Anda di halaman 1dari 24

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

I.

Pendahuluan Di berbagai belahan dunia, laporan kasus skabies masih sering ditemukan pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status ekonomi rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang baik atau cenderung jelek. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam hari, secara tidak langsung juga ikut mengganggu kelangsungan hidup masyarakat terutama tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan dilakukannya di siang hari juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung lama, maka efisiensi dan efektifitas kerja menjadi menurun yang akhirnya mengakibatkan menurunnya kualitas hidup masyarakat. Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi pada lapisan epidermis superficial terhadap Sarcoptes scabiei var hominis dan produknya. Penyakit kulit yang sangat mudah menular baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya ibu yang menggendong anaknya yang menderita scabies atau penderita yang bergandengan tangan dengan teman-temannya. Secara tidak langsung misalnya melalui tempat tidur, handuk, pakaian dan lain-lain. Diagnosis ditegakkan jika ditemukan 2 dari 4 tanda kardinal yakni : 1. Pruritus nokturna (gatal pada malam hari ) karena akitivitas tungau lebih tinggi pada malam hari 2. Ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh keluarga, sebagian tetangga yang berdekatan 3. Ditemukannya kanalikulus pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ditemukan papul dan vesikel. 4. Menemukan tungau. Merupakan hal yang paling diagnostik.

Predileksi dari skabies ialah biasanya pada daerah tubuh yang memiliki lapisan stratum korneum yang tipis, seperti misalnya: axilla, areola mammae, sekitar umbilikus, genital, bokong, pergelangan tangan bagian volair, sela-sela jari tangan, siku flexor, telapak tangan dan telapak kaki. Karena sifatnya yang sangat menular, maka skabies ini populer di kalangan masyarakat padat. Banyak faktor yang menunjang perkembangan dari penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologik. Penyakit ini juga dapat digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS).

II.

Definisi Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis. (1)

III.

Epidemiologi Skabies ditemukan di seluruh negara dengan prevalensi yang bervariasi. Daerah endemik skabies adalah di daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Australia, Kepulauan Karibia, India dan Asia Tenggara.(2,3) Diperkirakan terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terjangkit tungau skabies.(4) Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras, umur ataupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah kemiskinan dan kondisi hidup di daerah padat,(3) sehingga penyakit ini lebih sering di daerah perkotaan.(5) Bukti menunjukkan insiden kejadian skabies dipengaruhi oleh musim dimana skabies sering didiagnosa pada musim hujan dibandingkan musim panas. Insiden skabies meningkat dalam dua dekade terakhir ini dan

memberi pengaruh besar terhadap wabah di rumah sakit, penjara, panti asuhan,(5) dan panti jompo.(6) Penyakit ini dapat dimasukkan dalam PHS (Penyakit akibat Hubungan Seksual). (1)

IV.

Etiologi Sarcoptes scabiei termasuk ke dalam filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis.(1) Kutu ini khusus menyerang dan menjalani siklus hidupnya dalam lapisan tanduk kulit manusia. Selain itu terdapat S. scabiei yang lain, yaitu varian animalis yang menyerang hewan seperti anjing, kucing, lembu, kelinci dan sebagainya. Sarcoptes ssaciei var. animalis ini dapat menyerang manusia dengan pekerjaan yang berhubungan erat dengan hewan tersebut di atas. Gejala yang ditimbulkan lebih ringan, sementara dan tidak timbul terowongan, tidak ada infestasi besar dan lama serta dapat sembuh sendiri bila menjauhi hewan-hewan tersebut.(7)

Gambar 1.1. Sarcoptes scabiei

Secara mikroskopis, Sarcoptes scabiei merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih dan tidak memiliki mata. Tungau betina berukuran 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan tungau jantan berukuran lebih

kecil, yaitu 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa memiliki empat pasang kaki, dua pasang kaki depan sebagai alat untuk melekat dan dua pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.(1) Sarcoptes scabiei tidak dapat terbang namun dapat berpindah tempat secara cepat saat terjadi kontak kulit dengan penderita. Tungau ini dapat merayap dengan kecepatan sampai dengan 1 inch per menit pada permukaan kulit. Belum ada studi mengenai waktu kontak minimal untuk dapat terjangkit skabies namun dikatakan jika ada riwayat kontak dengan penderita maka terjadi peningkatan resiko tertular penyakit skabies.(8)

Gambar 1.2. Siklus hidup Sarcoptes scabiei pada tubuh manusia

Sarcoptes scabiei betina merupakan penyebab terjadinya skabies pada manusia. Setelah kopulasi yang terjadi di atas kulit, sarcoptes scabiei jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam

terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum dengan kecepatan 2-3 milimeter per hari sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai 40 atau 50 butir. Bentuk tungau betina yang dibuahi dapat bertahan selama 1 bulan. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai telur sampai dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari tetapi ada juga yang menyebutkan 8-17 hari.(1) Studi lain menunjukkan bahwa lamanya siklus hidup dari telur sampai dewasa pada tungau jantan biasanya sekitar 10 hari dan untuk tungau betina bisa sampai 30 hari.(8) Tungau skabies umumnya dapat hidup dalam suasana yang lembab dan pada suhu kamar (21C dengan kelembaban relatih 40-80 %) serta masih dapat hidup 24-36 jam di luar tubuh hospes.(9)

Gambar 1.3. Tempat predileksi skabies

Tempat predileksi skabies pada lipatan tubuh dan tempat yang lembab seperti sekitar payudara, sela-sela jari selangkangan, penis, serta dapat pula di wajah.(7)

V.

Patogenesis Reaksi alergi yang sensitif terhadap tungau dan produknya memperlihatkan peran yang penting dalam perkembangan lesi dan terhadap timbulnya gatal.(10) Sarcoptes scabiei melepaskan substansi sebagai respon hubungan antara tungau dengan keratinosit dan sel-sel Langerhans ketika melakukan penetrasi pada kulit.(11) Sebuah penelitian memunjukkan adanya keterlibatan reaksi hipersensitivitas tipe IV dan I.(10,11) Pada reaksi tipe I pertemuan antigen tungau dengan Ig-E pada permukaan terowongan yang digali di epidermis menyebabkan degranulasi sel Mast sehingga terjadi peningkatan antibody IgE. keterlibatan reaksi tipe IV memperlihatkan gejala sekitar 10-30 hari setelah sensitisasi tungau(11) dan akan memproduksi papul-papul dan nodul inflamasi yang dapat terlihat dari perubahan histologi dan jumlah limfosit T banyak pada infiltrat kutaneus.(10) Kelainan kulit yang menyerupai dermatitis tersebut sering terjadi lebih luas dibandingkan dengan lokasi tungau dengan efloresensi dapat berupa papul, nodul, vesikel, urtika dan lainnya. Dengan garukan dapat muncul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.(1)

VI.

Diagnosis 1. Gejala klinis Kelainan klinis pada kulit ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei sangat bervariasi namun terdapat 4 tanda utama atau cardinal sign pada infestasi skabies , yaitu : a) Pruritus nocturna

Setelah pertama kali terinfeksi Sarcoptes scabiei, kelainan kulit seperti pruritus akan muncul setelah 6-8 minggu. Infeksi yang berulang ruam beberapa terasa lebih dan dapat menyebabkan gatal dalam hari. hebat Gatal pada yang timbul hanya

malam hari karena meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas.(5,12) Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita menjadi gelisah.(13)

Gambar 1.4. Lesi pada telapak tangan

b) Menyerang sekelompok orang Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok sehingga dalam sebuah keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam pemukiman yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut.
(1)

Di dalam kelompok mungkin akan ditemukan individu yang

hiposensitisasi. Walaupun terinfestasi oleh parasit, orang tersebut tidak mempunyai keluhan klinis akan tetapi sebagai pembawa/ carrier bagi orang lain.(13) c) Adanya terowongan (kunikulus) Dapat ditemukan adanya terowongan pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau

berkelok-kelok, rata-rata panjang 1 cm dan pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dll). Tempat predileksi biasanya pada daerah dengan stratum korneum yang tipis, yaitu : sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.(1) d) Menemukan tungau Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh maka kemungkinan besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa maupun skibala dan ini merupakan hal yang paling diagnostik. Akan tetapi tungau agak susah ditemukan karena hampir sebagian besar penderita pada umumnya datang dengan lesi yang sangat variatif dan tidak spesifik.(13) Pada kasus skabies yang klasik, jumlah tungau sedikit sehingga diperlukan beberapa lokasi kerokan kulit. Diagnosis skabies dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal.(1) 2. Pemeriksaan penunjang a) Kerokan kulit Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH 10% lalu dilakukan kerokan dengan menggunakan skalpel steril yang bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di gelas objek dan ditutup dengan kaca penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.(14) b) Mengambil tungau dengan jarum Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke

ujung lainnya kemudian dikeluarkan. Bila positif, tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian tinggi.(14) c) Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test) Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan tinta hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk zigzag. (14,15) d) Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy) Diagnosis pasti dapat melalui identifikasi tungau, telur atau skibala secara mikroskopik. Ini dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk kemudian dibuat irisan tipis, dan dilakukan irisan superficial secara menggunakan pisau dan berhati-hati dalam melakukannya agar tidak berdarah. Kerokan tersebut diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan minyak mineral yang kemudian diperiksa dibawah mikroskop.(5,13) e) Biopsi irisan dengan pewarnaan HE.

Gambar 1.5 . Sarcoptes scabiei dalam epidermis (panah) dengan pewarnaan H.E

f) Uji tetrasiklin Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet

dari lampu Wood, tetrasiklin tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli.(13) Dari berbagai macam pemeriksaan tersebut, pemeriksaan kerokan kulit merupakan cara yang paling mudah dan hasilnya cukup memuaskan. Agar pemeriksaan berhasil, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni (14) : 1. Kerokan harus dilakukan pada lesi yang utuh (papula, kanalikuli) dan tidak dilakukan pada tempat dengan lesi yang tidak spesifik. 2. Sebaiknya lesi yang akan dikerok diolesi terlebih dahulu dengan minyak mineral agar tungau dan produknya tidak larut, sehingga dapat menemukan tungau dalam keadaan hidup dan utuh. 3. Kerokan dilakukan pada lesi di daerah predileksi. Oleh karena tungau terdapat dalam stratum korneum maka kerokan harus dilakukan di superficial dan menghindari terjadinya perdarahan. Namun karena sulitnya menemukan tungau maka diagnosis skabies harus dipertimbangkan pada setiap penderita yang datang dengan keluhan gatal yang menetap.

VII.

Diagnosis Banding Ada pendapat yang mengatakan penyakit skabies ini merupakan the great imitator karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal. Sebagai diagnosis banding adalah prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis, (1) gigitan serangga, folikulitis. 1. Urtikaria Akut: erupsi pada papul-papul yang gatal, selalu sistemik.
(15)

Gambar 1.6. Urtikaria Akut

10

2.

Prurigo, biasanya berupa papul-papul yang gatal, predileksi pada bagian ekstensor ekstremitas. (15)

Gambar 1.7. Prurigo nodularis

3.

Gigitan serangga, biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan, efloresensinya urtikaria papuler. (15)

Gambar 1.8. Insects bite

4.

Folikulitis berupa pustul miliar dikelilingi daerah yang eritem. (16)

Gambar 1.9. Folikulitis

VIII.

Penatalaksanaan a. Penatalaksanaan secara umum Edukasi pada pasien skabies(17) :

11

1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan. 2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. 3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan. 4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila perlu direndam dengan air panas 5. Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu walaupun rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari. 6. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama(17) dan ikut menjaga kebersihan.(13) b. Penatalaksanaan secara khusus Pengobatan skabies harus efektif terhadap tungau dewasa, telur dan produknya, mudah diaplikasikan, nontoksik, tidak mengiritasi, aman untuk semua umur, dan terjangkau biayanya.(13) Pengobatan skabies yang bervariasi dapat berupa topikal maupun oral. a. Permethrin Merupakan sintesa dari pyrethroid,
(11,18)

dan bekerja dengan cara

mengganggu polarisasi dinding sel saraf parasit yaitu melalui ikatan dengan natrium. Hal ini memperlambat repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralisis parasit. pilihan pertama dalam pengobatan mamalia toksisitasnya terhadap
(11,19)

Obat ini merupakan karena


(11,13)

skabies

efek dan

sangat

rendah

kecenderungan keracunan akibat kesalahan dalam penggunaannya sangat kecil.(13) Hal ini disebabkan karena hanya sedikit yang terabsorpsi di kulit dan cepat dimetabolisme yang kemudian dikeluarkan kembali melalui keringat dan sebum, dan juga melalui urin.(11,13) Belum pernah dilaporkan resistensi setelah penggunaan obat ini.(13) Permethrin tersedia dalam bentuk krim 5%, yang diaplikasikan selama 8-12 jam dan setelah itu dicuci bersih.(13) Apabila belum

12

sembuh bisa dilanjutkan dengan pemberian kedua setelah 1 minggu. (13) Permethrin jarang diberikan pada bayi-bayi yang berumur kurang dari 2 bulan, wanita hamil dan ibu menyusui.(13) Wanita hamil dapat diberikan dengan aplikasi yang tidak lama sekitar 2 jam.
(11)

Efek

samping jarang ditemukan, berupa rasa terbakar, perih dan gatal,(13) namun mungkin hal tersebut dikarenakan kulit yang sebelumnya memang sensitive dan terekskoriasi.(11) b. Presipitat Sulfur 2-10% Sulfur adalah antiskabietik tertua yang telah lama digunakan, sejak 25 M.
(11,17)

Preparat sulfur yang tersedia dalam bentuk salep (2%

-10%) dan umumnya salep konsentrasi 6% lebih disukai. Cara aplikasi salep sangat sederhana, yakni mengoleskan salep setelah mandi ke seluruh kulit tubuh selama 24 jam selama tiga hari berturut-turut.(13,17) Keuntungan penggunaan obat ini adalah harganya yang murah dan mungkin merupakan satu-satunya pilihan di negara yang membutuhkan terapi massal.(17) Bila kontak dengan jaringan hidup, preparat ini akan membentuk hydrogen sulfide dan pentathionic acid (CH2S5O6) yang bersifat germicid dan fungicid. Secara umum sulfur bersifat aman bila digunakan oleh anak-anak, wanita hamil dan menyusui serta efektif dalam konsentrasi 2,5% pada bayi. Kerugian pemakaian obat ini adalah bau tidak enak, mewarnai pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi.(13) c. Benzyl benzoate Benzil benzoate adalah ester asam benzoat dan alkohol benzil
(17)

yang merupakan bahan sintesis balsam peru.(11) Benzil benzoate bersifat neurotoksik pada tungau skabies. Digunakan sebagai 25% emulsi dengan periode kontak 24 jam dan pada usia dewasa muda atau anak-anak, dosis dapat dikurangi menjadi 12,5%. Benzil

13

benzoate sangat efektif bila digunakan dengan baik dan teratur dan secara kosmetik bisa diterima. Efek samping dari benzil benzoate dapat menyebabkan dermatitis iritan pada wajah dan skrotum, karena itu penderita harus diingatkan untuk tidak menggunakan secara berlebihan. Penggunaan berulang dapat menyebabkan dermatitis alergi. Terapi ini dikontraindikasikan pada wanita hamil dan menyusui, bayi, dan anak-anak kurang dari 2 tahun. Tapi benzil benzoate lebih efektif dalam pengelolaan resistant crusted skabies. Di negara-negara berkembang dimana sumber daya yang terbatas, benzil benzoate digunakan dalam pengelolaan skabies sebagai alternatif yang lebih murah.(17,20) d. Gamma benzene heksaklorida (Lindane) Lindane juga dikenal sebagai hexaklorida gamma benzena, adalah sebuah insektisida yang bekerja pada sistem saraf pusat (SSP) tungau. Lindane diserap masuk ke mukosa paru-paru, mukosa usus, dan selaput lendir kemudian keseluruh bagian tubuh tungau dengan konsentrasi tinggi pada jaringan yang kaya lipid dan kulit yang menyebabkan eksitasi, konvulsi, dan kematian tungau.
(17) (17,20)

Lindane dimetabolisme dan diekskresikan melalui urin dan feses. Lindane tersedia dalam bentuk krim, lotion, gel, tidak berbau dan tidak berwarna. Pemakaian secara tunggal dengan mengoleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah selama 12-24 jam dalam bentuk 1% krim atau lotion. Setelah pemakaian dicuci bersih dan dapat diaplikasikan lagi setelah 1 minggu. pengobatan tidak sebelumnya. Beberapa
(11,13)

Hal ini untuk menunjukkan serta tidak

memusnahkan larva-larva yang menetas dan tidak musnah oleh penelitian 7 hari, penggunaan Lindane selama 6 jam sudah efektif. Dianjurkan untuk mengulangi pengobatan dalam menggunakan konsentrasi lain selain 1%.(13)

14

Efek samping lindane antara lain menyebabkan toksisitas SSP, kejang, dan bahkan kematian pada anak atau bayi walaupun jarang terjadi. Tanda-tanda klinis toksisitas SSP setelah keracunan lindane yaitu sakit kepala, mual, pusing, muntah, gelisah, tremor, disorientasi, kelemahan, berkedut dari kelopak mata, kejang, kegagalan pernapasan, koma, dan kematian. Beberapa bukti menunjukkan lindane dapat mempengaruhi perjalanan fisiologis kelainan darah seperti anemia aplastik, trombositopenia, dan pansitopenia.(11) e. Crotamiton krim (Crotonyl-N-Ethyl-O-Toluidine) Crotamion (crotonyl-N-etil-o-toluidin) digunakan sebagai krim 10% atau lotion. Tingkat keberhasilan bervariasi antara 50% dan 70%. Hasil terbaik telah diperoleh bila diaplikasikan dua kali sehari selama lima hari berturut-turut setelah mandi dan mengganti pakaian (11,13) dari leher ke bawah selama 2 malam kemudian dicuci setelah aplikasi kedua. Efek samping yang ditimbulkan berupa iritasi bila digunakan jangka panjang.(13) Beberapa ahli beranggapan bahwa crotamiton krim ini tidak memiliki efektivitas yang tinggi terhadap skabies. Crotamiton 10% dalam krim atau losion, tidak mempunyai efek sistemik dan aman digunakan pada wanita hamil, bayi dan anak kecil. (11) f. Ivermectin Ivermectin adalah bahan semisintetik yang dihasilkan oleh Streptomyces avermitilis, anti parasit yang strukturnya mirip antibiotic makrolid, namun tidak mempunyai aktifitas sebagai antibiotic, diketahui aktif melawan ekto dan endo parasit. Digunakan secara meluas pada pengobatan hewan, pada mamalia, pada manusia digunakan untuk pengobatan penyakit filarial terutama oncocerciasis. Diberikan secara oral, dosis tunggal, 200 ug/kgBB dan dilaporkan efektif untuk skabies. Digunakan pada umur lebih dari 5 tahun. Juga dilaporkan secara khusus tentang

15

formulasi ivermectin topikal efektif untuk mengobati skabies. Efek samping yang sering adalah kontak dermatitis dan toxicepidermal necrolysis.(13) g. Monosulfiran Tersedia dalam bentuk lotion 25% sebelum digunakan harus ditambahkan 2-3 bagian air dan digunakan setiap hari selama 2-3 hari.(13) h. Malathion Malathion 0,5% adalah insektisida organosfosfat
(11)

dengan dasar

air digunakan selama 24%. Pemberian berikutnya beberapa hari kemudian.(13) Namun saat ini tidak lagi direkomendasikan karena berpotensi memberikan efek samping yang buruk.(11) c. Penatalaksanaan skabies berkrusta Terapi skabies ini mirip dengan bentuk umum lainnya, meskipun skabies berkrusta berespon lebih lambat dan umumnya membutuhkan beberapa pengobatan dengan skabisid. Kulit yang diobati meliputi kepala, wajah, kecuali sekitar mata, hidung, mulut dan khusus dibawah kuku jari tangan dan jari kaki diikuti dengan penggunaan sikat di bagian bawah ujung kuku. Pengobatan diawali dengan krim permethrin dan jika dibutuhkan diikuti dengan lindane dan sulfur. Mungkin sangat membantu bila sebelum terapi dengan skabisid diobati dengan keratolitik.(13) d. Penatalaksanaan skabies nodular Nodul tidak mengandung tungau namun merupakan hasil dari reaksi hipersensitivitas terhadap produk tungau. Nodul akan tetap terlihat dalam beberapa minggu setelah pengobatan. Skabies nodular dapat diobati dengan kortikosteroid intralesi topikal dua kali sehari. (11,21) e. Pengobatan terhadap komplikasi Pada infeksi bakteri sekunder dapat digunakan antibiotik oral.(13) f. Pengobatan simptomatik
(11)

atau menggunakan primecrolimus

16

Obat antipruritus seperti obat anti histamin mungkin mengurangi gatal yang secara karakeristik menetap selama beberapa minggu setelah terapi dengan anti skabies yang adekuat. Pada bayi, aplikasi hidrokortison 1% pada lesi kulit yang sangat aktif dan aplikasi pelumas atau emolient pada lesi yang kurang aktif mungkin sangat membantu, dan pada orang dewasa dapat digunakan triamsinolon 0,1% .(13) Setelah pengobatan berhasil untuk membunuh tungau skabies, masih terdapat gejala pruritus selama 6 minggu sebagai reaksi eczematous atau masa penyembuhan. Pasien dapat diobati dengan Emolien dan kortikosteroid topikal, dengan atau tanpa antibiotik topikal tergantung adanya infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus. Crotamiton antipruritic topikal sering membantu pada kulit yang gatal.(20) Keluhan sering ditemukan pada pasien yaitu mengalami gejala yang berkelanjutan selama 2-6 minggu setelah pengobatan berhasil. Hal ini karena respon tubuh dari kekebalan terhadap antigen tungau. Jika gejalanya menetap di luar 2 minggu, itu mungkin karena diagnosis awal yang tidak sesuai, aplikasi obat diobati.(17) yang salah menyebabkan tungau skabies tetap ditemukan pada pasien . Kebanyakan kambuh karena reinfeksi dan tidak

IX.

Pencegahan Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan skabies, orangorang yang kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal skabisid. Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran skabies karena seseorang mungkin saja telah mengandung tungau skabies yang masih dalam periode inkubasi asimptomatik.(5) Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal, handuk dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih dan dikeringkan dengan udara panas karena tungau skabies dapat hidup 17

hingga 3 hari diluar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya sehingga harus dibersihkan (vacuum cleaner).(5)

X.

Komplikasi Infeksi sekunder pada pasien skabies merupakan akibat dari infeksi bakteri atau karena garukan. Keduanya mendominasi gambaran klinik yang ada. Erosi merupakan tanda yang paling sering muncul pada lesi sekunder. Infeksi sekunder dapat ditandai dengan munculnya pustul, supurasi, dan ulkus. Selain itu dapat muncul eritema, skuama, dan semua tanda inflamasi lain pada ekzem sebagai respon imun tubuh yang kuat terhadap iritasi. Nodul-nodul muncul pada daerah yang tertutup seperti bokong, skrotum, inguinal, penis, dan axilla.(5) Infeksi sekunder lokal sebagian besar disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan biasanya mempunyai respon yang bagus terhadap topikal atau antibiotic oral, tergantung tingkat pyodermanya.(16) Selain itu, limfangitis dan septiksemia dapat juga terjadi terutama pada skabies Norwegian, post-streptococcal glomerulonephritis bisa terjadi karena skabies-induced pyodermas yang disebabkan oleh Streptococcus pyogens.(5)

XI.

Prognosis Jika tidak dirawat, kondisi ini bisa menetap untuk beberapa tahun. Pada individu yang immunocompetent, jumlah tungau akan berkurang seiring waktu.(5) Infestasi skabies dapat disembuhkan. Seorang individu dengan infeksi skabies, jika diobati dengan benar, memiliki prognosis yang baik, keluhan gatal dan ekzema akan sembuh.(6)

18

BAB II REFLEKSI KASUS

I. Identitas Penderita Nama Usia Jenis kelamin Status Pekerjaan Alamat Tanggal Pemeriksaan : Tn. M : 52 tahun : Laki-laki : Menikah : Pegawai swasta : Jl P.B Sudirman 63 Jember : 19 Juni 2013

II. Anamnesis
a. b. Keluhan utama dan perut Riwayat Penyakit Sekarang: : gatal pada selangkangan, pantat, sela-sela jari tangan

Sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluhkan gatal pada selangkangan, sela-sela jari tangan dan perut. Gatal bermula dari selangkangan kemudian menjalar ke pantat, perut bawah dan sela-sela jari tangan. Timbul tonjolantonjolan berwarna kemerahan diameter sekitar 0,5 cm, tidak nyeri, dan tidak berisi air. Gatal terus menerus dan meningkat pada malam hari. Tidak dicetuskan oleh makanan. 19

c.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya, riwayat asma (-), riwayat alergi (-).
d. Riwayat Pengobatan

Pasien belum mendapatkan pengobatan apapun.


e. Riwayat Penyakit Keluarga Istri pasien mengalami penyakit yang sama. Istri pasien mengaku juga mengalami gatal pada sela-sela jari tangan dan telah berobat di Poli Kulit dan Kelamin RSD dr. Soebandi 1 minggu yang lalu. f. Riwayat Alergi

Disangkal

III. Pemeriksaan Fisik a. Status generalis

Kesadaran Keadaan umum Kepala / leher Thorak Jantung Paru Abdomen Extremitas Genitalia b. Lokasi Distribusi

: kompos mentis : baik : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

Status Dermatologis : regio manus dextra, inguinal, dan abdomen anterior : terlokalisir pada manus dextra, inguinal dan gluteus (unilateral)

20

Efloresensi

: papula eritematous multipel, ekskoriasi, krusta dan terdapat bekas garukan yang hiperpigmentasi pada selangkangan, perut dan sela-sela jari tangan. Squama pada gluteus.

Gambar 2.1 Efloresensi berupa papul multipel, bekas garukan yang hiperpigmentasi, dan skuama

IV. Resume

Laki-laki 52 tahun, datang dengan keluhan gatal pada selangkangan, pantat, sela-sela jari tangan kanan sejak 1 bulan yang lalu. Timbul tonjolan-tonjolan berwarna kemerahan diameter sekitar 0,5 cm, tidak nyeri, dan tidak berisi air. Gatal terus menerus dan meningkat pada malam hari. Tidak dicetuskan oleh makanan. Istri pasien juga mempunyai keluhan yang sama. Pada pemeriksaan didapatkan papula eritematous multipel, ekskoriasi, krusta dan terdapat bekas garukan yang hiperpigmentasi pada selangkangan, perut dan sela-sela jari tangan. Squama pada gluteus .

V. Diagnosis Skabies

VI. Diagnosis Banding Prurigo Paederus dermatitis Folikulitis

21

VII. Penatalaksanaan a. Medikamentosa: Lameson 16gr tab Ranitidin tab tab Interhistin tab 2x1/ hari Scabimite cream 10gr Clobetason cream 10gr b. Edukasi Meningkatkan kebersihan perorangan dan lingkungan Menghindari kontak dengan orang yang terkena Anggota keluarga yg kontak juga diobati Mencuci alat tidur, handuk, pakaian penderita dgn air panas > 500 c Potong kuku pasien dalam sediaan cream, dioleskan 2x1/ hari dalam kapsul 2x1/ hari

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Handoko RP, Djuanda A, Hamzah M. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.4. Jakarta: FKUI; 2005. 119-128. 2. Binic I, Aleksandar J, Dragan J, Milanka L. Crusted (Norwegian) Scabies Following Systemic And Topikal Corticosteroid Therapy. J Korean Med Sci; 25: 2010. 88-91. 3. Walton SF, Currie BJ. Problems in Diagnosing Scabies, A Global Disease in Human and Animal Populations. Clin Microbiol Rev. 2007. April. 26879. 4. Chosidow O. Scabies. New England J Med. 2006. July : 354/ 1718-27. 5. Scabies and Pediculosis, Orkin Miltoin, Howard L. Maibach. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 7th. USA: McGrawHill; 2008. 2029-31. 6. Johnston G, Sladden M. Scabies: Diagnosis and Treatment. British Med J. 2005. September :17;331(7517)/619-22. 7. Makatutu, H. Penyakit Kulit Oleh Parasit dan Insekta In : Harahap, M. Penyakit Kulit. Jakarta : PT. Gramedia. 1990 : 100-104 8. Beggs Jennifer,ed. Scabies Prevention and Control Manual. Michigan. Scabies prevention and Control Manual 9. Murtiastutik, D. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual : Skabies. Edisi 1. Surabaya : Airlangga University Press. 2005 : 202-208

23

10. Burns DA. Diseases Caused by Arthropods and Other Noxious Animals , in: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology. Vol.2. USA: Blackwell publishing; 2004. 37-47. 11. Hicks MI, Elston DM. Scabies. Dermatologic Therapy. 2009. November : 22/279-292. 12. Siregar RS, Wijaya C, Anugerah P. Saripati Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.3. Jakarta: EGC; 1996. 191-5. 13. Amiruddin MD. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.1. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ; 2003. 5-10. 14. P. Stone Stephen, Jonathan N. Goldfarb, Rocky E. Bacelieri. Scabies. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 5th. USA: McGrawHill; 2677-80 15. Beegs Jennifer,ed. Scabies Prevention and Control Manual. Michigan. Scabies prevention and Control Manual. 16. Itzhak Brook. Microbiology of Secondary Bacterial Infection in Scabies Lesions. J Clin Microbiol. 1995. August: 33/2139-2140. 17. Karthikeyan K. Treatment of Scabies: Newer Perspectives. Postgraduate Med J. 2005. Januari. 1(951)/7-11. 18. Currie J.B., and James S. McCarthy. Permethrin and Ivermectin for Scabies. New England J Med. 2010. February : 362/717-724. 19. Sadana, Liana Yuliawati. Krim Permethrin 5% untuk Pengobatan Scabies (online). 2007. [cited 2013 June 19th] : [1 screens]. 20. Anonim. (online). 2004. [cited 2013 June 19th]:[4 screens] Available from : URL: http://www.stanford.edu/class/humbio103/ParaSites2004/Scabies 21. Anonim. (online) 2004. [cited 2010 Oct 14th]:[1 screens] Available from : URL:http://huddoktor.com/doctor/Exempel+p %C3%A5+ljusbehandling/741.html

24