Anda di halaman 1dari 1

SYECH UNGKU SALIAH KIRAMATULLAH Bagi masyarakat kabupaten Padang Pariaman khususnya Kecamatan VII Koto Sei Sarik

,nama Syech Kiramatulla Ungku Saliah atau yang lebih terkenal dengan nama Ungku Saliah sudah tidak asing lagi.Beliau adalah seorang ulama terkenal dan dikeramatkan hingga hampir setiap pedagang yang berasal dari daerah pariaman akan memanjang gambar beliau pada kedai atau tempat usaha mereka.Dalam pemikiran dan keyakinan mereka dengan memajang photo beliau maka dagangan mereka akan lancar dan maju. Penulis sering mendapati,jika seseorang mau mulai buka usaha atau berdagang,baik di kampung halaman maupun dirantau,maka mereka akan meminjam modal ,yang artinya mereka akan meminjam uang walau Rp.100 (seratus Rupiah) pada surau Ungku Saliah ini yang terletak di Sungai sarik padang pariaman.Mereka akan mengembalikan uang tersebut bila usaha mereka telah berjalan dan lancar.Tentunya pengembalian melebihi dari uang yang mereka pinjam tadi.Keyakinan ini masih sering didapati,karena masyarakat disekitar mesjid atau mereka yang meminjam ini beranggapan dengan modal ini maka usaha mereka akan lancar dan maju. Ungku saliah di lahirkan oleh ibu bernama Tuneh bersuku sikumbang dan ayah bernama Tulih bersuku mandailing.Beliau lahir pada sekitar tahun 1887 di Pasa Panjang Sungai sarik Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.Mempunyai empat orang saudara namun hanya beliau yang menjadi ulama.Semasa kecil beliau bernama Dawat. Masa kecil Dawat dihabiskan di kampungnya, seperti umumnya anak-anak Minangkabau. Pada usia 15 tahun (sekitar 1902) Dawat belajar mengaji dengan Syekh Muhammad Yatim Tuangku Mudiak Padang di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi. Di sana ia mendapat pengajaran ilmu tarekat dan mendapat gelar ‘saliah’ (saleh) dari gurunya karena ia sangat rajin belajar dan beribadah. Setelah itu Dawat memperdalam ilmu tarekatnya dengan Syekh Aluma Nan Tuo di Koto Tuo, Bukittinggi. Setelah itu Dawat balik ke Ampalu, namun kemudian ia pergi memperdalam ilmu tarekatnya lagi kepada Syekh Abdurrahman di Surau Bintungan Tinggi. Setelah tamat ‘mengaji’ di Surau Bintungan Tinggi, Dawat kembali ke Ampalu. Gelar ‘Ungku Saliah’ melekat pada dirinya setelah ia menjadi guru mengaji di kampungnya sendiri di Sungai Sariak. Semasa hidupnya Ungku Saliah melakukan berbagai perbuatan yang memperlihatkan ciri-ciri orang kiramaik,dalam pikiran kolektif penduduk Sungai Sariak mengenai kekeramatan Ungku Saliah. Antara lain disebutkan apabila seorang pedagang tidak mau menjual suat barang seharga yang beliau tawar, maka barang itu tidak akan terjual sampai kapanpun. Begitu pula sebaliknya, kalau seorang pedagang mau menjual barangnya seharga yang beliau tawar, maka dagangan itu akan laris manis dan bemberikan keuntungan yang besar. Ungku Saliah wafat di rumahnya di Sungai Sariak pada 3 Agustus 1974. Di makamnya dibuatkan gobah yang sampai sekarang tetap dikunjungi oleh para penziarah Selengkapnya serta lebih detail kunjungi: http://raunsabalik.ucoz.com