Anda di halaman 1dari 18

8/21/2013

Teguh Kurniawan Departemen Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia teguh.kurniawan@ui.ac.id

Otonomi Daerah dalam Kerangka Pelayanan Publik 2. Aparatur Pemerintahan Daerah dan Pelayanan Publik 3. Permasalahan dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah terkait Pelayanan Publik 4. Telaah Kritis terhadap RUU Pemerintahan Daerah
1.

8/21/2013

Penyediaan Layanan Publik & Infrastruktur yang lebih efisien & efektif

Optimalisasi hirarkhi penyediaan layanan Penyesuaian layanan terhadap kebutuhan & kondisi lokal Peningkatan perawatan terhadap infrastruktur Pengalihan fungsi rutin dari Pemerintah Pusat agar lebih berkonsentrasi terhadap kebijakan Meningkatkan kompetisi dalam penyediaan layanan (antara unit-unit pemerintahan ataupun antara sektor publik dengan privat) Membuat birokrasi menjadi lebih berorientasi kepada konsumen
Rondinelli, 1989

8/21/2013

Pelayanan Publik yang lebih baik: Lebih memuaskan kebutuhan lokal Lebih fleksibel Lebih inovatif Murah Mobilisasi keunggulan komparatif dari perusahaan lokal dan sektor non profit lokal Demokratisasi lokal: Mengintegrasikan kebutuhan dan kepentingan masyarakat Memberikan kebebasan kepada organisasi sektor ketiga dan perusahaan lokal untuk bertindak dan mengartikulasikan pandangan dan kebutuhan mereka Sarana pelatihan bagi budaya partisipatif/demokratis, kapasitas negosiasi dan penyelesaian konflik Memberikan sejumlah otonomi dan integrasi politik kepada minoritas Integrasi Nasional: Dapat mencapai distribusi yang lebih setara dari sumberdaya nasional Penyebaran kekuasaan politik secara vertikal Kebijakan atau badan perencanaan bersama atau pelaksanaan tugas bersama Keberagaman nasional dapat direalisasikan dalam kesatuan nasional

Berbahaya bagi pelayanan publik: Desentralisasi korupsi Pengeluaran yang tidak jelas Memtar kembali sejumlah fungsi ekonomi dan sosial khusus dari negara Kader lokal tidak akan cukup independen dan tidak cukup termotivasi untuk mengambil tanggungjawab terhadap kebijakan yang beresiko Politik lokal tetaplah politik: Reproduksi / melabel-kan kembali elit lokal Masyarakat miskin dapat menjauhkan diri dari upaya mempromosikan kepentingan mereka Politisi lokal dapat saja responsif hanya kepada kebutuhan lokal dari konstituen mereka saja Akuntabiltas dapat berkurang jika pemiliahn lokal tidak dilihat sebagai sesuatu yang penting dan menghasilkan turnouts yang rendah Gerakan untuk memisahkan diri: Institusionalisasi faksi-faksi berdasarkan garis etnis Menghasilkan kebijakan diskriminatif dari partai penguasa

Steinich, 2000, 4

Sumber daya: manusia, keuangan, infrastruktur

dan peralatan, bahan-bahan Struktur: kestabilan organisasi, hubungan antar program, aspek legal atau informal Teknologi: pengetahuan dan tingkah laku yang dibutuhkan bagi operasional organisasi dan program Kepemimpinan: kemampuan untuk mengubah dan memodifikasi input yang kritis (faktor dominan)

8/21/2013

modernisasi, minimalisasi, swastanisasi, efisiensi, dan desentralisasi manajemen

Proses penganggaran dan manajemen keuangan; Sistem Kepegawaian Sipil; Transparansi dan akuntabilitas publik; Hak pengambilan keputusan antara instansi pusat dan departemen; Pembentukan dan penghapusan organisasi; Penggunaan penyedia layanan sektor swasta; dan Devolusi pengambilan keputusan kepada lembaga, otoritas, dan badan-badan pemerintah lainnya

McDonagh, 2004

8/21/2013

Pelaksanaan fungsi pemerintahan membutuhkan

komitmen yang besar dari pegawaiwaktu, upaya, loyalitas, kompetensi, dan bakat mereka Dalam sektor publik, penguatan Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan sarana untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dan mengendalikan pengeluaran publik Untuk menciptakan budaya perusahaan di sektor publik Pengembangan pendekatan desentralisasi dalam penyediaan pelayanan Pengembangan sistem devolusi dalam manajemen

8/21/2013

Etika terkait dengan budaya dari sebuah organisasi Yang harus diperhatikan adalah bagaimana budaya

ditransmisikan dari waktu ke waktu:

Pemahaman yang baik terhadap aturan formal dan

informal Pelatihan Dukungan dan tekanan dari rekan kerja

Lawton, 2005, 238

Elemen pelayanan dalam sebuah organisasi yang

memfasilitasi bagi pembentukan nilai tambah dari sebuah output akhir


Administrasi gaji dan akuntansi Perekrutan dan pelatihan Pelayanan hukum Transportasi Catering dan pelayanan makanan Kebersihan & landscaping

Termasuk didalamnya:

8/21/2013

Product elements Place, cyberspace, and time Process Productivity and quality People Promotion and education Physical evidence Price and other user outlays

Sisi manusia dari organisasi Pekerja yang tepat akan melakukan pekerjaan dengan baik desain pekerjaan perekrutan/seleksi pelatihan motivasi evaluasi/rewards pemberdayaan/teamwork

8/21/2013

Pelayanan publik yang disediakan pada umumnya terbatas, ditandai

misalnya dengan jumlah dan kualitas tenaga serta fasilitas dan sarana yang tidak memadai dan tidak merata Keterbatasan tersebut umumnya disebabkan oleh keterbatasan sumber daya manusia yang tersedia serta alokasi anggaran yang kurang memadai dalam APBD masing-masing Masih belum berubahnya sikap dan paradigma dari aparat pemerintah dalam pemberian pelayanan, belum lagi para aparat pemerintah tersebut masih sangat rules driven dan mendasarkan diri pada petunjuk atasan dalam pemberian layanan tersebut dan tidak mendasarkannya pada kepuasan masyarakat Belum optimalnya partisipasi dari masyarakat dalam proses pemberian layanan, meskipun sudah terdapat sejumlah perangkat yang dapat mendukung upaya tersebut
Prasojo, Maksum, Kurniawan,2006

8/21/2013

Kinerja Pelayanan Publik yang Bervariasi Menguatnya unsur-unsur subyektivitas dalam

penyelenggaraan pelayanan diskriminasi pelayanan publik Rendahnya aksesibilitas pelayanan, yang ditandai dengan masih besarnya angka pengguna biro jasa (intermediaries) dalam penyelenggaraan pelayanan Kecenderungan prosedur pelayanan hanya mengatur kewajiban dan mengabaikan hak-hak pengguna pelayanan publik menjadi salah satu sebab mengapa penyelenggaraan pelayanan publik sering menjadi sumber ketidakpuasan warga terhadap pemerintah
Naskah Akademik Draf RUU Pemda

penyelenggaraan pelayanan selama ini cenderung dianggap

sebagai domain rezim pelayanan prosedur pelayanan cenderung hanya mengatur kewajiban dari warga pengguna, tetapi hak-haknya tidak pernah diatur dan dilindungi. Prosedur juga sering gagal mengatur mengenai kewajiban dari penyelenggara pelayanan proses pelayanan seringkali dikaitkan dengan struktur hirarkhi birokrasi di daerah birokrasi pelayanan belum mampu mengembangkan budaya dan etika pelayanan yang menghargai posisi pengguna sebagai warga negara yang berdaulat

Naskah Akademik Draf RUU Pemda

8/21/2013

kecenderungan daerah untuk membentuk organisasi

perangkat daerah yang banyak jumlahnya dan kurang didasarkan pada kebutuhan nyata daerah yang bersangkutan adanya orientasi pegawai daerah untuk menduduki jabatan struktural sangat tinggi dan berlebihan belum adanya analisis jabatan dan analisis beban kerja membuat daerah tidak pernah tahu secara pasti berapa besar organisasi yang dibutuhkan dan berapa banyak jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan kecenderungan dari kementerian/LPNK untuk mendesak daerah membuat struktur organisasi sebagaimana yang ada di pusat dengan tawaran akan diberi bantuan

Naskah Akademik Draf RUU Pemda

kecenderungan semakin kuatnya politisasi birokrasi di

daerah jumlah pegawai negeri yang besar di daerah mendorong mereka mengembangkan struktur organisasi yang besar agar dapat menampungnya dalam jabatan-jabatan struktural yang ada belum ada tradisi untuk melakukan evaluasi kinerja (performance review) yang secara periodik menilai ketepatan antara struktur birokrasi dengan visi dan misi daerah

Naskah Akademik Draf RUU Pemda

10

8/21/2013

Rendahnya profesionalisme aparatur daerah tidak adanya standar kompetensi untuk jabatan

struktural dan fungsional mempersulit penerapan prinsip meritokrasi dalam rekrutmen dan promosi pejabat publik di daerah rendahnya mobilitas aparat birokrasi di daerah tidak adanya kejelasan jumlah pegawai yang dibutuhkan daerah diberikan kewenangan Pembina kepegawaian kepada kepala daerah yang menyebabkan PNS sulit untuk menjadi netral
Naskah Akademik Draf RUU Pemda

belum tersedianya peraturan yang mengatur

hubungan antara pejabat politik (elected officials) dengan pejabat karir

Naskah Akademik Draf RUU Pemda

11

8/21/2013

Ada/tidaknya survei pengguna Penyamaan persepsi atas layanan yang termaktub

dalam citizen charter Ada/tidaknya dukungan kebijakan atasan (KDH) dan anggaran yang tidak memadai Monitoring pelaksanaan piagam warga-evaluasi (reward and punishment) Tindak lanjut perbaikan layanan

Dukungan kebijakan dan komitmen pengambil

kebijakan Permintaan yang kuat dari masyarakat atas peningkatan atau perbaikan layanan Pembagian tugas melakukan pengawasan dan perbaikan layanan Sosialisasi atas citizen charter secara terus menerus Komitmen dan bukan Janji

12

8/21/2013

Pengaturan mengenai pelayanan publik dalam Bab XI

perlu mempertegas apa yang dimaksud dengan pelayanan publik. Pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan pelayanan publik ini lebih baik merujuk pada pengertian pelayanan publik menurut UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik perlu ada ayat tambahan dalam pasal 217 untuk mempertegas hal ini

13

8/21/2013

Pengaturan mengenai Manajemen Pelayanan Publik

pada Bagian Kedua Bab XI belum mempertegas keterkaitannya dengan berbagai jenis pelayanan publik yang ada seperti penyediaan infrastruktur jalan, jembatan, dsb. Pengaturan sepertinya hanya berlaku untuk pelayanan publik dalam bentuk jasa Perlu juga diatur mengenai sanksi apabila kewajiban untuk membangun Manajemen Pelayanan Publik ini tidak dilaksanakan

Pengaturan dalam Pasal 220 (keberadaan maklumat

pelayanan) perlu disesuaikan dengan aturan dalam UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik Maklumat ini juga wajib untuk dibuat oleh masingmasing unit penyelenggara pelayanan (bidang pelayanan). Tidak secara umum seperti yang ada dalam draft pengaturan saat ini

14

8/21/2013

Pengaturan dalam Pasal 221 perlu mempertegas

mengenai bagaimana monitoring terhadap penyusunan maklumat pelayanan akan dilaksanakan, serta siapa yang akan melaksanakan. Dalam hal ini dapat memberdayakan keberadaan Ombudsman misalnya (UU No. 37 tahun 2008) baik di Pusat maupun Daerah

Pemanfaatan Teknologi Informasi sebagaimana diatur

dalam Pasal 222 lebih baik diwajibkan dan bukan merupakan pilihan (sesuai dengan kebutuhan dan atau kemampuan daerah). Selain itu perlu diatur sanksi bagi Daerah yang tidak menerapkan

15

8/21/2013

Dalam hal pengaturan mengenai Pelayanan Terpadu

Satu Pintu sebagaimana diatur dalam Pasal 223, perlu dipertegas kewajiban Kepala Daerah untuk melimpahkan kewenangan dalam mengeluarkan perizinan atau non perizinan kepada Badan atau unit yang akan menjadi pelaksanan dari pelayanan perizinan tersebut Selain itu, dalam Pasal yang sama terkait sanksi, perlu dielaborasi lebih lanjut bagaimana pengambil alihan pemberian izin akan dilaksanakan serta pelaksananya kemudian

Pengaturan mengenai Perangkat Daerah dan Pegawai

Negeri Sipil dalam Bab VII perlu disesuaikan atau disinkronkan dengan pengaturan yang ada dalam RUU Aparatur Sipil Negara yang saat ini juga dalam pembahasan, sehingga dapat menghindari tumpang tindih dan pertentangan satu sama lainnya Dengan demikian, isi dari Pasal 88 ayat (2) misalnya dapat disesuaikan, yakni perangkat daerah diisi oleh Aparatur Sipil Negara yang nanti tidak hanya pegawai negeri sipil tetapi juga pegawai tidak tetap pemerintah

16

8/21/2013

Keberadaan RUU Aparatur Sipil Negara juga akan

mempengaruhi pengaturan mengenai pengisian jabatan Sekretaris Daerah, Sekretaris DPRD serta Kepala SKPD lainnya (bagian Kedua, paragraf ketiga sampai paragraf ketujuh). Dalam RUU Aparatur Sipil Negara, kelompok jabatan tersebut akan masuk dalam Jabatan Eksekutif Senior (JES) yang pengisiannya akan ditentukan oleh Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN)

Pengaturan mengenai Pembentukan Perguruan Tinggi

Kepamongprajaan sebagaimana diatur dalam Pasal 256 perlu ditinjau ulang karena tidak sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun PP No. 14 Tahun 2010 tentang Pendidikan Kedinasan. Lulusan Perguruan Tinggi yang ada sekarang dapat memenuhi kebutuhan akan tenaga pamongpraja

17

8/21/2013

18

Anda mungkin juga menyukai