Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK Di pstw budi luhur kasongan-bantul

Nama: Ni Luh Sri Utami Dewi NIM: 12160141

Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berlanjut) secara alamiah.Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua mahluk

hidup.Menua(menjadi tua) adalh suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Menurut Undang-undang Dalam istilah sakit termasuk cacat, kelemahan, dan usia lanjut. Berdasarkan pernyataan ini, lanjut usia di anggap sebagai semacam penyakit.hal ini tidak benar.gerontologi berpendapat lain, sebab lanjut usia bukan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia. Menua bukanlah suatu penyakit tetapi proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh.walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia. Pada lanjut usia fungsi paru mengalami kemunduran dengan datangnya usia tua yang disebabkan elastisitas jaringan paru-paru dan dinding dada makin berkurang. Dalam usia yang lebih lanjut kekuatan kontraksi otot pernafasan dapat berkurang shingga sulit bernafas. Berkurangnya fungsi paru_paru juga disebabkan oleh berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti fungsi ventilasi paru.Infeksi yang sering diderita para lanjut usia adalah Pnemonia 40%, TBC 25,2%, Asma 8,4%, Bronkitis 7,3%, Empisema 5%, ISPA 13,8% dan biasanya diikuti penyakit penyerta, misalnya : diabetes mellitus, payah jantung kronik, dan penyakit-penyakit vaskuler A. Tujuan 1. Mempertahankan derajat kesehatan pada lansia pada taraf yang setinggi-tingginya, sehingga terhindar dari penyakit atau gangguan. 2. Memelihara kondisi kesehatan dengan aktivitas-aktivitas fisik dan mental.

3. merangsang para petugas kesehatan (dokter, perawat) untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini bila mereka menjumpai suatu kelainan tertentu. 4. Mencari upaya semaksimal mungkin agar para lansia yang menderita suatu penyakit atau gangguan, masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai faktor-faktor yang menyangkur Lanjut Usia. Gerontik adalah ilmu yang mempelajari, membahas, meneliti segala bidang masalah Lanjut Usia, bukan saja mengenai kesehatan namun juga menyangkut sosial kesejahteraan, pemukiman, lingkungan hidup, pendidikan, perundang-undangan. Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000)

B. Batasan atau Pembagian Lanjut Usia Adapun beberapa pendapat mengenai pembagian atau batasan-batasan Lanjut Usia, yakni: 1. Menurut WHO Lanjut Usia meliputi: a. Middle Age b. Elderly c. Old d. Very Old : 45-59 tahun : 60-70 tahun : 75-90 tahun : Di atas 90 tahun

2. Menurut Prof. DR. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad Perkembangan manusia dibagi sebagai berikut:

Koesoemato Setyonegoro a. DR. Teori-teori Biologis a. Fase Senium : 25-40 tahun : 40-50 tahun : 55-65 tahun : 65 tahun ke atas 4. Menurut Prof. Fase Verilitas c. Menurut UU No. Menurut Dra. Teori-teori Proses Menua Adapun teori-teori menua. setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Masa Bayi b. Masa Sekolah d. . C. IV. Fase Inventus b. tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. Very Old : 18/20-25 tahun : 25-60/65 tahun : Di atas 65/70 tahun : 70-75 tahun : 75-80 tahun : Di atas 80 tahun 5. Old f. Masa Dewasa f.Contohnya.a. Elderly Adulhood b. Ny. yaitu: 1. Young Old e. Masa Setengah Umur g. Secara keturunan dan atau mutasi. Tahun 1965 Pasal 1 Menyatakan bahwa seseorang dapat dikatakan Lanjut Usia setelah mencapai umur 55 tahun. Josmasdani a. Middle Years c. mutasi daripada sel-sel kelamin. Masa Pra sekolah c. Masa Lanjut Usia : 0-1 tahun : 1-6 tahun : 6-10 tahun : 10-20 tahun : 20-40 tahun : 40-65 tahun : 65 tahun ke atas 3. Fase Prasenium d. Masa Pubertas e. Geriatric Age d.

e. Mitos Kedamaian dan Ketenangan Lanjut Usia dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payahnya di masa muda dan dewasanya. Paranoid. Sering ditemui stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta penderitaan karena penyakit.b. badai dan berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewati. b. yang disebut teori Akumlasi dari produk sisa d. Teori-teori Kejiwaan Sosial a. Kenyataannya: a. ada jaringan tubuh tertentu tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. o Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari Lanjut Usia. Aktivitas dan kegiatan: o Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Kepribadian berlanjut o Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada Lanjut Usia. Kekhawatiran. f. Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya. Depresi. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan. D. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh. e. d. c. b. Reaksi dari kekebalan sendiri. c. Di dalam proses metabolisme tubuh. Tidak ada perlindungan terhadap: Radiasi. Penyakit dan Kekurangan Gizi. 2. Masalah psikotik . c. Mitos-mitos Lansia dan Kenyataannya Menurut Sheiera Saul: 1. kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah. suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Pemakaian dan merusak.

Kembali ke masa anak-anak g. Kenyataannya: Tidak semua Lansia dalam proses penuaannya diiringi dengan kerusakan bagian otak (banyak yang masih sehat dan segar) . 4. Mitos Konservatisme dan Kemunduran Pandangan bahwa Lanjut Usia pada umumnya: a. Keras kepala i. Mitos Senilitas Lansia dipandang sebagai masa pikun yang disebabkan oleh kerusakkan tertentu dari otak. Merindukan masa lalu f. b. 3. Cerewet Kenyataannya: Tidak semua Lansia bersikap dan berpikir demikian. Tidak kreatif c. Konservatif b. Memang proses penuaan disertai menurunnya daya tahan tubuh dan metabolisme sehingga rawan terhadap penyakit. Menolak inovasi d.2. Berorientasi ke masa silam e. Susah berubah h. Kenyataannya: a. Tetapi banyak penyakit masa sekarang dapat dikontrol dan diobati. Mitos Berpenyakitan Lansia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai dengan berbagai penderitaan akibat bermacam penyakit yang menyertai proses menua (Lansia merupakan masa berpenyakitan dan kemunduran).

hilangnya pendengaran. Membran tympani menjadi atrofi. c. Sistem Persyarafan a. b. Presbiakusis (gangguan pada pendengaran): Hilangnya kemampuan atau daya pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi. menyebabkan otosklerosis. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi. 3. tetapi masih tetap tinggi. khususnya dengan stress. mengecilnya syaraf penciuman dan perasa. c. Mitos Seksualitas Menunjukkan bahwa kehidupan seks pada lansia normal saja. banyak Lansia yang mencapai kematangan. c. Sistem Penglihatan a.5. kemantapan dan produktifitas mental dan material pada Lanjut Usia. suara yang tidak jelas. b. dapat mengeras karena meningkatnya keratin. lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. Sistem Pendengaran a. Terjadi pengumpulan serumen. Kornea lebih berbentuk sferis (bola). . sulit mengerti kata-kata. Memang frekuensi hubungan seksual menurun sejalan meningkatnya usia. Mitos Ketidakproduktifan Lansia dipandang sebagai usia tidak produktif. Kenyataannya: Tidak demikian. E. b. Meningkatnya ambang penangkap sinar: Daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat susah melihat dalam cahaya gelap. 2. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) d. Penurunan-penurunan dari Sistem-sistem yang Terjadi pada Lansia Penurunan-penurunan itu meliputi: 1. Mengecilnya syaraf panca indra: Berkurangnya penglihatan. Cepatnya menurun hubungan persyarafan. 6. Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.

f. Katup jantung menebal dan menjadi kaku b. menarik napas lebih berat. waktu mengosongkan menurun. 6. Lambung. f. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. asam lambung menurun. f. berkurangnya aliran darah. e. Kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. Sistem Gastrointestinal a.e. Liver (hati): Makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan. e. 4. c. rasa lapar menurun. 5. Alveoli ukurannya menebal dari biasa dan jumlahnya berkurang. Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku. c. Tekanan darah meninggi. Indera pengecap menurun. Hilangnya daya akomodasi. b. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi. g. Menurunnya aktivitas dari silia. d. Sistem Respirasi a. Menurunnya daya membedakan warna biru dan hijau pada skala. Menurunnya lapangan pandang: Berkurangnya luas pandangan. Oesophagus melebar. Sistem Kardiovaskuler a. g. Kemampuan untuk batuk berkurang. b. Paru-paru kehilangan elastisitas: Kapasitas residu meningkat. CO2 pada arteri tidak berganti. Sistem Genito Urinaria . d. diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer. 7. c. d. O2 pada arteri menurun menjadi 755 mmHg. Kehilangan gigi. kapasitas pernapasan maksimum menurun dan kedalaman bernapas menurun. Fungsi absorpsi melemah. g.

c. terjadi perubahan-perubahan warna. Daya Seksual: Frekuensi sexual intercourse cenderung menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua. b. sehingga menyababkan retensi urine. f. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah. Vesika Urinaria: Otot-otot menjadi lemah. penyaringan di glomerulo menurun sampai 50%. Kuku manjadi keras dan rapuh. d. TSH. b. kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat. e. Sistem Endokrin a. aliran darah ke ginjal menjadi menurun sampai 50%. vesika urinaria susah dikosongkan pada pria Lanjut Usia. Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya. Kulit mengkerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak. d. f. d. Estrogen. Sistem Kulit a. 9. Pembesaran prostat. Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk. elastisitas jaringan menurun. 8. e. Menurunnya sekresi hormone kelamin: Progesteron. Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi. Menurunnya produksi aldosteron. Testosteron. c. berat jenis urin menurun. FSH dan LH. Ginjal: Mengecil dan nefron menjadi atrofi. Kulit kapala dan rambut menipis. sekresi menjadi berkurang. permukaannya menjadi halus. reaksi sifatnya lebih alkali. menurunnya daya pertukaran zat. nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. b. e. Menurunnya aktifitas tiroid: Menurunnya BMR (Basal Metabolik Rate). berkurangnya produksi dari ACTH. . Atrofi vulva. Vagina: Selaput lendir menjadi kering. f. Produksi hamper dari semua hormone menurun. c. Rambut dalam hidung dan telinga menebal. fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengonsentrasi urin.a. Pituitari: Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah. berwarna kelabu. g.

lutut dan jari-jari pergelangan terbatas. Discusintervertebralis menipis dan menjadi pendek. e. Tulang kehilangan density dan makin rapuh. b. Tendon mengkerut dan mengalami sklerosis. Sistem Muskuluskletal a. otot-otot menjadi kram dan menjadi tremor. Pinggang. d. sehingga seseorang bergerak menjadi lamban. Atrofi seranut otot. . Kifosis. f.10. c.

Pengertian Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO. Tidak terjadi perdarahan. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. stroke hemoragik Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi : a.STROKE 1. menyebabkan sel-sel otak mati. namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas. 1989). emboli. 2. Stroke terjadi ketika penyediaan darah ke bagian dari otak terganggu. Ketika aliran darah ke otak terganggu atau terhalangi. akibat embolus yang mengalir ke otak dari tempat lain di tubuh. Faktor Penyebab . Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol. Stroke adalah gangguan suplai oksigen ke sel-sel saraf yang dapat disebabkan oleh atau pecahnya satu atau lebih pembuluh darah yang memperdarahi otak dengan tiba-tiba (Brunner & Suddarth. kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak. b. spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak. atau akibatr perdarahan otak. 2002). stroke non hemoragik Dapat berupa iskemia. 2001). dari tempat lain ditubuh ataorwinu akibat perdarahan otak (Corwin. oksigen dan glukose tidak dapat disampaikan ke otak. Stroke dapat terjadi akibat pembentukan thrombus disuatu arteri cerebrum.

b. c. b. kesemutan pada lengan atau kaki Kehilangan kemampuan berbicara secara tiba-tiba atau kesulitan memahami perkataan Kehilangan penglihatan mendadak pada sebelahmata atau kedua mata Sakit kepala hebat mendadak Penurunan kesadaran Kesulitan menelan Tersedak waktu makan atau minum Gangguan emosi atau daya ingat 4. a. f. d. h. a. mati rasa. g. h. kesemutan pada muka. d. e. c. g.a. Penyakit jantung coroner Cholesterol tinggi Penyakit kencing manis Kelainan pembekuan darah Kebiasaan merokok Obesitas / kegemukan Stress Usia lanjut Kurang aktivitas 3. i. f. Pencegahan Stroke Menghindari stress . Tanda dan Gejala Kelemahan mendadak. e.

Setelah dingin disaring. Cara Penggunaan : Minumlan 3 kali sehari masing-masing ½ gelas. d. kencing manis (Diabetes Melittus). Minumlah satu jam sebelum makan. Sambiloto Bahan : Sambiloto (Androgapis paniculata) secukupnya Cara Pembuatan : Rebus satu genggam daun dan batang sambiloto kering (sekitar 15-25 gr) dengan 3 gelas air dalan kuali tanah. Pengobatan Tradisional a. Namun untuk wanita hamil dilarang minum ramuan ini karena dapat menyebabkan keguguran. Sambung nyawa Bahan : Sambung nyawa (Gynura procumbens) secukupnya . cholesterol tinggi. Biarkan mendidih sampai air tersisa setengah bagian (1. penyakit jantung dll g. c. Jika lupa usahakan diminum aktu perut kosong. diharapkan tekanan darah akan menurun hingga batas normal sehingga resiko dapat dihindarkan. Konsumsi ramuan ini hingga berangsur sembuh. memperbanyak makan sayur dan buah Olah raga teratur Mengontrol tekanan darah dan gula darah serta check up kesehatan secara teratur Kontrol teratur bila mengidap penyakit kronis seperti darah tinggi (Hipertensi). e.b. Jadi dengan mengkonsumsi secara rutin rebusan sambiloto. Menghentikan kebiasaan merokok Diet rendah garam dan lemak. Catatan: Salah satu penyebab stroke aalah tekanan darah tinggi.5 gelas). Minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter 5. b. f.

• Catatan : Konsumsi daun maupun umbi daun dewa banyak menolong menyembuhkan penyakit stroke. lalu minum. Tambahkan 100 ml (½ gelas) air matang. • Cara Penggunaan : Makan sebagai lalap 3 lembar daun dewa. Penyebabnya adalah sifat dari tumbuhan ini adalah menghilangkan bekuan darah di dalam pembuluh.Cara Pembuatan : Lalap daun segar sebanyak 2-3 lembar tiap hari atau jus daun segar. dimakan 3 kali sehari. Cara Penggunaan : Minumlan 3 kali sehari hingga berangsur sembuh. . Daun dewa Bahan : Daun Dewa (Gynura segetum) secukupnya Cara I Cara Pembuatan : Digunakan mentah sebagai lalap. • Catatan : Sambung nyawa biasanya dikosumsi untuk menurunkan kolesterol darah. Cara II • Cara Pembuatan : Tumbuk halus 20 gr umbi daun dewa. • Cara Penggunaan : Minum ramuan sehari sekali setiap sore hari. Kemudian disaring. sehingga mencegah dan mengobati stroke serta serangan jantung. c. terutama penderita jantung koroner maupun stroke yang disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol darah.

Perubahan juga terjadi pada katup mitral dan aorta.HIPERTENSI PADA LANSIA a. Hipertensi menurut WHO adalah hipertensi jika tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. 2001 dan Arif Mansjoer. Akibat/ komplikasi dari penyakit hipertensi: Gagal jantung. Hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Peningkatan . sehingga stress mendadak/lama dan takikardia kurang diperhatikan. atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi (Slamet Suyono. Definisi Hipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg. Etiologi Hipertensi dapat disebabkan oleh interaksi bermacam-macam faktor antara lain: 1. Keturunan 4. Proses penuaan 3. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Patofisiologi Komponen-komponen utama pada system kardiovaskuler adalah jantung dan vaskularisasinya. dan tekanan sistolik atau kedua-duanya secara terus menerus. miokard menjadi lebih kaku dan lebih lambat dalam pemulihan kontraktilitas dan kepekaan. Hipertensi adalah peningkatan dari tekanan sistolik standar dihubungkan dengan usia. Endokardium menebal dan terjadi sklerosis. Diet yang tidak seimbang 5. katup-katup tersebut mengalami sklerosis dan penebalan. berkaitan dengan kenaikan tekanan diastolik. Secar umum frekuensi denyut jantung menurun. hipertensi. c. gagal ginjal. tekanan darah normal adalah refleksi dari kardiak out put atau denyut jantung dan resistensi puerperal. 2001). kelumpuhan. stroke (kerusakan otak). Stress 6. Jantung pada lansia normal tanpa hipertensi atau penyalit klinis tetap mempunyai ukuran yang sama atau menjadi sedikit lebih kecil daripada usia setengah bayi. b. isi sekuncup menurun dan curah jantung berkurang 30-40%. Kelelahan 2.

frekuensi jantung dalam berespon terhadap stress berkurang dan peningkatan frekuensi jantung lebih lama untuk pengembalian pada kondisi dasar. 5. serta adanya penyakit kronis dapat menjadi faktor pemberat anemia Perubahan-perubahan normal pada jantung (kekuatan otot jantung berkurang). Hal ini disebabkan karena menurunnya perfusi jaringan akibat tekanan diastolik menurun. Untuk mengkompensasi adanya masalah dalam frekuensi jantung. Pengisian darah ke jantung juga melambat. Bising jantung (murmur) yang disebabkan dari kekakuan katup sering ditemukan pada lansia. sehingga meningkatkan curah jantung yang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah Penurunan kadar hemoglobin pada lansia mengakibatkan penurunan pada konsentrasi oksigen yang dapat ditransportasi oleh darah sehinga oksigenasui menjadi tidak adekuat. dan kemampuan memompa dari jantung harus bekerja keras sehingga terjadi hipertensi. . pembuluh darah (arteriosklerosis. terutama pada ventrikel kiri. Sedangkan pada berkas His juga akan ditemukan kehilangan pada tingkat selular. Perubahan ini akan mengakibatkan penurunan denyut jantung. kondisi psikologis seperti kesepian. 3. maka isi sekuncup meningkat. Terjadi penebalan dari dinding jantung. Ini menyebabkan jumlah darah yang dapat ditampung menjadi lebih sedikit walaupun terdapat pembesaran jantung secara keseluruhan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Jantung : 1. Terjadi iskemia subendokardial dan fibrosis jaringan interstisial. Semua hal tersebut ini berhubungan dengan proses menua dimana dapat mengubah fungsi dan menempatkab para lansia pada resiko terhadap penyakit. Sel-sel dari nodus SA juga akan berkurang sebanyak 50%-75% sejak manusia berusia 50 tahun. Ditambah lagi dengan masukan diet yang buruk. 2. 4. Jumlah sel dari nodus AV tidak berkurang. tapi akan terjadi fibrosis. Terdapat penurunan daya kerja dari nodus sino-atrial yang merupakan pengatur irama jantung.elastisitas dinding pembuluh darah berkurang). Pada miokardium terjadi brown atrophy disertai akumulasi lipofusin (aging pigment) pada serat-serat miokardium. Terdapat fibrosis dan kalsifikasi dari jaringan fibrosa yang menjadi rangka dari jantung. Selain itu pada katup juga terjadi kalsifikasi dan perubahan sirkumferens menjadi lebih besar sehingga katup menebal.

Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis. Ini menyebabkan meningkatnya resistensi ketika ventrikel kiri memompa sehingga tekanan sistolik dan afterload meningkat. dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Hal ini menyebabkan resistensi tubuh terhadap infeksi menurun. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. . kelenjar adrenal juga terangsang. neuron preganglion melepaskan asetilkolin. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. pada medulla diotak. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Darah : 1. 2. Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. 3. Menurunnya respons jantung terhadap stimulasi reseptor ß-adrenergik. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. Terdapat penurunan dari Total Body Water sehingga volume darah pun menurun.Perubahan-perubahan yang terjadi pada Pembuluh darah : 1. Perubahan respons terhadap baroreseptor dapat menjelaskan terjadinya Hipotensi Ortostatik pada lansia. Pada titik ini. Dinding kapiler menebal sehingga pertukaran nutrisi dan pembuangan melambat. Selain itu reaksi terhadap perubahan-perubahan baroreseptor dan kemoreseptor juga menurun. Jumlah Sel Darah Merah (Hemoglobin dan Hematokrit) menurun. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Selain itu akan terjadi juga penurunan dalam tekanan diastolik. Keadaan ini akan berakhir dengan yang disebut “Isolated aortic incompetence”. Juga terjadi penurunan jumlah Leukosit yang sangat penting untuk menjaga imunitas tubuh. Hilangnya elastisitas dari aorta dan arteri-arteri besar lainnya. 2.

Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. 2. menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal. suatu vasokonstriktor kuat. Medulla adrenal mensekresi epinefrin. d. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya. hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer.mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. yang menyebabkan vasokonstriksi. Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : 1. yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. menyebabkan pelepasan rennin. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Gejala yang lazim . 2001). Konsekuensinya. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Tanda dan gejala Tanda dan gejala hipertensi pada lansia secara umum adalah : Sakit kepala.

2. Kadar aldosteron urin/serum : Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab) Urinalisa : Darah. Pemeriksaan penunjang 1. Steroid urin : Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme . Menurut Rokhaeni ( 2001 ). 9. 3. 5. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal atau adanya diabetes. protein. manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : mengeluh sakit kepala. Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi 11. gagal jantung gagal ginjal stroke kelumpuhan. 4. Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi 8. mual muntah.Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Kalium serum : Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik. Kolesterol dan trigliserid serum : Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler) 7. f. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Komplikasi Akibat atau komplikasi dari penyakit hipertensi yang dapat terjadi pada lansia adalah : 1. lemas. kelelahan. Glukosa : Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi) 4. Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi 6. BUN : Memberikan informasi tentang perfusi ginjal 3. sesak nafas. pusing. e. 10. kesadaran menurun. Hemoglobin / hematokrit : Untuk mengkaji hubungan dari sel–sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor–faktor resiko seperti hiperkoagulabilitas dan anemia 2. epistaksis. gelisah.

b) Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara normal dan stabil mungkin. EKG : Dapat menunjukkan pembesaran jantung. Foto dada : Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. pola regangan. b) Dilarang merokok atau menghentikan merokok. adanya hipertensi pada anamnesis keluarga. obesitas dan konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk: a) Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar tidak terjadi hiperkolesterolemia. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : a. perbesaran jantung 14. IVP : Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal.12. tachycardi. Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui menderita hipertensi berupa: a) Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat maupun dengan tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer. Terapi tanpa Obat . batu ginjal/ureter. Penatalaksanaan 1. c) Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah garam. CT scan :Untuk mengkaji tumor serebral. Diabetes Mellitus. c) Batasi aktivitas Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. ensefalopati 15. ras (negro). d) Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan. dsb. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi g. e) Pencegahan sekunder 2. Pencegahan Primer Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata. Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol. 13. gangguan konduksi.

bersepeda. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu 3) Edukasi Psikologis. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain. Terapi tanpa obat ini meliputi : 1) Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : - Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok 2) Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah dianjurkan untuk penderita hipertensi. berenang dan lain-lain. dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks 4) Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan) . jogging. - Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan. Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : - Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Macam olah raganya yaitu isotonis dan dinamis seperti lari. juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat.

dokter) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Ca antagonis. USA.. ACE inhibitor 2) Step 2 : Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan. b. Ditambah obat ke –2 jenis lain. Reevaluasi dan konsultasi dan Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan (perawat. . penyekat beta. antagonis kalsium.Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. clonidin. reserphin. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION. beta blocker. beta blocker. EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE. Ca antagonis. Ditambah obat ke-3 jenis lain 4) Step 4 : Alternatif pemberian obatnya : Ditambah obat ke-3 dan ke-4. vasodilator 3) Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh : Obat ke-2 diganti. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Alpa blocker. Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama. dapat berupa diuretika . Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatannya meliputi : 1) Step 1 : Obat pilihan pertama : diuretika. 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika. atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

Umur 3. Nama 2. Umur 3. Pendidikan 5. Status Nikah : Menikah 7. S : 51 tahun : Islam : SD : IRT 6. Status Nikah : Menikah 7. Nama 2.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian Lansia Sebagai Individu Nama Perawat Tanggal Pengkajian Jam Pengkajian : Sri Utami Dewi : 15 Juli 2013 : Pkl 12. . Hubungan dengan klien : Adik kandung Keluhan Utama Klien mengatakan sering merasakan pusing. kepala cekot-cekot.00 WIB Biodata Klien 1. S : 66 tahun : Islam : SMA : Petani 6. Agama 4. Agama 4. Pendidikan 5. Pekerjaan : Ny. Alamat : Sewon-Bantul Biodata Penanggungjawab 1. Pekerjaan : Tn.

nafsu makan klien baik. DO: Klien tampak rapi dan bersih. tidak ada penggunaan obat pencahar dalam BAB. B. Klien menyadari bahwa dirinya harus menjaga pola makan. Kemampuan mengunyah baik. Konjungtiva tidak anemis. warna cokelat. lauk terkadang ditambahkan dengan susu atau kacang hijau. Pola Persepsi Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan DS: Klien mengatakan dirinya memiliki riwayat hipertensi dari tahun 2002 dan diabetes mellitus dari tahun 1994 sehingga klien sangat menjaga pola makan dengan baik. tidak menggunakan gigi palsu. klien tidak menggunakan gigi palsu. Jenis makanan yang disukai klien adalah kentang karenan mengetahui kondisi diri yang menderita DM.Pengkajian 11 Pola Gordon A. Kulit tampak keriput dan tidak kering. BB 60 kg. Klien makan porsi cukup. Pola Nutrisi-Metabolik DS: Klien mengkonsumsi makanan dari PSTW 3 kali sehari. IMT 19. TB 176 cm DO: Kondisi kulit pasien tampak keriput. sclera anikterik. kembung. aktifitas dan istirahat yang cukup. nasi. . tidak ada inkontinensia tidak ada kesulitan BAB. Klien mengatakan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan di poliklinik PSTW seminggu sekali pada hari rabu dan sering meminta obat kepada petugas puskesmas yang datang. tidak mengalami kesulitan menelan atau mual. sayur. Rambut tampak bersih tidak kotor.4 (baik) C. mukosa bibir lembab. terlihat gigi terdapat beberapa karies. Klien mengkonsumsi diet DM setiap hari. karena sedang puasa klien hanya makan sahur dan buka. Pola Eliminasi DS: Klien mengatakan BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lembek.tampak beruban dan tidak kering. palpebral tidak ada oedema. Mulut dan gigi tampak bersih.

Klien mengatakan ketika tidur terkadang mendengkur tetapi tidak sering dan keras. . ekstremitas bawah ka/ki nilai 5/5. Klien mengatakan tidak mengalami gangguan dalam keseimbangan dan tidak ada keluhan sesak nafas atau kelelahan. Klien mengatakan tidak ada keluhan saat bergerak atau beraktivitas. CRT 2 detik. E. DO: Klien tampak sehat. indeks KATZ A : mandiri untuk segala aktifitas.00wib dan tidur siang dari pkl 13.00wib tidur nyenyak tidak pernah terbangun atau gangguan tidur. Kekuatan otot ekstremitas atas ka/ki nilai 5/5. DO: Klien tidak tampak kelelahan. bising usus 18x/menit D. akral hangat.00-03. tidak ada inkontinensia. dan tidak ada nyeri saat BAK. Pasien berjalan dengan postur yang baik. Pola Istirahat Tidur DS: Klien mengatakan badannya terasa segar setelah bangun pagi dari tidur pada malam hari. klien tidak sedang mengkonsumsi obat untuk dapat tidur. tidak tampak lingkaran hitam pada kelopak mata. Klien mengatakan juga tidak ada keluhan nyeri dada atau batuk.3015. Pola Aktivitas dan Latihan DS: Klien mengatakan kegiatan latihan sehari-hari adalah senam pagi dan rutin dilaksanakan setiap hari.Klien mengatakan BAK baik frekuensi 6-7 kali sehari 1500cc per hari warna jernih. Klien mengatakan tidak mengalami pengeluaran urin saat batuk atau bersin. DO: Klien tampak tidak menggunakan alat bantu apapun dalam beraktifitas. Tampak tidak ada tanda sianosis dan diaphoresis. Klien tampak mampu memenuhi kebutuhan dasar dengan sendiri. tidak menggunakan pencahar. Klien mengatakan tidur malam dari pkl 20. TD 160/100 mmHg nadi 82 kali/menit. Lingkungan wisma tampak cukup aman untuk lansia karena tersedia pengaman disekitar tembok. tampak abdomen tidak kembung.

jika mengalami kekhawatiran dapat mengidentifikasi sumber dan mencari solusi. klien mengatakan tidak mengalami gangguan dalam proses mengingat karena masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. mendengar. mereka pasti akan mengunjungi saya. hari tanggal. DO: Klien tampak sering bergaul dengan teman yang lain. Klien tampak tenang dalam mengikuti setiap kegiatan. Klien mengatakan tidak ada perubahan peran akibat proses penuaan Karen hidup bersosialisasi selamanya akan berjalan. Pola peran-Hubungan DS: Klien mengatakan sebelum berada d PSTW dirinya sebagai pengurus desa kurang lebih 15 tahun. klien tampak sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan seperti senam pagi. Pola Persepsi diri-Konsep Diri DS: Klien mengatakan tidak mengalami kekhawatiran. Klien mengatakan tidak mengalami disorientasi karena mampu menyebutkan teman-teman. Klien mengatakan interkasi dengan lansia yang lain sangat baik. pengajian. dan tempat berada sekarang. klien mampu dalam melihat dan mendengar dengan baik. pengecap. menghargai dirinya dan tidak pernah berfikir tentang kegagalan atau kesusahan. marah-marah dan menarik diri. DO: Klien tidak tampak kebingungan atau kesulitan dalam berkonsentrasi.F. H. Memiliki perasaan positif terhadap dirinya. Klien mengambil keputusan secara mandiri dan mengatakan tidak ada keluhan gelisah. dendang ria. Pola Kognitif-Perseptual DS: Klien mengatakan tidak sedang menggunakan alat bantu dengar. Klien mampu dalam fungsimelihat. MMSE G. . Klien mengatakan orang-orang yang ia sayangi (anak-anaknya) sduah memiliki keluarga sendiri. Klien mengatakan bahwa dirinya saat ini merasakan kebahagiaan berada di PSTW. penghidu dan perasa.

I. klien menganut agama islam dari budaya jawa.DO: Tampak klien berhubungan baik dengan lansia yang lain. Klien mengatakan status kesehatannya saat ini dipengaruhi oleh usia yang semakin bertambah. Pola Koping-Toleransi Stress DS: Klien mengatakan tidak ada yang membuat ia stress berada di PSTW karena di panti hidupnya tenang dan tidak ada beban. tidak tampak kecemasaan. Teratur melaksanakan ibadah sholat 5 waktu. Pola Seksual-Reproduksi DS: Klien mengatakan hubungan seksual yang tidak bisa dilakukan saat ini bukan masalah karena orientasinya saat ini bukanlah hubungan antar suami-istri. DO: Klien tampak tenang mood baik. Saat ini klien hanya menikmati masa-masa tua bersama lansia yang berada di panti. Pola Nilai-Kepercayaan DS: Klien meyakini agama dan kepercayaan yang dijalani sekarang adalah yang terbaik. Jika ada masalah tinggal dibicarakan saja. GDS: K. DO: Tampak klien setiap siang hari ibadah sholat d mushola lengkap dengan atribut dalam beribadah. tahun ini mulai rutin menjalankan ibadah puasa. J. . Pengalaman traumatic yang dialami klien saat ditinggal meninggal oleh istrinya. Klien mengtakan dengan pernah 3 kali menikah sudah cukup baginya. afek sesuai. rutin mengikuti pengajian setiap hari kamis. komunikasi yang baik antar lansia dan pengurus panti serta berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di panti.

DS: Klien mengatakan terkadang pusing kepala cekot-cekot Mengatakan sekalanyeri 5 ketika sakit kumat. DS: Klien mengatakan memiliki riwayat penyakit HT dan DM DO: TD = 160/100 mmHg vasokontriksi pembuluh darah. hilang timbul DO: TD = 160/100 mmHg Nadi = 82 kali/menit Data Fokus Etiologi peningkatan tekanan intra kranial Problem Gangguan rasa nyaman nyeri 2. Resiko tinggi penurunan curah jantung .ANALISA DATA No 1.

Rencana tindakan Intervensi :  Pertahankan tirah baring selama fase akut. mengejan saat BAB. Hilangkan/ minimalkan aktifitas vasokontraksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.d peningkatan tekanan intra kranial Tujuan Tujuan: Menghilangkan rasa nyeri KH Kriteria hasil :  Melaporkan ketidakyamanan hilang atau terkontrol.efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.   Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang berlebihan . pijat punggung dan leher. Paraf nama dewi  Aktifitas yang meningkatkan vasokontraksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan vaskuler serebral.  Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. misalnya kompres dingin pada dahi.PLANNING DP Gangguan rasa nyaman nyeri b.  Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral.  Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan. misalnya batuk panjang.   Rasional Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi.

Observasi tekanan darah. Catat keberadaan. dewi 8. Denyut pada tungkai mungkin menurun. jugularis. Intervensi: 1. mencerminkan efek dari vasokontriksi dan kongesti vena. 9. kualitas denyutan sentral dan perifer 3. ICS4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. mengidapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal 2. . Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung Kriteria Hasil :  Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah/beban kerja jantung  Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima  Memperlihatkan normal dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien. Perbandingan dari tekanan darah memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan vaskuler. Denyutan karotis. radialis dan femoralis mungkin teramati saat palpasi. perkembangan ICS3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi. adanya krakels. 10.Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah.

12. Membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis. 6. 14. 4. panduan imajinasi dan distraksi. tenang. dingin. 11. 5.Menurunkan tekanan darah. Anjurkan teknik relaksasi. dan masa pengisian kapiler.sehingga akan menurunkan tekanan darah. Adanya pucat.jantung kronik. kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi/penur unan curah jantung. kelembaban. Berikan lingkungan yang nyaman. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi anti hipertensi dan diuretik. 13. Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress. suhu. kurangi aktivitas atau keributan ligkungan. meningkatkan relaksasi. 7. Amati warna kulit. membuat efek tenang. .

00 WIB Implementasi 1.IMPLEMENTASI DAN EVALUASI DP Gangguan rasa nyaman nyeri b. Mempertahankan tirah baring selama fase akut. Memberikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala. Evaluasi S: Klien mengatakan nyeri sering timbul ketika merasa lelah. Membantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. 2. mengejan saat BAB. TD 150/100 mmHg Nadi 82x/menit - - A: Tujuan belum tercapai P: Pertahankan tirah baring Evaluasi teknik relakasi . 4. Nyeri pada kepala cekot-cekot O: Klien tampak sehat tidak tampak keluhan Klien mampu mempraktekan teknik mengurangi nyeri dengan distraksi Klien mampu melakukan aktifitas sehari-hari dengan baik dan tanpa bantuan. misalnya batuk panjang. menghilangkan/ minimalkan aktifitas vasokontraksi yang dapat meningkatkan sakit kepala. misalnya relaksasi dan distraksi 3.d peningkatan tekanan intra kranial Tgl/Jam 17/7/2013 Pkl 11.

tenang. 5. kualitas denyutan jantung 3. S: Klien mengatakan keadaannya baik-baik saja dan rutin mengkonsumsi obat. O: Warna kulit tidak ada sianosis Nadi 82x/menit TD 150/100 mmHg Lingkungan nyaman diberikan Obat hipertensi telah dikonsumsi A: Tujuan belum tercapai P: Observasi tekanan darah Berikan lingkungan yang nyaman Anjurkan mengkonsumsi obat hipertensi . 4. Berikan lingkungan yang nyaman. 17/7/2013 Pkl 11. dan masa pengisian kapiler. Observasi tekanan darah.Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. kelembaban. kurangi aktivitas atau keributan ligkungan. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi anti hipertensi dan diuretik. Amati warna kulit. Catat keberadaan.00 WIB 1. 2.

d peningkatan tekanan intra kranial Tgl/Jam 18/7/2013 Pkl 11. O: Klien beristirahat siang Klien tampak sehat TD = 150/100 mmHg Nadi 84x/mnt Klien mampu melakukan aktifitas sehari-hari dengan baik dan tanpa bantuan. Membantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. mengejan saat BAB.DP Gangguan rasa nyaman nyeri b. menghilangkan/ minimalkan aktifitas vasokontraksi yang dapat meningkatkan sakit kepala. A: Tujuan tercapai sebagian P: Mempertahankan tirah baring Meminimalkan aktifitas Membantu ambulasi klien . 3. misalnya batuk panjang. Mempertahankan tirah baring selama fase akut. Evaluasi S: Klien mengatakan kepala tidak terlalu merasakan nyeri.00 WIB Implementasi 1. 2.

18/7/2013 Pkl 11. Catat keberadaan. Amati warna kulit.00 WIB 1. kurangi aktivitas atau keributan ligkungan. O: Warna kulit tidak ada sianosis Nadi 84x/menit TD 150/100 mmHg Lingkungan nyaman diberikan Obat hipertensi telah dikonsumsi A: Tujuan belum tercapai P: Observasi tekanan darah Berikan lingkungan yang nyaman Anjurkan mengkonsumsi obat hipertensi . Berikan lingkungan yang nyaman. 2. 4. Observasi tekanan darah. dan masa pengisian kapiler. S: Klien mengatakan keadaannya sehat dan masih minum obat dan menjaga kesehatan makan. kualitas denyutan jantung 3. tenang.Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. kelembaban. 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi anti hipertensi dan diuretik.

00 WIB Implementasi 1. Mempertahankan tirah baring 2. menghilangkan/ minimalkan aktifitas misalnya batuk panjang. 3.d peningkatan tekanan intra kranial Tgl/Jam 19/7/2013 Pkl 11. Membantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. badan sudah terasa ringan dan nyaman. S: Evaluasi Klien mengatakan keadaan tubuh sehat.DP Gangguan rasa nyaman nyeri b. mengejan saat BAB. O: Klien tampak sehat Ambulasi klien mandiri TD 140/90 mmHg Nadi 86 x/mnt A: Tujuan tercapai P: Hentikan intervensi .

19/7/2013 Pkl 11. A: Tujuan tercapai P: Hentikan intervensi . Observasi tekanan darah.Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi anti hipertensi dan diuretik. kelembaban S: Klien mengatakan kondisi tubuh sehat O: Klien tampak sehat Tidak ada sianosis yang tampak TD 140/90 mmHg Nadi 86 x/mnt - 3. Amati warna kulit. 2.00 WIB 1.

maka penulis dapat merumuskan Diagnosa Keperawatan sebagai berikut: DP1 Gangguan rasa nyaman nyeri b. Penulis menemukan masalah yang serius dari hasil pengkajian. namun perubahan-perubahan tersebut hanya perubahan normal yang biasa dialami oleh Lansia lain. Dalam pelaksanaan pemberian Asuhan Keperawatan penulis sekaligus menerapkan Rencana Keperawatan dengan klien.BAB IV PEMBAHASAN KASUS Tn S merupakan seorang Lansia yang berumur 66 tahun dan termasuk kelompok Usai Lanjut Old Fase Sinium. Di usianya yang lanjut ini Tn S sudah banyak mengalami perubahan-perubahan pada system-sistem tubuhnya. dengan alasan menyesuaikan keadaan atau situasi di lapangan atau turut mengikutsertakan anggota keluarga lainnya sehingga penerapan Asuhan Keperawatan dapat diteruskan oleh keluarga. . Adapun alasan penulis mengangkat Diagnosa Keperawatan tersebut kerena kelemahan fisik yang dialami sudah lama dan merupakan prioritas yang sangat mengancam kesehatan klien.d peningkatan tekanan intra kranial DP2 Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah.

Saran Bagi Institusi Pendidikan : Diharapkan dengan sangat Dosen Pembimbing hadir bersama Mahasiswa saat di lapangan. masyarakat yang maksimal. Perubahan ini akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan termasuk kesehatannya. diperlukan peran perawat. fisik. diharapkan perawat memiliki kemampuan menguasai proses terjadinya menua serta masalah-masalah yang terjadi pada Lansia. Untuk mempertahankan Usia Lanjut yang sehat dan umur panjang. Mempertahankan derajat kesehatan dengan memelihara kondisi kesehatan Lansia perlu memperhatikan keamanan dan kenyamanan Lansia.BAB V PENUTUP A. Untuk dapat memberikan Asuhan Keperawatan Lansia. B. . keluarga. kejiwaan dan sosial. Kesimpulan Menua adalah suatu proses menghilang secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya atau seseorang yang karena usia lanjut mengalami perubahan biologis.

Darmojo. Pathofisiologi: Konsep Klinik Proses-proses Penyakit. Doengoes. EGC: Jakarta. Buku Ajar Geriatri (Kesehatan Usia Lanjut). Wahyudi. Sylvia A and Lorink Willson. Textbook of Medicial Surgical Nursing. Brunner & Suddart. Edisi ke-2. EGC: Jakarta. edisi ke 2. Jakarta. Louis: USA. 2001. 2000. ME. 1999. Essential of Medicial-Surgical Nursing. Lippincoot. Boedhi. Nugroho. 1996. The Mosby Company St.DAFTAR PUSTAKA Barbara CL. A Nursing Process Approah. Keperawatan Gerontik. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Editon 9. . EGC: Jakarta. Price.