Anda di halaman 1dari 4

Statin merupakan senyawa yang paling efektif dan paling baik toleransinya untuk mengobati dislipidemia.

American Diabetes Association lebih jauh menyarankan pengobatan statin sebagai pilihan pertama untuk dislipidemia diabetes (Goodman & Gilman, 2007). Sedangkan metformin lebih sering digunakan sebagai terapi antidiabetik oral karena memiliki efek samping hipoglikemi yang rendah dibandingkan dengan golongan lain dan efektif menurunkan kadar glukosa darah dengan mekanisme kerjanya tidak melalui perangsangan sekresi insulin tetapi langsung terhadap organ sasaran yaitu dengan meningkatkan transport glukosa, meningkatkan ambilan glukosa dari otot dan jaringan lemak, menurunkan produksi glukosa hati dengan menghambat glikogenolisis dan glukoneogenesis, memperlambat absorpsi glukosa di saluran gastrointestinal. Metformin dapat meningkatkan level A1C 1-2%, dan direkomendasikan oleh American Diabetes association (ADA) sebagai first line therapy bersama dengan modifikasi gaya hidup untuk pengobatan DM tipe 2 (Elvina R, 2012). Kombinasi metformin diberikan pagi hari dan simvastatin diberikan pada malam hari. Ini merupakan interaksi yang diharapkan. Karena pada pasien diabetes mellitus yang gemuk, simvastatin bekerja menghambat sintesis kolesterol dalam hati, dengan menghambat enzim HMG Coa reduktase. Sedangkan metformin juga dapat menurunkan berat badan, menurunkan kadar trigliserida, LDL, kolesterol, dan kolesterol total, dan juga dapat meningkatkan LDL kolesterol. Dengan demikian efek keduanya mampu menurunkan kadar kolesterol didalam tubuh (Gunawan : 2007 ; Misnadiarly : 2006). Interaksi antara metformin dengan ranitidine, interaksi yang diharapkan. kombinasi keduanya secara teori obat kationik yang dieliminasi melalui ginjal potensial berinteraksi dengan metformin dengan berkompetisi pada sistem sekresi/transport tubular, kadar metformin dapat meningkat. Dengan kata lain jika kedua obat tersebut dikombinasikan secara bersamaan maka

kadar metformin harus selalu dimonitor dan dilakukan pengaturan dosis metformin (Dipiro, 2006). Terapi dosis awal simvastatin pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 dengan komplikasi hiperlipidemia diberikan sebagian besar pasien adalah 20mg sebelum tidur, kecuali jika penurunan LDL-C yang dibutuhkan lebih dari 45%, maka diperlukan dosis awal 40mg. dosis maksimumnya 80 mg dan obat ini harus diminum sebelum tidur. Pada pasien yang sedang menggunakan siklosporin, fibrat, atau niasin, dosis hariannya tidak boleh lebih dari 20mg. (Goodman & Gilman,2007) Satu-satunya efek merugikan dari interaksi obat utama yang disebabkan oleh penggunaan statin yang signifikan secara klinis adalah miopati. Pada pasien yang menerima statin tanpa disertai pemberian secara bersamaan dengan obat yang meningkatkan risiko miopati. Dua golongan obat, yakni fibrat (gemfibrozil, klofibrat, fenofibrat) dan niasin, juga merupakan obat penurun. Jika statin diberikan bersama fibrat atau niasin, miopati mungkin disebabkan oleh meningkatnya penghambatan sintesis sterol di otot rangka (suatu interaksi farmakodinamik). Obat-obat lainnya yang menimbulkan interaksi bersifat farmakokinetik dan menyebabkan peningkatan konsentrasi statin dan metabolit aktifnya dalam plasma. Seperti sebagian besar statin, dimetabolisme oleh isoform 3A4 sitokrom P450 (CYP3A4) dan termasuk antibiotik makrolida tertentu (misalnya eritromisi), antifungi azol (misalnya itrakonazol), siklosporin, antidepresan fenilpiperazin, nefazodon, dan inhibitor protease (Goodman & Gilman, 2007) Selain statin obat antihiperlipidemia, Diabetes Atherosclerosis Intervertion Study barubaru ini menunjukkan manfaat Fenofibrat yang signifikan untuk mengobati diabetes tipe 2. Penelitian arteriografi selama 3 tahun ini menunjukkan adanya penurunan stenosis koroner fokal sebesar 40% (p=0,029) (Diabetes Atherosclerosis Intervention Study Invertigators, 2001).

Kombinasi gemfibrozil dan simvastatin merupakan interaksi yang tidak diharapkan karna gemfibrozil dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi simvastatin dalam darah, dengan cara menghambat metabolisme dari simvastatin, sehingga meningkatkan resiko terjadinya

myopathy. Interaksi ini dapat diatasi dengan member jarak dalam penggunaan gemfibrozil dan simvastatin, sekitar 1-2 jam serta lakukan monitoring terhadap timbulnya myopathy, atau

menggunakan simvastatin dosis rendah yakni 10 mg. Beberapa alternative penatalaksanaan interaksi obat adalah menghindari kombinasi obat dengan memilih obat pengganti yang tidak berinteraksi, penyesauaian dosis obat, pemantauan pasien atau meneruskan pengobatan seperti sebelumnya jika kombinasi obat yang berinteraksi tersebut merupakan pengobatan yang optimal atau bila interaksi tersebut tidak bermakna secara klinis (stockley : 2008 ; Fradgley :2003) Suatu studi menunjukkan bahwa pemberian simvastatin mampu mengurangi 42% resiko kejadian penyakit jantung koroner pada penderita diabetes mellitus yang memiliki konsentrasi kolesterol LDL dalam darahnya tinggi. Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Dalam hal ini simvastatin digunakan sebagai agen tunggal (Dipiro,2006). Interaksi antara gemfibrozil dan gol sulfonil urea, kombinasi keduanya ini merupakan interaksi yang tidak diharapkan karena efek hipoglikemik meningkat akibat berbagai mekanisme seperti penurunan metabolic hepatic, hambatan ekresi renal, pengusiran dari ikatan protein, penurunan glukosa darah, perubahan metabolism karbohidrat. Dengan kata lain jika kedua obat tersebut dikombinasikan secara bersamaan maka harus dimonitor kadar gula darah (Dipiro, 2006) Interaksi antara furosemid dengan captopril (ACE inhibitor), kombinasi kedua obat ini biasanya aman dan efektif, karena memberikan efek sinergis dan interaksi yang diharapkan

dalam menurunkan tekanan darah. Akan tetapi pada beberapa pasien kombinasi kedua obat ini dapat menyebabkan penurunan tekanan darah (hipotensif) secara tajam yang terjadi pada awal pemberian terutama pada hipertensi dengan aktivitas renin yang tinggi dan tergantung

kepada kondisi pasien dan dosis obat, sebaiknya pada awal pemberian captopril dimulai dengan dosis rendah, dan monitor tekanan darah pasien (Stockley : 2008) Interaksi asetosal dengan meloxicam, kombinasi keduanya dapat meningkatkan resiko pendarahan gastrointestinal, hindari penggunaan bersama asetosal dengan meloxicam, bila digunakan beri jarak dalam penggunaannya dan monitoring terhadap kemungkinan terjadinya pendarahan gastrointestinal (Stockley;2008 ). Pada pasien diabetes mellitus, resistensi insulin yang diindukasi-niasin dapat menyebabkan hiperglikemia parah, dan obat ini biasanya tidak dianjurkan untuk digunakan pada pasien diabetes mellitus, penggunaan niasin pada pasien diabetes mellitus sering mengharuskan adanya perubahan menjadi terapi insulin. Jika niasin diresepkan bagi pasien yang memiliki atau diduga mengidap diabetes, kadar glukosa darah harus dipantau paling tidak satu kali seminggu hingga terbukti stabil (Goodman & Gilman,2007) Insulin diberikan bersamaan dengan OHO memberikan efek yang sinergis atau interaksi yang diharapkan karena pada terapi Diabetes Melitus jika dengan insulin kadar glukosa tidak turun maka diperlukan terapi kombinasi dengan OHO dimulai dengan dosis rendah kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respon kadar glukosa darah untuk mencegah terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia gejalanya berupa berkeringat , gemetar, muka pucat, jantung berdebar-debar, rasa lapar dan kesemutan sekitar mulut dan lidah (Lestari U : 2010)