Anda di halaman 1dari 17

Tripartit Masyarakat-Guru-Siswa dalam Konteks Sosial-Budaya Pendidikan

Oleh : Dr. Wayan Lasmawan, M.Pd. NIP.: 132 055 929/Jurusan PPKn FPIPS Bagian Satu: 1. Globalisasi dan Dinamika Pendidikan Revolusi informasi dan komunikasi sebagai salah satu dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), telah memicu terbentuknya sebuah masyarakat dunia yang serba cepat dan dinamis. Setiap negara berlomba-lomba mengembangkan dan mencoba menguasai teknologi, karena dengan penguasaan teknologi sebuah negara dapat memainkan perannya dengan lebih dominan dalam tataran kehidupan masyarakat global. Menyikapi kemajuan tersebut, tidak ada waktu lagi bagi suatu masyarakat atau bangsa untuk beristirahat dan menyembunyikan diri dari implikasi kemajuan IPTEK. Kehidupan masyarakat telah bergeser menuju paradigma baru, yakni kehidupan masyarakat global. Globalisasi telah mengaburkan batas-batas region dan negara, sehingga setiap orang harus siap berpacu dan berkompetisi dalam menyikapi berbagai perubahan yang sangat cepat dan beragam. Untuk bisa eksis dalam konteks kehidupan global, setiap masyarakat di muka bumi ini memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas, baik jasmaniah maupun rokhaniah. Pengembangan dan pembentukan sumber daya yang demikian hanya mungkin dilakukan melalui proses pendidikan. Pendidikan merupakan media strategis untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Banyak orang saat ini dihadapkan pada kebingungan yang tinggi, karena tidak mampu memahami dan melakoni perubahan masyarakat yang begitu cepat. Persaingan masyarakat global telah masuk hampir di setiap aspek kehidupan masyarakat. Pertanyaan mendasar yang layak dikedepankan berkait dengan esensi dan substansi pendidikan dalam era global adalah sudah siapkah sistim dan perangkat pendidikan nasional kita menghadapi kemajuan dan tantangan globalisasi ?. Kebijakan apakah yang telah dan akan diambil oleh pemerintah untuk mengeliminir berbagai kendala seputar pengelolaan pendidikan nasional ?, dan manusia atau sumber daya manusia yang bagaimanakah yang akan dituju oleh negara kita melalui media pendidikan ?. Pertanyaanpertanyaan di atas, baru sebagian dari seperangkat permasalahan yang melekat pada pengelolaan pendidikan nasional kita saat ini. Jika kita mencermati pembangunan pendidikan di indonesia, pemerintah melalui menteri khusus yang mengurusi masalah pendidikan, yaitu menteri pendidikan nasional, telah berupaya dengan maksimal untuk memberdayakan pendidikan dengan segala pirantinya. Hasilnya, ternyata masih jauh dari harapan kita semua. Banyak kebijakan pendidikan yang telah dan sedang dilaksanakan oleh pemerintah yang justru memicu pendidikan tercabut dari akar budaya bangsa. Akhirnya pendidikan kita seolah-olah gersang dan terisolir dari nilai-nilai budaya bangsa yang begitu luhur. Kehidupan masyarakat global menuntut kesiapan setiap insan untuk berpikir cepat dan jernih dalam menyikapi berbagai permasalahan dan kecendrungan yang tumbuh dan
LA S M A W A N
1

berkembang di masyarakat. Untuk melahirkan manusia yang prima sebagaimana dituntut oleh paradigma masyarakat global dewasa ini, salah satu media yang dipandang strategis dan tepat adalah melalui pendidikan. Beranjak dari rasional ini, penulis mencoba untuk membedah peranan pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang prima agar mampu berkiprah dalam tataran masyarakat global. Upaya pembedahan mungkin baru sebatas wacana dalam balutan dimensi akademis, sehingga sangat mungkin untuk kita diskusikan lebih jauh dan mendalam. Untuk menghindari perluasan diskusi, maka perlu ditegaskan kembali bahwa sajian singkat ini terfokus pada kajian terhadap esensi, substansi dan praktik pendidikan bagi pembangunan manusia Indonesia yang prima agar mampu terjun dan melakoni kehidupan masyarakat global yang serba dinamis dan unpredicable. 2. Tantangan Masyarakat Global dan Visi Pendidikan Masyarakat Berbagai kekuatan dan tantangan telah menyeret sebagian besar umat manusia di muka bumi ini ke masa depan. Dalam situasi ini setiap manusia dan/atau masyarakat dituntut untuk mampu menentukan visi dan posisi agar tidak hanyut dan jadi korban perubahan yang tiada batas. Di bidang pendidikan, pentingnya visi masa depan menghadapi era globalisasi merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Hal ini didasari oleh suatu rasional bahwa setiap orang akan memiliki visi dan mampu menentukan posisi, jika mereka memahami kondisi yang dihadapinya, sehingga idealnya hal itu hanya mungkin terjadi bilamana setiap orang telah dibekali atau membekali diri dengan seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dimana hal itu, hanya mungkin dilakukan dan diperoleh melalui pendidikan. Paul Kennedy (1993) dalam bukunya Preparing for the Twenty First Century, telah mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam abad 21, yaitu: (1) munculnya masyarakat kompetitif, (2) masalah-masalah lingkungan hidup dan kependudukan, dan (3) stabilitas politik dalam kaitannya dengan peace of the world. Tantangan yang begitu kompleks dan cepat, perlu disikapi secara komprehensf, cepat dan akurat pula oleh lembaga pendidikan, dalam kapasitasnya sebagai media transformasi, revitalisasi, rekonstruksi, dan eksploitasi nilai-nilai budaya bangsa. Berkait dengan globalisasi, dapat diidentifikasi beberapa tantangan dunia pendidikan, yaitu: (1) penyiapan sumber daya manusia yang prima, yaitu manusia yang berkualitas dan siap untuk memasuki dunia global, dimana mereka bukan sekedar partisipan, namun harus mampu ada di garis depan untuk membawa bangsa dan negaranya sejajar dan bila mungkin terdepan diantara bangsa-bangsa lainnya, (2) abrasi nilai-nilai budaya bangsa, sehingga dibutuhkan manajemen pendidikan yang mampu memfasilitasi bagi tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai budaya bangsa dalam tarikan nafas setiap warga negara, sehingga mereka menjadi manusia modern yang berbasis pada nilai-nilai bangsanya, (3) kaburnya identitas kebangsaan, sehingga lembaga pendidikan dituntut untuk mengembangkan iklim yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya manusia-manusia yang tetap berpegang teguh pada nilai dan identitas bangsanya dalam wadah dan tataran kehidupan global, karena warga negara itu sendirilah yang mampu mempertahankan identitas bangsanya, dan (4) kemajuan IPTEK dan revolusi informasi yang mengaburkan kesadaran nasional dan mengancam integritas kebangsaan, sehingga dunia pendidikan harus mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai teknologi tinggi tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai budaya lokal, sehingga
LA S M A W A N
2

national conciousness tetap ada dalam setiap hati nurani warga negara, yang pada akhirnya dapat menjaga dan meningkatkan integritas bangsa di depan bangsa lainnya. Untuk mewujudkan semua itu, diperlukan visi pembangunan pendidikan yang jelas, agar pembentukan dan pengembangan manusia yang prima dapat direalisasikan. Globalisasi sebagaimana yang dianalisis John Naisbitt (1994) dalam bukunya Global Paradox , telah menghadirkan masalah baru berkait dengan kehidupan masyarakat global, yaitu semakin menguatnya arus globalisasi, yang berdampak pada semakin besar pula curiosity manusia untuk mencari self-identification dengan berbasis pada primordialisme sebagai suatu bangsa, asal usul, agama, bahasa, dan yang lainnya. Untuk itu diperlukan redeposisi dan reformulasi visi pendidikan nasional, sehingga untuk kedepan jelas apa yang akan kita tuju, khususnya menyangkut kapabilitas warga negara ideal bagi bangsa kita, yang secara geografis dan kultur sangat eksklusif. Artinya, potret masyarakat masa depan yang bagaimana yang kita inginkan, kemudian manusia Indonesia yang seperti apa yang harus dikembangkan melalui media pendidikan. Jika wacana masyarakat sipil (civil society) sudah merupakan potret idial masyarakat masa depan kita, perlu diupayakan sedini mungkin berbagai komponen pendukung yang memungkinkan hal itu bisa diwujudkan, khususnya dalam bidang pendidikan, karena hanya melalui pendidikan hal itu mungkin dicapai dengan optimal. 3. Pendidikan, Globalisasi, dan Manusia Indonesia Prima Peranan lembaga pendidikan dalam kaitannya dengan pembangunan sumber daya manusia dapat dilihat dan dirumuskan dalam konsepsi intellectual formation, yang merupakan kapasitas dari suatu bangsa untuk berpartisipasi dalam kehidupan modern yang dituntut di dalam suatu masyarakat yang terbuka. Artinya semakin banyak manusia yang terdidik, maka secara signfikan akan berdampak pula kepada kemampuan suatu bangsa dalam mengungkap jati dirinya dalam pergaulan global. Jika setiap warga negara telah mampu menjadikan dirinya sebagai manusia terdidik dan terlatih dalam standar tertentu (internasional), maka akan semakin tampak upaya yang bisa dilakukan oleh suatu bangsa dalam meningkatkan mutu kehidupan bangsa dan negaranya. Untuk itu perlu dibuka kesempatan yang leluasa bagi tumbuh dan berkembangnya pengembangan potensi intelektual setiap insan melalui jalur pendidikan. Kebijakan pendidikan harus diarahkan pada upaya pengembangan sumber daya yang memiliki standar intelektual yang tinggi. Bukti empris menunjukkan bahwa standar pendidikan kita berada di urutan 109 dari 136 negara yang dijadikan sebagai sampel oleh UNESCO dalam studinya tentang kualitas pendidikan masyarakat dunia (2000). Hal ini tentu memprihatinkan bagi semua kalangan, khususnya kita yang bernaung di bawah kebesaran panji-panji pendidikan. Hal mendesak yang perlu kita telusuri adalah, apa yang salah dengan pendidikan kita. Menurut hemat penulis, kelemahan mendasar yang melekat pada pembangunan pendidikan, khususnya dilihat secara institusional adalah belum difungsikan dan berfungsinya semua unsur pendidikan secara optimal, sehingga tidak adanya kesamaan bahasa dan tindakan dalam sistim yang diterapkan. Mungkin sistim pendidikan yang kita kembangkan secara konseptual tidak jauh berbeda dengan negara lain, namun dalam aplikasinya ternyata masih sering tumpang tindih antara unsur-unsur dalam sistim itu sendiri. Seorang pengamat pendidikan yang juga pelaku bisnis dari Jepang Kenichi Ohmae (1991) mengatakan bahwa visi pendidikan indonesia masih kabur dan berkutat dengan visi idealis (konseptual).
LA S M A W A N
3

Manusia Indonesia Prima

Dinamika Masyarakat

LA S

M A W

Pendapat ini mungkin didasari oleh suatu realita, bahwa pembangunan dan pengelolaan pendidikan kita belum mampu menampakkan etos kerja yang bisa dilihat secara gamblang oleh orang luar, sebagaimana halnya dengan negara-negara lain di dunia, khususnya di kawasan Asia seperti Jepang dan Malasyia. Dalam pembangunan pendidikan nasional, dikenal adanya dua visi, yaitu: (1) visi normatif dan (2) visi strategis (Tilaar, 1999). Visi normatif lebih berkaitan dengan wacana idieal pembangunan pendidikan, yakni penjabaran nilai-nilai lima sila dari Pancasila. Sementara visi strategis merupakan rincian dari visi normatif dalam bentuk program-program, termasuk skala prioritas dalam mewujudkan cita-cita pembangunan pendidikan dalam bentuk action. Berdasarkan kajian secara akademis yang didukung oleh beberapa temuan penelitian, tampaknya pengelolaan sistim pendidikan kita masih berputar pada visi ideal dengan mengesampingkan visi strategis. Lembaga pendidikan sebagai suatu institusi merupakan salah satu wujud dari visi strategis pembangunan pendidikan nasional. Jika dikaitkan dengan tantangan globalisasi tampaknya lembaga pendidikan juga harus mampu memerankan dirinya sejalan dengan tuntutan masyarakat, sehingga fungsionalisasinya teraktualisasi secara optimal. Namun satu masalah klasik dalam pembangunan pendidikan kita adalah terbatasnya anggaran pendidikan yang dialokasikan oleh pemerintah. Hal ini tentu kontradiktif dengan cita-cita dan realitas pembangunan nasional dan tuntutan riil di masyarakat. Jika pendidikan merupakan wahana strategis dalam mewujudkan manusia prima dalam tataran global, sudah sewajarnya apabila anggaran pembangunan pendidikan diperbesar dan mendapatkan prioritas termasuk pengalokasian sumber-sumber daya yang berkualitas dalam segenap pirantinya.
A N

Praktek Pendidikan

Tantangan Globalisasi

Profesionalisme Guru

Kualitas SDM

Future Oriented

Bagian Dua: 1. Masyarakat dalam Pendidikan Masyarakat petani tradisional sebagai sebuah entitas sosial, ekonomi dan kultural, secara turun-temurun terikat oleh tradisi dan kesadaran bersama sebagai "identitas primordial" (Redfield, 1982:20). Pada fitrahnya mereka juga butuh pendidikan, yang tentu dengan beragam alasan pula. Nilai, norma, adat-istiadat, kebiasaan, tradisi yang "disadari atau tidak" mereka warisi dan lakukan secara turun temurun merupakan "fakta sosial" bahwa mereka sudah menerima pendidikan (enkulturasi atau sosialisasi). Secara antropologis "tidak ada manusia dan masyarakat yang terlepas atau berada di luar konteks tradisi setempat". Kalaupun ada sebagian dari mereka menyimpang atau menolak keabsahan sebuah tradisi, namun pada akhirnya mereka pun akan menciptakan sebuah tradisi baru, dan ketika itu pula proses pendidikan terjadi. Karena itu salah bila dikatakan bahwa masyarakat petani tradisional yang hidup jauh di pelosok pedesaan tidak mengenal dan tidak butuh pendidikan. Oleh karena itu, akseptabilitas suatu kelompok masyarakat tertentu terhadap pembangunan pendidikan lebih terletak pada tradisi yang dibawa di dalam proses pendidikan itu sendiri. Setiap pendidikan niscaya membawa nilai, norma, dan prinsip yang mendasari aktivitasnya, yang bisa saja selaras atau bertentangan dengan tradisi masyarakat setempat yang menjadi konteks sosio-kulturalnya. Pembangunan pendidikan bersifat multi-dimensional, tercipta dalam relasi manusia yang begitu rumit. Pembangunan pendidikan merupakan upaya yang melibatkan banyak faktor, seperti filsafat, politik, ekonomi, sosial, budaya, psikologi, bahkan juga sejarah. Makna lebih jauh dari hal tersebut adalah bahwa pembangunan pendidikan dan hasilhasilnya banyak ditentukan oleh bekerjanya antar berbagai faktor tadi (Munandir, 1973). Dari perspektif sejarah, pendidikan Indonesia berkembang dinamis dalam lingkungan masyarakat yang juga berkembang, baik dalam dimensi ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial-budaya. Terlepas dari dasar dan arah perkembangannya, pembangunan pendidikan di Indonesia secara konsisten dijadikan sebagai sarana transformasi, transmisi, dan sosialisasi nilai-nilai, tradisi, ilmu pengetahuan serta teknologi dan seni dari masyarakatnya (Depdikbud, 1996). Di kalangan teoretisi, pakar, dan praktisi pendidikan, terdapat keyakinan dan konsensus bahwa antara faktor-faktor lingkungan sosial dan budaya dengan pendidikan terdapat hubungan kausal. Pembangunan suatu sistem pendidikan nasional yang berwatak modern menyangkut dan bersinggungan dengan berbagai persoalan yang sangat sensitif. Karena bersinggungan dengan perubahan di dalam sistem sosial (nilai, tingkah laku, kepribadian, kebudayaan, proses sosial, struktur sosial, dan pemahaman serta pengawasan tingkah laku sosial) yang ada di dalam suatu kelompok masyarakat (van Scotter, 1979). Ketidakmampuan membangun suatu sistem pendidikan yang sesuai dan mengakomodasi sistem sosial masyarakat yang menjadi lokusnya, akan menyebabkan terjadinya kemandegan budaya (cultural lag) yang merupakan sumber timbulnya kekacauan sosial (social disorder) di dalam masyarakat (Vembriarto, 1971). Pendidikan tidak saja menjadi institusi bagi kemungkinan terjadinya proses integrasi, tetapi juga bisa menjadi isntitusi di dalam proses disintegrasi masyarakat (Susanto, 1979). Di dalam unit-unit kehidupan masyarakat, di mana kondisi kepemilikan imbang daya (power share) antara unsur-unsur internal, pengaruh unsur-unsur internal, dengan
LA S M A W A N
5

intensitas pengaruh luar yang sangat rendah/kecil (Dirjen PMD, 1972), serta fungsi-fungsi pelayanan pendidikan dan komunikasi/informasi ada indikasi kurang terlayani (undeserved) (Tim, 1995; Farisi, 1998), maka pembangunan pendidikan formal-modern kalaupun dewasa ini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sama sekali asing, tetapi masih dipandang sebagai sesuatu yang inovatif . Artinya, pendidikan sebagai sesuatu yang baru, meskipun penting bagi suatu perubahan sosial, namun difusinya tidaklah selamanya mudah. Diperlukan banyak penyesuaian (adjusment ), adaptasi, akomodasi, dan assimilasi, untuk dapat dipercaya dan diterima sebagai suatu kebutuhan atau keniscayaan, serta melahirkan partisipasi sosial, dan akhirnya mampu memberdayakan masyarakat setempat yang diindikasikan oleh terjadinya perubahan sosial yang progresif (Rogers, 1983; Rogers & Shoemaker, 1987). Dalam kaitan ini, Durkheim (Campbell, 1994) mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses sosial-budaya di mana anak sebagai anggota masyarakat dapat mengambil segala sesuatu yang dibutuhkan dalam hubungan sosial (social contact ) melalui suatu pemberian masyarakatnya. Titik krusial yang membedakan karakteristik pendidikan sosial masyarakat terletak pada kualitas kebudayaan yang mendukungnya. Sedangkan bagi Whitehead (Susanto, 1979), pendidikan tidak lain merupakan seni memanfaatkan pengetahuan, dan bagaimana agar pengetahuan itu tetap lestari, serta terpelihara sehingga tidak kehilangan daya (inertia) adalah salah satu persoalan pokok pendidikan. Setiap pembangunan pendidikan karenanya perlu senantiasa bergayut dengan realitas sistem sosial secara keseluruhan (Durkheim, dalam Campbell, 1994), dan mengekspresikan realitas kehidupan masyarakatnya yang terbentuk sebagai hasil perpaduan antara pengalaman masa lampau, kebutuhan masa kini, dan cita-cita masa depan (Pakasi, 1979). Setiap anggota masyarakat secara keseluruhan harus memiliki jaminan penuh terhadap kesempatan berpartisipasi, berkontribusi, dan atau bekerjasama di setiap upaya pembangunan pendidikan (Dewey 1962; Pakasi, 1979). Pembangunan pendidikan yang diprogramkan harus memiliki kaitan fungsional dengan kepentingan dan kebutuhan realistis masyarakat, dan atau kaitan organis dengan sistem sosial dan budaya masyarakat setempat secara keseluruhan (Taba dalam Pakasi, 1979). Konflik sosial dan budaya perlu diminimalisasi secara edukatif dengan cara tidak mengintoduksi sesuatu yang bisa menimbulkan centang perenang di dalam masyarakat. 2. Pendidikan dalam Masyarakat Pendidikan Indonesia jelas merupakan sebuah konstruksi "pendidikan modern" yang bersifat "urbanistis", yang belum tentu pula bisa cocok dan diterima oleh setiap masyarakat Indonesia, yang masih bersifat "tradisionalistis" dan "agraris". Apabila nilai-nilai, norma-norma, prinsip-prinsip pendidikan modern tersebut dipaksakan, berbagai implikasi serius terhadap tatanan sosial-budaya yang ada di tingkat masyarakat pedesaan tradisional, tentu pula tak dapat dihindarkan (Tilaar, 1999:63). Walaupun dewasa ini ada kecenderungan bahwa pada masyarakat petani tradisional telah mulai "melepaskan" ikatanikatan "primordialitas-tradisional"-nya dan secara bertahap "mengikat diri" pada ikatanikatan "primordialitas-modern" dengan berupaya untuk "menjadi seperti" (becoming), berinvestasi, dan mengejar kemewahan materialisme-duniawi. Dengan kata lain, dewasa ini ada indikasi bahwa telah terjadi "transisi" secara evolutif dalam gagasan, orientasi nilai dan sikap pada "sebagian" anggota masyarakat petani tradisional tertentu yang menyebabkan
LA S M A W A N
6

identitas mereka tidak lagi "homogen" tetapi "heterogen" dengan identitas komunal yang mulai "kabur". Antara lain karena pengaruh akulturasi, enkulturasi, dan difusi sosial dan kultural. Dalam kaitan ini, ada tiga faktor ekologis yang saling terkait dalam upaya pembangunan masyarakat melalui pendidikan, yakni: (1) budaya, (2) teknologi, dan (3) pangupajiwa (Daldjoeni & Suyitno, 1985:34-35). Budaya merupakan sumber nilai, norma atau kaidah bagi manusia dalam usahanya mengubah alam demi kemanfaatannya. Teknologi merupakan instrumen untuk melakukan "adaptasi ekologis", dan pangupajiwa-dengan pola perkembangannya--menentukan taraf sosial-ekonomi yang ada. Ketiga konsep tadi secara turun-temurun telah diwariskan oleh masa lampau dan telah diuji kemampuan dan manfaatnya oleh tradisi melalui proses "diakronis". Upaya untuk mengubahnya sekalipun melalui proses "sinkronisasi" apalagi melalui proses "koersi" (pemaksaan) maka selain akan melahirkan sikap acuh, "kuasi partisipasi", bahkan bisa jadi dalam derajat tertentu justru akan melahirkan sikap penentangan. Bagaimana ketiga faktor pendukung tadi (adaptasi ekologis, peranan tradisi, dan perjuangan hidup) secara kontekstual-lokal dan dalam derajat tertentu mengatasi ketiga faktor penghambat (latar belakang sejarah, lingkungan alam, dan kondisi sosial-ekonomi) menurut Feisal (1081) bayak bergantung pada kesadaran dan sikap masyarakat bersangkutan untuk mengembangkan "daya ubah-diri", dan tidak semata-mata melalui pemberian contoh atau keteladanan, stimulasi yang cocok, persuasi dan penerangan sebagaimana dikemukakan Koentjaraningrat (1987:73-78). Sebab, keteladanan, persuasi dan penerangan hanya berfungsi sebagai "penggalangan". Lebih lanjut Faisal (1981:37) mengemukakan, agar daya dan potensi ubah-diri yang dimiliki oleh setiap masyarakat dapat ditumbuhkembangkan, dalam derajat tertentu, kepada mereka perlu diberi pelimpahan kepercayaan (devolution of confidence) untuk mengambil prakarsa atau inisiatif pembangunan (termasuk pendidikan) yang secara asasi menyangkut kepentingan diri mereka sendiri disertai dengan pemberian contoh atau keteladanan, stimulasi yang cocok, persuasi dan penerangan. Jadi, bukan pelimpahan kepercayaan tanpa bimbingan (pasrah tiada bertepi). Meminjam konsep Mannheim (Daldjoeni & Suyitno, 1985:36) daya ubah-diri (changing-self competencies) perlu diletakkan dalam kerangka wadah, peranan dan adaptasi. Dalam konteks ini pula, pendidikan perlu dijadikan "wadah sosial" di mana setiap anggota masyarakat secara terbuka dapat mengambil dan melakukan peran di dalamnya, serta melakukan proses adaptasi-diri sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing bagi optimalisasi daya-daya dan potensi-potensi ubah-diri yang dimiliki. Tanpa itu semua, sulit kiranya masyarakat petani tradisional di pedesaan akan welcome terhadap pembangunan pendidikan di daerahnya. Pendidikan seperti dikatakan Adam Smith (Campbell, 1994: 186-187) dapat diharapkan menjadi institusi sosial yang memungkinkan dibangunnya kembali kohesi-kohesi sosial yang bersifat evolutif, lebih normal dan kurang memaksa. Sebagaimana diketahui, semenjak tahun 70-an pemerintah telah melaksanakan berbagai program pembangunan pendidikan untuk memenuhi tuntutan peserta didik dan masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada program ekspansi sistem pendidikan modern ke seluruh pelosok dan lapisan masyarakat (Miarso, 1983); reorganisasi struktur, isi, dan postur kurikulum lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, seperti madrasah yang
LA S M A W A N
7

banyak berbasis di daerah-daerah pedesaan (Steenbrink, 1986; Zimeck, 1986); pengembangan kebijakan khusus, baik dalam bentuk proyek Inpres, pendidikan inovatif yang berorientasi pada upaya meningkatkan relevansi pendidikan (Miarso, 1983); dan pengembangan model pendidikan konvergensi dalam bentuk lembagalembaga pendidikan khusus (sekolah bernuansa Hindu).

PENDIDIKAN MODERN YANG BERWAWASAN GLOBAL

PENERIMAAN MASYARAKAT TERHADAP INOVASI PENDIDIKAN PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT DAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN
LA S M A W A N

AKSEPTIBILITAS DAN VISIBILITAS MASYARAKAT MELAKSANAKAN PENDIDIKAN

Bagian Tiga: 1. Masyarakat-Pendidikan-Kualitas Sumber Daya Setiap masyarakat senantiasa akan selalu berubah seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat itu sendiri. Perubahan adalah suatu proses pergeseran pirantipiranti sosial kehidupan umat manusia, alam, dan tatanan nilai-nilai yang ada di masyarakat dari suatu kondisi tertentu menjadi kondisi baru, dimana di dalamnya terjadi pengalihan fungsi atau perubahan sistim fungsional dari unsur-unsur yang mengalami perubahan. Dalam konteks perubahan, intinya adalah terjadinya pergeseran unsur, unit, sistim, atau nilai dari kondisi yang semula menjadi suatu kondisi baru yang sebelumnya mungkin belum ada. Jadi, inti dari perubahan itu adalah terjadinya pergeseran. Contohnya, perubahan susunan dan kedudukan lembaga legislatif tahun 1999, dimana ditandai dengan terjadinya pergeseran proporsi dan kuantifikasi anggota legislatif dari utusan daerah dan ABRI, dimana hal ini
8

telah menrubah tatanan sistim yang ada sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa dalam konteks perubahan itu, tidak terjadi peningkatan potensi namun lebih mengarah pada pergeseran atau pemekaran suatu unsur atau unit yang telah mapan sebelumnya. Dinamika kehidupan manusia dengan segala faktor pendorong dan percepatannya merupakan suatu siklus yang yang bersifat kontinyu dan multi aspek. Beranjak dari kondisi seperti itu, maka proses perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan yang terjadi terhadap the Real Life Systems (RLS) juga akan terus berlangsung seirama dengan kemajuan masyarakat itu sendiri. Proses ini bisa berlangsung dengan lambat, bila faktor-faktor pendorong yang perubahan itu bergerak secara lambat dan tidak adanya vector percepatan yang mengakomodasi pertumbuhannya, sehingga berimplikasi pada lambatnya unsur-unsur dari RLS itu untuk berkembang. Sebaliknya, bilamana motor dan faktor-faktor pendorong perubahan itu sangat kuat dan disertai adanya fungsionalisasi vector percepatan, maka proses perubahan itu akan berlangsung dengan cepat, dan akan mendorong tumbuhnya potensi dan kekuatan-kekuatan baru dalam RLS yang berimplikasi pada terjadinya perkembangan unsur-unsur dan piranti kehidupan yang cepat pula. Eksistensi dan substansi dan faktor-faktor pendorong terjadinya perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat serta vector percepatannya merupakan dua sisi yang menjadi key point dari lambat dan/atau cepatnya proses pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat dengan segala aspek kehidupannya. Disinilah kolaborasi faktor-faktor pendorong perubahan dan vector percepatannya menjadi motor utama intensitas-fungsional dari proses perubahan, pertmbuhan, dan perkembangan RLS di tengah-tengah masyarakat zudon yang sepertinya tanpa wacana. Dilihat dari cakupan perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan RLS, maka dimensi keluasan dan keterbatasannya sangat dipengaruhi oleh banyak tidaknya unsur dan piranti kehidupan masyarakat yang dilibatkan atau terlibat dalam proses perubahan itu sendiri. Suatu perubahan bisa berlangsung secara luas bahkan meliputi segenap aspek kehidiupan umat manusia dalam format RLS, bilamana faktor-faktor pendorongnya memiliki daya dan implikasi akibat yang tinggi, dengan didukung oleh vector percepatan yang fungsional. Kondisi yang demikian, bisa menimbulkan perubahan yang sangat luas, sehingga akan mendorong terjadinya proses pertumbuhan suat potensi tertentu menuju perluasan fungsi dan makna dari aspek-aspek RLS yang sangat kompleks. Di sisi lain, jika faktor pendorong yang ada hanya meliputi beberapa aspek atau dimensi tertentu, dengan didukung oleh vector percepatan yang terbatas pula, dimana kedua hal itu merupakan motor terjadinya perubahan, maka implikasi dari perubahan itu tidak terlalu luas. Hal ini terjadi karena rendahnya kekuatan faktor pendorong dan vector percepatannya dalam menstimuli berbagai aspek RLS, sehingga implikasi dari perubahan itu sifatnya terbatas. Keterbatasan perubahan itu, juga bisa disebabkan oleh minimnya faktor pendorong dari perubahan itu sendiri ataupu tidak adanya vector percepatan yang memungkinkan perubahan itu terjadi secara meluas, sehingga hanya meliputi bagian-bagian tertentu dari RLS kemasyarakatan. Artinya, luas dan/atau terbatasnya suatu perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan sangat dipengaruhi oleh kekuatan dari faktor-faktor pendorong dan vector percepatan dari perubahan itu sendiri. Pola hubungan antara kedua unsur ini bersifat kausalitas, sehingga implikasi yang ditimbulkannya juga bersifat kausalistis. 2. Change Factors dan Driving Factors Esensial Perubahan Masyarakat (Pendidikan)
LA S M A W A N
9

Beberapa faktor pendorong (change factors) penting yang bisa menibulkan terjadinya perubahan antara lain: (1) Politik-Militer, (2) Ekonomi-Maintenance, (3) Hukum-Justice, (4) Budaya-Values system, (5) Sumber Daya Manusia, dan (6) Ilmu dan Teknologi. Keseluruhan faktor ini baik secara sendiri-sendiri maupun kolaboratif secara langsung bisa mendorong terjadinya perubahan tatanan maupun sistim sosial suatu masyarakat. Intensitas kekuatan dari setiap faktor sangat dipengaruhi oleh kekuatankekuatan pendorong lain, yang secara signifikan akan menentukan kuat tidaknya implikasi dari perubahan itu sendiri. Di samping faktor-faktor di atas, ada satu faktor pendorong lain yang dimiliki oleh setiap bangsa yang dapat menjadi motivasi dan arah perubahan dalam suatu masyarakat, yaitu kekuatan sejarah bangsa. Kaitan logis antara kekuatan sejarah dengan faktor pendorong lainnya bisa mengarahkan perubahan yang terjadi, sehingga suatu bangsa bisa mengontrol dan mengarahkan perubahan yang dialaminya ke arah yang di citacitakan, yaitu memperoleh kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan analisis di atas, tampak bahwa faktor pendorong itu bisa beraneka ragam bentuk dan sifatnya, namun implikasi yang ditimbulkannya tetap mengacu pada terjadinya pergeseran dan alih fungsi beberapa unsur maupun sistim kehidupan suatu bangsa. Beberapa kekuatan pendorong (driving vactors) timbulnya perubahan adalah: (1) Idiologi, (2) Belief systems, (3) Modern scientific and technology, (4) Scientific thinking, (5) Achievement motivation. Kekuatan pendorong ini bisa berperan sebagai vector percepatan terjadinya suatu perubahan. Kekuatan ini bisa berdiri sendiri ataupun merupakan gabungan dari beberapa vector percepatan. Namun dampak yang diakibatkan secara kuantitatif cendrung tidak jauh berbeda. Keseluruhan kekuatan pendorong itu sangat menentukan power dari faktor-faktor pendorong untuk terjadinya perubahan dalam tatanan dan sistim kehidupan suatu masyarakat. Perubahan yang dimaksud disini lebih mengarah kepada terjadinya kompleksitas sistim kehidupan masyarakat, sebagai akibat dari tuntutan kemudahan dan arus globalisasi yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi. Berdasarkan analisis empiris dan implikasi faktor-faktor pendorong dan kekuatan pendorong terjadinya perubahan di atas, tampak bahwa perubahan masyarakat itu terjadi disebabkan oleh berbagai tuntutan dan kepentingan yang sinergis dari masyarakat itu sendiri. Arah dari perubahan yang dimaksud bisa terkendali dan bisa juga tidak terkendali. Konsekuensi dari hal tersebut adalah terjadinya keteraturan atau kesemrawutan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu, pola berpikir dan kecepatan serta kejernihan berpikir masyarakat sangat menentukan arah dan implikasi dari sebuah perubahan, dengan tanpa memandang kekuatan dan jumlah driving factor dari perubahan tersebut. 3. Profil Perubahan Sosial-Pendidikan di Indonesia Salah satu segi mendasar perubahan yang terjadi dalam aspek ketatanegaraan dan politik di Indonesia saat ini adalah terjadinya demoktarisasi dan open politik serta pendekatan keamanan nasional yang Represif kearah humanis yang ditandai dengan pergeseran paradigma pendekatan pengelolaan sistim ketatanegaraan dan politik oleh elit politik sejak tahun 1998. Indikasi dari perubahan itu dapat dilihat dari keterbukaan kalangan elit politik dalam menerima kritik dan saran dari masyarakat bawah, keberanian masyarakat bawah (grass root ) untuk mengekspresikan aspirasi politiknya, dan model pendekatan politik otoriter dan indoktrinatif kearah pendekatan demokratis dan humanis. Indikator lain yang tampak berubah dalam ketatanegaraan Indonesia saat ini adalah
LA S M A W A N
10

terjadinya pergeseran wacana yuridis sistim kabinet presidensial ke arah sistim pemerintahan yang banci, karena tidak bisa dikatagorikan kedalam salah satu sistim yang telah kita kenal dalam tataran akademik. Konsekuensi dari perubahan itu adalah sulitnya kepala negara sebagai penanggungjawab dan motor utama pemerintahan mengatur kerja para pembantunya, yang pada akhirnya berdampak pada terjadinya kesemrawutan pemerintahan dan kolapsnya perekonomian nasional. Dalam bidang politik, perubahan mendasar lain yang layak dikaji adalah terbukanya kran demokrasi bagi pendirian partaipartai politik yang telah tertutup hampir selama 32 tahun. Implikasi dari keterbukaan ini adalah menjamurnya partai-partai politik dari berbagai aliran, yang bukannya membuat masyarakat semakin dewasa dalam berpolitik, namun justru menambah kebingungan dan munculnya arogansi dan pengkultusan aliran atau individu. Implikasi dari perubahan ini adalah terjadinya proses pendidikan dan pendewasaan masyarakat untuk memahami berbagai dinamika politik yang sifatnya lintas-sektoral dan unpredicable. Ada sejumlah indikator menarik yang layak untuk dicermati berkait dengan perubahan yang terjadi pada aspek ekonomi dan keuangan di Indonesia saat ini, yaitu: (1) kebingunan pemerintah dalam menetapkan kebijakan perekonomian nasional, (2) ketergantungan yang absurd pemerintah pada lembaga-lembaga keuangan internasional dan bantuan negara lain, (3) menjamurnya peraturan perundang-undangan yang mubazir berkait dengan pengelolaan perekonomian nasional, (4) tingkat fluktuasi nilai rupiah yang sangat tajam dan tinggi, dan (5) maraknya kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara yang semestinya mengungkap kasus korupsi itu sendiri. Implikasi dari semua peristiwa di atas adalah terjadinya ketimpangan perekonomian nasional yang hampir mencapai titik minus dilihat dari pertumbuhan normal suatu negara, dan terpuruknya nilai rupiah di pasar spot internasional. Perubahan mendasar yang terjadi dalam aspek keagamaan pada dasarnya tidak begitu urgen berkait dengan esensi dan substansi keagamaan itu sendiri. Namun, jika kita cermati dari sisi lain diluar core values agama, khususnya berkait dengan kehidupan riil sosial kemasyarakatan, tampak bahwa telah terjadi pergeseran yang sangat tajam dalam bidang yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sang pencipta lewat media agama. Saat ini, tidak jarang kalangan politisi menggunalkan aspek agama sebagai pelindung atau motor wacana dan aspirasi politiknya, sehingga mengakibatkan terjadinya friksi-friksi tertentu menyangkut masalah keagamaan. Perubahan ini ditandai dengan maraknya pendirian LSM, organisasi keagamaan, dan kekuatan sosial-agamis yang bermuara pada upaya pemenuhan kepentingan salah satu golongan dibalik nafas keagamaan. Secara formal, pengaturan kehidupan keagamaan juga mengalami perubahan menuju kearah keterbukaan, seperti pengakuan dan perlindungan terhadap perayaan hari-hari besar umat khong fu chu walaupun belum ditetapkan sebagai hari libur nasional, hal ini tentu menjadi salah satu cermin telah terjadinya perubahan dalam bidang keagamaan dalam berbangsa dan bernegara. Berbicara tentang teknologi dalam tataran masyarakat dunia saat ini, maka kita harus berpikir secara anti-thesa dalam format postpositivistik. Karena kemajuan ilmu pengetahuan telah berimplikasi secara langsung terhadap kemajuan teknologi bagi kehidupan masyarakat. Di satu sisi, kemajuan teknologi yang begitu pesat, telah menghadirkan berbagai kemudahan bagi umat manusia untuk melakukan interaksi dan
LA S M A W A N
11

memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun di sisi lain, kemajuan teknologi juga telah membawa dampak buruk bagi umat manusia, seperti terjadinya pencemaran lingkungan dan abrasi nilai-nilai moral kebangsaan. Salah satu aspek mendasar perubahan dalam bidang teknologi adalah pada pemanfaatan dan usebility dari teknologi itu sendiri. 4. Posisi dan Peranan Sistim Pendidikan dalam Masyarakat Zudon yang Bergejolak Membicarakan tentang potensi kekuatan dan kelemahan organisasi pendidikan nasional, tampaknya kita harus memulainya dengan melakukan analisis posisi terhadap sistim pendidikan nasional yang sedang diberlakukan saat ini. Pendidikan merupakan sentral pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang nantinya berperan penting dan memegang posisi dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengelolaan pendidikan nasional selama ini menggunakan prinsip dan pendekatan sentralistik, yang sangat birokratis. Sistim yang sentralistik dan birokratis tidak akan memungkinkan setiap unsur dapat berperan secara maksimal untuk menghasilkan out put yang berkualitas. Untuk itu diperlukan upaya yang maksimal dari berbagai fihak, bagaimana memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada sistim pendidikan kita agar mampu mewujudkan nilai-nilai lokal yang berkualitas dan berwawasan global. Pemerintah harus berani memberikan pengelolaan pendidikan kepada daerah, walaupun tidak semua kebijakan pendidikan harus diserahkan kepada daerah sebagai konsekuensi otonomi daerah. Disamping itu, untuk mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas dan mampu melahirkan good citizen maka perlu diwujudkan demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan, yaitu pemberdayaan masyarakat luas dan dunia usaha. Sudah saatnya sekolah diberi peluang mengatur sekolahnya masingmasing, yakni dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah (School-Based Management). Manajemen berbasis sekolah adalah refleksi dari desentralisasi pendidikan masa kini dan yang akan datang. Manajemen berbasis sekolah meliputi cara sekolah : mengarahkan kurikulum untuk mengembangkan belajar siswa; merencanakan, mengimplementasikan akontabilitas, menyeimbangkan kebutuhan sistem dengan kebutuhan masyarakat; membuat keputusankeputusan demokratis; menerapkan site-base management dalam pengelolaan human resources, financial resources, dan physical resource; dan memaksimalkan efisiensi dan efektivitas kurikulum, belajar siswa dan penggunaan sumber daya. Dalam menghadapi era globalisasi dengan persaingan yang begitu ketat disegala bidang kehidupan termasuk pendidikan, maka penerapan quality control dan quality assurance dalam sistem pendidikan tidak dapat ditunda lagi. Quality control adalah suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas mutu produk yang tidak sesuai dengan standar. Konsep ini bersifat output oriented, untuk memastikan bahwa output sesuai dengan standar (Sanusi, 1998). Oleh karena itu perlu ditetapkan indikator kualitas yang jelas. Quality assurance berbeda dengan qulaity control, bersifat proses oriented. Artinya konsep ini mengandung suatu jaminan bahwa proses yang berlangsung telah dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditentukan (Sanusi, 1998). Dengan proses yang dilaksanakan sesuai dengan standar diharapkan dapat dihasilkan output yang juga sesuai dengan standar. Sudah saatnya dibentuk gugus kendali mutu di setiap sekolah. Gugus kendali mutu adalah suatu kelompok kecil untuk melaksanakan kegiatan kendali mutu secara sukarela dalam tempat kerja yang sama (Ishikawa, 1992). b. Kurikulum
LA S M A W A N
12

Kurikulum merupakan pengejawantahan visi dan misi pendidikan nasional. Sebuah kurikulum pada dasarnya berintikan empat aspek utama yaitu: tujuan pendidikan; isi pendidikan; pengalaman belajar; dan penilaian. Keempat komponen tersebut harus diarahkan pada upaya menghadapi abad-21 yang menuntut kemampuan belajar cepat (lerning fast ) dan berpikir jernih (clear thinking) (Colin &Nicholl,1997). Tujuan pendidikan seharusnya tidak hanya mengembangkan aspek pengetahuan tetapi juga pemahaman yang generalistis, keterampilan-keterampilan dan nilai yang harus dikuasai siswa. Tujuan pendidikan juga harus mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Misalnya seorang siswa tidak cukup hanya menguasai sain tetapi juga harus berpikir dengan sain yakni berpikir ilmiah. Seorang siswa tidak cukup mengusai sejarah tetapi bagaimana dia berpikir secara historis. Untuk membenahi praktek pendidikan di Indonesia dalam rangka menghadapi globalisasi, paling tidak ada sejumlah komponen strategis yang harus diperhatikan. Komponen-komponen tersebut adalah: siswa, kurikulum, guru dan tenaga pendidikan lainnya, manajemen, dan sarana prasarana pendidikan. Pendidikan pada dasarnya adalah wahana untuk membelajarkan siswa. Dalam proses belajar mengajar siswalah yang akan belajar, guru dan komponen lainnya adalah fasilitator bagi perolehan pengalaman belajar siswa. Tak pelak lagi entry behavior merupakan konsep yang penting dalam pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam khazanah teori belajar dikenal learnimng hierrarchy, yakni suatu jaringan kaitan berbagai materi dalam suatu disiplin ilmu, dimana materi yang di bawah merupakan prasyarat materi level diatasnya. Persoalan yang ada sekarang adalah banyak siswa yang tidak memiliki kesiapan belajar dalam arti fisik dan mental. Banyak siswa yang tidak siap memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bila diukur dari penguasaan materi prasyarat yang dimiliki. Untuk mengatasi hal ini akan terjawab bila terdapat sistem evaluasi yang berkesinambungan. Motivasi dan upaya keras pembelajar juga merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pendidikan. Motivasi berarti memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk mencapai prestasi yang tinggi. Usaha keras berarti untuk mencapai prestasi tinggi itu , murid bersedia mengorbankan waktu dan tenaga secara penuh dan maksimal. Motivasi dan kemauan murid tersebut dapat dikembangkan dengan hidden curriculum. Artinya dalam interaksi dengan murid guru secara sadar dan terencana mengarahkan motivasi dan kemauan murid. Keberhasilan Jepang dalam memotivasi siswa lewat collegial interaction antara guru dan murid dapat dipakai sebagai bahan perbandingan. Sekolahsekolah di Jepang menerapkan collegial interactian antara guru dan murid lebih banyak dari kebanyakan sekolah di Amerika, suatu sistem yang menghasilkan atmosfir belajar berkualitas tinggi (Research Today, International study, 1999). Dalam proses pembelajaran pada dasarnya terkandung tiga hal yaitu thinking, learning dan teaching. Untuk menghadapi abad ke 21 siswa tidak cukup hanya belajar menghafal, mengingat informasi, tetapi belajar bagaimana belajar (learning how to learn), belajar pada abad 21 adalah juga belajar untuk berpikir (learning for thinking). Kemampuan berpikir tingkat tinggi, kreatif dan analitik harus diwujudkan dalam pengalaman belajar. Belajar pada abad 21 adalah belajar lewat pengalaman (learning by experience). Misalnya siswa tidak cukup belajar bahasa tetapi bagaimana belajar berbahasa. Siswa tidak cukup belajar tentang metode ilmiah tetapi bagaimana dia
LA S M A W A N
13

menerapkan metode ilmiah. Pengalaman belajar juga harus dirancang untuk memungkinkan siswa bekerjasama satu sama lainnya. Kemampuan kerja sama ini diperlukan karena dalam era globalisasi persaingan yang terjadi bukan persaingan antar individu tetapi persaingan antar kelompok. Oleh karena itu penerapan cooperative learning tampaknya perlu dipertimbangkan. Guru merupakan orang terdepan dalam praktek pendidikan. Keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada apa yang terjadi dalam kelas (Sanusi, 1998). Kemampuan guru secara konsisten dan signifikan berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Shulman (1986) dalam Ormrod dan Cole (1996) menyatakan bahwa guru yang efektif adalah guru yang mempunyai tiga jenis pengetahaun yaitu pengetahuan tentang materi-subjek (content knowledge); pengetahuan tentang strategi pengajaran umum (pedagogical knowledge) dan strategi khusus pengajaran materi-subjek (pedagogical content of knowledge). Pedagogical content knowledge merupakan kemampuan yang kritis dalam pengajaran efektif. Banyak guru yang tidak mampu mengintegrasikan pengetahuan pedagogy dan pengetahuan konten ini. LPTK seyogyanya lebih menekankan pengetahuan conten pedagogy para calon guru yang membedakannya dengan ilmuwan murni. Secara kuantitatif, pada dasarnya pembangunan pendidikan di Indonesia sudah bisa dikatagorikan berhasil. Namun secara kualitatif, tampaknya masih diperlukan berbagai upaya untuk menjadikan kualitas pendidikan kita lebih baik. Salah satu gambaran riil kualitas produk pendidikan nasional, dapat dilihat dari standar pendidikan kita menurut UNESCO, dimana Indonesia berada pada urutan 105 diantara negara-negara lain di dunia. Realitas lain yang tampak di lapangan menunjukkan bahwa lulusan lembaga pendidikan belum mampu memenuhi pangsa pasaran kerja yang ada di masyarakat. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengangguran terdidik, sebagai akibat kurang sesuainya bidang keahlian yang dimiliki dengan peluang kerja yang disediakan oleh dunia industri. Terjadinya stagnasi ini tentu disebabkan banyak faktor, bukan semata-mata karena faktor proses pembelajaran di kelas. Untuk meningkatkan mutu out put pendidikan, tidak cukup hanya dengan melakukan perbaikan kurikulum persekolahan, namun harus berani melakukan perombakan dalam segala piranti yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan. Hal ini penting dilakukan, mengingat tantangan masyarakat global semakin merajalela yang membutuhkan kesiapan setiap insan untuk berkompetisi secara global.
LA S M A W A N

Bagian Empat : 1. Profesionalisme Guru dan Praktek Pendidikan Sebagaimana telah disinggung di atas, pelaksana kurikulum (guru) menempati posisi serta memegang peran penting dalam pelaksanaan pembangunan pendidikan. Guru sebagai pelaksana kurikulum, Gagne (1975) menyatakan bahwa carry out the task of promoting learning by providing instructional. Guru adalah designer of instruction dan sekaligus sebagai manager of instruction. Sejalan dengan pendapat Gagne, kiranya disadari bahwa tanggungjawab guru amat berat, namun tidak berarti mustahil dilakukan. Justru beratnya tanggungjawab tersebut merupakan motivasi tersendiri untuk berbuat dan berlaku lebih baik. Oleh karena pembelajaran merupakan kegiatan yang menjembatani
14

para peserta didik dengan kecakapan-kecakapan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang harus dipelajari dan dimiliki oleh peserta didik. Sejalan dengan nafas pembangunan pendidikan dan tuntutan reformasi global, maka guru hendaknya mampu mengembangkan dan membekali dirinya dengan seperangkat kemampuan dan keterampilan dalam memilih dan mengaplikasikan model dan strategi pembelajaran yang mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif bagi peserta didik. Dalam tulisan yang bertitel Preparation and Certification of Teachers, (Keller, 1985) berupaya menjawab pertanyaan, what skills, knowledge and training should teachers have and how should colleges and universities, state departemens of education, and school boards make sure that they have them ?. Pertanyaan dan jawaban yang dikedepankan oleh Keller memberi petunjuk tentang keterampilan dan kemampuan yang seyogyanya dimiliki dan dimahiri oleh guru agar mereka mampu melaksanakan tugas dengan baik. Pembangunan pendidikan semestinya bukan hanya menyentuh dimensi instrumentalia dari tataran pendidikan, melainkan memprioritaskan pengembangan dan peningkatan kualitas guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan itu sendiri. Di sisi lain, tingkat kesejahteraan mereka juga harus diperhatikan, mengingat tidak akan mungkin orang dituntut untuk bekerja dengan baik bilamana tingkat kesejahteraannya rendah. Untuk itu tuntutan pengembangan diri para guru dan ketersediaan instrumen pendidikan, serta tingkat kesejahteraan guru harus berjalan seiring dan sejalan, sehingga dunia pendidikan mampu memerankan dirinya sebagai media dan jembatan yang strategis bagi bangsa Indonesia untuk tetap menjamin tegaknya demokrasi Pancasila dan menyongsong kehidupan masyarakat global. Untuk merealisasikan harapan tersebut, maka salah satu alternatif yang mungkin dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas lembagalembaga pendidikan formal, sehingga tuntutan dan harapan masyarakat terhadap dunia pendidikan terakomodasi secara nyata. Upaya yang sedang dan akan dilakukan oleh LPTK untuk meningkatkan kualitas calon guru, sangat tergantung pada kebijakan formal penguasa dan manajemen institusi itu sendiri. Adapun hal yang sesegera mungkin dapat (harus) dilakukan oleh LPTK adalah melakukan reformasi dalam perancangan, pelaksanaan dan pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) di LPTK sehingga mengacu pada : (1) penumbuhan kreativitas, (2) bersumber pada subjek didik (student centered), (3) inovatif, (4) penumbuhan kemampuan diri peserta didik secara dini, dan (5) berorientasi pada lingkungan mikro/makro, sehingga model pembelajaran di LPTK dapat: mengkondisikan dan membentuk guru yang mandri dan berorientasi futuristik. 2. Guru dan Tanggungjawabnya Meskipun kenyataan menujukkan perlakuan kita terhadap guru masih jauh dari yang diharapkan agaknya cukup sulit untuk menyepakati tugas guru amatlah penting. Secara makro tugas guru berhubungan dengan pengembangan sumberdaya manusia yang pada ahirnya akan paling enentukan kelestarian dan kejayaan kehidupan bangsa. Dalam hubungan ini, nampaknya memang ada kecenderungan pada sementara orang untuk memandang permasalahan secara kurang jernih. Kesalahan perhitungan oleh arsitek dalam merancang bangunan atau kesalahan penetapan obat oleh dokter segera disadari pentingnya oleh masyarakat luas berhubungan dengan kedramatisan dampaknya bangunan bertingkat ambruk atau pasien meninggal atau cacat seumur hidup. Walaupun terlihat,
LA S M A W A N
15

agaknya tidak sulit untuk menyepakati bahwa dampak negatif kesalahan pendidikan juga tidak kurang gawatnya sebab ia dapat mengambil berbagai bentuk yang tidak kalah seriusnya. Sesuai dengan wawasan pendidikan yang telah dikemukakkan sebelumnya, setiap episode belajar mengajar haruslah sekaligus merupakan perwujudan pendidikan. Akumulasi pengalaman tersebut dirangcang dengan memanfaatkan berbagai pendekatan penyampaian. Akibatnya mengajar yang seharunya merupakan wujud pendidikan dikebiri menjadi pemberian imformasi semata-mata. Pekerjaan mendidik itu memprasyaratkan lebih dari sekedar persiapan mantap mengenai apa yang harus diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Betolak dari keharusan untuk menjaga keseimbangan antara kedaulatan siswa dan orientasi guru, serta keserasian antara penumbuhan kemampuan mempertanyakan dan melestarikan sebagaimana dikemukakan sebelumnya maka peranan kuci guru dalam interaksi pendidikan adalah melakukan pengendalian yang pada dasarnya dapat ditinjau dari tiga segi. Jelasnya, peranan kunci guru adalah secara sistematis mengupayakan : (a) pembentukan kemandirian siswa dengan mengatur pemberian kesemopatan untuk mengambil keputusan, mula-mula mengenai cara kemudian mengenai tujuan kegiatan belajar sesuai dengan perkembangan kemampauannya, (b) pemupukan kemapuansiswa dalam mengambil keputusan dengan meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya yang relevan, (c) menyediakan sistem dukungan yang pelaksanaan berbagai alternatif bentuk kegiatan belajar yang mencerminkan kemandirian dan kemapuan siswa yang semakin meningkat dalam mengambil keputusan. Akhirnya makna pengendalian disini perlu diartikan secara khas, yakni sejak awal bertujuan untuk pemandirian siswa bukan penjinakkannya. Sebagaimana diketahui karangka pemikiran inilah yang telah lama dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara ketika beliau melukiskan peranan guru sebagai ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Sebagaimana telah disyaratkan sebelumnya penerapan secara taat asas karangka acuan tut wuri handayani akan dapat terwujud apabila guru maghargai siswa sebagai perorangan, peduli mengenai permasalahannya, serta tulus dalam niatnya untuk membantu. Untuk secara terus menerus menigkatkan kemapuan dalam mengambil keputusan yang tepat, baik keputusan situasional maupun keputusan tansaksional dalam melaksanakan acuan tut wuri handayani, seorang guru yang professional juga dituntut meningkatkan wawasan serta pengetahuan dibidang pendidikan dan ilmu-ilmu penunjang umumnya dan proses belajar mengajar khusunya serta mengikuti perkembangan sitem pendidikan terutama yang berkaitan dengan pembaharuan penyelenggaraan proses pembelajaran. Karena itulah maka wawasan pendidikan dapat pula dikatakan sebagai landasan kemengapaan dari tugas guru.
LA S M A W A N

16

Pendidikan Berakar pada Masyarakat

Masyarakat Sumber&Muara Pendidikan

Kebutuhan Pendidikan Masyarakat

Kualitas Proses dan Produk Pendidikan


Model dan Strategi Pembelajaran Pendidikan Kebudayaan Pengupajiwa

Daftar Pustaka Azis Wahab. (2000). Meningkatkan Belajar Melalui Pemantapan Budaya Akademik Organisasi Perguruan Tinggi Sebagai Kunci Memasuki Milineum Ketiga (Ed). Orasi Ilmiah (tidak diterbitkan). Bandung: STKIP Pasundan Cimahi. Lasmawan, W. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Titik Balik Kebangkitan dan/atau Kebangkrutan Kualitas Pendidikan Nasional. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja Montgomery (2000). Education and Future Society. USA: Delmar Publishers. http:\\www.edu.id.com Naisbitt, John. (1994). Global Paradox . Australia: Allen & Unwin, St. Leonards. Ohmae, Kenichi. (1991) Dunia Tanpa Batas: Kekuatan dan Strategi di dalam Ekonomi yang Saling Mengait (terjemahan). Jakarta: Binarupa Aksara. Ormrod Jeanne E.& Cole David B.(1996). Teaching Content Knowledge and Pedagogical Content Knowledge: A Model from Geographic Education. Journal of Teacher Education. January-February 1996. Vol.17.No.1. The State of Queensland (Department of Education). (1999) School-Base Management in Queensland State Schools. Publishing Services, Public Relation and Marketing Branch.

LA S

Kurikulum Kinerja Guru DaDuLingk. Kualitas Siswa

M A W

17