Anda di halaman 1dari 16

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Kejang Demam Diagnosis Kejang demam didefinisikan sebagai bangkitan kejang yang disebabkan oleh demam di atas suhu 38oC rektal tanpa disertai infeksi pada sistem saraf pusat atau gangguan keseimbangan elektrolit akut pada anak berumur lebih dari satu bulan, tanpa ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Kejang demam sering terjadi pada anak usia 6 bulan-5 tahun. Kejang demam terjadi pada bayi < 1 bulan tidak termasuk kejang demam. Data anamnesis pasien tidak sadar saat kejang memberi petunjuk bahwa proses kejang yang terjadi adalah proses serebral. Tidak adanya penurunan kesadaran, nyeri kepala, kelainan saraf otak, maupun perubahan tingkah laku sebelum kejang dapat menyingkirkan kecurigaan adanya infeksi susunan saraf pusat. Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami kejang setelah demam, namun suhu saat kejang tidak diukur karena pasien tidak memiliki termometer di rumah. Kejang bersifat tonik dan terjadi kekakuan pada tangan dan kaki. Saat kejang pasien tidak sadar, sebelum dan sesudah kejang pasien sadar. Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala dan kejang tanpa demam sebelumnya. Kakak pasien pernah mengalami kejang disertai demam saat kecil. Dari anamnesis tersebut di atas dapat mengarahkan diagnosis ke arah kejang demam. Kejang demam dibagi atas 2 jenis
a. Kejang demam simpleks : 80% dari seluruh kejang demam, kejang demam

yang berlangsung < 15 menit, umumnya berhenti sendiri, kejang berupa kejang umum tonik atau klonik tanpa gerakan fokal, kejang demam tidak berulang dalam 24 jam.

b. Kejang demam kompleks : kejang lama > 15 menit, kejang fokal atau

parsial satu sisi, kejang umum didahului kejang parsial, berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Untuk mengklasifikasikan sebagai kejang demam sederhana maka seluruh kriteria harus dipenuhi, sedangkan untuk kejang demam kompleks hanya salah satu kriteria saja sudah termasuk kejang demam kompleks. Pada pasien ini kejang berlangsung < 5 menit, tonik, dan terjadi 2 kali dalam 24 jam, sehingga sudah dapat diklasifikasikan dalam kejang demam kompleks. Untuk menyingkirkan infeksi intrakranial seperti meningitis, meningoencephalitis, dan encephalitis perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan rangsang meningeal yang meliputi kaku kuduk, Brudzinki I, Brudzinki II, dan Kernigs sign yang positif menunjukkan adanya iritasi pada menings dan mengarahkan diagnosis meningitis. Tanda-tanda lain yang mengarah ke meningitis dapat berupa ubun-ubun besar yang menonjol, demam > 40oC, adanya kejang disertai demam pada usia < 6 bulan serta peningkatan tonus otot. Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding antara lain dengan melakukan pemeriksaan neurologis yang meliputi pemeriksaan nervus kranialis, rangsang meningeal, reflek fisiologis, dan reflek patologis. Pemeriksaan nervus kranialis dipergunakan untuk melihat adakah defisit neurologis setelah terjadinya kejang demam. Pemeriksaan nervus kranialis ini meliputi N.I sampai dengan N. XII. Pemeriksaan pungsi lumbal dapat membedakan kejang demam dengan kejang lainnya. Pungsi lumbal terindikasi bila ada kecurigaan klinis meningitis. Pungsi lumbal sangat dianjurkan pada bayi berumur < 12 bulan, bayi antara 12 18 bulan dianjurkan, dan tidak rutin pada penderita berumur > 18 bulan. Diagnosis meningitis bakterial apabila CSS keruh, leukosit pada CSS > 5 sel/mm 3 , protein > 40 mg/dl, penurunan kadar glukosa sampai di bawah 50% dari gula darah sewaktu, hasil positif pada pengecatan Gram dan kultur bakteri.

Hasil pemeriksaan fisik pasien pada kasus ini tidak didapatkan ubun-ubun besar yang tegang atau membonjol, pemeriksaan saraf kranial I-XII dalam batas normal, tidak ada tanda rangsang meningeal, tonus otot dalam batas normal. Pasien ini berusia 15 bulan, sehingga pungsi lumbal hanya dianjurkan, akan tetapi pada pasien ini telah dilakukan motivasi dan informed consent tentang prosedur lumbal pungsi, tetapi orang tua pasien menolak. Sehingga hanya disarankan apabila terjadi kejang kembali, lumbal pungsi akan dilakukan untuk mencari kemungkinan penyebab intrakranial. Dari hasil pemeriksaan tersebut di atas, diagnosis banding infeksi intrakranial dapat disingkirkan. Gangguan metabolik yang dapat menyebabkan maupun memicu terjadinya kejang antara lain adalah hipoglikemia, hipoksemia serta gangguan elektrolit seperti hiponatremia, hipernatremia, hipokalsemia, dan hipomagnesemia. Pada kasus ini, pasien telah menjalani pemeriksaan elektrolit dengan hasil natrium, kalsium, kalium, klorida dalam batas normal. Pemeriksaan gula darah sewaktu meningkat. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, diagnosis banding kejang karena gangguan elektrolit dapat disingkirkan. Penatalaksanaan Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu :
a. Pengobatan pada fase akut/saat kejang b. Pemberiaan obat saat demam c. Pengobatan rumat/pencegahan/profilaksis

Pengobatan pada fase akut/saat kejang Tujuan pengelolaan pada fase ini adalah untuk mempertahankan oksigenasi otak yang adekuat, mengakhiri kejang sesegera mungkin, mencegah kejang berulang, dan mencari faktor penyebab. Umumnya kejang berlangsung singkat dan berhenti sendiri. Pengelolaan pertama diberikan diazepam per rektal dengan dosis 0,5 mg/kgBB per kali. Dosis untuk pasien ini sebesar 6,25 mg per rektal (berat badan 12,5 kg). Pemberian

dapat diulang setelah 5 menit kejang belum berhenti. Apabila setelah pemberian 2 kali diazepam per rektal belum berhenti, dianjurkan ke rumah sakit. Pengelolaan di rumah sakit diberikan diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB diberikan dalam waktu 3-5 menit (kecepatan 2 mg/menit), dosis maksimal 10 mg.

Sesuai dengan alur tatalaksana kejang tersebut, pada pasien ini telah diberikan diazepam per rektal 5 mg saat di UGD RS dr. Kariadi. Selanjutnya pada rencana terapi telah diresepkan injeksi diazepam intravena 2,5 mg apabila terjadi kejang

berikutnya. Dosis 2,5 mg didapatkan dari (0,3 x 8,5 kg) = 2,5 mg. Sediaan intravena dipilih karena anak sudah dipasang jalur intravena. Cara pemberiannya adalah dengan perlahan-lahan (kecepatan 1 2 mg / menit) atau dalam waktu 3 5 menit, dengan dosis maksimal 10 mg. Pemberian obat saat demam Saat demam diberikan parasetamol dengan dosis 10-15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari, tidak lebih dari 5 kali. Obat lain dapat berupa ibuprofen 510 mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari. Diazepam oral 0,3 mg/kgBB tiap 8 jam saat demam dapat menurunkan risiko berulangnya kejang demam pada 30-60% kasus, begitu pula diazepam rektal 0,5 mg/kgBB setiap 8 jam pada suhu >38,5oC. Efek samping berupa ataksia, iritabel, dan sedasi berat. Fenobarbital, fenitoin, dan karbamazepin saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam. Pada pasien ini telah diberikan parasetamol per oral 120 mg, 4-6 kali sehari jika suhu > 38oC. Pemberian berupa parasetamol sirup 1 cth ( 1 cth = 120 mg). Pengobatan rumat/pencegahan/profilaksis Pemberian profilaksis untuk mencegah kejang demam berulang dapat berupa profilaksis intermiten yang diberikan selama anak demam, maupun profilaksis kontinyu yang diberikan terus-menerus baik saat anak demam maupun tidak demam. Salah satu indikasi pemberian obat rumat untuk profilaksis kejang demam adalah kejang demam kompleks, seperti yang terjadi pada kasus ini. Pengobatan rumat diberikan jika kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu): Kejang lama >15 menit Kelainan neurologi yang nyata sebelum/ sesudah kejang:

hemiparesis, paresis Todd, palsi serebral, retardasi mental, hidrosefalus. Kejang fokal Pengobatan jangka panjang dipertimbangkan jika:

Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan Kejang demam 4 kali per tahun

Jenis obat antikonvulsan yang diketahui efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang adalah fenobarbital (dosis 3-4 mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis) atau asam valproat (dosis 15-40 mg/ kgBB/hari dibagi 2-3 dosis). Lama pemberian profilaksis kontinyu adalah 1 tahun, kemudian dihentikan bertahap dalam 1-2 bulan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kejang demam pada umumnya tidak berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40 50% kasus. Oleh sebab itu, pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek. Prognosis Risiko cacat akibat komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Kematian akibat kejang demam tidak pernah dilaporkan. Risiko berulang Faktor risiko berulangnya kejang demam antara lain :
a. Adanya riwayat kejang demam dalam keluarga b. Usia < 12 bulan c. Suhu rendah saat kejang demam d. Cepatnya kejang setelah demam

Jika semua faktor risiko ada, risiko berulang 80%. Jika tidak ada maka hanya 1015%. Pada pasien ini didapatkan riwayat kejang demam dalam keluarga yaitu kakak penderita pernah kejang disertai demam saat kecil. Suhu saat kejang tidak diketahui karena keluarga pasien tidak memiliki termometer. Kejang pertama kali terjadi dalam waktu 24 jam setelah demam. Dari 4 faktor risiko di atas, 2 faktor dimiliki oleh pasien, maka pasien tidak memiliki risiko terjadinya kejang demam

berulang. Jika suhu saat kejang demam diketahui rendah maka risiko kejang demam berulang mungkin terjadi. Edukasi pada orang tua Edukasi yang dapat diberikan kepada orang tua mengenai kejang demam antara lain adalah:
-

Meyakinkan mempunyai prognosis baik

bahwa

kejang

demam

umumnya

Memberitahukan cara penanganan kejang Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping obat

Selain itu, perlu diedukasikan pula mengenai penanganan sederhana yang dapat dilakukan bila anak kembali kejang, antara lain:
-

Tetap tenang dan tidak panik. Mengendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di ulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.

Ukur suhu, observasi, dan catat lama dan bentuk kejang. Tetap bersama pasien selama kejang Berikan diazepam rektal (jangan diberikan bila kejang berhenti). Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit.

3.2 Penyebab demam

Faringitis akut biasanya ditemukan bersamaan dengan tonsilitis akut. Penyebabnya terbanyak adalah Streptokokus hemolitikus, Streptokukus viridans, dan Streptokukus piogenes, selain itu dapat pula disebabkan oleh virus seperti virus influenza, adenovirus, dan ECHO. Gejala dan tanda yang muncul adalah nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam, pembesaran kelenjar limfa leher, faring hiperemis, udem dinding posterior faring yang bergranular. Sedangakan Tonsilitis akut dapat disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus hemolitikus, pneumokokus, Streprokokus viridans, dan Streptokokus piogenes. Gejala dan tanda yang muncul adalah nyeri tenggorok, sukah menelan, demam dengan suhu tubuh tinggi, rasa lesu, tampak tonsil membengkak, hiperemis, adanya detritus (lekosit polimorfonuklear, bakteri mati, dan epitel yang terlepas) yang tampak sebagai bercak kuning, dan kripte yang melebar. Penilaian penggunaan antibiotik dengan menggunakan skor Mc Isaac. Kriteria klinis Adanya batuk Pembesaran limfonodi servikal anterior Suhu > 38oC Eksudat atau pembesaran tonsil Usia 3-14 tahun 15-44 tahun > 45 tahun Skor 0 1 1 1 1 0 -1

Pada kasus ini, pada anamnesis didapatkan ada batuk dan pilek. Pada pemeriksaan fisik didapatkan demam dengan suhu 38,1oC, faring hiperemis, tonsil membesar dan hiperemis. Berdasarkan data tersebut maka pasien ini didiagnosis Tonsilofaringitis akut. Hasil skor Mc Isaac adalah 2 sehingga pasien memerlukan antibiotik, pada kasus ini diberikan Ampisilin 120mg/8jam. Infeksi salurah kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi yang sering ditemukan pada anak selain infeksi saluran nafas atas dan infeksi telinga tengah.. Pada anamnesis akan didapatkan demam yang tidak jelas sebabnya. Pada anak

usia 1-5 tahun akan muncul demam, lemas, rasa tidak nyaman pada perut, frekuensi berkemih yang sering, dan disuria. Pemeriksaan sampel urin memegang peranan penting dalam diagnosis mikrobiologik. Pada bayi, pengambilan sampel dianjurkan melalui aspirasi vesica urinaria dan kateter transuretra. Pada anak umumnya sampel urin diperoleh dengan metoda urin mid-stream. Tes dipstik digunakan untuk menganalisa leukosit esterase, nitrit, darah, dan protein. Pemeriksaan mikroskopik digunakan untuk menganalisa bakteri dan leukosit. Pemberian antibiotik profilaksis tanpa gejala dan tanda klinis dan laboratoris yang mendukung diagnosis ISK tidak disarankan dan akan menimbulkan resistensi antibiotik. Pada kasus ini didapatkan demam, tidak ada keluhan tidak nyaman pada perut, buang air kecil tidak ada keluhan. Telah dilakukan pemeriksaan urin dan didapatkan hasil pemeriksaan dalam batas normal. Berdasarkan data tersebut, diagnosis banding infeksi saluran kencing dapat disingkirkan. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF DAN HOLISTIK Sesuai dengan prinsip pengelolaan pasien secara komprehensif dan holistik, maka pada pasien tidak hanya diperhatikan dari segi kuratifnya saja, tetapi juga meliputi upaya promotif, preventif, rehabilitatif dan psikososial. Upaya promotif dan preventif dilakukan agar anak tidak, sedangkan upaya kuratif dan rehabilitatif dilakukan agar anak sembuh dan tidak cacat atau kembali pada lingkungannya semula dengan memperhatikan faktor psikososial anak. 1. Kuratif Adalah upaya untuk mendiagnosis seawal mungkin dan mengobati secara tepat dan rasional terhadap individu yang terserang penyakit. Upaya kuratif yang dilakukan pada penderita ini meliputi:
a.

Terapi Suportif:
-

Kecukupan kebutuhan cairan dan elektrolit Infus D5 N 480/20/5 tetes per menit Atasi demam Parasetamol syrup 4-6 x 120 mg (bila t 380C)

b.

Medikamentosa Dalam penatalaksanaan kejang demam, perlu diperhatikan 4 faktor, yaitu menghentikan kejang secepat mungkin, mencegah kejang berulang, mencari etiologi kejang dan atasi kelainan lain. Anti konvulsan pemotong kejang:
o

Short acting : diazepam, midazolam, obat-obat anestesi (i.v atau anal) Long acting : injeksi fenobarbital 10 mg/kgBB i.v, injeksi fenitoin 20 mg/kgBB i.v Pada kasus ini diberikan injeksi Inj Diazepam 2,5 gram i.v pelan (jika kejang) Antikonvulsan Maintenance:

Diazepam 3 x 2,5 mg

c.

Dietetik Pada kasus ini, kebutuhan cairan 24 jam adalah sebagai berikut: Cairan (cc) 850 480 300 600 1380 162,4% Kalori (kkal) 850 81,6 1144,42 1226,02 144,2% Protein (gr) 10,45 42 48,5 401,7%

Kebutuhan 24 jam Infus D5 NS 480/20/5 tpm makro 3 x nasi 3 x 200 cc susu Jumlah Total AKG (%)

2. Preventif Adalah usaha-usaha untuk mencegah timbulnya suatu penyakit dan mencegah terjangkitnya penyakit tersebut. Ada tiga tingkat upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tertier. Pencegahan primer merupakan tingkat pencegahan awal untuk

menghindari atau mengatasi faktor resiko. Pencegahan sekunder untuk deteksi dini penyakit sebelum penyakit menimbulkan gejala yang khas. Pencegahan tertier dengan melakukan tindakan klinis untuk mencegah kerusakan lebih lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit tersebut diketahui. Terdapat beberapa upaya preventif yang perlu diedukasikan kepada orang tua mengenai kejang demam kompleks, yaitu:
a. Pada saat anak demam, ukur dengan thermometer, bila suhu tubuh anak

diatas 37,50C , segera kompres anak dengan kain hangat. Obat penurun panas yang mengandung parasetamol diberikan pada anak yang panasnya terus meningkat, meskipun dengan kompres. Pada anak yang pernah mengalami kejang demam, berikan informasi bahwa kejang dapat berulang kembali bila anak demam.
b. Bila anak kejang:

- Pindahkan benda benda keras atau tajam yang berada anak untuk mencegah cedera bila anak sedang kejang.

dekat

- Bila kejang disertai muntah, miringkan tubuh anak untuk menghindari tertelannya cairan muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernafasan, dan jangan memasukkan ke dalam mulut anak. - Bila kejang terjadi, dapat diberikan obat diazepam rectal dimasukkan ke dubur. - Jangan memberi minuman ataupun makanan segera setelah berhenti kejang, tunggu beberapa saat setelah anak benar benar sadar untuk menghindari anak tersedak.
c. Segera bawa anak ke dokter atau klinik untuk mendapat pertolongan

benda apapun yang

lebih lanjut. Jangan terpaku hanya pada lamanya kejang dan usahakan untuk mencari dokter atau klinik yang terdekat dengan rumah untuk menghindari resiko yang lebih berbahaya akibat terlambat mendapat pertolongan pertama.

3. Promotif Adalah upaya penyuluhan yang bertujuan untuk merubah kebiasaan yang kurang baik dalam masyarakat agar berperilaku sehat dan ikut serta berperan aktif dalam bidang kesehatan. Dalam kasus ini, upaya promotif yang dapat dilakukan yaitu:
a. Pengetahuan tentang kejang demam

Pada saat kejang, orang tua menganggap bahwa anaknya akan meninggal, pemikiran ini dapat diubah dengan pengetahuan penyebab kejang demam, penanganan kejang demam di rumah, dan hal hal yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kejang demam. Hal ini dapat dilakukan dengan penyuluhan atau media massa, seperti poster, atau brosur.
b. Mencukupi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang yang meliputi:

o Asuh : memenuhi kebutuhan dasar (pangan, papan, perawatan kesehatan dasar, imunisasi, pengobatan yang layak) dan memenuhi kebutuhan tambahan (bermain). o Asih : memberi rasa aman dan nyaman, dilindungi dan diperhatikan (minat, keinginan dan pendapat anak), diberi contoh (bukan dipaksa), dibantu, diberi dorongan, dihargai, penuh kegembiraan serta koreksi (bukan ancaman/ hukuman) o Asah : memberikan stimulasi emosional-sosial, kognitif, kreativitas, kemandirian, kepemimpinan moral dan mental. 4. Rehabilitatif Adalah upaya untuk menolong atau membantu anak terhadap ketidakmampuannya dengan berbagai usaha, agar anak sedapat mungkin kembali pada lingkungannya baik lingkungan sosial maupun keluarga. Untuk menjaga anak tetap sehat, maka orang tua diberitahu untuk: Menjaga kualitas dan kuantitas gizi anak sehari-hari di rumah agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi dengan baik dan anak memiliki

daya tahan tubuh yang baik pula sehingga tidak mudah terserang penyakit infeksi yang mengakibatkan kejang demam. Menganjurkan kepada orang tua untuk mengusahakan imunisasi dasar yang belum lengkap pada anak dengan membawa anak ke BKIA atau ke tempat pelayanan kesehatan lainnya. 5. Psikososial Aspek psikososial adalah aspek yang berkaitan dengan emosi, sikap, pengetahuan, perilaku, keterampilan, nilai-nilai sosial budaya, kepercayaan, dan adat istiadat dilingkungan sekitar anak. Meliputi mikrosistem, mesosistem, eksosistem dan makrosistem. Mikrosistem meliputi interaksi anak dengan ibunya. Ibu berperan dalam pendidikan, gizi, imunisasi, dan pengobatan sederhana pada anak. Ibu adalah orang pertama di rumah yang memegang peranan penting terhadap proses tumbuh kembang anak dan perawatan anak ketika anak sakit. Rendahnya pengetahuan ibu tentang kesehatan juga mempengaruhi sikap yang diambil ketika anak sakit, seperti usaha mengobati sendiri atau terlambat membawa anak ke tempat pelayanan kesehatan. Edukasi dan informasi mengenai penyakit pasien menjadi sangat penting agar dapat ditangani segera dan tidak menimbulkan komplikasi. Mesosistem meliputi interaksi anak dengan anggota keluarga lain, lingkungan, tetangga, keadaan rumah dan suasana rumah dimana anak tinggal. Interaksi sesama anggota keluarga Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien adalah ayah, ibu, nenek, paman, tante, 1 kakak kandung, dan 2 saudara sepupu. Lebih dekat dengan ibu karena ayah bekerja dari pagi hingga sore. Sehari-hari anak diasuh oleh ibunya. Ventilasi dan pencahayaan yang kurang Pencahayaan yang kurang, diedukasikan kepada orangtua agar dapat menciptakan ventilasi rumah yang cukup guna pertukaran

udara dan pencahayaan. Rumah harus memiliki ventilasi luas >15 % dari luas lantai rumah. Pencahayaan yang baik juga mendukung pendidikan anak (untuk belajar di rumah). Mengedukasikan orangtua untuk mulai memperkenalkan anak dengan teman teman sebayanya di lingkungan tempat tinggal. Eksosistem merupakan lingkungan yang meliputi wilayah yang lebih luas. Meliputi kebijaksanaan pemerintah daerah maupun informasi yang bisa diperoleh seperti dari surat kabar maupun televisi. Pada kasus ini kurangnya akses tentang pengetahuan pentingnya mencegah infeksi dan penanganan kejang demam menyebabkan ketidaktahuan orang tua dan keterlambatan dalam penanganan. Makrosistem yaitu berkaitan dengan kebijakan pemerintah, sosial budaya masyarakat, dan lembaga non pemerintahan yang ikut andil dalam usaha tumbuh kembang anak yang optimal. Pasien tidak dibawa rutin ke posyandu atau puskesmas untuk memantau perkembangannya. Sehingga perlu edukasi lebih lanjut mengenai perlunya memantau tumbuh kembang anak. - Pentingnya pemerintah memperhatikan tata kota dan daerah pemukiman penduduk, guna meningkatkan kesehatan warga dan mencegah penyakit menular. PROGNOSIS Prognosis kejang demam baik. Sebagian besar penderita kejang demam sembuh tanpa cacat, sebagian kecil berkembang menjadi epilepsi, dan sangat jarang meninggalkan gejala sisa berupa cacat neurologis atau gangguan mental. Sepertiga penderita kejang demam pertama akan mengalami bangkitan ulang kejang demam. Prognosis pada pasien ini baik. Risiko kejang demam berulang minimal, selama fokus infeksi penyebab demam segera ditangani.

BAGAN PERMASALAHAN
Lingkungan : Ventilasi kurang Perumahan padat Genetik Pengetahuan orang tua tentang kesehatan kurang Sarana kesehatan : informasi tentang kejang demam HOST agen Daya tahan tubuh Tonsilofaringitis Akut Rhinitis Akut

ISK
Kuratif : Oksigenasi Putus kejang Antibiotika Diet cukup Demam KEJANG DEMAM Promotif Preventif Rehabilitatif Asah Asih Asuh

TUMBUH KEMBANG OPTIMAL