Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH ALAT INDUSTRI KIMIA

ADSORPSI

OLEH :

ALMUKMIN UMAR FEVI ELVIANI REZQI

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2013 M/1434 H

ADSORPSI
1.1 Pengertian Adsorpsi
Adsorpsi adalah proses yang terjadi ketika suatu fluida (cairan maupun gas) terikat kepada suatu padatan dan akhirnya akan terbentuk film (lapisan tipis) pada permukaan lapisan tersebut. Berbeda dengan absorpsi dimana fluida terserap oleh fluida lainya membentuk suatu padatan. Untuk mengetahui karasteristik yang terjadi dalam proses adsorpsi dapat diilustrasikan pada gambar 1, padatan berpori (pores) yang menghisap (adsorp) dan melepaskan (desorp) suatu fluida disebut adsorben. Molekul fluida yang dihisap tetapi tidak terakumulasi/melekat ke permukaan adsorben disebut adsorptive, sedangkan yang terakumulasi/melekat disebut adsorbat.

Pada umumnya proses adsorpsi diklasifikasikan menjadi 2 proses yaitu proses adsorpsi secara fisik yang disebabkan oleh Gaya Van Der Walls, dan secara kimia yang disebabkan melalui proses kimia antara molekul-molekul adsorbat dengan atom-atom penyusun permukaan adsorben. Jika interaksi antara padatan dan molekul yang mengembun tadi relative lemah, maka proses ini disebut adsorpsi fisik. Walaupun adsorpsi biasanya dikaitkan dengan

perpindahan dari suatu gas atau cairan ke suatu permukaan padatan, perpindahan dari suatu gas ke suatu permukaan cairan juga terjadi. Substansi yang terkonsentrasi pada permukaan didefinisikan sebagai adsorbat dan material yang menyerap adsorbat didefinisikan sebagai adsorben. 1. Adsorpsi secara fisik Proses adsorpsi atau penyerapan adalah fenomena fisik yang terjadi sat molekul-molekul gas atau cair dikontakkan dengan suatu padatan dan sebagian dari molekul-molekul tadi mengembun pada permukaan padatan tersebut. Apabila interaksi antara padatan dan molekul yang mengembun tadi relative lemah, maka proses ini disebut adsorpsi fisik yang terjadi hanya karena gaya Van Der Walls. Pada adsorpsi jenis ini, adsorpsi terjadi tanpa adanya reaksi antara molekul-molekul adsorbat dengan permukaan adsorben. Molekul-molekul adsorbat terikat secara lemah karena adanya gaya Van Der Walls. Adsorpsi ini berlansung relative cepat dan bersifat reversible. Karena dapat berlansung di bawah temperature kritis adsorbat yang relative rendah, maka panas adsorpsi yang dilepaskan juga rendah. Adsorbat yang terikat secara lemah pada permukaan adsorben, dapat bergerak ke bagian permukaan lain. Peristiwa adsorpsi fisika menyebabkan molekul-molekul gas yang teradsorpsi mengalami kondensasi. Besarnya panas yang dilepaskan dalam proses adsorpsi fisika adalah kalor kondensasinya.

Proses adsorpsi fisika terjadi tanpa memerlukan energy aktivasi, sehingga proses tersebut membentuk lapisan jamak (multilayer) pada permukan adsorben. Ikatan yang terbentuk dalam adsorpsi fisika dapat diputuskan dengan mudah, yaitu dengan cara degassing atau pemanasan pada temperatur 150-2000C selama 2-3 jam. 2. Adsorpsi kimia Yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dengan zat terlarut yang teradsorpsi. Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya yang jauh lebih besar daripada adsorpsi fisika. Panas yang dilibatkan adalah sama dengan panas reaksi kimia. Dalam hal ini, adsorpsi terjadi karena adanya reaksi antara molekul-molekul adsorbat dengan permukaan adsorben. Adsorpsi jenis ini diberi istilah dengan absorption dan bersifat tidak reversibel hanya membentuk suatu lapisan tunggal (monolayer). Umumnya terjadi pada temperature diatas temperature kritis adsorbat. Sehingga kalor adsorpsi yang dibebaskan tinggi. Adsorben yang mengadsorpsi secara kimia umumnya sulit diregenerasi Menurut Langmuir, molekul teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh gaya valensi yang tipenya sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam molekul. Karena adanya ikatan kimia maka pada permukaan adsorbent akan terbentuk suatu lapisan atau layer, dimana terbentuknya lapisan tersebut akan menghambat proses penyerapan selanjutnya oleh batuan adsorbent sehingga efektifitasnya berkurang.

1.2 Kinetika Adsorpsi


Seperti halnya kinetika kimia, kinetika adsorpsi juga berhubungan dengan laju reaksi. Hanya saja, kinetika adsorpsi lebih khusus, yang hanya membahas sifat penting dari permukaan zat. Kinetika adsorpsi yaitu laju penyerapan suatu fluida oleh adsorben dalam suatu jangka waktu tertentu. Kinetika adsorpsi suatu

zat dapat diketahui dengan mengukur perubahan konsentrasi zat teradsorpsi tersebut, dan menganalisis nilai k (berupa slope/kemiringan) serta

memplotkannya pada grafik. Kinetika adsorpsi dipengaruhi oleh kecepatan adsorpsi. Kecepatan adsorpsi dapat didefinisikan sebagai banyaknya zat yang teradsorpsi per satuan waktu. Kecepatan atau besar kecilnya adsorpsi dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya : 1. Jenis adsorbat a. Ukuran molekul adsorbat Ukuram molekul yang sesuai merupakan hal penting agar proses adsorpsi dapat terjadi., karena molekul-molekul yang dapat diadsorpsi adalah molekul-molekul yang diameternya lebih kecil atau sama dengan diameter pori adsorben. b. Kepolaran zat Apabila berdiameter sama, molekul-molekul polar lebih kuat diadsorpsi daripada molekul-molekul tidak polar. Molekul-molekul yang lebih polar dapat menggantikan molekul-molekul yang kurang polar yang terlebih dahulu teradsorpsi. 2. Karasteristik adsorben a. Kemurnian adsorben Sebagai suatu zat untuk mengadsorpsi, maka adsorben yang lebih murni lebih diinginkan karena kemampuan adsorpsi lebih baik. b. Luas permukaan dan volume pori adsorben Jumlah molekul adsorbat yang teradsorpsi meningkat dengan bertambahnya luas permukaan dan volume pori adsorben. 3. Tekanan Tekanan yang dimaksud adalah tekanan adsorbat. Kenaikan tekanan adsorbat dapat menaikkan jumlah adsorpsi

4. Temperature absolut (T) Temperature yang dimaksud adalah temperature adsorbat. Pada saat molekul-molekul gas atau adsorbat melekat pada permukaan adsorben akan terjadi pembebasan sejumlah energy yang dinamakan peristiwa exothermic. Berkurangnya temperature akan menambah jumlah adsorbat yang teradsorpsi demikan juga untuk peristiwa sebaliknya. 5. Interaksi potensial (E) Interaksi potensial antara adsorbat dengan dinding adsorben sangat bervariasi, tergantung dari sifat adsorbat-adsorben.

1.3 Adsorben
Adsorben ialah zat yang melakukan penyerapan terhadap zat lain (baik cairan maupun gas) pada proses adsorpsi. Umumnya adsorben bersifat spesifik, hanya menyerap zat tertentu. Dalam memilih jenis adsorben pada proses adsorpsi, disesuaikan dengan sifat dan keadaan zat yang akan diadsorpsi. Luas permukaan spesifik, sangat mempengaruhi besarnya kapasitas penyerapan dari adsorben. Semakin luas permukaan spesifik dari adsorben, maka makin pula kemampuan penyerapannya. Volume adsorben membatasi jumlah jumlah dan ukuran pori-pori pembentuk permukaan dalam (internal surface) yang menentukan besar atau kecilnya permukaan penyerapan spesifik. Karasteristik adsorben yang dibutuhkan untuk adsorpsi yaitu : a. Luas permukaan besar, sehinnga kapasitas adsorpsinya tinggi. b. Memiliki aktivitas terhadap komponen yang diadsorpi. c. Memilki daya tahan guncang yang baik. d. Tidak ada perunbahan volume yang berarti selama proses adsorpsi dan desorpsi.

Adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam larutan adalah arang. Karbon aktif yang merupakan contoh dari adsorpsi, yang biasanya dibuat dengan cara membakar tempurung kelapa atau kayu dengan persediaan udara (oksigen) yang terbatas. Tiap partikel adsorben dikelilingi oleh molekul yang diserap karena terjadi interaksi tarik menarik. Zat ini banyak dipakai di pabrik untuk menghilangkan zat-zat warna dalam larutan. Penyerapan bersifat selektif, yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut sangat mirip dengan penyerapan gas oleh zat padat. Beberapa jenis adsorben yang biasa digunakan yaitu : a. Silika Gel Silika gel cenderung mengikat adsorbat dengan energi yang relatif lebih kecil dan membutuhkan temperatur yang rendah untuk proses desorpsinya, dibandingkan jika menggunakan adsorben lain seperti karbon atu zeolit. Kemampuan desorpsi silika gel meningkat dengan meningkatnya temperatur. Silika gel terbuat dari silika dengan ikatan kimia mengandung air lebih 5%. Pada umunya temperatur kerja silika gel sampai pada 200%, jika dioperasikan lebih dari batas temperatur kerjanya maka kandungan air dalam silika gel akan hilang menyebabkan kemampuan adsorpsinya hilang. Bentuk butiran silika gel banyak digunakan untuk proses adsorpsi.

b. Aktif karbon Aktif karbon dapat dibuat dari batu bara, kayu, dan tempurung kelapa melalui proses pyrolizing dan carburizing pada temperatur 700-8000C. Hampir semua adsorbat dapat diserap oleh karbon aktif kecuali air. Aktif karbon dapat ditemukan dalam bentuk bubuk dan granular. Pada umumnya karbon aktif dapat mengadsorpsi metanol atau amonia sampai dengan 30%, bahkan karbon aktif super dapat mengadsorpsi sampai dua kalinya.

c. Zeolit Zeolit mengandung zeolit yaitu mineral aluminosilicate yang disebut sebagai penyaring molekul. Mineral aluminosilicate ini terbentuk secara alami. Zeolite buatan dibuat dan dikembangkan untuk tujuan khusus, diantaranya 4A, 5A, 10X, dan 13X yang memilki volume rongga antara 0,050,30 cm3/gram dan dapat dipanaskan sampai 5000C tanpa harus kehilangan mampu adsorpsi dan regenerasinya. Zeolite 4A (NaA) diunakan untuk mengeringkan dan memisahkan campuran hydrocarbon. Zeolite 5A (CaA) digunakan unutk memisahkan paraffins dan beberapa Cyclic hydrocarbon. Zeolite 10X (CaX) dan 13X (NaX) memilki diameter pori yang lebih besar sehingga mengadsorpsi asorbat pada umumnya.

1.4 Pasangan Adsorben-Adsorbat


Pasangan adsorben-adsorbat untuk adsorpsi fisik adalah silica gel-air, zeolite-air, karbon aktif-amonia, karbon aktif-metanol. Zeolite-air dan silica gelair merupakan pasangan adsorben-adsorbat untuk cool storage sedangkan karbon aktif-metanol merupakan pasangan adsorben-adsorbat untuk pembuatan es. Adsorben memilki pasangan masing-masing, pada umunya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Polar adsorben atau hydrophilic, meliputi silica gel, zoelit, active alumina. Dengan aor sebagai adsorbatnya. 2. Non-polar adsorben atau hydrophobic, meliputi karbon aktif dan adsorben polimer. Dengan oli atau gas sebagai adsorbatnya.

1.5 Pemamfaatan Sifat Adsorpsi


a. Proses pewarnaan pada industri tekstil dengan larutan basa. b. Proses pemisahan mineral logam dari bijihnya pada industri logam.

c. Penjernihan air tebu pada proses pembuatan gula pasir, menggunakan tanah diatome atau arang tulang. d. Proses penyembuhan sakit perut karena bakteri patogen, menggunakan norit atau serbuk karbon. e. Penjernihan air dengan karbon aktif pada proses pengolahan air minum yang dapat mengadsorpsi warna, rasa dan warna. f. Adsorpsi racun berwujud gas dengan arang halus pada penggunaan masker gas.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W., 1997, Kimia Fisika Jilid 2, Erlangga, Jakarta. Brady, James, 1999, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta.