Anda di halaman 1dari 154

DASAR-DASAR PENANGKAPAN IKAN

Pustaka : Ayodioa (1980). Fishing Method. Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Bambang, M. (1975). Suatu Pengenalan Tentang Fishing Gear Material, Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB, Bogor. Hela and Laevastu (1970). Fisheries Oceanografi. Fishing News Books Ltd, England.

lingkungan apa saja yang I. Faktor-faktor FISH BEHAVIOUR


1. 2. 3. 4. 5. 6.

7.
8.

mempengaruhi ? Temperatur (suhu) perairan Arus (currents) Cahaya (light) Salinitas Upwelling Gelombang Musim Makanan

BAGAIMANA PENGARUH DAI MASING-MASING FAKTOR ?

1. Temperatur :

Perubahan hanya 0,03 C dapat mempengaruhi syaraf pusat , sehingga aktifitas serta proses metabolisme dapat terganggu. Pengaruhnya Terhadap apa saja ? Spawning Perkembangan dan survival dari larva Feeding Pertumbuhan Kepadatan (abundance) Migrasi Schooling (bergerombol)

Lethal Temperatur (tempertur ekstrim) dapat menyebabkan mortalitas dan perubahan temperatur terlalu lama dapat berpengaruh terhadap distribusi spesies.

2. CURRENTS
Respon dari ikan terhadap arus :

Arus akan membuat ikan akan melawan, bertahan atau ikut hanyut. Ikan mempunyai kecenderungan untuk melawan arus Arus akan membuat kecepatan berenang (swimming speed) menurun Kecenderungan ikan akan menyelam lebih dalam atau naik ke permukaan apabila menemui arus yang tidak mampu dilawannya Arus akan mempengaruhi kepadatan ikan baik secara langsung maupun tidak langsung (terkait dg akumulasi dan terpencarnya makanan ) Arus berpengaruh thd distribusi dari ikan, akibat terseretnya telur dr spawning area dan berpindah ke daerah lain.
4

LANJUTAN

3. CAHAYA (light) Cahaya berpengaruh pd perairan, sehingga ada daerah fotik dan Afotik Ikan mempunyai visual capacity yang tidak sama Ikan mempunyai respon terhadap perubahan intensitas cahaya antara 0-0,1 dan 0-0,001 lux, tergantung pada kemampuan beradaptasi. Cahaya dapat mempengaruhi langsung atau tidak langsung terhadap behaviour ikan Cahaya berpengaruh langsung thd ikan dalam mencari makan (terutama untuk ikan yg mengandalkan mata).
5

TAKSIS

Taksis adalah pergerakan pada ikan disebabkan karena pengaruh faktor luar yang menjadi perangsang. Phototaksis adalah perangsang gerakan ikan oleh cahaya/sinar (light) atau ketertarikan ikan terhadap cahaya. Phototaksis dapat ditemukan pada ikan-ikan yang tertarik pada cahaya buatan atau alami, sehingga dapat menjadikan ikan itu beruaya /berpindah tempat. Ikan ikan yg tertarik pada cahaya disebut phototaksis positif. Sedangkan ikan yg menghindarkan diri dari cahaya (buatan/alami) disebut phototaksis negatif.

LANJUTAN

Pengaruh cahaya bisa menyebakan ikan melakukan migrasi. Ada dua macam migrasi yang disebabkan oleh cahaya matahari (alami), yaitu : Diurnal migrations Nocturnal migrations

4. PENGARUH SALINITAS
Variasi salitas di perairan lepas pantai (offshore) relatif sedikit, tetapi diperairan pantai (coastal) relatif besar, karena ada pengaruh yg disebabkan adanya pasokan air tawar dari sungai2 yg bermuara di laut. Variasi tersebut berpengaruh pada proses osmoregulasi (osmotic regulations) dari ikan. Salitas bisa berpengaruh pd proses spawning, terutama untuk ikan pelagik supaya telur-telur bisa tetap terapung, sehingga 88pd waktu akan memijah mencari tempat yang bersalinitas tinggi. Kapan ?

5. PENGARUH UPWELLING DAN DOWN WELLING Upwelling yaitu gerakan masa air dari permukaan menuju ke dasar perairan. Proses upwelling banyak disebabkan oleh angin Upwelling banyak membawa oksigen yg berasal dari lapisan homogen (homogen layer) ditransfer menuju ke dasar perairan Downwelling gerakan masa air dari dasar menuju ke permukaan Gerakan downwelling banyak membawa nutrien (organic matter) dari dasar perairan.

6. PENGARUH GELOMBANG (WAVES), MUSIM DAN MAKANAN


Gelombang bisa membuat ikan yg tadinya berkumpul (schooling) menjadi tersebar (scater) dan menuju ke lapisan yang lebih dalam .. Sehingga sulit ditangkap. Musim (khusus untuk daerah subtropis) akan merubah pola distribusi ikan Demikian juga dengan makanan.

10

HUBUNGAN FISH BEHAVIOUR DENGAN PENANGKAPAN (FISHING)

1. 2. 3.

Dalam bidang penangkapan (fishing), pengaruh beberapa faktor lingkungan terhadap fish behaviour dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : Distribusi Migrasi Schooling

11

DISTRIBUSI
Pengetahuan mengenai distribusi sangat berguna untuk dapat menjawab beberapa pertanyaan sehubungan dg pencarian ikan-ikan dan teknik penangkapan sbb : 1) Dimana ikan berada ? 2) Kapan ikan muncul pd suatu tempat tertentu ? 3) Apa yg menyebabkan ikan berkumpul pd suatu fishing ground ? Bagaimana sifatnya ? Menyebar atau berkumpul ? 4) Apakah keberadaan ikan tersebut menetap, sementara atau sekedar lewat saja ? 5) Apa saja aktifitas ikan2 tsb di fishing ground ? Mencari makan ? Membuat sarang ? Memijah ? 6) Bagaimana reaksi ikan tsb terhadap faktor2 yg ada disekitarnya ? Seperti rangsangan mekanik, cahaya dsb ?

12

MIGRASI
Kemana ikan pergi ? Species ikan kadang pergi meninggalkan daerahnya, dalam suatu perjalanan yang panjang/jauh dan lama Kadang-kadang hanya pergi menuju ke spawning ground (spawning area) dan setelah selesai kembali lagi Kadang-kadang menuju ke feeding ground (feeding area) dan kembali lagi. Apabila kondisi lingkungan asal tidak memungkinkan untuk kelangsungan hidupnya, maka ikan pergi dan tidak kembali lagi.

13

SCHOOLING (BERGEROMBOL)
Pengetahuan mengenai schooling behaviour banyak hubungannya dg peningkatan kemampuan penangkapan dari fishing gear Pertimbangan effisiensi dari fishing method, ikan bisa tertangkap dalam jumlah besar sehingga usaha bisa ekonomis. Apa yang harus dilihat ? - Bentuk - Densitas - Arah gerakan - Reaksi terhadap lingkungan/Kestabilannya.

14

HUBUNGAN FISH BEHAVIOUR DENGAN PERKEMBANGAN TEKNIK PENANGKAPAN

Pengetahuan mengenai fish behaviour (natural behaviour) serta penerapannya , akan sangat berguna sekali bagi perkembangan teknik dalam bidang perikanan tangkap yang modern. Perkembangan di dalam bidang perikanan tangkap, akan menciptakan mata rantai bagi perkembangan dalam bidang lain. Perkembangan teknik , misalnya dalam alat tangkap ( gear), tidak hanya mengenai bentuk dan konstruksi (fishing method) alat tangkap (fishing gear) saja tapi didukung oleh penelitian2 tentang net material yang mendukungnya. Pengoperasian alat tangkap (fishing tactic), tidak hanya terkait dg pengoperasian alat saja, tapi juga pengetahuan bagaimana bisa menemukan ikan dan hewan2 air lainnya dan tahu bagaimana caranya mempengaruhi behaviour ikan yg menjadi tujuan, agar dapat memperbesar effisiensi suatu fishing method. Fishing boat tidaklah hanya merupakan suatu benda terapung yang dipakai untuk menangkap ikan, akan tetapi desain, konstruksi serta kelengkapannya harus bisa mendukung bagi kegiatan operasi penangkapan ikan di laut.
15

SKEMA HUBUNGAN FISH BEHAVIOUR DENGAN FISHING

Fishing Tactic

Fishing Gear Fish Behaviour Fishing Method Fishing Boat

Fishing Gear Material

16

HUBUNGAN FISH BEHAVIOUR DENGAN KLASIFIKASI GEAR DAN METHOD


Fishing without gear Organisme perairan kadang2 bisa ditangkap tanpa menggunakan alat, terutama pada perairan yg dangkal. Misalnya : pengumpulan seaweeds, kerang2an. Bisa dg menyelam atau tanpa menyelam. 2. Fishing with wounding gear Menggunakan alat agar supaya tangan manusia dapat menjangkau lebih jauh, maka diciptakan alat2 seperti : Tombak, senapan dll. 3. Line fishing : hand line, vertikal line, long line, trolling, dll 4. Fishing with traps : bubu, traps pots, dll.
1.

17

LANJUTAN

5.

6.

7.

8.
9. 10. 11. 12. 13.

Fishing with net bags fixed mouth : sudu, serok, seser, dll. Fishing with dragged gear : Untuk menangkap shellfish, trawl, cantrang, dll. Seining : payang, beach seine, dll. Fishing with surrounding nets : Lampara, purse seine. Fishing with drift in nets : jaring hanyut Fishing with lift nets : bagan, anco Fishing with falling nets : jala Fishing with gill nets : jaring insang Fishing with tangle nets : tertangkap dg terpuntal-puntal (entangle), seperti trammel net
18

PERKEMBANGAN FISHING METHODS DALAM HUBUNGANNYA DENGAN BEHAVIOUR IKAN

a.

b.

c.

d.

Taktik untuk dapat membawa ikan kedalam posisi yang dikehendaki atau masuk dalam catch area dari alat tangkap, sangat tergantung pada jenis ikan, kondisi phisiologis ikan, dan musim. Taktik yang dipergunakan, menurut Von Brandt (1970) adalah sebagai berikut : Fish attraction, yaitu metoda untuk menarik perhatian ikan serta mengumpulkannya sehingga masuk dalam area tangkap. Fish frightening, yaitu metoda mengejutkan ikan, sehinggga ikan masuk ke dalam wilayah tangkap Inducing fish to jump, yaitu metoda yang mengusahakan ikan agar meloncat Stupefying, yaitu metoda memabukkan ikan.

19

FISH ATTRACTION
Untuk menarik perhatian ikan, bisa menggunakan cara-cara tertentu yang bisa merangsang perhatian ikan dan menghasilkan respon langsung dari ikan tersebut. Besar kecilnya rangsangan akan tergantung pada sifat rangsangan yang dipergunakan, kondisi yang sesuai, serta sifat ikan itu sendiri. Penerapan dari berbagai metoda untuk menarik perhatian ikan, harus disesuaikan dengan alat tangkap yang digunakan dan sifat-sifat khusus yang akan mempengaruhi behaviour ikan tersebut.

20

LANJUTAN .

Ada beberapa cara untuk menarik perhatian ikan : a. Chemical bait : merangsang saraf penciuman dengan bau/rasa b. Optikal bait : merangsang penglihatan, sebagai akibat dari bentuk, gerakan, maupun warna. c. Acoustic bait : merangsang saraf pendengaran d. Shadding bait : memberi tempat perlindungan/naungan.
21

FISH FRIGHTENING
Ada beberapa cara untuk mengejutkan ikan supaya ikan bisa masuk ke alat tangkap : a. Accoustic frightening : mengejutkan ikan dengan menggunakan suara yang bisa merangsang pendengaran ikan. b. Optical frightening : mengejutkan ikan dengan memanfaatkan respon negatif ikan terhadap cahaya (phototaxis negatif). Ikan biasanya sensitif terhadap perubahan intensitas dan panjang gelombang cahaya yang berbeda dan tiba-tiba. c. Electrical frightening : mengejutkan ikan dengan menggunakan arus listrik. Alat ini banyak digunakan untuk memanen udang di tambak

22

INDUCING FISH TO JUMP

Banyak jenis ikan yang dapat melakukan loncatan di atas permukaan air, seperti : Ikan Salmon (Oncorhynchus sp.) Famuli Cyprinidae Mackerels Belanak (Mugilidae) Ikan terbang (Famili Exocoetidae), dll. Loncatan-loncatan tersebut dilakukan dalam rangka menangkap mangsa, membebaskan diri dari predator dan terkadang juga ikan melakukan loncatan untuk dapat melewati berbagai rintangan
23

STUPEFYING

a.
b. c.

Metoda membius atau memabukkan ikan sebagai usaha mencegah mereka melarikan diri dari area tangkap dan sering digunakan untuk menangkap ikan di perairan air tawar. Ada beberapa metoda sebagai berikut : Mechanical narcosis : pembiusan secara mekanis Chemical narcosis : pembiusan secara kimiawi Electrical narcosis : pembiusan dengan menggunakan arus listrik, biasa digunakan untuk menangkap ikan paus dan organisme yg bersembunyi di dalamlobang.
24

FISHING GEAR MATERIAL

Daftar Pustaka :
-Murdiyanto,

B. 1980. Suatu Pengenalan Tentang Fishing Gear Material. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
-Kristjonsson,

H. 1981. Modern Fishing Gear of The World. Fishing News (Books) Ltd. Ludgate House, 110 Fleet Street London, England.
25

PENGERTIAN UMUM
Fishing gear material dalam arti luas meliputi alatalat atau komponen jaring yang digunakan untuk usaha penangkapan ikan Dalam batasan yang lebih terperinci, fishing gear material mempunyai pengertian segala bahan ataupun material yang turut serta menjadi satu kesatuan membentuk alat penangkapan ikan secara lengkap, hingga siap digunakan dalam operasi penangkapan. Secara khusus penekanannya pada : Bahan jaring (netting twine) dan jaring (netting/webbing).

26

KARAKTERISTIK DARI NETTING TWINE


Mempunyai ketahanan terhadap tarikan, lengkungan, simpulan,gesekan, dan lain2 Halus dan flexible Mempunyai panjang yg cukup Mempunyai besar/diameter yang sama atau homogen Sedikit sekali menyerap air Tahan terhadap pembusukan Mempunyai sifat tidak berubah akibat cuaca Stabil dalam bentuk, setelah dibentuk menjadi jaring Mempunyai sifat transparansi yg tinggi.

27

BAHAN (MATERIAL) TEXTILE FIBRES


Bahan

atau material dari serat (fiber) dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : 1. Natural Fibre (serat alami) 2. Chemical Fibres/Synthetic Fibres 3. Inorganic Fibres

28

NATURAL FIBRES (SERAT ALAMI)


1.

a.
b. c. 2. a. b. c.

Vegetable fibres Seed fibres (cotton, kapok randu) Stalk fibres (flax, hemp, jute, kennaf, ramie) Leaf fibres (sisal, manila) Animal fibres Wool Hair Silk

29

CHEMICAL FIBRES (SYNTHETIC FIBRES)

1.
a. b. c. 2. a. b.

Synthetic polymers Polycondensation compounds Polyester (terylene, dacron, trivera) Polyamide (nilon, kapron, enkalon, amilan) Mixed polymetries (Vinyon, saran) Polymeric compounds Polyvinyl alcohol (kuralon, cremona, vinylon) Polyethylene (teflon, polythene)

30

INORGANIC FIBRES
Glass

Fibres Quartz Fibres Basalt Fibres Asbestos Fibres

31

BAHAN DASAR PEMBENTUK JARING


Bahan dasar daripada netting twine (benang jaring) adalah fiber Apabila fiber dipintal (spun) akan menghasilkan yarn. Jenis-jenis yarn dapat digolongkan menjadi : a. Discontinuous fibres (staple fibres) adalah fiber yang terputus-putus. b. Continuous filament, adalah filament yang tidak terputus-putus. Filamen ini apabila digabungkan dan dipilin akan membentuk filamen yarn atau multifilamenf yarn. c. Monofilament

32

BAGAN /SKEMA PEMBENTUKAN TWINE


Fiber

Fiber

Yarn

Strand

Thread

Fiber

Yarn

Strand

Twine

Yarn

Strand

Rope

33

PENJELASAN DARI BAGAN.


Dari bagan/skema bisa dijelaskan sebagai berikut : Apabila sejumlah fibre dipilin (twisted) akan menjadi yarn. Beberapa yarn dipilin akan menjadi strand. Kemudian beberapa strand dipilin, akan menjadi satu thread, twine atau rope. Lazimnya istilah thread dipakai untuk yg berukuran kecil, twine untuk yang berukuran sedang, sedangkan rope untuk yang berukuran lebih besar.

34

KONSTRUKSI TWINE
Penampang 2-strand

Penampang 4-strand Penampang 3- strand

35

ARAH PUTARAN PILINAN (DIRECTION OF TWIST)


Z- twist (kiri) S- twist (kanan)

36

KEKUATAN KONSTRUKSI TWINE 2-STRAND


Keuntungan : - Konstruksi tersebut tidak akan mengakibatkan adanya displacement antara strand yang satu mendesak strand yang lain.

Keburukannya : - Apabila pilinan dari pada salah satu strand menjadi kendur, maka beban twine akan ditanggung oleh strand yang satunya lagi

37

KEKUATAN KONSTRUKSI TWINE 3-STRAND


Keuntungan : - Penampang (cross section) mempunyai bentuk segi tiga,dan berkemungkinan menjadi bulat (round), dibandingkan twine 2strand. Konstruksi demikian merupakan konstruksi yang stabil, sehingga bebas dari distorsion

Kerugiannya : - Masih terdapat kemungkinan terjadinya penindihan antara strand yang satu terhadap yg lain, meskipun kecil.

38

KEKUATAN KONSTRUKSI TWINE 4-STRAND

39

CARA PEMINTALAN/PEMILINAN

1.

2.

3.

Cara pemintalan netting twine ada 3 cara : Folded yarn (plied yarn) : netting twine yang dibentuk dari dua atau lebih single yarn yang terpilin (twisted) secara sekali pilin (single twisting operation). Cable yarn : netting twine dibentuk dengan dua atau lebih pemilinan. Pertama adalah pemilinan dua atau lebih single yarn membentuk folded yarn, dan kemudian pemilinan dua atau lebih folded yarn, sehingga membentuk cable yarn. Braided yarn : Beberapa folded yarn digabung dan dilakukan braiding process, sehingga membentuk braided twine.
40

SIFAT FISIKA DARI TWINE

a.

Sifat fisika dari material pembentuk twine berbedabeda tergantung pada jenis material . Hal ini menyebabkan adanya keunggulan dari satu material dengan material yang lain, di dalam suatu tujuan penggunaan tertentu. Sifat fisika adalah sbb : Density Berat per satuan volume, dimana berat dalam gram dan volume dalam cm kubik, dan temperatur 4C. Ratio antara density material dengan density air pada temperatur 4C disebut sebagai specific gravity.

41

LANJUTAN

b. Strength Adalah besarnya beban yang diperlukan untuk memutuskan twine atau yarn yang bersangkutan. c. Elastic Sifat-sifat elastic tersebut adalah extensibility (daya mulur). Dan elastic recovery (daya pulih), apabila terhadap twine diberikan stress (tekanan) atau tension (tarikan), maka material tersebut akan memanjang, dan apabila tekanan atau tarikan dihilangkan maka akan kembali lagi seperti semula. d. Moisture content Moisture content adalah kandungan air di dalam material. Hal ini akan berpengaruh terhadap : berat, swelling (penggembungan), rigidity (kekakuan).
42

CONTOH NILAI DENSITY DARI MATERIAL (TEXTILE FIBRES)


Natural fibres Cotton Density (gr/cm3) 1,47 1,56 Synthetic fiber Polyamide Density(gr/cm3) 1,12 -1,15

Wool
Ramie Natural silk

1,31 1,32
1,50 1,52 1,25 1,37

Polyester
Polyethelene Polyvinylchloride

1,38 1,40
0,92 1,35 1,72

43

METODE TEST UNTUK FISHING GEAR MATERIAL ( TWINE DAN NETTING )

1. 2. 3.

4.
5. 6.

Untuk material jaring yang terbuat dari synthetic fiber, yang perlu diketahui adalah meneliti sifat-sifat fisik dari material baik yang berupa twine (benang) maupun netting (webbing/jaring). Sedangkan untuk material jaring yang terbuat dari natural fiber, perlu ditambahkan test biologi. Test fisik bahan dari synthetic fiber yang perlu dilakukan adalah : Berat material kering (dry weight) dan berat material basah (wet weight) di udara Berat material di dalam air Thickness (ketebalan/diameter) Jumlah Yarn (S) = 0,5960 x L/W Denier (D) = 9000 x W/L Ply number (jumlah ply)
44

LANJUTAN .
7. 8.

9.

10. 11.

12.

Twist direction (arah pilinan) Twine construction : Jumlah pilin per satu satuan panjang Twisting shrinkage : adalah perbedaan panjang twine sebelum dan sesudah dipilin (twisted). Rumusnya : TS (%) = (L2-L1)/L1 x 100. dimana : L1= panjang pilinan benang dan L2 adalah panjang benang setelah pilin dilepaskan. Breaking strength Shrinkage dan lengthening : Pada umumnya twine akan mengalami perubahan panjang (lengthening) atau bertambah pendek (nyusut/shrinkage), akibat perendaman air laut yang berlangsung terus menerus, atau akibat zat pengawet/pewarna. Stiffness (tingkat keausan) 45

LANJUTAN
13.

14.

15.

Abrasion resistance : Abrasi atau gesekan dapat terjadi dalam dua hal, yaitu : 1). Abrasi antara material dengan objek yang lebih keras, seperti dasar laut, badan kapal dsb. 2) Abrasi antara twine itu sendiri. Knot strength : dipengaruhi oleh jenis simpul (knot), seperti : english knot, reef knot (square knot), double english knot, lock knot dan knot less. Sinking speed : adalah kecepatan tenggelam dari pada twine.

46

PHYSICAL TEST UNTUK NET (WEBBING/JARING)

a.

b. -

Menurut strukrur atau konstruksinya, baik sebagai hasil pembuatan dengan tangan ataupun pabrik (manufactur), maka dikenal berbagai macam type jaring, yaitu : Knotted netting : jaring dibentuk dengan membuat simpulsimpul, sehingga terbentuk mata jaring (mesh) Knotless netting : jaring dibentuk tanpa simpul. Dimensi jaring : Panjang (meter), jaring diukur dalam keadaan stretch. Atau diukur berdasarkan jumlah mata jaring (mesh) ke arah horizontal. Lebar jaring biasanya diukur berdasarkan jumlah mata jaring ke arah vertikal (mesh depth).
47

GAYA HIDRODINAMIKA DAN DISAIN ALAT TANGKAP

GAYA HIDRODINAMIKA

DISAIN ALAT TANGKAP

SKALA USAHA

FISHING BOAT
48

GAYA HIDRODINAMIKA
1.

Gaya hidrodinamika adalah gaya yang bekerja pada alat tangkap selama berada di dalam air. Ada dua macam gaya hidrodinamika : Gaya eksternal (external force) : Adalah gaya yang timbul yang disebabkan oleh pengaruh luar, seperti tekanan air, gesekan terhadap dasar perairan, gaya yang dibangkitkan oleh ikan yang tertangkap, pengaruh tarikan dan sebagainya. -Setiap alat tangkap mempunyai spesifikasi dari masing2 gaya yang timbul pd waktu melakukan operasi penangkapan. -Gaya ekternal yang muncul pada saat pengoperasian dari alat tangkap adalah berbeda pada situasi yang berbeda. Semakin besar luas dari bagian jaring yg berada di dalam air maka gaya eksternal akan semakin besar. Penyebaran gaya ekternal tidak sama pada setiap bagian dari alat tangkap.

2. .
49

LANJUTAN
2.

Internal Force (gaya internal) : Adalah gaya yang timbul akibat adanya berat dari alat pada saat berada dalam air. Gravitational force : adalah berat dari alat tangkap dan bagian-bagiannya. Gaya ini mengarah ke bawah sepanjang garis vertikal untuk semua posisi dari alat tangkap. Hydrostatic force : ditentukan oleh tekanan air pada permukaan alat tangkap (fishing gear) dan bagianbagiannya dikurangi gaya vertikal yang mengarah ke atas (sering disebut daya apung atau buoyancy). Gaya P adalah berat alat tangkap dan gaya D adalah dari buoyancy dg mengikuti persamaan sbb:
50

LANJUTAN

P=V

dan D = w V

Dimana V = volume alat tangkap (m3) = berat volumetrik alat tangkap (kg/m3) = berat volumetrik dr air (kg/m3) P dan D bekerja pada satu garis lurus, yang besarnya berbeda dan arahnya berlawanan. Resultantenya adalah : Q = P D, dimana Q adalah berat alat tangkap di dalam air. Atau Q = V - V = (- )V = (- / ) P Bila berat volumetrik alat tangkap lebih kecil dari berat volumetrik air, maka Q adalah negatif. Sehingga alat tangkap akan mengapung. Nilai : ( - )/ , menunjukkan berapa kali berat alat tangkap di air apakah lebih besar atau lebih kecil dari beratnya di udara. Jadi nilainya bisa negatif atau 51 positif.
w w

LANJUTAN ..

Apabila D>P dan apabila D < P D Q (-)

Q (+) P P
52

EKSTERNAL FORCE YG BEKERJA PADA ALAT TANGKAP


I II III IV

buoyancy

pull Berat

53

DISAIN ALAT TANGKAP

1.

2.

Berdasarkan pada srtuktur bahan pembentuknya yang dominan, alat tangkap dikelompokkan menjadi dua, yaitu : Lines /pancing : hand line, long line, vertikal long line, bottom long line dan pole and line. Netting/webbing : gill net, tramel net, purse seine, payang, cantrang, trawl, dll.

54

LANJUTAN .

Disain alat tangkap mengikuti pola dari behaviour ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dan kondisi oceanografis perairan setempat. Dasar penentuan disain alat tangkap adalah dengan memperhatikan faktor teknis dan ekonomis. Faktor teknis terkait dengan kondisi oseanografis lingkungan perairan setempat, seperti kedalaman, arus, gelombang. Faktor ekonomis terkait dengan pemilihan material yang digunakan dan ukuran dari alat tangkap tersebut.

55

DISAIN KELOMPOK : LINES

Kelompok Lines adalah disain alat tangkap yang paling sederhana, dan yang perlu diperhatikan adalah : kekuatan dan ukuran (panjang dan diameter) line (biasanya menggunakan material mono filament). Untuk menjangkau kedalaman tertentu dan menjaga stabilitas dari tekanan arus perairan maka perlu diberi pemberat yang bisa memberikan sinking power tertentu, dan juga diberi buoy (pelampung) untuk memberikan daya apung (buoyancy) sesuai dengan kebutuhan. Untuk meredam gaya yang disebabkan oleh ikan yang tertangkap, perlu diberi Swifel sebagai alat peredam. Pada bagian ujung diikatkan mata pancing (hook), yang ukurannya disesuaikan dg ikan yang mau ditangkap.
56

CONTOH ALAT TANGKAP LINES


1.

Hand line
Stik (joran)

Swifel

Mata pancing (hook)

57

Lanjutan

2. Long lines

1 basket (250 m)

Buoy & flag

20 m Main line

Branch line (12m)

50 m

Swivel Jml basket : 100-120 Jml mata pancing per basket : 4 bh Model ikatan/rangkaian : Sekiyama 58

Lanjutan

Vertikal Long lines


Buoy & flag

Branch line

main line

Sinker (pemberat

59

LANJUTAN .

Bottom long line

buoy

pemberat

60

DISAIN KELOMPOK : WEBBING/NETTING


Twine

Webbing/Netting

Bahan :
Panjang 100 m (mesh) (strecth) depth 100 mata

61

BENTUK ALAT TANGKAP BERBASIS WEBBING/NETTING

Bentuk dan fungsi alat tangkap yang berbasis webbing/netting a. Alat tangkap yang berfungsi untuk menjerat (gilled) dan memuntal (entangel) berbentuk empat persegi panjang, contoh : gill net b. Alat tangkap yang berfungsi menghadang dan mengurung schooling ikan, bisa berbentuk trapesium c. Alat tangkap yang berfungsi menyaring (filtering) maupun menyerok (scooping), berbentuk kantong (purse) atau tabung (tube) yang mengerucut, contoh : trawl, cantrang, payang, serok/seser, dll.

62

MATERIAL DISAIN

Material yg dibutuhkan : Float (pelampung) berfungsi sbg daya apung (buoyancy) Rope (tali temali) berfungsi sebagai penguat, pengikat dan mengangkat/menarik. Pemberat (sinker) sebagai bemberat /daya tenggelam (sinking power). Bahan jaring (webbing/netting)

63

DISAIN
a.

Alat tangkap penjerat


Tali pelampung (flaot line) Tali ris (webbing line)

Tali ris bawah

Bagaimana supaya alat tangkap bisa efektif menjerat ikan ? a mesh

64

MENGHITUNG HANG-IN RATIO ( LAWAN: SHORTENING)


a. b. c.

Penentuan Hang-in ratio adalah untuk : Memudahkan ikan terjerat dan terpuntal Benang jaring (twine) tidak mudah putus Menentukan kebutuhan webbing yang digunakan
x= ?
hang-in ratio

Shortening

Hang-in ratio = 2L - X / 2L

= ( 1 - cos 100%

)x

2L

Misal : HIR = 0,5 Apa artinya ?


65

KAPAL PERIKANAN (FISHING BOAT)


Kapal perikanan atau kapal ikan atau fishing boats atau fishing vessel atau fishing craft dan ship. Kapal perikanan adalah kapal yang dipergunakan dalam usaha menangkap atau mengumpulkan aquatic resources , usaha budidaya, atau pekerjaan yang terkait dengan perikanan. Kapal perikanan mempunyai jenis dan bentuk yang berbeda-beda, karena tujuan usaha, kondisi perairan dan budaya masyarakat setempat.

66

PERATURAN

Fishing boat dapat dikenakan dua peraturan, yaitu : a. Sebagai sarana produksi yang bekerja di perairan umum, maka di atur oleh UU tentang perikanan : (DKP) b. Sebagai alat transportasi di air, maka fishing boat dikenakan peraturan pelayaran oleh Departeman Perhubungan : Syahbandar (perhubungan laut), keamanan di laut (Pol air)

67

JENIS-JENIS KAPAL PERIKANAN : BERDASARKAN FUNGSINYA


1.

2.

3.

4.

Kapal khusus untuk penangkapan ikan : trawler, seiner, gill netter, long liner, pole and liner, dll. Kapal yang mempunyai fasilitas prosesing, seperti : Factory Ships Kapal yang khusus untuk mengangkut hasil tangkapan dari fishing ground ke tempat pendaratan ikan : Carrier boat (fish carrier) atau mother boat. Kapal yang khusus digunakan untuk eksperimen, survey, research dan pelatihan (training)
68

JENIS KAPAL PERIKANAN : BERDASARKAN MATERIAL


Kapal kayu Kapal besi Kapal Fiber Glass Kapal ferro cement

69

JENIS KAPAL PERIKANAN : BERDASARKAN UKURAN (SIZE) DAN MESIN (ENGINE)


a.

b.

c.

Small boat : biasanya terbuat dari kayu, fiber glass atau ferro cement dan beroperasi di sekitar pantai (coastal fisheries), bisa menggunakan layar atau mesin ukuran kecil (outboard engine), ukuran < 10 GT. Medium boat : biasanya terbuat dari kayu, fiber glass, atau besi. Menggunakan inboard engine dan beroperasi di lepas pantai atau laut dalam (deep sea), ukuran antara >10 GT-100 GT. Large boat : Terbuat dari besi dan beroperasi di laut dalam, ukuran >100 GT.
70

KARAKTERISTIK/KEISTIMEWAAN DARI FISHING BOAT Kapal ikan adalah salah satu jenis dari kapal, dengan demikian sifat2 dan sarat2 yang diperlukan oleh suatu kapal, juga diperlukan pula oleh kapal ikan. Ada perbedaan antara kapal ikan (fishing boat) dg kapal penumpang (passenger ship) maupun kapal barang (cargo ship), seperti : - Kapal ikan : menangkap ikan, menyimpan ikan, mengangkut ikan dll, dan tujuan sangat tergantung pada keberadaan fishing ground. - Kapal penumpang/cargo : mengangkut barang atau orang dan tujuannya jelas.

71

KEISTIMEWAAN
1.

2.

3.

4.

Speed : Kecepatan kapal sangat diperlukan, baik untuk menuju ke fishing ground, mengejar gerombolan ikan ataupun pada saat mendarat ke fishing base. Penentuan speed dari kapal harus mempertimbangkan effisiensi baik pada saat menuju ke fishing ground, setting, hauling dan pulang ke fishing base. Maneuverability : Kemampuan berolah gerak. Memutar pada saat setting, gerak maju maupun mundur, sehingga kapal harus lincah. Layak operasi : Fishing boat harus mempunyai ketahanan terhadap angin,gelombang dan arus laut Area pelayaran : Mampu menempuh jarak yang jauh dan kadang2 daerah pelayaran tidak dapat dipastikan, tergantung pada fishing ground. Berbeda dg kapal niaga,yg selalu mengambil jarak terdekat.
72

LANJUTAN ..
5.

6.

7.

8.

Konstruksi : Operasi penangkapan ikan sering menghadapi hadangan gelombang, angin dan arus, dan juga getaran dan berat mesin yg digunakan maka konstruksi harus dibuat sekuat mungkin. Propulsion engine (mesin penggerak) : Mesin penggerak yang ber HP (horse power) besar mempunyai kecenderungan ukurannya besar, maka dg menggunakan mesin yg ber-RPM tinggi, maka ukuran mesin relatif kecil. Handling and processing equipment : Kapal perikanan harus dilengkapi dg ruang penyimpan ikan (palka) yg berpendingin, baik yg bersekala kecil maupun besar. Fishing equipment : alat bantu/mesin bantu (auxiliary engine) untuk menarik jaring : seperti winch, derek/katrol, line hauler, dsb.
73

PRINCIPAL DIMENSION (UKURAN KAPAL)

Ukuran kapal adalah : Panjang(length/L), Lebar (breadth/B) dan Dalam (depth/D) - Dimensi nya : LxBxD. 1. Panjang (length) a. Length over all (LOA) atau Loa : diukur dari ujung depan(linggi/stern) sampai ujung belakang.

LOA

74

LANJUTAN

b. Length between perpendiculars (LPP) atau Lpp : jarak horisontal antara FP (fore perpendicular) dg AP (after perpendicular) yang terletak pada load water line (LWL/draft). Titik pusat /tengah dari Lpp, sering disebut sebagai titik tengah badan kapal.

LOA

LWL

AP

Lpp

FP
75

LANJUTAN .

2. Lebar (Breadth/B) : Lebar kapal diukur dari bagian yg terlebar. 3. Dalam (Depth/D) : jarak vertikal diukur dari dek sampai lunas (keel) 4. Draft (d) : adalah bagian kapal yang berada di dalam air/terendam. Besar kecilnya nilai d tergantung pada besar kecilnya muatan kapal. 5. Trim : Perbedaan antara draft pada haluan dengan buritan. Untuk mencegah gelombang jangan masuk ke geladak dan juga untuk menambah laju kapal, maka draft pada bagian haluan harus lebih rendah dari buritan. Ada 3 kondisi : a. Trim by stern : Dimana draft pada haluan lebih kecil dari bagian buritan. Kondisi pada saat berangkat. b. Trim by the head : draft pada haluan > buritan. Kondisi pada menuju ke fishing base. c. Trim even keel : draft haluan = buritan. Kondisi pada saat kapal tanpa muatan.

76

JENIS TONASE KAPAL


1.

2.

3.

Net Tonnage (NT) : Menghitung total volume ruangan yang betul-betul digunakan untuk kebutuhan (menyimpan ikan bagi kapal ikan, barang bagi kapal kargo dan penumpang bagi kapal penumpang). NT = Volume ruangan x 0,353 (m). Displacement Tonnage () : Menghitung berat muatan selain, selain beban yang menjadi tujuan penggunaannya (palka ikan, ruang penumpang dan ruang untuk barang) seperti, berat fuel (BBM), air minum, jumlah crew. Dead Weight Tonnage (DWT) : Jumlah berat (ton) seluruh muatan maksimal yang mampu diangkut oleh kapal.

77

LANJUTAN

4.

5.

6.

Gross Tonnage (GT) : Semua kapal ikan menggunakan ukuran GT, dengan cara menghitung volume seluruh ruangan, baik yang ada diatas dek maupun yang ada dibawah dek. Misal volume ruangan diatas dek = a, dan volume ruangan dibawah dek = b., maka GT = (a + b ) x 0,353. atau GT= (LXBXD)x 0,20 - 0,353. Nilai koeffisien pengali tergantung pada : bentuk , material, dan jenis kapal penangkap ikan. Bentuk kapal : Langsing (stream line) dan gemuk, dan dinyatakan dalam block coefficient (Cb). Dan dinyatakan dalam rumus : Cb = V/(LxBxD), dimana V= Volume of displacement, L=panjang, B=lebar dan D= dalam.
78

STABILITY KAPAL IKAN

1. 2. 3.

Stabilitas kapal ikan sangat diperlukan, karena kapal harus melakukan hunting, mencari fishing ground, dimana faktor oceanografis sangat berpengaruh. Stabilitas kapal ikan ditentukan oleh block coeffisien (Cb) dari kapal. Bentuk kapal /(Cb) menetukan center of gravity dari kapal tersebut, sedangkan tinggi rendahnya center of gravity sangat menentukan stabilitas dari kapal tersebut. Stabilitas kapal ada 3, yaitu : Stable equilibrium : Jika daya kopel ini dapat mengembalikan kapal tersebut pada keadaan semula. Unstable equilibrium : Jika kapal tersebut terus bergerak kearah miringnya. Neutral equilibrium : Jika kapal tersebut tetap seperti keadaan miring (tidak kembali dan tidak bergerak kearah miring).
79

TRIM Perbedaan antara draft pada buritan dan haluan. Untuk mencegah agar gelombang jangan sampai naik ke geladak, dan juga untuk menambah laju kapal diusahakan agar bagian haluan lebih tinggi terapung diatas air permukaan air dibandingkan dengan bagian buritan. Ada tiga jenis trim : 1. Trim by the stern : Dimana forward draft lebih kecil dari after draft. 2. Trim by the head : Dimana forward draft lebih besar dari after draft. 3. Trim even keel : Dimana forward draft sama dengan after draft.
80

RESISTANCE
Ada beberapa jenis resistence yaitu frictional resistance, wave-making resistance, eddy-making resistance. Yang terpenting adalah frictional resistance dan wave-making resistance. Sedangkan eddy-making resistance dan air resistance besarnya dibawah 23% dari total resistance. Kapal ikan dengan low speed, fricsional resistance sampai sekitar 90% dari total resistance. Sebaliknya untuk wave making resistance, semakin tinggi kecepatan maka semakin besar gesekan dengan gelombang. Sehingga sering terjadi kapal ikan dengan high speed, wave making resistancenya mencapai lebih dari 60% dari total resistance.

81

TRAWLER (KAPAL TRAWL)


Trawler dapat dibedakan antara side trawler dan stern trawler atau sering juga dibedakan antara otter trawler dan beam trawler. Side trawler bila towing dan hauling dari fishing gear dilakukan pada lambung (side) kapal dan stern trawler operasi dilakukan dari buritan (stern) kapal. Kapal ini biasanya sangat bervariasi, dari yang puluhan ton sampai ribuan ton. Fishing equipment yang harus ada ialah winch, yang kekuatannya sesuai dengan keperluan. Pada buritan untuk stern trawler terdapat slip way yang digunakan untuk towing dan hauling.

82

FAKTOR-FAKTOR PENTING UNTUK TRAWLER

Pada umumnya trawler mempunyai L yang besar, B agak menyempit dan D besar. Nilai Cb diperkecil, draft pada buritan di perdalam. Dengan memperbesar nilai L akan menguntungkan bagi kecepatan kapal, juga menambah kemampuan untuk membelah gelombang. Nilai B diperkecil, ditinjau dari stability tidaklah menguntungkan sebaliknya dari segi kecepatan akan menguntungkan. Nilai D diperbesar, memungkinkan tubuh/badan kapal dapat terbenam lebih dalam dan bertujuan untuk memperkuat/memperbesar tenaga menarik jaring. Dengan nilai D yang besar, maka freeboard dapat dibuat secukup mungkin juga range of stability-nya dapat diperbesar.

83

LANJUTAN .

Mengenai stability, dalam keadaan bagaimanapun haruslah diusahakan agar center of gravity diperendah. Pada saat menarik jaring, speed-nya sekitar 3-4 knot, selain resistance yang dialami oleh kapal pada saat bergerak, penarikan jaring juga memperbesar resistence sesuai dengan jumlah catch yang terkumpul pada cod end. Dalam hal ini penggunaan mesin ber-RPM kecil adalah sangat penting, karena bisa menguntungkan karena bisa menghemat bahan bakar. Sheer yang tinggi merupakan keistimewaan dari trawler, hal ini menguntungkan bagi ketahanan terhadap gelombang, stability, pembuangan air yang masuk. Tinggi sheer untuk haluan sekitar 3-4% dari L, sedangkan untuk buritan sekitar 1,5-2,0%. Semakin kecil kapal perbandingan ini semakin besar.
84

LANJUTAN

Kapal trawl umumnya draft pada buritan (after draft) diperdalam, dengan maksud agar propeller dapat terbenam lebih dalam, sehingga lebih kuat untuk menarik. Pada umumnya kapal-kapal ikan pada waktu berangkat ke fishing ground adalah trim by stern, sedang pada saat kembali ke fishing port cenderung menjadi trim by head. Akibat dari hal ini, jika normal trim tidak dibuat cukup, maka air kotor yang berada di fish hold tidak mengalir ke buritan, dan menyebabkan catch akan rusak kesegarannya.

85

SKIPJACK &TUNA FISHING BOAT

Skipjack & tuna fishing boat adalah kapal2 ikan yang tujuan usahanya menangkap skipjack (cakalang/Katsuwonus pelamis) dan jenis tuna, termasuk juga jenis2 ikan layaran (sail fish) dan ikan hiu. Fishing method yang digunakan ialah pole & line dengan menggunakanumpan hidup bagi skipjack. Sedangkan untuk menangkap jenis2 tuna, sail fish dan ikan hiu, menggunakan floating long line. Ke dua jenis usaha perikanan ini baik fishing methodnya, demikian pula catch handling-nya berbeda dengan usaha perikanan lainnya. Maka dari segi kapal ikan maka diperlukan pula fising gears, fishing equipment yang berbeda. Misal untuk skipjack pole and line, kapal harus dilengkapi live bait tank, water pump, dan jika kapal ini harus menangkap umpan hidup sendiri, perlengkapan jaringnya harus tersedia.

86

LANJUTAN

Untuk kapal tuna long line, harus dilenkapi line hauler dan tempat penyimpanan umpan (storage), juga tempat menyimpan catch yang menjamin freshness catch dalam jangka waktu yang relatif lama. Untuk coastal ukuran kapal yang digunakan sekitar 20-50 GT dan untuk off-shore diatas 50 GT. Pada umumnya fishing ground untuk jenis2 kapal ini cenderung oceanic, meskipun yang berukuran kecil masih beroperasi sekitar coastal.

87

BEBERAPA FAKTOR YANG PENTING

Untuk kapal-kapal skipjack besarnya dibawah 30 GT adalah yang umum, akan tetapi yang potensiil ialah dalam batas ukuran 50-200 GT. Untuk kapal tuna long line ukuran yang terkecil sekitar 20 GT sedangkan yang besar 1000 GT dimana kapal ini selain melakukan penangkapan sendiri, juga berfungsi sebagai kapal induk. Pada awalnya kapal terbuat dari kayu (wooden ship), tapi sekarang yang diatas 100 GT terbuat dari fiber glass atau besi (steel ship). Karena sifat operasinya yang oceanic, maka bentuk kapal (haluan) haruslah mampu membelah gelombang. Kapal pole & line dibuat khusus live bait tank, tempat memancing pada samping kapal dan pada haluan kapal anjung yang mencuat kedepan.
88

LANJUTAN .

Pada live bait tank, diusahakan agar air laut dapat masuk dan mengalir, berarti draft harus dalam yang berarti bahwa depth kapal harus diusahakan sebesar mungkin, dan diperlukan nilai Cb yang besar. Sheer pada haluan dan buritan diusahakan sebesar mungkin agar ikan2 yang terpancing dalam keadaan hidup dapat menggelinding dan berkumpul pd tengah kapal, dengan demikian handling terhadap catch akan lebih mudah. Pada saat operasi crew akan memancing pada satu sisi kapal, ditinjau dari segi stability maka perlu nilai B diperbesar.

89

LANJUTAN

Kapal tuna long line pada umumnya mempunyai L dan D yang besar. Waktu menarik main line keatas kapal, diperlukan gerakan-gerakan yang lincah dari haluan kapal. Penarikan main line dilakukan dengan line hauler dengan demikian limit L adalah sekitar 60 meter. Jika limit L akan diperbesar lagi, dengan menggunakan variable pitch propeller, active rudder dan lain2 equipment yang khusus. Kapal tuna long line beroperasinya jauh, dengan demikian adalah ideal jika menggunakan mesin penggerak yang mengkonsumsi bahan bakar sekecil mungkin.

90

PURSE SEINER
Purse seiner beroperasi di daerah pantai dan perikanan ini tergolong coastal fisheries. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah jenisjenis ikan pelagic dan tergolong jenis2 yang schooling species antara lain mackerel, sardine, anchovy, skipjack dan tongkol. Dari segi operasi ada yang menggunakan satu kapal (one boat system) dan ada pula yang menggunakan dua kapal (two boat system). Purse seine merupakan fishing gear yang produktif, dan hampir semua negara maju perikanannya menggunakan alat ini.

91

BEBERAPA FAKTOR YANG PENTING

Besar kapal yang terkecil sekitar 5 GT dan yang terbesar 250 GT. Dari sifat operasi, yakni berusaha melingkarkan jaring secepat mungkin, dan untuk mendapatkan turning ability yang besar, maka diusahakan agar nilai L tidak terlalu besar. Pada saat operasi sering terjadi bahwa banyak crew akan berada pada salah satu sisi kapal, berat seluruh crew ditambah berat jaring, maka diperlukan stability yang besar. Untuk menjaga stabilitas, maka nilai B pada purse seiner adalah besar. Depth (D) dari kapal, lebih dikehendaki yang tidak tinggi untuk mencegah agar titik berat (center of gravity) kapal jangan naik. freeboard yang rendah untuk memudahkan pengoperasian jaring.

92

LANJUTAN

Berdasarkan peraturan tentang kapal-kapal ikan, standart untuk jenis-jenis kapal ikan adalah sbb:

L(m)

Designed (GT)
L/B

Steel
B/D LXBXD (m3) L/B

Wooden
B/D LXBXD (m3)

Propulsi on Engine (HP)

>20

<20

50 60 70 5 10 15 20

<4.50 4.60 4.60 <4.50

>2.15 2.10 2.10 >2.15

227 273 317 <87

<4.50 4.60 4.60 <4.50 4.50 4.50 4.50

>2.15 2.10 2.10 <2.35 2.35 2.25 2.15

<217 252 294 < 25 48 72 96

<300 360 420 <45 75 110 150

93

LANJUTAN

Berdasarkan fishing boat inspection law, maka nilai L/B, L/D, dan B/D untuk purse seiner adalah sebagai berikut :
L (m) < 22 > 22 L/B < 4.30 < 4.50 L/D < 10.00 < 11.00 B/D > 2.15 > 2.10

94

LANJUTAN .

Letak B yang terbesar pada purse seiner pada umumnya adalah dihitung L dari ujung haluan. Volume fish hold (m3) dibandingkan dengan kapalkapal ikan lainnya kecil, hal ini disebabkan tumpukan jaring yang banyak dan berat dan juga freeboard yang rendah untuk memudahkan operasi jaring.

95

FISHING METHODS

Berdasarkan kemajuan peradapan manusia, disebabkan letak dan keadaan perairan, maka banyak sekali ragam dan macam dari fishing methods yang diketahui dan dipergunakan oleh manusia. Jika kita membatasi diri pada beberapa fishing method yang terpenting saja, maka dapat disebutkan antara lain ialah : purse seine, trawl, pole and line, long line dan gill net. Fishing methods yang penting, adalah yang mampu menghasilkan jumlah uang yang banyak, dengan tidak perlu memperhitungkan jumlah catch besar atau kecil. Sukarlah untuk mengatakan bahwa sesuatu fishing methods penting, karena penting atau tidaknya sangat dipengaruhi oleh berbagai situasi dan keadaan setempat.
96

PERKEMBANGAN FISHING METHOD

1.

2.

3.

Perkembangan fishing methods sangatlah lambat, sebagai misal dapat kita lihat pada prinsip pancing. Tetapi tidaklah benar jika kita katakan tidak ada perkembangan sama sekali. Semakin berkembang kemajuan peradapan manusia, maka kebutuhan manusiapun akan bertambah ragamnya dan metode penangkapanpun perlahan-lahan ikut berubah. Perubahan usaha penangkapan dari seekor demi seekor kearah usaha penangkapan dalam jumlah banyak. Perubahan dari fishing ground kearah yang lebih jauh dari pantai, sehubungan dengan itu akan terjadi pula perubahan dari depth perairan. Pergantian tenaga manusia dengan tenaga mesin.
97

GILL NET Gill net sering diterjemahkan dengan jaring insang. Istilah gill net didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap gilled (terjerat) pada sekitar operculum-nya pada mata jaring. Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah sasi ami, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkanya ikan2 pada gill net, ialah dengan proses bahwa ikan2 tersebut menusukkan diri-sasu pada jaring ami. Di Indonesia penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutkannya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap misalnya : jaring kuro, jaring udang, jaring tongkol dsb.
98

LANJUTAN

Tertangkapnya ikan2 dengan gill net ialah dengan cara bahwa ikan2 tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring ataupun terbelit-belit (engtangled) pada tubuh jaring. Pada umumnya ikan2 yg menjadi tujuan penangkapan ialah jenis ikan yang baik horizontal migration-nya maupun vertikal migration-nya tidak seberapa aktif, dengan perkataan lain migration dari pada ikan2 tersebut terbatas pada suatu range layer/depth tertentu. Berdasarkan depth dari swimming layer ini lebar jaring ditentukan. Jenis ikan yang umumnya tetangkap dengan gill net ialah jenis2 ikan yang berenang dekat pada permukaan laut.

99

LANJUTAN

Dengan mempertimbangkan sifat2 ikan yang menjadi tujuan penangkapan, lalu menyesuiakannya dengan dalam/dangkal dari renang ruaya ikan-ikan tersebut, dilakukan penghadangan terhadap arah renang dari ikan2 tersebut. Dengan penghadangan ini diharapkan ikan2 itu akan menerobos jaring, dengan demikian ikan2 tersebut akan terjerat (gilled) pada mata jaring ataupun terbelit-belit (engtangled) pada tubuh jaring. Jenis ikan yang terjerat pada mata jaring adalah ikan yang tinggi tubuhnya sama dengan tinggi mesh size didalam air, sedangkan yang terbelit adalah ikan-ikan yang lebih besar ukurannnya dari mata jaring berada didalam air.

100

LANJUTAN

Pada umumnya yang disebutkan dengan gill net ialah jaring dengan empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring. Pada lembaran2 jaring pada bagian atas diletakkan pelanpung (float) dan pada bagian bawah diletakkan pemberat (sinker). Dengan menggunakan dua gaya berlawanan arah , yaitu buoyancy dari float yang bergerak menuju keatas dan sinking power/force dari sinker ditambah dengan berat jaring di dalam air yang bergerak menuju kebawah, maka jaring akan terentang. Perimbangan dua gaya inilah yang akan menentukan baik buruknya rentangan gill net dalam air, yang dipengaruhi gaya dari angin, arus, gerak gelombang.

101

LANJUTAN

Penentuan lebar jaring (jumlah mesh depth) didasarkan antara lain atas pertimbangan terhadap dalamnya swimming layer dari jenis2 ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Sedangkan panjang (jumlah piece yang dipergunakan) tergantung pada situasi operasi penangkapan, ukuran kapal dan kondisi ekonomi pengusaha. Jumlah piece yang dipergunakan akan mempengaruhi besar kecilnya usaha, demikian pula akan berpengaruh pada besar kecilnya catch yang akan diperolehnya.

102

JENIS-JENIS GILL NET


1. 2. 3. 4.

Survace gill net Bottom gill net Drift gill net Encircling gill net atau surrounding gill net

103

SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI OLEH GILL NET

1.

2.

Supaya ikan mudah terjerat (gilled) pada mata jaring, ataupun ikan2 mudah terbelit (entangled) pada jaring, maka baik material yang dipergunakan ataupun pada waktu pembuatan jaring, hendaklah memperhatikan hal2 sbb : Kekakuan dari twine (Rigidity of netting twine): twine yang dipergunakan hendaklah lembut tidak kaku, terutama bagi jaring yang ditujukan untuk menangkap ikan dengan cara engtangled. Ketegangan rentangan tubuh jaring : Yang dimaksud dengan ketegangan rentangan disini ialah baik rentangan kearah lebar maupun rentangan kearah panjang jaring.
104

LANJUTAN

3.

Shortening atau shrinkage Supaya ikan mudah terjerat (gilled) ataupun terbelit (engtangled) pada mata jaring dan juga supaya ikan2 tersebut setelah setelah sekali terjerat pada jaring tidak akan mudah terlepas, maka jaring perlu diberikan shortening yang cukup. Yang dimaksud dengan shortening atau shrinkage ini adalah pengerutan, yaitu beda panjang tubuh jaring dalam keadaan teregang sempurna (strech) dengan panjang jaring setelah dilekatkan pada float line ataupun sinker line, dalam persen (%). Sebagai contoh : misalnya panjang tubuh jaring (webbing) 100 m, setelah diikatkan pada float line menjadi 70 m, maka shorteningnya : (100-70)/100 x 100% = 30 %.

105

LANJUTAN

Untuk jaring yang tertangkapnya ikan dengan cara entangled maka soal shortening memegang peranan penting dan berpengaruh pada hasil tangkapan. Untuk gill net yang ikannya tertangkap secara gilled, nilai shortening bergerak sekitar 30-40%, dan untuk yang tertangkapnya ikan secara entangled maka nilai shortening bergerak sekitar 35-60%. Terkadang shortening yang diberikan pada jaring berbeda pada bagian float line dan sinker line.

106

TINGGI JARING

Yang dimaksudkan dengan istilah tinggi jaring disini ialah jaring antara float line ke sinker line pada saat jaring tersebut terpasang diperairan. Istilah tinggi jaring ini diperlukan untuk membedakannya dengan istilah lebar jaring (mesh depth) yang biasanya diunkapkan dengan suatu jumlah mata ataupun meter. Pada umumnya untuk surface gill net dan drift gill net, jaring lebih besar jika dibandingkan dengan bottom gill net. Jenis jaring yang tertangkapnya ikan secara gilled, lebih besar jika dibandingkan dengan jaring yang tertangkapnya ikan secara entangled.

107

LANJUTAN

Swimming layer dari pada jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan, akan menentukan tinggi jaring. Jika mesh size = 2a, jumlah mata jaring pada lebarnya = n, shortening = s. Maka tinggi gill net dalam air adalah : 2a.n 2 s s . Hendaknya depth dari swimming layer dari jenis ikan yang menjadi tujuan diketahui lebih dulu, barulah kita menentukan tinggi jaring.

108

MESH SIZE DAN BESAR IKAN


Antara mesh size dari gill net dan besar ikan yang terjerat (gilled) terdapat hubungan yang erat sekali. Suatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan2 yang besarnya tertentu batasbatasnya. Dengan kata lain , gill net akan bersifat selektif terhadap besar ukuran dari catch yang diperoleh. Oleh sebab itu untuk mendapatkan catch yang besar jumlahnya pada suatu fishing ground, hendaklah mesh size disesuaikan besarnya dengan besar badan ikan yang jumlahnya terbanyak pada fishing ground. Dengan suatu mesh size yang tertentu, maka luas maksimum dari mesh size tersebut akan tertentu. Mesh size ketika berada didalam air tidaklah mungkin akan mencapai luas maksimum tersebut. Dengan diberikan shortening tertentu (29,38%), secara teoritis mesh size akan mencapai maksimum.

109

LANJUTAN

Jika kita menginginkan ikan yang tertangkap secara terjerat (gilled), yang pada umumnya diketahui bahwa ikan-ikan akan terjerat kebanyakan pada bagian operculumnya, yang dengan demikian luas penampang tubuh ikan antara batas bagian operculum sampat sekitar bagian depan dari dorsalfin, adalah merupakan batas2 luas dari mesh size yang dimaksud. Penentuan besar mesh size juga akan berarti penentuan catch (quality dan quantity) yang dalam hal ini berhubungan pula dengan stock ikan di fishing ground. Pada penentuan besar mesh size, sifat memanjang dan memendek (expansion dan contraction) dari twine yang digunakan sehubungan dg peristiwa water absorption, daya mulur (elongation), elasticity, knot slippage dan gaya2 yang bekerja pada tubuh jaring yg disebabkan oleh gelombang dan arus serta gaya impact sesaat yang disebabkan oleh gelepar2 ikan yang terjerat, haruslah dipertimbangkan.
110

LANJUTAN

Mata jaring yang terbuka secara maksimum, ialah jika kepada keempat simpul ini bekerja gaya2 yang sama besarnya, dua gaya pada arah horizontal berlawanan arah, dan dua gaya dari arah vertikal yang berlawanan arah. Baik besar dan arah dari gaya ini haruslah selalu berada dalam keadaan seimbang sedemikian rupa, biarpun keadaan perairan berubah-ubah, untuk menjaga agar mata jaring tetap terbuka maksimum. Gaya-gaya yg bekerja pada suatu simpul yang tidak sama sama besar dan arahnya, antara lain akan menyebabkan terjadinya knot slipage ataupun putusnya twine pada bagian dekat simpul. Oleh sebab itu, ditinjau dari segi ke stabilan luas mata jaring, maka penentuan jenis simpul akan menjadi penting.

111

LANJUTAN

Webbing yang terbuat dengan simpul flat knot, maka jumlah twine yang dipergunakan akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan webbing yang terbuat dari simpul trawler knot. Dengan demikian maka webbing dengan flat knot akan lebih ringan jika dibandingkan dengan webbing dengan trawler knot. Perbedaan berat yang akan terjadi dari jenis2 webbing ini akan mengikuti, semakin tebal diameter twine dan semakin kecil mesh size yang dipergunakan, maka perbedaan ini akan lebih besar. Pada flat knot, simpul akan mudah terlepas (bergeser, renggang, melonggar, slip), jika ada gaya2 tidak seimbang yang bekerja pada simpul maka akan mengakibatkan mata jaring akan bergeser.

112

LANJUTAN

1.

2.

Pada trawler knot, simpul lebih kuat sehingga simpul akan mengalami peristiwa slip lebih sedikit. Akibat mudah slip pada flat knot maka putusnya twine pada bagian dekat simpul akan lebih sedikit dibandingkan dengan trwaler net. Akibatnya simpul yang slip akan menyebabkan perubahan luas dan bentuk mata jaring. Akibat tidak mudah slip pada trawler net, maka twine pada bagian dekat simpul akan lebih sering putus, hal ini akan mengakibatkan perubahan bentuk mata jaring yang berada disekitarnya. Pada gill net banyak dipakai trawler knot : Simpul tidak mudah slip, yg berarti luas mesh size akan lebih stabil. Mata jaring mudah/bebas untuk terbuka/membuka baik kearah vertical maupun horizontal.

113

WARNA JARING

Warna jaring yang dimaksudkan disini ialah terutama warna dari webbing, karena webbing merupakan bagian terbesar dari jaring. Pada natural fiber, dengan tujuan mencegah pembusukan maka dilakukan pencelupan terhadap jaring. Pada synthetic fiber, pewarnaan sudah dari pabrik, yang dengan demikian kemungkinan mengusahakan warna jaring untuk memperbesar fishing ability ataupun memperbesar catch akan dapat dipenuhi. Warna jaring di dalam air akan dipengaruhi oleh faktor depth dari perairan, transparansi, sinar matahari, sinar bulan. Dan pula sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat terlihat oleh ikan yang berbeda-beda.

114

LANJUTAN

Keberadaan jaring yang terentang didalam air bagi ikan yang sedang berenang adalah sebagai penghalang. Hendaknya warna jaring dibuat sama dengan peraiaran dan jangan membuat warna kontras. Karena tertangkapnya ikan adalah dengan cara gilled dan entangle, maka hendaklah diusahakan bahwa efek jaring sebagai penghadang dibuat sekecil mungkin.

115

PURSE SEINER

Prinsip menangkap ikan dengan purse seine ialah dengan melingkari sesuatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring pada bagian bawah kerucutkan, dengan demikian ikan-ikan akan terkumpul dibagian kantong. Dengan perkataan lain dengan memperkecil lingkup ruang gerak ikan, ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap. Fungsi mata jaring dan webbing adalah sebagai dinding penghadang dan bukan sebagai penjerat ikan. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan dari purse seine ialah ikan2 yang pelagic shoaling species, yang berarti ikan2 tersebut haruslah membentuk sesuatu shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air, dan sangatlah diharapkan agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara ikan dengan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin.

116

LANJUTAN

Dengan perkataan lain dapat juga dikatakan persatuan volume hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. Volume yang terbentuk oleh jaring, akan dibatasi oleh ukuran dari jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan. Jika ikan2 belum terkumpul pada suatu catchable area, ataupun jika ikan2 berada diluar kemampuan tangkap dari jaring, maka haruslah diusahakan agar ikan2 itu datang berkumpul disuatu catchable area. Hal ini dapat ditempuh misalnya dengan penggunaan cahaya, rumpon dan lain sebagainya.

117

BENTUK DAN JENIS

Pada mulanya jenis jaring ini mempunyai kantong (pocket), lama kelamaan berubah dan ternyata bahwa jaring tanpa kantong lebih praktis. Pada garis besarnya jaring terdiri dari bag, float line, wing, lead line (sinker line), purse line, purse ring, bridle. Dengan menarik purse line jaring pada bagian bawah akan menutup. Penjenisan jaring2 ini ada yang mendasarkan pada ada atau tidaknya kantong, dengan perkataan lain jenis perpocket dan tanpa pocket. Tetapi ada juga yang menamakan berdasarkan jumlah kapal yang dugunakan pada saat operasi dilakukan, menjadi one boat purse seine dan two boat purse seine. Ada juga yang menamakan berdasarkan jenis ikan ikan yang menjadi tujuan penangkapan, misalnya sardine purse seine, mackerel pure seine.
118

CARA OPERASI

a. b.

c. -

Pada umumnya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) akan tetapi ada juga yang menggunakan samping kapal. Urutan operasi dapat digambarkan sebagai berikut : Pertama haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu. Pada operasi malam hari, mengumpulkan ikan kepermukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Setelah fish shoal diketemukan perlu diketahui pula swimming direktion, swimming speed, density. Harus diperhitungkan arah dan kecepatan angin dan arus serta serta kemungkinan gerak dari gerombolan ikan. Dalam waktu melingkari gerombolan ikan, kapal dijalankan dengan cepat dengan tujuan supaya gerombolan ikan segera dapat terkepung, setelah selesai mulailah purse line ditarik dan akan menutup bagian bawah jaring, sehingga menyerupai kantong.

119

PERBANDINGAN ANTARA SISTEM ONE BOAT DENGAN TWO BOAT


a.

b.

c.

d. e.

One boat system Dibandingkan dengan two boat system, cara operasi lebih mudah. Pada operasi malam hari menggunakan one boat system lebih mudah, sedangkan two boat system lebih cenderung untuk menangkap jenis2 ikan yang bergerak (mobile) dengan pergerakan yang cepat pada waktu siang hari. Memungkinkan pemakaian kapal yang lebih besar, dengan demikian area operasi akan menjadi lebih luas. Pengaruh cuaca relatif kecil (lebih dapat dikuasai), dengan demikian jumlah kali operasi akan lebih banyak. Menarik jaring, mengangkat jaring, mengangkat ikan, dengan demikian kerja akan lebih efisien. Dengan ukuran jaring yang sama, ukuran kapal akan lebih besar pada one boat system dibandingkan dengan two boat system.
120

LANJUTAN

a.

b.

Two Boat system Teoritis waktu yang diperlukan untuk melingkari gerombolan ikan akan menjadi sekitar seperdua dari waktu yang diperlukan oleh one boat system. Sifat-sifat ikan, kondisi fishing ground (angin, arus, gelombang ), kondisi saat operasi dan lain-lain sebagainya akan mempengaruhi penentuan system akan dipakai. Meskipun telah kita coba memperbandingkan antara one boat system dengan two boat system, dalam pemilihan type mana yang akan dipakai, masihlah banyak hal2 yang perlu diperhitungkan. Kondisi fishing ground, crew number, skill dari crew dan lain sebagainya, akan memberikan pengaruh. Tidaklah akan dikatakan mutlak bahwa one boat system akan unggul dibandingkan dengan two boat system, karena faktor2 ekonomi dan sosial akan merupakan penentu terakhir.

121

ANGLING
Dibandingkan dengan alat2 penangkapan ikan lainnya, alat pancing inilah yang prinsipnya tidak banyak mengalami kemajuan. Dalam teknisnya banyak mengalami perubahan dan kemajuan misalnya tali pancing dibuat tranparan sehingga tidak tampak oleh ikan didalam air, umpan diberi bau-bauan sehingga dapat memberikan rangsangan untuk dimakan dan artificial bait yang bentuknya seperti ikan hidup. Sebagai alat penangkap ikan, alat pancing terdiri dari mata pancing, tali pancing dan umpan, kemudian sebagai pelengkapnya ditambahi joran, pelampung dan pemberat.

122

LANJUTAN .

Secara umum segi2 positif dari perikanan pancing dapat disebutkan antara lain : alat-alat pancing tidak susah dalam strukturnya, dan operasi dapat dilakukan dengan mudah Organisasi usahanya kecil, dengan modal sedikit usaha sudah dapat berjalan Syarat-sarat fishing groundnya relatif sedikit dan dapat dengan mudah memilih Pengaruh cuaca relatif kecil, dengan crew sedikit dapat dilakukan Ikan yang tertangkap seekor demi seekor, sehingga freshness dapat dijamin.
123

LANJUTAN .

Kelemahannya adalah : Dibandingkan dengan perikanan jaring, maka untuk mendapatkan catch yang banyak jumlahnya dalam waktu yang singkat tidaklah mungkin Memerlukan umpan, ada tidaknya umpan akan berpengaruh terhadap jumlah kali operasi yang dapat dilakukan Keahlian perseorangan sangatlah menonjol, sehingga catch yang diperoleh antara satu dengan lainnya tidaklah sama Bersifat pasif.

124

JENIS

Berbeda ikan yang akan menjadi penangkapan maka akan berbeda pula jenis pancing yang digunakan. Dengan demikian struktur pancing juga akan berbeda, karena struktur ini tidak sedemikian complicated, maka terlihatlah banyak sekali variasi dari alat pancing. Sehubungan dengan jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan, maka fishing ground dimana ikan itu berada akan berbeda pula kondisinya, dengan itu pula cara yang mungkin dilakukan akan pula berbeda. Pada garis besarnya perikanan pancing dapat dikelompokkan, sebagai berikut : Pole and line : untuk ikan cakalang (skipjack) Long line : untuk jenis2 ikan tuna Trolling : untuk ikan tongkol Vertikal long line : untuk ikan mackerel, bottom fish Hand line : untuk squid dan lain2.
125

POLE & LINE


Pole and line umum digunakan untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis). Daerah penangkapan untuk indonesia, ialah laut Banda, laut Maluku dan lain sebagainya. Ikan cakalang adalah merupakan ikan yang good swimmer dan kemudian mempunyai sifat voracious (rakus), keadaan sifat inilah yang digunakan dan dimanfaatkan untuk menangkapnya. Ikan ini berenang bergerombol, melakukan ruaya baik sekitar pulau ataupun ruaya jarak jauh, bergerombol biasanya dalam ukuran besar.

126

LANJUTAN

Sesuai dengan sifatnya maka cara menangkapnyapun berbeda, bisa dilihat pada tabel, berikut :
Sifat-sifat -Oceanic, shoaling, gemar pada reef yg tersembunyi, bergerak makan berdasarkan penglihatan. -Pelagis/oceanis Angling -Onshore migration Net Drift (floating) long line Set net, gill net Methods Angling Gears Pole&line, trolling

-Shoaling
Net

Purse seine
127

LANJUTAN .

Untuk menemukan gerombolan ikan cakalang ini ada beberapa petunjuk, misalnya burung2 yang menukik menyambar ke permukaan laut, ikan melompat-lompat ke atas permukaan air, ikut beruaya bersama kayu-kayu hanyut, bersama ikan paus. Sebelum melakukan operasi perlulah terlebih dahulu ditemukan gerombolan ikan. Susunan ikan ini pada layer yang dalam tidaklah diketahui, dari penglihatan mata manusia pada survace layer dapat dibedakan jenis2 gerombolan ikan ini.

128

ALAT DAN CARA OPERASI

Alat pancing terdiri dari joran, mata pancing dan umpan hidup (live bait), untuk tali dipakai nylon monofilament, dan untuk joran dipakai bambu ataupun glass-fibers. Jika ikan makin banyak dan makin bernafsu memakan umpan maka dipakai pancing tanpa umpan dan mata pancing ini tak berkait. Kapal dilengkapai dengan pompa air. Dalam perjalanan menemukan gerombolan ikan diburitan dipasang tonda guna menarik perhatian gerombolan ikan, juga ditebari dengan umpan hidup. Jika gerombolan ikan telah mendekati kapal, lalu air disemprotkan dan operasi penangkapan dimulai. Untuk live bait menggunakan ikan teri, japuh dan tembang.
129

LANJUTAN

Karena sifat ikan ini adalah perenang cepat dan lama waktunya dapat ditarik (attract) dengan tebaran umpan hidup mendekati kapal (dalam batas jarak jangkau joran) adalah terbatas, maka haruslah operasi pemancingan dilakukan dengan secepat mungkin. Untuk itu haruslah operasi penangkapan dilakukan secepat mungkin, yang berarti jumlah nelayan juga akan banyak yang beroperasi di sepanjang lambung kapal. Supaya dalam waktu singkat mencapai hasil banyak, maka diperlukan keahlian dan pengalaman yang lama. Seperti diketahui, jika seekor ikan terlepas kembali ke laut maka gerombolan ikan akan melarikan diri kearah depth yang lebih dalam, meninggalkan kapal, dan untuk menemukan gerombolan baru diperlukan waktu.

130

LONG LINE

Kata long line dapat diterjemahkan dengan rawai prawe. Dengan perikanan long line, sering diartikan langsung perikanan tuna long line, mengingat bahwa tujuan penangkapan utama dari alat ini ialah jenis2 tuna. Longline untuk ikan-ikan tuna pada kenyataannya operasinya selain menangkap jenis2 ikan tuna, juga ikut tertangkap ikan2 layaran, ikan hiu dan lain sebagainya. Jenis-jenis ikan tuna adalah ikan oceanis, yang dengan demikian perikanan tuna long line merupakan perikanan oceanis, yang juga dapat dikatakan perikanan laut bebas. Di perairan Indonesia, fishing ground untuk perikanan ini ialah Laut Banda, Laut Maluku, Samudera Indonesia sampai perairan Andaman dan Nikobar.
131

ALAT DAN CARA OPERASI Alat long line ini terdiri dari : main line, branch line, tali pelampung, bendera, pelampung, tali pancing, pancing dan lain-lain. Antara pelampung dengan pelampung, dipasang branch line sebanyak 4-6 buah. Satuan untuk alat ini biasa disebut basket, yang berarti satu basket terdiri dari 4-6 mata pancing (hooks). Untuk umpan nelayan Jepang menggunakan ikan pacifik saury (Cololabis saira), cumi-cumi dan nelayan Indonesia memakai ikan belanak, kembung, layang dan bandeng. Kapal yang digunakan diperlengkapi dengan line hauler untuk menarik tali pancing.

132

CONTOH LONG LINER

GT (ton) 40 100 240 340 1000

LxBxD (m) 19,40x4,50x1,95 27,40x5,60x2,70 37,50x7,40x3,30 43,00x7,70x3,75 68,00x11,80x5,45

HP 140 400 650 800 2000

Bahan Steel Steel Steel Steel Steel

133

CONTOH LONG LINE

Nama bagian alat

Jumlah hooks antara dua pelampung (satu basket) 5 (buah pancing) 4 (buah pancing) 225,00 m 19,50 4,50 2,25 270,00 m 22,50 11,25 4,50

Main line Float line Branch line Sekiyama (swifel)

134

LANJUTAN

Umumnya kapal-kapal di atas ukuran 350 GT telah dilengkapi dengan quick freezer. Kapal-kapal ukuran kecil (30-100 GT) masih menggunakan kayu (wooden ship), akan tetapi diatas itu sudah menggunakan besi, dengan HP rata-rata sekitar 1,5-2,6 HP/ton. Jumlah nelayan tergantung kepada besar kapal :

GT (ton)

Nelayan (orang)

50 - 100 100 200 200 400 400 600 600

10 25 20 30 30 35 30 45 45
135

HUBUNGAN ANTARA GT, JUMLAH BASKET DAN PANJANG MAIN LINE

GT (ton)

Jumlah basket (basket)

Total line mil km

20 50 70 100 150 200 300

100 150 200 250 350 370 430

14 21 29 36 50 53 62

25,9 38,9 53,7 66,7 92,6 98,2 114,8

136

LANJUTAN

Rata-rata waktu yang dipergunakan untuk melepas pancing (casting) sekitar 0,6 menit/pancing, waktu menarik sekitar 3 menit/pancing. Sekitar 3-4 jam setelah pancing dilepas (dipasang), penarikan dimulai. Jumlah waktu kerja untuk satu kali operasi berkisar sekitar 13-14 jam. Lama waktu yang dipakai pada waktu melepas (casting) dipengaruhi oleh keahlian perorangan crew, kerja sama antar crew, pengaruh cuaca, arus, angin dan gelombang. Demikian pula pada saat menarik (hauling) selain dipengaruhi oleh faktor2 yang telah disebutkan diatas, juga dipengaruhi oleh banyaknya catch yang diperoleh.

137

LANJUTAN

Casting time (waktu melepas pancing) biasanya dimulai pada saat dinihari (03.40-06.40), selesai casting sekitar jam 09.00-11.30, kemudian hauling time (waktu melakukan penarikan) dimulai sekitar jam 12.15-15.25, selesai hauling sekitar jam 00.5003.15. Hal hal yang perlu diperhatikan : - Kerja sama yang teratur dan hati-hati - Setelah selesai rawai dilepas, ujung terakhir diberi pelampung yang berbendera. Long line akan hanyut bersama arus, angin, gelombang. - Hilangnya pancing karena dilindas kapal.

138

LANJUTAN

Nilai fishing ground ini ditentukan oleh hook rate yang dapat dihasilkannya. Hook rate adalah jumlah ikan yang tertangkap (ekor) untuk setiap 100 mata pancing (hooks). Dengan demikian berarti bahwa nilai hook rate makin besar, berarti fishing ground tersebut akan lebih banyak menghasilkan catch. Perhitungan dengan nilai hook rate perlulah pula disertai dengan perhitungan kmposisi catch (catch composition) dan lebih baik jika dilengkapi lagi dengan satuan berat (kg,ton). Untuk tujuan usaha dipakai pula hitungan catch/day, catch/trip.

139

PERBANDINGAN SKIPJACK POLE &LINE DAN TUNA LONG LINE

Keduanya membutuhkan umpan. Fishing ability dipengaruhi oleh ada tidaknya umpan. Keduanya mempunyai hubungan yang erat sekali dengan kondisi perairan, terutama temperature, current, watermass. Pada perikanan skipjack pole &line, sungguhpun fish shoal banyak dijumpai, tetapi jika di fishing ground tersebut terdapat natural bait yang berlimpah-limpah, maka sulit untuk dipancing. Pada perikanan tuna long line, fishing ground adalah lautan bebas, sehingga kompetisi akan lebih sengit. Keahlian memancing pada skipjack pole & line memerlukan latihan. Dari segi usaha, modal akan lebih cepat kembali dibandingkan dengan tuna long line.

140

LIGHT FISHING

Tertariknya ikan pada cahaya sering disebut karena terjadinya peristiwa phototaxis. Cahaya merangsang ikan dan menarik (attract) ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya. Peristiwa ini dimanfaatkan dalam penangkapan ikan yang menggunakan cahaya disebut dengan light fishing. Light fishing adalah dengan memanfaatkan salah satu behaviour ikan (phototaxis) untuk menangkap ikan. Atau dapat dikatakan bahwa dalam light fishing, penangkap ikan tidak seluruhnya memaksakan keinginannya secara paksa untuk menangkap ikan tetapi menyalurkan keinginan ikan sesuai dengan nalurinya untuk ditangkap. Fungsi cahaya dalam penangkapan ikan ini ialah untuk mengumpulkan ikan sampai pada sesuatu catchable area tertentu, lalu penangkapan dilakukan dengan alat jaring ataupun pancing.
141

LANJUTAN .

Contoh light fishing di Indonesia ialah penagkapan ikan lemuru di Selat Bali, bagan diperairan pantai dan lain-lain. Penangkapan dengan pancing misalnya : penangkapan cumi-cumi, mackerel, horse mackerel dan lain sebagainya. Peristiwa berkumpulnya ikan dibawah cahaya, dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Peristiwa langsung : yaitu ikan2 tertarik cahaya lalu berkumpul, 2. Peristiwa tak langsung : yaitu karena ada cahaya maka plankton, ikan-ikan kecil dan lain sebagainya berkumpul,lalu ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan feeding.

142

LANJUTAN

1.

2.

3.

Dengan light fishing ini, kita berhadapan dengan berbagai persoalan2 yang memerlukan penelitian, antara lain ialah sebagai berikut : Penelitian tentang fishing lamp sebagai sumber cahaya (light resourses) Penelitian tentang pemantulan, penyerapan, refraction dan peristiwa fisika dari cahaya yang dihasilkan oleh lampu yang mengenai permukaan air. Hubungan yang ada antara jumlah terang yang terjadi dalam perairan (light intensity, brightness, lux) akibat penyinaran dari fishing lamp dan ikanikan yang berkumpul.
143

LANJUTAN

1.

2.

Hal-hal yang disebutkan diatas dapat pula kita pisahkan menjadi persoalan-persoalan fisika dan biologi. Persoalan-persoalan tersebut dapat kita terakan sebagai berikut : Persoalan fisika cahaya : kuat cahaya (light intensity), warna cahaya (light colour), merambatnya cahaya kedalam air laut. air laut : gelombang, kekeruhan (turbidity), kecerahan (tranparancy), arus dan lain sebagainya. hubungan cahaya dengan air laut : refraction, penyerapan (absorption), penyebaran (scattering), pemantulan dan sebagainya. Persoalan biologi jenis cahaya yang disenangi ikan : berapa besar rangsangan (stimuli) yang harus diberikan, supaya ikan berkumpul dan tidak berusaha untuk melarikan diri dalam jangka waktu tertentu.
144

LANJUTAN

1.

2.

3.

4.

Agar fishing lamp (lampu) dapat memberikan daya guna yang maksimal, diperlukan sarat-sarat, antara lain sebagai berikut : Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak yang jauh (horozontal) maupun vertikal. Ikan-ikan tersebut hendaklah berkumpul di sekitar sumber cahaya, dan masuk ke dalam catchable area. Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada disekitar lampu pada suatu jangka waktu tertentu. Sekali ikan berkumpul pada sekitar sumber cahaya, hendaklah ikan-ikan tersebut jangan melarikan diri atau menyebar (escape, disperse).
145

SUMBER CAHAYA

Dengan melalui berbagai perkembangan kemajuan teknologi dewasa ini sumber cahaya adalah listrik. Dilihat dari tempat penggunaannya dapat kita bedakan antara lain lampu yang dipergunakan diatas permukaan air (surface lamp) dan lampu yang dipergunakan didalam air (under water lamp). Jika kita bandingkan antara keduanya, akan dapat kita lihat hal-hal sebagai berlikut : Lampu yang dinyalakan diatas permukaan air : 1. Memerlukan waktu yang lama untuk mengajak ikan berkumpul, 2. Kurang efisien dalam penggunaan cahaya (pengaruh gelombang, pemantulan) 3. Sungguhpun ikan-ikan berkumpul, terhadap cahaya ikan2 ini sukar untuk berada dalam gerakan tenteram (akibat gerakan gelombang, kapal sehingga intensitasnya berubah-ubah).

146

LANJUTAN

1.

2.

3.

4.

Lampu yang dinyalakan di dalam air : Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan ikan lebih pendek, ikan2 lebih cepat dapat dikumpulkan antara lain karena lampu diusahakan tempatnya berdekatan dengan tempatnya ikan Cahaya dapat digunakan dengan efisien, cahaya tidak ada yang memantul ataupun diserap oleh udara, dengan kata lain cahaya dapat dipergunakan hampir seluruhnya, Ikan-ikan mendekati lampu ada kemungkinan berada dalam keadaan tenteram, Ikan-ikan yang sudah berkumpul, jarang untuk bergerak lagi.
147

LANJUTAN

Lampu dibawah air (under water lamp) strukturnya harus kedap air. Terkumpul atau tidaknya ikan tidak bisa dilihat dengan mata biasa, haruslah menggunakan fish finder.

148

STICK HELD DIP NET

Dalam bahasa Jepang stick held dipnet disebut dengan boo-uke-ami, dan selain dari stick-held-dip-net, diketahui pula misalnya yotsude ami yang juga menggunakan cahaya. Cahaya yang dipergunakan dapat pula kita bedakan berdasarkan fungsinya, yaitu cahaya yang dipergunakan untuk mencari gerombolan ikan (search light), untuk menarik ikan dekat ke kapal (attracting fish shoal), untuk menggiring ikan ke tempat operasi penangkapan (leading fish shoal to catchable area) dan untuk meng-konsentrasikan ikan pada tengah-tengah area jaring. Untuk mengkonsentrasikan ikan ke tengah jaring, menggunakan lampu warna merah untuk tujuan agar ikan-ikan yang telah terkonsentrasi naik ke dekat permukaan.

149

LANJUTAN

1. 2.

3.

Jika dilihat dari segi operasi penangkapan, maka untuk kapal-kapal yang dipergunakan dalam operasi saury light fishing, diperlukan syarat2 antara lain : Water line tidak terlalu dalam, Kapal tidak oleng dan tidak angguk terhadap gaya gelombang, arus dan angin. Freeboard yang rendah.

150

CARA OPERASI

Sesampainya di fishing ground, maka search light diusahakan agar ikan-ikan yang berada jauh dapat ditarik (attract) ke arah dekat kapal. Lampu-lampu kelompok C-G dinyalakan, sampai ikanikan terkumpul dalam jumlah banyak. Setelah itu jaring diturunkan pada lambung disebelah kiri kapal. Setelah itu lampu kelompok C-G dipadamkan, seraya lampu H dinyalakan, dengan demikian diharapkan fish shoal akan bergerak kearah lampu H. Lampu H dipadamkan seraya lampu I dinyalakan sehingga fish shoal akan bergerak menuju ke lampu I. . Dan seterusnya sampai K. Terakhir lampu kelompok L saja yang menyala. Jaring berada jauh dibawah layer fish shoal dan selanjutnya jaring ditarik.

151

LANJUTAN

Dikatakan bahwa warna merah mempunyai gelombang cahaya yang lebih pendek dari warna blue, oleh sebab itu sinar-sinar merah hanya menembus air dekat permukaan. Operasi dilakukan sejak senja sampai dinidari dan pada saat bulan gelap. Diperairan Indonesia tranparancy adalah tinggi (2035 m), akibatnya ialah bahwa cahaya yang digunakan dalam light fishing akan menembus jauh pada suatu depth tertentu. Ikan-ikan yang berada pada layer tersebut akan kena rangsangan cahaya, dan diharapkan akan dapat ditarik ke arah catchable area.

152

PERALATAN LAMPU DARI SAURY STICK HELD DIP NET (160 GT)
Penggunaa n lampu
Searching fish shoal (A-B) Attracting fish shoal (C-G) Leading fish shoal to catchable area (H-K) Concentracting fish shoal to middle area of net (L-O)

Jenis lampu
Search light

Jumlah Watt
1x3000 1x5000

Watt
3000 5000

Total Watt

8000 Bulb, blue Bulb , blue 6x500 7x500 3000 3500 6500 Bulb, blue Bulb, blue 7x500 5x500 3500 2500 6000

Bulb, blue Bulb, blue

1x500 8x500

500 4000

153

154