Anda di halaman 1dari 16

Edisi Magang Juli 2013

Edisi Magang Juli 2013

Informatika
Pelindung: Ketua Umum ICMI Orsat Kairo Pengarah: Drs. Ahmad Isrona Alfakhri Zakirman, Lc. Indra Gunawan, Lc. Penanggungjawab: Koordinator Departemen Media dan Komunikasi ICMI Orsat Kairo
Redaktur Ahli: Ahmad Satriawan Hariadi, Fajar Pradika, Lc., Hilmy Mubarok, Sayyid Zuhdi, S.S., Fitra Yuzarni, Rini Arianti, Nurul Azizah, Ayu Rizki Amalia Pemimpin Umum: Fakhry Emil Habib A Pemimpin Usaha: Lina Nabila Ahmad Pemimpin Redaksi: Achmad Fawatih Nurizqi Sekretaris Redaksi: Nisaul Mujahidah Dewan Redaksi:
Barmawi Mahral, Arif Yusuf, Ilham Sujefri, Khalid Mudtastir, Yusrizal, Akfini Bifadlika Ghofar, Rafika Nur Jannah

Editorial

Lanjutkan Amanat Semesta Menulis


elum lama ini Masisir sukses tertulis. Ucapan ini selain mudah dihafal, selenggarakan pelatihan Se- mudah juga untuk dilupakan. Cita-cita mesta Menulis yang ingin jadi penulis hebat. Tapi, cita-cita tak menghadirkan para pembicara dari Indo- selalu tercapai. Dan yang terpenting adanesia. Atas jasa beberapa elemen kecil lah istiqamah. Konsisten. Begitu pula didalamnya, elemen-elemen pendukung amanat. Kadang muncul kesadaran akan lain berhasil disatukan demi amanat yang harus dipertanggungjawabmenghidupkan kematian Masisir. Meski kan. Sering pula ia raib entah kemana sebelumnya terjadi demo besar-besaran di terhapus oleh waktu. Apa pun alasannya, Mesir, namun berkat kerja cerdas tim kre- beban amanat sudah berada di pundak atif ini Semesta Menulis akhirnya tetap kita sejak acara itu. Tak ada jalan lain diadakan. Dan semua halangan mampu selain konsisten menulis. Maka, ayo kita lalui. Lalu, dunia kepenulisan kita bangun pola berpikir, Nanti saya nulis berangsur-angsur mulai membaik. apa? jangan, Nanti saya apa nulis?! Kita tak mungkin melupakan usaha Termasuk di situasi seperti saat ini. panitia demi meningkatkan mutu Masisir di Situasi aman adalah amanat. Namun, bebidang kepenulisan. Pengorbanan tenaga, gitu pula situasi yang tak menentu. biaya, pikiran, Seorang penulis waktu dan harus Kita tak mungkin melupakan usaha hebat perasaan, tetap menulis panitia demi meningkatkan mutu bahkan ujian. dalam situasi Masisir di bidang kepenulisan Ujian mereka apapun. Karena yang mepet mau atau tak dengan persiapan acara. Acara Masisir mau, terkadang hal buruk tak terduga yang tabrakan dengan urusan pribadi akan menimpa kita dan itu juga amanat. mereka. Rasa kepemilikan Masisir mela- Justru sesuatu terburuk, seperti penjara wan egoisme. Terpaksa, prinsip kepent- atau siksaan, kadang malah menjadi sumingan diumum di atas kepentingan pribadi ber inspirasi. Jadinya baik, buruk, suka, harus diutamakan. Semua untuk dunia benci, semua sudah masanya dan termakepenulisan kita. suk amanat. Begitulah kita akan ditanHadir bersama kita kemarin, Bunda ya,Apa yang telah Engkau perbuat? Pipiet Senja dan Sastri Bakry dari FLP, Sampaikanlah amanat sesuai yang serta Irwan Kelana dari Republika, diminta. Tak ada alasan terkendala dana kemudian Anhar Ahmad, Zulhaqi Hafiz, yang seret, waktu yang mepet, situasi Eddy Sukmana dan Nismah Azhari, 4 yang kacau, tak menentu. Semuanya orang dari perwakilan Radio Republik In- serba menyalahkan kondisi. Padahal kalau donesia (RRI). Mereka tak berharap apa- mempunyai toleransi tinggi, kesiapan mapun dari kita, selain munculnya seorang tang, dan pandangan jauh ke depan, kita penulis hebat wakil Masisir, seperti akan temukan jalan keluarnya. Yakinlah. Habiburrahman El-Shirazy. Meski cuma Kini, datang bulan suci Ramadhan, seorang. Satu orang yang kelak akan masa perubahan aktifitas selagi berpuasa mengharumkan nama Mahasiswa/i Indo- dan berbuka. Hari berganti hari, acara nesia di Mesir, tapi semoga lebih. Dan demi acara berlalu, berbagai agenda telah mereka sendiri mengakui kita, Masisir, punya potensi yang besar. Kita punya terlewati dan Masisir semakin dewasa peluang memiliki analisis tulisan lebih hadapi problematika, itu harapan kita. Yatajam dan tawaran solusi lebih pas dan kinlah, Masisir bisa menjadi penulis hebat. bernilai. Itu prediksi mereka. Yakin dan buktikan lewat aksi nyata. Menulislah, maka hidupmu akan

Reporter:

Abdi Zakaria, Assadullah Rouf, Ikhwan Hakim, Miftakhuddin Wibowo, Miftah Firdaus, Pangeran Arsyad Ihsanulhaq, Suhardi Junaidi, Aisyah Ummu Fadhilah, Farah Arifiatul Maula, Fatimah Nurul Khoiriyah, Hielya Abdurrahman, Kamila Etna Larasati, Khoirun Nisa, Nashirat Zimam Alhusna, Nur Fitria Qurrotu Aini, Rabbani Rizqi Fadhila, Raidah Sekar Harani, Ratih Ayu

Editor: Abdul Wahid Satunggal, Kurniawan Saputra, Sifrul Akhyar, Umar Abdulloh Layouter & Ilustrator: Miftah Firdaus Distributor dan Periklanan: Lina Nabila Ahmad: +201142274707 Nisaul Mujahidah : +201144938061 Web Master: Lukmanul Hakim, Dana Ahmad Dahlani
Alamat Redaksi: Wisma Nusantara, 8 Wahran St. Rabea elAdawea , Nasr City, Cairo, Egypt. Telp / Mobile: 01113320397/01129739162 Email: informatika.icmi@gmail.com

Edisi Magang Juli 2013

Suara Mayoritas

Sorot

Media Tanah Air Ancam Nasib Camaba


asyarakat sudah kecanduan berita. Peran media massa dalam era globalisasi ini sudah sangat signifikan. Kecenderungan pada media massa menyebabkan beberapa pihak langsung percaya suatu kejadian dalam pemberitaan, tanpa melihat analisis lain atau mengkaji fakta sebenarnya lebih dalam. Hal ini pula yang menyebabkan Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan Surat Pembatalan Seleksi ke Universitas al Azhar Kairo (11/07/), setelah penundaan ujian satu minggu sebelumnya. Alasan utama terjadinya pembatalan tes seleksi ini adalah kisruh politik yang tidak bisa menjamin stabilitas keamanan dan daya papan di Mesir. Terutama bagi calon mahasiswa baru yang akan belajar di bumi para Anbiya ini. Turunnya Morsi dan demonstrasi berskala masif

IKPM Dominasi Bursa Capres PPMI

yang terjadi hampir di seantero Mesir membuat mata seluruh dunia fokus terhadapnya. Kejadian ini bahkan membuat pemerintah AS melarang warga negaranya untuk berpergian ke Mesir. Pusat kumpulan dan bentrokan masa

terjadi pada titik tertentu, seperti Lapangan Tahrir, Rabeah ElAdaweya, wilayah Universitas Kairo, Istana Kepresidenan Ittihadeya, pastinya memaksa seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, untuk berpikir dua kali dalam menerbangkan rakyatnya

menuju Negari Musa AS ini. Maka, menanggapi Surat Keputusan Pembatalan Seleksi ke Mesir, Hadi Bakri Raharjo, ketua Fakultas Senat Ushuluddin (FSU) menyatakan ketidaksetujuan atas dibatalkannya seleksi tersebut. Menurutnya, pembatalan itu dapat memutuskan regenerasi mahasiswa al-Azhar yang berasal dari Indonesia. Dengan melihat alasanalasan yang dijadikan dasar dalam keputusan pembatalan tersebut, Bakri menyimpulkan bahwa Kemenag belum mempelajari secara komprehensif mengenai kondisi Mesir sekarang ini. KBRI Kairo dan PPMI perlu memberikan klarifikasi tentang kondisi keamanan negara ini yang sebenarnya. Sehingga Kemenag dapat meralat keputusan pembatalan tersebut dan mengambil langkah cepat untuk mengadakan seleksi tahun
Selengkapnya... Hal 4

ebentar lagi kita mau LPJ, tanggal dua puluh delapan Juli, ungkap Presiden PPMI, Jamil Abdul Latief. Meski sedang liburan, akhir-akhir ini Masisir tetap sibuk dengan persiapan kepanitiaan yang begitu banyak. Setelah berakhirnya rentetan acara PPMI, kini dibentuk kembali beberapa kepanitiaan untuk mengakhiri kepengurusan PPMI masa jabatan 2012-2013, sekaligus mengawali kegiatan PPMI dengan para jawara baru. Salah satunya kepanitiaan Sidang Umum PPMI dan kepanitiaan Pemilu Raya. Ketua Panitia Pemilu
Selengkapnya... Hal 7

Gerbang

Oleh: Achmad Fawatih Nurizqi*


Wahai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan melalui sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (AlBaqarah: 153)
ebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita diperintahkan bersabar dalam mengarungi bahtera hidup. Beliau, yang amat mencintai umatnya, telah mempraktikkannya melalui tindakan nyata. Perilaku positif ini beliau tunjukkan melalui sikap tabah, tidak lekas marah, dan menahan godaan hawa nafsu, serta menjauhi putus asa. Beliau juga senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Kepribadian beliau adalah potret kesabaran tanpa batas. Sabar merupakan ciri hamba beriman. Bersabar diiringi bersyukur, yaitu berterima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya melalui lisan dan ama-

Bersabar Hadapi Masalah

lan, sehingga jiwa merasa tenang dan ganda dan surga. puas. Bersabar dan bersyukur, inilah dua Bersabarlah, karena Allah Maha Selengkapnya...Hal 8 kunci untuk meraih kebahagiaan dunia Tahu kadar hamba-Nya. Dia Maha Adil, dan akhirat. tidak pernah membebani hamba-Nya Sabar bukan berarti pasif. Sabar kecuali sesuai kemampuan mereka. Jika justru kekuatan, bertahan sekaligus men- si hamba menginginkan kebaikan dan cari celah. Berusaha sekuat tenaga ser- perbaikan, haruslah mereka bersabar dan aya bersabar hingga menemukan celah sadar, semakin mendekatkan diri kepadasolusi. Tabah mencoba segala cara, demi Nya, agar tahu segala sesuatu bersumber melakukan perbaikan, kemudian ber- dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. tawakkal. Menyerahkan hasil akhir kepada Juga supaya mereka tawaduk Allah SWT setelah berikhtiar dan tak sombong, serta menuntut ridhamengupayakan yang terbaik. Nya. Sehingga mereka, hamba-Nya yang Sabar meyakini bahwa Allah bergelimang dosa dan silau dengan keSWT tiada menciptakan permasalahan, kecuali disertai pula penyelesaian dan hidupan dunia, akhirnya sadar. Dan agar kemudahan. Percaya, Allah sedang men- mereka bekerja sama memecahkan percoba kita. Dia ingin menghapuskan kejele- masalahan mereka. Bersatu dan saling kan kita, hamba-Nya, dan mengampuni menasihati dalam kebenaran dan kesabakesalahan-kesalahan mereka yang bersa- ran agar berhasil bertahan. Akhirnya, di bar, serta memasukkan mereka ke dalam bulan suci Ramadhan, bulan kesabaran golongan hamba-Nya yang saleh di surga. ini, marilah bersama kita tingkatkan kualiPercaya, semua tak ada yang sia -sia. Allah SWT hendak mengetahui batas tas puasa dengan bersabar dan raih keimanan hamba-Nya, maka Dia mem- hikmah Ramadhan. (Fawatih) berikan masalah. Mudah bagi-Nya memberikan masalah, mudah pula bagi-Nya *Pemred Informatika mengangkatnya kembali. Barangsiapa bersabar, maka baginya pahala berlipat

Edisi Magang Juli 2013

Media Tanah Air Halaman 3 ini. Kalau tidak, bagaimana kita menjelaskannya nanti pada pihak Al-Azhar apabila tidak mengirimkan mahasiswa barunya hanya karena alasan keamanan yang sebenarnya tidak usah dipermasalahkan? tutur vokalis dangdut dari band Kemplus ini. Tidak dinyana, tepatnya pada hari Sabtu (13/07), bertempat di Konsuler KBRI Kairo, PPMI pun mengadakan dialog terbuka sekaligus buka puasa bersama yang dihadiri Atdikbud KBRI Kairo dan ketua-ketua organisasi di lingkungan PPMI. Yang dibahas, tentu terkait keamanan WNI yang berada di sini dan juga pembatalan seleksi Camaba Mesir tahun 2013. Adanya kumpul ini sebagai penolakan kami akan keputusan ini secara baik dan santun, karena yang bisa menyalurkan aspirasi mahasiswa, prosedurnya melalui Atase Pendidikan dan Kedutaan Indonesia, ucap Jamil Abdul Latif, selaku Ketua PPMI periode 20122013. Adapun hasil pertemuan tersebut diantaranya: Pertama, menyayangkan keputusan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI terkait pembatalan Seleksi alAzhar tahun 2013 dan menilai keputusan tersebut terlalu tergesa-gesa. Menimbang, kesimpulan mereka hanya melihat wacana Mesir yang dilihat dari media dalam dan luar negri, dengan tidak adanya koordinasi dengan pihak yang lebih mengetahui kondisi lapangan sesungguhnya, dalam hal ini KBRI Kairo dan PPMI Mesir. Kedua, Pihak KBRI Kairo yang diwakili Atdikbud akan menerangkan kondisi riil keamanan Mesir dewasa ini kepada Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI serta mengajukan permohonan peninjauan ulang terkait keputusan pembatalan seleksi tersebut. Ketiga, Pihak KBRI Kairo, diwakili oleh Atdikbud, akan menjalin silaturahim dan koordinasi aktif dengan pihak Universitas Al-Azhar (Grand Syekh dan Rektor), terkait jaminan keamanan untuk meyakinkan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI. Atase Pendidikan Kairo sendiri baru mengetahui adanya Surat Keputusan Pembatalan Seleksi tersebut dari situs Kemenag baru-baru ini. Memang terasa aneh, karena seharusnya surat Keputusan Pembatalan Seleksi datang secara resmi ke KBRI. Fahmy Lukman, selaku Atase Pendidikan, sangat menyayangkan jika seleksi tahun ini ditiadakan. Karena peniadaan itu bisa mengurangi kaderkader ulama dan calon intelek bangsa. Bahkan nantinya dapat mengganggu kerjasama pendidikan antara Universitas al Azhar dengan Indonesia sendiri, terangnya. Sejauh ini dalam menyikapi keputusan sepihak itu, Dubes Indonesia untuk Mesir bekerja sama dengan Atdik Kairo telah mengambil tindakan cepat agar

seleski tersebut tetap dilakukan. Sejauh ini Dubes telah melayangkan surat pada Kemenag terkait peninjauan ulang keputusan pembatalan tersebut, bahkan menelpon kepada yang bersangkutan. Surat Keputusan Pembatalan Seleksi ini juga sangat mempengaruhi stabilitas kerja para mediator di Indonesia maupun di Mesir, salah satunya Mumtaza Center. Dalam hal ini Ahmad Hafifi, pendiri Mumtaza Center, menyatakan harapannya,

KBRI Kairo dan PPMI perlu memberikan klarifikasi tentang kondisi keamanan negara ini yang sebenarnya. Sehingga Kemenag dapat meralat keputusan pembatalan tersebut
Apa yg kami pikirkan dan sempat kami sampaikan ke pihak pelaksana seleksi, sebaiknya seleksi tetap diadakan, para calon mahasiswa baru menjadikan Azhar prioritas utama masa depan mereka, hingga tidak ada yang mendaftar perguruan tinggi manapun. Ada yang sudah kuliah rela dia tinggalkan untuk fokus kuliah, apalagi ada ketentuan syarat umur ijazah maksimal 2 tahun. Seandainya seleksi bisa diadakan dan keberangkatan tidak bisa tahun ini dengan pertimbangan keamanan, setidaknya yang lulus seleksi tahun depan bisa langsung berangkat tanpa seleksi lagi. Mereka yang ijazahnya dikeluarkan awal 2011, hanya memiliki kesempatan terakhir untuk ikut seleksi tahun ini. Kalau seleksi tidak ada, hilang sudah kesempatan mereka untuk ikut seleksi tahun depan, tambahnya. Beda penanggung jawab, beda pula jawaban mediator lain. Mediator Masisir sebagai pendatang baru yang memulai perjalanan di dunia travelling ini, juga menyesalkan pembatalan tersebut. Sebagai seorang broker, Meditor Masisir

berusaha menyikapi hal ini dengan menenangkan kawan-kawan calon mahasiswa baru, tetap memotivasi mereka, serta mengingatkan agar jangan sampai terlena dengan keputusan pembatalan tes seleksi tersebut. Langkah ini sengaja Mediator Masisir ambil, karena mereka optimis tahun sekarang masih ada mahasiswa baru. Dalam benak kami dan kawan kawan yang ikut Mediator Masisir, keputusan ini kami anggap hanya seperti angin lewat. Kami bahkan tidak begitu menganggap adanya keputusan itu. Kami selalu mengingatkan belajar dan persiapan kawan -kawan untuk menghadapi tes seleksi, selalu memberikan kabar tentang demonstran tanpa melebih-lebihi atau menguranginya. Ini semua kami lakukan karena dari awal niatan mendirikan biro ini, kami hanya ingin membantu, contohnya seperti memfasilitasi situs untuk mengunduh beberapa contoh soal-soal tes seleksi Azhar pada tahuntahun sebelumnya, dan memberikan beberapa informasi yang sedang dibutuhkan, Khoirul Affandi, penanggung jawab penuh Mediator Masisir menjelaskan. Tidak berhenti sampai di sini. Siswa- siswi yang baru lulus dari pondok atau SMA juga kalang kabut. Fajar Kurniawan, salah satu calon mahasiswa baru ini juga mengaku sangat kecewa dengan keputusan Kemenag yang membatalkan seleksi, terutama temanteman yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkannya. Sebagian dari orang tua kita juga sangat khawatir dengan pemberitaan tentang keadaan Mesir yang tidak aman sekarang dan sebagian lagi menyetujui pembatalan tersebut, ujar pemuda yang berasal dari Banjarmasin ini , meski sedikit berharap, seleksi tahun ini tetap berlanjut. (Abdi, Fitri, Sekar)

Edisi Magang Juli 2013

Lapsus

Tak Surut Meski Dana Seret

A dan AA nampak lesu. Pasalnya, paket Indomie yang mereka tawarkan ditolak seorang calon pembeli. Lima pound saja! bujuk SA, tapi Masisir yang ditawari tetap menggeleng. Akhirnya SA dan AA melenggang pergi, meneruskan penjajaan mie mereka. Jangan salah, SA dan AA bukan sales Indomie. Mereka berdua hanya sedikit dari panitia Semesta menulis yang berjibaku demi lancarnya acara. Masalah dana memang menjadi kendala utama acara pelatihan menulis ini. Panitia bahkan sampai merogoh kocek sendiri. Karena dana yang minim, akhirnya kita menggunakan uang pribadi untuk keperluan awal kita, ujar Agususanto, sang ketua panitia. Sebelumnya, panitia telah mengajukan proposal kepada KBRI dua bulan sebelum acara dimulai. Estimasi dananya sangat besar, 41.000 Le. Namun, dari perkiraan awal itu, hanya 7.000 Le yang bisa turun ke tangan panitia. Minimnya limpahan dana ini dipicu adanya rentetan acara lain yang kebetulan diselenggarakan bersamaan dengan Semesta Menulis, dan semuanya membutuhkan dana besar, salah satunya Simposium Internasional PPI Timur Tengah. Selain fulus yang seret, panitia juga terkendala masalah alat transportasi. Panitia telah meminta kepada Pensosbud untuk meminjamkan mobil yang digunakan sebagai alat transportasi pembicara. "Namun jawaban mereka semua mobil terpakai untuk pengadaan acara 17 Agustus mendatang, papar Agus. Akhirnya, masalah transportasi pembicara ini terselesaikan berkat bantuan dari pihak Indomie. Secara garis besar, menurut Agususanto, kendala yang dihadapi panitia ada tiga. Kendala yang pertama adalah dana. Terbatasnya waktu juga menjadi masalah. Masih menurut Agus, para panitia menerima persetujuaan dari para pembicara saat detik-detik terakhir ujian. Kita semua tahu, sudah menjadi tabiat Masisir, bahwa saat ujian semua orang tidak mau disibukkan dengan apa pun selain belajar. Mau tidak mau, semua panitia harus vakum sementara waktu sampai selesainya ujian. Akhirnya, perkumpulan panitia dan pembentukannya fix pada H-6 sebelum acara, maka dari itu, karena terbatasnya waktu, panitia tidak memilih sembarang orang tetapi benarbenar memilih orang-orang yang memililki loyalitas tinggi, berkapasitas dan memiliki konsistensi yang kuat dalam kepanitiaan. Masalah lain, para panitia juga harapharap cemas dengan kondisi Mesir. Sebelumnya, tersiar kabar akan adanya demo besar-besaran pada tanggal 30 Juni. Surat

menyurat telah panitia layangkan ke Indonesia, pamflet pun tersebar luas, panitia sendiri sudah terbentuk dan bergerak, meskipun dana dan kepastian belum mereka dapatkan. Solusi dari dilema pertama yang dialami Agus beserta kawan-kawan panitia adalah sejak awal mereka sudah berkomitmen untuk mendedikasikan seluruh usahanya demi terselenggaranya acara ini. Meskipun tanpa ada imbalan sepeser pun. Untuk kendala yang ketiga, ia dan segenap panitia hanya bisa berdoa, "Keyakinan dan doa, ujar Agususanto. "Maka dari itu, dari awal saya sudah bilang, acara ini memang musy maul, tambahnya apa adanya. Tetapi berkat kemauan dan tekad yang kuat demi kemajuan Masisir, terutama di bidang kepenulisan, rintangan sebesar apa pun akhirnya berhasil ditaklukan oleh panitia. Akhirnya, kerja

keras panitia untuk menyukseskan acara pun terbayar. Antusiasme Masisir sangat tinggi. Ini terlihat dari penuhnya hadirin yang mengikuti acara Semesta menulis. Awalnya, acara ini hanya memiliki seorang narasumber, yaitu Pipiet Senja sendiri. Namun, perkembangan situasi menghadirkan enam orang pembicara lainnya, yaitu Sastri Bakri dan Irwan Kelana, serta 4 perwakilan dari RRI (Radio Republik Indonesia): Anhar Ahmad, Eddy Sukmana, Zulhaqi Hafiz dan Nismah Azhari. Meski Pelatihan Semesta Menulis telah berakhir, namun ada tindak lanjut dari acara ini. Berawal dari sebuah spontanitas Pipiet Senja pada sesi pelatihan intensif di kelas fiksi (6/7). Beliau mengatakan tidak akan berkunjung ke sini lagi sebelum Masisir menghasilkan sebuah karya. Kalau hanya datang, duduk dan menyimak, lalu pulang tapi tak membuahkan hasil apa pun dari pelatihan ini, maka apa artinya? ungkap Putri, salah satu panitia Semesta Menulis. Dana Ahmad Dahlani selaku ketua IJMA (Ikatan Jurnalis Masisir) mengatakan bahwa terdapattiga poin follow up dari acara Semesta Menulis ini, yaitu: pertama, bentuk follow up-nya sudah terangkai dalam acara itu sendiri. Di hari pertama dari

pelatihan di kelas fiksi Pipiet dan Sastri Bakri -termasuk di kelas jurnalistik- memberi tugas bagi para peserta berupa penulisan kisah inspiratif, opini dan berita tentang keadaan Mesir saat ini, yang kemudian dibedah keesokan harinya, termasuk pemberian apresiasi kepada peserta dengan karya terbaik. Bentuk follow up yang kedua berupa proyek penerbitan buku yang memuat seluruh karya Masisir. Baik berupa cerpen, jurnal, kisah-kisah inspiratif dan lain-lain, sementara deadline yang diberikan oleh Bunda Pipiet sendiri satu bulan setelah acara ini, yaitu pada tanggal enam sampai sembilan Agustus. Rencananya, buku ini akan diterbitkan di Indonesia dengan royalti yang akan kembali kepada Masisir sendiri. Keuntungan itulah yang akan diputarkan kembali demi kemajuan dunia kepenulisan, misalnya dengan pendirian sanggarsanggar kepenulisan bagi Masisir. Dan follow up yang terakhir adalah rencana diadakannya kembali Semesta Menulis jilid dua, yang akan diadakan sekitar bulan Maret 2014 mendatang. Banyak sekali harapan dan pesan yang datang dari berbagai pihak untuk acara ini, diantara pesannya ialah, agar Masisir meningkatkan kembali kualitas karya-karya dan kreatifitasnya dalam bidang kepenulisan. Sudah begitu banyak yang dikorbankan demi berjalannya acara ini, semoga ini benar-benar mempengaruhi iklim produktivitas dalam kepenulisan masisir, jelas Agus. Akhir kata, panitia juga menyampaikan agar Masisir harus ikut serta memajukan bangsa dengan karya-karya yang telah dihasilkannya. Akhirnya, pelatihan kelas intensif di tiga tempat dengan tiga materi dan pemateri yang berbeda pun usai, suasana khidmat dan penuh antusias pun selesai, riuh peserta dalam penutupan acara dan dilanjutkan dengan IJMA Awards pun terlaksana dengan baik, tentu terselip kenangan baik dalam acara tersebut baik oleh panitia ataupun peserta. Namun ini bukanlah akhir, dengan tekad yang kuat Insyaallah acara ini akan terselenggara kembali, tentu dengan perbaikan-perbaikan atas kekurangan-kekurangan yang terjadi kemarin. Bubarnya acara ini, bukan berarti selesai sudah tugas panitia. Justru dengan pembubaran, dibentuk kembali panitia baru dengan ide dan inovasi-inovasi terbaru, tambah Agus. (Fatimah NK, Ratih Ayu, Rabbani, Miftah Firdaus)

Edisi Magang Juli 2013

Keislaman

Syarat Mutlak Azhari


Oleh: : Fakhry Emil Habib A*

aisal azhariyya man lam yahfazil qurn. Seorang yang tidak hafal Al-Quran tidak pantas disebut seorang yang memiliki metode berpikir (Manhaj) al-Azhar. Begitulah kira-kira maksud kata tersebut. Keberadaan para mahasiswa al-Azhar sebagai ulama pewaris para nabi memang mengharuskan mereka untuk menghafal mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW ini. Bukan hanya sebagian, namun seutuhnya, bahkan kalau perlu dengan beragam qirat-nya sebagai rujukan utama saat terjun di masyarakat Indonesia. Sebagai pusat keilmuan Islam dunia, Mesir menjadi tempat yang sangat kondusif untuk menghafal Al-Quran. Para mahasiswa bisa menyetorkan hafalannya kepada masyayikh di Masjid Al-Azhar atau masjid-masjid lainnya. Bahkan beberapa lembaga tahfizh memberi beasiswa bagi setiap anggotanya yang konsisten menambah dan menyetorkan hafalannya. Sebut saja halqah tahfzil qurn di Masjid Ummahatul Mukminin, Ramses, yang selain memberi makan siang setiap hari, juga memberi bantuan dana setiap minggunya. Namun, memang tak bisa dipungkiri, geliat menghafal al-Quran oleh mahasiswa Indonesia di Mesir boleh dibilang memble, jauh dari mahasiswa PTIQ Indonesia, bahkan santri-santri pondok pesantren. Terbukti dengan sepinya halaqah tahfizh dari wajah-wajah nusantara. Hal ini sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh kurikulum al-Azhar yang hanya mewajibkan satu juz per tahun bagi mahasiswa asing non arab, selain disebabkan karena para mahasiswa juga memiliki kegiatan lain, atau menghafal sendiri tanpa menyetorkannya. Tetapi jika mempertimbangkan realita yang ada, hafalan al-Quran satu juz pertahun tersebut masih jauh dari cukup untuk modal mahasiswa al-Azhar saat berjuang di Indonesia. Bukan hanya karena empat juz pertama dalam al-Quran hanya mencakup sedikit permasalahan syariat, namun juga karena geliat menghafal alQuran di Indonesia kini semakin marak. Standar hafalan al-Quran seorang pelajar agama semakin meningkat. Tak jarang di Indonesia ditemukan anak SD yang telah hafal empat juz, setara dengan alumni Al-Azhar yang hanya terpaku pada patokan kurikulum. Beberapa pemerintah daerah juga gencar mengadakan program menghafal al-Quran. Seperti program One Day One Ayat yang dicanangkan oleh Kabupaten Agam, Sumatera Barat untuk pelajar di daerah tersebut. Rendahnya antusias mahasiswa

Indonesia di Mesir untuk menghafal alQuran sebenarnya tidak terlepas dari geliat organisasi yang seolah bergerak tanpa henti. Roda organisasi masisir selalu berputar, tak terkait absen kuliah ataupun ancaman skorsing, meskipun tak ada sedikitpun penghargaan dari kampus untuk para mahasiswa organisatoris. Tak heran jika di musim panas sebuah organisasi baru akan menyelesaikannya tengah malam, bahkan ada yang selesai saat azan Subuh berkumandang, seperti kegiatan LPJ tahunan kekeluargaan ataupun Pemilu Raya Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir. Pusat kegiatan organisasi Masisir dan lokasi perkuliahan al-Azhar yang memiliki jarak cukup jauh turut berjasa dalam memadamkan semangat menghafal alQuran. Bukan hanya stamina, para mahasiswa juga harus mengorbankan waktu dan pikiran jika terlibat terlalu aktif

dalam berorganisasi. Sebaliknya, ada juga mahasiswa yang terlena dengan kemajuan teknologi. Jarang kuliah, tidak berpartisipasi dalam berorganisasi, namun hanya sibuk di depan komputer. Menonton film, facebookan, ataupun kegiatan dunia maya lainnya, namun menutup mata dari kegiatankegiatan akademis serta organisasi. Semua ini menjadi alasan untuk tidak menamatkan hafalan al-Quran selama menuntut ilmu di Al-Azhar. Semua halangan untuk menghafal al-Quran bagi masisir sebenarnya dapat dihindari dengan adanya manajemen waktu yang baik. Organisasi, menjalin komunikasi dengan keluarga di Indonesia dan rekreasi tentu saja penting. Tanpa berorganisasi, para mahasiswa akan kaku untuk berbaur dengan masyarakat dan sulit menjalin komunikasi. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka akan kesulitan mencari pekerjaan karena memiliki koneksi yang sempit. Berorganisasi juga membentuk watak menghargai serta memahami karakterkarakter manusia yang beranekaragam. Menjalin komunikasi dengan keluarga juga tak kalah pentingnya. Mahasiswa akan kehilangan semangat dalam menuntut ilmu saat rasa rindu dengan tanah air tidak

terobati. Perkembangan kampung halaman juga dapat diketahui melalui komunikasi dengan keluarga sehingga saat para mahasiswa pulang, mereka tidak akan merasa canggung dengan perubahanperubahan yang mungkin terjadi selama mereka menuntut ilmu di Negeri Seribu Menara ini. Akan tetapi saat terjadi ketidakseimbangan, maka hal tersebut akan jadi masalah.Faktanya memang ada beberapa mahasiswa yang hanya datang ke kampus untuk ujian dan menyelesaikan administrasi tahunan tanpa pernah mengikuti kelas perkuliahan. Ujung-ujungnya akan muncul pola pikir, Biar pas-pasan, yang penting najh. Padahal para mahasiswa membawa amanat dari keluarga, pemerintah, dan yang paling utama membawa amanah umat untuk menjalankan fardhu khifayah menuntut ilmu agama. Tak bisa dinafikan, pengaruh senior dalam membentuk paradigma seperti ini sangat kentara. Para mahasiswa yang baru datang biasanya akan dikenalkan oleh senior mereka kepada aktifitas organisasi masisir yang beraneka ragam sehingga para mahasiswa baru mengalami disorientasi. Padahal sejatinya kegiatankegiatan bersifat akademis tentu harus lebih diutamakan. Lebih berbahaya lagi saat estafet pengkaderan mahasiswa baru berpindah, pembentukan orientasi mahasiswa baru yang kurang tepat ini pun kembali terulang. Siklus disorientasi yang sebelumnya menjangkiti kembali diwariskan. Mahasiswa baru sudah dibebankan dengan tanggung jawab kepanitiaan dan keorganisasian sebelum mereka memiliki identitas pokok seorang Azhari yang mengenyam pendidikan dari dua sumber utama, yaitu Jmiatul Azhar (Universitas Al-Azhar) dan Jmiul Azhar (Masjid Al-Azhar/Talaqqiy). Adalah sebuah keharusan untuk kembali menggalakan kegiatan-kegiatan pokok seorang mahasiswa al-Azhar yang ideal dalam dinamika Masisir. Semua komponen masisir harus turut serta, terutama PPMI sebagai organisasi induk, serta kekeluargaan-kekeluargaan. Tujuan yang diharapkan adalah saat para mahasiswa pulang, mereka siap untuk segala kemungkinan dengan manhaj alAzhar yang mereka kuasai, serta kuatnya hafalan al-Quran yang mereka miliki. Menjadi Azhari yang benar-benar Azhari, Azhari penghafal al-Quran.

*Penum

Informatika

Edisi Magang Juli 2013

Halaman 3 Raya (PPR) ditunjuk oleh MPA PPMI, dengan salah satu kriterianya mahasiswa lama yang telah menetap di Kairo minimal 2 tahun. Mengutip perkataan Amrizal Batubara, Ketua MPA PPMI, kriteria ini dimaksudkan agar Ketua PPR memiliki pengalaman sehingga dapat membaca situasi dan kondisi kepanitiaan. Selain itu, diharapkan agar Ketua PPR cakap dan vokal supaya dapat mengkoordinir kinerja anggota kepanitiaan. Amrizal juga menegaskan bahwa PPR berdiri secara independen yang terdiri atas utusan dari tiap kekeluargaan, dalam artian pihak MPA tidak berhak intervensi setelah kepanitiaan terbentuk secara utuh. Tak ada sedikit pun campur tangan MPA dalam kepanitiaan ini, kita mengawasi dari luar saja, bukan dari dalam, karena mereka 'kan sudah punya SC (Starring Committee) dan Panwaslura (Panitia Pengawas Pemilu Raya), lanjut mantan Ketua DKKM periode 2011-2012. Sementara itu, Ketua PPR, Reza Jamna, mengaku bahwa sampai hari Kamis (18/7), ia masih menunggu kedatangan utusan-utusan tiap kekeluargaan. Mungkin pihak kekeluargaan sendiri masih sibuk, sampai lupa menunjuk delegasinya, ya, wallahualamlah, ujar Reza Jamna, mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Ia juga menjelaskan dengan mantap langkah-langkah yang akan dipersiapkan oleh panitia, seperti pendaftaran, pendataan serta penjaringan kandidat, lalu screening, debat kandidat dan pemilihan presiden yang baru. Insya Allah, Pemilu Raya akan dilangsungkan 1 minggu setelah LPJ PPMI, maka setelah diskusi dengan pihak MPA dan beberapa teman-teman, saya kira 15 orang cukup untuk membentuk kepanitiaan ini, lanjut mahasiswa asal Medan ini. Di akhir penjelasannya, dengan semangat dan penuh keyakinan pemuda berdarah batak tersebut mengungkapkan bahwa selaku panitia mereka akan berusaha untuk tidak menunjukkan sikap memihak kepada salah satu kandidat, karena pada dasarnya kepanitiaan mereka berada dibawah pengawasan Panwaslura. Menanggapi kesiapan PPR, Panitia Sidang Umum atau PSU PPMI yang diselenggarakan lebih awal mengaku tidak mau kalah dalam mempersiapkan kepanitiaannya. Ketua PSU, Miftah Firdaus, menegaskan bahwa acara ini akan dilaksanakan pada hari Ahad (28/7/2013). Kepanitiaan ini berjumlah hanya 16 orang, dengan tujuan untuk memudahkan koordinasi antar sesama panitia, ujar mahasiswa tingkat 1 Fakultas Syariah wal Qanun ini. Meski, akhirnya turun kabar pelaksana PSU akan ditunda sampai tanggal 13 Agustus. Mungkin berhubungan dengan kesiapan PPR yang masih menunggu utusan

kekeluargaan sampai saat ini, tutur Miftah lagi. Lantas, apa tanggapan presiden PPMI, Jamil Abdul Latief, soal pembentukan kepanitiaan pemilu raya ini? Ditemui di daerah Gami, kawasan Hay Asyir, Selasa (16/7/2013), pria asal Cirebon ini menghimbau seluruh Panitia Pemilu Raya agar memiliki kesiapan, kesungguhan dan netralitas, karena kepanitiaan ini berdiri secara independen. Yang jelas panitia harus menjaga netralitas dan supaya tidak ada kecenderungan kepada salah satu pihak, ujarnya. Semua Masisir berhak untuk mencalonkan diri atau dicalonkan, lanjut Jamil. Tetapi, menurutnya, nantinya kemampuanlah yang akan menentukan, apakah layak dicalonkan atau mencalonkan dirinya. Ia juga menekankan bahwa dirinya tidak memiliki kecenderungan kepada siapa pun, yang jelas semua kawan-kawan Masisir yang memiliki kemampuan, sudah tingkat 3 atau 4, maka dia berhak maju pada Pemilu Raya tahun ini.

Pada akhir perbincangan, mahasiswa tingkat 4 Fakultas Dirasat Islamiyah ini mengutarakan harapannya kepada para kandidat yang akan maju sebagai calon Presiden PPMI tahun ini, agar mempersiapkan niat yang baik, niat untuk berkhidmah dan niat untuk belajar berorganisasi. Selain itu, saat ini sejumlah nama mulai booming diperbincangkan maju sebagai kandidat Presiden PPMI, diantaranya Sekjen PPMI saat ini, Zulfikar Ganna Priyangga. Ia sendiri berpendapat bahwa keidealan seorang pemimpin tercipta atas dasar ketaatan beragama, mutlak mempunyai basic kepemimpinan dan dapat merangkul, serta menguatkan kawan-kawan Masisir dalam hal akademis dan skill. Tak bersikap terlalu tegang, dalam arti "Santai", dan bisa menjadi tolak ukur Masisir dalam (Ikhwan, Nisa', Zia) memecahkan problematika yang dihadapinya di berbagai lini, lanjut maha-

siswa asal Batang ini. Kriteria lain juga dilontarkan oleh Ketua WIHDAH, Tsaqofina Hanifah. Dalam pandangannya, seorang Presiden PPMI yang ideal harus bisa menempatkan diri dengan tepat. Berinteraksi dengan cakap dan seimbang dengan segala golongan, baik yang menyandang jabatan diatasnya, semisal para Staf KBRI, ataupun yang masuk dalam cakupan kepemimpinannya, layaknya para Masisir. Tentunya, ia juga dituntut pandai mengatur, memimpin dan mengarahkan para anggota PPMI, khususnya, dan seluruh Masisir, pada umumnya, agar seluruh aspek yang ada bisa bersinergi menciptakan sebuah kemaksimalan. Nama lain yang juga diprediksi akan mencalonkan dirinya sebagai Presiden PPMI periode 2013-2014 adalah Amrizal Batubara, Ketua MPA PPMI yang akan menyelesaikan masa baktinya tahun ini. Ia mengungkapkan kesiapannya untuk maju sebagai kandidat Presiden PPMI tahun ini. Iya, saya mau maju tahun ini, makanya saya cepat selesaikan masalah PPR ini, supaya nantinya tidak ada omongan, saya ikut intervensi dalam kepanitiaan ini, ujar mahasiswa tingkat 3 Fakultas Bahasa Arab asal Medan tersebut. Kemudian menurut Zulfikar Ganna Priyangga, yang namanya juga mencuat akhir-akhir ini sebagai kandidat Presiden PPMI, jika dirinya memiliki kesempatan untuk maju pada tahun ini, maka ia akan memusyawarahkannya dengan kawan-kawan terdekatnya dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangan saya yang pertama, disini saya sudah tingkat akhir, kemudian di Indonesia ada beberapa bidang yang sudah dipersiapkan untuk saya berkiprah disana, ujar mahasiswa tingkat 4 Fakultas Dakwah ini. Prediksi selanjutnya jatuh kepada Abdullah Muttaqin, mahasiswa tingkat 4 Fakultas Syariah wal Qanun. Ia mengungkapkan ketika ia memiliki kesempatan untuk maju dengan dukungan yang diberikan kepadanya, maka dirinya juga lebih memilih jalur istikharah untuk menentukan baik buruknya. Pada dasarnya, saya orangnya tidak terlalu ambisius untuk mencalonkan diri, akan tetapi apabila ada teman-teman yang mempercayai saya untuk maju, maka saya akan memikirkannya lagi dan akan kita istikharahkan, ujar Bendahara Umum Orsat ICMI Kairo ini. Dari ketiga prediksi calon Presiden PPMI ini, siapakah kandidat terkuat? Dan siapa Presiden PPMI selanjutnya? Biarlah waktu yang menjawab.

Edisi Magang Juli 2013

Lapsus

Mesir Kisruh, Masisir Belum Bergemuruh


membaik, karena bantuan internasional berdatangan, kepercayaan berhasil diraih kembali, currency juga menguat. Walau memang tingkat keamanan menurun, bahkan kelompok militan mulai melawan dengan kekuatan bersenjata seperti di Sinai, jelasnya. Kabar baiknya, sampai saat ini tak ada korban jiwa ataupun yang dirawat dirumah sakit dari WNI. Sekarang masih aman, mungkin kalau ada cuma terjebak dalam arus demonstrasi, jika keadaan demikian kita kirim bantuan. Alhamdulillah! Tak ada WNI yang sampai jadi korban ataupun dirawat di rumah sakit, imbuhnya. Ia juga menyampaikan bahwa kondisi WNI pertolongan untuk keadaan darurat. Kita mengadakan ronda malam rutin bekerja sama dengan DKKM. Home Staff disini ditugaskan langsung oleh Bapak Dubes untuk bergantian ronda malam, jelas Nur Salim yang juga lulusan al-Azhar tersebut. Ia menambahkan, untuk mempermudah Masisir mendapatkan akses ke KBRI, kini KBRI memiliki hotline yang bisa dihubungi 24 jam. Kita sekarang sudah beli nomor cantik yang bisa dihubungi 24 jam, di nomer 010 222 299 89, tambahnya. Selain masalah keamanan, akhirakhir ini Masisir mengalami masalah dalam perihal transportasi, terutama setelah massa pro Mursi berhasil menguasai Ramsis. Sejauh ini saya belum tahu lebih rincinya, yang jelas jalur transportasi jadi tidak seperti biasanya, tutur Jamil Abdul Latif, Presiden PPMI. Namun dari pantuan kru Informatika, kini daerah Ramsis sudah kembali normal dan segala sarana transportasi yang terhubung dari ramsis dapat digunakan seperti sedia kala. Adapun menurut Rida Amita (14/7), mahasiswi yang tinggal di Tahrir, ia dan teman-temannya terkendala masalah transpotasi karena bus nomor 926 dan 700 yang biasa lewat Tahrir ke Sabi' tidak bisa mereka temui. Jadi kita selalu pakai metro, ujarnya. Masih menurut mahasiswi asal Lampung ini, kondisi Tahrir relatif aman, meski sempat ada demo. Alhamdulillah, aman kok. Kemarin hari jumat (12/7) sempat ada demo, tapi gak terlalu besar sih, kata Rida. Menurutnya, warga Indonesia yang tinggal di Tahrir cuma 9 orang dan mereka berada di asrma Majlis Ala. Adapun mengenai wacana evakuasi, Nur Salim menilai hal itu belum diperlukan untuk saat ini. Ia menganggap keadaan sekarang cendrung lebih kondusif dibanding saat revolusi penggulingan Mubarak 2011 silam. Kalaupun diperlukan, evakuasi tidak harus dengan memulangkan WNI ke tanah air, namun cukup memindahkan mereka ke titik-titik yang lebih aman, mungkin ke negara tetangga Mesir. Nur Salim menilai, kondisi yang terjadi di Mesir saat ini tak akan mempengaruhi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Mesir. Hubungan akan berjalan seperti biasa. Hal ini karena Indonesia menganut setidaknya tiga asas dalam foreign policy (kebijakan luar negeri), yakni asas non interference, slogan thousand friends zero enemy dan politik bebas-aktif. Jadi apapun yang terjadi dalam sebuah negara, Indonesia tidak akan ikut campur. (Pangeran, Miftahuddin, Aisyah, Kamila) Edisi Magang Juli 2013

rahara perpolitikan Mesir tampaknya belum akan berakhir dengan lengsernya Muhammad Mursi, presiden Mesir pertama yang dipilih secara demokratis. Pihak militer yang telah mengambil peran penting dalam pelengseran Mursi kini harus berhadapan dengan masyarakat yang menolak pemakzulan ini. Hal ini mendapatkan perhatian dari dunia luas. Bahkan majalah Time dalam terbitan terbarunya menyorot khusus kisruh politik Mesir ini. Majalah Time menjadikan foto aksi demonstrasi yang dilakukan pro Mursi sebagai sampul depan. Di situ juga tertulis kalimat Worlds Best Protesters yang merujuk pada aksi damai para demonstran pro Mursi. Di sebelahnya tertulis Worlds Worst Democrats merujuk pada jeleknya sistem demokrasi yang dijalankan di Mesir. Tidak kurang dari satu juta massa hadir dalam aksi yang digelar pasca pelengseran Mursi. Sebagian kalangan menilai kondisi ini sedikit berbeda dengan revolusi penggulingan Husni Mubarak dulu. Dulu masyarakat bersatu-padu melengserkan pemerintahan otoriter. Kini pemerintahannya otoriter dalam lingkup agama, ungkap Kolonel Mar Ipung Purwadi, Atase Pertahanan (Athan) KBRI . Ia juga menambahkan bahwa Ikhwanul Muslimin (IM) belum punya pengalaman dalam memerintah. Dalam penilaiannya, lembaga yang bertugas menjalankan fungsi eksekutif terlalu banyak ikut campur dalam fungsi legislatif. Kegiatan yang ada selama masa kepemimpinan Mursi juga tampak seperti Ikhwanisasi. Ditambah ekonomi makin anjlok sehingga masyarakat tidak puas. Akhirnya memuncak lalu digulingkan (Mursi -red), tambahnya. Perbedaan suasana revolusi 25 Januari dan yang terjadi saat ini juga dirasakan berbeda oleh Dede Permana, mahasiswa tingkat IV fakultas Ushuludin. Ya, banyak sekali perbedaan tsauroh sekarang dengan yang lalu. Kita telah belajar dari tsaurah yang lalu dimana situasi dan kondisinya lebih mencekam. Namun demikian, sikon yang sekarang ini lebih tidak bisa diprediksi, apapun bisa terjadi. Sangat berbeda ketika dulu suara rakyat menjadi satu dan sekarang terpecah belah,tutur mahasiswa yang sering aktif di berbagai kepanitian ini. Walau secara kasat mata kerusuhan terjadi, namun ekonomi Mesir pasca pelengseran Mursi justru membaik, demikian menurut Ipung. Ekonomi justru

akan cenderung aman selama tidak terlarut dalam chaos ini. KBRI sejak awal memang sudah menghimbau kepada Masisir untuk menjauhi pusat-pusat konsentrasi massa agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Kita sudah himbau dalam maklumat KBRI, di antaranya agar tidak ikut dan memihak pada pihak yang berseteru, meningkatkan kewaspadaan, jelas Nur Salim, Wakil Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensosbud). Secara langsung, masyarakat asing memang tidak terlibat dalam kericuhan politik yang tejadi. Namun, Masisir harus semakin waspada dengan kuantitas tindak kriminal yang kini menunjukkan peningkatan. Terbukti kasus penodongan yang terjadi di kawasankawasan rawan makin meningkat, seperti di Port Said dan Suq Sayyarat di H-10. Dalam satu pekan bisa terjadi dua sampai tiga kali aksi kejahatan di tempat yang sama. Belum lagi aksi pembobolan rumah dan pengambilan harta benda yang ada di dalamnya. Menyiasati hal ini, KBRI menggalakkan aksi aktif melindungi WNI yang ada di Mesir, salah satunya dengan menyelenggarakan ronda malam untuk mengontrol keadaan dan memberikan

Lapsus

ayyidul ayyami yaumul jumuah, wa sayyidusy syuhuri syahru Ramadhan. Ramadhan, bulan penuh rahmah, maghfirah dan berkah, kembali menjumpai wajah-wajah Masisir yang sedang berdiam di Mesir. Meski kondisi Negeri Para Nabi ini sedang dalam kondisi labil secara politis, mereka masih sanggup mengadakan beragam acara, baik masif maupun non masif. Pengetahuan, keterampilan, etiket dan perilaku sebagai ciri Azhari tentunya masih melekat dalam ruh kegiatan-kegiatan tersebut. Salah satunya, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) cabang Kairo yang mengadakan MUCAB (Musyawarah Cabang) ke-XXIX untuk mengawali kegiatannya di bulan Ramadhan, selain juga Rihlah Santri Ats-Tsaqafiyah dan Pelantikan Pengurus Baru. "Kita adakan Sirah Ramadhan seputar ekonomi dan fikih, dengan narasumber dari salah satu home staf IKPM, serta Gema Takbir (Getar), " tutur Haidar, ketua IKPM. Adapun kekeluargaan, salah satunya dari Keluarga Pelajar Jakarta (KPJ). Menurut Ketua II KPJ, Subhan, kekeluargaannya mengadakan buka bersama dan tarawih keliling sebagaimana sudah menjadi rutinitas tahunan warga Jakarta di sini. Berbeda halnya dengan Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB), di bulan suci ini mereka mengadakan Tarhib Ramadhan sebagai kegiatan pembuka menyambut Ramadhan dan Nuzulul Quran, serta kajian rutin mingguan. Demikian terang Wahyudi Apud yang tengah menempuh program pasca sarjana jurusan Syariyah Islamiyah di Islamic Studies Institute Zamalek. Beda halnya dengan yang dilakukan ormas di sini, semisal Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM). Mereka tidak mengadakan acara istimewa di Ramadhan ini selain kegiatan reguler. Tidak lain karena situasi Mesir yang kurang kondusif dan kesulitan Masisir, khususnya para penggerak organisasi, dalam memobilisasi kegiatan Ramadhan secara masif. Namun demikian, Pelatihan Falak masih tetap diselenggarakan oleh Kajian AFDA PCIM bagi rekan-rekan MAWAR ICMI, serta ada rencana mengadakan program Baca Turats, yang merupakan salah satu kegiatan organisasi PCIM. Adapun visi acara ini, Memantapkan peranan dan tujuan sebagai pembelajar muslim, sebagai bekal di masyarakat Indonesia khususnya dengan kualifikasi yang memadai dalam pembinaaan umat dan pemberdayaan masyarakat, kader, serta simpatisan," ujar Nuhdi Febriansyah, mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat asal Kemas ini, selaku KetEdisi Magang Juli 2013

Dinamika Ramadan Masisir, Melaju Tanpa Halang


ua Umum PCIM cabang Kairo. Tak kalah, dari Lembaga Ikatan Persaudaraan Qori/Qoriah Indonesia (LIPQI) turut mengadakan Daurah Tajwid dan Matan Jazariyah edisi Ramadhan dua kali pertemuan seminggu. Tak ketinggalan, sebagian Masisir juga mengikuti kegiatan tahfidz di Helwan. Salah satunya, Daurotu ahli al-Quran al-Karim al-Mukatstsafah yang dipimpin langsung oleh Syaikh 'Adil Al -Fanjary. "Daurah tahfidz dengan target hafalan tiga puluh juz ini memang khusus diadakan pada musim panas dalam kurun waktu dua bulan, berpatokan pada bulan Ramadhan," tutur Qalbi, peserta tahfidz. Qalbi yang berasal dari Sulawesi Selatan itu juga menuturkan kegiatan daurah tahfidz memang berpatokan dengan bulan Ramadan dan saat ini diikuti oleh delapan orang mahasiswa dan lima belas orang mahasiswi asal Indonesia. Meski dilaporkan oleh banyak media massa, baik secara cetak maupun visual, atas kondisi Mesir yang dikharahim antar Masisir agar saling mengenal dan mengingatkan dalam beribadah. Dinamakan Mirah karena marah (Perempuan) dengan mirahnya saling berkaitan, dan mirah yang berarti kaca sebagai kaca motivasi diri supaya lebih baik setiap harinya, ujar Lailatul Qudsiah, Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dari kekeluargaan KPJ Sedangkan PPMI sendiri, menurut Jamil Abdul Latief, Kalau kegiatan PPMI di bulan Ramadhan sejauh ini kita cuma membantu panitia UPT dalam melaksanakan beberapa kegiatan Ramadhan. Cuma karena sebentar lagi mau LPJ, tanggal 28 Juli, nah, mungkin lebih cenderung kepada persiapan LPJ, tutur Jamil. Ia juga mengapresiasi kegiatan-kegiatan Masisir yang telah terselenggara sebelumnya, seperti Dialog Timur TengahSuriah yang diangkatkan oleh Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (Pwk. PII) di Gami. Namun di tengah kesibukan mahasiswa tersebut, tampak sebagian kecil yang juga sibuk berkhalwat dengan bantal kesayangannya. Menurut Jamil yang mempunyai nama lengkap Jamil Abdul Latief tersebut, "Ya, kalau ada perkataan tidur di bulan puasa itu baik, apalagi orang yang berbuat dan berfikir dan mempunyai kegiatan (lebih baik, red.). Artinya, kalau ada waktu yang bisa dipergunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, lebih bagus dimanfaatkan, imbuh . pria berbadan besar ini. Masih menurut Jamil, disini banyak kegiatankegiatan, misal baca Quran atau Itikaf, ketimbang waktunya lebih banyak untuk istirahat saja. Karena semua ibadah di bulan Ramadhan dilipat gandakan, alangkah baiknya kalau kegiataan kita selama di bulan Ramadhan tidak hanya untuk istirahat saja, tapi mungkin juga otak kita kita pakai untuk berpikir, lisan kita pakai untuk baca al -Quran. Akhirnya, dua pesan yang disampaikan oleh mahasiswa Ushuluddin yang juga menjabat sebagai Presiden PPMI tersebut, pertama, manfaatkan waktu ketika kita dipertemukan Ramadhan agar bisa mendapatkan pahala dari Allah SWT. Kedua, Ramadhan merupakan cerminan dari muka kita untuk menahan emosi, sabar, menahan diri kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah, maka dengan hal semacam itu menjadi wadah untuk pencarian jati diri kita dan wadah untuk menemukan siapa diri kita apa kita sudah termasuk hamba yang benar-benar diinginkan oleh Allah sebagai hamba yang baik atau belum. "Yah, intinya waktu instropeksi kita bulan Ramadhan ini lah," tutur Jamil. "Aku kira bisa dilihat selama satu bulan kedepan," sambungnya lagi. (Assa, Hielya, Farah).

watirkan semakin memanas, tetapi dinamika Masisir tetap melaju tanpa halang. Begitu pula organisasi-organisasi induk Masisir seperti PPMI dan WIHDAH. WIHDAH misalkan, menyajikan lima rangkaian kegiatan berurutan, yaitu Kajian Literatur Muslimah Problematika Wanita dari Perspektif Fikih dan Ilmu Kesehatan dengan narasumber Ustadzah Dhorifah Niswah, Lc. Dipl. dan Ustadzah Lathifah, di Aula Limass Kemas (9/7) sebagai pembuka acara bulan Ramadhan. Seminar juga diselenggarakan guna menyambut bulan penuh hikmah ini lewat taushiyah seputar puasa Ramadhan. Berlanjut setelahnya, perlombaan MTQ, MHQ, salawat dan CCQ (Cerdas Cemat Quran) diselenggarakan guna menggali potensi Masisir. Sementara itu juga akan diadakan peringatan malam Nuzulul Quran, serta iktikaf bersama di Masjid Bilal, Awal Abbas dan Halal bi Halal sebagai penutup acara. Tujuan diadakan acara ini, sesuai dengan namanya "Mirah", yaitu memantapkan ibadah fardiah, secara individual dan berjamaah, bersama WIHDAH. Kemudian untuk menjalin silatu-

Wawancara

Irwan Kelana :

Pahami Ideologi Media!

ewasa ini pengetahuan tentang jurnalistik mutlak dibutuhkan. Selain menyajikan suatu informasi, sebuah media massa juga berfungsi menebar propaganda dan ideologi melalui berita yang ditulis. Dalam hal ini media massa bagai pisau bermata dua yang akan berguna jika benar pemanfaatannya. Namun, justru sangat berbahaya jika disalah gunakan oleh para oknum tak bertanggung jawab. Demikian fungsi kontrol sosial media harus dijalankan sebagaimana mestinya. Selanjutnya, di sini kami sajikan petikan wawancara tentang peran media massa bersama Irwan Kelana, redaktur senior Koran Repulika, salah satu koran nasional terbesar di tanah air. Selamat membaca.
Apa kiat mengetahui ideologi sejumlah media agar tak mempengaruhi ideologi kita? Coba baca atau ikuti isu-isu yang diangkat oleh media-media tersebut dalam sekian hari. Selama itu perhatikanlah isu yang sama, misalkan kasus korupsi PKS, atau kasus Century, menurut media-media lain, mulai Tempo, Kompas, Media Indonesia, Republika, Viva News dan sebagainya. Coba lihat cara penulisan berita, angle yang diangkat, nanti akan kelihatan arah masingmasing media tersebut. Jika satu media dianggap netral dalam masalah ekonomi, tapi dalam masalah politik ia memihak pemerintah, partai atau golongannya, atau malah sebaliknya politiknya netral, namun dalam ekonomi tidak, bagaimana pendapat Bapak? Biasanya, kalau kita ingin mencari ideologi suatu media, lihatlah berita yang berkaitan dengan masalah politik. Karena dalam masalah ekonomi, biasanya berita di semua koran akan sama, misalkan berita ekspansi Semen Padang ke Jawa Timur, kalau kita lihat di semua media, Tempo, Republika, Jawa Pos, dan sebagainya, pasti beritanya sama. Tidak ada kepentingan politik di situ. Tapi jangan lantas cuma baca satu koran saja. Lanjutkan dengan membaca koran lain. Yang terpenting kita sudah tahu ideologinya, sehingga kita tak terpengaruh karena kita sudah tahu ideologi koran A tersebut. Termasuk media yang setahu kita tracknya tergolong anti Islam. Ada perkataan orang, saya ini musuhmu karena saya menunjukkan kekuranganmu, sehingga dia menjadi waspada. Misal dalam kasus korupsi partai Islam. Ya, korupsi itu salah! Artinya, tidak kita lihat korupsi itu dari partai Islamnya, tetapi yang tidak kita mau adalah jangan sampai perlakuan mereka tidak fair, artinya kasus korupsi yang lain juga harus dipandang sama di mata hukum. Memang, korupsi oleh satu orang di partai Islam tetap salah, tapi jangan karena satu orang korupsi, lalu seluruh orang dalam partai dibenci. Tapi, kalau berita ekonomi secara umum sama, kecuali dalam isu-isu tertentu, contoh sebuah media di Jakarta yang pro pemerintah. Kalau berbicara pertumbuhan ekonomi selalu baik. Misal, pertumbuhan ekonomi kita sekarang ini baik, diatas 6%. Kelas menengah kita diatas USD 3.000 per tahun. Sangat baik, tapi jangan menutup mata, ternyata orang miskinnya juga banyak. Nah, kalau media itu kritis, kita akui besarnya jumlah kelas menengah kita sekarang, mungkin ada seratus juta lebih yang pendapatannya diatas USD 3.000, tapi kita jangan lupa masih ada orang ekonomi, namanya si A, pemerintah tidak mau menatap orang-orang miskin. Sampai sekarang masih ada 40 juta orang-orang miskin. Kita sebutkan fakta sekaligus kekurangannya. Kemudian kita kasih saran juga, misalkan pemerintah harus memperbanyak pembangunan infrastruktur, terutama jalan dan pertanian, supaya akses lebih banyak. Misalkan di daerah, orang mempunyai hasil pertanian bagus, tapi mau dijual keluar susah karena jembatannya kecil tidak muat mobil dan ia harus memikul jarak jauh sehingga telat sampai di pasar. Tapi, kalau jalan dan jembatan dibangun, begitu panen, hasilnya bisa langsung dibawa ke kota dan bisa menghasilkan uang. Jadi jangan membenci orang. Apa yang sebenarnya kita inginkan? Kita ingin menghujat pemerintah atau ingin masyarakatnya makmur? Jadi, ini kelebihan, ini kritikan, dan ini saran. Pertikaian di sini sangat mencolok antara pro dan kontra pemerintah, termasuk dalam pemberitaan. Bagaimana mengomparasikan berita-berita di sini dengan pemberitaan di Indonesia yang sering kali sangat berbeda dengan fakta? Dalam hal ini kita memahami ideologinya dulu, ini Koran A, B dan C yang anti pemerintah, Koran D dan E yang pro pemerintah. Tapi maksud saya disini, kalau orang yang paham ideologi pasti paham kalau Koran yang pro pemerintah pasti mendukung pemerintah, dan kalau yang anti pemerintah pasti bilang pemerintah itu jelek. Tapi coba lihat yang di koran-koran anti pemerintah, kadang-kadang fakta juga. Artinya, ternyata pemerintah juga masih banyak kekurangannya. Misal pertumbuhan ekonomi baru 4% atau negara masih punya hutang atau negara penghasil minyak, namun sering mati listrik dan sebagainya. Itu kan fakta, meski menyampaikannya karena ada tendensi tertentu, tapi itu tetap kebenaran. Itulah yang kita ambil. Apa pesan Bapak sebagai motivasi untuk kami para pemula? Motivasi buat teman-teman, khususnya teman-teman pengelola media di Mesir, jadikanlah ini sebagai media latihan sebaik-baiknya, jangan berpikir, ah, ini cuma media komunitas. Ah, sekedarnya Kalau jadi wartawan, liputlah dengan cara Edisi Magang Juli 2013

miskin. Dari 240 juta orang ini, mungkin seratus juta nasibnya baik, namun bagaimana nasib yang lima puluh juta lainnya. Jadi kita tetap mengakui keberhasilan pemerintah, tapi kita juga kritisi kekurangannya. Bagaimana jika kita tahu fakta sebuah berita, namun kadang kita takut untuk mengkritisi pihak yang terkait. Bagaimana cara kita mengkritik tanpa menyakiti perasaannya? Mungkin iya kalau di lingkup yang lebih kecil di Mesir saat ini, seperti pihak KBRI, dan sebagainya, atau kampus, perlu diperhatikan. Tapi kalau di Indonesia, lingkupnya nasional, kita gak perlu takut. Asal ada fakta dan jangan ada opini kita masuk. Misalkan kita tak suka pemerintahan SBY lalu kita katakan pemerintahan SBY jelek. Jangan! Tapi kita katakan bahwa walaupun menurut Menteri Perekonomian, ekonomi negara sangat baik, pertumbuhan perekonomian 8%, tingkat kelas menengahnya sangat besar, tapi kata pengamat

10

meliput yang benar, tulislah berita dengan sebaik mungkin, sehingga terbayang orang bilang, oh saya kerja sebagai wartawan Kompas, Tempo, Republika, tulisan saya standarnya tulisan Abdurrahman Dulu, dia di Mesir bisa menulis di Kompas, saya juga bisa menulis yang sama. Semangat itu yang dimiliki. Kalau sudah berhasil seperti itu, suatu saat kita melamar akan gampang. Jadi, jangan remehkan media komunitas. Kemudian bagi redaktur, belajarlah jadi redaktur terbaik, judul yang bagus, ngedit yang bagus. Capek sedikit gak papa, buat latihan kita. Kalau perlu ganti judul, ganti judul. Kalau perlu potong naskah, ya, potong. Kalau naskah 4.000, ya, 4.000, kalau sampai 6.000, berarti harus potong 2.000. dan harus sebaik mung-

kin motongnya supaya tak kehilangan intinya. Kemudian kita lengkapi dengan grafis, gambar, ilustrasi dan sebagainya. Kita bayangkan ini media terbagus, sehingga ketika dijejerkan, misalnya Informatika dan Terobosan, dengan Republika tak kalah. Ini kelasnya nasional juga. Itu untuk bidang jurnalistik.

biasa, ya, mungkin tanpa disadari. Padahal kalau Anda mau jadi penulis, jadi pembicara atau apa pun, anda akan menjadi tokoh -tokoh yang luar biasa. Jangankan nanti, sekarang pun sudah dihargai betul. Jadi miliki semangat itu dan manfaatkan potensi itu agar memberi manfaat sebesarbesarnya bagi masyarakat. Di mana pun anda berada, mari jadi orang yang berIngat, Anda adalah orangorang yang mempunyai potensi manfaat bagi masyarakat. Itu motivasi saya datang ingin berbagi ilmu. Saya ingin berluar biasa, Ya, mungkin tanpa disadari manfaat, karena kalau dari pelatihan seperti ini, lahir satu saja penulis besar, atau Adapun untuk masuk Indonesia wartawan yang hebat, itu udah dampak secara keseluruhan, ingat, anda adalah luar biasa. Apalagi lahir banyak penulis orang-orang yang mempunyai potensi luar besar, wartawan besar.(Fawatih)

Aktualita

Dubes Gelar Safari Ramadhan Bersama Gamajatim


Gamajatim, Maulidatul Hifdziyah mewakili pelajar mahad mengeluhkan sukarnya legalisasi dokumen pendidikan di Mesir, khususnya ijazah mahad. Terakhir, Ali Wafi, DPO Gamajatim, bertanya mengenai hubungan staf KBRI dan WNI di Mesir serta kerja sama Indonesia dengan Mesir di bidang pendidikan. Dubes Nurfaizi dan stafnya pun tampil menanggapi pertanyaanpertanyaan tersebut. Adapun untuk keamanan WNI di Mesir, pertama KBRI menyebarkan selebaran dan himbauan kepada para WNI agar jangan ikut campur urusan dalam negeri Mesir. Boleh dipelajari, tapi jangan dikomentari! tutur Dubes. Selain itu, KBRI juga membuat jadwal piket di Konsuler Nasr City yang bisa dihubungi selama 24 Jam. Kemudian juga menghimbau para WNI agar membawa paspor dan kartu identitas jika bepergian. Adapun mengenai channel study alumni al-Azhar setelah pulang ke Indonesia, Nurfaizi mengatakan bahwa sekarang ini banyak sekali universitas di Indonesia yang membutuhkan alumni alAzhar, salah satunya UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) Solo. Menurutnya, rektor UNS sempat menawarinya agar mengirimkan para alumni al-Azhar untuk mempelajari Ekonomi Syariah di sana dan akan memperoleh predikat MM. Kebetulan, saat ini 30.000 bank di Indonesia sedang membutuhkan 300 ribu pegawai Bank Syariah, ungkap pria berumur 66 tahun ini menirukan perkataan rektor UNS. Akhirnya, acara ini ditutup dengan sesi foto bersama, Staf KBRI dengan warga Gamajatim. (Fawatih).

abtu (20/7), Konsuler KBRI Nasr City. Menyikapi situasi terkini Mesir yang relatif labil, KBRI Kairo berinisiatif gelar buka puasa bersama Keluarga Masyarakat Jawa Timur (Gamajatim) Mesir. Acara yang dihadiri oleh Dubes KBRI Kairo Nurfaizi Suwanto turut menghadirkan staf KBRI lainnya, seperti Atase Pendidikan Fahmy Lukman, dan Fungsi Penerangan, Sosial dan Kebudayaan, Dahlia Kusuma Dewi, serta beberapa staf Konsuler, seperti Nugroho Yuwono Aribhimo dan Cecep Taufikurrahman. Acara yang dihadiri oleh warga Gamajatim, baik mahasiswa berkeluarga maupun mahasiswa biasa, ini bertujuan mempererat jalinan silaturahim dan pada gilirannya nanti akan jatuh kepada kekeluargaan lain. Dalam sambutannya, Nurfaizi menghimbau para WNI di Mesir agar tak ikut campur urusan dalam negeri Mesir, termasuk komentar dalam Facebook. Menurutnya semua informasi sekarang bisa disadap, termasuk dari handphone dan jejaring sosial. Dikhawatirkan, hal ini nantinya akan pengaruhi hubungan diplomatik antar negara. "Ini Republik Arab Mesir, bukan Republik Indonesia. Mesir punya pemerintahan sendiri, angkatan

bersenjata, undang-undang dan tata cara sendiri. Kita bertamu ke sini buat belajar untuk pulang ke Indonesia, boleh pelajarari situasi, tapi jangan beraksi," tutur Nurfaizi. Ia juga menyayangkan pembatalan tes masuk al-Azhar oleh Kemenag karena bisa mengurangi regenerasi ulama Indonesia di masa mendatang. Selain itu, jika dibatalkan, hal ini akan berpengaruh buruk terhadap hubungan Indonesia dengan pihak al-Azhar ke depan. Pihak KBRI sendiri telah meminta Sekjen Kemenag agar meninjau ulang keputusan tersebut karena kondisi Mesir aman. "Malammalam saya telpon Sekjen Kemenag, di sini aman, gak usah khawatir! Dan Ahad besok mereka akan rapat dan hasilnya bisa kita lihat hari Senin," ujar Dubes. Setelah berbuka dan salat maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara mahasiswa dengan KBRI. Maju Sekretaris Gamajatim, Ariq Khudloni, menanyakan upaya KBRI untuk keamanan WNI di Mesir dan channel study alumni al-Azhar. Kemudian Mubarok Ahmad, Bendahara Gamajatim, menayakan tentang sugesti pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut GDP, dilanjutkan oleh anggota keputrian

Edisi Magang Juli 2013

11

Dinamika

Permainan Jiwa
Oleh : Umar Abdulloh *
Silahkan jawab dalam hati. Sekilas, soal itu hanya memperlihatkan sejauh mana tingkat toleransi kita. Padahal, Isamu Saito sengaja tidak menghadirkan pengendara lain sebagai manula misalkan, atau seorang ibu hamil, karena dalam hal ini, penulis dan saya sendiri juga lebih setuju pada pendapat Rousseau bahwa aslinya manusia itu welas asih. Dengan menyajikan manula atau bumil, jawaban pertama pembaca pasti: langsung mempersilahkan duduk. Tapi dengan kata pemuda/pemudi yang bermakna sebaya, perlahan tapi pasti, pembaca digiring untuk bagaimana dia bereaksi dalam relasi antar sekitarnya dan konsekuensi yang diambil. Langsung duduk tanpa segan, misalkan. Orang yang menjawab ini, mengerti apa yang dia mau dan apa yang bukan. Pengalaman bejibun telah mengajarkan, sangatlah tidak masuk akal untuk menderita uensi yang akan dihadapi. Perhitungan untung-rugi. Keseimbangan. Dan pertimbangan tersebut tak melulu terbatas pada objek materiil, tapi begitu juga dalam humanisme (sudut psikologi). Aksi dan reaksi, serta sikap yang kita berikan kepada lawan bicara, sejenis atau lawan jenis. Semuanya berdasarkan alam bawah sadar. Di mana alam bawah sadar merupakan proyeksi pengalaman seseorang yang sangat berkesan dalam, selanjutnya mempengaruhi pola dan tindak pikir. Seseorang yang berkemampuan analisa gaya berpikir dan sifat seseorang, lantas mendeduksi respon terbaik dalam berbicara atau bersikap kepada mereka, rentan memiliki daya manipulatif terhadap sesama. Dengan mudahnya dia dapat mengendalikan tendensi yang paling cocok dalam segala sesuatu. Jung menyebutnya sebagai Persona. Meski hampir semua orang memiliki Persona majemuk, bukan sekedar tunggal. Entah dia cakap menilai orang atau tidak. Tentu karena manusia cenderung memilih jalan pendekatan yang mereka nilai baik dalam mengambil atau menyatakan sesuatu. Cuma mereka yang dilabeli maksum olehNya dan orang-orang bijak saja memiliki kapabilitas untuk mampu mengukuhkan ideologi selaras dengan idealisme dan realisasi, tidak goyah dalam tindakan, dan benar-benar pantas menanggung amanah sebagai sosok pemimpin yang ideal. Ah, andaikata banyak orang seperti itu, dan mereka benar-benar berani untuk mengenal dan dikenal, pastinya masyarakat di sekitarnya bakal berubah. Masisir, contoh kecilnya. Saya acapkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan Kokologi kepada beberapa orang, untuk mengenal kepribadiannya lebih dalam. Seperti soal di mana pada suatu pesta atau perkumpulan, anda diwajibkan untuk duduk di antara tiga kursi: kiri, tengah, atau kanan. Mana di antara kursi tersebut yang anda rasa paling nyaman untuk diduduki, dan kira-kira apa warna tersebut? Mereka yang memilih tengah, didominasi dengan tipikal sosialis yang enggan bekerja sendiri. Sedangkan warna yang dipilih adalah bakal penentu hasrat bawah sadarnya untuk menjadi apa dalam perkumpulan tersebut. Merah bermakna pecinta kerjasama, harmonisasi dan konsolidasi. Pink memiliki rasa solider dan kesetiaan yang kuat, dan banyak makna dari warna lainnya. Dalam dunia yang penuh permainan jiwa ini, kita memilih mau jadi apa, bagaimana dan untuk apa? Pemain, atau yang dipermainkan? Jangan biarkan pertanyaan konyol ini terbuang bersama gugur dedaunan.

iantara sekian buku psikologi yang berjejer di etalase utama Gramedia untuk bukubuku terbaru, cuma yang putih, tebalnya tidak seberapa, tapi dihiasi dengan warnawarna dasar mencolok mata, serta beberapa aksara kanji Jepang yang waktu itu satusatunya buku yang meningkatkan rasa penasaran saya. Judulnya Kokology. Tujuh tahun silam, umur peristiwa itu. Kejadian yang memaksa saya untuk selalu memandang seseorang bukan dari sekedar kulit . Selang beberapa bulan setelahnya, di tempat yang sama, edisi kedua muncul. Kali ini warnanya kuning. Sedikit lebih tebal dari edisi sebelumnya, tanpa ragu saya langsung merogoh dompet. Beruntung masih ada sisa beberapa lembar rupiah bergambar pemetik teh. Sampai di rumah, buku tersebut saya cerna dan menikmatinya perlahan. Kokology, percampuran dari bahasa Jepang dan Latin. Kokoro, yang berarti jiwa atau semangat, dengan logos alias penelitian atau ilmu. Kedua pengarangnya, Tadahiko Nagao dan Isamu Saito, masingmasing adalah professor dan ahli jiwa tersohor di Universitas Rissho dan Waseda, Jepang, banyak mengambil analisa serta teori dari para bapak psikologi modern, Freud dan Jung. Terutama karena teori alam bawah sadar mereka. Kasus-kasus yang diangkat dalam kedua buku itu masih sama. Bagaimana mengetahui pola dasar pemikiran atau reaksi manusia terhadap segala sesuatu, yang sekiranya remeh sekalipun. Hubungan lawan jenis, masalah relasi, pekerjaan, corak kecerdasan, kecenderungan justifikasi, dan banyak lainnya. Buku tersebut tidak bercerita, tetapi kumpulan dari pertanyaanpertanyaan yang ditulis halus untuk mengajak alam bawah sadar para pembaca mencuat ke permukaan. Dari awal pembukaannya saja, editor sudah mengingatkan, Lebih seru kalo buku ini dibaca berbarengan. Dua orang, bahkan lebih!. Tetapi yang lebih berkesan adalah pesan dari si pengarang sendiri, Jawablah dengan jujur dan apa yang pertama kali muncul di benak anda. Soalnya mudah saja. Semisal, bayangkan anda mengendarai bus atau kereta bawah tanah, lantas mendapati sebuah kursi kosong. Anda pun bergegas untuk duduk di sana. Pada saat itu juga, seorang pemuda/pemudi lain (sesuai dengan gender anda) juga berjalan ke sana dengan niat yang sama. Mana yang akan anda lakukan di antara tiga opsi ini: dengan tidak segan segera duduk di kursi tersebut, segera mempersilahkannya, atau melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan?

demi orang lain, jika akibatnya ditanggung sendiri. Dengan kata lain, dalam meniti hidup, tidaklah salah untuk menyakiti hati beberapa orang. Pertimbangannya ambisi dan ego. Langsung mempersilahkan yang lain untuk duduk. Tidak lain karena dia terlalu cemas akan pendapat orang lain terhadapnya. Dia selalu menginginkan orang lain menganggap dirinya baik, indah, bagus, sehingga dia pun berlaku demikian. Orangorang di sekitar pun menyebutnya easy going. Padahal aslinya, dia kurang memiliki pendirian. Hampir tiap kali dalam sebuah kesempatan kompetitif, dia rela menjadi tumbal agar yang lain semakin maju. Yang terakhir, melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan. Pada titik ini, anda pasti sudah bisa menebak, apa maksud jawaban ketiga ini dalam perspektif Kokologi. Ya, mereka yang menjawab ini, selalu melihat sesuatu dengan garis besar. Yang memilih jawaban ketiga selalu mempertimbangkan perasaan atau pemikiran orang lain sebelum mengambil konklusi. Tentu, karena dunia tidak berputar di dirinya saja. Meskipun, kerugian yang ditanggung adalah keputusannya sendiri. Dalam menjalani hidup, manusia penuh dengan pertimbangan. Atas konsek-

*Editor Informatika

12

Edisi Magang Juli 2013

Sastra

Makam Kesedihan
Oleh: Abdul Wahid Satunggal*
guburkan kesedihan berubah menjadi senang dan bahagaia. Tak jarang setelah keluar dari area makam, mereka tertawa riang. Terkadang malah ada yang tergesagesa menguburnya, -yang seperti itu ingin segera kembali bahagia seperti semula. Kesedihan tidak lagi menjadi beban hidup yang menyengsarakan. Setiap orang yang memiliki kesedihan pasti datang ke makam itu. Sesuatu yang terdengar aneh tapi benar terjadi. Apakah jomblo-jomblo itu tidak sendiri lagi? Oh, tidak begitu Mas. Makam ini cuma bertugas mengubur kesedihan saja. Mungkin si jomblo akan bahagia, tapi belum tentu dia dapat pasangan. Sejak kapan orang jomblo bahagia Pak?. Sejak pulang dari sini hingga beberapa hari yang akan datang. Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi antara penunggu makam dengan pendatang baru. Biasanya Dengan berat hati Pak Juru Kunci tidak mengizinkannya masuk. Ia malah membawa gadis itu ke sebuah taman untuk dimintai keterangan perihal kesedihannya. Barangkali kesedihan itu bisa dikubur tanpa harus menyertakan jasad. Apakah sebetulnya yang sedang dialami gadis itu? Kesedihan macam apa yang membuatnya rela mengubur jasadnya hidup-hidup? berbagai pertanyaan aneh muncul di kepala Juru Kunci. Segala macam kesedihan yang biasa dialami gadis seuisnya telah ditanyakan. Tapi tak satupun dari kesedihan itu mewakili kesedihan yang dialam si gadis. Juru Kunci itu pun mulai bingung, sementara gadis itu terus menggeleng bertanda bahwa kesedihannya bukanlah kesedihan biasa yang dialami para gadis. Sehingga dengan tegas ia nyatakan bahwa kesedihan itu dia sendiri dan harus sesegera mungkin menguburkannya agar ia menemukan bahagia. Tapi siapa yang percaya dengan argumen gadis itu. Argumen yang sulit diterima akal sehat. Bagaimanapun kesedihan pasti ada sebabnya dan tidak selamanya manusia akan hidup dalam kesedihan. Pak Juru Kunci itu mulai gelisah. Sementara si gadis terus memaksa agar cepat ia dikuburkan. Senja sudah mulai berpendar, cahyanya menyatu bersama mata gadis yang kembali berair. Hari mulai gelap. Gadis itu belum juga mau memberikan alasan sebab kesedihannya. Dengan puncak kebingungan yang mendera, Juru Kunci itu membawanya pulang ke rumah. Dia berjanji jika esok gadis itu telah diketahui jenis kesedihannya maka dia diperbolehkan masuk ke area makam dan dengan terpaksa membantunya menguburkan diri hiduphidup. Keesokan harinya gadis itu sudah bangun pagi-pagi buta. Ia duduk bersandar di beranda rumah yang persis menghadap ke area makam itu. Terlihat makam-makam berukuran kecil berjejer seperti gundukan tanah yang dibikin anak-anak kecil saat bermain. Dia menghadap dengan mata yang polos. Sementara angin pagi yang sejuk sesekali menghembus hingga menerpa pipinya yang pucat. Pak Juru Kunci akan membawa masalah ini ke kantor kelurahan. Ini perkara nyawa Buk! Istrinya tidak menanggapi apa-apa. Dia terus menghidangkan makanan sambil matanya memandang suaminya dengan tatapan aneh. Saya harus ke Pak Lurah sekarang. Istrinya tidak juga menanggapi, ia sedang berfikir, siapa gerangan gadis itu? Dan gadis itu melamun seperti

enapa setiap hari orang datang berduyun-duyun ke makam itu? siapa yang meninggal? apakah presiden wafat?. Tak satu pertanyaanpun mendapatkan jawaban. Mereka tidak sedang mengiring jenazah, presiden kita juga masih hidup, mereka hanya datang untuk mengubur kesedihan. Tentu berduyunduyun, karena kesedihan di negeri ini terus meningkat.. Mereka datang bersama kendaraan masing-masing. Ada yang membawa mobil, motor, becak bahkan sepeda. Jarak makam yang terletak di pinggiran bukit sulit ditempuh dengan jalan kaki. Orang-orang harus memakai kendaraan, sekitar dua kilometer dari jalan raya. Disamping itu kendaraan juga berfungsi untuk menampung kesedihan yang mereka bawa. Kesedihan yang sudah terikat dengan kain hitam laiaknya jenazah yang siap disemayamkan. Kesedihan yang bermacammacam, orang-orang kaya biasanya paling banyak membawa kesedihan dan paling aneh bentuknya. Kain kafan hitam yang membungkusnya bisa dibeli di toko-toko dengan berbagai macam bentuk dan harga. Terkadang kesedihan itu sebesar bagasi mobil. Terkadang juga hanya sebesar kantong plastik seperti yang biasa dibawa oleh orang-orang miskin dengan mengendarai sepeda ontel. Kesedihan mereka tidak macam-macam, bentuknya pun sederhana. Biasanya kesedihan itu berupa kemiskinan yang belum juga lenyap dari hidupnya. Yah, sembilan puluh sembilan persen, kesedihan yang dibawa orang-orang miskin hanya soal urusan perut. Adapun kesedihan orang kaya seperti yang disebutkan diatas, disamping aneh juga membingungkan. Susah diperinci di sini. Bagaimana komplek kesedihan itu bisa hadir di tengah masyarakat. Siapa yang merintis pertama kali? dibangun tahun berapa? sampai sekarang tak seorang pun tahu seluk-beluk makam itu. Semua terjadi secara tiba-tiba dan turun-temurun. Awalnya hanya dipakai oleh masyarakat sekitar bukit, dan seiring berjalannya waktu kabar tentang makam kesedihan itu menyebar ke seluruh penjuru negeri. Makam selalu ramai setiap hari, terutama di malam minggu, para remaja yang masih jomblo suka beramairamai berkunjung makam itu. Adapun prosesi pemakaman hampir mirip dengan pemakaman jenazah. Dari mulai penggalian tanah mungkin ini lebih dangkal- menancapkan batu nisan, menabur bunga, hingga pembacaan doa sebagai penutup, doanya tentu supaya kesedihan yang sama tidak terulang. Namun yang paling membedakan adalah setelah prosesi pemakaman usai, mereka yang telah menEdisi Magang Juli 2013

ini cuma bertugas mengubur kesedihan saja. Mungkin si jomblo akan bahagia, tapi belum tentu dia dapat pasangan.
penunggu makam akan menjelaskan terlebih dulu kepada pendatang baru yang belum pernah berkunjung sebelumnya. Bahwa makam ini sekedar untuk mengubur kesedihan. Adapun kebahagiaan itu urusan lain! Namun pada suatu sore di hari Jumat yang cukup sepi, datang seorang gadis dengan gamis terusan yang telah lusuh. Sebelumnya ia datang mengendarai mobil, namun kemudian mobil itu pergi meninggalkannya sendiri. Dia datang dengan wajah yang super lesu. Seperti habis menangis bermalam-malam. Dia tidak membawa apa-apa, termasuk kantong kesedihan yang seharusnya dibawa oleh setiap pengunjung, bukankah ini sebuah makam? Nona tidak membawa kantong kesedihan? Sapa penunggu makam yang biasa disebut sebagai juru kunci. Tidak Pak Lantas apa yang akan Nona kubur? Saya akan mengubur diri sendiri Juru kunci itu kaget sekaligus takut dengan ungkapan gadis itu. Maksud Nona apa? Kesedihan itu telah merasuk ke dalam jiwa saya. Maka satu-satunya cara adalah mengubur diri saya sendiri. Ungkapnya sambil matanya menerawang ke pusara makam.

Makam

13

pengantin yang gagal kawin. Nyaris mirip orang gila. Kalaukalau tidak segera disuruh mandi oleh Ibu Juru Kunci, mungkin orang -orang dari kelurahan akan melihatnya benar-benar sebagai orang gila. Kini orang -orang dari kelurahan telah datang di rumah Juru Kunci, mereka akan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan gadis tersebut, baik nyawanya ataupun kesedihan yang menikamnya. Beruntung Lurah di situ orang baik. Pokoknya nanti sore saya harus dikuburkan! pinta gadis itu yang sontak membuat orang-orang yang merubunginya kaget sekaligus takut. Emang kesedihan kamu sebetulnya apa? Tukas seorang petugas kelurahan. Kesedihanku ada di sini! dia menempelkan telunjuk ke bagian hati. Kamu patah hati? Ucap Pak Lurah dengan nada lembut, lembut sekali. Dia menggeleng, tapi matanya menembus lantai-lantai yang terbuat dari papan. Sampai hari menjelang ashar, belum juga ditemukan cara untuk meredam keinginan gadis itu. Ide ini memang terdengar konyol dan absurd, datang dari Ibu Juru Kunci. Kalau gadis itu memaksa terus untuk mengubur dirinya, maka makam kesedihan ini akan ditutup untuk selama-lamanya. Maka dengan itu pula orang-orang bersedih tak akan bisa lagi mengubur kesedihannya. Mereka akan meratapinya sepanjang hayat. Apakah gadis itu rela jika setelah kematiannya, orang-orang tak lagi tertawa, orang-orang selamanya akan dirundung duka. Ah, tentu itu tidak boleh terjadi. Dan ide ini lah yang sanggup meredam keinginannya. Ide yang tidak lain datang dari seorang Ibu yang telah menelan banyak garam kehidupan. Baiklah, kalau itu keputusannya. Tapi izinkan aku menemui makam kekasihku! Pungkas gadis itu dengan suara parau. Ia telah kalah menghadapi orang-orang dari kelurahan. Bukan, bukan orang dari kelurahan melainkan dari Ibuk Juru Kunci yang mendapatkan ilham secara tiba-tiba. Pergilah gadis itu ke area makam. Sementara orang-orang mengira bahwa

yang akan dikunjungi gadis itu adalah makam kesedihan kekasihnya yang telah terkubur. Seperti kebanyakan yang dialami oleh gadis-gadis lain. Mereka hanya mengira bahwa makam kesedihan itu hanyalah makam yang mengubur kesedihan. Tidak lebih. Padahal gadis itu punya cerita lain yang seharusnya dia ceritakan ke pada orang-orang itu, mungkin juga kepada orang di seluruh dunia. Bahwa di makam itu bukan seluruhnya mengubur kesedihan, ada jasad kekasihnya yang terpendam! Dulu dia pernah mengikat janji dengan seorang pemuda yang amat dicintainya. Begitupun pemuda itu sungguh amat mencintainya. Mereka berpisah sementara lantaran si gadis harus meneruskan sekolah di luar negeri. Bertahun-tahun akhirnya mereka bersua, kegembiraan menyelimuti hari-hari sepasang kekasih itu. Namun pada ketika pemuda itu harus pergi merantau ke pulau sebrang entah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau mungkin Riau-, gunanya adalah untuk mencari pekerjaan yang sangat sulit dicari di kampungnya. Bekerjalah ia mengumpulkan duit sebanyak-banyaknya untuk membayar mahar yang disyaratkan oleh orang tua gadis itu. Sebulan, enam bulan, sampai setahun, ia belum juga cukup uang untuk melamar gadis pujaannya. Dan sebelum keberangkatannya ke pulau sebrang gadis itu berjanji akan menunggunya sampai ia kembali. Menunggu untuk sesuatu yang pasti, menunggu untuk segera dinikahi. Gadis itu telah berada di tengah makam-makam. Dia melanjutkan ceritanya yang sempat terputus karena sebongkah batu yang ia tendang tanpa sengaja. epulangnya pemuda itu dari perantaun panjangnya. Ia tidak mendapati

gadis itu di tempat biasa. Bahkan uang yang akan dia serahkan pada calon mertua, dikembalikan begitusaja. Calon mertua itu bercerita bahwa anak gadisnya telah meninggal dunia, sebulan yang lalu akibat sebuah kecelakaan, sengaja pemuda itu tidak diberi kabar, demi kenyamanannya dalam bekerja. Petir itu segera menyambar si pemuda. Ia terbakar gosong, hatinya menjelma serpihan debu. Pemuda itu juga meraung -raung sepanjang malam seperti anjing yang tak pernah diberi makan. Akhirnya datanglah pemuda itu ke makam kesedihan, bukan untuk mengubur kesedihannya melainkan mengubur diri sendiri. Sebab jasad sudah tak mampu menampung kesedihan yang seperti banjir bandang. Gadis itu kini sedang mencari sebuah nisan dengan mata yang sungguh hati-hati. Dan cerita itu kembali lanjut tanpa pengetahuan siapa-siapa. Dia tahu bahwa orang tuanya telah membohongi dirinya juga kekasih yang amat dicintainya. Dia kecewa kenapa dulu tidak ikut bersama kekasihnya merantau tentu disana bisa kawin lari. Dia kecewa tujuh turunan pada orang tuanya, juga pada diri sendiri. Dan setelah mendengar kabar bahwa kekasihnya mati terkubur hidup-hidup, dia mendeklarasikan diri sebagai perempuan paling sedih di muka bumi ini. Dia merasa jasadnya sudah tak berfungsi lagi. Seluruh organnya berubah menjadi kesedihan. Bahkan sel-sel yang amat kecilpun telah dihuni kesedihan. Kini orang tuanya tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya dengan anak salah seorang mentri. Ya, perempuan paling sedih itulah yang tak lain adalah gadis yang sedang mencari makam kekasihnya yang sampai sekarang belum juga ketemu. Bahkan ketika pengarang harus menyudahi cerita ini.

*Editor Informatika

14

Edisi Magang Juli 2013

Kolom

Debat Masisir dan Ramadhan Karim

ita semua tahu, mahasiswa adalah agen perubahan. Tugas mahasiswa bukan hanya mengikuti kuliah, membaca diktat-diktat, mengerjakan ujian, liburan, dan memenuhi perkara protokoler akademis lain. Di samping itu, mahasiswa diminta perannya dalam kehidupan sosial. Mereka dituntut untuk memberikan solusi terhadap pelbagai masalah sosial dengan ide-ide, sekaligus menjadi eksekutor pertama dari ide yang mereka cetuskan. Sejarah telah mencatat. Di Tianmenn, Beijing, 1966, banyak mahasiswa mati karena memprotes ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik negri China. Barangkali tidak ada yang berubah di negri tirai bambu akibat kejadian itu, tapi dari sana dapat diteladani keberanian mahasiswa menjadi corong atas ketidakberesan sosial yang terjadi. Di Prancis, Mei 1968, para mahasiswa memulai aksi yang menginspirasi pergerakan terbesar di Prancis pada abad ke 20. Rentetan protes dan pemogokan itu akhirnya mengakhiri kekuasaan Jenderal de Gaulle. Yang menarik, aksi yang melumpuhkan Prancis berminggu-minggu ini diwarnai dengan pelbagai diskusi dan debat di pelbagai institusi pemerintah, perusahaan, sekolah, universitas, teater, secara formal maupun informal, bahkan di jalanan. Dari tanah air, pada tahun 1966 mahasiswa meneriakkan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Rentetan demonstrasi ini selanjutnya secara diikuti keluarnya surat perintah sebelas Maret (Supersemar) yang masih kontroversial dan mengakhiri pemerintahan orde lama. Kejadian yang serupa terulang lagi pada tahun 1998, ketika mahasiswa dari beragam kampus berhasil menggulingkan rezim orde baru (Suharto). Dari peristiwa-peristiwa di atas nyatalah bahwa mahasiswa bukan entitas akademis semata. Mereka juga merupakan kalangan yang sensitif dan reaksioner terhadap masalah sosial. Melihat perihal di atas, sikap kritis mahasiswa menyikapi fenomena sosial politik adalah kelumrahan, bahkan keharusan. Konsekuensinya, perbedaan pendapat yang membawa pada perdebatan dan adu argumentasi harus dilihat sebagai dinamika kemahasiswaan, bukan arena tarung kaum primitif. Akhir-akhir ini, Masisir disibukkan dengan banyak debat. Penyebabnya adalah krisis politik yang melanda bumi tempat mereka menuntut ilmu, Mesir. Pasca turunnya Mubarak, kehidupan politik Mesir memang tak pernah benar-benar tenang. Selalu ada pergolakan-pergolakan yang mau tidak mau menarik perhatian Masisir.

Oleh: Kurniawan Saputra*


Puncaknya, pada tanggal 30 Juni lalu, militer mengumumkan lengsernya Mursi dari tahta kepresidenan. Sontak, perdebatan diantara Masisir pun kembali marak. Ramainya debat ini dapat ditelisik di situs-situs jejaring sosial. Dari pengamatan saya, banyak bermunculan status maupun catatan yang menunjukkan pandangan individu tertentu menyikapi fenomena yang terjadi. Masing-masing individu atau kelompok berusaha mengaktualisasikan kecakapan intelektual mereka dalam melain.

Oleh: Ahmad Satriawan Hariadi

mandang setiap fenomena. Saya yakin, yang dilakukan kawan-kawan adalah proses belajar sekaligus ikhtiar untuk mencapai kebenaran, bukan semata usaha tak kenal lelah mencari legitimasi atas pandangan aprioris mereka. Dari proses belajar itu, saya lihat banyak sisi positif. Banyak mahasiswa yang pada hari-hari biasa tidak akrab membaca berita berbahasa Arab dan Inggris, akibat momentum ini, terpacu untuk mengorek dan meningkatkan lagi skill bahasa asing mereka. Karena kejadian ini, kamuskamus banyak di buka, buku-buku rujukan ditelaah. Selain sekedar membaca berita, fenomena sosial politik ini juga membuat Masisir terangsang untuk menulis. Dari yang sederhana seperti menulis status atau komentar status, hingga tulisan yang lebih panjang seperti catatan-catatan facebook. Secara tidak langsung Masisir terlatih untuk menata pikiran dan menuangkannya dengan bahasa yang teratur, rapi dan kokoh, Masisir belajar menulis. Tentu saja aktifitas-aktifitas seperti ini sangat bermanfaat. Selama ini, Masisir kurang mengeksplorasi kemampuan menulis mereka, apalagi untuk tulisan berbahasa Indonesia. Pasalnya, Masisir yang mayoritas merupakan mahasiswa universitas alAzhar, sangat minim mendapatkan tugas menulis artikel ilmiah dari kampus. Tentu saja saya tidak menafikan sebagian kecil Masisir yang telah intens melatih skill menulis mereka di forum-forum luar kampus, seperti kajian ilmiah, media informasi, maupun wadah pengembangan menulis

Yang perlu diperhatikan, bahwa selain mengkatrol kemampuan intelektual, secara tidak langsung ramainya debat juga mencerminkan baik tidaknya miliu intelektualisme Masisir. Publik di luar sana dapat menilai derajat keberadaban Masisir dari kualitas debat dan sikap Masisir dalam berdebat. Dari debat-debat itu tercerminlah citra Masisir sebenarnya. Apakah Masisir adalah komunitas intelektual yang cerdas dan santun, ataukah entitas yang rikuh dengan perkara-perkara ilmiah? Debat, bagi kalangan intelektual, bukanlah sekedar bagaimana memenangkan pendapat. Ada peraturan dan tata karma yang tidak kalah pentingnya dari hasil. Ini yang membedakan debat ilmiah dengan debat kusir yang tak ada ujungnya. Karena itu, banyak ulama yang menulis buku-buku tentang adb al-bahts wa almunadzarah. Sebagai penuntut ilmu, selayaknya kita banyak merujuk pada bukubuku itu sebagai pedoman dalam berdebat. Selain karena kemahasiswaan, perlunya menjaga etika debat juga dikarenakan suasana istimewa yang tengah memuliakan kita. Saat ini, kita sedang berada dalam bulan agung Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang diutamakan dari bulanbulan yang lain diantaranya karena turunnya al-Quran, kewajiban berpuasa, dan keistimewaan-keistimewaan lain. Demikian agar dipergunakan oleh manusia untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Baik dengan mengerjakan amalanamalan yang dianjurkan oleh al-Quran dan Sunah pada bulan Ramadhan, maupun dengan memperbaiki kualitas diri secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Ramadhan bukan jadwal tahunan yang hanya dijalankan sebagai rutinitas. Tak ada kepastian bagi siapapun bahwa ia akan mendapatkan Ramadhan lagi tahun depan. Bisa jadi, Ramadhan ini, yang ada di hadapan kita sekalian adalah kesempatan terakhir untuk menabung pahala. Karena itu, mari kita sama-sama introspeksi diri dalam bulan yang penuh ampunan dan berkah ini. Dalam hal adu argumentasi menyikapi kondisi Mesir, marilah kita bersama-sama menunjukkan kapasitas Masisir yang sebaik-baiknya. Masisir yang bukan hanya intelek, namun juga santun dan selalu menjaga etika debat. Ini penting karena pergulatan Masisir dalam debat disaksikan masyarakat banyak. Pada saatsaat seperti ini integritas Masisir dipertaruhkan.

*Editor Informatika

Edisi Magang Juli 2013

15

Edisi Magang Juli 2013