan manusia. Memang
benar, bahwa agama Islam ini merupakan agama yang menyeluruh di
setiap tempat dan sesuai dengan perkembangan zaman. Akan tetapi
bukan berarti bahwa agama ini harus tunduk, diatur dan disesuaikan
dengan tempat dan zaman tertentu. Ini adalah pemahaman yang
keliru. Akan tetapi sebaliknya, agama ini mengatur kehidupan
manusia di setiap waktu dan tempat yang itu merupakan
kemaslahatan umat. Jika ada orang yang mengatakan: Kaum
www.ashhabulhadits.wordpress.com
33

muslimin sekarang sudah terbiasa dengan pakaian model ini (pakaian
orang kafir), maka jadilah ia termasuk pakaian muslim, karena agama
itu cocok untuk setiap waktu dan tempat! Subhanalloh!!! Ucapan ini
bagaikan sebuah kampak yang menghancurkan agama ini!! Bahkan
mereka jadikan yang seperti ini sebagai ilmu dan tujuan agama!!! Ini
jelas tidak benar. Hendaknya seorang muslim itu menjauhi perkara
yang dilarang oleh syariat dan merasa cukup dengan apa yang sesuai
dengan syariat. Wabillahi-taufiq.
Masalah: apakah seseorang diberi pahala, jika meniru adat Rosululloh
-shollallohu alaihi wa sallam-, baik dalam berpakaian dan selainnya?
Jawaban: hendaknya kita ketahui, bahwa apa yang dilakukan oleh
Rosul -shollallohu alaihi wa sallam- secara adat, maka disunnahkan
bagi kita untuk melakukannya sesuai dengan adat setempat kita -baik
dalam berpakaian atau selainnya-, selama adat setempat kita tersebut
tidak bertentangan dengan syariat. Bukanlah yang dimaksud dengan
sunnah tersebut adalah bentuk atau model pakaian itu sendiri
misalnya, akan tetapi yang disunnahkan adalah jenis perbuatan yang
sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rosul -shollallohu alaihi wa
sallam-. Adapun jika berniat ingin meniru adat Rosululloh -shollallohu
alaihi wa sallam- dalam model pakaian dan sebagainya, karena
kecintaan kita kepada beliau, maka diharapkan akan mendapat pahala
karena niat baik tersebut. Contohnya seperti memakai sarung,
imamah, gamis, rida dan sebagainya yang pernah dipakai oleh beliau.
Hal ini perlu diamalkan, terutama di negeri yang pakaian adat
masyarakat setempat bertentangan dengan syariat Islam, misalnya
pakaian yang menyerupai penampilan orang kafir, kurang menutup
aurot atau telah datang dalil yang melarang untuk memakai pakaian
tersebut, maka kita tidak diperbolehkan memakainya. Akan tetapi,
yang dituntut adalah kita tetap memakai pakaian muslim untuk
menampakkan syiar Islam serta sunnah Nabi -shollallohu alaihi wa
sallam-.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
34

Ketiga: perbuatan yang khusus dilakukan oleh Rosululloh -shollallohu
alaihi wa sallam-, tidak diperbolehkan bagi kita untuk melakukannya.
Untuk menentukan jenis perbuatan ini, diperlukan adanya dalil yang
jelas dan shohih menunjukkan kalau hal itu merupakan kekhususan
beliau. Hal itu karena asal dari perbuatan beliau adalah untuk ditiru
dan diteladani, sebagaimana firman Alloh taala-:

' '

' , `

' - = , '

- '

- - =

-
Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri teladan yang
baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Alloh dan
kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh. (QS. Al-
Ahzab: 21)
Berdasarkan ayat ini, maka berlakulah suatu kaedah: bahwa asal dari
perbuatan Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- itu adalah dalam rangka
ibadah selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan bahwa hal itu
sekedar adat-istiadat, tabiat manusia atau kekhususan beliau. Maka
ketika ada dalil tentang kekhususan beliau tersebut, maka tidak
diperkenankan bagi kita untuk melakukannya, walaupun dengan
alasan ittiba Rosul.
Contohnya: puasa wishol, yaitu menjamak puasa dua hari atau lebih
tanpa berbuka sama sekali. Puasa ini merupakan kekhususan beliau -
shollallohu alaihi wa sallam- dan melarang para sahabat untuk
melakukannya, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar -rodhiyallohu
anhuma- dan selainnya dalam Shohih Bukhori dan Muslim:

''

' -

'

= _ +

' - ,

' =

- _

' -

-'

: '

- , +

'

- -


Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam- melarang untuk berpuasa
wishol. Para sahabat berkata: Sesungguhnya engkau melakukannya?
Rosululloh menjawab: Sesungguhnya aku ini tidak seperti kalian. Aku
diberi makan dan minum (oleh Alloh).
www.ashhabulhadits.wordpress.com
35

Contoh lain yang merupakan kekhususan beliau: nikah dengan hibah,
yaitu seorang perempuan mendatangi beliau dan mengatakan: Aku
hibahkan diriku kepadamu. Jika beliau menerima, maka secara
langsung menjadi istri beliau tanpa mahar, wali, akad nikah dan saksi-
saksi. Dalilnya adalah firman Alloh taala- ketika menyebutkan
perkara-perkara yang dihalalkan Alloh untuk beliau, diantaranya:
-

'

- ''

= ' + =

- - ,

-'

-' ' ' + -

- - -

- , - - -

'


dan perempuan mukmin yang menyerahkan (menghibahkan)
dirinya kepada Nabi, jikalau Nabi mau menikahinya, sebagai
pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. (QS. Al-
Ahzab: 50)
Jadi apa yang dikhususkan untuk Rosululloh -shollallohu alaihi wa
sallam- tidak berlaku bagi kita, tetapi hal itu menunjukkan kepada kita
akan keutamaan dan kemuliaan yang dikaruniakan oleh Alloh kepada
beliau dan menunjukkan kedudukan beliau yang tinggi di sisi Alloh
subhanahu wa taala-.
Keempat: perbuatan beliau yang dilakukan dalam rangka ibadah.
Maka hal ini hukumnya wajib bagi beliau pada awalnya, karena
kewajiban atas beliau untuk menyampaikan syariat, sebagaimana
firman Alloh:

'' -

' - ' -

'

- - ,

'

' -

' - - ' ' + ,

' ,
Wahai rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari
Robbmu. Jika tidak kamu kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti
kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. (QS. Al-Maidah: 67)
Setelah itu hukumnya menjadi mustahab (sunnah) bagi beliau dan
umatnya, karena hal itu merupakan bentuk peribadatan.
Sebagai contoh: bersiwak (menggosok gigi) ketika masuk rumah,
sebagaimana dalam hadits Aisyah -rodhiyallohu anha- dalam Shohih
Muslim:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
36

-''

- , -

'


Ketika memasuki rumah, beliau -shollallohu alaihi wa sallam-
memulai dengan bersiwak.
Maka bersiwak hukumnya mustahab (sunnah), karena beliau lakukan
sebagai bentuk ibadah, sebagaimana sabda beliau dalam hadits Aisyah
-rodhiyallohu anha- riwayat Ahmad dan An-Nasai (hadits shohih):
-

' '

- -' ' '

' -
Siwak itu membersihkan mulut dan mendatang keridhoan Alloh.
Kelima: apa yang dilakukan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wa
sallam- dalam rangka melaksanakan perintah Alloh taala-. Maka
hukumnya adalah sesuai dengan hukum perintah Alloh tersebut, bisa
wajib atau sunnah (mustahab).
Jika perbuatan tersebut dilakukan dalam rangka menjelaskan perintah
Alloh yang sifatnya umum atau global, maka hukumnya adalah wajib
atas beliau, karena suatu perintah tersebut tidak bisa diamalkan
dengan baik dan benar kecuali dengan praktek beliau -shollallohu
alaihi wa sallam-. Setelah itu, amalan tersebut bagi umatnya bisa
menjadi wajib, jika hukum perintahnya wajib atau sunnah, jika
hukumnya sunnah (mustahab).
Sebagai contoh adalah: perintah sholat dan zakat yang wajib secara
global, sebagaimana dalam firman Alloh taala-:
'

'

` -' -,


Dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat. (QS. Al-Baqoroh: 43)
Kita tidak mengetahui bagaimana perincian tata cara mendirikan
sholat dan menunaikan zakat tersebut, kecuali setelah datang
perinciannya dari Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-, baik berupa
ucapan ataupun perbuatan beliau.
Contoh lain: firman Alloh taala-:
www.ashhabulhadits.wordpress.com
37

_

' - -

, -

'

- - -

-
Jadikanlah sebagian maqom Ibrohim (yaitu tempat berdiri Nabi
Ibrohim ketika mendirikan Kabah) sebagai tempat sholat. (QS. Al-
Baqoroh: 125)
Kita tidaklah mengetahui bagaimana cara mengamalkan ayat ini;
apakah yang dimaksud mendirikan sholat lima waktu, atau yang
lainnya? Berapa jumlah rakaatnya; apakah dua, tiga rakaat atau lebih?
Kita tidak mengetahuinya. Akan tetapi Nabi -shollallohu alaihi wa
sallam- ketika menyelesaikan thowaf (tujuh putaran), langsung
menuju maqom Ibrohim dengan membaca ayat tersebut, kemudian
melakukan sholat sunnah dua rakaat ringan. Pada rakaat pertama
membaca surat Al-Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al-
Ikhlash, sebagaimana dalam hadits Jabir -rodhiyallohu anhu- yang
panjang riwayat Muslim yang berisi tentang manasik haji.
(Rujukan: Syarh Ushul Min Ilmil Ushul, bab Al-Akhbar dan Syarh
Mandzumah Ushul Fiqh, bab Aqsam Fiil Nabi, keduanya karya Al-
Allamah Ibnu Utsaimin rohimahulloh-)
SUNNAH TARKIYYAH
Termasuk As-Sunnah (sunnah Nabi) adalah apa yang diistilahkan
dengan sunnah tarkiyyah, yaitu perkara-perkara yang ditinggalkan
oleh Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- dan tidak dilakukannya.
Sunnah ini terbagi menjadi dua macam:
Pertama: perkara-perkara yang ditinggalkan oleh Nabi -shollallohu
alaihi wa sallam- dikarenakan tidak adanya hal-hal yang mendorong
untuk dilakukannya hal tersebut pada zaman beliau. Maka
meninggalkan yang seperti ini tidak termasuk sunnah dan jika
dilakukan tidaklah dikatakan sebagai bidah.
Contohnya: pembukuan Al-Quran menjadi sebuah mushaf seperti
sekarang ini, penulisan kitab-kitab ilmu agama.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
38

(Rujukan: Al-Muwafaqot: 2/409, karya Imam Asy-Syathibiy -
rohimahulloh-)
Kedua: perbuatan-perbuatan yang ditinggalkan oleh Rosul -
shollallohu alaihi wa sallam- bersamaan dengan adanya faktor
pendorong untuk melakukannya. Meskipun demikian, beliau -
shollallohu alaihi wa sallam- tetap tidak melakukannya. Maka hal ini
menunjukkan bahwa secara syariat perbuatan tersebut hendaknya
ditinggalkan dan tidak dilakukan.
Contohnya: adzan pada sholat ied dan ketika menguburkan jenazah,
melafadzkan niat dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- telah menerangkan
tentang masalah ini, bahwa adzan pada sholat ied tersebut termasuk
perkara yang diada-adakan oleh beberapa penguasa dan telah
diingkari oleh kaum muslimin, karena itu merupakan kebidahan.
Kalaulah bukan karena itu, maka dikatakan bahwa hal ini termasuk
berdzikir kepada Alloh dan anjuran kepada manusia untuk beribadah
kepada Alloh, sehingga masuk dalam keumuman dalil-dalil seperti
firman Alloh:

, `
Berdzikirlah kepada Alloh dengan dzikir yang banyak. (QS. Al-Ahzab:
41)
Juga masuk dalam firman-Nya:
- _

'

' = - -

- =

-
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
menyeru kepada Alloh? (QS. Fushilat: 33)
Atau hal itu diqiyaskan dengan adzan sholat Jumat (karena Jumat
termasuk hari ied pekanan). Akan tetapi yang benar adalah dikatakan
bahwa sikap Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam- dengan
meninggalkannya bersamaan dengan adanya faktor pendorong dan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
39

tidak adanya suatu penghalang untuk dilakukannya hal itu,
merupakan sunnah (tarkiyyah) untuk ditinggalkan, sebagaimana apa-
apa yang beliau lakukan juga merupakan sunnah (filiyyah) untuk
dikerjakan. Sunnah tarkiyyah ini merupakan sunnah tersendiri yang
lebih dikedepankan daripada keumuman dalil-dalil atau qiyas.
Ketika beliau memerintahkan adzan dan iqomah pada sholat Jumat
dan bukan pada sholat ied, maka hal itu adalah sunnah beliau. Kita
tidak berhak untuk menambahinya. Bahkan penambahan dalam hal
itu seperti menambah jumlah sholat atau rakaat sholat dan itu
bukanlah amalan sholeh. Demikian juga tidak bisa dikatakan bahwa
hal itu merupakan bidah hasanah. Akan tetapi dikatakan bahwa
seluruh kebidahan itu adalah sesat, sebagaimana dalam keumuman
hadits shohih dari Jabir -rodhiyallohu anhu- riwayat Ahmad:

'

` - =

' +

-'

` = -

-
Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama) dan
setiap kebidahan itu sesat.
Kita mengetahui hal itu sebelum datangnya larangan khusus akan hal
tersebut atau ditemukannya mafsadah (kerusakan) di dalamnya.
Contoh lain, yaitu munculnya kebidahan disebabkan oleh keteledoran
manusia, seperti dikedepankannya khutbah ied sebelum sholatnya,
sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian penguasa dan telah
diingkari oleh kaum muslimin. Mereka beralasan bahwa banyak
manusia tidak mau mendengarkan khutbah ied, sehingga khutbah
dikedepankan. Maka dikatakan kepadanya bahwa sebab keengganan
manusia mendengarkan khutbah adalah keteledoran atau kesalahan
penguasa (khotib) itu sendiri, karena Nabi -shollallohu alaihi wa
sallam- dahulu berkhutbah untuk kemanfaatan dan bimbingan kepada
manusia. Adapun si khotib tersebut berkhutbah dengan tujuan untuk
melanggengkan kekuasaannya saja. Maka ini adalah kesalahan sendiri,
tidak bisa dijadikan alasan untuk memunculkan kesalahan yang lain
berupa kebidahan. Akan tetapi hendaknya ia bertaubat kepada Alloh
www.ashhabulhadits.wordpress.com
40

dari kesalahannya dan mengikuti sunnah Nabi. Jika dengan hal itu
belum juga menjadikan keadaan membaik, maka Alloh tidak akan
menuntut pertanggungan jawab selain atas amalanmu sendiri, bukan
atas amalan mereka.
Jika hal ini telah dipahami, maka akan hilanglah banyak syubhat
seputar kebidahan yang ada. Wabillahit-taufiq.
Maka hendaknya kita juga meninggalkan perkara tersebut
sebagaimana beliau meninggalkannya, meskipun dalam pandangan
kita bahwa di dalamnya terdapat suatu kemaslahatan yang jelas atau
termasuk dalam keumuman dalil-dalil yang ada (seperti yang telah
dicontohkan di atas), karena hal itu tidak disyariatkan selama Nabi -
shollallohu alaihi wa sallam- meninggalkannya.
(Rujukan: Iqtidho Shirothol Mustaqim, hal. 279-281, karya Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh-; Irsyadul Fuhul, hal. 42, karya
Imam Asy-Syaukaniy -rohimahulloh-)
Dari sini berlaku sebuah kaedah: bahwa diamnya pembuat syariat
(Alloh dan Rosul-Nya) pada hukum tertentu atau meninggalkan suatu
perkara bersamaan dengan adanya faktor pendorong dilakukannya
hal tersebut pada waktu itu tanpa adanya tambahan syariat baru, jika
hal tersebut dilakukan, maka ia termasuk perkara bidah dalam agama
yang tercela, bertentangan dengan maksud Alloh dan Rosul-Nya yaitu
menuruti apa yang telah digariskan oleh keduanya tanpa menambahi
atau mengurangi sedikitpun.
(Rujukan: Al-Itishom: 1/361, karya Imam Asy-Syathibiy -
rohimahulloh-)
Imam Al-Albaniy -rohimahulloh- mengatakan: Termasuk ketetapan
dari para ulama ahlitahqiq (mujtahid), bahwasanya setiap bentuk
peribadatan yang tidak disyariatkan oleh Rosululloh -shollallohu
alaihi wa sallam- dan tidak pernah beliau lakukan dalam rangka
ibadah, maka hal itu termasuk penyelisihan terhadap sunnah beliau.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
41

Hal itu karena sunnah beliau terbagi menjadi: sunnah filiyyah
(perbuatan yang dilakukan) dan sunnah tarkiyah(sesuatu yang
ditinggalkan). Apa yang ditinggalkan oleh beliau -shollallohu alaihi wa
sallam- berupa perkara ibadah, maka disunnahkan atau disyariatkan
bagi kita untuk meninggalkannya pula Hal ini telah dipahami oleh
para sahabat, sehingga banyak muncul peringatan terhadap
kebidahan dari mereka, baik secara umum maupun khusus, sampai-
sampai Hudzaifah bin Yaman -rodhiyallohu anhu- berkata: Setiap
ibadah yang tidak diamalkan oleh para sahabat Rosululloh -
shollallohu alaihi wa sallam-, maka janganlah kalian
mengamalkannya! Ibnu Masud -rodhiyallohu anhu- berkata:
Ikutilah (sunnah Rosul) dan jangan berbuat kebidahan, maka hal itu
cukuplah bagi kalian. Pegangilah perkara yang telah terdahulu!
(Rujukan: Hujjatun Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-, hal. 100-101,
karya Imam Al-Albaniy -rohimahulloh-)
Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata dalam Ilamul Muwaqqiin
(2/389-391): Pasal: Penukilan Sahabat Terhadap Perkara Yang
Ditinggalkan Oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam-.
Adapun penukilan mereka tentang perkara yang ditinggalkan oleh
Rosul -shollallohu alaihi wa sallam-, ada dua macam dan kedua-
duanya disebut sebagai sunnah:
Pertama: pernyataan mereka secara jelas bahwa hal tersebut telah
beliau tinggalkan dan tidak dilakukannya, seperti pada perang Uhud
bahwasanya beliau tidak memandikan dan mensholati para syuhada
Uhud. Demikian juga pada sholat ied: tidak ada adzan dan iqomah
serta panggilan apapun. Juga ketika menjama dua sholat: beliau tidak
melakukan sholat sunnah di antara keduanya dan tidak pula pada
salah satu dari keduanya
Kedua: tidak dinukilkan sama sekali perkara tersebut. Jikalau hal
tersebut telah dilakukan oleh Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-,
maka tentunya akan mereka nukilkan dan akan samapai kepada kita
www.ashhabulhadits.wordpress.com
42

(meskipun hanya dengan satu riwayat). Maka dengan tidak adanya
penukilan mereka tersebut, menunjukkan bahwa hal itu belumlah
terjadi.
Hal ini seperti melafadzkan niat ketika akan mendirikan sholat, doa
secara berjamaah yang dilakukan oleh imam dengan menghadapkan
dirinya ke makmum dan mereka mengamininya setiap selesai sholat
Shubuh, Ashar atau sholat lima waktu lainnya. Demikian juga
mengangkat kedua tangan setiap selesai ruku pada rakaat kedua
sholat shubuh dengan mengatakan: Allohumahdina fiiman
hadaitdst., dengan mengeraskannya dan diamini oleh makmum
(qunut shubuh).
Maka merupakan sesuatu yang mustahil bahwa beliau melakukannya
dan tidak dinukilkan kepada kita sama sekali, padahal dilakukannya
secara rutin setiap hari. Demikian juga mandi sebelum menginap di
Muzdalifah, ketika hendak melempar jumroh, ketika thowaf ziaroh
(bagi jamaah haji) serta sebelum sholat istisqo (minta hujan) dan
kusuf (gerhana).
Dari sinilah, diketahui bahwa pendapat yang menganjurkan hal-hal
tersebut telah menyelisihi As-Sunnah, karena perbuatan Rosululloh
meninggalkan hal tersebut merupakan sunnah (tarkiyyah)
sebagaimana perbuatan yang dilakukan oleh beliau adalah sunnah
(filiyyah). Jika kita menganjurkan (mensunnahkan) untuk melakukan
perkara yang ditinggalkan oleh Rosul -shollallohu alaihi wa sallam-,
maka ini sama seperti kita menganjurkan untuk meninggalkan
sesuatu yang telah dilakukan oleh beliau, tidak ada bedanya sama
sekali.
Jika ada yang mengatakan: Darimana kalian mengetahui bahwa
beliau tidak melakukannya. Tidak adanya penukilan tentang hal
tersebut bukan berarti hal itu tidak ada?
Ini adalah pertanyaan yang terlontar dari seseorang yang jauh sekali
dari pengetahuan tentang petunjuk dan sunnah beliau -shollallohu
www.ashhabulhadits.wordpress.com
43

alaihi wa sallam-. Jika pertanyaan ini dibenarkan dan diterima, maka
disunnahkan pula bagi kita untuk melakukan adzan sebelum sholat
tarawih, lalu dikatakan: Darimana kalian tahu kalau hal ini tidak
dinukilkan?! Demikian juga akan disunnahkan bagi kita untuk mandi
pada setiap melakukan sholat, lalu dia mengatakan hal yang serupa:
Darimana kalian tahu kalau hal ini tidak dinukil? Demikian juga
seseorang yang lain akan menganjurkan kita untuk berseru setelah
adzan:Yarhamukumulloh..! Kemudian ia mengatakan: Darimana
kalian tahu kalau hal ini tidak ada? Demikianlah seterusnya.,
sehingga terbukalah pintu kebidahan dan setiap yang menyerukan
kepada kebidahan mengatakan: Darimana kalian tahu kalau ini tidak
dinukil?!
Maka termasuk kebidahan adalah:
melakukan apa yang belum diizinkan oleh Alloh dan Rosul-Nya (dalam
peribadatan) untuk mengamalkannya, seperti: sujud syukur di depan
penguasa, doa secara berjamaah setiap selesai sholat dan sebagainya;
atau:
meninggalkan apa yang telah diizinkan untuk diamalkan dalam
rangka ibadah, seperti: tidak mau berbicara ketika berpuasa,
meninggalkan makanan tertentu dan sebagainya; atau:
perkara yang keluar dari itu semua, seperti mewajibkan berpuasa dua
bulan berturut-turut bagi orang yang mampu memerdekakan budak
dan sebagainya. Yang terakhir ini telah jelas penyelisihannya terhadap
dalil syari dan jelas merupakan bidah yang buruk.
(Rujukan: Al-Muwafaqot: 2/410, karya Imam Asy-Syathibiy -
rohimahulloh-)
DAMPAK BURUK DARI JAHILNYA MANUSIA
TERHADAP PERKARA INI
www.ashhabulhadits.wordpress.com
44

Sesungguhnya kejahilan manusia terhadap perkara pokok dan penting
ini dapat menjatuhkan mereka ke dalam kebidahan. Lihatlah kepada
kebidahan yang dilakukan oleh manusia sekarang, maka tampaklah
bahwa hal itu termasuk perkara yang telah ditinggalkan oleh Nabi -
shollallohu alaihi wa sallam- bersamaan dengan adanya kebutuhan
untuk melakukannya di waktu itu.
Lihatlah ketika orang-orang suka melafadzkan niat ketika memulai
sholat dengan mengucapkan: Nawaitu an usholli dst., padahal
tidak pernah diketemukan hal itu satu riwayat pun dari Nabi -
shollallohu alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau. Yang ada
hanyalah perintah Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- sebagaimana
dalam hadits yang berisi kisah seseorang yang tidak baik sholatnya
(hadits shohih dari Rifaah -rodhiyallohu anhu- dan selainnya, riwayat
ashhabus-sunan):
- - `-' _' .. _'
Jika engkau berdiri memulai sholat, maka bertakbirlah (takbirotul
ihrom) dst.
Beliau tidaklah mengajarkan: Katakanlah: Nawaitu an ushollidst.
Jikalau hal itu disyariatkan, niscaya akan diajarkan pula oleh beliau
kepada orang itu, karena beliau -shollallohu alaihi wa sallam- tidaklah
menunda penjelasan ketika dibutuhkan.
Demikian juga membaca Al-Quran Al-Karim di pekuburan sebagai
bentuk rohmat kepada si mayit. Hal itu tidak dilakukan oleh Rosul -
shollallohu alaihi wa sallam- sama sekali, bersamaan dengan adanya
pendorong untuk itu dan tidak ada penghalang. Maka
meninggalkannya termasuk As-Sunnah dan sebaliknya;
mengerjakannya adalah bidahtercela.
Apakah masuk akal jika Rosululloh -shollallohu alaihi wa sallam-
meninggalkan sesuatu yang bermanfaat serta mendatangkan rahmat
bagi umatnya, padahal beliau bersifat amat belas kasihan lagi
www.ashhabulhadits.wordpress.com
45

penyayang terhadap orang-orang mukmin?! Demikian juga, apakah
masuk akal kalau hal itu merupakan pintu dari pintu-pintu rahmat,
kemudian ditinggalkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-
sepanjang hidup beliau?!
Demikian juga, peringatan maulid Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-
telah ditinggalkan dan tidak dilakukan oleh beliau dan juga para
sahabat beliau yang mulia, bersamaan dengan adanya faktor
pendorong untuk melakukannya. Hari itu telah berulang-ulang tiap
tahun, tetapi tidak sekalipun beliau -shollallohu alaihi wa sallam-
memperingatinya dan tidak pernah memerintahkan seorangpun dari
para sahabat untuk memperingatinya, sebagaimana mereka telah
diperintahlan untuk membaca sholawat Nabi. Maka hal ini
menunjukkan bahwa acara peringatan tersebut tidak disyariatkan.
Kalaulah acara peringatan tersebut disyariatkan, maka para generasi
teladan umat ini tentu telah mendahului kita untuk mengamalkannya,
karena merekalah orang-orang yang lebih mencintai Rosululloh -
shollallohu alaihi wa sallam- dan lebih beradab terhadap beliau
daripada orang-orang yang mengadakan peringatan maulid Nabi.
Tidaklah bidah peringatan maulid Nabi ini muncul, kecuali setelah
ratusan tahun belakangan (sekitar tahun 630 hijriyah). Pertanyaannya
adalah: dimanakah generasi teladan umat ini dan para ulama kaum
muslimin sebelumnya?! Mengapa mereka tidak memperingatinya?!
Al-Hafidz Ibnu Rojab -rohimahulloh- berkata: Adapun perkara yang
para salaf (generasi pendahulu yang sholeh) telah bersepakat untuk
meninggalkannya, maka tidak diperkenankan bagi kita untuk
mengamalkannya, karena tidaklah mereka meninggalkannya, kecuali
telah mengetahui bahwa perkara itu memang tidak untuk dikerjakan.
(Rujukan: Fadhlu Ilmis-Salaf Alal-Kholaf, karya Imam Ibnu Rojab -
rohimahulloh-, hal. 31)
www.ashhabulhadits.wordpress.com
46

Kesimpulannya, tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk melakukan
peribadatan yang tidak dilakukan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi
wa sallam- dan para sahabat beliau, sebagaimana ucapan Hudzaifah -
rodhiyallohu anhu- di atas yang maknanya adalah: janganlah
mendekatkan diri kepada Alloh azza wa jalla- dengan hal itu, karena
bukan ibadah yang dituntunkan sebagaimana yang disangkakan.
Jikalau hal itu merupakan ibadah yang disyariatkan, niscaya beliau -
shollallohu alaihi wa sallam- akan datang dengannya.
(Rujukan: Fatawa Al-Albaniy, hal. 188 dan risalah Ittiba Laa Ibtida,
Qowaid wa Asas fii As-Sunnah wal-Bidah, hal. 64-72, oleh Hisamuddin
Afanah)
SUNNAH TAQRIRIYYAH
Yang dimaksud dengan taqrir (persetujuan) Rosululloh -shollallohu
alaihi wa sallam- di sini adalah diamnya atau tidak adanya
pengingkaran dan sebagainya yang menunjukkan persetujuan beliau
ketika melihat atau mendengar para sahabat -rodhiyallohu anhum-
melakukan suatu perbuatan atau mengatakan sesuatu di hadapan
beliau -shollallohu alaihi wa sallam-.
Adapun taqrir (persetujuan beliau terhadap sesuatu tersebut)
merupakan dalil akan bolehnya hal tersebut sesuai dengan sisi
persetujuannya, baik berupa perbuatan atau ucapan, baik itu perkara
yang wajib, mustahab ataupun mubah.
Contoh taqrir beliau terhadap suatu ucapan adalah taqrir beliau
terhadap ucapan seorang budak perempuan yang beliau tanyai:
Dimanakah Alloh? dia menjawab: Di atas langit. Hal ini
sebagaimana dalam hadits Muawiyah bin Hakam As-Sullamiy -
rodhiyallohu anhu- riwayat Muslim, bahwasanya Rosululloh -
shollallohu alaihi wa sallam- menanyai seorang budak perempuan
milik Muawiyah:

''

- ,

' - -' '

''

'

- : '

- -

- - - ' +

'

' +

- - =


www.ashhabulhadits.wordpress.com
47

Dimanakah Alloh? Dia menjawab: Di atas langit. Beliau bertanya
lagi: Siapa aku ini? Dia menjawab: Engkau adalah Rosululloh. Maka
beliau berkata kepada Muawiyyah:Merdekakan dia, sesungguhnya ia
seorang mukminah.
Ini adalah dalil akan keyakinan bahwa Alloh itu di atas langit dan itu
merupakan aqidah yang benar, tidak diingkari.
Contoh taqrir beliau terhadap suatu perbuatan adalah ketika
seseorang utusan beliau dalam berperang mengimami pasukannya
dan selalu mengakhiri bacaannya dengan surat Al-Ikhlash. Hal ini
sebagaimana dalam hadits Aisyah -rodhiyallohu anha- riwayat
Bukhori dan Muslim, bahwa ketika beliau mendengar hal tersebut,
lalu berkata kepada para sahabat:
'

'

' -

'

- - ,

' - :

-' '

' +

'

- = '

- - ' +

' - ,

' =

- _

' - : - = , -


Katakan kepadanya, mengapa ia lakukan itu? Maka mereka bertanya
kepadanya, lalu ia menjawab: Karena dalam surat itu terdapat sifat
Ar-Rohman dan aku suka membacanya. Maka Nabi -shollallohu alaihi
wa sallam- bersabda: Kabarkanlah kepadanya bahwa Alloh
mencintainya.
Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut diperbolehkan
baginya, karena jika tidak demikian, maka tentu beliau -shollallohu
alaihi wa sallam- akan melarangnya dan tidak menyetujuinya.
Faedah: Adapun perkara-perkara yang terjadi di zaman Nabi -
shollallohu alaihi wa sallam- (zaman turunnya wahyu) tanpa
sepengetahuan beliau, maka tidaklah dikatakan sebagai sunnah
beliau, karena hal itu tidak diucapkan, dikerjakan dan tidak pula
ditaqrir oleh beliau. Akan tetapi hal itu merupakan hujjah (bisa
dijadikan dalil), karena telah mendapatkan taqrirdari Alloh
subhanahu wa taala- yang Dia itu adalah Al-Aliim, maha mengetahui
segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
48

Contohnya adalah: pendalilan para sahabat akan bolehnya melakukan
azl, yaitu: bahwasanya jika seseorang berjima (berhubungan intim)
dengan istrinya dan hampir keluar air maninya, maka ia mencabut
zakarnya supaya air mani tersebut tidak masuk dan keluar dari
tempatnya yang semestinya, dengan ridho istrinya, agar tidak terjadi
kehamilan. Hal ini sebagaimana dalam Shohih Bukhori dan Muslim
dari Jabir -rodhiyallohu anhu-, dia berkata:

' - ,

' =

- _

' -

-' + = _

' =

- '

- ,

-'
Kami dahulu melakukan azl pada zaman Nabi -shollallohu alaihi wa
sallam- dan Al-Quran masih diturunkan (yaitu pada zaman turunnya
wahyu).
Hal ini menunjukkan bolehnya hal tersebut, karena jika
diperbolehkan, niscaya akan turun wahyu untuk melarangnya. Alloh
taala- tidak mungkin akan mendiamkan sesuatu yang tidak diridhoi-
Nya dilakukan oleh hamba-Nya, karena Alloh adalah Al-Qodiir, maha
berkuasa atas segala sesuatu termasuk pengingkaran terhadap
perkara yang mungkar.
(Rujukan: Syarh Ushul Min Ilmil Ushul, hal. 350-358, oleh Al-Allamah
Ibnu Utsaimin -rohimahulloh-)
Demikianlah sekilas tentang pembahasan As-Sunnah sebagai
pedoman hukum Islam kedua setelah Al-Quran. Jika ada benarnya,
maka itu dari Alloh tabaroka wa taala- dan jika ada kekeliruan, maka
itu dari diri seorang hamba yang lemah dan bisikan setan yang
terkutuk. Kami bertaubat kepada Alloh atas segala kesalahan yang
terjadi.
,' - --- - ` ' ` +- -=- +'' -'=--
'=''-' -- ---- - -='

www.ashhabulhadits.wordpress.com

.wordpress.com
49