Anda di halaman 1dari 4

Peraturan Hukum CSR

Terdapat empat peraturan yang mewajibkan perusahaan tertentu untuk menjalankan program tanggungjawab sosial perusahaan atau CSR dan satu acuan (Guidance) ISO 26000 sebagai referensi dalam menjalankan CSR (Rahmatullah, 2011), diantarnya:

1.

Keputusan Menteri BUMN Tentang Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL).

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara BUMN, Per-05/MBU/2007 Pasal 1 ayat (6) dijelaskan bahwa Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil, yang selanjutnya disebut Program Kemitraan, adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Sedangkan pada pasal 1 ayat (7) dijelaskan bahwa Program Bina Lingkungan, yang selanjutnya disebut Program BL, adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Adapun ruang lingkup bantuan Program BL BUMN, berdasarkan Permeneg BUMN, Per-05/MBU/2007 Pasal 11 ayat (2) huruf e adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bantuan korban bencana alam; Bantuan pendidikan dan/atau pelatihan; Bantuan peningkatan kesehatan; Bantuan pengembangan prasarana dan/atau sarana umum; Bantuan sarana ibadah; Bantuan pelestarian alam.

2.

Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007

Selain BUMN, saat ini Perseroan Terbatas (PT) yang mengelola atau operasionalnya terkait dengan Sumber Daya Alam (SDA) diwajibkan melaksanakan program CSR, karena telah diatur dalam UndangUndang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007. Dalam pasal 74 dijelaskan bahwa: 1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, 2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran, 3. yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, 4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

3. Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007


Peraturan lain yang mewajibkan CSR adalah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007, tentang Penanaman Modal, baik penanaman modal dalam negeri, maupun penenaman modal asing. Dalam Pasal 15 (b) dinyatakan bahwa "Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan." Sanksi-sanksi terhadap badan usaha atau perseorangan yang melanggar peraturan, diatur dalam Pasal 34, yaitu berupa sanksi administratif dan sanksi lainnya, diantaranya: (a) Peringatan tertulis; (b)

pembatasan kegiatan usaha; (c) pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal; atau (d) pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.

4.

Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi Nomor 22 Tahun 2001

Khusus bagi perusahaan yang operasionalnya mengelola Sumber Daya Alam (SDA) dalam hal ini minyak dan gas bumi, terikat oleh Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001, tentang Minyak dan Gas Bumi, disebutkan pada Pasal 13 ayat 3 (p),: Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memuat paling sedikit ketentuanketentuan pokok yaitu: (p) pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adat. Berdasarkan Undang-undang tersebut, perusahaan yang operasionalnya terkait Minyak dan Gas Bumi baik pengelola eksplorasi maupun distribusi, wajib melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat dan menjamin hak-hak masyarakat adat yang berada di sekitar perusahaan.

5.

Guidance ISO 26000

Berbeda dari bentuk ISO yang lain, seperti ISO 9001: 2000 dan 14001: 2004. ISO 26000 hanya sekedar standar dan panduan, tidak menggunakan mekanisme sertifikasi. Terminologi Should didalam batang tubuh standar berarti shall dan tidak menggunakan kata must maupun have to. Sehingga Fungsi ISO 26000 hanya sebagai guidance. Selain itu dengan menggunakan istilah Guidance Standard on Social Responsibility, menunjukkan bahwa ISO 26000 tidak hanya diperuntukkan bagi Corporate (perusahaan) melainkan juga untuk semua sektor publik dan privat. Tanggung jawab sosial dapat dilakukan oleh institusi pemerintah, Non governmental Organisation (NGO) dan tentunya sektor bisnis, hal itu dikarenakan setiap organisasi dapat memberikan akibat bagi lingkungan sosial maupun alam. Sehingga adanya ISO 26000 ini membantu organisasi dalam pelaksanaan Social Responsibility, dengan cara memberikan pedoman praktis, serta memperluas pemahaman publik terhadap Social Responsibility. ISO 26000 mencakup beberapa aspek berikut: ISO 26000 menyediakan panduan mengenai tanggung jawab sosial kepada semua bentuk organisasi tanpa memperhatikan ukuran dan lokasi untuk: a. b. c. d. Mengindentifikasi prinsip dan isu Menyatukan, melaksanakan dan memajukan praktek tanggung jawab sosial Mengindetifikasi dan pendekatan/pelibatan dengan para pemangku kepentinga Mengkomunikasikan komitmen dan performa serta kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. ISO 26000 mendorong organisasi untuk melaksanakan aktivitas lebih sekedar dari apa yang diwajibkan. ISO 26000 menyempurnakan/melengkapi Instrumen dan inisiatif lain yang berhubungan dengan tanggung jawab sosial Mempromosikan terminologi umum dalam lingkupan tanggung jawab sosial dan semakin memperluas pengetahuan mengenai tanggung jawab sosial. Konsisten dan tidak berkonflik dengan traktat internasional dan standarisasi ISO lainnya serta tidak bermaksud mengurangi otoritas pemerintah dalam menjalankan tanggung jawab sosial oleh suatu organisasi.

Prinsip ketaatan pada hukum/ legal compliance, prinsip penghormatan terhadap instrumen internasional, prinsip akuntabilitas, prinsip transparasi, prinsip pembangunan keberlanjutan, prinsip ethical conduct, prinsip penghormatan hak asasi manusia, prinsip pendekatan dengan pencegahan dan prinsip penghormatan terhadap keanekaragaman

Strategi Pelaksanaan CSR


BY DANIRI POSTED ON 21 JULY 2009 POSTED IN: PEDULI SOSIAL Bisnis Indonesia, 15 Juli 2009 CSR (corporate social responsibility) akan memberikan dampak dan dapat dirasakan jika perusahaan memiliki divisi atau departemen sendiri yang menangani masalah CSR dan bukan lagi ditangani di tingkat corporate secretary atau bahkan bagian dari divisi pemasaran atau public relations. Dengan demikian, konsentrasi untuk pengembangan program dan kinerja dapat dilakukan secara optimal dan tidak bersinggungan dengan kegiatan utama perusahaan. Program CSR yang berkelanjutan (sustainable) diharapkan akan dapat membentuk atau menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri. Pengembangan kegiatan yang berkesinambungan, kreatif dan konsisten pada peningkatan kualitas hidup manusia. Program CSR diperlukannya komitmen yang kuat, partisipasi aktif, serta ketulusan dari semua pihak yang peduli. CSR akan lebih mudah dan murah jika dipahami oleh seluruh individu didalam perusahaan dalam konteks pencapaian visi dan misi perusahaan. Pada internal perusahaan CSR harus dipandang seperti keselamatan kerja. kalau keselamatan kerja diterapkan hanya melalui pengawasan dan penyediaan alat kelelamatan maka tentunya akan lebih mahal. Berbagai unit kerja yang terkait dengan pemangku kepentingan berpotensi mendapatkan manfaat untuk performanya dari kegiatan berCSR dan tentunya perlu berkontribusi, baik langsung maupun tidak langsung. Pengembangan Masyarakat yang sering diidentikkan dengan CSR (walau tidak tepat) adalah benar tugas pokok unit kerja dibawah departemen CSR. Tetapi berperilaku yang bertanggung jawab dan memberikan manfaat adalah kewajiban semua individu dalam perusahaan. Standar akutansi keuangan di Indonesia belum mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial, terutama mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan atau akibat lain yang terjadi dari kegiatannya. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh perusahaan untuk menerapkan CSR sebagai bagian dari kegiatan pembangunan berkelanjutan dan termaktub dalam strategi perusahaan: Pertama, perencanaan yaitu membangun kesadaran pentingnya CSR dan komitmen manajemen sangat diperlukan. Setelah itu memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasikan aspek-aspek yang perlu mendapatkan prioritas perhatian dan langkah yang tepat dalam membangun struktur perusahaan sehingga program CSR nantinya akan berjalan secara baik. Langkah selanjutnya adalah membuat modul dan pedoman implementasi CSR dengan cara mengikuti lokakarya, seminar, mencari referensi dari berbagai macam perusahaan atau bahkan meminta tenaga ahli yang independen dari luar perusahaan dalam membuat master manual planning. Manual book ini akan dijadikan acuan pedoman, kerangka serta pedoman dalam pengelolaan kegiatan sosial. Pedoman ini diharapakan memberikan solusi terbaik dengan berbagai macam program, solusi serta tindakan jika terjadi hal-hal yang diluar skenario. Berdasarkan uraian di atas, maka para praktisi CSR diharapkan bisa menyusun program dan kegiatan bagi perusahaan secara lebih baik. Kegiatan CSR tidak lagi dipandang sekadar membagi-bagikan hadiah atau uang secara isidental, melainkan secara strategi merencanakan program yang bisa melahirkan dampak

atau outcome bukan sekedar hasil dari output. Dengan begitu, maka program dan kegiatan CSR bisa memiliki manfaat jangka panjang baik bagi organisasi maupun komunitas. Kedua, tata cara implementasi pedoman penerapan CSR dilakukan dengan suatu tim khusus yang dibentuk langsung berada di bawah pengawasan salah satu direktur atau CEO yang ditunjuk sebagai CSR champion di perusahaan. Dengan demikian program CSR yang akan diimplementasikan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen perusahaan, sehingga dalam perjalanan tidak ada kendala serius yang dapat dialami oleh unit penyelenggara. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada dasarnya harus sejalan dengan pedoman CSR yang ada, berdasar roadmap yang telah disusun misalnya melalui sistem manajemen kinerja, prosedur pengadaan, proses produksi, pemasaran dan proses bisnis lainnya. Dengan upaya ini dapat dinyatakan bahwa penerapan CSR bukan sekedar kosmetik namun telah menjadi strategi perusahaan, bukan lagi sebagai upaya untuk compliance tapi sudah beyond compliance. Ketiga, evaluasi pelaksanaan dengan mengukur sejauh mana efektivitas penerapan CSR. Evaluasi dilakukan baik saat kegiatan itu berhasil atau gagal, baik secara internal maupun mengundang pihak independen. Evaluasi dalam bentuk assessement audit atau scoring juga dapat dilakukan secara mandatory. Evaluasi tersebut dapat membantu perusahaan untuk memetakan kembali kondisi dan situasi serta capaian perusahaan dalam implementasi CSR sehingga dapat mengupayakan perbaikan-perbaikan yang perlu berdasarkan rekomendasi yang diberikannya. Keempat, pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Jadi CSR bukanlan kegiatan sporadis, bagi-bagi uang atau keterpaksaan tetapi lebih merupakan strategi perusahaan yang akan membawa manfaat jangka panjang baik bagi perusahaan, pemegang saham maupun pemangku kepentingan.