Anda di halaman 1dari 23

Skenario

Seorang pria 62 tahun datang dengan keluhan sesak nafas yang memberat dan berlangsung terus menerus sejak 2 hari terakhir. 1 minggu lalu pasien juga mengatakan mengalami nyeri dada namun membaik sendiri, setelah itu mulai timbul sesak, namun lama kelamaan timbul sesak yang bertambah terutama saat aktivitas. Pasien sering terbangun malam hari karena sesak dan tidur menggunakan 2 bantal untuk mengurangi sesaknya. Pasien memiliki riwayat merokok namun sudah berhenti sejak 5 tahun terakhir dan riwayat diabetes.

PF: tampak sakit berat, TD: 140/90mmHg, FN: 90x/mnt, S:36,5C, FP: 28x/mnt, JVP: 5+2cm H2O Paru: ronki basah diseluruh lapang paru Jantung: murmur (-), gallop S3 (+) Hepatomegali (+), akral hangat dan sianosis (-) Lab: Hb: 14g/dl, Leukosit: 10.000/uL trombosit: 350.000/uL

Anamnesis
Identitas Keluhan utama Keluhan tambahan Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit keluarga Riwayat pekerjaan dan pola hidup Pengkajian psikososial

Sejak kapan sesak napas? Waktu istirahat/aktivitas? Adakah sesak cuma sekali atau semakin memberat seiring waktu?

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: melihat kelainan yang terdapat pada badan pasien Palpasi: kuat angkat fremitus taktil, massa, lokasi nyeri

Perkusi: menentukan batas paru hati, batas-batas jantung. Mendengarkan bunyi berbeda pada setiap organ Auskultasi: mendengarkan kelainan bunyi pada jantung dan paru. Gallop, ronki basah dll.

Pemeriksaan Penunjang
Ekokardiografi: evaluasi kelainan struktural dan fungsional dari jantung EKG: memberikan informasi frekuensi debar jantung, irama jantung, sistem konduksi. Foto toraks: menilai derajat kongesti paru, mengetahui kelainan paru dan jantung (efusi pleura, infiltrat, kardiomegali)

Biokimiawi: elektrolit, fungsi ginjal, dan hematologi (anemia) Scan isotope nuklir: bermanfaat untuk pengukuran fruksi ejeksi yang akurat atau miokardium yang tidak berfungsi Kateterisasi jantung: membedakan antara mekanikal kardiogenik atau non kardiogenik pada penderita yang komplek

Diagnosis Banding
Gagal Jantung Kronik - Sesak, fatik (istirahat maupun aktivitas), edema, dan tanda objektik adanya disfungsi jantung dalam keadaan istirahat Acute respiratory distress syndrome (ARDS) - Takipnea, retraksi interkostal, ronki basah kasar yang jelas. Hipotensi, febris. Pada auskultasi ditemukan ronki basah kasar. - Disfungsi/gagal organ ginjal, hati, saluran cerna, otak & sistem kardiovaskular

Pneumonia Menggigil, batuk Demam yang mungkin ringan atau tinggi Sesak napas (hanya mungkin terjadi ketika naik tangga) - Nyeri dada yang makin besar ketika bernapas dalam atau batuk - Pada orang tua atau pasien pneumonia Legionella: sakit kepala, kehilangan nafsu makan, energi rendah, dan kelelahan, nyeri otot dan kekakuan sendi, berkeringat dan kulit lembab dan dingin.

Diagnosis Kerja
Gagal Jantung Akut - Gagal jantung akut adalah serangan cepat dari gejala-gejala atau tanda-tanda akibat fungsi jantung yang abnormal

Epidemiologi
Kira-kira 23 juta mengidap GJA di seluruh dunia. 4,7 juta di AS pada 2000 550.000 kasus baru setiap tahun Belum ada data epidemiologi gagal jantung di Indonesia

Etiologi dan Faktor Pencetus


Penyakit jantung sistemik Valvular Miopati Hipertensi dan aritmia Gagal sirkulasi Dekompensasi pada gagal jantung kronik

Manifestasi Klinis
Perburukan atau gagal jantung kronik (GJK) dekompensasi Edema paru Gagal jantung hipertensif Syok kardiogenik Gagal jantung kanan terisolasi Sidroma koroner akut

Patofisiologi
Gagal jantung merupakan manifestasi akhir dari kebanyakan penyakit jantung. rusaknya miosit, abnormalitas fungsi miosit atau fibrosis gangguan kontraktilitas otot jantung disfungsi sistolik gagal jantung

pressure overload resistensi atau tahanan aliran stroke volume menjadi berkurang

Gangguan relaksasi miokard, dinding ventrikel kaku, berkurangnya compliance ventrikel kiri gangguan pada pengisian ventrikel saat diastolik disfungsi diastolik Penyebab utama disfungsi diastolik: Penyakit jantung koroner Hipertensi Hipertrofi ventrikel kiri Kardiomiopati hipertrofi

Komplikasi
Tromboemboli: risiko terjadi bekuan vena Fibrilasi atrium Kegagalan pompa progresif Aritmia ventrikel: bisa menyebabkan sinkop atau kematian jantung mendadak

Pencegahan
Primer: buat masyarakat yang menunjukkan adanya faktor risiko gagal jantung. Batasi garam, kolesterol, kontrol berat badan, hindari rokok dan alkohol Sekunder: buat yang sudah terkena GJ, untuk mencegah berlanjut ke stadium lebih berat. Diagnosi GJ, pengobatan dengan tetap, pertahan gaya hidup, hindari faktor risiko

Tertier: untuk mencegah komplikasi atau kematian akibat GJ. Berupa latihan fisik teratur untuk perbaiki fungsional pasien gagal jantung

Penatalaksanaan
Terapi umum Terapi oksigen dan ventilasi Terapi medikamentosa Morfin Antokoagulan Vasodilator: nitrat, nesiritid, dopamine, milrinone, dobutamin, epinefrin, digoksin, nitropusid - ACE-Inhibitor - Diuretik obat inotropik

Prognosis
Pasien dengan gagal jantung akut memiliki prognosis yang sangat buruk. Beberapa faktor klinis dapat mempengaruhi respon terhadap terapi maupun pronosis, antaranya gangguan fungsi ginjal dan PJK.

Terima Kasih