Anda di halaman 1dari 13

Cara Bersyukur Kepada ALLAH SWT

Oleh : M. Khalilurrahman Al Mahfani Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada ALLAH SWT terdiri dari empat komponen. 1. Syukur dengan Hati Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan ALLAH. ALLAH SWT berfirman, Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari ALLAH. (QS. An-Nahl: 53) Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan da kasih sayang ALLAH sehingga terucap kalimat tsana (pujian) kepada-NYA. 2. Syukur dengan Lisan Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari ALLAH, spontan ia akan mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi ALLAH). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji ALLAH. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang ALLAH kehendaki untuk menyampaikan nikmat itu kepadanya. Al pada kalimat Alhamdulillah berfungsi sebagi istighraq, yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah ALLAH SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-NYA. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada ALLAH. Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada ALLAH SWT. Sebab, ALLAH adalah Pemilik Segala Kebaikan. 3. Syukur dengan Perbuatan Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-NYA. Misalnya untuk beribadah kepada ALLAH, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat ALLAH harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.

Rasulullah saw menjelaskan bahwa ALLAH sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-NYA itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya ALLAH senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-NYA pada hamba-NYA. (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr) Maksud dari hadits di atas adalah bahwa ALLAH menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu menampakkan ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat dsb. Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-NYA. ALLAH SWT berfirman, Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). (QS. AdhDhuha: 11) 4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit. Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam. Kita wajib menjaganya dari kepunahan yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan sholat, membaca Al-Quran, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran. Intinya setiap nikmat yang ALLAH berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya. ALLAH SWT menjanjikan akan menambah nikmat jika kita pandai bersyukur, seperti pada firmannya berikut ini, Lainsyakartum laaziidannakum wa lainkafartum inna adzaabii lasyadiid (Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-KU sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7)

Bagaimana cara Bersyukur


Apakah kita telah menjadi hamba yang bersyukur dan apakah cara kita bersyukur telah benar ? semoga artikel dibawah ini bermanfaat bagi kita semua. Bagaimana cara Bersyukur..? Rasulullah shollallahu Alaihi Wa Sallam dikenal sebagai abdan syakuura (hamba Allah yang banyak bersyukur). Setiap langkah dan tindakan beliau merupakan perwujudan rasa

syukurnya kepada Allah.Suatu ketika Nabi memengang tangan Muadz bin Jabal dengan mesra seraya berkata : "Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku amat menyayangimu". Beliau melanjutkan sabdanya, "Wahai Muadz, aku berpesan, janganlah kamu tinggalkan pada tiap-tiap sehabis shalat berdo'a : Allahumma a'innii `alaa dzikrika wa syukrika wa husni `ibaadatika (Ya Allah,tolonglah aku agar senantiasa ingat kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan baik dalam beribadat kepada-Mu)". Mengapa kita perlu memohon pertolongan Allah dalam berdzikir dan bersyukur ? ., Tanpa pertolongan dan bimbingan Allah amal perbuatan kita akan sia-sia. Sebab kita tidak akan sanggup membalas kebaikan Allah kendati banyak menyebut asma Allah; Menyanjung, memuja dan mengaungkan-Nya. Lagi pula, hakikat syukur bukanlah dalam mengucapkan kalimat tersubut, kendati ucapan tersebut wajib dilakukan sebanyak-banyaknya. Al Junaid seorang sufi, pernah ditanya tentang Makna (hakikat) syukur. Dia berkata, "Jangan sampai engkau menggunakan nikmat karunia Allah untuk bermaksiat kepada-Nya". Lantas, adakah sesuatu yang bukan nikmat Allah. Kita taat dengan menggunakan karunia dan izin Allah. Bahkan ketaatan itu sendiri merupakan karunia dan hidayah Allah. Sebaliknya, seseorang yang melakukan maksiat pun sudah pasti dengan menyalahgunakan nikmat Allah dan akibat kesalahannya sendiri. Ketika kita menerima pemberian Allah kita memuji-Nya, tetapi ini sama sekali belum mewakili kesyukuran kita. Pujian yang indah dan syahdu saja belum cukup, dia baru dikatakan bersyukur bila diwujudkan dalam bentuk amal shaleh yang diridhai Allah. Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata, "Perumpamaan orang yang memuji syukur kepada Allah hanya dengan lidah, namun belum bersyukur dengan ketaatannya, sama halnya dengan orang yang berpakaian hanya mampu menutup kepala dan kakinya, tetapi tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya. Apakah pakaian demikian dapat melindungi dari cuaca panas atau dingin ?" Syukur sejati terungkap dalam seluruh sikap dan perbuatan, dalam amal perbuatan dan kerja Nyata. Amin

Cara Bersyukur Kepada Allah SWT


Membahas tentang syukur maka terlebih dahulu diuraikan persoalan nikmat, sebab antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling keterkaiatan. Apa yang dimaksud dengan nikmat itu?. Imam Ghazali merumuskan setiap kebaikan, kelezatan, kebahagian, bahkan setiap keinginan yang terpenuhi, tapi nikmat yang sejati ialah kebahagian hidup ukhrawi, hari kemudian yang abadi. Nikmat yang diperoleh dan dirasakan dalam kehidupan ini ada dua, Pertama, nikmat yang bersifat fitri atau asasi, yaitu yang dibawa oleh manusia ketika lahir. Sebagaimana Firman Allah. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam

keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl:78) Kedua, nikmat yang mendatang, yang diterima dan yang dapat dirasakan sewaktu-waktu. Firman Allah : Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan.Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?. (QS.Yasin:33-35) Nikmat yang diterima manusia sangatlah banyak , tidak dapat dihitung jumlahnya, tidak bisa dihitung beratnya. Sebagaimana Firman Allah Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nahl:18) Coba kita renungkan tentang kejadian manusia yang diciptakan Tuhan, seperti anggota tubuh kaki, mulut, mata, telinga. Tak ubahnya laksana satu instrumen yang maha lengkap, otomatis, yang bisa bergerak dan berfungsi pada waktu yang sama. Sambil melihat, bisa bicara, berjalan dan lain-lain.Sudah sepantasnyalah manusia berterima kasih terhadap nikmat tuhan yang demikian banyak. Berterima kasih menurut istilah agama disebut syukur . Kebanyakan sifat manusia, baru akan menyadari nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya, apabila nikmat itu sudah hilang atau dicabut dari dirinya. Andaikan buta matanya sebelah atau kakinya terpotong, barulah merasa betapa nikmatnya mempunyai mata dan kaki sempurna. Jika sudah sakit, baru sadar betapa nikmatnya kesehatan. Oleh sebab itu setiap nikmat yang diperoleh haruslah disyukuri, berterima kasih kepada yang menganugerahkannya. Lalu bagaimanakan cara bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Setidaknya ada tiga cara yang harus kita lakukan :

Bersyukur dengan hati, kita haruslah sadar bahwa nikmat yang kita peroleh datangnya dari Allah SWT, bukan dari selain Alllah SWT. Allah berfirman : Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS. An-Nahl:53) Bersyukur dengan lisan, artinya dengam memperbanyak puji-pujian kepada Allah SWT yaitu membaca Hamdallah (Alhamdulillah). Firman Allah Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan(menyebutnya). (QS.Ad-Dhuhaa:11) Bersyukur dengan semua naggota badan, yaitu dengan seluruh anggota badan haruslah mengerjalan perbuatan kebaikan yang diperintahkan Tuhan dan meninggalakan semua kemaksiatan yang dilarang-Nya.

Dengan demikian cara bersyukur tidak cukup hanya dengan memuji-memuji Tuhan, tetapi haruslah sejalan dan seirama dengan pengakuan di hati dan diiringi pula dengan perbuatanperbuatan nyata, mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah SWT

Bersyukur
Satu cara untuk mendapat rahmat Allah s.w.t. adalah dengan bersyukur. Riwayat seorang hamba Allah, yang sembahyang selama 500 tahun, minta dimatikan dalam keadaan sujud. Permintaannya ditunaikan. Jadi selama 500 tahun itu Jibril mendapati memang dia sentiasa dalam keadaan bersujud sahaja. Dengan ilmunya, Jibril merasakan bahawa hamba Allah ini kelak akan mendapat rahmat Allah dan dimasukkan ke dalam syurga. Tetapi bila hamba Allah ini menyatakan dia masuk syurga kerana amalnya, maka Allah menarik balik arahanNya. Lalu Allah minta Jibril bermuhasabah, membandingkan nikmat yang telah diberikan semasa di dunia dengan nikmat dari amalan hamba Allah ini. Malangnya nikmat dari amalnya belum ada satupun. Lalu Jibril diarahkan supaya dimasukkan ke dalam neraka. Tetapi setelah hamba Allah ini menyedari dan mengakui betapa banyaknya nikmat yang telah dikecapi selama dia beribadah 500 tahun itu adalah kerana rahmat Allah, barulah dimasukkan semula ke syurga. Riwayat ini menunjukkan bahawa: Hamba Allah ini dimasukkan ke syurga adalah kerana rahmat Allah, bukan amalannya yang 500 tahun itu, Rahmat Allah akan diberikan kepada mereka yang mensyukuri nikmatNya ketika di bumi, bukan kerana sembahyangnya, Nikmat Allah s.w.t. ialah apa sahaja yang memberi faedah kepada keperluan hidup manusia ketika di bumi. Kesimpulannya, rahmat Allah akan diberikan kepada mereka yang mensyukuri nikmat-nikmatNya, bukan kerana sembahyangnya. Nikmat-nikmat Allah dalam riwayat ini ialah apa sahaja yang memberi faedah kepada keperluan hidup hamba Allah itu ketika di bumi. Kesyukuran inilah yang membawa hamba Allah ini ke syurga, bukan kerana sembahyangnya. Riwayat ini juga menunjukkan bahawa satu cara untuk mendapat rahmat Allah s.w.t. ialah dengan mensyukuri nikmat-nikmatNya. Dan sebagai bukti untuk mereka ialah bumi yang mati (kering), Kami hidupkan dan

Kami keluarkan dari dalamnya biji-bijian, lalu mereka makan daripadanya. Dan Kami jadikan daripadanya beberapa kebun dari kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya mata air. Agar mereka makan dari buah-buahnya dan dari apa yang dikerjakan oleh tangan-tangan mereka. Tidakkah mereka berterima kasih? (Yaasin,
33-35)

Ayat ini bertepatan dengan riwayat hamba Allah di atas. Dengan jelas disebutkan di sini nikmat-nikmat yang Allah sediakan kepadanya, iaitu air dan buah-buahan. Nikmat-nikmat inilah yang membolehkannya hidup dan menjalankan ibadah di sebuah pulau yang begitu kecil. Malangnya, dia seperti tidak menyedari akan nikmat-nikmat yang diperolehinya itu. Dia telah terlalai tidak menyedari siapakah yang menyediakan air segar yang diminumnya, buah-buahan yang dimakannya, dan siapakah pula yang memberinya perlindungan dari segala mara bahaya selama berada di pulau itu. Ini menunjukkan sikapnya yang tidak berterima kasih kepada yang memberinya nikmat-nikmat itu. Maka ayat ini sebagai peringatan betapa kita harus bersyukur atau berterima kasih atas nikmat-nikmat yang disediakanNya. Banyak lagi ayat-ayat yang menyeru agar kita bersyukur. Antaranya lagi, Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). (ad-Dhuha, 11) Syukurilah nikmat Allah, jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepadaNya. (anNahl, 114) Ayat ini menunjukkan Allah memperakui bahawa bersyukur adalah suatu tanda kita menyembahNya. Jadi selain sembahyang, puasa, zakat dan haji yang kita lakukan, hendaklah kita mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah sediakan. Kerana itu ingatlah kepadaKu, pasti Aku ingat kepadamu, dan hendaklah kamu syukur kepadaKu serta janganlah kamu lupakan budiKu. (al-Baqarah, 152) Dan lagi, Dan akan Kami balaslah mereka yang bersyukur. (Ali Imran, 145) Apakah balasan kepada mereka yang bersyukur? Dari riwayat di atas menggambarkan bersyukur akan diberi balasan dengan rahmatNya, yang seterusnya membawanya ke syurga. Sebuah hadis pula menyebut, Orang makan yang bersyukur, kedudukannya sedarjat dengan orang puasa sabar . (Taubat, 194) Diriwayatkan oleh Aishah, pada suatu malam Rasulullah s.a.w. telah dilihat bersembahyang sambil menangis. Apabila ditanya oleh Aishah tentang keadaan itu, Rasulullah bersabda, Ya, tidakkah seharusnya saya menjadi hamba yang bersyukur, dan kenapa saya

tidak berbuat demikian? Bukankah Allah telah menurunkan ayat kepadaku yang

berbunyi, Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi serta penggantian siang dan malam itu mengandung tanda-tanda (Kebesaran Tuhan), bagi orang yang mempunyai fikiran. Iaitu mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk dan sambil berbaring (Taubat, 195)
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya bersyukur. Kita tahu bahawa Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang telah diangkat menjadi rasul, dan dijamin akan masuk syurga, tetapi baginda akur betapa harus juga bersyukur mengingati kebesaran Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda, yang maksudnya, Pada waktu Hari Kiamat,diteriakkan suatu panggilan: Para Hammadun harap berdiri!

Lalu berdirilah sekelompok manusia, lalu dipacakkanlah suatu bendera untuk mereka kemudian terus mereka memasuki syurga. Sewaktu Rasulullah ditanya siapakah hammadun itu, beliau menjawab iaitu orang-orang yang bersyukur kepada Allah setiap waktu. (Taubat, 195)
Dari hadis ini menunjukkan betapa tingginya darjat bersyukur. Bersyukur akan diberi balasan dengan rahmat Allah. Jadi benarlah hadis yang menyebut bahawa sembahyang kita tidak menjamin masuk syurga kecuali setelah mendapat rahmat Allah. Dan, diperkuatkan lagi bahawa riwayat hamba Allah yang sembahyang 500 tahun tetapi dia dimasukkan ke syurga kerana mensyukuri nikmat-nikmatNya, bukan kerana sembahyangnya. Apakah yang hendak kita syukuri? Secara tidak langsung, riwayat di atas juga menggambarkan apakah yang harus kita syukuri. Antaranya yang disebut ialah air segar dan buah delima. Di samping itu dapat kita fahami, selain dari sumber makanan yang memberinya tenaga, ialah soal keselamatan dan kesihatannya selama berada di pulau itu. Aspek keselamatan bukan setakat terlindungnya dari ancaman binatang-binatan buas, ular, lipan dan sebagainya, tetapi juga dari hujan dan ribut petir. Allah sahaja yang memberi perlindungan daripada segala bahaya itu dan kesihatan yang baik. Kesemuanya itu adalah sebahagian daripada satu peratus nikmat Allah yang telah diturunkan ke dunia ini. Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (al-Araf, 10) Betapa banyaknya kebaikan dan faedah yang hamba Allah ini nikmati sehingga hidupnya selamat dan bertenaga selama 500 tahun untuk menjalankan ibadah

sembahyangnya. Ini hanyalah sebahagian daripada banyak lagi nikmat yang Allah sediakan kepada kita. Hamba Allah ini adalah ikon kepada semua manusia, termasuk kita. Sebagai manusia, apa sahaja yang dinikmati oleh hamba Allah itu, maka itulah juga antara nikmat-nikmat yang sedang kita kecapi sekarang. Ingatlah betapa banyaknya nikmat Allah yang kita ada. Maka inilah yang harus kita syukuri. Jangan sesekali kita lalai atau lupa kepada peringatan-peringatan di atas tadi sekiranya kita mengaku sebagai hambaNya. Antara caranya ialah dengan mensyukuri segala nikmat-nikmat itu. Cara mensyukuri Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tanpa mengetahui sesuatu.

Kemudian diberiNya kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Semoga kamu bersyukur (berterima kasih). (an-Nahl, 78)
Dan lagi, Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. (al-Mukminun, 78) ... maka makanlah sebahagiannya dan berilah makan orang-orang yang merasa

cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. (al-Hajj, 36)
Petikan-petikan ini membayangkan cara bagaimana kita bersyukur. Allah memberi kita telinga untuk pendengaran dan mata untuk penglihatan dan hati untuk bersyukur. Satu cara lain ialah dengan memberi makan kepada orang miskin, termasuklah mereka yang hidupnya sekadar cukup makan. Pendengaran dan penglihatan adalah dua daripada deria yang ada pada kita. Keduadua deria itu Allah jadikan agar kita dapat berhubung dengan sekitaran kita. Dengan pendengaran misalnya, kita dapat mengesan bunyi-bunyi bahaya yang mendatang. Jika ini terjadi, kita dapat mengambil tindakan seperti menjauhkan diri demi untuk keselamatan kita. Kita juga memerlukan pendengaran untuk berhubung dengan orang lain. Begitu juga dengan penglihatan. Sebagai tanda kesyukuran maka sewajarnya kita gunakan dua deria ini untuk jalan yang diredhai Allah. Pada masa yang sama kita harus memelihara pendengaran dan penglihatan kita dari perkara-perkara yang bertentangan dengan kehendakNya. Inilah sikap yang harus kita bina bagi menyatakan kesyukuran terhadap segala nikmat yang diberikan. Selain deria pendengaran dan penglihatan, kita dibekali dengan tiga yang lain iaitu hidu, rasa dan sentuhan. Jari dan kulit badan kita adalah berkait dengan deria sentuhan. Dengannya kita dapat mengesan panas dan sejuk, kasar atau halus, keras

atau lembut dan sebagainya. Ada pula yang berpendapat kita mempunyai satu lagi pancaindera iaitu kinaestatik, menjadikannya enam. Kinaestatik adalah pancaindera yang dapat mengesan perbizaan berat. Misalnya, jika kita disediakan dengan dua buah tin susu, yang satu kosong dan satu lagi berisi pasir. Oleh kerana kedua-dua tin berkenaan bertutup, bagaimana kita hendak mengenali yang mana kosong? Hanya deria kinaestatik yang dapat mengesannya. Itulah antara nikmat yang ada dalam diri kita. Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat dari deria-deria tersebut? Kita harus memeliharanya dari perkara-perkara yang mungkar dari pandangan agama kita. Satu lagi cara bersyukur ialah dengan hati seperti yang disebut dalam ayat 78 surah an-Nahl di atas tadi. Tiga cara bersyukur Mensyukuri bukan setakat mengucapkan syukur, alhamdulillah, atau seumpamanya, tetapi harus diperkuatkan lagi usaha kita dengan perlakuan dan tindakan, sebagai tanda kesungguhan untuk bersyukur. Dalam http://staff.undip.ac.id/sastra/fauzan/2009/07/23/mensyukuri-rahmat-allah, menyebut, Memperoleh rahmat dari Allah s.w.t. merupakan suatu anugerah yang besar. Karena

itu, menjadi keharusan bagi kita untuk mensyukurinya. Namun, sebagaimana kita ketahui, mensyukuri segala sesuatu bukanlah sekadar mengucapkan alhamdulillah, tetapi kita harus manfaatkan segala anugerah dari Allah itu untuk mengabdi kepadaNya. Dalam kaitan ini, maka kita harus membuktikan diri kita sebagai orang yang bersyukur atas rahmat yang diberikan Allah kepada kita dengan memiliki sikap dan perilaku sebagaimana yang disebutkan Allah tentang orang-orang yang memperoleh rahmatNya.
Petikan ini menganjurkan kita agar mensyukuri segala nikmat yang kita perolehi. Namun bersyukur bukan hanya dengan ucapan alhamdulillah, tetapi dengan perlakuan dan tindakan atas rahmatNya. Caranya ialah dengan memiliki sikap dan perilaku sepertimana sikap dan perilaku orang-orang yang memperoleh rahmat. Seperti yang telah disebut sebelum ini, satu peratus rahmat Allah s.w.t. telah diberikan dalam bentuk adanya alam ini. Maka anugerah besar yang satu peratus ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Uruskan segala nikmat ini mengikut mengikut landasan hukum-hukum wajib, haram, sunat, makruh dan harus. Antaranya, seperti yang disebut dalam surah al-Aaraf, Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki)

masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (al-Aaraf, 31)

Dalam Kamus Dewan, membazir bermaksud berlebih-lebihan sehingga terbuang atau menggunakan sesuatu dengan berlebih-lebihan sehingga terbuang. Maksud di sini, bukan kuantiti itu terlalu banyak tetapi jika sehingga terjadi pembuangan maka membazir. Dan lagi, Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik

yang telah dihalalkan Allah kepada kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (alMaidah, 87) Kedua-dua ayat di atas ini adalah suatu panduan bagaimana cara menggunakan nikmat harta dan kemewahan yang kita ada. Tegasnya, panduan ini adalah sebagai peringatan kepada perlakuan dan tindakan kita. Apa sahaja yang kita lakukan atau tindakan yang kita ambil seharusnya jangan sampai membazir dan melampaui batas. Jadi, harta benda adalah antara nikmat yang boleh kita syukuri dengan perlakuan dan tindakan. Udara yang Allah sediakan juga suatu nikmat, malah nikmat ini jauh lebih diperlukan untuk manusia dan makhluk-makhluk lain. Maka sewajarnya kita sentiasa sedar dan mensyukurinya. Tetapi perlakuan dan tindakan yang dapat kita lakukan tidak seperti cara kita menggunakan harta kemewahan. Namun ada juga perlakuan dan tindakan yang mesti kita ambil bagi menjaga kebersihannya jangan sampai mencemari. Begitulah cara-cara bersyukur peringkat tertinggi, iaitu dengan tindakan dan perlakuan. Namun, tidak dinafikan ada ketikanya kita hanya mampu bersyukur dengan hati dan pengakuan sahaja. Dan, cara bersyukur yang satu ini juga tetap diterima Allah s.w.t. Allah berfirman, yang maksudnya, Tuhanmu lebih tahu apa yang ada dalam jiwamu, jika kamu orang-orang baik. Sesungguhnya Dia Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (al-Isra, 25) Ayat ini menggambarkan satu lagi cara bersyukur iaitu dengan hati. Dengan hati, kita menyedari bahawa segala nikmat yang sedang kita kecapi sekarang adalah rahmat dan pemberianNya. Jangan ada sesaat pun hati kita lupa akan hakikat ini. Sama ada kita dalam keadaan sihat atau sakit, siang atau malam, dalam sebok atau senang, dan walau di mana pun kita berada, sentiasa menyedari dan mengakuinya dalam hati. Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi serta penggantian siang dan

malam itu mengandung tanda-tanda (Kebesaran Tuhan), bagi orang yang

mempunyai fikiran. Iaitu mereka yang mengingat Allah sambil berdiri sambil duduk dan sambil berbaring. (Ali Imran, 190)
Apakah perlakuan atau tindakan yang dapat kita jalankan sebagai tanda kesyukuran atas kejadian langit dan bumi, siang dan malam seperti yang tersebut dalam ayat ini? Tiada apa yang dapat kita lakukan dengannya, seperti mana kita menggunakan harta. Maka tanda kesyukuran kita adalah dengan hati mengakui kebesarannya dan hikmah-hikmah dari kejadian itu. Inilah yang diajarkan oleh Allah seperti yang tersebut dalam ayat yang sama. Jika mampu kita boleh melakukan sembahyang sunat seperti yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Apakah nikmat kejadian langit dan bumi, kejadian siang dan malam? Dengannya membolehkan kita agar berehat pada malam hari, dan mencari rezeki pada siang hari. Akur kepada apa yang telah diaturkanNya juga sebagai tanda kesyukuran. Cuba bayangkan, apa akan terjadi sekiranya tidak disediakan siang dan malam? Pendek kata, apa sahaja yang kita lihat, bau, rasa dan sebagainya adalah merupakan nikmat dariNya. Sama ada kita sedang berada di dapur, di luar rumah, di tempat kerja atau perkelahan dan sebagainya nikmat-nikmat Allah sentiasa bersama kita. Setiap satu langkah kita berjalan adalah mengandungi nikmat-nikmat Allah, setiap kali kita menghela nafas juga mengandungi nikmatNya. Pandangan, pendengaran, bau, rasa sejuk-panas, dan apa sahaja adalah mengandungi nikmatnikmatNya. Selalunya kesedaran ini akan membawa kepada pengucapan. Antara ucapan yang biasa kita lakukan adalah dengan lafaz alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Tetapi harus diingat, pengucapan ini mestilah atas kesedaran terhadap nikmatNya, bukan setakat ucapan lafaz yang kosong. Misalnya, apabila sedawa selepas makan kita sering mengucapkan alhamdulillah. Untuk apa ucapan itu? Mungkin ada yang tidak terlintas dalam hatinya untuk apa. Ucapannya hanya suatu kebiasaan. Maka ini bukanlah bersyukur namanya. Alangkah baiknya jika ucapan itu dilahirkan atas rezeki yang baru sahaja dihabiskan, atau atas kesedaran dari mana datangnya nikmat-nikmat itu, dan sebagainya. Itu sebab kita diajar agar membaca doa selepas makan. Dengan doa inilah akan mengingatkan kita kepada yang memberi rezeki. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). (ad-Dhuha, 11) Apa yang penting di sini ialah bersyukur. Sama ada kesyukuran itu kita lahirkan dengan perlakuan atau tindakan, atau dengan hati dan pengucapan, bergantung kepada sesuatu nikmat itu. Walau dalam keadaan apa sekalipun, sama ada ketika senang atau susah, sedang bekerja, sedang duduk, sedang baring atau tidur sekalipun, kita sedang menikmati pemberianNya.

Dan sedikit sekali dari hambaKu yang bersyukur. (Saba, 13) Bilakah ketikanya nikmat-nikmat dan rahmat Allah yang tidak bersama kita? Maka sayugialah kita juga sentiasa bersyukur sepanjang masa, paling kurang dengan hati, dan lebih baik jika diikuti dengan ucapan alhamdulillah jika kesyukuran dengan perlakuan dan tindakan tidak dapat dilakukan. Jika ini dapat dilakukan, akan terjadi suatu keadaan, iaitu kita sentiasa menyandarkan hidup kita kepada Allah. Kita sedar Allah sentiasa bersama kita. Tidak ada mana-mana ketika yang kita akan berpisah dari nikmat-nikmat Allah s.w.t. tersebut, kecuali mereka yang dilalaikan. Itu sebabnya timbul haram mendengar muzik yang melalaikan. Selain muzik, apa sahaja yang boleh melalaikan kita adalah tertakluk di bawah hukum yang sama. Apakah yang boleh kita lakukan untuk bersyukur?
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook