Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

Lahirnya Ilmu Pengetahuan yang secara historis sering dikaitkan dengan induknya yakni Filsafat telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia, terlebih lagi dengan makin intensnya penerapan Ilmu dalam bentuk Teknologi yang telah menjadikan manusia lebih mampu memahami berbagai gejala serta mengatur Kehidupan secara lebih efektif dan efisien. Semua itu pada dasarnya tidak terlepas dari Kegunaan Ilmu itu sendiri yakni untuk memahami, menjelaskan, mengatur dan memprediksi berbagai kejadian baik yang bersifat kealaman maupun sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Setiap masalah yang dihadapi manusia selalu diupayakan untuk dipecahkan agar dapat dipahami, dan setelah itu manusia menjadi mampu untuk mengaturnya serta dapat memprediksi (sampai batas tertentu) kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan pemahaman yang dimilikinya. Upaya-upaya untuk menjawab dan memahami masalah yang dihadapi ada yang mendasarkan pada kemampuan rasio semata dengan menggunakan hukum-hukum logika (Sylogisme/Analogi), sementara itu ada juga yang lebih mendasarkan pada bukti-bukti yang diperoleh dalam dunia nyata, yang pertama sering disebut aliran Rasionalisme-idealisme yang mengacu pada pengetahuan a priori dan yang kedua disebut aliran Empirisme yang mengacu pada pengetahuan a posteriori. Meskipun kedua paham tersebut sepintas nampak berada pada poisisi diametral, namun dalam kenyataannya keduanya bersifat komplementer seperti terlihat dalam suatu kegiatan Penelitian, baik penelitian Kuantitatif maupun Kualitatif (dalam batas tertentu). Penelitian Kuantitatif (Quantitative Research) adalah salah satu bentuk penelitian yang umumnya diposisikan sebagai kebalikan dari
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

penelitian Kualitatif (Qualitative Research). Secara umum penelitian Kualitatif atau naturalistic inquiry sering diartikan sebagai prosedur penelian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan prilaku yang dapat diamati, demikianlah pendapat Bogdan dan Guba, sementara itu penelitian Kuantitatif diartikan sebagai penelitian yang dalam pelaksanaannya menggunakan pengukuran-pengukuran serta angkaangka sebagai bahan untuk dilakukan analisis melalui pendeskripsian dan kemudian dilakukan generalisasi. Memposisikan kedua macam penelitian tersebut sebagai sesuatu yang berdiri secara diametral nampaknya perlu hati-hati, mengingat dalam kenyataannya pemaduan ke duanya bukan sesuatu yang mustahil, bahkan sangat mungkin, sebagaimana dikemukakan banyak akhli dalam bidang penelitian seperti tertuang dalam buku Mixing Methods : Qualitative and Quantitative Research yang dihimpun Julia Brannen. Dalam buku tersebut, yang terdiri dari tulisan beberapa akhli, nampak terlihat upaya penggabungan kedua jenis penelitian tersebut serta implikasi-implikasi teoritis metodologis yang kelihatannya masih memerlukan kajian lebih jauh. Namun demikian suatu hal yang penting dari ide dasar buku tersebut adalah bahwa pemikiran yang dikhotomis antara metode kualitatif dan kuantitatif perlu dicermati kembali, sebab hal itu tidak akan membawa pada inovasi yang sangat diperlukan dalam memahami masalah-masalah sosial yang sangat kompleks yang terjadi di masyarakat dengan tingkat perubahan yang sangat cepat. Diantara para Pakar ada yang menganalogikan penelitian Kualitatif sebagai metode induktif yakni suatu metode yang berawal dari pengumpulan data-data empiris, kemudian dikaji untuk diketahui pola-pola atau tema dan kemudian dikembangkan menjadi teori, konsep-konsep yang dimiliki peneliti sifatnya sangat umum dan bisa berubah sesuai dengan perkembangan penelitian, dalam penelitian kualitatif Variabel bisa merupakan produk atau
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

hasil dari suatu penelitian, sementara itu Penelitian kuantitatif dianalogikan sebagai metode deduktif, yakni metode dimana pada awal penelitian ditentukan hipotesis sebagai turunan dari kerangka teori untuk kemudian dilakukan pengujian berdasarkan data empiris. Disamping itu dalam penelitian kuantitatif Variabel-variabel ditentukan terlebih dahulu sebagai panduan tentang apa yang mau diteliti, variabel-variabel tersebut dibingkai dalam suatu hiupotesis untuk kemudian diujikan terhadap data penelitian. Dengan memahami hal tersebut, jelas bahwa kedua macam metode tersebut yakni Kualitatif dan Kuantitatif perlu dipahami secara baik tanpa perlu mempertentangkannya, melainkan melihatnya sebagai sesuatu yang bersifat komplementer, atau bahkan bersifat integral, sehingga dinamika penelitian akan semakin kaya serta temuan-temuannya menjadi lebih variatif dengan sudut pandang yang multidimensi. Suatu hal yang penting dalam melakukan penelitian dengan salah satu bentuk penelitian, baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif adalah diikutinya persyaratan secara disiplin sesuai dengan bentuk penelitiannya, agar hasil yang diperoleh dari penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 1.1. Pentingnya Penelitian Secara naluriah manusia selalu berusaha untuk memahami berbagai gejalagejala yang terjadi dalam kehidupan baik gejala alam maupun gejala sosial, berbagai gejala dicoba untuk dijawab/dijelaskan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Menurut Charles Pierce terdapat empat cara untuk mengetahui dan menjelaskan gejala-gejala alam yaitu : a. Method of tenacity. Berpegang teguh pada sesuatu pendapat yang sudah diyakini sejak lama. b. Method of Authority. Berpegang pada pendapat orang-orang yang dianggap pakar
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

c. Method of intuition. Berpegang pada suatu keyakinan pribadi yang sudah dianggap jelas benarnya tanpa perlu pembuktian. d. Scientific Method. Berpegang pada suatu pendapat yang sudah terbukti berdasarkan suatu metode berpikir Ilmiah Penelitian pada dasarnya merupakan suatu metode ilmiah dalam membantu memahami dan menjawab berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan Alam maupun Kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu bidang pendidikan pun jelas memerlukan metode ilmiah ini dalam memahami/menjelaskan berbagai masalah dalam bidang pendidikan, sehingga suatu kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen the scientific method provides us with another way of obtaining information information that is as accurate and reliable as we can get. Dengan demikian nampak jelas pentingnya penelitian, karena hal itu dapat membantu manusia dalam memperoleh suatu pemahaman dan penjelasan yang akurat dan dapat dipercaya terhadap masalah-masalah yang dihadapi. 1.2. Teori, Konsep, dan Variabel dalam Penelitian. Upaya-upaya manusia untuk mampu memahami, menjelaskan, memprediksi berbagai kejadian dalam kehidupan telah melahirkan berbagai macam teori, dan apabila telah diorganisasikan sedemikian rupa serta terbingkai dalam suatu obyek formal dan obyek material tertentu terwujudlah suatu Ilmu, sementara itu Ilmu lebih jauh dapat membantu untuk mengkaji guna memahami gejala-gejala baru yang dihadapi manusia sehingga lahirlah teori-teori , oleh karena itu apabila suatu ilmu telah menjadi disiplin tersendiri, akan muncul teori baru baik sebagai penambahan maupun sebagai koreksi atas teori lama, dalam kaitan ini tepat sekali pernyataan Kerlinger dalam Bukunya Foundation of Behavioural Research yang menyatakan bahwa Tujuan utama Ilmu sebenarnya Teori, sekarang apa sebenarnya yang dimaksud dengan Teori ?
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

Kerlinger mendefinisikan Teori sebagai himpunan konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menggambarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. Pengertian ini mengindikasikan bahwa penjelasan (explanation) dan peramalan (prediction) merupakan dua hal yang dapat diperankan oleh teori melalui konsep-konsep serta pandangan sistematis terhadap berbagai fenomena yang dilihat dari sudut relasinya dengan gejala-gejala lain. Sementara itu Kenneth D. Bailey dalam bukunya Methods of Social Research menyatakan bahwa teori merupakan suatu upaya untuk menjelaskan gejala-gejala tertentu serta harus dapat diuji, suatu pernyataan yang tidak dapat menjelaskan dan memprediksi sesuatu bukanlah teori, lebih jauh Bailey menyebutkan bahwa komponen-komponen dasar dari teori adalah Konsep (Concept) dan variabel (Variable). Teori terdiri dari sekumpulan konsep yang umumnya diikuti oleh relasi antar konsep sehingga tergambar hubungannya secara logis dalam suatu kerangka berpikir tertentu. Konsep pada dasarnya merupakan suatu gambaran mental atau persepsi yang menggambarkan atau menunjukan suatu fenomena baik secara tunggal ataupun dalam suatu kontinum, konsep juga sering diartikan sebagai abstraksi dari suatu fakta yang menjadi perhatian Ilmu, baik berupa keadaan, kejadian, individu ataupun kelompok. Umumnya konsep tidak mungkin/sangat sulit untuk diobservasi secara langsung, oleh karena itu untuk keperluan penelitian perlu adanya penjabaran-penjabaran ke tingkatan yang lebih kongkrit agar observasi dan pengukuran dapat dilakukan. Dalam suatu teori, konsep-konsep sering dinyatakan dalam suatu relasi atau hubungan antara dua konsep atau lebih yang tersusun secara logis, pernyataan yang menggambarkan hubungan antar konsep disebut proposisi, dengan demikian konsep merupakan himpunan yang membentuk proposisi, sedangkan proposisi merupakan himpunan yang membentuk teori.

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

Dalam suatu peneltian, menurut

Sofian Effendi, akan ditemui dua

jenis konsep yaitu pertama konsep-konsep yang jelas hubungannya dengan realitas (Misalnya : Meja, Lemari, Kursi) dan kedua konsep-konsep yang lebih abstrak dan lebih kabur hubungannya dengan realitas (misalnya : Motivasi, Kecerdasan, Komitmen). Sementara itu Prof. Dr. H. Bambang Suwarno, MA . Guru Besar UPI Bandung telah lama merumuskan penjabaran-penjabaran Konsep untuk kepentingan suatu penelitian kedalam tiga tingkatan yaitu konsep Teori, konsep empiris dan konsep Analitis, Konsep teori mempunyai tingkat abstarksi yang tinggi dan merupakan pengertian esensil dari suatu fenomena, konsep empiris merupakan gambaran konsep yang sudah dapat diobservasi, sementara konsep analitis merupakan konsep yang menunjukan apa dan bagaimana konsep empiris tersebut dapat diketahui untuk keperluan analisa. untuk lebih jelas dapat dilihat dalam contoh berikut : Tabel 1.1. Penjabaran Konsep No 1. Konsep Teori Pendidikan Konsep Empiris Konsep Analitis - Asal Sekolah Jawaban responden - Waktu menyelesaikan SLA tentang asal sekolah, - Ijazah terakhir yang dimiliki waktu menyelesaikan sekolah dan ijazah terakhir yang dimiliki -Pengenalan emosi diri Jawaban Responden -Pengelolaan emosi akan skala yang -Motivasi Diri disusun berdasarkan -Pengenalan emosi pihak skala Likert dengan lain empat pilihan. -Membina Hubungan -Pengetahuan tentang Pro- Jawaban Responden ses Manajemen atas test yang -Pengetahuan tentang diberikan tentang Substansi Manajemen proses manajemen dan substansi manajemen

2.

Kecerdasan Emosi

3.

Pengetahuan Manajemen

Apabila konsep analitis telah diketahui, kemudian dioperasionalkan ke dalam item-item pernyataan atau pertanyaan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian. Sementara itu menurut Bailey konsep yang 6

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

mempunyai

nilai

tunggal

disebut

konstanta

sedang

konsep

yang

mengandung lebih dari satu nalai disebut variabel, dengan pemahaman seperti ini maka Variabel menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kaitannya dengan teori dan penelitian. Variabel, secara etimologis, berasal dari kata Vary yang berarti berubah-ubah atau bervariasi baik dalam substansinya maupun dalam jenis dan keluasannya, dalam konteks analisis hubungan, variabel dikelompokan ke dalam variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Umumnya variabel merupakan operasionalisasi dari konsep, meskipun bisa juga berbentuk konsep yang kontinum sehingga mempunyai variasi nilai, apabila variabel merupakan suatu konsep maka penjabaran seperti yang dikemukakan oleh Prof. Bambang akan sangat membantu, sedangkan bila variabel merupakan penjabaran dari konsep (sehingga sudah operasional), maka langkah berikutnya tinggal menentukan indikator sebagai patokan dalam membuat item-item pertanyaan/pernyataan (Instrumen Penelitian) yang diperlukan untuk pengumpulan data dalam penelitian. Dengan memahami apa yang diungkapkan di atas maka seorang peneliti akan dapat melakukan langkah berpikir secara sistematis, dan ini akan mendorong pada terwujudnya suatu penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, karena telah mengikuti suatu method of scientific Thinking Dari uraian di atas nampak bagaimana hubungan/kaitan dan urgensinya antara teori, konsep, variabel, indikator, serta Instrumen Penelitian, dalam suatu penelitian, dan apabila digambarkan, hubungan tersebut akan nampak sebagai berikut :

Gambar 1.1. Hubungan Teori,Konsep, Variabel, indikator dan


stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

Instrumen Penelitian

TEORI

PROPOSISI

PROPOSISI

KONSEP

KONSEP Hipotesis

KONSEP

KONSEP

VARIABEL

VARIABEL

VARIABEL

VARIABEL

INDIKATO R

INDIKATO R

INDIKATO R

INDIKATOR

INSTRUMEN PENELITIAN/DATA PENELITIAN


Gambar di atas menunjukan hubungan Teori, Konsep, Variabel, Indikator serta Instrumen Penelitian untuk pengumpulan Data, dan sekaligus juga menggambarkan bagaimana suatu penelitian (Kuantitatif) berproses dalam suatu urutan Method of Thinking. 1.3. Proses Penelitian Suatu penelitian yang mencoba menganalisis hubungan antar fenomena harus di dasarkan pada suatu kerangka teori tertentu sebagai bingkai, kemudian menentukan proposisi yang akan dijadikan fokus kajian, proposisi yang tidak dapat dibuktikan/diuji secara langsung dalam penelitian disebut Teori atau bagian dari suatu Teori ( Axiomatic Theory) sedangkan
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

Proposisi yang akan diuji dalam penelitian disebut Hipotesis, disamping mengacu pada Teori, Hipotesis juga bisa bersumber pada Empirical Generalization (Generalisasi empiris adalah pernyataan suatu hubungan berdasarkan induksi dan terbentuk berdasarkan observasi tentang adanya hubungan tersebut), meskipun pada akhirnya generalisasi empiris ini memerlukan sandaran Teori yang dapat memperkuatnya. Pentingnya teori dalam suatu penelitian mengindikasikan bahwa seorang peneliti perlu membekali dirinya dengan pendalaman teori-teori yang berkaitan dengan masalah yang akan dikaji dalam penelitian, hal ini juga dikarenakan teori itu, menurut Fisher, berfungsi sebagai peta yang mengorganisasikan gejala-gejala menjadi kelas-kelas yang dapat dikenal dengan prosedur penjabaran hubungan antara hukum-hukum teoritis dan fenomena empiris. Dengan teori dan konsep-konsep tertentu peneliti kemudian perlu mengoperasionalkan menjadi sesuatu yang bisa diamati, hal ini berarti bahwa peneliti bergerak dari tahapan konseptualisasi ke tahapan operasionalisasi. Konsep-konsep dijabarkan kedalam Variabel-variabel kemudian ditentukan Definisi operasional ( indikator-indikator) dari konsep atau variabel, yang kemudian menjadi dasar dalam penyusunan Instrumen penelitian sebagai alat untuk pengumpulan data. Hubungan antar Konsep yang mengacu pada teori merupakan proposisi, pernyataan hubungan antar Variabel (Konsep yang punya nilai Kontinum) yang akan diuji merupakan hipotesa yang menjadi arah penelitian, untuk kemudian dioperasionalkan guna keperluan observasi, serta pengujian hipotesis yang apabila menggunakan analisis statistik perlu dikemukakan hipotesis statistiknya. Hubungan tersebut terlihat dalam gambar 1.2. sebagai berikut :

Gambar 1.2. Hubungan antara Unsur-unsur Penelitian Proposisi


stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

KONSEP

KONSEP

Hipotesis VARIABEL VARIABEL

Hipotesis Statistik DEFINISI OPERASIONAL DEFINISI OPERASIONAL

(Sumber: Sofian Effendi, 1989 Metode Penelitian Survey. LP3ES)

setelah memahami uraian di atas, seorang peneliti perlu memahami apa yang harus dilakukan bila akan melakukan penelitian, hal ini dimaksudkan agar tahapan-tahapan pelaksanaannya akan mengikuti suatu proses yang logis dan sistematis. Menurut Bailey tahapan-tahapan dalam penelitian harus dilihat dalam suatu kesatuan yang sifatnya melingkar dan saling ketergantungan, Diawali dengan pemilihan masalah dan penentuan hipotesis, perumusan rancangan penelitian, pengumpulan data, pengkodean dan penganalisaaan data, dan diakhiri dengan penafsiran hasil penelitian untuk kemudian hasil penelitian dapat dijadikan sebagai dasar pemilihan masalah serta hipotesis bagi penelitian selanjutnya.yang bila digambarkan nampak sebagai berikut :

Gambar 1.3. Tahapan dalam Proses Penelitian


1 Choosing the problem and stating Hypothesis

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

10

5 Interpreting Results

2 Formulating Research Design

4 Coding and Analyzing Data

3 Data Collection

Gambaran yang dikemukakan Bailey

nampak lebih bersifat garis

besar, namun sebagai pegangan dasar sangat penting. Dengan memahami uraian di atas, secara lebih rinci, dapat disimpulkan bahwa untuk suatu penelitian (kuantitatif), proses yang mesti dilalui adalah : 1. menentukan masalah yang akan diteliti . 2. mengkaji teori/generalisasi empiris dan memilih proposisi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti 3. menentukan konsep-konsep dan/atau variabel-variabel 4. menentukan desain penelitian serta hipotesis 5. menjabarkan konsep/variabel menjadi operasional 6. menentukan indikator-indikator konsep/variabel. 7. membuat Instrument penelitian 8. mengumpulkan data, menganalisa dan menyimpulkan. Menentukan masalah yang akan diteliti . Penelitian pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan bila ada masalah yang perlu dipahami untuk dipecahkan, masalah secara sederhana sering diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang ada (Das sein) dengan apa yang seharusnya (Das sollen). Mc Guigan dalam bukunya Experimental Psychology, A Methodological Approach, sebagaimana dikutif oleh Supratiknya, mengartikan masalah sebagai situasi
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

11

atau keadaan saat kita mengalami tidak memiliki cukup informasi untuk menjawab suatu pertanyaan atau saat kita mengalami bahwa pengetahuan yang kita miliki kacau balau sehingga tidak mampu menjawab persoalan yang sedang kita hadapi. Lebih jauh dikatakan bahwa masalah bisa tampil dalam salah satu dari tiga keadaan berikut ini yaitu : 1. Ada kesenjangan dalam pengetahuan kita, yakni kita menyadari ada sesuatu hal yang tidak kita ketahui atau terdapat informasi yang tidak kita miliki. 2. ada sejumlah informamsi tentang sesuatu hal yang saling bertentangan 3. ada sesuatu fakta yang perlu dijelaskan. apabila kita memiliki pengetahuan dan informasi serta penjelasan tentang segala sesuatu tentang fenomena alam, sosial, termasuk fenomenan pendidikan, maka nampaknya penelitian tidak terlalu diperlukan. Meskipun disadari bahwa penelitian memerlukan adanya masalah, namun masalah tidak selamanya mendorong seseorang untuk melakukan penelitian, karena hal itu berkaitan dengan konteks, urgensi, kemampuan, cara berpikir serta substansi masalah, disamping itu maslah-masalah yang ingin diperoleh jawabannya melalui pertanyaan penelitian perlu mengacu pada suatu kriteria yang baik yakni : 1. masalah/pertanyaan memungkinkan untuk penelitain dilakukan harus penelitian feasible. baik dari Yakni segi,

kemampuan, waktu, maupun dana. 2. masalah/pertanyaan penelitain harus clear. Artinya jelas apa yang akan diteliti dan dapat dipahami secara umum. 3. masalah/pertanyaan penelitain harus significant. Artinya bermakna bagi perolehan pengetahuan yang penting serta bagi masyarakat. 4. masalah/pertanyaan penelitain harus ethical. Artinya tidak merugikan masyarakat baik lingkungan alam maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

12

Seseorang yang telah dan akan terlibat dalam suatu bidang kehidupan tertentu misalnya bidang pendidikan, akan mempunyai fokus yang lebih tajam (dibanding seseorang yang terlibat dalam bidang non pendidikan) terhadap masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan, temuan permasalahan bisa didapat melalui bacaan tentang literatur pendidikan ataupun berdasarkan pengalaman subyektif yang mendorong upaya untuk mencari penjelasan dalam konteks realitas pendidikan. Secara lebih rinci James H. McMillan dan Sally Schumacher dalam bukunya Research in Education : A Conceptual Introduction , mengemukakan sumber-sumber yang dapat dijadikan acuan menentukan masalah adalah : 1. Observasi terhadap praktek pendidikan 2. Deduksi teori 3. Studi kepustakaan 4. Masalah yang sedang terjadi 5. Situasi praktis 6. pengalaman pribadi dengan melihat sumber-sumber yang dapat menjadi dasar dalam penentuan masalah, mengindikasikan bahwa Masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan sangat banyak dan beragam, selain disebabkan karena luasnya bidang kajian serta terbatasnya informasi dan penjelasan yang dimiliki seseorang. Untuk itu seseorang yang ingin melakukan penelitian bidang pendidikan (juga dalam bidang-bidang yang termasuk kajian ilmu-ilmu lainnya) dalam menentukan masalah yang akan diteliti perlu melakukan langkah sistematis-logis dalam menggambarkan posisi masalah serta permasalahan yang ditelitinya, dalam hubungan ini sistematika penjelasan yang perlu dikemukakan adalah Latar belakang Masalah, Identifikasi masalah, pembatasan masalah, serta perumusan masalah. Latar belakang Masalah. Mengemukakan tentang alasan-alasan kenapa masalah tersebut timbul, dasarnya bisa bersifat teoritis ataupun praktis, di sini bisa juga diungkapkan tentang terjadinya kesenjangan antara
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

13

apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi di lapangan, untuk itu sebaiknya diungkapkan data awal tentang hal tersebut. Identifikasi masalah. Mengungkapkan tentang posisi masalah serta permasalahan dalam lingkup yang luas terutama tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan variabel yang diteliti, sehingga tergambar posisi dan permasalahannya secara komprehensif. Pembatasan Masalah. Posisi dan permasalah yang komprtehensif sangat sulit, bahkan tidak mungkin untuk diteliti dalam satu penelitian, oleh karena itu perlu dibatasi dengan memilih masalah-masalah terbatas yang mungkin dan akan diteliti oleh seorang peneliti Perumusan Masalah. Masalah yang akan diteliti perlu diperjelas dengan mengungkapkannya dalam bentuk rumusan permasalahan, dengan mengacu pada pembatasan masalah. Perumusan masalah sebaiknya dalam bentuk pertanyaan yang menggambarkan variabel-variabel yang akan diteliti. Contoh : apakah siswa yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi tinggi mempunyai prestasi yang lebih tinggi dibanding siswa dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah apakah terdapat hubungan antara kehadiran siswa di kelas dengan prestasi belajar apakah penggunaan metode pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa Mengkaji Teori/Generalisasi empiris dan memilih proposisi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti . Pengkajian teori dan atau generalisasi empiris sebagai hasil-hasil penelitian sebelumnya merupakan hal yang penting, langkah ini mencakup pencarian dan pemilihan teori yang mendukung dan relevan dengan masalah yang akan diteliti, sehingga penelitian yang dilakukan mempunyai sandaran teoritis yang diperlukan

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

14

dalam bentuk proposi, baik yang tersurat maupun yang tersirat, langkah ini lebih sangat diperlukan dalam penelitian kuantitatif, karena umumnya penelitian bentuk ini bersifat verifikasi hipotesis (dengan tidak mengabaikan sifat Falsifikasi dari Karl Popper) terhadap teori-teori yang sudah ada. Pengkajian teori umumnya dilakukan melalui studi literatur, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui dan memahami secara lebih luas tentang masalah yang akan diteliti sehingga posisi masalah menjadi jelas dalam konteks teori atau hasil-hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh para pakar. Studi literatur akan sangat membantu peneliti dalam melaksanakan penelitiannya, oleh sebab itu seorang peneliti harus memahami tipe-tipe sumber yang akan diriview, ada tiga sumber yang biasanya dapat dipergunakan (sesuai kondisi) yakni : Referensi umum. Biasanya dalam bentuk penerbitan yang memuat berbagai hasil penelitian yang dilengkapi dengan abstrak, ini akan sangat membantu untuk pelacakan sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan masalah penelitian yang akan dilakukan (biasanya dalam bentuk indeks yang memungkinkan pelacakan lebih jauh pada sumber primernya) Sumber Primer. Yaitu penerbitan suatu hasil penelitian yang dilakukan seorang peneliti. Dimana sebagian besar sumber ini biasanya terdapat dalam jurnal-jurnal penelitian seperti Journal of educational research, dan hal ini dapat diperoleh di perpustakaan atau melalui internet Sumber sekunder. Penerbitan yang memuat penjelasan hasilhasil penelitian orang lain, biasanya terdapat dalam buku-buku teks, dan sering sudah dibahas dalam konteks teori tertentu oleh penulis buku tersebut. agar studi kepustakaan dapat fokus dan efektif, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan yaitu :
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

15

o Berikan pengertian/definisi yang jelas tentang masalah penelitian o Baca dengan cermat sumber-sumber sekunder yang relevan o Pilih dan cermati beberapa referensi umum yang yang patut dijadikan dasar o Rumuskan kata kunci, konsep, proposisi, dan variabel pokok berkaitan dengan masalah yang menjadi minat peneliti Menentukan konsep-konsep dan/atau variabel-variabel. Setelah melakukan kajian teori (kajian teoritis melalui studi kepustakaan), seorang peneliti perlu menentukan konsep dan variabel yang akan dijadikan obyek formal penelitian, sehingga arah dan sasaran penelitian akan jelas, hal ini penting dalam upaya menentukan penelitian telah instrumen penelitian yang akan dipergunakan baik dalam hal pendekatan maupun dalam pengukuran. menentukan desain serta hipotesis. langkah Setelah berikutnya konsepadalah konsep/variabel-variabel ditentukan,

menentukan rancangan penelitian, dalam arti bagaimana penelitian itu akan dialkukan, dan sebagai pemandunya maka penentuan hipotesis menjadi penting. Dengan ditetapkannya hipotesis maka arah penelitain akan jelas sehingga akan mereduksi berbagai gejala-gejala yang tidak terkait dengan penelitian tersebut. Hipotesis biasanya merupakan pengulangan pernyataan masalah penelitian dengan memberi bobot prediksi berkaitan dengan hasil suatu penelitian, contoh : Rumusan Masalah : apakah siswa yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi tinggi mempunyai prestasi yang lebih tinggi dibanding siswa dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah Hipotesis : siswa yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi tinggi mempunyai prestasi lebih tinggi dibanding siswa dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

16

Rumusan Masalah : apakah terdapat hubungan antara kehadiran siswa di kelas dengan prestasi belajar Hipotesis : terdapat hubungan positif antara kehadiran siswa di Kelas dengan prestasi belajar Rumusan Masalah : apakah penggunaan metode pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa Hipotesis : penggunaan metode pembelajaran berpengaruh terhadap

prestasi belajar Siswa. Adapun manfaat ditetapkannya hipotesis dalam suatu penelitian, yaitu : o Hipotesis akan mendorong (bahkan memaksa) peneliti untuk berpikir lebih mendalam tentang kemungkinan hasil penelitian o Hipotesis merupakan suatu strategi yang baik dalam memampukan seorang peneliti untuk membuat prediksi khusus berdasarkan argumen teoritis dan bukti-bukti sebelumnya (bila sudah dapat diketahui melalui studi kepustakaan) Menjabarkan agar konsep/variabel dapat menjadi operasional. Langkah ini

merupakan kelanjutan dari penetapan/pemilihan konsep dan variabel, dimana penelitian dilakukan konsep/variabel tersebut harus dioperasionalkan sehingga dapat dialkukan pengukuran, dengan demikian apa yang mau diteliti akan nampak semakin jelas . Menentukan indikator-indikator konsep/variabel. untuk itu perlu diperinci indikator-indikator Variabel, sehingga akan nampak jelas bahwa secara operasional hal itu dapat diketahui melalui pengukuran

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

17

Membuat Instrument penelitian. Setelah langkah penentuan indikator, kemudian dilanjutkan dengan membuat instrumen penelitian sesuai dengan karakteristik penelitian dan variabel yang akan ditelitinya, baik itu berbentuk Test, Skala, maupun penghitungan biasa Mengumpulkan data, menganalisa dan menyimpulkan. Bila instrumen penelitian telah siap, langkah berikutnya adalam mengumpulkan data, kemudian dianalisa dan disimpulkan, sehingga tergambar dengan jelas yang menjadi hasil penelitian, dan untuk menambah keluasan serta makna dari hasil penelitian tersebut pembahasan nampaknya diperlukan juga baik dengan membandingkan dengan hasil penelitian lain yang relevan maupun dengan mendudukan kembali hasil tersebut dalam suatu teori yang menjadi acuan dalam penelitian tersebut.

UNTUK DIDISKUSIKAN
1. Ilmu berfungsi untuk memahami, menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol. Berikan argumentasi dan contoh-contohnya berkaitan dengan fungsi tersebut. 2. Berikan penjelasan dan contoh-contoh berkaitan dengan metode berpikir Induktif dan Deduktif, serta jelaskan perbedaannya. 3. Berikan penjelasan berkaitan dengan hubungan antara Teori, Proposisi, Konsep, Hipotesis, dan Variabel serta kemukakan contohcontohnya 4. Berikan penjelasan berkaitan dengan alasan kenapa penjabaran Konsep merupakan hal yang penting dalam suatu penelitian, serta kemukakan contoh-contoh penjabaran konsep, sehingga tergambar bagaimana penelitian itu dilaksanakan. 5. Jelaskan kenapa kajian teori/studi kepustakaan penting dilakukan, serta kegiatan apa yang harus dilakukan bila seorang peneliti sedang melakukan kajian teori/studi kepustakaan untuk kepentingan penelitian dan Verifikasi Hipotesis 1.4. Formulasi dalam bagian terdahulu telah dikemukakan tentang contoh-contoh formulasi hipotesis, secara sepintas apalagi kalau hanya dilihat dari sudut
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

18

redaksional nampaknya sangat mudah, namun perumusan hipotesis bukan sesuatu yang sederhana apalagi jika dikaitkan dengan upaya verifikasinya, hal itu tidak lain karena formulasi dan verifikasi hipotesis memerlukan pemahaman serta kemampuan dalam mengkombinasikan antara tataran teori/konsep dengan tataran empiris/data (lebih jauh juga akan berimplikasi /berkaitan dengan masalah metodologi). Untuk itu diperlukan pemahaman lebih jauh tentang hubungan antara tataran konsep dan tataran data. Berbagai fenomena/gejala dalam kehidupan ini sangat bervariasi baik dalam jumlah maupun intensitasnya, semua itu kebanyakan dapat langsung diamati serta dimonitor secara langsung, baik dengan alat peraba, pendengaran ataupun penciuman, namun dalam dunia ilmiah terdapat banyak konsep yang sangat abstrak sehingga sulit bahkan tidak mungkin untuk diamati secara langsung, untuk itu diperlukan langkah tertentu untuk dapat mengamatinya guna kepentingan pemahaman. Sebagaimana telah dikemukakan di muka bahwa konsep bersifat abstrak (dengan variasi gradasi) dan sulit diukur langsung secara empiris, oleh karena itu seorang peneliti harus berupaya mencari cara yang tepat guna dapat memahami konsep-konsep tersebut dalam suatu format empiris yang dapat diamati dan dipahami, dari sini timbul permasalah tentang bagaimana mengoperasionalkan konsep-konsep untuk kepentingan penelitian (masalah ini telah dikemukakan pada bagian sebelumnya). Dalam suatu penelitian terutama penelitian kuantitatif kedaan tersebut menunjukan terdapatnya dua tataran pemahaman yakni tataran konsep/teori dan tataran empiris atau data, untuk itu seorang peneliti pada dasarnya berusaha memahami hubungan antar konsep dalam suatu hubungan empiris, hubungan antar konsep disebut proposisi sedangkan hubungan dalam tataran empiris disebut hipotesa bila dimaksudkan untuk kepentingan suatu penelitian. Konsep-konsep perlu dijembatani ke tataran empiris melalui penjabaran konsep-konsep tersebut, agar konsep-konsep
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

dapat diamati 19

melalui upaya pengukuran dalam tataran empiris, dengan demikian penelitian pada dasarnya merupakan upaya mengkombinasikan antara tataran teori/konsep dengan tataran empiris/data. Dari sini timbul permasalah lain yaitu apakah upaya pengukuran yang dilakukan peneliti telah tepat dan tidak mengandung kesalahan, dalam arti apakah hasil pengukurannya dapat merefleksikan konsep/variabel yang diteliti, sehingga instrumen yang dipergunakan dalam penelitian benar-benar menjaring data yang diperlukan dalam rangka pengujian hipotesis. ini merupakan masalah yang krusial dan sulit berkaitan dengan pengukuran konsep yang bebas dari kesalahan. Kesulitan tersebut telah melahirkan tiga pendekatan dalam penyusunan dan pengujian hipotesis yaitu : 1). Classical approach; 2). Grounded theory; 3). Operationalism. 1. Pendekatan Klasik (Classical Approach) Pendekatan klasik terdiri dari tiga tahapan yaitu : 1. tahap pada tataran konsep, mencakup pendefinisian konsep dan menuliskan suatu proposisi yang menyatakan hubungan antar konsep. 2. tahap menjembatani atau menghubungkan antara tingkatan konsep dan tingkatan empiris, ini mencakup upaya menemukan cara-cara untuk mengukur konsep secara empiris, menuliskan hipotesis dapat diuji (testable hypothesis) yang menghubungkan ukuran-ukuran empiris dari dua konsep. 3. tahap mengumpulkan dan menganalisa data dalam upaya verifikasi hipotesis. Pendekatan tersebut bila digambarkan akan nampak sebagai berikut :

Gambar 1.4. Pendekatan Klasik dalam Formulasi dan Verifikasi Hipotesis


stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

20

Tingkatan Konsep

MOTIVASI (X)

r1

PRESTASI SISWA (Y)

r2

r3

Tingkatan Empiris

Skor Skala Motivasi (X)

r1

Skor Test Belajar (Y)

dengan mengacu pada gambar di atas sebagai contoh, dapatlah dijelaskan sebagai berikut : Pada tataran konsep, berdasarkan kajian teori, seorang peneliti menyatakan suatu proposisi bahwa Motivasi berpengaruh terhadap Prestasi Siswa, akan tetapi proposisi yang berada dalam tataran konsep sulit untuk diverifikasi secara empiris, oleh karena itu seorang peneliti perlu mencari cara untuk mengoperasionalkan/mengukur konsep-konsep tersebut agar dapat diverifikasi secara empiris (dalam contoh di atas skor skala sikap untuk mengukur motivasi dan skor test belajar untuk mengukur prestasi Siswa), sehingga hipotesis dapat dikemukakan misalnya : semakin tinggi motivasi semakin tinggi prestasi belajar, atau terdapat hubungan positif antara motivasi dengan prestasi belajar (secara empiris hipotesis tersebut mestinya dinyatakan : semakin tinggi skor skala Sikap tentang motivasi, semakin tinggi skor test belajar), hubungan tersebut dilambangkan dengan r 1 untuk tataran konsep dan r1 untuk tataran empiris. Hubungan lainnya adalah antara tingkatan konsep dan tingkatan empiris yang dilambangkan dengan r 2 dan r3 (umumnya disebut hubungan epistemik/korelasi epistemik, tidak dapat diukur secara langsung tapi harus diasumsikan) digambarkan dengan tanda anak panah ke bawah, dimana X dan Y merupakan ukuran empiris dari konsep-konsep teoritis X dan Y. X adalah konsep Motivasi dan X adalah skala yang mengukur konsep tersebut, demikian juga untuk Y dan Y. ukuran-ukuran empiris X dan Y sering disebut 21

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

secara beragam dengan istilah indikator, ukuran, skala, indeks atau definisi operasional tergantung pada bentuk dan konteks penggunaannya. Salah satu bahaya menggunakan pendekatan klasik adalah selalu terbukanya kemungkinan kesalahan dalam pengukuran yang terjadi jika r 2 dan r3 tidak/kurang sempurna, artinya X kurang sempurna sebagai pengukur X dan Y kurang sempurna sebagai pengukur Y. Langkah terakhir dalam pendekatan klasik adalah mengumpulkan data dengan penyebaran instrumen untuk kemudian dianalisa untuk memastikan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Terdapat beberapa kemungkinan hasil penelitian : pertama, terdapat hubungan positif yang signifikan sesuai hipotesis; kedua, terdapat hubungan tapi kecil dan tidak signifikan; ketiga, terdapat hubungan dengan arah kebalikan (korelasi negatif); keempat, tidak terdapat hubungan antara variabel X dengan Y Hasil yang kedua sampai keempat menunjukan kegagalan dalam memverifikasi hipotesis, dan itu dapat terjadi karena : 1). Perumusan hipotesis yang salah akibat pemahaman teori dan konsep yang kurang sempurna; 2). Pada tahapan konsep, proposisi dinyatakan dengan benar tapi hipotesis yang diajukannya tidak tepat; 3). Pengukuran yang tidak sempurna (measurement error), atau instrumen yang digunakan tidak valid dan reliabel; 4). apabila tiga hal tersebut benar dan layak, maka kemungkinan kesalahan terjadi akibat pengambilan sampel yang tidak memadai (tidak representatif). 2. Pendekatan Teori Dasar (Grounded Theory) Dalam pendekatan ini Teori ditemukan atau berasal dari data, penelitian dilakukan tanpa bingkai suatu kerangka teori, akan tetapi teori/konsep berkembang dan dikembangkan berdasarkan tataran empiris di lapangan. Teori dasar dikembangkan melalui langkah-langkah : 1. Memasuki lapangan tanpa suatu hipotesis 2. Melukiskan apa yang terjadi 3. Merumuskan penjelasan tentang kenapa sesuatu itu terjadi dengan mengacu pada hasil observasi.
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

22

berkaitan dengan teori Strauss dan Glaser, tokoh dari pendekatan Grounded, menyatakan bahwa suatu teori agar berguna secara optimal harus menggunakan konsep-konsep yang aplikabel terhadap data yang sedang dikaji, serta harus mampu menjelaskan prilaku yang sedang diteliti/dipelajari, untuk itu cara terbaik untuk membentuk suatu teori yang demikian adalah dari data itu sendiri. Variabel-variabel muncul dari observasi demikian juga halnya dengan hipotesis muncul dan berkembang sesuai dengan kegiatan observasi terhadap data lapangan. Berbeda dengan pendekatan klasik yang meliputi tahapan penyusunan konsep dan proposisi, penentuan pengukuran konsep dan formulasi hipotesis serta verifikasi hipotesis, pendekatan grounded berusaha memadukan tahap dua dan tahap tiga dalam pendekatan klasik menjadi satu tahapan saja, ini berarti bahwa variabel dan hipotesis yang digunakan adalah yang berasal data, dengan demikian hanya hipotesis yang telah diverifikasi yang diakui, sehingga tidak diperlukan proses verifikasi secara tersendiri. Dalam pendekatan klasik, proses verifikasi hipotesis diperlukan mengingat pentahapannya dimulai dari tataran konsep menuju ke tataran empiris, sedang pendekatan grounded bersifat kebalikannya yakni berawal dari tahapan empiris dan berakhir dalam tataran konsep. Oleh karena semua konsep dibentuk dari obeservasi langsung terhadap data, maka kemungkinan salah dalam pengukuran sangat kecil dan kalupun ada, itu terjadi karena kekeliruan persepsi/observasi (perceptional/observational error) peneliti, meskipun demikian hal tersebut sifatnya spesifik dalam hal waktu dan tempat pelaksanaan studi/penelitian dan sulit untuk dilakukan generalisasi. Jika peneliti mau menggunakan hipotesis yang dikembangkan dari pendekatan grounded (pendekatan teori dasar) dalam situasi penelitian baru, maka tahapan verifikasi perlu dilakukan sebagaimana dalam pendekatan

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

23

klasik. Bila digambarkan dalam bentuk diagram pendekatan grounded ini akan nampak sebagai berikut : Gambar 1.5. Pendekatan Teori Dasar

Tingkatan Konsep

MOTIVASI (X)

r1

PRESTASI SISWA (Y)

r2

r3

Tingkatan Empiris

Skor skala Motivasi (X)

r1

Skor Test Belajar (Y)

3. Pendekatan Operasionalisme (Operationalism) Pendekatan operasionalisme mengacu pada kegiatan yang dilaksanakan dalam pengukuran konsep, dalam pendekatan ini konsep tidak lain dari suatu kumpulan operasi. Peneliti yang menggunakan pendekatan ini umumnya mencari ukuran-ukuran kuantitatif dari konsep dan umumnya bersikap pragmatis dimana bagi mereka kesalahan pengukuran bukanlah masalah utama, sebab konsep itu sendiri didifinisikan untuk diukur, oleh karena itu konsep yang tidak terdefinisikan dengan jelas untuk dapat diukur sedikit kegunaannya atau bahkan tidak berguna bagi suatu penelitian. Berbeda dengan pendekatan Grounded yang menggabungkan tahapan dua dan tiga, pendekatan operasionalisme menggabungkan tahap satu dan dua yakni tahapan teoritis dan empiris dari proposisi dengan perumusan hipotesis) dengan tetap menganggap tahapan ketiga yakni verifikasi merupakan tahap terpisah yang penting. Pendekatan aliran ini terhadap formulasi hipotesi nampak dalam gambar berikut : Gambar 1.6. Pendekatan Operasionalisme 24

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

Tingkatan Konsep

MOTIVASI (X)

= r1 = r 1

PRESTASI SISWA (Y)

Tingkatan Empiris

Skor skala Motivasi (X)

Skor Test Belajar (Y)

Salah satu kelemahan dari pendekatan operasionalisme adalah kecenderungan penyamaan antara tataran empiris dengan tataran teoritis, dari contoh di atas bisa dikatakan bahwa motivasi adalah apa yang diukur oleh skala motivasi, tapi apakah skala motivasi itu benar-benar mengukur motivasi dan bukan yang lainnya, bagaimana hal itu bisa diketahui dan apakah kita bisa menghimpun berbagai pernyataan untuk kemudian memilih serangkaian pernyataan untuk digunakan sebagai pernyataan dalam skala motivasi ?, jawabannya jelas tidak, sebab bagaimana mungkin menyatakan sesuatu itu sebagai skala motivasi apabila pemikiran kosong (tanpa definisi) dari pemahaman tentang apa itu motivasi, padahal motivasi itu sendiri telah didefinisikan, sehingga pengukuran yang dilakukan valid (Face validity). Dari ketiga pendekatan tersebut nampak bahwa masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang bila diringkaskan adalah sebagai berikut : N o
1. Klasik
Lengkap, mencakup analisis teteoritis dan empiris/data Menggunakan konsepkonsep abstrak yang punya kemampuan generalisasi, serta dapat menggunakan deduksi untuk membentuk konsep Kemungkinan melakukan kesalahan dalam pengukuran jika tidak merepresentasikan konsep Terlalu menekankan pada deduksi dan verifikasi (menurut pengikut Grounded)

Pendekatan

Kelebihan

Kekurangan

stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

25

2.

Grounded Theory

Kemungkinan kesalahan pengukuran berkurang

3.

Operasionalisme

Tidak ada pengukuran

kesalahan

Penekanan pada konsep yang berasal dari data/empirik akan membatasi berteori. Sulitnya melakukan generalisasi hasil temuan Membatasi perkembangan teori dan kekuatan untuk melakukan generalisasi

Pendekatan yang mana dari tiga pendekatan di atas yang paling tepat untuk digunakan dalam penelitian ?, pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara hitam putih, karena sangat tergantung pada jenis dan substansi penelitian, akan tetapi, apabila kita menganggap bahwa perlunya kemampuan yang terintegrasi antara pemahaman teoritis dan empiris, nampaknya pendekatan klasik sangat tepat, apalagi jika hal itu dikaitkan dengan dunia Kampus yang benyak menggeluti dunia teori/konsep sebagai bekal untuk melakukan penelitian guna penyelesaian studi dalam bentuk skripsi atau Tesis. Namun demikian sesuai dengan semangat ilmiah, keterbukaan terhadap pendekatan lainnya diperlukan mengingat masalah-masalah yang berkembang di masyarakat sangat bervariasi, sehingga tidak tertutup kemungkinan perlunya pendekatan yang berbeda.

UNTUK DIDISKUSIKAN 1. Berikan penjelasan secara lebih mendalam tentang kebaikan dan kekurangan pendekatan Klasik 2. Berikan penjelasan secara lebih mendalam tentang kebaikan dan kekurangan pendekatan Teori Dasar 3. Berikan penjelasan secara lebih mendalam tentang kebaikan dan kekurangan pendekatan Operasionalisme 4. Pendekatan mana yang paling cocok untuk untuk penulisan skripsi atau Tesis, serta bebrikan alasan-alasannya 5. kemukakan rumusan Hipotesis paling sedikit lima hipotesis yang berkaitan dengan maslah pendidikan, serta gambarkan dalam bentuk tataran teori/konsep dan tataran empiris/data sehingga tergambar verifikasi hipotesisnya.
stkip Kuningan / lembaga Penelitian / Uhar / Penelitian Kuantitatif / 2002

26