Anda di halaman 1dari 9

Hidup Dalam Kekecewaan

Kode Kaset: T278A Nara Sumber: Pdt.Dr. Paul Gunadi Abstrak: Hidup tidak sempurna. Ada banyak hal yang tidak menyenangkan yang harus kita hadapi dan terima. Kadang kita mengalami kecurangan namun adakalanya kita harus mengalami kejahatan. Sudah tentu hasil akhirnya adalah kekecewaan. Jika inilah yang kita alami maka kita mesti belajar menolong diri sehingga kita bisa mengatasi kekecewaan. MP3: 3.60 MB Play Audio: Click to play Transkrip Isi:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup Dalam Kekecewaan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap GS : Memang sebagai manusia yang tidak sempurna, dan banyak masalah di dalam kehidupan kita, saya rasa kita semua pernah mengalami kekecewaan itu entah karena kegagalan, entah karena dikhianati orang, tapi muncul kekecewaan itu di dalam diri kita. Bagaimana kita harus menyikapinya dan bagaimana biasanya kekecewaan itu menerpa seseorang, Pak Paul ?

PG : Saya setuju dengan pengamatan Pak Gunawan, bahwa hidup memang tidak sempurna dan karena itu ada kalanya apa yang tidak kita harapkan malahan harus kita hadapi, sehingga waktu itu terjadi kkecewaanlah yang menjadi reaksi kita.

Pada kesempatan kali ini kita akan mencoba untuk melihat lebih dalam lagi tentang hidup dalam kekecewaan. Yang pertama yang akan saya uraikan adalah tiga tahapan atau fase pengenalan kita akan pengalaman yang tidak menyenangkan, yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan itu. Yang pertama adalah saya mau bawa ke masa paling kecil dalam hidup kita, pada masa awal dalam hidup ini kita tidak mengenal kecurangan atau kejahatan. Anak-anak pasti dimarahi atau didisiplin orang tuanya sehingga menangis dan sebagainya. Sudah tentu bagi anak itu bukanlah hal-hal yang menyenangkan, tetapi kemarahan orang tua dalam kadar yang wajar, disiplin orang tua kepada anak itu bukanlah sesuatu yang dilihat anak sebagai sebuah kejahatan atau kelaliman, atau kecurangan. Dengan kata lain pada awal-awal kehidupan kita tidak mengenal kecurangan, terlahir dalam ketidaktahuan akan semua itu, namun perlahan-lahan kita mulai mendengar tentang kecurangan atau kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Mungkin kita mendengar orang tua kita berbicara tentang orang yang mendapatkan suatu musibah, atau orang yang rumahnya dirampok atau orang yang sedang berjalan kemudian ditodong, atau orang yang dilukai dan sebagainya. Pada masa itulah kita mulai menyadari bahwa dunia di sekeliling kita ini bukanlah dunia yang aman atau sempurna, bahwa ada orang-orang yang berbuat kejahatan atau berniat buruk untuk merugikan orang lain. Jadi dengan kata lain, waktu kita mulai menginjak usiausia mungkin memasuki 9, 10 tahunan akhirnya kita disadarkan bahwa tidak semua manusia itu baik dan tidak semua pengalaman itu menyenangkan. Pada tahap ini kita diingatkan untuk berhati-hati sebab di sekeliling kita ada bahaya yang mengancam, kendati percaya namun sesungguhnya kita belum sepenuhnya percaya pada hal ini, karena semua ini baru berupa informasi luar atau kita baru mendengarnya, kita belum benar-benar mengalaminya. Jadi sekali lagi secara kognitif atau secara pemikiran, kita tahu bahwa di sekeliling kita itu ada bahaya, ada orang-orang yang tidak baik, namun kita belum sepenuhnya percaya karena pada tahap awal kehidupan kita belum bersentuhan dengan kejahatan itu. GS : Tetapi seorang anak bisa saja kecewa, misalnya dijanjikan sesuatu oleh ayahnya tetapi ayahnya tidak memenuhi janji itu, hal-hal seperti akhirnya juga menimbulkan kekecewaan ?

PG : Dalam kasus seperti itu, bagaimana seorang anak yang mengharapkan sesuatu dari orang tuanya namun tidak mendapatkannya, atau contoh yang lain yaitu ingin menonton televisi atau ingin mainvideo games namun oleh orang tuanya disuruh belajar, sudah tentu itu akan mengembangkan rasa tidak suka juga.
Tetapi ini bukanlah sebuah kekecewaan mendalam karena keesokan harinya dia sudah lupa dan orang tuanya juga tidak selama-lamanya melarang dia untuk bermain. Atau misalkan yang lain tidak boleh naik sepeda setiap hari, jadi kekecewaan pada masa kanak-kanak yang tidak mengandung kejahatan ini biasanya sebuah kekecewaan yang memang berkadar kecil dan dengan mudah nantinya bisa tersapu bersih.

GS : Tetapi kalau sesuatu yang kecil tadi terjadi berulang-ulang baik oleh ayahnya atau ibunya atau oleh kakaknya maka sangat berpengaruh negatif terhadap anak ini.

PG : Kalau si anak mengalami terus-menerus kekecewaan atau penolakan entah itu dijanjikan sesuatu tetapi tidak pernah diberikan, atau tidak mendapatkan hal-hal yang baik dari orang tuanya atau anji kosong dan itu terus dialaminya, maka nantinya pada usia muda akhirnya mulai mengembangkan sebuah kekecewaan karena kadar itu menjadi sebuah kadar yang personal.
GS : Kemudian tahap berikutnya dalam kekecewaan ini apa, Pak Paul ?

PG : Pada tahap berikutnya adalah kita sekarang mulai besar, kita bukan saja mendengar bahwa di sekeliling kita ada orang yang jahat dan ada orang yang menjadi korban kejahatan, namun sekarang italah yang menjadi korban perbuatan orang jahat itu, misalkan kita berjalan ke sekolah kemudian kita di todong oleh seseorang, atau peristiwa lain kita tidak bersalah namun teman kita marah, kita dipukul.
Perbuatan-perbuatan seperti itu tidak bisa tidak akan menyadarkan kita bahwa orang bisa berbuat yang buruk kepada diri kita. Sudah tentu di situ muncullah suatu reaksi takut, suatu reaksi bahwa kita tidak luput dari hal-hal yang buruk dan kita mesti disadarkan berhati-hati kita juga mesti berbuat sesuatu untuk melindungi diri dari kemungkinan terulangnya perbuatan buruk itu. GS : Ini sebagai suatu konsekuensi bahwa dia bersosialisasi lebih luas lagi bukan hanya di rumah, sehingga yang ditemukan bukan hanya orang-orang yang di dalam rumah yang mengecewakan dia, tetapi orang-orang lain di luar rumah itu juga menimbulkan kekecewaan untuk dia, Pak Paul.

PG : Betul, jadi dalam tuturan yang sedang saya berikan ini, saya mengasumsikan bahwa keadaan rumah tangganya itu relatif baik. Karena nanti sewaktu kita masuk ke tahap ketiga kita baru melihatbahwa ternyata tahap ketiga ini juga mungkin dialami oleh seorang anak di dalam rumahnya sendiri.
Itu sebuah cerita yang nanti akan kita bahas dan yang jauh lebih berat dampaknya pada si anak, tetapi dalam kondisi yang relatif lebih normal biasanya seorang anak tidak mengalami hal-hal yang seburuk itu, baru menjadi korban perlakuan yang buruk sewaktu pergaulannya semakin meluas, dia menjadi lebih rentan untuk menjadi korban kejahatan atau perlakuan yang buruk dari orang lain. GS : Apakah itu tidak membuat seorang anak menjadi enggan untuk keluar rumah, Pak Paul ?

PG : Itu sebabnya seorang anak perlu diberikan dukungan, pengertian, sehingga sewaktu dia mengalami perlakuan yang buruk dari orang di luar dan dia takut maka dia harus mengetahui bahwa dia bis berbicara dan dia bisa membagikan ketakutannya dan perasaannya kepada orang tuanya.

Sudah tentu sebaiknya orang tua jangan memarahi si anak, dan berkata, "Kamu seharusnya berani keluar jangan kamu takut, begitu saja kamu lari." Sudah tentu orang tua mesti mengerti bahwa anak itu takut dan terimalah, akuilah bahwa di luar itu kadangkala memang ada orang-orang yang jahat yang bisa berbuat buruk kepada kita. Setelah itu kita katakan kepada dia, "Oleh sebab itu kita harus berhati-hati, jangan sampai kita melakukan hal yang sama lagi, supaya kita tidak menjadi korban yang kedua kalinya." GS : Kekecewaan ini sebenarnya lebih dekat dengan ketakutan atau dengan kesedihan, Pak Paul ?

PG : Sebetulnya kekecewaan lebih dekat dengan kesedihan dan nanti kita akan lihat pada tahap yang terakhir kekecewaan itu sungguh-sungguh sebuah bentuk kesedihan yang diselimuti oleh rasa ketaktan atau ketidakamanan, karena apa yang tidak diduga itu ternyata menjadi kenyataan.
GS : Jadi tahap yang ketiga itu apa, Pak Paul ?

PG : Tahap yang ketiga adalah pada akhirnya pengenalan kita akan kecurangan atau kejahatan orang mencapai puncaknya, tatkala kita sendiri menjadi korban dari perbuatan buruk orang yang kita kenl dan percaya.
Mungkin saja kita alami waktu kita sudah mulai remaja atau sudah mulai dewasa ketika kita dilukai atau disakiti oleh orang-orang yang kita kenal dengan baik, teman mungkin bisa melakukannya kepada kita, setelah kita menikah pasangan kita bisa melakukannya kepada kita, atau saudara kita yang kita percaya dan tidak menduga bahwa dia bisa berbuat buruk kepada kita seperti menipu kita. Waktu kita mengalami hal-hal seperti ini, tidak bisa tidak, kita akan merasakan kekecewaan yang dalam, sebab kita tidak pernah mengharapkan dan menduga bahwa orang yang kita percaya ini, apalagi orang yang kita sayangi ini, ternyata tega berbuat hal seburuk itu kepada kita, kita bisa juga mengukur seberapa dalamnya kekecewaan yang kita rasakan dari berapa baiknya relasi kita, sebelum kekecewaan itu terjadi. Maksud saya seperti ini misalkan dalam hubungan suami isteri kalau pada akhirnya suami kedapatan menipu si isteri, karena dia memunyai perempuan lain dalam hidupnya, tetapi sebelumnya ini terbongkar si suami memerlihatkan sebuah diri yang baik, sebuah diri yang memerhatikan isterinya, sebuah diri yang bertanggung jawab terhadap anakanaknya, pulang kerja mungkin juga tidak terlambat, selalu bersedia untuk mengantar anaknya, tidak ada tanda-tanda apa-apa, tetapi suatu ketika kedapatan bahwa dia memunyai perempuan lain. Biasanya kalau itu yang terjadi, pukulan kekecewaan akan sangat dalam dibandingkan kalau misalnya perlakuannya yang sebaliknya yaitu didalam relasi memang hubungan suami isteri ini sudah tidak baik yaitu sering terjadi pertengkaran, tidak ada lagi rasa respek dan sayan, sehingga waktu kedapatan bahwa si suami ini berbuat hal yang salah, berdosa di hadapan Tuhan karena ada perempuan lain dalam hidupnya, hal ini pasti si isteri tetap akan sakit hati dan kecewa namun perasaan sakit hati dan kecewanya tidaklah sebesar kalau hubungan kita itu sebelumnya dianggap baik, mesra dan penuh dengan rasa percaya.

GS : Jadi dalam kasus yang kedua itu mungkin hanya menegaskan bahwa apa yang diperkirakan oleh si isteri adalah benar, Pak Paul ?

PG : Betul. Memang hubungan mereka sudah buruk jadi dia sudah bisa mengantisipasi, karena hubungan ini terus memburuk, memburuk, maka nanti kamu akan jatuh cinta atau memunyai perempuan lain daam hidupmu.
Atau sebaliknya juga bisa yaitu si suami yang beranggapan bahwa tinggal tunggu waktu kamu juga akan mendapatkan pria lain. Jadi ini adalah sebuah situasi yang sangat personal yaitu kita menjadi korban kejahatan atau perlakuan buruk dari orang yang kita kenal dengan baik dan kita percaya, apalagi yang kita sayangi. Tetapi tadi saya sudah singgung, Pak Gunawan, kadang-kadang secara alamiah seharusnyalah seorang anak baru mengalami peristiwa yang personal ini tatkala dia sudah dewasa. Tetapi ada kalanya ada anak-anak yang mengalami semua ini tatkala dia kecil yaitu dari orang yang dia percaya yaitu orang tuanya yang dia hormati yang dia sayang, yang seharusnya merawat dia, justru dia menerima perlakuan-perlakuan buruk, tidak bisa tidak si anak akan hidup dalam sebuah kekecewaan yang dalam. Maka tidak heran sebagian anak yang dibesarkan di dalam rumah tangga seperti itu karena menyimpan kekecewaan yang dalam, setelah beranjak dewasa maka suasana hatinya adalah suasana hati yang depresi, jarang kita melihat sukacita, keriangan dalam diri anak yang seperti ini, karena dari kecil dia akhirnya memendam rasa kecewa dan yang juga bercampur dengan kesedihan. GS : Mungkin juga orang yang tidak terbiasa mengalami kekecewaan pada masa kecilnya, Pak Paul. Dan kemudian setelah dewasa dia mengalami kekecewaan, itu juga akan membuat kekecewaan yang sangat dalam, Pak Paul ?

PG : Sudah tentu kalau kita tidak terbiasa maka pukulan itu akan lebih terasa, tetapi sekali lagi sebetulnya seberapa dalamnya dan seberapa parahnya dampak kekecewaan itu bergantung pada relasikita sebelumnya dengan orang itu.
Kalau kita mengalami perlakuan buruk dari orang yang tidak kita kenal sama sekali sudah tentu tetap kita akan marah, sakit hati, kecewa, tetapi tidaklah separah kalau kita dikecewakan oleh orang yang kita percaya. GS : Lalu dampaknya apa, Pak Paul ?

PG : Ada beberapa, Pak Gunawan. Yang biasanya kita keluarkan adalah sebagai reaksi terhadap perlakuan buruk yang menimbulkan kekecewaan itu. Pertama adalah kita marah karena tidak menyangka baha seseorang yang kita percaya dan sayangi ternyata sanggup berbuat hal seperti itu, maka kita benar-benar marah.
Yang kedua adalah kita sedih karena perbuatan itu menciptakan batas pemisah antara kita dan dirinya sebab pada akhirnya kita kehilangan orang yang dekat dan kita sayangi, karena dia telah berbuat hal yang buruk dan melukai hati kita. Sudah tentu kita tidak bisa dengan cepat kembali kepada diri yang sediakala yaitu percaya dan sayang kepadanya, tidak bisa secepat itu. Akhirnya kita membatasi dan di sini biasanya timbul kesedihan yang dalam sebab sebelumnya

orang yang berbuat buruk kepada kita itu awalnya adalah orang yang kita sayangi, yang kita hormati, kita percayai dan dalam diri kita tetap ada rasa kehilangan, karena ada garis pemisah antara kita dan orang yang tadinya begitu dekat dan baik kepada kita, dan kita tidak mau terlalu dekat lagi dengan dia. Namun ada sebuah kerinduan dan kehilangan bahwa orang yang tadinya dekat sekarang akhirnya tidak ada lagi. GS : Itu menimbulkan suatu kekhawatiran atau ketakutan kalau kita mau berhubungan lagi dengan orang itu, Pak Paul ?

PG : Betul sekali dan ini adalah reaksi yang terakhir yaitu kita takut. Takut sebab kita tidak mau hal itu terulang lagi, kita tidak mau terlukai lagi, sehingga kita mulailah mengembangkan sebuh pemikiran bahwa di dalam dunia sebetulnya tidak ada orang yang sungguh-sungguh baik dan dapat dipercaya, sebab orang yang begitu baik dan begitu kita percaya akhirnya sanggup untuk melakukan hal yang seburuk itu kepada kita.
GS : Tetapi selama kita berelasi dengan orang-orang yang ada di dalam satu keluarga dengan kita, itu berarti kita harus selalu siap untuk mengalami hal-hal seperti itu ?

PG : Betul, namun masalahnya adalah kita tahu bahwa kita tidak sempurna dan tidak ada relasi yang sempurna. Bahkan hubungan dengan suami, isteri, orang tua dan anak. Tetapi ada sebuah harapan aau keyakinan bahwa keluarga kita tidak akan berbuat seburuk itu kepada kita, karena satu dengan yang lain sudah dekat, sehingga waktu terjadi masalah biasanya kita akan terpukul dengan berat.
GS : Lalu apa saran Pak Paul sendiri kalau Pak Paul yang mengalami kekecewaan seperti itu ? Apa yang harus kita lakukan ?

PG : Ada empat yang bisa saya tawarkan. Yang pertama adalah kita mesti melihat fakta secara keseluruhan, artinya bukan saja kita melihat perbuatannya dari kacamata kita, tetapi juga dari kacamaanya.
Dengan cara itu kita dapat memandang masalah secara objektif, jadi maksudnya begini, mungkin ada hal-hal yang luput kita lihat, mungkin ada motivasi tertentu yang tidak kita sadari, mungkin sebetulnya orang tersebut tidak seburuk yang kita duga, ada kondisi tertentu yang membuatnya melakukan hal seperti itu. Jadi kumpulkanlah data selengkap mungkin. Kecenderungan kita waktu kita dilukai dan kita kecewa, kita itu secara langsung menarik diri, dan dengan cepat menyimpulkan dan tidak mau tahu terlalu banyak lagi, kenapa bisa seperti ini, kenapa bisa seperti itu dan memeriksa seobjektif mungkin. Kebanyakan dari kita langsung menarik diri dan menyimpulkan bahwa kamu memang begini. Justru ini kurang bijaksana. Jadi langkah pertama kumpulkanlah data seobjektif mungkin. GS : Tetapi hal itu tidak mungkin kita lakukan sementara kita masih marah dan kita masih sedih atau kita masih takut, Pak Paul ?

PG : Sudah tentu kita perlu melewati suatu masa dimana kita bisa mulai stabil lagi sebab tatkala emosi kita masih labil kita tidak mudah melihat secara objektif dan rasional yaitu mencari tahu agaimana faktanya.
Setelah kita relatif stabil, barulah kita mencoba mendapatkan lebih banyak informasi tentang apa yang sebetulnya terjadi, kenapa dia begini dan begitu. GS : Tetapi biasanya itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menenangkan diri, Pak Paul. Karena rasanya kita itu enggan untuk mengungkit kembali dan kemudian melihat fakta-fakta dengan jelas.

PG : Betul, maka tadi saya singgung kecenderungan kita adalah cukup, kita mau menarik diri, menutup buku, kita tidak mau lagi melihatnya. Tetapi masalahnya adalah begitu kita menutup buku, kemuian kita memberikan judul pada buku itu dan judul buku itu adalah judul yang sudah pasti yang sesuai dengan pemikiran kita.
Justru sebaiknya meskipun susah tapi kita harus mencoba untuk melihat kenapa dia seperti ini dan seperti itu, apa kemungkinannya. Semakin banyak data, maka semakin lengkaplah informasi tersebut, sehingga kita bisa memberikan penilaian yang lebih tepat. GS : Langkah berikutnya apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?

PG : Yang kedua adalah kita mesti mengakui kenyataan apa adanya. Jadi pada akhirnya kita harus menyimpulkan bahwa orang itu berbuat hal ini karena memang dia tidak lagi menyayangi kita, atau idak lagi menghormati kita atau tidak lagi menganggap kita sebagai temannya, maka kita harus akui itu dan kita harus terima.
Bila kita harus mengakui kalau dia adalah orang yang serakah atau yang egois, akuilah juga. Jadi jangan sampai kita mendistorsi fakta, kadang karena ada kebutuhan-kebutuhan pribadi maka kita tidak siap menerima fakta, sehingga kita memberikan warna yang berbeda pada fakta itu. Penting sekali kita mengakui fakta apa adanya, kalau memang hitam maka kita panggil hitam, kalau putih maka kita panggil putih. GS : Dalam hal ini apakah kita perlu minta pertimbangan orang lain, Pak Paul ?

PG : Ini ide yang baik sekali, Pak Gunawan. Jadi dalam proses mencari fakta pada tahap pertama tadi, sudah tentu kita harus mencari masukan dari orang-orang lain yang mengerti situasi ini dan yng juga mengenal orang tersebut, sehingga data yang kita peroleh akan memerkaya pemahaman kita akan sebetulnya apa yang telah terjadi.
GS : Karena orang lain biasanya tidak terlibat langsung, maka secara emosional juga tidak terganggu seperti itu, Pak Paul. Jadi bisa memberikan penilaian yang lebih objektif .

PG : Betul. Setelah kita mendapatkan semua informasi itu, maka kita harus akui faktanya. Seandainya orang yang berlaku buruk kepada kita itu tidak lagi memunyai perasaan yang

sama dengan kita, tau orang itu ingin menjauh dari kita dan dia tidak mau lagi dekat dengan kita, maka dalam kondisi seperti itu kita harus terima.
GS : Hal ketiga yang bisa kita lakukan apa, Pak Paul ?

PG : Berkaitan dengan yang ke dua, langkah ketiganya adalah kita harus melepaskan genggaman. Artinya kita harus rela membiarkan dia memilih garis kehidupannya. Inilah bagian yang sulit dilakuka sebab biasanya kita tetap mengharapkan bahwa dia tidaklah seperti itu.
Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa kita tidak bisa mengendalikan sikap orang terhadap kita, kekecewaan adalah reaksi alamiah terhadap perlakuan orang yang tidak semestinya kepada kita, namun kita harus melepaskan genggaman ini sebab dia tidak berkewajiban menghilangkan kekecewaan, orang tersebut memang tidak memunyai kewajiban untuk membuat kita lebih tidak kecewa atau lebih percaya, memang tidak! Dia sudah memutuskan bahwa dia memilih garis kehidupannya dan kita memang harus terima itu dan kita harus lepaskan. Kadang-kadang yang menyulitkan adalah kita mau tetap menggenggamnya, berharap bahwa dia akan berbuat lebih baik lagi kepada kita. Namun kita harus terima. GS : Tetapi kalau itu terikat dalam suatu ikatan kekeluargaan, maka akan lebih sulit untuk melepaskannya.

PG : Tepat sekali. Sudah tentu adanya kedekatan seperti tadi kita sudah bahas di dalam relasi yang akrab, kita percaya, kita sayang, kita hormati, maka kita mengharapkan ini bisa kembali lagi sperti dulu dan dia sudah meminta maaf dan sebagainya namun kenyataannya tidak seperti yang kita harapkan dan kita harus terima bahwa itu pilihan dia, apapun yang akan kita lakukan besar kemungkinan tidak akan mengubahnya, sekurang-kurangnya pada saat ini.
Mungkin kita bisa berharap suatu hari kelak, dia bisa lebih dewasa melihat dan menerimanya dengan lebih baik, memang untuk sementara kita harus lepaskan genggaman kita. GS : Tetapi kita bisa menyampaikan bahwa kita mengharapkan agar dia tidak mengecewakan kita lagi, Pak Paul ?

PG : Sudah tentu kita boleh menyampaikan permintaan tersebut, tetapi kita hanya menyampaikannya, setelah itu kita harus lepaskan seperti kita melepaskan burung dari sangkar, bahwa burung ini searang akan terbang ke mana dia ingin terbang dan kita tidak bisa lagi mengatur ke manakah burung ini akan terbang.
GS : Mungkin ada langkah yang lain, Pak Paul, yang bisa kita lakukan ?

PG : Yang terakhir adalah kita mesti berusaha mendoakannya, sebab berdoa berarti membawanya ke hadapan Tuhan dan menjadikannya objek yang layak didoakan. Mendoakan adalah mengizinkan Tuhan mauk membasuh kekecewaan kita dan menggantikannya dengan kesediaan untuk berbelas kasihan, dan akhirnya kembali mengasihinya.

GS : Sesuatu yang tidak mudah dilakukan bahwa kita harus mendoakan demi kebaikan orang yang telah mengecewakan kita, biasanya doa kita juga sedikit terdistorsi dengan mendoakan sesuatu yang kurang baik untuk orang itu, Pak Paul ?

PG : Saya kira pada awal apalagi sewaktu kita baru dikecewakan, maka kita marah dan sedih. Silakan ungkapkan doa apa adanya kepada Tuhan, baik itu kemarahan kita, rasa sakit hati kita, kadang kta juga berdoa supaya Tuhan membalaskan sebab Tuhan tidak mau kita membalas, kemudian kita meminta agar Tuhan yang membalaskannya untuk kita.
Itu tidak mengapa tetapi saya kira setelah kita melewati fase itu, akan ada fase berikutnya yaitu kita mendoakan untuk orang itu supaya apa yang buruk bisa dilepaskan dan apa yang baik bisa dia lakukan. Sewaktu kita mulai mendoakan dia sebetulnya kita sedang membuka hati kita untuk dibasuh oleh Tuhan karena orang yang tidak bersedia mendoakan orang yang telah menyakitinya, seolaholah dia tetap membiarkan adanya kotoran-kotoran di dalam hatinya. Tetapi waktu dia mulai mendoakan dan mulai membuka hati, mengizinkan Tuhan mengundang Tuhan membasuh hatinya dan hatinya menjadi kembali bersih. GS : Saya rasa kita sebagai manusia, semua juga mengalami hal yang sama namun kita harus selalu siap bahwa suatu saat kita akan pernah mengalami kekecewaan lagi. Dalam hal ini, apakah bimbingan Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Mazmur 61:5 dan Mazmur 62:2. Di Mazmur 61:5 berkata, "Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu!" Mazmur 62:2, "Hanya dekt Allah saja aku tenang dari pada-Nyalah keselamatanku."
Jadi sekali lagi pada akhirnya kita harus masuk ke kemah Tuhan, kita bernaung dan menumpang di dalam kemah Tuhan dan dekat dengan Allah sebab hanya di dalam kemah Tuhan dan hanya dekat dengan Allah barulah kita mendapatkan ketenangan itu dan kita barulah bisa menghadapi kekecewaan itu pula.

GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup Dalam Kekecewaan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.