Anda di halaman 1dari 15

Tata Wilayah dan Kota Jakarta Pasca Banjir

Teguh Kurniawan
Dialog Indonesia Siang, TVRI Nasional, Kamis, 24 Januari 2013

Dampak Tata Kota yang buruk terhadap aspek sosial ekonomi


Kota sebagai mesin pertumbuhan daya saing kota kota berkelanjutan (keseimbangan antara pembangunan ekonomi dengan pembangunan sosial dan pembangunan lingkungan) Perlu ditata sehingga masyarakat dapat sejahtera berkelanjutan daya dukung ekologis perlu diperhatikan Kota berkelas dunia kota yang layak huni, nyaman, kompetitif Ecopolis kota yang bertanggungjawab, kota yang berkehidupan, kota yang partisipatif Dampak ekonomi dari berbagai masalah yang muncul macet (43 trilyun /thn), banjir 2002 & 2007 (37 trilyun)

Tata Wilayah dan kota Jakarta dahulu dan kini


Urbanisasi memberikan dampak besar terhadap kebutuhan dan penggunaan ruang (lihat pola pemanfaatan ruang dari tahun ke tahun) Urbanisasi yang tidak terkendali memberikan kontribusi terhadap timbulnya berbagai bencana termasuk banjir (lihat penyebab banjir dan berbagai kajian tentang banjir)

Evaluasi perencanaan tata wilayah ibukota


Inkonsistensi pembangunan dengan tata ruang dan berbagai aturan yang lain membangun tidak pada tempatnya, konstruksi bangunan yang tidak sesuai aturan dan juga amdal corrupting behaviour Pengaturan yang belum memadai (fungsi regulasi dan instrumen pembangunan harus lebih dominan dibanding fungsi budget lihat Perda tentang Pajak air Tanah)

Peran pemerintah pusat, pemda, swasta, dan masyarakat


Pemerintah (Pusat/Daerah):
RTR yang berkelanjutan Pengaturan dan penerapan aturan secara konsisten (pengendalian penggunaan air tanah, pembuatan gedung dan infrastruktur, RTR) fungsi regulasi dan instrumen harus lebih dominan (sanksi yang tegas dan tidak hanya administratif) Pengendalian banjir dan instrusi air laut Penyediaan fasilitas publik yang memadai (air bersih, transportasi) Program pengawetan air Pelaksanaan aktivitas bisnis yang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (ramah lingkungan, amdal) Melaksanakan aktivitas yang berwawasan lingkungan (hemat, menjaga kebersihan)

Swasta:

Masyarakat:

Penyebab Banjir
Faktor alami Hidrologis curah hujan yang tinggi Topografi (dataran rendah) dibawah permukaan air laut Perlintasan sungai daerah hilir 13 sungai Penurunan tanah secara alami Air pasang laut Faktor buatan (anthropogenic) Penggunaan lahan pertumbuhan wilayah kota yang tidak terkontrol Berkurangnya daerah resapan (penyimpan) air di wilayah hulu banyaknya pembangunan villa, perubahan fungsi situ/waduk/danau RENDAHNYA DAYA SERAP AIR DI HULU Infrastruktur pengendali banjir dan perawatannya yang tidak memadai (sistem drainase, pompa) KECILNYA DAYA TAMPUNG DIHILIR Pendangkalan sungai akihat sampah dan pemukiman liar Berkurangnya daerah resapan

Berkurangnya luas situ/waduk/rawa daerah resapan air Penurunan permukaan tanah akibat penyedotan air tanah cekungan bervariasi menurut waktu dan lokasi, rata-rata 1-15 cm/thn sejumlah kecil lokasi memiliki tingkat penurunan diatas 20-28 cm/thn 40% permukaan tanah yang berada di bawah permukaan laut Kapasitas drainase limpasan air Kondisai DAS + Permukaan lahan Rekayasa Teknik Lingkungan, Perombakan drainase dan pengurangan urbanisasi

Perencanaan Kota
Perencanaan dengan komponen geografis yang memiliki sasaran untuk menyediakan struktur spasial dari aktivitas (penggunaan lahan) secara lebih baik Memberikan perhatian kepada dampak secara spasial dari berbagai permasalahan serta koordinasi spasial dari berbagai kebijakan 3 dimensi:
Pola kota (masyarakat, struktur, fungsi) Aliran kota (informasi, SDA, infrastruktur dan teknologi) Kualitas kota

Abidin, Hasanuddin Z, et al, 2011, Land Subsidence of Jakarta (Indonesia) and its relation with urban development, Net Hazard, 59, pp 1753-1771 Kajian 2009
Penurunan tanah bervariasi menurut waktu dan lokasi, rata-rata 1-15 cm/thn sejumlah kecil lokasi memiliki tingkat penurunan diatas 20-28 cm/thn 4 tipe penurunan tanah yang terjadi: akibat ekstraksi air tanah; beban konstruksi; konsolidasi alami dari tanah aluvial; tektonik Variasi spasial dan temporal dari penurunan tanah berhubungan erat dengan ekstraksi air tanah serta karakteristik lapisan sedimen dan beban bangunan di atasnya

Perkembangan Daerah Terbangun di Jakarta dan Sekitarnya

Djakapermana, 2008, dalam Abidin et al, 2011

Ward, PJ et all, 2011, Coastal Inundation and damage exposure estimation: a case study for Jakarta, Nat Hazard, 56, pp 899-916 kajian 2010
Estimasi kerusakan pada kejadian banjir ekstrim dengan periode pengulangan 100 dan 1000 tahun adalah tinggi (4 juta dan 5,2 trilyun Euro) Dengan skenario ini, pada 2100, kemungkinan kerusakan akan meningkat dengan faktor 4-5 dengan perbedaan yang kecil antara skenario kenaikan permukaan air laut yang rendah/tinggi Peningkatan ini terjadi karena tingkat penurunan tanah yang tinggi dan melupakan pembangunan sosial ekonomi Perlunya perhatian khusus terhadap masalah penurunan tanah untuk menghindari bencana di masa depan

Peta Penggunaan Lahan

Transavia Consultancy dalam Ward et al, 2011

Texier, Pauline, 2008, Floods in Jakarta: when the extreme reveals daily structural constraints and mismanagement, Disaster Prevention and Management, 17 (3), pp 358-372
Faktor manusia dominan dalam menjelaskan besarnya banjir di tahun 2007 Urbanisasi ikut bertanggungjawab atas kejadian banjir karena menutup permukaan tanah (waterproofing the soils) limpasan air meningkat Masyarakat dari daerah miskin ilegal yang paling terkena dampak Perilaku mereka dan strategi mereka sanagt ditentukan oleh hambatan sehari-hari yang mereka hadapi (kemiskinan, buang sampah sembarangan )

Pola Hidrologis dan Dampaknya

BMG, Cliliwung Cisadane Project dan Tempo, 2007 dalam Texier, 2008

Siswanto, Bambang, 2011, Evaluasi Kebijakan Pengambilan dan Pemanfaatan Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta, Tesis, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor
Kapasitas produksi dan distribusi PAM DKI Jakarta yang relatif tetap, di sisi lain pertumbuhan jumlah penduduk, urbanisasi, perkembangan bisnis, industri, dan sektor pelayanan publik terus meningkat, menyebabkan pengambilan dan pemanfaatan air tanah terus meningkat Pengambilan dan pemanfaatan air tanah di Provinsi DKI Jakarta diduga telah sampai pada tahap yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan muka air tanah, amblesan, dan intrusi air laut Faktor lain yang menyebabkan terjadinya kecenderungan pemanfaatan air tanah di Provinsi DKI Jakarta adalah: (1) harga perolehan air tanah yang jauh lebih murah dibandingkan tarif pemakaian air Perusahaan Air Minum (PAM) DKI Jakarta; (2) pemompaan air tanah sifatnya in-situ sehingga ketersediaannya tidak tergantung pihak lain dan membuat ketersediaan air lebih terjamin; (3) rejim pengelolaan air tanah yang secara de facto merupakan open access; dan (4) implementasi dan penegakan peraturan perundangan yang masih belum optimal Kenaikan pajak air tanah signifikan menurunkan pengambilan dan pemanfaatan air tanah pada sumur-sumur yang terletak di dalam jangkauan pelayanan PAM DKI Jakarta, tetapi tidak signifikan menurunkan pemakaian air tanah di luar area pelayanan perusahaan tersebut. Setelah kenaikan pajak air tanah, biaya perolehan air tanah untuk semua kelompok pelanggan dan besaran pemakaian lebih besar dibandingkan biaya perolehan air bersih yang disediakan oleh PAM DKI Jakarta

Anda mungkin juga menyukai