Anda di halaman 1dari 25

BAB 1 PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Asma berasal dari bahasa Yunani yang artinya terengah-engah atau napas pendek. Asma adalah keadaan yang menunjukan respon abnormal saluran napas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan

penyempitan jalan napas yang meluas. Penyempitan tersebut menyebabkan obstruksi aliran udara dan wheezing/mengik. Kelainan dasarnya tampaknya suatu perubahan status imunologis penderita. Asma mudah ditimbulkan oleh berbagai rangsang yang menunjukan suatu keadaan hiperaktivitas bronkus yang khas (Chandrasoma, 2006; Price dan Wilson, 2006) Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan denganperubahan pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang ada di dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi dimasyarakat adalah penyakit asma. (Medlinux, 2008). Asma adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total. Kesembuhan dari satu serangan asma tidak menjamin dalam waktu dekat akan terbebas dari ancaman serangan berikutnya. Apalagi bila karena pekerjaan dan lingkungannya serta faktor ekonomi, penderita harus selalu berhadapan dengan faktor alergen yang menjadi penyebab serangan. Biayapengobatan simptomatik pada waktu serangan mungkin bisa diatasi oleh penderita atau keluarganya, tetapi pengobatan profilaksis yang memerlukan waktu lebih lama, sering menjadi problem tersendiri. (Medlinux, 2008)

Asma merupakan penyakit umum dijumpai, dialami kira-kira 5% penduduk. Tiap tahun, hampir 470.000 penderita asma yang masuk rumah sakit dan 5000 kematian yang terjadi di Amerika Serikat. Angka pasien opname di rumah sakit meningkat pada orang kulit hitam dan anak-anak, dan angka kematian secara konsisten paling banyak terjadi pada orang kulit hitam yang berumur 15-24 tahun (Tierney et al., 2002). Asma merupakan suatu penyakit kronik umum yang mempengaruhi orang-orang dari segala usia dan merupakan penyebab dari banyak kesakitan dan kematian. Walaupun tidak ada obatnya, namun terdapat berbagai macam pilihan penanganan yang efektif. Terdapat sejumlah pengobatan efektif yang dapat mengurangi gejala-gejala dan dapat mencegah serangan asma. Penanganan yang berhasil dapat memperkecil kematian pasien asma dan kualitas hidup dari para penderitanya juga mengalami perbaikan, dan selain itu dapat memperkecil kegawatdaruratan yang diakibatkan oleh asma (Qlintang, 1997). Asma merupakan salah satu contoh reaksi hipersensitivitas (tipe 1) yang termediasi oleh IgE. IgE memegang peranan penting dalam reaksi asma. Berawal dari allergen yang terhirup dikenali oleh Antigen Presenting Cell (APC). Setelah dikenali, allergen diproses dan dipresenting menuju sel T. Sel T memberikan respon berupa interleukin yang menstimulasi sel B untuk memproduksi IgE. Antibodi ini mengikat mast cell dan basofil pada reseptor berafinitas tinggi di permukaan mast cell dan basofil. Ikatan IgE menginduksi degranulasi mast cell dan basofil sehingga melepaskan mediator inflamasi (seperti histamin). Penggunaan rekombinan monoclonal anti IgE adalah satu contoh imunoterapi asma. Rekombinan monoclonal anti

IgE adalah satu contoh imunoterapi asma. Rekombinan monoclonal anti IgE menghambat ikatan langsung IgE pada permukaan mast cell dan basofi. Karena IgE tidak dapat berinteraksi dengan sel inflamasi (seperti mast cell, basofil), sehingga reaksi hipersensitivitas dapat dikurangi (direduksi).

I.2 Permasalahan 1. Apa saja manfaat anti-IgE terhadap asma bronkial? 2. Bagaimana proses anti-IgE dalam menurunkan asma bronkial? 3. Bagaimana pandangan Islam terhadap anti-IgE pada asma bronkial?

I.3 Tujuan Tujuan Umum Mengurangi angka kejadian dan kematian akibat asma Tujuan Khusus 1. Mengetahui manfaat dan peranan anti-IgE pada asma bronkial 2. Mengetahui dosis dan cara pemberian anti IgE 3. Mendapat informasi tentang pandangan islam terhadap anti-IgE pada penderita asma bronkial

I.4 Manfaat 1. Bagi penulis, Memenuhi salah satu persyaratan kelulusan sebagai mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Meningkatkan pengetahuan tentang anti-IgE pada asma bronkial

Meningkatkan keterampilan dan kemampuan dalam menulis, berfikir logis dan aplikatif dalam memecahkan permasalahan ilmiah dan keislaman

2. Bagi masyarakat diharapkan dari skripsi ini dapat mengetahui apa itu anti-IgE, serta mengetahui manfaat anti-IgE pada asma bronkial 3. Bagi Universitas YARSI yaitu menambah sumber pengetahuan dalam kepustakaan Universitas YARSI.

BAB II PANDANGAN KEDOKTERAN TENTANG PENGGUNAAN ANTI IgE TERHADAP PENDERITA ASMA BRONKIAL

ASMA BRONKIAL 2. 1 Definisi Asma Asma didefinisikan sebagai kumpulan tanda dan gejala wheezing (mengi) dan atau batuk dengan karakteristik: timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari (nocturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversible baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atauatopi lain pada penderita/keluarganya, dengan menyingkirkan sebab-sebab lain. (Nelson, 1996) Sebagian penulis mendefinisikan Asma sebagai penyakit peradangan kronik/menahun saluran nafas dengan ciri-ciri hipersensitif (kepekaan yang luar biasa) dan hiperaktif ) bereaksi yang luar biasa) terhadap bermacam-macam rangsangan yang ditandai dengan timbulnya penyempitan saluran pernafasan bagian bawah secara luas yang dapat berubah derajat penyempitannya menjadi normal secara spontan maupun dengan pengobatan. (Moeliawan, 2002)

2. 2 Klasifikasi Asma 2.2. 1 Berdasarkan Etiologi 2.2.1.1 Ektrinsik (alergik). Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti
5

debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotik dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ektrinsik. (Medicafarma, 2008) Asma Ekstrinsik dibagi menjadi : 1. Asma ekstrinsik atopik Sifat-sifatnya adalah sebagai berikut : a) Penyebabnya adalah rangsangan alergen eksternal dengan reaksi kulit

spesifik dan dapat diperlihatkan tipe 1.

b) Gejala klinik dan keluhan cenderung timbul pada awal kehidupan, 85 % kasus timbul sebelum usia 30 tahun. c) Sebagian besar mengalami perubahan dengan tiba-tiba pada masa puber, dengan serangan asma yang berbedabeda. d) Prognosis tergantung pada serangan pertama dan berat ringannya gejala yang timbul. Jika serangan pertama pada usia muda disertai dengan gejala yang lebih berat, maka prognosis menjadi jelek. e) Perubahan alamiah terjadi karena adanya kelainan dari kekebalan dan cenderung berkurang di kemudian hari. f) Asma bentuk ini memberikan tes kulit yang positif.

g) Dalam darah menunjukkan kenaikan kadar IgE spesifik.

h) Ada riwayat keluarga yang menderita asma. i) Terhadap pengobatan memberikan respon yang cepat. (Medicafarma, 2008) 2. Asma ekstrinsik non atopik Sifat-sifat antara lain: a) Serangan asma timbul berhubungan dengan bermacammacam alergen yang spesifik b) Tes kulit memberi reaksi tipe segera, tipe lambat dan ganda terhadap alergi yang tersensitisasi dapat menjadi positif c) Dalam serum didapatkan IgE dan IgG yang spesifik d) Timbulnya gejala cenderung pada saat akhir kehidupan atau dikemudian hari (Medicafarma, 2008) 2.2.1.2 Intrinsik/idiopatik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. (Medicafarma, 2008)

Sifat dari asma intrinsik : a) Alergen pencetus sukar ditentukan. b) Tidak ada alergen ektrinsik sebagai penyebab dan tes kulit memberi hasil negatif. c) Merupakan kelompok yang heterogen, respon untuk terjadi asma dicetuskan oleh penyebab dan melalui mekanisme yang berbeda-beda. d) Sering ditemukan pada penderita dewasa, dimulai pada umur di atas 30 tahun dan disebut juga late onset asma e) Serangan ssesak pada asma tipe ini dapat berlangsung lama dan seringkali menimbulkan kematian bila pengobatan tanpa disertai kortikosteroid. f) Perubahan patologi yang terjadi sama dengan asma ekstrinsik, namun tidak dapat dibuktikan dengan keterlibatan IgE. g) Kadar IgE serum normal, tetapi eosinofil dapat meningkat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan asma ekstrinsik h) Selain itu tes serologi dapat menunjukkan adanya faktor rematoid, misalnya LE. i) Riwayat keluarga jauh lebih sedikit, sekitar 12-48 % j) Polip hidung dan sensitivitas terhadapa aspirin sering dijumpai.

2.2.1.3 Asma Gabungan Bentuk asma paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. (Medicafarma, 2008)

2.3 Etiologi Asma (Baratawidjaja,1990) Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan Contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut Contoh: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit

Contoh: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

10

2.4 Patogenesis Asma Asma merupakan gangguan inflamasi kronik saluran napas yang berhubungan dengan peningkatan kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang, sesak napas dan batuk terutama pada malam atau dini hari. Gejala ini berhubungan dengan luas inflamasi, menyebabkan obstruksi saluran napas yang bervariasi derajatnya dan bersifat reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. Pada asma khas ditandai dengan peningkatan eosinofil, mast cell, makrofag serta limfosit-T di lumen dan mukosa saluran napas. Proses ini dapat terjadi pada asma yang asimptomak dan bertambah berat sesuai dengan berat klinis penyakit. Antigen-Presenting Cells/APC (seperti makrofag, sel denritik) pada saluran pernafasan menangkap, memproses dan mempresentasikan antigen menuju sel T helper, sehingga sel T helper teraktivasi dan mensekresikan sitokin. Sel T helper dapat terinduksi dan berkembang (berdefensiasi) menjadi Th1 (contoh sekresi: interleukin [IL] 2) atau Th2 (contoh sekresi: IL-4, IL-5, IL-9, IL-13). Sekresi sitokin tersebut mengakibatkan sel B memproduksi antibodi IgE (yang spesifik terhadap alergen) dan pengerahan eosinofil. Dalam keadaan normal, IgE dalam serum kadarnya berkisar antara 0,1 0,4 ug/ml, apabila tubuh tersensitisasi oleh alergen luar, maka kadar IgE meningkat lebih dari 1 mg/ml dan disebut IgE yang tersensitisasi. IgE yang tersensitisasi memiliki dua reseptor spesifik Fc-epsilon-RI dan Fcepsilon-RII. Fc-epsilon-RI IgE akan berikatan dengan Fc-R pada permukaan mast cell dan sel basofil.
11

Ikatan antara Fc-epsilon-RI IgE dengan dinding mast cell, akan meningkatkan cairan membran sehingga terbentuk peningkatan kanal kalsium (Ca++). Peningkatan kanal Ca++ akan meningkatkan uptake Ca++ ke dalam intrasel. Peningkatan Ca++ intrasel akan merangsang retikulum endoplasma untuk membentuk granulasi. Degranulasi mast cell akan mengeluarkan mediator mast cell seperti histamin dan protease sehingga berakibat respon alergi berupa asma. Histamin berasal dari sintesis histidin dalam aparatus Golgi di mast cell dan basofil. Histamin mempengaruhi saluran napas melalui tiga jenis reseptor. Rangsangan pada resptor H-1 akan menyebabkan bronkokontriksi, aktivasi refleks sensosrik dan meningkatkan permeabilitas vaskular serta epitel. Rangsangan reseptor H-2 akan meningkatkan sekresi mukus glikoprotein. Rangsangan reseptor H-3 akan merangsang saraf sensorik dan kolinergik serta menghambat reseptor yang menyebabkan sekresi histamin dari mast cell.

2.5 Patofisilogi Asma Asma ditandai dengan kontaksi spatic dari otot polos bronkiolus yang menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkiolus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut: seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen sfesifikasinya. (Tanjung, 2003)

12

Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada mast cell yang terdapat pada interstitial paru yang berhubungan erat dengan bronkiolus dan bronchus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibodi IgE orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada mast cell dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang menyebabkan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkiolus kecil maupun sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkilous dan spasme otot polos bronkiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. (Tanjung, 2003) Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasnya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. (Tanjung, 2003)

13

2.6 Manifestasi Klinis Keluhan utama penderita asma ialah sesak napas mendadak, disertai fase inspirasi yang lebih pendek dibandingkan dengan fase ekspirasi, dan diikuti bunyi mengi (wheezing), batuk yang disertai serangan napas yang kumat-kumatan. Pada beberapa penderita asma, keluhan tersebut dapat ringan, sedang atau berat dan sesak napas penderita timbul mendadak, dirasakan makin lama makin meningkat atau tiba-tiba menjadi lebih berat. Wheezing terutama terdengar saat ekspirasi. Berat ringannya wheezing tergantung cepat atau lambatnya aliran udara yang keluar masuk paru. Bila dijumpai obstruksi ringan atau kelelahan otot pernapasan, wheezing akan terdengar lebih lemah atau tidak terdengar sama sekali. Batuk hampir selalu ada, bahkan seringkali diikuti dengan dahak putih berbuih. Selain itu, makin kental dahak, maka keluhan sesak akan semakin berat. Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih menyukai posisi duduk membungkuk dengan kedua telapak tangan memegang kedua lutut. Posisi ini didapati juga pada pasien dengan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Tanda lain yang menyertai sesak napas adalah pernapasan cuping hidung yang sesuai dengan irama pernapasan. Frekuensi pernapasan terlihat meningkat (takipneu), otot bantu pernapasan ikut aktif dan penderita tampak gelisah. Pada fase permulaan, sesak napas akan diikuti dengan penurunan PaO2 dan pH serta meningkatkan PaCO2 darah. Selain itu, terjadi kenaikan tekanan darah dan denyut nadi sampai 110-130x/menit, karena peningkatan konsentrasi katekolamin dalam darah akibat respons hipoksemia. (Medicafarma, 2008)

14

2.7 Faktor-faktor pencetus Asma 2.7.1 Alergen Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : a) Inhalan : masuk melalui saluran pernapasan, misal: debu, serbuk bunga, bulu binatang, polusi, asap rokok. b) Ingestan : masuk melalui mulut. Misal : makanan dan obatobatan c) Kontakan : masuk melalui kontak dengan kulit. Misal : perhiasan, logam, jam tangan. d) Stress atau gangguan emosi Stress dapat menjadi pencetus serangan memperberat serangan asma e) Lingkungan kerja Serangan asma yang timbul berhubungan langsung dengan 7 lingkungan kerja penderita, misalnya polisi lalu lintas, pekerja pabrik asbes, pekerja industri tekstil. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. f) Perubahan Cuaca Cuaca lembab dan udara dingin juga dapat mempengaruhi asma. Terkadang serangan asma berhubungan dengan musim. g) Olahraga Serangan asma timbul pada sebagian besar penderita jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga berat. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi setelah selesai aktivitas tersebut. yang sudah ada. asma, bahkan

15

h) Infeksi saluran pernapasan.

2.8 Diagnosis Asma Mengi/wheezing berulang dan/atau batuk kronik berulang

merupakan titik awal untuk menegakkan diagnosis. Termasuk yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah anak-anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu-satunya tanda, dan pada saat diperiksa tanpa wheezing, sesak dan lain-lain sedang tidak timbul. Asma sulit didiagnosis pada anak dibawah 3 tahun. Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan faal/fungsi paru sebaiknya dilakukan. Uji fungsi paru yang sederhana dengan peak flow meter, atau yang lebih lengkap dengan spirometer. Lainnya bisa melalui uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (exercise), udara kering dan dingin atau dengan NaCl hipertonis. Pemeriksaan ini berguna untuk mendukung diagnosis asma anak melalui 3 cara, yaitu didapatkannya : 1) Variabilitas pada PFR (Peak Flow Meter) atau FEV 1 (Forced Expiratory Volume in 1 second) 15 % 2) Variabilitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan/penurunan) hasil PFR dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan variabilitas mingguan yang pemeriksaannya berlangsung 2 minggu. 3) Reversibilitas pada PFR atau FEVI 15 % Reversibilitas adalah perbedaan nilai (peningkatan) PFR atau FEV1 setelah pemberian inhalasi bronkodilator.

16

4) Penurunan 20% pada FEV1 (PD 20 atau PC 20) setelah provokasi bronkus dengan metakolin atau histamin. Penggunaan peak flow meter merupakan hal penting dan perlu diupayakan, karena selain mendukung diagnosis, juga mengetahui keberhasilan tata laksana asma. Pada anak dengan tanda dan gejala asma yang jelas, serta respon terhadap pemberian obat asma baik sekali, maka tidak perlu pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. (Tanjung, 2003)

2.9 Pencegahan (Sundaru, 2002) 2.9.1 Pencegahan primer : Adalah upaya untuk mencegah terjadinya penyakit asma, ditujukan pada masyarakat atau individu yang belum menderita asma. Tindakannya berupa menjaga kebersihan lingkungan di dalam rumah, menghindari asap rokok dan polusi udara, infeksi. 2.9.2 Pencegahan sekunder : Adalah upaya mencegah eksaserbasi. Tindakannya berupa : a) Penyuluhan kepada pasien dan keluarga pasien b) Penilaian dan pemantauan beratnya asma c) Menghindari dan mengendalikan faktor pencetus d) Merencanakan pengobatan

2.10 Penatalaksanaan Asma (Brunner & Suddart, 2002) Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara.

17

2.

Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma

3.

Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya

mengenai penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu: 1. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. 2. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan : a. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : - Orsiprenalin (Alupent) - Fenoterol (berotec) - Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent,

18

Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. b. Santin (teofilin) Nama obat : - Aminofilin (Amicam supp) - Aminofilin (Euphilin Retard) - Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). Kromalin Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anak-anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. Ketolifen

19

Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral.

ANTI IMUNOGLOBULIN-E (IgE) 2.1 Definisi IgE merupakan suatu immunoglobulin yang mempunyai fungsi sebagai perantara reaksi hipersensitifitas segera. Di dalam serum ditemukan dalam konsentrasi sangat rendah. IgE apabila disuntikkan ke dalam kulit akan terikat pada mast cells dan basofil. Kontak dengan antigen akan menyebabkan degranulasi dari mast cells dengan pengeluaran zat amin yang vasoaktif. IgE yang terikat ini berlaku sebagai reseptor yang merangsang produksinya dan kompleks antigen-antibodi yang dihasilkan memicu respon alergi anafilaktik melalui pelepasan zat perantara. (Moh. Sholeh, 2006)

2.2 Struktur IgE ditemukan dalam serum dengan jumlah yang sangat sedikit, tetapi kadarnya akan naik jika terkena infeksi parasit tertentu, terutama yang disebabkan oleh cacing. IgE berukuran sedikit lebih besar dibandingkan dengan molekul IgG dan hanya mewakili sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. Daerah ekor berikatan dengan reseptor pada mast cell dan basofil dan ketika dipicu oleh antigen, menyebabkan sel-sel itu membebaskan histamin dan zat kimia lain yang menyebabkan reaksi alergi. IgE mempunyai berat molekul 200.000 dalton. Sampai sekarang tidak ditemukan subkelas IgE. IgE disebut pula antibodi reaginik dan

20

merupakan imunoglobulin dengan jumlah paling sedikit dalam serum, tetapi efeknya sangat efisien. IgE mudah diikat sel mastosit, basofil dan eosinofil yang pada permukaannya memiliki reseptor untuk fraksi Fc dari IgE. IgE dibentuk setempat oleh sel plasma dalam selaput lendir saluran napas dan cerna. Kadar IgE yang tinggi ditemukan pada alergi, infeksi cacing, skitosomiasis, penyakit hidatid, trikinosis dan diduga berperanan pada imunitas parasit. IgE pada alergi dikenal sebagai antibodi reagin. (Baratawidjaya, 2001)

2.3 Mekanisme Kerja Atopi adalah peningkatan sensitivitas sebagai hasil peningkatan IgE spesifik terhadap alergen lingkungan yang umum seperti tungau, serbuk sari atau bulu hewan. Pajanan berulang terhadap alergen secara bermakna akan menignkatkan prevalensi asma. 90 % penyandang asma anak dan 80 % dewasa adalah atopi. Asma alergi/atopi ditandai dengan infiltrasi eosinofil dan sel T helper 2 (Th-2) ke mukosa bronkus, peningkatan antibodi IgE spesifik dalam sirkulasi, uji kulit positif dengan menggunakan alergen yang umum dan hiperaktivitas bronkus. Melalui interleukin-4 (IL-4) dan IL-13, sel B akan distimulasi untuk menghasilkan IgE dan melalui IL-5 akan terjadi pertumbuhan, diferensiasi dan mobilisasi eosinofil ke saluran pernapasan pada pajanan ulang terhadap alergen. Interleukin-13 berperan sebagai regulator respon inflamasi dengan menghambat aktivasi dan penglepasan sitokin inflamasi. Efek imunlogis yang terjadi setelah pemberian imunoterapi adalah sebagai berikut:

21

1. Antibodi penghalang Imunoterapi akan menginduksi IgG spesifik alergen (IgG4) yang berperan sebagai antibodi penghalang yang bersaing dengan IgE untuk berikatan dengan alergen. Sejumlah studi mengemukakan bahwa terbukti ada hubungan antara pengurangan gejala alergi dengan jumlah IgG serum. 2. Penurunan IgE Penurunan secara bertahap IgE spesifik alergen pada pemberian imunoterapi, walau pada awalnya terjadi peningkatan. Respon Th2 terhadap alergen akan dihambat dan menginduksi respon Th1 dengan peningkatan interferon (IFN) dan IL-12. Perubahan fungsi ini akan mempengaruhi produksi IgE, pematangan populasi sel, penglepasan mediator oleh mast cell dan basofil sehingga akhirnya akan menurunkan respon alergi. 3. Modulasi mast cell dan basofil Imunoterapi memodulasi fungsi mast cell dan basofil sehingga terjadi penurunan penglepasan mediator walaupun terdapat IgE spesifik pada permukaannya. Efek ini ditunjukkan dengan penurunan penglepasan histamin pasca imunoterapi setelah pajanan alergen spesifik yang didahului oleh penurunan IgE spesifik atau peningkatan IgG spesifik. 4. Peningkatan aktivitas limfosit T supresor Imunoterapi akan mengubah jaringan kerja pengaturan sel oleh karena peningkatan aktivitas limfosit T supresor. Produksi IgE, pematangan mast cell, aktivasi makrofag, penglepasan mediator oleh mast cell dan basofil akan berkurang dan mempengaruhi mekanisme alergi.

2.4 Indikasi

22

Menurut pandangan Allergic Rhinitis and its Impacts on Asthma (ARIA) yang dirumuskan oleh 34 ahli yang bertemu pada bulan Desember 1999 di Jenewa, indikasi imunoterapi adalah untuk penyandang rhinitis atau asma alergi yang disebabkan oleh alergen spesifik. Alergen yang diberikan tersebut telah dijamin efektivitas dan keamanannya melalui penelitian klinis. Imunoterapi juga diindikasikan sebagai profilaksis untuk pasien yang sensitif terhadap alergen selama musim pollen atau perrenial. Penyandang asma yang dimaksud adalah penyandang asma derajat ringansedang dan gejalanya dapat berkurang dengan pengobatan atau sudah terkontrol dengan farmakoterapi. (Frans Abednego, 2003)

2.5 Kontraindikasi 1. penyakit imunolopatologik seperti pneumonitis hipersensitif termasuk aspergilosis bronkopulmoner alergi 2. keadaan imunodefisiensi yang berat 3. keganasan 4. kelainan psikiatri yang berat 5. pengobatan dengan penyakit beta, karena reaksi anafilaksis keadaan akan memberat dan sulit diatasi dengan cara konvensional 6. pasien tidak patuh 7. pasien mengalami efek samping yang berat yang berulang selama terapi 8. asma berat yang tidak terkontrol dengan farmakoterapi 9. obstruksi kronik saluran pernapasan dengan volume ekspirasi paksa detik 1 (VEP1) < 70 % prediksi walaupun telah mendapatkan farmakoterapi yang optimal

23

10. pasien dengan penyakit kardiovaskular berat yang disebabkan oleh efek anafilaksis terhadap miokardium. Hipotensi dan vasokontriksi pulmoner akan menambah beban jantung juga perfusi miokardium sendiri akan berkurang. 11. anak < 5 tahun, untuk menghindari kesulitan penatalaksanaan pasien pada saat terjadi reaksi anafilaksis 12. usia tua, karena efek samping imunoterapi terhadap sistem kardiovaskular dapat ireversibel 13. keadaan hamil sebaiknya tidak dimulai imunoterapi, akan tetapi bila imunoterapi telah dilakukan sebelum kehamilan maka dapat diteruskan. (Frans Abednego, 2003)

PENGGUNAAN IgE PADA ASMA BRONKIAL Pada seseorang yang memiliki gejala konsisten asma, tapi fungsi paru normal, perlu dilakukan uji provokasi bronkus menggunakan methalcholine dan histamine, tes tidak langsung seperti menghirup manitol, atau test aktivitas dimungkinkan dapat membantu menegakkan diagnosa asma. Skin test dengan alergen atau spesifik IgE dalam serum juga dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa asma (GINA, 2010). Imunoglobulin E (IgE) adalah pusat kaskade patofisiologi yang akhirnya memicu reaksi alergi dan mengakibatkan peradangan saluran napas bronkial. (Gould HJ, 2008) Saat ini anti IgE disetujui oleh FDA dan tersedia di Amerika untuk terapi asma. Telah ditunjukan sangat efektif dalam mengeblok respon

24

hipersensitivitas tipe segera dengan jalan mengeblok degranulasi mast cell, yang mana ini merupakan masalah yang sangat besar dalam fase ekskalasi dari imunoterapi allergen konvensional. Bila anti-IgE mAb diberikan sebelum dimulainya imunoterapi konvensional, fase ekskalasi imunoterapi dapat diperpendek tetapi allergen tetap dapat menginduksi pengaturan sel T. (William, 2006)

PEMBAHASAN 1. Asma merupakan salah satu contoh reaksi hipersensitivitas tipe I yang termediasi oleh Ig-E 2. Ig-E memegang peranan penting dalam patofisiologi asma 3. Ig-E yang berikatan dengan permukaan mast cell dan basofil melalui reseptor Fc-epsilon-RI dan Fc akan menstimulasi pelepasan mediator inflamasi (seperti histamin) yang berakibat reaksi hipersensitivitas tipe I berupa asma allergy. 4. Rekombinan monoclonal anti-IgE dapat mereduksi ikatan Ig-E dengan sel Inflamasi (seperti mast cell dan basofil) sehingga menghambat terjadinya reaksi asma allergy. 5. Antibody monoclonal manusia secara langsung melawan IgE sebagai pengobatan pada asma.

25