Anda di halaman 1dari 4

FUNGSI SEKSUAL PEREMPUAN PASCAHISTREKTOMI TOTALIS PERABDOMINAM

PENDAHULUAN Berbagai penelitian menyatakan histrektomi totalis perabdominal (HTP) yang merupakan suatu tindakan pengangkatan uterus dan atau ovum kanan atau kiri serviks, dapat menimbulkan suatu stress tersendiri bagi perempuan, karena tidak hanya menyangkut organ reproduksi sebagai alat seksual, tapi berkaitan dengan masalah jati diri perempuan, karena hal itu akan menghilangkan tanda bulanan haid dan kemampuan untuk hamil. Kebanyakan perempuan merasa cemas mengalami gangguan fungsi seksual setelah histrektomi. Disparenia dapat terjadi oleh adanya jaringan parut di puncak vagina serta panjang vagina menjadi pendek. Histrektomi telah berimplikasi pada perkembangan berupa gejala, termasuk perubahan fungsi saluran kemih, saluran cerna bawah, dan fungsi seksual. Gejala-gejala tersebut diakibatkan kerusakan langsung pada jaringan-jaringan pembedahan, terjadi perlengketan, trauma syaraf, hilangnya serviks dan uterus dan efek potensialnya pada orgasme. Efek psikososial juga telah digambarkan seperti depresi dan hilangnya gambaran diri atau identitas feminin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan fungsi seksual perempuan pra dan pasca histrektomi total perabdominam dan mengidentifikasi keluhan seksual pascahistrektomi total perabdominam.

METODE Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif untuk mengeksplorasi keluhan seksual perempuan pascahistrektomi total perabdominam dengan kelainan ginekologi jinak subjek penelitian ini adalah perempuan pasca histrektomi yang telah memenuhi criteria penerimaan dan bukan perempuan yang memenuhi criteria penolakan. Penelitian ini dilakukan di RSMH Palembang Januari 2006 sampai Desember 206. Subjek penelitian berjumlah 20 orang. Semua variabel dianalisis secara deskritif dengan peyajian tabulasi serta dinterprestasikan.

informan yang merasakan penurunan rangsangan/hasrat seksual sebanyak 18 (90%) informan dan yang mengaku mengalami kenaikan rangsangan/hasrat seksual selama aktivitas seksual sebanyak 2 (10%) informan. Pascahistrektomi totalis perabdominam. sebanyak 3 (15%) informan mengaku frekuensinya tidak berubah. Sebelum informan mengetahui adanya penyakit pada dirinya. informan yang menagku memiliki rangsangan/hasrat seksual selama aktifitas atau berhubungan seksual kurang baik yaitu 11 (85%) informan. informan mengaku mengalami penurunan gairah/libido sebanyak 5 (25%) informan. sebelum informan mengetahui adanya penyakit pada dirinya sebanyak 12 (60%) informan mengakui kurang puas. Pascahistrektomi totalis perabdominam. Pasca hisrektomi totalis perabdominam. Frekuensi pencapaian orgasme yang dialami informan pada saat berhubungan seksual sebelum informan mengetahui adanya penyakit sebanyak 7 (35%) informan mengaku cukup mengalami orgasme sedangkan 13 (65%0 informan mengaku sangat jarang mengalami orgasme. sebanyak 2 (10%) informan mengaku mengalami kenaikan frekuensi pencapain orgasme sedangkan 15 (75%) informan mengaku mengalami penurunan frekuensi pencapain orgasme. Tingkat kepuasan informan atas kemampuannya mencapai orgasme. sebanyak 17 (85%) informan mengakui adanya penurunan tingkat kepuasan atas kemampuannya mencapai orgasme sedangkan 3 (15%) informan merasa lebih puas. Frekuensi ketidaknyaman atau nyeri terjadi penetrasi vagina sebelum informan mengetahui adanya penyakit pada dirinya. Pasca histrektomi totalis perabdominam. sebelum informan mengetahui adanya penyakit pada dirinya sebanyak 12 (60%) .HASIL Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebelum informan mengetahui adanya penyakit pada dirinya mereka menyatakan memiliki hasrat/gairah seksual yang kurang baik sebanyak 11 (55%) informan dan yang menyatakan memiliki gairah seksual yang baik sebanyak 9 (45%) informan. tingkat kepuasan informan atas kemampuan nya mencapai orgasme. Pascahistrektomi totalis perabdominam terjadi penurunan frekuensi lubrikasi pada 18 (90%) informan selama aktifitas seksual dan yang mengaku lubrikasinya meningkat setelah operasi ada 2 (10%) informan. sebanyak 10 (50%) informan mengakui sering merasa nyeri sehingga merasa tidak nyaman saat melakukan penetrasi vagina. sedangkan 8 (40%) informan menyatakan cukup puas.

hal ini dipengaruhi oleh latar belakang budaya. pencapaian orgasme dan terjadi peningkatan nyeri atau ketidaknyaman selama atau setelah aktivitas seksual. Kecemasan terganggunya fungsi seksual pascahistrektomi totalis perabdominam tidak dikeluhkan oleh semua informan. sebanyak 10 (50%) informan mengakui sering merasa nyeri sehingga merasa tidak nyaman saat melakukan penetrasi vagina.informan mengakui kurang puas. KESIMPUALAN 1. Menurut pengakuan informan ada perbedaan fungsi seksual sebelum adan pascahistrektomi totalis perabdominam. Pascahistrektomi totalis perabdominam. serta agama yang dianut informan dan kepatuhan informan terhadap aturan membuat posisi perempuan sebagai pelayan suami . pencapaian orgasme dan terjadi peningkatan nyeri atau ketidaknyaman selam atau setelah aktivitas seksual. Sebagian besar informan mengalami penurunan gairah/libido. orgasme dan terjadi penigkatan disperunia. rangsangan. sedangkan 6 (30%) informan mengalami penurunan frekuensi nyeri. Pascahistrektomi totalis perabdominam. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian ghozali dkk dalam penelitiannya tentang perangai seksual pascahistrektomi yang menyimpulkan adanya penurunan libido. Prevalensi libido gairah seksual yang rendah sebelum operasi ditemukan juga menurun sesudah operasi. Sebagian besar informan mengalami penurunan gairah/libido. adat istiadat setempat yang tidak menempatkan kepuasan seksual perempuan sebagai hak perempuan. DISKUSI Menurut pengakuan informan ada perbedaan fungsi seksual sebelum adan pascahistrektomi totalis perabdominam. pada 14 (70%) informan mengaku mengalami peningkatan frekuensi nyeri ini. sedangkan 8 (40%) informan menyatakan cukup puas. Frekuensi ketidaknyaman atau nyeri terjadi penetrasi vagina sebelum informan mengetahui adanya penyakit pada dirinya. rangsangan. sedangkan sebanyak 10 (50%) informan mengakui jarang merasa nyeri. sedangkan sebanyak 10 (50%) informan mengakui jarang merasa nyeri. sebanyak 17 (85%) informan mengakui adanya penurunan tingkat kepuasan atas kemampuannya mencapai orgasme sedangkan 3 (15%) informan mersa lebih puas.

2. Meskipun secara fisiologis mereka merasakan adanya gangguan pada fungsi seksual sehingga terjadi penurunan kepuasan seksual. dibandingkan dengan factor kepuasan biologis yang seharusnya diperoleh pada saat aktivitas seksual. Buat mereka kepuasaan bisa melaksanakan kewajiaban seorang istri jauh lebih penting dari pada kepuasan biologis yang bisa mereka dapatkan. Latar belakang budaya. adat istiadat serta agama ternyata lebih jauh berperan dalam menentukan perilaku seksual perempuan pascahistrektomi totalis perabdominam pada informan. . tapi informan tidak merasakan adanya gangguan fungsi seksual selama meraka masih mampu melayani suaminya seperti yang diwajibkan oleh agama yang mereka anut yaitu Islam.