Anda di halaman 1dari 11

STEMI Inferior et RV Onset 11,5 Jam Killip 1 Laporan kasus A. Identitas pasien Nama : Mr.

Jenis kelamin : Laki-laki Umur Alamat No. RM : 69 tahun : Jl. Risso Enrekang : 599669

Masuk Rumah Sakit : 18 Maret 2013 B. Anamnesis Keluhan Utama : Nyeri dada Anamnesis Terpimpin : Dirasakan sejak satu minggu yang lalu dan memberat satu hari sebelum masuk Rumah Sakit.Nyeri tembus ke belakang dan menyebar ke lengan kiri, durasi lebih dari 20 menit dan tidak reda dengan istirahat. Selama serangan berlangsung, pasien merasakan keringat dingin, mual, palpitasi dan sesak nafas. Batuk (-), Riwayat batuk (-) Pusing (-), Sakit Kepala (-), Demam (-) Sesak tengah malam (-), Sesak saat aktivitas (+) Defekasi dan urinasi : normal Riwayat serangan jantung (-) Riwayat Hipertensi (+) sejak 10 tahun yang lalu Riwayat DM (-) Asma (-), Riwayat keluarga menderita Asma (-) Riwayat keluarga dengan penyakit jantung (+) Merokok (+) 2bungkus/hari Riwayat Konsumsi Alkohol (-)

C. Pemeriksaan fisik Keadaan umum : Sakit sedang/ Gizi baik/Sadar a. Berat badan : 70 kg

b. Tinggi badan : 175 cm c. Indeks massa tubuh: 22,9 kg/m2 Tanda vital Tekanan darah Denyut jantung : 140/90 mmHg : 60 x/mnt

Frekuensi pernafasan : 26x/mnt Suhu Tubuh Kepala : Mata : Pupil : Hidung Mulut : Leher : kel. tiroid Paru-paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : : : : Pengembangan dada simetris Tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus simetris kesan normal Sonor, bilateral Suara pernafasan : : Vesikular : 36,7 C Normosefal Anemis (-), Ikterus (-) Isokor, diameter 2,5 mm, Refleks cahaya (+) : Dalam batas normal

Tidak ada sianosis DVS JVP +3 CM H2O, Tidak ada limfadenopati, Tidak ada pembesaran

Suara tambahan

Ronki (-), wheezing (-)

Jantung Inspeksi Palpasi sinistra,Thrill (-) Perkusi : Batas jantung kanan pada linea parasternalis dekstra, : Ictus cordis tidak terlihat : Ictus cordis teraba 1 jari di lateral linea midklavikularis

batas jantung kiri di linea midklavikularis sinistra ICS V Auskultasi : Bunyi jantung = S I/II regular.

Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : Datar, ikut gerak nafas : Bising peristaltic (+) kesan normal : Hati dan limpa tidak teraba : shifting dullness (-)

Eskstremitas Edem pretibial -/Edem dorsum pedis -/Sianosis (-), Jari clubbing (-)

D. Pemeriksaan Penunjang EKG


Rhythm : Junctional rhytm P wave : no P wave

Heart Rate:60/minutes Duration QRS :0,04 s Axis :normoaxis ST Segment : ST Elevasi di Lead II, III, AVF, V3,dan V5

Konklusi : 1.Junctional Rhytm 2. STEMI Inferior 3. Iskemi dinding lateral Pemeriksaan Laboratorium WBC : 13.09 RBC : 5.27 HGB : 15.3 HCT : 46.5% PLT : 204 Ur/Cr : 67/1,3 SGOT/SGPT : 816/135 Na/K/Cl :142/4,7/107 PT/APTT: 11,3/26,5 GDS : 111 CKMB : 675 Trop T : >2,0

E. Diagnosis Kerja Sindrom koroner akut (STEMI) HT grade I F. Penatalaksanaan Bed Rest O2 3 4 liter/min Diet jantung Pengaturan cairan IVFD NaCl 0,9% 1000cc/24 jam

(Salysilic Acid) Aspilet 80 mg 1-0-0 (Clopidogrel) Plavix 75 mg 1-0-0 (LWMH) Arixtra 2,5 mg/24 jam/SC (Nitroglyserin) Cedocard Laxadyn syrup 0-0-2 Ranitidine 1 Amp/12 jam/IV Alprazolam 0,5 mg 0-0-1 G. Rencana -ECG Control (Prekordial kanan) -Angiografi koroner 5mcg/menit via syringe pump

Diskusi A. Pendahuluan -Di seluruh dunia, penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian -7 Juta orang setiap tahunnya meninggal akibat penyakit jantung koroner, 12,8 % dari seluruh kematian -Mortalitas STEMI dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti : umur, derajat killip, tertundanya penanganan, modalitas terapi, riwayat infark sebelumnya, DM, gagal ginjal, jumlah penyakit jantung koroner, fraksi ejeksi dan penanganan Ketika pasien dengan rasa tidak nyaman akibat iskemik yang dialami pada saat istirahat, diagnosis klinis sindrom koroner akut seharusnya dibuat.

B. Defenisi Konsensus internasional mendefenisikan keadaan Infark miokard akut digunakan apabila terdapat bukti neksrosis otot jantung dengan klinis yang konsisten dengan keadaan iskemi miokard. WHO memberikan panduan penegakkan diagnosis Infark Miokard jika terdapat kombinasi 2 dari 3 keadaa berikut : a. Gejala khas infark (Nyeri dan rasa tidak nyaman yang tipikal pada dada) b. Pola EKG yang tipikal

c. Peningkatan serum enzim biomarker jantung Dikatakan STEMI (ST Elevasi Miokard Infark) jika pada pasien dapat ditegakkan infark dengan pola ST Elevasi pada EKG. C. Patofisiologi STEMI biasanya terjadi ketika aliran darah koroner menurun dengan cepat setelah sumbatan thrombus pada arteri koroner yang dipengaruhi oleh Aterosklerosis. Aterosklerosis, Penimbunan lemak, Inflamasi, otot polos dan neoangiogenesis memegang peranan penting.

Oklusi thrombus pada arteri koroner

D. Faktor resiko Dapat dimodifikasi a. Merokok b. Hipertensi c. Diabetes mellitus

d. Dislipidemia e. Faktor resiko gaya hidup (Obesitas, Inaktivitas fisik dan diet aterogenik) Tidak dapat dimodifikasi f. Umur(L>45;P>55) g. Riwayat keluarga terkena PJK pada usia dini (L<55, P<65) E. Gejala klinis Nyeri Dada a. Sensasi tertusuk dan terbakar b. Dapat meliputi epigastrium dan menyebar ke lengan, punggung, perut, rahang bawah dan leher c. Pada setengah jumlah kasus terdapat faktor presipitasi d. Memiliki karakteristik yang sama dengan Angina namun intensitas lebih parah dan durasi lebih lama e. Lokasi nyeri tersering pada xiphoideus dan epigastrium serta pasien menyangkal terkena serangan jantung yang sering kali dipersepsikan salah sebagai suatu gangguan pencernaan f. Nyeri STEMI dapat menyebar setinggi area oksipital namun tidak di bawah umbilikus g. Seringkali disertai rasa lemah, keringat, mual, anxietas, dan rasa seperti ingin mati. Nyeri STEMI dapat bersamaan terjadi dengan nyeri akibat keadaan lainnya. Bagaimanapun, nyeri memiliki karakter yang berbeda-beda pada setiap pasien. Pada beberapa pasien baik disertai nyeri maupun tidak, keadaan seperti tiba-tiba hilangnya kesadaran, keadaan bingung, sensasi merasa sangat lemah, aritmia,bukti adanya emboli perifer atau penurunan tekanan darah yang drasti dapat terjadi. F. Pemeriksaan penunjang EKG a. Oklusi total arteri koroner epikardial ST Elevasi b. Q Patologis c. Onset baru LBBB

Biomarker enzim jantung d. CK e. CKMB f. Troponin T dan I

G. Diagnosis WHO memberikan panduan penegakkan diagnosis Infark Miokard jika terdapat kombinasi 2 dari 3 keadaa berikut : a. Gejala khas infark (Nyeri dan rasa tidak nyaman yang tipikal pada dada) b. Pola EKG yang tipikal c. Peningkatan serum enzim biomarker jantung H. Penatalaksanaan Pengenalan gejala yang segera pada pasien dan penanganan yang segera. Pengontrolan nyeri dan rasa tidak nyaman a. Oksigen b. Nitrat IV maupun oral c. Antiplatelet d. Analgesik opioid e. Diazepam Stabilisasi keadaan hemodinamik f. Istirahat g. Kontrol tekanan darah dan denyut jantung h. Stool softener Terapi reperfusi i. Trombolitik j. PCI Mencegah terjadinya komplikasi

Klasifikasi Infark Miokard Akut menurut KILLIP Kelas I Deskripsi Tidak ada tanda gagal jantung II Ronkhi basah halus, bunyi S3 dan peningkatan tekanan jugular III IV Edema paru akut Syok kardiogenik atau hipotensi (Sistolik<90mmHg) atau bukti adanya vasokonstriksi perifer 30-40 60-80 17 Angka kematian (%) 6

I. Komplikasi

Gagalnya fungsi pemompaan Aritmia Rasa tidak nyaman pada dada yang berulang, perikarditis, tromboemboli dan aneurisma LV, Pericarditis, Thromboembolism, LV Aneurysm.

J.Pencegahan Primer Kontrol faktor resiko Sekundery : Primer + penggunaan antiplatelet jangka panjang

Anda mungkin juga menyukai