Anda di halaman 1dari 9

1 PARTISIPASI MASYARAKAT1 Teguh Kurniawan Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI http://www.kurniawans.net, email: teguh.kurniawan@ui.ac.id, teguh@kurniawans.

net

Pendahuluan Partisipasi masyarakat merupakan salah satu prinsip penting dalam tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Namun demikian tidak mudah untuk dapat diwujudkan secara ideal. Terdapat sejumlah prasyarat dan kondisi yang harus dipenuhi agar partisipasi masyarakat dapat dilaksanakan secara ideal. Untuk itu, dalam rangka memberi pemahaman mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dengan partisipasi masyarakat yang ideal serta upaya yang dapat dilakukan dalam mencapai kondisi ideal tersebut, maka tulisan singkat ini akan mencoba untuk mendeskripsikannya. Melalui pemahaman mengenai hal tersebut diharapkan dapat membantu dalam menyusun strategi partisipasi masyarakat yang tepat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Definisi dan jenis partisipasi masyarakat Sebelum kita mendefinisikan apa yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat, ada baiknya apabila kita mengetahui alasan dibalik perlunya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Terkait hal ini menurut OECD (2001) sebagaimana dikutip Martin (2003, 190 dalam Bofaird dan Loffler, 2003) keterlibatan masyarakat akan membawa sejumlah keuntungan, yakni: (1) meningkatkan kualitas pembuatan kebijakan dengan menyediakan pemerintah sumber informasi, perspektif dan solusi masalah yang besar; (2) memfasilitasi interaksi yang luas antara masyarakat dan pemerintah; serta (3) meningkatkan akuntabilitas dan transparansi yang pada akhirnya akan meningkatkan keterwakilan dan kepercayaan masyarakat. Sejalan dengan pandangan OECD tersebut, menurut Burby (2003) sebagaimana dikutip oleh Baker, Addams dan Davis (2005, 490) partisipasi masyarakat dapat menghasilkan kebijakan pemerintah yang lebih baik karena sejumlah alasan, yakni: (1) adanya prinsip keadilan dan kesetaraan; (2) merupakan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi dan untuk menyuarakan pandangan mereka terkait kebijakan pemerintah; (3) adanya kebutuhan untuk mewakili kepentingan dari kelompok-kelompok masyarakat yang lemah dan tidak punya kekuatan; serta (4) adanya kebutuhan untuk menangkap apa yang benar-benar diinginkan oleh masyarakat. Berdasarkan pada pandangan di atas, maka kita dapat melihat bahwa melalui partisipasi masyarakat dalam pemerintahan akan dapat menghasilkan kebijakan pemerintah yang lebih baik. Namun demikian, untuk mencapai kondisi tersebut ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat sejumlah isu, perdebatan dan masalah dalam upaya melibatkan masyarakat dalam
Disampaikan dalam acara Perumusan atas RUU Inisiatif DPD tentang Partisipasi Masyarakat, Jakarta 7 Maret 2012
1

2 pemerintahan. Kondisi ini dapat dilihat salah satunya dari perdebatan dalam hal definisi dari apa yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat. Menyangkut definisi, menurut Callahan (2007, 150) partisipasi masyarakat merujuk kepada aktivitas yang memiliki jangkauan luas yang dilakukan oleh individu atau kelompok individu. Istilah masyarakat sendiri menurut Callahan memiliki berbagai arti. Untuk sejumlah pihak, masyarakat merefleksikan hak dan kewajiban legal dari seorang individu sebagaimana dinyatakan dalam konstitusi dan undang-undang yang mengartikulasikan kualifikasi, kewajiban, dan hak masyarakat. Oleh sebagian pihak lainnya, masyarakat merefleksikan konsep sosiologi yang luas dari keanggotan dalam sebuah komunitas yang besar atau penduduk dari sebuah tempat/wilayah. Sementara itu, masih menurut Callahan (2007, 150-151), partisipasi masyarakat oleh sejumlah pakar administrasi didefinisikan sebagai peran dari publik dalam proses pembuatan kebijakan administratif atau keterlibatan dalam pembuatan kebijakan manajemen dan penyampaian pelayanan. Partisipasi masyarakat menurut Langton sebagaimana dikutip Callahan, melibatkan 4 (empat) jenis perilaku masyarakat, yakni (1) aksi masyarakat seperti misalnya lobi dan protes; (2) keterlibatan masyarakat seperti misalnya dengar pendapat (public hearing) dan survei kepada masyarakat; (3) partisipasi dalam pemilihan umum seperti menjadi pemilih yang baik atau ikut berkampanye untuk salah satu kandidat; serta (4) partisipasi dalam melaksanakan kewajiban seperti membayar pajak dan menjadi juri dalam sidang pengadilan. Berdasarkan perilaku ini, maka Langton mendefinisikan partisipasi masyarakat sebagai tindakan yang diinisiasikan dan diawasi oleh pemerintah dan atau untuk mendapatkan dukungan terhadap program, kebijakan dan pelayanan pemerintah. Terlepas dari perdebatan mengenai definisi tersebut dapat dilihat bahwa partisipasi masyarakat merupakan komponen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Permasalahannya kemudian, bagaimana bentuk atau jenis partisipasi masyarakat yang dapat dilakukan. Terkait hal ini, Callahan (2007, 175-188) dalam bukunya menguraikan berbagai jenis partisipasi masyarakat ini sebagaimana disampaikan oleh sejumlah pakar seperti Sherry Arnstein (1969), John Clayton Thomas (1995), Richard Box (1998), Mary Timney (1998), Hindy Schachter (1997), Gerald Smith dan Carole Huntsman (1997) serta Eran Vigoda (2002. Dari berbagai pendapat mengenai jenis partisipasi masyarakat tersebut, dalam tulisan ini hanya diulas jenis partisipasi masyarakat sebagaimana disampaikan Arnstein (1997), Thomas (1995), Box (1998) serta Timney (1998). Sherry Arnstein (1969) merupakan pakar yang pertama kali mencoba membuat tipologi mengenai bentuk partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat menurut Arnstein terdiri dari 8 (delapan) jenis partisipasi yang digambarkannya sebagaimana sebuah tangga. Karenanya, teori Arnstein mengenai partisipasi ini lebih dikenal sebagai tangga partisipasi. Dua anak tangga pertama dari bawah menurut Arnstein mencerminkan jenis partisipasi yang sebenarnya bukan partisipasi/non participation. Kedua jenis partisipasi tersebut adalah jenis partisipasi yang disebut manipulasi dan terapi. Keduanya dianggap bukan partisipasi karena tidak memberikan kemungkinan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan atau pelaksanaan

3 program melainkan hanya memungkinkan pemegang kekuasaan untuk mendidik atau menyembuhkan mereka. Pada anak tangga ketiga, keempat dan kelima mencerminkan jenis partisipasi yang disebut Arnstein sebagai tokenisme (pembuktian) yakni jenis partisipasi yang disebutnya informasi, konsultasi, serta meredakan/placation. Pada jenis ini (informasi dan konsultasi), sudah ada kemajuan dimana masyarakat sudah dibiarkan untuk mendengar dan menyuarakan pendapatnya. Namun demikian, masyarakat tidak memiliki kekuasaan untuk memastikan sejuhmana suara mereka didengarkan dan dirujuk oleh pemegang kekuasaan. Pada jenis meredakan/placation, merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari tokenisme dimana masyarakat dapat memberikan saran, namun demikian hak untuk memutuskan tetap terletak pada pemegang kekuasaan. Pada tangga keenam, ketujuh, dan kedelapan merupakan hirarkhi tertinggi dari jenis partisipasi masyarakat menurut Arnstein yang disebutnya sebagai kekuasaan masyarakat (citizen power). Pada tahap ini, masyarakat mengalami peningkatan kekuasaan untuk membuat kebijakan. Masyarakat berada pada jenis kemitraan ketika masyarakat dimungkinkan untuk bernegosiasi dan terlibat dalam trade-off dengan pemegang kekuasaan. Pada anak tangga yang lebih tinggi yakni delegasi kekuasaan dan kontrol masyarakat, masyarakat memperoleh kekuasaan penuh untuk mengelola atau membuat kebijakan. Jenis partisipasi masyarakat lainnya adalah sebagaimana diungkapkan oleh Thomas (1995 dalam Callahan, 2007, 176) yang membuat kategori partisipasi masyarakat dari perspektif administrasi khususnya bagaimana seorang pejabat publik membuat kebijakan. Menurut Thomas, terdapat 5 (lima) pendekatan yang dapat dilakukan dalam membuat kebijakan oleh pejabat publik, yakni: (1) keputusan publik (public decision), yakni ketika pejabat publik membagi masalahnya dengan kumpulan masyarakat dan secara bersama-sama mencoba untuk mengambil solusi yang disetujui bersama; (2) konsultasi publik secara bersatu (unitary public consultation), yakni ketika pejabat publik membagi masalah dengan satu kumpulan masyarakat untuk mendapatkan ide dan saran dan selanjutnya pejabat tersebut membuat kebijakan yang merefleksikan pengaruh atau preferensi dari kelompok tersebut. Pendekatan ini membutuhkan syarat bahwa seluruh anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk terlibat seperti dengan melakukan dengar pendapat yang informasi mengenai kegiatan tersebut dipublikasikan secara merata meskipun pada akhirnya yang hadir tidak semua masyarakat; (3) konsultasi publik sebagian (segmented public consultation) yakni pejabat publik membagi masalah dengan sebagian kelompok masyarakat, mendapatkan ide dan saran untuk kemudian mengambil kebijakan yang merefleksikan pengaruh kelompok. Bagian masyarakat yang dilibatkan termasuk komite penasehat atau sejumlah anggota penasehat yang terpercaya; (4) kebijakan otonomi manajerial yang dimodifikasi (modify autonomous managerial decisions) yakni pejabat publik mencari informasi kepada sebagian masyarakat, tetapi kebijakannnya dibuat sendiri yang dapat atau tidak dapat merefleksikan pengaruh masyarakat. Atau pejabat publik mencari nasehat dari sekelompok orang atau individu yang cara pandang dan pendapatnya dihormati oleh pejabat tersebut; serta (5) kebijakan otonomi manajerial (autonomous managerial decisions) yakni pejabat publik membuat kebijakan sendiri tanpa melibatkan masyarakat. Jenis lainnya dari model partisipasi masyarakat adalah jenis partisipasi yang membedakan antara masyarakat yang pasif dengan masyarakat yang aktif, serta bagaimana membuat masyarakat

4 yang tidak aktif/pasif menjadi lebih aktif. Jenis partisipasi seperti ini dapat dilihat dari pendapat Box (1998) dan Timney (1998) sebagaimana dikutip oleh Callahan (2007, 177-178). Box (1998) menggambarkan partisipasi masyarakat dalam sebuah garis kontinuum yang menempatkan free rider pada satu titik dan aktivis pada titik yang lain. Pada bagian tengah terdapat anjing penjaga (watchdog) yang akan teribat hanya ketika sebuah issu mempengaruhi mereka secara personal. Free rider memilih kenyamanan dan memberikan kepercayaan kepada pejabat administrasi untuk bertindak sesuai dengan kepentingan yang terbaik. Anjing penjaga akan terlibat hanya jika isu publik berdampak kepada mereka secara langsung, sementara aktivis akan terlibat secara berkelanjutan karena memiliki rasa tanggungjawab untuk dapat terinformasikan dan terlibat serta memastikan pemerintah akuntabel terhadap kebijakan yang dibuat. Sejalan dengan pandangan Box tersebut, Timney (1998) mengajukan 3 (tiga) model dari partisipasi masyarakat, yakni: aktif; pasif; dan transisi. Ketika masyarakat aktif, mengawasi proses, membuat kebijakan, serta keahlian masyarakat diketahui dan bernilai bagi pemerintah, maka disebut oleh Timney sebagai pemerintahan oleh masyarakat (government by the people). Sebaliknya, ketika para ahli membuat kebijakan dan sebagian besar masyarakat pasif dan tidak terlibat maka disebutnya sebagai pemerintahan untuk masyarakat (government for the people). Sementara ketika masyarakat dan pemerintah bekerja sama dan berbagi dalam pembuatan kebijakan disebutnya sebagai pemerintahan dengan masyarakat (government with the people). Kondisi ini yang disebutnya sebagai kondisi transisi. Karakteristik dari model partisipasi masyarakat menurut Timney tersebut dapat dilihat dalam tabel 1. berikut. Tabel 1 Karakteristik Model Partisipasi Masyarakat
Aktif Pengawasan masyarakat Masyarakat mengidentifikasi parameter Pro aktif, terbuka Kebijakan dengan konsensus Peran masyarakat dominan Transisi Pengawasan yang dibagi Lembaga pemerintah mengidentifikasi parameter Luas, proses terbuka Kebijakan dengan konsensus Peran masyarakat sebagai penasehat Administrator mengartikulasikan kebijakan Administrator sebagai staf dan peserta Pasif Pengawasan oleh Lembaga Pemerintah Lembaga pemerintah mengidentifikasi parameter Proses yang tertutup Kebijakan oleh lembaga pemerintah Masyarakat bereaksi terhadap proposal Administrator mengartikulasikan kebijakan Lembaga pemerintah hanya sebagai peserta Partisipasi hanya sebagai formalitas Masyarakat datang di akhir proses

Masyarakat mengartikulasikan kebijakan Lembaga pemerintah bertugas sebagai konsultan Proses oleh masyarakat Partisipasi sebagai tujuan sendiri proses Masyarakat datang di tahap Masyarakat datang di awal proses tengah-tengah proses Sumber: Callahan, 2007, 178

Dimensi partisipasi masyarakat Agar masyarakat dapat melakukan partisipasi secara memadai, diperlukan sejumlah langkah dan strategi yang dapat membuat masyarakat mau dan mampu untuk melaksanakan partisipasi. Karenanya, berbicara mengenai partisipasi tidak akan dapat dilepaskan pula dari upaya untuk memberdayakan masyarakat. Artinya, bagaimana membangun tidak hanya kesadaran masyarakt untuk mau berpartisipasi, tetapi juga kemampuan untuk melaksanakan partisipasi. Terkait hal ini, OConnel (1999, 11) berpendapat bahwa masyarakat harus diyakinkan akan kebutuhan untuk melaksanakan hak dan kewajibannya secara seimbang. Dalam konteks ini, hal yang harus dilakukan adalah bagaimana membangunkan kesadaran masyarakat mengenai hal-hal yang dapat dilakukannya untuk kebaikan bersama. Dalam bahasa yang lain, menurut Thoha (2004) diperlukan peletakan masyarakat pada posisi baik secara konsepsual maupun operasional bisa berperan untuk memberdayakan dirinya. Menyangkut pemberdayaan masyarakat ini, Yang (2005, 273) mengangkat isu mengenai diperlukannya rasa saling percaya antara administrator publik dengan warga masyarakat guna meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan Administrasi negara. Merujuk kepada pendapat Offe (1999), kepercayaan memiliki 4 (empat) dimensi, yakni: (1) kepercayaan warga masyarakat kepada sesama warga masyarakat; (2) kepercayaan masyarakat terhadap elit; (3) kepercayaan elit politik terhadap sesama elit; serta (4) kepercayaan elit politik terhadap warga masyarakat (Yang, 2005, 274). Selain daripada kepercayaan yang harus dibangun antara Administrator Publik dengan masyarakat dan sebaliknya, terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam kegiatan pemerintahan. Hal ini menurut Mitchell (2005) terkait dengan diperlukannya visi bersama dan sejumlah atribut lainnya guna terwujudnya kemitraan yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Atribut tersebut adalah: (1) kompatibilitas antar peserta berdasarkan kepercayaan dan penghargaan yang saling menguntungkan; (2) keuntungan bagi semua mitra; (3) kesetaraan kekuatan dengan mitra; (4) saluran komunikasi; (5) kemampuan beradaptasi; serta (6) keberadaan integritas, kesabaran dan kemauan untuk menyelesaikan permasalahan. Hal lainnya yang harus diperhatikan dalam upaya membuat masyarakat mau dan mampu untuk berpartisipasi adalah bagaimana kita bisa menyelesaikan permasalahan dilematis yang dihadapi oleh masyarakat ketika akan berpartisipasi. Menurut Roberts (2004) sebagaimana dikutip dalam Callahan (2007, 166-167), terdapat setidaknya 6 (enam) dilema dalam upaya melibatkan masyarakat, yakni: (1) dilema terkait besaran dari masyarakat; (2) dilema terkait kelompokkelompok masyarakat yang termarjinalkan; (3) dilema terkait resiko; (4) dilema terkait teknologi dan keahlian; (5) dilema terkait waktu; serta (6) dilema terkait barang-barang bersama (common good). Dilema terkait besaran masyarakat muncul ketika partisipasi langsung harus dapat mengakomodir sejumlah kelompok dan individu, sementara demokrasi langsung hanya diformulasikan untuk bertemu muka dengan sekelompok orang saja. Sehingga yang jadi

6 permasalahan kemudian adalah bagaimana dapat melibatkan semua kelompok masyarakat. Untuk mengatasinya menurut Roberts dapat dilakukan dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi. Namun demikian, dalam penggunaan teknologi informasi ini juga harus dipertanyakan sejauhmana teknologi tersebut mampu menggantikan pertemuan tatap muka serta apakah teknologi informasi hanya sebagai alat pendukung saja. Dilema terkait kelompok-kelompok masyarakat yang termarjinalkan adalah menyangkut bagaimana dapat melibatkan mereka dalam sebuah proses pengambilan kebijakan. Selain itu juga terkait dengan akses mereka terhadap teknologi informasi sehingga mereka juga dapat berpartisipasi apabila teknologi informasi digunakan sebagai alat untuk melakukan partisipasi. Dilema terkait resiko adalah ketika masyarakat harus terlibat dalam proses pengambilan kebijakan yang mengandung resiko (seperti dalam kebijakan yang terkait dengan limbah beracun atau bahan kimia lainnya), maka untuk dapat dilibatkan masyarakat harus diberitahu dan memiliki pengetahuan mengenai hal tersebut. Sehingga resiko yang mungkin timbul dapat dihindari. Dilema terkait teknologi dan keahlian terjadi ketika masyarakat mengalami kesulitan dalam berpartisipasi akibat tidak memiliki pengetahuan, informasi dan keahlian yang dibutuhkan untuk dapat berkomunikasi secara efektif. Apabila ini, terjadi, administrator publik dapat melakukan tindakan yang dapat memarjinalkan partisipasi dari masyarakat. Dilema terkait waktu terjadi ketika kebijakan harus dibuat dalam waktu yang mendesak sementara masyarakat membutuhkan waktu untuk mendiskusikannya atau masyarakat tidak memiliki waktu yang cukup untuk terlibat. Masalah waktu juga menjadi masalah, ketika pembahasan membutuhkan waktu yang lama, terlebih apabila banyak masyarakat yang hadir dan menyuarakan pendapatnya. Dilema terkait barang-barang bersama (common good) terjadi ketika partispasi tidak dapat merefleksikan barang-barang bersama yang harus dirundingkan bersama dan tidak sekedar diputuskan melalui dengar pendapat, opini publik serta kesetaraan politik. Selain upaya untuk menyelesaikan permasalahan dilematis yang dihadapi oleh masyarakat ketika akan berpartisipasi sebagaimana diungkapkan Roberts (2004) tersebut, King, Feltey dan Susel (1998) mengungkapkan bahwa partisipasi publik yang efektif atau otentikpartisipasi yang berfungsi untuk semua pihak dan mampu menstimulasi kepentingan dan investasi baik dari masyarakat maupun administrator publikmembutuhkan lebih dari sekedar menemukan teknik dan perangkat yang tepat untuk meningkatkan keterlibatan publik dalam kebijakan publik, tetapi membutuhkan pemikiran kembali akan peran yang mendasari dan hubungan antara administrator dan masyarakat. Menurut mereka, partisipasi publik memiliki empat komponen utama, yakni (1) isu atau situasi; (2) struktur, sistem, dan proses administrasi dimana partisipasi mengambil tempat; (3) administrator; serta (4) masyarakat. Upaya partisipasi yang dilakukan saat ini dibingkai dalam suatu bingkai dimana keempat komponen tersusun di sekitar masalah. Masyarakat ditempatkan pada tempat yang paling jauh dari masalah, sementara struktur dan proses administratif adalah komponen yang paling dekat. Adapun administrator adalah agen diantara struktur dan masyarakat. Kondisi yang seperti ini memberikan administrator

7 kewenangan untuk memformulasikan kebijakan hanya setelah isu telah didefinisikan. Selain itu, administrator tidak memiliki kewenangan nyata untuk mendefinisikan kembali isu atau untuk mengubah proses administrasi yang memungkinkan keterlibatan yang lebih besar dari masyarakat. Karenanya, partisipasi menjadi tidak efektif dan cenderung menimbulkan konflik. Partisipasi biasanya dilakukan terlambat yakni setelah isu dibingkai dan bahkan setelah dibuat. Karena alasan ini masyarakat kemudian menjadi reaktif, menghakimi dan seringkali mensabotase upaya dari administrator daripada bekerjasama dengan administrator untuk memutuskan cara terbaik dalam mengatasi isu. Melihat pada kondisi yang seperti itu, King, Feltey dan Susel (1998) kemudian memberikan arahan untuk membingkai kembali partisipasi sehingga menjadi nyata atau otentik. Partisipasi yang otentik ini dapat dicapai dengan menempatkan masyarakat setelah isu serta struktur dan proses administratif menjadi paling jauh. Adapun administrator tetap menjadi jembatan diantara keduanya. Dengan bingkai seperti ini, masyarakat menjadi sentral dan berhubungan secara langsung dengan isu. Mereka memiliki kesempatan yang sama dan cepat untuk mempengaruhi proses dan keluaran. Pengaruh dari administrator akan datang dari hubungan mereka dengan masyarakat maupun dari keahlian dan posisi mereka. Adapun struktur dan proses administrasi akan didefiniskan oleh hubungan dan interaksi antara masyarakat dan administrator. Dengan mengubah bingkai seperti ini, menurut mereka akan dapat meningkatkan keinginan untuk berpartisipasi. Dalam upaya mewujudkan partisipasi masyarakat yang otentik tersebut, menurut King, Feltey dan Susel (1998), terdapat tiga hambatan utama yang dihadapi, yakni: (1) realitas dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang terikat dengan posisi kelas sosial termasuk faktor-faktor seperti transportasi, hambatan waktu, struktur keluarga, jumlah anngota keluarga yang bekerja, pengurusan anak, dan ketidakmampuan ekonomi; (2) sistem dan proses administratif yang mendukung status quo; serta (3) teknik partisipasi yang masih belum memadai seperti dengar pendapat publik, dewan penasehat masyarakat, panel masyarakat, dan survey publik. Untuk mengatasi ketiga hambatan utama tersebut, mereka mengusulkan sejumlah upaya yang dapat dilakukan, yakni (1) memberdayakan dan melakukan pendidikan terhadap masyarakat yakni dengan mendesain proses sehingga masyarakat mengetahui bahwa partisipasi mereka dapat memberikan dampak, melibatkan keterwakilan yang luas dari masyarakat, serta dapat menghasilkan keluaran yang dapat dilihat; (2) mendidik kembali para administrator yang sesuai dengan upaya untuk mengubah peran mereka dari manajer yang ahli menjadi peserta atau mitra yang kooperatif melalui pembentukan keahlian interpersonal, mendefinisikan kembali peran administrator, dan mengubah cara dalam mendidik dan melatih administrator publik; serta (3) memungkinkan struktur dan proses administrasi. Upaya mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan khususnya dalam rangka pencegahan dan pemberantasan korupsi juga memerlukan penguatan kapsitas terhadap masyarakatnya sendiri sehingga pada akhirnya masyarakat dapat terberdaya serta mampu dan mau untuk berpartisipasi secara aktif dan efektif. Terkait masalah penguatan kapasitas masyarakat ini, Gerry Stoker (2004, 13-14) menawarkan model yang disebut CLEAR Approach dalam upaya membuat masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif, yakni: Can do (dapat melakukan); Like to (ingin melakukan); Enabled to (mungkin melakukan); Asked to

8 (diminta untuk melakukan); serta Responded to (ketanggapan pemerintah untuk merespon partisipasi masyarakat) sebagaimana dapat dilihat dalam tabel 2 berikut: Tabel 2 Faktor yang Mempromosikan Partisipasi: CLEAR
Faktor yang mempengaruhi partisipasi Can do (dapat melakukan) Cara bekerjanya Target kebijakan yang diinginkan ukuran atau

Sumberdaya individual yang dimiliki Peningkatan Kapasitas: khusus masyarakat untuk memobilisasi dan dukungan mengorganisasikan (berbicara, menulis, pengembangan target dan kemampuan teknis lainnya, serta kepercayaan diri untuk menggunakan kemampuan tersebut) akan membuat kapasitas yang berbeda dalam melakukan partisipasi

Like to (ingin melakukan)

Agar berkomitmen untuk berpartisipasi Kesadaran komunitas; pelibatan membutuhkan kesadaran untuk terlibat masyarakat, modal sosial, dan dalam entitas publik yang menjadi fokus citizenship keinginannya Infrastruktur kemasyarakatan dari kelompok-kelompok dan organisasi payung dapat membuat perbedaan dalam berpartisipasi dikaitkan dengan struktur kesempatan yang dibuat agar masyarakat dapat berpartisipasi Membangun infrastruktur kemasyarakatan sehingga kelompok-kelompok dan organisasi di sekitarnya dapat memfasilitasi partisipasi

Enabled to (mungkin melakukan)

Asked to (diminta untuk melakukan)

Memobilisasi masyarakat untuk Skema bagi partisipasi publik yang berpartisipasi dengan menanyakan input beragam, menarik, dan refleksif kepada mereka dapat membuat perbedaan besar dalam partisipasi Ketika masyarakat yang ditanya Sistem pembuatan kebijakan yang menyatakan akan terlibat jika mereka dapat menunjukkan kapasitas didengar, tidak sepenuhnya setuju, tetapi untuk menanggapi mampu melihat tanggapan

Responded to (ketanggapan pemerintah untuk merespon partisipasi masyarakat) Sumber: Stoker, 2004, 14

Selain pendekatan sebagaimana ditawarkan Stoker, dengan merujuk kepada pendapat Narayan (2002, 18-22), maka pemberdayaan masyarakat yang efektif memerlukan dukungan dari 4 (empat) elemen utama yaitu: (1) akses terhadap informasi; (2) inklusi/keterlibatan dan partisipasi; (3) akuntabilitas; serta (4) kapasitas pengorganisasian dari masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dalam pandangan Ariasingam (1999, 16) juga harus lebih diarahkan pada pengembangan dan penguatan iterasi masyarakat atau yang disebutnya sebagai pendekatan iterasi fungsional dan bukan hanya sekedar pendekatan partisipasi semata. Menurut Ariasingam, terdapat perbedaan antara pendekatan iterasi fungsional dengan pendekatan partisipasi sebagaimana dapat dilihat dalam tabel 3 berikut.

9 Tabel 3 Perbedaan antara Pendekatan Iterasi Fungsional dengan Partisipasi


Pendekatan Partisipasi Pendekatan Iterasi Fungsional Sering dimengerti sebagai partisipasi Kongkrit dan merupakan sebuah metode masyarakat dalam pembuatan kebijakan untuk melakukan pendidikan (Pritchett, 1996) Reaktif: sebuah proposal digulirkan dan Memberdayakan. Dapat memungkinkan masyarakat yang potensial akan terkena masyarakat untuk menyuarakan dampaknya akan bereaksi kehadiran mereka, membagi pengetahuan, terlibat dalam masyarakat, serta menguji kedaulatan konsumen melalui suara Secara khusus bukanlah sebuah metode Menyerap pengetahuan teknis dari luar dan untuk melakukan pendidikan. Karena membentuk pengaturan institusi, sambil tidak mentransfer pengetahuan membagi pengetahuan empirik lokal Referendum atau konsensus dilihat sebagai Keluaran dapat dilibatkan dalam kebijakan instrumen dalam pengambilan kebijakan kolektif atau kebijakan berdasarkan pertimbangan teknis. Sebagai contoh, lokasi utama pengerjaan proyek sistem irigasi masyarakat harus disesuaikan dengan kondisi topografi dan hidrologi daripada partisipasi masyarakat (Austin, Warwick, danMurphy, 1984) Sumber: Ariasingam, 1999, 16

Penutup Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di Indionesia akan membutuhkan berbagai upaya serius dan luar biasa yang harus dilakukan oleh pemerintah. Upaya ini terkait dengan bagaimana memberikan akses partisipasi kepada masyarakat serta membangun kemampuan yang memungkinkan masyarakat untuk dapat berpartisipasi secara efektif. Upaya-upaya ini harus didesain dan direncanakan dengan jelas serta harus didukung oleh keberadaan aturan yang menjadi payung hukum bagi keterlibatan masyarakat. Tanpa hal tersebut, sangat tidak mungkin dalam mewujudkan partisipasi masyarakat yang efektif di Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai