Anda di halaman 1dari 59

Tongkat V

Tongkat gurah vagina, crystal x, the crystal

Mengobati keputihan, mengencangkan vagina, merapatkan vagina, menghilangkan bau badan

white alum KAl(SO4)2 12 H2O sulfate (NH4)2Mg(SO4)2 6 H2O

green ammonium magnesium

Popongan, karanganyar

2011 Kata pengantar


Vagina merupakan jaringan otot, sangat elastis, dan berupa saluran dari vestibula sampai pada uterus. Vagina adalah tempat penetrasi penis pada saat sanggama, dan sebagai saluran keluarnya menstruasi. Saat berhubungan seksual, biasanya sentuhan terhadap dinding vagina memberikan kenikmatan seksual pada perempuan. Dinding vagina bagian depan juga lebih banyak saraf dan sangat sensitif terhadap rangsangan daripada dinding vagina bagian belakang. Meski manfaat dari organ vagina ini begitu besar, namun tak sedikit dari kaum perempuan yang masih kurang perhatian memberikan perawatan eksklusif. Mereka pikir sekadar dibasuh dengan air pun vagina sudah bersih. Tapi kenyataannya tidak begitu, masih banyak yang harus dilakukan oleh seorang perempuan untuk menjaga organ intimnya tetap sehat. Vagina punya mekanisme pembersihan sendiri dengan mengandalkan Koloni bakteri normal yang menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalam dan di sekitarnya. Keseimbangan bisa terganggu kalau pemiliknya jorok. Penggunaan celana basah atau celana dalam terlalu ketat, misalnya, dapat mengganggu keseimbangan itu. Dalam keadaan tertentu, perawatan vagina tidak cukup hanya membersihkan bagian luar. Bagian dalam pun perlu dikuras. Ada beberapa cara yang biasa dilakukan dalam merawat organ reproduksi wanita. Cairan pembersih khusus digunakan dengan cara menyemprotkannya ke dalam vagina. Berisi bahan aktif yang mampu melumpuhkan bakteri, kuman, serta jamur. Berikut ini beberapa langkah awal yang perlu diketahui untuk merawat kesehatan vagina; 1. Bilas dengan cairan pembersih Cairan pembersih khusus digunakan dengan cara menyemprotkannya ke dalam vagina. Berisi bahan aktif yang mampu melumpuhkan bakteri, kuman, serta jamur. Cairan ini bisa digunakan dalam beberapa menit.

Penggunaannya harus dengan pengawasan dokter. Karena itu, selain cairan pembilas, obatan untuk mengatasi gangguan yang ada juga akan diberikan. Tidak semua gangguan bisa diselesaikan dengan cairan ini. Paling hanya dapat mengatasi keputihan.ladi, tidak akan mampu mengatasi penyakit kelamin, apalagi penyakit menular seksual (PMS). 2. Sinar Laser Laser diperlukan karena penggunaan obat pembunuh kuman di vagina biasanya butuh waktu lama, apalagi kalau terjadi resistensi obat. Laser yang digunakan biasanya jenis level rendah atau low level laser therapy. Formulasi dari sinar inframerah clan ultra violet ini mampu membersihkan bakteri, jamur, dan virus dalam waktu relatif cepat. Untuk gangguan ringan, penembakan biasanya dilakukan selama 15 menit sekali.'Bila gangguan sudah berat, butuh puluhan menit dengan beberapa kali tembakan dalam beberapa hari. Obat juga kerap diberikan oleh dokter setelah penembakan laser. 3. Terapi ozon Dr., Mulyadi Tedjapranata, MD, dari Klinik Medizone, menyebutkan bahwa metode penggunaan terapi ozon ini layaknya menggunakan cairan pembersih. Dengan alat yang disebut vaginal insufflations, ozon dimasukkan ke organ kewanitaan dengan dosis sesuai kasus. "Prinsipnya ozon ini berfungsi sebagai disinfektan yang bisa membunuh kuman. Tujuannya untuk mencegah masuknya kuman penyebab penyakit," ujarnya. Dengan periode waktu tertentu pula (tergantung kasus), ozon diperlukan agar kebersihan vagina terjaga. Agar pengobatan efektif, biasanya terapi ini dikombinasi dengan obat-obatan. Namun, ozon tidak bisa digunakan untuk mengatasi penyakit seksual atau PMS. Dan yang jelas, terapi ini harus dilakukan oleh dokter yang ahli dalam hal ini. Jika tidak digunakan secara tepat, memasukkan ozon ke organ kewanitaan hanya akan menyebabkan berkembangbiaknya bakteri yang malah merugikan vagina.

4. Penguapan hangat Dalam ritus perawatan tubuh secara tradisional, penguapan hangat biasa digunakan untuk vagina. Meski begitu, penguapan jelas tidak efektif membunuh mikroorganisme. Penguapan ini menggunakan ramuan wewangian sehingga mengharumkan vagina, selain menghangatkan. Karena itu, selayaknya cara ini dilakukan seperti kita menggunakan parfum badan. Tidak ada alasan selain alasan kosmetik. Meski penguapan disebut sebagai salah satu cara merawat vagina, langkah ini bukan untuk mencegah penyakit, apalagi menghilangkan gangguan. 5. Gurah vagina Meski tak sedikit yang tertarik mencobanya, gurah vagina masih diragukan efektivitasnya. Apalagi yang menanganinya jelas-jelas bukan dokter. Tindakan ini bisa membuat semua mikrooganisme yang merugikan maupun yang normal akan mati clan hilang dari vagina. Akibatnya, vagina justru berisiko terganggu. ( negoro mowo coro , pegobatan modern ditemukan 150 tahun lalu, sebelum iti semuanya menggunakan herbal dan bahan alam ntuk perwatan kesehatan, penulis) 6. Spa vagina Ini metode perawatan alat reproduksi wanita yang menggabungkan berbagai terapi kuno. Ada teknik pengasapan atau penguapan. Ada juga teknik pijat akupresur pada seluruh tubuh dan terutama vagina. Ada juga meditasi gerak atau semacam kegel khusus untuk vagina. 7. Kuras vagina Ini adalah pengontrolan dan pembersihan vagina sampai ke mulut serta rongga rahim. Langkah ini menjadi tindakan awal agar jamur atau kuman tidak merembet ke rongga rahim atau saluran telur, yang bisa mengakibatkan kemandulan atau infeksi yang bisa memicu kanker. ( merawat vagina, http://indonesiaindonesia.com/f/23177-cara-merawat-vagina/) Tongkat v adalah produk untuk merawat kesehatan vagin, yang terbuat dari bahan alami ( tawas ) dan bahan herbal yang merupakan warisan nenek moyang. Herba

majakani, kayu rapet, rumput Fatimah sudah terbukti mampu untuk merawat vagina, sirih sebagai anti septic, kunir putih sebagai anti oksidan. Demikianlah beberapa metode yang digunakan untuk merawat kesehatan vagina,

Pakde jongko 08176540345

UCAPAN TERIMA KASIH

Tersusunnya buku ini tidak terlepas dari jerih payah beberapa pihak, baik yang berperan secara langsung maupun tidak langsung ataupun pihak yang hanya sekedar memberikan dorongan saja. Bantuan yang berupa material dari kertas, terjemahan, transportasi, internet, dan dana sekedar untuk keperluan teknis yang lain. Penulis mengucapkan terima kasih. Beberapa pihak baik institusi yang layak untuk disebut disini adalah; 1. CV Duraposita Chem dan semua staff 2. Jamu onta mas, khususnya kyai tamam qaulani, yang telah memberikan wacana pengobatan herbal dan alami yunani, arab dan cina. 3. Mas darsono, heru elektronik dan masyakat perum korpri popongan

karanganyar. 4. Kyai Abdul Karim dan teman -temannya 5. Semua rekan yang dengan setia membantu, suparno ( pijetherbal.blogspot) dani,

heli, pakde pur Atas semua jerih payah, bantuan, dorongan dan doa restunnya penulis ucapkan terima kasih sedalam dalamnya. Semoga allah SWT berkenan membalas amal baik mereka.

Pakde jongko MOTTO

Keberhasilan ( sukses ) adalah ujung dari kesungguhan. Tidak ada kesulitan tanpa pintu kemudahan, jika sudah selesai maka uruslah masalah yang lain dengan sungguh- sungguh. Hadapilah masalah yang berat dengan kesabaran, menunggu, merenung dan mengambil kesimpulan untuk menyelesaikan.

Daftar isi Kata pengantar Ucapan terima kasih Motto 1. 2. 3. 4. Pengantar Latar belakang Tawas Anti perspirant ( deodorant ) a. Original rock b. Stick c. Roll on d. Spray e. Towelettes f. Herbal 5. Gurah vagina a. Penyakit kewanitaan b. Herbal untuk kewanitaan i. Tawas ii. Delima putih iii. Jambe / pinang iv. Kayu rapet v. Majakani vi. Gambir vii. Sambiroto viii. Sirih

ix. Kunir putih c. Tongkat V 6. Tawas dan gangguan kesehatan 7. Produksi tawas
a. Milling b. Powder Mixing c. Double Boiler mixer d. Molding e. Polishing f. Packing 8. Penutup

BAB 1 PENGANTAR
Tawas, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut "Alum" adalah suatu kristal sulfat dari logam-logam seperti lithium, potassium, calcium, alumunium, dan logam-logam lainnya. Kristal tawas ini cukup mudah larut dalam air, dan kelarutannya berbeda-beda tergantung pada jenis logam dan suhu. Tawas telah dikenal sebagai flocculator yang berfungsi untuk menggumpalkan kotoran-kotoran pada proses penjernihan air. Selain itu, tawas juga digunakan sebagai deodorant, karena sifat antibakterinya. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan mengenai pemakaian larutan tawas sebagai deodorant alami. Resep ini saya dapatkan dari sumber yang ada di internet dan pengalaman pribadi. Lain halnya dengan deodorant-deodorant komersial yang ada sekarang ini, larutan tawas tidak berfungsi untuk mencegah keluarnya keringat. Dengan memakai tawas,

keringat tetap saja keluar dari ketiak, tetapi tidak timbul bau khas ketiak yang aduhai. Jadi, walaupun basah, keteknya gak bau .Dan hal ini lebih saya sukai daripada deodorant komersial itu (baca: rexona), yang dalam iklannya menggembar-gemborkan bahwa dengan memakai rexona, ketiak tidak akan berkeringat walaupun habis lari-lari. Menurut saya, keringat yang keluar dari ketiak itu merupakan hal alami, dan tidak boleh dicegah karena bisa saja hal itu menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan, seperti halnya kalau kita menahan-nahan pipis. Biarkan saja keluar keringat itu, yang penting tidak bau. Selain itu, perlu diketahui bahwa tawas ini tidak memberi aroma yang wangi, tetapi memberi aroma tawar, alias tidak berbau apa-apa. Dan ini lebih saya sukai dibanding aroma-aroma wangi yang lebay. Kalau ingin wangi, bisa saja memakai parfum lain.

BAB 2 LATAR BELAKANG


In antiquity
The word "alumen" occurs in Pliny's Natural History. In the 52nd chapter of his 35th book, he gives a detailed description. By comparing this with the account of stupteria given by Dioscorides in the 123rd chapter of his 5th book, it is obvious that the two are identical. Pliny informs us that alumen was found naturally in the earth. He calls it salsugoterrae. Different substances were distinguished by the name of "alumen"; but they were all characterized by a certain degree of astringency, and were all employed in dyeing and medicine, the light-colored alumen being useful in brilliant dyes, the darkcolored only in dyeing black or very dark colors. One species was a liquid, which was apt to be adulterated; but when pure it had the property of blackening when added to pomegranate juice. This

property seems to characterize a solution of iron sulfate in water; a solution of ordinary (potassium) alum would possess no such property. Pliny says that there is another kind of alum that the Greeks call schistos. It forms in white threads upon the surface of certain stones. From the name schistos, and the mode of formation, it appears that this species was the salt which forms spontaneously on certain salty minerals, as alum slate and bituminous shale, and which consists chiefly of sulfates of iron and aluminium. Possibly in certain places the iron sulfate may have been nearly wanting, and then the salt would be white, and would answer, as Pliny says it did, for dyeing bright colors. Several other species of alumen are described by Pliny, but we are unable to make out to what minerals he alludes. The alumen of the ancients, then, was not always the same as the alum of the moderns. They certainly knew how to produce alum fromalunite, as this process is archaeologically attested on the island Lesbos. This site was abandoned in the 7th century but dates back at least to the 2nd century AD. Native alumen from Melos appears to have been a mixture mainly of alunogen (Al 2(SO4)3.17H2O) with alum and other minor sulfates. The western desert of Egypt was a major source of alum substitutes in antiquity. These evaporites were mainly FeAl 2(SO4)4.22H2O, MgAl2(SO4)4.22H2O, NaAl(SO4)2.6H2O, MgSO4.7H2O and Al2(SO4)3.17H2O.Any contamination with iron sulfate was greatly disliked as this darkened and dulled dye colours. They were acquainted with a variety of substances of varying degrees of purity by the names of misy, sory, and chalcanthum. As alum and green vitriol were applied to a variety of substances in common, and as both are distinguished by a sweetish and astringent taste, writers, even after the discovery of alum, do not seem to have discriminated the two salts accurately from each other. In the writings of the alchemists we find the words misy, sory, chalcanthum applied to alum as well as to iron sulfate; and the name atramentum sutorium, which ought to belong, one would suppose, exclusively to green vitriol, applied indifferently to both. Various minerals are employed in the manufacture of alum, the most important being alunite, alum schist, bauxite and cryolite.

Alchemical and later discoveries and uses


In the 18th century, J. H. Pott and Andreas Sigismund Marggraf demonstrated that alumina was a constituent. Pott in his Lithogeognosiashowed that the precipitate obtained when an alkali is poured into a solution of alum is quite different from lime and chalk, with which it had been confounded by G.E. Stahl. Marggraf showed that alumina is one of the constituents of alum, but that this earth possesses peculiar properties, and is one of the ingredients in common clay. He also showed that crystals of alum can be obtained by dissolving alumina in sulfuric acid and evaporating the solutions, and when a solution of potash or ammonia is dropped into this liquid, it immediately deposits perfect crystals of alum.

Torbern Bergman also observed that the addition of potash or ammonia made the solution of alumina in sulfuric acid crystallize, but that the same effect was not produced by the addition of soda or of lime, and that potassium sulfate is frequently found in alum. After M.H. Klaproth had discovered the presence of potassium in leucite and lepidolite, it occurred to L.N. Vauquelin that it was probably an ingredient likewise in many other minerals. Knowing that alum cannot be obtained in crystals without the addition of potash, he began to suspect that this alkali constituted an essential ingredient in the salt, and in 1797 he published a dissertation demonstrating that alum is adouble salt, composed of sulfuric acid, alumina, and potash. Soon after, J.A. Chaptal published the analysis of four different kinds of alum, namely, Roman alum, Levant alum, British alum and alum manufactured by himself. This analysis led to the same result as Vauquelin.

Early uses in industry


Egyptians reportedly used the coagulant alum as early as 1500 BC to reduce the visible cloudiness (turbidity) in the water. Alum was imported into England mainly from the Middle East, and, from the late 15th century onwards, the Papal States for hundreds of years. Its use there was as a dye-fixer (mordant) for wool (which was one of England's primary industries, the value of which increased significantly if dyed). These sources were unreliable, however, and there was a push to develop a source in England especially as imports from the Papal States were ceased following the excommunication of King Henry VIII. With state financing, attempts were made throughout the 16th century, but without success until early on in the 17th century. An industry was founded in Yorkshire to process the shale which contained the key ingredient, aluminium sulfate, and made an important contribution to the Industrial Revolution. One of the oldest historic sites for the production of alum from shale and human urine are the Peak alum works in Ravenscar, North Yorkshire. Alum (known as turti/sphatika in local Indian languages) was also used for water treatment by Indians for thousands of years.Ayurveda describes sphatika as an astringent, haemostatic, antiseptic. It has anti-inflammatory, anti-pyretic and antibiotic properties. Sphatikas use in treating tonsillitis has been referred in ancient Ayurvedic texts. Sphatika is used internally as well as externally.

BAB 3 TAWAS
Alum ( /lm/) is both a specific chemical compound and a class of chemical compounds.

The specific compound is the hydrated potassium aluminium sulfate (potassium alum) with the formula KAl(SO4)2.12H2O. The wider class of compounds known as alums have the related empirical formula, AB(SO4)2.12H2O

Alums are useful for a range of industrial processes. They are soluble in water; have an astringent, acid, and sweetish taste; react acid tolitmus; and crystallize in regular octahedra. When heated they liquefy; and if the heating is continued, the water of crystallization is driven off, the salt froths and swells, and at last an amorphous powder remains.

Potassium alum is the common alum of commerce, although soda alum, ferric alum, and ammonium alum are manufactured. Alum is also used in purification of drinking water in industries. In a holding tank, some alum (phitkari) is added to the water so that the negatively charged light colloidal parts stick together and get heavy (flocculate) when alum makes the colloidal particles neutralized by making its aluminum ions get loaded with the colloidal parts. When the colloidal parts get heavy they can be easily separated from the tank prior to further filtration and disinfection of the water.

Alum crystal with small amount of chrome alum to give a slight violet color Potash alum Aluminum potassium sulfate, potash alum, KAl(SO4)212H2O is used as an astringent and antisepsis in various food preparation processes such as pickling and fermentation and as a flocculant for water purification among other things. A common method of producing potash alum is leaching of alumina from bauxite which is then reacted with potassium sulfate. As a naturally occurring mineral potash alum is known as kalunite. Other potassium aluminium sulfate minerals are alunite (KAl(SO4)22Al(OH)3) and kalinite (KAl(SO4)211H2O). The molecular weight of potash alum is 474 g/mole. Soda alum Main article: Soda alum Soda alum, NaAl(SO4)212H2O, mainly occurs in nature as the mineral mendozite. It is very soluble in water, and is extremely difficult to purify. In the preparation of this salt, it is preferable to mix the component solutions in the cold, and to evaporate them at a temperature not exceeding 60 C. 100 parts of water dissolve 110 parts of sodium alum at 0 C, and 51 parts at 16 C. Soda alum is used in the acidulent of food as well as in the manufacture of baking powder. Ammonium alum Main article: Ammonium alum Ammonium alum, NH4Al(SO4)212H2O, a white crystalline double sulfate of aluminium, is used in

water purification, in vegetable glues, in porcelain cements, in deodorants (though potassium alum is more commonly used), in tanning, dyeing and in fireproofing textiles. Chrome alum Main article: Chrome alum Chrome alum, KCr(SO4)212H2O, a dark violet crystalline double sulfate of chromium and potassium, was used in tanning. Selenate-containing alums Alums are also known that contain selenium in place of sulfur in the sulfate anion, making selenate (SeO42-) instead. They are called selenium- or selenate-alums. They are strong oxidizing agents. Aluminium sulfate Aluminium sulfate is referred to as papermaker's alum. Although reference to this compound as alum is quite common in industrial communication, it is not regarded as technically correct. Its properties are quite different from those of the set of alums described above. Most industrial flocculation done with alum is actually aluminum sulfate.

Solubility The solubility of the various alums in water varies greatly, sodium alum being readily soluble in water, while caesium and rubidium alums are only sparingly soluble. The various solubilities are shown in the following table. At temperature T, 100 parts water dissolve:

T 0 C 10 C 50 C 80 C

Ammonium Alum Potassium Alum Rubidium Alum Caesium Alum 2.62 4.50 15.9 35.20 3.90 9.52 44.11 134.47 0.71 1.09 4.98 21.60 0.19 0.29 1.235 5.29

100 C
Crystal chemistry

70.83

357.48

Double sulfates with the general formula A2SO4B2(SO4)324H2O, are known where A is a monovalent cation such as sodium, potassium,rubidium, caesium, or thallium(I), or a compound cation such as ammonium (NH4+), methylammonium (CH3NH3+), hydroxylammonium(HONH3+) or hydrazinium (N2H5+), B is a trivalent metal ion, such as aluminium, chromium, titanium, manganese, vanadium, iron (III),cobalt(III), gallium, molybdenum, indium, ruthenium, rhodium, or iridium.[7] The specific combinations of univalent cation, trivalent cation, andanion depends on the sizes of the ions. For example, unlike the other alkali metals the smallest one, lithium, does not form alums, and there is only one known sodium alum. In some cases, solid solutions of alums occur. Alums crystallize in one of three different crystal structures. These classes are called -, and -alums. Related compounds In addition to the alums, which are dodecahydrates, double sulfates and selenates of univalent and trivalent cations occur with other degrees of hydration. These materials may also be referred to as alums, including the undecahydrates such as mendozite and kalinite, hexahydrates such as guanidinium (CH6N3+) and dimethylammonium ((CH3)2NH2+) "alums", tetrahydrates such as goldichite, monohydrates such as thallium plutonium sulfate and anhydrous alums (yavapaiites). These classes include differing, but overlapping, combinations of ions. A pseudo alum is a double sulfate of the typical formula ASO 4B2(SO4)322H2O, where A is a divalent metal ion, such as cobalt (wupatkiite),manganese (apjohnite), magnesium (pickingerite) or iron (halotrichite or feather alum), and B is a trivalent metal ion. A Tutton salt is a double sulfate of the typical formula A2SO4BSO46H2O, where A is a univalent cation, and B a divalent metal ion. Double sulfates of the composition A2SO42BSO4, where A is a univalent cation and B is a divalent metal ion are referred to as langbeinites, after the prototypical potassium magnesium sulfate.

In popular culture Much use was made of the supposed properties of alum as a comedy gag in films, primarily in the 1920s and 1930s. In a typical situation it would be introduced by accident or intent into foodstuffs, with ingestion causing the victim's mouth to assume a tight pucker. Speech was usually difficult or impossible. In animation, cartoon physics could magnify the effect- the victim's head might shrink (as in the 1949 Bugs Bunny cartoon Long-Haired Hare) or the voice alter to a shrill squeak.

Cosmetic
a. Alum in block form (usually potassium alum) is used as a blood coagulant.

b. Styptic pencils containing aluminium sulfate or potassium aluminium sulfate are used
as astringents to prevent bleeding from small shaving cuts. c. Alum was used as a base in skin whiteners and treatments during the late 16th century. A recipe for one such compound was given thus: d. "For the Freckles which one getteth by the heat of the Sun: Take a little Allom beaten small, temper amonst it a well brayed white of an egg, put it on a milde fire, stirring it always about that it wax not hard, and when it casteth up the scum, then it is enough, wherewith anoint the Freckles the space of three dayes: if you will defend your self that you get no Freckles on the face, then anoint your face with the whites of eggs." Christopher Wirzung, General Practise of Physicke, 1654.

e. Alum may be used in depilatory waxes used for the removal of body hair, or applied to
freshly waxed skin as a soothing agent.

f. In the 1950s, men sporting crewcut or flattop hairstyles sometimes applied alum to their
front short hairs as an alternative topomade. When the hair dried, it would stay up all day. g. Alum's antibacterial properties contribute to its traditional use as an underarm deodorant. It has been used for this purpose in Europe; Mexico; Thailand, where it is called SarnSom; throughout Asia; and in the Philippines, where it is called Tawas. Today, potassium alum is sold commercially for this purpose as a "deodorant crystal," often in a protective plastic case.

BAB 4 ANTI PERSPIRANT ( DEODORANT )

Deodorants are substances applied to the body to affect body odor caused by bacterial growth and the smell associated with bacterial breakdown of perspiration in armpits, feet and other areas of the body. A subgroup of deodorants, antiperspirants, affect odor as well as prevent sweating by affecting sweat glands. Antiperspirants are typically applied to the underarms, while deodorants may also be used on feet and other areas in the form of body sprays. In the United

States, deodorants are classified and regulated as cosmetics by the U.S. Food and Drug Administration (FDA). Antiperspirants are classified as drugs by the FDA. The first commercial deodorant, Mum, was introduced and patented in the late nineteenth century by an inventor inPhiladelphia, Pennsylvania, whose name has been lost to history. The product was briefly withdrawn from the market in the U.S., but is currently available at U.S. retailers under the brand Ban. The modern formulation of the antiperspirant was patented by Jules Montenier on January 28, 1941. This formulation was first found in "Stopette" deodorant spray, which Time Magazine called "the best-selling deodorant of the early 1950s". Stopette was later eclipsed by many other brands as the 1941 patent expired. A small percentage of people to are allergic to aluminium and containing may experience contact

dermatitis when

exposed

aluminium

deodorants. Aluminium-containing

antiperspirants are generally safe according to current research.

Human perspiration is largely odorless until it is fermented by bacteria that thrive in hot, humid environments. The human underarm is among the most consistently warm areas on the surface of the human body, and sweat glands provide moisture, which when excreted, has a vital cooling effect. When adult armpits are washed with alkaline pH soap, the skin loses its acid mantle (pH 4.5 - 6), raising the skin pH and disrupting the skin barrier. As many bacteria thrive in this elevated pH environment, this makes the skin susceptible to bacterial colonization. The bacteria feed on the sweat from the apocrine glands and on dead skin and hair cells, releasingtrans-3Methyl-2-hexenoic acid in their waste, which is the primary cause of body odor. Underarm hair wicks the moisture away from the skin and aids in keeping the skin dry enough to prevent or diminish bacterial colonization. The hair is less susceptible to bacterial growth and therefore is ideal for preventing the bacterial odor. Deodorants are classified and regulated as cosmetics by the U.S. Food and Drug

Administration(FDA) and are designed to eliminate odor. Deodorants are usually alcohol-based. Alcohol initially stimulates sweating, but may also temporarily kill bacteria. Deodorants can be formulated with other, more that persistent antimicrobials such slow bacterial growth. as triclosan, Deodorants or with may metal chelant compounds

contain perfume fragrances or natural essential oils intended to mask the odor of perspiration. Deodorants moist combined in with antiperspirant agents are classified as drugs by the

FDA. Antiperspirants attempt to stop or significantly reduce perspiration and thus reduce the climate which bacteria thrive. Aluminium chloride, aluminium chlorohydrate,

andaluminium-zirconium compounds,

most

notably aluminium

zirconium

tetrachlorohydrex

gly and aluminium zirconium trichlorohydrex gly, are frequently used in antiperspirants. Aluminium chlorohydrate and aluminium zirconium tetrachlorohydrate gly are the most frequent active ingredients in commercial antiperspirants. Aluminium-based complexes react with the electrolytes in the sweat to form a gel plug in the duct of the sweat gland. The plugs prevent the gland from excreting liquid and are removed over time by the natural sloughing of the skin. The metal salts work in another way to prevent sweat from reaching the surface of the skin: the aluminium salts interact with the keratin fibrils in the sweat ducts and form a physical plug that prevents sweat from reaching the skins surface. Aluminium salts also have a slight astringenteffect on the pores; causing them to contract, further preventing sweat from reaching the surface of the skin. The blockage of a large number of sweat glands reduces the amount of sweat produced in the underarms, though this may vary from person to person. Over-the-counter products labeled as "natural deodorant crystal" containing the

chemical potassium alum have gained new-found popularity as an alternative health product. A popular alternative to modern commercial deodorants is ammonium alum, which is a common type ofalum sold in crystal form and often referred to as a deodorant crystal. It has been used as a deodorant throughout history in Thailand, the Far East, Mexico and other countries. Deodorants and antiperspirants come in many forms. What is commonly used varies in different countries. In Europe, aerosol sprays are popular, as are cream and roll-on forms. In the United States, solid or gel forms are dominant.

In the 9th century, Ziryab invented under-arm deodorants in Al-Andalus. In 1888, the first commercial deodorant, Mum, was developed and patented by a U.S. inventor in Philadelphia, Pennsylvania, whose name has been lost to history. The small company was bought byBristol-Myers in 1931 and in the late 1940s, marketing executive Edward Gelsthorpe decided to develop an applicator based on the newly invented ball-point pen. In 1952, the company began marketing the product under the name Ban Roll-On. The product was briefly withdrawn from the market in the U.S. It is once again available at retailers in the U.S. under the brand Ban. In the UK it is sold under the names Mum Solid and Mum Pump Spray. Chattem acquired Ban deodorant brand in 1998 and subsequently sold it to Kao Corporationin 2000. The modern formulation of the antiperspirant was patented by Jules Montenier on January 28, 1941. This patent addressed the problem of the excessive acidity of aluminium chloride and its excessive irritation of the skin, by combining it with a soluble nitrile or a similar compound. This

formulation was first found in "Stopette" deodorant spray, which Time Magazine called "the bestselling deodorant of the early 1950s". "Stopette" gained its prominence as the first and long-time sponsor of the game show What's My Line?, and was later eclipsed by many other brands as the 1941 patent expired. In the early 1960s, the first aerosol antiperspirant in the marketplace was Gillette's Right Guard, whose brand was later sold to Henkel in 2006. Aerosols were popular because they let the user dispense a spray without coming in contact with the underarm area. By the late 1960s, half of all the antiperspirants sold in the U.S. were aerosols, and continued to grow in all sales to 82% by the early 1970s. However, in the late 1970s two problems arose which greatly changed the popularity of these products. First, in 1977 the Food and Drug Administration (FDA) banned the active ingredient used in aerosols, aluminium zirconium chemicals, due to safety concerns over long term inhalation. Second, the Environmental Protection Agency (EPA) limited the use of chlorofluorocarbon (CFC) propellants used in aerosols due to awareness that these gases can contribute to depleting the ozone layer. As the popularity of aerosols slowly decreased, stick antiperspirants became more and more popular. Today, sticks are the most popular type of antiperspirant.

a. Original rock

b. Stick

c. Roll on

d. Spray

e. Towelette

A wet wipe, also known as a wet nap, wet towel, or a moist towelette, is a small moistened piece of paper or cloth that often comes folded and individually wrapped for convenience. Such towelettes are for cleansing or disinfecting. Wet wipes are produced as air-laid paper where the fibres are carried and formed to the structure of paper by air. They are moistened with water or other liquids like isopropyl alcohol depending on the applications. The paper might be treated with softeners, lotions or added perfume to get the right properties or "feeling". The finished wet wipes are folded and put in pocket size package or a box dispenser. Wet wipes can serve a number of household purposes. Although marketed primarily for wiping infants' backsides in diaper changing, it is not uncommon for consumers to also use the product to clean floors, toilet seats, and other surfaces around the home. Parents also use wet wipes, or as they are called for baby care, baby wipes, for wiping up baby vomit and use to clean babies' hands and face in feeding or general dirtiness.

f. Herbal

Tumbuhan yang dapat digunakan untuk anti perspirant atau deodorant adalah sebagai berikut; 1) aloevera,
Aloe vera is a succulent plant species that is found only in cultivation, having no naturally occurring populations, although closely related aloes do occur in northern Africa. The species is frequently cited as being used in herbal medicine since the beginning of the first century AD. Extracts from A. vera are widely used in the cosmetics and alternative medicine industries, being marketed as variously having rejuvenating, healing, or soothing properties. There is, however, little scientific evidence of the effectiveness or safety of Aloe vera extracts for either cosmetic or medicinal purposes, and what positive evidence is available is frequently contradicted by other studies

Early records of Aloe vera use appear in the Ebers Papyrus from the 16th century BC,]in both Dioscorides' De Materia Medica and Pliny the Elder's Natural History written in the mid-first century AD along with the Juliana Anicia Codex produced in 512 AD. The species is used widely in the traditional herbal medicine of many countries. [4] Aloe vera, called kathalai in Ayurvedic medicine, is used as a multipurpose skin treatment. This may be partly due to the presence of saponin, a chemical compound that acts as an antimicrobial agent

Two 2009 reviews of clinical studies determined that all were too small and faulty to allow strong conclusions to be drawn from them, but concluded, "there is some preliminary evidence to suggest that oral administration of aloe vera might be effective in reducing blood glucose in diabetic patients and in lowering blood lipid levels in hyperlipidaemia. The topical application of aloe vera does not seem to prevent radiation-induced skin damage. It might be useful as a treatment for genital herpes and psoriasis. The evidence regarding wound healing is contradictory. More and better trial data are needed to define the clinical effectiveness of this popular herbal remedy more precisely." One of the reviews found that Aloe has not been proven to offer protection for humans from sunburn, suntan, or other damage from the sun. A 2007 review of aloe vera's use in burns concluded, "cumulative evidence tends to support that aloe vera might be an effective interventions used in burn wound healing for rst- to second-degree burns. Further, well-designed trials with sufcient details of the contents of aloe vera products should be carried out to determine the effectiveness of aloe vera. Topical application of aloe vera may also be effective for genital herpes and psoriasis (http://en.wikipedia.org/wiki/Aloe_vera )

2) rose leaf extract,

A rose is a woody perennial of the genus Rosa, within the family Rosaceae. There are over 100 species. They form a group of plants that can be erect shrubs, climbing or trailing with stems that are often armed with sharp prickles. Flowers vary in size and shape and are usually large and showy, in colours ranging from white through yellows and reds. Most species are native to Asia, with smaller numbers native to Europe, North America, and northwest Africa. Species, cultivars and hybrids are all widely grown for their beauty and often are fragrant. Rose plants range in size from compact, miniature roses, to climbers that can reach 7 meters in height. Different species hybridize easily, and this has been used in the development of the wide range of garden roses. The leaves are borne alternately on the stem. In most species they are 5 to 15 centimetres (2.0 to 5.9 in) long, pinnate, with (3) 59 (13) leaflets and basal stipules; the leaflets usually have a serrated margin, and often a few small prickles on the underside of the stem. Most roses aredeciduous but a few (particularly from South eastAsia) are evergreen or nearly so.

The hybrid garden rose "Amber Flush"

The flowers of most species have five petals, with the exception of Rosa sericea, which usually has only four. Each petal is divided into two distinct lobes and is usually white or pink, though in a few species yellow or red. Beneath the petals are five sepals (or in the case of some Rosa sericea, four). These may be long enough to be visible when viewed from above and appear as green points alternating with the rounded petals. There are multiple superior ovaries that develop into achenes. Roses are insectpollinated in nature. The aggregate fruit of the rose is a berry-like structure called a rose hip. Many of the domestic cultivars do not produce hips, as the flowers are so tightly petalled that they do not provide access for pollination. The hips of most species are red, but a few (e.g. Rosa pimpinellifolia) have dark purple to black hips. Each hip comprises an outer fleshy layer, thehypanthium, which contains 5160 "seeds" (technically dry singleseeded fruits calledachenes) embedded in a matrix of fine, but stiff, hairs. Rose hips of some species, especially the Dog Rose (Rosa canina) and Rugosa Rose (Rosa rugosa), are very rich invitamin C, among the richest sources of any plant. The hips are eaten by fruit-eating birdssuch

as thrushes and waxwings, which then disperse the seeds in their droppings. Some birds, particularly finches, also eat the seeds.

Rose thorns are actually prickles - outgrowths of the epidermis.

While the sharp objects along a rose stem are commonly called "thorns", they are technically prickles outgrowths of the epidermis (the outer layer of tissue of the stem). (True thorns, as produced by e.g. Citrus or Pyracantha, are modified stems, which always originate at a node and which have nodes and internodes along the length of the thorn itself.) Rose prickles are typically sickle-shaped hooks, which aid the rose in hanging onto other vegetation when growing over it. Some species such as Rosa rugosa and Rosa pimpinellifolia have densely packed straight prickles, probably an adaptation to reduce browsing by animals, but also possibly an adaptation to trap wind-blown sand and so reduce erosionand protect their roots (both of these species grow naturally on coastal sand dunes). Despite the presence of prickles, roses are frequently browsed by deer. A few species of roses have only vestigial prickles that have no points. http://en.wikipedia.org/wiki/Rose

3) salvia officinalis ( sage),


Salvia officinalis (sage, also called garden sage, or common sage) is a perennial, evergreen subshrub, with woody stems, grayish leaves, and blue to purplish flowers. It is a member of the family Lamiaceae and is native to the Mediterranean region, though it has naturalized in many places throughout the world. It has a long history of medicinal and culinary use, and in modern times as an ornamental garden plant. The common name "sage" is also used for a number of related and unrelated species. Common sage is grown in parts of Europe for distillation of an essential oil, though other species, such as Salvia fruticosa may also be harvested and distilled with it.

In Britain sage has for generations been listed as one of the essential herbs, along withparsley, rosemary and thyme (as in the folk song "Scarborough Fair"). It has a savoury, slightly peppery flavor. It appears in many European cuisines, notably Italian, Balkan and Middle Eastern cookery. In British and American cooking, it is traditionally served as sage and onion stuffing, an accompaniment to roast turkey or chicken at Christmas orThanksgiving Day. Other dishes include pork casserole, Sage Derby cheese and Lincolnshire sausages. Despite the common use of traditional and available herbs in French cuisine, sage never found favour there. Salvia and "sage" are derived from the Latin salvere (to save), referring to the healing properties long attributed to the various Salvia species. It has been recommended at one time or another for virtually every ailment by various herbals. Modern evidence shows possible uses as an antisweating agent, antibiotic, antifungal, astringent, antispasmodic,estrogenic, hypoglycemic, and tonic. In a double blind, randomized and placebo-controlled trial, sage was found to be effective in the management of mild to moderate Alzheimer's disease. The strongest active constituents of sage are within its essential oil, which contains cineole,borneol, and thujone. Sage leaf contains tannic acid, oleic acid, ursonic acid, ursolic acid,cornsole, cornsolic acid, fumaric acid, chlorogenic acid, caffeic acid, niacin, nicotinamide,flavones, flavonoid glycosides, and estrogenic substances. Investigations have taken place into using sage as a treatment for Alzheimer's diseasepatients. Sage leaf extract may be effective and safe in the treatment ofhyperlipidemia.

http://en.wikipedia.org/wiki/Salvia_officinalis 4) Eugenia caryophyllus ( blossom ),


Cloves are the aromatic dried flower buds of a tree in the family Myrtaceae, Syzygium aromaticum. Cloves are native to the Maluku islands in Indonesia and used as a spice in cuisines all over the world. Cloves are harvested primarily in Indonesia, India, Madagascar,Zanzibar, Pakistan, and Sri Lanka. They have a numbing effect on mouth tissues. The clove tree is an evergreen that grows to a height ranging from 812 m, having largeleaves and sanguine flowers in numerous groups of terminal clusters. The flower buds are at first of a pale color and gradually become green, after which they develop into a bright red, when they are ready for collecting. Cloves are harvested when 1.52 cm long, and consist of a long calyx, terminating in four spreading sepals, and four unopened petals which form a small ball in the center.

Western studies have supported the use of cloves and clove oil for dental painHowever, studies to determine its effectiveness for fever reduction, as a mosquito repellent and to prevent premature ejaculation have been inconclusive]Clove may reduce blood sugar levels.

Tellimagrandin II is an ellagitannin found in S. aromaticum with anti-herpesvirus properties. The buds have anti-oxidant properties. Clove oil can be used to anesthetize fish, and prolonged exposure to higher doses (the recommended dose is 400 mg/l) is considered a humane means of euthanasia. In addition, clove oil is used in preparation of some toothpastes, laxative pills and Clovacaine solution which is a local anesthetic and used in oral ulceration and anti-inflammations. Eugenol (or clove oil generally) is mixed with Zinc oxide to be a temporary filling

http://en.wikipedia.org/wiki/Eugenia_caryophyllata 5) usnea barbata plant extract ( rasuk angin),


Usnea is the generic and scientific name for several species of lichen in the familyParmeliaceae, that generally grow hanging from tree branches, resembling grey or greenish hair. It is sometimes referred to commonly as Old Man's Dandruff, Woman's Long Beard, Beard Lichen, Tree's

Hair, or Tree Moss. It should not be confused with Oak Moss (genus Evernia), which it physically resembles and is also called Tree Moss. Usnea grows all over the world. Like other lichens it is a symbiosis of a fungus and an alga. The fungus belongs to the division Ascomycota, while the alga is a member of the division Chlorophyta.

Usnea has been used medicinally for at least 1600 years. Usnic acid (C18H16O7), a potent antibiotic and antifungal agent is found in all species. This, combined with the hairlike structure of the lichen, means that Usnea lent itself well to treating surface wounds when sterile gauze and modern antibiotics were unavailable. Usnea has been used both internally and topically, but due to potential hepatoxicity issues, it is recommended in some medical literature to be used only externally. Usnea is high in vitamin C. In modern American herbal medicine, Usnea barbata is used as an antibiotic, primarily used in lung and upper respiratory tract infections, and urinary tract infections. Usnea has been used as an antibiotic for gram-positive bacteria, and as an antifungal againstCandida albicans. There are no human clinical trials to either support or refute either practice, although in vitro research does strongly support Usnea's antimicrobial properties. In Germany, the Commission E approved Usnea for mild inflammation of the oral and pharyngeal mucosa in 1989. Usnea also has shown anecdotal usefulness in the treatment of difficult to treat fish infections in aquariums and ponds. Usnea was one ingredient in a product called Lipokinetix, promoted to induce weight loss via increase in metabolic rate. Lipokinetix has been the topic of an FDA warning in the USA, due to potential hepatotoxicity, although it is unclear yet if any toxicity would be attributable to the Usnea. Lipokinetix also contained PPA, caffeine, yohimbine and diiodothyronine.

There is reason to believe that Usnea, in high concentrations, could possess some toxicity. The National Toxicology Program is currently evaluating the issue.There is no formal scientific information on the safety or efficacy of oral use of Usnea, although its long history of use strongly suggests value.

http://en.wikipedia.org/wiki/Usnea 6) lemon,
The lemon (Citrus limon) is a small evergreen tree native to Asia, and the tree's ellipsoidal yellow fruit. The fruit is used for culinary and non-culinary purposes throughout the world, primarily for its juice, though the pulp and rind (zest) are also used in cooking and baking. The juice of the lemon is about 5% to 6% citric acid, which gives lemons a sour taste. The distinctive sour taste of lemon juice makes it a key ingredient in drinks and foods such aslemonade.

he juice of the lemon may be used for cleaning. A halved lemon dipped in salt or baking powder is used to brighten copper cookware. The acid dissolves the tarnish and the abrasives assist the cleaning. As a sanitary kitchen deodorizer the juice can deodorize, remove grease, bleach stains, and disinfect; when mixed with baking soda, it removes stains from plastic food storage containers. The oil of the lemon's peel also has various uses. It is used as a wood cleaner and polish, where its solvent property is employed to dissolve old wax, fingerprints, and grime. Lemon oil and orange oil are also used as a nontoxicinsecticide treatment. A halved lemon is used as a finger moistener for those counting large amounts of bills, such as tellers and cashiers. Lemon oil may be used in aromatherapy. Researchers at The Ohio State University found that lemon oil aroma does not influence the human immune system, but may enhance mood. The low pH of juice makes it antibacterial, and in India, the lemon is used in Indiantraditional medicines Siddha Medicine and Ayurveda

7) tea tree oil,


Tea tree oil, or melaleuca oil, is an essential oil with a fresh camphoraceous odor and a color that ranges from pale yellow to nearly colorless and clear. It is taken from the leaves of the Melaleuca alternifolia, which is native to Southeast Queensland and the Northeast coast of New South Wales, Australia. Tea tree oil should not be confused with tea oil, the sweet seasoning and cooking oil from pressed seeds of the tea plant Camellia sinensis (beverage tea) or the tea oil plant Camellia oleifera.

Tea tree oil has been scientifically investigated only recently. Some sources suggest beneficial medical properties when appliedtopically, including antiviral, antibacterial, antifungal, and antiseptic qualities. The antiseptic properties can help treat skin blemishes (acne). It also has beneficial cosmetic properties. Tea tree oil is less successful for anti-microbial application in the nose. Also, there is clinical evidence that topical dermatological preparations containing tea tree oil may be more effective than conventional antibiotics in preventing transmission of CA-MRSA. Recent studies support a role for the topical application of tea tree oil in skin care and for the treatment of various diseases and conditions. Tea tree oil appears to be effective against bacteria, viruses, fungal infections such as athlete's foot, mitessuch as scabies, and lice such as head lice. A 2008 study of in vitro toxicity showed a tea tree oil preparation was more effective against head lice than permethrin, a popular pharmaceutical remedy. Tea tree oil is possibly effective against acne. In the treatment of moderate common acne, topical application of 5% tea tree oil has shown an effect comparable to 5% benzoyl peroxide. Albeit with slower onset of action, patients who use tea tree oil experience fewer side effects than those that use benzoyl peroxide treatments. Tea tree oil is a known antifungal agent, effective in vitro against multiple dermatophytes found on the skin. Shampoo with 5% tea tree oil has been shown to be an effective treatment for dandruff due to its ability to treat Malassezia furfur, the most common cause of the condition. One clinical study found that 100% tea tree oil administered topically, combined with debridement, was comparable to clotrimazole in effectiveness against onychomycosis, the most frequent cause of nail disease. It was not as effective at lower concentrations. The effectiveness of topical tea tree oil preparations for the treatment of the yeast infection Candidiasis is supported by its ability to killCandida in vitro There is some very limited research that has shown that tea tree oil may have in vitro antiviral activity against the Tobacco Mosaic Virus, some strains of Herpes Simplex, and some bacteriophage viruses. One in vitro study has shown a 5% tea tree oil solution to be more effective than commercial medications against the scabies mite

8) witch hazel.
Witch hazel is an astringent produced from the leaves and bark of the North American Witch-hazel shrub (Hamamelis virginiana), which grows naturally from Nova Scotia west to Ontario, Canada, and south to Florida and Texas in the United States. This plant extract was widely used for medicinal purposes by American Indians and is a component of a variety of commercial healthcare products. Native Americans produced witch hazel extract by boiling the stems of the shrub and producing a decoction, which was used to treat swellings, inflammations, and tumors. Early Puritan settlers in New England adopted this remedy from the natives, and its use became widely established in the United States. A missionary, Dr. Charles Hawes, learned of the preparation's therapeutic properties, and then determined through extensive study that the product of distillation (likely steam distillation) of the plant's twigs was even more efficacious.[2] "Hawes Extract" was first produced and sold in Essex, Connecticut, in 1846, by druggist and chemist Alvan Whittemore. Hawes' process was further refined by Thomas Newton Dickinson, Sr., who is credited with starting the commercial production of witch hazel extract, also in Essex, Connecticut, in 1866, and eventually establishing nine production sites in eastern Connecticut.]Following his death, his two sons, Thomas N., Jr., of Mystic, Connecticut, and Everett E. Dickinson of Essex, each inherited parts of the family business and continued the manufacture of witch hazel extract, operating competing "Dickinson's" businesses that were continued by their descendants. The two branches of the family became bitter rivals, but their companies were eventually merged in 1997 as Dickinson Brands. The main constituents of the witch hazel extract include phenolics such as tannins of the proanthocyanin type, gallic acid, catechins,flavonols (kaempferol, quercetin), as well as chemicals found in the essential oil (carvacrol, eugenol, hexenol), choline andsaponins Distilled witch hazel sold in drug stores and pharmacies typically contains no tannin ] Witch hazel is mainly used externally on sores, bruises, and swelling, and witch hazel hydrosol is used in skin care (e.g., as an astringent and antioxidant potentially useful in fighting acne). It is often also used as a natural remedy for psoriasis and eczema, in aftershaveand in-grown nail applications and to prevent facial sweating and cracked/blistered skin, and for treating insect bites, poison ivy, andhemorrhoids, with evidence lacking for further reported uses including GI maladies (diarrhea, coughing up/vomiting blood), general infections such as colds and the specific infection tuberculosis, as well as eye inflammation, bruising, and varicose veins. It is found in numerous over-the-counter hemorrhoid preparations. It is recommended to women to reduce swelling and soothe wounds resulting from childbirth. The essential oil of witch hazel is not sold separately as a consumer product The plant does not produce enough essential oil to make production viable However, there are various distillates of witch hazel (called hydrosols or hydrolats) that are gentler than the "drug store" witch hazel.

BAB 5 GURAH VAGINA a. Penyakit kewanitaan


Kiat Mencegah Keputihan Karena Infeksi Jamur di Bulan Puasa. Bulan puasa merupakan bulan hikmah untuk beribadah bagi kaum muslim di seluruh dunia dan tentunya dalam beribadah diperlukan kenyamanan terutama kebersihan dari luar maupun dari dalam. Khususnya bagi kaum muslimah, ada penyakit tertentu yang jika dibiarkan dapat menganggu kenyamanan dalam beribadah seperti keputihan, dimana sebetulnya penyakit ini dapat diatasi karena ada cara-cara pencegahan dan solusinya. Keputihan merupakan penyakit umum yang sering diderita perempuan dan salah satu faktor pencetusnya adalah pola makan yang tidak sehat. Pada bulan puasa umumnya perempuan tidak memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi saat berbuka sehingga dapat mempengaruhi risiko keputihan akibat infeksi jamur. Dalam salah satu diskusi ilmiah mengenai keputihan, pencegahan dan solusinya dengan pembicara pembicara Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG dari FKUI RSCM, ahli Obstetri dan Ginekologi menjelaskan mengenai penyakit keputihan khususnya infeksi jamur vagina dan sehubungan dengan datangnya bulan Ramadhan, Dr. Elvina Karyadi, ahli gizi membahas mengenai alternatif makanan menu sehat untuk berbuka puasa. Epidemiologi 75 persen dari seluruh wanita di dunia pasti akan mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan sebanyak 45% akan mengalami dua kali atau lebih. 92 persen keputihan disebabkan oleh jamur yang disebutCandida albicans. Tentang Keputihan Keputihan atau istilah medisnya Fluor Albus, adalah cairan yang berlebihan yang keluar dari vagina. Terdapat dua jenis keputihan: Bersifat fisiologis (dalam keadaan normal) dengan ciri-ciri: * berwarna putih jernih, * berwarna kuning terang, * konsistensi seperti lendir (encer-kental) tergantung siklus hormon, * tidak berbau dan tidak menimbulkan keluhan

Bersifat patologis (karena penyakit) dengan ciri-ciri: * cairan yang keluar dari vagina lebih banyak dari biasanya dan terus menerus muncul hingga terasa mengganggu, * berbau tidak sedap, * berwarna (putih susu kuning tua coklat kehijauan bercampur darah), * konsisten encer berbuih hingga kental menggumpal seperti susu basi, * timbul benjolan atau luka dan gatal atau panas disertai rasa nyeri ketika berhubungan. Keputihan dapat disebabkan oleh infeksi dari: bakteri (Chlamydia, N.Gonorrhoeae, Bakterial Vaginosis, dll), Jamur (Candida Spp) dan Parasit (Trichomonas Vaginalis). Keputihan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan genitalia dan pola makan yang sehat, menghindarkan faktor resiko infeksi seperti berganti-ganti pasangan seksual, pemeriksaan ginekologi secara teratur termasuk pemeriksaan deteksi dini kanker serviks (pap smear) satu tahun sekali bagi yang pernah melakukan hubungan seksual. Infeksi Jamur Vagina Infeksi jamur vagina disebabkan oleh Candida Albicans dan merupakan penyebab keputihan yang sering di temui di Indonesia. Semua perempuan di semua usia dapat mengalaminya termasuk mereka yang belum pernah berhubungan seksual. Infeksi jamur vagina merupakan akibat pertumbuhan yang berlebihan dari mikroorganisme yang secara normal ada dalam saluran pencernaan dan vagina. Terjadinya pertumbuhan abnormal dari jamur vagina disebabkan oleh gangguan keseimbangan flora saluran pencernaan dan vagina akibat turunnya imunitas tubuh, hamil, obesitas, penggunaan antibiotika, pola makan atau konsumsi gula yang tinggi, gangguan pencernaan termasuk konstipasi. Gejala yang dihadapi adalah keputihan yang kental putih kekuningan, kerap menggumpal seperti kepala susu dan berbau tidak sedap, rasa gatal pada daerah vagina dan sekitarnya, rasa tidak nyaman saat buang air dan nyeri ketika berhubungan seksual. Penatalaksanaan infeksi jamur vagina adalah dengan menjaga kebersihan dan perawatan daerah ginetalia, mengatasi faktor resiko seperti obesitas/kegemukan, penyakit kencing manis, turunnya imunitas tubuh, penggunaan obat-obat antibiotika dalam jangka waktu yang lama dan bahan/kondisi yang mengiritasi vagina, pengaturan pola makan sehat dan obat-obat anti jamur.

Tips yang perlu diperhatikan selama bulan puasa agar terhindar dari resiko keputihan Cukup asupan cairan, minimal 8 gelas per hari dalam bentuk minuman maupun makanan Cukup asupan serat dari buah dan sayuran Hindari makanan yang terlalu banyak mengandung tepung dan gula

b. Herbal untuk kewanitaan i. Delima putih


Delima (punica granatum) adalah tanaman buah-buahan yang dapat tumbuh hingga 5-8 m. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Iran, namun telah lama dikembangbiakkan di daerahMediterania. Bangsa Moor memberi nama salah satu kota kuno di Spanyol, Granada berdasarkan nama buah ini. Tanaman ini juga banyak ditanam di daerah Cina Selatan dan Asia Tenggara. Delima berasal dari Timur Tengah, tersebar di daerah subtropik sampai tropik, dari dataran rendah sampai di bawah 1.000 m dpl. Tumbuhan ini menyukai tanah gembur yang tidak terendam air, dengan air tanah yang tidak dalam. Delima sering ditanam di kebun-kebun sebagai tanaman hias, tanaman obat, atau karena buahnya yang dapat dimakan. Berupa perdu atau pohon kecil dengan tinggi 25 m. Batang berkayu, ranting bersegi, percabangan banyak, lemah, berduri pada ketiak daunnya, cokelat ketika masih muda, dan hijau kotor setelah tua. Daun tunggal, bertangkai pendek, letaknya berkelompok. Helaian daun bentuknya lonjong sampai lanset, pangkal lancip, ujung tumpul, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan mengkilap, panjang 19 cm, lebar 0,52,5 cm, warnanya hijau. Bunga tunggal bertangkai pendek, keluar di ujung ranting atau di ketiak daun yang paling atas. Biasanya, terdapat satu sampai lima bunga, warnanya merah, putih, atau ungu. Berbunga sepanjang tahun. Buahnya buah buni, bentuknya bulat dengan diameter 512 cm, warna kulitnya beragam, seperti hijau keunguan, putih, cokelat kemerahan, atau ungu kehitaman. Kadang, terdapat bercakbercak yang agak menonjol berwarna tebih tua. Bijinya banyak, kecil-kecil, bentuknya bulat panjang yang bersegi-segi agak pipih, keras, tersusun tidak beraturan, warnanya merah, merah jambu, atau putih.

Manfaat delima tersebut bisa diperoleh dengan berbagai cara, seperti dalam bentuk sari buah atau bisa juga memakan bijinya, sirup, pasta atau konsentrat delima. Secara tradisional, buah delima biasa digunakan untuk membersihkan kulit dan mengurangi peradangan pada kulit. Jus buah delima juga bisa mengurangi derita radang tenggorokan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Journal of Clinical Nutrition, buah delima yang kaya antioksidan ini bisa mencegah oksidasi LDL atau kolesterol jahat dalam tubuh. Selain yang sudah disebutkan tadi, khasiat buah delima bagi kesehatan antara lain dapat untuk penyakit-penyakit seperti: gangguan perut, gangguan jantung, kanker, perawatan gigi, rematik, kurang darah dan diabetes. Di Asia, sari buahnya juga dikentalkan menjadi suatu sirup yang digunakan sebagai saus. Di Mesir buah ini dijadikan semacam minuman anggur, sirup, dan sari buah. Dalam satu gelas sari delima lebih banyak kandungan antioksidannya dibandingkan dengan satu gelas red wine, green tea atau orange juice. Di Amerika, produk sari buah delima yang dikenal sebagai pom wonderful menjadi tren minuman kesehatan terkini. Minuman sari buah delima dikenal sebagai sari buah sehat, tinggi khasiatnya. Sari buah delima tinggi kandungan ion kalium (potasium), vitamin A, C dan E serta asam folic. Dari bagian biji yang dapat dimakan, kandungan kalium per 100 gram (259 mg/gr), energi 63 kal, 30 mg vitamin C. Komponen ini dianggap sangat penting bagi kesehatan jantung (Time, Desember 2003). Sari buah delima juga tinggi kandungan flavonoidnya, suatu jenis antioksidan kuat yang penting perannya untuk mencegah berkembangnya radikal bebas di dalam tubuh sekaligus memperbaiki selsel tubuh yang rusak, serta mampu dalam memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung, kanker kulit, dan kangker prostat. Antioksidan yang terkandung didalamnya membantu mencegah penyumbatan pada pembuluh darah arteri oleh kolesterol. Bahkan kandungan antioksidan dalam buah delima jumlahnya tiga kali lebih banyak daripada wine atau teh hijau. Peneliti dari Vanderbilt University Medical Center menemukan bahwa orang yang meminum jus 3 kali atau lebih dalam seminggu, dapat menurunkan risiko terkena alzheimer hingga 76% dibandingkan orang yang tidak minum jus sama sekali.

ii. Jambe / pinang

Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika bagian timur. Pinang juga merupakan nama buahnya yang diperdagangkan orang. Pelbagai nama daerah di antaranya adalah pineung (Aceh), pining (Batak Toba), penang (Md.), jambe (Sd., Jw.), b ua, ua, wua, pua, fua, hua (aneka bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku) dan berbagai sebutan lainnya. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Betel palm atau Betel nut tree, dan nama ilmiahnya adalah Areca catechu.

Pinang terutama ditanam untuk dimanfaatkan bijinya, yang di dunia Barat dikenal sebagai betel nut. Biji ini dikenal sebagai salah satu campuran orang makan sirih, selain gambir dan kapur. Biji pinang mengandung alkaloida seperti misalnya arekaina (arecaine) dan arekolina (arecoline), yang sedikit banyak bersifat racun dan adiktif, dapat merangsang otak. Sediaan simplisia biji pinang di apotek biasa digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengatasi cacing pita. Sementara itu, beberapa macam pinang bijinya menimbulkan rasa pening apabila dikunyah. Zat lain yang dikandung buah ini antara lainarecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya. Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah, dan kudisan. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak. Akar pinang jenis pinang itam, di masa lalu digunakan sebagai bahan peracun untuk menyingkirkan musuh atau orang yang tidak disukai. Pelepah daun yang seperti tabung (dikenal sebagai upih) digunakan sebagai pembungkus kue-kue dan makanan. Umbutnya dimakan sebagai lalapan atau dibikin acar. Batangnya kerap diperjual belikan, terutama di kota-kota besar di Jawa menjelang perayaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, sebagai sarana untuk lomba panjat pinang. Meski kurang begitu awet, kayu pinang yang tua juga dimanfaatkan untuk bahan perkakas atau pagar. Batang pinang tua yang dibelah dan dibuang tengahnya digunakan untuk membuat talang atau saluran air. Pinang juga kerap ditanam, di luar maupun di dalam ruangan, sebagai pohon hias atau ornamental.

iii. Kayu rapet

Sinonim
Parameria barbata (Miq.) K. Schum. ; Parameria anguastiar (Miq.) Baerl. ;Ecdysanthera barbata Miq. ; Parameria glandulifera BENTH.

Nama Daerah Indonesia

: Kayu rapet, akar gerip putih, gakeman mayit (lampung), kayu rapet (sunda), kayu rapet (jawa), gembor (jawa), ragen (jawa), medaksi (madura). : Kayu Rapat : Dugtong Ahas : chang jie zhu

Melayu Pilipina Cina

Nama simplesia Parameriae Cortex Deskripsi tanaman Habitat : Tanaman ini banyak tumbuh liar di hutan dan tempat lain yang bertanah tandus dan cukup mendapatkan sinar matahari. Semak menjalar, panjang kurang lebih 4 meter. Tumbuh liar di hutan pada dataran rendah samapai 1200 dpl Batang Daun : membelit, bulat, berkayu, berambut, cokelat. : tunggal, lanset, berhadapan, pangkal dan daun meruncing, daun muda berwarna hijau kemerahan setelah tua berwarna hijau, berhadapan, pertulangan menyirip, panjang 5-12 cm, lebar 2-5 cm, bertangkai panjang 2-4 cm. : bentuk malai, majemuk, mahkota bentuk corong, panjang 2-2,5 cm, warna putih. Berbunga pada bulan juni-oktober. : polong, panjang 15-45 cm, ujung lanciip, berisi 4-10 biji, berbuah bulan oktober-desember. : bulat, warna cokelat kehitaman. : tunggang, berwarna coklat.

Bunga Buah Biji Akar

SEBAGAI semak menjalar, kayu rapat atau kayu rapet baik dipelihara sebagai tanaman hias Kandungan kimia Kulit, kayu dan akar Parameria laevigata mengandung flavonoida dan polifenol, daunnya juga mengandung saponin dan Tanin. Saponin adalah senyawa surfaktan. Dan berbagai hasil penelitian disimpulkan, saponin bersifat hipokolesterolemik, imunostimulator, dan antikarsinogenik. Mekanisme antikoarsinigenik saponin meliputi efek antioksidan dan sitotoksik langsung pada sel kanker Saponin memberikan rasa pahit pada bahan pangan nabati. Sumber utama saponin adalah biji-bijian khususnya kedele. Saponin dapat menghambat pertumbuhan kanker kolon dan membantu kadar kolesterol menjadi normal. Tergantung pada jenis bahan makanan yang dikonsumsi, seharinya dapat mengkonsumsi saponin sebesar 10-200 mg. Tanin adalah astringen jalur usus, dapat mengurangi sekresi cairan dalam usus, sehingga kadar air dalam kotoran manusia berkurang sehingga dapat mencegah mencret Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan seperti warna daun saatmusim gugur. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki peran sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan. Antioksidan polifenol dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dan kanker. Terdapat penelitian yang menyimpulkan polifenol dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer. Berfungsi sebagai antihistamin (antialergi) Flavonoid , berfungsi : melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan lemak pada dinding pembuluh darah mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner mengandung antiinflamasi (antiradang)

berfungsi sebagai anti-oksidan membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan

Khasiat Kulit kayu Parameria laevigata berkhasiat sebagai obat rahim nyeri sehabis bersalin, disentri, koreng-koreng dan luka-luka. Untuk obat rahim nyeri sehabis bersalin dipakai 15 gr kulit kayu Parameria laevigata, dicuci, direbus dengan 3 gelas air selama 25 menit, setelah diangkat disaring. Hasil saringan diminum 2x sama banyak pagi dan sore. Juga berkhasiat sebagai Stomakik; Antipiretik; Desinfektan.

iv. Majakani

Majakani (manjakani), also known as Oak Gall, is found on the twigs or leaves of the oak tree (specifically dyers oak or quercus infectoria). It is a small tree indigenous to Asia Minor and Persia. Majakani (manjakani) has natural antiseptic properties, and is used to treat female vaginal discharge (leucorrhoea). In written records as far back as 100 A.D., the Roman gynaecologist, Soranus has used this plant to treat his patients. In Asia it is widely believed that majakani (manjakani) can rejuvenate the vaginal muscular cells, resulting in tighter vagina muscles. Many Asian women consume majakani (manjakani) after childbirth to tighten their vagina. Majakani (manjakani) is also available as a topical cream. Majakani (manjakani) is a very powerful astringent herb and is believed to firm and tighten the vaginal wall, restore elasticity, and improve muscle tone. Dibandingkan dengan daun sirih, manjakani memang relatif kurang dikenal. Padahal tanaman ini juga berkhasiat untuk merawat kesehatan, membersihkan organ intim wanita dan menghilangkan bau tak sedap, bersih harum dan kesat, bangkitkan rasa percaya diri untuk kemesraan hubungan suami-istri.

Merawat organ intim dengan ramuan bahan alami sebenarnya telah dilakukan sejak dahulu kala. Yang paling populer adalah air rebusan daun sirih untuk menghilangkan keputihan. Sebenarnya masih ada bahan lain untuk menjaga organ intim, yakni manjakani (oak galls). Manjakani Herbal Ajaib Manjakani yang dikenal herbal ajaib mengandung kaya akan tannin untuk mengencangkan otot vagina, vitamin A dan C, kalsium, protein, serta mengandung elemen astringent untuk menghilangkan bakteri penyebab keputihan, serta menambah kerapatan. Aman diminum dan bebas efek samping karena Alami. Selama berabad-abad, tanaman yang punya nama lain Mecca Manjakani ini telah dipakai dalam obat tradisional oleh orang Arab, Iran, Cina, India, dan Melayu. Walaupun banyak tumbuh di Indonesia, tumbuhan manjakani belum banyak dikenal masyarakat. Menurut pakar herbal dan obat tradisional, Prof. Dr. Hembing Wijayakusuma, seperti daun sirih, manjakani juga dapat membersihkan jamur dan bakteri di area vagina. Manjakani sebenarnya lebih bagus karena bisa mengatasi cairan berlebih di vagina, katanya. Manjakani Dambaan Pasutri Buah Manjakani sebagai obat-obatan herbal yang dapat membantu elastisitas organ intim kewanitaaan sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Khasiat Manjakani bukan saja dapat dirasakan oleh kaum Hawa, tetapi secara tidak langsung juga membantu kepuasan pria dan wanita saat behubungan intim. Ekstrak manjakani tidak hanya dikenal dapat membantu mengencangkan otot vagina, mengurangi keputihan dan mengurangi cairan, namun juga dapat membantu vagina yang kering, ungkap Prof. Dr. Hembing Wijayakusuma. Menurut Hembing, penggunaan manjakani di zaman dulu biasanya dihaluskan lalu disaring sebelum dioleskan di organ kewanitaan. Ada pula yang meminum jamu manjakani untuk meningkatkan elastisitas otot area V. Namun begitu, lanjut Hembing, bahan manjakani tak bisa dipakai begitu saja, karena harus diformulasikan dulu, dicampur dengan bahan ramuan lain sesuai dengan tujuan pengobatannya. Berikut ini Beberapa Khasiat Manjakani: Memulihkan elastisitas organ intim kewanitaaan (kencangkan otot Miss V) Menghilangkan gatal-gatal, Keputihan dan bau yang kurang menyenangkan. Mencegah penuaan dini Menstabilkan PH asam dan mengurangi cairan (basah) berlebihan (tidak kering). Meningkatkan hormon estrogen Mempertingkatkan daya alat kelamin dan tenaga batin.

Membina rahim dan membersihkan (selepas bersalin / haid) Melancarkan pencernaan sehingga BAB lancar. Mencegah Kanker Servix dan Kanker Payudara. Mengobati sakit maag dan mengurangi selulit. ( cintaherbal.wordpress.com/.../manjakani-buah-ajaib-d...)

v. Gambir
Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama ( Uncaria gambir Roxb.). pada menyirih. Di Indonesia gambir Kegunaan yang dan pada pewarna. suatu bahan umumnya digunakan sebagai juga yang lebih penting adalah Gambir alami

bahan penyamak kulit

mengandung katekin (catechin),

bersifatantioksidan. India mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih. Gambir dihasilkan pula dari tumbuhan U. acida.

Gambir adalah ekstrak air panas dari daun dan ranting tanaman gambir yang disedimentasikan dan kemudian dicetak dan dikeringkan. Hampir 95% produksi dibuat menjadi produk ini, yang dinamakan betel bite atau plan masala. Bentuk cetakan biasanya silinder, menyerupai gula merah.

Warnanya coklat kehitaman. Gambir (dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai gambier) biasanya dikirim dalam kemasan 50kg. Bentuk lainnya adalah bubuk atau "biskuit". Nama lainnya dalah catechu, gutta gambir, catechu pallidum (pale catechu). Daerah penghasil utama adalah Sumatra bagian tengah dan selatan. Harga jualnya di tingkat petani per kg adalah IDR5.000 hingga IDR20.000; di pasaran ekspor harganya berkisar dari USD1,46 hingga USD2,91. Ekspor gambir juga menunjukkan pertumbuhan yang baik. Umumnya, gambir dikenal berasal dari Sumatera Barat. Terutama dari Kabupaten 50 Kota,Pesisir selatan(kec koto XI Tarusan Desa siguntur muda). Sebagai sentra penghasil gambior, Kabupaten 50 Kota merupakan lokasi yang strategis dan cocok untuk investor perkebunan. Kegunaan utama adalah sebagai komponen menyirih, yang sudah dikenal masyarakat kepulauan Nusantara, dari Sumatra hingga Papua sejak paling tidak 2500 tahun yang lalu. Diketahui, gambir merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses di perut dan usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan); penyamak kulit; dan bahan pewarna tekstil. Fungsi yang tengah dikembangkan juga adalah sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel. Produk ini masih harus bersaing dengan sumber perekat kayu lain, seperti kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa, serta kulit polong Caesalpinia spinosa yang dihasilkan negara lain.

Kandungan

yang

utama

dan

juga

dikandung

oleh

banyak zat

anggota Uncaria lainnya (22-50%), serta

adalah flavonoid (terutama

gambiriin), katekin (sampai 51%),

penyamak

sejumlah alkaloid (seperti gambirtannin dan turunan dihidro- dan okso-nya. Selain itu gambir dijadikan obat-obatan modern yang diproduksi negara jerman, dan juga sebagai pewarna cat, pakaian. Bila ditinjau dari ketersediaan lahan di Sumatera Barat maka terlihat adanya keterbatasan. Sekitar 60 persen dari lahan yang ada merupakan perbukitan dan lahan miring dan 15 persen saja yang telah disepakati untuk lahan pertanian. Secara keseluruhan hanya tersedia sekitar 450000 ha lahan yang potensial untuk perluasan tanaman perkebunan. Di Sumatera Barat tanaman gambir tumbuh dengan baik didaerah Limapuluh Kota, Pesisir Selatan dan daerah tingkat II lainnya. Di Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 11937 Ha dengan produksi 7379 ton pertahun. Di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 2469 Ha dengan produksi 688 ton pertahun dan Kabupaten lainnya seluas 175 Ha yang sebahagian besar belum berproduksi.

Luas diatas potensial dan memenuhi skala ekonomi untuk dikembangkan. Jumlah unit usaha pengolahan gambir di Sumatera Barat tercatat sebanyak 3571 unit dengan tenaga kerja 6908 orang dan investasi Rp 1029614000. Data produksi gambir di Sumatera Barat sebenarnya belum tersedia dengan lengkap, khususnya untuk konsumsi dalam negeri. Bila berpedoman kepada angka produksi tahun 1997 dan angka ekspor pada tahun yang sama maka 98 persen produksi gambir diekspor dan 2 persen dikonsumsi dalam negeri. Di negara lain juga ada produk sejenis gambir yang ditawarkan seperti tannin dari kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa. Pada tahun 1983 diproduksi 10000 ton perekat berbasis tannin Acacia mearnsii di Afrika Selatan. Di New Zealand telah mulai produksi tiap tahunnya 8000 ton perekat berbasis tannin dari kulit kayu Pinus radiata. Di Peru diproduksi Tara tannin dari kulit buah Caesalpinia spinosa yang juga akan dijadikan bahan baku perekat. Prospek gambir sebagai bahan baku perekat untuk bahan berbasis kayu atau bahan berlignosellulosa lainnya terlihat ada. Sebagai langkah awal penulis telah mendaftarkan paten pada Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan judul Proses gambir sebagai bahan baku perekat dengan nomor P 00200200856 dengan memanfaatkan insentif dari Kementerian Riset dan Teknologi. Gambir dapat juga dijadikan sebagai bahan baku utama perekat perekat kayu lapis dan papan partikel. Bila gambir yang diekspor tersebut digunakan sebagai bahan baku perekat kayu lapis di dalam negeri maka baru akan memenuhi kebutuhan tiga pabrik kayu lapis yang berkapasitas 50006000 m3/bulan. Hal ini akan masih tetap terlalu sedikit dibanding kebutuhan pabrik kayu lapis dan papan partikel yang ada di Pulau Sumatra. Dan gambir dapat diolah di dalam negeri menjadi bentuk yang lain dari sekarang, seperti bentuk biskuit dan tepung gambir sesuai dengan permintaan pasar dunia. Negara India saja membutuhkan gambir sebanyak 6000 ton pertahun. Terlihat bahwa prospek luar negeri masih terbuka. Ditinjau dari aspek konservasi ditemui juga penanaman pada lahan termasuk areal kawasan lindung dengan salah satu ciri kelerangan diatads 40 persen. Di Kabupaten Limapuluh Kota terutama perkebunan gambir ada di Kecamatan Kapur IX, Mahat, Pangkalan Koto Baru dan Suliki Gunung Mas. Kapur IX merupakan kecamatan penghasil gambir terbesar (hampir 2/3 total produksi) dengan wilayah utama yaitu Nagari Sialang. Areal penanaman gambir tersebut sebahagian besar berasal pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar Kanan dan DAS Mahat. Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), fungsi kawasan hutan kedua Sub DAS tersebut adalah 64,30 persen sebagai kawasan lindung dan 35,70 persen sebagai kawasan yang boleh diusahakan (kawasan eksploitasi). Kawasan lindung tersebut terdiri dari 61,37 persen (204412 Ha) sebagai hutan lindung dan 2,93 persen sebagai hutan suaka alam.

vi. Sambiroto
Sambiloto merupakan tumbuhan berkhasiat obat berupa terna tegak yang tingginya bisa mencapai 90 sentimeter. Asalnya diduga dari Asia tropika. Penyebarannya dari India meluas ke selatan sampai di Siam, ke timur sampai semenanjung Malaya, kemudian ditemukan Jawa. Tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Sambiloto dapat tumbuh baik pada curah hujan 2000-3000 mm/tahun dan suhu udara 2532 derajat Celcius. Kelembaban yang dibutuhkan termasuk sedang, yaitu 7090% dengan penyinaran agak lama. Nama daerah untuk sambiloto antara lain: sambilata (Melayu); ampadu tanah (Sumatera Barat); sambiloto, ki pait, bidara, andiloto (Jawa Tengah); ki oray (Sunda); pepaitan (Madura), sedangkan nama asingnya Chuan xin lien (Cina).
Batang sambiloto berkayu, berpangkal bulat, berbentuk segi empat saat muda dan bulat setelah tua, percabangan monopodial, dan berwarna hijau. Daun kecil-kecil berbentuk lanset, pangkal rata, permukaan berwarna hijau tua, tepi tidak bergerigi. Bunga berwarna putih kekuningan dan bertangkai. Buah berbentuk jorong kecil, bila tua akan pecah menjadi 4 keping. Bunganya berwarna putih atau ungu dan berbunga sepanjang tahun. Buah yang dihasilkan berbentuk memanjang sampai jorong, sedang bijinya berbentuk gepeng. Tanaman sambiloto digunakan untuk mencegah pembentukan radang, memperlancar air seni (diuretika), menurunkan panas badan (antipiretika), obat sakit perut, kencing manis, dan terkena racun. kandungan senyawa kalium memberikan khasiat menurunkan tekanan darah. Hasil percobaan farmakologi menunjukkan bahwa air rebusan daun sambiloto 10% dengan takaran 0.3 ml/kg berat badan dapat memberikan penurunan kadar gula darah yang sebanding dengan pemberian suspensi glibenclamid. Selain itu, daun Sambiloto juga dipercaya bisa digunakan sebagai obat penyakit tifus dengan cara mengambil 10-15 daun yang direbus sampai mendidih dan diminum air rebusannya. Andrographolide memiliki sifat melindungi hati (hepatoprotektif), dan terbukti mampu melindungi hati dari efek negatif galaktosamin dan parasetamol. Khasiat ini berkaitan erat dengan aktifitas enzimenzim metabolik tertentu.

Sambiloto telah lama dikenal memiliki khasiat medis. Ayurveda adalah salah satu sistem pengobatan India kuno yang mencantumkan sambiloto sebagai herba medis, dimana sambiloto disebut dengan nama Kalmegh pada Ayurveda. Selain berkhasiat melindungi hati, sambiloto juga dapat menekan pertumbuhan sel kanker. Hal ini disebabkan karena senyawa aktifnya, yakni Andrographolide, menurunkan ekspresi enzim CDK4 (cyclin dependent kinase 4). Andrographolide juga memiliki khasiat meningkatkan kekebalan tubuh, dengan cara meningkatkan pembelahan limfosit dan produksi interleukin-2. Khasiat sitotoksik limfosit ditingkatkan oleh Andrographolide, yang membuatnya memiliki khasiat tidak langsung terhadap penghambatan sel kanker. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam daun sambiloto terdapat senyawa kimia Andrographolide yang mampu melindungi hati, melawan kanker, serta meningkatkan kekebalan tubuh. Nampaknya Andrographolide ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai obat.

vii. Sirih
Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya biasa dimakan dengan cara mengunyah bersamagambir, pinang dan kapur. Namun mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulutdan pembentukan squamous cell carcinoma yang bersifat malignan. Sirih digunakan sebagai tanaman obat (fitofarmaka); sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara adat rumpun Melayu.

Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 - 8 cm dan lebar 2 - 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 - 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan.

Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan. Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2 lembar daun segar Piper betle, dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke dalam lubang hidung. Selain itu, kandungan bahan aktif fenol dan kavikol daun sirih hutan juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama penghisap.

viii. Kunir putih


Temu rapet atau kunci pepet (Kaempferia rotunda L.), atau kadang kala disebut kunir putih, adalah sejenis rempah-rempah rimpang yang masih berkerabat dekat dengan kencur. Berbeda dengan kencur, yang banyak dipakai sebagai bumbu masak, temu rapet lebih khusus dipakai untuk khasiat pengobatannya. Selain itu, karena daunnya yang indah, temu rapet ditanam pula di pekarangan sebagai tanaman hias. Tanaman ini dikenal pula sebagai temu putri atau temu lilin (Btw.); ardong, kunir putih, kunci ppt (Jw.); dan konc pt (Md.). Namun soal nama ini perlu berhati-hati, karena kunir putih atau kunyit putih juga merupakan nama dari Curcuma zedoaria dan kunci pepet juga digunakan untuk menyebut Kaempferia angustifolia. Dalam bahasa Inggris Kaempferia rotunda dikenal sebagai Round-rooted Galangal. Terna yang tak seberapa tinggi, tegak, berdaun 25 helai.Daun-daun bertangkai, dengan pelepah 7 24 cm; helaian daun lanset menjorong, 736 cm 411 cm; sisi atas gundul, sering dengan polapola kembang yang simetris, hijau dan keputihan; sisi bawah sedikit berambut, keunguan. Perbungaan muncul dari kuncup yang lain pada rimpang, berisi 46 kuntum bunga. Kelopak bunga putih atau kehijauan, 37 cm panjangnya; mahkota serupa tabung di pangkalnya, dengan taju bentuk garis, putih, melengkung ke luar, lk. 5 cm. Labellum atau bibir (yakni staminodiayang membesar, melebar, dan berwarna-warni) berbentuk jantung terbalik, berbagi hingga setengah jalan atau lebih, 47 cm 24 cm, ungu-lila dengan rusuk kekuningan.

Kaempferia rotunda diduga berasal dari wilayah Indocina[2], namun didapati menyebar secara alami di Asia mulai dari India di barat, Sri Lanka, Burma, Cina (Guangdong, Guangxi, Hainan, Yunnan), Taiwan, ke selatan melalui Indocina hingga Thailand, Malaysia, danIndonesia.[3][4] Tumbuhan ini ditemukan tumbuh di hutan-hutan jati, hutan pegunungan bawah, hutan bambu, dan juga padang-padang rumput, hingga ketinggian 1.300 m dpl.

Secara tradisional, rimpang kunci pepet ini digunakan sebagai obat sakit perut dan disentri. Umbiumbinya yang kecil dan berair mempunyai khasiat mendinginkan. Karenanya, temu rapet juga dimanfaatkan sebagai bahan bedak, campuran jamu ibu melahirkan dan penambah nafsu makan. Selain itu Kaempferia rotunda digunakan dalam pembuatan harum-haruman, anti serangga, serta dijadikan bahan makanan sebagai sayuran atau lalapan.

c. Tongkat V
Merupakan produk yang dapat digunakan untuk membersihakan, menyehatkan vagina dari berbagai macam penyakit. Merupakan paduan bahan mineral alami tawas dengan ramuan tumbuh tumbuhan yang berfungsi meyehatkan, membuat elastis dinding vagina. Dengan paduan bahan pelembab alami aloevera, moisturizer glikol, zat aktif permukaan surfaktan cg 110 yang sudah terbukti sngat membantu untuk membunuh candida albicans.

Tongkat V
1. Tawas sebagai mineral alami untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan menghilangkan bau. 2. Ramuan herbal; delima putih, jambe, kayu rapet, majakani, gambir, sambiloto, sirih, kunir putih, kepel 3. Pelembab alami aloevera, olive oil 4. Moisturizer ; gliserin, propilen glikol. Peg 400. 5. Surfaktan ( zat aktif permukaan) triton cg 110, surfaktan AS. 6. Penjaga pH asam susu, sodium borate 7. Chelating agent EDTA. 8. Anti oksidan BHT

BAB 6. TAWAS DAN KESEHATAN Toxicology


The health effects of antiperspirants are a matter of dispute regarding their extent. A small percentage of people are allergic to aluminium and may experience contact dermatitis when exposed to aluminiumcontaining deodorants. Aluminium salts from use of deodorants causedcontact dermatitis to the skin. After using a deodorant containing zirconium, the skin may develop an allergic, axillary granulomaresponse. Deodorant crystals containing synthetically made potassium alum were found to be a weak irritant to the skin. Alcohol-free deodorant is available for those with sensitive skin.

Aluminium is one of the few abundant elements that appears to have no beneficial function to living cells (non-essential metal). Frequent use of deodorants was associated with blood concentrations of the synthetic muskgalaxolide.

Aluminium neurotoxicity
Aluminium, present most often in antiperspirants, but not usually present in non-antiperspirant deodorants, has been established as aneurotoxin. At high doses, aluminium itself adversely affects the blood-brain antiperspirants barrier, have is capable effects to of a causing DNA damage, number of species such and as has nonadverse epigenetic effects. Research has shown that high doses of the aluminium salts used in detrimental human primates, mice, and dogs. Experiments with mice applying aqueous solution of aluminium chloride to the skin resulted in "a significant increase in urine, serum, and whole brain aluminium" and transplacental passage. A 2001 study showed that the use of aluminium chlorohydrate, the active ingredient in many antiperspirants, does not lead to a significant (vs. ingestion via diet) increase in aluminium levels in the body with one-time use. The Food and Drug Administration "acknowledges that small amounts of aluminium can be absorbed from the gastrointestinal tract and through the skin." An increased amount of aluminium is present in the brains of many Alzheimer's patients. A 1990 study showed an association between exposure to aluminium and long term use of Antiperspirants and Alzheimer's disease with a trend toward a higher risk with increasing frequency of use. A 1998 study indicated the use of aluminium-containing antiperspirants has been linked with the systemic accumulation of aluminium which increases the risk of Alzheimer's disease. The Alzheimer's Society advises that "environmental factors have been put forward as possible contributory causes of Alzheimer's disease in some people. Among these is aluminium. There is circumstantial evidence linking this metal with Alzheimer's disease, but no causal relationship has yet been proved. As evidence for other causes continues to grow, a possible link with aluminium seems increasingly unlikely."

Breast cancer
A 2002 study stated "[t]he rumor that antiperspirant use causes breast cancer continues to circulate the Internet. Although unfounded, there have been no published epidemiologic studies to support or refute this claim." The American Cancer Society (ACS) and the National Cancer Institute (NCI) were very much

concerned about the e-mails rumors directly linking antiperspirants to cancer that both put out information on the Internet stating there was no evidence linking the cosmetic products with cancer. According to the ACS "studies have not shown any direct link between parabens and any health problems, including breast cancer. What has been found is that there are many other compounds in the environment that also mimic naturally produced estrogen." According to researchers at the NCI, they "are not aware of any conclusive evidence linking the use of underarm antiperspirants or deodorants and the subsequent development of breast cancer." "Absence of evidence is not evidence of absence of a harmful effect" and "these chemicals are being directly applied daily, by very large numbers of people, and the long-term health effects of exposure are essentially unknown," toxicologist Philip W. Harvey tellsWebMD in an interview. But ACS epidemiologist Michael Thun argued that "even if the parabens do promote estrogendependent tumor growth, the risk from cosmetic use is "minuscule" compared with other known tumor promoters." The cosmetics industry insists the paraben chemicals used as preservatives in underarm deodorants and other cosmetics, which are regulatory approved, are safe. A study published in 2003 by the European Journal of Cancer Prevention, found a correlation between earlier diagnosis of breast cancer and antiperspirant/deodorant use. A 2003 study indicated "underarm shaving with antiperspirant/deodorant use may play a role in breast cancer." A 2004 study reviewing the evidence for and against the possible link between breast cancer and underarm cosmetics wrote "Although animal and laboratory studies suggest a possible link between certain chemicals used in underarm cosmetics and breast cancer development, there is no reliable evidence that underarm cosmetics use increases breast cancer risk in humans." 2004 and 2005 studies led by researcher Phil Darbre, hypothesizes that particular substances in deodorants, such as preservatives calledparabens, or bolts such as aluminium chloride used in antiperspirants, get into the bloodstream or accumulate in breast tissue, where they enhance or emulate the effects of estrogen, which stimulates the growth of cancerous breast cells. A 2007 study found that personal care products are a potential contributor to the body burden of aluminium and newer evidence has linked breast cancer with aluminium-based antiperspirants. [22] A 2008 study stated that no scientific evidence supports the hypothesis that deodorants and/or antiperspirants increase the incidence of breast cancer.[50] A study published in 2009 by the journal The Breast Cancer Research proposed a link between breast cancer and the application of cosmetic chemicals including phthalates and aluminium salts in the underarm region, because of their oestrogenic and/or genotoxic properties, which provides an evidencebased hypothesis capable of further research.

Renal dysfunction

The FDA warns "that people with renal dysfunction may not be aware that the daily use of antiperspirant drug products containing aluminium may put them at a higher risk because of exposure to aluminium in the product." The agency warns people with renal dysfunction to consult a doctor before using antiperspirants containing aluminium.

Clothing
Aluminium zirconium tetrachlorohydrex gly, a common antiperspirant, is a cause of "armpit stains" on clothing, reacting with sweat to create yellow stains. Underarm liners are an alternative to deodorants that do not leave stains.

BAB 7 Proses Produksi Tawas Padat


Untuk membuat tawas padat yang baik maka perlu dilakukan prosedur memperkil ukuran, dari bongkah menjadi serbuk yang halus. Berikut adalah alur produksi pembuatan tawas padat untuk penghilang bau ketiak,

Bongkah tawas

Pengecilan ukuran

Penghalusan

Pencampuran powder dan Pemanasan

Pencetakan

Polishing

Packaging
Berikut adalah model peralatan yang digunakan untuk memproduksi tawas padat, proses dimulai dengan penghsncuran tawas bongkah sampai menjadi halus, mencampur dengan bahan aditif, pemasakan utntuk pembentukan Kristal tawas, pencetakan kedalam mold sesuai dengan bentuk akhir tawas padat yang diinginkan selanjutnya polishing dan packaging. 1.Milling a.Stone crusher

digunakan untuk memperkecil ukuran tawas, dari ukuran bongkah menjadi kerikil.

b.Disk mill
Digunakan untuk membuat tepung tawas, dari ukuran butir menjadi tepung

2. Powder Mixing Beberapa model mesin yang dapat digunakan untuk mencampur bahan dalam bentuk padat adalah; a.Ribbon mixer untuk mencampur bahan dalam bentuk serbuk, kapasitas produksi bisa lebih dari 100 kg.

b.Cone mixer Untuk mencampur kapasitas produksi bahan dalam bentuk serbuk, kurang dari 100 kg.

c.Vertical mixer Untuk mencsmpur bahan dalam bentuk serbuk, kapasitas produksi bias sampai 100 kg

3. Pemasakan Mixer double boiler Digunakan untuk memasak tawas yang sudah dalam bentuk serbuk dan bahan aktif lainnya. Bahan bahan dicampur dulu sampai homogen dengan mixer serbuk. Pemasakan dan pembentukan Kristal tawas sampai temperatur 100 derajat Celsius yang merupakan temperature ( cair ) gelasnya, maka akan terbentuk Kristal tawas.

4. Molding ( pencetakan )

Untuk mendapatkan bentuk tawas padat yang sesuai ukuran maka digunakan molding, alat untuk mencetak bahan alum. Molding dibuat dari bahan yang tidak mudah berkarat, karena tawas mempunya pH 4.5 sampai 5.5. bahan dari stainless steel bagus untuk digunakan.

5. Polishing

Untuk meratakan permukaan tawas dari proses sebelumnya maka dilakukan proses polishing. Mengguanakan dinamo sebagai alat penggerak, serta kain poles yang sigunakan untuk meratakan dan menghaluskan permukaan tawas.

6. Packaging Pengepakan tawas dalam bungkus yang aman dari proses kelembaban akan membuat tawas bisa bertahan lama dalam proses penyimpanan. Pada musim dengan kelembaban tinggi ( musim hujan ) produk tawas akan mengalami proses penyerapan uap air yang ada di udara, menhindari masalah tersebut perlu dilakukan teknik pembungkusan tawas jangan sampai bersentuhan langsung dengan udara luar. ( sifat tawas higriskopis ) Agar produk tawas padat Kristal lebih menarik, tawas dibungkus dalam kemasan yang yang berwarna warni

BAB 8 PENUTUP Kiat Mencegah Keputihan Karena Infeksi Jamur di Bulan Puasa. Bulan puasa merupakan bulan hikmah untuk beribadah bagi kaum muslim di seluruh dunia dan tentunya dalam beribadah diperlukan kenyamanan terutama kebersihan dari luar maupun dari dalam. Khususnya bagi kaum muslimah, ada penyakit tertentu yang jika dibiarkan dapat menganggu kenyamanan dalam beribadah seperti keputihan, dimana sebetulnya penyakit ini dapat diatasi karena ada cara-cara pencegahan dan solusinya. Keputihan merupakan penyakit umum yang sering diderita perempuan dan salah satu faktor

pencetusnya adalah pola makan yang tidak sehat. Pada bulan puasa umumnya perempuan tidak memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi saat berbuka sehingga dapat mempengaruhi risiko keputihan akibat infeksi jamur. Dalam salah satu diskusi ilmiah mengenai keputihan, pencegahan dan solusinya dengan pembicara pembicara Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG dari FKUI RSCM, ahli Obstetri dan Ginekologi menjelaskan mengenai penyakit keputihan khususnya infeksi jamur vagina dan sehubungan dengan datangnya bulan Ramadhan, Dr. Elvina Karyadi, ahli gizi membahas mengenai alternatif makanan menu sehat untuk berbuka puasa. Epidemiologi 75 persen dari seluruh wanita di dunia pasti akan mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan sebanyak 45% akan mengalami dua kali atau lebih. 92 persen keputihan disebabkan oleh jamur yang disebutCandida albicans. Tentang Keputihan Keputihan atau istilah medisnya Fluor Albus, adalah cairan yang berlebihan yang keluar dari vagina. Terdapat dua jenis keputihan: Bersifat fisiologis (dalam keadaan normal) dengan ciri-ciri: * berwarna putih jernih, * berwarna kuning terang, * konsistensi seperti lendir (encer-kental) tergantung siklus hormon, * tidak berbau dan tidak menimbulkan keluhan Bersifat patologis (karena penyakit) dengan ciri-ciri: * cairan yang keluar dari vagina lebih banyak dari biasanya dan terus menerus muncul hingga terasa mengganggu, * berbau tidak sedap, * berwarna (putih susu kuning tua coklat kehijauan bercampur darah), * konsisten encer berbuih hingga kental menggumpal seperti susu basi, * timbul benjolan atau luka dan gatal atau panas disertai rasa nyeri ketika berhubungan. Keputihan dapat disebabkan oleh infeksi dari: bakteri (Chlamydia, N.Gonorrhoeae, Bakterial Vaginosis, dll), Jamur (Candida Spp) dan Parasit (Trichomonas Vaginalis). Keputihan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan genitalia dan pola makan yang sehat, menghindarkan faktor resiko infeksi seperti berganti-ganti pasangan seksual, pemeriksaan ginekologi secara teratur termasuk pemeriksaan deteksi dini kanker serviks (pap smear) satu tahun sekali bagi yang pernah melakukan hubungan seksual. Infeksi Jamur Vagina Infeksi jamur vagina disebabkan oleh Candida Albicans dan merupakan penyebab keputihan yang sering di temui di Indonesia. Semua perempuan di semua usia dapat mengalaminya

termasuk mereka yang belum pernah berhubungan seksual. Infeksi jamur vagina merupakan akibat pertumbuhan yang berlebihan dari mikroorganisme yang secara normal ada dalam saluran pencernaan dan vagina. Terjadinya pertumbuhan abnormal dari jamur vagina disebabkan oleh gangguan keseimbangan flora saluran pencernaan dan vagina akibat turunnya imunitas tubuh, hamil, obesitas, penggunaan antibiotika, pola makan atau konsumsi gula yang tinggi, gangguan pencernaan termasuk konstipasi. Gejala yang dihadapi adalah keputihan yang kental putih kekuningan, kerap menggumpal seperti kepala susu dan berbau tidak sedap, rasa gatal pada daerah vagina dan sekitarnya, rasa tidak nyaman saat buang air dan nyeri ketika berhubungan seksual. Penatalaksanaan infeksi jamur vagina adalah dengan menjaga kebersihan dan perawatan daerah ginetalia, mengatasi faktor resiko seperti obesitas/kegemukan, penyakit kencing manis, turunnya imunitas tubuh, penggunaan obat-obat antibiotika dalam jangka waktu yang lama dan bahan/kondisi yang mengiritasi vagina, pengaturan pola makan sehat dan obat-obat anti jamur. Tips yang perlu diperhatikan selama bulan puasa agar terhindar dari resiko keputihan Cukup asupan cairan, minimal 8 gelas per hari dalam bentuk minuman maupun makanan Cukup asupan serat dari buah dan sayuran Hindari makanan yang terlalu banyak mengandung tepung dan gula
( http://lifestyle.okezone.com/read/2008/09/27/27/149814/cegah-keputihan-saatpuasa )

Rujukan
1. 2. 3. 4. 5. http://www.tawaskristal.com/ http://tawas-kristal-tawas-ketiak.blogspot.com/ http://anti-perspirant.info/ingredients-of-antiperspirants/ http://www.about.com/ http://lifestyle.okezone.com/read/2008/09/27/27/149814/cegah-keputihansaat-puasa 6. http://en.wikipedia.org/wiki/Alum 7. http://www.thecrystal.com/crystal_insights.cfm 8. http://www.verdan.com/

9. http://www.youtube.com/watch?v=EVALJ8tsIZ8 10.http://www.youtube.com/watch?v=uo35Ez53VhM 11.http://www.deodorantstones.com 12.http://www.youtube.com/watch?v=sbWvxaVuVRA 13.http://www.youtube.com/watch?v=RnjiEdoSEvA ( grow alum crystal ) 14.http://dhedia.wordpress.com/2008/02/16/kayu-rapet-salah-satu-tumb-herbaindonesia/ )

1.Table perumusan formula tawas padat kristal

Perumusan tongkat v

Bahan Tawas Herbal

R1

R2

R3

R4

R5

Pelembab Moisturizer Surfaktan Buffer pH Chelating Anti oksidan Water

Anda mungkin juga menyukai