Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada triwulan kedua 2010 terdapat penambahan 1.206 kasus AIDS. Sampai 30 Juni 2010, kasus AIDS yang dilaporkan sejak 1978 berjumlah 21.770. Itu berasal dari 32 provinsi serta 300 kabupaten dan kota di tanah air. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan di Indonesia adalah 3:1. Kasus terbanyak dilaporkan terjadi di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat. Bahkan hasil penelitian Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) terdapat 2.800 pasien HIV/AIDS perempuan selama 10 tahun terakhir di Indonesia, terungkap lebih dari 80 persen penderitanya adalah ibu rumah tangga. Penelitian dilakukan dari tahun 1999-2009 terhadap sekitar 2.800 penderita perempuan di Indonesia dari berbagai latar belakang profesi. Peningkatan kejadian HIV/AIDS pada kalangan ibu rumah tangga juga mempengaruhi peningkatan kejadian penderita HIV/AIDS di kalangan anak-anak. Kasus HIV/AIDS pada anak-anak Indonesia meningkat 700 persen dalam empat tahun terakhir(2006-2010). Kasus HIV pada anak biasanya paling sering ditemukan akibat transmisi dari ibu yang sudah memiliki HIV ke anaknya. Sementara itu, pusat kontrol penyakit (The Center for Disease Control = CDC) telah melaporkan 27.485 kasus AIDS pada wanita Amerika Serikat dari tahun 1981 sampai 1992, tahun 1994-1995 hampir 7000 bayi lahir dari wanita terinfeksi HIV tiap tahunnya di Amerika Serikat, sekitar 2000nya terinfeksi HIV dan tahun 2000 total 33.600.000 dimana 14.800.000 adalah wanita dan 1.200.000 anak dibawah 15 tahun. Sekitar 95% pasien terinfeksi HIV tinggal di negara berkembang. Kurang lebih 12% pasien terinfeksi HIV adalah wanita, sekitar 10-30% wanita hamil di bagian tertentu di Afrika terinfeksi HIV. Wanita dengan AIDS ( Acquired immunodeficiency syndrome) 85% pada usia reproduktif (15-44 tahun), 50% kulit hitam dan 20-25% hispanik. Hampir mencapai 20-30% HIV karier asimtomatik
1

diperkirakan terjadi untuk setiap kasus AIDS yang dilaporkan. Peningkatan pada kedua jumlah dan persentase dari wanita AIDS yang dikenali sejajar dengan peningkatan infeksi pada anak-anak. Kasus anak-anak terhitung 2% dari total laporan selama periode ini. Lebih dari 90% anak terinfeksi HIV dibawah 15 tahun mendapat infeksi dari ibu mereka selama kehamilan, persalinan atau menyusui. Angka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh HIV semakin meningkat dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling penting di semua negara. Penggunaan obat antivirus seperti highly active antiretroviral therapy (HAART) dan persalinan berencana dengan seksio sesaria telah menurunkan angka transmisi perinatal mother to child transmission (MTCT) penyakit ini dari 30% menjadi 20%. Manejemen antenatal, persalinan, dan perawatan pascasalin yang terkontrol dengan baik pada ibu hamil dengan HIV dapat mencegah transmisi perinatal. Tujuan penanganan HIV dalam kehamilan adalah untuk memaksimalkan kesehatan maternal dan meminimalkan transmisi perinatal telah dipusatkan kepada penekanan level RNA HIV virus sampai level yang tak terdeteksi. Maka dari itu, referat ini akan membahas mengenai transmisi HIV dari ibu ke bayinya serta pencegahannya.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini ditemukan pada cairan tubuh terutama cairan darah, cairan vagina dan air susu ibu. Virus HIV tersebut dapat merusak kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit infeksi. Dalam keadaan seperti itu, orang akan mudah diserang beberapa jenis penyakit (sindrom) yang mungkin tidak mempengaruhi orang yang system kekebalan tubuh sehat. Penyakit tersebut disebut sebagai infeksi oportunistik. HIV adalah Human Immunodeficiency Virus. Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang melindungi tubuh terhadap infeksi. Kebanyakan orang yang terinfeksi tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Segera setelah terinfeksi, beberapa orang akan mengalami gejala mirip flu selama beberapa minggu. Selain itu tidak ada tanda-tanda infeksi. Tetapi, virus tetap ada di tubuh dan dapat ditularkan ke orang lain. B. HIV (HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS) HIV adalah jenis retrovirus. Virus ini termasuk golongan virus RNA yaitu virus yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa informasi genetik, yang berarti bahwa virus ini menggunakan sel tubuhnya sendiri untuk memproduksi kembali dirinya. Asal dari HIV tidak jelas, penemuan kasus awal adalah dari sampel darah yang dikumpulkan tahun 1959 dari seorang lakilaki dari Kinshasa di Republik Demokrat Congo. Tidak diketahui bagaimana ia terinfeksi. Tetapi pada tahun Januari 1983 Luc Montaigner di Prancis menemukan Virus ini pada seorang pasien limfadenopati. Oleh karena itu kemudian Virus ini awaklnya dinamai Lymph adenophaty Virus (LAV). Kemudian pada tahun 1984, di Amerika Serikat ditemukan virus serupa pada penderita AIDS yang kemudian disebut HTLV-III. Pada bulan Mei 1986 Komisi toksonomi International memberi nama baru HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang saat ini resmi digunakan. Sementara itu
3

Kasus HIV ini di Indonesia ditemukan pertama kali di Bali pada seorang Warga Negara Asing (WNA) pada tahun 1987. Saat ini terdapat dua jenis HIV yaitu HIV1 dan HIV2. HIV1 mendominasi seluruh dunia dan bermutasi dengan sangat mudah dengan keturunan yang berbeda beda. Dari HIV1 juga ada, mereka dapat dikategorikan dalam kelompok dan sub jenis (clades). Terdapat dua kelompok, yaitu kelompok M dan O. Dalam kelompok M terdapat sekurangkurangnya 10 subjenis yang dibedakan secara turun temurun. Ini adalah subjenis AJ. Subjenis B kebanyakan ditemukan di America, Japan, Australia, Karibia dan Eropa. Subjenis C ditemukan di Afrika Selatan dan India. HIV2 teridentifikasi pada tahun 1986 dan semula merata di Afrika Barat. Terdapat banyak kemiripan diantara HIV1 dan HIV2, contohnya adalah bahwa keduanya menular dengan cara yang sama, keduanya dihubungkan dengan infeksiinfeksi oportunistik dan AIDS yang serupa. Pada orang yang terinfeksi dengan HIV2, ketidakmampuan menghasilkan kekebalan tubuh terlihat berkembang lebih lambat dan lebih halus. Dibandingkan dengan orang yang terinfeksi dengan HIV1, maka mereka yang terinfeksi dengan HIV2 ditulari lebih awal dalam proses penularannya. 1. PENULARAN HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, semen atau air mani, cairan vagina, air susu ibu dan cairan lainnya yang mengandung darah. Virus tersebut menular melalui: a) Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi. Kondom adalah satusatunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah. b) Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril. c) Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi. d) Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui.
4

2. PATOFISIOLOGI PENULARAN Untuk mengerti bagaimana virus tersebut bekerja, seseorang perlu mengerti bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja. Sistem kekebalan mempertahankan tubuh terhadap infeksi. Sistem ini terdiri dari banyak jenis sel. Dari selsel tersebut sel Thelper sangat krusial karena ia mengkoordinasi semua sistem kekebalan sel lainnya. Sel Thelper memiliki protein pada permukaannya yang disebut CD4. HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel Thelper dengan melekatkan dirinya pada protein CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia, yang mana, daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya, benda tersebut mulai menghasilkan virusvirus HI. Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virusvirus yang baru. Virusvirus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah, dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan penyakit penyakit yang lain.

Gambar I. Patofisiologi Penularan Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang. Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan selsel yang terinfeksi dan mengantikan selsel yang telah hilang. Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya. Jumlah normal
5

dari selsel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 8001200 sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV yang selsel CD4+ Tnya terhitung dibawah 200, dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksiinfeksi oportunistik. Infeksiinfeksi oportunistik adalah infeksiinfeksi yang timbul ketika sistem kekebalan tertekan. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksiinfeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal. Tanpa perawatan, viral load, yang menunjuk pada jumlah relatif dari virus bebas bergerak didalam plasma darah, akan meningkat mencapai titik dimana tubuh tidak akan mampu melawannya. Perkembangan dari HIV dapat dibagi dalam 4 fase, yaitu : a) Infeksi utama (Seroconversion), ketika kebanyakan pengidap HIV tidak menyadari dengan segera bahwa mereka telah terinfeksi. b) Fase asymptomatic, dimana tidak ada gejala yang nampak, tetapi virus tersebut tetap aktif. c) Fase symptomatic, dimana seseorang mulai merasa kurang sehat dan mengalami infeksiinfeksi oportunistik yang bukan HIV tertentu melainkan disebabkan oleh bakteri dan virusvirus yang berada di sekitar kita dalam segala keseharian kita. d) AIDS, yang berarti kumpulan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV, adalah fase akhir dan biasanya bercirikan suatu jumlah CD4 kurang dari 200. 3. PERJALANAN PENYAKIT Perjalanan alamiah infeksi HIV dibagi dalam tahapan sebagai berikut : Infeksi virus
pendek) 2-3 minggu

Sindrom retroviral akut


rata-rata 1,3 tahun

2-3 minggu

gejala menghilang +

serokonversi infeksi kronis HIV-asimtomatik Infeksi HIV/AIDS-simtomatik

rata-rata 8 tahun ( di Negara berkembang lebih

kematian.

C. TRANSMISI HIV DARI IBU KE ANAK


6

Bukan saja pemuda pada usia produktif ataupun perkembangan jiwa menuju tahap pendewasaan diri, rentan sekali menjadi sasaran penyebaran virus HIV/AIDS. Tetapi usia anak-anak pun tak kalah rentannya. Hal itu terbukti dengan meningkat tajamnya penderita HIV/AIDS di kalangan anak-anak. Kasus HIV pada anak biasanya paling sering ditemukan akibat transmisi dari ibu yang sudah memiliki HIV ke anaknya Kemungkinan besar perpindahan virus ini terjadi selama proses kehamilan dan juga persalinan maupun menyusui. Transmisi HIV dari ibu ke anak tersebut timbul mendekati 25-30% dari bayi yang lahir dari ibu yang tidak mendapat pengobatan anti virus selama kehamilan, sedangkan waktu terjadinya infeksi vertikal dari HIV belum dapat ditentukan dengan baik. Transmisi intra uterin telah ditunjukkan secara langsung dengan deteksi virus pada jaringan abortus fetal. Kebanyakan episode dari infeksi kongenital HIV timbul selama periode intrapartum, mungkin berhubungan dengan terpaparnya bayi terhadap darah ibu yang terinfeksi dan sekret serviks atau vagina, sebagaimana mikrotransfusi darah ibu-anak muncul selama kontraksi uterus. Sedangkan penularah postnatal adalah melalui air susu ibu. 1. Transmisi selama kehamilan Infeksi transplasental telah dilaporkan dan tampaknya menjadi jalan utama transmisi namun mekanisme yang pasti tetap belum diketahui. HIV telah secara langsung diisolasi dari plasenta, cairan amnion dan produk awal konsepsi. Pasase transplasenta HIV muncul pada 30% kehamilan yang dipengaruhi, dipertinggi oleh jumlah limfosit T helper (kurang dari 400/mm3) atau kesakitan maternal yang lanjut. Penentuan kejadian infeksi vertikal dikomplikasi oleh sulitnya membuat diagnosis neonatal karena antobodi IgG maternal terhadap HIV secara pasif melewati plasenta. Semua bayi lahir dengan ibu HIV antibodi positif akan memiliki antibodi positif saat lahir. Antibodi maternal dapat tetap terdeteksi pada sirkulasi bayi hingga 15 sampai 18 bulan. Sampai saat ini prediksi transmisi transplasenta pada kasus-kasus individual belum memungkinkan. Banyak faktor yang mempengaruhi transmisi. Termasuk tingkat penyakit lanjut, perkembangan menjadi AIDS selama kehamilan, infeksi aktif, hasil kultur positif, dan penurunan jumlah CD4+. Faktor-faktor lain yang penting meningkatkan risiko transmisi maternal ke fetus
7

termasuk jumlah virus yang tinggi, virus yang bereplikasi dengan cepat dan kondisi yang dapat mengganggu integritas plasenta seperti penyakit menular seksual yang lain dan korioamnionitis. Walau banyak faktor terus dipelajari sebagai penentu penting pada transmisi vertikal HIV prediktor terbaik untuk risiko transmisi perinatal diantara wanita hamil dan keturunannya yang diobati dengan ZDV adalah jumlah virus. 2. Transmisi selama persalinan Kebanyakan kejadian dari infeksi kongenital HIV timbul selama periode intrapartum, mungkin berhubungan dengan terpaparnya bayi terhadap darah ibu yang terinfeksi dan sekret serviks atau vagina, sebagaimana mikrotransfusi darah ibu-anak muncul selama kontraksi uterus. Transmisi intrapartum virus mendukung kenyataan bahwa 50-70% anak terinfeksi memiliki tes virologi negatif pada saat lahir, menjadi positif pada saat usia 3 bulan. Ditunjukkan bahwa anak yang lahir pertama dari kembar dua berada pada risiko lebih tinggi mengalami infeksi dibanding yang lahir kedua, mungkin karena lebih lamanya paparan terhadap sekresi mukosa servikovaginal. Peningkatan risiko transmisi telah digambarkan selama persalinan yang memanjang, pecah ketuban yang lama, perdarahan plasenta dan adanya cairan amnion yang mengandung darah. 3. Transmisi setelah melahirakan (Air Susu Ibu) HIV ditemukan pada air susu ibu dan menyusui telah dilaporkan sebagai jalan infeksi pada perinatal lanjut. Infeksi HIV dari ibu ke bayi juga dapat timbul melalui minum air susu ibu yang terkontaminasi. Transmisi HIV selama menyususi dapat sebanyak sepertiga sampai duapertiga dari semua transmisi HIV dan tambahan risiko dari menyusui untuk transmisi HIV telah ditentukan bervariasi antara 14-26%. Banyak faktor mungkin mempengaruhi transmisi virus melalui menyusui. Imaturitas traktus gastrointestinal bayi baru lahir dapat memungkinkan penetrasi mukosa intestinal oleh virus. Tapi transmisi juga dapat muncul pada bayi yang memulai susu ibu jauh sesudah periode perinatal. Pengenalan dini pada makanan lain dapat juga memegang peranan dengan merusak intestinal.
8

D. PENCEGAHAN TRANSMISI HIV DARI IBU KE ANAK Infeksi HIV dengan perkembangan lanjutnya AIDS adalah salah satu masalah penting dari perhatian kesehatan masyarakat abad 20. Tanpa pengetahuan pengobatan terhadap penyakit yang mematikan ini, bayi yang terpapar akan mengalami hidup yang singkat dan sulit. Untuk alasan ini penatalaksanaan yang agresif telah dilakukan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan transmisi HIV dari ibu ke anak. Pencegahan transmisi vertikal infeksi HIV dilakukan Melalui manajemen sebagai berikut : a. Manajemen antepartum Evaluasi antepartum pada pasien HIV positif harus meliputi pengamatan klinis dan laboratorium untuk disfungsi imun, perkembangan penyakit dan infeksi oportunistik. Studi fungsi imun harus meliputi penghitungan lengkap sel darah, jumlah total sel T, sel CD4+(CD8+) tiap trimester. Pengamatan secara klinis dan laboratorium ini dapat dilakukan melalui pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif. Pelaksanaan Antenatal care yang berkesinambungan dan terjadwal. ANTENATAL CARE (ANC), meliputi : a) Kunjungan pertama: Anamnesis lengkap, pemeriksaan, suplemen folat, deworming dan VCCT b) Kunjungan kedua suplemen besi/folic . c) Kunjungan ketiga : monitoring kemajuan kehamilan, tekanan darah, Hb dan analisa urine, dosis kedua TPI, tetanus toxoid, supplemen besi/folic. Dukungan konseling d) Kunjungan keempat : sama seperti diatas. Pendaftaran program PPIA , Beri obat antiretroviral INTERVENSI FARMASI :
9

: monitoring kemajuan kehamilan, konseling

mengenai PPIA dan pilihan menyusui, dosis pertama TPI, tetanus toxoid,

Obatobatan Antiretroviral (ARV) bukanlah suatu pengobatan untuk HIV/AIDS tetapi cukup memperpanjang hidup dari mereka yang mengidap HIV. Pada tempat yang kurang baik pengaturannya permulaan dari pengobatan ARV biasanya secara medis direkomendasikan ketika jumlah sel CD4 dari orang yang mengidap HIV/AIDS adalah 200 atau lebih rendah. Untuk lebih efektif, maka suatu kombinasi dari tiga atau lebih ARV dikonsumsi, secara umum ini adalah mengenai terapi Antiretroviral yang sangat aktif (HAART). Kombinasi dari ARV berikut ini dapat mengunakan: 1. Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI'), mentargetkan pencegahan protein reverse transcriptase HIV dalam mencegah perpindahan dari viral RNA menjadi viral DNA (contohnya AZT, ddl, ddC & 3TC). 2. Nonnucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI's) memperlambat reproduksi dari HIV dengan bercampur dengan reverse transcriptase, suatu enzim viral yang penting. Enzim tersebut sangat esensial untuk HIV dalam memasukan materi turunan kedalam selsel. Obat obatan NNRTI termasuk: Nevirapine, delavirdine (Rescripta), efavirenza (Sustiva). 3. Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan menahannya sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel tuan rumah dan dilepaskan. Seorang wanita yang mengidap HIV(+) dapat menularkan HIV kepada bayinya selama masa kehamilan, persalinan dan masa menyusui. Dalam ketidakhadiran dari intervensi pencegahan, kemungkinan bahwa bayi dari seorang wanita yang mengidap HIV(+) akan terinfeksi kirakira 25%35%. Dua pilihan pengobatan tersedia untuk mengurangi penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak. Obatobatan tersebut adalah: 1. Ziduvidine (AZT) dapat diberikan sebagai suatu rangkaian panjang dari 1428 minggu selama masa kehamilan. Studi menunjukkan bahwa hal ini menurunkan angka penularan mendekati 67%. Suatu rangkaian pendek dimulai pada kehamilan terlambat sekitar 36 minggu menjadi 50% penurunan. Suatu rangkaian pendek dimulai pada masa persalinan sekitas
10

38%. Beberapa studi telah menyelidiki pengunaan dari Ziduvidine (AZT) dalam kombinasi dengan Lamivudine (3TC). 2. Nevirapine: diberikan dalam dosis tunggal kepada ibu dalam masa persalinan dan satu dosis tunggal kepada bayi pada sekitar 23 hari. Diperkirakan bahwa dosis tersebut dapat menurunkan penularan HIV sekitar 47%. Nevirapine hanya digunakan pada ibu dengan membawa satu tablet kerumah ketika masa persalinan tiba, sementara bayi tersebut harus diberikan satu dosis dalam 3 hari. Tabel I. Terapi Retroviral Oral

Antepartum AZT 300mgs p.o B.D setelah kehamilan mgg Tidak ada

Intrapartum AZT 300mgs p.o tiap 3 jam 35 sampai melahirkan NVP 200 mgs p.o saat mulai persalinan

Post partum

neonatal

Untuk Ibu AZT 300mgs p.o 4mgs/kg p.o B.D selama 7 hari Tidak ada B.D selama 7 hari 2mgs/kg p.o 4872 jam

b. Manajemen intrapartum Hampir semua AIDS pediatrik dihasilkan dari transmisi intrapartum. HIV telah ditemukan pada sekret serviks dan vagina pada jalan persalinan.
11

Meminimalkan kontak langsung fetal-maternal dengan menunda pecah selaput ketuban, dan tindakan invasif dapat mengurangi setidaknya secara teori risiko infeksi intrapartum. Salah satu strategi adalah pembersihan jalan lahir dengan agen pembunuh virus. Pendekatan ini menarik karena lebih murah, risiko rendah, dan mudah dilakukan. Chlorhexidine telah terbukti digunakan melawan penyakit infeksius lainnya seperti grup streptokokus dan secara in vitro mempunyai aktifitas melawan HIV. Intervensi obstetrik Seksio Sesaria. Langkah pertama kearah perkembangan intervensi obstetrik untuk pencegahan transmisi HIV dari ibu ke anak adalah demonstrasi bahwa transmisi muncul selama periode intrapartum. HIV perinatal muncul selama atau dekat pada periode intrapartum. Beberapa analisa menunjukkan peningkatan yang kuat pada kejadian transmisi setelah ketuban pecah lebih dari empat jam. Persalinan operatif telah diyakini sebagai strategi yang potensial untuk pencegahan transmisi intrapartum. Beberapa penelitian menyatakan bahwa wanita yang secara optimal diobati dengan antiretrovirus, seksio sesaria dapat memiliki efek yang penting dalam mengurangi kejadian transmisi HIV dari ibu ke anak, juga mengindikasikan bahwa dibandingkan cara persalinan lainnya seksio sesaria yang dilakukan sebelum persalinan dan sebelum pecah ketuban (seksio sesaria elektif) secara bermakna mengurangi kejadian transmisi HIV perinatal. Wanita terinfeksi HIV harus disarankan seksio sesaria terjadwal untuk mengurangi kejadian transmisi jauh dari yang dapat dicapai hanya dengan terapi ZDV saja.

c. Manajemen postpartum Banyak faktor yang mempengaruhi transmisi virus melalui menyusui. Virus HIV bisa menyusup lewat ASI kemudian menulari si bayi. Kemungkinannya cukup besar, sekitar 35 persen. Imaturitas traktus
12

gastrointestinal bayi baru lahir dapat memungkinkan penetrasi mukosa intestinal oleh virus. Tapi transmisi juga dapat muncul pada bayi yang memulai susu ibu jauh sesudah periode perinatal. Pengenalan dini pada makanan lain dapat juga memegang peranan dengan merusak intestinal. Tapi kini ibu dengan HIV/AIDS boleh memberikan ASI ke bayinya. Para ibu tak perlu takut bayinya tertular HIV/AIDS lagi. Bulan November 2009 lalu, badan kesehatan dunia WHO pun merekomendasikan bahwa ibu pengidap HIV/AIDS bisa memberikan ASI eksklusif. Penelitian yang dilakukan oleh WHO menunjukkan jika perbandingan antara risiko si bayi terkena HIV dan meninggal karena tidak diberi ASI ternyata sama besar. Sebab, bayi akan rentan terkena berbagai penyakit infeksi yang membahayakan nyawa jika tidak diberi ASI. Yang perlu diingat, pemberian ASI bisa dilakukan asal si ibu sudah mendapat terapi antiretroviral (ARV) selama kehamilan. Kalau perlu, si bayi juga mesti mendapat terapi ARV begitu dilahirkan untuk memperkecil kemungkinan tertular virus dari ASI. Bayi pun tidak boleh mendapat makanan tambahan selama masa menyusui. Sebab makanan tambahan bisa membuat usus bayi terluka. Apabila sampai usus terluka, maka risiko bayi tertular HIV sangat besar. Jika si ibu mau memberi makanan tambahan, maka pemberian ASI harus dihentikan.

BAB III KESIMPULAN

13

1. Tujuan penanganan HIV dalam kehamilan adalah untuk memaksimalkan kesehatan maternal dan meminimalkan transmisi perinatal telah dipusatkan kepada penekanan level RNA HIV virus sampai level yang tak terdeteksi. 2. Penggunaan obat antivirus seperti highly active antiretroviral therapy (HAART) dan persalinan berencana dengan seksio sesaria telah menurunkan angka transmisi perinatal mother to child transmission (MTCT) penyakit ini dari 30% menjadi 20%. Manejemen antenatal, persalinan, dan perawatan pascasalin yang terkontrol dengan baik pada ibu hamil dengan HIV dapat mencegah transmisi perinatal.

DAFTAR PUSTAKA
ALARM International, 2008. Routine Infection Prevention. CDC, 2007. Mother-to-Child (Perinatal) HIV Transmission and Prevention. In English.
14

Family Health International, 2009. APA ITU HIV/AIDS. East Timor. GEMARI, 2010. HIV/AIDS Mengancam Anak Bangsa. Edisi 119/Tahun XI/Desember 2010 Indarso, Fatimah, 2006. Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir dari Ibu yang Bermasalah. FK UNAIR. Surabaya. Pitkin, Joan dkk. 2003. Obstetrics and Gynaecology.Ilustration Colour Text.CHURCHILL LIVINGSTONE.

15

DAFTAR PUSTAKA

16

17

18

19