Anda di halaman 1dari 6

Daniel Hutahaean 04124705064

Definisi Gingivitis adalah akibat proses peradangan gusi. Biasanya disebabkan oleh plak, dan tanpa plak penyakit gusi tidak dapat terjadi. Ini berarti, dapat disembuhkan bilang rajin membersihkan semua plak dari gigi-giginya. Gingivitis adalah peradangan pada gusi yang ditandai adanya perubahan bentuk dan warna pada gusi, atau gingivitis adalah salah suatu gangguan gigi berupa pembengkakan atau radang pada gusi (gingiva).1 2.1Klasifikasi Gingivitis Gingivitis terdiri dari 5 macam yaitu : a. Gingivitis Marginalis adalah Peradangan gingiva bagian marginal yang merupakan stadium awal dari penyakit periodontal b. Gingivitis Pubertas adalah gingivitis yang sering terjadi pada anak-anak usia pubertas, yang ditandai dengan gejala gingiva mengalami perubahan warna menjadi merah sampai kebiru-biruan, konsistensi gingiva berubah menjadi lunak atau oedematous, licin dan berkilat dan permukaan gingiva, terutama papila interdental yang terlibat terlihat licin dan berkilat. c. Gingivitis Pregnancy adalah gingivitis yang sering terjadi pada ibu hamil biasanya ditandai dengan gejala gingiva cenderung mudah berdarah, baik karena iritasi mekanis maupun secara spontan, gingiva biasanya mengalami perubahan warna menjadi merah terang sampai merah kebiru-biruan dan konsistensi gingiva bebas dan gingiva interdental adalah lunak dan getas (mudah tercabik). d. Scorbutic Gingivitis adalah merupakan gingivitis yang terjadi karena defisiensi vitamin C, ditandai adanya hiperplasi atau ulserasi dan berwarna merah terang atau merah menyala. e. Anug (Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis) merupakan satu-satunya gingivitis yang akut, terjadi sangat mendadak dan cepat meluas. Biasanya terjadi pada masa pergantian gigi di mana anak mempunyai oral hygiene buruk. Nama lain dari Anug adalah Vincents Gingivitis atau Trench Mouth.3 Etiologi Gingivitis Secara umum penyebab penyakit gingiva dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu: a.Faktor lokal b.Faktor sistemik A.Faktor Lokal

Faktor lokal adalah faktor yang berada di sekitar gigi dan jaringan Periodontium a.Faktor Pencetus/utama: Plak bakteri Plak bakteri sering juga disebut sebagai plak dental. Yang di maksudkan dengan plak dental secara umum adalah bakteri yang berhubungan dengan permukaan gigi. b.Faktor Pendorong /predisposisi Beberapa faktor yang berperan sebagai faktor lokal pendorong : Materia alba Materia alba adalah deposit lunak dan transparan, terdiri dari mikroorganisme, leukosit, protein saliva, sel-sel epitel dan deskuamasi dan partikel-partikel makanan. Materi ini bisa melekat ke permukaan gigi maupun restorasi dan gingiva, Debris Makanan Debris makanan harus dibedakan dari impaksi makanan. Debris makanan adalah partikel makanan yang bersisa di mulut akibat tidak tuntas terlarutkan oleh enzim bakteri atau mekanis lidah, bibir dan pipi. Stein Dental Stein dental adalah deposit berpigmen yang melekat pada permukaan gigi. Beberapa bakteri kromogenik menyebabkan stein seperti: stein hitam (black stein) stein hijau (green stein) dan stein jingga (orange stein) Kalkulus Kalkulus atau yang dikenal juga sebagai karang gigi adalah plak bakteri yang telah mengalami mineralisasi atau kalsifikasi. Karies Karies terutama yang berada dekat margin gingiva, karena daerah ini mudah terjadi penumpukan plak bakteri dan deposit lunak lainnya. Faktor lokal fungsional: Gigi yang hilang tanpa diganti, mal oklusi /mal posisi, kebiasaan bemapas dari mulut dan mendorong-dorong dengan lidah, kebiasaan para fungsional serta oklusi yang traumatik B.Faktor Sistemik Faktor sistemik adalah faktor yang dihubungkan dengan kondisi

tubuh, yang dapat mempengaruhi respon periodontium terhadap penyebab lokal. Faktor-faktor sistemik tersebut adalah : Faktor-faktor endokrin (hormonal) meliputi : pubertas, kehamilan dan menopouse, gangguan dan defisiensi nutrisi meliputi: defisiensi vitamin dan defisiensi protein serta obat-obatan meliputi : Obat-obat yang dapat menyebabkan hiperplasia gingiva non inflamatoris dan kontrasepsi hormonal. Faktor-faktor psikologis (emosional), penyakit metabolisme : Diabetes Melitus, gangguan penyakit hematologis : leukimia dan anemia, Penyakit-penyakit yang melemahkan (debilatating disease)5 Gejala Gingivitis Gejala gingivitis, yaitu : 1. Saat menyikat gigi, ada noda darah yang tertinggal pada bulu sikat gigi. 2. Saat meludah, ada darah didalam air liur. 3. Gusi bisa dipisahkan dari gigi menggunakan sikat gigi. 4. Warna gusi mengkilat dan bengkak, kadang-kadang berdarah saat disentuh. 5. Tidak selalu disertai rasa sakit. 6. Terdapat akumulasi disekitar karang gigi.1 Patogenesis Gingivitis Patogenesis gingivitis dimulai dari : a. Tahap Pertama Plak yang terdapat pada gigi didekat gusi menyebabkan gusi menjadi merah (lebih tua dari merah jambu), sedikit membengkak (membulat dan bercahaya, tidak tipis dan berbintik seperti kulit jeruk), mudah berdarah ketika di sikat (karena adanya luka kecil pada poket gusi), tidak ada rasa sakit. b. Tahap Kedua Setelah beberapa bulan atau beberapa tahun peradangan ini berlangsung. plak pada gigi dapat menyebabkan serabut paling atas antara tulang rahang dan akar gigi membusuk, dan ini diikuti dengan hilangnya sebagian tulang rahang pada tempat perlekatan. Poket gusi juga menjadi lebih dalam dengan penurunan tinggi tulang rahang tersebut. Gusi tetap berwarna merah, bengkak dan mudah berdarah ketika disikat. Tetapi tidak terasa sakit. c. Tahap Ketiga Setelah beberapa tahun tanpa pembersihan plak yang baik, dapat terjadi tahap ketiga. Saat ini akan lebih banyak lagi tulang rahang yang rusak dan gusi semakin turun, meskipun tidak secepat kerusakan tulang. Poket gusi menjadi lebih dalam (lebih dari 6 mm). Karena tulang hilang, gigi mulai terasa sedikit goyang, dan gigi depan kadang-kadang mulai bergerak dari posisi semula. Kemerahan, pembengkakan, dan perdarahan masih tetap seperti sebelumnya, dan tetap tidak ada rasa sakit. d. Tahap Terakhir Tahap-tahap ini biasanya terjadi pada usia 40-an atau 50-an tahun, tetapi terkadang dapat lebih awal. Setelah beberapa tahun lagi tetap tanpa pembersihan plak yang baik dan perawatan gusi, tahap terakhir dapat dicapai. Sekarang kebanyakan tulang disekitar gigi telah mengalami kerusakan sehingga beberapa gigi menjadi sangat goyang, dan mulai

sakit. Pada tahap ini merupakan suatu akibat gingivitis yang dibiarkan, sehingga gingivitis terus berlanjut ketahap paling akut yaitu periodontitis.2 Cara Menentukan Gingivitis Indeks yang diperkenalkan oleh Loe dan Silness ini digunakan untuk menilai derajat keparahan inflamasi. Pengukuran dilakukan pada empat sisi gigi geligi yang diperiksa : papila distovestibular, tepi gingiva vestibular, papila mesiovestibular, dan tepi gingiva oral . Kriteria untuk penentuan skor sebagai berikut : No Kriteria 1. Gingiva sehat 2. Inflamasi ringan pada gingiva yang di tandai dengan perubahan warna, sedikit oedema, pada palpasi tidak terjadi pendarahan 3. Inflamasi gingiva sedang, gingiva berwarna merah, oedema dan berkilat, pada palpasi terjadi pendarahan 4. Inflamasi gingiva parah, gingiva berwarna merah menyolok, oedematous, terjadi ulserasi, gingiva cenderung berdarah spontan. Nilai 0 1 2 3

Skor setiap gigi diperoleh dengan menjumlahkan skor keempat sisi yang diperiksa, lalu dibagi dengan empat (jumlah sisi yang dipriksa). Jumlah skor semua gigi yang diperiksa dibagi dengan jumlah gigi yang diperiksa maka diperoleh skor indeks gingiva untuk individu.3 Gingiva indeks Keparahan inflamasi gingiva secara klinis dapat ditentukan dari skor Indeks Gingiva dengan kriteria sebagai berikut3 : Skor indek gingival 0,1 1,0 1,1 2,0 2,1 3,0 Kondisi Gingivitis Gingivitis Gingivitis Gingiva Ringan Sedang Parah

Terapi Gingivitis Dalam upaya penanggulangan gingivitis mencakup 3 aspek yaitu upaya promotif, preventif dan kuratif, yaitu : 1. Upaya Promotif Upaya promotif dalam penanggulangan gingivitis adalah sebagai berikut: a. Dokter gigi dan perawat gigi memberikan informasi tentang kesehatan gigi. b. Memberikan informasi dan pengarahan teknik-teknik pengontrolan plak. c. Mendidik pasien agar pasien mengetahui cara-cara menjaga kebersihan mulutnya 2. Upaya Preventif (pencegahan)

Upaya preventif dalam penanggulangan gingivitis adalah sebagai berikut : a. Menjaga oral hygiene. b. sikat gigi merupakan salah satu cara yang semua orang sudah tahu, mungkin juga sudah dilakukan setiap hari. Jadi yang penting disini adalah pengenalan teknik sikat gigi yang tepat, memotivasi untuk sikat gigi secara teratur dan pemilihan pasta gigi dengan tepat. Teknik sikat gigi yang secara horizontal adalah lazim dikenal umum, dan itu merupakan suatu kesalahan karena dengan cara demikian lambat laun dapat menimbulkan resesi gingival dan abrasi gigi. Lebih lanjut lagi, penyakit-penyakit periondontal akan lebih mudah terjadi. c. Dental floss atau benang gigi meruapakan cara yang akhir-akhir ini mulai banyak diperkenalkan , dan cukup ampuh untuk membersihkan disela-sela gigi. Tapi teknik harus dimengerti dengan tepat karena jikalau tidak, alih-alih mencegah penyakit periodontal, yang terjadi malah melukai gusi dan membuat radang. d. Kontrol ke dokter gigi secara teratur diperlukan sebagai salah satu upaya preventif, karena merekalah ahlinya dan terkadang kita sendiri seringkali luput mengamati perubahan pada gigi dan gusi yang masih kecil. Bagi mereka yang pernah menderita penyakit periodontal disarankan untuk kontrol secara teratur ke dokter gigi setiap 3 bulan sekali. 3. Upaya Kuratif (pengobatan) Upaya kuratif dalam penanggulangan gingivitis yaitu sebagai berikut : a. Scaling merupakan tindakan yang dilakukan untuk membersihkan kalkulus (karang gigi). Kalkulus (karang gigi) adalah deposit yang terkalsifikasi sehingga merekat keras dan tidak hilang dengan sikat gigi. Kalkulus ini terbagi 2 yaitu supragingiva dan subgingiva. Umumnya kalkulus supragingiva berlokasi pada sisi bukal dari gigi-gigi molar rahang atas dan sisi lingual dari gigi-gigi anterior rahang bawah sedangkan kalkulus subgingiva itu berwarna hitam. b. Kuretase merupakan tindakan pembersihan periodontal pocket yang berisi banyak food debris maupun kuman untuk mencegah peradangan lanjut. apabila pocket sedang dalam keadaan akut maka salah satu cara yang dilakukan adalah tindakan kuretase. c. Kumur-kumur antiseptic merupakan bahan aktif yang sering digunakan sebagai kumur-kumur. Yang dijual bebas umumnya berasal dari minyak tumbuh-tumbuhan seperti metal salisilat (seperti pada produk Listerine), sedangkan yang perlu diresepkan dokter adalah Chlorhexidine 0,20% (seperti pada produk Minosep) dan H2O2 1,5% atau 3,0%. Kumur-kumur yang lebih murah dan cukup efektif adalah dengan air garam hangat. Sedangkan kumur-kumur antiseptic yang sering digunakan adalah Chlorhexidine 0.20 %. Kumur-kumur sekurangnya 1 menit sebanyak 10 cc terbukti efektif dalam meredakan proses peradangan pada jaringan periodontal. d. Antibiotik digunakan apabila terbukti keterlibatan kuman baik secara klinis maupun mikrobiologis, maka antibiotic mutlak diperlukan. Pada umumnya antibiotic yang

digunakan pada penyakit-penyakit gigi adalah golongan penisilin karena kuman yang sering menjadi causanya sensitive terhadap golongan ini. Tetapi pada penyakit periodontal, terutama yang lanjut, perlu dipertimbangkan keterlibatan kuman-kuman gram negativ serta anaerob, sehingga dengan demikian pilihan antibiotic jatuh pada tetrasiklin (sering kali digantikan dengan golongan aminopenisilin karena berspectrum luas juga) atau metronidazol karena efektivitas terhadap anaerob. Pemberian dapat berupa per oral maupun lokal seperti gel, tergantung dari luasnya dan tahap proses penyakit dan juga dibantu dengan analgetik - anti inflamasi untuk merdaka gejala simtomatik. e. Kemudian di bantu konsumsi vitamin dan nutrisi seperti buah dan sayur untuk mengembalikan kesehatan gusi. Pada akhirnya perlu diingat bahwa penyakit gingivitis adalah kelainan yang berawal dari plak sehingga kunci sukses dalam upaya preventif adalah kontrol plak. Dengan mengabaikan kontrol plak, tindakan preventif maupun terapi secanggih apapun umumnya akan kurang berhasil.4 Komplikasi Setelah beberapa tahun tanpa pembersihan plak dan perawatan gusi yang baik, maka plak akan bersifat basa. Kalsium akan mengendap pada lapisan plak, terjadilah pengapuran sehingga plak mengeras menjadi kalkulus. Hal ini di sebabkan karena kalkulus, selain mengandung banyak kuman, permukaan yang kasar akan merusak baik gusi maupun jaringan periodontium di bawahnya.2 Daftar Pustaka 1. Rosad, 2009. Gingivitis, Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut, jakarta. Hal : 115-123. 2. .Besford, John, 1996. Mengenal Gigi Anda, Petunjuk Bagi Orang Tua Edisi 2, Jakarta. Hal : 127 130. 3. Daliemunthe, Hamzah Saidina, 2008. Periodonsia, Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, Medan. Hal : 50 51, 105, 118, 124- 125, 158 160, dan 173. 4. Kanal, 2009. Pencegahan Penyakit Periodontal Edisi 2,Jakarta. Hal :130-136. 5. Manson, 1996. Buku Ajar Periodonti Edisi 2, Jakarta. hal : 1, 67 75, dan 107. axelroses