Anda di halaman 1dari 20

EDEMA SEREBRI SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITAS PADA PERDARAHAN INTRASEREBRAL AKUT

TESIS Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Dokter Spesialis

disusun oleh: Anica Hadi 07/266936/PKU/9888

KEPADA BAGIAN NEUROLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat atas hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis yang berjudul Edema Serebri Sebagai Prediktor Mortalitas Pada Perdarahan Intraserebral Akut. Tesis ini disusun dalam rangka menyelesaikan syarat mencapai derajat Dokter Spesialis-I Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga kepada dr.Mohammad Wasan, Sp.S (K).QIA dan dr. Ahmad Asmedi, Sp.S(K) selaku pembimbing yang telah memberikan pengarahan, saran dan dukungan moril sejak persiapan hingga akhir penulisan tesis ini 1. Direktur RS DR Sardjito Yogyakarta 2. Kepala Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran UGM/SMF Neurologi RS DR.Sardjito Yogyakarta 3. Ketua Program Studi Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran UGM/SMF Neurologi RS DR.Sardjito Yogyakarta 4. Seluruh Guru Besar dan Staf Pengajar di Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran UGM/SMF Neurologi RS DR.Sardjito Yogyakarta 5. Semua rekan residen, supporting staf dan pihak lain yang telah membantu penyusunan tesis ini Secara khusus, penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orangtua H. Didi Hadi dan Hj.Halimah tercinta, ibu mertua Hj Zubaidah serta kepada suami tercinta Jafar Shadiq SE, dan anak-anak tercinta Fatimah Albatul, Mahdiyah Rizviyah, Muhammad Zonvadaye yang telah memberikan doa, kasih sayang dan pengertian, serta dukungan untuk menyelesaikan penyusunan tesis ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan tesis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkan masukan dan saran dari semua pihak untuk perbaikan selanjutnya. Akhirnya penulis berharap agar tesis ini bisa bermanfaat.

Yogyakarta,

Desember 2012 Penulis

iv

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Angka kejadian Intracerebral hemorrhage (ICH) atau Perdarahan Intraserebral (PIS) 10% hingga 15 % dari semua kasus stroke dan berhubungan dengan tingginya angka kematian. Angka kematian dalam 6 bulan setelah kejadian PIS antara 23% 58%, dipengaruhi oleh beberapa prediktor misalnya nilai Glasgow Coma Scale (GCS) yang rendah, besar volume hematom, dan adanya perdarahan intraventrikel (Buensuceso, 2007) Perdarahan intraserebral pada stroke perdarahan merupakan penyebab

stroke kedua terbanyak setelah stroke infark , yaitu 20-30% dari semua stroke di Jepang dan China. Sedangkan di Asia Tenggara menunjukkan stroke perdarahan 26%, terdiri dari lobus 10%, ganglionik 9%, serebellar 1%, batang otak 2%, dan perdarahan subarakhnoid 4% (Perdossi, 2009). Prevalensi stroke perdarahan di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi pada tahun 1991 di RS DR Sardjito Yogyakarta prevalensi stroke perdarahan adalah 24% dengan mortalitas 51,2% (Lamsudin, 1998). %. Jumlah kematian oleh karena stroke di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dilaporkan pada stroke iskemik sebesar 9,3% dan stroke perdarahan 14,4% (Setyopranoto, 2011). Kematian pada stroke, sebagian besar terjadi pada fase akut. Kematian dalam 7 hari onset adalah 31% (Qureshi et al., 2009). Stroke perdarahan menjadi masalah penting kesehatan karena angka kematian dan disabilitasnya yang

tinggi. Walaupun manajemen PIS telah berkembang dalam dekade terakhir ini, tetapi tidak menurunkan angka kematian. Penatalaksanaan klinis yang baik mulai dari penegakkan diagnosis lebih awal, terapi untuk tekanan darah dan tekanan intrakranial serta pembedahan, akan memperbaiki outcome sehingga akan menurunkan angka kematian dan disabilitas (Shah & Qureshi, 2006). Pemahaman yang lebih baik yang mendasar tentang patofisiologi dari PIS dapat membantu dalam usaha meningkatkan strategi terapi sehingga dapat memperbaiki outcome dari PIS (Wei et al., 2010). Edema serebral (perihematom) merupakan penyebab utama kematian setelah stroke. Edema vasogenik terjadi karena adanya kebocoran cairan dari darah ke parenkhim otak yang mengganggu BBB (bloodbrain barrier) atau sawar darah otak dan terjadi peningkatan volume otak yang sering sebagai penyebab kematian (Heo et al.,2005). Edema serebral (edema perihematom)

berkembang setelah perdarahan intraserebral dan memuncak pada beberapa hari kemudian. Formasi edema serebral akan meningkatkan tekanan intracranial dan menyebabkan herniasi. Edema perihematom sebagai penyebab perburukan neurologi masih dalam perdebatan dan memerlukan penelitian lebih lanjut (Xi et al.,2006). Faktor mayor yang berkontribusi terhadap prognosis buruk selama fase akut PIS adalah ukuran hematoma, pertambahan hematom, adanya perdarahan intraventrikular, usia tua dan skor GCS rendah dan dalam perjalanan akhir dari penyakit, pembentukan tambahan efek massa perihemorrhage edema (PHE) dapat menyebabkan yang signifikan dan peningkatan tekanan intrakranial,

akhirnya menyebabkan herniasi (Volbers et al.,2011).

Pengetahuan tentang faktor prognostik stroke akan menjadi sangat penting dalam menentukan strategi terapi stroke, perencanaan dan penggunaan rehabilitasi, manajemen stroke kronis serta pencegahan stroke berulang (Lamsudin & Asmedi, 1998). Pengembangan strategi terapi yang efektif ditujukan untuk mengurangi edema otak berdasar pada target jalur molekul spesifik yang terlibat, dapat mengurangi kematian dan kecacatan dari stroke (Heo et al., 2005).

B. Perumusan Masalah: Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian sebagai berikut: 1. Mortalitas dan morbiditas pada PIS lebih sering dibanding stroke infark dan merupakan masalah kesehatan yang serius. 2. Penatalaksanaan PIS telah berkembang dalam dekade terakhir, tetapi tidak

menurunkan angka kematian, sehingga pengembangan strategi terapi yang efektif ditujukan untuk mengurangi edema otak berdasar mengurangi kematian dan kecacatan dari stroke 3. Perdarahan intrasereberal merupakan salah satu penyebab edema serebral yang akan menyebabkan peningkatan TIK hingga terjadi herniasi dan kematian . 4. Volume edema serebral merupakan prediktor kuat outcome fungsional pada pasien dengan PIS spontan tanpa perdarahan intraventrikel 5. Belum ada penelitian sebelumnya tentang pengaruh edema perihematom terhadap outcome mortalitas dalam fase akut pada PIS. jalur molekuler, dapat

C. Pertanyaan Penelitian Dari permasalahan di atas timbul pertanyaan penelitian sebagai berikut: apakah terdapat perbedaan besar edema perihematom pada pasien PIS yang meninggal dalam fase akut ?

D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rerata ukuran volume edema perihematom yang mengakibatkan kematian dibandingkan yang tidak meninggal pada penderita PIS fase akut.

E. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Sebagai bahan masukan bagi klinisi agar memiliki pemahaman tentang pengaruh edema serebral terhadap terjadinya mortalitas pada pasien PIS fase akut. 2. Untuk membuktikan bahwa edema serebral merupakan proses penting pada

perdarahan intraserebral hingga terjadi mortalitas. 3. Diharapkan dapat memberi masukan, sebagai upaya pengembangan terapi pada PIS sehingga dapat mengurangi angka mortalitas pada PIS fase akut.

F. Keaslian penelitian Berdasarkan hasil penelusuran kami mendapatkan beberapa penelitian sebelumnya tentang hubungan edema serebral dan mortalitas, seperti yang tertera pada tabel dibawah :

Tabel 1.Keaslian Penelitian


PENELITI Gebel 2002 et al., JUDUL Relative Edema Volume is a Prediktor of Outcome Fungsional in Patients with Hiperacute Spontaneus PIS METODE DAN SUBJEK Kohort Prospectif Semua pasien SH akut, usia rerata 62 tahun. ALAT UKUR Head CT Scan KESIMPULAN Edema yang relative sebagai prediktor kuat untuk outcome fungsional pada pasien perdarahan intracerebral hiperakut dan supratentorial tanpa IVH. Perihematomal edema akan meningkat sekitar 75% dalam 24 jam setelah onset SICH. Pasien dengan volume edema relative yang kecil paling besar kemungkinan berkembang menjadi besar dalam 24 jam pertama Ambang dasar CT volumetry untuk PHE memakai 533 HU merupakan cara yang reliable dan bebas untuk menghitung PHE setelah PIS spontan. Volume edema perihematom bukan prediktor independent mortalitas dan memiliki rerata 26,4 cc pada kelompok yang meninggal

Gebe et al.,2002

Natural History of Perihematomal Edema in Patients With Hyperacute Spontaneous Intracerebral Hemorrhage

Kohort Prospectif Semua pasien SH onset dalam 24 jam (hiperakut)

Head CT Scan

Volbers al.,2011

et

Semi-automatic volumetric assessment of perihemorrhagic edema with computed tomography

Kohort Prospektif Semua pasien ICH

Head CT Scan

Peneliti 2011

et

al,

Edema serebral sebagaiprediktor mortalitas pada fase akut stroke perdarahan

Kohort prospektif seluruh pasien PIS

Head CT Scan

Berdasar hasil penelusuran mengenai pengaruh edema perihematom terhadap mortalitas pada fase akut stroke perdarahan masih didapatkan hasil yang bervariasi sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif yang akan menilai rerata edema perihematom pada pasien PIS akut, yang meninggal dan tidak meninggal dengan memakai gambaran edema serebral sebagai prediktor dari hasil CT Scan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Stroke Stroke adalah gangguan fungsi otak baik fokal ataupun global, yang timbul mendadak berlangsung lebih dari 24 jam (kecuali jika dilakukan pembedahan atau meninggal sebelum 24 jam) yang disebabkan oleh kelainan peredaran darah otak. Termasuk didalamnya adalah perdarahan subarakhnoid, perdarahan intraserebri dan infark serebri. Yang tidak termasuk adalah gangguan peredarah darah sepintas, tumor otak, infeksi atau sekunder karena trauma (WHO ,1996) . 2. Gambaran Klinis Stroke Perdarahan Gambaran klinis stroke bervariasi, secara umum misalnya nyeri kepala, kejang dan tanda lainnya adalah gangguan kesadaran, hemidefisit motorik, hemidefisit sensorik, hemianopsia, gangguan fungsi luhur dan defisit batang otak sesuai dengan lokasi lesi (Kase et al., 2004). 3. Diagnosis Stroke Perdarahan Diagnosis jenis patologi stroke dapat ditegakkan secara tepat, cepat, mudah dan aman dengan menggunakan CT Scan kepala (Computerized Tomography Scans) . Computerized tomography scans memiliki sensitivitas dan spesifitas hampir mendekati 100% untuk mendeteksi perdarahan akut. Konsentrasi protein yang tinggi dan tingginya densitas massa akan tampak hiperdens pada akut hematom tanpa pemberian kontras. Sedangkan pada

beberapa kasus perdarahan akut akan tampak isodens pada CT scan, misalnya pada penderita dengan kadar haemoglobin yang sangat rendah dan mengalami