Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH SEMENTING

DISUSUN OLE

Nama NIM

: :

Ocky Bhimasto 1001109 7 (tujuh)

Kelompok:

JURUSAN S1 TEKNIK PERMINYAKAN SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK & GAS BALIKPAPAN 2012

Pendahuluan
Penyemenan (Cementing) Mengapa sumur harus disemen ? Penyemenan sumur digolongkan menjadi dua bagian : Pertama, primary cementing, yaitu penyemenan pada saat sumur sedang dibuat. Sebelum penyemenan ini dilakukan, casing dipasang dulu sepanjang lubang sumur. Campuran semen (semen + air + aditif) dipompakan ke dalam annulus (ruang/celah antara dua tubular yang berbeda ukuran, bisa casing dengan lubang sumur, bisa casing dengan casing). Fungsi utamanya untuk pengisolasian berbagai macam lapisan formasi sepanjang sumur agar tidak saling berkomunikasi. Fungsi lainnya menahan beban aksial casing dengan casing berikutnya, menyokong casing dan menyokong lubang sumur (borehole). Kedua, remedial cementing, yaitu penyemenan pada saat sumurnya sudah jadi. Tujuannya bermacam-macam, bisa untuk mereparasi primary cementing yang kurang sempurna, bisa untuk menutup berbagai macam lubang di dinding sumur yang tidak dikehendaki (misalnya lubang perforasi yang akan disumbat, kebocoran di casing, dsb.), dapat juga untuk menyumbat lubang sumur seluruhnya. Semen yang digunakan adalah semen jenis Portland biasa. Dengan mencampurkannya dengan air, jadilah bubur semen (cement slurry). Ditambah dengan berbagai macam aditif, properti semen dapat divariasikan dan dikontrol sesuai yang dikehendaki. Semen, air dan bahan aditif dicampur di permukaan dengan memakai peralatan khusus. Sesudah menjadi bubur semen, lalu dipompakan ke dalam sumur melewati casing. Kemudian bubur semen ini didorong dengan cara memompakan fluida lainnya, seringnya lumpur atau air, terus sampai ke dasar sumur, keluar dari ujung casing masuk lewat annulus untuk naik kembali ke permukaan. Diharapkan seluruh atau sebagian dari annulus ini akan terisi oleh bubur semen. Setelah beberapa waktu dan semen sudah mengeras, pemboran bagian sumur yang lebih dalam dapat dilanjutkan.

Untuk apa directional drilling dilakukan ? Secara konvensional sumur dibor berbentuk lurus mendekati arah vertikal. Directional drilling (pemboran berarah) adalah pemboran sumur dimana lubang sumur tidak lurus vertikal, melainkan terarah untuk mencapai target yang diinginkan. Tujuannya dapat bermacam-macam : 1. Sidetracking : jika ada rintangan di depan lubang sumur yang akan dibor, maka lubang sumur dapat dielakkan atau dibelokan untuk menghindari rintangan tersebut. 2. Jikalau reservoir yang diinginkan terletak tepat di bawah suatu daerah yang tidak mungkin dilakukan pemboran, misalnya kota, pemukiman penduduk, suaka alam atau suatu tempat yang lingkungannya sangat sensitif. Sumur dapat mulai digali dari tempat lain dan diarahkan menuju reservoir yang bersangkutan. 3. Untuk menghindari salt-dome (formasi garam yang secara kontinyu terus bergerak) yang dapat merusak lubang sumur. Sering hidrokarbon ditemui dibawah atau di sekitar salt-dome. Pemboran berarah dilakukan untuk dapat mencapai reservoir tersebut dan menghindari salt-dome. 4. Untuk menghindari fault (patahan geologis). 5. Untuk membuat cabang beberapa sumur dari satu lubung sumur saja di permukaan. 6. Untuk mengakses reservoir yang terletak di bawah laut tetapi rignya terletak didarat sehingga dapat lebih murah.

7. Umumnya di offshore, beberapa sumur dapat dibor dari satu platform yang sama sehingga lebih mudah, cepat dan lebih murah. 8. Untuk relief well ke sumur yang sedang tak terkontrol (blow-out). 9. Untuk membuat hidrokarbon. 10. Extended reach : sumur yg mempunyai bagian horizontal yang panjangnya lebih dari 5000m. 11. Sumur multilateral : satu lubang sumur di permukaan tetapi mempunyai beberapa cabang secara lateral di bawah, untuk dapat mengakses beberapa formasi hidrokarbon yang terpisah. Pemboran berarah dapat dikerjakan dengan peralatan membor konvensional, dimana pipa bor diputar dari permukaan untuk memutar mata bor di bawah. Kelemahannya, sudut yang dapat dibentuk sangat terbatas. Pemboran berarah sekarang lebih umum dilakukan dengan memakai motor berpenggerak lumpur (mud motor) yang akan memutar mata bor dan dipasang di ujung pipa pemboran. Seluruh pipa pemboran dari permukaan tidak perlu diputar, pipa pemboran lebih dapat dilengkungkan sehingga lubang sumur dapat lebih fleksibel untuk diarahkan. sumur horizontal dengan tujuan menaikkan produksi

PROSES PENYEMENAN
Penyemenan suatu sumur merupakan salah satu faktor yang tidak kalah pentingnya dalam suatu operasi pemboran. Berhasil atau tidaknya suatu pemboran, salah satu diantaranya adalah tergantung dari berhasil atau tidaknya penyemenan sumur tersebut. Penyemenan sumur secara integral, merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam suatu operasi pemboran, baik sumur minyak maupun gas. Semen ter-sebut digunakan untuk melekatkan rangkaian pipa selubung dan mengisolasi zona produksi serta mengantisipasi adanya berbagai masalah pemboran. Perencanaan penyemenan meliputi : 1. Perkiraan kondisi sumur (ukuran, tem-peratur, tekanan, dsb). 2. Penilaian terhadap sifat lumpur pem-boran.

3. Pembuatan suspensi semen (slurry de-sign). 4. Teknik penempatan. 5. Pemilihan peralatan, seperti centralizers, scratchers, dan float equipment Program perencanaan penyemenan secara tepat, merupakan hal pokok yang akan mendukung suksesnya operasi pemboran. Adapun tujuan dari penyemenan yang kita lakukan antara lain : 1. Melindungi dan melekatkan casing pada dinding formasi. 2. Menutup daerah hilang sirkulasi dan mengisolasi lapisan dibelakang casing agar tidak terjadi komunikasi antar lapisan. 3. Mencegah penyusupan gas atau fluida formasi yang bertekanan tinggi ke celah antara casing dan formasi, yang dapat menimbulkan masalah yang yang membahayakan dipermukaan. 4. Menutup sumur yang akan ditinggalkan. 5. Memperbaiki casing yang rusak. 6. Memperbaiki kesalahan pada waktu perforasi.

MACAM-MACAM OPERASI PENYEMENAN


Operasi penyemenan yang tidak sempurna dapat menimbulkan banyak masalah, antara lain sulitnya mengontrol produksi pada tiap-tiap lapisan formasi produktifnya. Oleh karna itu type penyemenan terbagi menjadi 2 bagian yaitu : 1. Primary Cementing adalah penyemenan yang pertama kali dilakukan setelah casing diturunkan kelubang sumur. Primary Cementing juga terbagi menjadi beberapa bagian yaitu :

Penyemenan Conductor Casing. Penyemenan Surface Casing. Penyemenan Intermediate.

Penyemenan Production Casing.

2. Secondary Cementing adalah penyemenan tahap kedua atau penyemenan ulang untuk menyempurnakan primary cementing . Secondary Casing juga terdiri dari beberapa bagian yaitu :

Squeeze Cementing : Penyemenan yang bertujuan untuk memperbaiki kebocoran atau kerusakan pada casing atau juga memperbaiki penyemenan pada Primary cementing yang belum sempurna.

Re - Cementing : Untuk memperluas perlindungan casing diatas top semen serta menyempurnakan penyemenan pertama. Plug Back Cementing : tujuan untuk menutup atau meninggalkan sumur (Abandonment Well) Dan menutup zona air dibawah zona produksi minyak. Setelah melakukan tahap tersebut maka tujuan penyemenan yang kita harapkan dapat tercapai.

Penyemenan sumur minyak adalah proses untuk menempatkan semen di annulus, antara casing dan formasi untuk mengisolasi lubang sumur dari zona minyak, gas dan air untuk mencegah cairan seperti air atau gas di satu zona dari minyak di lain zona. Untuk mencapai tujuan ini sekat hidrolik harus diletakkan di antara casing dan semen, dan semen dengan formasi. Di saat yang bersamaan untuk mencegah fluid channel di dalam semen. Hal ini membuat penyemenan utama menjadi sangat penting di dalam pengeboran. Tanpa mengisolasi zona di dalam sumur pengeboran, sumur tidak akan mencapai produksi yang maksimal.

PERALATAN PENYEMENAN
Proses penyemenan terdiri dari pencampuran air dengan semen dalam perbandingan tertentu dan dengan additive tertentu pula. Pendorongan semen dapat dilakukan dengan sistem sirkulasi ke belakang casing, ditekan masuk ke formasi atau ditempatkan sebagai suatu plug atau sumbat pada lubang yang tidak merupakan perforasi completion (misalnya disini open hole completion). Peralatan penyemenan pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu peralatan di atas permukaan ( surface equipment), dan peralatan bawah permukaan. 1. Peralatan diatas Permukaan Peralatan penyemenan di atas permukaan meliputi : a. Cementing Unit Adalah merupakan suatu unit pompa yang mempunyai fungsi untuk memompakan bubur semen (slurry) dan lumpur pendorong dalam proses penyemenan. Cementing unit terdiri dari : Tanki semen Untuk menyimpan semen kering. Hopper Untuk mengatur aliran dari semen kering agar merata. Jet mixer Untuk mengatur semen kering dan air yang ditempatkan bersama-sama dalam hopper, sehingga akan menghasilkan bubur semen yang benarbenar homogen. Motor penggerak pompa dan pompa b. Cementing Head Berfungsi untuk mengatur bubur semen yang masuk ke lubang bor. Ada dua tipe cementing head yaitu : 1. Mac Clatchie Cementing Head

Merupakan tipe cementing head yang cara penggunaanya (pada waktu pemasukan bottom plug dan top plug) dengan jalan membuka dan memasang kembali. 2. Plug Container Tipe ini tidak praktis daripada mac clatchie, karena pada container ini memasangnya top plug dan bottom plug tidak perlu membukanya akan tetapi sudah terpasang sebelumnya. 2. Peralatan dibawah Permukaan Peralatan penyemenan di bawah permukaan meliputi : a. Casing Merupakan pipa selubung b. Cementing Plug 1. Bottom Plug Bottom plug berfungsi untuk mencegah adanya kontaminasi antara lumpur dengan bubur semen. Jadi untuk mendorong lumpur yang berada dalam casing dan memisahkan casing dari semen dan juga membersihkan mud film di dalam dinding casing, pada bottom plug terdapat membran (selaput tipis) yang pada tekanan tertentu dapat pecah, sehingga semen akan mengalir keluar dan terdorong ke annulus sampai mencapai tujuan yang diharapkan. Bottom plug dibuat dari bahan karet pada bagian luar dan cast aluminium pada bagian dalamnya. 2. Top Plug Top plug berfungsi untuk mendorong bubur semen, memisahkan semen dari lumpur pendorong agar tidak terjadi kontaminasi, membersihkan sisasisa semen di dalam casing. Alat ini sebagian besar terbuat dari karet dan pada bagian bawahnya digunakan plat aluminium dan tidak mempunyai membran (selaput tipis). Apabila top plug ini sudah duduk (sampai pada bottom plug) di bawah, maka tekanan pemompaan akan naik secara tibatiba (bumping pressure) dan pada saat itu pemompaan dihentikan.

METODE PENYEMENAN
Berdasarkan pada metode yang digunakan, proses penyemenan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu single stage cementing, dan multy stage cementing. a. Single Stage Cementing Single stage cementing umumnya digunakan untuk melakukan penyemenan terhadap pipa konduktor dan surface. Sejumlah lumpur disiapkan dan dipompakan ke dalam casing. Perlu dicatat pula bahwa seluruh bagian internal dari peralatan casing, termasuk floatshoe, wiper plug dan lain sebagainya merupakan peralatan yang dengan mudah dapat hancur bila dibor. b. Multi Stage Cementing Multi stage cementing diterapkan pada penyemenan rangkaian casing yang panjang khususnya guna : 1. Mengurangi tekanan total pemompaan . 2. Mengurangi tekanan total hidrostatis pada formasi-formasi lemah sehingga tidak terjadi atau terbentuk rekahan. 3. Memungkinkan pemilihan penyemenan daripada formasi. 4. Memungkinkan penyemenan keseluruhan total panjang casing. 5. Memastikan penyemenan efektif di sekeliling shoe dari rangkaian casing sebelumnya. Pada multi stage cementing sebuah stage cementer dipasang pada posisi tertentu pada rangkaian casing. Posisi stage cementer ditentukan oleh panjang total kolom semen dan kekuatan formasi. Untuk pekerjaan two-stage cementing, sebuah one-stage cementer digunakan pada rangkaian casing. Casing lalu diturunkan ke dasar lubang. Kemudian casing disirkulasikan dengan sejumlah volume sebesar dua kali kapasitas lubang. Tahap pertama penyemenan ditujukan sebagai operasi tahap tunggal, akan tetapi bagian top kolom semen berakhir tepat dibawah stage cementer.

Tahap kedua diawali dengan menjatuhkan sebuah opening bomb dari permukaan sehingga memungkinkan untuk jatuh pada opening seat pada stage collar. Saat bomb telah ditempatkan, tekanan pemompaan sebesar 1200 - 1500 psi diatas tekanan sirkulasi diterapkan pada penyeretan pin penahan dan memungkinkan sebuah bottom sleeve bergerak turun. Gerakan sleeve akan membuka terminal, sehingga menetapkan hubungan antara bagian dalam (internal) casing dengan annulus. Lumpur kemudian disirkulasikan guna mengkondisikan sumur yang ditujukan untuk memulai tahap kedua. Operasi penyemenan merupakan bagian dari operasi pemboran yang memakan biaya yang besar karena peralatan yang digunakan tidak dapat dipakai kembali , karena tertanam dalam dalam sumur untuk seterusnya, seperti centralizer, casing dan scratcher. Penyemenan harus benar-benar sempurna dan tidak terjadi rongga-rongga pada tempat yang disemen sebabkan menyebabkan kerusakan casing akibat mengembangnya udara atau fluida lainnya yang masuk dalam rongga tersebut akibat terkena temperatur dan tekanan yang tinggi.

ADDITIVE PENYEMENAN
Sistem semen Portland ada yang didisain sampai temperatur 3710C (7000C) misal untuk sumur-sumur geothermal. Juga ada yang didesain untuk tekanan 30000 psi, misal untuk sumur-sumur yang dalam. Kondisi sumur ini memang mempengaruhi dalam pemilihan jenis semen namun sangat jarang memilih bubuk semen hanya tergantung dari kondisi sumur saja (seperti temperatur, tekanan dan kedalaman). Ada faktor-faktor lainnya yang turut mempengaruhi dalam pembuatan suspensi semen, seperti waktu dan harga. Selain itu pembuatan suspensi semen harus memperhatikan juga sifat dari suspensi semen tersebut. Oleh karena itu perlu ditambah kedalaman neat semen (suspensi semen yang hanya terdiri dari bubuk semen dan air) suatu zat-zat kimia agar dicapai hasil penyemenan yang diinginkan. Zat-zat kimia tersebut dikenal sebagai aditive. Hingga saat ini lebih dari 100 additive telah dikenal. Namun umumnya additiveadditive itu dapat dikelompokkan dalam 8 kategori, yaitu : a. Accelerator

To accelerate maksudnya mempercepat. Accelerator artinya adalah additive untuk mempercepat thickening time. Pada umumnya accelerator ditambahkan bbila menyemen sumur yang dangkal. Kalau tidak ditambahkan accelerator terlalu lama menunggu bubur semen menjadi keras. Bahan-bahan yang bertindak sebagai accelerator adalah : 1. Calcium chlorida (CaCl2) CaCl2 dapat melipat duakan compressive strength semen, memperkecil thickening time. 2. Natrium chlorida (NaCl) Natrium chlorida atau garam dapur, dapat bertindak sebagai retarder dan dapat juga sebagai accelerator. Hal ini tergantung kepada konsentrasi garamnya. Penambahan NaCl akan menurunkan thickening time, dan akan menaikkan compressive. 3. Densified cement Densified cement maksudnya bubur semen yang dikurangi WCR-nya. Dengan mengurangi air yang dicampurkan dalam membuat bubur semen, maka dihasilkan semen yang padat. Dengan demikian akan didapatkan berat jenis bubur semen yang lebih besar dan thickening bubur semen yang lebih kecil. Pengurangan air yang dicampurkan dalam membuat bubur semen boleh dilakukan kalau sudah memakai friction loss reducer. Kalau tidak akan menyebabkan friksi diannulus besar. Jadi dengan kata lain bila mengurangi air yang dicampurkan dalam membuat bubuk semen harus diiringi oleh penambahan friction reducer. Agar tidak banyak gesekan diannulus. b. Retarder Retarder adalah additive berfungsi untuk memperlambatkan atau memperpanjang thickening time. Hal ini diperlukan untuk menyemen surat bertemperatur tinggi, atau untuk sumur yang dalam atau kolom penyemenan yang panjang. Atau bila air banyak terisap oleh penambahan additive lain

sehingga thickening time berkurang. Sebagaimana telah disebut diatas bahwa bila thickening time lebih kecil dari waktu pemompaan bubur semen maka bubur semen akan mengeras sebelum sampai ke tempat yang diinginkan. Bahan-bahan yang bertindak sebagai retarder adalah sebagai berikut : 1. 2. Calcium ligno sulfonate CMHEC CMHEC adalah singkatan dari Carboxy Methyl Hidroxy Etyl Cellulose. Bahan ini digunakan untuk temperatur yang ekstrim. CMHEC memerlukan banyak air dalam pencampurannya. 3. c. Extender Extender adalah additive untuk menaikkan volume dari bubuk semen. Pada umumnya penambahan extender diiringi dengan penambahan air. Kenaikan volume tidak seimbang dengan kenaikan berat bubur semen. Sehingga akan cepat penurunan berat jenis bubur semen. Bahan-bahan yang termasuk sebagai extender adalah : 1. Bentonite Bentonite merupakan bermineral clay. Sifat utamanya adalah dapat mengisap air dengan banyak, sehingga volume bubur semen yang terjadi bisa naik sampai 10 kali. Akibatnya berat jenis bubur semen dapat turun lebih besar. Penambahan bentonite harus diiringi dengan penambahan air. Pengaruh lain akibat penambahan bentonite adalah : 2. Yield semen naik Biaya lebih murah Perforating qualities baik Compressive strength semen naik Permeabilitas semen naik Viskositas bubur semen naik Pozzolan Garam NaCl

Pozzolan merupakan extender yang tidak terlalu banyak menurunkan compressive strength semen. Sedangkan pengaruh penambahan pozzolan terhadap bubur semen adalah sama dengan penambahan bentonite. 3. Diatomaceous earth Bahan ini berasal dari silika suatu sedimen. Diatomaceous earth mempunyai surface area yang besar, sehingga memerlukan banyak air dalam pembuatan bubur semen. 4. Gilsonite Gilsonit tidak memerlukan banyak air. Sehingga menurunkan compressive strength semen akan lebih kecil dibandingkan dengan extender yang lain, untuk pengurangan berat jenis yang sama. 5. Expanded perlite Expanded merupakan extender yang berasal dari vulkanik. Umumnya ditambahkan juga bentonite 2% sampai dengan 6% untuk mencegah pemisahan air. Pada umumnya juga penambahan perlu penambahan air yang banyak, dibawah tekanan expended perlite bertindak sebagai spons. Sehingga bubur semen akan mempunyai berat jenis yang lebih besar dan volume yang lebih kecil untuk kondisi bertekanan dibandingkan dengan kondisi permukaan. d. Weighting agent Weight material ditambahkan dalam bubur semen bila akan menyemen formasi bertekanan tinggi. Untuk menaikkan berat jenis bubur semen ditambahkan dalam pembuatan semen antara lain: 1. Ilmenite merupakan bahan yang tertarik sebagai weight material. Material ini adalah inert solid dan tidak memberikan pengaruh terhadap thickening time. Rumus kimia dari ilmenite adalah FeTiO3, mempunyai SG 4.7. Distribusi ilmenite dalam bubur semen dapat merata atau uniform. Berat jenis bubur semen yang terjadi dapat mencapai 22 ppg. 2. Barite merupakan bahan yang paling umum digunakan menaikkan berat jenis bubur semen, maupun lumpur pemboran. SG dari barite adalah

4.3 dan dapat menaikkan berat jenis bubur semen menjadi 18 ppg. Kata lain untuk barite adalah barium sulfate. Dalam penambahan barite, perlu diiringi dengan penambahan air untuk membasahi partikelnya, karena barite mempunyai surface area yang besar. Air ini dapat juga melarutkan retarder dari bubuk semen. Sehingga thickening timenya jadi singkat. Penambahan air yang banyak dapat menurunkan compressive strength dari semen. 3. Pasir yang digunakan untuk menaikkan berat jenis bubur semen umumnya adalah pasir ottawa (ottawa sand). Berat jenis yang terjadi dapat mencapai 18 ppg. Biasanya digunakan untuk penyemenan lobang untuk pemasangan whipstock dan untuk plug job yang lain. SG dari ottawa sand adalah 2.6 sehingga untuk menaikkan berat jenis bubur semen diperlukan pasir yang banyak. 4. Densified cement Bubur semen yang dikurangi air dalam pembuatannya akan memberikan berat jenis bubur semen yang lebih tinggi. Dalam pembuatannya harus diiringi dengan menambahkan friction reducer, 0.75 sampai 1 % berat bubuk semen. 5. Sodium chlorida Untuk menaikkan berat jenis bubur semen yang kecil saja, dapat ditambahkan natrium chlorida. Kenaikan yang diperoleh 0.5 ppg sampai 1 ppg.

e. Low filtration loss additive Formasi yang porous dan permeabel kalau dilewati oleh cairan, cairan tersebut akan terisap. Cairan yang terisap ini dikenal dengan istilah filtrate. Karena bubur semen mengandung cairan didalamnya, bila bubur semen melewati formasi yang porous dan permeabel, maka air yang terdapat dalam semen akan terserap ke dalam formasi tersebut. Hal ini akan menyebabkan bubur semen kekurangan air. Akibatnya sudah diuraikan pada pembahasan

sebelumnya. Agar air dari bubur semen tidak banyak terisap oleh formasi maka dilakukan beberapa cara, caranya adalah sebagai berikut : 1. 2. Menambahkan material-material yang membentuk film yang dapat menutup permukaan formasi yang porous dan permeabel. Menambahkan material-material yang bila bertemu dengan air akan membentuk emulsi, yang dapat menghambat aliran masuk ke dalam formasi tersebut. 3. Menambahkan material-material yang dapat menyumbat pori-pori formasi. Material-material yang ditambahkan tersebut umunya adalah bentonite, latex, CMHEC dan organic polymer. Bentonite Bentonite bila di tambahkan ke dalam bubur semen akan membentuk filter cake yang bertindak sebagai film dalam menutupi permukaan foormasi yang porous dan permeabel. Latex Latex bila ditambahkan dalam membentuk bubur semen akan membuat film. Selain dari itu latex akan menjadikan semen mempunyai sifat perforating qualities yang baik, penahanan korosi dan kontaminasi. CMHEC Carboxy Methl Hidrocy Ethl Cellulose, juga merupakan bahan yang dapat membentuk film yang tipis pada permukaan formasi yang porous dan permeabel bila ditambahkan dalam pembuatan bubur semen. Karena CMHEC bertindak sebagai retarder, maka dianjurkan untuk menambahkan natrium silicate, bila tidak diinginkan thickening time yang lama. Ini dilakukan untuk temperatur di bawah 1700F. Untuk temperaatur di atas 1700F tidak perlu. Karena pengaruh retarder tidak merugikan. Organic polymer Organic polimer yang digunakan terdiri dari polymer-polymer bermolekul besar. Bahan ini dapat bertindak sebagai penutup pori-pori formasi yang

porous. Selain dari itu additive ini membentuk mud cake yang keras. Organic polymer sangat stabil untuk temperatur yang tinggi. f. Loss circulation additive Material yang sering dipakai untuk mengurangi atau menanggulangi lost circulation pada lumpur, juga dipakai untuk mengatasi lost circulation pada semen. Bahan-bahan itu antara lain adalah raw cotton, bagasse, wood fiber, cellophane, aspalt, sawdust, mica dan lain-lain. Gilsonit kadang-kadang digunakan juga begitu juga perlit. Gilsonite dipandang sebagai bahan yang terbaik. Biasanya 5 sampai 25 lb ditambahkan tiap sack bubuk semen. g. Friction reducer Bahan ini digunakan untuk mengurangi tahanan terhadap aliran bubur semen sampai ke tempat yang diinginkan. Diusahakan agar aliran berbentuk turbulent dengan jalan memperbesar reynold number. Additive jenis ini antara lain organic dispersand yang dapat menyebabkan aliran turbulent pada rate yang rendah. Selain itu dapat digunakan garam, calcium dignosulfonate dan cellulose material yang bermolekul tinggi. h. Contamination additive Additive ini dicampurkan guna menghindari kontaminasi bubur semen dengan lumpur. Bahan ini antara lain : 1. Mud-kil adalah suatu bahan yang dapat menetralkan quebracho, tannine yang mana kimiawi-kimiawi ini bertindak sebagai retarder pada bubuk semen. 2. Activated charcoal adalah bahan untuk menghindari kontaminasi dengan lumpur. Bahan ini akan bertindak menghalangi pengaruh zat kimia perawat lumpur terhadap bubur semen. Umumnya activated charcoal yang ditambahkan berkisar antara 3% sampai 5%. Kalau lebih 5%, maka bahan ini bertindak sebagai accelerator terhadap bubur semen. Bahan ini tidak

digunakan untuk retarder cement, karena akan memperpendek thickening time bubur semen.

STUDY KASUS
1. Mengapa sumur harus disemen ? Penyemenan sumur digolongkan menjadi dua bagian, yaitu pertama, primary cementing, yaitu penyemenan pada saat sumur sedang dibuat. Sebelum penyemenan ini dilakukan, casing dipasang dulu sepanjang lubang sumur. Campuran semen (semen + air + aditif) dipompakan ke dalam annulus (ruang/celah antara dua tubular yang berbeda ukuran, bisa casing dengan lubang sumur, bisa casing dengan casing). Fungsi utamanya untuk pengisolasian berbagai macam lapisan formasi sepanjang sumur agar tidak saling berkomunikasi. Fungsi lainnya menahan beban aksial casing dengan casing berikutnya, menyokong casing dan menyokong lubang sumur (borehole). Kedua, remedial cementing, yaitu penyemenan pada saat sumurnya sudah jadi. Tujuannya bermacam-macam, bisa untuk mereparasi primary cementing yang kurang sempurna, bisa untuk menutup berbagai macam lubang di dinding sumur yang tidak dikehendaki (misalnya lubang perforasi yang akan disumbat, kebocoran di casing, dsb.), dapat juga untuk menyumbat lubang sumur seluruhnya. Semen yang digunakan adalah semen jenis Portland biasa. Dengan mencampurkannya dengan air, jadilah bubur semen (cement slurry). Ditambah dengan berbagai macam aditif, properti semen dapat divariasikan dan dikontrol sesuai yang dikehendaki. Semen, air dan bahan aditif dicampur di permukaan dengan memakai peralatan khusus. Sesudah menjadi bubur semen, lalu dipompakan ke dalam sumur melewati casing. Kemudian bubur semen ini didorong dengan cara memompakan fluida lainnya, seringnya lumpur atau air, terus sampai ke dasar sumur, keluar dari ujung casing masuk lewat annulus untuk naik kemibali ke permukaan. Diharapkan seluruh atau sebagian dari annulus ini akan terisi oleh bubur semen. Setelah beberapa waktu dan semen sudah mengeras, pemboran bagian sumur yang lebih dalam dapat dilanjutkan.

2. Apa yang terjadi jika terjadi lost circulation dan dampaknya pada casing ? Lost circulation adalah keadaan dimana hilangnya fluida semen pemboran ke dalam formasi, yang menyebabkan semen kekurangan air dan terjadi flash set. Flash set adalah keadaan dimana semen kekurangan air yang menyebabkan semen semakin porous sehingga rentan terhadap tekanan formasi. Dampaknya terhadap casing adalah tekanan formasi yang besar yang tidak dapat ditahan oleh semen pemboran, mengakibatkan casing mengalami collapse atau mengalami pembekokan pada casing. Casing yang mengalami collapse akan menjepit

peralatan pembortan yang berada di dalam casing, sehingga tidak dapat digunakan. Jika terjadi seperti itu, maka dilakukan penyemenan bertingkat.