Anda di halaman 1dari 27

Penanggulangan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Sungai Baring

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan lewat air liur vektor / agen pembawa yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Virus dengue adalah anggota genus Flavivirus dan famili Flaviviridae. Berdasarkan karakteristik antigenik dan biologiknya, terdapat empat serotipe virus yang disebut sebagai DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4, keempat serotipe virus dapat menyebabkan KLB / wabah DBD yang mengakibatkan penyakit dengan gejala yang berat dan fatal. Virus ini berukuran kecil (50 nm) dan memiliki single strandart RNA. Tubuh manusia merupakan urban reservoir yang utama bagi virus tersebut. Studi yang dilakukan di Malaysia dan Afrika menunjukkan bahwa monyet-monyet dapat terinfeksi dengue dan tampaknya sangat mungkin sebagai host reservoir. KLB / wabah Demam Berdarah Dengue diketahui telah terjadi dalam abad terakhir di daerah iklim sedang di dunia yang pertama kali terjadi pada tahun 1635 di French West Indies (Kepulauan Karibia). Tahun 1897 di Australia, tahun 1953-1954 di Filipina, dan kemudian peningkatan kasus DBD yang luar biasa selama lebih dari dua puluh tahun silam yang muncul setiap tahunnya di beberapa negara di Asia Tenggara. Dua setengah sampai tiga milyar orang berisiko menderita penyakit ini, dan yang biasa melanda daerah perkotaan saat ini mulai menyerang pula daerah pedesaan. Penyakit ini setiap tahunnya menyerang 90% anak-anak berusia di bawah 15 tahun dengan rata-rata angka kematian mencapai 5%. Pertumbuhan penduduk yang tidak memiliki pola tertentu menjadi salah satu penyebab munculnya kembali KLB / wabah DBD. Sistem pengelolaan limbah dan penyediaan air bersih yang kurang memadai, kurangnya sistem pengamatan nyamuk yang efektif, meningkatnya penyebaran berbagai serotipe virus DBD, serta melemahnya infrastruktur kesehatan masyarakat menjadi faktor yang memperberat munculnya Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue. Penyakit DBD menjadi endemis di Indonesia dimulai pada tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta, dan jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun, KLB terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan Incidence
1

Rate (IR) = 35.19 per 100.000 penduduk dengan CFR 2.0%. pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10.17. Namun tahun-tahun berikutnya IR tampak cenderung meningkat yaitu 15.99; 21.66; 19.24 dan 23.87 (tahun 2000.2001.2002.2003). Depkes telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan. Kemudian strategi diperluas dengan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penyimpanan Air. Kedua metode ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambah jumlah wilayah yang terjangkit DBD. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan PSN yang dilaksanakan oleh masyarakat / keluarga secara teratur setiap seminggu sekali. Oleh karena itu saat ini Departemen Kesehatan lebih memprioritaskan Pemberantasan Sarang Nyamuk.

1.2 Permasalahan Belum tercapainya penurunan kasus DBD tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 dimana terdapat peningkatan jumlah kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Sungai malang dengan jumlah penderita tahun 2013 selama 2 bulan pertama lebih besar dibandingkan tahun 2012 selama setahun penuh. Belum sempurnanya tercapai konsep desa bebas jentik melihat masih ditemukannya jentik nyamuk di wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang khusunya desa Sungai Baring.

1.3 Tujuan Dengan memperhatikan permasalahan yang ada dan untuk menanggulangi hingga dapat mencegah peningkatan angka kejadian penyakit DBD di wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang khususnya di desa Sungai Baring maka diperlukan adanya peninjauan langsung ke desa tersebut termasuk di dalamnya kegiatan meliputi pemantauan jentik pada tempat penampungan yang mungkin menjadi tempat bersarangnya vektor nyamuk demam berdarah dan penyuluhan langsung door to door pada setiap rumah yang diperiksa baik yang positif jentik maupun yang tidak ditemukan jentik.

1.4 Manfaat 1. Manfaat bagi pribadi

Memperoleh pengalaman berinteraksi dengan masyarakat secara langsung dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. 2. Manfaat bagi puskesmas Memperoleh data terbaru hasil survey jentik demi kemajuan program pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang khususnya desa Sungai Baring 3. Manfaat bagi masyarakat Membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan penyakit DBD dengan menjalankan perilaku 3M.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue Demam berdarah adalah penyakit virus akut menular yang ditandai dengan demam mendadak, pendarahan baik di kulit maupun di bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan syok (rejatan) dan kematian. Penyebab penyakit demam berdarah ialah virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae.aegypti dan Ae.albopictus. Penyakit DBD
dapat menyerang semua golongan umur. Sampai saat ini penyakit DBD lebih banyak menyerang anak-anak tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita DBD pada orang dewasa. Hal ini terjadi karena bayi dan anak belum memiliki sistem

kekebalan yang lengkap sehingga angka kematiannya tergolong tinggi. Penularan penyakit DBD pada dasarnya terjadi karena adanya penderita maupun pembawa virus ini, nyamuk Ae. aegypti sebagai vektor dan masyarakat sebagai sasarannya.

2.2 Kriteria Demam Berdarah Dengue Definisi kasus DBD menurut kriteria WHO (1997) harus memenuhi keadaan di bawah ini, meliputi: a. Demam atau riwayat demam akut selama 2-7 hari, suhu berkisar 38o sampai 40oC. b. Manifestasi perdarahan bersifat sebagai salah satu di bawah ini: Tes tourniquet positif Petekie, ekimosis purpura Perdarahan mukosa, saluran cerna, bekas suntikan atau tempat lain Hematemesis atau melena

a. Trombositopeni (kurang dari 100.000/uL) b. Hepatomegali c. Bukti adanya kebocoran plasma karena meningkatnya permeabilitas vaskuler, bermanifestasi sebagai salah satu di bawah ini: Kenaikan hematokrit (Hemokonsentrasi) 20% diatas nilai rata-rata hematokrit.

d. Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, asites dan hipoproteinemia.

Tabel 1.1 Kriteria Beratnya DBD Menurut WHO Grade Gejala I Demam tanpa gejala khas, disertai dengan uji tourniquet positif. II Gejala derajat 1, disertai dengan manifestasi perdarahan spontan. III Gejala derajat 2, disertai dengan penurunan tekanan darah. IV Gejala derajat 3, disertai dengan tanda-tanda syok.

2.3 Gejala Demam Berdarah Dengue Gambaran klinis DBD sering kali tergantung pada umur penderita. Pada bayi dan anak biasanya didapatkan demam dengan ruam makulopapular saja. Pada anak besar dan dewasa mungkin hanya didapatkan demam ringan, atau gambaran klinis lengkap dengan panas tinggi mendadak, sakit kepala hebat, sakit bagian belakang kepala, nyeri otot dan sendi serta ruam. Tidak jarang ditemukan perdarahan kulit, pada hasil laboratorium didapatkan hasil leukopeni atau trombositopeni. Penyakit DBD ini dapat didiagnosa bandingkan dengan Demam Dengue (DD), yang membedakan antara keduanya adalah kebocoran plasma. Mendiagnosis DBD ditujukan pada kriteria WHO (1997) yang disebutkan di atas, dimana dua kriteria klinis ditambah trombositopeni dan hemokonsentrasi cukup untuk menegakkan klinis DBD. Terdapat empat gejala utama DBD, yaitu demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi.

2.3.1 Demam Penyakit ini didahului oleh demam yang tinggi mendadak, terus-menerus berlangsung 2-7 hari, naik turun tidak mempan dengan antipiretik. Kadang-kadang suhu tubuh meningkat tinggi sampai 40oC. Akhir fase demam merupakan fase kritis DBD, hati-hati karena fase ini dapat sebagai awal kejadian syok. Biasanya hari ke 3,4,5 adalah fase kritis yang harus dicermati, hari ke 6 biasa terjadi syok.

2.3.2 Tanda-tanda perdarahan Jenis perdarahan yang terbanyak adalah perdarahan kulit seperti uji torniquet (uji Rumple Leede) positif, petekie, purpura, ekimosis, dan perdarahan konjungtiva. Petekie yang paling sering ditemukan. Selain itu bentuk perdarahan dapat berupa keluarnya darah dari hidung, perdarahan saluran cerna.

2.3.3 Hepatomegali Pembesaran hati pada umumnya ditemukan pada permulaan penyakit, hanya sekedar dapat diraba sampai 2-4 cm dibawah iga kanan.

2.3.4 Syok Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda gejala klinis menghilang setelah demam turun. Demam yang turun biasa disertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut nadi dan tekanan darah, ujung ekstremitas terasa dingin kongesti kulit. Perubahan ini memperlihatkan gangguan sirkulasi akibat perembesan plasma yang dapat bersifat ringan atau sementara.

2.4 Agent, Host dan Environment Penyakit DBD ini melibatkan 3 organisme yaitu: virus Dengue, nyamuk Aedes dan pejamu manusia. Secara alamiah ketiga kelompok organisme tersebut secara individu atau populasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor lingkungan biologik dan lingkungan fisik pola perilaku dan status ekologi dari ketiga kelompok organisme tadi dalam ruang dan waktu saling berkaitan dan saling membutuhkan, menyebabkan penyakit DBD berbeda derajat endemisitasnya pada suatu lokasi ke lokasi lain, dan dari tahun ke tahun. Untuk memahami kejadian penyakit yang ditularkan vektor dan untuk pemberantasan penyakit melalui pemberantasan vektomya perlu mempelajari penyakit sebagai bagian ekosistem alam yaitu: Antbropo Ekosystem. Subsistem yang terkait dalam ekosistem ini adalah: virus, nyamuk Aedes, manusia, lingkungan fisik dan lingkungan biologik. Berdasarkan artikel yang didapat dari Ditjen PPM dan PLP, bahwa virus Dengue termasuk dalam grup flavivirus dan famili togaviridae, ada 4 serotipe yaitu Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3 dan Dengue-4. Virus ini terdapat dalam darah penderita 1-2 hari sebelum demam. Virus tersebut berada dalam darah (Viremia) penderita selama 4-7 hari. Pada suhu 30 derajat Celcius di dalam tubuh nyamuk Ae. aegypti, virus DBD memerlukan waktu 8-10 hari untuk menyelesaikan masa inkubasi ekstrinsik dari lambung sampai ke kelenjar ludah nyamuk (Ditjen PPM dan PLP). Virus Dengue ditularkan dari orang sakit ke orang sehat melalui gigitan nyamuk Aedes subgenus Stegonya. Di Indonesia ada tiga jenis nyamuk Aedes yang bisa menularkan virus Dengue yaitu: Ae. aegypti, Ae. albopictus, Ae. scutellaris. Dari ketiga jenis nyamuk tersebut Ae. aegypti lebih berperan, terutama Ae. Aegypti betina. Nyamuk Ae. aegypti adalah vektor utama penyakit DBD di daerah tropik. Nyamuk ini semula berasal dari Afrika kemudian menyebar melalui sarana transportasi ke negara lain di
6

Asia dan Amerika. Di Asia Ae. aegypti merupakan satu-satunya vektor yang efektif menularkan DBD, karena tempat perindukkan berada di sekitar rumah dan hidupnya tergantung pada darah manusia. Daerah di mana penduduknya jarang, Ae. aegypti masih memiliki kemampuan penularan yang tinggi karena kebiasaan nyamuk tersebut menghisap darah manusia berulang-ulang pada siang hari. Oleh karena itu, kebiasaan hidup Ae. aegypti dan habitatnya merupakan faktor yang penting menjadi sasaran pencegahan dan pemberantasan DBD. Tempat perindukkan sementara terdiri dari berbagai macam tempat penampungan air (TPA) termasuk: kaleng bekas, ban mobil bekas, pecahan botol, pecahan gelas, talang air, vas bunga, dan tempat yang dapat menampung genangan air bersih. Tempat perindukan permanen adalah TPA untuk keperluan rumah tangga seperti: bak penampungan air, reservoir air, bak mandi, gentong air dan bak cuci di kamar mandi. Tempat perindukan alamiah berupa genangan air pada pohon seperti pohon pisang, pohon kelapa, pohon aren, potongan pohon bambu, dan lubang pohon. Lingkungan biologik yang mempengaruhi penularan penyakit DBD ialah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah dan halamannya. Bila banyak tanaman hias dan tanaman pekarangan berarti akan menambah tempat yang disenangi nyamuk untuk hinggap, istirahat dan juga menambah umur nyamuk.

2.5 Patofisiologi dan Patogenesis Fenomena patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan DBD dengan dengue klasik ialah tingginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopeni. Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler melalui kapiler dengan mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meningkatnya hematokrit. Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis DBD hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian besar menganut "the secondary heterologous infection hypothesis", berarti bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi pertama mendapat infeksi berulang dengan tipe virus Dengue yang berlainan dalam jangka waktu yang tertentu yang diperkirakan antara 6 bulan sampai 5 tahun. Sebab lain dari kematian pada DBD ialah perdarahan saluran pencernaran hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi. Trombositopenia
7

merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar penderita DBD. Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan. Jumlah trombosit secara cepat meningkat pada masa konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai sampai hari ke 10 sejak permulaan penyakit. Pembekuan intravaskuler menyeluruh (PIM/DIC) secara potensial dapat terjadi juga pada penderita DBD tanpa atau dengan renjatan. Renjatan pada PIM akan saling mempengaruhi sehingga penyakit akan memasuki renjatan irrevesible disertai perdarahan hebat, terlihatnya organ-organ vital dan berakhir dengan kematian.

2.6 Mekanisme Penularan Faktor-faktor yang memegang peranan dalam penularan infeksi virus Dengue yaitu manusia, vektor perantara dan lingkungan. Virus Dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Ae. Aegygpti. Nyamuk tersebut mengandung virus Dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 810 hari sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada gigitan berikutnya. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak dalam tubuh nyamuk maka nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya. Penularan ini dapat terjadi setiap nyamuk menusuk, sebelum menghisap darah, nyamuk akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya, agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus Dengue dipindahkan kepada orang lain.

2.7 Pencegahan Demam Berdarah Dengue Untuk mencegah penyakit DBD, nyamuk penularnya harus diberantas sebab vaksin untuk mencegahnya belum ada. Cara tepat untuk memberantas nyamuk Ae. aegypti adalah memberantas jentik-jentiknya di tempat berkembang biaknya. Cara ini dikenal dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD. Strategi pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD dapat dilakukan beberapa cara :

2.7.1 Cara Pemberantasan terhadap Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Depkes RI tahun 2005, pemberantasan terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan insektisida dan tanpa insektisida. Pemberantasan nyamuk tanpa insektisida, dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : a. Fisik
8

Cara ini dikenal dengan kegiatan 3M, yaitu: Menguras (dan menyikat) bak mandi, bak WC, dan lain-lain; Menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan, drum, dan lain-lain); dan Mengubur barang-barang bekas (seperti kaleng, ban, dan lain-lain) secara teratur sekurangnya seminggu sekali. Pada saat ini telah dikenal pula istilah 3M plus, yaitu kegiatan 3M yang diperluas. Bila PSN DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya. Dari penelitian Rosaria Indah dan Nurjannah (2008) di Medan, hanya 68,5% responden yang telah mengetahui bahwa menguras dan membersihkan tempat penampungan air dapat mencegah penularan DBD, berbeda dengan penelitian Krianto (2009) didapatkan 72,6% responden. Penelitian Rosaria Indah dan Nurjanah (2008) mengenai pengetahuan responden tentang menutup tempat penampungan air sebanyak 64%, hal ini sesuai dengan penelitian Acharya (2005) sebanyak 63,2%. Penelitian Rosaria Indah dan Nurjanah (2008) mengenai pengetahuan responden tentang manfaat mengubur kaleng bekas (49,0%), berbeda dengan penelitian Suzuki (2009) di Jepang sebanyak 22%.

b. Kimia Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan digunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida) ini antara lain dikenal dengan istilah larvasidasi. Larvasida yang biasa digunakan antara lain adalah temephos. Formulasi temephos yang digunakan adalah granules (sandgranules). Dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gram (1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air. Larvasida dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan. c. Biologi Pemberantasan jentik nyamuk Aedes aegypti secara biologi dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang atau tempalo, dan lain-lain). Sedangkan pemberantasan nyamuk dengan menggunakan insektisida adalah dengan cara adalah dengan cara fogging (pengasapan untuk membunuh nyamuk). Sistem ini menghasilkan fog/asap dengan cara memecahkan tetesan larutan racun serangga oleh dorongan atau hantaman gas panas, sehingga menjadi butiran (droplet) larutan serangga yang sangat kecil dan terkumpul. Ukuran droplet berkisar antara 5-100 mikrometer. Insektisida yang digunakan dalam sistem thermal fogging biasanya dilarutkan dalam minyak solar atau
9

minyak tanah biasa. Sasaran fogging adalah rumah atau bangunan dan halaman atau pekarangan sekitarnya. Waktu operasi pagi hari atau sore hari untuk pengendalian nyamuk Aedes karena puncak aktivitas menggigit Aedes pagi hari atau sore hari. Namun pemakaian insektisida tidak mungkin dilakukan secara terus menerus, sebab selain mahal, dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan munculnya generasi nyamuk yang resisten terhadap insektisida yang bersangkutan. 2.7.2 Cara Pencegahan Gigitan Nyamuk Diberikan penyuluhan serta informasi kepada masyarakat agar tempat perindukan nyamuk dibersihkan dan memasang kawat kasa agar diri dilindungi dari gigitan nyamuk dengan digunakan pakaian lengan panjang, dan obat gosok anti nyamuk. Menurut Kandun pada penelitian tahun 2000 di Surabaya, penggunaan obat gosok anti nyamuk memberikan keuntungan bagi orang-orang yang terpajan dengan nyamuk. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah terjadinya gigitan nyamuk, yaitu : a. Penyesuaian warna pakaian Pakaian berwarna kuat yang dipakai, baik gelap ataupun sangat terang dapat menarik perhatian nyamuk. Warna putih dan warna lain yang lembut kurang disukai oleh nyamuk. Celana training serta kaus atau baju lengan panjang juga bisa mencegah gigitan nyamuk saat tidur. Dihindari penggunaan pakaian ketat, terutama jika bahannya tipis karena kadang-kadang masih bisa ditembus oleh gigitan nyamuk. b. Penggunaan kelambu Digunakan kelambu sebagai penangkal gigitan nyamuk yang lebih aman. Jaring lembut yang bisa dipasang di sekeliling tempat tidur ini umumnya tidak melepaskan bahan kimia, sehingga bebas risiko alergi dan keracunan. c. Penggunaan pengusir nyamuk Digunakan bahan pengusir nyamuk yang isinya DEET (N, N-diethyl-mtoluamide) dengan kadar 30-50 persen, yang aman untuk orang dewasa maupun anak di atas usia 2 tahun. Baik digunakan dengan cara disemprotkan maupun dioleskan, efektivitas bahan ini bisasanya mampu bertahan hingga beberapa jam. Bahan alami lain yang dapat digunakan sebagai pengusir nyamuk berupa minyak lemon eucalyptus, minyak serei, minyak kayu manis, rosemary atau peppermint. Bahan-bahan tersebut dapat dibuat sendiri dan tersedia juga di pasaran dalam bentuk aromaterapi yang juga dapat digunakan untuk mengusir nyamuk.
10

d. Mandi secara teratur Nyamuk sangat menyukai bau-bauan terutama bau keringat. Karenanya mandi secara teratur kemudian digunakan bedak cukup efektif untuk mencegah gigitan nyamuk. e. Menjaga kebersihan lingkungan Lingkungan yang kotor dan genangan air merupakan tempat yang sangat disukai oleh nyamuk sebagai tempat perindukan. Oleh karena itu lingkungan daerah sekitar tempat tinggal harus dibersihkan untuk mengurangi populasi nyamuk. Utnuk lingkungan dalam rumah diperlukan pelaksanaan gerakan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur).

11

BAB III METODE 3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Program Program penanggulangan DBD ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang khususnya Desa Sungai Baring pada bulan Januari 2013 dengan melakukan survei jentik langsung dari rumah ke rumah di 3 RT (Rukun Tetangga). 3.2 Populasi Seluruh rumah yang terbagi dalam 3 RT dalam lingkup Desa Sungai Baring. 3.3 Cara Kerja 1. Konsultasi dengan Pimpinan Puskesmas untuk menentukan program yang menjadi perhatian untuk dilakukan survei 2. Melakukan komunikasi dengan petugas puskesmas sebagai penanggung jawab program dan Bidan atau Kader desa untuk sosialisasi penduduk 3. Menghubungi Kepala / Pembakal Desa setempat (Desa Sungai Baring) untuk

menjelaskan maksud dan tujuan diadakan survei 4. Melaksanakan pengumpulan data dengan pengamatan dan pencatatan tempat penampungan air setiap rumah 5. Melakukan pengolahan dan analisis data 6. Pencatatan survei program 7. Pelaporan hasil dalam bentuk makalah dan presentasi 3.4 Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan dari pengamatan langsung tempat-tempat yang

memungkinkan menjadi perindukan nyamuk kemudian mencatat ke dalam tabel hasil survei jentik untuk setiap wadah yang positif jentik maupun yang bebas jentik di setiap rumah yang berada dalam wilayah Desa Sungai Baring. Wadah yang dikategorikan

12

sebagai sampel dapat berupa tempat penyimpanan air minum mentah (tempayan) maupun air dispenser (wadah air tumpah), tong / drum, bak mandi dan bak WC. Data sekunder didapatkan dari data laporan petugas Puskesmas Sungai Malang pemegang program DBD. 3.5 Pengolahan Data Dilakukan penghitungan terhadap seluruh data yang didapatkan dengan penyajian dalam bentuk persentase angka bebas jentik dari seluruh rumah di setiap RT wilayah Desa Sungai Baring. 3.6 Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk tekstular dan tabular 3.7 Pelaporan Data Seluruh data disusun dalam bentuk makalah lengkap dan dipresentasikan dalam format program power point untuk selanjutnya dipresentasikan di hadapan pimpinan dan staf Puskesmas Sungai Malang.

13

BAB IV HASIL 4.1 Profil Puskesmas Ditinjau dari segi Geografis dan Lingkungan, Puskesmas Sungai Malang memiliki luas wilayah kerja 64.5 Km2 dengan 2 (dua) Kelurahan dan 19 desa yang menjadi wilayah binaan yang pada umumnya berada di daerah rawa dan sebagian kecil daratan sebagai pusat pertumbuhan kota dan perkampungan yang sebagian besar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua dan sebagian kecil dengan transportasi air. Wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang berbatasan dengan : Sebelah Utara Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Amuntai Utara. : Berbatasan dengan Puskesmas Amuntai Tengah dan

Kecamatan Banjang. Sebelah Selatan Sebelah Barat Selatan. : Berbatasan dengan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. : Berbatasan dengan Kec. Sungai Pandan Kec. Amuntai

Jumlah Penduduk wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang 31.499 jiwa yang terdiri dari laki-laki 15.652 jiwa ( 49,70 % ) dan perempuan 15.847 jiwa ( 50,30 % ) dengan kepadatan penduduk tidak merata, kepadatan penduduk paling tinggi di daerah perkotaan antara lain Kelurahan Sungai Malang, desa Palampitan Hilir, desa Palampitan Hulu dan Kelurahan Paliwara. Kepadatan penduduk wilaya perkotaan bertambah setiap tahunnya, dimana terlihat banyaknya pembangunan perumahan penduduk disertai pertumbuhan penduduk heterogen yang berdampak makin rumitnya permasalahan yang dihadapi jajaran kesehatan.

14

Berikut ini peta wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang :

Mata Pencaharian Penduduk usia produktif pada wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang sangat bervariasi seperti terlihat pada gambar 1.

15

Mata Pencarian Penduduk

6% 5%

9%

Tani & Nelayan Pekerja Swasta Dagang Pegawai Pemerintahan Lain-lain


55%

25%

Gambar 1. Persentasi mata pencarian penduduk Sungai Malang

Tabel 1. Jumlah Penduduk, Kepala Keluarga dan Jumlah Rumah Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Malang
Jumlah No Desa / Kelurahan Penduduk 6033 569 407 649 569 2225 2398 2529 1297 1203 1129 1849 2129 2163 1573 1188 Jumlah Kepala Keluarga 1857 174 142 277 141 655 503 569 287 311 314 415 537 446 348 280 Jumlah Rumah 1543 163 115 169 155 635 627 637 340 311 305 469 535 511 386 293

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Sungai Malang Tigarun Sungai Baring Harus Harusan Paliwara Palampitan Hulu Palampitan Hilir Kota Raden Hulu Kota Raden Hilir Kembang Kuning Pasar Senin Kandang Halang Rantawan Muara Tapus Datu Kuning

16

17 18 19 20 21

Tapus Pinang Habang Danau Ceramin Mawar Sari Pinangkara

1229 581 793 448 538 31499

265 178 194 122 171 8186

285 153 193 98 116 8039

Jumlah

4.2

Sumber Daya Kesehatan Data ketenagaan yang ada pada Puskesmas Sungai Malang dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Data Ketenagaan Puskesmas Sungai Malang Tahun 2012 LakiLaki 1 0 1 0 6 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Jenis Tenaga Kesehatan Dokter Umum Dokter Gigi Kesehatan Masyarakat Apoteker Perawat Perawat Gigi Sanitarian Analis Kesehatan Gizi Asisten Apoteker Bidan Puskesmas Bidan Desa TU Pekarya PTT Bidan Jumlah

Perempuan Jumlah 2 1 2 1 5 2 2 2 1 1 5 8 1 1 3 3 1 3 1 11 2 2 2 2 1 5 8 1 2 3 46

4.3

Sarana Pelayanan Kesehatan


17

Dengan 2 kelurahan dan 19 desa yang menjadi binaan Puskesmas Sungai Malang memiliki Sarana dan Prasarana sebagai berikut : a. Puskesmas Induk b. Puskesmas Pembantu 1) Pustu Pinang Habang 2) Pustu Muara Tapus 3) Pustu Pasar Senin 4) Pustu Pinangkara 5) Pustu Sungai Baring c. Poliklinik Desa / Pos Kesehatan Desa 1) Poskesdes desa Sungai Baring 2) Poskesdes desa Harusan 3) Poskesdes desa Harus 4) Poskesdes desa Tapus 5) Poskesdes Kandang Halang Bidan desa yang ada pada Puskesmas Sungai Malang terdiri dari 5 orang yang bertempat tinggal di desa : 1) Desa Sungai Baring 2) Desa Harusan 3) Desa Harus 4) Desa Tapus 5) Desa Kandang Halang d. Puskesmas Keliling : : 1 buah 5 buah

18

Satu unit mobil pelayanan kesehatan Puskesmas Keliling merk ISUZU dengan bahan bakar solar. e. Fasilitas Lainnya : Kendaraan roda 2 (dua) sebanyak 22 buah untuk memperlancar kegiatan operasional di lapangan.

Profil Singkat Survey Jentik Desa Sungai Baring Desa Sungai Baring terbagi dalam 3 Rukun Tetangga Jumlah seluruh rumah = 106 rumah Rumah yang tidak diperiksa = 17 rumah Rumah yang diperiksa = 89 rumah Rumah bebas jentik = 84 rumah Rumah dengan / positif jentik = 5 rumah Angka Bebas Jentik Desa Sungai Baring = 94.38 %

* Angka Bebas Jentik adalah persentase rumah dan/atau Tempat Umum yang tidak ditemukan jentik, pada pemeriksaan jentik berkala.

19

Tabel 3. Hasil Survei Jentik Desa Sungai Baring


Di Dalam Rumah Bak Mandi Tempayan dgn dgn dgn dgn air jentik air jentik 13 17 8 1 22 8 20 29 1 59 -

No 1 2 3

Rumah (RT) I II III Jumlah

dgn air 13 1 1 15

Drum dgn jentik -

Lain-lain dgn dgn air jentik 37 1 79 53 169 1

dgn air 1 1 1 3

Drum dgn jentik 1 1 1 3

D Bak Man dgn dgn air jen -

Tabel 4. Persentase Survei Jentik Desa Sungai Baring RT 1 Jumlah Rumah Rumah Sampel* Rumah positif jentik Angka Bebas Jentik (Tiap RT) Total Persentase Angka Bebas Jentik 94.38 %
20

RT 2 39 36 2 94.4 %

RT 3 38 30 1 96.6 %

29 23 2 91.3 %

Desa Sungai Baring *Rumah Sampel (rumah yang berpenghuni dan pemilik rumah mengijinkan untuk diperiksa tempat penampungan air di dalam rumah)

Stratifikasi daerah dapat dinyatakan aman / bebas tidaknya dari penyakit DBD berdasarkan survei angka bebas jentik (ABJ) dikategorikan sebagai: 1. Kecamatan / Desa Bebas adalah kecamatan yang tidak pernah ada penderita DBD selama 3 tahun terakhir dan persentase rumah yang ditemukan jentik kurang dari 5% dengan Angka Bebas Jentik (>95 %), 2. Kecamatan / Desa Potensial adalah kecamatan yang dalam 3 tahun terakhir tidak pernah ada penderita DBD tetapi penduduknya padat, mempunyai hubungan transportasi yang ramai dengan wilayah lain dan persentase rumah yang ditemukan jentik lebih atau sama dengan 5% dengan angka bebas jentik (=95 %). 3. Kecamatan / Desa Sporadis adalah kecamatan yang dalam 3 tahun terakhir terdapat penderita DBD tetapi tidak setiap tahun. 4. Kecamatan / Desa Endemis adalah kecamatan yang dalam 3 tahun terakhir, setiap tahun ada penderita DBD

21

Diagram Rumah Bebas Jentik Desa Sungai Baring

rumah tidak diperiksa = 17 rumah bebas jentik = 84 rumah dengan jentik = 5

Gambar 2. Jumlah rumah sampel dengan jentik, bebas jentik dan rumah yang tidak diperiksa

Beberapa alasan rumah tidak diperiksa antara lain : Rumah tidak berpenghuni / sedang keluar rumah / rumah sewa Pemilik rumah menolak mengijinkan rumahnya diperiksa dengan alasan malu

KASUS DBD WILAYAH KERJA SUNGAI MALANG TAHUN 2012


6 5 4 3 2 1 0

KASUS DBD WILAYAH KERJA SUNGAI MALANG TAHUN 2012

22

Diagram 1. Jumlah Kasus DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Malang Tahun 2012

KASUS DBD WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI MALANG TAHUN 2013 ( BULAN JANUARI - FEBRUARI )
6 5 4 3 2 1 0

Jumlah Kasus DBD

Diagram 2. Jumlah Kasus DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Malang Tahun 2013 Melihat data yang ada dapat menggambarkan kondisi bahwa kasus DBD di awal tahun 2013 meningkat dibandingkan kasus DBD sepanjang tahun 2012 dan mencakup daerah yang lebih luas. Lampiran 1. Formulir Hasil Survei Jentik Aedes Desa Sungai Baring Kabupaten HSU Bab V Diskusi Demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Keberhasilan penanganan penyakit demam berdarah sangat tergantung pencegahan, pengobatan, ketepatan dan kecepatan diagnosa penyakit demam berdarah. Menurut Depkes RI, kasus DBD adalah semua penderita DBD dan tersangka DBD. Penderita penyakit DBD adalah penderita dengan tanda-tanda yang memenuhi kreteria WHO dan tersangka DBD yang hasil pemeriksaan serologis (haemaglutination inhibition test atau dengue blot) positip.

23

Pemutusan siklus penularan penyakit demam berdarah dengue dilakukan dengan penyemprotan nyamuk dewasa khususnya pada wilayah dengan indikasi adanya kasus. Menurut CDC (2003), beberapa negara berhasil mengendalikan penyakit ini, sebagaimana pemberlakuan destruction of disease bearing insect act di Singapura sejak tahun 1966. Dengan undang-undang ini dilakukan inspeksi jentik dari rumah ke rumah, dengan sanksi akan diterapkan pada rumah positif jentik. Usaha pencegahan dan pemberantasan DBD yang telah dilakukan pemerintah, antara lain dengan metode pengasapan (fogging) dan abatisasi. Pelaksanaan pengabutan dengan aplikasi ultra low volume (ULV) masih merupakan metode yang paling diandalkan dalam pengendalian vector. Namun metode aplikasi penggunaan bahan kimia jika tidak terkontrol dapat berakibat pada terjadinya pencemaran lingkungan, serta berpotensi pada

terjadinya resistensi vektor. Metode pengasapan menurut WHO (2000), merupakan metode utama pemberantasan demam berdarah dengue yang telah dilakukan hampir selama 25 tahun di banyak negara. Penyemprotan sebaiknya tidak dipergunakan, kecuali keadaan genting selama terjadi KLB atau wabah. Penyemprotan di masyarakat akan menimbulkan rasa aman semu, walaupun berdasarkan aspek politis metode ini lebih disukai karena terlihat lebih nyata dan pemerintah terkesan sudah melakukan usaha pencegahan dan pemberantasan DBD. Sesuai rekomendasi Depkes RI, setiap kasus DBD harus segera ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan lainnya untuk mencegah penyebarluasan atau mencegah terjadinya KLB. Penyelidikan epidemiologi demam berdarah dengue merupakan kegiatan pencarian penderita atau tersangka lainnya, serta pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD dirumah penderita atau tersangka dan rumah-rumah sekitarnya dalam radius sekurangkurangnya 100 meter. Juga pada tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penularan penyakit. Tujuannya utama kegiatan ini untuk mengetahui ada tidaknya kasus DBD tambahan serta terjadinya potensi meluasnya penyebaran penyakit pada wilayah tersebut. Komponen kegiatan diatas antara lain dengan melakukan pengamatan jentik. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan indikator ukuran kepadatan jentik yaitu: angka bebas jentik (ABJ), house index (HI), container index (CI) dan bruteau index (BI). HI lebih menggambarkan penyebaran nyamuk di suatu wilayah tertentu (Depkes, 1990). Apabila HI

24

kurang dari 5% menunjukkan kecepatan penularan DBD cukup, sedangkan bila lebih 5% berarti potensial terjadi penularan DBD.

Dari survei jentik yang dilakukan di Desa Sungai Baring RT 1,2 dan 3 Kabupaten Hulu Sungai Utara didapatkan data sebagai berikut: 1. Desa Sungai Baring memiliki 3 rukun tetangga dan jumlah rumah tangga yang disurvei sebanyak 89 rumah dengan 84 rumah diantaranya bebas jentik nyamuk. Dengan kata lain masih terdapat 5 rumah di 3 Rukun Tetangga Desa Sungai Baring yang positif jentik. Hal ini belum sepenuhnya baik / aman terbebas dari penyakit DBD bagi desa tersebut. 2. Angka Bebas Jentik Desa Sungai Baring = 94.38 %, melihat hasil tersebut Desa Sungai Baring masuk dalam kriteria Desa Potensial DBD. Target pengendalian DBD yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kesehatan 2010-2014 dan

KEPMENKES 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal yang menguatkan pentingnya upaya pengendalian penyakit DBD di Indonesia hingga ketingkat Kabupaten/kota bahkan sampai ke desa. Dalam RPJMN terdapat indikator kinerja/target pengendalian DBD tahun 2014 dengan Angka Bebas Jentik lebih dari sama dengan 95 % dapat dicapai. Melihat target persentase ABJ Nasional dapat dikatakan bahwa Desa Sungai Baring belum bisa mencapai target tersebut di tahun 2013 ini.

Bab VI Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan Rumah positif jentik di Desa Sungai Baring terhitung sebanyak 5 rumah di 3 Rukun Tetangga Desa Sungai Baring yang positif jentik. Hal ini belum sepenuhnya baik / aman terbebas dari penyakit DBD bagi desa tersebut. Jika ingin dicapai Desa Bebas Jentik maka
25

perlu dicapai ABJ sebesar 95 % dan jumlah maksimal rumah positif jentik di desa tersebut yang masih dapat ditoleransi sebanyak 4 buah rumah. Melihat hasil yang didapatkan dari hasil survei jentik yang dilakukan di setiap rumah pada 3 rukun tetangga di Desa Sungai Baring yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang terlihat bahwa angka bebas jentik Desa Sungai Baring belum mencapai kriteria stratifikasi Daerah atau Desa Bebas Penyakit DBD serta belum tercapai target ABJ Nasional Pengendalian DBD 2014 yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kesehatan 2010-2014 dan KEPMENKES 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal. Saran Untuk kemajuan peningkatan persentase angka bebas jentik dalam wilayah kerja Puskesmas Sungai Malang khususnya Desa Sungai Baring dan tercapainya target desa / kecamatan bebas DBD maka tetap diperlukan pelaksanaan penyuluhan rutin seperti sosialisasi 3M di rumah masing-masing warga, pemberian abate di tempat penampungan air warga dan pemeriksaan jentik berkala di rumah dan tempat umum secara teratur sekurangkurangnya tiap 3 bulan untuk mengetahui keadaan populasi jentik nyamuk penular penyakit demam berdarah dengue. Dapat pula dilakukan pengasapan (fogging) pada desa atau kecamatan yang ditemukan penderita demam berdarah dengue.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dinkes HSU. Kabar Sehat. Sarana Informasi Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2025. Dinas Kesehatan Hulu Sungai Utara. Ed.24. 2010. Hal.2. 2. Dirjen PPM-PL Depkes RI. Kebijaksanaan Program P2-DBD Dan Situasi Terkini DBD Indonesia. 2004

26

3. KEMENKES. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan. 2011 4. DEPKES RI. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2005 5. DEPKES RI. Menuju Desa Bebas Demam Berdarah Dengue. Petunjuk Bagi Kelompok Kerja Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (POKJA DBD). Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. 1997.

27