Anda di halaman 1dari 8

TEMPERATUR DAN ENZIM PTIALIN

Disusun Oleh : Kelompok 4

Endah Lestari (1110016100066) Eny Rahayu (1110016100052) Arifa Nurhudayanti (1110016100056) Ristha Ingrid Mandela (1110016100071) Rosihan Anwar (1110016100068) Mukhayarrah (1110016100043) Disa Fajriah Arifin (1110016100060)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

TEMPERATUR DAN ENZIM PTIALIN

A. Dasar Teori Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi, substansi tersebut tidak berubah. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington, 1994). Sifat-sifat enzim antara lain : 1. Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. Sebagai contoh, laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington, 1994). 2. Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35C dan 40C, yaitu suhu tubuh. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya, aktivitas enzim berkurang. Di atas suhu 50C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Pada suhu 100C semua enzim rusak. Pada suhu yang sangat rendah, enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington, 1994). 3. Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Sebagai contoh, pepsin, enzim yang dikeluarkan ke lambung, hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam, dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington, 1994).

4. Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. Beberapa ion anorganik, misalnya ion kalsium dan ion klorida, menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington, 1994). Saliva (ludah) di hasilkan oleh kelenjar ludah yang berjumlah tiga pasang. Ke tiga pasang kelenjar tersebut menghasilkan satu sampai dua setengah liter ludah setiap harinya. Kelenjar ludah ada yang terletak di dekat telinga yang disebut glandula parotis. Di rahang bawah terdapat glandula submaksilaris dan glandula sublingualis. Glandula parotis, menghasilkan ludah (saliva) berbentuk air yang mengadung enzim amylase. Enzim amilase (ptialin) bekerja pada suasana netral. Enzim ini berfungsi mengubah amilum menjadi maltose. Glandula submaksilaris dan glandula sublingualis, keduanya menghasilkan getah yang mengandung air dan lendir. Ludah manusia terdiri dari hasil sekresi dari kelenjar parotis (25%), kelenjar glandula submaksilaris atau submandibularis (70%) dan glandula sublingualis (5%). Saliva (air liur ) berfungsi untuk membasahi makanan, mencegah mulut dari kekeringan, membunuh mikroorganisme, mengubah amilum menjadi maltose, dan bertindak sebagai buffer (penyangga pH).

B. Rumusan Masalah 1. Adakah pengaruh temperatur dan keasaman terhadap cara kerja enzim ptialin?

C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap keaktifan enzim amilase dengan menggunakan saliva sebagai sampel. 2. Untuk mengetahuimpengaruh temperature terhadap keaktifan enzim amilase dengan menggunakan saliva sebagai sampel.

D. Variabel a. Variabel bebas : suhu dan pH

b. Variabel terikat : kerja enzim

E. Hipotesis * Hipotesis Kerja : Adanya pengaruh perubahan suhu terhadap cara kerja enzim * Hipotesis Nol : Tidak ada pengaruh perububahan suhu terhadap cara kerja enzim

F. Alat dan Bahan Tepung Air Liur (saliva) Penjepit Tabung reaksi Bunsen

Pipet

Benedict

HCl

Gelas ukur

Termometer

G. Cara Kerja No. 1. 2. Keterangan Berilah label pada tabung reaksi A,B,C dan D. Masukkan air liurmu pada tabung reaksi masingmasing 1 ml. Gambar

3.

Tambahkan larutan tepung pada masing-masing tabung reaksi.

4.

a. Panaskan tabung A dalam penangas air dengan temperatur 36-37 C selama 5 menit. b. Tambahkan 1ml HCl pada tabung B, kemudian panaskan dengan temperatur 36-37 C. c. Tambahkan 1ml HCl pada tabung C, kemudian diamkan d. Tabung D diperlakukan sebagai control.

5.

Pada keempat tabung tambahkan reagen benedict sebanyak 3 tetes

6.

Amatilah perubahan yang terjadi!

H. Tabel Pengamatan

No.

Tabung Reaksi

Perlakuan

Hasil

1.

Air liur + larutan terigu dipanaskan + Sedikit busa dan terdapat reagen benedict endapan benedict berwarna biru seperti tidak bercampur dengan amilum.

2.

Air liur + larutan tepung + HCl Berbusa banyak pada bagian dipanaskan +reagen benedict atas larutan, terdapat

endapan berwarna keruh. 3. C Air Liur + larutan tepung + HCl + reagen Berbusa sedikit pada bagian benedict atas, terdapat sedikit

endapan putih seperti butir. 4. D Air liur + larutan tepung + regen Tidak benedict berbusa, terdapat

endapan benedict berwarna biru.

I. Pembahasan Pada praktikum kali ini, kami melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pengaruh kerja enzim terhadap suhu dan pH. Seperti yang telah diketahui bahwa enzim memiliki kerja yang spesifik baik dalam kondisi suhu, keasaman, serta faktor lainnya. Enzim ptialin yang ada di mulut (terkandung dalam saliva) akan mengubah karbohidrat (tepung) yang berupa polisakarida menjadi bentuk yang lebih sederhana

(monosakarida). Dalam praktikum, dapat dilihat bahwa adanya penambahan larutan benedict pada setiap tabung dengan tujuan untuk mengetahui kandungan glukosa pada larutan . Untuk tabung yang mengandung glukosa, akan terdapat endapan berwarna hijau

sampai merah bata. Apabila warna larutan hijau mengindikasikan bahwa kandungan glukosa sedikit dan merah bata jika kandungan glukosa banyak. Dan setelah dilakukan percobaan dapat dilihat bahwa warna biru kehijauan muncul di tabung nomor 1 dan 4. Warna biru kehijauan yang muncul di tabung nomor 1 lebih jelas dari tabung nomor 4, hal ini terjadi karena adanya perbedaan perlakuan pada kedua tabung tersebut. Adanya pemanasan pada tabung nomor 1 mempercepat kerja enzim ptialin dalam mengubah polisakarida menjadi monosakarida. Gaman dan Sherrington (1994) dalam bukunya menyebutkan bahwa aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Untuk enzim, suhu optimal antara 35 C dan 40 C, yaitu suhu tubuh. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya, aktifitas enzim akan berkurang. Di atas suhu 50 C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Pada suhu 100 C semua enzim rusak. Oleh sebab itu warna pada tabung nomor 1 lebih terlihat nyata daripada warna pada tabung nomor 4. Untuk tabung pada nomor 2 dan 3 warna biru kehijauan tidaklah muncul, hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya akibat adanya penambahan HCl yang bersifat sangat asam sehingga memperlambat kerja enzim dalam merubah tepung (karbohidrat) menjadi senyawa yang lebih sederhana. pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. Menurut Williamson dan Fieser (1992) Sebenarnya enzim juga

memiliki pH optimum tertentu, pada umumnya sekitar 4,58, dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi. Dalam lingkungan keasaman seperti itu, protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat, sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Di luar nilai pH optimum tersebut, struktur 3 dimensi enzim mulai berubah, sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Akibatnaya, proses katalisis berjalan tidak optimum. Oleh karena itu, struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum.

J. Kesimpulan 1. Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum, karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. 2. Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC, pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi, dan pada suhu 100oC enzim rusak. 3. Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH. 4. Faktor yang mempengaruhi kerja enzim yaitu konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, suhu, dan pH.

K. Daftar Pustaka Gaman, P.M & K.B. Sherrington. (1994). Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Universitas Gadjah Mada press. Yogyakarta. Poedjadi, Anna.1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia.Jakarta. Williamson,K.L & L.F.Fieser. (1992). Organic Experiment 7th Edition. D C Health ang Company. OUnited States of America.