Anda di halaman 1dari 13

makalah hukum BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Aturan hukum mengenai masalah Abortus Profokatus dan Eutanasia sangat berbeda-be da di seluruh dunia dan seringkali berubah seiring dengan perubahan norma-norma budaya dan tersedianya perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, tindak an ini dianggap legal, sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar huk um. Karena sensitifnya isu ini, pembatasan dan prosedur yang ketat selalu ditera pkan tanpa memandang status hukumnya. Tindakan aborsi menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia dik ategorikan sebagai tindakan kriminal. Pasal-pasal KUHP yang mengatur hal ini ada lah pasal 299, 341, 342, 343, 346, 347, 348, dan 349 sedangkan tindakan eutanasi a yang termasuk dalam perbuatan tindakan pidana diatur dalam pasal 344 Kitab Und ang-undang Hukum Pidana (KUHP). 1.2 RUMUSAN MASALAH Apa yang di maksud Abortus Profokatus dan Eutanasia ? 1.3 TUJUAN Mengetahui apa itu Abortus Profokatus dan apa itu Eutanasia BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Abortus Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila jan in lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilah nya adalah kelahiran prematur. Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan aborsi: 1. Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami. 2. Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja . Termasuk di dalamnya adalah: o Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut men gancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, kadang-kadang dilakukan sesudah p emerkosaan. o Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat. o Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain. Dalam bahasa sehari-hari, istilah keguguran biasanya digunakan untuk spontaneous a bortion, sementara aborsi digunakan untuk induced abortion. Aborsi merupakan masalah kesehatan masyarakat karena memberikan dampak pada kesa kitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Namun sebenarnya aborsi juga merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis (Gunawan, 2000) 2.2 Klasifikasi a) Abortus spontanea Abortus spontanea merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan, dalam hal i ni dibedakan sebagai berikut: Abortus imminens, Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan seb elum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilat

asi serviks. Abortus insipiens, Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus inkompletus, Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Abortus kompletus, semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. b) Abortus provokatus Abortus provokatus merupakan jenis abortus yang sengaja dibuat/dilakukan, yaitu dengan cara menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya bayi dianggap belum dapat hidup diluar kandungan apabila usia keham ilan belum mencapai 28 minggu, atau berat badan bayi kurang dari 1000 gram, wala upun terdapat beberapa kasus bayi dengan berat dibawah 1000 gram dapat terus hid up. Pengelompokan Abortus provokatus secara lebih spesifik: 1. Abortus Provokatus Medisinalis/Artificialis/Therapeuticus, abortus yang dilak ukan dengan disertai indikasi medik. Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Syarat-syaratnya: Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk mela kukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai den gan tanggung jawab profesi. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi). Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdek at. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatan yang memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah. Prosedur tidak dirahasiakan. Dokumen medik harus lengkap. 2. Abortus Provokatus Kriminalis, aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya ind ikasi medik (ilegal). Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-ala t atau obat-obat tertentu. 2.3 Penyebab Abortus Karakteristik ibu hamil dengan abortus yaitu: Umur Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan pe rsalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian mat ernal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali se sudah usia 30-35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara emosional da n fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah, ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain. Keguguran sebagian dilakukan dengan sengaja u ntuk menghilangkan kehamilan remaja yang tidak dikehendaki. Keguguran sengaja ya ng dilakukan oleh tenaga nonprofessional dapat menimbulkan akibat samping yang s erius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akh irnya dapat menimbulkan kemandulan. Abortus yang terjadi pada remaja terjadi kar ena mereka belum matur dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta seefis ien wanita dewasa. Abortus dapat terjadi juga pada ibu yang tua meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai menu run sehingga dapat mempengaruhi janin intra uterine. Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirka n anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan mengalami p eningkatan resiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk ka rena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirka n bayi dengan berat lahir rendah. Paritas ibu Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin dan p erdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi

. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 da pat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamila n pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan. Riwayat Kehamilan yang lalu Menurut Malpas dan Eastman kemungkinan terjadinya ab ortus lagi pada seorang wanita ialah 73% dan 83,6%. Sedangkan, Warton dan Fraser dan Llewellyn Jones memberi prognosis yang lebih baik, yaitu 25,9% dan 39% (Wik njosastro, 2007). 1. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: a) Infeksi akut virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis. Infeksi bakteri, misalnya streptokokus. Parasit, misalnya malaria. b) Infeksi kronis Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. Tuberkulosis paru aktif. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll. Penyakit kronis, misalnya : ? hipertensi ? nephritis ? diabetes ? anemia berat ? penyakit jantung ? toxemia gravidarum Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll. Trauma fisik. c) Penyebab yang bersifat lokal: Fibroid, inkompetensia serviks. Radang pelvis kronis, endometrtis. Retroversi kronis. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia d an abortus. 2. Penyebab dari segi Janin Kematian janin akibat kelainan bawaan. Mola hidatidosa. Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi 2.4 Aspek Hukum Abortus Abortus telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belu m ada undang-undang yang mengatur mengenai tindakan abortus. Peraturan mengenai hal ini pertama kali dikeluarkan pada tahun 4 M di mana telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu maka undang-undang mengenai abortus terus mengalam i perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun terakhir ini di mana mulai timbul suatu r evolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintah di berbagai negara di dunia terhad ap tindakan abortus. Hukum abortus di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebag ai berikut: Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda. Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu), se perti di Perancis dan Pakistan. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di Kanada, Muangt hai dan Swiss. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia , Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polan dia, dan Yugoslavia. Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa memperhatikan indikasi-i ndikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion on demand), seperti di Bulgari s, Hongaria, USSR, Singapura.

Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakuk an bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil akibat perkosaan) seperti di Jepang Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada umumnya mengemu kakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di bawah ini: Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus atas indikasi medik. Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provocatus criminalis. Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk. Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib kandungannnya. Untuk memenuhi desakan masyarakat. Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut: Ayat (1) : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa i bu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diam bil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil da n janinnya terancam bahaya maut. Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah t enaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokte r ahli kandungan seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,d apat diminta dari semua atau keluarganya. Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah . Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara l ain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,te naga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana keseha tan yang ditunjuk. Abortus Provocatus Criminalis ( Abortus buatan illegal ) Yait u pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuh kan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syara t dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus d alam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): PASAL 299 1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya dio bati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahu n atau denda paling banyak empat pulu ribu rupiah. 2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadika n perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau jika dia seorang ta bib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. 3. Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencaharian , maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencaharian. PASAL 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyur uh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. PASAL 347 1. Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wan ita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun . 2. Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penj

ara paling lama lima belas tahun. PASAL 348 1. Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seseorang w anita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahu n enam bulan. 2. Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan pi dana penjara paling lama tujuh tahun. PASAL 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang ters ebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan y ang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengn sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan penc aharian dalam mana kejahatan dilakukan. PASAL 535 Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk menggugur kan kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan, atau pun secara terang-terangn atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai bisa didapat, sarana atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan : 1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang la in, diancam hukuman empat tahun. 2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa per setujuan ibu hamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan jika ibu hamil itu mat i diancam 15 tahun 3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibu hamil tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara. 4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokt er, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertig anya dan hak untuk praktek dapat dicabut. Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang memperbolehkan seorang do kter melakukan abortus atas indikasi medik, sekalipun untuk menyelamatkan jiwa i bu, dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengem ukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima oleh hakim (Pasal 48). Sela in KUHP, abortus buatan yang ilegal juga diatur dalam Undang Undang Republik Ind onesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan: PASAL 80 Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana d enda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah 2.5 Sejarah Eutanasia 1. Asal-usul kata eutanasia Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu eu (= baik) and thanatos (maut, kema tian) yang apabila digabungkan berarti kematian yang baik . Hippokrates pertama kal i menggunakan istilah eutanasia ini pada sumpah Hippokrates yang ditulis pada masa 4 00-300 SM.Sumpah tersebut berbunyi: Saya tidak akan menyarankan dan atau memberik an obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu .Dalam sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak tahun 1300 hingga saat bunuh diri ata upun membantu pelaksanaan bunuh diri tidak diperbolehkan. 2. Eutanasia dalam dunia modern Sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan dan pergerakan di wilayah Amerika Utara dan di Eropa Pada tahun 1828 undang-undang anti eutanasia mulai diberlakukan di negara bagian New York, yang pada beberapa tahun kemudian diberlakukan pula oleh beberapa negara bagian.

Setelah masa Perang Saudara, beberapa advokat dan beberapa dokter mendukung dila kukannya eutanasia secara sukarela. Kelompok-kelompok pendukung eutanasia mulanya terbentuk di Inggris pada tahun 19 35 dan di Amerika pada tahun 1938 yang memberikan dukungannya pada pelaksanaan e utanasia agresif, walaupun demikian perjuangan untuk melegalkan eutanasia tidak berhasil digolkan di Amerika maupun Inggris. Pada tahun 1937, eutanasia atas anjuran dokter dilegalkan di Swiss sepanjang pas ien yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan daripadanya. Pada era yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa permohonan dari pasien y ang sakit parah dan beberapa orang tua yang memiliki anak cacat yang mengajukan permohonan eutanasia kepada dokter sebagai bentuk pembunuhan berdasarkan belas ka sihan . Pada tahun 1939, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan kontroversial dala m suatu program eutanasia terhadap anak-anak di bawah umur 3 tahun yang menderita keterbelakangan mental, cacat tubuh, ataupun gangguan lainnya yang menjadikan hi dup mereka tak berguna. Program ini dikenal dengan nama Aksi T4 ( Action T4?) yang kelak diberlakukan juga terhadap anak-anak usia di atas 3 tahun dan para jompo / lansia. 3. Eutanasia pada masa setelah perang dunia Setelah dunia menyaksikan kekejaman Nazi dalam melakukan kejahatan eutanasia, pa da era tahun 1940 dan 1950 maka berkuranglah dukungan terhadap eutanasia, terleb ih-lebih lagi terhadap tindakan eutanasia yang dilakukan secara tidak sukarela a taupun karena disebabkan oleh cacat genetika. 4. Praktek-praktek eutanasia zaman dahulu kala Praktek-praktek Eutanasia yang dilaporkan dalam berbagai tindakan masyarakat: Di India pernah dipraktekkan suatu kebiasaan untuk melemparkan orang-orang tua k e dalam sungai Gangga. Di Sardinia orang tua dipukul hingga mati oleh anak laki-laki tertuanya di zaman purba. Uruguay mencantumkan kebebasan praktek eutanasia dalam undang-undang yang telah berlaku sejak tahun 1933. Di beberapa negara Eropa, praktek eutanasia bukan lagi kejahatan kecuali di Norw egia yang sejak 1902 memperlakukannya sebagai kejahatan khusus. Di Amerika Serikat, khususnya di semua negara bagian mencantumkan eutanasia seba gai kejahatan. Bunuh diri atau membiarkan dirinya dibunuh adalah melanggar hukum di Amerika Serikat. Satu-satunya negara yang dapat melakukan tindakan eutanasia bagi para anggotanya adalah Belanda. Anggota yang telah diterima dengan persyaratan tertentu dapat m eminta tindakan eutanasia atas dirinya. Ada beberapa warga Amerika Serikat yang menjadi anggotanya. Dalam praktek medis, biasanya tidaklah pernah dilakukan euta nasia aktif, akan tetapi mungkin ada praktek-praktek medis yang dapat digolongka n eutanasia pasif. 2.6 Terminologi Eutanasia 1. Eutanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya Ditinjau dari sudut maknanya maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu eutanasia pasif, eutanasia agresif dan eutanasia non agresif Eutanasia agresif : atau suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu tindakan sec ara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mempersi ngkat atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya dengan memberikan obat-obatan ya ng mematikan seperti misalnya pemberian tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien. Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia (eutanasia otoma tis)yang termasuk kategori eutanasia negatif yaitu dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan sipasien menge tahui bahwa penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. De ngan penolakan tersebut ia membuat sebuah codicil (pernyataan tertulis tangan). Au to-eutanasia pada dasarnya adalah suatu praktek eutanasia pasif atas permintaan.

Eutanasia pasif : juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif yan g tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidu pan si sakit. Tindakan pada eutanasia pasif ini adalah dengan secara sengaja tid ak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien. Misaln ya tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam p ernapasan atau tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat ata upun meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna memperpanjang hi dup pasien, ataupun dengan cara pemberian obat penghilang rasa sakit seperti mor fin walaupun disadari bahwa pemberian morfin ini juga dapat berakibat ganda yait u mengakibatkan kematian. Eutanasia pasif ini seringkali secara terselubung dila kukan oleh kebanyakan rumah sakit. Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan oleh tenaga medis, maupun pihak ke luarga yang menghendaki kematian seseorang atau keputusasaan keluargan karena ke tidak sanggupan menanggung beban biaya pengobatan. Ini biasanya terjadi pada kel uarga pasien yang tidak mungkin untuk membayar biaya pengobatannya, dan pihak ru mah sakit akan meminta untuk dibuat pernyataan pulang paksa . Bila meninggal pun pa sien diharapkan mati secara alamiah. Ini sebagai upaya defensif medis. 2. Eutanasia ditinjau dari sudut pemberian izin Ditinjau dari sudut pemberian izin maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu : Eutanasia di luar kemauan pasien: yaitu suatu tindakan eutanasia yang bertentang an dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup. Tindakan eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan. Eutanasia secara tidak sukarela: Eutanasia semacam ini adalah yang seringkali me njadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan yang keliru oleh siap apun juga.Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak berkompeten atau tidak be rhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya statusnya hanyalah seorang wali da ri si pasien (seperti pada kasus Terri Schiavo). Kasus ini menjadi sangat kontro versial sebab beberapa orang wali mengaku memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi si pasien. Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri, namun hal ini juga masih merupakan hal kontroversial. 3. Eutanasia ditinjau dari sudut tujuan Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu : Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) Eutanasia hewan Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif secara sukarela. 2.7 Eutanasia menurut hukum diberbagai negara Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta ditolera nsi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan dibeberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan Denmark 1. Belanda Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan eu tanasia, undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002 [6], yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhk an, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya. Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal eu thanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan krimina l. Sebuah karangan berjudul The Slippery Slope of Dutch Euthanasia dalam majalah Huma n Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporka n bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan eutanas ia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yan g telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab seki tar 50 pertanyaan. Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter untu k melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman se

lalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi y ang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda, dimana seora ng dokter yang melakukan eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum. 2. Australia Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia den gan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang disebu t Right of the terminally ill bill (UU tentang hak pasien terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh ke putusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali. 3. Belgia Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan eutanasia setiap tahu nnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan eutanasia dinegara ini, n amun mereka juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya upaya untuk menciptakan birokrasi kematian . Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi eutanasia (setelah Belanda d an negara bagian Oregon di Amerika ). Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang memiliki hak penuh un tuk memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya. 4. Amerika Eutanasia agresif dinyatakan ilegal di banyak negara bagian di Amerika. Saat ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinka n pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidup nya adalah negara bagian Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkina n dilakukannya eutanasia dengan memberlakukan UU tentang kematian yang pantas (O regon Death with Dignity Act)[8]. Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut bunu h diri berbantuan, bukan euthanasia. Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua kali secara lisan (dengan te nggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saks i dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta mem astikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan ga ngguan mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk meng akhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang dimiliki nya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga simpanan hari t uanya. Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa depan, se bab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian ini. Mungkin saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia. Bulan Februa ri lalu sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU Oregon selama tahun 1999. Seb uah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu Poling Gallup (Gallup Poll) menunjukka n bahwa 60% orang Amerika mendukung dilakukannya eutanasia. 5. Indonesia Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang mela wan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yait u pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa Barang si apa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang diseb utkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tah un . Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 35 9 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan euta nasia. Dengan demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang t idak mengizinkan tindakan eutanasia oleh siapa pun. Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek da lam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober 2004 men yatakan bahwa : Eutanasia atau pembunuhan tanpa penderitaan hingga saat ini belum

dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP. 6. Swiss Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga negara Swiss ata upun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara umum, pasa l 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis pada tahun 1937 d an dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya menyatakan bahwa membantu sua tu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri. Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan penge lompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri kehidupan se seorang. 7. Inggris Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania Raya (Brit ain s Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan sebuah proposa l kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar dipertimban gkannya izin untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat (disa bled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi eutanasi a di Inggris melainkan semata guna memohon dipertimbangkannya secara saksama dar i sisi faktor kemungkinan hidup si bayi sebagai suatu legitimasi praktek kedoktera n. Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda). Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris (British Medical Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun juga. 8. Jepang Jepang tidak memiliki suatu aturan hukum yang mengatur tentang eutanasia demikia n pula Pengadilan Tertinggi Jepang (supreme court of Japan) tidak pernah mengatu r mengenai eutanasia tersebut. Ada 2 kasus eutanasia yang pernah terjadi di Jepang yaitu di Nagoya pada tahun 1 962 yang dapat dikategorikan sebagai eutanasia pasif (??????, shokyokuteki anrakus hi) Kasus yang satunya lagi terjadi setelah peristiwa insiden di Tokai university pa da tahun 1995 yang dikategorikan sebagai eutanasia aktif (??????, sekkyokuteki an rakushi) Keputusan hakim dalam kedua kasus tersebut telah membentuk suatu kerangka hukum dan suatu alasan pembenar dimana eutanasia secara aktif dan pasif boleh dilakuka n secara legal. Meskipun demikian eutanasia yang dilakukan selain pada kedua kas us tersebut adalah tetap dinyatakan melawan hukum, dimana dokter yang melakukann ya akan dianggap bersalah oleh karena merampas kehidupan pasiennya. Oleh karena keputusan pengadilan ini masih diajukan banding ke tingkat federal maka keputusa n tersebut belum mempunyai kekuatan hukum sebagai sebuah yurisprudensi, namun me skipun demikian saat ini Jepang memiliki suatu kerangka hukum sementara guna mel aksanakan eutanasia. 9. Republik Ceko Di Republik Ceko eutanisia dinyatakan sebagai suatu tindakan pembunuhan berdasar kan peraturan setelah pasal mengenai eutanasia dikeluarkan dari rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Sebelumnya pada rancangan tersebut, Perdana Menteri Jiri Posp il bermaksud untuk memasukkan eutanasia dalam rancangan KUHP tersebut seb agai suatu kejahatan dengan ancaman pidana selama 6 tahun penjara, namun Dewan P erwakilan Konstitusional dan komite hukum negara tersebut merekomendasikan agar pasal kontroversial tersebut dihapus dari rancangan tersebut. 10. India Di India eutanasia adalah suatu perbuatan melawan hukum. Aturan mengenai laranga n eutanasia terhadap dokter secara tegas dinyatakan dalam bab pertama pasal 300 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana India (Indian penal code-IPC) tahun 1860. Namun berdasarkan aturan tersebut dokter yang melakukan euthanasia hanya dinyata

kan bersalah atas kelalaian yang mengakibatkan kematian dan bukannya pembunuhan yang hukumannya didasarkan pada ketentuan pasal 304 IPC, namun ini hanyalah dibe rlakukan terhadap kasus eutanasia sukarela dimana sipasien sendirilah yang mengi nginkan kematian dimana si dokter hanyalah membantu pelaksanaan eutanasia terseb ut (bantuan eutanasia). Pada kasus eutanasia secara tidak sukarela (atas keingin an orang lain) ataupun eutanasia di luar kemauan pasien akan dikenakan hukuman b erdasarkan pasal 92 IPC. 11. China Di China, eutanasia saat ini tidak diperkenankan secara hukum. Eutansia diketahu i terjadi pertama kalinya pada tahun 1986, dimana seorang yang bernama Wang Mingc heng meminta seorang dokter untuk melakukan eutanasia terhadap ibunya yang sakit. Akhirnya polisi menangkapnya juga si dokter yang melaksanakan permintaannya, na mun 6 tahun kemudian Pengadilan tertinggi rakyat (Supreme People s Court) menyatak an mereka tidak bersalah. Pada tahun 2003, Wang Mingcheng menderita penyakit kan ker perut yang tidak ada kemungkinan untuk disembuhkan lagi dan ia meminta untuk dilakukannya eutanasia atas dirinya namun ditolak oleh rumah sakit yang merawat nya. Akhirnya ia meninggal dunia dalam kesakitan. 12. Afrika Selatan Di Afrika Selatan belum ada suatu aturan hukum yang secara tegas mengatur tentan g eutanasia sehingga sangat memungkinkan bagi para pelaku eutanasia untuk berkel it dari jerat hukum yang ada. 13. Korea Belum ada suatu aturan hukum yang tegas yang mengatur tentang eutanasia di Korea , namun telah ada sebuah preseden hukum (yurisprudensi)yang di Korea dikenal den gan Kasus rumah sakit Boramae dimana dua orang dokter yang didakwa mengizinkan dih entikannya penanganan medis pada seorang pasien yang menderita sirosis hati (liv er cirrhosis) atas desakan keluarganya. Polisi kemudian menyerahkan berkas perka ra tersebut kepada jaksa penuntut dengan diberi catatan bahwa dokter tersebut se harusnya dinayatakan tidak bersalah. Namun kasus ini tidak menunjukkan relevansi yang nyata dengan mercy killing dalam arti kata eutanasia aktif. Pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa pada kasus tertentu dari penghentian p enanganan medis (hospital treatment) termasuk tindakan eutanasia pasif, dapat di perkenankan apabila pasien terminal meminta penghentian dari perawatan medis ter hadap dirinya 2.8 Eutanasia menurut ajaran agama 1. Dalam ajaran gereja Katolik Roma Sejak pertengahan abad ke-20, gereja Katolik telah berjuang untuk memberikan ped oman sejelas mungkin mengenai penanganan terhadap mereka yang menderita sakit ta k tersembuhkan, sehubungan dengan ajaran moral gereja mengenai eutanasia dan sis tem penunjang hidup. Paus Pius XII, yang tak hanya menjadi saksi dan mengutuk pr ogram-program egenetika dan eutanasia Nazi, melainkan juga menjadi saksi atas di mulainya sistem-sistem modern penunjang hidup, adalah yang pertama menguraikan s ecara jelas masalah moral ini dan menetapkan pedoman. Pada tanggal 5 Mei tahun 1 980 , kongregasi untuk ajaran iman telah menerbitkan Dekalarasi tentang eutanasi a ( Declaratio de euthanasia ) yang menguraikan pedoman ini lebih lanjut, khususnya dengan semakin meningkatnya kompleksitas sistem-sistem penunjang hidup dan genca rnya promosi eutanasia sebagai sarana yang sah untuk mengakhiri hidup. Paus Yoha nes Paulus II, yang prihatin dengan semakin meningkatnya praktek eutanasia, dala m ensiklik Injil Kehidupan (Evangelium Vitae) nomor 64 yang memperingatkan kita agar melawan gejala yang paling mengkhawatirkan dari `budaya kematian dimana jumla h orang-orang lanjut usia dan lemah yang meningkat dianggap sebagai beban yang m engganggu. Paus Yohanes Paulus II juga menegaskan bahwa eutanasia merupakan tinda kan belas kasihan yang keliru, belas kasihan yang semu: Belas kasihan yang sejati mendorong untuk ikut menanggung penderitaan sesama. Belas kasihan itu tidak mem bunuh orang, yang penderitaannya tidak dapat kita tanggung (Evangelium Vitae, nom or 66). 2. Dalam ajaran agama Hindu Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada ajaran tentang karma, moksa dan ahimsa.

Karma adalah merupakan suatu konsekwensi murni dari semua jenis kehendak dan mak sud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran kat a-kata atau tindakan. Sebagai akumulasi terus menerus dari karma yang buruk adalah menjadi penghalang moksa yaitu suatu ialah kebebasan dari siklus reinkarnasi yang menjadi suatu tujuan utama dari penganut ajaran Hindu. Ahimsa adalah merupakan prinsip anti kekerasan atau pantang menyakiti siapapun jug a. Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang di dalam ajaran Hindu dengan pe mikiran bahwa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu factor yang mengganggu pada saat reinkarnasi oleh karena menghasilkan karma buruk. Kehidupan manusia adalah m erupakan suatu kesempatan yang sangat berharga untuk meraih tingkat yang lebih b aik dalam kehidupan kembali. Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh diri, maka rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan tetap berada didunia fan a sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu dim ana seharusnya ia menjalani kehidupan (Catatan : misalnya umurnya waktu bunuh di ri 17 tahun dan seharusnya ia ditakdirkan hidup hingga 60 tahun maka 43 tahun it ulah rohnya berkelana tanpa arah tujuan), setelah itu maka rohnya masuk ke nerak a menerima hukuman lebih berat dan akhirnya ia akan kembali ke dunia dalam kehid upan kembali (reinkarnasi) untuk menyelesaikan karma nya terdahulu yang belum sele sai dijalaninya kembali lagi dari awal. 3. Dalam ajaran agama Buddha Ajaran agama Buddha sangat menekankan kepada makna dari kehidupan dimana penghin daran untuk melakukan pembunuhan makhluk hidup adalah merupakan salah satu moral dalam ajaran Budha. Berdasarkan pada hal tersebut di atas maka nampak jelas bah wa euthanasia adalah sesuatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam ajaran agama Budha. Selain daripada hal tersebut, ajaran Budha sangat menekankan pada we las asih ( karuna ) Mempercepat kematian seseorang secara tidak alamiah adalah merupakan pelanggaran terhadap perintah utama ajaran Budha yang dengan demikian dapat menjadi karma neg atif kepada siapapun yang terlibat dalam pengambilan keputusan guna memusnahkan kehidupan seseorang tersebut. 4. Dalam ajaran Islam Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen), Islam mengakui h ak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah k epada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243). Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal ter sebut, Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Al lah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS 2: 195), dan dalam ayat lain dise butkan, Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri, (QS 4: 29), yang makna langsungn ya adalah Janganlah kamu saling berbunuhan. Dengan demikian, seorang Muslim (dokte r) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dir inya sendiri. Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanas ia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa mer asakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si saki t, baik dengan cara positif maupun negatif. Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyataka n bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun p embunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga a) Eutanasia positif Yang dimaksud taisir al-maut al-fa al (eutanasia positif) ialah tindakan memudahka n kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan memperguna kan instrumen (alat). Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif)adalah tidak diperken ankan oleh syara . Sebab dalam tindakan ini seorang dokter melakukan suatu tindaka n aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemb

erian obat secara overdosis dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya, bah kan termasuk dosa besar yang membinasakan. Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang m endorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaanny a. Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang Menciptakannya. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta ala, k arena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya. b) Eutanasia negatif Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa il. Pada eutanasia negati f tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehid upan si sakit, tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpan jang hayatnya. Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang di lakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit, sesu ai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat . Di antara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara ialah bahwa mengoba ti atau berobat dari penyakit tidak wajib hukumnya menurut jumhur fuqaha dan ima m-imam mazhab. Bahkan menurut mereka, mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum mubah. Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya sepert i yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi i dan Imam Ahmad sebagaimana dike mukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah). 5. Dalam ajaran gereja Ortodoks Pada ajaran Gereja Ortodoks, gereja senantiasa mendampingi orang-orang beriman s ejak kelahiran hingga sepanjang perjalanan hidupnya hingga kematian dan alam bak a dengan doa, upacara/ritual, sakramen, khotbah, pengajaran dan kasih, iman dan pengharapan. Seluruh kehidupan hingga kematian itu sendiri adalah merupakan suat u kesatuan dengan kehidupan gerejawi. Kematian itu adalah sesuatu yang buruk seb agai suatu simbol pertentangan dengan kehidupan yang diberikan Tuhan. Gereja Ort odoks memiliki pendirian yang sangat kuat terhadap prinsip pro-kehidupan dan ole h karenanya menentang anjuran eutanasia. 6. Dalam ajaran agama Yahudi Ajaran agama Yahudi melarang eutanasia dalam berbagai bentuk dan menggolongkanny a kedalam pembunuhan . Hidup seseorang bukanlah miliknya lagi melainkan milik dari Tuhan yang memberikannya kehidupan sebagai pemilik sesungguhnya dari kehidupan. Walaupun tujuannya mulia sekalipun, sebuah tindakan mercy killing ( pembunuhan b erdasarkan belas kasihan), adalah merupakan suatu kejahatan berupa campur tangan terhadap kewenangan Tuhan. Dasar dari larangan ini dapat ditemukan pada Kitab Kejadian dalam alkitab Perjan jian Lama Kej 1:9 yang berbunyi : Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, A ku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari s etiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia .Pengarang buku : Haktav v haka ballah menjelaskan bahwa ayat ini adalah merujuk kepada larangan tindakan eutana sia. 7. Dalam ajaran Protestan Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam pandangannya terhadap eutanasia dan orang yang membantu pelaksanaan eutanasia. Beberapa pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya :[33] Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya menyatakan bahwa : penggunaan teknologi kedokteran untuk memperpanjang kehidupan pasien terminal membutuhkan suatu keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan tentang hingga kap ankah peralatan penyokong kehidupan tersebut benar-benar dapat mendukung kesempa tan hidup pasien, dan kapankah batas akhir kesempatan hidup tersebut . Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi sebagai suat u perawatan medis yang bukan merupakan suatu perawatan fundamental. Dalam kasus dimana perawatan medis tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara tan ggung jawab moral dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan kematian terja

di. Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu posisi yang unik untuk melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena mereka percaya bahwa kematian tubuh adalah merupakan suatu awal perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik . Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui bahwa apabila ti ndakan mengakhiri kehidupan ini dilegalisasi maka berarti suatu pemaaf untuk per buatan dosa, juga dimasa depan merupakan suatu racun bagi dunia perawatan keseha tan, memusnahkan harapan mereka atas pengobatan. Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum kristiani dalam menanggapi masal ah bunuh diri dan pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) adalah dari sudut kekudusan kehidupan sebagai suatu pemberian Tuhan. Mengakhiri hidup dengan a lasan apapun juga adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian tersebu t. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Melihat kondisi hukum mengenai abortus dan euthanasia di indonesia yang belum me nyediakan ruang untuk di legalkan maka hal ini masih dianggap ilegal di indonesi a dan beberapa negara.walaupun hal ini berkenaan dengan hak asasi manusia (HAM). Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang memperbolehkan seorang do kter melakukan abortus atas indikasi medik, sekalipun untuk menyelamatkan jiwa i bu, dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengem ukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima oleh hakim Eutanasia atau pembunuhan tanpa penderitaan hingga saat ini belum dapat diterima d alam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Euthanasia hingg a saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP. 3.2 Saran Apabila hukum di indonesia kelak akan menjadikan persoalan abortus dan euthanasi a sebagai salah satu materi pembahasan,semoga tetap di perhatikan dan dipertimba ngkan sisi nilai-nilainya, baik sosial,etika maupun moral DAFTAR PUSTAKA Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarw ono Prawirohardjo Pradono, Julianty et al. Pengguguran yang Tidak Aman di Indonesia, SDKI 1997. Ju rnal Epidemiologi Indonesia. Volume 5 Edisi I-2001. hal. 14-19. KUHP UU Kesehatan http://situs.kesrepro.info/gendervaw/jul/2002/utama02.htm http://www.abortiono.o rg http://www.liputan6.com http://www.kompas.co.id Apuranto, H dan Hoediyanto. 2006. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal. Sura baya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UNAIR Wibudi.Aris,Euthanasia (makalah)http;//www.myquran.org/09 Agustus 2005 Kristiantoro Amb sigit,Euthanasia,perspektif moral hidup http ://www.kompas.com/ kompas-cetak/0410/15/ilpeng/1325806.htm jumat 15 oktober 2004 Tongat.euthanasia dalam perspektif hukum pidana di indonesia (makalah) malang,14 februari 2005