KontraS
KontraS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dibentuk untuk menangani persoalan penculikan beberapa aktivis yang diduga berhubungan dengan kegiatan

Salam dari Borobudur
Salam Redaksi
Di pertengahan Maret lalu, DPR RI menolak membawa peristiwa Trisakti, Semanggi I dan kasus Semanggi II yang terjadi tahun 1998-1999 ke rapat paripurna. Alasan penolakan ini ialah DPR periode 2004-2009 tidak mau melakukan perubahan terhadap putusan DPR periode sebelumnya yang menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran berat HAM pada peristiwa diatas. Keputusan ini jelas sangat mengecewakan dan menggambarkan watak para wakil rakyat kita yang tidak menganggap penting ada pembunuhan dan kekerasan lainnya yang dialami oleh warga bangsa yang dilakukan negara. Bila kejahatan kemanusiaan tidak lagi dianggap sebagai bagian penting dari persoalan bangsa ini, maka sama saja para wakil rakyat itu mengamini terjadi kekerasan negara. Keadilan yang tak berpihak, dan hukum yang tak pernah berlaku adil ini menjadi kupasan utama dalam edisi berita utama buletin kali ini. Kami memfokusnya dalam tema besar tentang impunitas dalam kasus-kasus pelanggaran berat HAM. Sementara sejumlah berita dari daerah menjadi informasi yang diangkat dalam rubrik berita daerah. Seperti biasa pula sejumlah informasi dalam rubrik rempah-rempah, seperti peringatan HUT KontraS yang ke-9, seleksi para anggota Komnas HAM, hingga perkembangan kasus Tanjung Priok, menjadi informasi penting lain yang kami sajikan. Sementara itu, perkembangan atas kasus perjuang aktivis HAM Munir memasuki babak baru. Di awal April, setelah tiga bulan melakukan penyelidikan pihak kepolisian mengumumkan adanya dua tersangka baru dalam kasus ini. Meski dua tersangka ini (Indra Setiawan dan Ramelgia Anwar), bukanlah orang baru, namun kedua orang dalam Garuda ini terus diperiksa untuk mengembangkan keterlibatan mereka dalam kasus ini. Polisi juga mengajukan tiga novum baru ke Kejaksaan Agung. Temuan tiga novum ini diharapkan menjadi temuan penting yang dapat dipergunakan sebagai pengajuan kembali (PK) kasus ini oleh pihak kejaksaan agung. Dan dari sejumlah temuan lain yang ada, Pollycarpus disebut-sebut tetap terlibat dalam konsiprasi pembunuhan ini. Artinya, meski Polly telah diputus bebas lewat kasasi MA akhir Desember tahun lalu, tampaknya Polly akan kembali dijerat. Kita berharap bahwa temuan kali ini menjadi bukti baru yang bisa menjerat aktor intelektual dari kasus ini. Tak ada kata lain, sang aktor harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan biadabnya itu. Karena, keadilan dan hukum memang harus berpihak pada kebenaran. ***

politik yang mereka lakukan. Dalam perjalanannya KontraS tidak hanya menangani masalah penculikan dan penghilangan orang secara paksa tapi juga diminta oleh masyarakat korban untuk menangani berbagai bentuk kekerasan yang terjadi baik secara vertikal di Aceh dan Papua maupun secara horizontal seperti di Maluku, Sambas, Sampit dan Poso. Selanjutnya, ia berkembang menjadi organisasi yang independen dan banyak berpartisipasi dalam membongkar praktek kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia sebagai akibat dari penyalahgunaan kekuasaan. KontraS diprakarsai oleh beberapa organisasi non pemerintah dan satu organisasi mahasiswa, yakni: AJI, CPSM, ELSAM, KIPP, PIP-HAM, LPHAM, YLBHI dan PMII

Badan Pekerja: Usman, Edwin, Sri, Ndrie, Gian, Abu, Victor, Sinung, Ori, , Alam, Haris, Harits, Papang, Helmi, Chris, Silly, Yati, Nur’ain, Ade, Rintar, Ati, Guan Lee, Agus, Rohman, Heri, Daud.

Federasi Kontras: Mouvty dan Bustami. Asiyah (Aceh), Oslan Purba (Sumatera Utara), Pieter Ell (Papua). Edmond LS (Kontras Sulawesi) Badan Pekerja Kontras dibantu oleh relawan-relawan yang tersebar di seluruh Indonesia Redaksi Berita KontraS menerima kritik, saran dan tulisan untuk Berita KontraS

Berita KontraS Diterbitkan oleh: KontraS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Penanggung Jawab: Usman Hamid Pemimpin Redaksi: Edwin Partogi Redaktur Pelaksana: Hanny Sukmawati. Sidang Redaksi: Haris Azhar, Indria Fernida, Papang Hidayat, Abu Said Pelu, M. Harits, Sri Suparyati dan Mufti Makaarim. Design layout: BHOR_14 Alamat Redaksi: Jl. Borobudur No. 14 Menteng Jakarta Pusat 10320, Indonesia. Telp: 62-21-3926983, 62-21-3928564 Fax: 62-21-3926821 Email: kontras_98@kontras.org. website: www.kontras.org KontraS berdiri bersama para korban & keluarga korban untuk membela hak asasi manusia dan menentang segala bentuk kekerasan, menerima segala jenis bantuan yang bersifat tidak mengikat dan memiliki konsekuensi dalam bentuk apapun yang akan menghambat, mengganggu dan berakibat pada berubahnya substansi dan atau pelaksanaan visi dan misi organisasi. Bantuan dapat dikirimkan ke rekening atas nama KontraS di BII Cab. Proklamasi No. Rek. 2-072-267196. Atau dapat dikirim langsung ke alamat redaksi. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Edwin Partogi di 3926983 atau kontras_98@kontras.org

Berita Kontras No.02/III-IV/2007

2

Semanggi I dan Seamnggi II. Eurico Gutteres yang dipersalahkan Ikatan Keluarga Orang Hilang. Kritik terhadap putusan pembentukan Pansus penculikan ini muncul dikalangan anggota dewan sendiri. Pada kasus langung menindaklanjuti hasil penyelidikan Tanjung Priok semua terdakwa yang diajukan Komnas HAM ke tingkat penyidikan. Akil malah berencana mengundurkan diri dari Pansus ini dengan alasan masih trauma dengan hasil Pansus TSS pada DPR periode sebelumnya. Tapi. Dalam konteks ini negara telah kehilangan perannya yang paling fundamental yaitu memberi rasa aman. Sembilan tahun pula kasus pelanggaran HAM (Trisakti. Harman.BERITA UTAMA Penyelesaian Kasus-kasus Pelanggaran HAM DPR Menjelma Dalam Modus Impunitas HAM Sembilan tahun sudah reformasi bergulir. yang juga ditunjuk sebagai anggota dari Pansus ini menyatakan keraguan atas hasil yang akan didapat dari Pansus ini. korban. sebelumnya. Wamena hingga saat menunggu keputusan politik dari DPR dan ini Kejaksaan Agung masih bersikukuh Dok. bila serius Polri maupun Gubernur Timtimnya sendiri menyelesaikan kasus itu. Ketua orang sipil. anggota DPR dari Fraksi Demokrat. kasus Wasior. DPR dalam Rapat Paripurnanya pada Februari lalu. DPR RI dan Presiden untuk dibawa ke pengadilan HAM. kasus penghilangan paksa seperti kasusDemikian pula peradilan terhadap kasus Timur kasus pelanggaran HAM lain sebelumnya. kasus penculikan/penghilangan paksa ktifis 1997-1998. malah menyatakan akan Mei 1998. 3 Berita Kontras No. Pada kasus-kasus pelanggaran HAM berat ini negara dengan upaya sistematis malah melemahkan posisi korban untuk mendapatkan kepastian hukum. Pesimistis terhadap keberadaan Pansus ini juga diutarakan oleh Benny K. Misalnya. DPR telah mengambil domain penyidikan yang seharusnya menjadi otoritas Kejaksaan Agung. Inilan gambaran bahwa pemberian impunitas (kekebalan hukum) terhadap pelaku pelanggaran HAM telah berlangsung secara sistematis. dan menjamin keadilan bagi warganya. Begitu pula sebagai terpidana. para pelakunya Alih-alih. Hal ini kembali menunjukkan menolak melakukan penyidikan dengan alasan bahwa ada upaya penghambatan terhadap materil maupun formil yang mengada-ada. Badan Musyawarah (Bamus) DPR menolak membawa kasus Trisakti. yang dampaknya masih terasa hingga sekarang. sebaiknya Kejagung dinyatakan bebas oleh pengadilan. Penghilangan aktivis dan peristiwa Mei 1998) tak memperoleh tempat bagi pemenuhan keadilan korban. Pada kasus penghilangan paksa 1997/1998. kompensasi dan restitusi. Semanggi I dan Semanggi II (TSS) ke Rapat Paripurna DPR dengan alasan DPR periode 1999-2004 telah menyatakan kasus tragedi TSS bukanlah pelanggaran berat HAM.02/III-IV/2007 . Timor dan Tanjung Priok di pengadilan HAM ad hoc berujung pada pemberian impunitas Seharusnya bila DPR serius menuntaskan terhadap pelaku dan pengabaian terhadap kasus pelanggarab HAM dengan cepat. Dalam rekomendasinya. Puncaknya di pertengahan Maret lalu. Langkah DPR ini seolah ingin kembali mengulangi hasil fatal dari Pansus TSS pada periode 1999-2004 lalu. Semanggi I dan II. Hal HAM ad hoc. Misalnya pada keberadaan mereka saat ini. Hingga saat ini dengan beribu alasan negara masih bertanggungjawab untuk mengakui adanya warganegara yang menunjukkan keengganan untuk mempertanggungjawabkan telah dihilangkan secara paksa dan sekaligus menjelaskan kasus-kasus pelanggaran berat HAM terjadi. anggota Fraksi Partai Golkar. Menurut Mugi. Komnas HAM (8/11/2006) telah menetapkan kasus ini sebagai sebuah pelanggaran HAM yang berat. Negara membentengi dirinya dengan sibuk melindungi para pelaku sejak kasus-kasus ini dilimpahkan ke Kejaksaan Agung.Kontras Presiden. Akil Mochtar. menyikapi tuntutan pengungkapan kasus penculikan dinyatakan bebas/tidak terbukti. Menurutnya. tanpa Aksi menuntut penuntasan ke pengadilan dinyatakan bebas atau tidak perlu menunggu pembentukan pengadilan kasus pelanggaran HAM terbukti melakukan pelanggaran HAM. serta pengadilan sebagai pintu terakhir pemberi impunitas. Pada kasus Timur Timor hanya satu demikian dinyatakan oleh Mugiyanto. Sementara bagi korban dan keluarga korban diupayakan rehabilitasi. kemudian politisasi di DPR. Kejaksaan Agung bukannya segara melakukan proses peristiwa Trisakti. Tragedi penyidikan. serupa terjadi ketika pengadilan HAM terhadap peristiwa Abepura 2000 di gelar di Makassar. tambah Akil. tidak pemberian reparasi (hak atas pemulihan) bagi perlu mengikuti kemauan Kejagung. atau yang lebih populer dengan sebutan penculikan aktivis pro-demokrasi. Komnas meminta agar laporan ini ditindaklanjuti Kejaksaan Agung. Disisi lai dapat dilihat bahwa Negara harus memutuskan untuk membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk mengkaji hasil penyelidikan Komnas HAM. Seharusnya Komisi III melakukan pengkajian terhadap temuan Komnas HAM ini dan membuat rekomendasi perlu tidaknya dibuat rekomendasi dibentuknya pengadilan HAM ad hoc atau tidak. sementara kalangan TNI/ dengan Kejagung. aktivis ini.

Padahal hal ini juga bertentangan dengan Konstitusi dan UU nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Jaksa Agung terdapat pelanggaran HAM yang berat. Fakta ini justru hukum dan menganulir penyelidikan Komnas HAM. Dengan begitu. DPR akan berada pada posisi yang justru menghambat penegakan HAM di Indonesia. Indonesia harus membuktikan tercapainya penegakan dan pemenuhan HAM. Oleh masifitas lembagamengingatkan bahwa fungsi Jaksa Agung ada dua. Bamus DPR (13/03/) menyatakan bahwa kasus Trisakti 1998. Anti HAM dan Anti Konstitusi Puncaknya. penuntutan. alasannya lebih masuk akal. karenanya hasil Komisi III yang menyatakan lembaga negara yakni sebagai penyidik dan penuntut. untuk menghindar saat ini belum masuk dalam tahapan untuk seharusnya otomatis diterima. Jelas. sepertinya semua pihak dalam DPR. Situasi ini menjadi sebuah cermin labirin impunitas. Sebab bukan tidak mungkin Fenomena kasus TSS ini merupakan wajah masifitas kasus penculikan aktivis 1997/1998 akan bernasib seperti kasus lembaga-lembaga negara untuk menghindar menuntaskan Trisakti Semanggi. Terhambat karena DPR masuk ke ranah kasus pelanggaran HAM yang berat. baru DPR merekomendasikan pengadilan HAM ad Padahal. DPR hanya untuk memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi berperan mengusulkan kepada pemerintah untuk membentuk Berita Kontras No. Penolakan ini karena DPR hanya lembaga politik yang tidak dan Politik.02/III-IV/2007 4 . Penegakan HAM tanpa diskriminasi Hal senada diungkapkan oleh anggota Komnas HAM. Ketidakjelasan ini menunjukkan negara. korban serta keluarganya. fakta ini sesungguhnya menunjukan bahwa politik HAM parpol dan DPR sangat ditentukan oleh kepentingan untuk mempertahankan kepentingan kekuasaan. Pada posisi ini DPR juga kembali menunjukkan keberpihakannya terhadap para pelaku. semangat dari dimintanya DPR membuat hoc. yang berat. Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999) tidak dapat diteruskan ke Rapat Paripurna DPR karena Bamus masih sependapat dengan hasil Pansus TSS pada DPR periode 1999-2000 yang menyatakan kasus bukan merupakan pelanggaran HAM yang berat. bila pansus kembali melakukan penyelidikan sebagaimana telah dilakukan oleh Komnas HAM. Jika penyidikan selesai. Sebagian besar fraksi-fraksi tersebut merupakan partai-partai pendukung pemerintah. Keputusan DPR ini merupakan sikap politik yang setali tiga uang dengan sikap pemerintah cq Jaksa Agung yang selama ini menolak untuk melakukan penyidikan. Dalam konteks ini menurut Benny. sebuah ketidakjelasan atas ketiadaan proses penghukuman dari berbagai institusi negara yang semestinya berwenang. Karena itu wajib menindak lanjuti hasil Fraksi dan alat kelengkapan DPR. Bukti lainya menuntaskan kasus menyerahkan kasus ini ke pengadilan HAM. karena sebagai anggota Dewan HAM PBB. Agung seharusnya berpegang teguh pada hukum yang memberi kewenangan kepada Komnas HAM untuk menentukan dugaan Hal ini telah menjadi tugas Komnas HAM. kita mengecam keputusan ini. Di level internasional Soeprapto. KontraS sudah berkali-kali melakukan kajian atas kasus TSS. Karena adalah prosedur-prosedur DPR yang sangat pelanggaran HAM itu ada di tahap penuntutan. Jaksa Dimana? Dan layak atau tidaknya kasus tersebut diteruskan. baru masuk dalam tahap penyidikan.BERITA UTAMA Menurutnya. dan Jaksa Agung hendak melakukan menolak menindak lanjuti. Eny merupakan amanat UUD 1945. bertentangan dengan norma dan image Indonesia di Internasional. belum Terakhir. Hal ini bisa dilihat dari Fungsi Jaksa Agung dua Bamus telah dua kali pada 2006 Fenomena kasus TSS merekomendasikan Komisi III untuk ini merupakan wajah Sebelumnya juga. Sejak awal DPR (yang lalu maupun yang saat ini) memang tidak berkehendak untuk mendorong kasus TSS diadili secara layak dan akuntabel melalui mekanisme pengadilan HAM. Saat ini kasus tersebut tidak lazim dalam membuat keputusan. bukan konstituen. apa yang dikerjakan Pansus ini hanya akan membuang-buang waktu saja. merasa berkepentingan untuk membahas namun akhirnya tetap penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan. DPR bukan diminta untuk menentukan kapan? saja dengan meminta DPR kembali masuk ke ranah hukum. sama secara layak. bahkan melalui insitusi perwakilan rakyatnya telah unwiliing (tidak berniat) and unable (tidak mampu) dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. yang dengan tegas mengatakan bahwa Komnas HAM Indonesia menduduki posisi cukup penting dalam Dewan menolak langkah DPR dalam membentuk Pansus kasus HAM PBB serta telah meratifikasi konvenan hak-hak sipil penghilangan orang atau penculikan aktivisi 1997-1998. dibanding upaya Menurut UU 26/2000 tentang Pengadilan HAM. Sulit mengharapkan pemerintahan SBY menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu. khususnya menyelesaikan problem-problem pelanggaran HAM di masa lalu. Sikap ini menunjukan bahwa DPR RI telah menjadi bagian penting dalam modus impunitas (kejahatan tanpa hukum) di Indonesia. Sikap ini memang bukanlah suatu yang aneh bila melihat konsfigurasi fraksi di DPR yang menolak penuntasan pelanggaran HAM masa lalu. penuntutan. mengenai polemik Pasal 43 UU Pengadilan HAM. Sungguh ironis. Jadi. mempunyai kewenangan menyelidiki dan menyidik. bak lakon sinetron Indonesia yang sudah bisa ditebak. rekomendasi hanya untuk meminta ijin ketika prinsip hukum non retro aktif dilanggar dalam penegakan hukum Permintaan Jaksa Agung agar DPR lebih dulu mengusulkan atas kasus pelanggaran HAM dimasa lalu yang belum diadili pengadilan ad hoc HAM sebelum Jaksa Agung menyidik. terjadinya pelanggaran HAM berat.

02/III-IV/2007 . khususnya melalui mekanisme PBB. Terakhir. Hal ini tampak dari ketiadaan komitmen pemerintah dan DPR untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. serta pelanggaran terhadap hakhak kelompok minoritas seperti buruh migran dan masyarakat adat. pemerintah juga berjanji untuk mendukung pemenuhan norma HAM dan standar intemasional serta akan menjalankan pelaksanaan Rencana Aksi Nasional HAM 1999-2003 dan 2004-2009. yaitu Migrant Worker’s Convention. dilevel hukum. summary or arbitrary execution untuk kasus Munir serta specia/ rappertur of independency judiciary untuk problem impunitas yang terjadi. Sekali lagi. secara khusus kita meminta dewan ham PBB untuk berinisiatif membentuk badan pelapor khusus yang melakukan pemantauan atas kasus-kasus kejahatan korporasi yang terjadi selama ini. mengundang specia/ rapporteur untuk memberi masukan pada mekanisme nasional. Komnas HAM akan segera melakukan rapat paripurna menyusul keputusan DPR tersebut. KontraS merekomendasikan. kita bisa melihat dengan arah kebijakan yang sangat tidak memihak pada kepentingan korban oleh penguasa. KontraS juga berharap Komnas HAM segera meminta pendapat dari Mahkamah Konstitusi tentang peran DPR yang terlalu jauh merasuki proses hukum. Secara politis. juga meminta pemerintah segera mengundang specia/ rapporteur extrajudicia/. agar komunitas Internasional. Putusan ini kembali menunjukkan ada begitu banyak pihak. tak ada kata lagi. problem impunitas atas permasalahan HAM semakin menguat. delegasi NGO di Indonesia akan hadir untuk mempertegas komitmen internasional dalam menyikapi kondisi HAM di Indonesia. Seharusnya. DPR menyerahkan kewenangan penyelidikan dan penyidikan kepada Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Hukum dan HAM. Momentum ini menjadi ruang strategis untuk kembali menagih komitmen pemerintah sebagai anggota Dewan HAM PBB dalam menjalankan pemajuan dan pemenuhan HAM di Indonesia. Dalam pidatonya. Dukungan internasional Di sisi lain. agar sesegera mungkin Departemen Hukum dan HAM melakukan sosialisasi sistem penegakan hukum dan prinsipprinsip HAM ke anggota DPR. pada Mei 2007. Hamid Awaludin pada agenda high /eve/ segment dalam sidang Dewan HAM PBB. termasuk penyelesaian kasus pembunuhan Munir. Hingga saat ini. the Disabi/ities Convention dan Convention on Enforced Disappearance. kejahatan. mendesak pemerintah Indonesia melaksanakan berbagai instrument hukum HAM internasional dan menyelesaikan masalah pelanggaran HAM yang terus berlangsung. 13 Maret 2007 lalu. Atas kekacauan penegakan Hukum HAM dan intervensi politik dalam penegakan HAM. pemerintah Indonesia harus secara serius melaksanakan berbagai janji yang diucapkan baik dalam pidato high /eve/ segment maupun janji dan komitmen saat mencalonkan diri menjadi anggota Dewan HAM PBB. Selain itu. kemisikinan. *** Mempertegas Komitmen Pelanggaran HAM Dalam rangka sidang ke-empat Dewan HAM di Geneva 12-30 Maret 2007. khususnya di wilayah Poso dan Papua. salah satunya lewat sebuah keputusan atau sebuah kebijakan yang kerap pula dipolitisir. sehingga terbangun politik yang konstitusional dan terpenuhinya hak korban. masih terjadi pelanggaran HAM di Indonesia. bencana alam.kejahatan perusahaan. Selain itu.*** 5 Berita Kontras No. Untuk itu.BERITA UTAMA pengadilan HAM ad hoc terhadap kasus pelanggaran berat HAM masa lalu. Pemerintah bahkan berjanji untuk mengedepankan perlindungan dan pemenuhan hak-hak fundamental manusia (non derogab/e rights). Termasuk pula dukungan intemasional baik dari negara maupun dari Dewan HAM untuk perbaikan dan penyelesaian HAM di Indonesia. Karenanya tidak salah bila kita terus memberi tekanan. Tujuannya agar prinsip-prinsip hukum dan HAM dimaknai dalam aktifitas politik. Secara khusus. Dilevel internasional putusan ini semakin memperburuk citra Indonesia dalam penghormatan Hak Asasi Manusia dimata dunia Internasional. Kiranya kita patut khawatir bila hal serupa akan terus didengungkan sebagai alat bagi diplomasi ditingkat internasional tanpa ada kontrol dari masyarakat sipil. mendesak pelaksanaan RANHAM secara optimal di seluruh wilayah Indonesia. pelanggaran terhadap hak-hak kesehatan. KontraS juga mengingatkan DPR bersiap diri menerima sanksi sosial dan moral dari masyarakat atas keputusannya. Tampak jelas bahwa ratifikasi berbagai konvensi internasional termasuk Kovenan Hak Sipil dan Politik serta Kovenan Hak Ekonomi Sosial dan Budaya pada 2005 lalu tidak diimplementasikan secara penuh. Dalam perjalanan delapan tahun kasus-kasus pelanggaran HAM yang ada. pemerintah berjanji untuk meratifikasi 3 buah konvensi internasional. khususnya lembaga negara yang ingin menggelapkan kasus ini. dengan jelas terungkap bahwa pernyataan tersebut tidak merefleksikan kondisi hak asasi manusia di tingkat nasional. Sementara itu melihat maraknya praktek-praktek kejahatan yang dilakukan oleh perusahaan TNCs-MNCs. Pemantauan atas pelaksanaan komitmen ini akan menjadi landasan bagi evaluasi kinerja pemerintah untuk dipilih kembali menjadi anggota Dewan HAM PBB.

tetapi hanya mendelegasikan rencana pembahasan dalam rapat internal lainnya. Sementara Komisi III DPR tampak tak punya argumentasi yang tegas sehingga memberikan respon yang berbeda kepada Jaksa Agung dan Komnas HAM. kasus Trisakti Semanggi I dan II. DPR mendorong Jaksa Agung untuk menyidik tanpa mencabut rekomendasi politik yang dihasilkan pada periode 1999-2004 lalu. Di sisi lain. Langkah ini juga justru memperlambat pemenuhan hak korban yang telah lama menanti keadilan. Sebuah alasan yang mengada-ada karena secara institusional pengadilan HAM terdapat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Berdasarkan prinsip HAM serta Konvensi tentang Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa. Bagi kasus Penculikan Aktivis 1997/1998 berbeda lagi. Tampak jelas adanya politik hitam yang kental dalam tubuh DPR yang menunjukkan keberpihakannya untuk menghambat penyelesaian kasuskasus masa lalu. terdapat hal yang khusus dalam rekomendasi Komnas HAM untuk kasus ini. Komnas HAM masih berkutat untuk menyelidiki kasus Talangsari 1989. satu-satunya lembaga yang memiliki kewenangan untuk menyelidiki kasus-kasus pelanggaran HAM menyatakan adanya dugaan pelanggaran HAM berat untuk kasus ini. Pembahasan dalam mekanisme internal tidak pernah masuk dalam substansi permasalahan. respon penanganan terhadap penyelesaian kasus Trisakti Semanggi berbeda dengan kasus Mei 1998 dan kasus Penculikan Aktivis 1997/1998. tentu saja keputusan politik DPR yang lahir dari bias kepentingan politik bisa diabaikan karena tidak memiliki upaya hukum yang mengikat. proses hukum dalam kasus tersebut saat ini ada pada tahap penyidikan Jaksa Agung. Apalagi tidak ada kewenangan DPR untuk melakukan tugas penyelidikan hukum. Sementara ‘adhoc’ mengacu pada peristiwa serta perangkat pendukung seperti hakim adhoc dan jaksa adhoc.02/III-IV/2007 6 . kembali mengemuka pembahasan dan debat terhadap tindak lanjut kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang selama ini terbengkalai. Sebuah keputusan yang mengecewakan mengingat langkah serupa pernah diambil untuk kasus Trisakti Semanggi I dan II. yang menyatakan tidak ada pelanggaran HAM berat untuk kasus Trisakti Semanggi I dan II. Rapat Paripurna DPR memutuskan membentuk Pansus untuk kasus Penculikan Aktivis 1997/1998 sebagai alat untuk rekomendasikan pembentukan Pengadilan HAM adhoc kepada Presiden. sejumlah aktivis yang masih hilang harus diyakini masih hidup.OPINI Labirin Impunitas Atas kejahatan Kemanusiaan Indria Fernida Kepala Bidang Operasional KontraS Awal medio 2007. sehingga dianggap sebagai kejahatan yang berkelanjutan (continuoing crimes). sehingga terjadi pengembalian berkas penyelidikan berkali-kali). Mei 1998 dan Penculikan Aktivis 1997/1998. yang justru menjadi penghambat hingga kini. Jawaban Komnas HAM dan Jaksa Agung tetap sama seperti tahun lalu. Proses hukumnya berjalan tertatih-tatih. tak pernah ada langkah nyata untuk pencabutan rekomendasi tersebut. Proses penuntutan inilah yang akan menjadi landasan DPR untuk mengusulkan kepada Presiden bagi pembentukan pengadilan HAM adhoc. Alhasil. Sementara Jaksa Agung juga tetap bersikukuh untuk menunggu usulan DPR bagi pembentukan pengadilan HAM adhoc. Oleh karenanya jurisdiksi pengadilan ada pada tahap pengadilan HAM (yang permanen). janji DPR untuk mencabut rekomendasi tak kunjung direalisasikan. Secara internal. Jika dilihat dalam logika hukum. Selain itu. Keadilan yang Terus Terbengkalai Dalam waktu yang sama. Namun ternyata hal tersebut menjadi alasan utama ditundanya penyidikan Jaksa Agung (selain tentunya alasan formil dan materil yang dikemukakan. Komisi III DPR justru “kalah berdebat” dengan Jaksa Agung. Termasuk juga debat dan saling tuding yang mendasarkan diri pada interpretasi yang berbeda dari regulasi yang ada. Di sisi lain. Jaksa Agung tak mau melakukan penyidikan dengan alasan pengadilan HAM adhoc belum dibentuk. Di sisi lain. Dalam Rapat Kerjanya Komisi III DPR kembali mempertanyakan penyelesaian kasus-kasus tersebut kepada Jaksa Agung maupun Komnas HAM. dalam level proses yang sama. tak tampak pembahasan kasus Wasior 2001 dan Wamena 2003 di Papua. yang memiliki kewenangan untuk menggali fakta dan mencari bukti-bukti untuk memperkuat hasil penyelidikan Komnas HAM yang telah menyimpulkan ‘dugaan terjadinya pelanggaran HAM berat’. Sejak pertengahan Juni 2005. Untuk kasus Trisakti Semanggi. Di tengah ketidakjelasan tersebut. Apalagi Rapat Kerja Tripartit antara Komisi III DPR dengan Jaksa Agung dan Komnas HAM – yang diusulkan oleh korban dan kelompok sipil dan diharapkan dapat menghasilkan penyelesaian yang efektif – tidak berhasil mengakhiri kebuntuan ini. para anggota Komnas HAM beralasan sibuk untuk Berita Kontras No. yang secara hukum tak memiliki hambatan untuk segera disidik. Setahun kemudian Komnas HAM. Komnas HAM menyatakan bahwa penyelidikan telah selesai dan prosesnya saat ini ada pada tingkat penyidikan Jaksa Agung. sejak dibentuk 2005 lalu.

adalah tanggungjawab negara. Korban dilupakan. Untuk itulah aksi DiamHitam-Kamisan yang dilakukan para korban pelanggaran HAM di depan Istana Presiden terus dilakukan Untuk menjaga harapan. seperti ijin Kejaksaan Agung untuk pemeriksaan lokasi serta ijin Ketua Pengadilan Negeri untuk pemanggilan paksa. berbagai regulasi yang masih Upaya itu justru menimbulkan dugaan mendeskreditkan diri mereka masih belum miring sebagai politik manis dicabut. Presiden telah menegaskan bahwa penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM adalah salah satu program utama pemerintahannya. Namun tanggung jawab negara memang tak pernah diberikan cuma-cuma. Hal serupa yang juga terjadi pada saat penyelidikan kasus Trisakti Semanggi I dan II. Labirin Impunitas Ketidakjelasan seluruh proses ketiadaan pertanggungjawaban dan penghukuman ini menunjukkan pola labirin impunitas. walau jelas dinyatakan dalam putusan PN Pusat. sehingga tidak memprioritaskan penyelesaian kasus ini. DPR dan Komnas HAM kepada Presiden RI untuk pemenuhan Pembiaran terhadap seluruh rehabilitasi umum kepada para korban juga tak mendapatkan kebuntuan ini jelas merupakan pelanggaran konstitusional. Keadilan harus direbut. Selain itu Komnas HAM juga tidak mendapatkan respon serius dari aparat TNI untuk bekerja sama. Akibatnya. korban 1965 tetap mengalami berpihak pada HAM. terjadi. Tampak jelas tiadanya political Dok. Rekomendasi dari pelanggaran HAM internasional. UU Otonomi Khusus di Papua dan UU Pemerintahan Aceh tak juga nyata wujudkan pengadilan HAM dan KKR sebagai upaya pemenuhan korban pelanggaran HAM. bahwa korban masih ada. ratifikasi diskriminasi karena dituduh sebagai bagian berbagai konvensi hingga janji dan dari partai komunis yang diperlakukan ikrar sukarela saat menjadi anggota sebagai ‘anak tiri’ di negeri ini. Sementara sederet kasus pelanggaran HAM berat lainnya tak juga tersentuh hukum. tetapi justru Pembenahan reformasi sistem dan membiarkan para korban pelanggaran HAM institusi hukum serta reformasi dalam terus menjadi korban. Korban tak pernah diam. Korban ditinggalkan.Kontras will yang cukup dari pemerintah dan DPR untuk mendorong proses kebenaran (truthseeking) dari peristiwa kemanusiaan di masa lalu. bangsa ini akan terus terjebak hidup dalam sejarah hitam masa lalu yang selalu coba ditutupi sekalipun nyata terlihat. Apalagi. Maka sudah saatnyalah Presiden bertindak untuk mengatasinya. Untuk terus mengingatkan. Korban masih terus menggugat. Mei 1998 maupun kasus Penculikan Aktivis 1997/1998. *** Berdasarkan prinsip HAM serta Konvensi tentang Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa. Kepolisian tak juga menuntut pelaku konspirasi pembunuhan. Alih-alih mengakui bertanggungjawab atas keterlibatannya. seakan bahu membahu saling menuding untuk melempar tanggung jawabnya. perlindungan dan pemenuhan HAM Kasus Pembunuhan Munir. Dukungan politik kepada seluruh institusi negara merupakan hal yang mutlak dilakukan. karena ternyata tak ada yang bertanggung jawab atas peristiwa kejahatan kemanusiaan di Timor Leste. melihat kenyataan bahwa pengadilan justru membebaskan para pelaku pelanggar HAM. Sebuah bentuk nyata minimnya kerjasama dan kemauan politik dari lembaga terkait lainnya. Karena proses penegakan.02/III-IV/2007 . respon yang berarti. Sungguh ironi. sejumlah aktivis yang masih hilang harus diyakini masih hidup. sehingga dianggap sebagai kejahatan yang berkelanjutan (continuoing crimes) 7 Berita Kontras No. Jangankan Dewan HAM PBB tak cukup jika tak digelarnya penyelidikan atas fakta yang diiringi dengan pelaksanaan nyata. keadilan (justice) dan reparasi (reparation). rehabilitasi sosial tak Aksi menuntut penuntasasan pemerintah dalam kancah pernah terwujud. tanpa ada jalan keluar yang efektif. Hingga saat ini sektor keamanan melalui regulasi yang misalnya. Negara seakan lupa bahwa telah terjadi berbagai kejahatan kemanusiaan di negeri ini. upaya Komnas HAM bertemu Presiden untuk mendiskusikan hal ini juga tak terwujud. Tak juga umumkan hasil penyelidikan Tim Pencari Fakta yang secara politik semestinya dapat mendorong seluruh institusi negara untuk mengungkap pembunuhan ini. Termasuk pula tak ada langkah konkret yang dilakukan untuk pemenuhan korban-korban di masa DOM di Aceh dan Papua. yang menjadi harapan bagi tonggak tercapainya keadilan kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya juga kelam. Selama tak ada pemenuhan hak yang efektif bagi korban pelanggaran HAM berupa kebenaran (truth).OPINI melakukan pekerjaan lainnya. Sementara Presiden tetap diam. mantan Deputy V BIN. Tanjung Priok dan Abepura. Di sisi lain harapan dari pengadilan HAM seakan pupus. Jaksa Agung belum juga membuka percakapan 41 kali antara Pollycarpus dan Muchdi PR. Seluruh insitusi negara. Menjelang penyelidikan selesai. Mahkamah Agung.

Arsenik jenis tiga itu. Jumlah tersangka masih akan berkembang. Garuda Indonesia. tersangka baru Pada akhirnya. dirinya menangkap kesan pihak intelijen kepolisian sebenarnya telah berhasil memperoleh sejumlah kemajuan. dalam beberapa pertemuan. “Tidak bisa kita tetapkan langsung semua yang terlibat.5-1. Susanto mengaku sangat berhati-hati. Mutammimul Ula. Penyelidikan bertahap. Menanggapi pernyataan ini. kasus pemalsuan surat atau pembunuhan Munir. Usman Hamid mengaku menyambut baik rencana Polri untuk menangkap dan mengumumkan sejumlah nama pelaku baru terkait kasus pembunuhan Munir. Garuda dan Rohanil Aini (RA). Menurut Usman. “Pengungkapan kasus Munir ini semestinya tidak berhenti pada dua orang tapi membongkar mata rantai sehingga mengetahui siapa sesungguhnya pembunuh Munir. Sekretaris Eksekutif KASUM. pengumuman dua tersangka baru ini oleh Kapolri menimbulkan pertanyaan dari kalangan anggota DPR dan aktivis. Usman berharap tidak ada lagi penundaan seperti beberapa kali terjadi sebelumnya. Kapolri Jenderal Sutanto mengatakan bahwa peran (tersangka). aparat kepolisian menetapkan Berita Kontras No. Perkembangan itu terlihat jelas saat Kapolri Jenderal Susanto seusai mengikuti rapat koordinasi terbatas di Kementerian Hukum dan Keamanan (5/4). Untuk menyebut dua tersangka baru. Nursyahbani Katjasungkana. tetapi sampai sekarang kan omongan itu tidak terealisasi. “Sebelumnya malah pernah menjanjikan Maret kemarin mereka (polisi) akan memberi nama tersangka baru. kasus Munir memasuki babak baru. Sampai saat ini kami masih terus melakukan proses penyelidikan. Singapura. Dari hasil itulah terungkap pula bahwa tempat kejadian perkara terbunuhnya Munir di Bandara Changi. Mudahmudahan dalam beberapa hari ini. Amerika Serikat. karyawan PT. “ ujar Susanto. menduga penetapan dua tersangka baru itu terkait dengan usaha untuk mengamankan pencalonan anggota Dewan HAM PBB yang pemilihannya akan dilakukan akhir Mei 2007.5 jam. dan profesional. tingkat kecepatan reaksi racunnya 0. Sedangkan mantan anggota TPF. Sedangkan aktivis LSM. Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa. pihak kepolisian tampak sudah mulai mengerucut ke sejumlah nama orang yang dicurigai terlibat dan berperan. Dan kita patut menyambut baik perkembangan dari penyidikan yang telah dilakukan oleh pihak berwajib ini. “Dalam waktu dekat akan saya sampaikan (tersangka baru) itu. kata Kapolri. Meskipun bukanlah suatu perkembangan yang baru. tersangka sebelumnya yang dinyatakan bebas dari tuduhan pembunuhan Munir. sesuai dijanjikan Kepala Polri. jangan disampaikan sekaranglah. Mereka mempertanyakan apa sebenarnya yang mau diungkap Polri. namun dia berharap pencapaian itu bukan sekadar gula-gula menjelang diadakannya Sidang Dewan HAM PBB. Dari sejumlah temuan itu. ikut terlibat dalam suarat palsu yang dikeluarkan untuk Pollycarpus. Sabar saja. Mari kita tunggu saja.JEJAK SANG PEJUANG Ajukan PK Dengan Bukti-bukti Baru Di awal Bulan April. hampir tiga tahun lalu itu. Penetapan dua tersangka berkaitan dengan hasil uji laboratorium dan forensik atas barang bukti yang dikirim ke Seattle. Amiruddin Al Raham. akuntabel. menyampaikan bahwa pihaknya akan mengumumkan tersangka baru terkait kasus pembunuhan Munir. lima hari setelah memberikan sinyal akan mengumumkan temuannya. Asmara Nababan mempertanyakan atas dasar apa Kapolri menyebutkan kedua IS dan RA. juga mendesak polisi bergerak cepat dalam mengungkap kasus pembunuhan Munir sebelum internasionalisasi kasus tersebut berjalan lebih jauh. anggota Komisi Hukum DPR. termasuk mengantongi beberapa nama mereka yang terlibat atau tahu pembunuhan itu. dari bukti baru dan tersangka baru. Ketua Komisi III DPR Trimedya Pandjaitan mengapresiasi perkembangan pengungkapan kasus pembunuhan Munir yang dilakukan Polri. Lebih lanjut Mutammimul mengatakan kepolisian harus berani mengumumkan tersangka kalau memang itu berdasarkan hasil penyidikan. Sedangkan dari kalangan DPR. “ ujar Usman. “Segera saja diumumkan tersangka itu. Kehatian-hatiannya didasarkan pada pengalaman kaburnya tersangka setelah disebut aparat kepolisian. “ lanjutnya. juga meminta Kapolri agar segera melakukan pengusutan dan kemudian melaporkan hasilnya ke publik. baik sebagai perencana maupun operator dalam pembunuhan Munir.02/III-IV/2007 8 . Internasionalisasi kasus ini akan memunculkan persoalan baru bagi pemerintah. mantan direktur utama PT. Usman mengatakan dalam beberapa kali pertemuan dengan pihak penyidik. dan keterangan sejumlah saksi. dua tersangka baru kasus pembunuhan yang terjadi pada 7 September 2004. sehingga kepolisian lebih transparan. namun perkembangan dari kasus ini menunjukkan bahwa aparat kepolisian terus bekerja dalam pengusutan kasus ini. “ ujarnya. Menimbulkan pertanyaan Di sisi lain. “ kata Mutammimul. kepolisian akan mengembangkan pemeriksaan lebih lanjut sehingga muncul tersangka lain. Hasil itu menunjukkan dalam tubuh Munir ditemukan racun arsenik jenis tiga (racun berbahaya) dan lima. Kedua tersangka adalah Indra Setiawan (IS). pihak kepolisian telah menjanjikan adanya nama tersangka baru dari hasil penyelidikan mereka. memang benar –benar akan ada nama tersangka baru. Lebih lanjut dikatakan Kapolri.

Suciwati. upaya PK itu bisa saja dilakukan oleh jaksa. Memang apa urusannya Garuda mau membunuh Munir? “ ujar Asmara. Rachland Nashidik. “Kami mempersoalkan status kedua inisial nama tersangka baru ini. Jaksa Agung yakin upaya peninjauan kembali (PK) atas Pollycarpus BP dalam kasus Munir bisa dilakukan. Ke-optimisan tersebut. Rachland menyebutkan dalam temuan polisi itu ada kejanggalan. Rabu (18/4). “ ujarnya. beberapa keterangan saksi tambahan dalam penerbangan ke Amsterdam. Tapi berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi di antaranya menyatakan bahwa saat di bandara itu. pengumuman tersangka baru itu hanya merupakan pernyataan. kontruksi kasus Munir tersebut terbagi menjadi tiga lokasi kejadian perkara. yaitu di Bandara Changi Internasional. Singapura. tidak terkait dengan pemalsuan surat. siapa pihak yang bisa menggunakan Garuda untuk melakukan aksi itu. katanya. Suciwati yang didampingi Usman Hamid mengatakan bahwa dalam waktu dekat Mabes Polri akan menangkap para tersangka kasus Munir. “ kara Rachland. “katanya. kesaksian seseorang yang melihat Munir bersama dengan Pollycarpus di Bandara Changi. tapi ada sesuatu yang bisa kita ungkap di baliknya. Mochtar Pakpahan dihukum empat tahun penjara. yaitu lokasi pasca-eksekusi ketika Munir akhirnya tewas dalam pesawat Garuda Indonesia bernomor GA-974. Keduanya diduga terlibat dalam proses perencanaan pembunuhan Munir. “ ujar Bambang. Amerika Serikat. Sedangkan menurut Bambang Herdarso Danuri. “Polri serius. Upaya PK yang diajukan oleh jaksa tak disebutsebut dalam ketentuan itu. yang akan digunakan untuk mengajukan PK. Jaksa Agung menegaskan. “Saya yakin proses 340 KUHP (pembunuhan) terjadi di tempat itu. bukan pengumuman. Kepolisian RI menyerahkan tiga bukti baru ke Kejaksaan Agung (13/04) untuk proses Pengajuan Kembali (PK) dalam perkara kasus Munir. kedua tersangka itu terkait proses penunjukan Polly. padahal TPF tidak mendapatkan fakta itu. Namun. Surat digunakan untuk memperlancar. Lokasi kedua. Lebih lanjut Bambang menjelaskan. Dikatakannya. Ketentuan itu ada dalam Pasal 263 KUHAP. hasil forensik dari Seattle. Dan pada saat bertemu dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri di Mabes Polri (12/4). Pollycarpus BP. Kejakgung optimis PK Sementara itu. bukan kasus pemalsuan surat di Garuda.02/III-IV/2007 . Hasilnya. Singapura. “ Ujar Sutanto. saksi melihat Munir bersama seorang seseorang sebelum borading di salah satu tempat di Bandara Changi. Polisi serahkan tiga bukti baru Setelah tiga bulan penyelidikan. PK merupakan upaya hukum luar biasa yang ditempuh oleh terpidana atau keluarganya. untuk menjadi petugas aviation security dalam pesawat Garuda yang ditumpangi Munir.JEJAK SANG PEJUANG inisial nama IS Dan RA.Belanda. Kapolri Jenderal Sutanto menegaskan bahwa penetapan dua tersangka. MA mengeluarkan putusan kontrovesial.”Itu namanya penyataan. polisi menemukan fakta baru. Saya minta tangkap dan umumkan namanama mereka. Jadi itu mirip dagelan. “ ujar Suciwati. IS dan RA segera akan dipanggil penyedik untuk diperiksa. “Itu (penunjukan Polly) bukan ujuk-ujuk. eksekusi peracunan terhadap Munir. menyatakan. dan Sarwata. Sedangkan mantan anggota TPF Munir lainnya. Sementara Koordinator KontraS Usman Hamid yang juga mantan Sekretaris TPF mengemukakan adanya kepentingan sebuah kekuatan lembaga untuk menggunakan PT Garuda Indonesia sebagai sarana melakukan pembunuhan. Ada tersangka lain di luar PT Garuda. pengakuan saksi kunci melihat pelaku pembunuhan di Bandar Udara Changi. Singapura. “Harusnya diusut. “ ujar Usman. Atas putusan kasasi itu. dan ketiga. Mengenai aturan PK dalam KUHAP. Soalnya polisi sudah mengubah locus delicti (tempat kejadian perkara/TKP) seperti temuan TPF di perjalanan pesawat Garuda-Singapura menjadi di Bandara Changi. “ katanya.Amsterdam. Ketiga bukti tersebut berupa hasil uji laboratorium forensik CCL Tequika di Seattle. IS dan R dari PT Garuda Indonesia. Apakah mereka ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan atau sekedar terkait pemalsuan surat. Pada tahun 1996. Munir dalam keadaan pucat. Palti Raja Siregar. “Berarti dengan menyatakan dua tersangka. PK oleh jaksa itu sudah ada yuresprudensinya. 9 Berita Kontras No. Ketiga. Misalnya dinyatakan bahwa pembunuhan dilakukan di Changi. Sedangkan isteri (alm) Munir. mengaku tidak bisa menutupi rasa kecewa terkait pengumuman dua tersangka tersebut. saat penerbangan dari Singapura menuju Bandara Schiphol. Terkait dengan dua tersangka yang telah ditetapkan. Amerika Serikat. “Kami tentu menyelidiki ke arah pembunuhannya. Kejagung sendiri menurut Arman. Novum yang diserahkan itu Mabes Polri itu antara lain. satu dua hari ini ke depan ada tersangka yang ditangkap. menurut Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh didasarkan pada novum yang ada. di tingkat kasasi Mochtar dibebaskan. Sebenarnya yang mau disidik itu kan kasus pembunuhan. Kepolisian menurut Bambang telah bekerja sama dengan Departemen Investigasi Kriminal Singapura untuk prarekontruksi. yang baru pertama kali terjadi di dunia hukum Indonesia. seperti tersangka sebelumnya. Dalam kasus kisruh buruh di Medan pada tahun 1994. Lokasi pertama terkait serangkaian proses perencanaan pembunuhan. jaksa Havid Latif dari Kejaksaan Negeri Medan kemudian mengajukan PK yang diterima dan dikabulkan oleh MA pada 1966 oleh majelis hakim agung Soerjono. di pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding. baru menerima sebagian bukti baru (novum) dari Mabes Polri pada 13 April 2007. “Kan ada yurisprudensi. dengan mengabulkan permohonan PK dari jaksa penuntut umum.

Garuda dan tergugat IX pilot GA 974 Singapuran tersebut terjadi sebelum Berita Kontras No.” ujar Kapolri (24/04). pengungkapan kasus ini memiliki arti yang sangat Sedangkan Kepala BIN.Ongen. Ongen. pria tersebut dan setelah pembunuhan Munir. Glen Fredly. terjadi 10 TPF sendiri pernah mengundang BI pada tanggal 13 Juni 2005 kali sambungan antara telepon seluler Polly dan nomor BIN. Pernyataan itu diberikan setelah Rafendi bersama dengan sejumlah anggota KASUM bertemu dengan perwakilan dari Garuda harus bayar Rp 664 juta 10 negara dan Komisi Eropa di sebuah hotel di Jakarta. Di akhir bulan April lalu. Kapolri Jenderal Sutanto mengaku tidak bisa mengungkap isi percakapan telepon.5 jam dan bersifat oleh Suciwati. Syamsir Siregar berharap polisi membuka isi percakapan teepon Polly dan Muchdi tersebut. karena sama-sama anggota ruang kerja kerja Muchdi. termasuk yang telepon di ruang kerja kerja dibawakan oleh keponakannya. tertutup. Muchdi Purwopranjono. antara lain. “Kan (rekaman percakapan) sudah dibawa ke Amerika. Garuda yang dilakukan kasus Munir ini berlangsung sekitar 1. Komunikasi tersebut terjadi sebelum Persatuan Penembak Indonesia. Pertemuan dengan agenda utama membahas perkembangan Sementara dalam gugatan terhadap PT. Pollycarpus dengan mantan Deputi V BIN. dengan mengambil tempat pertemuan di kantor Lemhanas. polisi tidak bisa gegabah mengajukan indikasi itu sebagai bukti baru. penyanyi Muchdi. diduga terlibat dalam kasus ini). “Tapi itu hanya berlaku setelah adanya pembunuhan Munir. adanya 41 kali sambungan antara telepon Polly dan telepon di Pollycarpus mengenal BI. Padahal. jam. Kalau tidak ada. Kedua orang ini diduga bertemu dengan Munir di Bandar Udara Changi. Pada 25 Agustus sampai dengan 7 September 2004.”Harus ada alat bukti yang menguatkan. Menurut TPF.Muchdi sendiri mengakui nomor telepon yang dihubungi Perkembangan penyelidikan dan langkah pihak kepolisian Polly itu miliknya. yang menurut saksi mata berbincang-bincang dengan Munir dan Pollycarpus di Bandara Udara Changi. pernah menjadi Kepala Pos Wilayah Badan Intelijen Negara Kalimantan Selatan. berdasarkan hasil temuan dan setelah pembunuhan (dokumne) TPF. Komunikasi terkenal. Apa sulitnya. Majelis Hakim dalam putusannya menyatakan tergugat I PT. yakni antara mantan pilot Garuda. BI. saat pesawat yang mereka tumpangi transit. Singapura. perkembangan kasus pembunuhan ini nyatanya juga mengalami hambatan.” Dua tokoh kunci diburu Penyidikan dari kasus Munir terus dilakukan oleh aparat kepolisian. Menurut Sutanto. Dari penemuan bukti-bukti baru yang telah didapati tersebut. dan Selandia Baru. “ ujar Rafendi Djamin dari Human Rights Working Group. Saya “Para diplomat juga mengatakan pentingnya dukungan minta polisi buka itu. politik Presiden SBY kepada polisi untuk menyelesaikan kasus Syamsir sendiri juga berjanji tidak akan menghalangi penyidik dalam memeriksa anggota BIN yang diduga terlibat kasus ini. Sebelum terjadi peristiwa itu. Sementara itu.02/III-IV/2007 10 .JEJAK SANG PEJUANG yang diyakini lebih detil dari forensik yang dihasilkan oleh tim di Belanda. memiliki hubungan dekat dengan Pollycarpus. Tak terekam Namun. tercatat lima kali sambungan. bisa ditolak pengadilan. isi percakapan itu penting karena diduga membahas rencana pembunuhan terhadap Munir. meskipun ada indikasi komunikasi berkali-kali antara Muchdi dan Pollycarpus. pada tanggal 14 Mei 2003 dia bersama Berdasarkan fakta di pengadilan. Kanada. “ujar Kapolri. Ongen banyak antara telepon Polly dan menciptakan lagu top. Pada waktu yang tidak datang. yakni Raymond Latuihamalo alias Ongen dan seseorang berinisial BI. terungkap Pollycarpus pergi ke Banda Aceh dan Lhokseumawe. (salah seorang yang Munir. serta gambar denah pesawat Garuda buatan Pollycarpus yang diduga sebagai bagian dari rencana pembunuhan. sekarang bisa meminta pembicaraan telepon disadap dan direkam. Dia juga tidak tercantum dalam manifes sama terjadi pula komunikasi 27 kali antara Polly dan Muchdi melalui ponsel atas nama Yohanes Ardian ( Vice Presiden PT pesawat Garuda yang ditumpangi Munir. dihargai oleh sejumlah perwakilan negara sahabat. tepatnya pada 17 Tapi dokter yang paham soal unsur-unsur kimia tersebut November 2004. “Tidak ada isi pembicaraan antara Muchdi dan Polly. tidak bisa dilakukan. dari Belanda. pihak kepolisian memburu dua orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan Munir. dan durasi percakapan. dianggap polisi sebagai salah satu tokoh kunci untuk Berdasarkan fakta di menguak kasus pembunuhan ini. menurut Kapolri. penting dalam pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Namun. dia membantah melakukan terhadap pengungkapan kasus Munir ini ternyata sangat pembicaraan dengan Polly. Singapura. Sutanto menambahkan. penyedia jasa telepon di Indonesia hanya merekam tagihan (billing) yang berisi data tanggal. Swedia. Munir. Adapun setelah pembunuhan Munir. terungkap penyanyi dan pengarang lagu pada adanya 41 kali sambungan dasarwasa 1980. Penyidik. Barito). sebelumnya lebih dikenal sebagai pengadilan. Sebelumnya. Mereka menilai. “ ujarnya. Perwakilan negara yang hadir dalam acara itu.

“ kata Suciwati. hal yang penting dari pesawat udara berhak menentukan dan mengambil tindakan gugatannya justru tidak dikabulkan majelis hakim. ia Audit terhadap PT Garuda Indonesia. Dari beberapa poin yang saya tuntut. Pantun Sementara itu. pilot tak meminta saran dari petugas menurut majelis. Padahal demi keselamatan penerbangan serta bertanggung jawab atas menurutnya.329 miliar. hanya Majelis juga berpendapat. akan mencegah berulangnya kejadiannya seperti yang menimpa harus minta saran medis dari darat. hanya dua orang dengan kewajiban hukumnya yang yang dinyatakan terbukti salah. Saya tidak rela. ( ground of-ficer) untuk meminta izin Suciwati menganggap putusan tersebut pendaratan pesawat.209 juta. Dirinya mempertanyakan dasar pertimbangan hakim yang hanya memandang gugatan perdata dari soal nominal ganti yakni Rp 14. terulangnya peristiwa kematian Munir. kapten Suciwati juga mengaku kecewa. bahwa saya banding.390 juta. terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. Uki Indra. uang pendidikan untuk anak “Setiap orang berhak atas kebebasan dan keamanan peribadi. majelis seperti ini. otomatis juga melakukan perbuatan melawan hukum.Kontras perbuatan melawan hukum. Tidak seorang pun dapat ditangkap atau ditahan secara sewenang-wenang. Juga dari 11 melakukan tindakan yang bertentangan pihak yang kita gugat. Dalam petikan putusan yang dijatuhkan oleh majelis 35. Amsterdam. selaku tergugat I. Tidak seorang pun dapat dirampas kebebasannya kecuali berdasarkan alasan alasan yang sah. jika penumpang mengalami sering dipakai untuk kepentingan lain. “Justru itu yang terpenting. Permintaan audit. juga ganti rugi materiil dan imateriil sebebsar Rp 664. Menanggapi putusan itu. Bila ragu-ragu. Pasalnya. Sebab. Pantun Matondang. seperti kepentingan sakit serius di pesawat. Flight Operator Support Officer Rohainil Aini (tergugat IV). yaitu mantan Direktur Utama PT Indonesia dengan nomor penerbangan GA 974. disebutkan. Selama ini penerbangan Garuda Dalam BOM 5. tetapi tidak gugatan perdatanya kepada PT Garuda. Nilai ini lebih kecil dari ganti rugi yang dituntut Suciwati. Ketentuan itu mengatur. Dok. tanpa mengabulkan permintaan permohonan maaf serta Besaran ganti rugi itu dihitung berdasarkan ganti gaji Munir audit terhadap PT Garuda Indonesia. yang Garuda Indonesia (tergugat II).*** selama tiga bulan Rp 21.7 juta. Pollycarpus BP (tergugat V). “ ujar Suciwati.1. dan kehati-hatian yang seharusnya dipegang pilot. Pilot dinilai melanggar itu jauh dari keadilan. mengatakan akan Indonesia diperintahkan membayar ganti mengajukan banding. pilot pesawat Garuda Mengenai tergugat lain. Asfinawati SH.209 juta pertimbangan hakim tentang kelalaian secara tanggung renteng. menanggapi putusan mengetahui keadaan Munir. rugi. Kamis. kita ajukan untuk mencegah hakim menyatakan perusahaan itu. Pantun (tergugat IX) medis di darat dinilainya tidak tepat. “Yang paling mengerikan adalah terulangnya kejadian Pantun bekerja di PT Garuda Indonesia. serta uang pengganti biaya hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang dipimpin oleh yang dikeluarkan untuk pendidikan Munir sebesar Rp 6 juta.” (Pasal 9 (ayat 1) Konvenan Hak Sipil Politik) 11 Berita Kontras No.2. Vice President Corporate Ramelgia ditumpangi oleh Munir dalam penerbangan Jakarta. majelis menyatakan dinyatakan terbukti lalai menjaga keamanan mereka tidak terbukti melakukan dan keselamatan salah satu penumpangnya. Suciwati ajukan banding ketelitian. uang kesehatan Rp (PMH). pengacara PT Garuda Oleh sebab itu. Munir. tentang penerbangan juncto Pasal 40 Peraturan pemerintah (PP) Nomor 3 Tahun 2001. “Saya tegaskan hak subyektif Munir. segera berkonsultasi dengan petugas darat Suciwati akan mengajukan banding. yaitu melanggar kaidah kepatutan. Itu hanya ditentukan Basic Operator Manual (BOM) dan Pasal 23 Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 1992 sekitar 10 persen dari gugatan kami. Andriyani Nurdin dengan anggota Sutiyono dan Kusriyanto. dan PT Garuda Indonesia dan awak GA 974 lain.Anwar (tergugat III). Pantun dan PT Garuda Indonesia diperintahkan membayar Salah seorang kuasa hukum Suciwati.JEJAK SANG PEJUANG – Amsterdam bersalah atas Perbuatan Melawan Hukum Munir hingga jenjang sarjana Rp 557 juta. menyatakan ketidakpuasannya atas putusan majelis hakim. rugi kepada Suciwati sebesar Rp 664. kata Suciwati. hal terpenting yang tercantum dalam gugatannya adalah permohonan audit terhadap PT Garuda Indonesia. Karena itu. “ kata Suciwati. Pantun dan PT Garuda Indonesia. sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh hukum. keamanan dan keselamatan penumpang.02/III-IV/2007 . uang pemakaman Rp 3 juta. Pantun Suciwati di ruang persidangan beberapa yang dikabulkan. Lebih lanjut. (3/5). pilot in command harus berkonsultasi intelijen. dengan dokter untuk menentukan perlu atau tidak meneruskan penerbangan atau mendarat.

Untuk itu. (Advokat). terdakwa Pollycarpus dalam perkara pembunuhan Munir dirasakan telah Dalam laporannya itu pihak Pelapor mementahkan logika hukum. lantaran saratnya berbagai hal yang mencurigakan. Begitu pula halnya dengan kemandirian dan obyektifitas anggota Majelis Eksaminasi. DR. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM) Laporkan kasus Munir Ke Dewan HAM didukung oleh berbagai lembaga lain membentuk Majelis Eksaminasi untuk melakukan Eksaminasi Publik atas proses Sementara itu. terutama terkait soal hukum kepada pihak-pihak terkait. Philips AIston yang akhir Maret lalu secara resmi melaporkan kasus Munir putusan Mahkamah Agung (3/10/06) atas ke Dewan HAM PBB. S. selain Pollycalpus. (Ketua Konsorsium KASUM berharap desakan itu ditanggapi serius oleh Pemerintah RI terutama Presiden SBY.JEJAK SANG PEJUANG Eksaminasi Kasus Munir Proses hukum atas kasus Munir sejak awal hingga kini terus menjadi sorotan. LL. rekomendasi dari Majelis Eksaminasi harus dapat ditindaklanjuti pihak-pihak terkait untuk menuntaskan kasus ini sekaligus melawan impunitas terhadap pelaku. penggunaan mekanisme internasional dalam kasus Munir. pembunuhan Munir. Wajar kiranya. (Pakar Hukum Pidana UI). dan informasi Prof. Termasuk informasi terhadapa Wignjosoebroto MPA (Guru Besar Universitas Airlangga). permusyawaratan Majelis Eksaminasi dan diakhiri dengan pembacaan putusan eksamnasasi publik (14/03). terkait. DR. DPR RI telah merekomendasikan kepada Presiden Latar belakang para anggota Majelis Eksaminasi akan untuk bekerjasama dengan lembaga hak asasi manusia memperkuat kajian yuridis terhadap proses hukum kasus intemasional. Oktober 2006.02/III-IV/2007 12 . Dari hasil eksaminasi yang ada menunjukkan bahwa memang telah terjadi kekeliruan dalam proses hukum kasus pembunuhan Munir. penyusunan putusan eksaminasi. pengiriman dan pembacaan berkas. dan Firmansyah Arifin.H. Proses eksaminasi sendiri sudah berjalan sejak akhir Januari terlebih karena Alston merupakan pejabat kunci PBB. Eksaminasi ini bertujuan melakukan kajian rekomendasi hukum yuridis terhadap proses hukum dalam Philips Alston sebelumnya meminta kepada pihak-pihak kasus ini dan memberikan rekomendasi sejumlah informasi. resistensi dari pihak Badan Intelejen Negara dan perusahaan Garuda.. Irianto Subiakto. Sebab. S. 2006 lalu.H. Hal ini dilakukan karena on Extra Judicial Execution Prof. Penyidikan kasus Munir oleh Polri saat ini dapat berperan besar dalam menjawab desakan PBB tersebut. sidang eksaminasi. Hal ini juga berpotensi membuka ruang bagi eksaminasi. Didahului dengan pembentukan Majelis Eksaminasi. Soetandyo pembunuhan Pollycarpus. Eksaminasi ini Khusus menilai pemerintah RI terdapat kejanggalan-kejanggalan kejadian bertujuan melakukan menunjukan sikap yang “Kooperatif namun dan hubungan-hubungan pihak-pihak yang tidak lengkap” (cooperative but incomplete)”. Komariah Emong Sapadjaja (Guru Besar mengenai rekomendasi kunci TPF Presiden yang terlihat Universitas Padjajaran). salinan laporan dan rekomendasi Tim Eksaminasi ini juga merupakan bentuk dari Pencari Fakta (TPF) Munir serta salinan pengawasan masyarakat terhadap jalannya putusan Mahkamah Agung tertanggal 3 penegakan hukum di negeri ini. Terlebih pada 7 Desember Reformasi Hukum Nasional). publik menduga adanya kejahatan konspirasi yang melibatkan banyak pihak harus dijadikan pertimbangan untuk mendapatkan keadilan hukum yang materiil. sampai pada proses persidangan yang tidak maksimal. yang menganulir vonis Majelis Eksaminasi terdiri dari Prof. 2004. Mulai dari kurangnya keseriusan pihak aparat penegak hukum (pihak kepolisian dan kejaksaan). Rudy Satriyo Mukantardjo diabaikan oleh Polri dan Kejaksaan Agung. namun pengadilan tidak mampu Hal itu karena dari sejumlah keterangan atau proses hukum dalam memutus siapa yang bersalah dan siapa informasi yang diminta. kajian yuridis terhadap dicurigai. pemerintah Indonesia yang paling bertanggungjawab.M. KASUM berpendapat jika hal ini diabaikan akan semakin diharapkan dapat menunjukkan kredibilitas hasil berdampak buruk bagi citra dan kiprah RI dalam diplomasi intemasional. Sementara itu. KASUM mengapresiasi langkah Specia! Rapporleur hukum kasus pembunuhan Munir. kasus ini dan tidak responsif terhadap sejumlah hal yang memberikan memerlukan klarifikasi.*** Berita Kontras No. Karenanya. individu-individu tambahan. pembuatan legal anotasi.

juga suatu hal yang salah kaprah. maka keterlibatan TNI diluar fungsi utamanya sebisa mungkin harus direduksi. pembunuhan dan arogansi kekuasaan akan menjadi cerita keseharian rakyat. segera lakukan koordinasi dengan pihak polisi atau pihak-pihak lain yang berwenang. Apapun alasannya pengiriman pasukan ke desa Alue Dua adalah tindakan yang tidak benar. Namun yang terjadi hari ini adalah kekhawatiran pada saat itu. Rendahnya kesadaran hukum Tindakan brutal dari aparat TNI ke desa Alue Dua secara jelas menunjukkan masih rendahnya kesadaran hukum dan HAM anggota TNI. kekerasan dan meningkatnya kriminalitas seakan-akan tidak terbendung. Dan aksi kekerasan yang diduga kuat dilakukan oleh TNI “aksi balas dendam” (24/03). Keberadaan pasukan TNI di SD Alue Dua patut 13 Berita Kontras No. Kec. UU No. Bila didapati indikasi yang tidak baik terhadap suatu keadaan. dipertanyakan. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh juga mempertegas pada pasal 202 ayat 1 yang menyebutkan Tentara Nasional Indonesia bertanggungjawab menyelenggarakan pertahanan negara dan tugas lain di Aceh sesuai dengan peraturan perundangundangan. Apalagi kondisi Aceh sudah damai. masyarakat dan pihak-pihak lainnya harus bisa menahan diri. Para elit hendaknya bersama-sama meningkatkan rasa percaya terhadap Menghancurkan kepercayaan Demikian halnya dengan penganiayaan sekelompok warga terhadap anggota TNI tersebut. memasuki tahun 2007 sampai detik ini. Maka hal tersebut bertentangan dengan UU TNI No. tindakan kekerasan terhadap siapapun dan oleh siapapun tetap tidak bisa ditolerir. Bireun. Sementara. apabila menyangkut fungsi pengamanan seperti yang disampaikan Dandim Aceh Utara. 34/2004 pasal 5. Reintegrasi akan menemukan semangat dan kedigdayaan tatkala penegakan hukum mampu dijalankan. Gagasan dan impian untuk mewujudkan perdamaian demi tercapainya rakyat yang sejahtera secara ekonomi. Aceh Selatan (16/1/2007). Juga di tengah proses damai yang sedang berlangsung dan kondisi masyarakat Aceh yang masih mengalami trauma masa lalu. dalam keadaan waktu damai yang normal. Namun demikian. main hakim sendiri mengartikulasikannya dengan kekerasan adalah sebuah tindakan yang akan menghancurkan rasa kepercayaan antar para pihak.02/III-IV/2007 . Rentetan insiden kekerasan ini telah memakan korban. Amuk massa. Selanjutnya penganiayaan sekelompok masyarakat terhadap empat anggota TNI di desa Alue Dua. Hal ini tentu saja menjadi preseden negatif untuk capaian reintegrasi dan perdamaian ke depan. fungsi dan tugas TNI. Masa transisi yang sedang dilewati rakyat Aceh tentu saja akan menghadapi banyak tantangan dan kendala. anggota TNI telah menginjak-injak hukum dan konstitusi yang memberikan perlindungan atas hak seluruh warga. 6 dan 7 tentang peran. Suasana perdamaian yang telah berjalan merupakan sebuah peluang dan kesempatan yang baik bagi jajaran pemerintahan dan instansi peradilan. Upaya hukum untuk menyelesaikan kasus tindak kekerasan secara transparan. Letkol Inf Yogi Gunawan (Rakyat Aceh. arogansi dan brutalisme yang dilakukan pihak TNI di desa Alue Dua akan menjadi kontraproduktif bagi proses reintegrasi. Tindakan ini juga bertentangan dengan poin MoU Helsinki pasal 4. menjadi tugas kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. merupakan tindakan pelanggaran hukum yang berpotensi semakin memperkeruh suasana dan berdampak pada semakin berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi TNI juga terhadap proses penegakan hukum. Jika pihak kepolisian dan dunia peradilan lainnya tidak pernah tegas dan berani untuk mengungkap segala bentuk pelanggaran hukum ini. dini hari (26/3/2007) sekelompok orang dengan menggunakan senjata tajam dan potongan kayu melakukan aksi pembacokan terhadap warga di tiga lokasi terpisah di kecamatan Juli. Tidak berselang lama. Sawang Kab. kemudian penyanderaan delapan anggota Jamaah Tabligh karena diduga menyebarkan aliran sesat di desa Lhok Meureubo. 23/3). namun lemahnya penegakan hukum akan semakin mendorong aksi balas dendam dari para pihak. dan TNI hanya terlibat jika diminta bantuannya. Kritik yang disampaikan beberapa LSM dan aktifis bahwa telah terjadi indikasi kegagalan reintegrasi di Aceh telah ditampik oleh AMM pada saat itu. Aceh Utara (12/3/2007). yang merupakan hak asasi manusia yang harus dihormati. (26/3/2007) penghitungan ulang hasil Pilkada di Aceh Tenggara yang sedang di gelar berakhir rusuh dan mengakibatkan jatuhnya korban. Nisam yang dibalas dengan pengiriman pasukan TNI ke desa tersebut dan terjadinya pemukulan terhadap masyarakat dengan alasan untuk mencari pelaku (24/3/2007). Dan secara sengaja dan terang-terangan. hanya tentara organik yang akan berada di Aceh.11 yang menyebutkan Tentara akan bertanggungjawab menjaga pertahanan eksternal Aceh. brutalitas. adil secara sosial demokratis secara politik dan partisipatif secara budaya hanya menjadi impian dan pepesan kosong belaka. untuk membuktikan bahwa hukum bisa ditegakkan sebagai penyangga perdamaian. Reintegrasi di Aceh masih membutuhkan iktikad baik dan komitmen semua pihak dan ketegasan aparat hukum. Komisi Peralihan Aceh (KPA). Mulai dari insiden penganiayaan terhadap tiga aparat TNI di Trumon Timur. maka dapat dipastikan segala bentuk kekerasan akan semakin me-lembaga. dalam hal ini kepolisian dan masyarakat peradilan untuk secara konsisten dan konsekwen tetap menjalankan proses penegakan hukum yang fair dan tidak diskriminatif. Momen lain yaitu.BERITA DAERAH BERITA DAERAH Penegakan Hukum Prioritas Menuju Damai Setelah rentetan kekerasan dan kriminalitas di penghujung tahun 2006 yang lalu belum terlupakan dari memori kolektif kita. objektif dan tidak pandang bulu tetap harus dilakukan dan lagilagi ini merupakan wilayah kewenangan dari kepolisian.

meskipun angka kekerasan menurun drastis dan kondisi Aceh sudah damai. peran polisi bersifat fleksibel dalam mengatasi persoalan sosial di masyarakat.BERITA DAERAH seluruh masyarakat bahwa perdamaian ini adalah pintu masuk untuk mewujudkan cita-cita sosial yang diidamkan. penarikan senjata ini dilaksanakan mengikuti instruksi Kapolri pasca terjadinya penembakan yang mengakibatkan gugurnya Wakapolwiltabes Semarang. Aceh Utara (1/5/2006) dan kasus pemukulan yang mengakibatkan kematian Satpam Dinsos NAD.02/III-IV/2007 14 . kasus pemukulan oleh Brimob di kec. menjalankan UU No. Dalam era terbuka saat ini. Karena itu dibutuhkan pelaksanaan psikotes secara reguler. Banda Aceh (25/10/2006). lantaran minimnya pemahaman polisi tentang norma-norma HAM. mengabaikan pelatihan skill lainnya seperti metode persuasi. Pihak Kepolisian untuk segera menjalankan fungsinya selaku aparat penegak hukum dan pengayom masyarakat dan menyelesaikan insiden kekerasan dan tindakan kriminal. Aceh Timur (7/3/2006). Kasus penembakan Wakapolwiltabes Semarang menunjukkan bahwa persoalan psikologi kepolisian tidak hanya terjadi di wilayah konflik. Diantaranya kasus pemukulan dan penembakan di kec. Sementara lembaga-lembaga internasional yang sedang melakukan proses rehab dan rekons di Aceh bisa menghormati proses hukum dengan tidak melibatkan TNI sebagai penjaga keamanan. mediasi atau negosiasi. Termasuk pula mendesak TNI untuk tidak mengintervensi proses hukum kasus Alue Dua dengan memberi kewenangan sepenuhnya kepada polisi untuk mengusut kasus tersebut secara objektif. kasus penembakan di kec. meminta semua pihak untuk menghormati MoU Helsinki. mengejar pelaku kasus kriminal pascadamai.13 tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban) “Negara-negara pihak harus mengambil tindakan-tindakan untuk memerangi perdagangan gelap anak-anak dan tidak dipulangkan kembali anak-anak yang ada di luar negeri” (Pasal 11 (1) Konvensi Hak Anak) Berita Kontras No. Peristiwa penembakan antar sesama polisi merupakan salah satu kasus penyalahgunaan kewenangan oleh institusi kepolisian dalam menggunakan senjata api. AKBP Drs Lilik Purwanto yang ditembak bawahannya. Kepolisian juga masih mengedepankan mekanisme penyelesaian internal bila mendapati anggotanya melakukan suatu kejahatan. Nibong. Dimana. Irjen Pol Bachrumsyah Kasman tentang penarikan senjata api aparat Polri di Aceh patut mendapat dukungan penuh semua pihak. kepolisian. Di Aceh misalnya. pascapenandatanganan MoU pemerintah RI dan GAM di Helsinki. mediasi.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh dan menjaga perdamaian di Aceh. unsur pimpinan KPA. mulai dari melumpuhkan teroris. hingga menerima pengaduan dari masyarakat. tidak hanya reaksi dari suatu peristiwa. Padahal ini semua penting untuk tidak membiasakan kepolisian selalu menggunakan metode kekerasan (senjata api). penggunaan metode kekerasan masih juga dilakukan aparat kepolisian dalam menyelesaikan permasalahan. Peudawa. Kebutuhan publik akan fungsi kepolisian sangat berbeda dengan peran militer. sesegera mungkin kepala pemerintahan Aceh. Indra Makmur. Hal ini mengakibatkan kontrol eksternal terhadap institusi kepolisian menjadi lemah dan tidak efektif. melakukan rembuk guna mencari solusi yang tepat untuk mewujudkan normalisasi dampak dari rentetan kekerasan yang terjadi. Pada akhirnya. Kultur sulit diubah Persoalan lainnya adalah kultur “militeristik” yang masih sulit diubah dalam kepolisian yang sudah menjadi institusi sipil.*** Dukung Penarikan Senjata Polisi di Aceh Instruksi Kapolda NAD. Masih juga ditemukan tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dengan atau tanpa senjata api. Briptu Hance di kantor Poltabes Semarang (14/3). Lebih jauh menilik semua permasalah yang ada tersebut. Aceh Timur (18/4/2006). Lumrah kiranya. tetapi diluar wilayah konflik juga didapati polisi yang mengalami gangguan psikologi.*** “Perlindungan saksi dan Korban bertujuan memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana” (Undang-Undang No. Di sisi lain pelatihan penggunaan senjata api terus diutamakan. Sementara. menginvestigasi kasus pidana.

sungguh ironis seorang polisi juga menggunakan senjata api dalam menyelesaikan problem dengan atasannya. yang salah satunya mencakup penggunaan senjata api. Sejauh ini menguatnya posisi Kepolisian RI tidak diimbangi oleh akuntabilitasnya. namun kasus ini tetap harus diproses secara hukum. kepolisian mengedepankan mekanisme penyelesaian internal bila mendapati anggotanya melakukan suatu kejahatan. Padahal ini semua menjadi begitu penting agar tidak membiasakan kepolisian selalu menggunakan metode kekerasan (senjata api). Sumatera Utara.BERITA DAERAH Tindakan Premanisme ala TNI AU Perkelahian antara beberapa warga dengan dua prajurit TNI AU paska kebut-kebutan di jalan raya Medan-Sibolangit. Sementara polisi yang melihat kejadian itu tidak mampu berbuat banyak. persoalan sistemik itu menyangkut mutu anggota Polri yang masih minim akibat proses seleksi dan pelatihan. membuat korban enggan melaporkan kasus ini ke polisi militer seperti yang dikatakan oleh Sekdes Batulayang. Dikantor polisi ini ke 3 warga itu masih mengalami penganiayaan dari para tentara itu. atau negosiasi. Menurut KontraS. Kapolresta Pancur Batu. mediasi. Trauma yang dialami oleh korban. Persoalan ini tidak dapat lihat sebagai kejahatan personal belaka. dan menutup-nutupi fakta yang sebenarnya terjadi. Dengan menggunakan dua bus dinas TNI AU. Hal lainnya menyangkut tentang minimnya kontrol eksternal terhadap institusi kepolisian. malah berakibat tragis. tidak melindungi tersangka utama. Atas peristiwa itu. Atas dasar itu KontraS selalu mendesak Kepolisian RI agar segera mengadopsi prinsip perilaku aparat penegak hukum (Code of Conduct for Law Enforcement Officials) dan prinsip dasar penggunaan kekerasan dan senjata oleh aparat penegak hukum (Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials). Bahkan seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya dari pemukulan yang dilakukan oleh tentara tersebut tak terhindar dari tindak kekerasan. Polisi dan TNI masih dituntut untuk bersikap profesional dalam menjalankan fungsinya masing-masing. Pernyataan ini seolah menegasikan kewajiban yang seharusnya dijalankan untuk mengusut secara tuntas apa sebenarnya yang terjadi. Masyarakat masih mengalami ketakutan pasca kebrutalan TNI AU di kampung mereka. KontraS Sumatera Utara mendesak Panglima TNI cq KASAU cq Danlanud mengusut tuntas kejadian pemukulan warga sibolangit yang melibatkan anggota TNI AU. Meski kita menaruh apresiasi terhadap pernyataan Kapoldasu yang menyesalkan kejadian pemukulan saksi di Polsek Pancur Batu. Yang unik. Untuk yang terakhir ini misalnya. Pasca pemisahan Kepolisian dengan TNI belum menjawab persoalan apakah polisi bisa dikontrol secara efektif. menginvestigasi kasus pidana rumit. Warga yang tadinya melerai perkelahian itu justru menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh puluhan prajurit TNI AU yang melakukan balas dendam terhadap perlakuan yang dialami 2 rekannya sebelumnya. Belum cukup dengan aksi kekerasan tersebut.02/III-IV/2007 .*** 15 Berita Kontras No. Dharma Tarigan. kali ini. Peristiwa ini terjadi pada Minggu 25/3. mediasi. Bukan hanya hukuman administrative-indispliner seperti yang telah diberikan TNI AU kepada anggotanya saat ini. hingga menerima pengaduan dari masyarakat. hanyalah tindakan tersebut dilakukan antar petugas kepolisian sendiri. Sementara itu. Dalam era terbuka saat ini. Dan menindak tegas anggota TNI AU yang terbukti terlibat pemukulan warga Sibolangit secara hukum. Ditambah. kultur militeristik dengan mengedepankan metode kekerasan masih sulit diubah dalam kepolisian yang sudah menjadi institusi sipil. Meskipun kedua belah pihak ingin menempuh jalan damai. Kasus ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena akan membuka peluang pelanggaran HAM terhadap masyarakat sipil di masa mendatang oleh aparat. Polsek Pancur Batu juga tidak memberikan tanggapan positif kepada korban yang berniat melaporkan kejadian. metode persuasi. Polisi lalu membawa ke 3 orang itu ke dalam sel untuk menghidari amukan dari tentara tersebut. AKBP Lilik Purwanto memang pantas disesalkan. Pelaku harus mendapat hukuman agar menimbulkan appropriate punishment (aspek jera). Karenanya. namun merepresentasikan persoalan akut dan sistemik di dalam tubuh institusi Kepolisian. Warga memilih bungkam menutup rapat kejadian yang mereka alami minggu sore itu. namun kita tetap mengharapkan sebuah tindakan nyata untuk mengusut tuntas. KontraS juga meminta Kapolri termasuk Kapolsek Pancur Batu memberikan perlindungan kepada masyarakat korban untuk mengadukan kasus ini ke POM. peran polisi bersifat fleksibel dalam mengatasi persoalan sosial di masyarakat. Keduanya merupakan norma HAM universal yang dibuat berdasarkan pengalaman kasus penyalahgunaan kewenangan oleh institusi kepolisian. 3 orang warga dibawa paksa ke Polsek Pancur Batu. Tanpa basa-basi mereka langsung mendaratkan pukulan dan tendangan terhadap siapa saja yang berada disekitar lokasi. malah meminta persoalan ini tidak besarbesarkan. Aksi kekerasan dan penganiayaan ini jelas menggambarkan kurangnya perlindungan saksi pelapor dari aparat kepolisian. Kebutuhan publik akan fungsi kepolisian sangat berbeda dengan peran militer. Pelatihan penggunaan senjata api terus diutamakan dan mengabaikan pelatihan skill lain yakni. Wakapolwiltabes Semarang. dimana hanya sedikit perhatiannya pada norma HAM.*** Anggota Polri Tembak Atasannya Insiden penembakan oleh Briptu Hance Christian pada atasannya. mulai dari melumpuhkan teroris. sekitar 50 prajurit TNI mendatangi tempat pertikaian yang terjadi satu setengah jam sebelumnya.

kena pukul popor senjata dan tendangan sepatu lars polisi berulang-ulang. apalagi kemudian mengakibatkan kematian empat orang (Jurais. Padahal kalau mau. Pukul 09. Dan sekitar pukul 09. Polisi. Sebelum kejadian. Pada (28/02). Massa tidak puas dengan cara-cara pemindahan operasional pemerintahan Kabupaten Bangkep secara paksa. Jauh dari persuasif Dengan demikian. Di sinilah peristiwa nahas itu bermula. Kapolda Sulteng dan Kapolres Bangkep. Satu orang yang belakangan diketahui bernama Jurais. luka-luka maupun meninggal. Sementara disisi lain. Di titik-titik inilah jatuh korban. Serta akibat dari tidak adanya lembaga politik yang memayungi dan melakukan pengawasan terhadap kerja-kerja Polri. Hingga saat ini. konsentrasi massa meningkat karena berhembus isu ada tambahan jumlah personil Polri untuk membebaskan kantorkantor penyegelan secar paksa. penyiksaan. bagaimanapun kerasnya. tidak dapat membenarkan polisi untuk melakukan tindakan membabi buta dengan melakukan penembakan. protes warga terhadap soal pemindahan ibukota Kabupaten itu. di bawah Keraton. penganiayaan. (Sepanjang 2006. Ketidak sepadanan upaya hukum ini akan mengakibatkan konflik baru yang kontraproduktif. Apel baru saja bubar. Berita Kontras No. Ilham). Termasuk menyesalkan diturunkannya pasukan TNI dari Kodim 1306 Luwuk. di sekitar SMP Negrei 1 Banggai. 115 luka. penembakan. penggunaan senjata api ini juga hanya dimaksudkan sebagai upaya melumpuhkan bukan mematikan. KontraS menilai tindakan penembakan dan kekerasan oleh polisi ini tidak terlepas dari perintah tembak ditempat yang dikeluarkan oleh Kapolda Sulteng. sebagai langkah yang tidak dapat dihindari dan bertujuan untuk melindungi nyawa. Polisi bisa berinisiatif melibatkan tokoh-tokoh masyarakat untuk menghentikan kemarahan massa melihat telah jatuhnya korban di pihak mereka akibat kebrutalan aparat.00. Ridwan.BERITA DAERAH Tragedi Banggai Sulawesi Tengah Akibat Kekerasan Polisi Empat Warga Tewas KontraS mengecam keras tindak kekerasan yang dilakukan oleh polisi kepada warga (28/2) di tengah aksi penolakan perpindahan ibukota Kabupaten dari Banggai. di sekitar Rumah Dokter Gafur dan sepanjang jalan depan Kantor Kejaksaan menuju Perempatan Lonas. misalnya dengan memanfaatkan alat pengeras suara Masjid Jami Attaqwa Banggai yang juga berada di sekitar lokasi konsentrasi kekerasan. Tidak cukup dengan itu polis terus memburu massa dengan pentungan dan kokangan serta tembakan senjata senjata. Sulawesi Tengah. penculikan. Dan penggunaan senjata api itu merupakan langkah terakhir (tindakan ekstrim). dua diantaranya adalah orang yang tengah melintas di depan Polsek Bangkep.30. ambulance dari RSUD Banggai datang untuk mengangkut Jurais. Dari rekaman video serta keterangan para saksi di lapangan.) Pada kasus Banggai. misalnya. namun hal itu dipergunakan apabila mutlak diperlukan dan sebatas yang diperlukan untuk melaksanakan tugas mereka. polisi masih melakukan pengejaran terhadap sejumlah orang tokoh masyarakat yang dianggap sebagai dalang atas aksi yang dilakukan oleh warga Banggai tersebut. KontraS mencatat adanya 91 peristiwa yang terdiri dari pembunuhan. tidak terlihat adanya upaya pimpinan Polri untuk menindak aparatnya yang telah melakukan tindak kekerasan/pidana yang telah melampaui batas tersebut. tidak berupaya melakukan pendekatan dialog dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemimpin massa. misalnya.02/III-IV/2007 16 . terlihat sejak awal polisi tidak bermaksud melakukan pendekatan persuasif. pada saat massa di depan Kantor Bupati Bangkep melakukan pembakaran ban di luar Kantor Bupati. sementara aksi lempar melempar batu diselingi tembakan senjata aparat tejadi di sekitar Kantor Polsek Banggai. Polisi malah melakukan tindakan represi. dan penangkapan sewenangwenang yang dilakukan oleh polisi. Alih-aih menghadapi massa yang tidak terlalu besar itu dengan ramah. Sehingga Polri menjadi institusi secara mandiri lepas dari kontrol politik yang seharusnya mengarahkan kebijakan dan melakukan fungsi pengawasan terhadapnya. Tindakan ini memperpanjang daftar penyalah gunaan wewenang yang dilakukan Kepolisian Republik Indonesia oleh Polri. tidak melewati prosedur administrasi pemerintahan yang benar. Tindakan tersebut mengakibatkan 19 orang tewas. mendorong-dorong dan malah melakukan pemukulan terhadap massa. Meskipun polisi mempunyai kewenangan untuk menggunakan tindakan keras. karena perbantuan oleh TNI ditentukan oleh otoritas sipil dan didasarkan pada situasi dimana polisi tidak dapat menanganinya. Sebagian massa yang memiliki sepeda motor turun menuju kantor Polsek dengan berboncengan. telah jelas bahwa jatuhnya korban yang begitu banyak disebabkan oleh pendekatan aparat Kepolisian yang represif dan jauh dari pendekatan persuasif seperti yang digembar-gemborkan Kadiv Humas Polri. massa memang menyegel kantor-kantor pemerintah sebagai bentuk protes atas dilaksanakannya Sidang Pleno DPRD Kab Bankep di Salakan. beredar kabar puluhan tambahan personil Polisi sedang melakukan apel bersenjata di Kantor Polsek (yang berjarak lebih kurang 2 km di sebelah Utara Kantor Bupati Bangkep). Ardan Bambang. Namun. dan tindakan brutal.

Sulawesi Tengah (Sulteng). Menurut Edmond. adalah mengaudit seluruh persenjataan (senpi) dan Amunisi disemua tingkatan Polres yang mencakup Polsek diseluruh wilayah kerja Polda Sulteng. Korban peluru nyasar kembali jatuh. yakni menyangkut psikologi pemegang senpi itu sendiri. Terakhir. Kapolri selayaknya mengambil tindakan tegas aparatnya baik pada tingkat komando maupun pelaku dilapangan yang telah mengakibatkan jatuhnya korban dikalangan warga sipil melalui proses peradilan. masih cukup banyak senjata api ilegal yang beredar di Poso.BERITA DAERAH Atas dasar itu. melakukan pemeriksaan atas Senjata Api (senpi) pada anggota Polresta Palu. polisi tidak cukup hanya menangkap para pelaku teror. “Polisi tidak cukup hanya mengatakan senjata yang dimiliki DPO (Daftar Pencarian Orang) berasal dari Filipina dan eks kerusuhan Ambon. dimana ada anggota Polsek Buol yang telah melakukan penembakan kepada warga sipil. menjatuhkan hukuman yang tegas kepada anggota kepolisian yang terbukti menyalahgunakan penggunaan senpi. Pengawasan masuknya senjata api juga sulit karena banyaknya celah di sepanjang pantai Indonesia yang mudah dimasuki pengedar senjata ilegal. Seperti tahun 2006. Selanjutnya secepatnya pula melakukan kembali uji psikotes kepada semua anggota polisi yang memegang senpi. “Polisi tidak cukup hanya mengatakan senjata yang dimiliki DPO (Daftar Pencarian Orang) berasal dari Filipina dan eks kerusuhan Ambon. karena tidak menutup kemungkinan ada yang hilang. kemudian juga peristiwa korban jiwa akibat peluru nyasar terjadi di Palu. Sulawesi Tengah. Akan tetapi. jika ingin menyelesaikan persoalan keamanan Poso sampai ke akarnya. “ kata Sindra. langkah itu tidak diikuti pengusutan dari mana dan bagaimana pelaku teror itu mendapat senjata api. tetapi juga harus menangkap aktor yang mengedarkan senjata itu. Perumnas Balaroa. Namun. Sedangkan Komnas HAM segera melakukan penyelidikan atas peristiwa ini dan mengusut tuntas serta meminta pertanggungjawaban Kapolres Banggai dan menyeret para pelaku penembakan ke pengadilan. penembakan yang dilakukan Bripda (Andri) menelan korban jiwa yang mengakibatkan korban Akbal Setyawan (27) warga Jalan Melati. Padahal. juga TNI. Ada baiknya banyak kasus kekerasan polisi ini menjadi bahan bagi Presiden dan DPR meninjau kembali kewenangan Polri pada UU No. karena senpi ini merupakan jenis senjata yang sangat berbahaya dan mematikan apabila tidak diawasi penggunaannya secara ketat. Lebih lanjut Edmond mengatakan langkah polisi melakukan penegakan hukum terhadap warga Poso yang masuk dalam 17 Berita Kontras No. Wakil Kepala Polda Sulteng Komisaris Besar I Nyoman Sindra mengatakan. Kecamatan Palu Barat Meninggal dunia pada dini hari (14/1) lalu. Langkah ini sebaiknya diikuti oleh Polres lainnya diwilayah kerja Polisi Daerah (Polda) Sulteng. *** Usut Tuntas Semua Senjata Api Di Poso! Langkah Polisi Resort Kota (Polresta) Palu. terutama yang pernah terjadi kecelakaan maupun penyalahgunaan Senpi. KontraS sendiri menilai langkah awal yang seharusnya dapat dilakukan polisi. Menanggapi kondisi tersebut. sehingga bukan tidak mungkin suatu saat nanti senjata itu akan digunakan untuk melakukan kejahatan.2/2002. “Pengusutan itu kami lakukan bersama-sama dengan sejumlah polda terkait. bahkan dengan Filipina dan Malaysia. “ daftar pencarian orang dan anggota kelompok bersenjata Gebangrejo lainnya adalah langkah maju untuk menyelesaikan persoalan keamanan di Poso. tetapi juga harus mengusut dari mana mereka mendapatkan senjata api dalam jumlah cukup banyak. tetapi juga harus menangkap aktor yang mengedarkan senjata itu. karena bisa jadi ada kemungkinan ada suratsuratnya yang telah hilang atau kadaluarsa.*** Pemeriksaan ini harus dilakukan secara serentak dan merata pada semua tingkatan Polres di Sulteng. Harus usut tuntas Koordinator KontraS Sulawesi Edmond Siahaan menilai bahwa polisi tak pernah berusaha mengusut tuntas dan transparan peredaran senjata ilegal di Poso. Kemudian. layak dianggap sebagai langkah yang maju. semua senjata api yang ditemukan dan disita dari DPO telah didata dan tengah diselidiki asalnya dari mana. mengenai administrasinya atau surat-surat kelengkapan. Sayangnya. Dimana pemeriksaan Senpi ini juga meliputi pemeriksaan mengenai jumlah senpi dan amunisi yang sedang dipergunakan oleh anggota kepolisian maupun yang berada di dalam Gudang.02/III-IV/2007 . Termasuk pemeriksaan penting lainnya. “ kata Edmond. Sindra mengakui pengusutan itu tidak mudah sebab sebagian besar senjata api yang ditemukan di Poso nomor registrasinya telah dihapus.

Rasanya baru kemaren kita mendengar seorang praja asal Jawa Barat. sehingga menjadi yang diberikan setiap tahun. akibat penganiayaan yang dilakukan oleh kakak kelasnya di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). tempat dimana ia menuntut ilmu demi masa depannya(2003). Pola ini justru dilakukan di bawah kewenangan insitusi pendidikan kedinasan yang diselenggarakan oleh negara.13 tahun 2006. Kebijakan ini memang patut pendidikan yang sarat tindakan kekerasan. namun KontraS sendiri memandang langkah itu tiap tahun ada praja yang meninggal akibat pola pendidikan tak cukup. segala bentuk. KontraS mendorong diterapkannya langkah-langkah khusus oleh pemerintah bagi pembenahan institusi dan sistem pendidikan di IPDN. pihak kepolisian harus segera melakukan pengusutan terhadap tanggungjawab unsur pimpinan IPDN. Ironisnya. yang mengakomodir penyimpanganaksi barbar yang terus terjadi di penyimpangan lain yang sangat tidak lembaga pendidikan ini. Entah apa yang telah terjadi di dalam kampus yang konon harusnya mencetak calon pamong praja. hanya memberikan pelatihan tambahan bukan yang terus berulang. Dengan dalih menanamkan kedisiplinan. kita kembali terhenyak dengan berita tewasnya Praja Cliff Muntu (20 thn). Metode penyiksaan menjadi salah satu pola yang secara tak langsung dilegalkan dan dilakukan secara sistemik. Inu Kencana praja bukan semata-mata karena lemahnya dari dunia pendidikan Syafei.REMPAH-REMPAH Maut Berulang Di IPDN Awal April lalu tepatnya (02/04). Pelanggaran HAM berat Lebih jauh dari semua itu. hanya tiga tindakan kekerasan yang terus berulang. baik dosen. setiap semester satu merupakan kesalahan sistematis yang dilakukan sampai keakar-akarnya. Salah satu kebijakan yang Sementara dengan terulangnya kembali peristiwa ini. maka kasus kematian karena kekerasan hal itu menjadi pola. Presiden menghargai dan merendahkan harkat dan pun membentuk tim evaluasi martabat manusia.*** Berita Kontras No. Departemen Dalam Negeri mengatakan selama periode 1993-2007. institusi itu kemudian menghiasi catatan perjalanannya dengan sejumlah aksi kekerasan. dihapus sampai keakar-akarnya. yakni pelanggaran terhadap hak hidup dan hak untuk tidak disiksa. Bagaimana tidak. sejumlah korban yang berasal dari siswanya sendiri terus berjatuhan. Momentum ini kembali menegaskan pentingnya Lembaga Perlindungan Saksi Korban. Wahyu Hidayat. dikeluarkan oleh Pemerintah adalah menghentikan sementara menunjukkan tidak adanya evaluasi reguler terhadap sistem penerimaan praja baru di IPDN. pemerintah juga harus menjamin perlindungan atas para saksi yang mengungkap fakta atas peristiwa kekerasan yang telah terjadi selama ini. untuk membenahi lembaga ini. nyawa melayang di kampus yang oleh Pemerintah. Pemerintah harus membuka diri atas koreksi penyalahgunaan pendidikan. kontrol yang dilakukan terhadap praja tetapi yang harus dihapus Artinya. maupun materi ajar Agaknya Presiden terusik dengan kebijakan.02/III-IV/2007 18 . Mengapa tak cukup? Karena tindakan tersebut harusnya juga diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap bangunan sistem pendidikan serta membuat pengawasan intensif atas pelaksanaannya selama jangka waktu yang jelas. Tinta bercampur darah terus ditorehkan oleh lembaga pendidikan ini. sesuai visinya. Sejak sekolah ini didirikan pada tahun 1999. Sekali lagi kita mengutuk tindak biadab dalam dunia pendidikan ini. Kesalahan ini bisa dilihat dari Apalagi melihat penghuninya terikat sumpah eksistensi lembaga yang bertentangan dengan menaati hukum karena berstatus UU Pendidikan Nasional (Lembaga Kedinasan tindakan kekerasan pengawai negeri ini. malah sangat termasyur oleh budaya kekerasan yang seolah-olah dilembagakan. juga harus merenggang nyawa ditangan senior-nya. sehingga menjadi kebijakan. besarnya alokasi dana pola. Cliff adalah korban ke-35. Apalgi melihat Namun. walaupun hampir kita dukung. menyediakan pemimpin pemerintahan yang profesional. demokratis dan berwawasan kenegarawanan. Dan selama proses pengusutan berlangsung. menyelenggarakan pendidikan yang setara maka hal itu menjadi Evaluasi menyeluruh dengan SI atau Diploma). alumni maupun pihak-pihak yang mengetahuinya. di dalam kampusnya sendiri. tercatat 27 praja Ini adalah kebiadaban dari dunia pendidikan yang harus meninggal dalam pendidikan. yang memiliki tujuan mulia. katanya. termasuk memberikan perlindungan bagi saksi dan korban yang membuka fakta kekerasan. yang terjadi di dalam kampus. seperti diamanatkan oleh UU No. cara dan praktek kekerasan di IPDN telah mengarah pada tindakan pelanggaran HAM berat. dari pengakuan Penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh Ini adalah kebiadaban seorang dosen IPDN. Di sisi lain. yang menyalahi hukum dan HAM.

Peristiwa ini terkait erat dengan sejumlah fakta-fakta yang ada. ditemukannya kembali bangkai helikopter di tempat yang sama. pilot helikopter. Selang beberapa jam helikopter tidak kalung dan lain-lainnya untuk kembali dan dinyatakan hilang.REMPAH-REMPAH 13 tahun Misteri Helikopter HS 7060. Ori Rahman. mengambil peti berisi pilot helikopter. pada saat keluarga korban (6/04/ dan. untuk keperluan melakukan di Medan maupun Edu Sinaga. Saat para korban tulang-belulang para korban di akan berangkat dari Bandara Polonia rumah sakit Kodam I Bukit Medan. *** Sengaja menutupi Kontras sendiri menduga bahwa aparat TNI telah sengaja menutup-nutupi kebenaran di balik peristiwa ditemukannya bangkai pesawat. shooting udara bagi pembuatan film anggota SAR yang ikut melihat dokumenter PLN yang membawa ditemukannya bangkai kru film Burhan Piliang. Co1996). kru film lainnya sempat Barisan. perintah Kodam I/BB. Keluarga menampilkan helikopter HA 7060 hanya diperlihatkan barangyang ditumpangi para korban. kartu pers. seorang Dok. Pada (2/04/1996). Jenazah lalu diterbangkan secara sembunyi-sembunyi ke Bandung dengan menggunakan helikopter AD. Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. berdasarkan kesaksian penyewa (pihak production house) maupun foto-foto saat korban akan berangkat.02/III-IV/2007 . aparat TNI juga meminta pada keluarga korban pada saat helikopter pertama kali ditemukan tahun 1996 tidak mengungkapkan peristiwa tersebut pada media. Helikopter tersebut diBKO-kan kepda Kodam I/Bukit Barisan dan pemberangkatan tersebut berdasarkan pada 19 Berita Kontras No. Fakta lain yang menguatkan. Diduga kuat bangkai helikopter tersebut merupakan sisa bangkai saat ditemukan Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa 13 tahun yang pertama kali (1996) dan sengaja tidak dievakuasi dan lalu (22/08/1994). dengan hanya dimasukkan dalam tas travel dan bukan peti jenazah. sama. Keluarga Kelompok pencinta alam di Medan korban tidak diperkenankan serta aparat TNI melakukan pencarian selama satu bulan. seorang fotografer jam. diantaranya sanggahan aparat TNI yang menyatakan bahwa tidak ada penyewaan helikopter milik TNI kepada sipil. Padahal. Sebelumnya. disembunyikan untuk menutupi bukti bahwa para korban Helikopter disewa oleh sebuah production house selama dua menyewa helikopter milik TNI. Salah satu dari jenazah yakni jenazah Diaz Barlean juga dikirimkan ke Jakarta. Disamping itu. Ahmad Faisal. Tidak menutup kemungkinan. Lettu Alt. jelas bahwa helikopter yang digunakan merupakan milik TNI dengan nomor HS 7060 dan penyewaan tidak memiliki relasi dengan Kodam Bukit Barisan. untuk membuka peti tanpa disertai keterangan resmi serta tanpa Namun tidak menampakkan hasil sehingga pencarian santunan dan permintaan maaf. Oleh karenanya dengan semangat profesionalisme TNI. yang diduga hilang pada tahun 1994. mengenali korban. Medan sempat mengabadikan foto-foto yang mengalami kesulitan. Bukti Beban Buruk Bisnis Militer di Indonesia KontraS mendesak Kepolisian RI secepatnya menjelaskan fakta yang sebenarnya di balik peristiwa penemuan bangkai helikopter jenis Bolcow HS 7060 milik TNI AD di Deli Serdang Sumatera Utara (21/03/2007). Kecamatan Kutalimbaru. Irawan CP. Asep Mulyadi. KontraS mendesak aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap peristiwa misterius ini.Pribadi keluarga helikopter pertama menyatakan fotografer Majalah Prospek yang bahwa penemuan bangkai juga ayah dari salah seorang staf kedua ada pada lokasi yang Kontras.30 Wib. Bukit Barisan Medan. Fakta-fakta tersebut menguatkan bahwa aparat TNI telah melakukan bisnis militer illegal dengan menyewakan helikopter pada tahun 1994. Sumatera Utara. Kabupateng Sidikalang. mahasiswa IKJ. Diaz Barlean. Helikopter HS 7060 TNI AD ini hilang. dompet. Desa Sukamakmur. Tim mengevakuasi tulang belulang dan selanjutnya dibawa ke RS. pada April 1996 helikopter sejenis juga ditemukan di Dusun Sumberikan II. maupun penemuan 21 Maret 2007 (yang kedua). Letda Czi. ketiadaan proses hukum pada saat itu justru melanggengkan bisnis sejenis hingga saat ini. empat orang masyarakat menemukan bangkai helikopter di lembah antara gunung Sibayak Tanah Karo dan gunung Pintau di daerah Dairi. sejak penemuan pada 2 April 1996 ( yang pertama). Selanjutnya akhir Maret 2007 lalu. kameramen dan mahasiswa IKJ. KTP. dihentikan. sejak pukul 10. Temmy Setiawan. barang milik keluarga seperti Saat hendak melakukan perjalanan sepatu. KontraS juga meminta Mabes TNI membuka akses seluasluasnya terhadap penyelidikan yang profesional bagi terungkapnya kejelasan masalah ini.

Romo Sandyawan (TRK. Memasuki tahun ketiga jalannya Pemerintahan Negara hasil Pemilu 2004. Tujuan utamanya menentang politik kekerasan dan ikut menggulirkan perubahan dan gerakan reformasi 1998. Parlemen kini tak lebih dari sekadar pasar politik. KontraS tetap ingin memperingati hari lahirnya KontraS dalam rasa syukur. ini merupakan perilaku pongah dari kekuasaan yang Berita Kontras No. pembunuhan Munir. partai politik justru gagal. Tak lama. 20 Maret 1998. KontraS didirikan. yaitu kemanusiaan dan keadilan. serta lemahnya penanganan berbagai peristiwa kemanusiaan. Pemerintahan yang kian reaksioner. dan mencitacitakan pemerintahan rakyat. Di masa-masa menjelang pendiriannya. Tindakan politik para elit kekuasaan harus ditujukan bagi pencapaian cita-cita itu. Sikap ini juga cermin dalam kasus penghilangan paksa aktivis 1997-1998. Bukan sekadar pemerintahan mayoritas. termasuk tawar menawar dan jual beli keadilan. Bahwa cita-cita itu telah dikhianati oleh sikap Pemerintah dan partai politik di DPR yang mengabaikan keadilan bagi korban-korban penembakan mahasiswa Trisakti. yakni keadilan dan kemanusiaan.*** Sebuah bentuk penghianatan Ini merupakan bentuk penghianatan terhadap perjuangan rakyat yang meyakini demokrasi sebagai pilihan rasional. partai politik dan LSM yang dihilangkan akibat politik Soeharto yang anti keadilan dan kemanusiaan. perjuangan HAM merupakan perjuangan untuk membela kemerdekaan dan demokrasi. Memperingati HUT IX. jalan Borobudur Jakarta ini disaksikan oleh sejumlah tamu. dan Politisi yang beretika murahan. dimana para pemimpin politik bersemangat menentang penindasan. Termasuk sejumlah media yang setia menjadi teman dalam mendukung perjuangan melawan segala bentuk tindak kekerasan dan pelanggaran HAM yang menjadi motto utama perjuangan KontraS selama ini. Yang terlihat justru. Tampak hadir dalam acara peringatan tersebut adalah Asmara Nababan (Direktur Demos). Sebab kita semua telah berkomitmen untuk menolak tunduk pada politik anti keadilan dan kemanusiaan.REMPAH-REMPAH HUT IX KontraS Pemimpin Politik Gagal Jadi Layar Perahu Demokrasi Sejumlah bendera partai politik dipegang oleh korban pelanggaran HAM. dalam situasi seperti ini. tak hanya mengabaikan rakyat. korban. KontraS merasa belum melihat tanda-tanda keadilan di tegakkan untuk memperbaiki kondisi penegakan HAM di Indonesia. Namun kebebasan ini barulah setetes air dari samudera hak dan kebebasan asasi manusia yang luas. kepentingan rakyat sebagai pedoman negara dan pencabutan mandat penguasa bila tak membela kepentingan rakyat. Karena itu Partai politik seharusnya mampu menjadi layar dalam perahu demokrasi Indonesia untuk mencapai cita-cita demokrasi itu sendiri. sama saja kita lupa bahwa demokrasi punya cita-cita. hukum yang kian lemah. Karena. Zumrotin K Soesila (Wakil Ketua Komnas HAM). Tragedi 1965. Tragedi Mei 1998. Tapi jika hanya itu. MM Billah (anggota Komnas HAM) dan lainnya. Oleh karena itu. namun juga sinis terhadap tuntutan rakyat yang dinilainya sebagai ancaman kekuasaan. Namun kenyataannya. yang di dalamnya bisa terjadi transaksi apa saja. para aktivis. KontraS mencoba mengajak korban. Pengulungan sejumlah bendera partai politik yang dilakukan oleh korban dan keluarga korban pelanggaran HAM bertempat di kantor KontraS. kepentingan rakyat seharusnya menjadi pedoman moral elit politik. Talangsari 1989. Parlemen tak lagi bisa diharapkan menjadi tempat riuh dimana pemimpin politik memperjuangkan nasib rakyatnya. Sebagai pemilik kedaulatan. Jika itu terjadi. penghargaan setiap manusia. Makna dari sebuah bentuk kekecewaan untuk para pemimpin politik negeri. penggusuran paksa di mana-mana. kita tetap akan melanjutkan perjuangan HAM. KontraS tetap merasa bersyukur dengan keadaan hak asasi manusia dan kebebasan dari reformasi yang ada. perampasan lahan petani. Meski keadaan ini tak membahagiakan. Gagal jadi layar Partai politik adalah pilar demokrasi. KontraS bersama para korban tak akan memilih diam. Ada makna mendalam dari peristiwa ini. lumpur Lapindo. kerabat dan pendukung KontraS untuk memberikan catatan politik atas agenda reformasi. Parpol gagal menjadi penyalur aspirasi rakyat korban ketidakadilan untuk mendapatkan pertolongan. Semanggi I dan II. Pemerintahan rakyat yang sesungguhnya itu bukan sekadar pemerintahan hasil pemilu. benderabendera nan penuh warna berhiasan logo partai tertentu digulung rapi. Barangkali inilah puncak dari peringatan Hut KontraS yang IX (20/03). Pertimbangan utamanya adalah cita-cita demokrasi itu sendiri. Gerakan reformasi 1998 yang diperjuangkan dengan darah dan airmata meyakini demokrasi sebagai pilihan terbaik. melindungi hak rakyat kecil. Ini memang demokrasi. bukan justru dikesampingkan demi kepentingan dan ideologi semu. Padahal rakyat mendambakan pulihnya kehidupan masyarakat seperti saat berdirinya republik Indonesia. banyak aktivis mahasiswa. Reformasi meneguhkan kembali cita-cita pendirian republik. Tanjung Priok 1984. Romo Benny (KWI.02/III-IV/2007 20 . PHK pekerja/buruh. dipilih langsung oleh rakyat.

sampai pada penerapan politik diskriminasi hak-hak sipil dan ekonomi para korban. Hal ini ironis. Komnas HAM harus secepatnya juga melakukan pemeriksaan (statement taking) dari para korban dan saksi peristiwa 1965. terutama Amandemen II (2000). Kita wajib mengkhawatirkan jika pengabaian terhadap jaminan keamanan masyarakat ini terus berlangsung. Sementara itu. pembantaian. Penyelidikan harus berjalan secara jujur dengan melakukan pemeriksaan terhadap seluruh pelaku. Kita memang harus terus mengingatkan dan kembali mengingatkan serta meminta Komnas HAM segera melakukan pengumpulan fakta ( Fact Finding) terhadap pelanggaran HAM yang berat atas kasus 1965. Sementara itu. pembunuhan. Telah kesekian kali. Komnas HAM harus menindak lanjuti hasil kajian Komnas HAM tentang Pulau Buru. Komnas HAM berangkat dari tragedi tersebut pernah membuat pengkajian perihal atas Pelanggaran HAM dimasa Soeharto. bangsa Indonesia penting untuk membongkar tentang fakta perihal yang sesungguhnya terjadi. FPI berdalih bahwa Papernas sebagai embrio partai komunis. Namun. Terakhir yang juga menjadi salah satu unsur yang paling penting adalah. Tindakan kekerasan dengan dalih untuk meredam kebebasan berekspresi dan berpendapat masyarakat sipil merupakan tindakan yang melanggar HAM dan konstitusi. kemudian diperpanjang hingga (14/05/2003) dan dalam kesimpulan laporannya menyatakan ada indikasi kuat terjadi pelanggaran HAM berat karena ditemukan serangan terhadap penduduk sipil secara meluas dan sistematik. pemenjaraan tanpa pengadilan. Kita mungkin tak akan pernah lupa bagaimana peristiwa politik pada 1965 berimplikasi terhadap pelanggaran HAM atas sejumlah orang. kembali mengingatkan negara untuk segera menuntaskan persoalan pelanggaran HAM yang terjadi pada peristiwa 1965. yang terjadi (29/03). Ketiga. Korban dan keluarga korban tragedi 1965 bersama KontraS dan LBH Jakarta. *** Serangan Terhadap Papernas: Isue Komunis Jadi Dalih Hambat Kebebasan Berekspersi Kita sangat menyesalkan terjadinya aksi kekerasan yang dilakukan oleh massa Front Pembela Islam (FPI) pada kelompok demonstrasi Papemas. sesuai dengan Undang – Undang 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Padahal hak-hak tersebut telah dijamin oleh UUD 1945. pertama. dengan enam unsur kejahatan (element of crime). Kedua. Apa yang terjadi kali ini bukan hal pertama. Ada sejumlah faktor yang membuat hal ini menjadi urgent. Karenanya tak ada kata lain Komnas HAM segera menunaikan kewajibannya dan secepatnya mengawali respon negara yang minim dalam kasus ini. terutama soal kekerasan atau pelanggaran HAM yang terjadi dimasa lalu maupun yang berimbas hingga kini. entah mengapa.Undang yang mengatur KKR tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi pada tanggal (6/12/2006). Tim mulai bekerja pada (14/01/2003). khususnya terhadap perempuan dan anakanak tersebut menyebabkan jatuhnya korban luka-luka dan membubarkan diri karena lari ketakutan. diharapkan dengan diketahuinya “kebenaran” atas pelanggaran HAM tersebut mampu menjadi tali pengikat (rekonsiliasi) dengan warganegara lainnya yang selama ini terdistorsi akan cerita negatif para korban 1965. Tim pengkajian juga mencatat jumlah korban dalam Tragedi 1965 mencapai tiga juta orang lebih. pelanggaran-pelanggaran HAM tersebut masih terjadi hingga kini. Sebagian korban dalam peristiwa 1965 sempat berharap dengan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Selain itu. negara melalui aparat hukumnya tidak memberikan rasa aman dalam melindungi warganya sendiri. kebenaran akan pelanggaran HAM bisa dijadikan dasar pemberian rekomendasi reparasi bagi korban dan penuntutan jika didapati pihak-pihak yang diduga terlibat dan bersalah. Undang. aparat kepolisian terlihat lamban dalam menghentikan aksi kekerasan yang berlangsung.*** 21 Berita Kontras No. maka bentuk-bentuk kekerasan serupa akan semakin buruk di masa datang. Sebuah Keharusan Penuntasan kasus 1965 merupakan keharusan bagi pemerintahan Indonesia dan harus disegerakan. sekitar pukul 11. Salah satu yang dijadikan kasus kajian adalah kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Pulau Buru 1965-1966.02/III-IV/2007 . kondisi para korban yang masih terus tercerabik dari hak-haknya. Berdasarkan temuan tersebut tim pengkajian merekomendasikan agar Komnas HAM segera menindaklanjuti dengan membentuk tim penyelidik projustitia dan tim pengkajian terhadap pembantaian 1965. KontraS sendiri mendesak aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. agar seluruh masyarakat menghormati konsitusi dengan saling menjamin upaya-upaya bebas untuk berekspresi. Sudirman Jakarta. kita sepertinya memang tak boleh henti menghimbau. karena pada saat yang sama pemerintah sedang membicarakan upaya-upaya perlindungan HAM dan peradaban manusia dalam Dewan HAM PBB. pembuangan. Sekali lagi.REMPAH-REMPAH Tragedi 65 Komnas HAM Segera Lakukan Pemeriksaan Korban dan Saksi Sayangnya tindak lanjut tersebut masih belum diwujudkan oleh Komnas HAM. seperti penahanan sewenang-wenang. Penyerangan kepada masyarakat sipil. Negara telah membiarkan kasus serupa terus berlangsung dengan membiarkan penyerangan. demi mendapatkan sebuah kebenaran alternatif (Alternatif Truth).00 WIB di Dukuh Atas. KontraS juga mendesak Presiden mengambil langkah aktif untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan serupa yang ditujukan pada kelompok-kelompok masyarakat sipil yang menyuarakan demokrasi. Ironisnya. penganiayaan terhadap masyarakat yang menjalankan hak untuk mengeluarkan pendapat dan berekspresinya.

Meski demikian. memiliki yang lain. Aksi yang akan terus digelar sepanjang Kamis sore ini akan terus dilakukan oleh korban dan keluarga korban pelanggaran HAM berat beserta para simpatisan.oleh rezim militer Argentina. terinspirasi dari gerakan ibu-ibu di Upaya lain untuk impunitas juga tampak dengan cara Argetina. tidak memiliki greget atau niat untuk menyelesaikan secara tuntas kasus-kasus pelanggaran HAM.00-17. di mana langkah “Plaza De Mayo” melegenda di seluruh dunia. Aksi ini juga menjadi bagian dari terhadap aktivis HAM Munir pada September 2004. dan kemudian dikenal dengan kasus seperti: Kasus Trisakti dan Semanggi I-II. Bersama Berita Kontras No. Sebagai simbol geraknya sengaja dihambat agar tidak mencapai kinerja yang perlawanan ibu-ibu yang terus konsisten akan perjuangan maksimal. sisa-sisa gaya Orde Baru. delapan tahun pula kasus pelanggaran HAM kian mengelam. pemerintahan baru di bawah SBY-JK. gerakan moral yang ingin menyebarkan tentang pentinganya arti kemanusiaan kepada masyarakat luas. Aksi ini akan terus digelar demi menuntut Negara untuk menuntaskan segala kasus pelanggaran HAM berat. yang kebanyakan milter. busana kedukaan dan kekelaman “hitamhitam”. Kasus Talangsari. hari Kamis di depan Plaza De Mayo. *** Aksi Kamisan Dari kondisi yang ada itulah. bukan untuk kasus-kasus mengajak siapapun masyarakat yang peduli. dilakukan demi mewujudkan serta mempertahankan kekuasaannya dan berlangsung selama 32 tahun (1966-1998). di mana dalam dua tahun pemerintahannya tidak menjamah perihal penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Semuanya kian menggelap. Pada aksi Kamisan yang ke-10. dimulai dari pukul 16. bahwa negara akan memberikan pertanggungjawaban Ironisnya. Kasus Penculikan Aktivis 1997-1998.kontras Aksi ini sengaja digelar sebagai pertanda habisnya segala artikulasi korban dan keluarga korban terhadap bebalnya penguasa negeri ini terhadap penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM. mereka melakukan aksi diam. Kesengajaan negara menyingkirkan keadilan dan kebenaran bagi korban dan keluarga korban pelanggaran HAM berat adalah bentuk dari kekerasan terhadap perempuan. korban dan keluarga korban dengan segenap keyakinan akan kebenaran. Hal ini dapat dilihat dari Pidato Awal Tahun 2007. Kasus 65.00 Wib. aksi ini menjadi sebuah momentum yang menegaskan bahwa kekerasan berbasis jender yang terjadi terhadap perempuan harus dihentikan. sanksi hukum. Dan sekali waktu. Gerakan tersebut. bersama payung hitam dan kenangan kedukaan “foto-foto korban”. aksi ini tetap dilakukan dengan Aksi kamisan oleh korban sebuah pengharapan. Perilaku yang tidak manusiawi dan jelas melanggar hak asasi manusia (HAM) itu. juga terlibat aktif di dalamnya Rieke “Oneng” Diah HAM ad hoc yang mengacu pada UU No. Aksi ini dilakukan pada hari Kamis selama satu jam. Sangat disesalkan. hanya diperuntukkan bagi Kasus Tanjung Aksi ini memang dimaksudkan untuk merangkul dan Priok dan Kasus Timor-Timur saja. dan sebagainya. Sony Tulung pun ikut terlibat. Sampai akhirnya aksi Kejahatan Soeharto. Bahkan para pelaku tak tersentuh hukum dan keadilan. Pengadilan HAM ad hoc kedua kasus itu solidaritas dan keinginan untuk bersama bergabung menjadi pintu membebaskan orang-orang yang terlibat dari menyuarakan penegakan HAM di Indonesia.REMPAH-REMPAH Aksi Diam Hitam Kamisan Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Setelah delapan tahun reformasi bergulir. yang anak-anaknya yang dihilangkan secara paksa mempersulit pembentukan Pengadilan HAM ad hoc untuk kasus. dan keyakinan pada kesabaran. Pemerintahan otoriter Orde Baru berdiri diawali dengan pembohongan terhadap publik dan pembantaian massal yang dikenal dengan Tragedi ’65. Kasus Kerusuhan nama “Mother Plaza De Mayo”. sekalipun Soeharto telah terhadap tragedi pelanggaran HAM berat lengser dari kursi kepresidenan. tapi tak satupun pelanggaran berat HAM menemui titik terang. Terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM itu ternyata belum ada penyelesaian yang mematuhi kaidah dalam standar hukum Pada aksi Kamisan (18/01).02/III-IV/2007 22 . 26 Tahun 2000 tentang Pitaloka. Pengadilan HAM. Dok. bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. mendatangi dan berdiam di pusat simbol kekuasaan negeri ini “Istana Merdeka”. Perwujudan Pengadilan korban. demi hukum dan keadilan. Mereka melakukan aksi setiap Mei ’98. Nyatanya. Sebagai contoh: pembunuhan yang terjadi di Indonesia. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa manusia dirampas tanpa melalui proses peradilan. atau sengaja diarahkan untuk berakhir tanpa ujung. Menuntut Demikian pula dengan pembentukan KPP HAM untuk Kasus dikembalikannya anak-anak mereka. terus dipratekkan. selain diikuti korban dan keluarga HAM nasional maupun internasional.

partisipasi aktif dari LSM. penangkapan sewenang-wenang (arbitrary detention). Penandatangan merupakan langkah terakhir sebelum proses ratifikasi. Pelapor Khusus untuk Pembunuhan di Luar Proses Hukum untuk memberikan intervensi negara terhadap mekanisme HAM asistensi kepada aparat penegak hukum untuk yang independen. khususnya menyangkut masalah perdagangan orang. Dewan HAM PBB kembali menggelar sidang regulernya di Jenewa. NGO memberi tekanan kepada pemerintah internasional lewat mekanisme PBB untuk mendesak pemerintah Indonesia agar melaksanakan berbagai instrumen HAM internasional bagi penyelesaian peristiwa pelanggaran HAM yang masih terus terjadi.*** 23 Berita Kontras No. NGO menegaskan bahwa penyelesaian tak cukup hanya melakukan ratifikasi atau membuat regulasiregulasi yang melindungi HAM. Pemantauan atas pelaksanaan komitmen ini menjadi acuan evaluasi kinerja pemerintah bagi kelayakan untuk dapat dipilih kembali menjadi anggota Dewan HAM PBB. korporasi internasional (international corporations). khususnya menyangkut masalah perdagangan orang. Oleh karenanya untuk memastikan pelaksanaan tanggung jawab negara. Sebagai alat kontrol politik. komitmen untuk meratifikasi Konvensi Perlindungan Setiap Orang dari Secara khusus. pelanggaran HAM yang serius. kelompok masyarakat sipil melaporkan situasi HAM yang berkaitan dengan isu penghilangan paksa ( enforced disappearances) . dalam mengawal proses reformasi pembangunan Penghilangan Orang Secara Paksa juga memandatkan institusi dalam PBB. komisi nasional hak asasi manusia yang Dewan HAM dalam berdasar pada Prinsip Paris dan DPR. Kelompok LSM juga mendorong mekanisme yang efektif khususnya berkaitan dengan mekanismen Peninjauan Berkala Universal (Universal Periodic Review) . Karena pada kenyataannya pemerintah belum juga memenuhi Kelompok sipil di Asia berharap dalam reformasi PBB ini tidak ada permintaan Philip Alston. Secara khusus. NGO akan terus mengawal dan mendorong kerjakerja konkret pasca sidang Dewan HAM PBB dalam menuntaskan berbagai masalah dan mengambil kebijakan perbaikan kondisi HAM di Indoensia. Sidang ke-4 Dewan HAM PBB ini sebagian besar menerima masukan dari para Pelapor Khusus PBB lewat laporan tahunannya. Hamid Awaluddin di acara pembukaan sidang. Pemerintah RI juga menyatakan akan menandatangani dua konvensi HAM baru. Tentu saja reformasi dalam menuntaskan kasus pembunuhan Munir yang kondisi transisi ini harus juga mendapatkan “Pemerintah RI akan belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. kebebasan beragama dan berkeyakinan ( freedom of religion and belief). dalam menjalankan pemajuan dan pemenuhan HAM di Indonesia. pembela HAM (human rights defender). untuk Pelaporan Kondisi HAM menghadapi persoalan aktual memperkuat system HAM internasional. KontraS juga berkontribusi lewat organisasi koalisinya. High Level Segment. LSM-LSM di Asia meminta Dewan HAM untuk mempromosikan konsultasi reguler di tingkat nasional dan regional antara negara-negara di Asia. Prosedur Khusus (Special Procedure) . penghilangan orang secara paksa serta kejahatan terhadap perempuan dan anak”. korban pelanggaran HAM berdasarkan standar-standar HAM.KABAR DARI SEBERANG Sidang ke-4 Dewan HAM PBB di Jenewa KontraS menyambut baik hal ini. kelompokkelompok sipil dan Komnas HAM. KontraS bersama dengan 46 LSM di Asia tanggungjawab negara untuk segera menjelaskan keberadaan (KontraS menjadi anggota Human Rights Working Group dan Forum korban yang masih hilang serta pemenuhan hak-hak yang efektif Asia ) mendorong mekanisme proteksi HAM internasional yang (effective remedy) bagi korban penghilangan paksa. Sidang ini juga membahas agenda reformasi pembangunan insitusi dan mekanisme HAM di PBB. penyiksaan. Secara khusus. 12-30 Maret 2007. Hal ini dinyatakan dalam pidato Menteri Hukum dan HAM. LSM. Mei 2007 mendatang. kelompok masyarakat mengedepankan mekanisme sipil. HRWG (Human Rights Working Group) dan INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) melaporkan situasi HAM nasional untuk mempertegas komitmen internasional dalam menyikapi persoalan HAM di Indonesia. pembunuhan di luar proses hukum. Kegiatan ini bertujuan untuk kembali menagih janji dan ikrar sukarela pemerintah sebagai anggota Dewan HAM PBB sejak Mei 2006. and Indonesian Economic Policies). hutang dan MDG’s (Debts. MDGs. seperti yang ditunjukan dengan mengundang beberapa Pelapor Khusus ke Indonesia. Namun pembahasan tidak berhasil diselesaikan pada sesi ini dan direncanakan baru akan selesai pada Sidang ke-5 berikutnya. Dalam pernyataan tertulisnya (written statement). ungkap Hamid Awaluddin Pernyataan Menhukham dalam High Level Segment Dalam sidang ini juga tampak komitmen positif bagi perkembangan tema HAM di Indonesia. namun juga adanya mekanisme yang efektif untuk mengadili pihak-pihak yang melanggarnya. termasuk kasusefektif dan dapat membawa keadilan dan pemenuhan hak-hak kasus serupa di Aceh dan Papua. Konvensi Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa (International Convention for the Protection of All Persons from Enforced Disappearance) dan Konvensi Hak-Hak Orang Cacat ( Convention on the Rights of Persons with Disabilities ). Pada kesempatan Sidang ke-4 Dewan HAM PBB ini. Dalam pidatonya itu. Badan Konsultan Ahli (Expert Advisory Body) . KontraS juga mempertanyakan komitmen untuk mengundang pelapor khusus untuk kasus Munir. pada 12 Maret 2006. Hamid Awaluddin menyatakan bahwa Pemerintah RI akan mengedepankan mekanisme Dewan HAM dalam menghadapi persoalan aktual pelanggaran HAM yang serius. Prosedur Pengaduan (Complaint Procedure) dan Partisipasi LSM (NGO Participation). serta kebijakan ekonomi. pembunuhan di luar proses hukum. kekerasan terhadap perempuan (violence against women) . kebebasan beropini dan berekspresi ( freedom of opinion and expression) . Namun tentu saja langkah ini tak cukup hanya dinyatakan di dalam forum internasional. KontraS berharap pernyataan tersebut diikuti dengan langkah baru penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terbengkalai saat ini. Selain itu pemerintah menyatakan mendukung penuh bekerjanya mekanisme HAM internasional untuk memberikan masukan kepada institusi domestik. penyiksaan ( torture) . penghilangan orang secara paksa serta kejahatan terhadap perempuan dan anak. karena mencerminkan wujud dari komitmen negara untuk melaksanakan komitmen dan ikrar sukarela ketika menjadi anggota Dewan HAM PBB tahun lalu.02/III-IV/2007 . penyiksaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful