Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN Sejarah awal penyembuhan luka dimulai sekitar abad 2000 sebelum Masehi, dimulai dari metode

pengobatan spiritual oleh bangsa Sumeria. Kemudian mulai dibedakan antara luka terinfeksi dan tidak terinfeksi serta pengobatan sederhana menggunakan ramuan yang mengandung madu sebagai antibakterial, serat sebagai penyerap, dan lemak sebagai penghalang (barrier) infeksi. Hal-hal tersebut hingga saat ini masih dianggap penting untuk manajemen luka sehari-hari. Bangsa Yunani mulai mengklasifikasi luka menjadi tipe akut dan kronis, begitu pula Galen dari Pergamum, seorang yang ditunjuk sebagai dokter untuk gladiator romawi berasumsi tentang pentingnya lingkungan yang lembab untuk memastikan penyembuhan luka yang memadai. Penelitian untuk konsep ini membutuhkan waktu yang sangat panjang hingga dapat dibuktikan bahwa lingkungan yang lembab dapat meningkatkan proses epitelisasi sebesar lima puluh persen (50%) dibandingkan lingkungan kering sekitar luka. Sejarah berikutnya mulai ditemukan antiseptik serta tindakan mencuci tangan dengan sabun dan hipoklorit untuk mengurangi infeksi luka. Catatan Joseph Lister pada kunjungan ke Glasgow, skotlandia, menemukan bahwa air pada pipa-pipa pembuangan limbah yang mengandung asam karbol (fenol) tampak jernih dibandingkan saluran pembuangan wilayah lainnya. Lister mulai membasahi instrumen dengan fenol serta penyemprotan di kamar operasi, mampu mengurangi tingkat kematian sebesar lima puluh hingga lima belas persen. Setelahnya muncul penggunaan iodoform pada produksi pakaian antiseptik, hingga seluruh penemuan dikombinasikan untuk penyembuhan luka optimal. (1) Penyembuhan luka, suatu proses hemostatik terkait respons tubuh terhadap cedera. Cedera dapat akut atau kronis dan melibatkan berbagai jaringan,

namun penyembuhan luka yang paling jelas diilustrasikan dengan memeriksa respon terhadap ketebalan cedera total (misalnya, pemotongan atau insisi) ke epidermis dan dermis.(2) Definisi penyembuhan luka meliputi perbaikan atau pemulihan cacat dalam suatu organ atau jaringan, yang biasanya pada kulit. Penyembuhan luka secara umum, merupakan respon dari suatu organisme terhadap gangguan fisik suatu jaringan / organ untuk membangun kembali hemostatik dari jaringan / organ dan untuk menstabilkan seluruh sistem fisiologi organisme. (5) Penelitian terbaru menyatakan keterlibatan sel stem dan osteoprogenitor dalam proses penyembuhan luka memerlukan perspektif yang lebih luas daripada yang semata-mata berfokus pada cacat itu sendiri. Penyembuhan luka paling baik dipahami sebagai suatu respon global terhadap cedera terlepas dari daerah lokasi baik di kulit, hati, atau jantung. (5) Ada perbedaan antara jaringan dalam hal waktu yang diperlukan untuk regenerasi lengkap. Sebuah luka dikatakan sembuh sepenuhnya didefinisikan sebagai telah kembalinya ke struktur anatomi normal, fungsi dan tampilan jaringan. Kebanyakan luka biasanya akibat luka sederhana namun, beberapa luka tidak sembuh secara tepat waktu dan teratur. Beberapa faktor sistemik dan lokal dapat memperlambat jalannya penyembuhan luka sehingga menjadi luka kronis. (6)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA LUKA Definisi Luka didefinisikan sebagai kerusakan atau gangguan pada struktur dan fungsi anatomi yang normal. Hal ini dapat berkisar dari yang sederhana dalam integritas epitel kulit atau bisa lebih dalam, meluas dengan kerusakan jaringan subkutan seperti tendon, otot, pembuluh, saraf, parenkim organ dan bahkan tulang. Luka dapat muncul dari proses patologis yang dimulai secara eksternal atau internal dalam organ yang terlibat. Sebuah luka, terlepas dari penyebabnya, memiliki kemampuan merusak jaringan dan mengganggu lingkungan lokal di dalamnya. Tanggapan fisiologis terhadap pendarahan, berupa kontraksi pembuluh darah dengan koagulasi, aktivasi komplemen dan respon peradangan. (6) Klasifikasi luka Luka dapat diklasifikasikan sebagai luka akut atau kronis sesuai dengan waktu yang diperlukan dengan memperhatikan proses, komplikasi yang mungkin terjadi, hingga penyembuhannya. Luka Akut Definisi luka akut adalah luka yang telah terjadi dalam waktu 3 sampai 4 minggu. Jika luka tetap di luar 4 sampai 6 minggu dianggap sebagai luka kronis.
(5) (1)

Spektrum

penyembuhan

luka

akut

cukup

luas,

penyembuhan

normal

dipengaruhi oleh faktor-faktor sistemik dan lokal. Faktor-faktor sistemik terkait

usia, nutrisi, trauma, penyakit metabolik, imunosupresi, kelainan jaringan ikat, dan merokok. Sedangkan faktor lokal seperti cedera mekanik, infeksi, edema, iskemia / nekrotik jaringan, agen topikal, radiasi pengion, tegangan oksigen rendah, dan benda asing. (1) Luka Kronis Luka kronis adalah gagalnya tahap normal penyembuhan dan tidak dapat diperbaiki dalam jalur penyembuhan luka. Kulit borok, yang biasanya terjadi pada trauma atau yang membahayakan vaskularisasi jaringan lunak, juga dianggap kronis. Mekanisme penyebab lain mungkin juga memainkan peran dalam etiologi luka kronis seperti trauma berulang, perfusi atau oksigenasi yang buruk, dan / atau peradangan berlebihan berkontribusi pada penyebab dan melestarikan kronisitas luka.(1) Luka yang berlangsung 4 sampai 6 minggu dianggap sebagai luka kronis, sebuah istilah yang juga termasuk luka yang telah hadir selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.(5) Faktor-faktor yang mengganggu proses penyembuhan termasuk infeksi, hipoksia jaringan, nekrosis, eksudat dan faktor peradangan yang berlanjut secara fungsional dan anatomi sehingga luka-luka ini sering kambuh. Penyebab luka-luka kronis ini dapat terjadi akibat bermacam-macam sebab seperti karena tekanan, arteri dan insufisiensi vena, luka bakar dan vaskulitis. (6) Kriteria lain diperhitungkan pada klasifikasi luka meliputi etiologi, tingkat kontaminasi, karakteristik morfologi dan koneksi dengan organ berongga ataupun padat. Etiologi luka dapat diklasifikasikan menurut beberapa faktor pemicu seperti memar, lecet, luka tusukan, crush wound, luka tembakan dan luka bakar. Menurut tingkat kontaminasi, luka diklasifikasikan menjadi tiga kelompok sebagai luka aseptik (operasi tulang dan sendi); luka terkontaminasi 4

(operasi abdomen dan paru-paru), dan luka septik (abses, operasi usus, dll). Luka juga dapat disebut sebagai tertutup, di mana jaringan yang mendasarinya telah trauma tetapi kulit belum terputus, atau sebagai luka terbuka, di mana lapisan kulit telah rusak dengan jaringan yang mendasari telah terpajan dunia luar. (6) Luka Sayatan Bedah Dibutuhkan setidaknya 3 minggu untuk kolagen cukup mengalami renovasi dan menghubungkan jaringan untuk mencapai kekuatan moderat. Pada 1 sampai 2 minggu, ketika sebagian besar jahitan dilepas, luka memiliki sebagian kecil dari kekuatan akhir dan karenanya mengganggu bahkan dengan penekanan sederhana. Oleh karena itu, dalam jahitan ditempatkan struktur yang mengandung kolagen untuk menahan ketegangan berkepanjangan. Lapisan dermis kulit, usus submukosa, pembungkus otot (fascia), tendon, ligamentum, Scarpa's fascia, dan dinding pembuluh darah mewakili sebagian daftar jaringan dengan kandungan kolagen tinggi. Untuk jahitan dalam ini diperlukan bahan dapat diserap. Paling umum seperti, asam poliglaktik (Vicryl , Dexon), mempertahankan kekuatan tarik selama sekitar 3 minggu. Jahitan digunakan untuk tendon dan lapisan pembungkus otot perut biasanya permanen atau jika diserap idealnya mempertahankan kekuatan tarik mereka untuk mendekati 6 minggu. Setelah 6 minggu, jaringan terluka telah memperoleh sekitar 50% dari kekuatan akhir. Untuk mencegah pembentukan hernia, angkat berat dihindari setelah laparotomi selama 6 minggu.
(2)

Kebanyakan jahitan yang dapat diserap mempertahankan kekuatan tarik hanya 3 minggu atau lebih. Studi pada manusia telah menunjukkan bahwa hal ini tidak cukup untuk mencegah pelebaran di bekas luka tidak lebih baik daripada semua jahitan dikeluarkan pada 7 hari. Oleh karena itu, untuk mencapai yang optimal dalam luka tertutup di bawah atau di daerah-daerah ketegangan seperti bahu,

jahitan tetap harus dibiarkan pada tempatnya selama 6 bulan sampai renovasi pada dasar kolagen lengkap. Prolene intradermal yang berkelanjutan atau jahitan nilon jelas dengan akan mencapai tujuan itu. (2) Penyembuhan Luka Penyembuhan luka secara umum, merupakan respon dari suatu organisme terhadap gangguan fisik suatu jaringan / organ untuk membangun kembali hemostatik dari jaringan / organ dan untuk menstabilkan seluruh sistem fisiologi organisme. Penyembuhan luka meliputi perbaikan atau pemulihan cacat dalam suatu organ atau jaringan, yang biasanya pada kulit. (5) Penyembuhan luka normal merupakan proses dinamis dan kompleks yang melibatkan serangkaian peristiwa yang terkoordinasi, termasuk perdarahan, koagulasi, inisiasi respons peradangan akut , regenerasi, migrasi dan proliferasi jaringan ikat dan sel parenkim, serta sintesis matriks ekstraselular protein, remodelling dari parenkim baru, jaringan ikat dan deposisi kolagen dan akhirnya, meningkatkan kekuatan luka. Penyembuhan luka dimulai pada saat cedera dan melibatkan migrasi sel, ekstraselular matriks dan aksi mediator terlarut. Mekanisme yang mendasari proses di atas meliputi mediator inflamasi dan faktor pertumbuhan, interaksi sel dan matriks ekstraselular yang mengatur proliferasi sel, migrasi dan diferensiasi serta kegiatan yang terlibat dengan epitelisasi, fibroplasi dan angiogenesis; luka kontraksi; dan tahap penyudahan (remodelling). (6)

Fase penyembuhan luka Fase Inflamasi Fase peradangan penyembuhan luka akut dimulai segera setelah cedera. Respon awal terhadap cedera pembuluh darah berupa pembentukan gumpalan darah untuk menghentikan pendarahan. Pembentukan platelet plug mengawali proses hemostatik bersama dengan faktor-faktor pembekuan yang diaktifkan oleh kolagen dan protein membran basal yang terpapar oleh cedera. Fibrin, dikonversi dari fibrinogen oleh kaskade pembekuan, mengikat platelet dan membentuk matriks untuk respon selular yang berikutnya. Setelah cedera, sementara terjadi, vasokonstriksi diambil alih oleh katekolamin, tromboksan, dan prostaglandin. (2)

Gambar 1.1. Fase Inflamasi (5) Degranulasi platelet, terutama platelet-derived growth factor (PDGF) dan faktor pertumbuhan memulai kemotaksis dan proliferasi sel-sel inflamasi, yang pada akhirnya akan menyembuhkan luka. Vasokonstriksi diperlukan untuk mengurangi kehilangan darah pada saat awal luka dan juga untuk

memungkinkan pembentukan gumpalan. Vasokonstriksi berlangsung selama 5

sampai 10 menit. Setelah gumpalan telah terbentuk dan pendarahan aktif telah berhenti, vasodilatasi lokal meningkatkan aliran darah ke daerah yang terluka, sel-sel dan substrat yang dibutuhkan untuk perbaikan luka lebih lanjut. Sel endotel vaskular juga meningkatkan permeabilitas vaskular. Vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas endotel dimediasi oleh histamin, prostaglandin E2 (PGE2), dan prostaglandin I2 (prostasiklin; PGI2) serta faktor pertumbuhan sel endotel vaskular (VEGF). Zat vasodilator ini dirilis oleh cedera sel endotel dan sel mast dan meningkatkan jalan keluar dari sel dan substrat ke jaringan yang terluka. (2)

Gambar 1.2 Garis waktu penyembuhan luka (2)

Gambar 1.3 Tiga fase penyembuhan luka Fase Proliferatif

(5)

Fase proliferatif diawali dengan pembentukan matriks fibrin dan fibronektin sebagai bagian dari pembentukan gumpalan awal. Pada awalnya, matriks dihuni oleh makrofag, namun, hari ketiga, fibroblas muncul, menjadi fibrin dan memulai sintesis kolagen. (2)

Gambar 1.4 Fase Proliferatif

(5)

Fibroblas berproliferasi sebagai respons terhadap faktor-faktor pertumbuhan untuk menjadi tipe sel yang dominan selama fase ini. Faktor pertumbuhan yang diproduksi oleh makrofag secara simultan mendorong angiogenesis, yang menginduksi pertumbuhan ke dalam dan proliferasi sel endotel, pembentukan kapiler baru. Neovaskular ini dapat dilihat melalui epitel dan memberikan luka merah muda atau ungu-merah. Kapiler bertumbuh ke dalam menyediakan fibroblas dengan oksigen dan nutrisi untuk mempertahankan proliferasi sel dan mendukung produksi matriks luka permanen. Matriks ini terdiri dari kolagen dan proteoglikan dan menggantikan sementara fibronektin sebagai matriks fibrin. (2) Fase Renovasi (remodeling) Fase ini merupakan bagian terpanjang dari penyembuhan luka dan pada manusia dan berlangsung dari 21 hari sampai 1 tahun.
(5)

Gambar 1.5 Fase remodeling sebagai fase terpanjang

(5)

Saat luka telah "diisi" dengan jaringan granulasi dan setelah migrasi keratinosit, proses renovasi luka terjadi. Sekali lagi, proses-proses ini saling tumpang tindih, dan tahap renovasi mungkin diawali dengan program regresi pembuluh darah dan jaringan granulasi. Pada manusia, renovasi dicirikan oleh proses kontraksi 10

luka dan renovasi kolagen. Proses kontraksi luka dihasilkan oleh miofibroblas, dengan aktin mikrofilamen intraseluler yang mampu beregenerasi. Renovasi kolagen juga karakteristik dari fase ini. Kolagen tipe III pada awalnya ditetapkan oleh fibroblas selama fase proliferatif, tapi selama beberapa bulan akan diganti dengan kolagen tipe I. Kolagen tipe III degradasi lambat ini ditengahi melalui matriks metalloproteinase yang disekresi oleh makrofag, fibroblas, dan sel endotel. Kekuatan penyembuhan luka perlahan-lahan membaik selama proses ini, yang mencerminkan omset di subtipe kolagen dan peningkatan kolagen silang. Pada minggu 3, awal dari tahap renovasi, luka hanya memiliki sekitar 20% dari kekuatan kulit terluka, dan akhirnya akan hanya memiliki 70% dari kekuatan kulit. (5) Respon Abnormal Terhadap Cedera dan Proses Penyembuhan Abnormal Bertujuan untuk memahami setiap proses tidak normal dalam hal keseimbangan dinamis dan untuk terapeutik dengan mengusulkan strategi untuk memulihkan hemostatik. Regenerasi yang tidak adekuat mendasari sebuah respon tidak normal untuk cedera. Contoh klasik regenerasi yang adekuat ditemukan di pusat sistem saraf daerah luka. Respon terhadap cedera dalam kasus ini biasanya ditandai dengan hampir tidak ada restorasi atau pemulihan jaringan saraf fungsional. Tidak adanya regenerasi saraf dikompensasi oleh suatu proses fisiologis normal penggantian dengan jaringan parut, tetapi dalam banyak kasus proses ini tidak tidak muncul berlebihan, meskipun upaya untuk mengurangi luka parut telah dilakukan. Upaya saat ini difokuskan pada strategi untuk meningkatkan regenerasi komponen sistem saraf pusat. Contoh lain regenerasi tidak adekuat termasuk tulang nonunions dan ulkus kornea. Pembentukan jaringan parut mendasari sebuah respon abnormal untuk cedera, akibat kegagalan dalam menggantikan cacat jaringan. (5)

11

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Usia Lanjut Meningkatnya insiden penyakit jantung, penyakit metabolik (diabetes mellitus, kekurangan gizi, dan kekurangan vitamin), kanker, dan meluasnya penggunaan obat yang mengganggu penyembuhan luka mungkin semua berkontribusi terhadap insiden yang lebih tinggi dari masalah luka pada orang tua. Hipoksia, Anemia, dan Hipoperfusi Tekanan oksigen yang rendah memiliki efek yang sangat berbahaya pada semua aspek penyembuhan luka. Fibroplasia, walaupun pada awalnya dirangsang oleh luka hipoksia lingkungan, secara signifikan terganggu oleh hipoksia lokal. Sintesis kolagen optimal membutuhkan oksigen sebagai kofaktor, khususnya bagi langkah-langkah hidroksilasi. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi pengiriman oksigen lokal meliputi hipoperfusi sistemik, seperti volume rendah atau gagal jantung atau karena sebab-sebab lokal (insufisiensi arteri, vasokonstriksi lokal, atau ketegangan yang berlebihan pada jaringan). Tingkat vasokonstriksi kapiler di bawah kulit sangat responsif terhadap status cairan, temperatur, dan hiperaktif simpatik seperti sering disebabkan oleh rasa sakit pascaoperasi. Koreksi faktor-faktor ini dapat memiliki pengaruh yang luar biasa pada hasil luka, terutama pada infeksi luka sehingga menurunkan insidensi. (1) Steroid dan Obat kemoterapi Besar dosis atau penggunaan kronis Glukokortikoid mengurangi sintesis kolagen dan kekuatan regangan luka. Efek utama steroid adalah untuk menghambat fase inflamasi pada penyembuhan luka (angiogenesis, neutrofil dan migrasi makrofage, dan proliferasi fibroblast) dan pelepasan enzim
(1)

12

lisosomal. Semakin kuat efek anti inflamasi dari senyawa steroid digunakan, semakin besar efek penghambatan pada penyembuhan luka. Semua obat kemoterapi antimetabolik mempengaruhi penyembuhan luka dengan menghambat proliferasi sel awal dan luka DNA dan sintesis protein, yang semuanya penting untuk keberhasilan penyembuhan. (1) Nutrisi Tingkat albumin serum adalah yang paling mudah tersedia dan berguna secara klinis sebagai parameter menentukan kecukupan gizi. Albumin serum yang lebih besar dari 3,5 g / dl menunjukkan cukup protein dan keseimbangan nitrogen positif. Serum albumin memiliki kehidupan setengah dari 19 hari. Tingkat albumin kurang dari 3 mg / dL meningkatkan kepedulian terhadap potensi masalah penyembuhan luka. Kebanyakan ahli bedah berusaha menghindari untuk menutup luka-luka kronis pembedahan sampai tingkat gizi dapat diterima.
(2)

Asupan gizi masyarakat miskin atau kekurangan gizi individu secara signifikan

mengubah banyak aspek penyembuhan luka. Peran asam amino tunggal dalam penyembuhan luka yang disempurnakan telah dipelajari selama beberapa dekade terakhir. Arginin muncul paling aktif dalam hal meningkatkan fibroplasia luka. Efek utama arginin pada penyembuhan luka adalah untuk meningkatkan deposisi kolagen sehingga meningkatkan kekuatan luka. (1) Vitamin Vitamin C dan vitamin A paling dekat terlibat dengan penyembuhan luka. Sariawan, pada defisiensi vitamin C, menyebabkan cacat dalam penyembuhan luka, terutama melalui kegagalan dalam sintesis kolagen. Secara biokimia, vitamin C diperlukan untuk konversi prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin. Kekurangan vitamin C juga telah dikaitkan dengan peningkatan kejadian infeksi luka, dan luka terinfeksi. Efek ini diyakini karena terkait

13

penurunan fungsi neutrofil, penurunan aktivitas komplemen, dan penurunan deposisi kolagen. Anjuran diet yang disarankan adalah 60 mg per hari.
(1)

Vitamin A terlibat dalam stimulasi fibroplasia, kolagen silang, dan epitelisasi. Dalam penelitian hewan, vitamin A dapat membalikkan efek penghambatan Glukokortikoid pada fase inflamasi. Meskipun tidak ada bukti pada manusia, vitamin A klinis mungkin berguna bagi pasien yang tergantung steroid yang memiliki masalah luka atau yang sedang mengalami suatu prosedur pembedahan. Vitamin A dapat digunakan baik topikal atau sistemik, namun perhatian harus diberikan pada dosis dan durasi terapi seperti vitamin A larut dalam lemak dan memiliki toksisitas. Dosis oral 25.000 IU per hari atau aplikasi topikal salep 200.000 IU tiga kali sehari harus memadai. (2) Vitamin A dapat meningkatkan respon inflamasi dalam penyembuhan luka, mungkin dengan meningkatkan lisosom membran. Terdapat peningkatan masuknya makrofag, dengan peningkatan dalam aktivasi dan peningkatan sintesis kolagen. Vitamin A langsung meningkatkan produksi kolagen dan faktor pertumbuhan epidermal reseptor bila ditambahkan secara in vitro untuk budidaya fibroblas. (1) Penanganan Luka Evaluasi pasien dan penanganan luka merupakan tahap pertama terhadap suatu penilaian menyeluruh pada luka. Proses dimulai dengan diagnosis luka, etiologi dan berlanjut dengan mengoptimalkan pasien kondisi medis, terutama aliran darah ke area luka. Debridement luka, didefinisikan sebagai membersihkan daerah non-viable, terinfeksi dan hiperkeratotik jaringan. Tujuan debridement adalah untuk menghapus iskemik dan nekrotik jaringan, yang menyajikan potensi infeksi dan kontaminasi jaringan oleh bakteri dan benda asing.
(6)

14

Perawatan lokal dimulai dengan pemeriksaan teliti luka menilai kedalaman dan konfigurasi dari luka, sejauh mana jaringan nonviable, dan adanya benda asing dan kontaminan lainnya. Antibiotik profilaksis tetanus, perencanaan jenis dan waktu luka harus dilakukan perbaikan. (1) Pemeriksaan luka harus teliti dengan bantuan bius Lidokain (0,5 sampai 1%) atau bupivakain (0,25 menjadi 0,5%) yang dikombinasikan dengan 1:100.000 hingga 1:200,000 untuk pengenceran epinefrin memberikan anestesi dan hemostatik memuaskan. Epinefrin tidak boleh digunakan dalam luka jari kaki, telinga, hidung, atau penis karena risiko nekrosis jaringan sekunder akibat vasospasme pada terminal arteriola. Suntikan anestesi ini awalnya dapat menyebabkan ketidaknyamanan pasien, dan hal ini dapat diperkecil dengan injeksi lambat, infiltrasi pada jaringan subkutan, dan larutan buffer dengan natrium bikarbonat. Perawatan harus diperhatikan dalam menghitung dosis maksimal lidokain atau bupivakain untuk menghindari toksisitas terkait dengan efek samping. Irigasi untuk memvisualisasikan seluruh area luka dan menghapus materi asing yang terbaik dicapai dengan cairan normal salin (tanpa tambahan). Yodium, povidone-iodine, hidrogen peroksida, dan antibakteri berbasis organik terbukti mengganggu penyembuhan luka karena melukai neutrofil dan makrofag, dan dengan demikian tidak boleh digunakan. (1) Setelah luka telah dibius, dieksplorasi, irigasi, dan dbridement, daerah di sekitar lukanya harus dibersihkan, diperiksa, dan rambut sekitarnya dipotong. Daerah di sekitar lukanya harus disiapkan dengan povidone-iodine atau dibungkus dengan handuk steril. (1) Dilakukan jahitan awal untuk menyetel kembali tepi jaringan yang berbeda sehingga mempercepat dan meningkatkan estetika luka perbaikan. Secara umum, jahitan terkecil yang dibutuhkan untuk menjaga berbagai lapisan luka harus dipilih untuk meminimalkan peradangan. Jahitan monofilamen

15

Nonabsorbable paling cocok untuk aproksimasi dalam lapisan fasia, terutama di dinding lemak. (1) Kulit pinggir luka harus ditutup dengan jahitan monofilamen nonabsorbable untuk kosmetik dan untuk membantu penyembuhan luka cepat. (1) Antibiotik Antibiotik digunakan ketika ada luka infeksi yang jelas. Kebanyakan luka terkontaminasi dengan bakteri. Tanda-tanda infeksi meliputi eritema, selulitis, bengkak, dan bernanah, maka penggunaan antibiotik dibenarkan. Penggunaan antibiotik sembarangan harus dihindari untuk mencegah munculnya bakteri resisten. Antibiotik topikal dapat pula digunakan sebagai bagian dari irigasi atau ganti balutan (dressing). (1) Ganti Balutan (Dressing) Tujuan utama dari ganti balutan luka adalah untuk menyediakan lingkungan yang ideal untuk penyembuhan luka.Pembalut yang ideal untuk dressing adalah kemampuan menyerap dengan baik yang sifatnya agak lembab tanpa basah kuyup. (1) perut. Jaringan subkutan harus ditutup dengan jahitan diserap/absorbable, dengan hati-hati untuk menghindari penempatan jahitan

16

BAB III Kesimpulan Luka telah menjadi masalah klinis yang dihadapi sehari-hari dengan awal dan komplikasi akhir berupa morbiditas dan mortalitas apabila tidak mendapat penanganan yang baik. Dalam sebuah upaya untuk mengurangi beban luka, banyak difokuskan pada upaya memahami fisiologi penyembuhan dan perawatan luka dengan penekanan pada pendekatan terapeutik baru dan pengembangan teknologi terus menerus untuk perawatan luka jangka panjang. Luka berkemampuan merusak jaringan dan mempengaruhi lingkungan setempat. Tanggapan terhadap luka melibatkan berbagai proses penyembuhan jaringan yang dipicu oleh cedera jaringan, dan meliputi empat fase yang berkelanjutan termasuk koagulasi dan hemostatik, peradangan, proliferasi dan penyudahan (remodelling) luka dengan deposisi jaringan parut. Penanganan klinis dengan benar dapat secara positif mempengaruhi penyembuhan luka dan mengurangi potensi komplikasi.

17

DAFTAR PUSTAKA 1. Barbul A., Efron DT. Wound Healing. In: Anderson DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Matthews JB, Pallock RE, editors. Schwartzs Principles of Surgery, ninth edition. New York: McGraw-Hill. 2010; p.210-231. 2. Fine NA., Mustoe TA. Wound Healing. In: Mulholland, Michael W, Lillemoe, Keith D. Greenfields Surgery: Scientific Principles and Practice, fourth edition. 2006. 3. Hunt TK. Wound Healing. In: Doherty GM., Way LW. Current Surgical Diagnosis & Treatment, Twelveth edition. New York: McGraw-Hill. 2006; p.75-87 4. Madden JW., Arem AJ. Wound Healing. 2005. p.164-175 5. Gurtner GC. Wound Healing: Normal and Abnormal. In: Thorne CH., Beasley RW., Aston SJ., Bartlet SP., Gurtner GC., Spear SL. Grabb and Smiths Plastic Surgery. Sixth edition. USA: Lippincott Williams & Wilkins. 2007; p.15-22. 6. Velnar T., Bailey T., SMRKOL V. The Wound Healing Process: an Overview of the Cellular and Molecular Mechanism. The Journal of International Medical Research. 2009; 37:1528-1542. 7. Watson T. Soft Tissue Healing & Repair. Available at:

www.electrotherapy.com. 2006.

18