Anda di halaman 1dari 12

ANALISA JURNAL DENGAN JUDUL Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the long term Management of the

child with Simple Febrile Seizures Kejang demam: Pedoman Praktek Klinis untuk Jangka panjang Manajemen Anak Dengan Kejang demam Sederhana

Disusun oleh: Barkah Waladani Tri Yuli Wahyuni

PROGRAM STUDI PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG 2012

BAB I LATAR BELAKANG


A. Latar Belakang Pemilihan Jurnal

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kejang demam umumnya terjadi pada anak yang berumur dibawah 5 tahun, adapun yang menyebutkan bahwa kejang demam juga mengakibatkan gangguan tumbuh kembang pada anak. Pada beberapa kasus kejang demam sederhana di bangsal Menur di Rumah Sakit Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten banyak terjadi pada anak berumur 2 sampai 3 tahun. Dengan adanya analisis jurnal yang berjudul Kejang demam: Pedoman Praktek Klinis untuk Jangka panjang Manajemen Anak Dengan Kejang demam Sederhana diharapkan dapat memberikan jawaban kepada perawat, khususnya bagi mahasiswa praktikan di Rumah Sakit Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, terhadap manfaat jangka panjang kdari kejang demanm sederhana. B. Latar Belakang Penelitian Kejang demam adalah gangguan kejang yang paling umum pada masa kanak-kanak, yang mempengaruhi 2% sampai 5% anak-anak usia antara 60 bulan. Kejang demam sederhana didefinisikan sebagai kejang umum yang singkat (15 menit) terjadi selama sekali selama periode 24 jam pada anak yang ridak demam yang tidak memiliki infeksi cranial, gangguan metabolisme, atau sejarah demam tanpa demam. Pedoman ini (revisi dari tahun 1999 American Academy of parameter praktek Pediatric) dan sekarang disebut pedoman praktik kinis. Hal ini dirancang untuk membantu dokter spesialis anak dengan menyediakan suatu kerangkan analitik untuk mengambil keputusan mengenai intervensi terapeutik mungkin dalam populasi pasien. Hal ini tidak dimaksudkan untuk mengganti penilaian klinis atau menetapkan protocol untuk semua pasien dengan gangguan ini.

Kejang demam pada anak merupakan suatu peristiwa yang menakutkan pada kebanyakan orang tua karena kejadiannya yang mendadak dan kebanyakan orang tua tidak tahu harus berbuat apa. Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >38C) yang disebabkan oleh suatu proses diluar otak. Tidak jarang orang tua khawatir jika anaknya panas, apakah nanti akan kejang atau tidak. Dari penelitian, kejadian kejang demam sendiri tidaklah terlalu besar yaitu sekitar 2-4 %, artinya dari 100 anak dengan demam ada sekitar 2-4 yang mengalami kejang. Kejang demam terjadi pada usia 6 bulan 5 tahun dan terbanyak terjadi pada usia 1723 bulan. Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita tidak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah kesalahan orang tua adalah kurang tepat dalam menangani kejang demam itu sendiri yang kemungkian terbesar adalah disebabkan karena kurang pengetahuan orang tua dalam menangani (Ike Mardiati Agustin, 2008).

BAB II RESUME JURNAL

A. Nama Peneliti

Elizabeth S. Hodgson, MD, Chairperson, Gordon B. Glade, MD, Norman


B. Tujuan Penelitian 1. Mengoptimalkan pemahaman praktisi dasar ilmiah untuk menggunakan

atau menghindari perawatan ditujukkan untuk anak-anak dengan kejang demam sederhana
2. Meningkatkan kesehatan anak-anak dengan kejang demam sederhana

dengan menghindari terapi dengan potensi tinggi untuk efek samping dan tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesehatan anak-anak dalam jangka panjang.
3. Mengurangi biaya dengan menghindari terapi yang tidak akan terbukti

meningkatkan kesehatan anak-anak dalam jangka panjang dan


4. Membantu praktisi mengedukasi perawat tentang resiko rendah yang

terkaid dengan kejang demam sederhana.


C. Metode

Mengumpulkan semua anggota untuk mengumpulkan kembali Sub-komite untuk kejang demam yang terdiri dari pendapat tentang sumber informasi untuk merekomendasi pedoman praktek.
D. Hasil

Subkomite telah menetapkan bahwa kejang demam sederhana adalah peristiwa jinak dan sering terjadi pada anak antara usia 6 sampai 60 bulan. Hampir semua anak memiliki prognosis yang sangat baik. Komite menyimpulkan bahwa meskipun ada bukti baik terapi antiepilepsi terusmenerus fenobarbital, primidone, atau asam valproik dan terapi intermiten dengan diazepam oral efektif dalam dalam mengurangi risiko kekambuhan, toksisitas potensial yang terkait dengan obat-obatan antiepilepsi lebih besar dari risikonya relatif kecil yang terkait dengan sederhana demam kejang. Dengan demikian, terapi jangka panjang tidak dianjurkan. BAB III PEMBAHASAN JURNAL

A. Korelasi Jurnal 1. Hasil

Subkomite telah menetapkan bahwa kejang demam sederhana adalah peristiwa jinak dan sering terjadi pada anak antara usia 6 sampai 60 bulan. Hampir semua anak memiliki prognosis yang sangat baik. Komite menyimpulkan bahwa meskipun ada bukti baik terapi antiepilepsi terusmenerus fenobarbital, primidone, atau asam valproik dan terapi intermiten dengan diazepam oral efektif dalam dalam mengurangi risiko kekambuhan, toksisitas potensial yang terkait dengan obat-obatan antiepilepsi lebih besar dari risikonya relatif kecil yang terkait dengan sederhana demam kejang. Dengan demikian, terapi jangka panjang tidak dianjurkan.

2. Hubungan Hasil Penelitian dengan Kondisi Riil di Klinis atau di Lapangan

Kasus bulan September 2012 di bangsal Aster di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto terdapat pasien dengan diagnosa kejang demam sederhana. Tindakan di Rumah Sakit yang diberikan dengan terapi non farmakologi adalah buka semua pakaian anak, Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi lambung, berikan minuman yang banyak, memberikan kompres, mengawasi anak dengan teliti dan hatihati, membebaskan jalan nafas, Sedangkan terapi farmakologi adalah memonitor pernafasan dan denyut nadi, mengusahakan suhu badan agar tetap stabil, monitoring untuk kelainan metabolic dan elektrolit pemberian obat anti kejang, antikonvulsan dan antipiretik. Dari hal tersebut berkesinambungan dengan jurnal yang diangkat yaitu Kejang demam: Pedoman Praktek Klinis untuk Jangka panjang Manajemen Anak Dengan Kejang demam Sederhana.
B. Perbandingan Isi Jurnal dengan Teori dan Penelitian Lain

Ada beberapa penelitian yang mendukung hasil penelitian dari AAP. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) (2009) menunjukkan bahwa manajemen anak pada diagnose kejang demam sederhana adalah dengan cara penatalaksanaan saat anak kejang dan pemberian dosis obat Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian dari American Academy of Pediatrics, Steering Committee on Quality Improvement and Management. Classifying recommendations for clinical practice guidelines, (2004). bahwa kejang demam sering terjadi pada anak antara usia 6 sampai 60 bulan. 1. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) (2009) Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal

kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit. Kejang demam jarang terjadi lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang karena sebab lain (kejang yang tidak disebabkan oleh demam) akan berlangsung lebih lama, dapat terjadi pada salah satu bagian tubuh saja dan dapat terjadi berulang. Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka. Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya sendiri. a. Pemberian obat Antipiretik Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan: Dosis Parasetamol yang digunakan adalah 10 -15mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. b. Dosis Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari Antikonvulsan Pemakaian Diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg setiap 8 jam pada suhu >38,5oC. 2. American Academy of Pediatrics, Steering Committee on Quality Improvement and Management. Classifying recommendations for clinical practice guidelines, (2004). Kejang demam adalah kejang yang timbul pada saat bayi atau anak mengalami demam akibat proses di luar intrakranial tanpa infeksi system

saraf pusat. Kejang perlu diwaspadai karena dapat terjadi berulang dan dapat menyebabkan kerusakan sel-sel otak. Kejang demam dapat dibedakan atas: Kejang Demam Sederhana, yaitu kejang menyeluruh yang berlangsung kurang dari 10 menit dan tidak berulang dalam 24 jam Kejang Demam Kompleks, yaitu kejang pada salah satu lengan/tungkai saja (kejang fokal) yang berlangsung 10 menit, dan berulang dalam 1 hari atau selama demam berlangsung. Pemberian obat secara terus-menerus dilihat dari keadaan klien adalah: a. Profilaksis intermitten Untuk mencegah terulangnya kejang kembali dikemudian hari, pasien yang menderita kejang demam sederhana diberikan obat campuran antikonvulsan (diazepam) dan antipiretika, yang harus diberikan kepada anak bila disertai demam lagi. Pemberian diazepam per oral atau per rektal secara intermiten (berkala) saat onset demam dapat merupakan pilihan pada anak dengan risiko tinggi berulangnya kejang demam yang berat. Namun, edukasi orang tua merupakan syarat penting dalam pilihan ini. Efek samping yang dilaporkan antara lain ataksia (gerakan tak beraturan), letargi (lemas, sama sekali tidak aktif), dan rewel. Pemberian diazepam juga tidak selalu efektif karena kejang dapat terjadi pada onset demam sebelum diazepam sempat diberikan. Efek sedasi (menenangkan) diazepam juga dikhawatirkan dapat menutupi gejala yang lebih berbahaya, seperti infeksi sistem saraf pusat. Pemberikan diazepam oral 0,3 mg/kg/hari tiap 8 jam saat demam atau diazepam rektal 0,5. b. Profilaksis jangka panjang berguna untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup didalam darah pasien untuk mencegah terulangnya kejang dikemudian hari. Efektivitas profilaksis dengan fenobarbital hanya minimal, dan risiko efek sampingnya (hiperaktivitas, hipersensitivitas) melampaui keuntungan yang mungkin diperoleh. Profilaksis dengan carbamazepine atau fenitoin tidak terbukti efektif untuk mencegah berulangnya kejang demam. Asam valproat dapat mencegah berulangnya kejang demam, namun efek samping berupa hepatotoksisitas

(kerusakan hati, terutama pada anak berusia < 3 tahun), trombositopenia (menurunnya jumlah keping darah yang berfungsi dalam pembekuan darah), pankreatitis (peradangan pankreas yang merupakan kelenjar penting dalam tubuh), dan gangguan gastrointestinal membuat penggunaan asam valproat sama sekali tidak dianjurkan sebagai profilaksis kejang demam. fenobarbital : 5 7 mg/ kg BB/ 24 jam dibagi 3 dosis fenotoin : 2- 8 mg/ kg BB/ 24 jam 2 3 dosis klonazepam : indikasi khusus (Diberikan sampai 2 tahun bebas kejang atau sampai umur 6 tahun.
C. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal 1. Kelebihan

Jurnal ini menyebutkan hal yang melatarbelakangi pemilihan judul, tujuan, metode, hasil dan manfaat serta pembahasan mengenai manajemen dengan teori yang sudah ada dan penelitian sebelumnya yang serupa.
2. Kekurangan

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain tidak menyebutkan asal penelitian.

BAB IV IMPLIKASI KEPERAWATAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedoman praktek klinis untuk jangka panjang manajemen anak dengan kejang demam sederhana bahwa meskipun ada bukti baik terapi antiepilepsi terus-menerus fenobarbital, primidone, atau asam valproik dan terapi intermiten dengan diazepam oral efektif dalam

dalam mengurangi risiko kekambuhan, toksisitas potensial yang terkait dengan obat-obatan antiepilepsi lebih besar dari risikonya relatif kecil yang terkait dengan sederhanademam kejang. Dalam situasi dimana kecemasan orang tua berhubungan dengan demam yang parah, diazepam oral intermiten pada awal penyakit demam kejang sederhana mungkin efektif dalam mencegah kekambuhan. Meskipun antipiretik dapat meningkatkan kenyamanan anak, mereka tidak akan mencegah kajang demam. Manfaat yang efektif yaitu mencegah kejang demam berulang yang tidak berbahaya dan tidak signifikan meningkatkan risiko untuk pengembangan epilepsi masa depan akan tetapi efeksamping hepatoksisitas fatal termasuk langka terutama pada anak-anak muda dari 2 tahun yang berisiko kejang demam, penurunan Berat Badan, adanya gangguan pencernaan, pancreatitis dengan asam valproik dan hiperaktif, mudah marah, lesu, gangguan tidur dan reaksi sensitivitas dengan fenobarbital, kelesuhan, mengantuk, dan ataksia untuk diazepam intermediet serta resiko tersembunyi infeksi systemsaraf pusat berkembang.

BAB VI KESIMPULAN Tingkat kekambuhan kejang demam sederhana dalam jangka panjang tidak ada efek samping yang telah terindentifikasi. Karena resiko yang terkait dengan kejang demam sederhana selain kekambuhan yang begitu rendah karena jumlah anak yang mengalami kejang demam dalam beberapa tahun pertama sangat tinggi

untuk menjadi seimbang tetapi terapi masih sangat rendah terapi akan diusahakan atau diusulkan dalam resiko dan efek samping yang mudah dan sangat efektif.
1. Mengoptimalkan pemahaman praktisi dasar ilmiah untuk menggunakan

atau menghindari perawatan ditujukkan untuk anak-anak dengan kejang demam sederhana
2. Meningkatkan kesehatan anak-anak dengan kejang demam sederhana

dengan menghindari terapi dengan potensi tinggi untuk efek samping dan tidak ada kemampuan yang didemonstrasikan untuk meningkatkan jangka panjang.
3. Mengurangi biaya dengan menghindari terapi yang tidak akan terbukti

meningkatkan kesehatan anak-anak dalam jangka panjang dan


4. Membantu praktisi mengedukasi perawat tentang resiko rendah yang

terkaid dengan kejang demam sederhana.

DAFTAR PUSTAKA 1. Chang YC, Guo NW, Huang CC, Wang ST, Tsai JJ. Neurocognitive attention and behavior outcome of school age children with a history of

febrile convulsions: a population study. Epilepsia.2000 diakses pada tanggal 1april 2012. 2. American Academy of Pediatrics, Steering Committee on Quality Improvement and Management. Classifying recommendations for clinical practice guidelines. Pediatrics. 2004. Diakses pada tanggal 1 april 2012 3. American Academy of Pediatrics, Committee on Drugs. Acetaminophen toxicity in children. Pediatrics. 2001 Diakses pada tanggal 1 april 2012. 4. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) (2009) Diakses pada tanggal 30 maret 2012 di http:/jurnal%20anak/Kejang%20demam/articles. Dedication to the health of all Indonesia children.asp.htm 5. Kania, Dr. Nia SpA., MKes (2009) diakses pada tanggal 31 maret 2012 di http:/jurnal%50anak/Kejang%50demam//sederhana%/anak/articles.htm 6. Matondang, Corry S, 2000, Diagnosis Fisis Pada Anak, Edisi ke 2, PT. Sagung Seto: Jakarta.
7. Sumijati M.E, dkk, 2000, Asuhan Keperawatan Pada Kasus Penyakit

Yang Lazim Terjadi Pada Anak, PERKANI : Surabaya.